23
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka hijau adalah ruang yang digunakan untuk melakukan kegiatan bersama, tempat berinteraksi sosial dan makhluk hidup lainnya (Pancawati, 2010).
Ruang yang didominasi oleh lingkungan alam di dalam dan di luar kota berupa tanaman, kawasan hiburan atau jalur hijau disebut ruang terbuka hijau (Ikhsanuddin Pratama, 2015). Ruang terbuka hijau adalah permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang diunggulkan fungsinya sebagai wahana lingkungan kota atau untuk mengamankan jaringan infrastruktur (Amin & Amri, 2011). Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU), RTH adalah tempat tumbuhan tumbuh secara alami atau disengaja. Ruang vegetasi yang terletak di kawasan perkotaan yang memiliki nilai estetika, sosial budaya dan ekonomi bagi perkembangan kota (Faiz Ramadhan & Prima Jiwa Osly, 2019).
Ruang terbuka hijau merupakan bagian dari struktur kota yang bermanfaat untuk kenyamanan, keindahan, dan kesejahteraan bagi masyarakat yang hidup di suatu kota (Anisella, 2019). Ruang terbuka hijau selalu menjadi korban sebagai alih fungsi lahan untuk pembangunan dan pengembangan suatu kota karena pada umumnya, kota akan semakin berkembang akibat kebutuhan manusia yang hidup di perkotaan (Faiz Ramadhan & Prima Jiwa Osly, 2019). Ruang terbuka hijau yang berada di kawasan permukiman juga merupakan salah satu bagian dari kota untuk menciptakan tempat bermukim manusia dengan segala kehidupannya (Susilowati, 2017).
24 2.2 Tipologi Ruang Terbuka Hijau
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2008, ruang terbuka hijau dibagi menjadi empat kategori: fisik, fungsional, arsitektural, struktural dan kepemilikan.
GAMBAR 2.1 Tipologi Ruang Terbuka Hijau
Sumber:Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 05/PRT/M/2008
Secara fisik, RTH terbagi menjadi RTH alami berupa kawasan konservasi, taman nasional dan RTH tidak alami atau dibangun berupa taman, lapangan olah raga, kuburan, jalan, dan lain-lain. RTH dapat berfungsi secara ekologis, sosial budaya, estetika dan ekonomi. Secara struktural, RTH dapat mengikuti model ekologi (cluster, stretch, dispersi) atau model geologi dengan struktur dan hierarki spasial perkotaan. Berikut tabel pembagian jenis kepemilikan RTH.
TABEL 2.1 Kepemilikan RTH
No Jenis RTH
Publik
RTH Privat 1 RTH Pekarangan
a. Pekarangan rumah tinggal √
b. Halaman perkantoran, pertokoan, dan tempat usaha √
c. Taman atap bangunan √
2 RTH Taman dan Hutan Kota
a. Taman RT √ √
25
No Jenis RTH
Publik
RTH Privat
b. Taman RW √ √
c. Taman Kelurahan √ √
d. Taman Kecamatan √ √
e. Taman Kota √
f. Hutan Kota √
g. Sabuk Hijau (Green Belt) √
3 RTH Jalur Hijau Jalan
a. Pulau jalan dan median jalan √ √
b. Jalur pejalan kaki √ √
c. Ruang dibawah jalan layang √
4 RTH Fungsi Tertentu
a. RTH sempadan rel kereta api √
b. Jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi √
c. RTH sempadan sungai √
d. RTH sempadan pantai √
e. RTH pengaman sumber air baku/mata air √
f. Pemakaman √
Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 05/PRT/M/2008
Fungsi utama RTH publik dan privat adalah sebagai ekologis dan fungsi tambahannya yaitu sosial budaya, ekonomi, estetika/arsitektur. Khusus untuk fungsi sosial ruang terbuka hijau ini harus dapat diakses oleh semua orang, termasuk penyandang disabilitas.
