PROPOSAL KREATIVITAS MAHASISWA
ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI
PENGHASIL ANTIBIOTIK DARI SAMPEL TANAH
TPA SUWUNG DENPASAR
Oleh :
PUTU RINA WIDHIASIH (NIM P07134014002)
DESAK GEDE DIAN PURNAMA DEWI (NIM P07134014027) I GUSTI AGUNG AYU SATWIKHA D (P07134014005)
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
HALAMAN PENGESAHAN
Judul : Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Penghasil Antibiotik dari Sampel Tanah TPA Suwung Denpasar
Peneliti Utama
Program Studi : Analis Kesehatan
Poltekkes : Poltekkes Denpasar
Anggota Peneliti (2)
Nama Lengkap : I Gusti Agung Ayu Satwikha D NIM : P07134014005
Jabatan Fungsional :
-Program Studi : Analis Kesehatan
Poltekkes : Poltekkes Denpasar
Sumber Dana Penelitian Rp.
4.970.000,-Denpasar, 2 Pebruari 2016 Mengetahui,
Kepala Unit Penelitian Poltekkes, Ketua,
I Gusti Putu Sudita Puryana, S.TP., M.P. Putu Rina Widhiasih NIP. 197411101999031002 NIM. P07134014002
Direktur,
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Antibiotik adalah salah satu metabolit sekunder yang dihasilkan oleh mikroorganisme, baik jamur atau bakteri yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan di bidang kesehatan. Sebagian besar antibiotik yang digunakan saat ini diproduksi dari bakteri karena mudah untuk diisolasi, dikultur, serta dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama tanpa kehilangan viabilitas. Misalnya spesies Bacillus, merupakan bakteri yang diisolasi dominan dari tanah dan dapat menghasilkan bacitracin untuk menghambat pertumbuhan organisme lain.
Antibiotik adalah salah satu pilar penting dari obat-obatan modern, tetapi antibiotik generasi awal telah kehilangan keefektifan dan selalu diganti dengan yang baru untuk penanganan berbagai spesies bakteri patogen. Mikroorganisme yang mampu memproduksi metabolit sekunder ini umumnya memiliki struktur kimia dan aktivitas biologis yang beragam serta diproduksi hanya oleh beberapa spesies dari genus Bacillus. Beberapa contoh penting dari antibiotik yang digunakan dalam perawatan medis antara lain bacitracin, Gramycidin S, polimiksin, dan tyrotricidin diproduksi oleh Bacillus spp yang berbeda (Abdulkadir and Waliyu, 2012).
Luasnya penggunaan antibiotik saat ini telah mengakibatkan adanya resistensi bakteri terhadap antibiotik yang meningkat dari hari ke hari. Oleh karena itu, perlu dikembangkan antibiotik baru atau sumber antibiotik baru yang lebih efektif untuk pencegahan atau penanganan infeksi. Berbagai riset telah dilakukan selama beberapa dekade terakhir dan telah berhasil memproduksi antibiotik baru dari mikroorganisme yang berbeda. Antibiotik tersebut dapat diproduksi dari berbagai sumber, baik dari bahan alam ataupun sintetik.
et al, 2014). Bakteri tanah berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai keperluan misalnya untuk produksi antibiotik.
Berbagai penelitian telah atau sedang dilakukan untuk menemukan bakteri yang menghasilkan antimikroba baru yang diisolasi dari tanah. Antimikroba yang dihasilkan tersebut diharapkan dapat dikembangkan untuk mengobati infeksi oleh berbagai bakteri patogen. Dalam penelitian ini akan dilakukan isolasi dan karakterisasi bakteri penghasil antibiotik yang diisolasi dari sampel tanah di tempat pembuangan akhir (TPA) Suwung. Kemampuan penghambatan dari dari zat antimikroba yang dihasilkan akan diuji pada berbagai mikroba patogen seperti
Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Salmonella thypi. Penelitian ini diharapkan dapat menemukan dan mengembangkan bakteri penghasil antibiotik yang diisolasi khusus dari TPA Suwung.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
a. Bagaimanakah karakteristik bakteri penghasil antibiotik yang diisolasi dari sampel tanah TPA Suwung
b. Bagaimanakah daya hambat zat antimikroba yang dihasilkan oleh bakteri yang diisolasi dari sampel tanah TPA Suwung.
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri penghasil antibiotik yang diisolasi dari sampel tanah tanah TPA Suwung
b. Mengetahui daya hambat zat antimikroba yang dihasilkan oleh bakteri yang diisolasi dari sampel tanah TPA Suwung.
