SITI NUR KHADIJAH. S Nomor Stambuk : 10564 00903 10
PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2014
i Skripsi
Sebagai salah satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan
Disusun dan Diajukan Oleh : SITI NUR KHADIJAH. S Nomor Stambuk : 10564 00803 10
Kepada
PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2014
ii
di Kota Makassar
Nama Mahasiswa : SITI NUR KHADIJAH. S
Nomor Stambuk : 10564 00803 10
Program Studi : Ilmu Pemerintahan
Menyetujui :
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Jaelan Usman. M.Si Dra. Hj. Djuliati Saleh. M. Si
Mengetahui :
Dekan Ketua Jurusan
Fisipol Unismuh Makassar Ilmu Pemerintahan
Dr. H. Muhlis Madani, M.Si A. Luhur Prianto, S.Ip, M.Si
iii
Universitas Muhammadiyah Makassar, berdasarkan Surat Keputusan/undangan menguji ujian skripsi Dekan Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar, Nomor : 1384/FSP/A.1-VIII/VII/35/2014 sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S.1) dalam program studi Ilmu Pemerintahan di Makassar pada hari Jumat tanggal 29 bulan Agustus tahun 2014.
TIM PENILAI
Ketua, Sekretaris,
Dr. H. Muhlis Madani, M.Si Drs. H. Muhammad Idris, M.Si
Penguji:
1. Dr. Jaelan Usman, M. Si (KETUA) ( )
2. Dra. Hj. Djuliati Saleh, M. Si ( )
3. Dr. Nuryanti Mustari, S.IP, M.Si ( )
4. Dra. Andi Rosdianti Razak, M. Si ( )
iv
Nama Mahasiswa : Siti Nur Khadijah. S Nomor Stambuk : 10564 00803 10 Program Studi : Ilmu Pemerintahan
Menyatakan bahwa karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain atau telah ditulis/dipublikasikan orang lain atau melakukan plagiat.
Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari pernyataan ini tidsk benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku, sekalipun itu pencabutan gelar akademik.
Makassar, Juni 2014 Yang Menyatakan,
Siti Nur Khadijah. S
v
Peran pemerintah bukan hanya kepada membuat program saja tetapi juga turut berperan dalam proses pelaksanaan kegiatan tersebut, tetapi juga melibatkan pemerintah secara langsung dalam hal perencanaan dan pengembangan dari pelaksanaan program tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pemerintah dalam pembinaan anak jalanan di Kota Makassar. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif kualitatif dengan menganut paham fenomonologis dan postpositivisme. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan jumlah informan sebanyak 10 informan dari pegawai Dinas Sosial, LPA, Yayasan Jati, YAPTA-U yang biasa dikenal masyarakat dengan sebutan Sanggar Kegiatan Masyarakat (SKW) dan Anak Jalanan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran pemerintah di Kota Makassar mempunyai empat indikator, pembinaan langsung dilakukan oleh lembaga pemerintah atau non pemerintah dalam bentuk pengajian yang terkadang dibina langsung oleh pemerintah, pembinaan sosial dilakukan dalam bentuk pengadaan sosialisasi dan bakti sosial dengan tujuan mengajarkan pentingnya hidup bersih dan sebagainya, pembinaan keterampilan yang diterima oleh anak jalanan dalam bentuk keterampilan menjahit, merangkai bunga, membuat bros, teater, menari dan otomotif, dan pembinaan pendidikan formal dan informal yang di berikan kepada anak jalanan melalui dinas pendidikan dan dinas tenaga kerja yang tidak terlepas dari pengawasan dinas social. Kemudian partisipasi masyarakat juga sangat berperan penting dalam pembinaan anak jalanan dimana agar tidak ada lagi anak yang turun kejalan, masyarakat harus menaati peraturan atau hukum yang berlaku dengan tidak membiasakan memberi uang kepada anak-anak dijalan maupun di tempat keramaian, karena dengan demikian akan menjadi kebiasaan bagi mereka untuk meminta-minta dan tetap hidup dijalanan. Jadi Kerja sama antara pemerintah (Dinas Sosial) dengan masyarakat sangat berpengaruh pada program-program yang dibuat terkhusus kepada pembinaan anak jalanan.
Kata Kunci : Peran Pemerintah, Pembinaan anak jalanan
vi
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Peran Pemerintah dalam Pembinaan Anak Jalanan di Kota Makassar”.Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
Skripsi ini sangatlah jauh dari kesempurnaan dan penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan serta doa dari berbagai pihak.
Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat : Bapak Dr. Jaelan Usman. M.Siselaku Pembimbing I dan IbuDra. Hj. Djuliati Saleh. M.Si selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
Bapak Dr. H. Irwan Akib, M.Pd selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar. Bapak Dr. H. Muhlis Madani, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Makassar. Bapak A. Luhur Prianto, S.Ip, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar. Bapak Drs. H. Mappigau Samma, M.Si selaku Penasehat Akademik yang selalu memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis mulai dari semester awal perkuliahan hingga semester akhir.
Kakanda M. Ghufran H Kordi K dan teman-teman Co2 yang membimbing dan memberi support, dari mulai nol sampai terselesainya skripsi ini dengan baik.
vii
Kedua orang tua tercinta yaitu Bapak Syafaruddin Bin Mandasingi dan Ibu Maemunah Binti Dorra yang sangat berjasa dan senantiasa membesarkan, merawat, memberikan pendidikan sampai pada jenjang saat ini, mendoakan, memberikan semangat dan motivasi serta bantuan baik moril maupun materil, dan tak lupa kasih sayang yang tak hentinya beliau berikan kepada saya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Keempat kakak tercinta yaitu Darwati beserta suaminya Anton, Asrul Sulaeman beserta istrinya Yulianti dan seluruh keluarga besarku yang senantiasa mendukung dan mendoakan serta memberikan semangat dan motivasi yang tinggi untuk bisa meraih cita-cita.
Suluruh Bapak dan Ibu dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Muhammadiyah Makassar yang senantiasa meluangkan waktunya untuk memberi ilmu kepada penulis selama menempuh perkuliahan. Sahabat-sahabat tercinta Isriani Hamzah, Dewi Ariani, Herni, Muhajirin, Muh Safran, Abd Samad, Muh Rizal, Faisal dan terspesial kepada Andi Muhammad Agus Badri. S.Kep yang selalu menemani, merasakan suka duka penyusunan skripsi dan membantu serta berjuang bersama- sama dalam proses penyusunan skripsi ini. Kawan-kawan anak Ip.C angkatan 2010 yang sama-sama berjuang dalam meraih cita-cita serta semua pihak yang telah membantu dan mendukung terselesaikannya skripsi ini. Keluarga besar Desa Moncongloe Bulu Kec. Moncongloe Kab. Maros yang bersedia menerima kami untuk menjalankan Kuliah Kerja Profesi.
viii
Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa skripsi ini sangat jauh dari kesempurnaan karena kesempurnaan itu hanyalah milik Allah SWT.
Dan oleh karena itu demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.
.
Makassar, Juni2014
Siti Nur Khadijah. S
ix
Penerimaan Tim ... iii
Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... iv
Abstrak ... v
Kata Pengantar ... vi
Daftar Isi... ix
Daftar Tabel ... xi
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Kegunaan Penelitian... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Peran Pemerintah ... 8
B. Pembinaan Anak Jalanan... 13
C. Kerangka Pikir... 21
D. Fokus Penelitian ... 22
E. Deskripsi Fokus Penelitian ... 23
BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 25
B. Jenis dan Tipe Penelitian ... 25
x
F. Teknik Analisis Data ... 28 G. Pengabsahan Data... 28 BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi atau Karakteristik Obyek Penelitian ... 30 B. Peran Pemerintah dalam Pembinaan Anak Jalanan di Kota
Makassar ... 49 C. Partisipasi Masyarakat dalam Pembinaan Anak Jalanan di
Kota Makassar... 62 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 69 B. Saran-saran ... 70 DAFTAR PUSTAKA ... 71
xi
Tabel 1 : Daftar Informan Penelitian... 27 Tabel 2 : Jumlah Gelandangan, Pengemis dan Anak Jalanan menurut Kecamatan
di Kota Makassar Tahun 2013 ... 63
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejateraan Sosial menjelaskan bahwa pembangunan kesejahteraan sosial merupakan perwujudan dari upaya mencapai tujuan bangsa yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sila kelima pancasila menyatakan bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan Negara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, Memajukan kesejateraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Permasalahan kesejahteraan sosial yang berkembang dewasa ini menunjukkan bahwa ada warga Negara yang belum terpenuhi hak atas kebutuhan dasarnya secara layak karena belum memperoleh pelayanan sosial dari Negara.
