• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGUNAAN DIPLOMASI PANDA OLEH TIONGKOK: STUDI KASUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGGUNAAN DIPLOMASI PANDA OLEH TIONGKOK: STUDI KASUS"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

PENGGUNAAN DIPLOMASI PANDA OLEH TIONGKOK: STUDI KASUS HUBUNGAN BILATERAL TIONGKOK PRANCIS (2012-2018)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Program Studi Hubungan Internasional

Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat Guna Memperoleh

Derajat Sarjana S1 Hubungan Internasional

Oleh:

FAHEEM NUZIA YAHYA 14323009

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA

(2)

PENGGUNAAN DIPLOMASI PANDA OLEH TIONGKOK: STUDI KASUS HUBUNGAN BILATERAL TIONGKOK PRANCIS (2012-2018)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Program Studi Hubungan Internasional

Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat Guna Memperoleh

Derajat Sarjana S1 Hubungan Internasional

Oleh:

FAHEEM NUZIA YAHYA 14323009

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ...iii

PERNYATAAN ETIKA AKADEMIK ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN MOTTO ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... xi ABSTRAK ... xiii BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 3 1.3 Tujuan Penelitian ... 4 1.4 Signifikansi ... 4 1.5 Cakupan Penelitian ... 5 1.6 Kajian Pustaka ... 6 1.7 Landasan Teori ... 14 Soft Power ... 14 Diplomasi Panda ... 16 1.8 Metode Penelitian ... 17 1.8.1 Jenis Penelitian ... 17 1.8.2 Subjek Penelitian ... 17

1.8.3 Alat Pengumpul Data ... 17

1.8.4 Proses Penelitian ... 18

BAB II PERKEMBANGAN DIPLOMASI PANDA TIONGKOK... 19

2.1 Strategi Diplomasi Panda Tiongkok ... 19

a. Sejarah Diplomasi Panda Tiongkok ... 19

b. Pelaksanaan Teknis Diplomasi Panda ... 21

2.2 Implementasi Diplomasi Panda Tiongkok Terhadap Prancis ... 23

2.3 Kepentingan Nasional Tiongkok Terhadap Prancis ... 26

BAB III ANALISIS SOFT POWER TERHADAP DIPLOMASI PANDA TIONGKOK KE PRANCIS ... 33

3.1 Budaya (Cultures) Panda Sebagai Budaya Tiongkok... 33

3.2 Nilai dan Kebijakan Domestik Tiongkok (Domestic Values and Policies) ... 37

(6)

3.2.2 Kebijakan Domestik Tiongkok Terkait Panda ... 40

3. 3 Kebijakan Luar Negeri (Foreign Policies) ... 43

3.3.1 Upaya Tiongkok Dalam Internasionalisasi Panda ... 44

3.3.2 Analisis penerimaan Diplomasi Panda oleh Prancis ... 47

BAB IV PENUTUP ... 50

4.1 Kesimpulan ... 50

4.2 Saran dan Rekomendasi ... 53

(7)

ABSTRAK

Diplomasi Panda yang dilakukan oleh Tiongkok terhadap Prancis pada periode tahun 2012 hingga 2018 menghasilkan poin krusial, diantaranya kesepakatan penyewaan Panda oleh Prancis selama 10 tahun dengan pembayaran setiap tahun. Disamping itu juga terjadi barter dengan enriched-uranium yang dimiliki oleh Prancis kepada Tiongkok. Sehingga kepentingan Tiongkok dibalik diplomasi Panda adalah untuk mendapatkan enriched-uranium yang dimiliki oleh Prancis. Kepentingan nasional Tiongkok tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan Tiongkok saat itu yang membutuhkan energi untuk memasok Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sipil. Hal ini penting karena Tiongkok sedang melakukan pembangunan masif baik dalam negeri maupun luar negeri seperti proyek One Belt One Road (OBOR). Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan soft-power yang dicetuskan oleh Joseph Nye Jr. dalam menjelaskan implementasi soft-power Tiongkok dengan alat diplomasi Panda terhadap Prancis. Terdapat tiga indikator yang digunakan yaitu; cultures, domestic values and policies dan foreign policies. Penelitian ini menemukan bahwa Prancis terdampak soft-power Tiongkok dalam diplomasi Panda karena memiliki shared-ideas yaitu penyelamatan dan pelestarian lingkungan.

Kata Kunci:Diplomasi Panda, Soft Power, Enriched-Uranium, lingkungan

ABSTRACT

Panda diplomacy carried out by China against France in the period 2012 to 2018 produced crucial points, including an agreement to lease Panda by France for 10 years with annual payments. Besides that, there was also a barter with enriched-uranium which was owned by France to China. So the Chinese interest behind Panda's diplomacy is to get enriched-uranium which is owned by France. China's national interests are influenced by China's current needs that require energy to supply civilian Nuclear Power Plants (PLTN). This is important because China is carrying out massive development both domestically and abroad such as the One Belt One Road (OBOR) project. In this study the authors used the soft-power approach that was coined by Joseph Nye Jr. in explaining the implementation of Chinese soft-power with Panda's diplomacy against France. There are three indicators used namely; cultures, domestic values and policies and foreign policies. This study found that France was affected by Chinese soft-power in Panda diplomacy because it had shared ideas, namely saving and preserving the environment.

(8)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Tiongkok merupakan salah satu negara terbesar Asia dan salah satu negara Asia yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat. Tiongkok selalu memperkuat dirinya dengan berbagai macam strategi untuk bersaing dengan negara negara di dunia seiring berkembangnya zaman. Beberapa tahun terakhir, Tiongkok mencoba meningkatkan hubungan antar negara yang menjalin kerjasama, baik itu kerjasama bilateral maupun multilateral. Beberapa upaya soft power berupa diplomasi publik yang dilakukan oleh Tiongkok kepada negara-negara sahabat. Diantara beberapa diplomasi yang digunakan oleh Tiongkok adalah Dollar Diplomacy, Diplomasi Ping-Pong (Ping-Pong Diplomacy) dan Diplomasi Panda (Panda Diplomacy) (Newyork times, 2008).

Diantara beberapa diplomasi tersebut digunakan oleh Tiongkok untuk mencapai kepentingannya, terdapat satu diplomasi yang hanya dimiliki oleh Tiongkok. Diplomasi tersebut adalah diplomasi Panda. Seperti yang diketahui Panda merupakan hewan endemik yang hanya dapat ditemukan di wilayah Republik Rakyat Tiongkok. Sehingga penggunaan Panda sebagai alat diplomasi hanya ekslusif dimiliki oleh Tiongkok. Meskipun dijadikan sebagai alat diplomasi, namun penggunaan diplomasi Panda tidak dilakukan secara mudah dan cuma-cuma. Tiongkok menerapkan sistem sewa Panda ke beberapa negara yang mampu untuk membayar biaya sewa Panda. Dengan demikian maka tidak ada

(9)

negara lain yang mampu memiliki Panda selain Tiongkok. Adapun kepemilikan oleh beberapa negara hanya bersifat persewaan (The Economist, 2019).

Diantara negara yang menyewa Panda ialah Prancis. Pada tahun 1958 hingga 1982, Tiongkok mengirimkan 23 Panda ke enam negara. Saat ini diplomasi Panda Tiongkok dilakukan dengan 27 negara di seluruh dunia. terdapat 57 Panda yang disewakan di seluruh dunia. Sementara itu biaya sewa adalah USD1 juta per tahun. Biaya ini belum termasuk dengan biaya lainnya seperti biaya pembayaran atas kelahiran bayi Panda di negara penerima. Dengan demikian diketahui bahwa diplomasi Panda merupakan diplomasi unik yang hanya dilakukan oleh Tiongkok dan bersifat cukup kuat (Magnier, 2006).

Disamping mendapatkan Panda dengan cara penyewaan, Tiongkok juga melakukan barter Panda dengan komoditas lain. Diantara barter yang cukup krusial yang dilakukan oleh Tiongkok melalui diplomasi Panda adalah barter dengan Prancis. Di mana dalam melakukan diplomasi panda ini, Tiongkok mengharuskan adanya timbal balik dari dikirimkannya panda ke Prancis dengan mengirimkan kembali uranium beserta teknologinya untuk mencapai tujuan utama yaitu mengembangkan tenaga nuklir terbesar. Permintaan barter uranium oleh Tiongkok ke Prancis didasari pada alasan bahwa Prancis merupakan salah satu negara dengan teknologi maju seperti pengolahaan uranium dan industri berat. Disamping itu, keduanya sudah membangun hubungan semenjak perang dunia terjadi berdasarkan adanya kesamaan pemikiran dan tujuan pada saat itu, yaitu apabila dunia memiliki dua kekuatan yang besar merupakan hal yang berbahaya,

(10)

baik bagi negara yang mengikuti salah satu blok ataupun tidak sama sekali (Wellons, 1994, hal. 341)

Pengiriman uranium yang ditukar dengan Panda tentu berbanding lurus dengan perkembangan ekonomi di Tiongkok yang juga membutuhkan energi yang cukup besar pula untuk mendukung hal tersebut (Yaan, 2013). Dengan adanya hal tersebut maka ditandai dengan pengiriman Yen Yen dan Li Li, keduanya merupakan panda yang dikirimkan oleh Tiongkok ke Prancis pada tahun 1973 sebagai salah satu bentuk upaya diplomasi. Dari kedua panda tersebut, Yen Yen lah yang dapat bertahan hidup hingga 20 Januari tahun 2000 (Jacobs, 2012). Diplomasi Panda ke Prancis dengan dikirimnya lagi sepasang panda Huan Huan dan Yuan Zi pada tahun 2012 setelah dilakukannya perundingan yang cukup panjang antara kedua negara (The Telegraph, 2012). Diplomasi Panda tentu hal ini merupakan topik yang menarik untuk dibahas mengingat betapa kuatnya diplomasi tersebut sehingga dapat mendapatkan uranium sebagai barter. Oleh karena itu dalam penelitian ini, penulis akan membahas diplomasi yang dilakukan Tiongkok terhadap Prancis.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana implementasi soft power Tiongkok dalam upaya diplomasi panda terhadap Prancis ?