D. Manfaat Penelitian
Selain itu, penelitian dapat digunakan untuk mengembangkan potensi SDA dari aspek mikrobiologi di TPA Suwung.
E. Urgensi
1. Jangka pendek
Penelitian ini akan mendapatkan gambaran tentang potensi bakteri yang diisolasi dari sampel tanah TPA Suwung dalam menghasilkan antibiotik terhadap bakteri-bakteri patogen
2. Jangka panjang
Penelitian ini membantu pengembangan penemuan antibiotik baru terhadap bakteri-bakteri patogen
F. Luaran Penelitian
Luaran dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
(1) Data informasi mengenai jenis dan potensi dari bakteri penghasil antibiotik yang diisolasi dari sampel tanah TPA Suwung
(2) Pengayaan bahan ajar dalam mata kuliah Bakteriologi di Jurusan Analis Kesehatan
(3) Publikasi ilmiah pada jurnal ataupun prosiding seminar ilmiah.
G. Batasan Penelitian
BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1 ANTIBIOTIK
Antibiotik ditemukan pada tahun 1928 di London oleh Alexander Fleming dan menjadi salah satu penemuan paling penting di bidang kesehatan. Antibiotik yang pertamakali ditemukan tersebut kemudian diberi nama Penisilin, dihasilkan oleh fungi yang menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus. Penemuan dan pengembangan lebih lanjut dari penisilin digunakan sebagai obat untuk banyak penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Keberhasilan penemuan dan pengembangan penisilin, menyebabkan pencarian ekstensif terus dilakukan untuk mikroorganisme lainnya yang mampu menghasilkan zat antmikroba dengan efek kerja yang sama (Nordenfjall, 2014).
Selama 20 tahun berikutnya ditemukan kelompok antibiotik antara lain makrolida dan tetrasiklin (Berdy, 2005). Sekitar 70 sampai 80% dari semua antibiotik yang ditemukan sejauh ini berasal dari actinomycetes dan terutama dari berbagai spesies Streptomyces. Actinomycetes adalah kelompok bakteri gram positif yang paling sering diisolasi dari tanah tetapi juga dari lingkungan lainnya seperti di sedimen laut. Kelompok mikroorganisme ini umumnya membawa sejumlah besar gen yang mengkode enzim-enzin yang terlibat dalam produksi metabolit sekunder yang menjadi dasar penemuan antibiotik baru (Baltz, 2008; Tiwari & Gupta, 2013). Berbagai sampel lingkungan telah dipelajari secara ekstensif selama 50 tahun terakhir, sebagian besar yang dihasilkan adalah penemuan senyawa yang sudah dikenal (Baltz, 2008).
2.2 RESISTENSI ANTIBIOTIK
untuk beradaptasi dengan antibiotik sehingga menyebabkan muncul resistensi. Adaptasi tersebut belangsung sangat cepat dan resistensi biasanya terjadi 1-2 tahun setelah antibiotik baru diperkenalkan (Sköld, 2006). Permasalahan selanjutnya yang muncul adalah terjadinya multi-resisten bakteri, yang tahan terhadap banyak antibiotik yang berbeda. Sebuah studi oleh Costa et al. 2006 menunjukkan bahwa dari 480 strain bakteri yang berbeda ditemukan di tanah, dua tahan terhadap 15 dari 21 obat diuji.
2.3 PENEMUAN ANTIBIOTIK BARU
Meluasnya resistensi bakteri terhadap antibiotik menyebabkan kebutuhan terhadap antibiotik baru meningkat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengisolasi bakteri dan jamur melalui metode yang lebih efisien. Salah satu teknik yang telah dicoba adalah dengan meningkatkan mekanisme perlindungan diri dari bakteri penghasil antibiotik sehingga mencegah kematian akibat zat anti yang dihasilkan. Pendekatan kedua adalah menemukan tempat-tempat baru untuk sampling dan fokus pada isolasi jenis mikroba yang berpotensi menghasilkan antibiotik jenis baru. (Tiwari & Gupta, 2013).
2.4 MIKROBA TANAH PENGHASIL ANTIBIOTIK
Sampel tanah yang mengandung mikroba penghasil antibiotik umumnya digunakan untuk memproduksi antibiotik yang sesuai. Antibiotik tersebut dapat bersifat sebagai bakterisida atau bakteriostatik di alam. Mikroorganisme yang memiliki kapasitas lebih dalam memproduksi antibiotik umumnya dapat bertahan hidup lebih lama dibandingkan yang memproduksi antibiotik dalam jumlah yang lebih sedikit. Antibiotik yang dihasilkan oleh mikroorganisme tanah saat ini telah sangat berguna untuk menyembuhkan penyakit manusia yang disebabkan oleh bakteri, jamur dan protozoa (Kaur et al, 2014).
mampu menghasilkan zat antimikroba dan telah diuji terhadap bakteri Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Mycobacterium smegmatis, Proteus vulgaris dan Bacillus subtilis.
