BAB 2
DATA DAN ANALIS A
2.1 Sumber Data
2.1.1 Referensi Buku
1. Buku 1001 wajah transportasi kita.
2. Buku Jakarta transportation guide.
2.1.2 Literatur Internet 1. http://taufiqsuryo.wordpress.com/2008/09/13/sejarah-transportasi-jakarta-mencari-solusi-alternatif-msalah-transportasi-kota-dki-jakarta/ 2. http://www.pdat.co.id/hg/political_pdat/2006/03/17/pol,20060317-01,id.html 2.1.3 Polling
Penulis melakukan pengambilan sample berupa penyebaran polling secara acak kepada rekan-rekan penulis melalui media internet.
1. Polling dilakukan kepada 100 orang. 45 orang berusia 20-25 tahun (45%) dan 25-30 tahun (44%).
2. 59 orang (59%) diantaranya berpergian dengan menggunakan
kendaraan pribadi setiap harinya.
3. 43 orang (72,8%) diantaranya menggunakan mobil dan 16 orang
(27,2%) menggunakan motor.
4. Sebanyak 19 orang (45.2%) memilih busway sebagai salah satu
kendaraan umum yang akan dipilih bilamana kendaraan pribadi yang dimilikinya bermasalah. 11 orang (26.1%) memilih taxi.
5. Bilamana orang menggunakan busway. 54 orang (54%) memilih
busway karena faktor hemat & murah. 19 orang (19%) karena faktor tidak macet.
6. Pengeluaran setiap bulan yang disisihkan untuk ongkos transportasi
adalah sebesar 500.000-1.000.000 rupiah sebanyak 54 orang (54%). 36 orang (36%) menyisihkan sebanyak 150.000-500.000 rupiah.
7. 49 orang (49%) menyebutkan bahwa kemacetan dijalan menjadi
faktor utama kemalasan untuk menggunakan kendaraan pribadi. 21 orang (21%) malas untuk mencari parkir .
2.2 Iklan Layanan masyarakat / PS A
2.2.1 Definisi PS A
Crompton dan Lamb mendefinisikan iklan layanan masyarakat atau public service announcement “ Sebagai suatu pengumuman atau pemberitahuan yang bersifat non komersial yang mempromosikan program-program kegiatan, layanan pemerintah, layanan organisasi non-bisnis dan pemberitahuan- pemberitahuan lainnya tentang layanan kebutuhan mayarakat di luar ramalan cuaca dan pemeberitahuan yang bersifat komersial.” (Kasali, 1993, p.201)
2.2.2 Manfaat PS A
M elalui iklan layanan masyarakat diaharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik/masyarakat untuk melakukan sebuah tindakan maupun tidak melakukan tindakan akan sebuah isu yang tengah berkembang maupun yang sedang hangat.
2.2.3 PS A mengenai transportasi umum.
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan penulis pada media Internet melalui situs www.youtube.com serta www.vimeo.com , jarang ditemukan PSA yang mengajak masyarakatanya untuk menggunakan kendaraan umum . PSA yang ada diantaranya :
1. Infomasi berupa fasilitas kendaraan umum yang ada di suatu Negara
2. Informasi berupa pengurangan kendaraan disebabkan kekurangan energi.
Sebagian diantaranya lebih banyak menggunakan live-shoot dimana menggunakan tokoh masyarakat dalam penyampaian pesan.
2.3 Definisi Transportasi Umum
Transportasi berasal dari kata dasar transport. Dimana dalam bahasa Inggris
transport berarti mengangkut dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan transportasi umum berarti sebuat alat/moda yang dapat mengangkut publik/masyarakat ke tujuan tertentu.
2.4 Sejarah singkat transportasi di DKI Jakarta
Sejarah transportasi DKI Jakarta bermula dari dibagunnya pelabuhan Tanjung Priok sekitar 15 km kearah timur dari pelabuhan Sunda Kelapa , yang pada masa itu berfungsi sebagai sarana transportasi barang dari cina dan India.
Pembangunan pelabuhan ini membawa dampak yang cukup signifikan bagi perkembangan transportasi yang ada di DKI Jakarta. Selain berguna untuk membantu memperlancar arus barang dari pelabuhan sampai ke seluruh pelosok kota DKI Jakarta, transportasi juga digunakan sebagai alat angkut masyarakat, mengingat jumlah penduduk kota Jakarta saat itu bertambah besar jumlahnya.