Akibatnya, masih ada warga Negara yang mengalami hambatan pelaksanaan fungsi sosial, sehingga tidak dapat menjalani kehidupan secara layak dan bermartabat.
Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan kewajiban Negara untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Bagi fakir miskin dan anak terlantar, seperti yang di maksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
1
pemerintah dan pemerintah daerah memberikan rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban Negara dalam menjamin terpenuhinya hak atas kebutuhan dasar warga Negara yang miskin dan tidak mampu.
Peran pemerintah sangat penting dalam penyelenggaraan kesejateraan sosial, dimana pemerintah adalah segenap alat perlengkapan negara atau lembaga- lembaga kenegaraan yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, pada umumnya pemerintah adalah sekelompok individu yang mempunyai wewenang tertentu untuk melaksanakan kekuasaan atau sekelompok individu yang mempunyai dan melaksanakan wewenang yang syah dan melindungi serta meningkatkan melalui perbuatan dan pelaksanaan berbagai keputusan yang dibuat pemerintah berdasarkan perundang-undangan baik tertulis maupun tidak.
Jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar warga Negara, serta untuk menghadapi tantangan dan perkembangan kesejateraan sosial di tingkat lokal, nasional, dan global, perlu dilakukan penggantian Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang ketentuan-ketentuan pokok kesejateraan sosial. Materi pokok yang diatur dalam Undang-Undang ini, antara lain pemenuhan hak atas keutuhan dasar, penyelenggaraan kesejateraan sosial secara komprehensif dan professional, serta perlindungan masyarakat, untuk menghindari penyalagunaan kewenangan dalam penyelenggaraan kesejateraan sosial, Undang-Undang ini juga mengatur pendaftaran dan perizinan serta sanksi administrative bagi lembaga yang menyelenggarakan kesejateraan sosial. Dengan demikian, penyelenggaraan
kesejateraan sosial dapat memberikan keadilan sosial bagi warga Negara untuk dapat hidup secara layak dan bermartabat.
Partisipasi masyarakat merupakan hak dan kewajiban seorang warga Negara untuk memberikan kontribusinya kepada pencapaian kelompok. Sehingga mereka diberi kesempatan untuk ikut serta dalam pembangunan dengan menyumbang inisiatif dan kreatifitasnya. Sumbangan inisiatif dan kreatifitas dapat disampaikan dalam rapat kelompok masyarakat atau pertemuan-pertemuan, baik yang bersifat formal maupun informal. Dalam rapat kelompok atau pertemuan itu, akan saling memberi informasi antara pemerintah dan masyarakat. Jadi dalam partisipasi terdapat komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat dan antara sesama anggota masyarakat. Sebagai mahluk sosial manusia senantiasa diharapkan saling berhubungan baik terhadap sesamanya, memiliki rasa kebersamaan, hidup tolong menolong, saling bekerja sama, serta tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan orang lain. Begitu pula halnya dalam melaksanakan tugas kehidupan dan pembangunan bangsanya manusia dituntut untuk dapat berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan, partisipasi masyarakat merupakan unsur yang tak dapat dipisahkan dalam proses pembangunan itu sendiri.
Fenomena merebaknya anak jalan di Indonesia merupakan persoalan sosial dan kompleks. Hidup menjadi anak jalanan memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan, karna mereka berada dalam kondisi yang tidak bermasa depan yang jelas, dan keberadaan mereka tidak jarang menjadi ‘masalah’
bagi banyak pihak, keluarga masyarakat dan negara. Namun perhatian tentang
nasib anak jalanan tampaknya belum begitu besar dan solutif. Mereka adalah amanah tuhan yang harus dilindungi, dijamin hak-haknya, sehingga tumbuh kembang menjadi manusia yang bermanfaat, beradab dan bermasa depan cerah.
Dalam UUD 1945,’’anak terlantar itu dipelihara oleh negara’’, artinya pemerintah mempunyai tanggung jawab terhadap pemeliharaan dan pembinaan anak-anak terlantar, termasuk anak jalanan. Hak-hak asasi anak terlantar dan anak jalanan, pada hakikatnya sama dengan hak-hak asasi manusia pada umumnya. Mereka perlu mendapatkan hak-haknya secara normal sebagaimana layaknya anak, yaitu hak sipil dan kemerdekaan (civil rights and freedoms), lingkungan keluarga dan pemilihan kekeluargaan (family environment and alternative care), kesehatan dasar dan kesejahteraan (basic health and welfare), pendidikan, rekreasi, dan budaya (education, laisure and culture activites), dan perlindungan khusus (spesial protection). Namun jika melihat kenyataan sekarang Penanganan anak jalanan di seluruh wilayah kota besar di indonesia belum mempunyai model dan pendekatan yang tepat dan efektif.
Setiap anak pada dasarnya memiliki hak yang sama, termasuk anak jalanan. Mereka juga berhak atas hak pendidikan, kesehatan dan hak perlindungan. Dalam menjamin hak-hak tersebut maka pemerintah menuangkannya pada suatu kebijakan berupa Undang-Undang PerlindunganAnak nomor 23 tahun 2002 yang menjelaskan bahwa setiap anak merupakan tunas potensi dan generasi muda penerus cita-cita bangsa, memiliki peran yangs trategis dan mempunyai ciri serta sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi Bangsa dan Negara pada masa depan, oleh karena itu perlu mendapatkan
kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental maupun sosial. Maka diperlukan adanya upaya perlindungan untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-hak serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi. Selain itu dibentuk pula Komisi Nasional Perlindungan Anak dengan tujuan memantau, mamajukan dan melindungi hak-hak anak serta mencegah berbagai kemungkinan pelanggaran hak anak yang dilakukan oleh Negara, perorangan atau lembaga.
Makassar adalah ibu kota dari Provinsi Sulawesi Selatan dimana merupakan salah satu kota besar di Indonesia, Makassar memiliki wilayah seluas 175,77 km² dan penduduk sebesar kurang lebih 1,25 juta jiwa. Dalam perkembangan Kota Makassar masih meninggalkan beberapa masalah kesejahteraan sosial, salah satunya permasalahan anak jalanan. Lokasi yang sering terlihat banyak anak jalanan adalah bertempat di jalan pettarani, urip sumoharjo, pengayoman dan pantai losari. Dengan banyaknya titik-titik yang ditempati oleh anak jalanan membuat banyak masyarakat berfikir kurangnya perhatian pemerintah dalam penanganan anak jalanan yang seharusnya menjadi perhatian yang serius oleh pemerintah dalam penanganannya.
Di satu sisi, mereka dapat mencari nafkah dan mendapatkan pendapatan (income) yang dapat membuatnya bertahan hidup dan menopang kehidupan keluarganya. Namun di sisi lain, kadang mereka juga berbuat hal-hal yang merugikan orang lain, misalnya berkata kotor, mengganggu ketertiban jalan, merusak body mobil dengan goresan dan lain-lain. Selain itu permasalahan anak jalan juga adalah sebagai objek kekerasan. Mereka merupakan kelompok sosial
yang sangat rentan dari berbagai tindakan kekerasan baik fisik, emosi, seksual maupun kekerasan sosial. Kecenderungan semakin meningkatnya jumlah anak jalanan merupakan fenomena yang perlu segera ditingkatkan penanganannya secara lebih baik, sebab jika permasalahan tidak segera ditangani maka dikhawatirkan menimbulkan permasalahan sosial baru. Situasi dan kondisi jalanan sangat keras dan membahayakan bagi kehidupan anak-anak, seperti ancaman kecelakaan, eksploitasi, penyakit, kekerasan, perdagangan anak, dan pelecehan seksual.