Spesies Bacillus telah diketahui mampu menghasilkan berbagai macam antibiotik dengan dengan aktivitas antimikroba yang luas. Spesies Bacillus merupakan bakteri berbentuk batang, gram positif, aeroebik, katalase positif, membentuk endospora dan bersifat motil dengan flagel peritrik. Bacillus licheniformis mampu menghasilkan Bacitrasin yang terdiri dari lima macam polipeptida. Bacitrasin terdiri atas tiga molekul yang terpisah, yaitu Bacitrasin A, B, dan C. Antibiotik ini efektif membunuh berbagai bakteri gram positif, seperti Staphylococcus, Streptococcus, coccus anaerob, Corynebacter, dam Clostridia, tetapi tidak efektif untuk bakteri gram negatif (Abdulkadir and Waliyu, 2012).
Genus bakteri lain yang juga mampu menghasilkan antibiotik adalah Streptomyces. Genus ini terdiri atas 150 spesies yang bersifat aerob obligat, memiliki dinding sel tipe 1, dan non-motil. Spesies Streptomyces ditentukan berdasarkan karakteristik morfologi dan fisiologi yang khas dan terlibat dalam produksi antibiotik. Streptomyces sangat penting secara medis, sebagian besar berhabitat di dalam tanah, dan menyusun 1 s/d 20 % dari total populasi yang berhasil dikultur. S. griseus dapat memproduksi streptomisin yang telah berkontribusi penting dalam ilmu pengetahuan dan kesehatan masyarakat. Antibiotik ini menjadi obat yang pertama kali efektif terhadap penyakit TB. Penelitian yang massif selanjutnya terus dilakukan untuk menemukan spesies Streptomyces yang baru dan mampu menghasilkan zat antimikroba yang penting untuk dunia medis (Abdukadir and Waliyu, 2012).
2.5 Staphylococcus aureus
Genus Staphylococcus mempunyai paling sedikit 40 spesies. Tiga spesies yang paling sering dijumpai yang mempunyai kepentingan klinis adalah Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermis dan Staphylococcus saprophyticus. Staphylococcus aureus bersifat koagulase positif, yang membedakannya dari spesies lain. Staphylococcus aureus merupakan patogen utama untuk manusia. Hampir setiap orang akan mengalami beberapa jenis infeksi Staphylococcus aureus sepanjang hidup, dengan kisaran keparahan dari keracunan makanan atau infeksi kulit minor hingga infeksi berat yang mengancam jiwa (Jawetz, dkk., 2013)
Staphylococcus aureus adalah bakteri kokus, gram positif, tampak seperti anggur cluster bila dilihat melalui mikroskop dan memiliki besar, bulat, kuning keemasan koloni, sering kali dengan hemolisis ketika tumbuh pada lempeng agar darah. Penampilan emas adalah etimologi akar dari nama bakteri : aureus berarti “emas” dalam bahasa latin. Beberapa diantaranya tergolong flora normal pada kulit dan selaput mukosa manusia, menyebabkan penanahan, abses, dan berbagai infeksi dan bahkan bahan septikimia fatal. Staphylococcus aureus mengandung polisakarida dan protein yang berfungsi sebagai antigen dan merupakan substansi penting di dalam struktur dinding sel, tidak membentuk spora, dan tidak membentuk flagel (Jawetz,dkk., 2013).
Staphylococcus aureus mudah tumbuh pada perbenihan bakteri dalam keadaan aerob atau mikroaerob. Tumbuh paling cepat pada suhu 37 °C, tetapi membentuk pigmen paling baik pada suhu kamar (20-25 °C). Koloni pada perbenihan padat berbentuk bulat, halus, menonjol dan berkilau, membentuk koloni berwarna putih sampai kuning emas tua. Berbagai tingkatan hemolisis dihasilkan oleh Staphylococcus aureus (Jawetz, dkk., 2013).
manitol menjadi asam, dengan indikator phenol red warna media semula berwarna merah berubah menjadi kuning (Jawetz, dkk., 2013).