(11)

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah

1. Untuk mengetahui implementasi strategi diplomasi panda Tiongkok pada Prancis.

2. Untuk mengetahui kepentingan Tiongkok di dalam menjalankan diplomasi panda kepada Prancis.

1.4 Signifikansi

Pentingnya penelitian ini adalah untuk mengetahui makna di balik Diplomasi Panda yang dilakukan Tiongkok kepada negara Prancis, mengingat bahwa Prancis memiliki hubungan yang lumayan dekat dengan Tiongkok tanpa perlu dilakukannya upaya Diplomasi Panda. Penelitian ini juga akan menemukan makna dari digunakannya Diplomasi Panda sebagai sebuah alat komunikasi hubungan bilateral Tiongkok dengan Prancis. Penelitian ini juga untuk memastikan kebenaran bahwa Diplomasi Panda berpengaruh dalam kepentingan Tiongkok dikarenakan salah satu alasan Tiongkok melakukan Diplomasi Panda untuk meningkatkan nilai jumlah ekspor-impor dan terjalinnya penanaman modal dalam negeri di Tiongkok. Penelitian ini dimaksudkan juga untuk memastikan apakah Diplomasi Panda Tiongkok kepada Prancis berhasil sesuai harapan Tiongkok yakni menimbulkan kerja sama baik dan citra baik Tiongkok dengan negara-negara lain.

(12)

1.5 Cakupan Penelitian

Diplomasi Panda Tiongkok terhadap Prancis telah dilakukan sejak 1973 namun dalam penelitian ini penulis akan membahas Diplomasi Panda yang dilakukan Tiongkok terhadap Prancis. Tiongkok pernah mengirimkan pandanya ke beberapa negara Asia Pasifik seperti Jepang dan Australia pada sekitar tahun 2009-2011, di mana negara tersebut juga memberikan adanya timbal balik dari dipinjamkannya panda untuk upaya konservasi seperti pengiriman uranium dari Australia, namun jika dibandingkan dengan beberapa negara di kawasan Asia Pasifik, diplomasi panda Tiongkok terhadap Prancis sudah dimulai pada awal perang dingin terjadi. Diplomasi Panda yang dilakukan dengan pemberian panda sebagai objek diplomasi merupakan sebuah simbol persahabatan antar Tiongkok dengan negara sekutu. Negara sekutu dan negara-negara lainnya pada fase ketiga Diplomasi Panda tetap menerima dengan baik upaya Diplomasi Tiongkok tersebut dikarenakan fungsi dari panda sebagai objek diplomasi berubah tidak lagi ‘diberikan’ melainkan ‘dipinjamkan’ sebagai objek penelitian. Fakta langkanya panda yang menjadi awal mula perkembangan fungsi objek diplomasi panda. Panda yang merupakan hewan langka menarik ego kepentingan negara-negara untuk diteliti. Hal tersebut kemudian dimanfaatkan Tiongkok dengan tetap melanjutkan upaya Diplomasi Panda dengan objek panda yang dipinjamkan kepada negara-negara sebagai objek penelitian disertai imbalan.

Dengan demikian penelitian ini akan membahas dan menganalisis implementasi dari Diplomasi Panda yang dilakukan Tiongkok terhadap Prancis yang dimulai tahun 2012 serta membahas kepentingan-kepentingan politik yang

(13)

dimiliki Tiongkok dari dilakukannya Diplomasi Panda terhadap Prancis dan dampak Diplomasi Panda terhadap hubungan bilateral Tiongkok dengan Prancis. Dengan demikian sudut pandang yang diambil dalam penelitian ini merupakan perspektif dari Tiongkok, sementara itu tahun dibatasi pada tahun 2012 hingga 2018.

1.6 Kajian Pustaka

Beberapa penelitian menemukan bahwa diberlakukannya Diplomasi Panda oleh Tiongkok adalah ditujukan untuk meningkatkan opini positif masyarakat internasional atas Tiongkok. Tiongkok meminjamkan panda miliknya kepada negara-negara untuk dilakukan observasi dan pengembangan terhadap spesies panda dikarenakan kelangkaan spesies tersebut. Tiongkok memanfaatkan kelangkaan panda hingga menjadikan panda sebagai objek diplomasi sebagai upaya meningkatkan hubungan dalam politik internasional Tiongkok.

Tulisan milik Yiwei Wang yang berjudul Public Diplomacy and the Rise of Chinese Soft Power berisi catatan sejarah yang cukup panjang terkait upaya penyebaran soft power Tiongkok dengan menggunakan diplomasi publik. Tulisan tersebut menjelaskan proses awal diplomasi publik yang terjadi di Tiongkok dan kebangkitan penggunaan soft power itu sendiri. Perkembangan diplomasi publik Tiongkok sendiri masih bersifat multi tafsir. Istilah diplomasi publik merupakan hal yang baru di Tiongkok, pasalnya masyarakat Tiongkok lebih sering menggunakan istilah dui wai xuan chuan atau wai xuan yang berarti propaganda eksternal di mana hal ini merupakan upaya pencapaian dalam meningkatkan gambaran yang baik di mata masyarakat internasional. Dui wai xuan chuan atau

(14)

wai xuan pada hakikatnya sama dengan diplomasi publik. Istilah propaganda terdengar negatif bagi masyarakat internasional namun tidak untuk masyarakat Tiongkok. Perkembangan diplomasi publik di Tiongkok pada awalnya cukup sulit dipahami Masyarakat Tiongkok hingga kini mereka mulai menyadari pentingnya peran diplomasi publik dengan istilah diplomasi publik. Diplomasi publik di Tiongkok menggunakan konsep awal minjian waijo (people-to-people Diplomacy).

Pemerintah Tiongkok di tahun 2004 meresmikan Divisi Diplomasi Publik di bawah Kementerian Luar Negeri Tiongkok. Menurut Asisten Menteri Luar Negeri, Shen Guofang, diplomasi publik didefinisikan sebagai hal yang paling penting dalam pelaksanaan diplomasi. Inti dari diplomasi publik itu sendiri adalah peningkatan pertukaran dan interaksi dengan antara negara dengan publik untuk memenangkan serta memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang kebijakan luar negeri.

Tiongkok di era digital seperti sekarang menggunakan media publik sebagai salah satu upaya untuk melakukan diplomasi publik kepada masyarakat internasional, salah satunya dengan menggunakan beberapa media seperti China Radio International, Chinese Central TV English Channel dan lainnya. Media di Tiongkok yang bersifat ke dalam yakni ke Masyarakat Tiongkok juga dimanfaatkan untuk diplomasi publik dengan pengawasan ketat oleh pemerintah. (Wang, 2008, hal. 257-273). Perkembangan diplomasi publik Tiongkok dengan memanfaatkan media publik dapat dikatakan berhasil dan cukup efektif dampaknya untuk masyarakat internasional. Tiongkok dalam diplomasi dengan

(15)

implementasi upaya-upaya soft power-nya mulai mengubah strategi diplomasi dari yang awalnya menggunakan hard power menjadi melakukan soft power salah satunya dengan Diplomasi Panda.

Sebuah tulisan ilmiah mengenai diplomasi publik yang ditulis oleh Patricia Wellons dengan judul Sino-French Relations: Historical Alliance vs Economic Reality di dalamnya dijelaskan awal mula dimulainya hubungan kedua negara yang dipimpin oleh Mao Zedong dan Charles de Gaulle di tahun 1960, kedua pemimpin negara ini ingin membangun negara menjadi negara yang memiliki kekuatan yang kuat dan independen serta memiliki peran penting di dunia internasional terlepas dari adanya tekanan eksternal yaitu mengimbangi kekuatan Uni Soviet dan Amerika Serikat pada saat itu. Tahun 1964 pemimpin Prancis Charles de Gaulle menyatakan bahwa Republik Rakyat Tiongkok merupakan satu-satunya pemerintahan Tiongkok yang sah pada saat itu sehingga terciptanya hubungan Tiongkok-Prancis. Akan tetapi Tahun 1989 terjadi peristiwa pembantaian di Tiananmen di mana pemerintahan Tiongkok menahan gerakan untuk menjadi demokrasi dengan menahan beberapa demonstran. Hal ini memaksa Prancis untuk mengevaluasi kembali prioritasnya, dalam hal ini kedua negara harus membangun hubungan berdasarkan prinsip hukum internasional untuk perdamaian. Selepas perang dunia ke dua mereda Prancis semakin gencar melakukan hubungan dengan Tiongkok lebih ke arah ekonomi dan bukan lagi karena hubungan sejarah ataupun berdasarkan ideologi (Wellons, 1994, hal. 341-348). Jurnal ini membantu penulis dalam menerangkan awal mula dimulainya hubungan kedua negara, di mana pada awalnya kedua negara memiliki

(16)

kepentingan yang sama akan tetapi hubungan kedua negara sempat terhalang dengan adanya pelanggaran kasus hak asasi manusia di Tiongkok sendiri.