TABEL 2.2 Ruang Terbuka Hijau menurut Permen ATR
No Zona Definisi Keterangan
1 Hutan Kota Suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon – pohon yang kompak dan rapat didalam wilayah perkotaan baik tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat berwenang
• Tidak Tersedia
2 Taman Kota Lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif,
26
No Zona Definisi Keterangan
edukasi atau kegiatan lain yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota
• Tidak Tersedia
3 Taman Kecamatan Taman yang ditujukan untuk melayani
penduduk satu kecamatan • Tidak Tersedia 4 Taman Kelurahan Taman yang ditujukan untuk melayani
penduduk satu kelurahan • Tidak Tersedia 5 Taman RW Taman yang ditujukan untuk melayani
satu RW, khususnya kegiatan remaja, kegiatan olahraga masyarakat serta kegiatan masyarakat lainnya di lingkungan RW
• Tidak Tersedia
6 Taman RT Taman yang ditujukan untuk melayani penduduk dalam lingkup satu RT, khususnya untuk melayani kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut
• Tidak Tersedia 7 Pemakaman Penyediaan ruang terbuka hijau yang
berfungsi utama sebagai tempat penguburan jenazah. Selain itu juga berfungsi sebagai daerah resapan air, tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi, pencipta iklim mikro serta tempat berlindung fungsi sosial masyarakat disekitar
• Tersedia
8 Konservasi Peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan lindung yang memiliki ciri khas tertentu baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keragaman jenis tumbuhan, satwa dan ekosistemnya beserta nilai budaya dan sejarah bangsa
• Tersedia
Sumber: Permen ATR nomor 16 tahun 2018
Menurut Permen ATR nomor 16 tahun 2018, Kecamatan Tanjung Karang Pusat memiliki taman konservasi berupa taman budaya dan pemakaman umum. RTH di
27 kawasan perkotaan berpenduduk padat berfungsi sebagai ekologis, sosial, dan hidrologis. Penerapan kebutuhan RTH dapat diterapkan berdasarkan fungsi tertentu dan berdasarkan jumlah penduduk.
2.3 Penyediaan Ruang Terbuka Hijau di kawasan perkotaan
Penyediaan RTH di kawasan perkotaan dibagi menjadi 3 bagian yaitu luas wilayah, jumlah penduduk dan fungsi tertentu.
1. Luas Wilayah
RTH terdiri dari RTH publik dan RTH privat dengan proporsi sebesar 30 % yang terdiri dari 20 % RTH publik dan 10 % RTH privat.
2. Jumlah Penduduk
Menentukan luas RTH sesuai jumlah penghuni dengan menghitung jumlah penghuni yang terlayani dengan standar RTH per orang sesuai peraturan yang berlaku.
TABEL 2.3 Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk
No Unit Lingkungan
(jiwa)
Tipe RTH Luas Minimal/unit
(m²)
Luas Minimal/kapita
(m²)
Lokasi
1 250 Taman RT 250 1,0 Di tengah lingkungan
RT
2 2.500 Taman RW 1.250 0,5 Di Pusat kegiatan RW
3 30.000 Taman
Kelurahan
9.000 0,3 Dikelompokkan
dengan sekolah/ pusat kelurahan
4 120.000 Taman
Kecamatan
24.000 0.2 Dikelompokkan
dengan sekolah/ pusat kecamatan
Pemakaman Disesuaikan 1,2 Tersebar
5 480.000 Taman Kota 144.000 0,3 Di pusat wilayah/ kota Hutan Kota Disesuaikan 4,0 Di dalam/ kawasan
pinggiran Untuk Fungsi
Tertentu
Disesuaikan 12,5 Disesuaikan dengan kebutuhan Sumber: Peraturan Mentri Pekerjaan Umum Nomor:05/PRT/M/2008
28 3. Kebutuhan fungsi tertentu
Fungsi RTH kategori ini adalah untuk perlindungan atau pengamanan, sarana dan prasarana sebagai peneduh pejalan kaki, membatasi penggunaan lahan agar tidak terganggu. RTH kategori ini terdiri dari jalur hijau sempadan rel kereta api, jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi, RTH sempadan sungai, RTH sempadan pantai, dan RTH pengamanan sumber air baku/mata air.
