• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGANTAR EKONOMI ISLAM. Oleh: Dr. Gusniarti, M.A.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGANTAR EKONOMI ISLAM. Oleh: Dr. Gusniarti, M.A."

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGANTAR EKONOMI ISLAM Oleh: Dr. Gusniarti, M.A. A. Pengertian Ekonomi Islam

Kata Ekonomi berasal dari bahasa Yunani yaitu “oicos” yang berarti rumah dan “nomos” yang berarti aturan. Jadi ekonomi adalah aturan-aturan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam rumah tangga. Kalau mengacu kepada defenisi ini maka bisa kita katakan Ekonomi Islam adalah aturan-aturan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam rumah tangga yang mengacu kepada ajaran/ nilai-nilai Islam. Banyak sekali definisi yang dikemukakan oleh para ekonom Muslim, walaupun berbeda-beda redaksi tetapi mempunyai makna yang tidak jauh berbeda.

Dalam sistem ajaran Islam, aturan-aturan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam rumah tangga ada dalam sistem muamalah. Terkadang ada juga yang salah pengertian tentang muamalah. Apa sebenarnya yang dikatakan muamalah. Jika berbicara tentang muamalah, sering kali yang dipahami hanyalah persoalan munakahat, mawaris, padahal muamalah mempunyai kajian yang lebih luas lagi. Di lihat dari ilmu sharf, kata mu’āmalah

( اا ملااعم) merupakan “bab mufā’alah”, tsulatsi mazid satu huruf yang biasanya

menunjukan suatu pekerjaan yang saling dilakukan antara dua orang (saling berbuat). Jadi kegiatan mu’amalah menunjukkan suatu aktivitas yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, tidak bisa dilakukan seorang diri saja dengan saling menukar hak dan kewajiban. Secara terminologi fikih, mu’amalah berarti hukum-hukum yang berkaitan dengan tindakan hukum manusia dalam persoalan-persoalan keduniaan (Abdullah al Sattar, 1402 H). Seperti masalah perkawinan, jual beli, sewa menyewa, utang piutang, dan lain-lain

Muamalah mempunyai makna luas dan makna khusus. Makna luas mencakup segala aktivitas yang dilakukan oleh manusia dengan manusia lainnya seperti munakahat (perkawinan), mawarits (kewarisan), siyasah (politik) , jinayah (pidana) ,ekonomi dan lain lain. Sedangkan muamalah dalam pengertian khusus adalah persoalan ekonomi. Dalam kitab – kitab fiqh klasik kita jumpai bahasan muamalah dalam kitab buyu’ (jual beli). Isinya tidak hanya sekedar jual beli tetapi segala bentuk akad yang bisa digunakan dalam dunia bisnis atau ekonomi. Pada hakikatnya, muamalah dalam pengertian khusus inilah yang dimaksud dengan Ekonomi Islam dan Ekonomi Mikro Islam adala bagian dari Ekonomi Islam. Oleh karena itu, aturan-aturan dalam Ekonomi Mikro Islam akan mengacu kepada ketentuan-ketentuan dalam mua’amalah tu sendiri.

(2)

Bentuk- bentuk muamalah secara khusus di atas, secara teknis dan spesifik tidak diatur dalam syariah. Syariah hanya mengatur secara global saja agar manusia bebas berkreasi sesuai dengan kebutuhannya, termasuk dalam hal ini Ekonomi Mikro Islam. Ini memberi peluang kepada manusia untuk melakukan inovasi terhadap bentuk-bentuk mu’amalah yang mereka butuhkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan syarat tidak keluar dari prinsip-prinsip mu’amalah yang telah ditentukan. Ketika ada sabahat yang bertanya lebih spesifik lagi tentang kegiatan muamalah, Nabi saw sendiri mengatakan "antum

a'lamu bi'umuriddunyakum" kamu lebih mengetahui urusan dunia kamu. Di sini

juga bukan berarti bahwa manusia bisa sebebas-bebasnya melakukan kegiatan muamalah. Bebas tapi terikat. Oleh karena itu sebuah kaidah fiqhiyah dalam muamalah mengatakan:

