• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh. Juliamer Damanik /MAG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Oleh. Juliamer Damanik /MAG"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PETANI MELAKUKAN ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH

KE LAHAN TANAMAN KELAPA SAWIT DI KABUPATEN ROKAN HILIR

TESIS

Oleh

Juliamer Damanik 137039008/MAG

PROGRAM STUDI MAGISTER AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PETANI MELAKUKAN ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH

KE LAHAN TANAMAN KELAPA SAWIT DI KABUPATEN ROKAN HILIR

TESIS

Tesis Sebagai Salah Satu Syarat untuk dapat Memperoleh Gelar Magister Pertanian Pada Program Studi Magister Agribisnis

Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

Oleh:

Juliamer Damanik 137039008/MAG

PROGRAM STUDI MAGISTER AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)

Judul : Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Petani melakukanMelakukan Alih Fungsi Lahan Sawah ke Lahan Tanaman Kelapa Sawit di Kabupaten Rokan Hilir.

Nama : Juliamer Damanik

Nim : 137039008

Program Studi : Magister Agribisnis

Menyetujui Komisi Pembimbing,

(Ir.Diana Chalil, M.Si, PhD) (Dr.Ir.Surya Abadi Sembiring, M.Si)

Ketua Program Studi, Dekan,

(Dr.Ir. Rahmanta, M.Si) (Dr.Ir.Hasanuddin, MS)

(4)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini, saya menyatakan bahwa Tesis yang berjudul :

“Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keputusan PetanimelakukanMelakukan Alih Fungsi Lahan Sawah ke Lahan Tanaman Kelapa Sawit di Kabupaten Rokan Hilir.”

Adalah benar hasil karya saya sendiri dan belum perna dipublikasikan oleh siapapun sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara benar dan jelas

Medan, Maret 2017 yang membuat pernyataan

Juliamer Damanik NIM. 137039008/MAG

(5)

Dipersembahkan kepada:

Istri,Anak dan Keluarga

(6)

Tanggal:16 Maret 2017

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Ir.Diana Chalil, M.Si, PhD

Anggota : Dr.Ir.Surya Abadi Sembiring, M.Si Dr.Ir.Tavi Supriana, MS

Sri Fajar Ayu, SP, MM, DBA

(7)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PETANI MELAKUKAN ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH

KE LAHAN TANAMAN KELAPA SAWIT DI KABUPATEN ROKAN HILIR

THE FACTORS OF AFFECTING FARMERS DECISION DOING THE WETLAND CONVERSION INTO OIL PALM

ESTATE IN ROKAN HILIR

Juliamer Damanik, Diana Chalil, Surya AbadiSembiring ABSTRAK

Saat ini pemerintah sedang memberikan perhatian khusus untuk peningkatan produksi padi. Akan tetapi, pemerintah menghadapi berbagai kendala baik yang bersifat teknis maupun non teknis. Salah satukendala non teknis yang merupakan kendala terbesar dihadapi pemerintah saat ini adalah alih fungsi lahan sawah. Alih fungsilahansawah yang terjadi di Kabupaten Rokan Hilir pada umumnya kelahan tanaman kelapa sawit. Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi keputusan petanimengalih fungsikan lahan sawahnya perlu dilakukan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada pertengahan bulan Februari sampai dengan pertengahan bulan Maret 2016 di Kabupaten Rokan Hilir.

Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive di Kabupaten Rokan Hilir yang merupakan daerah sentra produksi padi Provinsi Riau dan mengalami alih fungsi yang cukup tinggi. Besar sampel ditentukan dengan rumus Slovin, sehingga diperoleh jumlah sampel 88 petani yang mengalih fungsikan lahannya.Sedangkan petani petani yang tidak mengalih fungsikan lahannya berjumlah 85 petani.

Masing-masing sampel ditentukan secara cluster convenience sampling. Analisis data dilakukan dengan model regresi logitbinari. Hasil estimasi menunjukkan bahwa faktor yang secara signifikan mempengaruhi keputusan petani adalah variabel rasio pendapatan, sementara faktor pendidikan, luaslahandanketersediaan modal tidak mempengaruhi.

Kata kunci: alih fungsi lahan, padi sawah, kelapa sawit, rasio pendapatan, keputusan petani.

ABSTRACT

Currently the government is giving special attention to increasing rice production. However, the government faces many obstacles both technical and non-technical. One non-technical obstacles are the biggest obstacle facing the current government is wetland conversion. The wetland conversion that occurs in Roka Hilir generally land to oil palm plantations. To determine the factors that affect farmers decision to converse their wetland so needs research to be done.

(8)

This research was conducted in mid-February to mid-March 2016 in Rokan Hilir.

The choice of location was purposively in RokanHilir, because it is an area of rice production centers in the Province of Riau and suffered considerable high wetland conversion. The method of determining the number of samples by using the formula Slovin, in order to obtain a sample 88 farmers who converted their land and 85 farmers who do not converted their land. Each sampling was determined by cluster convenience sampling. Data was analyzed using binarylogit regression models. The estimastion results indicate that factors significantly influence the decision of farmers is variable incom ratio, while education factor, land area, and availability of capital does not affect farmer’s decison to converse his wetland to plant oil palm.

Keywords: wetlandconversion, rice paddy, oil palmplantations, income ratio, farmersdecision

(9)

RIWAYAT HIDUP

JULIAMER DAMANIK, lahir di Pematang Siantar, pada tangal 25 Januari 1966 dari Bapak E. Damanik dam Ibu T. Br Saragih.

Penulis merupakan anak ke tujuh dari delapan bersaudara.

Pendidikan formal yang pernah ditempuh penulis sebagai berikut:

1. Tahun 1972 masuk Sekolah Dasar Negeri 12, tamat tahun 1978

2. Tabun 1978 masuk Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Pematang Siantar, tamat tahun 1982.

3. Tahun 1982 masuk Sekolah Menengah Teknologi Pertanian Pematang Raya, tamat tahun 1985.

4. Tahun 1987, diterima sebagi PNS Departemen Pertanian Yang dipekerjakan pada Kanwil Pertanian Propinsi Riau.

5. Tahun 1992, tugas belajar pada Akademi Penyuluhan Pertanian Medan, tamat tahun 1995.

6. Tahun 2008, mengikuti Pendidikan S1 di Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Jurusan Administrasi Publik di Universitas Terbuka, tamat 2011.

7. Tahun 2014 melanjutkan pendidikan S2 di Program Studi Magister Agribisnis Universitas Sumatera Utara.

(10)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhah Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat meneyelesaikan tesis ini dengan baik.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ir.

Diana Chalil, M.Si, PhD selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Dr. Ir.

Surya Abadi Sembiring, MSi selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah membantu penulis selama penyusunan tesis ini.

Secara khusus, penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua dan seluruh keluarga yang telah mendorong dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan tesis ini. Penghargaan dan ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada seluruh pegawai Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Rokan Hilir, Dinas Perkebunan Rokan Hilir dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Rokan Hilir dalam membantu penulis mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

Akhirnya, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian tesis ini. Semoga tesis inibermamfaat bagi kita semua.

Medan, Nopember 2016

Penulis,

(11)

DAFTAR ISI

Hal

ABSTRAK ... i

ABSTRACK... ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 9

1.3.Tujuan Penelitian ... 10

1.4. Kegunaan Penelitian ... 10

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1. Penelitian Terdahulu ... 11

2.2. LandasanTeori ... 13

2.3. Kerangka Pemikiran ... 24

2.4. Hipotesis Penelitian... 25

III. METODE PENELITIAN ... 26

3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 26

3.2. MetodePenentuan Sampel ... 26

3.3. Metode Pengumpulan Data ... 28

3.4. Metode Analisis Data ... 29

3.5. Defenisisi dan BatasanOperasional ... 33

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 36

4.1.Deskripsi Wilayah Penelitian ... 36

4.2.Deskripsi Sampel ... 38

4.3.Hasi Analisis dan Pembahasan ... 42

(12)

V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 55

5.1. Kesimpulan ... 55

5.2. Saran... 55

DAFTAR PUSTAKA ... 57

LAMPIRAN ... 60

(13)

DAFTAR TABEL

No Judul Hal 1. Perkembangan Jumlah Penduduk Indonesia dari Tahun 1971-2015 ... 2 2. Pertumbuhan Produksi Padi yang bernilai negatif di Indonesia Tahun

2010- 2014 ... 4 3. Perkembangan Luas Areal Tanaman Kelapa Sawit Pola Perkebunan

Rakyat dari Tahun 2009 – 2014 di Kabupaten Rokan Hilir ... 6 4. Luas Lahan Sawah (irigasi dan Non irigasi ) di Propinsi Riau dari

Tahun 2008 -.2012 ... 8 5. Luas Lahan Sawah di Kabupaten Rokan Hilir dari Hasil Pengukuran

