• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dhiyan Nublina 1, Sofyan 1, Rahmaddiansyah 1 1 Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Dhiyan Nublina 1, Sofyan 1, Rahmaddiansyah 1 1 Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Nilai Tambah Buah Kelapa Dan Kelayakan Usaha Minyak Goreng Kelapa Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen

(Analysis of the Value Added Coconut And Coconut Oil Feasibility Bireuen

Dhiyan Nublina

1

Program Studi Agribisnis,

Abstrak - Kelapa merupakan tanaman perkebunan dengan areal terluas di Indonesia, lebih luas dibandingkan karet dan kelapa sawit

urutan teratas untuk tanaman budiday untuk mengetahui nilai tambah

diperoleh petani dan pengolah kelapa di Ke dan untuk mengetahui kelay

Kabupaten Bireuen. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen dengan menggunakan metode

dianalisis menggunakan metode Hayami. Hasil analisis nilai tambah menunjukkan bahwa n

sebesar Rp.325 per Kg, sedangkan nilai tambah turunan kelapa berupa arang sebesar Rp.560

Rp.550 per Kg dan kelapa cungkil sebesar Rp.400

kelayakan usaha dianalisis menggunakan kriteria kelayakan yaitu NPV, Net B/C, IRR dan BEP. Hasi

Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen menunjukkan usaha tersebut layak dijalankan, dimana nilai NPV sebesar

1,77, IRR sebesar 63,48%, dan BEP

dibutuhkan untuk terjadinya BEP yaitu 4 tahun 11 bulan 24 hari.

Kata Kunci :Buah Kelapa, Minyak Goreng Kelapa, Nilai Tambah, Kelayakan Usaha

Abstract -Coconut is a plantation crop with the lar even larger than the rubber and palm oil as well as crop after rice. The purpose of

coconut and its derivative

obtained in Juli District of Bireun

Analisis Nilai Tambah Buah Kelapa Dan Kelayakan Usaha Minyak Goreng Kelapa Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen

(Analysis of the Value Added Coconut And Coconut Oil Feasibility Bireuen District of July)

Dhiyan Nublina1, Sofyan1, Rahmaddiansyah1

Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Kelapa merupakan tanaman perkebunan dengan areal terluas di Indonesia, lebih luas dibandingkan karet dan kelapa sawit serta

urutan teratas untuk tanaman budidaya setelah padi. Tujuan penelitian ini yaitu ntuk mengetahui nilai tambah buah kelapa dan produk turunannya yang diperoleh petani dan pengolah kelapa di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen,

ntuk mengetahui kelayakan usaha Kilang Minyak Goreng Ke

Kabupaten Bireuen. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Juli Kabupaten ngan menggunakan metode purposive sampling. Data nilai tambah dianalisis menggunakan metode Hayami. Hasil analisis nilai tambah menunjukkan bahwa nilai tambah yang diperoleh petani kelapa bulat yaitu Kg, sedangkan nilai tambah yang diperoleh dari produk turunan kelapa berupa arang sebesar Rp.560 per Kg, minyak goreng sebesar Kg dan kelapa cungkil sebesar Rp.400 per Kg. Sedangkan data kelayakan usaha dianalisis menggunakan kriteria kelayakan yaitu NPV, Net B/C, IRR dan BEP. Hasil analisis kelayakan usaha Kilang Minyak Goreng Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen menunjukkan usaha tersebut layak

dimana nilai NPV sebesar Rp. 2.511.492.137, Net B/C

IRR sebesar 63,48%, dan BEP sebesar 4,99 atau lamanya waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya BEP yaitu 4 tahun 11 bulan 24 hari.

Buah Kelapa, Minyak Goreng Kelapa, Nilai Tambah, Kelayakan Usaha

Coconut is a plantation crop with the largest acreage in Indonesia, than the rubber and palm oil as well as ranks the top spot for the crop after rice. The purpose of this study is to determine the value added

derivative products that coconut farmers and

obtained in Juli District of Bireun and to determine the feasibility of cooking Analisis Nilai Tambah Buah Kelapa Dan Kelayakan Usaha Minyak

Goreng Kelapa Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen

(Analysis of the Value Added Coconut And Coconut Oil Feasibility Bireuen

Universitas Syiah Kuala

Kelapa merupakan tanaman perkebunan dengan areal terluas di serta menempati Tujuan penelitian ini yaitu dan produk turunannya yang camatan Juli Kabupaten Bireuen, Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Juli Kabupaten Data nilai tambah dianalisis menggunakan metode Hayami. Hasil analisis nilai tambah lapa bulat yaitu oleh dari produk Kg, minyak goreng sebesar . Sedangkan data kelayakan usaha dianalisis menggunakan kriteria kelayakan yaitu NPV, Net l analisis kelayakan usaha Kilang Minyak Goreng Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen menunjukkan usaha tersebut layak , Net B/C sebesar lamanya waktu yang

Buah Kelapa, Minyak Goreng Kelapa, Nilai Tambah, Kelayakan

gest acreage in Indonesia, the top spot for the value added of farmers and entrepreneurs o determine the feasibility of cooking

(2)

oil refinery in Juli District of Bireuen. This study of Bireuen Regency

added were analyzed using

analysis showed that the raw coconut farmers value added equal to while the value added

charcoal equal to Rp.560/Kg, cooking chunks equal to Rp.400/

the eligibility criteria, namely NPV, Net B/

feasibility analysis of cooking oil refinery in Juli District of Bireuen showed that the business was viable, with the N

B/C of 1,77; IRR of 63,48%, and BEP of 4, BEP was 4 years 11 months and 24 days.

Keywords :Coconut, Coconut Cooking Oil, Value Added, Feasibility

Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan komoditas perkebunan kelapa dan merupakan negara produsen kelapa utama di dunia. Hal ini dilihat dari pengembangan komoditi kelapa yang dapat dijadikan beragam produk seperti kelapa cungkil, kopra, minyak, g

sebagainya. Selain itu, hampir semua bagian dari tanaman kelapa dapat dimanfaatkan. Daun dan buah kelapa yang terdiri dari serabut, tempurung, daging serta air nya dapat digunakan untuk menghasilkan berbagai produk industri.

