PERBEDAAN PENGGUNAAN METODE MEMBACA PEMAHAMAN SQ3R DENGAN METODE MEMBACA PEMAHAMAN KRITIS SISWA
KELAS V SD
(Penelitian Kuasi Eksperimen Pada Siswa di SDN Cibenda 3 dan SDN Cibenda 4 Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Oleh
ASEP YANA SEPTIANA 1106017
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR KAMPUS CIBIRU
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG
2015
PERBEDAAN PENGGUNAAN METODE MEMBACA PEMAHAMAN SQ3R DENGAN METODE MEMBACA PEMAHAMAN KRITIS SISWA KELAS V SD
(Penelitian Kuasi Eksperimen Pada Siswa Kelas di Cibenda 3 dan SDN Cibenda 4 Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran)
Oleh
ASEP YANA SEPTIANA
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar
©Asep Yana Septiana 2015 Universitas Pendidikan Indonesia
Agustus 2015
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian, dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “PERBEDAAN PENGGUNAAN METODE MEMBACA PEMAHAMAN SQ3R DENGAN METODE MEMBACA PEMAHAMAN KRITIS” ini beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya sendiri. Saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika ilmu yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan tersebut, saya siap menanggung resiko/sanksi apabila di kemudian hari ditemukan adanya pelanggaran etika keilmuan dan ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Bandung, Agustus 2015 Yang membuat pernyataan,
Asep Yana Septiana 1106017
i
PERBEDAAN PENGGUNAAN METODE MEMBACA PEMAHAMAN SQ3R DENGAN METODE MEMBACA PEMAHAMAN KRITIS
(Penelitian Kuasi Eksperimen pada Siswa di Cibenda 3 dan SDN Cibenda 4 Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran)
ASEP YANA SEPTIANA 1106017
ABSTRAK
Latar belakang penelitian ini adalah adanya permasalahan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar terutama dalam kemampuan membaca pemahaman. Siswa kesulitan dalam menemukan ide pokok paragraf bacaan dan ketika menceritakan kembali apa yang telah dibacanya siswa tersebut lupa. Adapun tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa menggunakan metode SQ3R, mengetahui peningkatan kemampuan membaca siswa menggunakan metode membaca kritis, perbedaan kemampuan membaca pemahaman menggunakan metode SQ3R dengan metode membaca kritis. Penelitian dilakukan di kelas V SDN Cibenda 3 dan SDN Cibenda 4 dengan jumlah masing-masing siswa 15 dan 20. Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain kuasi eksperimen pretes-postes yang terdiri dari empat pembelajaran. Kelas eksperimen diberikan treatment berupa metode SQ3R, sedangkan kelas kontrol treatment berupa metode membaca kritis. sebelum diberikan treatment kedua kelas diberikan pretes. Instrumen penelitian yang digunakan berupa instrument respons produk, sedangkan teknik pengumpulan datanya berupa pretes dan postes. Skor rata-rata pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol 48,60 dan 50,65. Skor rata-rata postes kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah 65,60 dan 61,40. Peningkatan hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol berdasarkan gain ternormalisasi adalah 0,32 dan 0,19 dengan interpretasi peningkatan sedang dan rendah. Berdasarkan hasil uji-t postes kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh nilai signifikansi 0,268 dengan keputusan tolak Ho apabila sig. < 0,05, maka Ho diterima sehingga diperoleh kesimpulan tidak terdapat perbedaan kemampuan membaca pemahaman menggunakan metode SQ3R dengan membaca kritis.
Kata Kunci: kemampuan membaca pemahaman, metode SQ3R, Metode membaca kritis, pembelajaran bahasa Indonesia
Bismillahirrohmaanirohim
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul
“PERBEDAAN PENGGUNAAN METODE MEMBACA PEMAHAMAN SQ3R DENGAN METODE MEMBACA PEMAHAMAN KRITIS SISWA KELAS V SD”. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada jungjungan kita, nabi besar, Nabi Muhammad SAW, kepada para keluarganya, para sahabatnya dan kepada kita selaku umatnya hingga akhir zaman. Aamiin.
Skripsi ini diajukan sebagai sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada program S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Pendidikan Indonesia. Skripsi ini berisikan tentang penelitian yang dilakukan pada siswa kelas V SDN Cibenda 3 dan SDN Cibenda 4 kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran, karena adanya permasalahan yaitu rendahnya siswa dalam kemampuan membaca pemahaman. Penulis menggunakan metode SQ3R dan metode membaca kritis sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman pada siswa kelas V.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Meskipun demikian, penulis telah berusaha untuk menyelesaikan dan mencapai hasil yang terbaik dengan bantuan pembimbing. Selain itu dalam penulisan skripsi ini banyak bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada;
1) Dra. Ernalis, M.Pd. selaku pembimbing I yang telah meluangkan waktu, memberikan arahan, dorongan serta nasehat kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini;
2) Yeni Yuniarti, M.Pd. selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktu, memberikan arahan, dorongan serta nasehat kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini;
3) Dr. Asep Herry Hermawan, M.Pd. Selaku Direktur UPI Kampus Cibiru;
iii
4) Dr. Yunus Abidin, M.Pd selaku ketua program studi PGSD yang telah memberikan motivasi selama perkuliahan;
5) Kepala sekolah SDN Cibenda 3 dan Ibu Nurhayati, S.Pd. selaku wali kelas 5 yang selalu memberikan motivasi serta telah memberikan bantuan selama penelitian;
6) Kepala Sekolah SDN Cibenda 4 dan Ibu Ikah Sri Rostika, S.Pd. selaku wali kelas 5 yang selalu memberikan motivasi serta telah memberikan bantuan selama penelitian;
7) ayahanda Udin dan ibunda tercinta Rosih yang selalu memberikan bantuan do’a, materil, dan tidak letihnya memberikan nasehat serta motivasi yang membuat penulis tegar dan mampu menghadapi semua masalah;
8) satpam Upi Cibiru yang telah memberikan motivasi dan dukungan agar penulis cepat lulus;
9) sahabat OLENG tersayang Elsa Rahmatika Lestari, Intan Purnama Alam, Agus Wahyudi, Ismaniar Trisnawati dan Andi Mohamad Maulana yang telah memberikan motivasi dan dukungan dalam pengerjaan skripsi ini;
10) saudara Iip Miftahudin dan Irfan Anshory yang telah membantu dan memberikan motivasi kepada penulis dalam penulisan skripsi ini;
11) pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah membantu penulis baik secara moril dan materil dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis berharap semoga skripsi ini memberikan manfaat. Semoga segala bimbingan, dorongan, dukungan dan bantuan yang telah penulis dapatkan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT. Aamiin.