2.4 Arahan Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau pada Kawasan Permukiman
Menurut Undang-Undang nomor 1 tahun 2011, Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung kehidupan.
Sejalan dengan perkembangan penduduk akan meningkatnya pembangunan kawasan permukiman. Pembangunan ini seringkali tidak diimbangi dan disediakan ruang terbuka bagi penduduk (Alifia & Purnomo, 2016). Menurut Permen PU nomor 5 tahun 2008, arahan penyediaan ruang terbuka hijau pada lingkungan/permukiman terdapat 4 jenis yaitu RTH Taman Rukun Tetangga (RT), Taman Rukun Warga (RW), Kelurahan dan Kecamatan. Penyediaan RTH pada lingkungan/permukiman memiliki fungsi sebagai tempat kegiatan sosial menurut lingkup masing masing dan merupakan tempat penghijauan bagi masyarakat sekitarnya. Area RTH tersebut harus ditanami tanaman sebanyak 70 % - 80 % dan minimal memiliki pohon pelindung sebanyak 50 tanaman pasif dan 100 tanaman aktif.
2.5 Rekomendasi lahan untuk penyediaan Ruang Terbuka Hijau Publik Menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009, bumi adalah bagian daratan dari permukaan bumi sebagai lingkungan fisik termasuk bumi dan segala faktor yang mempengaruhi pemanfaatannya seperti iklim, relief, aspek geologi, dan bentuk hidrologis yang terbentuk secara alami atau karena pengaruh manusia.
Masing-masing wilayah memiliki potensi berbeda dalam menyediakan ruang
29 terbuka hijau publik. Pada penelitian ini, rekomendasi lahan akan mempertimbangkan empat aspek, yaitu kepemilikan lahan, aktivitas masyarakat, ketersediaan lahan, dan daerah aliran sungai.
2.5.1 Kepemilikan Lahan
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021, Bumi adalah permukaan bumi yang berupa tanah atau tertutup air, termasuk ruang di atas dan di dalam tubuh bumi, yang kegunaan dan kegunaannya dalam batas-batas tertentu berhubungan langsung atau tidak langsung dengan penggunaan dan penggunaan permukaan bumi. Hak atas tanah adalah hak yang diperoleh dari hubungan hukum antara pemegang hak dengan tanah, termasuk ruang di atas tanah dan/atau ruang di bawah tanah untuk menguasai, memiliki, menggunakan dan menggunakan serta memelihara, pemeliharaan tanah, ruang di atas tanah, dan/ atau ruang di bawah tanah. Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960, hak atas tanah dibagi menjadi hak milik, hak guna usaha, hak pakai pekerjaan konstruksi, hak pakai, hak sewa, hak reklamasi dan hak pemanfaatan hasil hutan. Lahan yang berpotensi sebagai RTH publik ditinjau dari status kepemilikan lahan berupa hak pengelolaan, hak milik, hak guna bangunan dan hak guna tanah di Kecamatan Tanjung Karang Pusat.
2.5.2 Aktivitas Masyarakat
Menurut Toghasm dkk (2019), Sistem aktivitas masyarakat merupakan suatu arus kegiatan dalam kurun waktu tertentu dimana seseorang terlibat dalam sebuah aktivitas. Aktivitas masyarakat yang dimaksud dalam hal ini ialah segala bentuk kegiatan masyarakat yang timbul akibat adanya kesadaran diri sendiri terhadap kebutuhan ruang terbuka hijau perkotaan. Kegiatan tersebut dapat berupa kegiatan pertanian, interaksi sosial, maupun kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan. Aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan penyediaan RTH publik dapat dijadikan rekomendasi penyediaan RTH.
2.5.3 Ketersediaan Lahan
Salah satu alasan penggunaan lahan sebagai lokasi konstruksi adalah karena nilai ekonomi lahan perkotaan sangat tinggi. Tanah adalah sumber daya yang terbatas, sementara pembangunan perumahan dan pemukiman perkotaan terus
30 meningkat dan tidak proporsional, mengakibatkan penggunaan tanah yang tidak proporsional sehubungan penyediaan ruang terbuka. Hal ini lah yang menyebabkan rendahnya pemanfaatan lahan perkotaan sebagai ruang terbuka hijau (Alifia &
Purnomo, 2016). Rekomendasi lahan untuk penyediaan RTH publik dapat dilihat melalui ketersediaan lahan dari data sekunder berupa penggunaan lahan di Kecamatan Tanjung Karang Pusat.