Kelapa merupakan tanaman perkebunan dengan areal terluas di Indonesia, lebih luas dibandingkan karet dan kelapa sawit dan menempati urutan teratas untuk tanaman budiday

luas areal mencapai 103.076 Ha dengan produksi sebesar 5

Kabupaten Bireuen, luas areal kelapa rakyat pada tahun 2013 adalah sebesar 14.341 Ha (13,91%)

10.132 ton (18,27%) di Aceh (BPS Aceh, 2014). Selama ini produk turunan kelapa yang

terbatas, baik dalam jumlah maupun jenisnya. Padahal, semua bagian dari pohon kelapa dapat dimanfaatkan, dan produk

kelapa juga banyak diminati. Salah satunya yaitu kelapa cungkil. Kelapa cungkil adalah d

dimanfaatkan sebagai bahan baku

kelapa ini dibuat dengan cara mengepres daging kelapa yang sudah dikukur terlebih dahulu. Dengan beragamnya produk turunan dari kelapa, dan adanya peningkatan kegiatan

in Juli District of Bireuen. This study was conducted in Juli District by using purposive sampling method. The d

e analyzed using Hayami method. The results of the showed that the raw coconut farmers value added equal to

the value added from coconut derivative products in the form of a Rp.560/Kg, cooking oil equal to Rp.550/Kg, and coconut Rp.400/kg. While the data of feasibility were analyzed using y criteria, namely NPV, Net B/C, IRR and BEP, the

feasibility analysis of cooking oil refinery in Juli District of Bireuen showed that the business was viable, with the NPV value of Rp. 2.511.

f 63,48%, and BEP of 4,99 or length of time required for the BEP was 4 years 11 months and 24 days.

Coconut, Coconut Cooking Oil, Value Added, Feasibility

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan komoditas perkebunan kelapa dan merupakan negara produsen kelapa utama di dunia. Hal ini dilihat dari pengembangan komoditi kelapa yang dapat dijadikan beragam produk seperti kelapa cungkil, kopra, minyak, gula, tepung dan lain sebagainya. Selain itu, hampir semua bagian dari tanaman kelapa dapat dimanfaatkan. Daun dan buah kelapa yang terdiri dari serabut, tempurung, daging serta air nya dapat digunakan untuk menghasilkan berbagai produk rupakan tanaman perkebunan dengan areal terluas di Indonesia, lebih luas dibandingkan karet dan kelapa sawit dan menempati urutan teratas untuk tanaman budidaya setelah padi. Pada tahun 2013

luas areal mencapai 103.076 Ha dengan produksi sebesar 55.434 ton. Dan di Kabupaten Bireuen, luas areal kelapa rakyat pada tahun 2013 adalah sebesar dengan produksi tertinggi yang dihasilkan yaitu sebesar 10.132 ton (18,27%) di Aceh (BPS Aceh, 2014).

Selama ini produk turunan kelapa yang dihasilkan masih sangat terbatas, baik dalam jumlah maupun jenisnya. Padahal, semua bagian dari pohon kelapa dapat dimanfaatkan, dan produk-produk yang dihasilkan dari kelapa juga banyak diminati. Salah satunya yaitu kelapa cungkil.

Kelapa cungkil adalah daging buah kelapa yang diambil untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng. Minyak goreng kelapa ini dibuat dengan cara mengepres daging kelapa yang sudah dikukur terlebih dahulu. Dengan beragamnya produk turunan dari kelapa, dan adanya eningkatan kegiatan-kegiatan industri pengolahannya, diharapkan mampu as conducted in Juli District The data of value f the value added showed that the raw coconut farmers value added equal to Rp.325/kg, from coconut derivative products in the form of a Kg, and coconut While the data of feasibility were analyzed using , the results of feasibility analysis of cooking oil refinery in Juli District of Bireuen showed .492.137; Net 99 or length of time required for the

Coconut, Coconut Cooking Oil, Value Added, Feasibility

Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan komoditas perkebunan kelapa dan merupakan negara produsen kelapa utama di dunia. Hal ini dilihat dari pengembangan komoditi kelapa yang dapat dijadikan beragam ula, tepung dan lain sebagainya. Selain itu, hampir semua bagian dari tanaman kelapa dapat dimanfaatkan. Daun dan buah kelapa yang terdiri dari serabut, tempurung, daging serta air nya dapat digunakan untuk menghasilkan berbagai produk rupakan tanaman perkebunan dengan areal terluas di Indonesia, lebih luas dibandingkan karet dan kelapa sawit dan menempati a setelah padi. Pada tahun 2013 di Aceh, 5.434 ton. Dan di Kabupaten Bireuen, luas areal kelapa rakyat pada tahun 2013 adalah sebesar dengan produksi tertinggi yang dihasilkan yaitu sebesar dihasilkan masih sangat terbatas, baik dalam jumlah maupun jenisnya. Padahal, semua bagian dari produk yang dihasilkan dari diambil untuk pembuatan minyak goreng. Minyak goreng kelapa ini dibuat dengan cara mengepres daging kelapa yang sudah dikukur terlebih dahulu. Dengan beragamnya produk turunan dari kelapa, dan adanya kegiatan industri pengolahannya, diharapkan mampu

(3)

meningkatkan nilai tambah (

kelapa sebagai bahan baku industri pengolahan.

Pemasaran produk turunan kelapa di Bireuen saat ini mengalami permasalahan ditingkat permintaan. Didapatkan informasi bahwa industri Kilang Minyak Goreng Kecamatan Juli, sedang kesulitan mendapatkan bahan baku kelapa cungkil untuk pembuatan minyak goreng. Akibatnya kilang tidak mampu beroperasi secara maksimal. Biasanya

kelapa cungkil rata-rata mencapai 50 ton

2015, pasokan kelapa cungkil hanya mencapai lebih kurang 5 ton dalam jumlah ini kilang tidak dapat beroperasi. Mesin dapat beroperasi a ketersediaan kelapa cungkil mencapai 10 ton. Agar kilang tetap beroperasi setiap harinya, para pekerja setiap hari mencari dan mengumpulkan daging kelapa cungkil dari petani dan agen pengumpul daerah sekitar maupun diluar Kabupaten Bireuen. Kelapa c

pengumpul sekitar dan dibeli dengan harga Rp.3.200

Adapun penyebab kurangnya ketersediaan bahan baku kelapa cungkil tersebut terletak pada permintaan terhadap kelapa bulat yang lebih tinggi dibandingkan kelapa cungkil. Kelapa cungkil dijual dengan harga Rp.3.200 Kg, sedangkan kelapa bulat yang dijual ke Medan yaitu seharga Rp.3.100 Kg.

