• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SYNDROM N (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SYNDROM N (1)"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN SYNDROM

NEFROTIK

Oleh:

Kelompok 3

DW MADE ADI WISNU WIHARTA (12.321.1574)

LUH PUTU ARI MUDIASTUTI (12.321.1579)

NI KETUT AYU PERTIWI (12.321.1585)

NI NYOMAN DWI MAHENDRAYANTI (12.321.1590)

I PUTU FEBRI PRATAMA (12.321.1595)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA

MEDIKA PPNI BALI

(2)

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,

Pujisyukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas berkat, rahmat, dan karuniaNya-lah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SYNDROM NEFROTIK” tepat pada waktunya. Adapun makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dalam mengikuti mata kuliah Sistem Perkemihan.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan saran, petunjuk, dan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Akhir kata, tiada gading yang tak retak, demikian pula makalah ini. Demi kesempurnaan makalah ini kami sangat mengharapkan kritik dan sarannya.

Om Santih Santih Santih Om

Denpasar, 17 September 2014

(3)

DAFTAR ISI

9. Diagnosis / kriteria diagnosis...8

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di Era Globalisasi ini kita sering mendengar istilah syndrom nefrotik, hal ini lumrah terjadi di kehidupan kita, tetapi kadang kita tidak mengetahui apa syndrome nefrotik itu sebenarnya. Sekarang melalui makalah ini kami akan membahas mengenai syndrom nefrotik.

Syndrome Nefrotik merupakan keadaan klinis yang ditandai dengan proteinuria, hipoalbuminemia, hiperkolesterolemia, dan adanya edema. Kadang-kadang disertai hematuri, hipertensi dan menurunnya kecepatan filtrasi glomerulus. Sebab pasti belum jelas, dianggap sebagai suatu penyakit autoimun.

Secara umum etiologi dibagi menjadi nefrotic syndrome bawaan, sekunder, idiopatik dan sklerosis glomerulus. Penyakit ini biasanya timbul pada 2/100000 anak setiap tahun. Primer terjadi pada anak pra sekolah dan anak laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan.

Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan sangat penting karena pada pasien syndrome nefrotic sering timbul berbagai masalah yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan manusia. Perawat diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai. Fokus asuhan keperawatan adalah mengidentifikasi masalah yang timbul, merumuskan diagnosa keperawatan, membuat rencana keperawatan, melaksanakan dan mengevaluasi tindakan yang telah diberikan apakah sudah diatasi atau belum atau perlu modifikasi.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, masalah yang dapat kami kaji dalam makalah ini diantaranya:

1. Bagaimana konsep dasar penyakit syndrom nefrotik ? 2. Bagaimana asuhan keperawatan syndrom nefrotik ?

C. Tujuan Penulisan

Dalam pembuatan tugas ini, adapun tujuan yang hendak dicapai penulis yaitu: 1. Untuk mengetahui konsep dasar penyakit syndrom nefrotik ?

(5)

D. Metode Penulisan

Metode yang kami gunakan dalam menulis makalah ini, yaitu : 1. Metode Kepustakaan

Adalah metode pengumpulan data yang digunakan penulis dengan mempergunakan buku atau refrensi yang berkaitan dengan masalah yang sedang dibahas

2. Metode Media Informatika

(6)

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Penyakit Syndrom Nefrotik

1. Pengertian

a. Sindrom Nefrotik adalah Status klinis yang ditandai dengan peningkatan permeabilitas membran glomerulus terhadap protein, yang mengakibatkan kehilangan protein urinaris yang massif (Donna L. Wong, 2004 : 550).

b. Sindrom Nefrotik merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh injuri glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik; proteinuria, hipoproteinuria, hipoalbuminemia, hiperlipidemia, dan edema (Suriadi dan Rita Yuliani, 2001: 217).

c. Sindroma neprotik adalah penyakit ginjal yang mengenai glomerulus (ginjal terdiri dari tubulus, glomerulus dll.) dan ditandai proteinuria (keluarnya protein melalui air kencing) yang masif, hipoalbuminemia (kadar albumin di dalam darah turun), edema (bengkak) disertai hiperlipidemia (kadar lipid atau lemak dalam darah meningkat) dan hiperkolesterolemia (kadar kolesterol darah meningkat)

Jadi, sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbuminemia, dan hiperkolesterolemia. Kadang-kadang terdapat hematuria, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal.

