BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
1. Indonesia merupakan negara yang sangat sering didera bencana alam, seperti gempa tektonik yang diikuti gelombang tsunami, erupsi gunung merapi, tanah longsor, banjir, angin putting beliung, dan bencana alam lainnya. Akibat dari terjadinya bencana alam tersebut, telah menyisakan banyak penderitaan bagi masyarakat di daerah yang terkena bencana bahkan masyarakat lainnya. Berdasarkan rekapitulasi data kejadian bencana dari Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kementerian Sosial RI pada bulan Januari sampai dengan Februari 2010 tercatat jumlah korban bencana yang meninggal dunia/hilang sebanyak 75 jiwa, sementara yang menderita karena kehilangan sanak saudara dan harta benda tercatat sebanyak 22.162 Kepala Keluarga dan 101.893 jiwa. Disisi lain dalam situasi bencana, kelompok rentan menjadi kelompok yang terdampak lebih besar dan berat karena kekurangan dan kelemahannya, seperti bayi, balita, dan anak-anak; ibu yang sedang mengandung / menyusui; penyandang cacat (disabilitas); dan orang lanjut usia.
2. Terkait dengan kondisi geografis Indonesia yang rawan dengan bencana alam, maka diperlukan kesiapsiagaan seluruh lapisan masyarakat baik pada prabencana, saat bencana maupun pascabencana. Hampir dapat dipastikan bahwa seseorang yang mengalami bencana pasti menghadapi masalah sosial psikologis mulai dari yang ringan hingga yang berat. Pada kondisi tertentu, korban bencana alam sangat memerlukan kehadiran pihak lain yang dapat menemani dan menerimanya, memberikan ketenangan jiwa dan pikiran atas kondisi darurat yang terjadi, memberikan semangat hidup, memberikan informasi kepengungsian, informasi keberadaan keluarga korban, bantuan sosial yang dapat diakses, masa depan setelah dari pengungsian, serta bersedia dan dapat membela kepentingan dan hak mereka yang terabaikan karena satu dan lain hal.
3. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2011 tentang Kesejahteraan
Sosial dan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana (Renas PB) tahun 2010-2014 mengamanatkan Kementerian Sosial dalam fase tanggap darurat alam adalah pemenuhan kebutuhan dasar dan shelter, serta draft Renas PB tahun 2015 –2019, memberikan tugas kepada Kementerian Sosial dalam pemenuhan kebutuhan korban dan relawan. Kesepakatan Nasional pembentukan cluster penanggulangan bencana tahun 2014 Kementerian Sosial mendapatkan tugas perlidungan dan logistik pengungsi.
4. Serta Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 86 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial mengamanatkan, Subdirektorat Tanggap Darurat, Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam mempunyai tugas
“melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang tanggap darurat perlindungan sosial korban bencana alam”, yang salah satunya adalah melaksanakan advokasi
sosial. Namun dalam pelaksanaannya advokasi sosial ini belum menjadi prioritas disebabkan belum adanya acuan yang dapat dipedomani oleh petugas dalam melaksanakan tugasnya. Terkait dengan kondisi ini dipandang perlu untuk menyusun pedoman teknis pelaksanaan advokasi sosial yang dapat dipergunakan oleh petugas dalam melaksanakan advokasi sosial kepada korban bencana alam.
B. DASAR HUKUM
1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. 2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008.
4. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
5. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
6. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial.
7. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1988 tentang Usaha Kesejahteraan Anak Bagi Anak yang Mempunyai Masalah.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana.
10. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non Pemerintah Dalam Penanggulangan Bencana.
11. Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2001 tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi.
12. Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 86/HUK/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial RI.
13. Keputusan Direktur Jenderal Bantuan dan Jaminan Sosial Nomor 57/BJS/2003 tentang Pedoman Umum Bantuan Sosial Korban Bencana Alam.
14. Pedoman Teknis Standarisasi Bantuan Sosial Korban Bencana Alam Nomor 02/BJS/ BSKBA/2003.
15. Rencana Nasional Penaggulangan Bencana (Renas PB) tahun 2010-2014 dan draft Renas PB Tahun 2015-2019.
16. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional.
17. Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 2 Tahun 2013 tentang Perencanaan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG) di Daerah.
C. MAKSUD DAN TUJUAN
1. Maksud
Penyusunan pedoman ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman dan penyamaan persepsi dalam penerapan advokasi sosial bagi semua stakeholder yang terlibat dalam penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat penanggulangan bencana.
2. Tujuan
a. Tersusunnya pedoman pelaksanaan advokasi sosial guna membela kepentingan dan hak korban bencana alam yang kemungkinan terabaikan pada saat peristiwa bencana terjadi khususnya bagi kelompok rentan seperti bayi,
balita, dan anak-anak; ibu yang sedang mengandung/menyusui; penyandang cacat (disabilitas); dan orang lanjut usia.
b. Tersediannya acuan bagi petugas dalam melaksanakan tugas memberikan layanan demi kepentingan terbaik korban bencana alam.
D. RUANG LINGKUP
Ruang lingup pedoman ini, mencakup bidang pelayanan:
1. Advokasi bantuan darurat dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar para korban bencana alam khususnya kelompok rentan.
2. Advokasi kasus korban bencana alam khususnya para kelompok rentan.
3. Advokasi manajemen dalam rangka mewujudkan suatu kebijakan yang pro korban bencana alam.
E. INDIKATOR KEBERHASILAN
Ada beberapa indikator yang diwujudkan dalam pelaksanaan advokasi sosial ini, meliputi:
1. Terpenuhinya hak dan kebutuhan dasar korban bencana alam melaluI penyaluran bantuan darurat yang cepat, tepat waktu, tepat sasaran dan tepat kebutuhan. 2. Terselesaikannya kasus dan masalah yang dihadapi oleh korban bencana alam
melalui rujukan, aksesibilitas dan fasilitasi serta upaya yang dilakukan oleh petugas advokasi.
3. Tersedianya kebijakan dan managemen penanggulangan bencana yang memihak pada korban bencana alam khususnya kelompok rentan.
4. Terpenuhinya kebutuhan dasar bayi, balita, dan anak-anak; ibu yang sedang mengandung/menyusui; penyandang cacat (disabilitas); orang lanjut usia untuk hidup secara layak sebagai bentuk pelayanan perlindungan sosial pada masa tanggap darurat.
F. PENGERTIAN
1. Perlindungan Sosial adalah semua upaya yang diarahkan untuk mencegah dan menangani risiko dari guncangan dan kerentanan sosial.
2. Penanggulangan bencana adalah keseluruhan proses penanganan bencana yang dilakukan, meliputi: pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan baik sebelum, pada saat dan setelah terjadinya bencana yang mencakup kegiatan pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan kembali kondisi kehidupan masyarakat seperti sebelumnya.