Tahun 2013 ... 9 6. Jumlah Populasi dan Besarnya Sampel Petani yang

Mengalihfungsikan Lahan Sawah ke Lahan Kelapa Sawit di Daerah Penelitian ... 27 7. Jumlah Populasi dan Besarnya Sampel Petani yang tidak

Mengalihfungsikan Lahan Sawah ke Lahan kelapa Sawit di Daerah Penelitian ... 28 8. Pertumbuhan Rumah Tangga Usaha Pertanian di Kabupaten Rokan

Hilir dari Tahun 2003 - 2013. ... 37 9. Daftar Karateristik Petani Sampel ... 39 10. Daftar Pendapatan Rata-rata Petani Alihfungsi per Skala Usaha, per

Hektar dan Produktivitas... .. 41 11. Pengaruh Variabel Independen Terhadap Keputusan Petani ... 44 12. 1Daftar Harga Rata-rata GKP di Tingkat Petani oleh pihak swasta di

Kabupaten Rokan Hilir dari Tahun 2009 – 2015 (Rp/Kg)... ... 46 13. Daftar Harga Rata-rata TBS di tingkat petani dari Tahun 2009 – 2015. . 47 14. 1Dampak Cekaman Kekeringan Terhadap Kelapa Sawit. ... 48 15. Hubungan Umur Tanaman Terhadap Bobot Tanda Buah Segar dan

Jumlah Tanda Buah Segar ... 49

(14)

DAFTAR GAMBAR

No Judul Hal 1. Grafik Produksi Padi Indonesia dari Tahun 2010 – 2014 ( ribu ton)... 1 2. Grafik Perkembangan Luas Tanam dan Luas Panen Padi Sawah di

Kabupaten Rokan Hilir(Ha) ... 5 3. Grafik Perkembangan Luas Tanaman Kelapa Sawit Pola Perkebunan

Rakyat dan Perkembangan Tanaman Padi Sawah di Kabupaten Rokan Hilir ... 7 4. Nilai Tawar Sewa Hipotetik Berbagai Jenis Penggunaan Lahan ... 15 5. Kurva penawaran dan permintaan terhadap lahan pertanian ... 16 6. Kurva Ilustrasi Perbedaan Kesuburan Tanah pada Besarnya Land Rent

menurut Barlowe dalam Suparmoko ... 18 7. Skema Kerangka Pemikiran ... 24

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Hal 1. Perkembangan Alih Fungsi Lahan Tanaman Pangan ke Non Tanaman

Pangan dari Tahun 2002 – 2012 di Kabupaten Rokan Hilir ... 60

2. Tabel Produksi Padi Indonesia menurut Propinsi dari tahun 2010-2014 61

3. Daftar Perkembangan Luas Tanam Padi Sawah Tahun 2009-2014 di Kecamatan Rimba Melintang ... 62

4. Kuesioner Penelitian ... 63

5. Daftar Input data masing-masing variabel ... 69

6. Tabel Korelasi ... 74

7. Tabel Deteksi Multikulinieritas ... 75

8. Tabel Biaya Upah Tenaga Kerja Dan Biaya Saprodi Usahatani Padi Sawah Petani sampel ... 76

9. Tabel Total Biaya Produksi Padi Sawa Petani Sampel ... 78

10. Tabel Biaya Upah Tenaga Kerja Dan Biaya Saprodi Usahatani Kelapa Sawit Petani Sampel ... 80

11. Tabel Total Biaya Produksi Kelapa Sawit Petani Sampel ... 82

12. Tabel Hasil Perhitungan Pendapatan Rata-rata Usahatani Kelapa Sawit persatuan luas dari petani sampel yang mengalihfungsikan lahannya ... 84

13. Tabel Analisa Usahatani Padi Sawah Dan kelapa Sawit Petani Sampel 87 14. Hasil Olahan Data Primer melalui Sofwer SPSS ... 92

(16)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PETANI MELAKUKAN ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH

KE LAHAN TANAMAN KELAPA SAWIT DI KABUPATEN ROKAN HILIR

THE FACTORS OF AFFECTING FARMERS DECISION DOING THE WETLAND CONVERSION INTO OIL PALM

ESTATE IN ROKAN HILIR

Juliamer Damanik, Diana Chalil, Surya AbadiSembiring ABSTRAK

Saat ini pemerintah sedang memberikan perhatian khusus untuk peningkatan produksi padi. Akan tetapi, pemerintah menghadapi berbagai kendala baik yang bersifat teknis maupun non teknis. Salah satukendala non teknis yang merupakan kendala terbesar dihadapi pemerintah saat ini adalah alih fungsi lahan sawah. Alih fungsilahansawah yang terjadi di Kabupaten Rokan Hilir pada umumnya kelahan tanaman kelapa sawit. Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi keputusan petanimengalih fungsikan lahan sawahnya perlu dilakukan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada pertengahan bulan Februari sampai dengan pertengahan bulan Maret 2016 di Kabupaten Rokan Hilir.

Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive di Kabupaten Rokan Hilir yang merupakan daerah sentra produksi padi Provinsi Riau dan mengalami alih fungsi yang cukup tinggi. Besar sampel ditentukan dengan rumus Slovin, sehingga diperoleh jumlah sampel 88 petani yang mengalih fungsikan lahannya.Sedangkan petani petani yang tidak mengalih fungsikan lahannya berjumlah 85 petani.

Masing-masing sampel ditentukan secara cluster convenience sampling. Analisis data dilakukan dengan model regresi logitbinari. Hasil estimasi menunjukkan bahwa faktor yang secara signifikan mempengaruhi keputusan petani adalah variabel rasio pendapatan, sementara faktor pendidikan, luaslahandanketersediaan modal tidak mempengaruhi.

Kata kunci: alih fungsi lahan, padi sawah, kelapa sawit, rasio pendapatan, keputusan petani.

ABSTRACT

Currently the government is giving special attention to increasing rice production. However, the government faces many obstacles both technical and non-technical. One non-technical obstacles are the biggest obstacle facing the current government is wetland conversion. The wetland conversion that occurs in Roka Hilir generally land to oil palm plantations. To determine the factors that affect farmers decision to converse their wetland so needs research to be done.

(17)

This research was conducted in mid-February to mid-March 2016 in Rokan Hilir.

The choice of location was purposively in RokanHilir, because it is an area of rice production centers in the Province of Riau and suffered considerable high wetland conversion. The method of determining the number of samples by using the formula Slovin, in order to obtain a sample 88 farmers who converted their land and 85 farmers who do not converted their land. Each sampling was determined by cluster convenience sampling. Data was analyzed using binarylogit regression models. The estimastion results indicate that factors significantly influence the decision of farmers is variable incom ratio, while education factor, land area, and availability of capital does not affect farmer’s decison to converse his wetland to plant oil palm.

Keywords: wetlandconversion, rice paddy, oil palmplantations, income ratio, farmersdecision

(18)

I PENDAHULUAN 1.1.LatarBelakang

Saat ini pemerintah sedang memberikan perhatian khusus untuk peningkatan produksi padi. Akan tetapi dalam upayanya, pemerintah menghadapi berbagai kendala baik yang bersifat teknis maupun non teknis seperti penurunan kesuburan tanah, keterbatasanlahan, alih fungsi lahan dan sebagainya. Alih fungsi lahan merupakan kendala terbesar yang sedang dihadapi pemerintah saat ini. Alih fungsi lahan persawahan yang menjadi perumahan, maupun lahan perkebunan kelapa sawit menurunkan produksi nasional (Irianto dalam Dinarianti 2014). Berdasarkan data, diketahui pertumbuhan produksi padi Indonesia dari tahun 2010-2014 sangat rendah seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1 dimana pertumbuhan rata- ratanya - 1,98 %.

Gambar 1. Grafik Produksi Padi Indonesia dari Tahun2010-2014 ( ribu ton)

66.469,39

65.775,90

69.056,13

71.279,71

69.870,95

63.000,00 64.000,00 65.000,00 66.000,00 67.000,00 68.000,00 69.000,00 70.000,00 71.000,00 72.000,00

2010 2011 2012 2013 2014

Produksi ( ribu Ton)

(19)

Pertumbuhan produksi padi di Indonesia hanya – 1,98 %, sedang pertumbuhan penduduk Indonesia rata-rata dari tahun 1971-2014 mencapai 1,73 % seperti ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Perkembangan Jumlah Penduduk Indonesia dari Tahun 1971-2015

Keterangan : * angka prediksi.

Sumber : BPS, 2014

. Adanya perbedaan yang signifikan antara pertumbuhan penduduk dan perkembangan produksi padi,dikuatirkan akan terjadi ketidakseimbangan antara jumlah komsumsi dengan ketersediaan atau produksi pangan yang ada. Dan apabila kondisi ini dibiarkan terus menerus, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi gangguan ketahanan pangan di Indonesia(Lemhanas RI2013).