Staphylococcus mengandung protein dan polisakarida antigenik dan juga zat lain yang penting di dalam struktur dinding sel. Peptidoglikan, suatu polimer polisakarida yang mengandung subunit yang terhubung, menyediakan eksoskeleton dinding sel yang rigid. Peptidoglikan dihancurkan oleh asam kuat atau pemaparan pada lisozim. Ini penting dalam patogenesis infeksi, Peptidoglikan memunculkan pengeluaran interleukin-1 (pirogen endogen) dan antibodi opsonik oleh monosit, dan dapat merupakan kemostraktan untuk leukosit PMN, mempunyai aktivitas serupa endotoksin dan mengaktivasi komplemen. Struktur antigen yang diproduksi oleh Staphylococcus aureus diantaranya (Jawetz, dkk., 2013):
a.Asam teikoat merupakan polimer gliserol berikatan dengan peptidoglikan dan dapat bersifat antigenik.
b.Protein A merupakan komponen dinding sel kebanyakan strain Staphylococcus aureus dan merupakan reagen penting dalam imunologi dan teknologi diagnostik laboratorium.
Staphylococcus aureus dapat menimbulkan penyakit melalui dua hal, kemampuan bermultiplikasi dan menyebar luas dalam jaringan, dan melalui produksi banyak zat ekstraseluler. Beberapa zat ini adalah enzim, yang lainnya dianggap sebagai toksin, meskipun berfungsi sebagai enzim. Banyak toksin ini dibawah kendali genetik plasmid, beberapa mungkin di bawah kontrol kromosom dan ekstrakromosom, dan yang lainnya mekanisme kontrol genetik tidak terdefinisi dengan jelas. (Jawetz, dkk., 2013).
dan menyebabkan sindrom renjat toksik akibat pelepasan superantigen ke dalam aliran darah (Radji, 2011).
Berbagai infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus dimediasi oleh faktor virulen dan respon imun sel inang. Secara umum bakteri menempel ke jaringan sel inang kemudian berkoloni dan menginfeksi. Selanjutnya bertahan, tumbuh, dan mengembangkan infeksi berdasarkan kemampuan bakteri untuk melawan pertahanan tubuh sel inang. Respon sel inang dimediasi oleh leukosit yang diperoleh dari ekspresi molekul adhesi pada sel endotel. Komponen dinding sel dari Staphylococcus aureus yaitu peptidoglikan dan asam teikoat, memacu pelepasan sitokin. Leukosit dan faktor sel inang lainnya dapat dirusak secara lokal oleh toksin yang dihasilkan oleh bakteri tersebut. Selain itu adanya protein yang terdapat pada bakteri mengakibatkan respon anti inflamasi. Protein ini juga menghambat sekresi leukosit sel inang dengan cara berinteraksi langsung dengan protein sel inang, dan fibrinogen. Apabila tubuh tidak cukup berhasil mengatasi infeksi tersebut maka akan terjadi inflamasi lokal (Todar, 2005).
Pengobatan infeksi Staphylococcus aureus biasanya menggunakan antibiotik turunan penisilin seperti metisilin, dan oksasilin. Namun sebagian besar strain Staphylococcus aureus ditemukan telah resisten terhadap antibiotik penisilin sehingga antibiotik turunan penisilin sudah jarang digunakan. Pemilihan antibiotik lain yang sekarang digunakan untuk mengobati Staphylococcus aureus yang telah resisten terhadap turunan penisilin yaitu vankomisin dan teikoplanin. Kedua antibiotik ini digunakan sebagai pilihan utama dalam mengobati infeksi yang disebabkan oleh MRSA. Selain kedua antibiotik tersebut, juga digunakan klindamisin, sulfametoksazole-trimetoprim, gentamisin sebagai pilihan lain untuk mengobati infeksi Staphylococcus aureus yang telah resisten (Lowy, 2003)
2.6 Escherichia coli
bagian atas dan saluran genital. Bakteri enterik umumnya tidak menyebabkan penyakit dan dalam usus berperanterhadap fungsi dan nutrisi normal. Ketika terjadi infeksi yang penting secara klinik biasanya disebabkan oleh Escherichia coli, tetapi bakteri enterik lain adalah penyebab infeksi yang didapat dirumah sakit dan kadang-kadang menyebabkan infeksi yang didapat dari komunitas. Bakteri menjadi bersifat pathogen apabila bakteri ini berada di luar usus, yaitu lokasi normal tempatnya berada atau di lokasi lain dimana flora normal jarang terdapat. Tempat yang paling sering terkena infeksi yang penting secara klinik adalah saluran kemih, saluran empedu, dan tempat-tempat lain di rongga perut (Jawetz, dkk., 2005).
Escherichia coli termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Bakteri ini merupakan bakteri gram-negatif berbentuk batang pendek (kokobasil), mempunyai flagel, berukuran 0,4-0,7 µm x 1,4 µm, dan mempunyai simpai. Escherichia coli tumbuh dengan baikdi hamper semua media perbenihan, dapat meragi laktosa, dan bersifat mikroaerofilik (Radji,2011).
