BAB II
PROFIL KABUPATEN JEMBRANA
2.1. WILAYAH ADMINISTRASI KABUPATEN JEMBRANA
Kabupaten Jembrana adalah satu dari 9 (sembilan) Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi Bali, terletak di belahan Barat pulau Bali, membentang dari arah Barat ke Timur pada 8 .09'.30" 8 28'02" LS dan 114 25'53" – 114 5638" BT. Luas wilayah Jembrana yaitu 841,80 Km² atau 84.180 Ha.
Batas administrasi wilayah Kabupaten Jembrana adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kabupaten Buleleng
Sebelah Timur : Kabupaten Tabanan
Sebelah Selatan : Samudera Indonesia
Sebelah Barat : Selat Bali
Tabel 2.1:
Wilayah Administrasi dan Luas Wilayah Kabupaten Jembrana
Sumber: Profile Kabupaten Jembrana Tahun 2016
Gambar 2.1: Peta Administrasi Kabupaten Jembrana
Sumber: RTRW Kabupaten Jembrana Tahun 2012 – 2032
2.2. POTENSI WILAYAH KABUPATEN JEMBRANA
Potensi wilayah yang dimiliki Kabupaten Jembrana terdiri atas beberapa sektor yang tentunya akan lebih potensial berkembang apabila didukun sarana prasarana serta infrastruktur yang handal. Beberapa potensi kabupaten jembrana antara lain:
No. Nama Kecamatan Desa/Kelurahan Luas Wilayah (Ha)
1. Melaya 10 19.719
2. Negara 12 12.650
3. Jembrana 10 9.397
4. Mendoyo 11 29.449
5. Pekutatan 8 12.965
2.2.1 PERTANIAN PANGAN
Temperatur udara yang berkisar antara 20 - 29°C, kelembaban udara berkisar antara 74 - 87 % serta rata-rata curah hujan 2.002 per tahun dan ketinggian tempat antara 0 - 600 m dpl, Kabupaten Jembrana sangat cocok untuk mengembangkan berbagai komoditas Pertanian.
Beberapa komiditas tanaman pangan yang ada di Jembrana, antara lain padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedelai dan kacang hijau. Di tahun 2015 produksi padi sebanyak 65.295 Ton, produksi ubi kayu sebanyak 452 Ton, dan produksi jagung 510 ton.Komoditas tanaman pangan yang merupakan kebutuhan utama, yang sering disebut Bama (Bahan Makanan Utama), terdiri dari : padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi jalar dan ubi kayu. Adapun data komoditas tanaman pangan di Kabupaten Jembrana Tahun 2015 dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Data Komoditas Tanaman Pangan di Kabupaten Jembrana Tahun 2015
Jenis Komoditas
Luas Lahan
Luas
Panen Produksi
Rata-rata
Produksi Keterangan
(Ha) (Ha) Ton Kw/Ton
Padi
9,037 9,784 65,295 66.74
Gabah Kering Giling (GKG)
Jagung 403 102 510 50.00 Pipilan Kering
Kedelai 1,615 1,603 2,397 14.71 Biji Kering Kacang Tanah 77 72 127 17.64 Biji Kering
Kacang Hijau 53 52 42 8.08 Biji Kering
Ubi Kayu 9 36 452 125.56 Ubi Basah
Ubi Jalar - - - - Ubi Basah
Sumber : Dinas Pertanian,Perkebunan dan Peternakan Kab. Jembrana, Dalam Jembrana dalam Angka Tahun 2015
2.2.2 PERKEBUNAN
Melalui Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Jembrana, komoditas yang dibina dalam Bidang Perkebunan terdapat beberapa jenis tanaman yang dibina antara lain Kakao, Cengkeh, Panili, Kopi Robusta,Kelapa Dalam, Kelapa Genjah, Kelapa Deres, Kelapa Hybrida dan kapok.
Perkebunan mempunyai kedudukan yang strategis dalam pengembangan sector pertanian di Jembrana. 18,08 % luas lahan di Jembrana digunakan untuk perkebunan yang bersifat perkebunan rakyat. Peningkatan kualitas dan produksi hasil-hasil perkebunan adalah salah satu tujuan pembangunan sub sektor perkebunan.Komoditas hasil perkebunan yang potensial dikembangkan dan memiliki peluang ekspor yang tinggi di Jembrana adalah kelapa, kopi, cengkeh, kakao dan vanili.Untuk komoditi kelapa dalam luas arealnya mencapai 15.007 ha pada tahun 2015 dengan hasil buah kelapa sebanyak 15.155,54 Ton
Tanaman perkebunan lainnya yang potensial di Jembrana adalah kakao. Pada tahun 2015 jumlah produksi sebanyak 2.741,46 Ton. Berikut beberapa potensi perkebunan di kabupaten Jembrana
Luas Areal, Produksi, dan Banyaknya Pemilik Tanaman Kelapa Dalam di Kabupaten Jembrana, 2015 Jumlah/Total 661.80 15,007.00 1,272.95 15,155.54 1,010.00 16,530.00
2014 668.55 15,969.25 86.95 18,878.00 1,182.00 16,530.00
2013 668.55 15,969.25 86.95 18,298.90 1,146.00 16,530.00
2012 668.55 15,669.20 348.00 18,374.33 1,170.00 16,530.00
2011 676.00 15,799.20 347.95 18,379.32 1,163.00 16,530.00 Bentuk Hasil : Kopra
Luas Areal, Produksi, dan Banyaknya Pemilik Tanaman Kakao di Kabupaten Jembrana, 2015
Kecamatan Sumber : Dinas Pertanian,Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Jembrana, Dalam Jembrana dalam Angka Tahun 2015
Luas Areal, Produksi, dan Banyaknya Pemilik Tanaman Kopi Robusta di Kabupaten Jembrana, 2015
Luas Areal, Produksi, dan Banyaknya Pemilik Tanaman Cengkeh di Kabupaten Jembrana, 2015 Jumlah/Total 167.50 3,009.55 242.30 691.93 230.00 8,659.00
2014 15.20 3,235.85 195.80 785.36 243.00 8,659.00
2013 8.60 3,232.45 205.80 772.34 239.00 8,659.00
2012 8.60 3,232.45 205.80 1,255.65 388.00 8,659.00
2011 8.60 3,232.45 205.80 75.02 23.00 8,659.00
Sumber : Dinas Pertanian,Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Jembrana, Dalam Jembrana dalam Angka Tahun 2015
Luas Areal, Produksi, dan Banyaknya Pemilik Tanaman Panili di Kabupaten Jembrana, 2015
Kecamatan
Sumber : Dinas Pertanian,Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Jembrana, Dalam Jembrana dalam Angka Tahun 2015
yang terdiri dari daerah persawahan, perkebunan, tegalan dan lain sebagainya. Berbagai pepohonan seperti waru, bunut, nangka, rumput gajah, rumput raja, rumput setaria dan rumput lapangan dapat tumbuh subur sebagai pakan ternak. Dengan kondisi yang demikian berbagai potensi ternak dapat berkembang di Kabupaten Jembrana yang terdiri dari ternak besar, kecil dan unggas.