Bandung, Agustus 2015
Penulis
iv DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI HAK CIPTA
LEMBAR PERNYATAAN
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ... 1
B. Rumusan Maasalah Penelitian ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Signifikasi Penelitian ... 4
E. Struktur Organisasi Skripsi ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Membaca ... 8
1. Pengertian Membaca ... 7
2. Tujuan Membaca ... 8
3. Manfaat Membaca ... 9
4. Prinsip-prinsip Membaca ... 10
B. Jenis-jenis Membaca ... 11
1. Membaca Nyaring dan Membaca dalam Hati ... 11
2. Membaca Ekstensif ... 12
a. Membaca Survey ... 12
b. Membaca Sekilas ... 13
c. Membaca Dangkal ... 13
3. Membaca Intensif ... 14
a. Membaca Teliti ... 14
b. Membaca Pemahaman ... 15
c. Membaca Kritis ... 15
v
d. Membaca Ide ... 16
C. Pengertian, Prinsip-prinsip, dan Prosedur Pembelajaran Membaca Pemahaman ... 16
1. Pengertian Membaca Pemahaman ... 16
2. Prinsip-prinsip Pembelajaran Membaca Pemahaman ... 16
3. Prosedur Pembelajaran Membaca Pemahaman ... 17
D. Metode Membaca SQ3R ... 18
1. Pengertian Metode Membaca SQ3R ... 18
2. Tujuan Metode SQ3R ... 18
3. Tahapan Metode SQ3R ... 19
4. Penerapan Metode SQ3R dalam Pembelajaran Membaca Pemahaman .... 19
E. Metode Membaca Kritis ... 20
1. Pengertian Metode Membaca Kritis ... 20
2. Tujuan Metode Membaca Kritis ... 20
3. Tahapan Metode Membaca Kritis ... 21
4. Penerapan Metode Membaca Kritis dalam Pembelajaran Membaca Pemahaman ... 21
F. Penelitian yang Relevan ... 23
G. Hipotesis Penelitian ... 23
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 25
B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 26
C. Definisi Operasional ... 26
D. Instrumen Penelitian ... 27
E. Teknik Pengumpulan Data ... 30
F. Teknik Analisis Data ... 31
1. Uji Normalitas ... 31
2. Uji Homogenitas ... 33
3. Uji Perbedaan Dua Rerata ... 36
4. Uji Gain Ternormalisasi ... 36
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN A. Temuan Penelitian ... 37
1. Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas Eksperimen ... 37
2. Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas Kontrol ... 38
3. Deskripsi Analisis Data ... 40
a. Data Hasil Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 40
1) Skor Pretes Kelas Eksperimen ... 41
2) Skor Pretes Kelas Kontrol ... 42
3) Uji Normalitas Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol... 44
vi
4) Uji Homogenitas Skor Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 45
5) Uji Perbedaan Dua Rerata Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 45
b. Data Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 46
1) Skor Postes Kelas Eksperimen ... 47
2) Skor Postes Kelas Kontrol ... 48
3) Uji Normalitas Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 50
4) Uji Homogenitas Skor Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 50
5) Uji Perbedaan Dua Rerata Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol .. 51
c. Uji Gain Ternormalisasi Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 52
B. Pembahasan ... 54
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Simpulan ... 60
B. Implikasi ... 61
C. Rekomendasi ... 62
DAFTAR PUSTAKA ... 63 LAMPIRAN-LAMPIRAN
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1. Format Penilaian Menceritakan Kembali ... 28
Tabel 3.2. Rubrik Penilaian Isi Tulisan ... 28
Tabel 3.3. Rubrik Penilaian Organisasi Tulisan... 29
Tabel 3.4. Rubrik Penilaian Bahasa Tulisan ... 29
Tabel 3.5. Rubrik Penilaian Teknik Penulisan ... 30
Tabel 3.6. Interval Signifikansi Uji Gain Ternormalisasi ... 36
Tabel 4.1. Nilai Statistik Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 40
Tabel 4.2. Frekuensi Skor Pretes Kelas Eksperimen ... 41
Tabel 4.3. Frekuensi Skot Pretes Kelas Kontrol ... 43
Tabel 4.4. Uji Normalitas Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 44
Tabel 4.5. Hasil Uji Homogenitas Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 45
Tabel 4.6. Hasil Uji Perbedaan Dua Rerata Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 46
Tabel 4.7. Nilai Statistik Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 47
Tabel 4.8. Frekuensi Skor Postes Kelas Eksperimen ... 47
Tabel 4.9. Frekuensi Skor Postes Kelas Kontrol... 49
Tabel 4.10. Hasil Uji Normalitas Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 50
Tabel 4.11. Hasil Uji Homogenitas Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 51
Tabel 4.12. Hasil Uji Perbedaan Dua Rerata Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 52
Tabel 4.13. Nilai Gain Ternormalisasi Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 53
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1. Histogram Frekuensi Skor Pretes Kelas Eksperimen ... 42
Gambar 4.2. Histogram Frekuensi Skor Pretes Kelas Kontrol ... 43
Gambar 4.3. Histogram Frekuensi Skor Postes Kelas Eksperimen ... 48
Gambar 4.4. Histogram Frekuensi Nilai Postes Kelas Kontrol ... 49
Gambar 4.5. Diagram Rata-rata Nilai Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 57
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan. Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia untuk berinteraksi. Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam suku, budaya, dan bahasa. Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu bangsa yang telah disepakati para pemuda dari Sabang sampai Merauke dalam sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Pentingnya penggunaan bahasa baik dalam segi komunikasi maupun memahami informasi, maka peserta didik perlu mempelajari dan mengembangkan keterampilan berbahasa yang dimilikinya. Sehingga peserta didik mampu memahami dan menyerap informasi yang mereka dapatkan dari berbagai media massa.
Keterampilan berbahasa ada empat, yaitu keterampilan menyimak/mendengarkan, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Tarigan (2008, hlm. 1) mengatakan bahwa menyimak dan berbicara dipelajari sebelum masuk sekolah, sedangkan membaca dan menulis dipelajari di sekolah. Hal tersebut sejalan dengan tahap perkembangan perkembangan anak, yaitu mendengar. Kemudian setelah anak mendengar/menyimak bahasa anak mulai belajar bebicara, dan kemudian anak belajar membaca dan menulis di sekolah. Dari salah satu keterampilan berbahasa, membaca merupakan elemen penting karena berbagai macam informasi dan pengetahuan didapat dari membaca.
Membaca juga menjadi hal yang penting dalam kehidupan bermasyarakat, karena dalam kehidupan bermasyarakat banyak sekali aspek yang melibatkan membaca, seperti membaca simbol-simbol rambu-rambu lalu lintas di jalan yang dipasang di sekitar jalan raya untuk memberitahukan arahan kepada para pengguna jalan serta aturan lalu lintas. Masyarakat juga dapat mengetahui perkembangan terkini dari surat kabar seperti koran untuk mengetahui perkembangan harga harga sembako dan perkembangan dunia tentang harga
minyak bumi. Rahim (2009, hlm. 2) mengemukakan bahwa “kemampuan membaca merupakan tuntutan realitas kehidupan sehari-hari manusia. Beribu judul buku dan koran diterbitkan setiap hari.” Guru mencari informasi dengan membaca buku untuk memberikan materi ajar kepada siswa, sedangkan siswa membaca buku untuk menambah wawasan dan menguatkan pengetahuan mereka yang didapat dari bacaan.
Berdasarkan hal tersebut penulis menjadikan kemampuan membaca pemahaman sebagai fokus dalam penelitian ini. Hingga kini kegiatan membaca masih dianggap kegiatan yang kurang digemari dan membosankan. Ditambah lagi pembelajaran membaca yang asal-asal semakin mengurangi minat siswa dalam kegiatan membaca. Tidak diterapkannya strategi membaca yang tepat menyebabkan rata-rata siswa membaca secara monoton, sehingga dalam kegiatan membaca siswa tidak tahu cara praktis dalam memahami bacaan. Kegiatan membaca di sekolah yang monoton, yakni kegiatan membaca hanya ditujukan untuk kepentingan praktis agar siswa mampu menjawab pertanyaan bacaan. Hal di atas menyebabkan kemampuan membaca siswa dan tingkat pemahamannya terhadap teks bacaan yang dibacanya rendah. Menurut Abidin (2012, hlm.10) mengatakan bahwa
Kegagalan pembelajaran membaca sebenarnya bermula pada ketidakjelasan peran guru dalam proses pembelajaran membaca.
Anggapan ini muncul karena mitos keliru yang diyakini guru bahwa dalam pembelajaran membaca tidak banyak yang harus dilakukan guru. Karena hal demikian guru hanya menugasbacakan siswa dan selanjutnya mengetesnya dengan pertanyaan yang ada di dalam teks bacaan. Selain itu ada beberapa hal keliru yang dilakukan guru selama proses pembelajaran membaca, seperti membaca nyaringkan wacana yang seharusnya dibaca dalam hati, memulai pembelajaran dengan menyajikan ringkasan yang seharusnya dicari siswa, dan menerjemahkan kata-kata sulit..
Peneliti menemukan permasalahan serupa yang peneliti temukan di SDN 3 Cibenda kelas V. Permasalahannya yaitu siswa kelas V masih kesulitan menemukan ide pokok paragraf bacaan dan ketika menceritakan kembali apa yang telah dibacanya siswa tersebut lupa. Siswa tersebut juga mengalami kesulitan dalam membuat ringkasan cerita yang telah ia baca.
Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti merekomendasikan alternatif metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran membaca pemahaman. Metode tersebut adalah metode pembelajaran survey, question,read,
review, and recite (SQ3R) dan metode membaca Kritis. SQ3R merupakan metode yang sangat baik untuk kepentingan membaca secara intentsif dan rasional.