3. Bencana alam adalah serangkaian peristiwa atau kejadian yang ditimbulkan oleh alam (seperti: gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor) yang mempengaruhi dan berdampak ociale (dan mungkin berdampak positif) terhadap aktivitas dan kehidupan manusia di sekitarnya.
4. Advokasi sosial adalah upaya yang dilakukan untuk membantu individu, keluarga, masyarakat tertentu sehingga mendapatkan pelayanan atau dapat memanfaatkan sumber yang dibutuhkan atau yang menjadi hak mereka dengan cara yang melindungi martabat mereka; serta untuk mempengaruhi dan mendesakan terjadinya perubahan dalam kebijakan, praktek dan aturan dalam memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhannya.
5. Advokasi sosial bagi korban bencana alam adalah advokasi untuk membantu korban bancana terutama kelompok rentan dalam hal ini meliputi bayi, balita, dan anak-anak; ibu yang sedang mengandung/menyusui; penyandang cacat (disabilitas); dan orang lanjut usia untuk mendapatkan pelayanan atau untuk memanfaatkan sumber yang dibutuhkan atau yang menjadi hak mereka dengan cara yang melindungi martabatnya.
6. Kelompok rentan dalam situasi bencana adalah individu atau kelompok yang terdampak lebih berat diakibatkan adanya kekurangan dan kelemahan yang dimilikinya yang pada saat bencana terjadi menjadi beresiko lebih besar, meliputi: bayi, balita, dan anak-anak; ibu yang sedang mengandung / menyusui; penyandang cacat (disabilitas); dan orang lanjut usia (UU No 24/2007, pasal 55, ayat 2).
7. Petugas Advokasi Sosial disingkat dengan PAS adalah seseorang yang sudah mengikuti pelatihan Advokasi Sosial dan diberi kewenangan untuk melaksanakan tugas advokasi sosial dalam rangka membantu korban bencana alam pada masa tanggap darurat khususnya kelompok rentan, seperti: bayi, balita, dan anak-anak;
ibu yang sedang mengandung/menyusui; penyandang cacat (disabilitas); dan orang lanjut usia, yang pemenuhan kebutuhan dasarnya terabaikan.
8. Pengungsian adalah tempat dimana korban bencana tinggal selama proses pengembalian ke tempat asal atau relokasi (tempat baru) yang nyaman yang memungkinan mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari dalam rangka memenuhi kehidupannya.
BAB II
KONSEPSI ADVOKASI SOSIAL
KORBAN BENCANA ALAM
A. TUJUAN
Tujuan yang diharapkan dari pelaksanaan advokasi sosial ini:
1. Terwujudnya pemenuhan kebutuhan dasar yang dapat memberikan jaminan hidup dan perlindungan sosial untuk kelangsungan hidup korban bencana alam, terutama kelompok rentan.
2. Terwujudnya penyelesaian kasus yang terkait dengan para korban bencana alam terutama kasus yang terkait dengan kelompok rentan.
3. Terwujudnya suatu keberpihakan kebijakan yang pro korban bencana alam yang dapat memberikan jaminan dan perlindungan sosial atas kehidupan korban bencana alam.
4. Terwujudnya pelayanan yang berkualitas dalam rangka menjamin pemenuhan hak korban bencana alam, terutama bagi kelompok rentan.
B. SASARAN
Ada beberapa kelompok sasaran advokasi sosial, meliputi: 1. Sasaran utama:
a. Individu (Kelompok Rentan) yang menjadi korban bencana alam, dengan skala prioritas (UU No 24 / 2007, pasal 55 ayat 2), meliputi:
1) Bayi, balita, dan anak-anak.
2) Ibu yang sedang mengandung/menyusui. 3) Penyandang cacat (disabilitas).
4) Orang lanjut usia.
b. Individu yang menjadi korban bencana alam di luar poin (a) di atas (warga tidak mampu).
2. Sasaran Antara:
a. Kelompok atau keluarga, seperti : Kelompok Ibu Pengajian, PSM, Karang Taruna, Kelompok Keagamaan, TAGANA, keluarga yang mampu dan mau untuk menjadi orang tua angkat/orang tua asuh, dll.
b. Para pelaku dan pembuat kebijakan, seperti: koordinator lapangan, aparat pemerintah setempat (Lurah/desa, Camat, Bupati/Walikota, Gubernur, dll). c. Para stakeholder yang terkait, seperti: Tim Kesehatan, Tim Evakuasi, Tim
Psikososial, Lembaga pendidikan, TNI, PMI, dll.
d. LSM/organisasi sosial dan lembaga lainnya, seperti: Panti Sosial Masyarakat, Panti Sosial Pemerintah, dll.
e. Tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, dll.
f. Lembaga / instansi pemerintah pusat dan daerah, seperti: Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, dll
g. Forum anak, seperti: Lembaga Perduli Anak, Lembaga Advokasi Anak, dll
C. PRINSIP
Prinsip yang dimaksud disini adalah sebagai patokan yang menjadi dasar pelaksanaan kegiatan advokasi, di antaranya:
1. Pemenuhan kebutuhan dasar, adanya suatu jaminan bahwa setiap individu, kelompok dan masyarakat yang menjadi korban bencana alam terutama kelompok rentan harus terpenuhi kebutuhan dasarnya di manapun bencana tersebut terjadi. 2. Keberlangsungan hidup, adanya suatu jaminan bahwa setiap korban bencana
alam terutama kelompok rentan akan terjamin keberlangsungan hidupnya.
3. Non-diskriminatif, adanya jaminan bahwa pelayanan yang diberikan tidak membeda-bedakan latar belakang: suku, agama, etnis, ras, dan lain-lain.
4. Kejujuran, ada perhatian yang jujur untuk membela dan memperjuangkan hak dan kepentingan para korban bencana alam terutama kelompok rentan.
5. Gigih/Aponturir , yaitu suatu sikap membela secara sungguh-sungguh, tanpa pamrih, gerilya bagi korban bencana alam terutama kelompok rentan yang haknya tidak terpenuhi.
6. Ketuntasan, maksudnya bahwa setiap kasus yang ditangani mulai sejak awal harus selesai.
7. Independensi, bahwa setiap tugas advokasi sosial yang dijalankan harus bebas dari segala kepentingan.
8. Akuntabel, artinya bahwa setiap tindakan advokasi sosial yang dilakukan harus dapat dipertanggungjawabkan.
9. Cepat dan tepat, artinya bahwa advokasi yang diberikan harus tepat sasaran, tepat waktu, tepat kebutuhan dan tempat.
10. Kerjasama, bahwa setiap advokasi yang dilakukan harus diwujudkan melalui kerjasama dengan pihak terkait.
D. PROSES
Proses advokasi sosial secara umum dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Identifikasi korban bencana alam.