Pembinaan anak jalanan merupakan segala upaya atau kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat untuk mengatasi anak jalanan, gelandangan pengemis, pengamen dan keluarganya supaya dapat hidup dan mencari nafkah dengan tetap mengutamakan hak-hak dasar bagi kemanusiaan seperti yang tercantum dalam Peraturan Daerah Kota Makassar No. 2 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Anak Jalanan, Gelandangan, Pengemis, dan Pengamen Di Kota Makassar. Berdasarkan uraian di atas, penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian dan penulisan skripsi dengan judul ”Peran Pemerintah dalam Pembinaan Anak Jalan Di Kota Makassar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan penjelasan diatas maka rumusan masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana Peran Pemerintah dalam Pembinaan Anak Jalanan di Kota Makassar
2. Bagaimana Partisipasi Masyarakat dalam Pembinaan Anak Jalanan di Kota Makassar?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari rumusan masalah yang telah dirumuskan diatas maka tujuan penelitian ini yaitu:
1. Untuk mengetahui peran pemerintah dalam pembinaan anak jalanan di kota Makassar.
2. Untuk mengetahui partisipasi masyarakat dalam pembinaan anak jalanan di kota Makassar.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan dari latar belakang, rumusan masalah dan tujuan penelitian maka manfaat dari penelitian ini adalah:
a. Manfaat Teoritis
Diharapkan bagi penulis agar dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta dapat mengaplikasikan teori tentang partisipasi masyarakat, serta mampu mengembangkan pengetahuan tentang pembinaan anak jalanan.
b. Manfaat Praktis
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan masukan yang positif bagi pihak yang terkait atau yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan, terutama partisipasi masyarakat dalam pembinaan anak jalanan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Peran pemerintah dalam pembinaan anak jalanan, yang harus dikaji dengan konsep-konsep yang relevan dengan fokus yang akan dikaji. Dalam penelitian ini peneliti yang mengkaji konsep yang relevan sebagai berikut: (1) konsep tentang peran pemerintah, (2) konsep pembinaan anak jalan.
A. Peran Pemerintah
Peran merupakan aspek dinamis dari kedudukan (status) yang dimiliki oleh seseorang, sedangkan status merupakan sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang apabila seseorang melakukan hak-hak dan kewajiban- kewajiban sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu fungsi.
Hakekatnya peran juga dapat dirumuskan sebagai suatu rangkaian perilaku tertentu yang ditimbulkan oleh suatu jabatan tertentu. Kepribadian seseorang juga mempengaruhi bagaimana peran itu harus dijalankan. Peran yang dimainkan hakekatnya tidak ada perbedaan, baik yang dimainkan / diperankan pimpinan tingkat atas, menengah maupun bawah akan mempunyai peran yang sama.
Peran merupakan tindakan atau perilaku yang dilakukan oleh seseorang yang menempati suatu posisi di dalam status sosial, syarat-syarat peran mencangkup 3 (tiga) hal, yaitu : 1. Peran meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan. 2. Peran adalah suatu konsep
8
perilaku apa yang dapat dilaksanakan oleh individu-individu dalam masyarakat sebagai organisasi. Peran juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu, yang penting bagi struktur sosial masyarakat. 3. Peran adalah suatu rangkaian yang teratur yang ditimbulkan karena suatu jabatan. Manusia sebagai makhluk sosial memiliki kecenderungan untuk hidup berkelompok. Dalam kehidupan berkelompok tadi akan terjadi interaksi antara anggota masyarakat yang satu dengan anggota masyarakat yang lainnya. Tumbuhnya interaksi diantara mereka ada saling ketergantungan. Dalam kehidupan bermasyarakat itu munculah apa yang dinamakan peran (role). Peran merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan seseorang, apabila seseorang melaksanakan hak-hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka orang yang bersangkutan menjalankan suatu peranan.
Menurut Friedman, M (1998 : 286) Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi ( ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut. Sedangkan menurut Soekanto (1990:268) Peran adalah aspek dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peran.
Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kududukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka
hal ini berarti ia menjalankan suatu peranan.. Keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan dan saling bertentangan satu sama lain. Setiap orang mempunyai macam-macam peranan yang berasal dari pola-pola pergaulan hidupnya. Hal tersebut sekaligus berarti bahwa peranan menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat kepadanya. Peranan lebih banyak menekankan pada fungsi, penyesuaian diri dan sebagai suatu proses (Soerjono Soekanto, 2002: 268-269).
Menurut Soerjono Soekanto (2002: 441), unsur-unsur peranan atau role adalah:
1). Aspek dinamis dari kedudukan 2). Perangkat hak-hak dan kewajiban
3). Perilaku sosial dari pemegang kedudukan 4). Bagian dari aktivitas yang dimainkan seseorang.
Hubungan-hubungan sosial yang ada dalam masyarakat, merupakan hubungan antara peranan-peranan individu dalam masyarakat, sementara peranan itu sendiri diatur oleh norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Pemerintah adalah organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang-undang di wilayah tertentu. Pemerintah bisa kita artikan sebagai orang atau sekelompok orang yang memiliki kekuasaan untuk memerintah, atau lebih simpel lagi adalah orang atau sekelompok orang yang memberikan perintah. Namun secara keilmuan, Pemerintah diartikan dalam beberapa definisi, antara lain ada yang mendefinisikan sebagai lembaga atau badan publik yang mempunyai fungsi dan tujuan Negara, ada pula yang mendefinisikan sebagai sekumpulan orang-orang yang mengelola kewenangan- kewenangan, melaksanakan kepemimpinan dan koordinasi pemerintahan serta pembangunan masyarakat dari lembaga-lembaga dimana mereka ditempatkan.
Dalam ilmu pemerintahan dikenal adanya dua definisi pemerintah yakni dalm arti sempit dan arti luas, dalam arti luas pemerintah didefinisikan sebagai Suatu bentuk organisasi yang bekerja dengan tugas menjalankan suatu sistem pemerintahan, sedangkan dalam arti sempit didefinisikan sebagai Suatu badan persekumpulan yang memiliki kebijakan tersendiri untuk mengelola, memanage, serta mengatur jalannya suatu sistem pemerintahan. Pemerintah secara tidak langsung mengatur hidup kita dari sejak dalam kandungan hingga setelah meninggalpun.
Secara etimologis kata pemerintahan berasal dari kata perintah, yang dapat diartikan sebagai berikut :
1. Melakukan pekerjaan menyuruh/ perkataan yang menyuruh melakukan sesuatu
2. Badan yang melakukan kekuasaan memerintah/ kekuasaan memerintah suatu negara (daerah negara) atau badan negara tertinggi yang memerintah suatu negara (seperti kabinet termasuk pemerintahan)
3. Perbuatan, cara, hal atau urusan dari badan yang memerintah tersebut.
Dari pengertian tersebut terdapat perbedaan antara pemerintah dengan pemerintahan. Pemerintah dapat diartikan sebagai kekuasaan memerintah suatu negara, sedangkan pemerintahan sebagai perbuatan atau cara dalam memerintah.
Pemerintah dalam arti luas adalah seluruh kegiatan pengusaan negara oleh lembaga pemegang kekuasaan negara dalam rangka mencapai tujuan negara.
Pemerintah dalam arti sempit adalah pelaksana penguasaan negara yang
merupakan kegiatan penyelenggaraan eksekutif untuk memberikan pelayanan umum dan mengangkat kesejahteraan rakyat.
Menurut Wilson (1903:572), Pemerintah dalam akhir uraiannya adalah suatu pengorganisasi kekuatan, tidak selalu berhubungan dengan organisasi kekuatan angkatan bersenjata, tetapi dua atau sekelompok orang dari sekian banyak kelompok orang yang dipersiapkan oleh suatu organisasi untuk mewujudkan maksud dan tujuan bersama mereka, dengan hal-hal yang memberikan bagi urusan-urusan umum kemasyarakatan. Sedangkan menurut Apter (1965:84), Pemerintah itu merupakan suatu anggota yang paling umum yang memiliki tanggungjawab tertentu untuk mempertahankan sistem yang mencakupnya, itu adalah bagian dan monopoli praktis mengenai kekuasaan paksaan. Dengan demikian, pada umumnya pemerintah adalah sekelompok individu yang mempunyai wewenang tertentu untuk melaksanakan kekuasaan atau sekelompok individu yang mempunyai dan melaksanakan wewenang yang syah dan melindungi serta meningkatkan melalui perbuatan dan pelaksanaan berbagai keputusan yang dibuat pemerintah berdasarkan perundang-undangan baik tertulis maupun tidak tertulis.
Pengertian pemerintah adalah organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang-undang di wilayah tertentu.
Pengertian pemerintah memiliki kaitan yang sangat dalam dengan istilah pemerintahan. Karena pemerintah dan pemerintahan adalah dua hal yang sangat dekat. Sebagaimana dengan hal yang lainnya, pengertian pemerintah memiliki berbagai definisi, tergantung dari sudut pandang atau konteks pembicaraan.