Populasi Ternak di Kabupaten Jembrana, 2015
Kecamatan Sapi Potong Kerbau Kuda Kambing Domba Babi 1. Melaya 19,584.00 264.00 2.00 490.00 - 4,436.00 2. Negara 12,726.00 514.00 92.00 4,095.00 - 12,234.00 3. Jembrana 9,146.00 228.00 59.00 946.00 - 6,151.00 4. Mendoyo 5,454.00 300.00 8.00 1,163.00 - 30,667.00 5. Pekutatan 4,915.00 22.00 - 2,093.00 - 12,139.00 Jembrana 51,825.00 1,328.00 161.00 8,787.00 - 65,627.00 2014 52,306.00 1,101.00 116.00 7,735.00 - 64,998.00 2013 52,014.00 1,006.00 100.00 7,893.00 - 68,894.00 2012 54,306.00 1,224.00 104.00 9,575.00 - 71,759.00 2011 54,114.00 1,224.00 104.00 9,575.00 - 71,829.00 Sumber : Dinas Pertanian,Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Jembrana, Dalam Jembrana dalam Angka Tahun 2015
2.2.4 KEHUTANAN
Secara kondisi, Bali merupakan Ekosistem Pulau maka didalam
manajemen Pengelolaan Ekosistem harus berorientasi pada ”Satu Kesatuan Manajemen” yaitu pengeloaaan DAS Unda Anyar. Satu Kesatuan Manajemen
mengandung arti bahwa, sistem pengelolaan hutan disetiap wilayah kabupaten memiliki keterkaitan dan kesinambungan dengan pengelolaan hutan di wilayah kabupaten lain. Pengelolaan Hutan tidak dapat dilaksanakan secara parsial karena ekosistem tidak dipisahkan oleh batas administratif, sehingga dikhawatirkan dapat mengancam kelestarian hutan. Skala prioritas pengeloaan Hutan di Bali menenkankan pada 3 hal pokok, dimana prinsip yang utama yaitu prinsip Ekologi, kemudian prinsip Sosial selanjutnya berorientasi Ekonomi, baik ekonomi daerah maupun ekonomi masyarakat penyanding hutan. Atas prinsip pengelolaaan tersebut, maka luas hutan yang berfungsi perlindungan yaitu Hutan Lindung dan Hutan Konservasi memiliki porsi luasan yang lebih besar.
sebagian besar tipe hutan hujan tropik. Selain ditumbuhi flora yang beraneka ragam. Pulau Bali memiliki fauna khas endemik yaitu Burung Jalak Bali yang habitatnya terdapat di Kawasan Taman Nasional Bali Barat, dimana sebagaian dari kawasan ini berada di wilayah administrasi Kabupaten Jembrana. Karena kekhasannya, burung ini kemudian dijadikan sebagai maskot Provinsi Bali.
Kawasan Hutan di Kabupaten Jembrana berada pada kelompok Hutan Yeh Leh Yeh Lebah (RTK 12) seluas 2.813,00 Ha dan Kelompok Hutan Bali Barat (RTK 19) seluas 38.494,27 Ha. Luas Kawasan Hutan di Kabupaten Jembrana adalah 41.307,27 Ha atau 7, 48 % dari Luas Pulau Bali; atau 31,61 % dari luas Kawasan Hutan Pulau Bali; atau 49,07 % dari luas daratan Kab. Jembrana. Kawasan Hutan hampir 80,471 % berupa Kawasan fungsi Lindung. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Jembrana kawasan tersebut disepakati dipertahankan sebagai Penyangga Sistem Kehidupan wilayah dibawahnya atau daerah hilir. Dalam pembangunan sektor ekonomi, pertanian sebagai tulang punggung pembangunan bidang ekonomi sangat tergantung pada kondisi tata lingkungan dan tata air serta kelestarian ekosistem wilayah hulu sebagai sarana pendukung produksi. Oleh sebab itu kelestarian wilayah hulu mutlak dipertahankan . Kondisi saat ini diperkirakan sekitar 30 - 40 % Hutan diwilayah hulu Jembrana dalam keadaan rusak akibat adanya usaha illegal perubahan fungsi terhadap keberadaan fungsi Hutan tersebut, hal ini terjadi sebagaian besar pada Hutan fungsi lindung di Jembrana.
Kawasan Hutan di Kabupaten Jembrana berada pada kelompok Hutan Yeh Leh Yeh Lebah (RTK 12) seluas 2.813,00 Ha dan Kelompok Hutan Bali Barat (RTK 19) seluas 38.494,27 Ha dengan rincian sebagai berikut :
Luas Hutan di Kabupaten Jembrana menurut fungsinya
No. Jenis Fungsi Hutan Luas
(Ha)
Persentase (%)
1. Hutan Fungsi Lindung 33.240,27 80,471
2. Hutan Produksi Terbatas 2.610,20 6,319
3. Hutan Produksi Tetap. 383,10 0,927
4. Hutan Konservasi/TNBB 5.073,70 12,283
Hutan Fungsi Lindung 33.240,27 ha
Hutan Produksi Terbatas 2.610,20 ha Hutan Produksi Tetap
383,1 ha
Hutan Konservasi/TNBB 5.073,70 ha
Jenis Fungsi Hutan
Sumber: Profil DKPK Jembrana 2015
2.2.5 PERIKANAN
Pengertian perikanan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu system bisnis perikanan. Pengelolaan perikanan dilakukan berdasarkan asas manfaat, keadilan, kebersamaan, kemitraan, kemandirian, pemerataan, keterpaduan, keterbukaan, efisiensi, kelestarian, dan pembangunan yang berkelanjutan.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, kewenangan Daerah Provinsi untuk mengelola sumber daya alam di laut sebagaimana dimaksud dalam Bab V Pasal 27, paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau kearah perairan kepulauan. Selain itu, disebutkan dalam pembagian urusan pemerintahan konkuren antara pemerintah pusat, daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota, kewenangan urusan kelautan dan perikanan kabupaten/kota adalah sebagai berikut :
1. Sub urusan perikanan tangkap, terdapat 2 (dua) kewenangan kabupaten/kota, yaitu pemberdayaan nelayan kecil dalam Daerah kabupaten/kota, serta pengelolaan dan penyelenggaraan Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
2. Sub urusan perikanan budidaya, terdapat 3 (tiga) kewenangan kabupaten/kota, yaitu penerbitan IUP (Ijin Usaha Perikanan) di bidang pembudidayaan ikan yang usahanya dalam 1 (satu) Daerah kabupaten/kota, pemberdayaan usaha kecil pembudidayaan ikan, serta pengelolaan pembudidayaan ikan.