Kajian terkait tiga fase Diplomasi Panda Tiongkok salah satunya bersumber dalam tulisan Wen-cheng Lin yang berjudul China’s Panda Diplomacy . Fase pertama pada tahun 1957-1982 yakni Diplomasi Panda dilakukan dengan pemerintah Beijing ‘memberikan’ panda ke beberapa negara sebagai sebuah hadiah persahabatan. Negara yang mendapatkan ‘Panda Persahabatan’ pertama kali pada fase Diplomasi Panda adalah Uni Soviet. Pemberian panda tersebut terjadi setelah kedua negara menandatangani perjanjian Sino-Soviet yang berisi tentang persahabatan, aliansi dan bantuan. Prestasi Uni Soviet dalam perjanjian tersebut adalah Uni Soviet menjadi negara yang melindungi Tiongkok dan memberikan bantuan penyediaan teknologi dari Moscow. Prestasi Tiongkok atas perjanjian tersebut adalah dengan mengirimkan dua ekor panda pada tahun 1957 kemudian di tahun 1959.

Hubungan Tiongkok dengan Amerika Serikat di pada tahun 1972 yang awalnya melawan imperialis Amerika berubah menjadi memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat. Hal tersebut dianalisis terjadi karena dikirimkannya panda sebagai alat diplomasi pada tahun 1972 dari Tiongkok untuk Amerika Serikat. Beberapa negara di samping Amerika Serikat di tahun yang sama juga mendapatkan panda sebagai objek diplomasi Tiongkok. Negara-negara tersebut adalah Jepang, Prancis, Inggris, Jerman Barat, Meksiko dan Spanyol. Fase kedua Diplomasi Panda oleh Tiongkok dimulai pada tahun 1982-1994. Kebijakan Diplomasi Pada Tiongkok berubah dari awalnya panda digunakan sebagai

(17)

‘pemberian’ diubah menjadi bersifat ‘pinjaman’. Panda yang ‘diberikan’ sebagai objek diplomasi suatu negara artinya sama dengan menyalahi Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar Yang Terancam Punah tahun 1975 (Convention of International Trade of Endangered Species (CITES)).

Pemerintah Tiongkok membatasi peminjaman Panda hanya digunakan untuk tujuan komersial saja demi kesehatan dan kelestarian panda itu sendiri karena Tiongkok terikat dengan beberapa Hukum Internasional yakni CITES 1975 dan Konvensi Keanekaragaman Hayati 1992 (Convention on Biological Diversity (CBD)) 1992. yang mewajibkan Tiongkok menjaga kelestarian hewan langka di negaranya. Fase ketiga dalam Diplomasi Panda Tiongkok adalah di akhir tahun 1994. Tiongkok memberikan pinjaman panda sebagai objek Diplomasi Panda hanya apabila ditujukan untuk penelitian terhadap keberlanjutan spesies panda. Kontrak peminjaman panda sebagai objek Diplomasi Panda Tiongkok dengan negara-negara dicantumkan bahwa, setiap negara yang diberi pinjaman panda untuk riset dikenakan biaya sebesar US$ 1.000.000 (satu juta dolar Amerika Serikat) per-sepuluh tahun. Dicantumkan juga dalam kontrak tersebut apabila dalam pengembangannya panda memiliki anak maka, bayi panda tersebut merupakan aset atau milik Tiongkok dan negara yang dipinjamkan dikenakan biaya lebih yakni sebesar US$ 500.000 (lima ratus ribu dolar Amerika Serikat) per bayi panda. (Lin, 2009, hal. 1-3).

Penelitian yang berjudul Diplomats and Refugees: Panda Diplomacy, Soft

“Cuddly” power and the New Trajectory in Panda Conservation karya Kathleen

(18)

tentang sejarah dari Diplomasi Panda di Tiongkok. Panda merupakan salah satu simbol negara Tiongkok dan menjadi objek upaya Diplomasi Panda pada masa perang dingin yang terjadi di tahun 1946-1991. Diplomasi Panda dilakukan sebagai strategi persahabatan Tiongkok dengan negara-negara. Praktik Diplomasi Panda kemudian berkembang dikarenakan dampak gempa bumi Sichuan di tahun 2008 mengakibatkan banyak penangkaran panda yang rusak. Dampak bencana tersebut justru menjadi hal yang mengembangkan Diplomasi Panda Tiongkok dan menjadikan bangkitnya Tiongkok sebagai penguasa ekonomi dunia dengan model kapitalisme yang dikendalikan oleh negara.

Jurnal ini juga menjelaskan adanya tiga fase dalam Diplomasi Panda Tiongkok. Adanya perbedaan penjelasan dalam jurnal ini yakni, pada fase kedua Diplomasi Panda Tiongkok dijelaskan peminjaman panda yang terjadi tidak terlepas dari pengaruh program reformasi ekonomi Tiongkok pada era Deng Xiaoping tahun 1978. Pengaruh program reformasi ekonomi tersebut adalah pengaruh kapitalis dengan upaya “open-door Policy” yang digunakan untuk menarik investasi dari negara barat. Jurnal ini juga memberikan perbedaan penjelasan mengenai fase ketiga Diplomasi Panda Tiongkok yakni dijelaskan bahwa, Diplomasi Panda yang dijalankan memiliki dua pola utama. Pola pertama adalah, Tiongkok menargetkan negara-negara tetangga di Kawasan Asia yang mana negara-negara tujuan tersebut sudah melakukan perjanjian perdagangan dengan Tiongkok sejak tahun 2009. Pola kedua adalah, Tiongkok melakukan Diplomasi Panda dengan mendekat kepada negara yang memiliki sumber daya teknologi yang cukup maju untuk dilakukannya pertukaran informasi dengan menjadikan panda sebagai salah satu objek tukar. (Buckingham, David, & Jepson,

(19)

2013, hal. 262-270). Jurnal ini membantu menjelaskan tentang peranan penting dari Diplomasi Panda yang sudah dijalankan dalam 3 fase seperti jurnal sebelumnya, akan tetapi jurnal ini membantu melengkapi jurnal sebelumnya dalam hal beberapa hal seperti kapitalisme yang dilakukan Tiongkok.

Dalam jurnal yang berjudul Relation between France and China : Towards a Paris-Beijing Axis? Kerya Jean-Pierre Cabestan menceritakan awal mula terjadinya kerjasama anatara Tiongkok dengan Prancis. Hal ini dilatar belakangi adanya kesamaan untuk bebas dari konsep bipolar di mana pada saat itu masih terjadi perang dingin. Pemimpin Tiongkok pada saat itu Mao Zedong menciptakan konsep Intermediary Zones yang merupakan negara dunia ke tiga yang dapat menengahi kekuatan kedua negara besar yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Di tahun 1970-1980an hubungan kedua negara ini semakin erat setelah pada masa pemerintahan Deng Xiaoping meluncurkan reformasi ekonomi dengan menunjukkan peningkatan ekonomi yang cukup besar untuk menyamakan kedudukan dengan Uni Soviet pada saat itu. Hubungan antara Tiongkok dengan Prancis sempat merenggang, pasalnya di Tiongkok sempat terjadi kerusuhan di Tiananmen Square pada tahun 1989 yang mengakibatkan banyaknya nyawa yang hilang. Kejadian ini merupakan salah satu kasus pelanggaran Hak asasi manusia yang terjadi di Tiongkok. Akan tetapi hubungan kedua negara ini membaik pada tahun 1995 pada masa pemilihan presiden Jacques Chirac. Hubungan kedua negara semakin erat pasalnya ada beberapa isu yang sama antar kedua negara ini yang menjadi tujuan utama untuk diselesaikan, seperti Non-proliferation, Korea Utara, promosi dari multilateralisme hingga hal sensitif seperti isu Taiwan. Selain itu dengan dilakukannya kerjasama kedua negara ini pasca perang dingin dapat

(20)

membiaskan unipolar Amerika Serikat dan mengubah menjadi multipolar, akan tetapi tidak pula mengurangi power Amerika Serikat dan kedua negara masih melakukan kerjasama dengan Amerika Serikat.

Hubungan kedua negara ini sebenarnya memiliki beberapa penghalang seperti adanya kedudukan yang sama dalam UNSC di mana keduanya merupakan anggota tetap, ke depannya pasti akan ada isu yang tidak bisa mereka selesaikan dalam forum tersebut seperti kasus hak asasi manusia Tiananmen Square, embargo senjata Uni Eropa dan Amerika, (Cabestan, 2006, hal. 327-340). Walaupun memang adanya pembatas kedua negara dalam melakukan kerjasama dan kurang berhasilnya pengaruh Prancis dalam setiap pengambilan keputusan Tiongkok, Pemerintah Prancis memiliki kepercayaan untuk membiaskan kekuatan Unipolar Amerika Serikat dengan salah satunya melakukan kerjasama dengan Tiongkok dalam berbagai hal. Jurnal ini akan membantu penulis dalam mendapatkan data tentang bagaimana sejarah hubungan bilateral kedua negara.

Penelitian di atas menjelaskan hubungan Prancis dan Tiongkok yang sudah dimulai dari sebelum terjadinya perang dingin dan sudah dimulai adanya praktik diplomasi panda, akan tetapi masih ada kekosongan belum ada spesifik tentang diplomasi panda yang baru terjadi beberapa taun terakhir. Penelitian yang sudah penulis dapat akan digunakaan untuk melengkapi dan membantu menjawab dari rumusan masalah, karena belum ada yang secara spesifik menjelaskan tentang bagaimana implementasi dari soft power Tiongkok terhadap Prancis dengan mengandalkan diplomasi panda.