Peran pemerintah daerah dalam hal ini yang dimaksud yaitu Dinas Sosial, dimana peran Dinas Sosial Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Makassar mempunyai peranan yang penting terhadap pemberdayaan anak, seperti halnya memberikan bimbingan sosial, bimbingan keterampilan yang dapat diaplikasikan di kehidupan di masyarakat namun tidak selamanya dalam pemberdayaan tersebut berjalan dengan mulus. Sedangkan peran Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Makassar dalam mengembangkan usaha yang dilaksanakan oleh anak jalanan adalah sebagai pendamping dan monitoring. Hal ini dimaksud untuk tidak memberikan penekanan kepada anak bimbingannya sehingga mereka dapat berkembang dan usaha yang dijalankan dapat dilakukan dengan baik.
B. Pembinaan Anak Jalanan
Sebelum diuraikan tentang pengertian pembinaan anak jalanan, terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian tentang pembinaan. Pembinaan menurut Gouzali (Haryani : 2005 : 28) adalah pembaharuaan, penyempurnaan atau usaha, tindakan atau kegiatan yang dilaksanakan secara berdaya guna atau berhasil guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Pengertian pembinaan dikemukakan Widjaya (Haryani, 2005 : 28) adalah proses atau pengembangan yang mencakup aturan-aturan. Pengertian diawali dengan mendirikan, menumbuhkan, memelihara pertumbuhan tersebut disertai usaha -usaha perbaikan dalam penyempurnaan dan akhirnya mengembangkanya.
Moekijat ( dalam Haryani 2005: 29) mengemukakan bahwa pembinaan adalah penerapan pengetahuan ilmu perilaku dalam usaha jangka panjang untuk
meningkatkan kemampuan organisasi mengatasi perubahan dalam lingkungan eksternalnya dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah.
Beberapa pengertian pembinaan di atas dapat memberikan pemahaman bahwa pembinaan merupakan proses, pembuatan, cara pembinaan, pembaharuan, usaha dan tindakan atau kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan baik atau memberikan suatu perubahan kepada diri seseorang agar kemampuan dan keterampilan yang diperoleh dari pendidikan dan latihan dapat lebih baik, memiliki perubahan sikap dan perilaku yang baik serta disiplin mematuhi segala peraturan yang ditetapkan. Demikian halnya pada pembinaan anak jalanan agar dapat memberikan perubahan kepada sikap dan perilaku diri sendiri. Apabila anak jalanan tersebut dibina dengan baik, mereka memiliki potensi yang tidak kalah dengan anak pada umumnya. Anak jalanan perlu dirangkul untuk mendapatkan haknya memperoleh pendidikan dan tidak selalu dipandang sebelah mata. Pembinaan anak jalanan menurut Soegeng (Haryani : 2005: 29) adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memberikan pembinaan sikap dan perilaku, serta kamampuan untuk menghasilkan manusia yang berguna dilingkungannya.
Anak merupakan aset bangsa yang sangat berharga dalam menentukan kelangsungan hidup, kualitas, dan kajayaan suatu bangsa dimasa yang akan datang. Untuk menjadi aset yanag berharga, anak mempunyai hak dan kebutuhan yang harus dipenuhi yaitu hak kebutuhan akan makanan, gizi, kesehatan, bermain kebutukan emosional dan pendidikan, serta memerlukan lingkungan keluarga dan lingkungan sosial yang mendukung bagi kelangsungan hidup, tumbuh kembang,
dan perlindugannya. Mereka memiliki dirinya dan berhak atas peluang dan dukungan untuk mewujudkan dan mengembangkan diri dan kemampuan yang dimilikinya.
Untuk menangani permasalahan anak jalanan harus diakui bukanlah hal yang mudah. Selama ini, berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan, baik oleh LSM, pemerintah, organisasi profesi, dan sosial maupun orang per orang untuk membantu anak jalanan keluar atau paling tidak sedikit mengurangi pendekatan mereka. Namun, karena semuanya dilakukan secara temporer, segmenter, dan terpisah, maka hasilnya pun menjadi kurang maksimal.
UNICEF (dalam Bagong 2013 : 199) Usulan Rano Karno tatkala ia menjabat sebagai Duta besar UNICEF, sesungguhnya mereka adalah anak-anak yang tersisih, marginal dan terelinasi dari perlakuan kasih sayang karena kebanyakan dalam usia yang relative dini sudah harus berhadapan dengan lingkungan kota yang keras, dan bahkan tidak bersahabat. Diberbagai sudut kota yang sering terjadi anak jalanan harus bertahan hidup dengan cara-cara yang secara sosial kurang atau bahkan tidak dapat diterima masyarakat umum sekedar untuk menghilangkan rasa lapar dan keterpaksaan untuk membantu keluarganya.
Tidak jarang mereka dicap sebagai penganggu ketertiban yang membuat kota menjadi kotor sehingga yang namanya razia atau penggarukan bukan lagi hal yang mengagetkan mereka.
Marginal, rentan dan eksploiratif adalah istilah- istilah yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi dan kehidupan anak jalanan. Marginal karena mereka melakukan jenis pekerjaan tidak jelas jenjang keriernya., kurang dihargai, dan
umumnya juga tidak menjanjikan prospek apapun dimasa depan. Rentan karena resiko yang harus ditanggung akibat jam kerja yang sangat panjang benar- benaar dari segi kesehatan maupun sosial sangat rawan. Adapun disebut eksploitatif kerena mereka memiliki posisi tawar menawar (Bargaining Position) yang sangat lemah, dan cenderung menjadi obyek perlakuan yang sewenang-wenang dari ulah preman atau oknum aparat yang tidak bertanggung jawab.
Anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari dijalanan baik untuk mencari nafkah atau berkeliaran dijalan dan tempat-tempat umum lainnya (Depsos R.I.,1995).
Arti anak jalanan menurut peserta Lokakarya Nasional Anak Jalanan dengan Departemen Sosial sebagai penyelenggara ditahun 1995 adalah sebagai berikut :
“anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran dijalanan atau tempat-tempat umum lainnya.
Anak jalanan juga sering disingkat anjal adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya. Tapi hingga kini belum ada pengertian anak jalanan yang dapat dijadikan acuan bagi semua pihak.
Sebagai bagian dari pekerja anak (child labour), anak jalanan bukanlah kelompok yang homogen. Mereka cukup beragam dan dapat dibedakan atas dasar pekerjaannya, hubungannya dengan orang tua atau orang dewasa terdekat, waktu dan jenis kegiatannya di jalanan, serta jenis kelaminnya. Secara garis besar anak jalanan terbagi atas tiga kategori, yaitu :
1. Pertama, Children On The Street, yaitu anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga.
Sebagian penghasilan mereka di jalan diberikan kepada orang tuanya.
Fungsi anak jalanan pada kategori ini adalah untuk membantu memperkuat penyangga ekonomi keluarganya karena beban atau tekanan kemiskinan yang harus ditanggung dan tidak dapat diselesaikan sendiri oleh kedua orang tuanya. Ada dua kelompok anak jalanan dalam kategori ini, yaitu: (1) Anak- anak jalanan yang masih tinggal bersama orangtuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari. (2) Anak-anak yang tinggal di jalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin.
2. Kedua, Children Of The Street, yaitu anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan, baik secara sosial maupun ekonomi dan ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya. Ada beberapa di antara mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tuanya, tetapi frekuensi pertemuan mereka tidak menentu. Banyak di antara mereka adalah anak-anak yang karena suatu sebab, biasanya kekerasan, sehingga lari atau pergi dari rumah. Anak-anak pada kategori ini sangat rawan terhadap perlakuan salah, baik secara sosial, emosional, fisik maupun seksual.
3. Ketiga, Children From Families Of The Street, yaitu anak yang keluarganya memang di jalanan yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan.
Faktor-faktor yang menyebabkan anak-anak jalanan terjerumus dalam kehidupan dijalanan, yang menurut Dayat (dalam Haryani : 2005: 22) adalah : (1) Faktor keluarga; (2) Faktor pendidikan; (3) Faktor lingkungan masyarakat.