Hasil kajian Lemhanas RI (2013), selama dua dasawarsa terakhir, laju pertumbuhan produktivitas pangan di Indonesia sangat lamban kurun waktu 14 tahun terakhir (1996-2010) produktivitas padi tumbuh dibawah satu persen. Ada beberapa kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan produktivitas pangan di Indonesia, utamanya beras antara lain ; (1) skala usaha yang masih kecil,

Tahun Jumlah Penduduk(jiwa) Pertumbuhan %/tahun

1971 119.208.229 0,00

1980 147.490.298 2,62

1990 179.378.946 2,16

1995 194.754.808 1,71

2000 206.264.595 1,18

2010 237.641.326 1,52

2015 * 255.461.700 1,49

(20)

(2)rusaknya infrastruktur pertanian di berbagai daerah, (3) melemahnya sistem penyuluhan pertanian, (4) suplai air semakin berkurang, (5) adopsi inovasi teknologi relatif rendah, (6) kelembagaan petani masih lemah,dan (7) keadaan cuaca atau iklim yang tidak menentu.

Kaputra(2013), mengemukakan bahwa mewujudkan ketahanan pangan terbentur oleh masalah alih fungsi lahan sawah menjadi lahan non pertanian.

Penurunan produksi padi akibat alih fungsi lahan, tidak terlepas dari beberapa faktor seperti nilai ekonomi lahan, dimana nilai ekonomi lahan merupakan acuan bagi petani sawah untuk menentukan pilihan apakah usaha padi sawah lebih menguntungkan dari pada usaha yang akan dikembangkan. Para pemilik sumberdaya lahan cenderung menggunakan lahan untuk tujuan-tujuan yang memberikan harapan untuk diperolehnya penghasilan yang tertinggi (Suparmoko, 2003).Disamping itu kebijakan penerapan undang-undang/peraturan tataguna dan tata kelolah lahan seperti UU No 41 Tahun 2009 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan yang minim implementasinya membuat program ketahanan pangan menghadapi kendala (Anonimous, 2012).

Dari 34 propinsi yang ada di Indonesia terdapat 17 propinsi yang memiliki pertumbuhan produksi negatif yakni : Propinsi Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Banten, Bali, NTB, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, dan Papua. Pertumbuhan negatif yang tertinggi adalah DKI Jakarta, Kalimantan Utara kemudian Propinsi Riau sendiri yang mencapai - 10,4. Perincian pertumbuhan produksi padi yang bernilai negatif dapat dilihat pada Tabel 2.

(21)

Tabel 2. Pertumbuhan Produksi Padi yang Bernilai Negatif di Indonesia dariTahun 2010 – 2014.

Propinsi Pertumbuhan (%)

1. Aceh -3,39

2. Riau -10,4

3. Sumetara Selatan -3,13

3. Bengkulu -8,45

5. Kep. Bangka Belitung -2,12

6. DKI Jakarta -52,3

7. Jawa Tengah -7,99

8. DI Yogyakarta -1,81

9. Banten -5,95

10. Bali -0,21

11. NTB -4,09

12. Kalimantan Timur -1,53

13. Kalimantan Utara -16,86

14. Sulawesi Utara -1,75

15. Gorontalo -2,34

16. Sulawesi Barat -1,95

17.

Papua Barat -5,6

Sumber : BPS, 2014.

Ada tiga propinsi yang pertumbuhan produksi padinya paling rendah salah satunya adalah Propinsi Riau. Pertumbuhan produksi padi di Propinsi Riau dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 adalah - 10,38%.

Di Kabupaten Rokan Hilir, penurunan luas tanam telah terlihat dari musim tanam 2011 dan terus berlanjut sampai musim tanam 2014. Tren penurunan ini

(22)

ditunjukkan pada Gambar 1. Khusus pada tahun 2013 dan tahun 2014, luas tanaman yang di panen jauh lebih kecil dari luas tanam. Hal ini terjadi akibat sebahagian tanaman mengalami kegagalan panen yang diakibatkan oleh gangguan alam seperti banjir pada saat curah hujan yang tinggi, dan kekeringan pada saat musim kemarau.

Gambar 2.Grafik Perkembangan Luas Tanam dan Luas Panen Padi sawah di Kabupaten Rokan Hilir (Ha).

Data yang ditampilkan pada Gambar 2 menunjukkan tren penurunan luas tanam padi di Kabupaten Rokan Hilir, sedangkan tanaman kelapa sawit terus menunjukkan tren kenaikan seperti pada Tabel 3 .

43.175

43.466 44.127

44.828 40.691

45.770

18.915 24.815

13.052

10.536 10.315

7.937 0

5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 40.000 45.000 50.000

Tanam Panen Tanam Panen Tanam Panen Tanam Panen Tanam Panen Tanam Panen

2009 2010 2011 2012 2013 2014

(23)

Tabel 3. Perkembangan Luas Areal Tanaman Kelapa Sawit Pola Perkebunan Rakyat dari Tahun 2009 - 2014 di Kabupaten Rokan Hilir.

No Kecamatan 2009 2010 2011 2012 2013 2014

1 Kubu 1.779 12.708 12.958 13.549,5 15.024,70 15.109

2 Bangko 1.695 1.845 1.345 2.056,0 2.924,60 2.950

3 Tanah Putih 16.089 16.224 16.224 16.402,5 19.020,00 19.050 4 Rimba Melintang 7.965 8.040 8.343 8.618,0 8.548,00 8.549 5 Bagan Sinembah 34.637 33.563 33.963 34.310,0 34.396,00 34.457 6 Pasir Limau Kapas 1.173 1.215 8.620 12.598,5 12.598,00 12.472

7 Sinaboi 462 591 591 673,5 1.601,00 1.643

8 TP. Tj. Melawan 4.942 4.980 4.980 5.068,0 7.535,00 7.541 9 Pujud 22.574 27.296 28.881 27.770,0 33.335,00 33.496

10 Batu Hampar 702 924 925 1.241,0 2.085,00 2.130

11 Simpang Kanan 13.162 16.258 16.258 18.557,0 8.607,00 18.661 12 Bangko Pusako 22.346 22.536 22.536 22.448,0 22.448,00 22.448 13 Rantau Kopar 1.143 1.181 1.183 1.481,5 1.559,00 1.550

14 Pekaitan 0 0 2.113 2.216,0 3.081,00 3.106

Total 130.678 147.361 158.920 166.989,5 172.762,3 183.162

Sumber : Dinas Perkebunan Kabupaten Rokan Hilir 2015

Untuk melihat hubungan keduanya kita dapat membandingkan data luas tanam padi sawah pada Gambar 2 dengan data perkembangan luas perkebunan rakyat pada Tabel 3.Hubungan dari keduanya disajikan pada Gambar 3, sehingga dapat dilihat tren perkembangan luas perkebunan rakyat dan perkembangan luas lahan sawah sejak tahun 2009 sampai dengan 2014.

(24)

Gambar 3.Grafik Perkembangan Luas Tanaman Kelapa Sawit Pola Perkebunan Rakyatdan Perkembangan Tanaman Padi Sawah di Kabupaten Rokan Hilir

Adanya penurunan luas tanam padi sawah dari tahun 2009 sampai 2014 yang terjadi di Kabupaten Rokan Hilir di sebabkan adanya alih fungsi lahan sawah ke lahan tanaman kelapa sawit (Anonimous, 2015). Dugaan ini diperkuat dengan adanya data perkembangan luas alih fungsi lahan pangan ke non pangan yang terjadi dari mulai Tahun 2002 sampai dengan Tahun 2012 di Kabupaten Rokan Hilir yang di keluarkan oleh Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Rokan Hilir seperti pada Lampiran 1.

Tren penurunan luas lahan sawah dari Tahun 2008 sampai dengan Tahun 2012 di Kabupaten Rokan Hilir dapat dilihat pada Tabel 4.

0 20.000 40.000 60.000 80.000 100.000 120.000 140.000 160.000 180.000 200.000

2009 2010 2011 2012 2013 2014

Luas Kelapa sawit(Ha) Luas Padi sawah(Ha)

(25)

Tabel4. LuasLahan Sawah ( irigasi dan Non irigasi ) di Propinsi Riau Tahun 2008 -2012 (Ha)

No

Kabupaten

\Kota 2008 2009 2010 2011 2012

1

Kuantan

Singingi 9.779 9.886 9.343 10.198 9.696,86 2 Indragiri Hulu 4.065 4.226 4.866 4.866 3.486,66 3 Indragir iHilir 30.393 30.957 30.422 28.008 26.997,01 4 Pelalawan 11.654 10.404 10.803 11.010 9.102,81

5 Siak 4.819 4.885 4.809 4.420 4.744,31

6 Kampar 6.151 6.821 67.476 7.947 8.056,38

7 Rokan Hulu 3.197 3.493 3.333 3.387 3.845,80 8 Bengkalis 9.810 6.841 6.754 6.617 6.434,60 9 Rokan Hilir 37.122 37.980 33.965 33.012 32.998,38

10 Kep.Meranti 0 3.165 2.024 3.825 2.473,03

11 Pekanbaru 0 2 11 21 13,95

12 Dumai 5.262 3.571 2.155 2.806 2.316,60

Jumlah 122.245 122.738 115.961 116.117 110.166,39 Sumber : Cakrabawa, atel, 2013.