2.5.4 Daerah Aliran Sungai
Menurut Aprilia dkk (2020), dalam Fatah dkk (2015), banyak upaya penghijauan di daerah riparian dilakukan untuk memerangi erosi, menyediakan habitat bagi hewan, melestarikan air, dan banyak lagi. Beberapa kawasan perkotaan memanfaatkan sempadan sungai, tidak hanya untuk fungsi ekologis, tetapi juga untuk fungsi sosial, bahkan masih banyak pula kawasan sempadan sungai kehilangan fungsi ekologisnya akibat perubahan bentuk sungai alami. Melihat fenomena tersebut, kawasan sempadan sungai kota harus mampu memenuhi fungsi ekologis dan sosial, sebagaimana tertuang dalam undang-undang. Menurut PP No.
38 Tahun 2011, Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi sebagai tempat penerimaan, penyimpanan, dan pembuangan air secara alami dari curah hujan ke laut, dimana batas daratannya adalah adalah pembagian geografis dan topografis dari batas laut ke perairan yang masih dipengaruhi oleh aktivitas darat.
Menurut Permen PU nomor 5 tahun 2008, RTH sempadan sungai adalah Garis hijau terletak di sisi kiri dan kanan sungai, yang fungsi utamanya adalah melindungi sungai dari gangguan yang dapat mempengaruhi keadaan dan kelestarian sungai. Terdapat 2 macam tipologi sungai yaitu sungai bertanggul dan tidak bertanggul. Berdasarkan pengamatan langsung, Kecamatan Tanjung Karang Pusat memiliki tipologi sungai yang bertanggul dengan jarak sempadan sungai sekurang-kurangnya 3 meter dari tanggul yang idealnya dapat dimanfaatkan menjadi RTH.
2.6 Kepadatan Bangunan
Kepadatan bangunan merupakan salah satu aspek dari upaya pengendalian perkembangan perencanaan penggunaan lahan dan desain bangunan serta
31 perencanaan lingkungan dalam penggunaan ruang lahan dengan memperhatikan keserasian, fungsionalitas, estetika dan ekologi. Kepadatan bangunan mempengaruhi intensitas kawasan terbangun sebagai optimalisasi penggunaan lahan relatif terhadap luas lahan (Iek et al., 2014).
Penyediaan RTH pada kawasan permukiman sangat dibutuhkan karena biasanya kawasan permukiman memiliki kepadatan bangunan tinggi yang akan menyebabkan suhu udara yang sangat tinggi. Oleh karena itu, pentingnya penyediaan RTH pada kawasan permukiman agar kepadatan bangunan tidak tinggi yang akan menghasilkan suhu udara yang rendah dan nyaman untuk dijadikan tempat tinggal.
2.6.1 NBDI (Normalized Difference Built-up Index)
Menurut Guo dkk (2015), NDBI (Normalized Difference Built-up Index) atau indeks lahan terbangun merupakan sebuah algoritma untuk menampilkan kepadatan tanah gundul. NDBI sangat sensitif terhadap tanah yang dibangun atau terbuka. Algoritma ini dipilih karena merupakan transformasi yang paling sering digunakan untuk mengestimasi indeks lahan terbangun. Formula NDBI adalah sebagai berikut :
𝑁𝑁𝐵𝐵𝑁𝑁𝑁𝑁 = 𝑆𝑆𝑆𝑆𝑁𝑁𝑆𝑆 − 𝑁𝑁𝑁𝑁𝑆𝑆 𝑆𝑆𝑆𝑆𝑁𝑁𝑆𝑆 + 𝑁𝑁𝑁𝑁𝑆𝑆
Keterangan:
NBDI: Normalized Difference Built-up Index SWIR:Short-wave infrared
NIR: Near-infrared
32 GAMBAR 2.2 Hasil Komposit Citra Worldview-2
Sumber:Digital Globe (2016) dalam Hidayati dkk (2018)
2.6.2 Klasifikasi Kepadatan Bangunan
Keberadaan bangunan di kota membentuk keadaan permukaan yang tidak beraturan sehingga memperlambat sirkulasi udara bebas. Kondisi tersebut akan memancarkan panas serta mengurangi efek aliran udara yang menyebabkan penumpukan panas. Aliran udara akan menuju pusat kota sehingga menghangatkan kota dan meningkatkan polusi udara di daerah sekitarnya (Syaifudin, 2018).