Metode pembelajaran ini terdiri atas lima langkah yakni, survey, question, read, recite, dan, review yang sangat cocok untuk digunakan sebagai metode membaca bahan bacaan ilmu-ilmu sosial. Tujuan utama penerapan metode ini adalah untuk meningkatkan pemahaman atas isi bacaan, dan mempertahankan pemahaman tersebut dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Dalam perencanaan pembelajarannya guru mengajak siswa untuk melakukan survei terhadap bacaan untuk mendapatkan gambaran umum dari suatu bacaan dengan cara meneliti judul, bagian permulaan, dan akhir. Setelah menyurvei buku, siswa merumuskan pertanyaan yang ingin ditanyakannya terkait dengan bacaan tersebut. Hal tersebut akan membantu dan menuntun siswa memahami bacaan. Dengan pertanyaan tersebut kemudian siswa membaca teks bacaan. Pertanyaan siswa tersebut merupakan hal yang dapat membantu siswa mendapatkan informasi yang diinginkannya. Pada tahap ini siswa tidak harus melihat setiap kata atau setiap baris dari semua paragraf, melainkan menggunakan aktivitas membaca lompat, membaca layap, dan mengulang membaca bahan yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan.
Selanjutnya setelah siswa menemukan jawaban untuk setiap pertanyaan, siswa menyusun ringkasan bacaan berdasarkan jawaban yang dibuatnya dengan bahasa sendiri. Untuk dapat mengingat informasi penting, sebaiknya siswa menulis tiap ide pokok paragraf yang terdapat dalam bacaan, dan di akhir siswa melihat kembali bahan bacaan dan membandingkan tulisannya dengan bahan bacaan yang sebenarnya.
Membaca kritis adalah kegiatan membaca untuk memahami makna yang disampaikan oleh penulis melalui karya tulisnya baik secara tersirat maupun tersurat. Seperti yang telah dikemukakan Abidin (2012, hlm. 102) “metode membaca kritis adalah serangkaian upaya yang dilakukan pembaca guna mampu memahami makna tersurat dan makna tersirat yang terkandung dalam sebuah bacaan untuk selanjutnya mampu memberikan respons dan evaluasi atas makna dan ide yang disusun penulis dalam teksnya tersebut.” Metode membaca tersebut
juga sangat cocok untuk meningkatkan pemahaman siswa membaca teks yang dibacanya dengan analisis yang cermat.
Berdasarkan paparan di atas, peneliti bermaksud untuk mengetahui perbedaan kemampuan menggunakan metode pembelajaran SQ3R dengan metode pembelajaran membaca kritis.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis kemukakan penulis mengemukakan rumusan masalah sebagai berikut.
1. Bagaimana peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa dengan menggunakan metode pembelajaran SQ3R?
2. Bagaimana peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa dengan menggunakan metode pembelajaran membaca kritis?
3. Apakah terdapat perbedaan kemampuan membaca pemahaman siswa menggunakan metode pembelajaran SQ3R dengan metode pembelajaran membaca kritis?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui;
1. peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa dengan menggunakan metode pembelajaran SQ3R;
2. peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa dengan menggunakan metode pembelajaran membaca kritis;
3. perbedaan kemampuan membaca pemahaman menggunakan metode pembelajaran SQ3R dengan model pembelajaran membaca kritis.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berada dalam dunia pendidikan, terutama bagi guru dan siswa kelas V SD yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan penelitian. Adapun secara sederhana manfaat penelitian yang diharapkan adalah sebagai berikut:
1. Untuk peneliti, selain berguna untuk menyelesaikan tugas akhir skripsi penelitian ini juga bermanfaat untuk;
a) mengembangkan pembelajaran membaca pemahaman khususnya dengan menggunakan SQ3R;
b) menambah pengalaman dalam kegiatan pembelajaran di SD.
2. Bagi guru metode yang peneliti gunakan dapat diterapkan dalam pembelajaran membaca pemahaman, dan bermanfaat pula untuk;
a) meningkatkan kreativitas guru dalam mengembangkan proses pembelajaran di sekolah dasar;
b) menambah wawasan guru dalam menyajikan pembelajaran yang inovatif dan cocok untuk dalam pembelajaran membaca pemahaman.
3. Siswa lebih aktif dalam kegiatan membaca pemahaman, dan berguna untuk;
a) membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman;
b) menambah minat siswa terhadap kegiatan membaca.
E. Struktur Organisasi Skripsi
Skripsi yang penulis susun terdiri dari 5 bab, yakni bab I Pendahuluan yang terdiri dari 5 sub bab yaitu latar belakang penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan struktur organisasi. Pada sub bab latar belakang penelitian, berisi tentang alasan yang melatarbelakangi penulis mengadakan penelitian kuasi eksperimen dengan membandingkan metode membaca SQ3R dengan metode membaca kritis. Alasan peneliti menggunakan metode tersebut karena kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Cibenda masih relatif rendah.
Pada sub bab rumusan masalah penelitian berisi tentang permasalahan yang ditemukan oleh peneliti yang berkaitan dengan objek yang akan diteliti. Pada sub bab tujuan penelitian berisi tentang tujuan yang ingin penulis capai dalam penelitian yang akan ditelitinya. Pada sub bab manfaat penelitian berisi tentang manfaat yang diperoleh dari hasil penelitian yang peneliti tulis. Pada sub bab struktur organisasi skripsi berisi tentang uraian sistematika skripsi yang dibuat.
Kemudian pada bab II, yakni kajian pustaka terdiri dari 8 sub bab, yaitu membaca, jenis-jenis membaca, prinsip-prinsip dan prosedur membaca pemahaman, metode membaca SQ3R, metode membaca kritis, kerangka berpikir, penelitian yang relevan, dan hipotesis penelitian. Pada sub bab kajian pustaka penulis mencantumkan teori-teori yang berhubungan dengan belajar dan membaca
pemahaman. Pada sub bab jenis-jenis membaca, peneliti menguraikan secara jelas mengenai jenis-jenis membaca berdasarkan tujuan dan cakupan bahan bacaan yang dibaca. Pada sub bab prinsip-prinsip dan prosedur membaca peneliti menjelaskan prinsip-prinsip dasar membaca pemahaman serta kegiatan yang dilakukan saat pembelajaran membaca pemahaman. Selanjutnya pada sub bab metode membaca SQ3R, peneliti menjelaskan pengertian metode, tujuan, tahapan, dan penerapannya dalam pembelajaran. Pada sub bab metode membaca kritis, peneliti menjelaskan pengertian metode, tujuan, tahapan, dan penerapannya dalam pembelajaran.
Pada bab III, yakni metode penelitian terdiri dari 6 sub bab, yaitu desain penelitian, populasi dan sampel penelitian, definisi operasional, instrumen penelitian, prosedur penelitian, dan teknik analisis data. Pada sub bab desain penelitian, peneliti menggunakan desain kuasi eksperimen pretes-postes. Desain ini diawali dengan melakukan pretes terlebih dahulu untuk melihat kemampuan membaca siswa sebelum diberikan perlakuan. Setelah itu peneliti memberikan perlakuan berupa pengguanaan metode SQ3R yang nantinya akan diujikan hasilnya melalui postes. Pada sub bab populasi dan sampel, populasi penelitian berasal dari populasi SD di kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran. Sampel yang peneliti ambil berasal dari SD N Cibenda 3 dan SD N Cibenda 4. Sampel yang peneliti ambil pada penelitian ini tidak menggunakan random sample. Pada sub bab definisi operasional berisi tentang uraian variable yang diteliti secara operasional yang tergambar melalui indikator tiap variable yang diteliti. Pada sub bab instrumen penelitian berisi tentang jenis instrument penelitian yang digunakan. Pada bagian ini dijelaskan kisi-kisi instrument yang terdiri dari indikator, subindikator, serta pedoman penilaiannya. Selanjutnya pada sub bab prosedur penelitian berisi tentang langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan penelitian serta cara pengoperasian penelitian yang dilakukan. Pada sub bab teknik analisis data menjelaskan tentang teknik analisis statistik yang digunakan oleh penulis beserta software yang digunakan untuk melakukan analisis terhadap data yang diperoleh.
Pada bab IV, yakni temuan dan pembahasan terdiri dari dua sub bab, yaitu temuan penelitian dan pembahasan. Pada sub bab temuan penelitian berisi tentang
hasil penelitian yang diperoleh penulis selama melakukan penelitian. Sedangkan pada suba bab pembahasan ini berisi tentang hal yang penulis lakukan selama penelitian serta hasil yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan.
Pada bab V, yakni simpulan, implikasi dan rekomendasi terdiri dari dua sub bab, yaitu simpulan, implikasi dan rekomendasi. Pada sub bab simpulan berisi tentang simpulan yang telah diperoleh penulis dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Pada sub bab implikasi dan rekomendasi berisi tentang rekomendasi dari peneliti mengenai penelitian yang telah dilakukan.