Penurunan luas lahan sawah di Kabupaten Rokan Hilir terus berlanjut, dimana dari hasil pengukuran yang dilakukan oleh PT Nur Straits Enginering Consultanyang merupakan lembaga yang ditunjuk oleh Kementrian Pertanian melakukan pengukuran ulang lahan sawah di Indonesia pada Tahun 2013, sawah di Kabupaten Rokan Hilir tinggal 12.709,64 ha, dengan perincian per kecamatan dapat dilihat pada Tabel 5, sehingga pengurangan luas lahan sawah dari Tahun 2012 sampai dengan Tahun 2013 mencapai 20.289,24 ha.

(26)

Tabel 5. Luas Lahan Sawah di Rokan Hilir Dari Pengukuran Tahun 2013.

No Kecamatan Luas (Ha)

1 Bagan Sinembah 109,82

2 Bangko 2.552,62

3 Bangko Pusako 484,53

4 Batu Hampar 104,00

5 Kubu 1.518,04

6 Kubu Babusalam 1.077,42

7 Pasir Limau Kapas 1.116,78

8 Rimba Melintang 949,76

9 Sinaboi 2.042,46

10 Tanah Putih 141,98

11 TanahPutih Tj.Melawan 55,10

12 Pekaitan 2.556,64

Jumlah 12.709,14

Sumber : Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Rokan Hilir, 2015

Alih fungsi lahan persawahan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit berkaitan dengan keputusan petani. Menurut Dinarianti (2014), keputusan alih fungsi lahan dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi, kondisi lahan dan peraturan pemerintah /UU. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang alih fungsi lahan di Kabupaten Rokan Hilir.

1.2.Perumusan Masalah

Pada Lampiran 1, diperoleh data yang bersumber dari Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Rokan Hilir menunjukkan bahwa adanya tren alih fungsi lahan sawah ke lahan non pertanian dari Tahun 2002 sampai dengan Tahun2013 di Kabupaten Rokan Hilir. Di sisi lain, pemerintah berusaha meningkatkan ketahanan pangan melalui salah satu program peningkatan produksi padi sawah. Tentu dalam pencapaian peningkatan ketahanan pangan, dihadapkan dengan masalah alih fungsi lahan sawah ke lahan tanaman kelapa sawit yang dilakukan petani. Dari

(27)

permasalahan, maka rumusan masalah adalah faktor-faktor apa yang mempengaruhi keputusan petani melakukan alih fungsi lahan sawah ke lahan tanaman kelapa sawit.

1.3. Tujuan Penelitian

Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani melakukan alih fungsi lahan sawah ke lahan tanaman kelapa sawit.

1.4. Kegunaan Penelitian

1. Sebagai masukan bagi pemerintah dan instansi terkait dalam mengambil kebijakan khususnya yang berkaitan dengan keputusan petani terhadap alih fungsi lahan sawah ke lahan tanaman kelapa sawit.

2. Sebagai bahan informasi dan referensi bagi pihak yang membutuhkan.

(28)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu Hasil penelitianAstuti, etal

Aspek ekomis terdiri atas : (1) harga jual tanaman pangan rendah khususnya pada saat panen (23,1% ), (2) panen sawit dilakukan kontiniu setiapdua minggu ( 13,3 %), (3) keuntungan berkebun kelapa sawit lebih tinggi (10,2 % ), (4) harga sawit lebih terjamin/stabil (9,9%), dan (5) biaya pemeliharaan tanaman sawit lebih rendah (1,9%). Aspek lingkungan terdiri atas : (1) kecocokan lahan untuk kebun kelapa sawit (6,9 %), ancaman hama dan penyakit pada tanaman pangan (6,7%), (3) kondisi irigasi tidak mendukung (4,9% ), (4) posisi tawar petani sawit lebih tinggi (2,7%), dan (5) tenaga kerja kebun sawit lebih sedikit (1,0 %), sedangkan aspek teknis terdiri atas (1) tanaman sawit berumur panjang (13,3%), (2) proses pascapanen tanaman pangan lebih sulit (2,4%), (3) teknik budidaya sawit lebih muda (2,2%), dan (4) kesulitan pengadaan pupuk untuk tanaman pangan (1,5%).

(2011) di Desa Kunkai Baru Propinsi Bengkulu, dengan analisis data menggunakan metodeAHP(Analytical Hierarchy Process) menunjukkan bahwa keputusan petani melakukan konversi lahan pangan menjadi kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh aspek ekonomis, lingkungan dan aspek teknis.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sugandi,et al (2012) di Bengkulu dengan menggunakan model regresi logistik dimana faktor- faktor yangsignifikan mempengaruhi petani melakukan alih fungsi lahan sawah menjadi kebun kelapa sawit adalah: resikousaha tani padi dengan nilai signifikan (0,009), intensitas penyuluhan (0,020),peraturan pemerintah mengenai tataguna dan tata

(29)

kelolah lahan (0,017), dan kendala ketersediaan air irigasi(0,002) dan nilai land rent dengan rasio 1,08. Sedangkan faktor-faktor yang tidak signifikan adalah:

jumlah tanggungan dengan nilai signifikan (0,141), luas kepemilikan lahan (0,145), dan pengalaman usahatani (0,665).

HasilPenelitian yang dilakukan oleh Hanizar (2012) di Kecamatan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara dengan menggunakan model regresi logit menunjukkan bahwa faktor –faktor yang signifikan mempengaruhi keputusan petani untuk melakukan alih fungsi lahan sawah irigasi ke tanaman perkebunan adalah pendidikan formal, luas lahan dan respon petani terhadap dinamika pasar, sedangkan faktor –faktor yang tidak signifikan adalah pengalaman usahatani dan pendapatan.

Penelitian yang dilakukan Gargaran(2011) tentang analisis alih fungsi lahan tanaman padi menjadi tanaman kelapa sawit di Kabupaten Labuhan Batu dengan menggunakan model persamaan Cobb- Douglas faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani mengalih fungsikan lahannya adalah faktor pendapatan, modal kerja, total produksi dan jumlah tenaga kerja

Hasil penelitian Dinarianti (2014) dalam skripsinya tentang faktor-faktor yang signifikan memepengaruhi alih fungsi lahan pertanian di daerah sepanjang irigasi Bendung Colo Kabupaten Sukaharjo dengan menggunakan metode persamaan Regresi Berganda adalah:faktor ekonomi, faktor sosasl, faktor kondisi lahan dan faktor peraturan pemerintah / UU .

Dari hasi penelitian terdahulu tersebut,diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam mengalihfungsikan lahan sawah ke lahan tanaman kelapa sawit adalah meliputi ketidak maksimalnya fungsi irigasi yang ada,

(30)

masih rendahnya produktivitas padi sawah yang diusahakan petani, resikousaha tani yang tinggi, proporsi pendapatan, nilai land rent,intensitas penyuluhan yang rendah dan minimnya implementasi Peraturan Pemerintah yang tentang tataguna dan tatakelolah lahan, harga jual lahan, luas kepemilikan lahan, status lahan, kondisi lahan, jumlah anggota keluarga dan pengalaman berusahatani.

2.2. Landasan Teori 2.2.1. Teori Keputusan

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan petani untuk menggunakan lahan pertanian yaitu : (1) faktor fisik ( iklim, topografi, tanah, air), dan (2) Faktor manusia (budaya dan sejarah, faktor ekonomi, faktor politik). Dalam pengambilan keputusan untuk melakukan usahatani tersebut, selain dipengaruhi oleh aspek fisik dan manusia juga dipengaruhi oleh sikap manusia

( behavioral element) dan kesempatan lain dari petani (chance element) yang akan

berpengaruh langsung terhadap pola usahatani.

