• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. USULAN PERBAIKAN DAN ANALISA HASIL AKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "5. USULAN PERBAIKAN DAN ANALISA HASIL AKHIR"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

5. USULAN PERBAIKAN DAN ANALISA HASIL AKHIR

5.1. Usulan Perbaikan

Analisa lapangan dan hasil pada peta kendali serta diagram pareto masing- masing proses menghasilkan tingkat kecacatan awal serta penyebab utama dari cacat. Usulan perbaikan dibuat dengan tujuan untuk menurunkan tingkat cacat yang sudah ada dan memberikan masukan yang dapat bermanfaat bagi perusahaan. Perbaikan yang diusulkan difokuskan pada dua penyebab yang menjadi penyebab utama (bahan baku, dan faktor manusia).

5.1.1. Bahan baku (kayu)

Cacat akibat faktor bahan baku disebabkan oleh karakteristik kayu yang terlalu basah (moisture content terlalu tinggi) sehingga kayu berserabut ataupun rusak apabila diproses. Usulan adalah untuk melakukan uji kelembaban kayu.

Selama ini pihak pabrik tidak mementingkan kelembaban kayu. Mereka lebih mementingkan produktivitas produk untuk mengejar target karena untuk melakukan uji semacam ini menghabiskan waktu yang cukup lama sehingga mereka tidak melakukannya. Usulan untuk masalah ini adalah melakukan uji terhadap bahan baku dari supplier sehingga dapat diketahui hubungan antara karakteristik kayu dengan hasilnya.

Pengujian kelembaban kayu dilakukan menggunakan moisture-meter.

Pengujian kelembaban terhadap kayu yang dijemur tidak dilakukan secara

menyeluruh karena keterbatasan waktu yang dimiliki. Penulis mengambil sampel

bahan baku secara acak. Sampel yang diuji berjumlah 30 batang untuk tiap jenis

kayu. Berdasarkan pengamatan penulis kayu-kayu dari supplier memiliki angka

kelembaban ±30%-40%. Kayu yang baik untuk diproses harus memiliki angka

kelembaban antara 8%-12%. Angka referensi ini didapat berdasarkan

benchmarking dengan pabrik lain yang memiliki bidang usaha sejenis. Seng

digunakan untuk menambah panas kayu yang dijemur. Data pengujian moisture

content dapat dilihat pada lampiran 4.

(2)

Cara terbaik untuk mengatasi masalah ini adalah melakukan proses oven (caddy) terlebih dahulu untuk bahan baku kayu. Kayu yang dioven menjadi kering dan rata keringnya. Moisture content kayu yang dioven dapat mencapai 8% dan kekeringan tersebut rata. Hanya saja pihak pabrik tidak memiliki mesin oven sendiri dan juga tidak sesuai dengan kondisi pabrik karena mengeluarkan biaya yang terlalu besar. Berdasarkan keadaan yang ada penulis mencoba untuk mengambil jalan alternatif dengan mengusulkan untuk menjemur terlebih dahulu kayu yang diproses. Kayu dijemur selama dua minggu dan baru diproses setelah selesai dijemur. Selain itu kayu juga dicelup terlebih dahulu ke dalam cairan untuk membasmi kutu. Hal ini diperlukan untuk menghindarkan terjadinya pelapukan oleh kutu ketika kayu disimpan.

5.1.2. Bahan baku (plat besi)

Diusulkan untuk menerapkan incoming inspection pada bahan baku. Plat besi yang digunakan memiliki lebar 26 cm. Masalah bahan baku plat besi berhubungan erat dengan kedisiplinan operator. Selama ini plat besi mengalami cacat akibat letak barang-barang yang tidak beraturan pada tempat kerja operator sehingga plat besi tertindih barang-barang lain ataupun menjadi tertekuk. Penulis mengusulkan untuk melakukan perbaikan dengan menambahkan alat berupa rak.

Plat besi diletakkan pada sebuah rak yang terletak di sebelah kiri operator.

Pemilihan letak rak di sebelah kiri operator karena mesin tersebut terletak dekat dinding sebelah kiri sehingga rak diletakkan menempel dengan dinding. Rak yang digunakan setinggi ±90 cm untuk memudahkan pengambilan plat oleh operator ketika bekerja (kursi yang digunakan operator setinggi ±50 cm).

5.1.3. Operator

Perbaikan pada faktor mesin/peralatan berkaitan erat dengan faktor

manusia karena sering masalah cacat yang disebabkan mesin/alat bersumber dari

faktor human error (operator salah melakukan setting mesin atau lalai mengganti

pisau yang sudah tumpul). Operator diharapkan untuk memperhatikan terlebih

dahulu pisau atau cetakan yang ada baru kemudian dipergunakan. Usulan ini

bertujuan untuk mengurangi cacat akibat mesin/peralatan. Penulis melakukan

(3)

perbaikan terhadap faktor manusia melalui peringatan terhadap masalah disiplin, perbaikan kondisi ergonomi lingkungan (menurunnya konsentrasi operator juga merupakan salah satu penyebab human error karena itu faktor kenyamanan perlu untuk mendapatkan perhatian perbaikan).

• Proses cutting sekop

Operator diberikan pengarahan untuk memperhatikan kondisi pisau setiap kali memotong kayu pada pagi hari dan sesudah istirahat makan siang, sehingga bila pisau tersebut memerlukan perawatan, operator dapat langsung melakukan perawatan yang diperlukan. Penulis mengusulkan untuk membuat sebuah cetakan yang diletakkan pada mesin. Cetakan ini digunakan untuk memberi tanda pada balok kayu yang dipotong sehingga menghemat waktu yang digunakan untuk mengukur (biasanya menggunakan meteran dan baru diberikan tanda) dan untuk memperkecil kemungkinan kemungkinan terjadinya salah potong.