Escherichia colibersifat anaerob fakultatif dan kemoorganotropik. Dalam proses metabolisme Escherichia coli merupakan salah satu bakteri yang mempunyai tipe metabolisme fermentasi dan respirasi. Selain itu bakteri ini merupakan penghuni normal usus yang sering menyebabkan infeksi. Pertumbuhan yang baik untuk Escherichia coli pada suhu optimal 37˚C. Escherichia coli tumbuh baik pada media yang mengandung 1% pepton sebagai sumber karbon dan nitrogen. Bakteri golongan ini juga memfermentasikan laktosa dan memproduksi indol serta dapat bertahan pada suhu 6˚C selama 15 menit atau pada suhu 55˚C selama 60 menit (Jawetz, dkk., 2005).
2.6. Salmonella thypi
Salmonella sering bersifat patogen bagi manusia atau hewan jika didapat melalui jalur oral. Salmonella ditularkan dari hewan dan produk hewani ke manusia, yang menyebabkan enteritis, infeksi sistemik, dan demam enterik.
Salmonella memiliki panjang yang bervariasi. Sebagian besar isolat bersifat motil dengan flagela peritriks. Berukuran 1-3,5 µm x 0,5-0,8 µm. Besar koloni media perbenihan rata-rata 2-4 mm. Salmonella mudah tumbuh pada medium sederhana, tetapi hampir tidak pernah memfermentasikan laktosa atau sukrosa. Bakteri ini membentuk asam dan terkadang membentuk gas dari glukosa dan manosa. Mereka umumnya menghasilkan H2S. Organisme ini dapat bertahan hidup pada air yang beku untuk periode yang lama. Salmonella resisten terhadap zat kimia tertentu (misalnya, brilliant green, natrium tetrathionat, natrium deoksikolat) yang menghambat bakteri enterik lain. Dengan demikian, penambahan zat tersebut ke dalam medium bermanfaat untuk mengisolasi Salmonella dari feses (Jawetz, dkk, 2013).
Terdapat lebih dari 2.500 serotipe Salmonella, meliputi lebih dari 1.400 serotipe grup I hibridisasi DNA yang dapat menginfeksi manusia. Empat serotipe
Salmonella yang dapat menyebabkan demam enterik dapat diidentifikasi di laboratorium klinis melalui pemeriksaan serologis dan biokimia. Serotipe tersebut harus secara rutin diidentifikasi karena kepentingan klinisnya. Keempat serotype tersebut adalah : Salmonella Paratyphi A (serogroup A), Salmonella Paratyphi B (serogroup B), Salmonella Choleraesuis (serogrup C1), dan Salmonella Typhi (serogrup D). Salmonella serotype Enteritidis dan Typhimurium adalah dua serotype yang paling sering dilaporkan di Amerika Serikat. Lebih dari 1.400
Patogenesis dan gambaran klinis
Salmonella Typhi, Salmonella Choleraeusis, dan mungkin Salmonella
Paratyphi A dan Salmonella Paratyphi B terutama menginfeksi manusia dan infeksi oleh organisme tersebut menunjukkan sumber infeksi dari manusia. Namun, sebagian besar Salmonella terutama bersifat patogen bagi hewan yang menjadi reservoar infeksi pada manusia : unggas, babi, hewan pengerat, ternak, hewan peliharaan (dari kura – kura hingga burung beo).
Organisme hampir selalu masuk melalui jalur oral, biasanya melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Dosis infektif rata-rata untuk menghasilkan infeksi klinis atau subklinis pada manusia adalah 105 - 108
Salmonella (tetapi mungkin hanya 103 Salmonella Typhi). Faktor pada pejamu yang berperan dalam perlawanan infeksi Salmonella antara lain : asam lambung, flora mikroba usus normal, dan imunitas lokal pada usus (Jawetz, dkk, 2013).
Salmonella menyebabkan tiga jenis utama penyakit pada manusia, diantaranya adalah (Jawetz, dkk, 2013):
a. “Demam enterik” (demam tifoid)
Sindrom ini hanya ditimbulkan oleh beberapa jenis Salmonella, yang terpenting adalah Salmonella Typhi (demam tifoid). Salmonella yang tertelan akan mencapai usus halus, dari usus halus Salmonella mamasuki saluran limfatik dan kemudian masuk ke aliran darah. Salmonella dibawa ke berbagai organ oleh darah, salah satunya usus. Organisme tersebut memperbanyak diri di jaringan limfoid usus dan diekskresikan dalam feses.