(21)

1.7 Landasan Teori Soft Power

Banyak penelitian dari buku maupun jurnal yang menjelaskan beberapa pengertian tentang Teori Soft Power dan penelitian lainnya yang berkaitan dengan karya penulis ini. Penulis dalam tulisan ini menggunakan landasan teori Soft Power sebagai teori utama. Teori ini ini tidak lepas dari pendapat Joseph Nye tentang definisi Power dan Soft Power itu sendiri, di mana ia berpendapat kekuatan atau power merupakan kemapuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Namun, Power biasanya dapat dirasakan ketika kita dapat membuat pihak lain melakukan hal yang sebenarnya tidak diinginkan namun dengan adanya tekanan dan pengaruh dari kita pihak tersebut melakukan apa yang kita inginkan (Joseph S. Nye, 2004). Ada tiga cara agar seseorang dapat berperilaku sesuai dengan hal yang diinginkan yaitu : (1) Memaksa dengan ancaman (2) Menginduksi perubahan perilaku atau (3) menarik secara paksa (Snow, 2009)

Menurut Nye definisi soft power itu sendiri merupakan sebuah upaya untuk mendapatkan apa yang kita mau dengan atraksi daripada melakukan paksaan dan pembayaran (Joseph S. Nye, 2004) dengan kata lain kita harus membentuk preferensi pihak lain dengan aset yang kita miliki. Dalam membentuk preferensi orang lain ini dikaitkan dengan nilai nilai yang tidak begitu terlihat seperti: nilai budaya, politik, institusi dan kebijakan luar negeri. Kemampuan soft power negara tidak hanya dengan melakukan argumentasi bahwa pihak lain akan setuju dengan kita akan tetapi harus dapat memiliki kemampuan untuk menarik. Soft power bekerja dengan menghasilkan kerjasama dan daya tarik dalam nilai

(22)

yang nantinya akan dianut bersama dan keadilan serta adanya timbal balik diantar pihak yang terlibat dalam perjanjian tersebut (Joseph S. Nye, Public Diplomacy and Soft Power, 2008)..

Dalam mempengaruhi lawan politiknya, menurut Joseph Nye pengaruh soft power bersumber kepada budaya, nilai nilai politik dan kebijakan luar negerinya. Budaya dalam hal ini tidak hanya budaya yang kaku dan hanya diminati oleh beberapa kalangan saja, melainkan juga budaya populer yang lebih berupa hiburan yang mudah untuk diterima oleh banyak kalangan serta kelas sosial. Dari budaya tersebut biasanya terkandung nilai nilai dan kepentingan yang juga digunakan untuk mendapatkan hubungan serta daya tarik terhadap negara tersebut (Joseph S. Nye, 2004)..

Sumber kedua yang mempengaruhi Soft Power ialah nilai nilai politik yang dianut oleh pemerintahan tersebut dalam pengambilan kebijakannya baik itu secara domestik maupun internasional, nantinya nilai nilai yang dianut tersebut akan mempengaruhi preferensi pihak lain. Nilai tersebut yang nantinya akan diikuti merupakan salah satu sumber dari kekuatan soft power itu sendiri. Akan tetapi nilai yang dianut harus menarik dan tidak bersifat memaksa akan tetapi masih bisa mendominasi aturan internasional.

Sumber ketiga ialah kebijakan luar negeri, dalam hal ini kebijakan pemerintah dalam pengambilan keputusan baik itu kebijakan luar negeri maupun dalam negeri harus dapat memperlihatkan nilai yang baik di mata dunia Internasional. Apabila suatu negara ingin memainkan peran dalam agenda politik dunia perlu strategi untuk mempengaruhi pemahaman dan preferensi orang lain

(23)

pada kepentingan sendiri sehingga mereka akan melakukan apa yang kita mau dengan menggunakan nilai nilai politik tersebut (Joseph S. Nye, 2004).

Dengan demikian, penulis akan menggunakan konsep Soft Power di mana penulis akan menganalisis dilakukannya diplomasi panda Tiongkok terhadap Prancis berdasarkan konsep soft power ini yaitu berupa nilai nilai politik dan kebijakan luar negeri milik tiongkok dalam adanya upaya diplomasi tanpa adanya penggunaan kekerasan dan kekuatan yang berlebih dengan ditandainya beberapa kerjasama serta adanya timbal balik diantara kedua negara tersebut.

Diplomasi Panda

Konsep lain yang menjadi titik krusial dalam penelitian ini adalah Diplomasi Panda. Dalam teori diplomasi, diplomasi Panda merupakan sebuah kegiatan yang memindahkan beruang Panda dari Tiongkok ke negara lain. Hal ini dilakukan sebagai simbolisasi perluasan kekuasaan “soft-power” Tiongkok di belahan bumi lain. Dengan demikian Panda digunakan sebagai alat politik Republik Rakyat Tiongkok (PRT) untuk memperluas pengaruhnya di berbagai kawasan di dunia (Pacher, 2017).

Tinjauan historis menunjukan bahwa diplomasi Panda telah dilakukan sejak masa pra-modern Tiongkok. Meskipun demikian citra Panda sebagai hewan yang menjadi simbol nasional dan memiliki arti positif baru dimulai sejak pemerintahan Partai Komunis di Tiongkok. Dari sejarah hingga kini juga memperlihatkan bahwa terdapat dua jenis mekanisme diplomasi Panda yang digunakan di era Republik Rakyat Tiongkok, yaitu mekanisme hadiah (gift) yaitu ketika Tiongkok memberikan Panda sebagai hadiah cuma-cuma kepada

(24)

negara-negara yang dianggap penting dan sahabat. Sementara itu mekanisme lain adalah mekanisme sewa, yang mana Tiongkok meminjamkan Panda kepada negara-negara yang dianggap memiliki hubungan dekat. Adapun perjanjian sewa dilakukan dengan adanya perjanjian bilateral oleh Tiongkok dan negara mitra. Program ini digagas oleh Republik Rakyat Tiongkok sebagai hasil pertimbangan diplomatis dan politis (Lin W.-c. , 2009, p. 03).

1.8 Metode Penelitian 1.8.1 Jenis Penelitian

Pada penelitian ini akan digunakan metode penelitian kualitatif. Penulis akan menggunakan teknik pengumpulan data melalui sebuah studi literatur terkait dampak dari dilakukannya soft power berupa Diplomasi Panda. Penelitian ini fokus pada implementasi dari Diplomasi Panda oleh Tiongkok terhadap Prancis dan kepentingan apa saja yang dimiliki Tiongkok dengan dilakukannya Diplomasi Panda terhadap Prancis dan dampak Diplomasi Panda pada hubungan bilateral antara Tiongkok dengan Prancis.

1.8.2 Subjek Penelitian

Subjek dari penelitian ini ialah aktor yang melakukan usaha soft power dengan melakukan upaya Diplomasi Panda yakni Pemerintah Tiongkok terhadap Pemerintah Prancis.

1.8.3 Alat Pengumpul Data

Dalam melakukan pengumpulan data terkait usaha pemerintah, teknik yang digunakan adalah dengan melakukan studi literatur, baik jurnal, laporan

(25)

akademik dan buku-buku yang terkait dengan penelitian ini. Penelitian ini sendiri akan mengambil dari beberapa sumber literatur seperti buku, jurnal-jurnal baik cetak maupun online, dan juga dari berbagai media massa baik cetak maupun online, nasional maupun internasional.

1.8.4 Proses Penelitian

Tahap ini merupakan analisis data dari data yang sudah di dapat. Teknik dalam mengelola data yang didapatkan akan dianalisis dengan berbagai tahap yakni melakukan kajian atau studi terkait data yang sudah ditemukan, yang di mana digunakan untuk melakukan pendalaman materi yang dilakukan dengan membaca masing-masing sumber agar ditemukan gagasan. Setelah itu tahapan selanjutnya ialah mencatat hasil kajian dan bacaan yang sudah dipilih.

(26)

BAB II

PERKEMBANGAN DIPLOMASI PANDA TIONGKOK

Pembahasan pada bab ini akan menjelaskan mengenai perkembangan diplomasi Panda Tiongkok. Yang mana diplomasi Panda tersebut digunakan oleh Republik Rakyat Tiongkok, hingga pada akhirnya digunakan oleh Tiongkok sebagai sarana diplomasi kepada Prancis. Dengan demikian maka pembahasan akan dibagi menjadi tiga hal, pertama menjelaskan strategi diplomasi Panda Tiongkok, termasuk di dalamnya menjelaskan sejarah diplomasi Panda Tiongkok. kedua menjabarkan mengenai implementasi diplomasi Panda yang digunakann oleh Tiongkok terhadap Prancis. ketiga menjabarkan mengenai kepentingan Tiongkok dibalik pengunaan diplomasi Panda terhadap Prancis.

2.1 Strategi Diplomasi Panda Tiongkok a. Sejarah Diplomasi Panda Tiongkok

Panda merupakan mamalia endemik Tiongkok, yang mendiami negara Republik Rakyat Tiongkok. Hewan ini hanya dapat ditemukan di wilayah RRT. Keunikan Panda membuat hewan ini dijadikan respresentasi Tiongkok dalam bidang diplomasi. Secara historis, diplomasi Panda Tiongkok berawal sejak era pra-modern, di mana sudah lazim digunakan oleh penguasa Tiongkok, dimulai pada abad 7 pada era dinasti Tang, ketika Permaisuri Wu Zetian mengirimkan sepasang Panda kepada Kaisar Jepang (Alleyne, 2011).

Penggunaan Panda sebagai alat diplomasi berlanjut pada era modern, diplomasi Panda oleh Tiongkok pertama kali dilakukan pada tahun 1957 dan masih dilakukan oleh Tiongkok hingga sekarang. Panda sebagai objek diplomasi

(27)

Tiongkok berstatus sebagai pinjaman untuk penelitian spesies panda oleh negara-negara di mana harga setiap peminjaman satu ekor panda sebesar satu juta USD (dolar Amerika Serikat). Panda yang menjadi objek Diplomasi Panda Tiongkok adalah bagian dari negara Tiongkok dan apabila ke depannya panda memiliki anak, bayi panda tersebut juga merupakan inventaris atau milik negara Tiongkok disertai dengan adanya nilai tambah dalam pinjaman tersebut (Bihani, 2017).