8 BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Membaca
1. Pengertian Membaca
Membaca adalah salah satu kegiatan yang dilakukan untuk menemukan informasi. Harjasujana (1986, hlm. 4) mengemukakan “membaca bukanlah proses yang tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan tunggal”. Sejalan dengan pendapat beliau Anderson (dalam Tarigan, 2008, hlm. 7) mengemukakan bahwa dari segi linguistik, “membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi ( a recording and decoding proses)”. Abidin sendiri mengemukakan pengertian membaca secara sederhana. Beliau berpendapat bahwa “ membaca secara sederhana dapat dikatakan sebagai proses membunyikan lambang bahasa tertulis” (Abidin, 2012, hlm. 59). Senada dengan beliau Syafi’ie (dalam Somadayo, 2011, hlm. 9) mengatakan bahwa “membaca pada hakikatnya adalah suatu proses membangun pemahaman wacana tulis”.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah proses yang melibatkan kemampuan visual, kognisi, dan fisik (pita suara) yang bertujuan untuk memperoleh informasi. Dalam kegiatan membaca tentunya ada dua hal yang dilibatkan yaitu pembaca dan teks yang dibacanya. Sebagaimana Kridalaksana mengemukakan bahwa “ dalam kegiatan membaca melibatkan dua hal, yaitu (1) pembaca yang berimplikasi adanya pemahaman, dan (2) teks yang berimplikasi adanya penulis”. Jadi kegiatan membaca tidak akan terjadi apabila salah satu komponen tersebut tidak ada.
2. Tujuan Membaca
Setiap orang yang membaca pastilah punya tujuan, meskipun tujuannya beragam seperti untuk hiburan atau untuk menemukan sejumlah informasi yang terdapat dalam bacaan. Dengan adanya tujuan dalam membaca, pembaca akan lebih mudah untuk memhami bacaan dan menemukan sejumlah informasi yang ingin diperoleh. Dalam kaitannya dengan tujuan membaca, Abidin (2010, hlm. 9) mengemukakan tujuan membaca yaitu membaca untuk pengetahuan, membaca
untuk menghasilkan, membaca untuk hiburan. Tarigan (2008, hlm. 9) juga berpendapat bahwa “tujuan utama membaca adalah untuk memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan”. Lebih dalam lagi Anderson (1972, hlm. 214) mengemukakan hal-hal penting pada tujuan membaca antara lain;
a. membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for detail or fact);
b. membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas);
c. membaca urusan atau susunan, organsisasi cerita (reading for sequence or organization);
d. membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi (reading for inference);
e. membaca untuk mengelompokan (reading for classify);
f. membaca untuk mengevaluasi (reading to evaluate);
g. membaca untuk membandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca setiap orang berbeda-beda tergantung dari maksud serta kebutuhan yang ingin diperoleh pembaca. Dalam kegiaatan membaca kita harus mempunyai tujuan yang jelas agar kita lebih tahu dan memahami apa yang kita baca, karena tidak semua teks yang ada dalam bacaan kita baca semua apabila kita hanya ingin mengetahui informasi-infomasi tertentu saja. Dalam melakukan kegiatan membaca carilah tujuan yang paling mudah dan sederhana agar kita dapat memperoleh tujuan minimal kita. Maksud dan tujuan seseorang dalam membaca menentukan kemampuan terhadap materi bacaannya.
3. Manfaat Membaca
Ada pepatah mengatakan “Buku adalah jendela dunia, kuncinya adalah membaca”. Dari kata bijak tersebut bisa kita ketahui bahwa membaca itu merupakan hal yang sangat penting untuk kita lakukan, apalagi bagi seorang pelajar. Setidaknya seorang pelajar pasti memiliki buku-buku ataupun sumber bacaan lainnya sebagai penunjang dalam bidang pendidikan. Kegiatan membaca bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, karena sesungguhnya kita tidak pernah terlepas dari kegiatan membaca. Misalnya, seorang pengemudi kendaraan yang sedang melakukan perjalanan dari Pangandaran ke Bandung, untuk sampai
ditujuan si pengemudi tersebut setidaknya membaca arah mana yang mengantarkannya ke Bandung, jalan mana yang harus dilewati dan yang tidak harus dilewati.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi kegiatan membaca menjadi hal yang sangat penting. Rahim (2009, hlm. 1) mengemukakan bahwa “membaca semakin penting dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Setiap aspek kehidupan melibatkan membaca”. Hal tersebut berarti bahwa apabila kita kurang membaca, kita akan ketinggalan informasi. Di era globalisasi ini, membaca tidak hanya berfokus pada buku bacaan saja. Banyak sumber-sumber informasi yang dapat diakses melalui internet. Membaca merupakan hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari, karena tidak semua informasi bisa kita dapatkan melalui media televisi. Hal tersebut bukan berarti bahwa kita harus membaca semua informasi, tetapi jenis bacaan dan informasi yang kita inginkan perlu untuk di baca (Rahim, 2009, hlm. 2).
4. Prinsip-prinsip Pengajaran membaca
Sebelum melakukan pembelajaran membaca kita harus tahu terlebih dahulu prinsip-prinsip pengajaran membaca. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan dalam pembelajaran membaca. Nuttal (dalam Abidin, 2012, hlm. 13) mengemukakan prinsip-prinsip umum pembelajaran membaca.
Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut;
a) pembelajaran membaca harus dilakukan dengan tujuan membangun kemampuan membaca anak;
b) kemampuan baca anak harus dibentuk secara perlahan;
c) pengajaran membaca dilakukan melalui interaksi antara guru dan kelas;
d) pengajaran membaca harus senantiasa ditunjukan guna membangun kemampuan anak berinteraksi dengan teks;
e) pembelajaran harus senantiasa melatihkan siswa berbagai strategi membaca sebelum siswa melakukan kegiatan membaca yang sesungguhnya;
f) pembelajaran membaca harus berorientasi ke depan;
g) memahami bahwa kemampuan membaca intensif dan membaca ekstensif harus diajarkan secara mendalam.
Prinsip-prinsip pengajaran dalam membaca di atas perlu diketahui dan dipahami agar guru dalam melaksanakan pembelajaran membaca dapat memperoleh hasil yang baik. Pada dasarnya kemampuan membaca anak tidak dapat dibentuk sekaligus. Selain itu setiap anak memiliki kemampuan membaca yang berbeda-beda. Untuk itu, dengan memahami prinsip-prinsip pengajaran membaca guru dapat mengetahui apa yang harus dan yang tidak harus dilakukan dalam pengajaran membaca terhadap siswa, khususnya siswa SD.
B. Jenis-jenis Membaca
Dalam kajian membaca dikenal banyak jenis membaca. Ditinjau dari segi terdengar tidaknya suara si pembaca pada waktu membaca, membaca dapat dibagi atas membaca dalam hati, serta membaca bersuara atau membaca nyaring. Dilihat dari sudut cakupan bahan bacaan yang dibaca, membaca dapat digolongkan ke dalam membaca ekstensif dan membaca intensif. (Mulyati, (t.t.), [online] diakses dari http://file.upi.edu)
1. Membaca Nyaring dan Membaca dalam Hati
Membaca nyaring merupakan proses mengkomunikasikan isi bacaan (dengan nyaring) kepada orang lain. Karena tujuan utamanya mengkomunikasikan isi bacaan, maka si pembaca bukan hanya dituntut harus mampu melafalkan dengan suara nyaring lambang-lambang bunyi bahasa saja, melainkan juga dituntut harus mampu melakukan proses pengolahan agar pesan- pesan atau muatan makna yang terkandung dalam lambang-lambang bunyi bahasa tersebut dapat tersampaikan secara jelas dan tepat oleh orang-orang yang mendengarnya. Tarigan (2008, hlm.23) mengemukakan bahwa, “membaca nyaring merupakan alat bagi guru, murid, pembaca, maupun pendengar untuk menangkap suatu informasi”. Dalam membaca nyaring pembaca harus terlebih dahulu mengetahui makna, maksud, dan tujuan yang terkandung dalam bacaan.
Dengan demikian, jelaslah bahwa proses membaca nyaring sesungguhnya bukanlah hal yang mudah. Dalam membaca nyaring perlu juga diperhatikan lafal serta intonasinya, agar orang yang menyimak pembaca dapat menerima informasi yang disampaikan dengan baik. Dengan demikian membaca nyaring memiliki
tujuan untuk menambah kefasihan dalam menggunakan kata, jelas pengucapannya dan tidak terbata-bata, serta penggunaan intonasi yang tepat.
