Safruddin, S.Kep, Ns, M.Kep Aszrul AB, S.Kep, Ns, M.Kes Dr. A. Suswani M, S.Kep, Ns, M.Kes
Asri, S.Kep, Ns, M.Kep Haerati, S.Kep, Ns, M.Kes
PEDOMAN PRAKTEK PROFESI KEPERAWATAN KOMUNITAS DAN
KELUARGA
Editor :
Edison Siringoringo, S.Kep,Ns., M.Kep
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT (LP2M)
STIKES PANRITA HUSADA BULUKUMBA
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002, tentang Hak Cipta PASAL 2
(1) Hak cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku.
PASAL 72
(1) Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan (2) dipidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan,
mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau
barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
PEDOMAN PRAKTEK PROFESI
KOMPETENSI KOMUNITAS DAN KELUARGA
Penulis:
Safruddin, S.Kep, Ns, M.Kep Aszrul AB, S.Kep, Ns, M.Kes Dr. A. Suswani M, S.Kep, Ns, M.Kes
Asri, S.Kep, Ns, M.Kep Haerati, S.Kep, Ns, M.Kes
Kontributor:
Dr. Muriyati, S.Kep., M.Kes Dr. Asnidar, S.Kep., Ns, M.Kes
Editor:
Edison Siringoringo, S.Kep., Ns., M.Kep Desain Sampul:
Muh. Asri, S.Kep., Ns ISBN: 9786239632700
Diterbitkan oleh:
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Stikes Panrita Husada Bulukumba
Jl. Pendidikan Pappae Taccorong Kec.Gantarang Kab.Bulukumba Kode Pos: 92561 Telp : 0413-2514721, Hp : 085242199519
Nopember 2020
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan karunianya tim penulis dapat menyelesaikan buku “Pedoman Praktik Profesi Ners Keperawatan Komunitas dan Keluarga ” ini sesuai dengan harapan.
Buku pedoman praktik profesi Ners Keperawatan Komunitas merupakan salah satu buku pegangan yang wajib dimiliki Program Studi profesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba untuk menjadi pedoman dalam melaksanakan praktik profesi Ners keperawatan dan komunitas keluarga.
Buku ini memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang kompetensi yang harus dicapai dan bentuk kegiatan serta pedoman pedoman kegiatan melaksanakan kegiatan praktik profesi ners keperawatan keluarga dan komunitas.
Buku ini dapat diselesaikan dengan baik atas kerjasama dosen bagian Departemen Keperawatan Komunitas, Program Studi profesi Ners Stikes Panrita Husada Bulukumba.
Untuk itu, limpahan terimakasih kami ucapkan kepada para tim komunitas, kiranya karya ini dapat menjadi amal bakti yang memberi kebaikan dalam hidup.
Akhirnya semoga buku pedoman praktik ini bermanfaat bagi para mahsiswa Ners.
Kritik dan saran kami harapkan demi kesempurnaan penulisan pedoman ini selanjutnya.
Bulukumba, Februari 2021 Penulis
Tim Keperawatan Komunitas dan Keluarga
DAFTAR ISI
SAMPUL ... i
KATA PENGANTAR... ii
VISI DAN MISI ... iii
DAFTAR ISI... v
KOMPETENSI KEPERAWATAN KOMUNITAS BAB I PENDAHULUAN A. Deskripsi Mata Ajar Keperawatan Komunitas…... 1
B. Tujuan... 1
C. Kompetensi ... 2
BAB II KONSEP DAN TEORI KEPERAWATAN KOMUNITAS A. Konsep Keperawatan Komunitas ... 4
B. Teori dan Model Keperawatan ... 21
C. Model Community As Parner... 31
D. Konsep Covid 19 ... 38
BAB III PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN A. Pembekalan... 47
B. Pelaksanaan... 47
C. Tata Tertib ... 49
BAB IV PROSES PELAKSANAAN PRAKTEK A. Proses Kegiatan Mahasiswa... 51
B. POA... 52
BAB V EVALUASI A. Proses Evaluasi... 53
B. Format Evaluasi... 54
BAB VI PENUTUP... 59
KOMPETENSI KEPERAWATAN KELUARGA BAB VII DESKRIPSI MATA AJAR ………. 62
BAB VIII KONSEP DAN TEORI KEPERAWATAN A. Pendahuluan ... 64
B. Teori dan Model Keperawatan ... 66
C. Konsep Keperawatan Keluarga... 76
BAB IX KOMPETENSI DAN TUJUAN A. Tujuan Pembelajaran... 93
B. Standar Kompetensi... 95
BAB X KEGIATAN PEMBELAJARAN PRAKTEK A. Metode Pembelajaran Praktek... 97
B. Strategi Pembelajaran Praktek... 97
C. Model Pembelajaran Praktek... 98
D. Tugas Pembimbing Praktek... 98
BAB V EVALUASI A. Komponen Evaluasi... 99
B. Ketentuan Evaluasi... 99
BAB VI PERATURAN PROGRAM PROFESI NERS A. Ketentuan Seragam... 101
B. Ketentuan Umum... 101
C. Ketentuan Khusus... 102
BAB VII PENUTUP ……… 103 Daftar Pustaka
Lampiran
BAB I PENDAHULUAN A. Deskripsi mata Ajar
Mata Ajar Keperawatan Komunitas termasuk dalam cabang ilmu keperawatan komunitas dengan sifat mata ajar adalah kuliah keahlian (MKK tahap profesi). Praktik profesi mata ajar keperawatan komunitas memiliki beban studi 3 SKS
Praktek profesi komunitas merupakan tahapan program yang menghantarkan mahasiswa dalam adaptasi profesi untuk menerima pendelegasian kewenangan secara bertahap dalam melakukan asuhan keperawatan untuk pencegahan primer, sekunder dan tersiar kepada individu, keluarga, kelompok, dan komunitas dengan masalah kesehatan yang bersifat actual, risiko dan potensial, menjalankan fungsi advocasi, membuat keputusan legal dan etik serta menggunakan hasil penelitian terkini terkait dengan keperawatan keluarga dan komunitas. Praktek profesi keperawatan keluarga dan komunitas berfokus pada kebijakan dan program pemerintah tentang kesehatan masyarakat, pemberdayaan keluarga dan masyarakat melalui kerjasama dengan lintas program dan sector
Praktek profesi ners ini akan memfasilitasi dan memberikan pedoman dan acuan kepada mahasiswa dalam rangka menerapkan teori yang telah dipelajari khususnya kompetensi Komunitas. Asuhan keperawatan komunitas akan diterapkan di desa yang merupakan wilayah kerja dan tanggung jawab puskesmas. Pendekatan program yang digunakan dalam praktek kompetensi komunitas adalah Program Pemerintah dalam pencegahan penularan corona virus disease (COVID 19) dimana mahasiswa sebagai relawan dalam upaya pencegahan penularan dan mengedukasi masyarakat dalam upaya penanggulangan COVID 19
B. Tujuan
Setelah menyelesaikan praktek profesi keperawatan komunitas selama 5 minggu mahasiswa mampu menjadi relawan Covid 19 dan memberikan asuhan keperawatan komunitas sesuai dengan konsep dan teori keperawatan
komunitas secara komprehensif yang dilandasi oleh sikap profesionalisme yang tinggi dengan pendekatan pencegahan penularan COVID 19
C. Kompetensi
Setelah menyelesaikan praktik profesi mata ajar keperawatan komunitas, mahasiswa memiliki kompetensi sebagai berikut :
1. Melakukan komunikasi yang efektif dalam pemberian asuhan keperawatan pada individu, keluarga, kelompok dan komunitas
2. Menggunakan keterampilan interpersonal yang efektif dalam kerja tim 3. Menggunakan teknologi dan informasi kesehatan secara efektif dan
bertanggung jawab
4. Menggunakan proses keperawatan dalam menyelesaikan masalah- masalah yang terkait dengan individu, keluarga, kelompok dan komunitas 5. Bekerjasa dengan unsur terkait di masyarakat dalam menerapkan asuhan
keperawatan komunitas
6. Menggunakan langkah-langkah pengambilan keputusan etis dan legal 7. Memberikan asuhan peka budaya dengan menghargai etnik, agama atau
factor lain dari setiap individu, keluarga, kelompok dan komunitas klien yang unik
8. Mengkolaborasi berbagai aspek dalam pemenuhan kebutuhan kesehatan secara individu, keluarga, kelompok dan komunitas
9. Mendemonstrasikan keterampilan teknis keperawatan yang sesuai dengan standar yang berlaku atau secara kreatif dan inovatif agar pelayanan yang diberikan efisien dan efektif
10. Mengembangkan program yang kreatif dan inovatif dalam tatanan komunitas dalam aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative melalui pemberdayaan masyarakat
11. Mengembangkan pola piker kritis, logis dan etis dalam mengembangkan asuhan keperawatan keluarga dan komunitas
12. Memberikan asuhan yang berkualitas secara holistic, kontinyu, dan konsisten
13. Menjalankan fungsi advokasi untuk mempertahankan hak individu, keluarga, masyarakat dan komunitas agar dapat mengambil keputusan
14. Mempertahankan lingkungan yang aman secara konsisten melalui penggunaan strategi manajemen kualiats dan manajemen resiko
15. Memberikan dukungan kepada tim asuhan dengan mempertahankan akontabilitas asuhan yang diberikan
16. Mewujudkan lingkungan kerja yang kondusif
17. Mengembangkan potensi diri untuk meningkatkan kemampuan professional
18. Berkontribusi dalam mengembangkan profesi keperawatan
19. Menggunakan hasil penelitian untuk diterapkan dalam pemberian asuhan keperawatan
20. Mampu melaksanakan terapi modalitas/komplementeri sesuai dengan kebutuhan klien
BAB II
KONSEP DAN TEORI KEPERAWATAN KOMUNITAS
A. Konsep Keperawatan Komunitas
Komunitas adalah komponen penting dari pengalaman manusia sebagai bagian dari pengalaman yang saling terkait dengan keluarga, rumah, serta berbagai ragam budaya dan agama (Ervin, 2002).