Tujuan dari penelitian ini adalah (value added) buah kelapa bulat dan produk

cungkil, dan minyak goreng yang diperoleh petani dan pengolah kelapa di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen

Kilang Minyak Goreng Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

Sampling. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.Data primer diperoleh dari dua macam teknik pengumpulan data, yaitu kuisioner dan wawancara.

instansi atau lembaga terkait seperti BPS, Dinas Perkebunan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta literatur

penelitian ini. Populasi dalam penelitian ini adalah petani kelapa bulat, indust pengolah buah kelapa menjadi arang, kelapa cungkil dan minyak goreng kelapa di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.

dilakukan secara sengaja (

Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Hayami, kelayakan analisis kriteria investasi yaitu NPV, Net B/C, IRR, dan BEP, serta analisis Trend.

menggunakan metode Hayami dapat dilihat pada Tabel 1

meningkatkan nilai tambah (value added) dan permintaan terhadap komoditas kelapa sebagai bahan baku industri pengolahan.

Pemasaran produk turunan kelapa di Bireuen saat ini mengalami masalahan ditingkat permintaan. Didapatkan informasi bahwa industri Kilang Minyak Goreng Kecamatan Juli, sedang kesulitan mendapatkan bahan baku kelapa cungkil untuk pembuatan minyak goreng. Akibatnya kilang tidak mampu beroperasi secara maksimal. Biasanya kebutuhan pasokan bahan baku rata mencapai 50 ton per hari. Akan tetapi, sejak Januari 2015, pasokan kelapa cungkil hanya mencapai lebih kurang 5 ton

dalam jumlah ini kilang tidak dapat beroperasi. Mesin dapat beroperasi a ketersediaan kelapa cungkil mencapai 10 ton. Agar kilang tetap beroperasi setiap harinya, para pekerja setiap hari mencari dan mengumpulkan daging kelapa cungkil dari petani dan agen pengumpul daerah sekitar maupun diluar Kabupaten Bireuen. Kelapa cungkil diperoleh dari petani maupun agen pengumpul sekitar dan dibeli dengan harga Rp.3.200 per Kg.

Adapun penyebab kurangnya ketersediaan bahan baku kelapa cungkil tersebut terletak pada permintaan terhadap kelapa bulat yang lebih tinggi

apa cungkil. Kelapa cungkil dijual dengan harga Rp.3.200 Kg, sedangkan kelapa bulat yang dijual ke Medan yaitu seharga Rp.3.100

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai tambah ) buah kelapa bulat dan produk turunannya berupa arang, kelapa cungkil, dan minyak goreng yang diperoleh petani dan pengolah kelapa di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen dan untuk mengetahui kelayakan usaha Kilang Minyak Goreng Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.Data primer diperoleh dari dua macam teknik pengumpulan , yaitu kuisioner dan wawancara. Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi atau lembaga terkait seperti BPS, Dinas Perkebunan, Dinas

an Perdagangan, serta literatur yang berhubungan

opulasi dalam penelitian ini adalah petani kelapa bulat, indust pengolah buah kelapa menjadi arang, kelapa cungkil dan minyak goreng kelapa di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen. Untuk menentukan lokasi kecamatan dilakukan secara sengaja (puspossive).

Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah metode yami, kelayakan analisis kriteria investasi yaitu NPV, Net B/C, IRR, dan BEP, serta analisis Trend. Analisis nilai tambah dalam penelitian ini dengan menggunakan metode Hayami, prosedur perhitungan nilai tambah

abel 1.

) dan permintaan terhadap komoditas Pemasaran produk turunan kelapa di Bireuen saat ini mengalami masalahan ditingkat permintaan. Didapatkan informasi bahwa industri Kilang Minyak Goreng Kecamatan Juli, sedang kesulitan mendapatkan bahan baku kelapa cungkil untuk pembuatan minyak goreng. Akibatnya kilang tidak kebutuhan pasokan bahan baku hari. Akan tetapi, sejak Januari 2015, pasokan kelapa cungkil hanya mencapai lebih kurang 5 ton per hari dan dalam jumlah ini kilang tidak dapat beroperasi. Mesin dapat beroperasi apabila ketersediaan kelapa cungkil mencapai 10 ton. Agar kilang tetap beroperasi setiap harinya, para pekerja setiap hari mencari dan mengumpulkan daging kelapa cungkil dari petani dan agen pengumpul daerah sekitar maupun diluar ungkil diperoleh dari petani maupun agen Adapun penyebab kurangnya ketersediaan bahan baku kelapa cungkil tersebut terletak pada permintaan terhadap kelapa bulat yang lebih tinggi apa cungkil. Kelapa cungkil dijual dengan harga Rp.3.200 per Kg, sedangkan kelapa bulat yang dijual ke Medan yaitu seharga Rp.3.100 per ntuk mengetahui nilai tambah turunannya berupa arang, kelapa cungkil, dan minyak goreng yang diperoleh petani dan pengolah kelapa di ntuk mengetahui kelayakan usaha

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Snowball . Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.Data primer diperoleh dari dua macam teknik pengumpulan ata sekunder diperoleh dari berbagai instansi atau lembaga terkait seperti BPS, Dinas Perkebunan, Dinas berhubungan dengan opulasi dalam penelitian ini adalah petani kelapa bulat, industri pengolah buah kelapa menjadi arang, kelapa cungkil dan minyak goreng kelapa Untuk menentukan lokasi kecamatan Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah metode yami, kelayakan analisis kriteria investasi yaitu NPV, Net B/C, IRR, dan dalam penelitian ini dengan rosedur perhitungan nilai tambah tersebut

(4)

Tabel 1. Formula Analisis Nilai Tambah

No Output, Input, Harga

1 Hasil produksi (kg/bulan) 2 Bahan baku (kg/bulan) 3 Tenaga kerja (orang) 4 Faktor konversi (1 / 2) 5 Koefisien tenaga kerja (3 / 2) 6 Harga produk (Rp

7 Upah rerata (Rp / HOK) Pendapatan

8 Harga bahan baku (Rp / kg) 9 Sumbanganinput

10 Nilai produk (4x6) (Rp / kg) 11 a. Nilai tambah (10

b. Rasio nilai tambah (11.a / 10) (%) 12 a. Imbalan tenaga kerja (5x7) (Rp / kg)

b. Bagian tenaga kerja (12.a. / 11.a.) (%) 13 a. Keuntungan (11.a.

b. Tingkat keuntungan (13.a / 11.a) (%) Balas Jasa Untuk Faktor

14 Margin (Rp / kg)

• Pendapatan tenaga kerja langsung (12a / (14 x 100)

• Sumbangan input lain 9 / (14 x 100) • Keuntungan perusahaan 13a / (14 x 100) Sumber : Sudiyono, 2002.

Analisis kelayakan usaha dalam penelitian ini menggunakan empat kriteria analisis, meliputi analisis NPV, B/C Ratio, IRR dan BEP.