2. Identifikasi dan rumuskan masalahnya, apakah terkait dengan tiga hal yaitu, pemenuhan kebutuhan dasar, kasus dan manajemen.
3. Kumpulkan data dan informasi terpilah untuk mendukung pelayanan, seperti: data laki-laki dan perempuan, data balita, lanjut usia, dll.
4. Diagnosis situasi permasalahan yang ada (struktur, lingkungan atau sistem yang perlu dirubah).
5. Rumuskan tujuan yang akan diwujudkan.
6. Susun rencana yang akan dilaksanakan termasuk jadual dengan mengerahkan semua sumber daya yang ada termasuk dari stakeholder.
7. Laksanakan kegiatan sesuai rencana yang disusun dengan melibatkan semua
stakeholder yang ada.
8. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan advokasi untuk memberikan jaminan atas pelaksanaan kegiatan yang dilakukan.
9. Lakukan rujukan bilamana diperlukan.
E. TEKNIK
1. Pemilihan teknik dalam penerapan advokasi sosial sangat tergantung pada faktor berikut: (a) keadaan masalah korban bencana alam; (b) kondisi dan situasi korban bencana alam; (c) situasi dan kondisi lingkungan target (sasaran); (d) ketersediaan dan dukungan sumber daya yang ada; (e) dukungan stakeholder; (f) dukungan lembaga; (g) ketersediaan anggaran; (h) efektifitas koordinasi dan diplomasi yang dilakukan.
2. Teknik dalam advokasi sosial, meliputi:
a. Pertemuan langsung. Mengadakan pertemuan langsung dengan pihak yang terkait, sehingga mendapatkan informasi dari sumber yang sesungguhnya, bukan kabar yang tidak jelas.
b. Pengumpulan informasi dan analisis. PAS melakukan pengumpulan data dan informasi yang diikuti dengan analisis kasus sebagai dasar untuk melakukan rencana selanjutnya.
c. Pertemuan lembaga. Bilamana terjadi penolakan pemberian layanan (seperti oleh rumah sakit) atau penanganan yang tidak manusiawi oleh lembaga, maka diadakan pertemuan lembaga terkait dalam rangka melibatkan kasus (case
conference) dapat dilakukan dengan melibatkan lembaga tersebut.
d. Seruan. Menyerukan kepada lembaga atau badan pemerintah yang memiliki prosedur kurang membela korban bencana alam untuk merubah kebijakan dan prosedur kerjanya dan lebih peduli kepada korban bencana alam dalam situasi darurat.
e. Prakarsa tindakan hukum. Ketika hak korban bencana alam dilanggar, dapat dilakukan melalui gugatan hukum sebagai alternatif yang pantas.
f. Pembentukan komitmen antar lembaga. Ketika PAS secara individual tidak berhasil mempengaruhi perubahan penting, beberapa lembaga advokasi sosial secara bersama-sama dapat membentuk komitmen bersama untuk memperjuangkan dan membela hak-hak dan kepentingan korban bencana alam.
g. Memberi kesaksian ahli. PAS dapat mendesak dan mempengaruhi pengembangan kebijakan publik yang berpihak pada kepentingan dan pemenuhan kebutuhan korban bencana alam.
h. Mengorganisir kelompok korban bencana alam. PAS dapat membentuk aksi kelompok korban bencana alam yang memiliki masalah yang sama untuk melakukan perubahan sosial, seperti aksi kelompok anak cacat korban bencana.
i. Dukungan stakeholder. Dalam rangka memperlancar tugas PAS perlu ada dukungan stakeholder baik secara langsung maupun tidak langsung.
F. KAPAN DILAKUKAN
Ada beberapa situasi yang menjadi indikasi perlunya advokasi, meliputi:
1. Ketika pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana alam terutama kelompok rentan tidak terpenuhi.
2. Ketika korban bencana alam terutama kelompok rentan memiliki kebutuhan umum terhadap sumber, seperti kebutuhan akan air bersih dan lain-lain, sementara sumber tersebut tidak tersedia.
3. Ketika korban bencana alam terutama kelompok rentan memiliki kebutuhan yang luar biasa akan pelayanan segera karena situasi krisis, seperti wanita hamil yang akan melahirkan atau anak cacat yang mengalami luka-luka.
4. Ketika lembaga pelayanan atau stafnya menolak memberikan pelayanan yang menjadi hak korban bencana alam terutama kelompok rentan.
5. Ketika pelayanan kepada korban bencana alam terutama kelompok rentan dilayani dengan cara yang tidak memperhatikan sisi kemanusiaan korban (dehumanisasi). 6. Ketika korban bencana alam terutama kelompok rentan diperlakukan diskriminatif. 7. Ketika kesenjangan dalam pelayanan yang menyebabkan penderitaan atau
disfungsi pada korban terutama kelompok rentan.
8. Ketika kebijakan lembaga atau pemerintah merugikan korban bencana alam terutama kelompok rentan yang membutuhkan sumber dan pelayanan.
9. Ketika prosedur atau fasilitas organisasi pemberi pelayanan bersifat merugikan, seperti rumah sakit yang tidak mau menangani segera anak dan wanita hamil korban luka-luka akibat bencana karena tidak ada uang muka pengobatan.
10. Ketika para korban bencana alam terutama kelompok rentan dihadapkan pada kasus yang dapat merugikan mereka seperti ibu hamil yang melahirkan di tempat pengungsian tanpa ada bantuan medis.
G. KRITERIA PETUGAS ADVOKASI SOSIAL (PAS)
Untuk menjadi PAS, ada beberapa kriteria yang dipersyaratkan yaitu: 1. Telah mengikuti pelatihan atau pemantapan PAS.
2. Pendidikan minimal SLTA/sederajat.
3. Terdaftar dalam lembaga advokasi sosial yang resmi.
4. Ditugaskan oleh lembaga/instansi yang resmi baik pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan.
5. Bersedia ditugaskan di manapun dalam rangka pelaksanaan advokasi sosial. 6. Memiliki integritas dan komitmen yang kuat dalam pelaksanaan advokasi sosial. 7. Lancar berkomunikasi dalam proses advokasi sosial.