DKI Jakarta pernah memiliki sebuah trem dengan lintasannya sendiri, dari awal mulanya hanya ditarik dengan tenaga kuda, batubara, samapai akhirnya mengaplikasikan tenaga listrik untu ktrem tersebut. Trem bisa dibilang menjadi salah satu angkutan missal di masa itu, namun sangat disayangkan Presiden Soekarno menganggap trem sudah tidak cocok lagi untuk seukuran kota DKI Jakarta ,yang pada saat itu sudah menjadi kota besar.
Selain Oplet, becak, transportasi umum di DKI Jakarta juga di ramaikan dengan kehadiran bus (PPD, DAM RI) pada sekitar tahun 1920-an serta mulai dioperasikannya Kerata Api Listrik (KRL) sejak tahun 1976. Sangat di sayangkan karena adanya peraturan perundagan yang melarang beroperasinya oplet dan becak, maka kita tidak bisa lagi melihat sarana transportasi jarak dekat yang pernah menjadi bagian bagi masyarakat DKI Jakarta.
Sampai sekarang ini telah banyak terlihat berbagai macam jenis alat transportasi umum yang mewarnai kehidupan lalu lintas Jakarta. Kendaraan seperti Bajaj, Ojek, serta angkutan kota (angkot) yang melintasi jalan-jalan kecil di DKI Jakarta , hingga kendaraan besar seperti Bus M etro M ini , Kopaja, Patas, dan lain sebagainya. Kendaraan seperti taksi sudah bisa dinikmati oleh penduduk Jakarta. Begitu pula dengan Busway. Serta adanya perencanaan penambahan berbagai jenis transportasi massal di tahun-tahun
mendatang seperti M onorail, Subway, dan juga M RT.
Pada tahun 1970 terjadi peningkatan jumlah volume kendaraan secara signifikan akibat terjadinya revolusi transportasi. M asyarakat berlomba untuk memiliki kendaraan pribadi. Sampai seakan-akan bila belum memiliki kendaraan berarti belum menjadi
orang kaya. Pengkreditan yang mudah membuat masyarakat semakin berlomba untuk memiliki mobil pribadi. Hasilnya sekarang jumlah peningkatan mobil tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah luas jalan.
Gambar 2.1 Gambar 2.2
Transportasi di DKI Jakarta 1970an. Transportasi umum di DKI Jakarta 1930
2.5 Kondisi transportasi umum di DKI Jakarta saat ini.
Banyak terjadi perbedaan terhadap kondisi transportasi di DKI Jakarta dimasa kini dengan kondisi di masa lalu. Dimana sekarang hanya bisa terlihat kota DKI Jakarta padat akan kendaraan pribadi seperti motor maupun mobil yang digunakan untuk bekerja setiap harinya.
Fakta yang ada menunjukan peningkatan sarana transportasi di DKI Jakarta saat ini tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah penduduk yang berpindah antar lokasi untuk pekerjaan. M enurut data yang ada, jumlah penduduk yang bekerja di Provinsi DKI
Jakarta per Februari 2008 sebesar 4,06 juta orang, bertambah sekitar 0,52 juta orang jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2007 sebesar 3,54 juta orang.
Berdasarkan data Dishub DKI Jakarta, jumlah kendaraan di DKI Jakarta pada 2007 mencapai 5,7 juta unit. Padahal, dua tahun sebelumnya hanya 4,9 juta unit. Dapat ditarik kesimpulan, terjadi kenaikan jumlah kendaraan mencapai 8% per tahun. Total 5,7 juta jumlah kendaraan di DKI Jakarta, 98,5% adalah kendaraan pribadi dan hanya 1,5% kendaraan umum. Padahal kendaraan pribadi hanya mengangkut 44% sementara kendaraan umum mengangkut 53% perjalanan.
4.06 juta pekerja yang bekerja di wilayah DKI Jakarta, sebagaian besar diantaranya menggunakan kendaraan pribadi sebagai sarana transportasi menuju tempat
kerja daripada menggunakan angkutan umum. Hasil riset MARS Indonesia dalam
“Indonesian Consumer Profile 2008” menunjukkan bahwa 78,4% pekerja di ibukota
Jakarta lebih suka menggunakan kendaraan pribadi (mobil & motor pribadi), sementara yang memilih angkutan umum hanya 18,1% pekerja.
Banyak faktor yang menentukan pemakaian mobil pribadi dibanding kendaraan umum, seperti: sikap pengemudi angkutan umum yang suka berhenti sembarangan, kerusakan fasilitas halte oleh insan yang tidak bertanggung jawab , jumlah armada yang disediakan maupun faktor-faktor lainnya.
Data lain yang ditunjukan Direktorat Lalu Lintas Polda M etro Jaya terhadap pertumbuhan kendaraan pribadi di Jabodetabek dari tahun 2006 – 2008 menunjukan peningkatan 10% per tahun.