Tabel 1. Formula Analisis Nilai Tambah

Output, Input, Harga Formula

Hasil produksi (kg/bulan) Bahan baku (kg/bulan) Tenaga kerja (orang)

Faktor konversi (1 / 2) A / B = M

Koefisien tenaga kerja (3 / 2) C / B = N

Harga produk (Rp / kg) Upah rerata (Rp / HOK)

Harga bahan baku (Rp / kg) inputlain (Rp / kg)

Nilai produk (4x6) (Rp / kg) M X D = K

a. Nilai tambah (10-8-9) (Rp / kg) K – F

b. Rasio nilai tambah (11.a / 10) (%) (L / K) % = H% a. Imbalan tenaga kerja (5x7) (Rp / kg) N X E = P b. Bagian tenaga kerja (12.a. / 11.a.) (%) (P / L) % = Q%

a. Keuntungan (11.a. – 12.a) L –

b. Tingkat keuntungan (13.a / 11.a) (%) (R / L) % = 0 % Balas Jasa Untuk Faktor Produksi

Margin (Rp / kg) K –

• Pendapatan tenaga kerja langsung (12a / (14

P / (S X 100) = T • Sumbangan input lain 9 / (14 x 100) G / (S X 100) = U • Keuntungan perusahaan 13a / (14 x 100) R / (S X 100) = V

2002.

Analisis kelayakan usaha dalam penelitian ini menggunakan empat kriteria analisis, meliputi analisis NPV, B/C Ratio, IRR dan BEP.

Formula A B C A / B = M C / B = N D E F G M X D = K F – G = L (L / K) % = H% N X E = P (P / L) % = Q% – P = R (R / L) % = 0 % – F = S P / (S X 100) = T G / (S X 100) = U R / (S X 100) = V

(5)

1. Net Present Value (NPV)

Net Present Value adalah nilai sekarang dari selisih antara

(manfaat) dengan cost (biaya) pada Discount Rate tertentu. Dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

Bt= Benefit pada tahun ke t Ct= Biaya pada tahun ke t

i = Tingkat suku bunga

n = Umur dari Proyek Minyak Goreng Kelapa (10 tahun) Dengan kriteria pengambilan keputusan:

- Jika NPV > 0, maka usaha diusahakan dan menguntungkan

- Jika NPV = 0, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa tidak untung dan tidak rugi.

- Jika NPV < 0, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa tidak layak untuk diusahakan.

2. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Net B/C adalah perbandingan antara jumlah discount positif (+)

Dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan :

NB୲(+)= Net Benefit yang telah di NB୲(−)= Net Benefit yang telah di n = Umur dari Proyek Kilang

t = Tahun usaha berjalan (10 tahun) Dengan kriteria pengambilan keputusan :

- Jika Net B/C > 1, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa memberikan keuntungan dan layak untuk diusahakan.

- Jika Net B/C = 1, maka usaha Kilang Minyak dan tidak rugi.

- Jika Net B/C < 1, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa tidak memberi keuntungan sehingga tidak layak untuk diusahakan.

Net Present Value (NPV)

Net Present Value adalah nilai sekarang dari selisih antara

(manfaat) dengan cost (biaya) pada Discount Rate tertentu. Dengan rumus

ܸܰܲ= ෍ (ܤݐ(1 +݅ܥݐ)

௡ୀଵ଴ ௧ୀଵ

= Benefit pada tahun ke t = Biaya pada tahun ke t

= Tingkat suku bunga 19% (Discount Rate)

Proyek Minyak Goreng Kelapa (10 tahun) Dengan kriteria pengambilan keputusan:

Jika NPV > 0, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa diusahakan dan menguntungkan.

Jika NPV = 0, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa tidak untung dan Jika NPV < 0, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa tidak layak untuk Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Net B/C adalah perbandingan antara jumlah Net Benefit yang telah di dengan Net Benefit yang telah di discount

Dengan rumus sebagai berikut:

ܰ݁ݐܤ/ܥ =

 n 1 t NB୲(+)

 n 1 t ୒୆౪(ି)

= Net Benefit yang telah didiscountpositif (+) = Net Benefit yang telah didiscountnegatif (-)

= Umur dari Proyek Kilang Minyak Goreng Kelapa = Tahun usaha berjalan (10 tahun)

Dengan kriteria pengambilan keputusan :

Jika Net B/C > 1, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa memberikan keuntungan dan layak untuk diusahakan.

Jika Net B/C = 1, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa tidak untung Jika Net B/C < 1, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa tidak memberi keuntungan sehingga tidak layak untuk diusahakan.

Net Present Value adalah nilai sekarang dari selisih antara benefit (manfaat) dengan cost (biaya) pada Discount Rate tertentu. Dengan rumus

Kilang Minyak Goreng Kelapa layak untuk Jika NPV = 0, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa tidak untung dan Jika NPV < 0, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa tidak layak untuk

Net Benefit yang telah di discount negatif (-).

Jika Net B/C > 1, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa memberikan Goreng Kelapa tidak untung Jika Net B/C < 1, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa tidak memberi

(6)

3. Internal Rate of Return (IRR)

IRR merupakan nilai untuk mengetahui persentase keuntungan

tiap–tiap produksi. IRR juga merupakan alat ukur kemampuan proyek dalam mengembalikan bunga pinjaman. Dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

i1 = Tingkat bunga i i2 = Tingkat bunga i

NPV1 = Nilai NPV pada tingkat bunga i NPV2 = Nilai NPV pada tingkat bunga i Dengan kriteria analisis pengambilan keputusan:

- Jika IRR > Discount rate, maka usaha Kilang Minyak Goreng diusahakan

- Jika IRR = Discount rate, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa berada pada titik impas dan layak diusahakan

- Jika IRR < Discount rate, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa tidak layak diusahakan

4. Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP)

penerimaan sama dengan biaya. Dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

Tp-1 = Tahun sebelum terdapat BEP Tci = Jumlah total cost yang

Bicp-1 = Jumlah benefit yang telah di discount sebelum BEP

ܤ௣ = Jumlah benefit BEP berada

Analisis Trend dalam penelitian ini

bahan baku kelapa cungkil untuk produksi minyak goreng kelapa selama 7 tahun yang akan datang. Dalam penelitian ini digunakan analisis trend dengan metode least square

karena perhitungannya lebih teliti. Dalam menghitung asumsi Trend bahan baku selama 7 tahun ke depan juga dihitung dengan bantuan program

Excel. Persamaan garis Trend tersebut diformulasikan sebagai berikut:

Keterangan :

Ŷ= Bahan Baku Min

Internal Rate of Return (IRR)

IRR merupakan nilai untuk mengetahui persentase keuntungan

tiap produksi. IRR juga merupakan alat ukur kemampuan proyek dalam mengembalikan bunga pinjaman. Dengan rumus sebagai berikut :