8. Memiliki keberanian dalam membela kepentingan korban bencana alam. 9. Petugas yang berperspektif HAM dan Gender
H. KELENGKAPAN DOKUMEN PAS
Ada beberapa kelengkapan dokumen yang harus dimiliki oleh PAS dalam rangka melaksanakan tugas advokasi sosial sehingga PAS dapat diterima dengan resmi, meliputi:
1. Identitas diri yang resmi, meliputi: KTP, tanda pengenal yang dikeluarkan oleh lembaga yang resmi.
2. Pakaian seragam resmi yang dikeluarkan oleh lembaga yang resmi. 3. Surat Tugas dari lembaga yang resmi.
I. PERAN DAN TUGAS
Ada beberapa peran dan tugas yang harus dilakukan oleh PAS, di antaranya: 1. Identifikasi, dengan tugas:
a. Mengidentifikasi pihak penentu kebijakan dan atau tokoh yang berpengaruh dengan permasalahan bencana alam yang terjadi.
b. Mengidentifikasi korban bencana alam terutama kelompok rentan yang pemenuhan kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi.
c. Mengidentifikasi korban bencana alam terutama kelompok rentan yang sedang terlibat dalam kasus.
d. Mengidentifikasi manajemen yang tidak pro kepada korban bencana alam terutama kelompok rentan.
2. Koordinasi, dengan tugas:
a. Melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat dalam penanggulangan bencana alam.
b. Melakukan koordinasi dengan tokoh masyarakat dan koordinator pengungsi di lokasi bencana.
c. Melakukan koordinasi dengan instansi/lembaga yang terlibat dalam penanggulangan bencana alam.
d. Melakukan koordinasi dengan pihak terkait (Orsos, LSM, LKS, dll) dengan penanggulangan bencana.
e. Melakukan koordinasi dengan semua pihak yang terlibat dalam penanggulangan bencana.
3. Mediator, dengan tugas:
a. Menjadi mediator antara korban bencana alam terutama kelompok rentan yang pemenuhan kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi dengan pihak penentu kebijakan dan pihak terkait lainnya.
b. Menjadi mediator antara korban bencana alam terutama kelompok rentan yang sedang terlibat dalam kasus dengan pihak penentu kebijakan dan pihak terkait lainnya.
c. Menjadi mediator antara korban bencana alam terutama kelompok rentan yang mendapat perlakukan kurang layak secara kemanusiaan dengan pihak penentu kebijakan dan pihak terkait lainnya.
4. Melaksanakan Advokasi Sosial, dengan tugas:
a. Melakukan advokasi sosial terhadap korban bencana alam terutama kelompok rentan yang pemenuhan kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi.
b. Melakukan advokasi sosial terhadap korban bencana alam terutama kelompok rentan yang sedang terlibat dalam kasus.
c. Melakukan advokasi sosial terhadap manajemen yang tidak pro kepada korban bencana alam terutama kelompok rentan.
5. Motivator, dengan tugas:
a. Memotivasi korban bencana alam terutama kelompok rentan yang pemenuhan kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi.
b. Memotivasi korban bencana alam terutama kelompok rentan yang sedang terlibat dalam kasus.
c. Memotivasi korban bencana alam terutama kelompok rentan yang mendapat perlakukan kurang layak secara kemanusiaan
6. Evaluator, dengan tugas:
a. Melakukan evaluasi terhadap korban bencana alam terutama kelompok rentan yang pemenuhan kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi.
b. Melakukan evaluasi terhadap korban bencana alam terutama kelompok rentan yang sedang terlibat dalam kasus.
c. Melakukan evaluasi terhadap manajemen yang tidak pro kepada korban bencana alam terutama kelompok rentan.
7. Rujukan, dengan tugas:
a. Melakukan rujukan kepada pihak terkait guna memenuhi kebutuhan dasar korban bencana alam terutama kelompok rentan yang tidak terpenuhi.
b. Melakukan rujukan kepada pihak terkait sesuai kapasitasnya guna membantu menyelesaikan kasus yang sedang dihadapi oleh korban bencana alam terutama kelompok rentan yang tidak dapat diselesaikan oleh PAS.
c. Melakukan rujukan kepada pihak terkait guna membela kepentingan korban terutama kelompok rentan yang mendapat perlakuan kurang layak secara kemanusiaan
8. Terminasi, dengan tugas:
a. Melakukan pemberhentian layanan terhadap korban bencana alam terutama kelompok rentan yang pemenuhan kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi. b. Melakukan pemberhentian layanan terhadap korban bencana alam terutama
kelompok rentan yang kasusnya sudah tertangani dan selesai.
c. Melakukan pemberhentian layanan terhadap korban bencana alam terutama kelompok rentan yang sudah mendapat perlakukan secara layak.
BAB III
IMPLEMENTASI ADVOKASI SOSIAL
Advokasi merupakan suatu usaha sistematik dan terorganisir dalam rangka mempengaruhi dan mendesakkan terjadinya perubahan dalam kebijakan publik terkait dengan pemenuhan hak korban bencana alam terutama kelompok rentan.
A. ADVOKASI SOSIAL
Ada beberapa bentuk advokasi sosial yang dapat dilakukan dalam situasi tanggap darurat penanggulangan bencana alam di antaranya:
1. ADVOKASI BANTUAN DARURAT
Advokasi bantuan darurat yang dimaksud di sini adalah upaya pembelaan yang dilakukan kepada korban bencana alam terutama kelompok rentan guna menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar, yang apabila hal ini tidak dipernuhi dapat mengacam kelangsungan hidup korban terutama kelompok rentan.
a. Tujuan Advokasi
1) Teridentifikasinya kebutuhan dasar korban bencana alam terutama kelompok rentan yang tidak terpenuhi kebutuhan dasar pada masa tanggap darurat bencana.
2) Terwujudnya pemenuhan kebutuhan dasar yang dapat memberikan perlindungan dan jaminan keberlangsungan hidup bagi korban bencana alam terutama kelompok rentan pada masa tanggap darurat bencana alam.
b. Cakupan
1) Identifikasi permasalahan terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana alam terutama kelompok rentan.
2) Pemenuhan kebutuhan dasar bagi korban bencana alam terutama kelompok rentan yang berkaitan dengan pemenuhan: sandang, pangan, papan, kesehatan, kenyamanan dan pendidikan.
3) Proses dan kualitas layanan yang diberikan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar.
4) Sarana yang terkait dalam pemenuhan kebutuhan dasar. c. Pihak yang diadvokasi.
1) Para korban bencana alam terutama kelompok rentan dalam masa tanggap darurat.
2) Para pihak penyedia pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar. d. Pihak yang dilibatkan
1) Para penyedia layanan (pemerintah, dunia usaha dan masyarakat). 2) Para korban bencana alam terutama kelompok rentan.
3) Pendamping korban bencana alam. 4) LSM/Organisasi Sosial.