هميرحت ى ع ليلدلا لدي ىتح حلبلاا م لعملا ىف لصلاا

Artinya:

"Hukum asal dalam kegiatan mua'amalah itu boleh (dilakukan) sampai ada dalil yang melarangnya"

Di sini kita bisa lihat bahwa dalam kegiatan muamalah kita diberi kebebasan yang sangat luas, apapun bentuk – bentuk muamalah yang baru boleh kita lakukan kecuali ada dalil yang melarangnya. Oleh karena itu yang perlu kita ketahui adalah apa saja yang dilarang oleh Allah SWT dalam kegiatan Muamalah agar kita tidak melakukan larangan-larangan itu.

Manusia sebagai makhluk zon politicon (makhluk social) yang tidak bisa hidup sendiri, menghendaki interaksi dengan manusia lainnya. Bagaimana agar interaksi antar mereka berjalan baik dan tidak terganggu, maka Allah menurunkan al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman. Manusia dalam definisi di atas adalah manusia mukallaf yang berarti sudah dikenai beban taklif yaitu balig dan berakal. “Persoalan-persoalan keduniaan” menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh mukallaf tersebut hanya yang berhubungan dengan kebutuhan keduniaan. Namun demikian tidak berarti bahwa kegiatan ini terlepas sama sekali dengan persoalan ketuhanan (aqidah). Karena apapun kegiatan manusia di dunia ini, harus senantiasa dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT. Dalam surat Ariyat ayat 56 Allah SWT berfirman:

الله دبعيل لاا نلسنلاا و نجلا تق خ لمو

...

: تليرذلا( 56 ) Artinya:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepadaku…”

(3)

Ini menunjukkan bahwa apapun aktivitas mu’amalah yang dilakukan, termasuk di dalamnya ekonomi mikro Islam, harus selalu bersandarkan kepada ajaran Islam yaitu al Qur’an dan al Sunnah, atau atas dasar kaidah-kaidah umum yang telah berlaku dalam syari’at Islam.

B. Pengertian Ekonomi Mikro Islam

Pengertian ekonomi mikro sendiri ada teori ekonomi yang membahas kegiatan perekonomian dalam bentuk bagian kecil dari keseluruhan kegiatan perekonomian atau mengkaji ekonomi yang bersifat individual. Misalnya bagaimana prilaku konsumen dalam mengkonsumsi suatu jenis produk atau bagaimana prilaku produsen dalam memproduksi suatu jenis produk. Maka Ekonomi Mikro Islam menekankan bagimana kegiatan dan prilaku dalam ekonomi mikro mengacu kepada atau sesuai dengan ajaran Islam.

Ekonomi Mikro Islam bagian dari ekonomi Islam sendiri. Untuk melihat bahwa kegiatan ekonomi itu sesuai dengan ajaran Islam, sesuai dengan kaidah fiqhiyah dalam kegiatan mu’amalah seperti yang sudah dibahas sebelumnya menjelaskan bahwa hukum asal dalam ekonomi boleh sampai ada dalil yang melarangnya. Oleh karena itu harus kita ketahui apa saja kegiatan-kegiatan yang dilarang dalam kegiatan mu’amalah atau ekonomi, yang akan di bawah dalam sub bab di bawah ini.

C. Larangan dalam Kegiatan Mu’amalat

Kaidah fiqhiyyah dalam kegiatan mu’amalat bersifat umum, semuanya boleh dlakukan kecuali ada dalil yang melarangnya. Oleh karena itu, untuk melihat apakah sebuah transaksi boleh dilakukan atau tidak, maka kita bisa mengacu kepada tiga pertanyaan yaitu what for, what dan how.