Keperawatan kesehatan komunitas adalah area pelayanan keperawatan professional yang diberikan secara holistic ( bio- psiko-sosio-spiritual) dan difokuskan pada kelompok risiko tinggi yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan melalui upaya promotif, preventif, tanpa mengabaikan kuratif dan rehabilitative dengan melibatkan komunitas sebagai mitra dalam menyelesaika masalah (Hithcock, Scubert & Thomasy, 1999 ; Allender & Spradley, 2001, Stanhope & Lancaster, 2016 )
Praktek keperawatan komunitas adalah sintetis praktik keperawatan dan praktik kesehatan masyarakat, diaplikasikan dalam peningkatan dan pemeliharaan kesehatan masyarakat ( populasi), menggunakan ilmu yang berasal dari keperawatan, sosial, dan kesehatan masyarakat (Stanhope & Lancaster, 2016). Lingkup praktek keperawatan komunitas adalah generalis dan spesialis. Praktik keperawatan generalis bertujuan memberikan asuhan keperawatan komunitas dasar (basic community) dengan sasaran individu, keluarga, dan kelompok untuk beberappa aspek keterampilan dasar (beginning skill). Sedangkan praktik keperawatan spesialis lanjut (advanced nursing community) dengan sasaran kelompok (agregat) dan masyarakat serta masalah individu dan keluarga yang kompleks.
1. Tujuan Keperawatan Komunitas
Tujuan keperawatan komunitas adalah mempertahankan system klien dalam keadaan stabil melalui upaya prevensi primer, sekunder, dan tersier (pacala, 2007; Wallace, dalam Allender; rector ; & Warner, 2014). Adapun penjelasan mengenai upaya prevensi tersebut adalah sebagai berikut :
a. Prevensi Primer
Prevensi Primer ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat yang sehat. Bentuk tindakan
keperawatan yang dapat dilakukan adalah promosi kesehatan dan perlindungan spesifik agar terhindar dari masalah/ penyakit.
Contohnya adalah memberikan imunisasi pada balita, pemberian vaksin, serta promosi kesehatan tentang perilaku hidup bersih dan sehat.
b. Prevensi Sekunder
Prevensi sekunder ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat yang berisiko mengalami masalah kesehatan. Bentuk intervensi yang dapat dilakukan adalah pelayanan/ asuhan keperawatan mencakup identifikasi masyarakat atau kelompok yang berisiko mengalami masalah kesehatan, melakukan penanggulangan masalah kesehatan secara tepat dan cepat, upaya penemuan penyakit sejak awal 9skrining kesehatan), pemeriksaan kesehatan berkala, serta melakukan rujukan terhadap masyarakat yang memerlukan penatalaksnnan lebih lanjut.
c. Prevensi Tersier
Prevensi tersier ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat pada masa pemulihan setelah mengalami masalah kesehatan. Bentuk intervensi yang dapat dilakukan adalah upaya rehabilitasi pasca perawatan di fassilitas tatanan pelayanan kesehatan lain untuk mencegah ketidakmampuan, ketidakberdayaan atau kecacatan lebih lanjut.
Contoh tindakan yang di lakukan adalah melatih rentang pergerakan sendi/ range of motion (ROM) pada klien pasca stroke, atau melakukan kegiatan pemulihan ksehatan pasca bencana.
Perawat komunitas harus dapat memahami tiga upaya prevensi diatas. Untuk lebih memahami pelaksanaanya berikut penjelasan konsep keperawatan kesehatan masyarakat (perkesmas) yang ada di Indonesia.
2. Konsep Keperawatan Kesehatan Masyarakat (perkesmas) di Indonesia Keperawatan kesehatan masyarakat (perkesmas) atau Community Health Nursing (PHN). Menurut Kepmenkes No.279 Tahun 2006
tentang penyelenggaraan UKKM PKM, puskesmas adalah pelayanan keperawatan professional yang merupakan perpaduan antara ilmu keperawatan dan ilmu kesehatan masyarakat yang ditujukan pada seluruh masyarakat dengan penekanan pada kelompok risiko tinggi.
Upaya pencapaian dan peningkatan derajat kesehatan yang optimal dilakukan melalui peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) di semua tingkat pencegahan (level of prevention) dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra kerja dalam perencanaaan, pelaksanaan, dan evaluasi peyananan keperawatan.
Tujuan pelayanan perkesmas adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah keperawatan kesehatan masyarakat yang optimal. Pelayanan keperawatan diberikan secaara langsung kepada seluruah masyaraakat dalam rentang sehat-sakit dengan mempertimbangkan seberapa rumit masalah kesehatan masyarakat memengaruhi individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat. Sasaran perkesmas adalah seluruh system klien mencakup individu, keluaraga, kelompok berisko tinggi termasuk kelompok/
masyarakat di daerah kumuh, terisolasi, berkonflik, dan daerah yang tidak terjangkau pelayanan kesehatan.
Ciri- ciri dari pelayanan perkesmas menurut Hithcock, Scubert &
Thomas, (1999); Allender, Rector, & Warner, (2014); Stanhope &
Lancaster (2016) adalah;
a. Perpaduan pelayanan keperawatan dan kesehatan masyarakat b. Adanya kesinambungan pelayanan kesehatan (continuity of care) c. Fokus intervensi keperawatan pada pencegahan primer,
pencegahan sekunder dan pencegahan primer
d. Ada kemitraan perawat Perkesmas dengan klien dalam upaya kemandirian klien
e. Memerlukan kolaborasi multidisiplin dan melibatkan peran serta klien secara aktif
f. Terjadi proses alih peran dari perawat perkesmas kepada klien (individu, keluarga, kelompok, masyarakat) sehingga terjadi kemandirian.
Sasaran keperwatan kesehatan masyarakat adalah individu, keluarga, kelompok, komunitas/ masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan akibat faktor ketidaktahuan, ketidakmampuan, maupun ketidakmampuan dalam menyelesaikan masalah kesehatannya.
Ketidaktahuan merupakan suatu kondisi saat masyarakat tidak memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup mengenai masalah kesehatan dan cara penanganannya. Ketidakmampuan berhubungan dengan tidak adanya kesadaran atau sikap yang positif dari masyarakat mengenai tindakan atau aktivitas yang mendukung kesehatan. Ketidakmampuan terjadi saat masyarakat telah memiliki pengetahuan dan kesadaran namun belum mampu melakukan tindakan atau aktivitas yangmendukung kesehatan akibat kurangnya dukungan sarana. Contohnya, ibu hamil yang telah memiliki ilmu pengetahuan mengenai pemeriksaan kehamilan secara teratur dan sudah memiliki kemauan untuk memeriksakan kehamilan namun belum mampu memeriksakan kehamilan ke Puskesmas karena tidak punya uang transport.
Prioritas sasaran pelayanan keperawatan komunitas adalah komunitas yang mempunyai masalah kesehatan : 1) daerah yang belum kontak dengan sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas serta jaringannya);
2) daerah yang sudah memanfaatkan sarana pelayananan kesehatan tetapi memerlukan tindak lanjut keperawatan di rumah.