5) Perorangan atau kelompok.
e. Jenis Kebutuhan Dasar yang diadvokasi:
1) Kebutuhan dasar (UU No 24 Tahun 2007, pasal 48 huruf d, dan pasal 53), meliputi:
a) Pangan, antara lain:
(1) Makanan anak, isinya: biskuit, susu, dan lainnya. (2) Kebutuhan air bersih, sanitasi, dan lainnya. (3) Makan dan minum yang cukup, dan lainnya.
(4) Peralatan dapur, alat masak untuk makan, dan lainnya. b) Sandang, antara lain:
(1) Family kit, berisi: peralatan mandi, alat keluarga dan wanita lainnya. (2) Kit ware, isinya: pempers bayi, minyak telon, popok dan alat bayi
lainnya.
(3) Pakaian untuk anak, wanita, laki-laki, dan selimut. (4) Pelatan untuk mandi.
c) Papan, antara lain:
(1) Tenda keluarga, tenda pleton, dan lainnya. (2) Barak sementara.
d) Kesehatan, antara lain: (1) Pelayanan kesehatan. (2) Obat-obatan.
(3) Peralatan olah raga. (4) Tempat perawatan. e) Kenyamanan, antara lain:
(1) Disayang. (2) Diperhatikan. (3) Ditegur/disapa.
(4) Kenyamanan. f) Pendidikan, antara lain:
(1) Pakaian seragam sekolah, sepatu sekolah, tas, perlatan tulis. (2) Biaya transportasi.
(3) Sarana pendidikan.
(4) Pelayanan pendidikan/proses pendidikan.
2) Kebutuhan dasar spesifik perempuan dan anak, antara lain: alat pembalut wanita, pakaian dalam wanita, pempers untuk anak, dan lainnya.
f. Proses Advokasi
1) Langkah 1: Mengidentifikasi permasalahan kebutuhan dasar korban bencana alam terutama kelompok rentan yang tidak terpenuhi dan dapat mengganggu keberlangsungan hidupnya.
2) Langkah 2: Memahami dan mendalami masalah yang ada dan mengumpulkan bukti yang relevan dalam rangka memperkuat pembelaan, disertai dengan dokumen pendukung yang diperlukan.
3) Langkah 3: Mengidentifikasi target kunci yang menjadi penentu atau yang menjadi sumber terjadinya masalah pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana alam terutama kelompok rentan.
4) Langkah 4: Klarifikasi dan berikan batasan kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi (bermasalah) dikaitkan dengan kewenangan yang ada pada pembela.
5) Langkah 5: Membangun komunikasi efektif dengan semua pihak yang dapat mempengaruhi stakeholder yang terlibat.
6) Langkah 6: Rumuskan kesepakatan dan langkah yang harus dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana alam terutama kelompok rentan.
7) Langkah 7: Melaksanakan kesepakatan dan langkah yang telah dirumuskan dalam point 6.
8) Langkah 8: Melakukan pemantauan dan evaluasi secara terus menerus terhadap progres pemenuhan kebutuhan dasar kelompok sasaran terutama kelompok rentan.
2. ADVOKASI KASUS
Advokasi kasus yang dimaksud di sini adalah upaya pembelaan terkait dengan penanganan dan penyelesaian kasus yang dihadapi oleh korban bencana alam yang karena sesuatu hal korban dirugikan baik materil dan non materil.
a. Tujuan Advokasi.
1) Teridentifikasinya kasus yang dihadapi korban bencana alam terutama kelompok rentan.
2) Terwujudnya penyelesaian dan penanganan kasus yang dapat merugikan korban bencana alam terutama kelompok rentan.
b. Cakupan.
1) Kasus yang bersifat materil dan non materil.
2) Masalah yang bersifat pribadi, kelompok atau keluarga korban bencana alam. c. Pihak yang diadvokasi
1) Para korban bencana alam terutama kelompok rentan dalam masa tanggap darurat.
2) Para pihak yang melakukan dan membantu pemecahan kasus yang sedang ditangani.
d. Pihak yang dilibatkan.
1) Para korban bencana alam terutama kelompok rentan.
2) Keluarga, teman dekat dan lingkungan sosial korban bencana alam. 3) Perorangan atau kelompok.
4) Pendamping korban bencana alam. 5) LSM/Organisasi Sosial.
e. Jenis Kasus yang diadvokasi, antara lain:
1) Anak terpisah dengan keluarga, seperti: penculikan, kehilangan anggota keluarga, dan lainnya.
2) Hilangnya dokumen data keluarga, seperti: KTP, KK, Akta Kelahiran, dan dokumen lainnya.
3) Hilangnya dokumen administrasi kepemilikan, seperti: sertifikat tanah, sertifikat rumah, dan lainnya.
4) Adanya kasus antar warga, seperti: perselisihan tempat usaha, perselisihan salah pemahaman, penghinaan, pelecehan seksual, pemukulan, dan lainnya.
5) Adanya kasus kepemilikan harta kekayanan, seperti: pencaplokan, penguasaan harta kekayaan, dan lainnya.
f. Proses Advokasi
1) Langkah 1: Mengidentifikasi jenis dan banyaknya kasus yang dihadapi korban bencana alam terutama kelompok rentan.
2) Langkah 2: Memahami dan mendalami kasus yang sedang dihadapi oleh korban bencana alam terutama kelompok rentan seperti memahami dan mendalami kasus penjualan anak (trafficking) pada saat bencana alam Tsunami di Aceh, meliputi kegiatan bagaimana: kronologisnya, cakupan, kerumitan dan keterkaitan masalah dengan masalah lain dan apa bukti yang ada terkait dengan kasus yang akan ditangani.
3) Langkah 3: Mengidentifikasi target siapa yang akan dilibatkan dan terkait dengan kasus serta bagaimana peran masing-masing dalam penyelesaian kasus.
4) Langkah 4: Memberikan klarifikasi penanganan kasus kaitannya dengan kewenangan yang dimiliki lembaga, mana kasus yang harus ditangani, dan mana kasus yang harus dirujuk pada pihak lain karena keterbatasan kemampuan dan pelayanan yang dimiliki. 5) Langkah 5: Melakukan komunikasi yang intensif dengan semua pihak
terkait dengan kasus korban dan berupaya membangun komitmen yang kuat dengan pihak terkait dalam penyelesaian kasus korban bancana alam terutama kasus kelompok rentan. 6) Langkah 6: Merumuskan langkah pemecahan kasus bersama para korban
dan stakeholder terkait sekaligus penegasan peran masing-masing pihak dalam penanganan kasus.
7) Langkah 7: Melaksanakan langkah pemecahan kasus yang telah dirumuskan dalam poin 6.
8) Langkah 8: Melakukan pemantauan dan evaluasi secara terus menerus terhadap progres pemecahan kasus kelompok sasaran terutama kelompok rentan.