1) Faktor Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan faktor utama dan pertama dalam pengawasan dan pembinaan anak terutama yang dilakukan oleh orang tua. Hal ini sangat erat hubungannya dengan tanggung jawab orang tua dengan membimbing, mengarahkan dan menjadi anak tersebut mempunyai pendidikan yang cukup sampai mendapatkan pekerjaan yang layak atau kehidupan yang wajar. Kondisi perekonomian khususnya keluarga yang penghasilannya rendah mendorong anak untuk mencari pekerjaan atau lebih tepataya mencari uang dangan cara apapun demi memenuhi kebutuhan ekonomi.
2) Faktor Pendidikan
Sebagian besar anak jalanan yang dapat dijaring dewasa ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan maupun keterampilan yang dimiliki masih rendah, sehingga mereka tidak akan mampu bersaing untuk mencari pekerjaan yang layak dibandingkan dengan yang berpendidikan dan memiliki keterampilan yang cukup.
Akhirnya mereka berupaya dengan cara apapun untuk mencari pekerjaan dan uang.
3) Faktor Lingkungan Masyarakat
Hal ini berkaitan dengan faktor korelatif yang mendasar sehingga mendorong munculnya anak jalanan yaitu :
a. Meningkatnya jumlah pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) dan lemahnya keterampilan serta angkatan kerja yang semakin membengkak setiap tahunnya tidak seimbang dengan lapangan kerja yang tersedia.
b. Belum meratanya tingkat kehidupan masyarakat, berakibat timbulnya kesenjangan sosial antara kelompok masyarakat yang sudah mapan dengan kelompok masyarakat yang tingkat ekonominya masih rendah.
c. Lunturnya nilai-nilai budaya dan nilai-nilai agama pada sebagian besar masyarakat mengakibatkan perubahan sikap yang lebih individualistis, konsumeristik dan suka pamer.
d. Pemberitaan dimedia massa, baik cetak maupun elektronik yang menampilkan sebagian adegan kekerasan, seolah-olah orang mudah melakukan apa saja terhadap orang lain.
e. Hukuman yang ringan bagi pelaku pelanggaran sampai kejahatan yang mengandung unsur kekerasan tidak memberikan efek jera, bahkan selesai menjalani hikuman, kemampuan dalam melakukan kejahatan semakin tinggi, sehingga berpeluang untuk berbuat lagi.
Departemen sosial (Haryani : 2005: 23) menyebutkan keberadaan anak jalanan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
a. Tingkat mikro (immediate couses) yakni faktor yang berhungan dengan anak dan keluarganya.
b. Tingkat messo (underlying couses) yakni faktor dimasyarakat.
c. Tingkat makro (basic caoses) yakni faktor yang berhubungan dengan struktur makro.
Pada tingkat mikro, sebab yang dapat diidentifikasikan dari anak dan keluarga yang berkaitan tetapi juga dapat berdiri sendiri yakni :
a. Lari dari keluarga, disuruh bekrja baik karena masih sekolah maupun karena sudah putus sekolah, berpetualang, bermain-main atau diajak teman.
b. Sebab dari keluarga adalah terlantar, ketidak mampuan orang tua menyebabkan kebutuhan dasar, ditolak orang tua, salah perawatan atau kekerasan dirumah, kesulitan berhungan dengan keluarga/tetangga, terpisah dari orang tua, sikap-sikap yang salah terhadap anak, keterbatasan merawat anak yang mengakibatkan anak menghadapi masalah fisik, psikologi dan sosial.
Sementara pada tingkat messo atau masyarakat, sebab yang dapat diidentifikasi adalah :
a. Pada masyarakat miskin, anak-anak adalah aset untuk membantu peningkatan hidup keluarga, anak-anak diajarkan bekerja yang berakibat drop out dari sekolah.
b. Pada masyarakat lain, urbanisasi menjadi kebiasaan dan anak-anak mengikuti.
c. Penolakan masyarakat dan anggapan anak jalanan sebagai calon kriminal.
Pada struktur masyarakat, sebab yang dapat diidentifikasi adalah :
a. Ekonomi adalah adanya peluang pekerjaan sektor informal yang tidak terlalu membutuhkan modal dan keahlian, mereka harus lama dijalanan dan meninggalkan bangku sekolah, ketimpangan desa dan kota yang mendorong urbanisasi.
b. Pendidikan, biaya sekolah yang tinggi, perilaku guru yang diskriminatif, dan ketentuan-ketentuan teknis dan birokrasi yang mengalahkan kesempatan belajar.
c. Belum seragamnya unsur-unsur pemerintah dalam memandang personal anak jalanan, antara kelompok yang memerlukan perawatan (pendekatan kesejahteraan) dan pendekatan yang menganggap anak jalanan sebagai trouble (pembuat masala) sehinga digunakan pendekatan keamanan (security approach ).
C. Kerangka Pikir
Keterlibatan pemerintah selain membuat peraturan mereka juga bisa langsung terlibat dalam suatu kegiatan yang di rencanakan, dalam suatu kegiatan mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan kegiatan, sampai kepada proses pengembangan kegiatan atau program tersebut.
Peran pemerintah dalam pembinaan anak jalanan memiliki kriteria di luar dari tugasnya sebagai pemerintah pembuat peraturan dan memiliki banyak program yaitu memiliki peran penting diantaranya pembinaan langsung terhadap anak jalanan, pembinaan sosial, peningkatan keterampilan dan memberikan pendidikan kepada anak jalanan.
Apabila poin di atas terlaksana dan didukung oleh semua pihak dengan baik maka peran pemerintah dalam pembinaan anak jalanan akan berjalan dengan baik juga, begitupun sebaliknya jika tidak terlaksana atau tanpa dukungan dari semua pihak maka penanganan anak jalanan akan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Untuk memudahkan pemahaman dari penjelasaan diatas maka penulis merumuskan dalam bentuk bagan kerangka fikir sebagai barikut:
BAGAN KERANGKA FIKIR
D. Fokus Penelitian
Fokus Penelitian ini berangkat dari latar belakang masalah kemudian dirumuskan dalam rumusan masalah dan dikaji berdasarkan teori dalam tinjauan pustaka. Adapun fokus penelitian yang berpijak dari rumusan masalah adalah peran pemerintah dalam pembinaan anak jalanan dikota makassar. Fokus
Peran Pemerintah dalam Pembinaan Anak Jalanan
Pembinaan Langsung
Pembinaan Sosial
Pembinaan Keterampilan
Pendidikan Formal dan Informal
Efektivitas Pembinaan Anak Jalanan
penelitian ini terdiri beberapa hal pokok yang perlu di uraikan yaitu : Pembinaan langsung, pembinaan sosial, pembinaan keterampilan, dan pendidikan formal dan informal.
E. Deskripsi Fokus Penelitian
1. Peran pemerintah dalam pembinaan anak jalanan adalah keikutsertaan pemerintah dalam proses mengidentifikasi masalah dan potensi yang ada pada program yang dibuat dalam pembinaan anak jalanan.
2. Pembinaan langsung anak jalanan adalah keterlibatan pemerintah yang tidak hanya membuat peraturan tetapi mereka sendiri melaksanakan atau secara sadar kedalam interaksi sosial dalam situasi tertentu yang membina langsung anak jalanan. Pembinaan langsung yang dimaksud yaitu pembinaan moral atau mental, seperti peran pemerintah dalam bentuk pengajian dsb.
3. Pembinaan sosial dimana pemerintah dapat ikutserta atau bersama anak jalanan mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, seperti bakti sosial dalam bentuk apapun.
4. Pembinaan Keterampilan yang di maksud yaitu memberikan keterampilan-keterampilan kepada anak jalanan sesuai dengan bakatnya, seperti keterampilan menjahit dan sebagainya.
5. Pendidikan adalah hal yang terpenting dalam kehidupan kita, ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Dalam hal ini pendidikan secara formal dan informal, dimana informal seperti diberikan pelatihan-pelatihan,
sedangkan pendidikan formal seperti bersekolah pada umumnya. Agar apabila mereka nantinya turun kejalanan mereka bisa mandiri dan bekerja sesuai dengan apa yang telah diberikan.
6. Efektivitas pembinaan anak jalanan adalah suatu ukuran pencapain dari tujuan pembinaan anak jalanan yang mampu dicapai dengan melakukan semua prosedur yang telah ditentukan dengan baik artinya bahwa hasil yang dicapai sesuai dengan yang diinginkan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu penelitian ini direncanakan akan berlangsung selama kurang lebih 2 (dua) bulan setelah seminar proposal. Penelitian ini akan dilakukan di Kota Makassar khususnya di Dinas Sosial kota makassar yang terdapat dijalan Arif Rahman Hakim (pongtiku), Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan yang bertempat di Kompleks Maizonette Jl. Bougenville Raya, Yayasan Jati (Lembaga Sosial Masyarakat) yang bertempat di Kompleks Maizonette Jl. Melati 6, Yayasan Pabbatta Ummi atau SKW (Sanggar Kegiatan Warga) dan Anak Jalanan.