Pada era modern Tiongkok, terdapat tiga fase perkembangan diplomasi Panda oleh Tiongkok terbagi menjadi tiga bagian era/fase. Bagian pertama adalah pada era pemerintahan Mao Zedong sekitar tahun 1960. Panda ‘diberikan’ oleh Tiongkok ke beberapa negara dalam rangka meningkatkan hubungan persahabatan. Bagian kedua adalah pada masa pemerintahan Deng Xiaoping. Pada masa ini panda tidak lagi ‘diberikan’ melainkan ‘dipinjamkan’ Tiongkok kepada negara-negara. Panda yang dipinjamkan Tiongkok kepada negara-negara tersebut disertai dengan jaminan. Diplomasi Panda pada bagian ketiga berkembang yakni panda yang dipinjamkan Tiongkok kepada negara-negara di samping sebagai objek diplomasi berkembang juga menjadi objek penelitian ilmiah. Panda yang merupakan objek Diplomasi Panda sekaligus sebagai objek penelitian tersebut bertujuan untuk mengembangkan dan penelitian terhadap spesies panda (Buckingham, David, & Jepson, 2013).

Dalam perkembangannya spesies Panda pada fase ketiga Diplomasi Panda mengalami degradasi jumlah menjadikan spesies panda berstatus langka. Salah satu penyebab menurunnya jumlah populasi panda adalah gempa bumi dahsyat yang terjadi di Sichuan, Tiongkok sehingga menyebabkan rusaknya habitat panda

(28)

hampir dua puluh tiga persen (Ecological Society of America, 2009). Akan tetapi pada tahun 2016, pemerintah Tiongkok berhasil menurunkan status panda dari Endangered menjadi Vulnerable dengan memaksimalkan upaya konservasi habitat untuk panda tersebut. Hal ini tentunya dengan adanya campur tangan antara ilmu pengetahuan, kepentingan politik dan adanya keterlibatan masyarakat setempat dapat menyelamatkan habitat dan populasi mahluk hidup di sekitarnya (WWF, 2016).

Kepentingan politik Tiongkok dalam Diplomasi Panda pada fase ketiga tersebut juga mengalami perkembangan. Tiongkok mengharuskan adanya timbal balik dari peminjaman panda yang diberikan ke beberapa negara di dunia. Di benua Eropa sendiri hingga 2013, panda dari Tiongkok sudah di kirimkan ke beberapa negara seperti Inggris, Jerman, Spanyol. Ada pola yang terlihat terhadap peminjaman spesies berharga Tiongkok. Pertama, meminjamkan kepada negara di kawasan asia yang melakukan kerjasama secara langsung dengan Tiongkok. Kedua, negara yang dipinjamkan tersebut merupakan negara yang memasok kebutuhan sumber daya alam dan sumber daya teknologi. Negara di Eropa merupakan negara maju, sehingga Tiongkok memilih beberapa negara untuk dijadikan tujuan dilakukannya diplomasi panda tersebut (Buckingham, David, & Jepson, 2013).

b. Pelaksanaan Teknis Diplomasi Panda

Panda selain sebagai alat diplomasi juga sebagai tanda simbolis bahwa negara penerima pinjaman Panda dari Tiongkok merupakan mitra penting, terutama dalam hal perdagangan. Disamping diplomasi Panda juga dapat dianggap sebagai

(29)

upaya pemerintah Tiongkok untuk membangkitkan “ guanxi ” yaitu menandakan kedekatan hubungan dengan negara lain yang dicirikan dengan kepercayaan, loyalitas, dan hubungan jangka panjang . Dengan posisi yang demikian tidak semua negara dapat meminjam Panda dari Tiongkok. Adapun proses peminjaman Panda secara secara umum terdapat tiga tahapan yang ada dalam diplomasi Panda. Pertama, penawaran atau permintaan, penawaran merupakan sebuah tawaran (offer) yang dilakukan oleh Tiongkok terhadap negara-negara mitra penting yang berminat untuk meminjam Panda. Penawaran ini dilakukan oleh Tiongkok seperti Singapura dan Thailand. Sementara itu, permintaan (request) dilakukan oleh pihak seperti negara sahabat atau kebun binatang negara kepada Tiongkok (Oxford, 2013). Hal ini dilakukan oleh kebun binatang San Diego, Amerika Serikat, di mana kebun binatang tersebut membuat permintaan untuk mendapatkan pinjaman Panda (China.org.cn, 2012).

Kedua, negosiasi, setelah adanya penawaran ataupun permintaan, maka tahap selanjutnya adalah negosiasi kontrak peminjaman Panda. Kontrak tergantung dengan kesepakatan kedua belah pihak yaitu Tiongkok dan negara mitra. Meskipun demikian, rata-rata peminjaman dilakukan minimal 10 tahun. Jangka waktu yang cukup panjang dipilih agar peminjaman Panda tidak semata-mata ditujukan untuk keperluan komersil. Sehingga hal tersebut akan mendukung upaya pelestarian Panda di habitat aslinya. Adapun kontrak dijadikan perjanjian internasional antara Tiongkok dan negara mitra peminjam Panda (Bonner, 2006, p. 222).

Ketiga, pengiriman Panda oleh Tiongkok ke negara mitra. Hal ini merupakan tahap terakhir dari proses peminjaman Panda. Pengiriman dilakukan oleh

(30)

Tiongkok menuju negara yang menjadi mitra peminjam Panda. Disamping melakukan pengiriman, Tiongkok juga berhak melakukan penarikan apabila terjadi konflik diplomatik dengan negara penerima Panda, ataupun mitra melakukan pelanggaran terhadap perjanjian peminjaman Panda. Di dalam diplomasi Panda ini, terlihat bahwa posisi Tiongkok begitu kuat (Monar, 2019).

2.2 Implementasi Diplomasi Panda Tiongkok Terhadap Prancis

Tiongkok memiliki hubungan yang relatif stabil dengan Prancis, bahkan Prancis merupakan negara pertama yang mengakui pemerintahan Komunis Tiongkok. Dengan kedekatan dan posisi yang demikian maka keduanya berusaha untuk memperkuat hubungan bilateral. Salah satu upaya untuk mendekatkan diri adalah dengan menggunakan diplomasi Panda. Penawaran Panda hanya dilakukan kepada negara-negara yang dianggap memiliki hubungan penting dengan Tiongkok. Prancis termasuk salah satu diantara negara yang ditawarkan untuk pinjaman Panda. Dengan demikian Prancis dianggap sebagai salah satu negara sahabat yang penting bagi Tiongkok (Li, 2018).

Pengiriman Panda telah dimulai sejak 1973, di mana pada saat itu Tiongkok memberikan hadiah berupa sepasang Panda kepada presiden Prancis saat itu yaitu George Pompidou. Sejalan dengan berjalannya waktu, Panda pemberian Tiongkok ke Prancis terakhir bernama Yen Yen meninggal pada tahun 2000. Kematian Yen Yen membuat Prancis tidak lagi memiliki Panda. Oleh karena itu, terdapat pembicaraan lanjutan antara dua negara untuk pemberian pinjaman Panda baru dari Prancis untuk Tiongkok (The Telegraph, 2011).

(31)

Pembicaraan negosiasi dilakukan selama 5 tahun, sementara itu pembicaraan final diadakan pada bulan November 2011, dalam kesempatan itu Presiden Republik Rakyat Tiongkok “Hu Jiantao” mengumumkan secara resmi pemberian pinjaman Panda ke Presiden Prancis “Nicolas Sarkozy”. Lima hari setelah pengumuman tersebut, Prancis dan Tiongkok mendandatangani perjanjian kontrak peminjaman Panda. Pada perjanjian kontrak ini, disepakati 10 masa peminjaman Panda. Kemudian dokumen perjanjian internasional tersebut ditandatangani oleh Prancis dan pejabat kebun binatang Tiongkok di kota Beijing (The Telegraph, 2011).

Setelah perjanjian ditandatangani, dimulailah pengiriman Panda dari Tiongkok ke Prancis. Di mana lokasi Panda berasal dari breeding centre (pusat pengembangbiakan) di Barat daya kota Chengdu, Tiongkok menuju kota Paris, Prancis. Maka pada tahun 2012, pengiriman dilakukan oleh Tiongkok menggunakan pesawat udara Boeing 777 “Panda Express”. Huan Huan dan Yuan Zi akan ditempatkan di Kebun binatang Beauval Paris, Prancis. Pada perkembanganya, Prancis perkawinan Huan Huan & Yuan Zi menghasilkan dua bayi Panda kembar. Namun paska kelahiran, hanya satu bayi Panda yang bertahan hidup. Bayi Panda tersebut diberi nama “Yuan Meng” oleh Briggitte Marie Ibu negara (istri presiden Emanual Macron) Prancis. Proses pengumuman nama tersebut diumumkan pada sebuah acara yang dihadiri oleh wakil menteri luar negeri Tiongkok. Tentu hal ini membawa makna bahwa Panda erat kaitanya dengan diplomasi (France24, 2012).

(32)

Pada tabel 2.I dapat dilihat daftar Panda yang pernah dikirimkan oleh Tiongkok beserta dengan anak yang lahir di Prancis. Dari tabel ini juga dapat dicermati bahwa hanya terdapat 2 kali pengiriman serta satu kali kelahiran Panda di Prancis.