Presiden telah menyatakan bahwa Laut adalah Masa Depan Peradaban Bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa laut tidak boleh dipunggungi, sudah saatnya bangsa Indonesia melihat laut sebagai sumber kehidupan manusia. Oleh sebab itu, pembangunan kelautan dan perikanan harus dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan untuk mengubah suatu keadaan menjadi keadaan yang lebih baik dengan memanfaatkan sumberdaya kelautan dan perikanan secara optimal, efisien, efektif dan akuntabel, dengan tujuan akhir untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Memperhatikan amanat Trisakti dan Nawa Cita, serta untuk mendukung terwujudnya Redistribusi Keadilan melalui sektor unggulan nasional
“Kemaritiman dan Kelautan” serta “Kedaulatan Pangan”, maka paradigma pembangunan kelautan dan perikanan adalah (1) Pertumbuhan, (2) Pemerataan, dan (3) Modernisasi. Pertumbuhan yang dimakud adalah bagaimana upaya KKP untuk dapat meningkatkan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Pemerataan pembangunan akan dilakukan dengan memberikan peluang bagi usaha skala kecil untukmaju dan mandir dengan tetap memelihara keberlanjutanusaha skala besar. Modernisasi dimaksudkan agar seluruh usaha yang dilakukan dapat memberikan nilai tambah yang optimal di dalam negeri.
Kawasan sempadan pantai berdasarkan RTRW Kabupaten Jembrana Tahun 2012-2032, meliputi seluruh pantai kabupaten sepanjang kurang lebih 93,6 kilometer, seluaskurang lebih 936 hektar atau 1,54% dari luas wilayah kabupaten. Semua kecamatan di Kabupaten Jembrana merupakan wilayah pesisir dimana seluruhnya mempunyai pantai. Secara detail, luas desa-desa pantai di wilayah pesisir Kabupaten Jembrana adalah sebagai berikut :
Luas desa pantai di wilayah pesisir Kabupaten Jembrana
No Desa Pantai Luas (Ha) No Desa Pantai Luas (Ha)
A KEC. MELAYA 13.492 D KEC. MENDOYO 17.799
1 Gilimanuk 5.061 1 Dlod Berawah 269
2 Melaya 6.074 2 Penyaringan 5.112
3 Nusasari 788 3 Yeh Embang 3.549
4 Candikusuma 679 4 Yeh Embang Kangin 4.579
5 Tuwed 890 5 Yeh Sumbul 4.290
B KEC. NEGARA 4.066 E KEC. PEKUTATAN 11.457
1 Banyubiru 939 1 Medewi 677
2 Baluk 1.055 2 Pulukan 3.548
No Desa Pantai Luas (Ha) No Desa Pantai Luas (Ha)
Sumber : Rencana Strategis WP3K Kabupaten Jembrana Tahun 2013-2032
Kabupaten Jembrana memiliki luas wilayah Laut kurang lebih 604,24 Km2 merupakan penghasil ikan laut terbesar di Provinsi Bali, pantai yang terbentang di bagian selatan Kabupaten Jembrana mulai dari Desa Pengeragoan sampai ke wilayah paling barat Kabupaten Jembrana yaitu Gilimanuk. Penduduk yang menetap disepanjang pantai ini mengandalkan mata pencaharian sebagai Nelayan, baik tradisional atau semi modern.
Karakter garis pantai di Kabupaten Jembrana terdiri dari pantai berpasir hitan/kelabu, pantai bermangrove, pantai berpasir dan kerakal serta pantai berkerakal dan bongkah. Tipologi garis pantai Kabupaten Jembrana sebagian besar merupakan pantai berpasir hitam/kelabu, yaitu mencapai 57,34 km (68,67%). Pantai berpasir hitam/kelabu dengan rielief yang cukup datar terdapat mulai dari Kelurahan Gilimanuk sampai Desa Yeh Embang Kangin. Pantai berpasir dan kerakal panjangnya 11,93 km, terutama terdapat di Kecamatan Pekutatan yaitu Desa Pekutatan, Pangyangan dan Gumbrih. Pantai berkerakal dan berbongkah panjangnya 4,60 km, juga terdapat terdapat di Kecamatan Pekutatan yaitu Desa Pengeragoan, Pulukan dan Medewi. Pantai bermangrove terdapat di Teluk Gilimanuk sepanjang 7,28 km. Sedangkan pantai lainnya yaitu pantai bertembok, panjangnya 2,35 km terdapat di Pelabuhan Gilimanuk, Pelabuhan Perikanan Nusantara Pengambengan serta di Desa Tegal Badeng Barat dan Desa Cupel.
Tipe pantai di wilayah Kabupaten Jembrana
No Kecamatan
2.3. DEMOGRAFI DAN URBANISASI
Informasi data kependudukan menjadi kebutuhan dasar dalam melakukan sebuah perencanaan. Dangan data tersebut proyeksi beberapa tahun kedepan dapat tersusun sistematis, sehingga perencanaan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sesaat saja namun dapat diimplementasikan dalam jangka waktu tertentu. Proyeksi penduduk tersebut bukan merupakan ramalan, tetapi perhitungan ilmiah yang didasarkan pada asumsi – asumsi tertentu berdasarkan komponen – komponen laju pertumbuhan penduduk.
2.3.1 Jumlah Rumah Tangga dan Penduduk
Penduduk merupakan aset pembangunan apabila dapat diberdayakan secara optimal. Meskipun demikian mereka juga bisa menjadi beban pembangunan jika pemberdayaannya tidak disertai dengan kualitas yang memadai pada wilayah bersangkutan. Berdasarkan data yang tercatat pada Kantor Catatan Sipil dan Kependudukan, jumlah penduduk Kabupaten Jembrana sampai dengan Desember tahun 2015 adalah sebanyak 311.995 jiwa dengan distribusi sebagai berikut:
Kecamatan Melaya=59.926 Jiwa
Kecamatan Negara=92.778 Jiwa
Kecamatan Jembrana=59.610 Jiwa
Kecamatan Mendoyo=69.663 Jiwa
Kecamatan Pekutatan=30.018 Jiwa
Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Jembrana Tahun 2015
Jenis Kelamin Tahun
2012 2013 2014 2015
Laki 158,398 160,337 160,204 156,368
Perempuan 158,719 160,671 160,056 155,627
Total 317,117 321,008 320,260 311,995
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Jembrana
Diagram Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Jembrana
Sementara jumlah penduduk di Kabupaten Jembrana berdasarkan kecamatan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Jumlah Penduduk menurut Kecamatan di Kabupaten Jembrana Tahun 2015
Kecamatan Tahun
2012 2013 2014 2015
Melaya 62,027 62,908 62,916 59,926
Negara 91,280 93,070 93,047 92,778
Jembrana 62,224 62,790 62,434 59,610
Mendoyo 70,534 71,023 70,622 69,663
Pekutatan 31,052 31,217 31,241 30,018
Berdasar tabel diatas, pada tahun 2015 persentase jumlah penduduk menurut kecamatan terbesar adalah di Kecamatan Negara sebesar 30% atau 92.778 jiwa, dan terkecil di Kecamatan Pekutatan sebesar 10% atau 30.018 jiwa.