B. Jenis dan Tipe penelitian 1. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk kata, kalimat, dan gambar.
2. Tipe penelitian
Tipe penelitian ini adalah tipe penelitian deskriptif kualitatif adalah menganut paham fenomonologis dan postpositivisme. Sebuah aliran filsafat yang mengkaji penampakan atau fenomena yang mana antara fenomena dan kesadaran tidak terisolasi satu sama lain melainkan selalu berhubungan secara dialektis.
25
C. Sumber Data
Sumber data adalah sumber-sumber yang dimungkinkan seoarang peneliti mendapatkan sejumlah informasi atau data-data yang dibutuhkan dalam sebuah penelitian, baik data primer dan data sekunder dengan proporsi sesuai dengan tujuan penelitian ini.
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden, baik dari data sampel maupun informan dari penelitian. Data tersebut merupakan data pertama dimana sebuah data dihasilkan.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah penelitian yang bersumber dari instansi setempat, data tersebut berupa catatan-catatan atau dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian ini. Data sekunder adalah data kedua sesudah sumber data primer. Data yang dihasilkan dari sumber data ini adalah data sekunder.
D. Informan Penelitian
Informan penelitian ini diambil dari Dinas Sosial, Lembaga Perlindungan Anak, Yayasan Jati di kota Makassar, SKW dan Anak Jalanan sebanyak 10 orang, dengan menggunakan teknik prosedur bola salju (snowball ) dalam prosedur ini, dengan siapa informan pernah dikontak atau pertama kali bertemu dengan peneliti adalah penting untuk menggunakan jaringan sosial mereka untuk merujuk peneliti kepada orang lain yang berpotensi berpartisipasi atau berkontribusi dan mempelajari atau memberi informasi kepada peneliti. adapun tabel dari informan adalah sebagai berikut:
Tabel 1 Daftar Informan Penelitian
No Nama Umur Pekerjaan/Jabatan
1 Nurahsyah, SH (N A) 51 Kasi Pembinaan Anak Jalanan 2 Mariati. S. Sos (MA) 38 Staf Rehabilitas Sosial 3 Drs. Mas’ud. MM 50 Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial 4 M. Ghufran H Kordi K
(MG)
40 Sekretaris LPA
5 Mawardi (MW) 36 Staf LPA
6 Arni (A) 27 Admin. Keungan Jati
7 Risnawati (RS) 23 Sekretaris Yapta-U
8 Naharia (N) 38 Staf Yapta-U
9 Rini (R) 13 Anak jalanan
10 Manda (M) 10 Anak Jalanan
Sumber: Dinas Sosial, LPA, Yayasan Jati, Yapta-U/SKW dan Anak Jalanan E. Teknik pengumpulan data
Dalam penelitian ini data dikumpulkan dengan menggunakan teknik : a. Wawancara
Salah satu metode pengumpulan data, terutama digunakan dalam meneliti masalah-masalah sosial yang merupakan sebuah proses percakapan yang berbentuk tanya jawab dengan tatap muka.
b. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan panca indra mata sebagai alat bantu utamanya selain pancaindra lainnya seperti telinga, penciuman, mulut, dan kulit.
Karna itu observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pancaindra mata serta dibantu dengan panca indra lainnya.
c. Dokumentasi
Merupakan suatu informasi tertulis, visual atau fakta yang bisa dinyatakan dalam bentuk angka, grafik atau aturan perundang- undangan yang mempunyai legalitas.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif, kualitatif diungkapkan dalam bentuk kalimat serta uraian-uraian, bahkan dapat berupa cerita pendek, dapat menunjukkan perbedaan dalam bentuk jenjang atau tingkatan, walaupun tidak jelas batas-batasnya.
G. Pengabsahan Data
Salah satu cara paling penting dan mudah dalam uji keabsahan hasil penelitian adalah dengan melakukan triagulasi metode, teori, dan data yaitu : 1. Triagulasi dengan Sumber Data
Dilakukan dengan membandingkan dan mengecek baik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan cara yang berbeda dalam metode kualitatif yang dilakukan dengan: (a) membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara; (b) membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dilakukan sepanjang waktu; (c) membandingkan keadaan dan persfektif seseorang dengan berbagai pendapatan dan pandangan orang lain seperti rakyat biasa,
orang yang berpendidikan menengah atau tinggi,orang berada dan orang pemerintahan; (d) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
2. Triagulasi Dengan Metode
Triagulasi ini dilakukan untuk melakukan pengecekan terhadap penggunaan metode pengumpulan data, apakah informasi yang didapat dengan metode interview sama dengan metode observasi, atau apakah hasil obsevasi sesuai dengan informasi yang diberikan ketika di-interviw. Begitu pula teknik ini diakukan untuk menguji sumber data ketika di-interviw dan doobsevasi akan memberikan informasi yang sama atau berbeda. Apabila berbeda maka peneliti harus dapat menjelaskan perbedaan itu, tujuannya adalah untuk mencari kesamaan data dengan metode yang berbeda.
3. Triagulasi dengan Teori
Dilakukan dengan menguraikan pola, hubungan dan menyrtakan penjelasan yang muncul dari analisis untuk mencari tema atau penjelasan pembanding.
Secara induktif dilakukan dengan menyertakan usaha pencarian cara lain untuk mengorganisasikan data yang dilakukan dengan jalan memikirkan kemungkinan logis dengan melihat apakah kemungkinan-kemungkinan ini dapat ditunjang dengan data.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi atau Karakteristik Obyek Penelitian 1. Profil Dinas Sosial Kota Makassar
a. Sejarah Singkat Dinas Sosial Kota Makassar
Dinas sosial Kota Makassar yang sebelumnya adalah Kantor Departemen Sosial Kota Makassar didirikan berdasarkan keputusan Presiden No. 44 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen dan Keputusan Presiden No.
45 tahun 1974 tentang Susunan Organisasi Departemen beserta lampiran- lampirannya sebagaimana beberapa kali dirubah, terakhir dengan Keputusan Presiden No. 49 tahun 1983.
Khusus di Indonesia Timur didirikan Departemen Sosial Daerah Sulawesi Selatan yang kemudian berubah menjadi Jawatan Sosial lalu dirubah lagi menjadi Kantor Departemen Sosial berdasarkan Keputusan Menteri Sosial RI No. 16 tahun 1984 tentang Organisasi dan tata kerja kantor departemen social di propinsi maupun di Kabupaten/Kotamadya, dan akhirnya menjadi Dinas Sosial kota Makassar pada tanggal 10 April 2000 yang ditandai dengan pengangkatan dan pelantikan kepala dinas social kota Makassar berdasarkan keputusan Walikota Makassar Nomor : 821.22:24.2000 tanggal 8 Maret 2000.
Dinas Sosial kota Makassar terletak di Jl. A.R Hakim No. 50 Makassar, kelurahan Ujung Pandang Baru, Kecamatan Tallo Kota Makassar berada pada tanah seluas 499 m² dengan bangunan fisik gedung berlantai 2 dan berbatasan dengan :
30
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kantor Kecamatan Tallo 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Perumahan Rakyat 3. Sebelah Barat berbatasan dengan Jl. Ujung Pandang Baru 4. Sebelah Timur berbatasan dengan Perumahan Rakyat b. Visi dan Misi Dinas Sosial Kota Makassar
Berdasarkan tugas dan fungsi Dinas Sosial, maka Visi Dinas Sosial Kota Makassar adalah sebagai berikut:
“Pengendalian permasalahan sosial berbasis masyarakat tahun 2014”
maknanya adalah manusia membutuhkan kepercayaan diri yang dilandasi oleh nila-nilai kultur lokal yang diarahkan kepada aspek tatanan kehidupan oleh nilai- nilai kultur lokal yang diarahkan kepada aspek tatanan kehidupan dan penghidupan untuk menciptakan kemandirian lokal sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dasar, peningkatan keterampilan kerja, ketentraman, kedamaian, dan keadilan sosial yang mengarah kepada peningkatan kesejahteraan sosial bagi dirinya sendiri, keluarga dan lingkungan social masyarakatnya, serta mendorong tingkat partisipasi sosial masyarakat dalam ikut melaksanakan proses pelayanan kesejahteraan sosial masyarakat. Misi Dinas Sosial diterapkan sebagai berikut :
1. Meningkatkan partisipasi sosial masyarakat melalui pendekatan kemitraan dan pemberdayaan sosial masyarakat dengan semangat kesetiakawanan sosial masyarakat.