IRR = i1+ே௉௏ே௉௏భ

భିே௉௏మ(݅ଶ−݅ଵ)

= Tingkat bunga i1(dimana NPV positif) bunga i2(dimana NPV negatif)

= Nilai NPV pada tingkat bunga i1(positif menuju nol) = Nilai NPV pada tingkat bunga i2(negatif menuju nol) Dengan kriteria analisis pengambilan keputusan:

Jika IRR > Discount rate, maka usaha Kilang Minyak Goreng

Jika IRR = Discount rate, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa berada pada titik impas dan layak diusahakan

Jika IRR < Discount rate, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa tidak

Break Event Point (BEP)

Break Event Point (BEP) dalam penelitian ini adalah titik waktu penerimaan sama dengan biaya. Dengan rumus sebagai berikut :

BEP = Tp-1+

∑೙೔సభ୘ౙ౟ି∑౤౟సభ୆౟ౙ౦షభ

஻೛

= Tahun sebelum terdapat BEP

= Jumlah total cost yang telah di discount

= Jumlah benefit yang telah di discount sebelum BEP Jumlah benefit BEP berada

dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui asumsi bahan baku kelapa cungkil untuk produksi minyak goreng kelapa selama 7 tahun yang akan datang. Dalam penelitian ini digunakan analisis trend dengan

least square yang paling sering digunakan untuk meramalkan a perhitungannya lebih teliti. Dalam menghitung asumsi Trend bahan baku selama 7 tahun ke depan juga dihitung dengan bantuan program

. Persamaan garis Trend tersebut diformulasikan sebagai berikut: Ŷ= a + bX

Minyak Goreng Kelapa (Kg/tahun)

IRR merupakan nilai untuk mengetahui persentase keuntungan dari usaha tiap produksi. IRR juga merupakan alat ukur kemampuan proyek dalam

(positif menuju nol) (negatif menuju nol)

Jika IRR > Discount rate, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa layak Jika IRR = Discount rate, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa Jika IRR < Discount rate, maka usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa tidak

waktu dimana

digunakan untuk mengetahui asumsi bahan baku kelapa cungkil untuk produksi minyak goreng kelapa selama 7 tahun yang akan datang. Dalam penelitian ini digunakan analisis trend dengan yang paling sering digunakan untuk meramalkan Ŷ, a perhitungannya lebih teliti. Dalam menghitung asumsi Trend bahan baku selama 7 tahun ke depan juga dihitung dengan bantuan programSPSSdan

(7)

a = Konstanta

b = Koefisien Regresi X = Periode waktu (tahun)

Nilai tambah merupakan

mengalami proses pengolahan, pengangkutan ataupun penyimpanan. produk turunan dari

dari arang, kelapa cungkil dan minyak goreng kelapa, juga dilakukan analisis nilai tambah dari kelapa bulat oleh petani kelapa.

Dari hasil rangkuman nilai tambah pada T bahwa nilai tambah yang diperoleh petani kelapa per kg, dan rasio nilai tambah yang diperoleh sebesar

produk sebesar 1 satuan maka nilai tambah diperoleh sebesar 0,3 Rasio nilai tambah kurang dari

kelapa bulat dikatakan rendah. K

kg dan rasio keuntungan yang diperoleh sebesar tambah sebesar 1 satuan maka keunt

satuan. Tingkat keunt

petani kelapa mendapatkan keuntungan yang Nilai tambah yang diperoleh indu kg, dan rasio nilai tambah yang diperoleh

produk sebesar 1 satuan maka nilai tambah diperoleh sebesar Rasio nilai tambah kurang dari

memiliki nilai tambah yang

Rp.546,67 per kg dan rasio keuntungan yang diperoleh sebesar

bila nilai tambah sebesar 1 satuan maka keuntungan yang diperoleh sebesar 0,9761 satuan. Tingkat keuntungan dikatakan

berarti industri arang mendapatkan keuntungan yang Nilai tambah yang diperoleh industri kelapa Rp.400 per kg, dan rasio nilai t

bila nilai produk sebesar 1 sat

satuan. Rasio nilai tambah kurang dari pengolahan kelapa cungkil yang

dan rasio keuntungan

sebesar 1 satuan maka keuntungan yang diperoleh sebesar 0, Tingkat keuntungan dikatakan

kelapa cungkil mendapatkan keuntungan yang

Nilai tambah yang diperoleh industri minyak go Rp.550 per kg, dan rasio nilai tambah yang diperoleh sebesar

bila nilai produk sebesar 1 satuan maka nilai tambah diperoleh sebesar satuan. Rasio nilai tambah kurang dari

pengolahan minyak goreng b = Koefisien Regresi X = Periode waktu (tahun)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Nilai tambah merupakan pertambahan nilai suatu komoditas karena mengalami proses pengolahan, pengangkutan ataupun penyimpanan.

produk turunan dari buah kelapa yang akan dianalisis nilai tambahnya terdiri dari arang, kelapa cungkil dan minyak goreng kelapa, juga dilakukan analisis nilai tambah dari kelapa bulat oleh petani kelapa.

il rangkuman nilai tambah pada Tabel 2 di atas, diketahui bahwa nilai tambah yang diperoleh petani kelapa bulat adalah sebesar Rp.325 kg, dan rasio nilai tambah yang diperoleh sebesar 3,90%. Berarti bila nilai produk sebesar 1 satuan maka nilai tambah diperoleh sebesar 0,3

Rasio nilai tambah kurang dari 50% dikatakan rendah berarti

kelapa bulat dikatakan rendah. Keuntungan yang diperoleh sebesar Rp.88 per kg dan rasio keuntungan yang diperoleh sebesar 27,07%. berarti bila nilai tambah sebesar 1 satuan maka keuntungan yang diperoleh sebesar 0, satuan. Tingkat keuntungan dikatakan tinggi apabila kurang dari

petani kelapa mendapatkan keuntungan yang sedikit.

Nilai tambah yang diperoleh industri arang adalah sebesar Rp.560 per kg, dan rasio nilai tambah yang diperoleh sebesar 28,57%. Berarti bila nilai produk sebesar 1 satuan maka nilai tambah diperoleh sebesar 0,285

io nilai tambah kurang dari 50% dikatakan rendah berarti pengolahan arang memiliki nilai tambah yang rendah. Keuntungan yang diperoleh adalah sebesar

kg dan rasio keuntungan yang diperoleh sebesar 97,

bila nilai tambah sebesar 1 satuan maka keuntungan yang diperoleh sebesar satuan. Tingkat keuntungan dikatakan tinggi apabila kurang dari berarti industri arang mendapatkan keuntungan yang besar.