2. Epidemiologi

Sindroma nefrotik biasanya lebih sering menyerang anak laki-laki dari pada anak perempuan dengan perbandigan 2 : 1 dan paling banyak pada umur 2 sampai 6 tahun.

3. Etiologi/ faktor predisposisi

Menurut pembagian berdasarkan etiologi (penyebab) dibagi menjadi :

a. Sindroma nefrotik primer yang atau disebut juga Sindroma nefrorik Idiopatik, yang diduga ada hubungan dengan genetik, imunoligik dan alergi. Meliputi : 1) Nefropati lesi minimal (minimal change disease)

(7)

3) Glomerulo-sklerosis fokal segmental (focal segmental glomerulosclerosis)

4) Glomerulonefritis membrano-proliferatif (membranoproliferative glomerulonephritis)

b. Sindroma nefrotik sekunder yang penyebabnya berasal dari ekstra renal (diluar ginjal). Penyebab SN sekunder adalah sangat banyak, diantaranya ialah:

1) Infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV),HIV, infeksi streptococcal, serta endokardtitis.

2) Neoplasma seperti limfoma, leukemia, serta karsinoma (kanker). 3) Obat-obatan seperti penicillamine, captopril, heroin.

4) Penyakit sistemik, contohnya SLE, amiloidosis, kencing manis (Diabetes), dll

5) Obesitas dan penyakit-penyakit metabolik serta penyakit-penyakit multisistem lainnya.

c. SN bawaan

Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi maternofetal. Resisten terhadap suatu pengobatan. Gejala edema pada masa neonatus. Pernah dicoba pencangklokan ginjal pada neonatus tetapi tidak berhasil. Prognosis buruk biasanya pasien meninggal pada bulan-bulan pertama kehidupannya.

4. Patofisiologi

(8)

vasopresin(ADH) akan dirembes untuk menstabilkan kandungan cairan dalam saluran darah seperti sediakala. Meskipun demikian, pengumpulan cairan ini menyebabkan kehilangan cairan yang terus- menerus ke interstitium karena protein terus – menerus hilang kedalam urin diikuti dengan kerusakan pada membran basal glomerulus. Ini menyebabkan penumpukan cairan secara berlebih dalam jaringan dan mengakibatkan edema. Hilangnya protein dalam serum menstimulasi sintesis lipoprotein di hati dan peningkatan konsentrasi lemak dalam darah ( hiperlipidemia) hal ini menyebabkan intake nutrisi berkurang sehingga menyebabkan terjadinya malnutrisi. Menurunnya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan disebabkan oleh karena hipoalbuminemia, hyperlipidemia.

(9)

6. Klasifikasi

(10)

a. Sindrom Nefrotik Lesi Minimal ( MCNS : minimal change nephrotic syndrome).

Kondisi yang sering menyebabkan sindrom nefrotik pada anak usia sekolah. Anak dengan sindrom nefrotik ini, pada biopsi ginjalnya terlihat hampir normal bila dilihat dengan mikroskop cahaya.

b. Sindrom Nefrotik Sekunder

Terjadi selama perjalanan penyakit vaskuler seperti lupus eritematosus sistemik, purpura anafilaktik, glomerulonefritis, infeksi system endokarditis, bakterialis dan neoplasma limfoproliferatif

c. Sindrom Nefrotik Kongenital

Factor herediter sindrom nefrotik disebabkan oleh gen resesif autosomal. Bayi yang terkena sindrom nefrotik, usia gestasinya pendek dan gejala awalnya adalah edema dan proteinuria. Penyakit ini resisten terhadap semua pengobatan dan kematian dapat terjadi pada tahun-yahun pertama kehidupan bayi jika tidak dilakukan dialysis.

7. Gejala klinis

a. Proteinuria > 3,5 g/hari pada dewasa atau 0,05 g/kg BB/hari pada anak-anak b. Hipoalbuminemia< 30 g/l

c. Edema anasarka. Edema terutama jelas pada kaki, di sekitar mata (periorbital), asites, dan efusi pleura.

d. Hiperlipidemia

e. Hiperkoagulabilitas, yang akan meningkatkan risiko trombosis arteri dan vena 8. Pemeriksaan diagnostic

a. Urinalisa (protein, eritrosit, silinder) 1) Protein urin – meningkat

2) Urinalisis – cast hialin dan granular, hematuria 3) Dipstick urin – positif untuk protein dan darah 4) Berat jenis urin – meningkat

b. Clearance kreatinin (BUN / SC) c. Uji darah

(11)

2) Kolesterol serum – meningkat

3) Hemoglobin dan hematokrit – meningkat (hemokonsetrasi) 4) Laju endap darah (LED) – meningkat

5) Elektrolit serum – bervariasi dengan keadaan penyakit perorangan d. Biopsi ginjal

Biopsi ginjal merupakan uji diagnostik yang tidak dilakukan secara rutin (Betz, Cecily L, 2002 : 335).