Berbeda dengan membaca nyaring, membaca dalam hati hanya menggunakan ingatan visual. Budiono (2011, [online] diakses dari http://jurnal- online.um.ac.id) mengemukakan bahwa membaca dalam hati adalah”kegiatan membaca yang berusaha memahami keseluruhan isi bacaan secara mendalam sambil menghubungkan isi bacaan itu dengan pengalaman maupun pengetahuan yang dimiliki pembaca tanpa diikuti gerak lisan maupun suara”, sehingga dalam hal ini yang aktif adalah mata dan ingatan. Pada kegitan membaca dalam hati terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan. Pada umumnya orang yang sudah meninggalkan bangku sekolah dasar mayoritas menggunakan teknik membaca dalam hati. Dalam kegiatan membaca dalam hati terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan agar kegiatan membaca lebih efisien. Berikut ini adalah kebiasaan- kebiasaan yang harus dihindari ketika melakukan kegiatan membaca dalam hati.
a) Membaca dengan suara terdengar.
b) Membaca dengan suara berbisik c) Membaca dengan bibir bergerak
d) Membaca dengan menunjuk baris bacaan (kata demi kata) dengan jari, pensil, atau alat lainnya. (Tampubolon, 2008, hlm. 11)
2. Membaca Ekstensif
Membaca ekstensif bisa dikatakan kegiatan yang dilakukan untuk membaca teks bacaan secara luas. Biasanya membaca ekstensif dilakukan untuk mengetahui pemahaman secara umum mengenai informasi yang diinginkan.
Membaca ekstensif dilakukan dalam rangka menumbuhkan kesenangan dan kemauan membaca beragam wacana tulis dengan membaca ekstensif seseorang dapat meningkatkan minat dan kemampuan membacanya. Dalam kaitanya dengan membaca teks secara umum, membaca ekstensif meliputi pula membaca survey, membaca sekilas (skimming), dan membaca dangkal (Tarigan, 2008, hlm.32).
a. Membaca Survey
Membaca survey merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menelaah bahan bacaan yang akan dibaca dengan melihat judul, judul bab yang terdapat
dalam buku, bagan dan gambar (jika ada). Syah (1997, hlm. 131) mengungkapkan bahwa tujuan dari survey adalah untuk mengetahui judul bagian, judul sub bagian, dan istilah kata kunci. Dalam melakukan survey kita juga harus memerhatikan kecepatan serta ketepatan dalam mensurvei bahan bacaan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Tarigan (2008, hlm. 33) bahwa, “kecepatan serta ketepatan dalam mensurvey bahan bacaan ini sangat penting, hal ini turut menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam studinya”.
b. Membaca Sekilas
Membaca sekilas (skimming) adalah sejenis membaca cepat yang digunakan untuk menemukan ide-ide penting dalam sebuah teks. Rahim (2009, hlm. 61) mengemukakan bahwa “membaca layap (skimming) ialah membaca dengan cepat untuk mengetahui isi umum atau bagian suatu bacaan”. Pada waktu melakukan skimming secara cepat mata kita bergerak ke seluruh teks untuk memperoleh gambaran umum mengenai teks. Menurut Haras (dalam Somadayo, 2005 hlm. 43) mengatakan bahwa, “skimming merupakan suatu teknik membaca dengan kecepatan tinggi untuk mencari hal-hal yang penting atau mencari pokok dari suatu bacaan”. Dalam kegiatan skimming pembaca boleh melewati bagian- bagian tertentu yang dianggap kurang penting dan berfokus terhadap informasi yang diinginkan untuk mengetahui gambaran umum bacaan. Ketika kita membaca sekilas kita akan menggerakkan mata kita dari atas ke bawah dengan cepat menyapu seluruh halaman yang dibaca sambil memberi fokus pada informasi yang dicari. Dengan skimming seseorang mencoba untuk mendapatkan inti atau gambaran umum apa yang dibaca bukan mendapatkan gambaran detail seluruh isi teks.
c. Membaca Dangkal
Membaca dangkal pada dasarnya merupakan kegiatan membaca untuk memperoleh pemahaman yang dangkal atau tidak terlalu mendalam dari bahan bacaan yang dibaca. Membaca jenis ini umumnya dilakukan oleh pembaca untuk mencari kesenangan atau hiburan (Tarigan, 2008, hlm. 36). Clark (2012, [online]
diakses dari http://www.copyblogger.com/how-to-read/) mengemukakan bahwa
“Superficial reading is just that you simply read. You don’t ponder, and you don’t
stop to look things up. If you don’t get something, you don’t worry about it”. Pada jenis membaca ini tidak diperlukan pemahaman yang mendalam dan tidak dipermasalahkan apabila pembaca tidak mendapatkan sesuatu, karena membaca jenis ini biasanya digunakan untuk membaca teks bacaan yang tergolong ringan, seperti membaca komik, cerpen, dan majalah.
3. Membaca Intensif
Membaca intensif atau intensive reading adalah melakukan kegiatan membaca yang dilakukan secara saksama. “Intensif reading involves learners reading in detail with specific learning aims and tasks” (Tanpa nama, 2008, [online] diakses dari https://www.teachingenglish.org.uk/article/intensive-reading ). Dalam hal ini kegiatan membaca intensif melibatkan peserta didik untuk membaca secara detail dan spesifik mengenai teks bacaan. Selain itu membaca intensif merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan dan mengasah kemampuan membaca siswa secara kritis. Dalam jenis membaca ini terdapat beberapa jenis membaca yang termasuk ke dalam membaca intensif, diantaranya adalah;
a) membaca teliti;
b) membaca pemahaman;
c) membaca kritis;
d) membaca ide. (Tarigan, 2008, hlm. 40)
Jenis- jenis membaca intensif di atas akan dibahas satu persatu secara terperinci.
a. Membaca Teliti
Membaca teliti adalah kegiatan membaca yang membutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi untuk menelaah teks yang sedang dibaca. Dalam membaca kritis pembaca harus bisa membaca secara seksama dan membaca ulang paragraf-paragraf untuk menemukan kalimat-kalimat dan perincian-perincian penting (Tarigan, 2008, hlm. 41). Membaca teliti bertujuan untuk memahami secara detail gagasan yang terdapat dalam teks bacaan tersebut untuk melihat organisasi penulisan atau pendekatan yang digunakan oleh si penulis. Berdasarkan hal tersebut, pembaca dituntut untuk dapat mengenal dan menghubungkan kaitan antara gagasan yang ada, baik yang terdapat pada kalimat maupun yang terdapat pada tiap paragraf.
b. Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman adalah proses pemerolehan informasi yang dilakukan oleh pembaca yang terkandung dalam bacaan. Tarigan (2008, hlm. 58) mengemukakan bahwa, “membaca pemahaman (reading for understanding) merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami standar-standar atau norma-norma kesastraan, resensi kritis, drama tulis, dan pola-pola fiksi”. Pada kegiatan membaca pemahaman setidaknya dibutuhkan dua keterampilan yaitu keterampilan visual dan kognitif. Dua keterampilan tersebut berfungsi untuk melayapi pokok-pokok kalimat dan memaknai informasi dan pesan yang terdapat dalam teks yang dibaca. Turner (dalam Somadayo, 2011, hlm. 10) juga berpendapat bahwa seseorang pembaca dikatakan memaknai bahan bacaan secara baik apabila pembaca dapat;
1) mengenal kata-kata atau kalimat yang ada dalam bacaan dan mengetahui maknanya,
2) menghubungkan makna dari pengalaman yang dimiliki dengan makna yang ada dalam bacaan,
3) memahami seluruh makna secara kontekstual, dan
4) membuat pertimbangan nilai isi bacaan berdasarkan pengalaman membaca.
c. Membaca Kritis
Membaca kritis adalah kegiatan membaca guna memahami informasi yang terdapat dalam bacaan baik secara tersurat maupun tersirat, kemudian memberikan respons dan evaluasi atas ide atau maksud dan tujuan yang disusun penulis dalam bacaan. Robinson (dalam Ahuja dan Ahuja, 2004, hlm. 164) mengemukakan bahwa, “ membaca kritis membaca yang melibatkan penilaian kritis atas ketelitian, kevalidan, kebenaran, atau nilai dari apa yang dibaca, berdasarkan kriteria atau standar mapan yang dikembangkan melalui pengalaman sebelumnya”. Dalam membaca kritis pada umumnya menuntut para pembaca untuk memahami maksud penulis, berpikir kritis, memberikan respon dan evaluasi terhadap bacaan.
d. Membaca Ide
Membaca ide adalah sejenis kegiatan membaca yang bertujuan untuk mencari, memperoleh serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat dalam bacaan.