Nilai tambah yang diperoleh industri kelapa cungkil adalah sebesar kg, dan rasio nilai tambah yang diperoleh sebesar 16,66

bila nilai produk sebesar 1 satuan maka nilai tambah diperoleh sebesar 16,66 satuan. Rasio nilai tambah kurang dari 50% dikatakan rendah berarti pengolahan kelapa cungkil yang dilakukan adalah sebesar Rp.392,31 per dan rasio keuntungan yang diperoleh sebesar 98,07%, berarti bila nil sebesar 1 satuan maka keuntungan yang diperoleh sebesar 0,

Tingkat keuntungan dikatakan tinggi apabila kurang dari 50%, berarti industri kelapa cungkil mendapatkan keuntungan yang besar.

Nilai tambah yang diperoleh industri minyak goreng adalah sebesar kg, dan rasio nilai tambah yang diperoleh sebesar 14,46

bila nilai produk sebesar 1 satuan maka nilai tambah diperoleh sebesar satuan. Rasio nilai tambah kurang dari 50% dikatakan rendah

nyak goreng yang dilakukan adalah sebesar Rp.549,73

pertambahan nilai suatu komoditas karena mengalami proses pengolahan, pengangkutan ataupun penyimpanan. Adapun kelapa yang akan dianalisis nilai tambahnya terdiri dari arang, kelapa cungkil dan minyak goreng kelapa, juga dilakukan analisis di atas, diketahui bulat adalah sebesar Rp.325 %. Berarti bila nilai produk sebesar 1 satuan maka nilai tambah diperoleh sebesar 0,390 satuan. 50% dikatakan rendah berarti nilai tambah yang diperoleh sebesar Rp.88 per %. berarti bila nilai ungan yang diperoleh sebesar 0,2707 ungan dikatakan tinggi apabila kurang dari 50%, berarti stri arang adalah sebesar Rp.560 per 7%. Berarti bila nilai 0,2857 satuan. 50% dikatakan rendah berarti pengolahan arang rendah. Keuntungan yang diperoleh adalah sebesar 97,61%. berarti bila nilai tambah sebesar 1 satuan maka keuntungan yang diperoleh sebesar bila kurang dari 50%, cungkil adalah sebesar ambah yang diperoleh sebesar 16,66%. Berarti ai tambah diperoleh sebesar 16,66 50% dikatakan rendah berarti dilakukan adalah sebesar Rp.392,31 per kg berarti bila nilai tambah sebesar 1 satuan maka keuntungan yang diperoleh sebesar 0,9807 satuan. 50%, berarti industri reng adalah sebesar 14,46%. Berarti bila nilai produk sebesar 1 satuan maka nilai tambah diperoleh sebesar 0,1446 kan rendah berarti 549,73 per kg

(8)

dan rasio keuntungan yang diperoleh sebesar

sebesar 1 satuan maka keuntungan yang diperoleh sebesar Tingkat keuntungan dikatakan

minyak goreng telah mendapatkan keuntungan yang besar. Tabel 2. Hasil Perhitungan Analisis Nilai Tambah Buah Kelapa

No Output, Input, Harga 1 Hasil produksi (kg/bulan) 2 Bahan baku (kg/bulan)

Bahan baku (pohon/bulan) 3 Tenaga kerja (orang) 4 Faktor konversi 5 Koefisien tenaga kerja 6 Harga produk (Rp / kg) 7 Upah rerata (Rp/HOK)

Pendapatan

8 Harga bahan baku (Rp/kg) Harga bahan baku

(Rp/pohon) 9 Sumbanganinput

(Rp/kg)

10 Nilai produk (Rp / kg) 11 a. Nilai tambah (Rp / kg)

b. Rasio nilai tambah (%) 12 a. Imbalan tenaga kerja

(Rp/kg)

b. Bagian tenaga kerja (%)

13 a. Keuntungan

b. Tingkat keuntungan (%)

Balas Jasa Faktor Produksi 14 Margin (Rp / kg)

• Pendapatan tenaga kerja langsung (%)

• Sumbangan input lain (%)

• Keuntungan perusahaan (%)

Sumber: Data Primer (diolah), 2016

dan rasio keuntungan yang diperoleh sebesar 99,95%. berarti bila nilai tambah sebesar 1 satuan maka keuntungan yang diperoleh sebesar 0,9995

Tingkat keuntungan dikatakan tinggi apabila kurang dari 50%, berarti industri minyak goreng telah mendapatkan keuntungan yang besar.

Tabel 2. Hasil Perhitungan Analisis Nilai Tambah Buah Kelapa Output, Input, Harga Nilai* Nilai*

* Nilai***

Nilai*** Hasil produksi (kg/bulan) 300 1.400 1.500

Bahan baku (kg/bulan) - 2.000 2.000

Bahan baku (pohon/bulan) 90 -

-Tenaga kerja (orang) 1 4 3

Faktor konversi 3,33 0,7 0,75

Koefisien tenaga kerja 0,011 0,002 0,0005 Harga produk (Rp / kg) 2.500 2.800 3.200 Upah rerata (Rp/HOK) 27.00

0 6.666 15.384

Harga bahan baku (Rp/kg) - 400 2.000

Harga bahan baku

8.000 -

-inputlain

0 1.000 0

Nilai produk (Rp / kg) 8.325 1.960 2.400 a. Nilai tambah (Rp / kg) 325 560 400 b. Rasio nilai tambah (%) 3,90 28,57 16,66 a. Imbalan tenaga kerja

297 13,33 7,69

b. Bagian tenaga kerja

91,38 2,38 1,91 a. Keuntungan 88 546,6 7 392,31 Tingkat keuntungan 27,07 97,61 98,07 Balas Jasa Faktor Produksi

Margin (Rp / kg) 325 1.560 400

• Pendapatan tenaga kerja

langsung (%) 91,38 0,85 1,92

• Sumbangan input lain

0 64,10 0

• Keuntungan perusahaan

27,07 35,04 98,07 Sumber: Data Primer (diolah), 2016

%. berarti bila nilai tambah 0,9995 satuan. 50%, berarti industri Nilai*** * 185.000 740.000 -15 0,25 0,00002 15.000 75.000 3.200 -0 3.750 550 14,46 1,5 0,27 549,73 99,95 550 0,27 0 99,95

(9)

Keterangan:

* : Hasil perhitungan nilai tambah yang diperoleh petani kelapa ** : Hasil perhitungan nilai tambah yang diperoleh industri arang *** : Hasil perhitungan nilai tambah yang diperoleh