9. Diagnosis / kriteria diagnosis Masalah yang lazim muncul:

perubahan afterload, kontraktilitas dan frekuensi jantung.

f. Ketidakefektifan bersihan jalan napas.

g. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer.

h. Hambatan mobilitas fisik

i. Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan.

10. Penatalaksanaan

a. Sindrom nefrotik serangan pertama. Perbaiki keadaan umum penderita :

1) Diet tinggi kalori, tinggi protein, rendah garam, rendah lemak. Rujukan ke bagian gizi diperlukan untuk pengaturan diet terutama pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal.

2) Tingkatkan kadar albumin serum, kalau perlu dengan transfusi plasma atau albumin konsentrat.

3) Berantas infeksi.

4) Lakukan work-up untuk diagnostik dan untuk mencari komplikasi.

(12)

6) Terapi prednison sebaiknya baru diberikan selambat-lambatnya 14 hari setelah diagnosis sindrom nefrotik ditegakkan untuk memastikan apakah penderita mengalami remisi spontan atau tidak. Bila dalam waktu 14 hari terjadi remisi spontan, prednison tidak perlu diberikan, tetapi bila dalam waktu 14 hari atau kurang terjadi pemburukan keadaan, segera berikan prednison tanpa menunggu waktu 14 hari.

b. Sindrom nefrotik kambuh (relapse)

1) Berikan prednison sesuai protokol relapse, segera setelah diagnosis relapse ditegakkan.

2) Perbaiki keadaan umum penderita.

c. Sindrom nefrotik kambuh tidak sering

Adalah sindrom nefrotik yang kambuh < 2 kali dalam masa 6 bulan atau < 4 kali dalam masa 12 bulan.

1) Induksi

Prednison dengan dosis 60 mg/m2/hari (2 mg/kg BB/hari) maksimal 80

mg/hari, diberikan dalam 3 dosis terbagi setiap hari selama 3 minggu.

2) Rumatan

Setelah 3 minggu, prednison dengan dosis 40 mg/m2/48 jam, diberikan

selang sehari dengan dosis tunggal pagi hari selama 4 minggu. Setelah 4 minggu, prednison dihentikan.

d. Sindrom nefrotik kambuh sering

Adalah sindrom nefrotik yang kambuh > 2 kali dalam masa 6 bulan atau > 4 kali dalam masa 12 bulan.

(13)

Prednison dengan dosis 60 mg/m2/hari (2 mg/kg BB/hari) maksimal 80 mg/

hari, diberikan dalam 3 dosis terbagi setiap hari selama 3 minggu.

2) Rumatan

Setelah 3 minggu, prednison dengan dosis 60 mg/m2/48 jam, diberikan

selang sehari dengan dosis tunggal pagi hari selama 4 minggu. Setelah 4 minggu, dosis prednison diturunkan menjadi 40 mg/m2/48 jam diberikan

selama 1 minggu, kemudian 30 mg/m2/48 jam selama 1 minggu, kemudian

20 mg/m2/48 jam selama 1 minggu, akhirnya 10 mg/m2/48 jam selama 6

minggu, kemudian prednison dihentikan.

Pada saat prednison mulai diberikan selang sehari, siklofosfamid oral 2-3 mg/kg/hari diberikan setiap pagi hari selama 8 minggu. Setelah 8 minggu siklofosfamid dihentikan. Indikasi untuk merujuk ke dokter spesialis nefrologi anak adalah bila pasien tidak respons terhadap pengobatan awal, relapse frekuen, terdapat komplikasi, terdapat indikasi kontra steroid, atau untuk biopsi ginjal.

11. Prognosis

a. Prognosis umumnya baik, kecuali pada keadaan-keadaan sebagai berikut :

1) Menderita untuk pertamakalinya pada umur di bawah 2 tahun atau di atas 6 tahun.