Pada dasarnya hasil dari usahatani adalah pendapatan yang diterima petani, maka jika hasil usahatani mampu meningkatkan pendapatan petani, petani sejahtera dan ini merupakan dampak yang positif. Sebaliknya jika hasil usahatani bersifat stagnasi atau tidak dapat meningkatkan pendapatan, maka dampakhasil usahatani bersifat negatif. Dalam membuat suatu keputusan, terhadap penggunaan suatu lahan, harus lebih dahulu mengetahui elemen fisik lahan tersebut dan elemen manusia yang ada di tambah dengan inovasi yang ada seperti teknologi yang tersedia. Pendapatan yang ada, juga mempengaruhi pola pertanian yang akan diterapkan, dimana dengan pendapatan yang tinggi akan menentukan pola pertanian yang dapat menciptakan kesejahteraan, merupakan dampakpositif dari

(31)

inovasi, sementara kalau pendapatan yang rendah, akan menghambat kemampuan untuk menerapkan inovasi pada usahatani, yang berdampak pada kemiskinan petani sebagai dampaknegatif dari stagnasi( Sukartawi, 1988).

2.2.2. Konsep Alih Fungsi Lahan

Lahan sebagai komoditas mempunyai nilai atau harga tersendiri yang ditentukan berdasarkan parameter, yaitu (1) tingkat produktivitas lahan itu sendiri,(2) lokasi/letak lahan, (3) kegiatan yang berada diatasnya (Sutarto,1993, dalan Nasution, etal, 2000). Penentuan nilai berdasarkan parameter tersebut dapat menjadi salah satu alasan terjadinya alih fungsi lahan, sebab dengan terjadinya tingkat produktivitas suatu kegiatan yang dilakukan di atas lahan, akan menyebabkan kecenderungan untuk melakukan alih fungsi lahan ke bentuk lain agar produktivitasnya bertambah yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai lahan tersebut. Disamping itu, nilai /harga suatu lahan juga ditentukan oleh jarak lahan tersebut dari pusat ekonomi yang ditunjukkan oleh garis horizontal, sedangkan nilai ekonomis ditunjukkan oleh garis vertikal. Penggunaan lahan untuk komersial dan industri memberikan nilai yang lebih tinggi, menyusul daerah pemukiman, dan kemudian daerah pertanian, sedangkan daerah padang pengembalaan dan hutan memiliki nilai lahan yang lebih rendah dari yang lainnya (Suparmoko, 1989). Penjelasan di atas dapat di lihat pada Gambar 4.

(32)

Gambar 4. Nilai Tawar Sewa Hipotetik berbagai jenis penggunaan lahan.

Sumber : Suparmoko (1989) Nasution, etal

2.2.3. Penawaran dan Permintaan lahan

( 2000) memaparkan beberapa faktor yang berperan penting menyebabkan proses konversi lahan pertanian ke lahan non pertanian, yaitu: (1) perkembangan standar tuntutan hidup (hal ini berhubungan dengan nilai landrent yang mampu memberikan perkembangan standar tuntutan hidup petani), (2) fluktuasi harga pertanian, (3) struktur biaya produksi pertanian, (4) teknologi, (5) aksesibilitas dan (6) resiko dan ketidak pastian.

Dari sudut pandang ekonomi, kurva penawaran lahan seperti kurva penawaran barang lainnya mempunyai slove yang positip karena perkaitan dengan

konsep produktivitas marjinal dari lahan. Berarti dengan naiknya harga, semakin banyak unit (luas) lahan yang mau dijual oleh produsen atau pemilik lahan.

Naiknya penawaran lahan bisa berasal dari lahan yang tadinya kurang sesuai untuk sebuah penggunaan tertentu, atau alih fungsi lahan dari suatu penggunaan lahan ke penggunaan lainnya. Dalam bidang pertanian misalnya, ketika permintaan terhadap lahan pertanian naik, berarti harga per unit lahan naik, lahan- lahan marjinal atau kurang subur yang awalnya tidak digunakan untuk pertanian,

(33)

karena tidak menguntungkan sekarang menjadi menguntungkan digunakan sebagai lahan pertanian. Dari sudut pandang ekonomi, alokasi lahan yang efisien untuk suatu jenis penggunaan tertentu tercapai ketika kurva permintaan dan dan penawaran berpotongan dimana terjadinya keseimbangan antara permintaan dan penawaran.

Penjelasan diatas dapat dilihat pada Gambar 5, dimana pada awalnya sumberdaya lahan belum merupakan sumberdaya yang langka, maka harga lahan masih sebatas q0, seiring dengan perjalanan waktu, jumlah penduduk telah bertambah, sementara kebutuhan akan lahan semakin bertambah juga, maka terjadi pergeseran kurva demand mengarah ke kanan (D1), sehingga mengakibatkan q1 yang menunjukkan peningkatan harga lahan tersebut.

Pergeseran kurva demand terus bergeser kekanan yang ditunjukkan oleh kurva D2, D3 yang diikuti dengan kurva suplai yang mengarah ke vertikal, sehingga harga lahan terus meningkat seperti yang ditunjukkan q2 dan q3.

Gambar5. Kurva Penawaran dan permintaan terhadap lahan pertanian Sumber:M.Suparmoko, Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 2003.

(34)

2.2.4. Pendapatan

Menurut Reksoprayitno (2004), pendapatan (revenue) dapat diartikan sebagai total penerimaan / jumlah penghasilan yang diterima sebagai balas jasa atau faktor- faktor produksi yang telah disumbangkan. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa pendapatan atau keuntungan merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya produksi. Penerimaan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi dengan harga produk tersebut, sedangkan biaya produksi merupakan hasil perkalian antara jumlah faktor produksi dengan harga faktor produksi tersebut.

2.2.5. Sewa Lahan/Land Rent sebagai surplus ekonomi

Sewa lahan dari sudut pandang ekonomi, adalah selisi dari total penerimaan setelah dikurangi total biaya yang meliputi semua faktor produksi termasuk managemen. Nilai ini yang semata-mata dapat dianggap berasal dari faktor produksi lahan saja. David Ricardo memberikan perhatian pada kesuburan lahan sebagai faktor yang membedakan nilai sewa sebidang lahan. Lahan yang lebih subur akan menghasilkan produksi lebih tinggi dari pada lahan yang kurang subur jika faktor produksi lainnya yang digunakan sama ( Gambar 6a). Dari sisi lain, untuk menghasilkan tingkat produksi yang sama, lahan yang subur memerlukan input lainnya yang lebih sedikit dibanding dengan lahan yang kurang subur.

Dengan kata lain, bahwa lahan yang kurang subur akan membutuhkan biaya produksi yang lebih besar dibanding lahan subur (Gambar 6 b), sehingga akan mempengaruhi besar kecilnya pendapatan/keuntungan. Terlebih lagi bila lahan tersebut merupakan lahan marjinal, dimana biaya produksi sama dengan pendapatan (Gambar 6c). Secara grafik, ilustrasi perbedaan kesuburan tanah pada

(35)

besarnya land rent digambarkan oleh Berlowe (1972) dalam Suparmoko, (2003) sebagai berikut.

Gambar 6.Kurva ilustrasi Perbedaan Kesuburan Tanah pada besarnya Land rent menurut Barlowe(1987)dalam Suparmoko, (2003).

Di lain pihak, Johann Heinrich von Thunen lebih memfokuskan pada jarak terhadap pendapatan bersih yang akan diterima oleh petani yang menghasilkan produk pertanian. Petani yang jauh dari pasar akan menerima harga yang lebih rendah dari pada petani yang dekat dengan pasar karena perbedaan biaya transportasi untuk membawa produk tersebut ke pasar. Jika diasumsikan kesuburan lahan sama, maka lahan yang jauh dari pasar akan memperoleh sewa yang lebih kecil dari pada lahan yang dekat dengan pasar. Konsep Von Thunen ini menjadi diperluas,bukan hanya jarak saja yang mempengaruhi sewa sebidang lahan, tetapi aksebilitas. Lahan yang mudah diakses, misalnya berada dipinggir

(36)

jalan, mempunyai nilai sewa yang lebih tinggi dari pada lahan yang di sebelahnya yang tidak mempunyai akses langsung ke jalan.

2.3.6. Inplementasi kebijakan undang-undang /peraturan tentang tata ruang dan tata guna lahan

Menurut Undang - undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2009 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan, tujuan dari perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan adalah : (1) melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan, (2) menjamin ketersesdiaan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan, (3) mewujudkan kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan, (4) melindungi kepemilikan lahan pangan milik petani, (5) meningkatkan kemakmuran serta kesehjahteraan petani dan masyarakat, (6) meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani, (7) meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak, (8) mempertahankan keseimbangan ekologis, dan (9) mewujudkan revitalisasi pertanian.

Sebagai tindak lanjut Undang-undang No 41 Tahun 2009, pemerintah mengeluarkan PP No.1 Tahun 2011 tentang penetapan alih fungsi lahan pertanian pangan berkelanjutan, bertujuan untuk: (1) mewujudkan dan menjamin tersedianya lahan pertanian pangan berkelanjutan, (2) mengendalikan alih fungsi lahan pertanian pangan berkelanjutan, (3) mewujudkan kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan nasional, (4) meningkatkan pemberdayaan pendapatan dan kesejahteraan bagi petani,(5) memberikan kepastian usaha bagi pelaku usaha tani, (6) mewujudkan keseimbangan ekologis, dan (7) mencegah pemubaziran investasi infrastrukturpertanian.