Diagram Presentase Jumlah Penduduk Berdasarkan Kecamatan
2.3.1 Penduduk Miskin
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.
Angka Kemiskinan Kabupaten Jembrana
2.3.3 Proyeksi Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Jembrana dari tahun ke tahun terus mengalami Peningkatan.Sebagai landasan perencanaan pembangunan sanitasi di Kabupaten Jembrana, perlu dibuat angka proyeksi untuk 5 tahun kedepan, dengan digunakan rumus perhitungan sebagai berikut :
Pt = Po (1+r )t
Di mana;
Pt = Jumlah penduduk tahun ke t
Po = Jumlah Penduduk awal
r = rata – rata pertumbuhan penduduk t = Waktu (5)
Nilai rata – rata pertumbuhan jumlah penduduk setiap tahun sebesar 1 %, dengan hasil proyeksi jumlah penduduk mulai tahun 2010 sampai dengan tahun 2017 dapat dilihat pada Tabel 2.4. Jumlah penduduk Kabupaten Jembrana berdasarkan Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Tahun 2011 adalah 317.117 jiwa atau 6,72% dari total penduduk Bali (3.891.428 jiwa). Jumlah penduduk Kabupaten Jembrana telah meningkat 1.27 kali sejak 30 tahun (tahun 1980 jumlah penduduk 204.915 jiwa). Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Jembrana 30 tahun terakhir adalah 0,92%/tahun jauh dibawah pertumbuhan penduduk Provinsi Bali 1,9%/tahun. Untuk lebih jelasnya jumlah penduduk dan perkembangannya disajikan pada Tabel 2.3.
jumlah penduduk terendah adalah Kecamatan Pekutatan, yaitu sejumlah 310,052 jiwa (10,23 % dari total jumlah penduduk Jembrana). Ditinjau dari perkembangan penduduknya, wilayah-wilayah di Kabupaten Jembrana relatif memiliki perkembangan yang cenderung statis. Hal ini ditunjukkan oleh nilai rata-rata pertahun perkembangan penduduk dalam kurun waktu 2010-2011 diseluruh kecamatan rata-rata 0,97%/tahun. Laju pertumbuhan penduduk Kecamatan Negara tahun 2010-2011 mengalami penurunan hingga (-6,67%), karena pada tahun tersebut terjadi pemecahan kecamatan baru yaitu Kecamatan Jembrana. Data tahun 2012, penduduk kabupaten Jembrana yang bekerja 97,77%, sisanya tidak lebih dari 2,23% penduduk adalah penggangguran. Sektor pertanian yang merupakan sektor yang diunggulkan oleh sebagian besar kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Jembrana hanya menyerap tenaga kerja sebesar 32,11% dari total jumlah tenaga kerja, kemudian diikuti oleh sektor perdagangan sebesar 20,20%, selanjutnya adalah sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar 19,01% dan sektor jasa sebesar 10,99%
Menurut Dokumen Teknis RTRW Kabupaten Jembrana, proyeksi jumlah penduduk Kabupaten Jembrana tahun 2017 mencapai 343.929 jiwa. Pertambahan penduduk dalam kurun waktu 5 tahun tersebut sekitar 6 %, jumlah yang cukup signifikan dengan laju pertumbuhan kabupaten sebesar 0,97%. Tabel 2.4 menguraikan proyeksi pertumbuhan penduduk jembrana selama priode 5 Tahun. Jumlah penduduk Kabupaten Jembrana serta proyeksinya per kecamatan tersaji pada Tabel 2.3.
Jumlah Penduduk dan Kepala Keluarga Saat Ini dan Proyeksinya Untuk 5 Tahun
Tingkat Pertumbuhan Penduduk dan Kepadatan saat ini dan Proyeksinya untuk 3 Tahun
Sumber: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil , 2012
2.4. ISU STRATEGIS SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN
BERDASARKAN RPJMD DAN RTRW KABUPATEN JEMBRANA
Uraian Visi RPJMD dalam Pembangunan menunjukkan ketidakseimbangan antara kepentingan ekonomi dan sosial dengan kepentingan lingkungan hidup, berikut beberapa isu strategis berdasarkan Dokumen RPJMD dan RTRW.
2.4.1 Data Perkembangan PDRB
Sebagai cerminan total nilai tambah yang tercipta akibat proses produksi di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu, adalah PDRB yang memegang peran penting dalam perencanaan dan evaluasi pembangunan. Dalam perkembangan dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jembrana ditandai adanya perubahan atau pergeseran dalam kontribusi sektor ekonomi terhadap produk daerah sebagai akibat terjadinya pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian (primer) ke sektor industri (sekunder), kemudian kearah sektor jasa-jasa (tersier).
Tahun
PDRB
Atas Dasar Harga Konstan (dalam jutaan Rp)
PDRB
Atas Dasar Harga Berlaku (dalam jutaan Rp)
2011 1.836.899.81 3.936.308,26
2012 6.365.857,71 6.972.949,70
2013 6.727.786,41 7.769.853,83
2014 7.134.660,29 9.019.716,82
2015 7 579 122,07 10 273 392,52
Sumber BPS Kabupaten Jembrana
Di lihat dari table diatas, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Jembrana dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan. Besarnya nilai tambah yang diciptakan pada Tahun 2014 telah mencapai sekitar Rp.9.019.716,82 jutarupiah. Bila dibandingkan dengan Tahun 2015 yang hanya sebesar Rp.1.739.283,69 juta terjadi peningkatan yang cukup besar yakni sebesar 80,72 persen.
Secara lebih rinci, pertumbuhan ekonomidi Kabupaten Jembrana dapat dilihat dari indikator distribusi persentase nilai tambah bruto sektoral yang meliputi 17 sektor, yaitu
1. pertanian, kehutanan dan perikanan,
2. pertambangan dan penggalian,
3. industri pengolahan,
4. pengadaan listrik dan gas,
5. pengadaan air, pengolahan sampah, limbah dan daur ulang,
6. kontruksi,
7. perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda,
8. transportasi dan pergudangan,
9. penyediaan akomodasi dan makan minum,
10.informasi dan komunikasi,
11.jasa keuangan dan asuransi,
12.real estate,
13.jasa perusahaan,
14.administrasi pemerintahan, pertanahan, dan jaminan,
15.jasa pendidikan,
16.jasa kesehatan dan kegiatan sosial, dan
Nilai kontribusi masing-masing sektor terhadap PDRB Kabupaten Jembrana atas dasar harga berlaku dan harga konstan dari Tahun 2012 sampai dengan Tahun 2015 dapat dilihat pada table berikut.