2) Disertai oleh hipertensi. 3) Disertai hematuria.

4) Termasuk jenis sindrom nefrotik sekunder.

5) Gambaran histopatologik bukan kelainan minimal.

(14)

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian

Dasar data pengkajian pasien: a. Aktivitas / Istirahat

Gejala : Keletihan, kelemahan, malaise Tanda : Kelemahan otot, kehilangan tonus

b. Sirkulasi

Tanda: Hipotensi/ hipertensi( termasuk hipertensi malignan, hipertensi akibat kehamilan/ eklampsia)

Disritmia jantung

Nadi lemah/halus, hipotensi ortostatik( hipovolemia) Nadi kuat( hipervolemia)

Edema jaringan umum( termasuk area periorbital, mata kaki, sakrum) Pucat, kecenderungan perdarahan

c. Eleminasi

Gejala: Perubahan pola berkemih biasanya : peningkatan frekuensi, polyuria (kegagalan dini), atau penurunan frekuensi/ oliguria(fase akhir) Disuria, ragu- ragu, dorongan, dan retensi( inflamasi,/ obstruksi, infeksi). Abdomen kembung, diare, atau konstipasi

Tanda; Perubahan warna urine contoh kuning pekat, merah, coklat, berawan Oliguria( biasanya 12-21 hari); poliuria(2-6 L/hari)

d. Makananan/ Cairan

Gejala : Peningkatan berat badan(edema), penurunan berat badan( dehidrasi), mual, muntah, anoreksia, nyeri ulu hati.

Tanda : Perubahan turgor kulit,/ kelembaban Edema( umum, bagian bawah)

e. Neurosensori

Gejala : Sakit kepala, pengelihatan kabur

(15)

Gangguan status mental, contoh penurunan lapang perhatian, ketidak mampuan berkonsentrasi,hilang memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran( azotemia, ketidakseimbangan elektrolit/ asam/ basa)

Kejang, aktivitas kejang, faskikulasi otot.

f. Nyeri/ kenyamanan

Gejala : Nyeri tubuh, sakit kepala. Tanda : Perilaku berhati- hati, gelisah

g. Pernafasan

Gejala : Nafas pendek Tanda :

Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi, kedalaman (pernafasan Kussmaul); nafas amonia.

Batuk produktif dengan sputum kental merah muda ( edema paru).

h. Keamanan

Gejala : Adanya reaksi transfusi Tanda : Demam(sepsis, dehidrasi)

Pretekie, area kulit ekimosis Pruritus, kulit kering

i. Penyuluhan/ Pembelajaran

Gejala : Riwayat penyakit polikistik keluarga, nefritis herediter, batu urinarius, malignansi.

2. Diagnosa keperawatan

Berdasarkan pengkajian data keperawatan yang sering terjadi berdasarkan teori, maka diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien Sindrom Nefroti yaitu:

(16)

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi sekunder terhadap kehilangan protein dan kurangnya intake nutrisi

c. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.

d. Kurang pengetahuan kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.

e. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunitas tubuh yang menurun.

3. Perencanaan keperawatan/ intervensi

a. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein sekunder akibat peningkatan permiabilitas glomerulus ditandai dengan pasien mengalami edema

Tujuan: Menunjukan keseimbangan cairan adekuat Kriteria hasil:

1) Menunjukan haluaran urine tepat dengan berat jenis/ hasil laboratorium mendekati normal

2) Berat badan stabil 3) TTV dalam batas normal 4) Tidak ada edema

No Intervensi Rasionalisasi

1 Awasi denyut jantung, TD, dan CVP Takikardi dan hipertensi terjadi karena : Kegagalan ginjal dalam mengeluarkan urine, pembatasan cairan berlebihan selama mengobati hipovolemia/ hipotensi , perubahan pada sistem renin- angiotensin. 2 Catat pemasukan dan pengeluaran

akurat.Termasuk cairan”

tersembunyi” seperti aditif antibiotik. Ukur kehilangan GI dan perkirakan kehilangan tak kasat mata, contoh berkeringat. Awasi berat jenis urine.

Perlu untuk menentukan fungsi ginjal, kebutuhan penggantian cairan, dan penurunan risiko kelebihan cairan

(17)

pasien, dalam pembatasan multipel. Berikan minuman yang disukai sepanjang 24 jam. Berikan bervariasi panas, dingin, beku.

cairan, meminimalkan kebosanan pilihan yang terbatas dan menurunkan rasa kekurangan dan haus.