Tabel 2.1

Daftar Panda Pinjaman Tiongkok ke Prancis 1973-2018

No. Nama Panda Tahun Pengiriman

1. Yen Yen & Li Li 1973

2. Huan Huan & Yuan Zi 2012

3. Yuan Meng & Kembarannya (meninggal) 2017

Pengiriman Yen Yen & Li Li pada 1973 merupakan hadiah untuk presiden Prancis yang menjabat saat itu yaitu presiden George Pompidou. Saat Panda Yen Yen mati pada tahun 2000, hal itu menandakan berakhirnya keberadaan di Prancis. Oleh karena itu dimulai negosiasi antara Tiongkok dan Prancis selama lima tahun. Dari pembicaraan tersebut akhirnya disepakati bahwa Tiongkok akan menyewakan Panda baru bernama Huan Huan & Yuan Zi selama 10 tahun. Sebagai gantinya Prancis menekan perjanjian yang bernilai jutaan dollar untuk mengekspor uranium ke Tiongkok. Uranium merupakan sumber daya alam yang sangat dibutuhkan oleh Tiongkok sebagai pengembangan energi. Dengan demikian maka jelas betapa pentingnya diplomasi Panda, sehingga dapat ditukar dengan uranium (Song, 2013).

(33)

2.3 Kepentingan Nasional Tiongkok Terhadap Prancis

Diplomasi Panda yang dilakukan oleh Tiongkok terhadap Prancis tentu memiliki kepentingan nasional (national interest) yang ingin dicapai.. Dengan ini maka perlu diketahui terlebih dahulu apakah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu negara tersebut? Pada penelitian ini penggunaan diplomasi Panda oleh Tiongkok terhadap Prancis dengan pengiriman Huan Huan & Yuan Zhi pada 2012 merupakan suatu alat. Di mana alat ini digunakan untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini tujuan utama Tiongkok dalam diplomasi Panda terhadap Prancis adalah dengan memaksimalkan pendapatkan sumber energi bagi kebutuhan domestik Tiongkok. Klaim ini terkonfirmasi dengan adanya barter uranium dengan Panda setelah negosiasi 5 tahun.

Tabel 2.2

Daftar 8 negara dengan Pembangkit Listrik terbesar di dunia (2012)

(34)

Kebutuhan Tiongkok akan uranium merupakan hal yang cukup mendesak, hal ini didasari oleh karena banyaknya pembangkit tenaga nuklir yang beroperasi di Tiongkok. Sementara itu uranium merupakan salah satu bahan baku utama untuk menghasilkan tenaga nuklir. Pada tabel 2.2 dapat dilihat pada tahun 2012, Tiongkok merupakan salah satu negara dengan jumlah pembangkit nuklir untuk tujuan sipil terbanyak di dunia, termasuk dengan jumlah uranium yang dibutuhkan.

Kebutuhan Tiongkok yang besar terhadap uranium terjawab dengan Prancis. Prancis merupakan negara dengan tingkat ekspor enriched-uranium terbesar di dunia. Hal ini mengindikasikan bahwa Prancis merupakan produsen enriched-uranium terbesar di dunia. Pada tabel 2.3 dapat dilihat bahwa Prancis merupakan eksporter uranium yang telah diayakan terbesar di dunia.

Tabel 2.3

Lima negara ekspoter enriched-uranium terbesar di dunia

(35)

Disamping itu kebutuhan Tiongkok akan uranium merupakan salah satu cara untuk mendapatkan pasokan energi sebanyak banyaknya. Dengan adanya proyek besar seperti One Belt One Road memaksa Tiongkok untuk terus mendapatkan sumber uranium. Disamping itu ditambah dengan penduduk yang besar juga Tiongkok membutuhkan suplai energi yang banyak untuk menghidupi warganegaranya. Oleh ada juga dorongan dari faktor domestik yaitu untuk mendapatkan uranium. Oleh karena itu salah satu cara adalah dengan menjalin diplomasi Panda dengan Prancis. Selama 5 tahun negosiasi, diakhiri dengan kesepakatan bagi Prancis untuk mengirimkan uranium ke Tiongkok.

Adanya kepentingan terhadap uranium sebagai kepentingan nasional juga dipengaruhi oleh kondisi internasional. Pada pengiriman tahun 1973, kepentingan nasional terhadap Prancis pada masa itu dipengaruhi oleh struktur internasional yang terjadi saat itu. Pada hal ini terdapat dua garis penting diplomasi Panda Tiongkok ke Prancis. Dua garis penting itu terjadi ketika pengiriman 1973 yaitu Yen Yen & Li Li dan 2012 Huan Huan Yuanzi. Dengan waktu dan jenis mekanisme pemberian yang berbeda maka terdapat kepentingan nasional yang berbeda juga. Dengan demikian sebelum menjabarkan mengenai kepentingan Tiongkok dalam mengirimkan Panda (diplomasi Panda) ke Prancis pada 2012 hingga 2018 maka terlebih dahulu dijelaskan kepentingan nasional Tiongkok terhadap Prancis pada diplomasi Panda tahun 1973.

Situasi internasional dibalik pengiriman diplomasi Panda tahun 1973 adalah seperti yang diketahui pada tahun 1970-an, dunia sedang menghadapi perang dingin serta permusuhan dari blok Barat. Sementara itu di sisi lain Tiongkok juga sedang fokus dalam membangun perekonomian domestik. Di sisi

(36)

lain Prancis merupakan negara pertama di Eropa yang menjalin hubungan dengan Republik Rakyat Tiongkok (Komunis). Dengan demikian pengiriman Panda sebagai hadiah merupakan bentuk dari guanxi atau menunjukan loyalitas, kepercayaan dan hubungan jangka panjang yang baik diantara dua negara. Hal semacam ini tentu penting bagi Tiongkok mengingat Prancis merupakan salah satu negara dominan di Eropa atau Blok Barat.

Sementara itu pada pengiriman Panda 2012 (diplomasi Panda 2012) memiliki international situation (situasi internasional) yang berbeda. Berbeda dengan tahun 1973 yang mana diplomasi Panda diberikan sebagai hadiah (gift), sebaliknya diplomasi Panda tahun 2012 dilakukan dengan mekanisme peminjaman (loans). Adanya perbedaan mekanisme diplomasi Panda mengindikasikan adanya perbedaan situasi internasional.

Situasi internasional yang terjadi pada tahun 2012 tentu berbeda dengan tahun 1973. Tiongkok pada tahun 2012 memiliki kemampuan ekonomi yang besar, juga adalah ekonomi terbesar kedua di dunia. Hal ini berbanding terbalilk dengan Tiongkok pada tahun 1973 yang masih pada tahap berjuang. Situasi internasional yang saat itu terjadi adalah adalah a.) Akibat persaingan global yang semakin meningkat antara Tiongkok dan Barat terutama Amerika Serikat, terutama setelah krisis global 2008. Inisiasi Tiongkok dalam membangun grand-strategy pada bidang perdagangan global dengan proyek One Belt One Road yang dimulai pada 2013. Tentu pembangunan ini memakan banyak energi, maka dengan menggunakan diplomasi Panda, dapat mendapatkan tambahan uranium, yang kemudian digunakan dalam bidang energy. b.) persaingan politis, dengan

(37)

persaingan yang ketat dengan Amerika Serikat, tentu Tiongkok mencari mitra dari dunia Barat yang memiliki posisi yang cukup dominan yaitu Prancis. Dengan menjaga hubungan baik ini maka akan menjaga kedekatan dengan guanzi. Disamping itu juga considering the ends of the state in relation to its situation. Dalam hal ini Tiongkok mempertimbangkan kepentingan nasional (ends of the state) berdasarkan situasi internasional yang terjadi. Terdapat perbedaan situasi internasional pada diplomasi Panda 1973 dan 2012.

Pada diplomasi Panda 1973 maka kepentingan Tiongkok (national interest) adalah ingin menjalin kedekatan dengan Prancis karena Prancis merupakan mitra penting guanxi (seeking political comrade). Hal ini penting dilakukan terutama pada kondisi saat itu yang mana sedang dilanda perang dingin, rivalisme komunis global dan masalah ekonomi domestik yang perlu diselesaikan oleh Tiongkok. Sehingga diplomasi Panda ditujukan untuk mendekatkan diri dengan guanxi. Hal ini juga yang menjadi alasan Tiongkok tidak memperberat syarat diplomasi Panda ke Prancis pada 1973, yang mana bentuknya berupa hadiah.

Dalam hal ini, terdapat pertimbangan mengapa diplomasi Panda dipilih oleh Tiongkok untuk mencapai tujuan mendapatkan uranium. Dalam hal ini terdapat beberapa pertimbangan mengapa diplomasi Panda dipilih sebagai action untuk mencapai hasil yang maksimal dalam bidang energi uranium. Pertama, Panda merupakan satwa endemik yang hanya terdapat di Tiongkok. Populasi Panda yang sedikit kerap membuat hewan ini dijadikan sebagai simbol penyelamatan lingkungan dan hewan dari kepunahan. Dengan diplomasi Panda, Tiongkok dapat berdiri sebagai negara yang berperan dalam penanggulangan

(38)

kepunahan satwa langka. Tiongkok mencitrakan diplomasi Panda sebagai langkah untuk menyelamatkan satwa dari kepunahan dan menjaga kelestarian lingkungan. Hal ini ditambah uang peminjaman dialokasikan untuk pelestarian Panda. Dengan tujuan ini maka membuat negara-negara lain sulit untuk menolak tawaran meminjam Panda, termasuk Prancis. Apalagi Prancis merupakan salah satu negara di dunia yang peduli terhadap lingkungan dan pelestarian satwa liar. Sehingga opsi bagi Prancis untuk menolak tawaran diplomasi Panda sangat rendah.

Kedua, dengan posisi yang demikian maka barter yang dilakukan berupa Panda dan uranium merupakan langkah yang logis, mengingat kesempatan Prancis untuk menolak hal terrendah. Di sisi lain Prancis merupakan salah satu produsen dan eksportir enriched-uranium terbesar di dunia. Dengan demikian maka opsi diplomasi Panda wajar dilakukan.