Sebagai pembaca yang baik kita harus sadar bahwa sepanjang kehidupan banyak sekali terdapat ide-ide yang dituangkan dalam teks bacaan. Dalam membaca ide agar pembaca dapat mencari, menemukan, serta menemukan manfaat dari ide-ide yang terkandung dalam bacaan, pembaca harus menjadi pembaca yang baik.
C. Pengertian, Prinsip-prinsip dan Prosedur Pembelajaran Membaca Pemahaman
1. Pengertian Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman bisa diartikan sebagai kegiatan membaca untuk mendapatkan informasi secara mendalam. Dalam kaitannya dengan membaca pemahaman Rubin (dalam Somadayo, 2011, hlm. 7) mengatakan bahwa
“membaca pemahaman adalah proses intelektual yang kompleks yang mencakup dua kemampuan utama yaitu penguasaan makna kata dan kemampuan berpikir tentang konsep verbal”. Pendapat tersebut menekankan aktivitas membaca yakni, pembaca secara aktif merespon makna yang ingin disampaikan oleh penulis melalui teks bacaannya.
Sejalan dengan pengertian di atas Abidin (2012, hlm. 59) mengatakan bahwa “ membaca pemahaman merupakan istilah yang digunakan untuk kegiatan membaca yang bertujuan untuk beroleh informasi yang terkandung dalam teks bacaan”. Dalam membaca pemahaman melibatkan dua keterampilan dasar membaca yakni keterampilan visual dan kognitif. Keterampilan visual adalah keterampilan yang dimiliki pembaca untuk menguraikan (decoding) teks bacaan dan, keterampilan kognitif untuk memahami apa yang penulis sampaikan melalui teks. (Abidin, 2012)
2. Prinsip-prinsip Pembelajaran Membaca Pemahaman
Agar tidak salah dalam melakukan kegiatan pembelajaran pemahaman, seorang guru harus memahami prinsip pembelajaran membaca. Hal tersebut perlu dilakukan agar hasil yang diperoleh selama proses pembelajaran sesuai dengan harapan. Dalam hal ini terdapat prinsip-prinsip dasar dalam mendesain
pembelajaran membaca pemahaman. Brown (dalam Abidin, 2012, hlm. 61) menjelaskan prinsip-prinsip yang perlu dipahami oleh guru adalah sebagai berikut.
a. Tidak mengabaikan pentingnya merumuskan tujuan pembelajaran membaca secara spesifik.
b. Menggunakan teknik/strategi pembelajaran membaca yang membangun motivasi
c. Perhatikan keaslian dan keterbacaan wacana yang dipilih d. Menggunakan strategi yang tepat untuk setiap bacaan
e. Menggunakan model membaca interaktif selama proses pembelajaran
f. Gunakan prinsip strategi membaca membaca pemahaman berikut dalam proses pembelajaran.
1) Mengidentifikasi tujuan membaca (indentify the purpose in reading).
2) Gunakan pola dan aturan grafemis untuk membantu menguraikan bacaan secara bottom-up.
3) Menggunakan tehnik membaca efisien (use efficient silent reading technique) 4) Menggunakan strategi membaca layap untuk menemukan ide-ide pokok (skim
the text for main ideas).
5) Memindai bacaan untuk menemukan informasi secara spesifik ( scan the text for specific information).
6) Gunakan peta konsep (use semantic mapping). (Brown, 2000, hlm 306) Berdasarkan penjelasan di atas perlu kita ketahui dan pahami prinsip- prinsip serta strategi dalam melaksanakan pembelajaran membaca pemahaman, agar hasil yang diperoleh sesuai dengan apa yang kita harapkan. Hal tersebut dilakukan untuk mengatasi tingkat kemampuan membaca siswa yang berbeda- beda.
3. Prosedur Pembelajaran Membaca Pemahaman
Dalam kegiatan pembelajaran membaca pemahaman terdapat prosedur umum yang dilakukan selama kegiatan tersebut berlangsung. Prosedur umum tersebut terdiri dari tiga tahapan, yakni tahap prabaca, tahap membaca, dan tahap pasca baca. Berikut ini Hadley (dalam Abidin, 2010 hlm. 133) secara garis besar menjelaskan tahapan-tahapan membaca sebagai berikut.
a. Tahap prabaca, yaitu tahapan yang dilakukan siswa sebelum membaca.
b. Tahap membaca, yaitu tahapan yang dilakukan siswa saat membaca.
c. Tahap pascabaca, yaitu tahapan yang dilakukan setelah melakukan kegiatan membaca
Pada tahap prabaca, kegiatan yang dilakukan siswa antara lain, melakukan curah pendapat, mempelajari berbagai visualisasi dalam teks, dan membuat prediksi atas isi bacaan. Pada tahap membaca siswa menggunakan teknik membaca memindai (scanning) dan membaca layap (skimming). Tahapan ini dilakukan siswa dengan tujuan untuk menemukan informasi yang diinginkan secara spesifik dan mencari ide-ide pokok bacaan. Pada tahap terakhir yaitu tahap pascabaca, siswa membuktikan pemahaman yang ia peroleh dari hasil membaca yang telah dilakukan. Pada tahapan ini siswa melakukan kegiatan integrasi membaca dengan keterampilan berbahasa yang lain, seperti menulis rangkuman dan menceritakan kembali baik secara lisan maupun tulisan. (Abidin, 2012, hlm.
65)
D. Metode Membaca SQ3R
1. Pengertian Metode Membaca SQ3R
SQ3R singkatan dari Survey, Question, Read, Recite and Review merupakan metode yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca pemahaman dan mempertahankannya dalam waku yang lama. SQ3R dicetuskan oleh Francis P. Robinson pada tahun 1941. Riadi (2013, [online]
diakses dari http://www.kajianpustaka.com/2013/04/strategi-belajar-sq3r.html) mengatakan “ SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) merupakan penimbul pertanyaan dan tanya jawab yang dapat mendorong pembaca teks melakukan pengolahan materi secara mendalam dan luas”. Metode pembelajaran ini terdiri atas lima langkah yakni, survey, question, read, recite, dan, review yang sangat cocok untuk digunakan sebagai metode membaca bahan bacaan ilmu-ilmu sosial.
2. Tujuan Metode SQ3R
Metode yang terdiri dari lima tahap ini mendorong pembaca untuk mengolah materi secara mendalam dan luas serta mempertahan pemahaman yang
diperoleh dalam jangka waktu yang lebih lama. Abidin (2012, hlm. 107) mengatakan bahwa
SQ3R adalah metode pembelajaran membaca yang terdiri atas lima langkah yakni survey, question, read, recite, dan review yang sangat tepat digunakan sebagai metode membaca bahan bacaan ilmu-ilmu sosial.
Tujuan utama penerapan metode ini adalah untuk meningkatkan pemahaman atas isi bacaan, dan mempertahankan pemahaman tersebut dalam waktu yang lebih panjang.
3. Tahapan Metode SQ3R
Berdasarkan penjelasan yang telah peneliti jelaskan tadi, metode SQ3R yang memiliki lima tahapan tersebut dapat dikelompokan ke dalam tahapan- tahapan dalam kegiatan membaca. Tahapan tersebut antara lain, tahap prabaca; (1) siswa melakukan survey untuk meneliti judul, paragraf terakhir, (2) menggunakan informasi yang diperoleh untuk menyusun pertanyaan; tahap membaca (3) melakukan aktivitas membaca lompat, membaca layap, dan membaca fleksibel, (4) menyusun ringkasan isi bacaan berdasarkan jawaban yang dibuatnya dengan bahasa sendiri; tahap pascabaca; (5) melihat kembali bahan bacaan dan membandingkan tulisannya dengan bahan bacaan sebenarnya. (Abidin, 2011, hlm.