3. ADVOKASI MANAJEMEN
Advokasi manajemen adalah suatu rangkaian komunikasi strategis yang dirancang secara sistematis agar pembuat keputusan baik pada tingkat pusat maupun daerah (provinsi, kebupaten/kota) membuat suatu kebijakan publik yang menguntungkan atau pro kepada korban bencana alam dan kelompok rentan, yang terkait dengan: (a) perencanaan pelayanan, (b) pengorganisasian penanganan korban bencana alam terutama kelompok rentan, (c) distribusi bantuan dan logistik yang tidak merata dan adil atau tidak tepat sasaran, waktu, dan kebutuhan; (d) pengerahan massa penanganan bencana; (e) pengendalian (monitoring dan evaluasi) penanggulangan bencana yang dilakukan; (f) tindak lanjut yang dilakukan atas temuan yang ada.
a. Tujuan Advokasi
1) Mempromosikan suatu perubahan dalam kebijakan, program atau peraturan yang pro kepada korban bencana alam.
2) Mendapatkan dukungan politis terhadap perubahan kebijakan dalam penanggulangan korban bencana alam.
3) Meningkatkan opini masyarakat dalam mendukung program penanggulangan bencana alam.
4) Teratasi dan terintegrasinya masalah penanggulangan bencana secara bersama, melalui kemitraan dan didukung oleh keputusan serta kepedulian pimpinan daerah.
b. Cakupan
1) Kebijakan yang tidak pro kepada korban bencana alam dan terutama kelompok rentan.
2) Perencanaan yang tidak pro kepada korban bencana alam dan kelompok rentan.
3) Prosedur pelayanan yang menghambat pelayanan bagi korban bencana alam dan kelompok rentan.
4) Distribusi bantuan yang tidak adil dan merata bagi korban bencana alam dan kelompok rentan.
5) Pengorganisasian yang tidak mendukung penanganan korban bencana alam dan kelompok rentan.
c. Pihak yang diadvokasi
1) Para korban bencana alam dan kelompok rentan dalam masa tanggap darurat.
2) Para pihak yang mendukung. d. Pihak yang dilibatkan.
1) Bupati dan jajarannya. 2) LSM/Organisasi Sosial.
3) Public Figure.
4) Tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama. 5) Dunia usaha/swasta/penyandang dana.
6) Asosiasi perusahaan.
e. Jenis Permasalahan Manajemen yang diadvokasi.
1) Perencaan penanganan bencana yang tidak pro pengungsi. 2) Koordinasi tugas penanganan bencana yang lambat. 3) Diskriminasi pelayanan terhadap korban bencana alam. 4) Distribusi bantuan yang lambat dan tidak merata.
5) Perlakukan yang tidak adil dari petugas.
6) Pelayanan yang lambat dan tidak sesuai dengan SOP yang ada. 7) Sikap yang tidak pro korban bencana alam.
8) Evaluasi yang terbatas dan tidak ditindaklanjuti. 9) Dan lain-lain.
f. Proses Advokasi.
1) Langkah 1: Mengidentifikasi aspek pengelolaan (manajemen) penanggulangan bencana alam yang macet, menghambat dan tidak konsisten.
2) Langkah 2: Memahami dan mendalami masalah yang ada dan mengum-pulkan bukti terkait dengan penanganan bencana alam yang dilaksanakan.
3) Langkah 3: Mengidentifikasi siapa yang menjadi target atau sasaran, yaitu pejabat pembuat keputusan utama yang terkait dengan penanggulangan bencana alam.
4) Langkah 4: Mengidentifikasi kewenangan yang dimiliki dalam penanggulangan bencana dimaksud.
5) Langkah 5: Membangun komunikasi yang intensif dan membangun komitmen dengan semua stakeholder dalam rangka penanggulangan bencana.
6) Langkah 6: Menyusun langkah kongkrit bersama stakeholder dalam rangka penanggulangan bencana.
7) Langkah 7: Melaksanakan langkah kongkrit yang telah disusun dalam poin 6.
8) Langkah 8: Melakukan pemantauan dan evaluasi untuk melihat perkembangan penerapan advokasi sosial terhadap semua proses pelaksanaan perubahan kebijakan penanggulangan bencana.
B. PENJANGKAUAN
1. Dalam melakukan penjangkauan, Tim Advokasi korban bencana alam, harus membangun akses untuk dapat masuk pada semua sasaran yang menjadi korban bencana terutama kelompok rentan. Kegiatan ini merupakan tahapan awal dimana petugas mulai melakukan kegiatan advokasi sosial. Hal ini penting sebagai suatu jaminan bahwa korban bencana alam terutama kelompok rentan terakses dengan layanan yang dapat memberikan jaminan dan perlindungan yang merupakan tujuan akhir dari kegiatan advokasi sosial. Terkait dengan hal tersebut sangat diperlukan penjangkauan hingga ke lokasi dimana para korban bencana alam terutama kelompok rentan berada.
2. Tujuan
a. Teridentifikasinya jumlah dan permasalahan korban bencana alam terutama kelompok rentan.
b. Memastikan bahwa para korban bencana alam terutama kelompok rentan terakses dengan layanan yang ada.
c. Memberikan jaminan bahwa para korban terutama kelompok rentan terakses dengan layanan yang ada.
3. Strategi
a. Membuka akses untuk menjangkau kelompok sasaran. Beberapa kegiatan yang harus dilakukan oleh pelaku:
1) Pemetaan dan identifikasi wilayah jangkuan yang terdiri dari: estimasi jumlah korban bencana alam terutama kelompok rentan, institusi lokal formal dan non formal, identifikasi tokoh kunci (tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh pengusaha, dan lain-lain).
2) Mendapatkan informasi dasar tentang korban bencana alam terutama kelompok rentan dan masalahnya.
3) Sosialisasi kepada stakeholder (pemangku kepentingan) yang ada di wilayah jangkauan.
b. Menjalin hubungan dengan kelompok sasaran tertama kelompok rentan. 1) Berinteraksi dengan korban bencana alam terutama kelompok rentan. 2) Mengunjungi tempat berkumpulnya kelompok sasaran (korban, keluarga,
lingkungan masyarakat).
3) Membiasakan hadir di tempat sasaran.
4) Menjalin hubungan dengan jaringan sosial kelompok sasaran.
c. Pertimbangan untuk mengembangkan tempat menyimpan data (field station). 1) Pertimbangkan dengan seksama lokasi atau pusat kegiatan advokasi atau
kantor lapangan sesuai dengan kebutuhan bila jumlah kasus yang ditangani banyak.