2. Memperkuat ketahanan sosial dalam mewujudkan keadilan sosial melalui upaya memperkecil kesenjangan sosial dengan memberikan perhatian kepada warga masyarakat yang rentan dan tidak beruntung.
3. Mengembangkan sistem perlindungan sosial 4. Melakukan jaminan sosial
5. Pelayanan rehabilitasi sosial secara optimal 6. Mengembangkan pemberdayaan sosial Adapun tujuannya sebagai berikut :
1. Meningkatkan kwalitas pelayanan kesejateraan sosial yang bermartabat sehingga tercipta kemandirian lokal penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS)
2. Meningkatkan pendayagunaan sumber daya dan potensi aparatur (struktural dan fungsional) dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai untuk mampu memberikan pelayanan dibidang kesejahteraan sosial yang cepat, berkualitas dan memuaskan
3. Meningkatkan koordinasi dan partisipasi sosial masyarakat/ stakeholders khususnya Lembaga Sosial Masyarakat dan Organisasi Sosial serta pemerhati di bidang kesejahteraan sosial masyarakat.
c. Struktur Organisasi
Berdasarkan peraturan Walikota Nomor 34 tahun 2009 tentang uraian tugas jabatan struktural pada dinas sosial kota Makassar, maka jabatan struktural pada dinas sosial kota Makassar sebagai berikut :
Sumber : Dinas Sosial Kota Makassar 2014 Berikut rincian struktur organisasi Dinas Sosial :
1. Kepala Dinas 2. Sekretaris
a. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian b. Sub Bagian Keuangan
KEPALA UPTD Dra. Yuyun Yuliawati M.Si
KEPALA DINAS
DRS. ANDI MUHAMMAD YASIR, M.SI
SEKRETARIS Drs. H. YUNUS M.Si KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL
KEPALA BIDANG USAHA KESEJAHTERAANSOSIAL Drs. Ihsan Idrus, MM
KASI PENYULUHAN &
PENELITIAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
Hatma, S.Sos
KASI PEMBINAAN KELUARGA PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN
Dra. Hartati AS, M.Si
KASI BIMBINGAN KARANG TARUNA POTENSI KESEJAHTERAAN SOSIAL
Sitti Farida S.Sos
KEPALA SUB BAGIAN KEUANGAN Danial Laisouw, SE KEPALA SUB BAGIAN
UMUM & KEPEGAWAIAN Dra. Sri Sosiawati Latief
KEPALA SUB BAGIAN PERLENGKAPAN Muh. Darwis Yunus, SE
KEPALA BIDANG REHABILITASI SOSIAL
Drs. Mas’ud, S.MM
KASI REHABILITASI PENYANDANG CACAT
Hasnah A. S.Sos, M.si
KASI REHABILITASI TUNA SOSIAL M. Arsyad Thamal, S.Sos
KASI PEMBINAAN ANAK JALANAN, GEPENG &
PENGAMEN
Nurahsyah, SH
KABID PENGENDALIAN BANTUAN & JAMINAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
Drs. Muharram, M.Pd
KASI PEMBERDAYAAN FAKIR MISKIN A.B. Nyoma Multisari, SH, MH
KASI PENANGANAN KORBAN BENCANA SOSIAL
Drs. Abd. Rahman, M.Si
KASI JAMINAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
La Heru S.Sos, M.Si
KABID BIMBINGAN ORGANISASI SOSIAL
Drs. A. Anis
KASI BIMBINGAN SUMBANGAN SOSIAL Dra. ST. Rosdiana B, M.Si
KASI BIMBINGAN ORGANISASI SOSIAL & ANAK TERLANTAR
Dra. Eny Adriyani, M.Si
KASI PELESTARIAN NILAI KEPAHLAWAAN KEPERINTISAN & KEUANGAN
Haldar Hamzah, S.S.T.P
c. Sub Bagian Perlengkapan 3. Bidang Usaha Kesejahteraan Sosial
a. Seksi penyuluhan dan penelitian kesejahteraan sosial
b. Seksi pembinaan keluarga dan penyandang masalah kesejahteraan sosial
c. Seksi bimbingan karang taruna dan potensi sumber kesejahteraan 4. Bidang Rehabilitasi sosial
a. Seksi Rehabilitasi Penyandang Cacat b. Seksi Rehabilitasi tuna sosial
c. Seksi Pembinaan Anak Jalanan, Gelandangan, Pengemis, Pengamen dan Pemulung
5. Bidang Pengendalian Bantuan dan Jaminan Kesejahteraan Sosial a. Seksi Pemberdayaan Fakir Miskin
b. Seksi Penanganan Korban Bencana Sosial c. Seksi Jaminan Kesejahteraan Sosial 6. Bidang Bimbingan Organisasi Sosial
a. Seksi Bimbingan Sumbangan Sosial
b. Seksi Bimbingan Organisasi Sosial dan Anak Terlantar
c. Seksi pelestarian Nilai Kepahlawanan, Keperintisan dan Kejuangan 7. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
Unit Pelaksana Teknis Dinas ini sebagai unsure pelaksana operasional dinas pada Dinas Sosial Kota Makassar.
d. Tugas Pokok
1. Kepala Dinas
Dinas Sosial Kota Makassar mempunyai tugas pokok yaitu melaksanakan sebagian tugas pokok sesuai kebijakan walikota dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, merumuskan kebijaksanaan, mengoordinasikan, dan mengendalikan tugas-tugas dinas.
2. Sekretaris
Sekretaris mempunyai tugas pemberian, pelayanan administrasi bagi seluruh satuan kerja di lingkungan Dinas Sosial Kota Makassar.
a. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
Sub Bagian Umum dan Kepegawaian mempunyai tugas menyusun rencana kerja, melaksanakan tugas teknis ketatausahaan, mengelola administrasi kepegawaian serta melaksanakan urusan kerumah tanggaan dinas.
b. Sub Bagian Keuangan
Sub Bagian Keuangan mempunyai tugas menyusun rencana kerja, melaksanakan tugas teknis keuangan.
c. Sub Bagian Perlengkapan
Sub Bagian Perlengkapanmempunyai tugas mensyusun rencana kerja, melaksanakan tugas teknis perlengkapan, membuat laporan serta mengevaluasi semua pengadaan barang.
3. Bidang Usaha Kesejahteraan Sosial
Bidang Usaha Kesejahteraan Sosial mempunyai tugas melaksanakan pembinaan, kegiatan dibidang penyuluhan dan bimbingan sosial, pembinaan keluarga penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) dan potensi sumber kesejahteraan sosial (PSKS), pembinaan karang taruna dan pelaksanaan penelitian/pendataan PMKS dan PSKS.
4. Bidang Rehabilitasi Sosial
Bidang Rehabilitasi Sosial mempunyai tugas melaksanakan rehabilitasi sosial penyandang cacat, rehabilitasi tuna sosial, dan pembinaan anak jalanan, gelandangan, pengemis, dan pengamen, korban tindak kekerasan pekerja migran.
5. Bidang Pengendalian Bantuan dan Jaminan Kesejahteraan Sosial Bidang Pengendalian Bantuan dan Jaminan Kesejahteraan Sosial mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengendalian bantuan, pemberian bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial termasuk pengendalian daerah rawan bencana dan daerah kumuh, bantuan kepada masyarakat fakir miskin serta bantuan kepada korban bencana alam dan sosial serta pelayanan kepada orang terlantar.
6. Bidang Bimbingan Organisasi Sosial
Bidang Bimbingan Organisasi Sosial mempunyai tugas melaksanakan bimbingan dan pelayanan terhadap organisasi sosial/LSM dan anak terlantar, pengendalian dan penerbitan usaha pengumpulan sumbangan sosial dan undian berhadiah serta melaksanakan pembinaan dan
pemahaman pelestarian nilai kepahlawanan, keperintisan dan kejuangan serta kesetiakawanan.
2. Lembaga Perlindungan Anak (LPA) a. Sejarah singkat LPA
Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan berdiri tahun 1998.