108)
4. Penerapan Metode SQ3R dalam Pembelajaran Membaca Pemahaman Pada pembahasan di atas sudah dijelaskan langkah-langkah menggunakan metode SQ3R. Adapun langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:
a. Guru membagikan teks bacaan yang akan dibaca siswa
b. Siswa diberikan waktu 10 menit untuk melakukan survey terhadap teks yang akan dibacanya dengan arahan dari guru
c. Siswa membuat pertanyaan (question) berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan
d. Setelah siswa menyusun pertanyaan, siswa mulai melakukan kegiatan membaca (read) untuk menemukan informasi
e. Setelah kegitan membaca selesai guru melakukan tanya jawab dengan siswa f. Guru membagikan lemabar essay pada para siswa
g. Siswa membuat ringkasan (recite) pada lembaran yang telah disediakan oleh guru
h. Guru memberikan penilaian pada ringkasan yang dibuat siswa
i. Siswa melakukan review hasil ringkasan dengan teks sebenarnya kemudian memperbaikinya.
E. Metode Membaca Kritis
1. Pengertian Metode Membaca Kritis
Membaca kritis adalah kegiatan membaca yang dilakukan guna memberikan respons atas ide-ide yang dituangkan pengarang dalam teks yang ditulisnya (Abidin, 2012, hlm. 101). Berbeda dengan Abidin, Ahuja dan Ahuja (2004, hlm. 163) mengemukakan bahwa “membaca kritis adalah selangkah lebih jauh dan berhubungan dengan memaknai apa yang diluarnya, yang tersurat dan tersirat”. Berdasarkan pengertian tersebut, metode membaca kritis adalah serangkaian upaya yang dilakukan pembaca guna mampu memahami makna tersurat dan tersirat yang terkandung dalam sebuah bacaan untuk selanjutnya mampu memberikan respon evaluasi atas makna dan ide yang disusun penulis dalam teksnya tersebut.
2. Tujuan Metode Membaca Kritis
Membaca kritis adalah metode pembelajaran membaca yang terdiri atas tiga tahapan, yakni membaca baris, membaca antar baris, dan membaca di belakang baris. Membaca baris artinya pembaca harus memahami segala sesuatu yang dikatakan penulis. Artinya pembaca harus mampu memahami isi bacaan secara menyeluruh. Membaca antar baris artinya pembaca harus mampu memahami maksud penulis yang yang tercermin dalam wacana yang ditulisnya.
Membaca di balik baris artinya pembaca harus mampu menggambarkan generalisasi isi bacaan dan mampu membuat evaluasi atas isi bacaan tersebut berdasarkan skemata yang dimilikinya. Tujuan metode ini adalah untuk membekali siswa kemampuan (1) memahami makna yang terkandung dalam bacaan, (2) merespons secara aktif sis bacaan, dan (3) mengevaluasi isi bacaan.
(Abidin, 2010, hlm. 160)
3. Tahapan Metode Membaca Kritis
Secara umum dengan menggunakan metode membaca kritis dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut. Tahap prabaca; (1) mempersiapkan bahan bacaan, (2) guru mendemonstrasikan kemampuannya membaca kritis, (3) siswa menyusun hipotesis; tahap prabaca (4) siswa membaca baris, (5) siswa membaca antar baris, (6) siswa membaca di balik baris; tahap pascabaca (7) siswa membuktikan hipotesis, (8) siswa menulis kreatif (Abidin, 2012, hlm. 103)
4. Penerapan Metode Membaca Kritis dalam Pembelajaran Membaca Pemahaman
Adapun langkah-langkah pembelajaran membaca kritis dalam pembelajaran di kelas V SD adalah sebagai berikut:
a. Guru memperkenalkan teks bacaan kepada siswa.
b. Guru mendemonstrasikan kemampuan membaca kritisnya dan memberikan generalisasi terhadap teks bacaan.
c. Siswa menyusun hipotesis mengenai teks yang akan dibacanya.
d. Siswa melakukan kegiatan membaca, yaitu membaca baris untuk mengumpulkan sejumlah fakta yang disajikan penulis, membaca antar baris untuk mengetahui maksud dan tujuan teks yang dibuat penulis, dan membaca dibalik baris untuk melakukan evaluasi terhadap teks bacaan, serta mencari beberapa kelemahan opini penulis.
e. Siswa membuktikan hipotesis yang telah dibuat.
f. Guru membagikan lembar essay kepada para siswa g. Siswa membuat ringkasan teks bacaan yang telah dibaca
E. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir dalam penelitian ini berawal dari hasil observasi yang dilakukan peneliti terhadap kemampuan membaca pemahaman pada siswa kelas V SD Negeri 3 Cibenda, Kecamatan Parigi. Berdasarkan hasil pengamatan kemampuan membaca pemahaman siswa masih rendah. Ditinjau dari karakteristik permasalahan yang terdapat pada siswa ini adalah siswa kesulitan menemukan ide pokok paragraf, siswa kesulitan menentukan tema teks bacaan, dan siswa kesulitan dalam menceritakan kembali teks bacaan dengan benar. Dari permasalahan tersebut penulis mencoba menggunakan metode SQ3R dan metode membca kritis untuk mengatasi kekurangan-kekurangan siswa dalam membaca pemahaman. Metode SQ3R merupakan metode membaca pemahaman untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap teks bacaan, serta mempertahankannya dalam waktu yang lama, sedangkan membaca kritis adalah metode membaca pemahaman untuk mengetahui makna tersurat dan tersirat yang terkandung dalam teks bacaan.
Berdasarkan permasalahan dan solusi di atas, terdapat keterkaitan dari permasalahan mengenai kurangnya kemapuan siswa dalam membaca pemahaman dan siswa kesulitan menemukan ide pokok paragraf, dengan solusi berupa metode SQ3R dan metode membaca kritsi. pembelajaran SQ3R diawali dengan siswa melakukan survey terhadap teks yang akan dibaca, baik dari paragraf pertama,
Fakta
-Kemampuan membaca pemahaman kelas V SD Cibenda 3 dan Cibenda 4 masih rendah
Penyebab
-Siswa kesulitan mengingat kembali teks yang telah dibacanya
Tujuan
-Meningkatkan pemahaman isi atas isi bacaan dan mempertahankannya dalam waktu yang lama.
Hasil yang Diharapkan
-Siswa mampu menceritakan kembali teks yang dibacanya
Latar Belakang -membaca merupakan hal yang penting
paragraf terakhir, maupun gambar yang terdapat pada teks (jika ada), kemudian dilanjutkan dengan membuat pertanyaan sendiri agar kegiatan membaca siswa lebih terarah.
Pada metode membaca kritis, pembelajaran diawali dengan siswa membuat hipotesis berdasarkan wacana yang dikenalkan guru, kemudian siswa melakukan kegiatan membaca baris, membaca antar baris, dan membaca di balik baris untuk memahami pesan tersurat dan tersirat dalam teks bacaan. Selanjutnya siswa membuktikan hipotesis dan siswa menceritakan kembali teks dalam bentuk tulisan. Untuk itu peneliti akan membandingkan metode manakah yang baik dan cocok digunakan di SD yang akan diteliti.
F. Penelitian yang Relevan
Terdapat beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini, diantaranya:
Penelitian yang ditulis oleh Ilar Gumilar dengan judul penelitan, yaitu
“Strategi SQ3R untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas V SDN Cijember Babakan Losan Kecamatan Sukanagara Kabupaten Cianjur”. Beliau mengemukakan bahwa Strategi SQ3R dapat meningkatkan minat membaca siswa dan meningkatkan tingkat pemahamannya.
Penelitian yang ditulis Ila Hayati dengan judul penelitian, yaitu “ Metode SQ3R dalam Pembelajaran Membaca Pemahaman di Kelas V SDN Cileunyi 3 Kabupaten Bandung. Beliau mengemukakan bahwa metode SQ3R berhasil meningkatkan kualitas membaca anak serta pemahamannya.
Penelitian yang ditulis oleh Rohmatul Jannah dengan judul penelitian “ Hubungan Kemampuan Membaca Kritis dengan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Siswa kelas IV SDN Pluit Pagi Jakarta Utara”. Beliau mengemukakan bahwa terdapat hubungan antara kemampuan membaca kritis dengan hasil belajar IPS siswa.
G. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan pemaparan sebelumnya, perumusan hipotesis penelitian yang dirumuskan dalam penelitan ini adalah terdapat perbedaan kemampuan membaca
pemahaman siswa menggunakan metode SQ3R dengan metode Membaca Kritis.
Hipotesis selengkapnya sebagai berikut:
HO: tidak terdapat perbedaan kemampuan membaca pemahaman siswa menggunakan metode SQ3R dengan metode Membaca Kritis.
HA: terdapat perbedaan kemampuan membaca pemahaman siswa menggunakan metode SQ3R dengan metode Membaca Kritis.