2) Pastikan tersedia tempat bagi para petugas Tim advokasi yang nyaman. 3) Ciptakan lingkungan yang ramah, yang membuat orang mau memberikan
informasi dan membantu penanganan korban bencana alam terutama kelompok rentan.
C. RUJUKAN
1. Rujukan adalah proses menghubungkan para korban bencana alam terutama kelompok rentan dengan pelayanan lain yang dibutuhkan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Rujukan para korban bencana alam terutama kelompok rentan dilakukan karena adanya keharusan pelayanan akan dilanjutkan sedangkan Tim Advokasi tidak dapat memenuhi.
2. Rujukan bertujuan untuk melanjutkan pelayanan kepada pihak lain sehingga pemenuhan hak korban bencana alam terutama kelompok rentan dapat terjamin. 3. Langkah-langkah:
a. Identifikasi dan analisis masalah dan kebutuhan korban bencana alam terutama kelompok rentan.
b. Identifikasi lembaga tempat rujukan yang sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan korban bencana alam terutama kelompok rentan.
c. Menghubungi lembaga tempat rujukan. d. Melibatkan keluarga.
e. Membuat surat pengantar. f. Merujuk.
4. Lembaga Rujukan:
a. Kementerian Sosial RI dan Jajarannya.
b. Lembaga terkait/stakeholder (pemerintah dan swasta), antara lain: 1) Dinas/Instansi Sosial
2) Dinas/Instansi Pendidikan
3) Dinas/Instansi Kesehatan/Puskesma
4) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) 5) Dinas/Instansi Pemadam Kebakaran
6) Dinas/Instansi Kependudukan dan Catatan Sipil 7) Badan Pertanahan Nasional (BPN)
8) Kepolisian Cq. UPPA.
9) Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A). 10) Dinas/Instansi Pemakaman
11) Kantor Urusan Agama (KUA)
12) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). 13) Dinas/Instansi Pekerjaan Umum
14) Perusahaan Listrik Negara (PLN) 15) Dinas/Instansi Perhubungan 16) Tentara Nasional Indonesia (TNI) 17) Palang Merah Indonesia (PMI 18) Dan lain-lain.
5. Hasil yang ingin dicapai:
a. Terhubungnya korban bencana alam terutama kelompok rentan dengan pelayanan yang cocok dengan masalah dan kebutuhannya.
c. Terwujudnya jaminan dan perlindungan sosial atas masalah yang dihadapi korban bencana alam terutama kelompok rentan.
6. Untuk menjamin bahwa rujukan yang dilakukan telah berjalan dengan baik maka perlu dilakukan pemantauan.
D. TERMINASI
1. Terminasi adalah proses pengakhiran pelayanan setelah korban bencana alam terutama kelompok rentan yang mengalami masalah sudah ditangani dan kehidupan sudah pulih kembali serta berjalan normal.
2. Tujuan, untuk menghindari ketergantuan dan menciptakan kemandirian korban bencana terutama kelompok rentan dalam mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhannya.
3. Langkah-langkah:
a. Melaksanakan analisis dan evaluasi perkembangan permasalahan yang dihadapi korban bencana alam terutama kelompok rentan.
b. Mempersiapkan rencana terminasi dengan korban bencana alam terutama kelompok rentan.
c. Melakukan terminasi. 4. Hasil yang ingin dicapai:
a. Menghilangkan ketergantungan dan menciptakan kemandirian korban bencana alam terutama kelompok rentan dalam mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
b. Pulihnya kembali kehidupan korban bencana alam terutama kelompok rentan seperti sedia kala.
BAB V
MEKANISME PELAKSANAAN
Dalam rangka meningkatkan kinerja pelaksanaan advokasi sosial, maka perlu diatur suatu mekanisme bagaimana dukungan yang diberikan oleh masing-masing pihak yang terlibat, baik pusat maupun daerah, yang meliputi:
A. KEMENTERIAN SOSIAL
1. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan advokasi sosial. 2. Menyusun petunjuk operasional advokasi sosial.
3. Menetapkan identitas lambang atau simbol operasionalisasi advokasi aosial. 4. Menyiapkan sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan advokasi sosial. 5. Menyiapkan dan mengerahkan SDM PAS.
6. Menyiapkan petugas SDM PAS
7. Melaksanakan supervisi, monitoring dan evaluasi pelaksanaan advokasi sosial 8. Menyusun Rancangan Anggaran Biaya (RAB) pelaksanaan advokasi sosial.
B. DINAS/INSTANSI SOSIAL PROVINSI
1. Melaksanakan kebijakan advokasi sosial.
2. Menyiapkan buku petunjuk operasional advokasi sosial.
3. Menggunakan identitas lambang atau simbol operasionalisasi advokasi sosial. 4. Menyiapkan sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan advokasi sosial. 5. Pembinaan dan pengerahan SDM PAS.
6. Peningkatan kemampuan SDM PAS.
7. Melaksanakan supervisi, monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan advokasi sosial.
8. Menyiapkan anggaran biaya pelaksanaan advokasi sosial. 9. Mengkoordinasikan pelaksanaan advokasi sosial.
C. DINAS/INSTANSI SOSIAL KABUPATEN/KOTA
1. Melaksanakan kebijakan advokasi sosial.
2. Menyiapkan buku petunjuk teknis advokasi sosial.
3. Menggunakan identitas lambang atau simbol operasionalisasi advokasi sosial. 4. Menyiapkan sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan advokasi sosial. 5. Pembinaan dan pengerahan SDM PAS.
6. Peningkatan kemampuan SDM PAS.
7. Melaksanakan supervisi, monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan advokasi sosial.
8. Menyiapkan anggaran biaya pelaksanaan advokasi sosial. 9. Memfasilitasi Pelaksanaan advokasi sosial.
10. Melaksanakan advokasi sosial.
D. DINAS/INSTANSI TERKAIT
1. Menetapkan substansi kebijakan yang terkait dengan pelaksanaan advokasi sosial. 2. Menyiapkan substansi petunjuk yang terkait pelaksanaan advokasi sosial.