Lesi utama adalah hiperplasia dan nekrosis jaringan limfoid (misalnya, plak Peyeri), hepatitis, nekrosis fokal pada hepar, dan peradangan kandung empedu, periosteum, paru, serta organ lain.
b. Bakterimia dengan lesi lokal
Kondisi ini umumnya disebabkan oleh S. choleraesuis, tetapi dapat juga disebabkan oleh setiap serotipe Salmonella. Setelah infeksi oral, terjadi invasi dini ke aliran darah (dapat disertai lesi fokal di paru, tulang, dan meningens), tetapi sering tanpa manifestasi di saluran cerna. Pada pemeriksaan kultur darah diperoleh hasil positif.
c. Enterokolitis
Enterokolitis merupakan manifestasi infeksi Salmonella yang paling umum. Di Amerika Serikat, Salmonella Typhimurium dan Salmonella Enteritidis merupakan penyebab utama, tetapi enterokolitis dapat disebabkan oleh setiap jenis, lebih dari 1.400, serotipe grup I Salmonella. Delapan hingga 48 jam setelah tertelannya Salmonella, timbul mual, nyeri kepala, muntah, dan diare hebat, dengan sejumlah kecil leukosit dalam feses. Biasanya terdapat demam ringan, tetapi umumnya reda dalam 2 – 3 hari.
Terdapat peradangan pada usus halus dan usus besar. Bakterimia jarang terjadi (2 – 4%) kecuali pada pasien luluh imun. Hasil kultur darah biasanya negatif, tetapi kultur feses memberikan hasil positif untuk Salmonella dan dapat tetap positif selama beberapa minggu setelah pasien sembuh secara klinis (Jawetz, dkk, 2013).
Meskipun demam enterik dan bakterimia dengan lesi fokal memerlukan terapi antimikroba, sebagian besar kasus enterokolitis tidak membutuhkannya. Terapi antimikroba untuk enteritis Salmonella pada neonates penting diberikan. Pada enterokolitis, terapi antimikroba dapat memperpanjang gejala klinis dan ekskresi Salmonella. Penggalian cairan dan elektrolit penting dilakukan pada diare hebat (Jawetz, dkk, 2013).
sensitivitas antibiotika merupakan pemeriksaan tambahan yang penting untuk memilih antibiotika yang sesuai (Jawetz, dkk, 2013).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan digunakan adalah bersifat deskriptif yaitu dengan mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri penghasil antibiotik yang diisolasi dari sampel tanah TPA Suwung.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bakteriologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Denpasar yang dilakukan pada bulan Maret-Desember 2016. Pengambilan sampel tanah dilakukan di TPA Suwung.
C. Metode Pengumpulan Data
Data primer berupa gambaran deskriptif tentang jenis dan karakteristik bakteri penghasil antibiotik yang diisolasi dari sampel tanah TPA Suwung. Data diperoleh dengan menumbuhkan bakteri yang diisolasi dari sampel tanah TPA Suwung kemudian diuji daya hambat zat antimikroba yang dihasilkan terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus, E.coli, dan S. thypi.
D. Tahapan Penelitian
D.1 Tahap persiapan
Tahap ini dilakukan dengan kegiatan mempersiapkan alat, bahan, dan pembuatan media untuk pengambilan sampel, isolasi bakteri uji, dan isolasi bakteri penghasil antibiotik.
D.2 Isolasi bakteri uji
menggunakan media MCA dan SSA. Identifikasi dilanjutkan dengan uji biokimia untuk memperoleh isolat bakteri yang dicari.
D.3 Koleksi dan preparasi sampel tanah
Sampel tanah dikoleksi dari 5 lokasi yang berbeda di kawasan TPA Suwung. Sampel tanah dikoleksi dengan spatula dan dimasukkan ke dalam polybag yang steril. Sampel tanah sebanyak 1 g kemudian dilarutkan ke dalam 9 ml akuases steril untuk membuat suspensi tanah .
D.4 Isolasi dan karakterisasi bakteri penghasil antibiotik
Dari suspensi tanah (10-1) dibuat pengenceran berseri dalam garam fisiologis steril sampai pengenceran 10-5. Sampel sebanyak 0,1 ml dari masing-masing pengenceran ditanam dengan metode sebar pada media nutrient agar. Selanjutnya pada permukaan media masing-masing ditambahkan 0.1 ml suspensi bakteri uji, disebar merata, diinkubasi pada suhu 37 0C, selama 24 jam. Setelah itu diamati koloni yang membentuk zona penghambatan. Koloni tersebut kemudian diidentifikasi dengan pewarnaan gram dan uji biokimia untuk menentukan jenis bakteri penghasil antibiotik tersebut.