System klien sebagai sasaran Puskesmas terdiri dari : a. Sasaran individu
Individu meliputi balita gizi buruk, ibu hamil risiko tinggi, usia lanjut, penderita penyakit menular dan tidak menular antar lain TB Paru, kusta, Malaria, Demam Berdarah, Diare, ISPA/Pneumonia, dan penderita penyakit degeneratif
b. Sasaran keluarga
Sasaran keluarga adalah keluarga yang termasuk risiko (at risk);
rentang terhadap masalah kesehatan (vulnerable group) atau risiko tinggi (high risk group) dengan prioritas :
1) Keluarga miskin belum kontak dengan sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas dan jaringannya) dan belum mempunyai kartu sehat 2) Keluarga miskin sudah memanfaatkan sarana pelayann kesehatan
mempunyai masalah kesehatan terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan balita, kesehatan reproduksi, penyakit menular 3) Keluarga tidak termasuk miskin yang mempunyai masalah
kesehatan prioritas serta belum memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan atau tindak lanjut perawatan dirumah pasca rawat
c. Sasaran kelompok
Sasaran kelompok adalah kelompok masyarakat khusus yang berisiko atau rentan terhadap timbulnya masalah kesehatan baik yang terikat maupun tidak terikat dalam satu institusi. Prioritas sasaran kelompok adalah :
1) Kelompok masyarakat khusus tidak terikat dalam suatu institusi antara lain posyandu, kelompok balita, kelompok ibu hamil, kelompok usia lanjut, kelompok penderita penyakit tertentu, kelompok pekerja informal;
2) Kelompok masyarakat khusus terikat dalam suatu institusi antara lain : sekolah, pesantren, panti asuhan, panti usia lanjut, rumah tahanan, lembaga pemasyarakatan
d. Sasaran masyarakat
Sasaran masyarakat adalah masyarakat yang mempunyai risiko tinggi terhadap timbulnya masalah kesehatan, di prioritaskan pada :
1) Masyarakat disuatu wilayah (RT, RW, Kelurahan/Desa) yang mempunyai jumlah bayi meninggal lebih tinggi dibandingkan daerah lain;
2) Masyarakat didaerah endemic penyakit menular 9malaria, diare, demam berdarah, dll) masyarakat dilokasi/barak pengungsian, akibat bencana atau akibat lainnya;
3) Masyarakt didaerah dengan kondisi geografis sulit antara lain daerah terpencil atau daerah perbatasan
4) Masyarakat didaerah pemukiman baru dengan transportasi sulit seperti daerah transmigrasi.
Pelayanan perkesmas dapat diberikan secara langsung pada semua tatanan pelayanan kesehatan, yaitu
a. Unit pelayanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas, dll) yang mempunyai pelayanan keperawatan dipusat pelayanan kesehatan jiwa dan penyalahgunaan obat
b. Rumah
Perawat homecare memberikan pelayanan secara langsung pada keluarga dirumah yang menderita penyakit akut maupun kronis. Peran homecare dapat meningkatkan fungsi keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mempunyai risiko masalah Kesehatan
c. Sekolah
Perawat sekolah dapat melakukan perawatan sehari (day care) atau sesaat diberbagai institusi pendidikan (TK, SD, SMP, SMA, Perguruan tinggi) dengan sasaran siswa/i, mahasiswa/I, serta karyawan lingkup sekolah. Perawat sekolah melaksanakan program skriningkesehatan, mempertahankan kesehatan, dan pendidikan kesehatan dalam asuhan keprawatan yang holistic.
d. Tempat kerja industri
Perawat dapat melakukan kegiatan perawatan langsung dengan kasus kesakitan/kecelakaan minimal di tempat kerja/kantor, home industry, pabrik, dll. Contoh pelayanan yang dilakukan dapat berupa pemberian pendidikan kesehatan untuk keamanan dan keselamatan kerja, nutrisi seimbang, penurunan stress, olahraga, dan penanganan perokok, serta pengawasan makanan.
e. Barak kelompok penampungan
Pelayanan asuhan keperawatan di berikan kepada kelompok lansia di penampungan, gelandangan, anak jalanan, pemulung/ pengemis, kelompok penderita HIV dan WTS. Perawat memberikan tindakan perawatan langsung terhadap kasus akut, penyakit kronis, dan kecacatan ganda dan mental
f. Puskesmas Keliling
Pelayanan perawatan dalam puskesmas keliling diberikan kepada individu, kelompok masyarakat di pedesaan dan kelompok terlantar.
Pelayanan keperawatan yang di lakukan adalah skrining kesehatan, asuhan keperawatan pada penyakit akut dan kronis termasuk pengobatan sederhana sesuai dengan program puskesmas , pengelolaan dan rujukan kasus penyakit
g. Di panti kelompok khusus lain seperti panti asuhan anak, Panti Asuhan Tresna Werdha (PSTW), dan panti sosial lainnya serta rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan.Pelayana dan asuhan keperawatan yang diberikan terkait masalah kesehatan atau resiko terjadi masalah kesehtan pada tatanan tersebut. Contohnya penyakit kulit pada lansia di panti, kebersihan diri, serta devisit perawatan diri.
h. Komunitas/ Masyarakat ( RT,RW,Kelurahan,Kecamatan, Kabupaten.
Pelayana dan Asuhan Keperawatan ditujukan pada kelompok resiko yakni pelayanan perawatan pada kelompok wanita, anak-anak.
Remaja. Lansia mendapat perlakuan kekerasan.
i. Pelayana keperawatan wisata seperti pelayanan keperawatan di Pantai Kegiatan Perkesmas berdasarkan Permenkes RI no.75 tahun 2014 tentang Puskesmas terkait kegiatan Perkeamas Meliputi kegiatan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas baik upaya kesehatan perorangan ( UKP) dan atau Upaya Kesehatan Masyarakat ( UKM ).
1) Kegiatan dalam gedung Puskesmas
Merupakan Kegiatan Keperawatan kesehatan masyarakat yang dilakukan di ruang rawat jalan dan ruang rawat inap, yang meliputi:
a) Penemuan kasus baru pada pasien rawat jalan.
b) Pemberian Asuhan Keperawatan Dengan menggunakan berbagi terapi modalitas keperawatan dan terapi komplamenter.
c) Penyuluahan / pendidikan kesehatan d) Pemantauan keteraturan berobat e) Pelayanan Konseling Keperawatan
f) Pemberian Intervensi yng merupakan tugas limah sesuai pelimpahan kewenangan yang diberikan dan atau prosedur yang telah ditetapkan
g) Menciptakan lingkungan terapeutik dalam pelayanan kesehtan di gedung Puskesmas (Kenyamanan, Keamanan, Komunikasi Terapeutik )
h) Rujukan kasus/masalah kesehatan kepada tenaga kesehatan lainnya di puskesmas
i) Dokumentasi keperawatan 2) Kegiatan Luar Gedung Puskesmas
Perawat Melakukan kunjungan ke keluarga / kemasyarakat/
kelompok untuk melakukan auhan keperawatan di individu / keluarga / kelpmpok / masyarakat.Asuhan Keperawatan Individu dalam konteks keluarga dan asuhan keperawatan keluarga, akan dijelaskan terpisah di bagian lain. Berikut akan dijelaskan asuhan keperawatan komuniitas pada kelompok khusus dan masyarakat binaan yaitu:
a) Asuhan Keperawatan pada kelompok masyarakat rawan kesehatan yang memerlukan perhatian khusus, baik dalam suatu institusi maupun non institusi. Kegiatannya Meliputi .
i. Identipikasi paktor resiko terjadinya masalah kesehatan di kelompok.
ii. Pemberian Asuhan Keperawatan langsung pada penghuni yang memerlukan keperawatan dengan menerapkan terapi keperawatan dan terapi komplomenter
iii. Pendidikan / Penyuluhan kesehatan sesuai kebutuhan
iv. Pembentukan, bimbingan dan Memantau Kader-Kader kesehatan sesuai jenis kelompoknya dan memberikan motipasi kepaada kader-kader.
v. Pendokumentasian Keperawatan dan Lain-Lain b) Asuhan Keperawatan masyarakat di daerah binaan
Merupakan asuhan keeperawatan yang ditunjukan kepada Masyarakat yang berisiko, rentang atau mempunyai resiko tinggi terhadap timbulnya masalah kesehatan. Kegiatnnya antara lain meliputi kegiatan kunjugan ke daerah binaan untuk
i. Identipikasi masalah kesehta yang terjadi di suatu daerah dengan masalah spesipik
ii. Pemberian Asuhan Keperawatan di suatu daerah sesuai dengan hasil identipikasi
iii. Penigkatan partisipasi masyarakat melalui kegiatan memotipasi masyarakat untuk membentuk upaaya kesehatan berbasis masyarakat.
iv. Pendidikan / Penyuluhan kesehatan mayarakat
v. Pemberian Advokasi masyaarakat untuk mendapatkan pelayanan keperawatan yang optimal
vi. Pembentukan Kelompok Swabantu
vii. Pembentukann pengembangan dan pemantauan kader-kader kesehatn di masyarakat dan meningkatkan motipasinya.
viii. Palaksnaan dan monitoring kegiatan PHBS.
ix. Peningkatan jejaring kerja melalui kemitraan.
x. Pendokumentasian Keperawatan.