Terlepas dari segala permasalahan transportasi yang ada di DKI Jakarta saat ini, pemerintah telah berusaha untuk mencari solusi supaya DKI Jakarta di masa yang akan datang tidak terjadi kemacetan total. Upaya yang dilakukan dalam rangka mengatasi potensi kemacetan total di wilayah DKI Jakarta adalah dengan memberlakukan peraturan untuk mengurangi jumlah kendaraan pribadi, dengan penataan kembali sarana transportasi umum sehingga benar-benar menjadi pilihan utama warga, maupun penambahan jumlah infrastruktur jalan dan prasarana lainnya.
2.6 Manfaat transportasi umum
Transportasi umum memiliki banyak manfaat, baik bagi kota itu sendiri maupun juga masyarakatnya.
M anfaat yang bisa didapat adalah dari segi waktu dan keuangan. Dimana dengan menggunakan transportasi umum, masyarakat tidak perlu repot mencari parkiran, bermacet-macetan dengan mobil lain, dan yang terpenting adalah menggunakan transportasi umum lebih terjangkau. Jika kita bandingkan dengan ongkos yang harus dikeluarkan ketika membawa kendaraan pribadi, maka transportasi umum merupakan solusi yang tepat untuk dapat melakukan penghematan.
2.6.1 Tidak terkena kemacetan
Kota Jakarta dikenal sebagai kota yang padat. Dimana pertumbuhan penduduk tidak sebanding dengan pertumbuhan dan perluasan jalan sebagai media perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Bila setiap harinya mayoritas pekerja kota Jakarta harus menggunakan kendaraan pribadinya untuk pergi bekerja, dapat dibayangkan kemacetan yang terjadi di jalanan ibukota Jakarta.
Kendaraan umum dapat menjadi solusi untuk mengendalikan trasnportasi secara massal dalam pengurangan jumlah kendaraan di jalanan ibukota Jakarta.
Gambar 2.3
Kemacetan di Jakarta tahun 1900an.
2.6.2 Tidak letih dijalan
Letih di jalan dapat menyebabkan stamina dan pikiran kita menjadi kacau. Stamina yang kendur dan pikiran yang tidak jernih tentu akan berdampak kepada efektifitas dalam bekerja.
Dengan berkendaraan umum khalayak dapat bersantai serta dapat melakukan aktivitas yang lebih produktif seperti membaca. Diharapkan dengan
berkurangnya stress dalam berkendara, khalayak dapat mengeluarkan kemampuan yang maksimal di tempat kerja.
2.6.3 Manfaat terhadap alam
Penggunaan kendaraan umum yang memiliki daya angkut massal memiliki peran yang penting bagi alam dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, dengan menggunakan kendaraan umum akan mengurangi jumlah polusi yang ditimbulkan oleh kendaraan yang beroperasi. Bila kendaraan yang dapat mengangkut 8 orang digunakan hanya untuk mengangkut 2-3 orang, bukankah itu sebuah pemborosan akan penggunaan bens in dan juga akan polusi yang ditimbulkan.
Alam dan Lingkungan yang bersih dapat meningkatkan keindahan kota serta dapat menjaga kesehatan masyarakat yang tinggal di kota tersebut.
2.6.4 Manfaat terhadap keselamatan
Terlepas dari kemudahan yang bisa di dapat dari kendaraan pribadi, seperti menggunakan motor, baik terhadap kemampuan untuk dapat menghindari terjebak dalam kemacetan maupun terhadap faktor keuangan, faktor keselamatan sering kali terlupakan oleh para penggunanya.
Benar jika dikatakan kecelakaan dapat terjadi dimana saja, kapan saja dan menggunakan kendaraan apapun, namun menurut data yang terkumpul
menyebutkan selama 2008, kecelakaan lalu lintas yang melibatkan motor sebanyak 5.898 kasus, atau sekitar 50 persen dari seluruh kejadian kecelakaan lalu lintas. Korban meninggal dunia 1.169 orang, luka berat 2.597 orang, dan luka ringan 4.317 orang.
Sementara untuk angkutan umum, yang melakukan pelanggaran lalu lintas tercatat sebanyak 111.396 kasus, sedangkan angka kecelakaan lalu lintas
yang melibatkan angkutan umum sebanyak 2.076 kasus.
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa penyumbang kecelakaan terbesar adalah berasal dari motor yaitu sebanyak 50 persen. Diharapkan penggunaan kendaraan umum dapat meminimalisasi angka kecelakaan.