3. Menyiapkan substansi sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan advokasi sosial.
4. Menyiapkan SDM PAS sesuai substansi masing-masing.
5. Melaksanakan supervisi, monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan advokasi sosial sesuai substansi masing-masing
6. Menyiapkan anggaran biaya pelaksanaan advokasi sosial sesuai substansi masing-masing.
7. Melakukan koordinasi pelaksanaan advokasi sosial sesuai substansi masing-masing.
8. Memfasilitasi pelaksanaan advokasi sosial sesuai substansi masing-masing.
9. Mendukung pelaksanaan advokasi sosial sesuai dengan substansi masing-masing. Terkait dengan hal di atas, dapat digambarkan mekanisme pelaksanaan advokasi sosial, seperti terlihat pada Bagan 1. Mekanisme Pelaksanaan Advokasi Sosial Kepada Korban Bencana Alam Dalam Situasi Tanggap Darurat. Dalam hal ini Kementerian Sosial melakukan pemantapan kepada PAS di pusat, selanjutnya petugas yang telah mengikuti pemantapan di pusat melakukan pemantapan kepada PAS di provinsi dan
kabupaten/kota. Namun demikian dalam pelaksanaan kegiatan advokasi sosial di lapangan dilakukan secara terpadu antara PAS pusat, provinsi, kabupaten/kota. Demikian pula dengan Kementerian/Lembaga serta Dinas/Instansi terkait dalam upaya melakukan advokasi sosial dilakukan secara terpadu bersama-sama dengan Kementerian Sosial dan Dinas/Instansi Sosial Provinsi serta Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/Kota. Untuk mengetahui gambaran dan berkonsultasi tentang advokasi sosial dimaksud dilakukan
online melalui website tagana.kemsos.go.id.
Bagan 1. Mekanisme Pelaksanaan Advokasi Sosial Kepada Korban Bencana Alam Dalam Situasi Tanggap Darurat
KEMENTERIAN SOSIAL DINAS/INSTANSI SOSIAL PROVINSI DINAS/INSTANSI SOSIAL KAB/KOTA TIM ADVOKASI SOSIAL PUSAT PEMANTAPAN PETUGAS ADVOS DI PROV /KAB/KOTA
Keterangan : Garis Komando :
Garis Koordinasi : Terpadu TIM ADVOKASI SOSIAL PROVINSI TIM ADVOKASI SOSIAL KABUPATEN/KOTA Terpadu PEMANTAPAN PETUGAS ADVOS DI PUSAT PETUGAS ADVOS KEMENTERIAN /LEMBAGA/DINAS /INSTANSI TERKAIT Terpadu
BAB IV
PENGENDALIAN
A. SUPERVISI
1. Supervisi yaitu kegiatan untuk membimbing dan mengarahkan sekaligus melakukan pengawasan atas kegiatan advokasi penanggulangan bencana yang dijalankan. Bila terjadi penyimpangan dalam penanganan dapat dilakukan arahan dan perbaikan atas penyimpangan yang terjadi.
2. Tujuan supervisi ini bukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk mengarahkan dan membimbing sehingga sesuai dengan rencana semula.
3. Supervisi dilakukan oleh Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/Kota.
B. MONITORING
1. Monitoring yaitu kegiatan yang ditujukan untuk mengetahui sedini mungkin proses pelaksanaan advokasi penanggulangan bencana yang sedang berlangsung. 2. Tujuan monitoring untuk mengetahui apakah advokasi penanggulangan bencana
sudah berjalan sesuai dengan yang ditetapkan. Jika ditemui penyimpangan segera dapat dicari alternatif pemecahannya.
3. Monitoring dilakukan Kementerian Sosial, Dinas Sosial Provinsi, Dinas Sosial Kabupaten/Kota.
C. EVALUASI
1. Evaluasi yaitu kegiatan yang ditujukan untuk memberikan penilaian apakah indikator keberhasilan yang ditetapkan telah terpenuhi. Kegiatan ini dapat dilakukan pada saat advokasi penanggulangan bencana berlangsung atau setelah kegiatan advokasi penanggulangan bencana selesai.
2. Tujuan Evaluasi adalah untuk mengetahui sejauhmana keberhasilan, manfaat, hambatan/kendala dalam melaksanakan advokasi penanggulangan bencana yang sudah dijalankan.
3. Evaluasi dilakukan Kementerian Sosial, Dinas Sosial Provinsi, Dinas Sosial Kabupaten/Kota.
D. PELAPORAN
1. Pelaporan, yaitu kegiatan untuk melaporkan kegiatan advokasi sosial penanggulangan bencana yang sudah dilakukan. Pelaporan ini dapat dilakukan tertulis yang diikuti dengan penyerahan data lapangan yang sudah dilakukan. Pelaporan hasil advokasi penanggulangan bencana dilakukan secara berkala (triwulan, semester dan tahunan).
2. Tujuan pelaporan adalah untuk mengetahui keberhasilan, manfaat, hambatan/ kendala dalam pelaksanaan advokasi penanggulangan bencana yang sudah dijalankan.
3. Pelaporan dilakukan secara berjenjang oleh:
a. PAS kepada Kepala Seksi Advokasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten/Kota. b. Dinas Sosial Kabupaten/Kota kepada Dinas Sosial Provinsi.
BAB V
PENUTUP
Dengan terbitnya Pedoman Advokasi Sosial Korban Bencana Alam ini diharapkan dapat menjadi acuan serta petunjuk bagi semua pihak yang berkepentingan dalam melakukan kegiatan advokasi sosial. Baik kegiatan advokasi sosial dalam pemberian bantuan darurat dan penanganan kasus bagi korban bencana alam terutama kelompok rentan baik bayi, balita, dan anak-anak; ibu yang sedang mengandung / menyusui; penyandang cacat (disabilitas); dan orang lanjut usia, maupun dalam managemen penanggulangan bencana.
Dalam pekaksanaannya, kegiatan advokasi sosial dilakukan dengan memperhatikan tujuan, cakupan, pihak yang diadvokasi, pihak yang dilibatkan, proses advokasi, penjangkauan, rujukan dan terminasi kegiatan advokasi sosial. Manakala dalam proses pelaksanaan mengalami hambatan dan kendala, selain dicarikan solusi untuk mengatasi hambatan dan kendala tersebut, maka proses advokasi dapat dilakukan kembali untuk kemudian disusun rencana tindak selanjutnya.
Sehubungan dengan hal di atas, kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan advokasi sosial bagi korban bencana alam, diharapkan dapat melaksanakan kegiatan dengan berpedoman pada Pedoman ini. Sehingga kegiatan dapat lebih terarah dan sistematis guna terpenuhinya hak dasar korban becana alam dalam situasi tanggap darurat.
DAFTAR PUSTAKA
Gibson, Ivancevich, dan H. J. Donnelly. 1994. Organisasi dan Managemen. Perilaku,
Struktur dan Proses. Jakarta. Penerbit Erlangga.
Ife, Jim. 1995. Community Development : Creating Community Alternatives, Vision,
Analysis and Practice. Australia : Longman.
Iskandar, Jusman. 1995. Strategi Dasar Membangun Kekuatan Masyarakat. Bandung : Koperasi Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial.
Jones, ST. 1995. The Dynamics Of Discussion : Communication in Small Groups. New York : Harper and Row Publisher.
Johnson, Paul Doyle. 1998. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Diterjemahkan oleh Robert M. Z. Lawang. Jakarta.