LPA Sulawesi Selatan bertujuan mewujudkan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak Anak (KHA) PBB dan Undang-Undang Perlindungan (UU No.
23/2002). Lembaga ini bekerja pada advokasi dan perubahan kebijakan untuk pemenuhan hak dan perlindungan anak, penguatan kapasitas stakeholders perlindungan anak, dan layanan perlindungan anak.
Sejak didirikan, LPA Sulawesi Selatan telah bekerjasama dengan sejumlah lembaga, baik pemerintah maupun nonpemerintah. Lembaga internasional yang pernah bekerjasama dengan LPA Sulawesi Selatan, di antaranya UNICEF, ILO, ICM, dan AusAID. Sedangkan dengan Pemerintah Pusat, LPA Sulawesi Selatan pernah bekerjasama dengan Kementrian PPPA, Kementerian Sosial, KPAI, Komnas PA, dan berbagai instansi pemerintah di Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Kota di Sulawesi Selatan. Didirikan pada tanggal 7 Desember 1998 Dokumen Hukum : SK.Menteri Kehakiman RI No: C-402.HT.03.01 – TH.
1999/Tgl 24 – 02 – 1999. Perubahan Akte No. 02 Tanggal 12 April 2003 Oleh Yusdin Fahim, SH
b. Visi dan Misi LPA Visi
LPA sebagai wadah terdepan untuk mewujudkan masyarakat yang berpihak pada pemenuhan hak anak sesuai KONVENSI HAK ANAK (KHA) dan Undang- undang Perlindungan Anak.
Misi
1. Melindungi dan memenuhi segenap hak-hak anak sesuai dengan semangat Konvensi Hak Anak dan Undang-undang Perlindungan Anak.
2. Memantau pelaksanaan hak-hak anak secara sistematis dan berkelanjutan.
3. Menciptakan situasi dan kondisi kehidupan masyarakat dalam memegang teguh prinsip dan nilai positif yang mengarah pada jaminan kelangsungan hidup secara wajar sesuai tuntutan pertumbuhan dan perkembangan anak.
4. Melakukan diseminasi, Kampanye dan Advokasi hak-hak anak sebagaimana diatur dalam Konvensi Hak Anak dan Undang-undang Perlindungan Anak.
5. Membangun jaringan dengan lembaga pemerintah, organisasi non pemerintah maupun perorangan yang memiliki komitmen yang sama untuk melakukan upaya perlindungan terhadap anak.
b. Sasaran LPA
1. Anak-anak yang mengalami gangguan atas hak-haknya :
a. Anak yang diperlakukan salah (perlakuan kejam, anak korban pelecehan seksual)
b. Anak yang dieksploitasi (anak dipaksa bekerja, anak terpaksa bekerja, anak jalanan, prostitusi anak)
c. Anak yang diterlantarkan (balita terlantar, yatim piatu terlantar, putus sekolah terlantar, anak-anak sekolah kurang mampu)
d. Anak yang diperlakukan diskriminatif (perlakuan gender, diperas oleh majikan, perbedaan upah terhadap pekerjaan, hak-hak yang dibedakan dalam industri/pabrik)
e. Anak yang berada dalam situasi berbahaya (anak di daerah bencana, perang, keributan, anak terlibat tindak pidana)
f. Anak bermasalah lainnya (anak nakal,vandalisme anak, anak bekas narapidana, anak korban narkotika).
g. Anak cacat (anak cacat tubuh, cacat mental, tuna rungu wicara, tuna netra, anak-anak penderita kusta).
2. Orang Tua/Keluarga 3. Lembaga Pemerintah 4. Masyarakat
5. Lembaga/Instansi Pelayanan Langsung c. Prinsip dan Fungsi LPA
Prinsip
1. Dalam menjalankan Tugas dan Fungsinya, lembaga ini berlandaskan atas Komitmen Kemanusiaan, Kesetaraan, Kebersamaan, Kemandirian dan Demokratis
2. Dalam hubungan dengan Anak, lembaga ini senantiasa memberikan akses seluas-luasnya bagi anak untuk didengar pendapat dan pikirannya dalam segala bentuk.
3. Dalam hubungan dengan Publik, lembaga ini bertanggungjawab kepada masyarakat dan terbuka di dalam seluruh proses kerja lembaga.
Fungsi LPA
Dalam menjalankan aktivitasnya, LPA memiliki fungsi antara lain :
1. Mendorong Partisipasi semua pihak terkait untuk membangun kemitraan dalam rangka Perlindungan Anak
2. Menerima pengaduan mengenai pelanggaran hak asasi anak melalui hotline service
3. Memfasilitasi dan menjalankan peran sebagai lembaga rujukan insitusi terkait untuk mencari solusi mengenai pelanggaran hak anak baik yang dilaporkan secara langsung, dilaporkan secara tidak langsung maupun yang ditemukan sendiri.
d. Struktur Pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan Dewan Pembina
Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan
Kapolda Sulawesi Selatan
Kajati Sulawesi Selatan
Prof. DR. Mansyur Ramly
Prof. DR. Razak Thaha
Dewan Pengawas
Ilham Djafar
Pahir Halim
Asmin Amin
Nuryanto G. Liwang
Mulyadi Prayitno
Nina Basirah
Fadiah Machmud Dewan Pakar
Prof. DR. Hj. A. Majdah Agus AN
DR. Bachrah Dafrid, MS.
Elyas Yoseph
Alwy Rachman
Selle KS Dalle
Husaimah Husain
Dr. Hadiah
Adnan Buyung Aziz
Harry Triyadi
Dr. Heru Budianto, SH Dewan Pengurus
Ketua : Mappinawang
Wakil Ketua : Tria Amelia Tristiana Sekretaris : M. Ghufran H. Kordi K.
Administrasi/Keu. : Yusuf Syukur Staf Sekretariat : Warida Safie
: Darmin
Bidang Pengembangan Jaringan Kelembagaan
Rasmuddin Baus
Abdul Gafur
Afriani
Bidang Advokasi dan Pelayanan
Widyastuti
Rosmiati Sain
Kadir Wokanubun
Agus Angriawan
Makmur
Bidang Kajian, Informasi, dan Dokumentasi
Mawardi
Abdul Naris Agam Bidang Fundraising
Tenri A. Palallo
Abdul Rasyid Idris
Syamsu Rizal Ibrahim 3. Yayasan Jati
a. Sejarah singkat Yayasan Jati
Yayasan Jati adalah Lembaga swadaya masyarakat yang didirikan pada tahun 1998, yang wilayah kerjanya meliputi seluruh kabupaten/kotamadya di sulawesi Selatan. Fokus kegiatan utamanya adalah pemberdayaan Perempuan dan Anak dengan entry point HAM dan Demokrasi, Lingkungan, Ekonomi dan Sosial Budaya. Dalam melakukan kegiatan-kegiatannya, Yayasan Jati lebih menekankan pada aspek penguatan target group melalui pendekatan kelompok. Proses pemberdayaan target group secara sistematis berawal pada pengadaan kelompok- kelompok di tingat masyarakat bawah (grass root), kemudian dilakukan berbagai intervensi dengan prinsip pendekatan partisipatif, guna mencapai tujuan yang telah direncanakan.
b. Visi dan Misi Yayasan Jati Visi
Konsisten terhadap terwujudnya tatanan dunia yang lebih demokratis serta tertatanya ekosistem yang seimbang, sebagai hasil dari kemitraan dan kesetaran antara laki-laki dan perempuan serta teraktualisasinya 10 hak anak.
Misi
- Menciptakan tatanan yang demokratis dalam sistem dan struktur sosial masyarakat terutama penegakan HAM bagi perempuan, anak serta masyarakat luas menuju tatanan yang lebih baik.
- Mengembangkan sumberdaya perempuan dan anak dengan berbagai macam proses sebagai wujud aktualisasi hak menuju kemandirian dan keswadayaan
- Turut menciptakan lingkungan yang mampu mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan
- Mempersiapkan generasi penerus yang berilmu dan bertanggung jawab dengan segala perilakunya kepada lingkungan dan sosial masyarakat.
c. Maksud dan Tujuan Yayasan Jati Maksud
Membangun wacana, merancang aksi penegakan HAM dan demokrasi, lingkungan, Ekonomi dan sosial budaya guna memberdayakan perempuan dan anak sebagai warga negara dan masyarakat menuju pola hubungan yang lebih adil dan egaliter.
Tujuan