D.5 Analisis data
BAB IV
BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
A. Biaya Penelitian
Biaya yang diperlukan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Anggaran Biaya Penelitian
No. Jenis Pengeluaran Biaya (Rp)
1. Honor tim peneliti (maks 20%) Rp. 420.000
2. Biaya Alat, Bahan, dan media untuk isolasi, uji daya
hambat, dan karakterisasi (40 – 60%) Rp. 3.350.000
3. Perjalanan (maks 15%) Rp. 600.000
4. Lain-lain : administrasi, publikasi, seminar, laporan, dan lainnya (10-15%)
Rp. 600.000
B. Jadwal Kegiatan
Tabel 4.2 Jadwal Kegiatan
No. Kegiatan Jan Feb MarSemester IApr Mei Juni Juli Ags Semester IISep Okt Nop Des 1. Protocol & Ethical
Clearence 2. SK Penetapan 3. Pelaksanaan
Penelitian 4. Laporan Akhir 5. Seminar hasil
penelitian 6. Penyelesaian
DAFTAR PUSTAKA
Abdulkadir, M and Waliyu, S. 2012. Screening and Isolation of the Soil Bacteria for Ability to Produce Antibiotics. European Journal of Applied Sciences Vol 4 (5): 211-215
Baltz, R. H. (2008). Renaissance in antibacterial discovery from actinomycetes. Current Opinion in Pharmacology, 8, 557–563.
Bérdy, J. (2005). Bioactive Microbial Metabolites. Journal of Antibiotics, 58(1), 1–26.
Costa, V. M. ., McGrann, K. M., Hughes, D. W. & Wright, G. D. (2006). Sampling the Antibiotic Resistome. Science, 311(5759), 374–377.
Jawetz, dkk., 2005, Mikrobiologi Kedokteran (Medical Microbiology), Edisi 1, Alih Bahasa: dr. H. Eddy Mudihardi, dkk, Jakarta: Salemba Medika.
Juwita, S., dkk, 2012, Pola Sensitivitas In Vitro Salmonella typhi Terhadap Antibiotik Kloramfenikol, Amoksisilin, dan Kotrimoksazol, Banjarmasin : Universitas Lampung Mangkurat
Kaur et al, 2014. solation and Characterization of Antibiotic Producing Microorganisms from Soil Samples of Certain Area of Punjab Region of India. -International Journal of Pharmaceutical and Clinical Research 2014; 6(4): 312-315
Mashoria, A Lovewanshi, HS and Rajawat, BS. 2014. Isolation of antimicrobial producing bacteria from soil samples collected from Bhopal Region of Madhya Pradesh, India. Int.J.Curr.Microbiol.App.Sci Vol 3(12): 563-569 Nordenfjall, E. 2014. Isolation of antibiotic producing microorganisms by
screening for antibiotic resistance. Biology with specialisation in Biotechnology - Bachelor's Programme Examensarbete/Sveriges lantbruksuniversitet, Institutionen för mikrobiologi
Radji, M., 2011, Buku Ajar Mikrobiologi : Panduan Mahasiswa Farmasidan Kedokteran, Jakarta: EGC.
Sköld, O. (2006). Antibiotika och antibiotika resistens. 1. ed Studentlitteratur. ISBN 978-91-44-03621-2.
Tiwari, K. & Gupta, R. K. (2013). Diversity and isolation of rare actinomycetes: an overview. Critical Reviews in Microbiology, 39(3), 256–294.
Todar, K., 2005, Staphylococcus, University of Wsconsin-Madison Department of Bacteriology,
(online),available:http://www.textbookofbacteriology.net/ken_todar.html (diakses pada 15 januari 2015).
LAMPIRAN
Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Penelitian 1. Honor
Peneliti 5.000,- 3 28
420.000,-SUB TOTAL (Rp.)
420.000,-3 or x 2 kali 100.000,-
600.000,-SUB TOTAL (Rp.)
100.000,-dan
penggandaan laporan kegiatan
SUB TOTAL (Rp.)