1. What for

What for mengacu kepada niat (niyyah), apa tujuan kita melakukan transaksi. Hal ini merupakan faktor yang paling utama dalam syariah. Dalam sebuah hadits dijelaskan:

ْ نَع

ْْ

َْرَمُع

ْْ

ْ ن ب

ْْ

ْ باَّطَ لْا

ْْ

-َْي ضَر

ْْ

ُْالل

ْ

ُْه نَع

ْ-ْْ

ُْهَّنَأ

ْْ

َْلاَق

ْ

ىَلَع

ْْ

ْ َب ن م لا

:ْْ

ُْت ع َسَ

ْْ

َْلوُسَر

ْْ

ْ الل

ْْ

-ىَّلَص

ْ

ُْالل

ْْ

ْ ه يَلَع

ْْ

َْمَّلَسَو

ْْ

ُْلوُقَ ي

«ْ

اََّنَّ إ

ْْ

ْلاَم عَلأا

ْْ

، تاَّي نل بِ

ْْ

اََّنَّ إَو

ْْ

ْ لُك ل

ْْ

ْ ئ ر ما

ْْ

ْاَمْْ

ْ،ىَوَ ن

ْْ

ْ نَمَف

ْْ

ْ تَناَك

ْْ

هُتَر ج ه

ْْ

َْل إ

ْْ

ْ َّللّا

ْْ

، ه لوُسَرَو

ْ

ُْهُتَر ج هَف

ْْ

َْل إ

ْْ

ْ َّللّا

ْْ

ْ ه لوُسَرَو

ْو

ْ

ْ نَم

ْ

ْ تَناَك

ْْ

ُْهُتَر ج ه

ْْ

َْل إ

ْْ

اَي نُد

ْْ

اَهُ بي صُي

ْْ

ْ وَأْْ

َْل إ

ْْ

ْ ةَأَر ما

ْْ

ْاَهُح ك نَ ي

ْْ

ُْهُتَر ج هَف

ْْ

َْل إ

ْ

اَمْْ

َْرَجاَه

ْْ

ْ ه يَل إ

ْْ

.

(4)

Artinya: Dari Umar bin Khattab ra bahwa Beliau berkhotbah di atas mimbar, “Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Sesungguhnya, amal itu hanya dinilai berdasarkan niatnya, dan sesungguhnya pahala yang diperoleh seseorang sesuai dengan niatnya. Barang siapa yang niat hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya maka dia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya dengan niat mendapatkan dunia atau wanita yang ingin dinikahi maka dia hanya mendapatkan hal yang dia inginkan.(Al-Bukhari, 2000)

Dari hadits di atas dijelaskan bahwa baik dan buruknya suatu perbuatan sangat terkait dengan niat si pelaku. Oleh karena itu, harus dilihat niat seseorang dalam melakukan suatu kegiatan, agar hasilnya sesuai dengan tujuan awal disyariah’atkannya kegiatan mu’amalah.

Sebuah qaidah fiqhiyyah yang berbunyi

ةربعلا

وقعلا يف

يدلبملا و ظلفلءلاللا ينلعملاو دصلقمللبد

Untuk menentukan keabsahan suatu akad dilihat dari tujuan dan maknanya, bukan kata-kata dan susunanya.

Tujuan, niat, motif merupakan faktor penting dalam kegiatan mu’amalah. Baik dan buruknya suatu perbuatan sangat terkait dengan tujuan atau niat si pelaku. Walaupun faktor niat atau tujuan sulit dideteksi karena adanya di dalam hati tetapi ini mempunyai pengaruh sangat besar dalam perekonomian, efeknya akan terlihat dalam hasil. Untuk itu kita harus melihat apa tujuan kita ketika akan melakukan sebuah transaksi.

Memang terdapat perbedaan pendapat ulama dalam hal apakah niat mempengaruhi sah dan tidaknya sebuah transaksi. Mazhab Hanafi dan Syafi’i tidak mensyaratkan niat sebagai sahnya sebuah akad atau transaksi. Menurut mereka faktor zahirlah yang menentukan sahnya suatu akad yaitu akad yang telah memenuhi rukun dan syarat sementara niat adalah urusan Allah. Niat yang tidak sah adalah immateri, tidak dapat membatalkan tindakan mereka kecuali diekspresikan dalam tindakan.