4 Kaji kulit, wajah, area tergantung untuk edema. Evaluasi derajat edema( pada skala +1 sampai +4)

Edema terjadi terutama pada jaringan yang tergantung pada tubuh, contoh tangan, kaki, area lumbosakral.

5 Kolaborasi: siapkan untuk dialisis sesuai indikasi

Dilakukan untuk memperbaiki kelebihan volume, ketidakseimbangan elektrolit, asam/basa, dan untuk menghilangkan toksin.

6 Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi( msl diuretik, antihipertensif)

Diuretik diberikan untuk meningkatkan volume urine adekuat.

Antihipertensif diberikan untuk mengatasi hipertensi dengan efek berbalikan dari penurunan aluran darah ginjal, dan/atau kelebihan volume sirkulasi.

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi sekunder terhadap kehilangan protein dan kurangnya intake nutrisi

Tujuan: Nutrisi pasien terpenuhi Kriteria hasil:

1) Mempertahankan/ meningkatkan berat badan seperti yang diindikasikan oleh situasi individu, bebas edema.

No Intervensi Rasionalisasi

1 Berikan makanan sedikit tapi sering Meminimalkan anoreksia dan mual sehubungan dengan status uremik/ menurunnya peristaltik

2 Timbang berat badan tiap hari Pasien puasa / katabolik akan segera normal kehilangan 0,2 – 0,5 kg dapat menunjukan perpindahan keseimbangan cairan

(18)

makanan/ cairan yang diizinkan dan dorong terlibat pada pilihan menu

pembatasan diet. Makanan dari rumah dapat meningkatkan nafsu makan

4 Kaji / catat pemasukan diet Membantu dalam mengidentifikasi

defisiensi dan kebutuhan diet. Kondisi fisik umum, gejala uremik( mual, muntah, anoreksia), dan pembatasan diet multipel mempengaruhi pemasukan makanan

5 Kolaborasi: Konsul dengan ahli gizi/ tim pendukung nutrisi

Menentukan kalori individu dan kebutuhan nutrisi dalam pembatasan, dan mengidentifikasi rute paling efektif dan produknya, contoh tambahan oral, makanan selang. dialisis . Karbohidrat memenuhi kebutuhan energi dan membatasi jaringan katabolisme, mencegah pembentukan asam keto dari oksidasi protein dan lemak.Intoleran karbohidrat menunjukan DM dapat terjadi gagal ginjal berat. Asam amino esensial memperbaiki keseimbangan dan status nutrisi.

c. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik

Tujuan : Menunjukan kemampuan untuk mempertahankan aktivitas yang biasa/ normal

Kriteria hasil:

1) Melaporkan perbaikan rasa berenergi

2) Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan

Intervensi Rasionalisasi

1 Kaji kemampuan untuk

berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan/ dibutuhkan

Mengidentifikasi kebutuhan

individual dan membantu pemilihan intervensi

(19)

adekuat menyimpan energi untuk penyembuhan, regenerasi jaringan 3 Berikan bantuan dalam aktivitas

sehari – hari dan ambulasi

Mengubah energi, memungkinkan berkelanjutnya aktivitas yang dibutuhkan/ normal , memberikan keamanan pada pasien

4 Tingkatkan tingkat partisipasi sesuai toleransi pasien

Meningkatkan rasa membaik/ meningkatkan kesehatan, dan membatasi frustasi

5 Kolaborasi: awasi kadar elektroli termasuk kalsium, magnesium, dan kalium

Ketidakseimbangan dapat

mengganggu fungsi neuromuskular yang memerlukan peningkatan

penggunaan energi untuk

menyelesaikan tugas dan potensial perasaan lelah.

d. Kurang pengetahuan kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.