2.3.7. Ketersediaan Modal

(37)

Modal adalah hasil produksi yang digunakan untuk memproduksi lebih lanjut.

Dalam perkembangannya, kemudian modal ditekankan pada nilai, daya beli atau kekuasaan memakai atau menggunakan yang terkandung dalam barang-barang modal, (Riyanto, 1997). Menurut Riyanto (1997), pengertian modal usaha sebagai ikhtisar neraca suatu perusahaan yang menggunakan modal kongkrit (modal aktif) dan modal abstrak (modal pasif).

Modal berhubungan dengan pembiayaan perusahaan agribisnis atau yang disebut juga dengan keuangan pertanian yang berhubungan dengan permintaan, penawaran, pengaturan dan permohonan modal di sektor pertanian, sedangkan pembiayaan perusahaan agribisnis berhubungan dengan semua keperluan dan pengaturan serta pengontrolan keuangan untuk membiayai status perusahaan /kegiatan di sektor pertanian. Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa modal pertanian dalam arti makro adalah faktor produksi modal yang disalurkan, dikelolah dan dikontrol di dalam kegiatan ekonomi di sektor pertanian. Modal usahatani dalam arti mikro adalah faktor produksi modal yang disediakan , diolah dan dikontrol di dalam suatu usahatani perusahaan agribisnis maupun suatau usahatani yang masih sederhana.

Modal yang digunakan suatu perusahaan, berasal dari dua sumber yaitu: internal dan eksternal dimana sumber modal internal adalah modal yang berasal dari dalam perusahaan sepeti: (1) depresiasi yaitu modal yang berguna sebagai dana sementara untuk memenuhi kebutuhan perusahaan, untuk membeli aktiva baru, serta menggantikan aktiva lama yang rusak, (2) laba ditahan/Retained Earning yaitu laba setelah dipotong pajak dan, sedangkan modal eksternal adalah modal

(38)

yang berasal dari pihak ketiga diluar perusahaan seperti bank, pasar modal dan suplier.

2.3.8. Kebijakan irigasi

Irigasi adalah semua atau segala kegiatan yang mempunyai hubungan dengan usaha, untuk mendapatkan air guna keperluan pertanian (Mawardi, 2007).Kebijakan irigasi adalah tengtang peran negara dalam mempromosikan dan memberikan fasilitas. Ini juga berkaitan tentang pilihan-piliihan kebijakan yang ada sehubungan dengan teknologi alternatif irigasi, pengelolahan skema irigasi skla besar dan metode alternatif untuk pembiayaan dari petani untuk pengembangan usahataninya melalalui irigasi.Pengembangan jaringan irigasi, merupakan faktor penting dalam proses usahatani yang berdampak langsung terhadap kualitas dan kuantitas tanaman padi. Pengelolahan air irigasi dari hulu (upstream) sampai dengan hilir(downstream) memerlukan sarana dan prasarana

irigasi yang memadai. Sarana dan prasarana tersebut dapat berupa : (1) bendungan, (2) saluran primer dan sekunder, (3) kotak bagi, (4) saluran tersier, dan (5) saluran tingkat usahatani (TUT).

2.3.9. Regresi Logistik

Analisa Regresi dalam statistika adalah salah satu metode untuk menentukan hubungan sebab akibat antara satu variabel dengan variabel-variabel yang lain. Variabel ‘’penyebab’’ disebut dengan bermacam-macam istilah , diantaranya seperti variabel penjelas, variabel eksplanatorik, variabel independen, atau secara bebas, variabel X (karena seringkali digambarkan dalam grafik sebagai absis, atau sumbu X). Variabel ‘’terkena akibat’’ dikenal sebagai

(39)

variabel yang dipengaruhi, variabel devenden, variavel terkait, atau variabel Y.

Kedua variabel ini dapat merupakan variabel acak (random), namun variabel yang dipengaruhi harus selalu variabel acak. Analisa Regresi adalah salah satu analisis yang paling populer dan luas pemakaiannya.

Adapun Regresi Logistik (kadang disebut model logistik atau model logit) merupakan salah satu bagian dari Analisa Regresi, yang digunakan untuk memprediksi probalitas kejadian suatu pristiwa, dengan mencocokkan data pada fungsi logit kurva logistik. Metode ini merupakan model linier umum yang digunakan untuk regresi binomial. Seperti analisa regresi pada umumnya, metode ini menggunakan beberapa variabel bebas, baik numerik maupun kategori.

Regresi Logistik ini tidak memerlukan asumsi normalitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi, dikarenakan variabel terikat yang terdapat

pada Regresi Logistik merupakan variabel dummy( 0 dan 1 ), sehingga residualnya, tidak memerlukan ketiga pengujian tersebut. Untuk asumsi multikolinieritas, karena hanya melibatkan variabel-variabel bebas, maka masih perlu untuk dilakukan pengujian. Untuk pengujian mulitikolinearitas ini dapat digunakan uji kebaikan suai (goodness of fit test), yang kemudian dilajutkan dengan pengujian hipotesis ( uji 𝑋2 ), guna melihat variabel-variabel bebas mana saja yang signifikan, sehingga dapat tetap digunakan dalam penelitian.

Selanjutnya, diantara variabei-variabel bebas yang signifikan, dapat dibentuk suatu matriks korelasi, dan apabila tidak terdapat variabel-variabel bebas yang saling memiliki korelasi yang tinggi, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat ganguan multikolinieritas pada model penelitian (Widarjono, 2013).

Persamaan logit bagi Regresi Logistik:

(40)

g(x)=𝛽0+ 𝛽1𝑋1 + 𝛽2𝑋2+ 𝛽3𝑋3...(2.1) Persamaan untuk menentukan nilai peluang dari persamaan logit:

π (x) = 1+𝑒𝑒𝑔(𝑥)𝑔(𝑥) ...(2.2) Keterangan :

π (x) adalah peluang,

g(x) adalah nilai estimasi logit

𝛽0, 𝛽1, 𝛽2, 𝑑𝑎𝑛 𝛽3 berturut-turut adalah nilai koefisien untuk variabel-variabel konstan.

Statistik W untuk uji signifikansi parameter Regresi Logistik : 𝑊𝑖= 𝛽𝑖

𝑆𝐸𝑖...(2.3) Wilayah kritis :

𝑊𝑖>𝑋𝑘,𝛼2 ...(2.4) Keterangan :

𝛽1 adalah nilai koefisien regresi logitstik untuk variabel ke-1 𝑆𝐸1 adalah nilai standard error untuk variabel ke-1

k adalah bayaknya variabel bebas yang digunakan α adalah taraf nyata.

Rumus untuk menentukan odds ratio :

𝑃1/(1−𝑃1)

𝑃2/(1−𝑃2)...(2.5)

Keterangan : 𝑃1,𝑃2 adalah peluang kejadian pada kelompok pertama dan kedua.

(41)

2.4. Kerangka pemikiran

Saat ini terjadi penurunan produksi padi salah satu penyebabnya adalah alih fungsi lahan. Alih fungsi lahan sawah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit rakyat berkaitan dengan keputusan petani itu sendiri. Keputusan alih fungsi lahan dipengaruhi oleh faktor-faktor yaitu tingkat pendidikan, luas lahan, ketersediaan air, ketersediaan modal, pendapatan usahatani, frekwensi panen dan pengetahuan tentang Undang-undang /peraturan pemerintah tentang tataguna dan tata kelolah lahan.

Gambar 7. Skema Kerangka Pemikiran

Dimana : Menyatakan Pengaruh

2.5. Hipotesis Penelitian

Penurunan Luas Lahan Sawah

Alih fungsi lahan sawah ke lahan

kelapa sawit

Keputusan Petani

Pendidi kan

Keterse diaan air

Rasio Penda patan

Keters ediaan Modal

Frekw ensi Panen Luas

Lahan

Pengetahua n tentang UU/Peratur

an Tata Guna Lahan

(42)

Pendidikan, luas lahan, ketersediaan air, ketersediaan modal, pendapatan usahatani, frekwensi panen dan pengetahuan tentang UU/Peraturan pemerintah tentang tata guna dan tata kelola lahan mempengaruhi keputusan petani dalam melakukan alih fungsi lahan sawah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.

(43)

III. METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian

Lokasi penelitian ditentukan secara purposive di Kabupaten Rokan Hilir yang terletak di Propinsi Riau dengan pertimbangan daerah ini merupakan sentra produksi padi Provinsi Riau dan mengalami laju alih fungsi yang cukup tinggi (Tabel 4).