Bentuk hipotesis statistiknya sebagai berikut:
1) HO : µ1 = µ2 2) HA : µ1 ≠ µ2
Kriteria pengambilan keputusan berdasarkan signifikansi yaitu:
1) Jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, maka HO diterima.
2) Jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka HO ditolak.
25 BAB III
METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian
Desain penelitian yang peneliti pilih adalah metode penelitian kuasi eksperimental atau quasi eksperimental design. Karena peneliti kesulitan dalam menentukan kelas eksperimen dan kontrol secara random, sehingga pada penelitian ini, sampel yang digunakan tidak diperoleh melalui teknik sampling random (random assignment). Abidin (2011, hlm. 120) mengemukakan bahwa
“Penelitian kuasi eksperimental melibatkan dua kelompok sampel, yang satu sebagai kelompok control dan yang satu sebagai kelompok eksperimen.
Perbedaanya dengan eksperimen kuat adalah bahwa dalam penelitian kuasi eksperimen tidak digunakan sampling random (random assignment).”
Penelitian kuasi eksperimen ini menggunakan jenis pretest-posttest design.
Desain tersebut dipilih agar dapat mengetahui kemampuan siswa sebelum diberikan perlakuan dan sesudah diberikan perlakuan. Desain ini memberikan tes sebelum dan sesudah treatment atau pemberian perlakuan pada suatu kelompok.
Perlakuan diberikan kepada siswa setelah masing-masing kelas diberi pretest kemudian pada kelas eksperimen dan kontrol diberikan perlakuan. Pada tahap akhir kelas tersebut di tes kembali dan hasilnya dibandingkan. Desain pretes- postes yang peneliti lakukan menurut (Abidin, 2011 hlm.121) adalah sebagai berikut.
Kelas Eksperimen 01 X1 02
Kelas Kontrol 03 X2 04
Keterangan :
01 : uji pretes pada kelompok eksperimen 02 : uji postes pada kelompok eksperimen 03 : uji pretes pada kelompok kontrol 04 : uji postes pada kelompok kontrol
X1 : perlakuan pada kelompok eksperimen dengan menggunakan metode membaca SQ3R
X2 : perlakuan pada kelompok kontrol dengan menggunakan metode membaca kritis
Pada penelitian ini terdapat dua kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sebelum memberikan perlakuan (treatment), peneliti terlebih dahulu melakukan pretest. Hal ini dilakukan supaya peneliti mengetahui kemampuan awal siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol sebelum diberikan treatment.
Setelah melakukan pretest barulah tiap kelas mendapatkan treatment. Perlakuan yang peneliti berikan pada Kelas eksperimen berupa pembelajaran membaca pemahaman menggunakan metode SQ3R, sedangkan perlakuan pada kelas kontrol berupa pembelajaran membaca pemahaman menggunakan metode membaca kritis. Setelah kedua kelas tersebut mendapatkan perlakuan, selanjutnya kedua kelas tersebut diberikan uji akhir berupa postes kemudian hasilnya dibandingkan.
B. Populasi dan Sampel
Populasi adalah segala hal yang memiliki karakteristik tertentu yang dijadikan objek penelitian untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya.
Seperti yang diungkapkan oleh Abidin (2011, hlm. 102), “Populasi merupakan seluruh elemen, atau unit analisis yang memiliki karakteristik tertentu yang dijadikan objek penelitian”. Sedangkan sampel adalah bagian yang dimiliki dari populasi baik jumlah maupun karakteristik yang dimiliki populasi. Dalam penelitian apabila populasinya besar tidak semua populasi dijadikan sampel penelitian, karena adanya keterbatasan dari peneliti, seperi waktu, tenaga, dan modal. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 5 SD Kec. Parigi Pangandaran tahun ajaran 2014/2015. Adapun sampel yang dijadikan penelitian adalah siswa kelas 5 SD N Cibenda 3 dan siswa kelas 5 SD N Cibenda 4 dengan jumlah siswa setiap sekolah adalah 15 orang dan 20 orang.
C. Definisi Operasional
Definisi Operasional pada penelitian ini adalah pengertian dari kemampuan membaca pemahaman, metode SQ3R, dan metode Membaca Kritis.
Kemampuan membaca pemahaman pada penelitian ini adalah kemampuan siswa untuk mengetahui garis besar bahan bacaan, membuat pertanyaan mengenai bahan bacaan, dan membuat ringkasan sesuai bacaan dengan bahasa sendiri.
Kemampuan membaca pemahaman diukur berdasarkan indikator (1) Ketepatan
siswa dalam mengetahui garis besar bacaan, (2) Ketepatan siswa dalam menyusun pertanyaan bacaan, (3) kerapihan tulisan, (4) kesesuaian menyusun ringkasan materi. Kemampuan tersebut diukur dengan menggunakan skoring rubric dengan rentang 1 sampai 4.
Metode SQ3R dalam penelitian ini adalah suatu metode membaca pemahaman yang terdiri dari tahap prabaca, membaca, dan pascabaca. Tahapan prabaca terdiri dari survey dan question. Pada tahap ini siswa melakukan survey terhadap bacaan yang akan dibaca, siswa menyusun pertanyaan berdasarkan hasil survey. Pada tahap membaca siswa membaca (read) teks secara intensif dan membaca teks secara fleksibel. Pada tahap pascabaca siswa menyusun ringkasan isi bacaan (recite), dan melihat kembali bahan bacaan serta membandingkan hasil tulisan dengan bacaan yang sebenarnya (review).
Sedangkan metode Membaca Kritis adalah metode membaca pemahaman yang terdiri dari prabaca, membaca, dan pascabaca. Tahapan prabaca terdiri dari t guru mempersiapkan bahan bacaan dan memperkenalkan kepada para siswa, guru mendemonstrasikan kemampuannya membaca kritis dengan memberikan generalisasi terhadap isi bacaan, dan siswa menyusun hipotesis terhadap wacana yang diperkenalkan guru. Pada tahap membaca, siswa membaca baris untuk mengumpulkan sejumlah fakta yang disajikan penulis. Pada tahap membaca antar baris siswa harus mampu merumuskan apa yang dimaksud penulis dalam teks yang ditulisnya. Pada tahap membaca dibalik baris siswa mencoba memberikan evaluasi atas ide penulis dan mencari beberapa kelemahan opini penulis. Pada tahap terakhir yaitu tahap pascabaca siswa membuktikan hipotesis kemudian siswa membuat ringkasan teks yang telah dibacanya.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah menggunakan instrument respons produk. Instrumen tersebut merupakan instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data berdasarkan produk yang dihasilkan oleh siswa. Abidin (2011, hlm. 91) mengatakan bahwa “ Instrumen respons produk adalah instrument yang digunakan untuk menjaring data berupa penilaian yang dihasilkan siswa setelah selesai sebuah proses tertentu”.
Penggunaan intrumen ini sebagai alat pengumpul data cenderung lebih mudah
dibandingkan dengan instrument peforma dan proses. Peneliti tinggal melakukan pengamatan secara teliti pada produk yang dihasilkan siswa yang akan dinilai dengan skoring rubrik yang telah disediakan. Produk yang dihasilkan siswa berupa tulisan, maka format yang dibutuhkan dalam menyusun instrument penilaian tersebut adalah format penilaian untuk menilai hasil tulisan. Respon produk yang dihasilkan siswa dinilai dengan menggunakan acuan penilaian skoring rubrik dengan penjabaran sebagai berikut.
Tabel 3.1
Format Penilaian Menceritakan Kembali Isi Bacaan
No Nama Total
Skor
Nilai Isi
Tulisan
Organisasi Bahasa Teknik Penulisan 1
2 3
Tabel 3.2
Rubrik Penilaian Isi Tulisan
Sub Indikator Deskriptor Skor
1. Logis dan lengkap Isi tulisan sesuai dengan teks bacaan dan lengkap
4
2. Logis dan kurang lengkap
Isi tulisan sesuai dengan teks bacaan namun ada 1-3 ide pokok paragraf yang terlewewat
3
3. Kurang logis dan kurang lengkap
Terdapat beberapa kalimat yang tidak ada hubungannya dengan teks bacaan dan ada 1-5 ide pokok paragraf yang terlewat
2
4. Kurang logis dan tidak lengkap
Terdapat beberapa kalimat yang tidak ada hubungannya dengan teks bacaan dan ada lebih dari 5 ide pokok paragraf yang terlewat
1