Tujuan: Pasien mengetahui tentang penyakit dan pengobatannya Kriteria hasil:

2) Menyatakan pemahaman kondisi/ proses penyakit, prognosis, dan pengobatannya

3) Mengidentifikasi hubungan tanda/ gejala proses penyakit dan gejala yang berhubungan dengan faktor penyebab

(20)

komplikasi

2 Dorong pasien untuk

mengobservasi karakteristik urine dan jumlah/ frekuensi pengeluaran

Perubahan dapat menunjukan gangguan fungsi ginjal/ kebutuhan dialysis

3 Diskusikan/ kaji ulang

pengguanaan obat. Dorong pasien untuk mendiskusikan semua obat( termasuk obat dijual bebas) dengan dokter

Obat yang terkonsentrasi/ dikeluarkan oleh ginjal dapat menyebabkan reaksi toksik kumulatif dan/ atau kerusakan permanen pada ginjal

e. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunitas tubuh yang menurun Tujuan: Daya imunitas tubuh normal, tidak terjadi tanda/ gejala infeksi Kriteria :

1) Tidak mengalami tanda/ gejala infeksi

No Intervensi Rasionalisasi

1 Tingkatkan cuci tangan yang baik pada pasien dan staf

Menurunkan risiko kontaminasi silang

2 Hindari prosedur invansif, instrumen, dan manipulasi kateter tak menetap, kapanpun mungkin, gunakan teknik aseptik bila merawat / memanipulasi IV / area invansif. Ubah sisi/ balutan protokol. Perhatikan edema, drainase purulen

(21)

3 Dorong nafas dalam, batuk dapat terjadi tanpa respon demam.

5 Kolaborasi: Awasi

pemeriksaan laboratorium, contoh SDP dengan diferensial

Meskipun peningkatan SDP dapat mengindikasikan infeksi umum, leukositosis umum terlihat pada

Dx 1 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi sekunder terhadap kehilangan protein dan kurangnya intake nutrisi

Evaluasi: Nutrisi pasien terpenuhi

Dx 2 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein sekunder akibat peningkatan permiabilitas glomerulus ditandai dengan pasien mengalami edema

Evaluasi: Menunjukan keseimbangan cairan adekuat

Dx 3 : Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik. Evaluasi : Menunjukan kemampuan untuk mempertahankan aktivitas yang biasa/ normal

(22)

Dx 5: Kurang pengetahuan kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi

(23)

BAB III PENUTUP

A. Simpulan

Dari penjelasan diatas, diperoleh beberapa kesimpulan diantaranya:

Nefrotik Syndrom adalah Status klinis yang ditandai dengan peningkatan permeabilitas membran glomerulus terhadap protein, yang mengakibatkan kehilangan protein urinaris yang massif (Donna L. Wong, 2004 : 550).

Nefrotik Syndrom merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh injuri glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik; proteinuria, hipoproteinuria, hipoalbuminemia, hiperlipidemia, dan edema (Suriadi dan Rita Yuliani, 2001: 217).

B. Saran

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Sudarth. 2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi :8 vol:3.Jakarta: EGC Donna L, Wong. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Anak, alih bahasa: Monica Ester. Jakarta: EGC.

Doengoes, Marilyinn E, Mary Frances Moorhouse. 2000. Nursing Care Plan: Guidelines for Planning and Documenting Patient Care (Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien), alih bahasa: I Made Kariasa. Jakarta: EGC.

Linda Juall Carpenito-moyet. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10. EGC: Jakarta

Mutaqqin, Arif dan Sari, Kumala. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen. Jakarta: Salemba Medika

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit Edisi 2. ECG: Jakarta.

Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Harif.2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Mediadan NANDA NIC-NOC Jilid 2.Yogyakarta: Med Action Publishing

Syaifuddin.2011.Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk Keperawatan dan Kebidanan Edisi 4.Jakarta: EGC

Referensi

Dokumen terkait

Diagnosa keperawatan yang muncul pada saat intra operatif adalah resiko defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan tindakan operatif ditandai dengan pasien

Perubahan nutrisi ruang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi sekunder terhadap kehilangan protein dan penurunan napsu makan. Resiko tinggi infeksi berhubungan

Diagnosa keperawatan yang di tegakan pada pasien dengan diare: 1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif, 2) Hipertermi berhubungan

Intervensi keperawatan untuk diagnosa kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif adalah pantau warna, jumlah, dan frekuensi kehilangan cairan,

Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas pembuluh darah ditandai dengan klien menyatakan nafsu minum kurang, klien tampak mual

Diagnosis keperawatan yang mungkin muncul, menurut North American Nursing Diagnosis Association 2015-2017, yaitu : 1) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan: - Haluaran urine berlebih, sekunder akibat diabetes insipidus - Peningkatan permabilitas kapiler dan kehilangan

Secara teori diagnosa keperawatan sebagai berikut: 4.2.1.1 Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan dari traktus GI ke dalam feses atau