ProdukDomestikRegional Bruto(PDRB)MenurutLapangan Usaha AtasDasarHarga BerlakuKabupaten JembranaTahun 2012-2015
Dalam Juta Rp
Lapangan Usaha 2012 2013 * 2014 ** 2015 ***
(1) (2) (3) (4) (5)
A. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 1 524 157,4 1 648 866,2 1 850 134,2 2 132 795,1
B. Pertambangan dan Penggalian 74 071,9 82 867,5 91 863,4 93 126,3
C. Industri Pengolahan 341 071,1 380 969,9 442 429,5 506 411,2
D. Pengadaan Listrik dan Gas 6 798,7 6 540,5 8 497,2 11 312,2
E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
Limbah dan Daur Ulang 7 053,1 7 421,4 8 188,4 9 258,1
F. Konstruksi 736 072,1 804 388,3 862 256,3 974 903,9
G. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi
Mobil dan Speda 698 796,8 796 395,8 889 811,5 1 019 069,8
H. Transportasi dan Pergudangan 1 063 822,5 1 241 712,6 1 538 797,8 1 735 529,4
I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 920 075,4 1 074 369,8 1 327 112,0 1 515 795,2
J. Informasi dan Komunikasi 418 169,6 434 260,1 480 746,0 540 581,5
K. Jasa Keuangan dan Asuransi 214 001,4 249 709,3 288 916,2 330 885,6
L. Real Estate 371 324,5 409 692,4 470 073,3 528 358,5
M,N. Jasa Perusahaan 49 971,3 55 333,6 63 641,3 74 724,9
O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan,
dan Jaminan 203 087,5 202 577,7 232 312,2 261 058,9
P. Jasa Pendidikan 125 427,4 150 923,0 175 146,5 200 589,2
Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 126 138,2 146 541,1 169 890,2 202 374,6
R,S,T,U. Jasa Lainnya 92 910,7 104 284,8 119 900,8 136 618,2
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Jembrana (Tahun Dasar 2000) Tahun 2012-2015
Dalam Juta Rp
Lapangan Usaha 2012 2013 * 2014 ** 2015 ***
(1) (2) (3) (4) (5)
A. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 1 380 987,0 1 402 348,3 1 462 938,7 1 527 568,6
B. Pertambangan dan Penggalian 69 377,4 73 967,4 72 913,0 70 700,7
C. Industri Pengolahan 312 138,8 335 511,0 359 880,2 382 775,1
D. Pengadaan Listrik dan Gas 8 789,4 9 439,0 9 582,2 9 545,4
E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
Limbah dan Daur Ulang 7 145,2 7 487,3 7 935,4 8 024,6
F. Konstruksi 656 526,1 690 721,6 694 379,3 743 623,0
G. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi
Mobil dan Speda 637 603,5 690 923,3 732 871,2 777 312,2
H. Transportasi dan Pergudangan 951 421,8 1 024 155,2 1 126 204,2 1 196,189,3
I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 810 160,1 861 284,6 908 738,3 970 484,9
J. Informasi dan Komunikasi 419 684,4 440 706,0 466 366,9 498 000
K. Jasa Keuangan dan Asuransi 187 458,8 209 951,8 227 369,4 244 057,9
L. Real Estate 354 284,0 376 226,3 404 940,5 433 904,6
M,N. Jasa Perusahaan 47 006,8 50 972,2 54 203,0 58 155,5
O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan,
dan Jaminan 199 668,4 198 063,2 216 998,5 235 038,0
P. Jasa Pendidikan 118 815,9 134 199,3 146 859,0 160 000
Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 117 389,8 131 460,3 146 194,7 160 000
R,S,T,U. Jasa Lainnya 87 400,2 90 369,8 96 285,8 103 742,2
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 6 365 857,71 6 727 786,41 7 134 660,29 7 579 122,07
Sumber: BPS Kabupaten Jembrana
Tabel diatas menunjukkan bahwa kontribusi sector pertanian, kehutanan dan perikanan memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB Kabupaten Jembrana, disusul oleh sector transportasi dan pergudangan, penyediaana komodasi dan makan minum, dan sektor-sektor lainnya. Keadaan ini menunjukan bahwa besarny aanggaran yang dialokasikan untuk mengembangkan potensi daerah, seperti pertanian, kehutanan dan perikanan dapat memberikan kontribusi positif terhadap keberhasilan pembangunan potensi daerah tersebut. Disamping itu, terlihat pula bahwa kontribusi masing-masing lapangan usaha terhadap PDRB setiap tahunnya terus mengalami peningkatan.
atau 12.900 jiwa. Angkaini menunjukkan bahwa pada Tahun 2014 jumlah keluarga miskin dapat diturunkan sebanyak 634KK atau 3.985 jiwa, dan pada Tahun 2015 menurun sebanyak 312KK atau1. 197 jiwa, sehingga jumlah masyarakat miskin pada Tahun 2015 adalah sebanyak 3.737KK atau11.703jiwa.
2.4.2 Data Pendapatan Perkapita
Perhitungan laju inflasi hanya dilakukan di BPS Provinsi Bali, sehingga untuk mengetahui angka inflasi di Kabupaten Jembrana menggunakan acuan perhitungan angka inflasi di kota terdekat, yaitu Kota Denpasar. Selain dilakukan di Kota Denpasar, perhitungan angka inflasi tersebut dilaksanakan di 66 kota di Indonesia yang secara periodik diumumkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Bali Inflasi Menurut Kota Sejak Tahun 2015 inflasi provinsi Bali ditentukan berdasarkan kota sampel inflasi pada 2 (dua) kota inflasi yaitu Kota Denpasar dan Singaraja. Karakteristik inflasi Kota Denpasar maupun Singaraja terutama dipengaruhi oleh kelompok pengeluaran bahan makanan, makanan jadi dan perumahansebagaimana tercermin pada dominannya bobotkelompok pengeluaran tersebut dalam Kota Denpasar maupun Singaraja.
Perkembangan Laju Inflasi Kota Denpasar Tahun 2011 s/d 2015
Sumber : BPS Kabupaten Jembrana
2.4.3 Data Kondisi Lingkungan
Ketika kita berbicara tentang kondisi Lingkungan di Kabupaten Jembrana, maka hal ini erat hubungannya dengan kondisi geografis dan alam kabupaten Jembrana. berikut kondisi lingkungan Kabupaten Jembrana,:
1. Topografi
Kondisi topografi wilayah Kabupaten Jembrana meliputi daerah pegunungan di bagian utara dan pendataran (pantai) di bagian selatan yang berbatasan dengan Samudera Indonesia.Pada bagian tengah merupakan daerah perkotaan. Berdasarkan tingkat kemiringan lereng, wilayah Kabupaten Jembrana dapat dikelompokkan kedalam 4 kelompok :
Inflasi 2011 2012 2013 2014 2015
a. Wilayah dengan kemiringan lereng 0 – 2% (datar), tersebar diseluruh kecamatan Kabupaten Jembrana, khususnya di Kecamatan Jembrana dan Kecamatan Negara.
b. Wilayah dengan kemiringan lereng 2 – 15% (landai), tersebar hampir diseluruhkecamatan di Kabupaten Jembrana.
c. Wilayah dengan kemiringan lereng 0 – 2% (datar), tersebar diseluruh kecamatan Kabupaten Jembrana, khususnya di Kecamatan Jembrana dan Kecamatan Negara.
d. Wilayah dengan kemiringan lereng 2 – 15% (landai), tersebar hampir diseluruh kecamatan di Kabupaten Jembrana.
e. Wilayah dengan kemiringan lereng 15 – 40% (bergelombang/berbukit), tersebar hampir diseluruh kecamatan di Kabupaten Jembrana.
f. Wilayah dengan kemiringan lereng >40% (curam sampai sangat curam), merupakan bagian terluas dari keseluruhan luas wilayah Kabupaten Jembrana.