Sedangkan menurut Imam Maliki dan Hanbali, motif dari seseorang dalam melakukan transaksi menentukan sah dan tidak sahnya sebuah transaksi. Ibnu Qayyim, penulis mazhab Hambali menyatakan bahwa niat mempengaruhi tindakan hukum. Formalitas tindakan hukum bisa saja sama tapi hasil akhir tergantung kepada niat. Niat merupakan bagian terpenting dari tindakan hukum.

Ulama yang menyatakan bahwa keabsahan suatu perbuatan tergantung kepada niat bersandarkan kepada hadits Rasulullah saw tentang keutamaan niat dalam segala aktivitas yaitu “Innama al-a‘maalu bi al-niyat...”1 yang

(5)

menjelaskan bahwa suatu pekerjaan dinilai dari niatnya. Jika niatnya baik maka akan mendapatkan pahala, dia akan mendapatkan apa yang menjadi tujuannya dan pahala di sisi Allah swt, jika tidak maka dia hanya akan mendapatkan dunia saja, tidak pahala akhirat.

Menurut mazhab Hanafiyah, Syafi'iyah, dan Zahiriyah menetapkan status hukum kontrak harus berpedoman pada ira>dah z}a>hirah. Sedangkan

al-ira>dah al-ba>t}inah bersifat abstrak dan subyektif. Mereka semata-mata

melindungi prinsip stabilitas dalam muamalat dan memilik kecenderungan untuk mengukur sesuatu berdasarkan norma-norma yang obyektif dan nyata. Sedangkan nazariyat al-ba'is bersifat subyektif dan dapat mengancam stabilitas konsep hukum muamalat itu sendiri.

2. What

Apa yang ditransaksikan? boleh atau tidaknya mengkonsumsi, kita harus mengacu kepada larangan – larangan yang dijelaskan dalam al-Qur'an dan Sunnah. Kenapa dilarang? karena memberi mudharat kepada manusia. Rasulullah saw bersabda "la darara wa la dirara" yang kemudian dibuat kaidah fiqhiyah la darara wa la dirara. Yang termasuk jenis ini adalah segala jenis makanan dan minuman kadaluarsa, segala jenis obat yang merusak tubuh, bahan kimia yang membahayakan, dll. Di bawah ini ada beberapa objek larangan yang dijelaskan oleh dalam al-Qur'an. Dalam surat al-Maidah ayat 3 Allah swt berfirman:

…هب الله ريغل لهأ لمو ريزنخلا محلو مدلاو تيملا مكي ع تمرح

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan yang disembelih atas nama selain nama Allah…”

Dalam ayat ini jelas sekali larangan mengkonsumsi hal-hal sebagai berikut:

a. Khamar

Yang termasuk kategori khamar adalah segala jenis benda yang memabukkan dari jenis candu, ganja, morfin, heroin, kokain dan sebagainya. Khamar merusak akal. Mengkonsumsi khamar bertentangan