3. Strategi Intervensi Keperawatan
Pelayanan Keperawatan komunitas yang diberikan seyogyanya memperhatikan strategi intervensi keperawatan komuntas agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai, berikut uraiannya:
a. Proses Kelompok
Proses kelompok adalah suatu bentuk intervensi keperawatan komunitas yang dilakukan dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat ( melalui pembentukan peer atau social support berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat). Perawat komunitas dapat membentuk kelompok baru atau bekerja sama dengan kelompok yang telah ada (Stanhope &
Lancester ,2016).Proses kelompok ini dilakukan dengan membentuk kelompok dari-oleh-untuk masyarakat yang memperhatikan kesehatan di wilayahnya sehingga dapat secara mandiri mengatasi masalah yang muncul di masyarakat. Sebagai suatu intevensi, Kelompok bisa menjadi cost efficient treatment dengan hasil terapeutik yang positif ( Synder &
Lindquist,2009).
Pengaruh positif strategi intervensi dengan proses kelompok meliputi:
1) Membangun harapan ketika anggota kelompok menyadari bahwa ada orang lain yang telah menghadapi atau berhasil menyelesaikan masalah yang sama.
2) Universalitas, dengan menyadari bahwa dirinya tidak sendiri menghadapi masalah yang sama
3) Berbagi informasi
4) Altruisme dan saling membantu
5) Koreksi berantai atau berurutan, hubungan yang pararel terjadi dalam kelompok dan dalam keluarga
6) Pengembangna tehnik sosialisasi
7) Perilaku imiatif dari pemimpin kelompok
8) Katarsis, ketika anggota belajar untuk mengekspresikan perasaan secara tepat
9) Faktor-faktor eksistensial ketikaa anggota kelompok menyadari bahwa hidup kadang tidak adil dan setiap orang harus bertanggung jawab terhadap cara hidup yang telah ditempuh (Yalona, 1983; dalam Hitchock, Schubert & Thomas, 1999).
Adapun tahapan dalam proses kelompok meliputi : a. Fase Awal (Initiative phase)
1) Tingkat kepercayaan terhadap kelompok masih rendah 2) Tentukan tujuan yang spesipik dan ketua kelompok
3) Perlu ditentukan batasan , pengertian , maksud, tujuan, strategi intervensi & kapan tujuan dspst tercapai.
4) Ketua Bertanggung jawab meyakikan kelompok tentang peran, norma dan tujuan kelompok
b. Fase Kerja (Work Phase)
1) Kelompok mengembangkan keeratan (cohesiveness) untuk dapat berpungsisebagai tim dan berupaya mencapai tujuan kelompok.
2) Menyelesaikan konflik yang timbul akibat adanya perselisihan/
perbedaan pendapat
3) Penyelesaiian masalah daan pembuatan peerubahan
4) Membuat keputusan kelompok bisa melalaui keputusan ketua kelompok, voting atau konsensus.
c. Fase akhir ( Terminatiaon Phase )
1) Terminasi dilakukan jika tujuan sudah tercapai atau sesuai waktu yang ditentukan
2) Kelompok mulai mengevaluasi tercapainya tujuan dan menetapkan rencana tindak lanjutnya.
3) Lakukan diskusi dengan kelompok utuk mengekspresikan perasaan ( Expres Feeling)
b. Promosi Kesehatan
Berbagai Bentuk dari promosi kesehatan adalah sebagai Berikut:
1) Diseminasi Informasi
Salah satu bentuk dari desiminasi informasi adalah pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan adalah suatu kegiatan dalam rangka upaya promotif dan preventif dengan melakukan penyebaran informasi dan meningkatkan motipasi masyarakat untuk berperilaku
sehat (Stanhope & Lancaster, 2016). Pendidikan kesehatan umumnya bertujuan meningkatkan kesejahteraan, dan mengurangi ketidakmampuan dan merupakan upaya untuk mengaktualisasikan potensi kesehatan dari individu, keluraga, komunitas, dan masyarakat.
Diseminasi informasi bertujuan mengubah sikap, keyakinan dan perilaku masyarskat melalui pemberian informasi serta memunculkan kesadaran bahwa suatu masalah yang timbul dapat diatasi. Contohnya pemasangan informasi, pemberitaan via televisi tentang upaya menghentikan kebiasaan merokok; pembuatan brosur untuk kontrol berat badan, memasukkan artikel tentang kebugaran di surat kabar.
2) Pengkajian dan Penilaian
Mendorong seseorang agar mengurangi faktor resiko dan mengadopsi gaya hiduo sehat. Contohnya melakukan penilaian terhadap resiko kesehatan (memperkirakan resiko penyakit berdasarkan riwayat medis, pemeriksaan fisik dan lain-lain), mengadakan lomba atau kompetensi penampilan sesuai indikator sehat.
3) Modipikasi gaya hidup ( Life Style Modipication )
Membantu klien untuk bertanggung jawab ats kesehatan sendiri dan membuat perubahan perilaku yang sesuai untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam memodipikasi gaya hidup diantaranya perubahan situasi, tersedianya pengetahuan & keterampilan untuk melaksanakan dan meneruskan perubahan, hasil yang akan diperoleh dari perilaku baru, serta adnya dukungan fisik & sosial untuk merubah perilaku
4) Penataan lingkungan ( Envirionmental Restructuring )
Kegiatan ini mencakup kegiatan penyediaan atau penataan faktor pendukung untuk mengoptimalkan kualitas lingkungan dan penigkatan perilaku. Lingkungan yang ditata mencakup lingkungan fisik, Sosial dan ekonomi misalnya mengatur kenyamanan &
keamanan fisik, menghindarkan terjadi pencemaran air minum, menciptakan keterpaduan kelompok, dan menetapkan penyediaan koperasi
c. Pemberdayaan ( Empowerment )
Pemberdayaan atau Empowerment adalah suatu kegiatan keperawatan komunitas dengan melibatkan masyarakat secara aktif untuk menyelesaikan masalah yang ada di komunitas, Masyarakat sebagai subjek dalam menyelesaikan masalah (Hitchock, Schubert & Thomas, 1999;
Stanhope & Lancaster, 2016). Pemberdayaan adalah keseluruhan upaya untuk meningkatkan kontor dalam pengambilan keputusan pada level individual, keluararga, komunitas dan masyarakat ( Nies & McEwen, 2015). Perawat dapat menggunakan strategi pemberdayaan untuk membantu masyarakat mengembangkan keterampilan dalam menyelesaikan masalah, mendapatkan informasi untuk meningkatkan kesehatan ( Nies & McEwen, 2015)
Labonte (1994) dalam stanhope & Lancaster (2016) menyebutkan terdapat lima area pemberdayaan yaitu interpersonal (personal empowerment), intragroup (small gorup development), intergroup (small group development), itergroup (komunitas), interorganizational (coalitional building), dan political action.
Pemberdayaan dengan model multilevel seperti ini memungkinkan perawat komunitas melakukan intervensi dalam cakupan mikro dan makro.
Proses pemberdayaan masyarakat memiliki tahapan yang meliputi:
a. Tahap persiapan (engangement)
Pada tahap engangement dilakukan persiapan awal atau entry point proses pemberdayaan yang meliputi persiapan sumber daya manusia, sarana serta lingkungan persiapan yang dilakukan meliputi:
1) Persiapan tenaga pemberdaya
Tahap ini ditujukan untuk menyamakan persepsi dan pengetahuan antar anggota terutama jika tenaga petugas memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda beda .