2. Ketinggian Lokasi
Sedangkan di bagian selatan wilayah Kabupaten Jembrana topografinya relatif datar hingga bergelombang, ketinggian tempat ini berkisar antara 1 – 250 m dpl.
Tabel 2.2 Ketinggian Lokasi Wilayah Kab. Jembrana (Dari Terendah Sampai Tertinggi)
NO
.
KECAMATAN TITIK
TERENDAH
(M DPL)
LOKASI TITIK
TERTINGGI
(M DPL)
LOKASI
1. MELAYA 3 GILIMANUK,MELAYA,NUSA SARI,EKASARI 699 DESA MELAYA
2. NEGARA 1 CUPEL,PENGAMBENGAN,LOLOAN BARAT,LELATENG, BALUK,BERANGBANG
585 DESA BALER BALE AGUNG
3. JEMBRANA 1 PERANCAK, AIR KUNING , YEH KUNING, LOLOAN
TIMUR
483 DANGIN TUKADAYA
4. MENDOYO 1 TEGAL CANGKRING, PENYARINGAN , YEH EMBANG
KAUH, YEH EMBANG, YEH EMBANG KANGIN, YEH
SUMBUL
700 YEH EMBANG KAUH, YEH
EMBANG, YEH EMBANG
KANGIN
5. PEKUTATAN 3 MEDEWI,PENGERAGOAN,MANGGISSARI 699 PULUKAN
Sumber : Jembrana Dalam Angka, 2016
3. Geologi / Jenis Tanah
tergabung dan disebut dengan Formasi Palasari yang terdiri dari batu pasir, konglomerat dan batu gamping terumbu dan diperkirakan berumur kwarter, sedangkan untuk daerah pesisir pantai pada umumnya endapan aluvium yang terdiri dari pasir, lanau, lempung dan kerikil, yang dijumpai di sekitar daerah pantai di Pengambengan, Tegalbadeng, Perancak, Yeh Kuning, Mendoyo dan di pantai Gilimanuk. Berdasarkan data peta geologi Kabupaten Jembrana dapat diketahui bahwa wilayah Kabupaten Jembrana terdiri dari lima jenis batuan yaitu
Formasi Gamping Agung
Batuan Gunung Api Jembrana
Formasi Palasari
Formasi Alluvium
Alluvium Formasi Sorga
Gunung yang terdapat di Kabupaten Jembrana berjumlah 17 buah termasuk gunung yang tidak aktif.Dari jumlah tersebut Kecamatan Melaya mempunyai gunung paling banyak sehingga topografi di Kecamatan Melaya termasuk berbukit-bukit. Dari 17 gunung yang dijumpai di Kabupaten Jembrana ternyata Gunung Merbuk yang tertinggi (1.386 m dpl) terletak di Kecamatan Jembrana disusul dengan Gunung Mesehe (1.300 mdpl) di Kecamatan Mendoyo, Gunung Bangul (1.253 m dpl) di Kecamatan Negara dan Gunung Lesung (1.047 m dpl) di Kecamatan Mendoyo.
Berdasarkan peta jenis tanah Provinsi Bali wilayah Kabupaten Jembrana terdiri dari beberapa jenis tanah yaitu :
Tanah Latosol Coklat dan Litosol (Inceptisol)
Jenis tanah ini tersebar di lima wilayah Kabupaten Jembrana, yang paling luas terdapat di Kecamatan Mendoyo ( 25.985 ha), di Kecamatan Melaya (16.319 ha) Kecamatan Negara dan Jembrana (14.130 ha) dan Kecamatan Pekutatan (12.169 ha). Jenis tanah ini dibentuk oleh bahan induk abu vulkanik intermediet dengan kandungan bahan organik yang rendah sampai sedang dan PH berkisar antara 4,5-5,5.
Tanah Alluvial Coklat Kelabu
Tanah ini merupakantanah endapan sungai dengan luas kurang lebih 10.750 Ha sebagian besar terdapat di Kecamatan Negara dan Kecamatan Jembrana (5.725 ha).
Jenis tanah ini dibentukoleh bahan induk batuan gamping dengan bentuk morfologi bergelombang sampai berbukit bukit. Jenis tanah ini mendominasi wilayah Kecamatan Melaya (1.878 ha).
Tanah Regosol Cokelat Kelabu
Jenis tanah ini sebagian besar terdapat di Kecamatan Negara dan Kecamatan Jembrana seluas 772 ha dan di wilayah Kecamatan Mendoyo seluas 648 ha. Tanah ini terbentuk oleh induk vulkanik intermedier dengan bentuk wilayah landai sampai berombak.
Tanah Alluvial Hidromorf
Jenis tanah ini terdapat di wilayah Kecamatan Negara dan Kecamatan Jembrana khususnya di sepanjang wilayah pantai selatan dan di sekitar Desa Pengambengan dan Desa Cupel. Luas jenis tanah ini kurang lebih 1420 Ha. Tanah ini merupakan sedimen darat dan laut yang dibentuk oleh lempeng pasir dan pecahan karang.
Masing masing jenis tanah tersebut diatas mempunyai tekstur yang berbeda-beda, umumnya tekstur wilayah di Kabupaten Jembrana tergolong tektur halus (kandungan liat sangat tinggi).Sedangkan tekstur kasar (pasir dan lempung berpasir) merupakan tekstur tanah yang terdapat di sepanjang pantai dari wilayah Kabupaten Jembrana.
4. Klimatologi
yang tersebar di seluruh kecamatan. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari dan Desember tahun 2012 tercatat sebesar 360,60 mm dan 297,60 mm. Banyaknya hari hujan sepanjang tahun di kabupaten Jembrana 122 hari/tahun, sejak bulan Januari sampai dengan bulan Mei serta Nopember dan Desember banyaknya hari hujan cukup tinggi yakni diatas 10 hari. Temperatur udara
berkisar antara 20˚C s/d 39˚C dengan temperatur optimal 29˚C - 32˚C, kelembapan udara antara 74 s/d 87%, termasuk tipe iklim C sampai D ( Scmitdt dan Ferguson).
5. Hidrogeologi
Berdasarkan data Identifikasi, Inventarisasi/Pendataan Penamaan Unsur Rupabumi (Sungai) di Wilayah Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali Tahun 2011 yang dilakukan oleh Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Jembrana, sumber air permukaan di wilayah Kabupaten Jembrana terdiri dari air sungai, pangkung, tukad dan telabah.