Dengan penjelasan dalam sub-bab 2.3 diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kepentingan Tiongkok melalui diplomasi Panda terhadap Prancis adalah untuk mendapatkan uranium, yang mana sangat dibutuhkan untuk memenuhi pasokan uranium untuk pembangkit listrik tenaga nuklir yang dimiliki oleh Tiongkok. Disamping itu juga di dorong oleh adannya proyek ambisius Tiongkok pada level internasional yaitu adanya OBOR. Yang mana tentu proyek ini membutuhkan sumber daya yang sangat besar.

Untuk bab ini maka dapat diambil kesimpulan bahwa diplomasi Panda telah dipraktekan sejak era Tiongkok kuno hingga modern. Di mana pengiriman Panda dilakukan sebagai bentuk kedekatan Tiongkok dengan negara bersangkutan. Dalam era modern, Prancis merupakan salah satu negara Barat

(39)

yang dekat dengan Tiongkok, sehingga Prancis juga telah mendapatkan hadiah Panda dari Tiongkok pada tahun 1973. Namun pada tahun 2002, Panda tersebut meninggal hingga kemudian dimulailah pengiriman Panda kembali pada tahun 2012. Di mana tentu pengiriman ini merupakan simbol bahwa Prancis adalah guanxi daripada Tiongkok, atau teman dekat. Adapun kepentingan dari Tiongkok dalam mnggunakan diplomasi Panda adalah karena di dorong oleh situasi internasional saat itu yang mendorong Tiongkok membutuhkan sumber energi, maka Prancis sebagai penyedia enriched uranium dipilih guna mendapatkan sumber energi tersebut.

(40)

BAB III

ANALISIS SOFT POWER TERHADAP DIPLOMASI PANDA TIONGKOK KE PRANCIS

Pada pembahasan ini akan dibahas mengenai analisis implementasi soft power terhadap diplomasi Panda yang dilakukan oleh Tiongkok ke Prancis. Untuk menjabarkan analisis, penulis menggunakan pendekatan soft-power menurut Joseph Nye Jr. Dengan demikian maka terdapat tiga komponen soft-power, oleh karena itu pembahasan dalam bab ini akan dibagi menjadi ketiga komponen tersebut, Pertama, Domestic Values, yaitu nilai-nilai Domestik yang dimiliki oleh Tiongkok. Kedua, Cultures, Budaya yang dipraktekkan oleh Tiongkok; Ketiga, Foreign Policies, yaitu menjelaskan mengenai pola politik luar negeri Tiongkok, terutama dalam kaitannya dengan penggunaan diplomasi Panda (Joseph S. Nye, Public Diplomacy and Soft Power, 2008, p. 11).

3.1 Budaya (Cultures) Panda Sebagai Budaya Tiongkok

Pada hal ini, Joseph Nye Jr menjelaskan mengenai makna “cultures” dalam Soft-power. Budaya menurut Joseph Nye adalah kumpulan nilai dan praktik yang menciptakan arti atau bermakna bagi suatu masyarakat. Budaya juga memiliki banyak manifestasi, dan memiliki tingkatan. High culture merupakan budaya yang dapat berwujud dalam literatur, seni, dan pendidikan, yang mana hal-hal ini menarik perhatian para elites. Sementara itu tingkatan lain adalah Popular culture, popular culture, seperti industri hiburan yang menarik khalayak umum (Nye, 2004, p. 11).

(41)

Dengan penjelasan demikian maka berdasarkan penjelasan Joseph Nye Jr. diatas maka budaya (cultures) dapat berupa high cultures dan popular cultures. Masing-masing jenis budaya juga memiliki tujuan sasaran penikmat yang berbeda. Dalam hal ini Panda merupakan bagian daripada popular cultures. Alasan Panda bukan merupakan high cultures karena kelompok yang menggemari Panda sebagai hewan yang menggemaskan tidak hanya berasal dari kalangan elit, namun kebanyakan adalah masyarakat umum. Digemarinya Panda sebagai sebuah popular cultures juga di dorong oleh beberapa alasan.

Menurut Ron Swaisgood, Direktur Applied Animal Biology, San Diego Zoo Institute for Conservation Research terdapat beberapa alasan mengapa kita “manusia kebanyakan” menyukai hewan Panda. Pertama, Panda mengingatkan pada diri kita sendiri, di mana pada beberapa hal menyerupai manusia, seperti cara makan Panda yang dilakukan dengan duduk dan memegang makanan dengan tangan lalu mengunyahnya. Ron Swaisgood menambahkan bahwa pengunjung kebun binatang suka melihat cara Panda makan, terutama terpukau dengan cara makan Panda yang menggengam makanan di tangan dan mengunyah makanan layaknya manusia. Cara Panda makan dengan duduk di lantai mengingatkan penunjung tentang kebiasaan manusia duduk di lantai (BBC News, 2011).

Kedua, menurut Ron Swaisgood, alasan lain adalah Panda memiliki corak bulu di mata yang unik. Lingkaran hitam yang berada di area mata Panda membuat Panda seolah memiliki mata yang besar. Orang-orang menyukai mata besar karena mengingatkan mereka akan anak-anak. Ketiga, Panda membuat kita tertawa, intensitas kawin Panda yang sangat rendah, membuat beberapa penelilti melakukan berbagai cara agar mendorong terjadinya reproduksi, diantaranya

(42)

dengan memberikan herbal bahkan membuat video porno Panda yang ditujukan untuk Panda. Dalam kasus pada perang dingin bahkan Panda yang berasal diterbangkan ke Moskow hanya untuk kawin meski pada akhirnya gagal. Kegagalan ini pada akhirnya menjadi bahan tertawaan (BBC News, 2011).

Keempat, Panda adalah hewan pemalu. Manusia menyukai Panda karena melihat hewan ini pemalu terutama di alam liar. Kelima, Panda menjadi simbol WWF (World Wide Fund) yang mana untuk mengingatkan dunia akan kepunahan Panda dan pentingnya melakukan reservasi (perlindungan) alam liar. Pada akhirnya Panda memiliki simbol dan citra dalam marketing, bahkan menjadi simbol politik negara Tiongkok dengan sistem sewa pinjam. Keenam, Panda adalah hewan langka yang jumlahnya juga hanya dapat ditemukan di Tiongkok, selain itu Panda juga merupakan simbol hewan herbivore (vegetarian) yang cinta damai (BBC News, 2011).

Dengan enam alasan diatas, maka Panda dianggap sebagai hewan yang digemari publik umum “popular cultures”, tidak hanya di dalam negeri Tiongkok namun juga di negara-negara lain termasuk Prancis. Meskipun dari aspek audiens, diplomasi Panda termasuk sebagai popular cultures. Namun keterlibatan pemerintah Tingkok dalam negosiasi mengenai sistem penyewaan Panda dan lain-lain merupakan bentuk bahwa ada keterlibatan elites dalam hal ini. Aspek Government to government relations dalam deal peminjaman Panda merupakan kunci utama, sehingga peranan elites juga sangat besar dalam hal ini.

Peranan pemerintah Tiongkok dalam popular cultures, tidak terlepas dari adanya setting agenda yang menjadi daya tarik (attraction). Dengan pertimbangan

(43)

dari bahasan sebelumnya maka dapat ditarik garis besar bahwa daya tarik yang Tiongkok gunakan dalam diplomasi Panda adalah sebagai berikut; Pertama, Panda merupakan simbol pelestarian lingkungan. Diketahui dalam pembahasan sebelumnnya bahwa Panda merupakan hewan yang sebelumnnya terancam punah, faktor perburuan, lambatnya reproduksi dan rusaknya ekosistem mendorong status Panda sebagai hewan yang terancam punah. Internasionalisasi Panda sebagai simbol pelestarian lingkungan dan penyelamatan hewan mendapatkan momen saat World Wide Fund (WWF), sebuah NGO Internarnasional yang bergerak dalam bidang penyelamatan lingkungan menjadikan Panda sebagai hewan yang ada dalam logonnya. Menurut survei tahun 2004, saat ini terdapat 1.596 jumlah Panda yang ada di alam liar, hal ini meningkat dibandingkan survei pada tahun 1985-88 yang berjumlah 1.114 ekor Panda. Disamping itu juga terjadi perluasan luar lahan untuk Panda sebesar 11.3% dari tahun 2003, artinya sekarang Panda memiliki area seluas, 2.577.000 hektar. Adannya peningkatan jumlah Panda di dalam liar menurut WWF tidak terlepas dari peran pemerintah Tiongkok. WWF memuji kerja keras yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok dalam peningkatan jumlah Panda di alam liar.

The new figures show that the hard work of the Chinese government, local communities, nature reserve staff and WWF is paying off (WWF, n.d.).

Dijadikannya Panda sebagai logo WWF serta Pujian yang diberikan oleh WWF terhadap kerja keras pemerintah Tiongkok merupakan salah satu keberhasilan Tiongkok dalam membangun daya tarik masyarakat dunia terhadap Panda. Keberhasilan Panda sebagai simbol pelestarian lingkungan juga menjadikan organ PBB yaitu “United National Development Programme” mengambil Panda sebagai animal ambassador yaitu Qiqi dan Diandian.

(44)

Disamping itu UNDP juga mengambil nama Panda sebagai gelar bagi pejuang pelestarian lingkungan “Panda Champions” yang setiap tahunnya diseleksi dari seluruh penjuru dunia. Gelar ini disematkan bagi mereka yang memperjuangkan pelestarian lingkungan yang diamanatkan dalam SDGs (Sustainable Development Goals) (UNDP, 2017).