4.970.000,-Lampiran 2. Dukungan Sarana Prasarana Poltekkes Denpasar
Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas
3 Mempersiapkan alat bahan, dan media
Pengambilan sampel
Melakukan pengujian sampel
3 Mempersiapkan alat bahan, dan media
Pengambilan sampel
Menyusun laporan pertanggujawaban
Lampiran 4. Biodata Ketua dan Anggota I. Biodata Ketua Tim Pengusul A. Identitas Diri Ketua Peneliti
1. Nama Lengkap (dengan gelar)
6. Tempat dan Tanggal Lahir Singaraja, 16 September 1996 7. Alamat Rumah Perum Kampial Indah B88, Badung 8. Nomor Telepon/Fax/HP 085792189322
9. Alamat Kantor
-10. Nomor Telepon/Faks
-11. Alamat e-mail [email protected] 13. Mata Kuliah yang Diampu
-B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA Perguruan
Tinggi Nama Sekolah SDN 1 Benoa SMPN 3 Kuta
Selatan
Bidang Ilmu - - IPA Analis
Kesehatan Tahun
Masuk-Lulus
2002-2008 2008-2011 2011-2014
2014-selesai
C. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir
No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber Jml (Juta Rp)
No. Judul Artikel Ilmiah Volume/Nomor/Tahun Nama Jurnal
E. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir
No. Nama Pertemuan Ilmiah/Seminar Judul Artikel Ilmiah
Waktu dan Tempat 1
F. Karya Buku dalam 5 Tahun Terakhir
No. Judul Tahun Jumlah
halaman
Penerbit
1
G. Perolehan HKI dalam 5-10 tahun terakhir
No. Judul/Tema HKI Tahun Jenis Nomor
P/ID 1
II. Biodata Anggota I A. Identitas Diri Anggota I
1. Nama Lengkap (dengan
gelar) DESAK GEDE DIAN PURNAMA DEWI
2. Jabatan Fungsional -3. Jabatan Struktural
-4. NIM P07134014027
5. NIDN
-6. Tempat dan Tanggal Lahir Kemoning, 5 Maret 1996
7. Alamat Rumah Perum Canggu Permai Blok C No 2, Denpasar
8. Nomor Telepon/Fax/HP
-9. Alamat Kantor
-10. Nomor Telepon/Faks
13. Mata Kuliah yang Diampu
-B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA Perguruan
Tinggi
Nama Sekolah SDN 6 Kuta SMPN 2 Kuta SMK
Kesehatan
C. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir
No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber Jml (Juta Rp)
1
D. Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 Tahun Terakhir
No. Judul Artikel Ilmiah Volume/Nomor/Tahun Nama Jurnal
1.
E. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir
No. Nama Pertemuan Ilmiah/Seminar
F. Karya Buku dalam 5 Tahun Terakhir
No. Judul Tahun Jumlah
halaman
Penerbit
1
G. Perolehan HKI dalam 5-10 tahun terakhir
No. Judul/Tema HKI Tahun Jenis Nomor
P/ID
1
III. Biodata Anggota II
A. Identitas Diri Anggota II
1 Nama Lengkap (dengan gelar)
I GUSTI AGUNG AYU SATWIKHA D
2 Jenis Kelamin Perempuan
Amlapura SMPN 2 Amlapura SMANAmlapura 2 PoltekkesDenpasar
Bidang Ilmu - - IPA Analis
Lulus
C. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir (Bukan Skripsi, Tesis, maupun Disertasi)
No Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber* Jumlah
(Rupiah)
D. Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 Tahun Terakhir
No. Judul Artikel Ilmiah Volume/Nomor/Tahun Nama Jurnal
1.
E. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir
No. Nama Pertemuan Ilmiah/Seminar Judul Artikel Ilmiah
Waktu dan Tempat
1
F. Karya Buku dalam 5 Tahun Terakhir
No. Judul Tahun Jumlah
halaman
Penerbit
1
G. Perolehan HKI dalam 5-10 tahun terakhir
No. Judul/Tema HKI Tahun Jenis Nomor
P/ID
Lampiran 5. Surat Pernyataan Ketua Peneliti
SURAT PERNYATAAN KETUA PENELITI Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Putu Rina Widhiasih
NIM : P07134014002
Jurusan : Analis Kesehatan Poltekkes Denpasar
Dengan ini menyatakan bahwa proposal penelitian saya dengan judul : Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Penghasil Antibiotik dari Sampel Tanah TPA Suwung Sidakarya Denpasar, yang diusulkan dalam skema penelitian pemula untuk tahun anggaran 2016 bersifat original dan belum pernah dibiayai oleh lembaga / sumber dana lain.
Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini, maka saya bersedia dituntut dan diproses dengan ketentuan yang berlaku dan mengembalikan seluruh biaya penelitian yang sudah diterima ke kas negara. Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar-benarnya.
Denpasar, 2 Februari 2016 Mengetahui,
Kepala Unit Penelitian Poltekkes, Peneliti,
I Gusti Putu Sudita Puryana, STP., M.P. Putu Rina Widhiasih. NIP. 197411101999031002 NIM. P07134014002
Direktur,