Di daerah ini terdapat 44 sungai, 75 pangkung, 4 tukad dan 2 telabah yang mempunyai arahan aliran dari Utara (pegunungan) ke muara sungai di bagian Selatan yaitu Samudera Indonesia. Masing-masing sungai, pangkung, tukad dan telabah mempunyai daerah tangkapan hujan (catchment area) yang berbeda-beda. Sungai yang alirannya paling panjang adalah Sungai Yeh Sumbul sepanjang 70,90 km, dan terpendek adalah Sungai Perahu Mati yang hanya 1,00 km. Sumber air yang ada di wilayah Kabupaten Jembrana meliputi :
Air permukaan : air sungai, pangkung, tukad dan telabah, bendung Palasari
Air tanah : air yang bersumber dari bawah tanah
Mata air : terdapat 37 mata air dengan kapasitas 110 l/det.
Berdasarkan karakteristik alirannya, sungai-sungai yang ada di wilayah Kabupaten Jembrana dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu sungai-sungai yang terletak di Bagian Darat dari wilayah Kabupaten Jembrana (sebelah Barat Tukad Melaya), sungai-sungai hanya mengalir pada musim hujan. Hal ini erat kaitannya dengan curah hujan yang sangat rendah di wilayah itu serta kondisi tanah yang berbentuk dari batuan gamping. Sedangkan kelompok sungai yang mengalir sepanjang tahun adalah sungai-sungai yang terletak diantara Tukad Klatakan disebelah Barat dan Tukad Pulukan disebelah Timur umumnya sungai-sungai tersebut tetap mengalir pada musim kemarau walau debit airnya sangat kecil.
Pendayagunaan Air Tanah (Tahun 1986) kondisi air tanah dan struktur geologi Kabupaten Jembrana dapat diuraikan sebagai berikut:
Terdapatnya air tanah dan produksivitas akuifer (occurrence of groundwater and productivity of aquifers) yaitu :
1. Akuifer dengan aliran melalui ruang antar butir (aquifers in which flowe is intergranular)
2. Akuifer produktif dengan penyebaran luas, berarti: Akuifer dengan keterusan sedang; muka air tanah atau tinggi pisometri air tanah dekat atau bawah muka tanah; debit sumur umumnya 5 sampai 10 ltr/dtk ;
3. Akuifer dengan produktivitas sedang, dan penyebaran luas berarti: akuifer dengan keterusan sedang sampai rendah; muka air tanah beragam dari atas atau dekat muka tanah sampai lebih dalam dari 10 m dibawah tanah, debit sumur umumnya kurang dari 5 ltr/dtk ;
4. Setempat akuifer dengan produktivitas sedang berarti: akuifer tidak menerus, tipis dengan keterusan rendah, debit sumur umumnya kurang dari 5 ltr/dtk.
5. Akuifer (bercelah atau sarang) dengan produktivitas rendah dan daerah air tanah langka (aquifers [fissured or produc]) of poor productivity and regions without exploitables groundwater).
6. Akuifer dengan produktivitas rendah setempat berarti: umumnya keterusan sangat rendah, setempat air tanah dangkal dalam jumlah terbatas dapat diperoleh dilembah-lembah atau pada zona pelapukan ;
Peta Hidrogeologi Kabupaten Jembrana
2.4.4 Data Resiko Bencana Alam
Kawasan rawan bencana adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam. Kawasan rawan bencana alam terdiri dari :
a. Kawasan rawan banjir;
b. Kawasan rawan bencana tanah longsor; dan
c. Kawasan rawan gelombang pasang.
d. Kawasan Rawan Banjir
Kawasan rawan bencana banjir ditetapkan dengan kriteria :
a. Terjadi kurang dari 3 (tiga) tahun sekali;
b. Lama genangan 2 (dua) sampai 3 (tiga) minggu;
c. Tinggi genangan lebih dari 1 (satu) meter;
d. Berdampak sedang; dan
Kawasan rawan bencana banjir seluas kurang lebih 200 hektar, meliputi :
a. Kawasan desa Pangyangan dan Lingkungan Koprahan di kecamatan Pekutatan karena meluapnya sungai Tukad Yeh Lebah; dan
b. Kawasan di Kelurahan Baler Bale Agung, Kelurahan Lelateng, Kelurahan Loloan Barat dan Desa Pengambengan karena buruknya sistem drainase kota.
Arahan mitigasi dan adaptasi pada kawasan rawan banjir, mencakup :
a. Pengelolaan daerah pengaliran sungai yang dapat mengurangi limpasan pada daerah pengaliran sungai tersebut ke sungai;
b. Pengelolaan kawasan rawan banjir melalui penerapan peraturan zonasi peruntukan dan peraturan bentuk, struktur dan jenis bahan bangunan;
c. Prakiraan bahaya banjir yang disertai dengan sistem peringatan dini;
d. Mencegah terjadinya luapan air sungai pada debit banjir dengan periode ulang tertentu dengan membangun tanggul penahan banjir;
e. Menurunkan elevasi muka air banjir dengan memperbaiki alur sungai, normalisasi saluran, sodetan, banjir kanal dan interkoneksi sungai;
f. Memperkecil debit banjir atau mengurangi puncak banjir dengan rekayasa teknis antara lain membangun kolam retensi banjir, banjir kanal, interkoneksi sungai; dan
g. Perbaikan sistem drainase.
1. Kawasan Rawan Bencana Tanah Longsor
A. Kawasan rawan bencana tanah longsor ditetapkan dengan kriteria:
a. kawasan berbentuk lereng yang rawan terhadap perpindahan material
b.pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran; dan
c. terdapat kerugian ekonomis dan kerugian jiwa.
2. Kawasan rawan gelombang pasang ditetapkan dengan kriteria :
a. Terjadi saat angin kencang atau gravitasi bulan atau matahari;
b.Kecepatan gelombang antara 10 sampai dengan 100 kilometer per jam
c. Berdampak sedang
d.Kawasan rawan gelombang pasang, tersebar pada sepanjang kawasan pesisir pantai Kabupaten Jembrana terdiri dari :
Kawasan pantai Desa Gilimanuk, Desa Melaya, Desa Candikusuma, Desa Tuwed, Kecamatan Melaya;
Kawasan pantai Desa Banyubiru, Desa Baluk, Desa Cupel, Desa Tegal Badeng Barat, dan Desa Pengambengan Kecamatan Negara;
Kawasan pantai Desa Perancak, Desa Air Kuning, Desa Yeh Kuning, Kecamatan Jembrana;
Kawasan pantai Desa Delod Berawah, Desa Penyaringan, Desa Yeh Embang Kauh, Desa Yeh Embang, Desa Yeh Embang Kangin dan Desa Yeh Sumbul Kecamatan Mendoyo;
Kawasan pantai Desa Medewi, Desa Pulukan, Desa Pekutatan, Desa Pangyangan, Desa Gumbrih dan Desa Pengeragoan, Kecamatan Pekutatan.