**** : Hasil perhitungan nilai tambah yang diperoleh industri minyak goreng

Hasil perhitungan kriteria investasi secara k pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Hasil Kriteria Penilaian Investasi Usaha Kilang Minyak Goreng Kelapa Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen

No Kriteria Kelayakan

1 NPV

2 Net B/C

3 IRR

4 BEP

Sumber: Data Primer

1. Net Present Value

Berdasarkan hasil analisis proyek pada tingkat bunga bank yang berlaku saat penelitian DF

Rp.2.511.492.137 (NPV > 0), maka

diusahakan atau jumlah rupiah yang dikeluarkan mampu memberikan keuntungan setelah dikurangi dengan beban biaya produksi yang dikeluarkan. 2. Net Benefit Cost Ratio

Net B/C menunjukkan kemampuan menghasilkan laba persatuan nilai investasi. Hasil perhitungan u

penelitian pada tingkat DF 19% adalah artinya setiap penambahan biaya sebesar Rp. 1, maka akan mendapatkan keuntungan sebesar 1,77% , berarti usaha kilang minyak goreng di daerah penelitian layak untuk dikembangkan karena Net B/C>1.

3. Internal Rate Of Return (IRR)

IRR adalah untuk mengetahui presentase keuntungan dari suatu usaha. Dari analisis proyek yang dilakukan selama

63,48% ini berarti usaha kilang minyak goreng nilai IRR lebih besar dari ting

: Hasil perhitungan nilai tambah yang diperoleh petani kelapa : Hasil perhitungan nilai tambah yang diperoleh industri arang

: Hasil perhitungan nilai tambah yang diperoleh industri kelapa cungkil : Hasil perhitungan nilai tambah yang diperoleh industri minyak goreng

Hasil perhitungan kriteria investasi secara komperhensif dapat dilihat berikut.

Tabel 3. Hasil Kriteria Penilaian Investasi Usaha Kilang Minyak Goreng Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen

Kriteria Kelayakan Nilai

Rp. 2.511.492.137

63,48 % 4 tahun 11 bulan 24 hari Sumber: Data Primer (diolah), 2016

Net Present Value(NPV)

Berdasarkan hasil analisis proyek pada tingkat bunga bank yang berlaku saat penelitian DF 19% selama 10 tahun diperoleh NPV sebesar

(NPV > 0), maka usaha kilang minyak goreng

atau jumlah rupiah yang dikeluarkan mampu memberikan keuntungan setelah dikurangi dengan beban biaya produksi yang dikeluarkan.

Net Benefit Cost Ratio(Net B/C)

Net B/C menunjukkan kemampuan menghasilkan laba persatuan nilai investasi. Hasil perhitungan untuk usaha kilang minyak goreng di daerah penelitian pada tingkat DF 19% adalah artinya setiap penambahan biaya , maka akan mendapatkan keuntungan sebesar 1,77% , berarti usaha kilang minyak goreng di daerah penelitian layak untuk dikembangkan

Internal Rate Of Return (IRR)

IRR adalah untuk mengetahui presentase keuntungan dari suatu usaha. Dari analisis proyek yang dilakukan selama 10 tahun diperoleh IRR sebesar usaha kilang minyak goreng layak untuk diusahakan karena nilai IRR lebih besar dari tingkat bunga yang berlaku (IRR > 19%).

industri kelapa cungkil : Hasil perhitungan nilai tambah yang diperoleh industri minyak goreng

omperhensif dapat dilihat

Tabel 3. Hasil Kriteria Penilaian Investasi Usaha Kilang Minyak Goreng

2.511.492.137 1,77 63,48 % 4 tahun 11 bulan 24 hari

Berdasarkan hasil analisis proyek pada tingkat bunga bank yang tahun diperoleh NPV sebesar usaha kilang minyak goreng layak untuk atau jumlah rupiah yang dikeluarkan mampu memberikan keuntungan setelah dikurangi dengan beban biaya produksi yang dikeluarkan.

Net B/C menunjukkan kemampuan menghasilkan laba persatuan nilai ntuk usaha kilang minyak goreng di daerah penelitian pada tingkat DF 19% adalah artinya setiap penambahan biaya , maka akan mendapatkan keuntungan sebesar 1,77% , berarti usaha kilang minyak goreng di daerah penelitian layak untuk dikembangkan

IRR adalah untuk mengetahui presentase keuntungan dari suatu usaha. tahun diperoleh IRR sebesar diusahakan karena

(10)

4. Break Event Point

BEP merupakan titik pulang pokok dimana total revenue sama dengan total cost (TR=TC). Dari hasil analisis

tahun diperoleh BEP sebesar

BEP atau titik pulang pokok usaha ini adalah pada saat usaha berusia 11 bulan 24 hari.

Adapun kesimpulan dari hasil dan pembahasan diatas bahwa n tambah yang diperoleh pengolah kelapa menjadi arang, kelapa cungkil dan minyak goreng kelapa lebih tinggi dibandingkan petani kel

sebesar Rp.325 per Kg, sedangkan nilai tambah produk turunan buah kelapa berupa arang sebesar Rp.

dan minyak goreng sebesar Rp

Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen layak diusahakan secara finansial, dimana nilai NPV sebesar Rp.

63,48%, dan BEP yaitu 4,99 atau lamanya waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya BEP yaitu 4 tahun 11 bulan 24 hari.

Adapun saran yang dapat diberikan yaitu d

kelapa agar dapat meningkatkan nilai tambah dan keuntungan pendapatannya dengan mengolah kelapa menjadi produk

perusahaan Kilang Minyak Goreng Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen dapat mengambil cara lain agar pasokan bahan baku dimasa depan tetap tersedia yaitu dengan memasok kelapa bulat dan membeli m

kelapa, selain daging kelapa yang digunakan sebagai bahan baku minyak, bagian lain seperti air, tempurung serta sabut kelapa juga limbah berupa ampas dapat diolah menjadi berbagai produk sehingga dapat menambah keuntungan perusahaan.

Ahmad, F. 2011. Analisis Usaha Pengolahan Minyak Goreng Bahan Mentah Kelapa (Studi Kasus: Kota Tanjung Balai).

Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan. Badan Pusat Statistik. 2014.

Aceh.

Deptan. 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Kedua.Deptan. Jakarta.