ْ نَع

ْْ

َْرَمُع

ْْ

ْ ن ب

ْْ

ْ باَّطَ لْا

ْْ

-َْي ضَر

ْْ

ُْالل

ْْ

ُْه نَع

-ْْ

ُْهَّنَأ

ْْ

َْلاَق

ْْ

ىَلَع

ْْ

ْ َب ن م لا

:ْْ

ُْت ع َسَ

ْْ

َْلوُسَر

ْْ

ْ الل

ْْ

-ىَّلَص

ْْ

ُْالل

ْْ

ْ ه يَلَع

ْْ

َْمَّلَسَو

ْْ

ُْلوُقَ ي

:ْْ

«ْْ

اََّنَّ إ

ْْ

ْلاَم عَلأا

ْ

ْ، تاَّي نل بِ

ْْ

ْاََّنَّ إَو

ْْ

ْ لُك ل

ْْ

ْ ئ ر ما

ْْ

ْاَمْْ

ْ،ىَوَ ن

ْْ

ْ نَمَف

ْْ

ْ تَناَك

ْْ

هُتَر ج ه

ْْ

َْل إ

ْْ

ْ َّللّا

ْْ

ْ، ه لوُسَرَو

ْْ

ُْهُتَر ج هَف

ْْ

َْل إ

ْْ

ْ َّللّا

ْْ

ْ ه لوُسَرَو

ْْو

ْْ

ْ نَمْ

ْ

ْ تَناَك

ْْ

ُْهُتَر ج ه

ْْ

َْل إ

ْْ

ْاَي نُد

ْْ

ْاَهُ بي صُي

ْْ

ْ وَأْ

َْل إ

ْْ

ْ ةَأَر ما

ْ

اَهُح ك نَ ي

ْ

ُْهُتَر ج هَف

ْ

َْل إ

ْْ

اَمْ

َْرَجاَه

ْ

ْ ه يَل إ

ْ.

Artinya: Dari Umar bin Khattab ra bahwa Beliau berkhotbah di atas mimbar, “Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya, amal itu hanya dinilai berdasarkan niatnya, dan sesungguhnya pahala yang diperoleh seseorang sesuai dengan niatnya. Barang siapa yang niat hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya maka dia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya dengan niat mendapatkan dunia atau wanita yang ingin dinikahi maka dia hanya mendapatkan hal yang dia inginkan.

(6)

hadits Rasulullah saw di atas. Mengkonsumsi khamar berarti mengabaikan maqashid syari'ah yang menjadi tujuan ekonomi. Karena menjaga akal adalah bagian dari tujuan maqashid syari'ah itu sendiri. b. Darah

Penyakit cepat mengalir lewat darah. Jelas dengan mengkonsumsi ini akan memberikan kemudharatan kepada manusia. Walaupun darah itu dibekukan seperti khumus maka tetap haram dimakan karena penyakitnya tetap bersarang di dalamnya.

c. Daging babi

Babi adalah binatang kotor. Walaupun ada perbedaan pendapat ulama tentang 'illat diharamkannya babi tatepi tapi yang jelas babi memberikan mudharat kepada manusia.

d. dan lain-lain

Dalam berntuk kegiatan muamalah apapun, jenis-jenis barang seperti di atas tidak boleh kita jadikan sebagai objek transaksi. Walaupun akad yang digunakan dalam transaksi sah tapi karena zatnya haram maka transaksinya menjadi haram.

3. How

Ini terkait dengan proses muamalah itu sendiri. Nash-nash al-Qur'an menjelaskan bahwa dalam proses muamalah harus diperhatikan kondisi-kondisi sebagai di bawah ini:

Sebuah transaksi juga dilarang karena prosesnya tidak sesuai dengan syariah, bisa karena tidak adanya unsur kerelaan dari kedua belah pihak, karena dalam sebuah transaksi dituntut ada keikhlasan dari kedua belah pihak dan tidak boleh saling menzalimi atau merugikan pihak lain dan tidak boleh juga membiarkan diri kita di zalimi oleh orang lain. Bentuk – bentuk penzaliman yang sering terjadi dalam transaksi yang tidak sesuai Syariah yang melanggar prinsip di atas yaitu:

a. Tadlis (penipuan)

Keadaan di mana salah satu pihak tidak mengetahui informasi yang diketahui oleh pihak lain, sehingga pihak yang tahu menipu pihak yang tidak tahu. Jika pihak yang ditipu mengetahui dia telah tertipu, dia tidak akan rela dan ikhlas melakukan transaksi. Tadlis ini dapat terjadi dalam empat hal:

1). Kuantitas

Tadlis dalam kuantitas ini sering terjadi ketika seorang pedagang sengaja menarik pembeli dengan cara menjual daganganya dengan harga murah tetapi tanpa diketahui oleh pembeli mengurangi timbangan dari yang seharusnya.