Kedua, Panda merupakan simbol bagi guanxi yang merupakan istilah yang hanya digunakan untuk negara yang memiliki kedekatan dengan Tiongkok. Setelah Tiongkok berhasil membangun daya tarik bahwa Panda merupakan simbol pelestarian lingkungan. Selanjutnya Tiongkok membangun simbol bahwa pemeberiaan atau peminjaman Panda hanya dilakukan kepada negara-negara yang memiliki kedekatan dengan Tiongkok. Sehingga setiap negara-negara yang diberikan pinjaman Panda oleh Tiongkok tentu menunjukkan adanya Goodwill atau niatan baik dari Tiongkok untuk menjalin hubungan yang lebih dekat. Oleh sebab itu, tidak semua negara mendapatkan penawaran untuk mendapatkan pinjaman Panda dari Tiongkok. Prancis sendiri merupakan salah satu negara yang paling awal dalam mendapatkan hadiah Panda dari Tiongkok. Sejalan dengan perkembangan waktu juga, Prancis merupakan negara yang mendapatkan pinjaman Panda dari Tiongkok. Hal ini menunjukkan kedekatan Tiongkok dengan Prancis.

3.2 Nilai dan Kebijakan Domestik Tiongkok (Domestic Values and Policies) Dalam menjelaskan komponen nilai-nilai domestik (domestic values), Joseph Nye Jr. mengambil soft-power Amerika Serikat sebagai studi kasus yang dibahas dalam tulisannya. Lebih lanjut Joseph Nye Jr. mengatakan bahwa ;

(45)

The United States, like other countries, expresses its values in what it does as well as what it says. Political values like democracy and human rights can be powerful sources of attraction, but it is not enough just to proclaim them (Joseph S. Nye, 2004).

Dari kutipan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa negara mengekspresikan nilai-nilai yang dianut dalam tindakan dan juga ucapan. Dalam hal ini Joseph Nye memberikan contoh nilai demokrasi dan hak asasi manusia yang menjadi nilai yang dimiliki oleh Amerikat Serikat sebagai sumber daya Tarik (attraction). Namun nilai-nilai hak asasi manusia dan demokrasi tidak hanya disebarkan dalam forum internasional melainkan juga diterapkan dalam kondisi domestik.

Pada penelitian ini, setting agenda dibalik diplomasi Panda yang telah diterapkan oleh Tiongkok adalah citra upaya penyelematan dan pelestarian lingkungan. Selain itu juga menunjukkan bahwa negara yang mendapatkan pinjaman Panda dari Tiongkok merupakan guanxi atau teman dekat, menyimbolkan adanya keinginan Tiongkok untuk menjalin hubungan erat. Berdasarkan Joseph Nye Jr. Soft Power akan berdampak secara signifikan apabila, values dalam setting agenda tidak hanya dikampanyekan pada level internasional. Melainkan juga dilakukan sendiri oleh negara bersangkutan dalam hal ini Tiongkok di dalam negeri. Oleh karena itu dalam rangka diplomasi Panda dapat diterima dan memiliki dampak yang signifikan maka, Tiongkok harus dapat menerapkan nilai-nilai yang ada dalam setting agenda, baik di level domestik maupun internasional.

(46)

3.2.1 Pandangan Pemerintah Tiongkok Terhadap Panda

Penjelasan pada sub-bab ini adalah bagaimana pemerintah memanfaatkan Panda atau bagaimana pandangan pemerintah mengenai Panda. Telah diketahui pada pembahasan sebelumnya bahwa Panda telah digunakan sebagai alat diplomasi sejak masa kuno Tiongkok. Meskipun demikian, pandangan positif masyarakat Tiongkok terhadap Panda tidak dimulai sejak masa kuno, melainkan dimulai pada awal 20, di mana Panda mulai diangkat sebagai simbol nasional sejak Partai Komunis Tiongkok berkuasa (Olesen, 2014).

Panda awalnya masyarakat Tiongkok memandang Panda sebagai monster menyeramkan yang mirip dengan babi dan tapir. Panda juga dikabarkan dapat mengoyak gerbang kota pada zaman dahulu kala. Oleh karena statusnya yang demikian menyebabkan Panda tidak begitu popular dalam masyarakat Tiongkok kala itu. Sehingga dalam sejarah kuno dan kerajaan Tiongkok, Panda tidak memiliki peran dan simbol yang signifikan bagi negara. Hal ini pula yang mendorong Partai Komunis Tiongkok memilih Panda sebagai ikon nasional, menurut Elena Songster dengan adanya bebas label yang melekat pada Panda, maka menjadikan partai Komunis Tiongkok yang baru saja berkuasa saat itu menjadikan panda sebagai hewan nasional, disamping Panda merupakan hewan yang langka, juga merupakan hewan bebas label dan glorifikasi dan simbolisasi oleh kekuasaan imperial pada masa lampau. Hal ini sejalan dengan ide revolusi proletar Tiongkok yang mejauhkan diri dari warisan imperialisme dan feudalisme Dengan demikian dipilihlah Panda sebagai simbol nasional Republik Rakyat Tiongkok dibawah Partai Komunis Tiongkok (Nicholls, 2010).

(47)

Pada periode 1957-1980-an, Dibawah Mao Zedong dan partai Komunis Tiongkok, Tiongkok meluaskan penggunaan Panda sebagai hadiah ke berbagai negara, hingga kemudian beralih menggunakan sistem sewa kepada negara-negara yang dianggap memiliki hubungan yang penting dengan Tiongkok. Pandangan dan visi yang sama juga dilakukan oleh presiden-presiden Tiongkok paska meninggalnya Mao Zedong, seperti Hu Jiantao dan Xi Jinping. Peranan Panda juga dipandang penting oleh Partai tunggal yang berkuasa yaitu Partai Komunis Tiongkok, di mana Panda juga menjadikan Panda, seperti video lucu panda misalnya sebagai propaganda, baik dalam domestik maupun luar negeri (Spencer, 2016).

Dengan adanya pandangan penting terhadap Panda sebagai simbol nasional dan simbol Tiongkok yang terbebas dari sejarah imperliasme, maka Tiongkok juga melakukan beberapa hal sebagai bentuk realisasi dari komitmennya. Dalam pembahasan selanjutnya dibahas mengenai kebijakan-kebijakan domestic Tiongkok terkait dengan Panda. Yang mana realisasi ini membuktikan komitmen kuat Tiongkok dalam menjaga Panda sebagai hewan atau simbol nasional Tiongkok.

3.2.2 Kebijakan Domestik Tiongkok Terkait Panda

Dalam pembahasan sebelumnya diketahui bahwa Tiongkok memiliki agenda Agenda dibalik diplomasi Panda terhadap Prancis, yaitu untuk “menyelamatkan dan melestarikan lingkungan” bahkan Panda setelah menjadi simbol dunia untuk menyelamatkan dan melestarikan lingkungan. Agenda tersebut juga didukung oleh adanya kebijakan-kebijakan domestik yang

(48)

membuktikan bahwa Tiongkok serius dalam menyelematkan dan melestarikan lingkungan. Diantara beberapa kebijakan-kebijakan dalam negeri yang terkait dengan penyelamatan dan pelestarian lingkungan adalah sebagai berikut;

Pertama, kebijakan perluasan habitat Panda. Seperti diketahui bahwa salah satu faktor yang mendorong Panda pernah dikategorikan sebagai salah satu hewan yang terancam punah adalah berkurangnya habitat Panda di alam liar. Habitat Panda yang secara alami berada di wilayah Republik Rakyat Tiongkok berkurang dari dekade ke dekade. Pada gambar III.1 dapat dilihat bagaimana habitat Panda berkurang secara signifikan dari tahun 1800-san ke tahun 1993. Habitat Panda pada tahun 1800 masih sangat luas, namun turun secara signifikan di tahun 1993. Hal inilah yang menjadi salah satu pendorong berkurangnya populasi Panda di alam liar.

Dengan berkurangnnya luas lahan habitat Panda, maka pemerintah Tiongkok mengambil langkah yaitu dengan memperluas habitat Panda di Tiongkok. Perluasan yang dilakukan Tiongkok adalah dengan memperluas lahan bambu yang merupakan habitat asli Panda.

Referensi

Dokumen terkait

Syafrawati, SKM, M.CommHealth Sc Ayulia Fardila Sari ZA, SKM, MPH Novia Wirna Putri, SKM, MPH Septia Pristi Rahmah, SKM, MKM Trisfa Augia, S.Si, Apt, MSc Fea Firdani, SKM, MKM

Hasil penelitian yang penulis dapatkan bahwa strategi pimpinan dalam meningkatkan kinerja pegawai melalui kedisiplinan absensi pegawai pada Dinas Pendidikan

Gunakan perangkat lunak kontrol Shure seperti Wireless Workbench ® atau sistem kontrol eksternal lain seperti AMX atau Crestron untuk memantau dan membuat

Hubungan antara perubahan tata guna lahan dengan karakteristik hidrologi (debit puncak dan waktu puncak) pada DAS Lesti dan DAS Gadang menunjukkan nilai debit yang cenderung

Dari hasil indikator pernyataan dapat dilihat bahwa yang paling besar nilai persentasenya berada pada kategori setuju dengan adanya hasil pernyataan dapat memberikan dampak

- definisi sifat wajib Allah yang keenam belas, sifat mustahil Allah yang keenam belas, dan penggolongan sifat wajib Allah yang keenam belas; - definisi sifat wajib

Hasil analisis regresi linier dan pengujian signifikan (Uji-F) tersebut dapat memberikan kesimpulan bahwa pendidikan dan pelatihan pegawai mempunyai hubungan

Sementara itu, kegiatan melaut pada komunitas nelayan di Kelurahan Malabro membentuk suatu pola hubangan patron-klien yang terjadi antara juragan dengan