Selanjutnya dengan alasan yang sama, dari 16 kecamatan yang ada di Kabupaten Rokan Hilir di pilih Kecamatan Rimba Melintang, dan dari 12 Desa/Kelurahan, ditetapkan 3 desa yaitu : Desa Teluk Pulau Hilir, Pematang Sikek dan Mukti Jaya ( Lampiran 1 ).

3.2. Metode Penentuan Sampel

Dari ketiga desa yang merupakan daerah penelitian yakni; Teluk Pulau Hilir, Pematang Sikek dan Mukti Jaya, diketahui jumlah petani yang mengalihfungsikan lahan sawahnya ke lahan kelapa sawit adalah 745 orang, sedangkan yang tidak mengalihfungsikan lahannya adalah 580 orang. Besar sampel yang akan diteliti ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin (Yamane, 1967 dalam Chalil dan Riantri 2014)

n= 𝑵

𝟏+𝑵𝒆𝟐...(3.1) Dimana :

n = Besaran Sampel N = Besaran Populasi

(44)

e = Nilai kritis ( batas ketelitian) yang diinginkan (persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan penarikan sampel). Pada penelitian ini, menggunakan α = 5%. Dengan demikian diperoleh besar sampel yang mengalihfungsikan lahan sawahnya sebanyak:

n = 745

1+745𝑥0,12

n = 745

8,45

n = 88,165 ( 88 orang )

dan yang tidak mengalihfungsikan lahannya sebanyak:

n = 580

1+580𝑥0,12

n = 745

6,80

n = 85,29 ( 85 orang )

Penarikan sampel dilakukan secara cluster conveniencesamplinguntuk ketiga desa tersebut berdasarkan kesediaan responden (Tabel 6 dan Tabel 7).

Tabel 6.Jumlah Populasi dan Besar Sampel yangMengalihfungsikan Lahan Sawah ke Lahan Kelapa Sawit di Daerah Penelitian.

No Nama Desa

Jumlah

Populasi Proporsi

Perhitungan proporsi

Jumlah sampel 1 Teluk Pulau Hilir 350 46,97% 46,97% x 88 41

2 Pematang Sikek 285 38,25% 38,25% x 88 34

3 Mukti Jaya 110 14,76% 14,76% x 88 13

(45)

Sumber Data : BPP Rimba Melintang, 2015

Tabel7.Jumlah Populasi dan BesarSampel yang tidak Mengalihfungsikan Lahan Sawah ke Lahan Kelapa Sawit di Daerah Penelitian.

Sumber data :BPP Rimba Melintang,2015

3.3. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data primer dan data skunder. Data primer mencakup data; tingkat pendidikan petani, luas lahan yang dikelolah petani, ketersediaan air ( akses petani mendapatkan air untuk pengairan di lahan sawah), ketersediaan modal petani apabila mengalihfungsikan lahannnya ke lahan kelapa sawit, pendapatan usahatani padi sawah dan usahatani kelapa sawit, frekwensi panen usahatani padi sawah dan usahatani kelapa sawit dalam kurung waktu 4 bulan, umur petani, input usahatani, output usaha tani, harga rata-rata komoditi padi sawah ( dalam bentuk gabah kering panen) dan kelapa sawit (dalam bentuk tandan buah segar) yang diperoleh dari petani sampel yang mengalihfungsikan dan yang tidak mengalihfungsikan lahannya. Data sekunder mencakup data perkembangan

Jumlah 745 100% 88

No Nama Desa Jumlah Proporsi Perhitungan Jumlah

populasi proporsi sampel

1 Teluk Pulau Hilir 180 31,03% 31,03 % x 85 27 2 Pematang Sikek 275 47,41% 47,41 % x 85 40

3 Mukti Jaya 125 21,55% 21,55 % x 85 18

Jumlah 580 100% 85

(46)

luas tanam padi sawah dan produksi padi sawah selama 6 tahun terakhir, data alih fungsi lahan sawah ke lahan kelapa sawit selama 10 Tahun terakhir, data perkembangan tanaman perkebunan dan jumlah penduduk .

3.4. Metode Analisis Data 3.4.1. Model Analisis

Sehubungan variabel dependen yakni keputusan petani bersifat kualitatif dan memiliki dua kategori dimana kategori tersebut adalah merupakan peluang petani untuk mengalihfungsikan lahannya dan peluang untuk tidak mengalihfungsikan lahannya, maka model persamaan yang digunakan adalah Regresi logit ( model regresi logit binari). Adapun persyaratan yang dibutuhkan dalam penggunaan

refgresi logit adalah: (1) tidak mengasumsikan hubungan linier antar variabel dependen dan independen, (2) variabel dependen harus bersifat dikotomi, (3) variabel independen tidak harus memiliki keragaman yang sama antara kelompok variabel, (4) kategori dalam variabel independen harus terpisah satu sama lain atau bersifat eksklusip, dan (6) sampel yang diperlukan dalam jumlah relatif besar, minimal dibutuhkan hingga 50 sampel data untuk sebuah variabel prediktor.Dengan demikian untuk menduga faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani melakukan alih fungsi lahan penulis menggunakan regresi logistik dengan persamaan sebagai berikut :

Zi = Ln ( 𝑝𝑖

1−𝑃𝑖)= βo + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 + β6X6

Dimana :

+𝛽7𝑋7+ e...(3.2)

(47)

Ln ( 𝑝𝑖

1−𝑃𝑖) adalah Odd Ratio dimana (pi) menyatakan probabilitas terjadinya peristiwa ( Y=1) dan (1-pi) menyatakan probabilitas tidak terjadinya pristiwa (Y=0).

β = Konstanta Keterangan : X1

X

:Tingkat Pendidikan ( tahun )

2

X

: Luas Lahan ( Ha)

3

X

: Ketersediaan Air ( irigasi =1 dan tidak irigasi = 0)

4

𝑋5:Ketersediaan modal ( tidak memiliki modal untuk mengalihfungsikan lahan sawah ke lahan kelapa sawit = 0, memiliki modal namun tidak cukup =1 dan memiliki modal yang cukup = 2). Kecukupan dihitung berdasarkan kebutuhan eksisting biaya penanaman kelapa sawit pada bekas lahan sawah sampai tanaman berumur 4 tahun.

: Rasio Pendapatan usahatani

𝑋6: Frekwensi panen (kali) X7

kelola dan tata guna lahan. (tahu = 1 dan tidak tahu = 0)

: Pengetahuan tentang peraturan pemerintah/undang-undang tentang tata

e : Kesalahan ( error term)

Y : Keputusan Petani (1= mengalih fungsikan, 0= tidak mengalih fungsikan )

3.4.2. Pengujian Parameter

Model persamaan yang diperoleh perlu dilakukan pengujian signifikansi.

Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel yang terdapat dalam model memiliki kontribusi yang nyata bagi variabel dependen. Pengujian yang dilakukan adalah

(48)

a. Pengujian Serentak

Pengujian serentak dilakukan untuk mengetahui signifikansi parameter β secara keseluruhan atau serentak. Hipotesis pengujian ini adalah :

𝐻0: ( 𝛽1= 𝛽2=...= 𝛽𝑛 = 0 )

𝐻1: paling tidak ada satu βj ≠0, j = 1, 2....p

Dengan penolakan : tolak 𝐻0 apabila nilai G >𝑋𝛼,12 , dimana p merupakan banyaknya variabel statistik dalam model atau p- value < α

Dengan uji statistik :

G = - 2 ln

𝑛1𝑛

𝑛1𝑛1𝑛𝑛𝑜

𝑖=1 ( 𝜋𝑛 𝑖)𝑦𝑖(1−𝜋𝑖)(1−𝑦𝑖)

...(3.3)

Dimana n = banyaknya pasangan data, 𝑛1= nilai pasangan data n ke i 𝑌𝑖= nilai peubah tak bebas Y ke i

b. Uji Individu (Uji Wald)

Uji Individu ini dilakukan untuk memeriksa signifikansi parameter β secara individu . Hipotesis pengujian ini adalah :

𝐻0: βj 𝐻1 : 𝛽𝑗 ≠ 0, j= 1,2,..p Dengan uji statistik :

𝑊𝑗(Wald)=�𝑠 𝛽𝑗

𝑗 �𝛽𝑗�

2

...(3.4)

Daerah penolakan : tolak 𝐻0 apabila 𝑊𝑗2>𝑋𝛼,1 2 atau p- value < α

b. Uji Hosmer and Lemeshow

Uji ini, bertujuan untuk membandingkan distribusi observasi dengan distribusi teory ( uji model). Hipotesis pengujian ini adalah :

(49)

𝐻0 : K = 0 (1-β) , tidak ada perbedaan distribusi data dengan distribusi logistik.