(7)

2). Kualitas 3). Harga

4). Waktu penyerahan

b. Ihtikar (menimbun barang)

Produsen sengaja merekayasa penawaran barang (supply) dengan menimbun barang menjadi sedikit agar harga menjadi naik sesuai dengan hukum supply "jika penawaran barang sedikit, sementara permintaan

terhadap barang tersebut tetap maka harga akan menjadi naik". Tujuan

rekayasa supply ini dilakukan oleh produsen untuk mencari keuntungan di atas keuntungan normal tetapi hal ini merugikan pihak pembeli. b. Bai Najash

Bai Najash adalah tipuan di mana seseorang membeli suatu barang dengan harga tinggi dan tidak punya maksud untuk membeli sama sekali tetapi hanya untuk menipu orang lain yang benar-benar bermaksud membeli. Di sini produsen menciptakan permintaan palsu, seolah-olah ada banyak permintaan terhadap produk tersebut sehingga harga menjadi naik. Sesuai dengan hukum demand "Jika permintaan terhadap suatu

barang naik sementara penawaran tetap maka harha akan menjadi naik".

c. Gharar

Kata gharar dalam bahasa Arab berarti akibat, bencana, bahaya, resiko dan sebagainya. Di dalam kontrak bisnis berarti melakukan sesuatu secara membabi buta tanpa pengetahuan yang mencukupi, atau mengambil resiko sendiri dari suatu perbuatan yang mengandung resiko tanpa mengetahui dengan persis apa akibatnya atau memasuki kancah resiko tanpa memikirkan konsekuensinya.

Secara terminologi adalah suatu akad yang mengandung unsur ketidakpastian baik mengenai ada atau tidaknya objek akad, kuantitas, maupun kemampuan menyerahkan objek yang disebutkan di dalam akad tersebut

D. Tujuan Ekonomi Islam

Islam memiliki sistem yang berbeda dengan sistem lainnya. Islam memiliki akar dalam syari’at yang membentuk pandangan dunia sekaligus sasaran dan tujuannyapun berbeda dengan sistem yang lain. Tujuan ekonomi Islam sejalan dengan tujuan syari'ah sendiri. Menurut Umar Chapra tujuan syari’ah (maqashid Syari’ah) adalah tujuan dari ekonomi. Tujuan dari syari’at yang merupakan tujuan dari aktivitas ekonomi adalah untuk mencapai falah

(kebahagiaan manusia) dan hayatan thayyibah (kehidupan yang baik) dalam

batas-batas syari’ah. Peningkatan spritual adalah faktor utama untuk mencapai

falah (kebahagiaan manusia).

Kata-kata falah (kebahagiaan) disebutkan dalam al-Qur’an paling tidak 40 kali dalam berbagai bentuk konteks kalimat. Panggilan falah juga diucapkan

(8)

dari menara lima kali sehari dan setiap kali anak kalimat, “mari menuju kepada

falah” diulangi dua kali.

Imam al-Ghazali memasukkan semua perkara yang dianggab penting untuk melindungi dan memperkaya Iman/ agama (al-dien), akal (al-’aql), jiwa (al-nafs), keturunan (al-nasb/ al-nasl) dan harta benda (al-maal) dalam maqashid syari’ah. Dalam konsep maqashid syari’ah, dapat dilihat bahwa pemenuhan kebutuhan hidup yang sifatnya pribadi dan menyangkut hal-hal yang material adalah sah dalam Islam. Tapi tujuan material dan pribadi bukan satu-satunya tujuan. Menurut al-Ghazali, kebutuhan itu harus ditundukkan kepada agama dan iman, kerana itu maka agama dan iman diletakkan sebagai tujuan pertama karena imanlah yang memberikan fondasi yang benar dalam hubungan antar manusia, memungkinkan umat manusia berinteraksi satu sama lain dalam suatu pergaulan yang seimbang dan saling menguntungkan dalam mencapai kebahagiaan bersama. Iman juga memberikan filter moral.