Menurut Syaifudin (2018), kepadatan bangunan yang tinggi menyebabkan terhambatnya sirkulasi udara dan mencegah penguapan dari dalam tanah.
Akibatnya, peningkatan kelembaban udara mengurangi kualitas fasilitas perumahan. Menurut Sutanto dkk (1981), ukuran kepadatan bangunan dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾 𝐵𝐵𝐾𝐾𝐾𝐾𝑏𝑏𝑏𝑏𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾 =𝐿𝐿𝑏𝑏𝐾𝐾𝐿𝐿 𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾 𝑏𝑏𝐾𝐾𝐾𝐾𝑏𝑏𝑏𝑏𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾
𝐿𝐿𝑏𝑏𝐾𝐾𝐿𝐿 𝑏𝑏𝑏𝑏𝑏𝑏𝑏𝑏 𝑏𝑏𝐾𝐾ℎ𝐾𝐾𝐾𝐾 𝑥𝑥 100%
TABEL 2.4 Klasifikasi Kepadatan Bangunan
Kepadatan Bangunan Presentase Kepadatan (%)
Sangat Jarang < 21
Jarang 21 – 40
Sedang 41 – 60
Padat 61 – 80
Sangat Padat > 80
Sumber: Susanto dkk (1981) dalam Syaifudin (2018)
33 2.7 Kerapatan Vegetasi
Vegetasi/tumbuhan adalah kawasan yang keseluruhannya tetumbuhan, meliputi pohon, perdu, semak, dan rumput. Kriteria pemilihan vegetasi untuk taman lingkungan antara lain: tidak beracun, tidak berduri, cabang tidak mudah patah, akar tidak menghalangi latar belakang, tajuk cukup rindang, kompak tetapi tidak terlalu gelap, tinggi pohon berubah, hijau dengan variasi warna lain seimbang, tingkat pertumbuhan sedang, habitat pohon dan tanaman lokal, tanaman tahunan atau musiman, kesenjangan penjualan yang ketat, memberikan naungan yang optimal, tahan hama dan penyakit tanaman, memiliki kemampuan menyerap air dan menyerap polusi udara (Permen PU no 5 tahun 2008).
2.7.1 NDVI (Normalized Difference Vegetation Index)
Menurut Guo dkk (2015), NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) merupakan perhitungan citra yang digunakan untuk mengetahui tingkat kehijauan yang sangat baik sebagai awal dari pembagian daerah vegetasi. NDVI memiliki nilai berkisar antara -1,0 hingga +1,0. Nilai yang lebih besar dari 0,1 biasanya menandakan peningkatan derajat kehijauan dan intensitas dari vegetasi.
𝑁𝑁𝐵𝐵𝑁𝑁𝑁𝑁 =𝑁𝑁𝑁𝑁𝑆𝑆 − 𝑆𝑆𝑅𝑅𝑁𝑁 𝑁𝑁𝑁𝑁𝑆𝑆 + 𝑆𝑆𝑅𝑅𝑁𝑁 Keterangan:
NBDI: Normalized Difference Built-up Index RED:infrared
NIR: Near-infrared
GAMBAR 2.3 Tampilan False Color Composite Citra Worldview-2
Sumber:Citra Worldview-2 (2015), dalam Hidayati dkk (2018)
34 2.7.2 Klasifikasi Kerapatan Vegetasi
Kerapatan vegetasi adalah vegetasi di kawasan pemukiman. Semakin rapat vegetasi, semakin tinggi tingkat kesegaran dan kenyamanan hunian. Kerapatan vegetasi sangat penting untuk kenyamanan sebuah hunian, berfungsi sebagai penahan suara sehingga dapat meredam kebisingan, sebagai tempat peneduh dan oksigen, terutama dengan mendinginkan kawasan pemukiman. (Sutanto dkk, 1981 dalam Syaifudin, 2018).