2) Persiapan lapangan
Pada tahapan ini perawat melakukan pengkajian kelayakan pada daerah yang akan dijadikan sasaran baik secara formal maupun informal. Selain itu, pada tahap ini perijinan jiga dilakukan. Akses relasi dengan tokoh informal juga penting untuk dilakukan agar terjalin hubungan yang baik dengan masyarakat.
a. Tahap Pengkajian (Assesment)
Pengkajian dapat dilakukan terhadap individu ( tokoh masyarakat) atau kelompok-kelompok masyarakat dengan menggunakan metode focus group discussion,curah pendapat atau nominal group discussion. Perawat komunitas melakukan identifikasi masalah megenai kebutuhan masyarakat. Masyarakat mulai dilibatkan secara aktif agar permasalahan yang dirasakan masyarakat benar-benar merasakan berasal dari masyarakat sendiri.setelah mendapatkan permasalahan ,perawat menfasilitasi masyarakat dalam menyusun prioritas masalah akan di tindaklanjuti.
b. Tahap Perencanan Kegiatan ( designing )
Perawat komunitas melakukan proses penyusunan perencanaan program pemverdayaan masyarakat pada saat designin. Perencanaan program yang dilakukan aktif bersama partisipasi masyarakat. Masyarakat tidak hanya di tuntut untuk mengetahui permasalahn dan kebutuhnnya namun juga bekerjasama dengan perawat untuk menyusun penanganan yang tepat dan sesuai. Diskusi dilakukan perwakilan masyarakat dan perawat mengenai alternatif program dan tujuan yang ingin dicapai yang dapat dilakukanoleh masyarakat dalam proses pemberdayaan. Perawat bertugas sebagai fasilitator yang membantu masyarakat berdiskusi
bersama mengenai rencana program dan menuangkannya dalam bentuk tertulis seperti dalam prnyususn proposal.
c. Tahap implementasi ( pelaksanaan program )
Tahap implementasi merupakan tahap pelaksaan program pemberdayaan masyarakat. Proses implementasi yang baik harus dilandasi kerjasama yang baik antara perawat dan masyarakat maupun antar masyarakat.
Hal ini di tujukan agar proses pelaksanaan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun.
d. Tahap evaluasi
Evaluasi dilakukan sebagai proses pengawasan dari masyarakat dan perawat terhadap program uang sedang dijalankan. Pada tahap evaluasi,warga harus dilibatkan agar terbentuk pengawasan secara internal dan dalam ragngka memandirikan masyarakat memamfaatkam sumber daya yang ada. Evaluasi di harapakan dapat memberikan umpan balik yang berguna bagi perbaikan program.
e. Tahap terminasi ( disengagement )
Pada tahap terakhir ini terjadi “pemutusan” hubungan secara formal dengan komuitas. Hal inidilakukan karena masyarakat telah mampu secara mandiri atau telah mencapai waktu yang ditepakan sebelumnya. Proses terminasi tidak serta merta dilakukan secara mendalam namun garus bertahap. Sehingga jika perawat belum menyekesaikan dengan baik maka kontak dengan masyarakat tetap dilakukan namun tidak secara rutin dan akhirnya perlahan lahan dilakukan dikurangi kontrak dengan komunitas sasaran.
d. Kemitraan (Partnership)
Kemitraan adalah hubungankerja antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan ( memberikan manfaat) untuk mncapai tujuan bersama berdasarkan atas kesepakatan, prinsip an peran
masing-masung ( depkes,2006) partnership atau kemitraan adalah suatu bentuk kerjasama aktif antara perawat komunitas, masyarakat, maupun lintas sektor dan program . bentuk kegiatannya adalah kolaborasi,negoisasi dan sharing dilakukan untuk saling menguntungkan ( stanhope & Lancaster, 2016;Hitchock, Schuber & Thomas, 1999)
Partnership adalah intervensi keperawatan komunitas dalam bentuk kerjasama dengan pihak terkait untuk membina , mengawasi, dan mencegah permasalahan komunitas ( ervin,2002). Pihak yang dapat dilibatkan dalam partnership adalah pemerintah (Dinas kesehatan, Dinas Pendidikan, Kelurahan), Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM dan pihak swasta. Bentuk kegiatan tersebut dapat berupa kerjasama program dan dukungan dari pihak yang diajak kerjasama. Program dapat berasal dari pihak yang diajak kerjasama atau perawat.
Aktifitas kemitraan dapat membantu perawat dalam mengubah komunitas resiko tinggi kedalam reaalitas komunitas yang berarti. Kemitraan dapat berarti jika perawat dapat memenuhi tanggung jawab profesionalnya untuk :
a. Mengidentifikasi dan menetapkan hubungan dengan klien.
b. Kolaborasi dengan komunitas dan pimpinan politik, wakil dari pengguna, profesi dari bidang lain dan perawat lain atu pekerja kesehatan (health care worker)
c. Mempertahankan jaringan untuk memfalisitasi perubahan informasi dan berbagi kekuatan dalam sistem kesehatan.
d. Menjadi advokat bagi klien utama di komunitas.
Jenis dan kemitraan meliputi :
a. Kerjasama dengan konsumen ( consumery Advocacy )
consumery Advocacy merupakan bentuk partnership yang terjadi jika melihat kebijakan sumber pelayanan kesehatan prioritas tertinggi ditujukan untuk kebutuhan klien. consumery Advocacy juga diartikan sebagai upaya pemecahan masalah lebih lanjut jika penyelesaian konflik
tidak konsisten dengan keinginan klien.peraway di harapkan melakukan advokasi jika kebutuhan kelompok beresiko tidak tersedia didalam program atau didalam sistem pelayanan kesehatan. Perawat dapat melakukan tindakan untuk meningkatkan penyediaan dana, penyediaan waktu dai profesi lain. Keterlibatan klien dari proses advokasi sangat penting.
b. Multidisiplin kolaborasi sangat efektif untuk mengidentifikasi dan mengkaji resiko kesehatan masyarakat:
1.) Mengkaji kebutuhan kesehatan komunitas
2.) Menentukan populasi yang beresiko sakit,cacat,kematian 3.) Merencanakan program dan mengalokasikan sumber 4.) Mengidentifikasi isu isu penelitian
c. Membangun jejaring (networking)
1.) Mengumpulakn informasi tentang kebutuhan pelayanan kesehatan mulai dari waktu (when), alasan (why), dan cara (how). Menurunkan resiko kesehatan dimasyarakat dan dapat menfasilitasi perawat untuk masuk kemasyarakat dan mengembangkan kerjasama komunitas.
2.) Meningkatkan dan mempertahankan hubungan kerjasama dengan profesi lain dan menfasilitasi terjadinya tipe kerjasama perawat dengan klien maupun kerjasama dengan multidisiplin.
B. Teori dan model kepetawatan yang melandasi praktik keperawatan komunitas.
Perawat dalam melaksanakan praktiknya harus mengacu pada model konsep dan teori keperawatan yang sudah ada.konsep,toeri dan modek keperawatan digunakan sebagai dasar dalam menyusun kerangka kerja praktik keperawatan (aligood 2015).berbagai model konsepyual keperawatan yang juga telah dikembangkan sebagai middle range theory yang dapat dijadikan acuan menyusun kerangka kerja praktik keperawatan komunitas antaralain:
1. Model konseptual keperawatan model adaptasi roy
Adaptasi merupakan proses positif individu, keluarga, kelompok atau masyarakat terhadap perubahan lingkungan. Teori roy menguraikan bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatnnya dengan cara mempertahankan perilku secara adaptif serta mampu mengubah perilaku yang maladaptif. Menurut roy, terdapat 4 obyek utama dalam keperawatan komunitas yaitu :
a. Manusia
Roy menyatakan bahwa manusia sebagai penerima jasa asuhan keperawatan adalah individu, keluarga ,kelompok atau komunitas.masing-masing dieprkakukan oleh perawat sebagai sistem adaptasi holistik yang terbuka. Sistem terbuka tersebut berdampak terhadap perubahan yang konstant terhadap informasi, kejadian dan energi yang dihasilkan dari interaksi antara sistem manusia dan lingkungan dicirikan oleh perubahan external dan imternal. Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk memberdayakan manusia.
b. Keperawatan
Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional berupa pemenuhan kenutuhan dsar yang dibrikan kepada individu yang sehat maupun sakit yang mengalami gangguan fisik, psikis dan sosial agar dapat mencapai derahjat kesehatan yang optimal. Bentuk pemenuhan kebutuhan dasar dapat berupa meningkatkan kemampuan yang ada pada sistem klien, mencegah , memperbaiki dan melakukan rehabilitasi dari suatu keadaan yang di persepsikan sakit oleh sistem klien.