2.6.5 Manfaat secara keuangan
Biasanya pada akhir bulan setiap orang akan menghitung kembali pengeluaran selama sebulan. Pengeluaran tersebut antara lain untuk biaya makan, membeli pakaian, biaya pendidikan, hiburan dan biaya untuk transportasi.
Pengeluaran setiap bulannya tentu dirasakan berat bagi mayoritas masyarakat yang bekerja di kota Jakarta. Dimana jika kita melihat upah minimum di wilayah DKI Jakarta, hanya sebesar 1.118.009 (2010) sedangkan pengeluaran yang disisihkan untuk transportasi bisa sebesar 150ribu – 1juta rupiah. Jumlah ini hampir setengah dari pendapatan minimal dan bahkan tidak
jarang dapat menghabiskan pendapatan setiap bulannya hanya untuk menanggung beban trasnportasi yang besar.
Tidak ada salahnya memang bila berkeinginan untuk memiliki kendaraan pribadi. Dan tidak ada salahnya juga bila mengunakan kendaraan pribadi. Tetapi bilamana diberi pilihan untuk dapat berhemat, kenapa tidak?
Ongkos menaiki kendaraan umum yang ada di DKI Jakarta memiliki
harga yang cukup reasonable dan tergolong murah bila dibandingkan dengan
menggunakan kendaraan pribadi. Salah satu contoh adalah dengan memakai busway bagi pekerja yang pergi ke kantor yang terletak di sekitar stasiun busway
dibangun. Busway di DKI Jakarta memberikan tarif penggunanya sebesar 3500
rupiah. Bila penggunanya menggunakan busway untuk pulang dan pergi maka setiap harinya ia harus mengeluarkan 7000 rupiah untuk ongkos bepergian. Bila dihitung dalam jangka waktu 1 bulan maka 7000 rupiah x 5 hari kerja x 4 minggu akan didapatkan hasil sebanyak 140 ribu rupiah. Tentunya angka itu belum secara akurat memproyeksikan pengeluaran bilamana masyarakat menggunakan kendaran umum untuk berpergian ke kantor setiap harinya. Tetapi berdasarkan analisa penulis, selayaknya bisa dijadikan patokan bahwa ongkos yang dikeluarkan masyarakat jika menggunakan kendaraan umum setiap bulannya dapat menjadi kurang 500ribu rupiah dan bahkan dapat ditekan menjadi setengahnya.
Hasil polling yang telah dirangkum oleh penulis menunjukan bahwa sebanyak 54.7% dari responden yang memiliki dan memakai kendaraan pribadi mengeluarkan hampir sebnyak 500ribu – 1juta rupiah setiap bulannya.
Dapat dibayangkan bila setiap bulanya masyarakat dapat menghemat sebanyak 250ribu – 750 ribu. Apalagi bila diproyeksikan kedalam 1 tahun akanlah menjadi angka yang besar jumlahnya.
Dengan menggunakan kendaraan umum maka hasil dari penghematan tersebut dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain yang lebih penting. Baik itu untuk sekedar ditabung maupun juga untuk keperluan yang lebih penting dan berharga lainnya.
Busway sebagai sarana transportasi massal Suasana Busway Gambar 2.4 Gambar 2.5
Terminal Blok M sebagai halte busat seluruh bus kota.
Gambar 2.6
Deretan mikrolet. Gambar 2.7
2.7 Target Market
Target audiensuntuk animasi iklan layanan masyarakat berjudul pakai kendaraan
umum, ditunjukan kepada para pekerja berumur sekitar 22-40thn, yang bekerja setiap harinya di wilayah DKI Jakarta , dimana mereka setiap harinya menggunakan kendaraan pribadi sebagai transportasi utama.
2.8 S tudi Kasus
2.8.1 Faktor Pendukung
- M asih banyak masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi.
- Belum adanya animasi iklan layanan masyarakat yang bertemakan
kendaraan umum.
- DKI Jakarta masih menghadapi kemacetan.
- Animasi iklan layanan masyarakat berjudul pakai kendaraan umum ini,
dibuat menggunakan teknik animasi 2d sehingga penyajiannya menarik minat serta akan lebih mudah dimengerti masyarakat.
2.8.2 Faktor Penghambat
- Tidak adanya referensi mengenai iklan layanan masyarakat bertemakan
kendaraan umum yang bisa dijadikan sebagai bahan acuan.
- M asih minimnya sarana dan prasarana dari transportasi umum di DKI
Jakarta.
- Banyak yang masih menganggap animasi iklan layanan masyarakat di
Indonesia belum memiliki standar yang baik.