3. Kawasan rawan gempa bumi
Kawasan rawan gempa bumi meliputi kawasan rawan gempa bumi
dengan potensi sedang seluas kurang lebih 6.755 hektar yang tersebar di
Kecamatan Mendoyo seluas kurang lebih 2.021 hektar, Kecamatan Pekutatan
seluas kurang lebih 834 hektar, Kecamatan Negara seluas kurang lebih 2.473
hektar, dan Kecamatan Melaya seluas kurang lebih 1.427 hektar.
4. Kawasan Rawan Gerakan Tanah
Kawasan rawan gerakan tanah ditetapkan dengan kriteria memiliki
Kawasan rawan gerakan tanah meliputi kawasan yang sering terjadi
gerakan tanah yang sebarannya terutama pada kawasan perbukitan terjal di
wilayah Kecamatan Melaya, Mendoyo dan Pekutatan.
5. Kawasan Rawan Tsunami
Kawasan rawan tsunami ditetapkan dengan kriteria zona kerawanan
tinggi yang merupakan daerah pantai dengan elevasi rendah atau dengan kontur
ketinggian kurang dari 10,0 (sepuluh) meter dengan jarak dari garis pantai
kurang dari 50,0 (lima puluh) meter.
Kawasan rawan tsunami terdapat di seluruh pantai wilayah Kabupaten
Jembrana dengan potensi sedang.
6. Kawasan rawan abrasi pantai
Kawasan rawan abrasi pantai, sebarannya berada pada kawasan pesisir
pantai Kabupaten Jembrana.
Arahan pengelolaan kawasan rawan abrasi adalah:
a. Pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi;
b. Pemeliharaan berkala pantai dan bangunan pengamanan pantai yang telah
terbangun; dan
c. Pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan rekreasi
pantai, pengamanan pesisir, kegiatan nelayan dan kegiatan pelabuhan;
2.4.5 Isu Strategis Infrastruktur Bidang Ciptakarya
Berikut informasi tentang kondisi infrastruktur yang ada di Kabupaten Jembrana yang menunjang kehidupan masyarakat di Kabupaten Jembrana, Khususnya di Bidang Ciptakarya.
1. Kelistrikan
gardu listrik di setiap kecamatan.Setiap tahun jumlah pelanggan listrik di Kabupaten Jembrana mengalami peningkatan, demikian pula dengan jumlah daya tersambung. Jumlah pelanggan listrik dan daya tersambung tahun 2015 di Kabupaten Jembrana adalah sebagai berikut :
Jumlah Pelanggan, KwH Terjual dan Daya Tersambung Kabupaten Jembrana, 2011-2015
Jenis Konsumen Jumlah
Pelanggan
Daya Terpasang (VA)
1. Rumah Tangga 64,912.00 55,958,550.00 2. Usaha, Perhotelan 3,364.00 18,287,050.00 3. Sosial / Social 1,934.00 3,494,050.00 4. Perkantoran 270.00 3,061,950.00
5. Industri 74.00 5,351,950.00
6. Penerangan Jalan Umum 215.00 1,493,549.00 7. Layanan Khusus 391.00 284,700.00
Jumlah/Total 71,160.00 87,931,799.00
2014 66,006.00 81,850,805.00 2013 56,002.00 78,169,155.00 2012 55,652.00 71,243,710.00 2011 53,697.00 70,120,885.00
Sumber : PT PLN (Persero) Distribusi Bali Rayon Negara
Jumlah Pelanggan, KwH Terjual dan Daya Tersambung Kabupaten Jembrana, 2009-2015
Tahun Jumlah
Pelanggan Listrik Terjual (KWh) Nilai (juta Rp)
2009 48,253.00 86,803,041.00 57887,35
2010 51,516.00 93,583,319.00 -
2011 53,697.00 103,286,757.00 -
2012 55,652.00 84,967,865.00 63720,76
2013 56,002.00 23,413,552.00 87681,89
2014 66,006.00 122,631,575.00 93369,31
2015 71,160.00 130,064,550.00 97078,75
Sumber : PT PLN (Persero) Distribusi Bali Rayon Negara
Jaringan Listrik di Kabupaten Jembrana sebagai berikut :
PLTG Pesanggaran = 150 MVA.
PLTG Gilimanuk = 130 MVA.
Interkoneksi Jawa Bali = 200 MVA.
80 MVA.
Gardu Induk = 2 Buah.
Gardu Distribusi = 372 Buah.
2. AIR BERSIH
Ketersediaan air disamping untuk kepentingan pertanian, juga sangat diperlukan dan menjadi kebutuhan pokok manusia dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaan air di Kabupaten Jembrana sampai saat ini cukup berlimpah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jembrana. Namun pemerintah tetap terus berupaya untuk mencari alternatif lain dalam pemenuhan kebutuhan akan air bersih di masa yang akan datang. Seiring dengan perkembangan dan jumlah penduduk yang terus bertambah dan berkembang, pemerintah Kabupaten Jembrana membuat terobosan dengan pengolahan air laut menjadi air minum. Terobosan ini adalah antisipasi jangka panjang pemerintah dalam menghadapi kemungkinan terjadinya krisis air di masa yang akan datang.
sumur bor sebanyak 33 dan mata air sebanyak 5 untuk melayani pelanggan.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Banyaknya Pelanggan dan Air yang Disalurkan di Kabupaten Jembrana, 2015
Jumlah Sumber Air yang Digunakan PDAM Kabupaten Jembrana 2015
Kecamatan
Air Permukaan Sumur Bor Mata Air
Jumlah
Sumber : Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Jembrana
3. PERSAMPAHAN
Sumber utama timbunan sampah di kawasan perencanaan yaitu sampah domestik (rumah tangga) dan sampah non domestik meliputi sampah intitusional (sekolah, kantor, dll), sampah komersial (pasar, toko, dll), sampah aktivitas perkotaan (penyapuan jalan, lapangan, dll), sampah klinik, sampah industri, sampah konstruksi, dan lain sebagainya.Sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Jembrana dikelola langsung oleh masyarakat secara perorangan atau berkelompok. Secara perorangan sampahnya dikelola dengan cara membakar, menanam, ataupun mengupah seseorang dengan peralatan angkutnya untuk membuang sampah ke tempat penimbunan sampah yang telah disediakan.
Untuk kebutuhan pengelolaan sampah, Dinas Lingkungan Hidup Kab. Jembrana memiliki sarana prasarana persampahan pada 2015 berupa: Armroll 9 unit, Dum Truk 5 unit, Kointainer 46 unit, Transfer Depo 5 unit, TPS 235 unit, dan Viar 8 unit. Sementara daya tampung TPS sebagai berikut :
Tabel 7.6 Daya tampung TPS
Uraian Jumlah
Transfer Depo 10 m3
Tong Sampah 5 warna 1 m3
Tong Sampah 3 Warna 0,5 m3
TPS Terbuka 5 m3