Roy mengidentifikasikn bahwa tujuan keperawatan adalah meningkatkan respon adaptasi yang berhungan dengan 4 modek respon adaptasi. Perubahan internal,external dan stimulusinpus bergantung dari kondisi koping individu. Kondisi koping menggambarkan tingkat adaptasi individu.timgkat adaptasi di tentukan stimulus fokal,konsektual, dan residual. Stimulus vocal
adalah stimulus internal dan external yang paling segera mengkonfrontasi sistem manusia (sistem klien). Stimulus konseptual adalah keseluruhan faktor lingkungan yang ada pada sistem klien baik dari dalam maupun dari luar tapi bukan merupakan pusat perhatian atau energi.stimulus residual adalah faktor lingkungan yang berasal dari dalam dan luar sistem manusia dengan efek pada situasi terakhir yang masih belum jelas, dilakukan melakukan identifiksi :
1) Stimulus fokal
Stimulus fokal merupakan perubahan perilaku yang dapat di observasi pada internal sistem klien. Melakukan pengkajian dengan menggunakan pengkajian perilaku, yaitu keterampilan melakukan observasi, pengukuran dan wawancara.
2) Stimulus kontekstual
Srimulus kontekstual merupakan stimulus berasal dari eksternal sistem klien yang berkontribusi terhadap penyebab terjadinya perilaku atau resipitasi oleg stimulus focal. Stimulus kontekstual dapat di identifiksi melalui observasi, pengukuran, wawancara dan validasi. Konsep kontekstual yang mempengaruhi model adaptif adalah genetik, seks, tahap perkembangan , obat, alkohol, tembakau konsep, peranfusi, interdenfensi, pola interaksi sosial, koping mekanisme, stress emosi dan fisik religi dan lingkungan fisik.
3) Stimulus residual
Tahap ini yang mempengaruhi adalah pengalaman masa lalu.
Beberapa faktor dalam pengalaman masa lalu relefan dalam
menjelaskan bagaimana keadaan saat ini. Sikap, budaya, krakter dlah faktor residualyang sulit di ukur dan memberikan efek pada situasi sekarang.
c. Konsep Sehat
Roy mendefenisikan sehat sebagai suatu kontinum dari sehat sampai dengan sakit dan meninggal. Roy menekankan bahwa sehat merupakan suatu keadaan dan proses dalam upaya menjadikan dirinya terintegrasi secara keseluruhan yaitu fisik, mental dan social. Integrasi adaptasi sistem klien dimanifestasikan oleh kemampuan Individu untuk memenuhi tujuan mempertahankan pertumbuhan dan reproduksi.
Sakit adalah suatu kondisi ketidak mampuan individu untuk beradaptasi terhadap stimulus yang berasal dari dalam dan luar individu. Kondisi sehat dan sakit sangat relatif dipersepsikan oleh individu. Kemampuan individu dalam beradaptasi (koping) bergantung pada Tatar belakang individu tersebut dalam mengartikan dan mempersepsikan sehat-sakit, misalnya tingkat pendidikan, pekerjaan, Usia, budaya, dan lain-lain.
d. Konsep Lingkungan
Roy mendefenisikan lingkungan sebagai semua kondisi yang berasal dari internal dan eksternal yang memengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan dan perilaku individu dan kelompok. Lingkungan eksternal dapat berupa fisik, kimiawi, ataupun psikologis yang diterima individu dan dipersepsikan sebagai suatu ancaman. Lingkungan internal adalah keadaan proses mental dalam tubuh individu dan proses succor biologic yang berasal dari dalam tubuh manusia. Manifestasi yang tampak tercermin dari perilaku individu sebagai suatu sistem. Pemahaman klien yang baik tentang linakungan akan membantu perawat meningkatkan
adaptasi klien tersebut dalam mengubah dan mengurangi risiko akibat dari lingkungan sekitarnya. Melalui perubahan tersebut, individu barns mempertahankan integritas dirinya yaitu beradaptasi secara berkesinambungan. Sistem adaptasi memiliki empat model adaptasi yang akan bedampak terhadap respon adaptasi (output) diantaranya sebagai berikut:
1. Fungsi Fisiologis; sistem adaptasi fisiologis diantaranya adalah oksigenasi nutrisi, eliminasi, aktivitas dan istirahat, integritas kulit, indera, cairan dan elektrolit, fungsi neurologis dan endokrin.
2. Konsep Diri; Bagaimana seseorang mengenal pola-pola interaksi sosial dalam berhubungan dengan orang lain.
3. Fungsi Peran; Proses penyesuaian yang berhubungan dengan bagaimana pecan seseorang dalam mengenal pola-pola interaksi sosial dalam berhubungan dengan orang lain.
4. Interdependent Kemampuan seseorang mengenal pola-pola tentang kasih-sayang, cinta, yang dilakukan melalui hubungan secara interpersonal pada tingkat individu maupun.
2. Model Konseptual Keperawatan Sistem Model Imogene M.King
Kerangka kerja King menunjukan hubungan sistem personal (individu), sistem interpersonal (kelompok seperti perawat-pasien), dan sistem sosial (misalnva sistem pendidikan, sistem layanan kesehatan). King memahami model konsep dan teori keperawatan dengan menggunakan pendekatan sistem terbuka dalam hubungan interaksi yang konstan dengan lingkungan.
a. Sistem Personal (Individu). Pada sistem personal, konsep Yang relevan adalah persepsi, diri, pertumbuhan dan perkembangan, citra tubuh, dan waktu.
1) Persepsi
Persepsi adalah gambaran individu tenting objek, orang dan kejadian-kejadian. Persepsi berbeda dari satu orang dan orang lain dan hal ini tergantung dengan pengalaman masa lalu, latar belakang, pengetahuan dan status emosi. Karakteristik persepsi adalah universal atau alami oleh semua.
2) Diri
Diri adalah individu atau bila individu berkata "AKU".
Karakteristik diri adalah individu yang dinamis, sistem terbuka dan orientasi pada tujuan.
3) Pertumbuhan dan Perkembangan
Tumbuh kembang meliputi perubahan set, molekul dan perilaku manusia. perubahan ini biasanya terjadi dengan cara yang tertib, dan dapat diprediksi walaupun individu itu bervariasi, sumbangan fungsi genetik, serta pengalaman yang berarti dan memuaskan. Tumbuh kembang dapat didefinisikan sebagai proses di seluruh kehidupan individu ketika individu bergerak dari potensial untuk mencapai aktualisasi diri.
4) Citra Tubuh
King mendefinisikan citra diri yaitu bagaimana orang merasakan tubuhnya dan reaksi-reaksi lain dalam penampilannya.
5) Ruang
Ruang, adalah universal sebab semua orang punya konsep ruang, personal atau subjektif, individual, situasional, dan tergantung dengan hubunganriya dengan situasi, jarak dan waktu, transaksional, atau berdasarkan pada persepsi individu terhadap situasi.
Definisi secara operasional, ruang meliputi ruang yang ada untuk semua arah, didefenisikan sebagai area fisik yang disebut territory dan perilaku orang yang menempatinya.
6) Waktu
King mendefinisikan waktu sebagai lama antara sate kejadian dengan kejadian yang lain merupakan pengalaman unik setiap orang dan hubungan antara situ kejadian dengan kejadian yang lain.
b. Sistem Interpersonal
King mengemukakan sistem interpersonal terbentuk oleh interaksi antara manusia. Interaksi antar dua orang disebut dyad, tiga orang disebut triad, dan empat orang group. Konsep yang relevan dengan sistem interpersonal adalah interaksi, komunikasi, transaksi, peran dan stres.
1) Interaksi
Interaksi didefinisikan sebagai tingkah laku yang dapat diobservasi oleh dua orang atau lebih didalam hubungan timbal balik.
2) Komunikasi
King mendefinisikan komunikasi sebagai proses infor-
langsung maupun tidak langsung, misalnya melalui telepon, televisi atau tulisan kata. Ciri-ciri komunikasi adalah verbal, non verbal, situasional, perceptual, transaksional, tidak dapat diubah, bergerak maju dalam waktu, personal, dan dinamis. Komunikasi dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis dalam menyampaikan ide-ide satu orang ke orang lain. Aspek perilaku non verbal yang sangat penting adalah sentuhan. Aspek lain dari perilaku adalah jarak, postur, ekspresi wajah, penampilan fisik dan gerakan tubuh.
3) Transaksi
Ciri-ciri transaksi adalah unik, karena setup individu mempunyai realitas personal berdasarkan persepsi diri. Dimensi temporal - spasial individu mempunyai pengalaman atau rangkaian-rangkaian kejadian dalam waktu.
4) Peran
Peran melibatkan sesuatu yang dimana timbal balik dimana individu pada suatu saat sebagai pemberi dan di saat yang lain sebagai penerima. Ada tiga elemen utama peran yaitu peran berisi set perilaku yang di harapkan pada orang rang menduduki posisi di sistem sosial. Seperangkat prosedur atau aturan yang ditentukan oleh hak dan keajaiban yang berhubungan dengan prosedur atau organisasi, dan hubungan antara dua orang atau lebih berinteraksi untuk tujuan pada situasi khusus.