Break Event Point(BEP)

BEP merupakan titik pulang pokok dimana total revenue sama dengan total cost (TR=TC). Dari hasil analisis usaha kilang minyak goreng

n diperoleh BEP sebesar 4,99 hal ini berarti usaha layak untuk dijalankan. BEP atau titik pulang pokok usaha ini adalah pada saat usaha berusia

KESIMPULAN DAN SARAN

Adapun kesimpulan dari hasil dan pembahasan diatas bahwa n tambah yang diperoleh pengolah kelapa menjadi arang, kelapa cungkil dan minyak goreng kelapa lebih tinggi dibandingkan petani kelapa bulat, yaitu Kg, sedangkan nilai tambah produk turunan buah kelapa berupa arang sebesar Rp.560 per Kg, kelapa cungkil sebesar Rp.

an minyak goreng sebesar Rp.550 per Kg. Usaha kilang minyak goreng Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen layak diusahakan secara finansial, dimana Rp.2.511.492.137, Net B/C yaitu 1,77 dengan IRR sebesar 48%, dan BEP yaitu 4,99 atau lamanya waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya BEP yaitu 4 tahun 11 bulan 24 hari.

Adapun saran yang dapat diberikan yaitu diharapkan kepada petani kelapa agar dapat meningkatkan nilai tambah dan keuntungan pendapatannya

mengolah kelapa menjadi produk-produk turunan kelapa.

perusahaan Kilang Minyak Goreng Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen dapat mengambil cara lain agar pasokan bahan baku dimasa depan tetap tersedia yaitu dengan memasok kelapa bulat dan membeli mesin pencungkil daging kelapa, selain daging kelapa yang digunakan sebagai bahan baku minyak, bagian lain seperti air, tempurung serta sabut kelapa juga limbah berupa ampas dapat diolah menjadi berbagai produk sehingga dapat menambah keuntungan

DAFTAR PUSTAKA

Analisis Usaha Pengolahan Minyak Goreng Bahan Mentah Kelapa (Studi Kasus: Kota Tanjung Balai). Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.

Badan Pusat Statistik. 2014. Aceh Dalam Angka. BPS Provinsi Aceh. Banda

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kelapa Edisi Deptan. Jakarta.

BEP merupakan titik pulang pokok dimana total revenue sama dengan usaha kilang minyak goreng selama 10 usaha layak untuk dijalankan. BEP atau titik pulang pokok usaha ini adalah pada saat usaha berusia 4 tahun

Adapun kesimpulan dari hasil dan pembahasan diatas bahwa nilai tambah yang diperoleh pengolah kelapa menjadi arang, kelapa cungkil dan apa bulat, yaitu Kg, sedangkan nilai tambah produk turunan buah kelapa elapa cungkil sebesar Rp.400 per Kg Usaha kilang minyak goreng Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen layak diusahakan secara finansial, dimana , Net B/C yaitu 1,77 dengan IRR sebesar 48%, dan BEP yaitu 4,99 atau lamanya waktu yang dibutuhkan untuk iharapkan kepada petani kelapa agar dapat meningkatkan nilai tambah dan keuntungan pendapatannya produk turunan kelapa. Diharapkan perusahaan Kilang Minyak Goreng Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen dapat mengambil cara lain agar pasokan bahan baku dimasa depan tetap tersedia esin pencungkil daging kelapa, selain daging kelapa yang digunakan sebagai bahan baku minyak, bagian lain seperti air, tempurung serta sabut kelapa juga limbah berupa ampas dapat diolah menjadi berbagai produk sehingga dapat menambah keuntungan

Analisis Usaha Pengolahan Minyak Goreng Bahan Mentah Program Studi Agribisnis

. BPS Provinsi Aceh. Banda

(11)

Hayami, Y. dkk. 1990.

Java: A Perspective from A Sunda Village pp.40-46.

Indri, P. P. 2013. Analisis Nilai Tambah d

Desa Silo Baru Kecamatan Silau Laut Kabupaten Asahan) Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.

Sudiyono, A. 2002.Pemasaran Pertanian

Zeth, P. 2011. Analisis Produktivitas dan Nilai Tambah Kelapa Rakyat (Studi Kasus di tiga Kecamatan di Kabupaten Halmahera Utara).

Perdamaian Halmahera

Hayami, Y. dkk. 1990. Agrocultural Marketing and Processing in Upland Java: A Perspective from A Sunda Village. CGPRT Bogor. Ch.

Analisis Nilai Tambah dan Pemasaran Kopra (Studi Kasus Desa Silo Baru Kecamatan Silau Laut Kabupaten Asahan)

Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.

Pemasaran Pertanian. UMM Press. Malang.

Analisis Produktivitas dan Nilai Tambah Kelapa Rakyat (Studi Kasus di tiga Kecamatan di Kabupaten Halmahera Utara).

Perdamaian Halmahera-Tobelo.

Agrocultural Marketing and Processing in Upland . CGPRT Bogor. Ch. 6.

an Pemasaran Kopra (Studi Kasus: Desa Silo Baru Kecamatan Silau Laut Kabupaten Asahan). Fakultas

Analisis Produktivitas dan Nilai Tambah Kelapa Rakyat (Studi Kasus di tiga Kecamatan di Kabupaten Halmahera Utara). Politeknik

Gambar

Tabel 2. Hasil Perhitungan Analisis Nilai Tambah Buah Kelapa Output, Input, Harga Nilai* Nilai*
Tabel 3. Hasil Kriteria Penilaian Investasi Usaha Kilang Minyak Goreng Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai langkah awal, pemerintah dengan didukung Bank Dunia (dukungan untuk yang kedua kalinya) akan lebih menyebarluaskan program pendidikan dan pengembangan anak

Berdasarkan hasil penelitian pada tahun pertama ini dapat disimpulkan bahwa penambahan glutathione 1.5 mM pada medium maturation oocytes kerbau secara in vitro

Jadi, jika komitmen suatu daerah terhadap sektor pendidikan dilihat dari persentase pengeluaran sektor pendidikan (bukan nilai absolutnya), maka terlihat bahwa tidak

DEFINISI 33 : garis tinggi pada suatu segitiga adalah suatu segmen yang ditarik dari sembarang verteks ( titik sudut ), tegak lurus terhadap sisi dihadapannya (dapat

Malahan Norris (2017) berpendapat, parti yang tidak mengikut kemahuan golongan belia tidak akan mudah untuk memenangi pilihan raya kerana golongan belia lebih

Hasil pengujian sensor suhu dan tekanan dengan keluaran data ketinggian menunjukkan bahwa dalam uji statis terhadap titik referensi geodetik didapatkan nilai nilai

” Permohonan pemeriksaan banding diajukan secara tertulis oleh pemohon atau kuasanya yang khusus dikuasakan untuk itu kepada Pengadilan Tata Usaha Negara yang menjatuhkan

Kontrol Group Design dengan menggunakan desain pre-post test dalam dua kelompok. Populasi penelitian adalah semua pasien post SC di RSUD Dr. Moewardi dan sampel penelitian adalah