Menurut dalam Syaifudin (2018), Vegetasi dapat memproduksi oksigen dan berfungsi sebagai peneduh sehingga menghasilkan suhu yang lebih dingin dan mengurangi kebisingan untuk meningkatkan fasilitas perumahan. Hasil kerapatan vegetasi diperoleh dari membandingkan luas tutupan kanopi vegetasi dengan luas blok lahan vegetasi. Sutanto dkk (1981) menjelaskan bahwa kerapatan vegetasi dapat diperoleh menggunakan rumus:
𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾 𝑣𝑣𝐾𝐾𝑏𝑏𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐿𝐿𝑎𝑎 =𝐿𝐿𝑏𝑏𝐾𝐾𝐿𝐿 𝐾𝐾𝑏𝑏𝐾𝐾𝑏𝑏𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾 𝑏𝑏𝐾𝐾𝐾𝐾𝑏𝑏𝐾𝐾𝑎𝑎 𝑣𝑣𝐾𝐾𝑏𝑏𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐿𝐿𝑎𝑎
𝐿𝐿𝑏𝑏𝐾𝐾𝐿𝐿 𝑏𝑏𝑏𝑏𝑏𝑏𝑏𝑏 𝑣𝑣𝐾𝐾𝑏𝑏𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐿𝐿𝑎𝑎 𝑥𝑥 100%
TABEL 2.5 Klasifikasi Kerapatan Vegetasi
Kerapatan Vegetasi Presentase Kerapatan (%)
Sangat Jarang < 10
Jarang 10 – 24
Sedang 25 – 39
Padat 40 – 54
Sangat Rapat > 55
Sumber: Susanto dkk (1981) dalam Syaifudin (2018)
2.8 Figure Ground
Teori Figure Ground dimulai dengan menelaah hubungan antara massa padat (figure) yang ditutupi oleh suatu bangunan dan ruang kosong (Ground). Menurut Trancik (1986), Teori gambar-tanah didasarkan pada studi tentang tutupan lahan relatif bangunan sebagai massa padat (gambar) hingga rongga terbuka (tanah). Selanjutnya Trancik (1986), menambahkan Tujuannya untuk membedakan struktur ruang kota dengan membentuk hierarki ruang dan skala yang berbeda. Hasilnya, "sebuah 'medan' utama [muncul] dari padatan dan rongga menciptakan pola urban ini, yang sering disebut kain. Seperti yang dijelaskan Trancik, pendekatan ini ampuh untuk mengidentifikasi pola dan masalah dalam
35 tatanan perkotaan, namun dapat mengarah pada "konsepsi ruang statis dan dua dimensi".
Menurut Trancik (1986), Teori Figure Ground sering disebut sebagai teori
"hitam putih". Menggunakan analisis tanah pada gambar sangat membantu dalam membahas model struktural situs. Model-model ini selalu dapat menggambarkan perbedaan yang signifikan antara ruang fisik dan ruang sosial. Model struktural sangat penting dalam perencanaan kota dan secara teknis sering dianggap sebagai dasar pengumpulan informasi. Model struktural perkotaan bisa sangat berbeda karena perbedaan bentuk arsitektur kehidupan dan aktivitas masyarakat perkotaan.
GAMBAR 2.4 Giambattista Nolli. The New Plan of Rome
Sumber: Trancik, 1986
2.9 Kriteria Ruang Terbuka Hijau Berfungsi Sebagai Ekologis dan Sosial Budaya
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 5 Tahun 2008, RTH dibagi menjadi 4 jenis, yaitu RTH yang memiliki fungsi ekologi, sosial budaya, estetika, dan ekonomi. RTH memiliki fungsi intrinsik dan eksogen. Penelitian ini akan membahas model ruang terbuka hijau publik, baik secara ekologis maupun sosial budaya. Berikut tabel beberapa kriteria ruang terbuka hijau dengan fungsi ekologis dan sosial budaya.