Muhammad Nejatullah Siddiq menambahkan bahwa kekayaan materi merupakan bagian penting dari Falah. Bahaya kelaparan, sulitnya mendapatkan kebutuhan hidup dan faktor-faktor lain yang mengganggu pikiran dan tubuh tentu tidak akan meemungkinkan untuk mencapai tujuan di dunia yang menyenangkan. Islam tidak mencela kebutuhan materi dalam aktivitas kehidupan manusia.

Banyak do’a Rasulullah s.a.w. yang memohon agar terhindar dari kemiskinan dan kehinaan diantaranya:

“Ya Allah, aku memohon kepada Mu dapipada kelaparan karena kelaparan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.”

(HR. an-Nasa’i)

“Ya Allah aku mohon kepadaMu dari segala kekafiran, kekurangan dan kehinaan.”

(HR. Bukhari)

Bagi insan yang tidak kuat imannya, kemiskinan bisa menyebabkan mereka kufur kepada Allah. Kemiskinan bisa merubah iman seseorang. Sebuah hadits menjelaskan bahwa:

ارفك نوكي نا رقفلا دلك

"Telah dekat kefakiran itu kepada kekafiran"

Jadi tujuan aktivitas ekonomi dalam Islam itu adalah untuk mencapai falah, yaitu kebahagiaan di dunia yang bukan saja diakui oleh Islam, malah dianjurkan dan beberapa bagian dari aktivitas ini dianggab sebagai suatu kewajiban seperti:

1. Memenuhi kebutuhan hidup seseorang secara sederhana. 2. Memenuhi kebutuhan keluarga

(9)

4. Menyediakan kebutuhan keluarga yang ditinggalkan

5. Memberikan bantuan sosial dan sumbangan menurut jalan Allah

Dan kebahagian di akhirat yang menjadi tujuan utama dengan menjaga dan meningkatkan keimanan.

Menurut Muhammad Nejatullah Siddiq, kata falah lebih mengacu kepada kesejahteraan dunia dan akhirat. Islam percaya akan adanya hari kiamat dan untuk mendapatkan kebajikan di akhirat, maka manusia harus melakukan usaha yang sama semasa di dunia. Manusia harus melakukan kebajikan di dunia agar mendapat rahmat di dunia juga di akhirat dan menciptakan keseimbangan antara kehidupan di dunia dan akhirat.

Akram Khan menjelaskan bahwa Falah mencakup tiga dimensi: Untuk kehidupan dunia yaitu: kelangsungan hidup (survival), bebas dari kemiskinan (freedom from want), kekuatan dan kehormatan (power and honor). Untuk kehuidupan akihirat yaitu: kelangsungan hidup yang abadi, kesejahteraan yang abadi dan pengetahuan kebodohan.

Menurut al-Qur'an, tujuan kehidupan manusia pada akhirnya adalah falah di akhirat, sedangkan falah di dunia hanya merupakan tujuan perantara untuk mencapai falah di akhirat. Dengan kata lain, dunia adalah tujuan perantara sedangkan akhirat adalah tujuan akhir dari segalanya. Akhirat merupakan kehidupan yang diyakini nyata – nyata ada dan akan terjadi, dan memiliki nilai kualitas dan kuantitas yang lebih berharga dibandingkan dunia. Bukan berarti pula bahwa kehidupan tidak penting dan boleh diabaikan tetapi kehidupan dunia merupakan jalan untuk mencapai tujuan akhirat.

Akram Khan menjelaskan bahwa falah dalam kontek kehidupan dunia memiliki implikasi mikro dan makro sebagai tabel dibawah ini:

LEVEL MIKRO LEVEL MAKRO

Kelangsungan hidup

(survival)

Faktor biologi: kesehatan fisik dan bebas dari penyakit

Keseimbangan ekologi, lingkungan yang higienis Faktor ekonomi:

memiliki sarana kehidupan

Managemen sumber daya alam untuk menghasilkan

kesempatan kerja untuk seluruh penduduk

Faktor sosial : persaudaraan dan hubungan antar personal yang harmonis

Perpaduan antar masyarakat;

menghilangkan konflik di antara kelompok yang berbeda-beda.