5) Stres
Definisi stres menurut King adalah suatu keadaan yang dinamis dimanapun manusia berinteraksi dengan lingkungannya untuk memelihara keseimbangan pertumbuhan, perkembangan dan perbuatan yang
melibatkan pertukaran energi dan infomiasi antara individu dengan lingkungannya untuk mengatur stresor. Stres adalah sesuatu yang dinamis sehubungan dengan sistem terbuka yang, terus- menerus terjadi pertukaran dengan lingkungan, intensitasnya bervariasi, ada dimensi yang temporal- spatial yang, dipengaruhi oleh pengalaman lalu, individual, personal, dan subjektif.
c. Sistem Sosial
Merupakan sistem dinamis yang akan menjaga kesela- inatan lingkungan. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi perilaku masyarakat, interaksi, persepsi, dan kesehatan. Sistem sosial dapat mengantarkan organisasi kesehatan dengan memahami konsep organisasi, kekuasaaan, status, dan pengambilan keputusan.
1) Organisasi
Organisasi bercirikan struktur posisi yang berurutan dan aktivitas yang berhubungan dengan pengaturan formal dan informal individu dan kelompok untuk mencapai tujuan personal atau organisasi.
2) Otoritas
King mendefinisikan otoritas atau wewenang, bahwa wewenang itu aktif, proses transaksi yang timbal batik dimana latar belakang, persepsi, nilai-nilai dari pemegang memengaruhi definisi, validasi dan penerimaan posisi di dalam organisasi berhubungan dengan wewenang.
3) Kekuasaan
Kekuasaan adalah universal, situasional, atau bukan sumbangan personal, esensial dalam organisasi,
dibatasi oleh sumber-sumber dalam suatu situasi, dinamis dan orientasi pada tujuan.
4) Pembuatan Keputusan
Pembuatan atau pengambilan keputusan bercirikan untuk mengatur setiap kehidupan dan pekerjaan, orang, universal, individual, personal, subjektif, situasional, Proses yang terus menerus, dan berorientasi pada tujuan.
5) Status
Status bercirikan situasional, posisi ketergant-ungan, dapat diubah. King mendefinisikan status sebagai posisi individu di dalam kelompok atau kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lain di dalam organisasi dan mengenali bahwa status berhubungan dengan hak-hak istimewa, tugas-tugas, dan kewajiban.
3. Model Konseptual Keperawatan Model Self Care Dorothea Orem
Self care adalah kegiatan yang diprakarsai dan dilakukan pleh individu itu sendiri. Dalam hal ini model orem berfokus untuk memandirikan keluarga sebagai bagian dari komunitas. Orem mengembangkan teori Self care yang terdiri dari :
a. Perawatan diri sendiri (self care)
Perawatan diri sendiri merupakan aktifitas dan inisiatif dari individu serta dilaksanakan oleh individu itu sendiri dalam memenuhi dan mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan. Teori self care ini terdiri dari :
1) Self Care Agency yang merupakan suatu kemampuan individu dalam melakukan perawatan diri sendiri yang dapat dipengaruhi oleh usia, perkembangan , sosio-kultural dan kesehatan.
2) Self Care Deficit unsur ini merupakan bagian penting dalam perawatan.menurut teori ini, dalam memenuhi perawatan diri serta membantu dalam proses penyelesaian masalah, metode yang dapat dilakukan diantaranya bertindak atau berbuat untuk orang lain sebagai pembimbing, pemberi support , menigkatkan pengembangan lingkungan pribadi, serta mengajarkan atau mendidik pada orang lain.
3) Teori Sistem Keperawatan
Orem memberikan identifikasi dalam sistem pelayanan keperawatan sebagai berikut :
a) Sistem bantuan secara penuh (Wholly Compensatory Sistem )
Sistem ini merupakan suatu tindakan keperawatan dengan memberikan bantuan secara penuh pada pasien karena ketidakmampuan pasien dalam memenuhi tindakan perawatan secara
mandiri sehingga memerlukan bantuan dalam
pergerakan ,pengontrolan,dan ambulasi serta adanya manipulasi gerakan . contohnya adalah pemberian bantuan pada pasien koma atau mengalami penurunan kesadaran.
b) Sistem bantuan sebagian (partially compensatory sistem )
Sistem ini merupakan sistem pemberian perawatan diri sendri secara sebagian dan di tunjukkan kepada pasien yang memerlukan bantuan secara minimal. Contohya perawatan pada pasien post operasi abdomen saat pasien tidak memiliki kemampuan dalam perawatan luka.
c) Sistem suportif dan Edukatif
Pada sistem ini,namtian dibeikan pada pasien yang memutuhkan dukungan pendidikan degan harapan pasien mampu memerlukan perawatan secara mandiri. Sistem ini dilakukan agar pasien mampu melakukan tindakan perawatan setelah dilakukan pembelajaran.
Contohnya pemberian sistem ini dapat dilakukan pada pasien yang memerlukan informasi pada pengaturan kelahiran
s RRRRR
R R
R
<
<
R R
Gambar 2.3 Skema Teori Self Care Orem (Aligado , 2015) C. Model Community as partner (CAP)
1. Konsep Mayor
a. Prior Related Behavior
Secara langsung dan tidak langsung berpengaruh pada Likelihood of engaging in health-promoting behaviors.
b. Personal Factors
Kategorinya, biologis, psikologis, dan sosiokultur. Faktor ini memprediksikan pemberian perilaku dan dibentuk secara alami dalam target perilaku menjadi pertimbangan.
Self-Care Agency
Nursing Agency Self-Care
Self-Care Demands
s Deficit
c. Personal Biological Factors
Yang termasuk ke dalam faktor ini adalah variabel seperti umur, jenis kelamin, Masa indek tubuh, status pubertas, status menopouse, kekuatan, keseimbangan.
d. Personal Psycological Factors
Yang termasuk kedalam faktor ini adalah harga diri, motivasi diri, kemampuan diri, definisi kesehatan, pemahaman status kesehatan.
e. Personal Sociocultural Factors
Yang termasuk ke dalam faktor ini adalah ras, etnik, pendidikan, dan status sosioekonomi.
f. Perceived Benefits of Action
Perceived Benefits of Action di antisipasikan sebagai hasil akhir positif yang akan terjadi dari perilaku kesehatan.
g. Perceived Barriers to Action
Perceived Barriers to Action di antisipasikan,di imajinasikan atau blok nyata dan ganti rugi individu sebagai usaha pemberi perilaku.
h. Perceived Self-Efficacy
Perceived Self-Efficacy adalah pendapat dari kemampuan individu untuk mengorganisasikan dan menjalankan sebuah promosi perilaku kesehatan.
i. Activity-Related Affect
Activity-Related Affect di gambarkan sebagai perasaan subjektif positif atau negatif yang terjadi sebelum, atau sejak mengikuti perilaku dasar yang menstimulus diri dari perilaku dirinya sendiri.
j. Interpersonal Influences
Pengaruh ini adalah perilaku yang berfokus pada pengetahuan, keyakinan atau tata krama dan lainnya. Pengaruh interpersonal termasuk norma, sosial suport, dan modeling. Sumber utama dari pengaruh interpersonal ini adalah keluarga, kelompok, dan pemberi pelayanan kesehatan.
k. Situational Influences
Situational Influences adalah persepsi dan pengetahuan individu tentang banyak pemberi situasi atau bahasannya dapat memfasilitasi atau mengganggu perilaku. Pengaruh situasi mungkin mempunyai pengaruh secara langsung maupun tidak langsung dalam perilaku kesehatan.
l. Commitment to a plan of action
Komitmen ini menggambarkan konsep dari tujuan dan identifikasi dari strategi perencanaan yang berperan penting dalam mengimplementasi perilaku kesehatan.
m. Immediate Competing Demans and Preferences
Competing Demans adalah alternatif perilaku individu yang mempunyai kontrol lemah, karena ada kemungkinan yang terjadi di lingkungan seperti bekerja atau kepekaan atau kepekaan keluarga.
n. Competing Preferences adalah alternatif perilaku yang melibatkan individu relatif kontrol tinggi, seperti memilih ice cream atau apel untuk makanan ringan.
o. Health-Promoting Behavior
Health-Promoting Behavior adalah sebuah poin akhir atau hasil akhir dari aksi yang secara langsung terhadap pencapaian hasil akhir kesehatan yang positif seperti pencapaian yang optimal, pemenuhan kebutuhan individu, dan produktivitas hidup. Contoh: memilih makanan sehat, manajemen stres, pertumbuhan spiritual, dan membangun hubungan yang positif (Alligod,2014)
2. Model konseptual Pender
HPM mengikuti tiga variabel baru setelah dilakuan revisi dimana variabel tersebut membawa pengaruh kepada individu untuk tertarik dalam perilaku promosi kesehatan yang merupakan outcome dari HPM. (Pender, 2015) variabel tersebut antara lain, a). Activity-related affect, b). Commitment to a plan of action, c). Immediate competing demand and preferences (Lihat Gambar 2.2 )
Gambar 2.2 Health Promotion Model (Revised) a. Asumsi Dasar Health Promotion Model menurut Pender
1) Manusia mencoba menciptakan kondisi agar tetap hidup di mana mereka dapat mengekspresikan keunikannya.