36 TABEL 2.6 Kriteria RTH Fungsi Ekologis dan Sosial Budaya
Sumber: Aprillia dkk (2020)
Beberapa karakteristik RTH yang berfungsi sebagai ekologis adalah bermassa daun padat, berumur muda dan tajuk rindang, jarak tanam rapat, pohon kanopi yang besar serta aliran sungai yang rindang dapat menurunkan suhu air di dasar sungai, menyediakan habitat yang baik bagi hewan air, penyerap air hujan, dan penahan angin. Beberapa karakteristik RTH yang berfungsi sebagai sosial adalah tersedianya tempat berkumpul komunitas, tersedianya area bermain, dan terdapat sarana interaksi warga sekitar serta adanya desain kebudayaan setempat.
2.10 Sintesa Penelitian
Berdasarkan kajian teoritis yang telah diuraikan di atas, selanjutnya akan di dentifikasi indikator-indikator yang digunakan dalam penelitian. Teori yang dijelaskan di atas termasuk para ahli dan didasarkan pada penelitian sebelumnya, masing-masing dengan perspektif yang berbeda karena kondisi studi kasus.
Walaupun terdapat perbedaan dari berbagai teori yang dikemukakan, namun secara umum memiliki kesamaan untuk tujuan mengkaji struktur kota, yaitu untuk melihat perbedaan jenis permasalahan yang ditimbulkan oleh konstruksi lahan perkotaan.
Dalam penelitian ini digunakan 3 determinan untuk mencapai posisi prioritas dalam penyediaan ruang terbuka hijau publik. Beberapa faktor lainnya tidak digunakan dalam penelitian ini, karena identifikasi faktor tidak relevan dengan wilayah studi.
Selanjutnya, variabel-variabel gabungan dapat menentukan lokasi prioritas penyediaan RTH publik.
Ruang Terbuka Hijau Kriteria
Fungsi Ekologis
Vegetasi penghasil oksigen dan penyerap polusi udara Vegetasi penjaga iklim mikro
Vegetasi penahan angin Vegetasi penyerap air Pencegahan erosi sungai Pencegahan sendimentasi sungai Vegetasi penyerap polusi air Penyedia habitat satwa Fungsi Sosial dan
Budaya
Media komunikasi warga, tempat rekreasi, wadah penelitian Area bermain anak, area olahraga, tempat interaksi sosial Adanya desain kebudayaan setempat
37 2.10.1 Sintesa Variabel
Variabel yang digunakan dan ditentukan dalam penelitian ini adalah hasil kajian literatur yang relevan dengan kondisi wilayah. Berikut adalah penjelasan variabel-variabel dalam penelitian ini berdasarkan tujuan penelitian dan dengan memperhatikan kondisi kecamatan Tanjung Karang Pusat beserta kecamatan lainnya.
No Sasaran Variabel Terpilih Kriteria
1
Rekomendasi lahan untuk penyediaan RTH publik, tingkat kepadatan bangunan dan tingkat kerapatan vegetasi di Kecamatan Tanjung Karang
Pusat. Rekomendasi lahan,
Kepadatan bangunan, Kerapatan vegetasi, RTH
Ekologis dan Sosial Budaya
Potensi Lahan Status Kepemilikan lahan,
Aktivitas masyarakat, Ketersediaan lahan, Daerah aliran sungai Kepadatan bangunan
Sangat padat, padat, sedang, jarang, sangat
jarang 2
Menyusun lokasi prioritas penyediaan RTH publik yang berfungsi ekologis dan sosial budaya di Kecamatan Tanjung Karang Pusat.
Kerapatan vegetasi Sangat rapat, rapat, sedang, jarang, sangat
jarang Sumber: Analisis peneliti,2021
TABEL 2.7 Sintesa Variabel