Kriteria pengujian :

Jika signifikansi < 0,5 maka 𝐻1diterima, 𝐻0 ditolak.

Jika signifikansi > 0,5 maka 𝐻0 diterima, 𝐻1 di tolak.

c. Odd Ratio dan Efek Marjinal Ln ( 𝑝𝑖

1−𝑝𝑖) 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ Odd Ratio dimana (pi) menyatakan probabilitas terjadinya peristiwa (Y=1) dan (1-pi) menyatakan probabilitas tidak terjadinya peristiwa ( Y=0). Odd rasio dan efek marjinal dapat diketahui melalui rumus :

Y = 𝛽0+ 𝛽1𝑋 β =𝜕𝑦𝜕𝑥

Zi =ln(1−𝑝𝑖𝑝𝑖 ) = 𝛽0 + 𝛽1𝑋

𝜕𝑧

𝜕𝑥= β

exp �( ln1−𝑝𝑖𝑝𝑖 ) � = exp (β)

𝑝𝑖 1−𝑝𝑖= β

𝑝𝑖 =1+𝑒1−𝑧 = 𝑒𝑧

1+𝑒𝑧

ME=𝜕𝑝𝑖

𝜕𝑥𝑖 = β.pi(1-pi)

d. Metode yang digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya masalah multikolineritas, digunakan salah satu cara dengan metode Variance

(50)

Inflation Factor (VIF) dengan batasan maksimum 2,77 yang diperoleh dari Rumus VIF = 1

1−𝑅22yakni 1

1−0,82 = 2,77 dimana 0,80 merupakan batasan maksimun dari 𝑅2 adalah 0,80 ( Gujarati, 2006).

3.5.Defenisi Operasional Variabel 3.5.1. Defenisi Opersional

1. Alih fungsi lahan sawah ke lahan kelapa sawit adalah perubahan peruntukan lahan padi sawah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.

2. Tingkat Pendidikan petani adalah kegiatan formal yang diperoleh petani dimana diukur dengan satuan tahun menggunakan skala rasio : untuk tingkat SD=6, SMP= 9, SMA= 12, D3= 15, S1= 17. Setiap angka menunjukkan perbedaan, semakin besar angka semakin tinggi pendidikannya (tahun).

3. Luas lahan adalah luas hamparan lahan milik petani yang ditanami padi sawah atau kelapa sawit (Ha).

4. Ketersediaan air irigasi (Dummy Variabel D1=1; tersedia, D1=0 : Tidak tersedia)

5. Ketersediaan modal diukur dengan skala ordinal dengan cara membandingkan modal yang dimiliki petani dengan kebutuhan eksisting.

Tidak tersedia : jika persentase modal yang dimiliki petani dibanding dengan kebutuhan modal 0% = (0)

Tersedia tetapi tidak cukup : jika persentase modal yang dimilik petani dibanding dengan kebutuhan modal< 100% = (1)

Tersedia dan cukup : jika persentase modal yang dimilki petani dibanding dengan kebutuhan kebutuhan modal ≥ 100% = (2)

(51)

6. RasioPendapatan adalah perbandingan pendapatan petani sampel dari usahatani kelapa sawit dengan usahatani padisawah dengan luas lahan yang sama. Bagi sampel yang telah mengalihfungsikan, rasio dihitung berdasarkan pendapatan hasil usahatani kelapa sawit selama 4 bulan, dibandingkan dengan hasil usahatani padi sawah sebelum dialihfungsikan dengan harga gabah kering panen pada saat dilakukan penelitian, sedangkan bagi petani sampel yang tidak mengalihfungsikan lahannya, rasio pendapatan dihitung dengan membandingkan pendapatan rata-rata usahatani Kelapa Sawit dari petani sampel yang telah mengalihfungsikan dengan pendapatan usahatani padi sawah yang diusahakannya pada saat ini ( Lampiran 13 ).

7.Frekwensi Panen adalah jumlah kegiatan panen dalam kurung waktu empat bulan, baik untuk tanaman padi sawah maupun tanaman kelapa sawit yang diukur dengan menggunakan skala rasio.

8. Pengetahuan tentang undang-undang/peraturan tentang tataguna dan tata kelolah adalah pengetahuan petani tentang UU peruntukan lahan pertanian yang diperoleh baik melalui penyuluhan maupun sumber informasi yang lain (Dummy variabel D3=1: tahu, D3=0: Tidak Tahu).

3.5.2. Batasan Operasional

1. Penelitian ini dilakukan di tiga desa yaitu Desa Teluk Pulau Hilir, Pematang Sikek dan Mukti Jaya Kecamatan Rimba Melintang Kabupaten Rokan Hilir 2.Waktu penelitian dilakukan pada tahun 2016.

3. Petani yang mengalih fungsikan lahannya adalah petani yang telah mengalih fungsikan lahan sawahnya ke lahan kelapa sawit dimana tanaman kelapa sawit yang dikelolah telah berumur 5 sampai dengan 8 tahun. Alasan pembatasan

(52)

umur tanaman tersebut karena umur tanaman mempengaruhi produksi tandan buah segaryang akan dihasilkan. Sedangkan petani yang tidak mengalihfungsikan lahannya adalah petani yang minimal telah melakukan penanaman padi sawah minimal lima musim tanam berturut-turut di lahan tersebut dan merupakan pemilik. Adapun alasan lima musim tanam berturut- turut untuk mengetahui rata-rata pendapatan usahatani. Sedangkan alasan petani sampel harus pemilik, untuk dapat mengambil keputusan terhadap lahan yang diusahakan.

4. Untukmengetahui pendapatan usahatani padi sawah bagi petani yang telah mengalihfungsikan, adalah produksi padi sawah pada saat mereka berusahatani padi sawah dikali dengan harga rata-rata gabah kering panen padi sawah pada saat ini.

5.Apabila data setelah diolah ditemukan data outlier baik yang diakibatkan oleh variabel multikolineritas maupun variabel yang tidak bervariasi, maka pemecahannya dilakukan dengan mengeluarkan variabel yang bermasalah tersebut dari Model (Gujarati, 2006).

(53)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.Deskripsi Wilayah Penelitian 4.1.1 Letak Dan Batas Wilayah

Kabupaten Rokan Hilir merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Bengkalis, sesuai dengan undang-undang nomor 53 tahun 1999. Wilayah Kabupaten Rokan Hilir terletak pada bagian pesisir timur Pulau Sumatera antara 110 - 2030’ LU dan 100016’ - 101021’ BT. Luas wilayah Kabupaten Rokan Hilir adalah 8.882,59 Km2 yang terdiri dari 18 kecamatan dan 178 kepenghuluan dan 14 kelurahan.

Kabupaten Rokan Hilir memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut berikut:Sebelah utara berbatas dengan Propinsi Sumatera Utara dan Selat Malaka, sebelah selatan berbatas dengan Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Rokan Hulu, sebelah Timur berbatas dengan Kota Dumai dan sebelah Barat berbatas dengan Propinsi Sumatera Utara.

4.1.2. Iklim dan Curah Hujan

Kabupaten Rokan Hilr beriklim tropis dengan rata-rata curah hujan pada tahun 2015 adalah 1.158 mm/tahun, dengan temperatur udara antara 220 - 350 C.

Musim kemarau didaerah ini umumnya terjadi pada bulan Pebruari sampai dengan Agustus, sedangkan musim penghujan terjadi pada bulan September sampai dengan Januari dengan jumlah hari hujan pada tahun 2015 adalah 95 hari.

Referensi

Dokumen terkait

Faktor – faktor yang mempengaruhi ketahanan dan kerentanan pangan kronis adalah ketersediaan pangan, akses pangan dan pemanfaatan pangan yang terdiri dari 9 indikator yaitu

Oleh karena t hitung (3.578) lebih besar dari t tabel (2.021) dan nilai probabilitas (Sig.) 0,001 lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa

Terbentuknya zona bening di sekitar kertas cakram menunjukkan adanya aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji yaitu Salmonella typhi berpengaruh terhadap

Oleh karena itu, pada tugas akhir ini penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan memodifikasi Varian Metode Chebyshev-Halley menggunakan Interpolasi Kuadratik

dengan melakukan analisis koefisien determinasi dan koefisien korelasi untuk melihat seberapa kuat dan seberapa besar peranan variabel bebas dalam memprediksi

ditolak dan H 1 diterima yang artinya ada hubungan linear antara produksi kubis, harga domestik kubis, harga Internasional Malaysia dan nilai tukar rupiah

Pada Penelitian yang akan dilaksanakan penulis mencoba menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi kerja Penyuluh Pertanian yang berstatus sebagai PNS dan

Adapun faktor-faktor yang diduga mempengaruhi Nilai Tukar Petani di Provinsi Sumatera Utara dalam penelitian ini ialah inflasi, suku bunga, tenaga kerja ,