2) Manusia mempunyai kapasitas untuk merefleksikan kesadaran dirinya, termasuk penilaian terhadap kemampuannya.
3) Manusia menilai perkembangan sebagai suatu nilai yang positif dan mencoba mencapai keseimbangan antara perubahan dan stabilitas.
4) Setiap individu secara aktif berusaha mengatur perilakunya.
5) Individu merupakan makhluk biopsikososial yang kompleks, berinteraksi dengan lingkungannya secara terus menerus, menjelmakan lingkungan yang diubah secara terus menerus.
6) Profesional kesehatan merupakan bagian dari lingkungan interpersonal yang berpengaruh terhadap manusia sepanjang hidupnya.
7) Pembentukan kembali konsep diri manusia dengan lingkungan adalah penting untuk perubahan perilaku (Pender, 2015).
Model Community as partner (CAP) digunakan untuk mengkaji sebagai jenis komunitas dengan luas wilayah, lokasi, dan suber sumber yang dimiliki atau karakteristik populasi tertentu. CAP terdiri dari tiga bagian yaitu :
a. Inti komunitas (The community care) 1) Sejarah ( History)
2) Data Demografi (Demographic) 3) Suku dan Budaya (Ethnicyty)
4) Nilai dan keyakinan (Values and beliefs)
5) Persepsi (Perception), yang terdiri dari percepsi
masyarakat terhadap kondisi lingkungan (merasa aman , nyaman, fasilitas lengkap atau kurang),penilaian masyarakat terhadap kekuatan dan kelemahan wilayah tempat tinggal mereka, penilaian terhadap kondisi kesehatan masyarakat secara umum dan apa ,masalah yang akan muncul.
b. Subsitem komunitas (the community subsistems ) 1) Lingkungan fisik
2) Pendidikan
3) Keamanan dan transportasi 4) Politik dan pemerintahan
5) Pelayanan sosial dan pelayana kesehatan 6) Komunikasi
7) Ekonomi 8) Rekreasi
Aplikasi teori CAP dalam keperawatan komunitas adalah sebagai berikut
a. Inti komunitas (the community care) 1) Sejarah (history)
a) Melakukan wawancara dengan TOMA/TOGA b) Perubahan yang terjadi
c) Peristiwa atau kejadian yang berkaitan 2) Data demografi (Demographic)
a) Komposisi penduduk b) Kelompok umur c) Jenis kelamin
3) Suku & budaya (Ethnicity)
a) Pengamatan terhadap gaya hidup
b) Perilaku yang membudaya ( positif /negatif) c) Bahasa yang di gunakan
d) Perkumpulan yang ada
e) Penyelesaian masalah apakah antar etnis atau golongan khusus
4) Nilai dan keyakinan ( values and beliefs )
a) Lakukan wawancara dan observasi bagaimana bentuk interaksi di masyarakat.
b) Adakah perilaku yang mempengaruhi kesehatan individu, keluarga, kelompok atau masyarakat? ( misal : narkoba) b. Subsistensi komunitas ( The community subsystems)
1) Lingkungan fisik
Observasi ada fasilitas umum yang dipergunakan( lapangan olahraga, warnet/wartel, bioskop, fasilitas ibadah )
2) Pendidikan
a) Kumpulan data tentang tingkat pendidikan masyarakat b) Keberadaan fasilitas pendidikan lengkap
3) Keamanan dan transportasi
a) Lakukan pengamatan dan observasi tentang alat transportsi b) Keamana pemakai alat transportasi
c) Kecepatan kendaraan yang digunakan d) Keberadaan rambu rambu lalu lintas e) Kondisi jalan dan fasilitas
f) Apakah ada pos polisi atau satpam atau ada sistem keamanan lingkungan
g) Adakah gangguan keamanan 4) Politik dan pemerintahan
a) Bagaimana kegiatan politik diwilayah tersebut
b) Adakah anggota masyarakat terlibat dalam kegiatan politik?
c) Bagaimana menyikapi perbedaan pendapat atau golongan politik?
5) Pelayanan sosial
a) Lakukan wawancara dan observasi pelayanan sosial yang ada misalnya LSM.
b) Ketersediaan fasilitas kesehatan.
6) Komunikasi
a) Amati komunikasi di wilayah tersebut terhadap keluarga , lingkungan / masyarakat sekitar, aparat pemerintah
b) Adakah masalah antar kelompok ?
c) Bagaimana cara menyampaikan aspirasi ? 7) Ekonomi
a) Pendapatan rata rata penduduk.
b) Apakah keluarga memiliki tabungan.
c) Mempunyai usaha tambahan.
d) Apakah keluarga mempunyai kemampuan membeli alat transportasi misalnya : motor/mobil
e) Adakah lokasi transaksi jual beli misal pasar Dll 8) Rekreasi
a) Apakah ada tempat rekreasi
b) Apakah tempat rekreasi tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat
c. Persepsi
1) Bagaimana persepsi masyarakat terhadap kondisi lingkungan 2) Penilaian masyarakat terhadap wilayahnya
D. Konsep Covid 19 1. Definisi covid 19
Corona Virus Disease (COVID-19) adalah jenis virus baru yang menular pada manusia dan menyerang gangguan system pernapasan sampai berujung pada kematian.Corona virus yaitu kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan.Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu.Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia).
Coronavirus memiliki kapsul, partikel berbentuk bulat atau elips, sering pleimorfik dengan diameter sekitar 50-200m.5 Semua virus ordo Nidovirales memiliki kapsul, tidak bersegmen, dan virus positif RNA serta memiliki genom RNA sangat panjang.12 Struktur coronavirus membentuk struktur seperti kubus dengan protein S berlokasi di permukaan virus. Protein S atau spike protein merupakan salah satu protein antigen utama virus dan merupakan struktur utama untuk penulisan gen. Protein S ini berperan dalam penempelan dan masuknya virus kedalam sel host (interaksi protein S dengan reseptornya di sel inang). Coronavirus bersifat sensitif terhadap panas dan secara efektif dapat diinaktifkan oleh desinfektan mengandung klorin, pelarut lipid dengan suhu 56℃ selama 30 menit, eter, alkohol, asam perioksiasetat, selama 30 menit, eter, alkohol, asam perioksiasetat, detergen non-ionik, formalin, oxidizing agent dan kloroform.
Klorheksidin tidak efektif dalam menonaktifkan virus.
Selain virus SARS-CoV-2 atau virus Corona, virus yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah virus penyebab Severe Acute
Respiratory Syndrome (MERS). Meski disebabkan oleh virus dari kelompok yang sama, yaitu coronavirus, COVID-19 memiliki beberapa perbedaan dengan SARS dan MERS antara lain dalam hal kecepatan penyebaran dan keparahan gejala (Thalia, 2020).
2. Etiologi covid 19
Infeksi virus Corona atau COVID-19 disebabkan oleh coronavirus, yaitu kelompok virus yang menginfeksi sistem pernapasan.Pada sebagian besar kasus,
coronavirus hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan sampai sedang, seperti flu.Akan tetapi, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti pneumonia, Middle-East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).Ada dugaan bahwa virus Corona awalnya ditularkan dari hewan ke manusia.Namun, kemudian diketahui bahwa virus Corona juga menular dari manusia ke manusia.Seseorang dapat tertular COVID- 19 melalui berbagai cara, yaitu:
a. Tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita COVID-19 batuk atau bersin
b. Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dulu setelah menyentuh benda yang terkena cipratan ludah penderita COVID-19
c. Kontak jarak dekat dengan penderita COVID-19 3. Manifestasi klinis covid 19
Gejala awal infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa menyerupai gejala flu, yaitu demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan dan sakit kepala. Setelah itu, gejala dapat hilang dan sembuh atau malah memberat.
Penderita dengan gejala yang berat bisa mengalami demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada.Gejala-gejala tersebut muncul ketika tubuh bereaksi melawan virus corona.Secara