Faktor politik : bebas dan berpartisipasi dalam urusan negara.

Kebebasan dan

kebulatan tekad sebagai suatu kesatuan

(10)

Kebebasan dari

Kemiskinan (Freedom of

want)

Pengurangan kekayaan Persediaan untuk seluruh penduduk

Kepercayaan diri: Bekerja lebih baik daripada bermalasan

Menggali sumber daya alam untuk generasi mendatang

Kekuatan dan kehormatan (Power &

Honour)

Menghargai diri sendiri Kekuatan ekonomi dan bebas dari hutang

Hak//kemerdekaan penduduk, proteksi terhadap kehormatan dan hidup

Kekuatan militer

Sedangkan kalimat Hayatan Thayyibatan sesuai dengan firman Allah dalam surat an-Nahl ayat 97 yang berbunyi:

هنبيحن ف نمؤم وهو ىثنأ وأ ركذ نم لحللص لمع نم

بيط ةويح

مهرجأ مهنيزجنلو

نو معي اونلكلم نسحأب

“Barang siapa yang beramal shaleh, laki-laki atau perempuan sedang mereka beriman, maka Kami akan memberinya kehidupan yang baik dan

Kami akan membalas mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka perbuat”

Falah hanya dapat tercapai dengan suatu tata kehidupan yang baik dan terhormat (hayatan thayyiban) dan ini hanya bisa dicapai dengan menjalan Islam secara kaffah. Kaffah berarti menjalankan Islam secara keseluruhan.

Muamalah mempunyai arti mufa'alah (asal kata fa'ala artinya berbuat).

Mufa'alah dalam ilmu sharaf masuk ke dalam bab “fi’il tsulatsi mazid satu huruf

bab mufa’alah” yang menunjukan suatu pekerjaan yang saling dilakukan antara dua orang. Ini menunjukkan bahwa kegiatan muamalah adalah kegiatan yang dilakukan sebagai interaksi antar dua orang atau lebih. Kegiatan muamalah tidak bisa dilakukan seorang diri. Jadi sebenarnya kegiatan apapun yang melibatkan dua orang atau lebih, itu adalah kegiatan muamalah.Prinsip-prinsipnya diatur secara umum dalam syariat.

Gambar

(11)

Referensi

Dokumen terkait

a) Kajian literatur tentang kecerdasan majemuk, pendekatan multi representsi dan model discovery learning dari jurnal yang relevan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh teori

Penanganan krisis kesehatan akibat bencana memerlukan rencana aksi yang disusun berdasarkan koordinasi Instansi yang tergabung dalam organisasi Pusat Penanggulangan Krisis

Indikator penilaian soal dengan presentase tertinggi terdapat pada indikator 1, yaitu indikator mengidentifkasi masalah yaitu mencapai presentase sebesar 62,5%,

Setelah kontroler fuzzy memfuzzifikasi nilai input dari sistem fuzzy, kontroler fuzzy menggunakan input variable fuzzy yang ada dan aturan dasar untuk

Semua terkaji dengan menarik untuk disaksikan terutama untuk anak-anak dan tidak jarang anak-anak mengikuti gaya dan peran tokoh film kartun misalnya saja pada film

NOTIS: Pemilihan sarung tangan spesifik untuk aplikasi khas dan tempoh penggunaan di tempat kerja perlu mengambil kira semua faktor relevan tempat kerja seperti, tetapi tidak terhad

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penurunan Visus yang Disebabkan Oleh Keiainan Refraksi yang Tidak Terkoreksi Pada Mata Miopia.. Kejadian Miopia Pada Anak Sekolah Dasar di

(Asesmen Mandiri/ Self Assessment ) Penilaian Bukti-bukti Pendukung Diisi Asesor K BK V A T M 17.3.1 Penjual/pemilik dan pembeli/penyewa bersama- sama