• Proses bubut

Operator diarahkan untuk selalu mengecek kondisi pisau dan setting mesin setiap pagi sebelum memulai proses dan tiap kali selesai istirahat makan siang, sehingga apabila memerlukan perubahan maka operator dapat langsung merubah setting sesuai dengan keadaan yang diinginkan.

• Proses pembuatan pegangan

Operator diberikan pengarahan mengenai cara kerja, tanggung jawab dan juga disiplin. Masalah material handling perlu untuk diperbaiki, karena seringkali masalah timbul akibat bahan baku yang rusak sebelum digunakan. Perlu diadakan pengarahan mengenai teknik material handling yang baik sehingga petugas lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya.

• Proses rakit

Operator diberi pengarahan untuk melakukan pengecekan terhadap setting

mesin tiap pagi memulai pekerjaannya dan tiap kali sesudah istirahat

makan siang. Lokasi tempat kerja operator juga dilakukan perbaikan

dengan jalan melakukan penataan ulang lokasi dan penambahan alat

berupa rak untuk meletakkan sekop yang sudah selesai dirakit. Penataan

(4)

ulang lokasi perlu dilakukan karena seringkali operator meletakkan sekop yang sudah dirakit secara sembarangan sehingga sekop menjadi bonyok dan gupil akibat terbentur benda lain. Sekop yang sudah selesai dirakit diletakkan pada sebuah rak, untuk mengurangi resiko terbentur. Sekop diletakkan berdiri pada rak untuk menghindari benturan ataupun tertindih benda lain.

• Proses cutting gergaji

Operator diberikan pengarahan untuk memperhatikan kondisi pisau setiap kali memotong kayu pada pagi hari dan sesudah istirahat makan siang, sehingga apabila pisau tersebut memerlukan perawatan, operator dapat langsung melakukan perawatan yang diperlukan. Penulis mengusulkan untuk membuat sebuah cetakan yang diletakkan pada mesin. Cetakan ini dapat menghemat waktu yang digunakan untuk mengukur (biasanya menggunakan meteran dan baru diberikan tanda) dan untuk memperkecil kemungkinan kemungkinan terjadinya salah potong.

• Proses pembentukan

Operator diarahkan untuk memperhatikan kondisi pisau dan cetakan tiap pagi hari memotong kayu dan tiap kali setelah makan siang. Pembenahan juga dilakukan pada tempat kerja operator. Pada bagian kiri operator diberi keranjang untuk meletakkan hasil proses. Selain itu pada meja kerja operator diberikan tambahan pada sebelah kiri operator. Tambahan tempat ini berguna sebagai tempat untuk meletakkan bahan baku sehingga operator tidak perlu berjalan untuk mengambil bahan baku.

• Proses bor

Kesalahan bor selama ini diakibatkan karena kesalahan pemberian tanda

serta menurunnya konsentrasi operator. Penulis memberikan usulan untuk

membuat cetakan agar mempermudah kerja operator dan untuk

mengurangi terjadinya cacat. Cetakan diberikan lubang untuk

menunjukkan tempat yang dibor. Diberikan tempat duduk setinggi ±40

cm pada lokasi kerja agar operator dapat mengerjakan tugasnya sambil

duduk dan tidak terlalu capek (pada bagian ini operator bekerja sambil

duduk di lantai).

(5)

5.2. Implementasi Usulan dan Pencatatan Data Akhir

Usulan diimplementasikan pada proses dan menggunakan cara yang sama dengan peta kendali awal. Data dapat dilihat pada lampiran 5.

5.3. Pembuatan Peta Kendali Akhir 1. Proses cutting sekop

Sample size yang digunakan sebanyak 40 unit dan sub-grup 28 buah.

Interval pengambilan data selama 30 menit dan diambil secara acak.

Data untuk proses ini sudah terkendali karena semua data yang ada masuk dalam batas kendali. Proses memiliki tingkat kecacatan sebesar [Σdefek/(sample size*sub-grup)] = [258/(40*28)] = 0.23036 = 23.036%.

Peta kendali:

60 50 40 30 20 10 0 0.6

0.5

0.4

0.3

0.2

0.1

Sample Number

Proportion

P Chart for Cutting

P=0.3688 UB=0.5976

-3.0SL=0.1399

Gambar 5.1

Peta Kendali Akhir Proses Cutting Sekop

2. Proses bubut

Sample size yang digunakan sebanyak 25 unit dan sub-grup 28 buah.

Interval pengambilan data selama 30 menit dan diambil secara acak.

Data untuk proses ini sudah terkendali karena semua data yang ada

masuk dalam batas kendali. Proses memiliki tingkat kecacatan sebesar

[Σdefek/(sample size*sub-grup)] = [73/(25*28)] = 0.10429 = 10.429%.

(6)

Peta kendali:

60 50 40 30 20 10 0 0.4

0.3

0.2

0.1

0.0

Sample Number

Proportion

P Chart for Bubut

P=0.1700 3.0SL=0.3954

LB=0.000

Gambar 5.2

Peta Kendali Akhir Proses Bubut

3. Proses pembuatan pegangan

Sample size yang digunakan sebanyak 30 unit dan sub-grup awal sebanyak 28 buah. Interval pengambilan data selama 30 menit dan diambil secara acak.

Data untuk proses ini sudah terkendali karena semua data yang ada masuk dalam batas kendali. Proses memiliki tingkat kecacatan sebesar [Σdefek/(sample size*sub-grup)] = [153/(30*28)] = 0.18214 = 18.214%.

Peta kendali:

60 50 40 30 20 10 0 0.5

0.4

0.3

0.2

0.1

0.0

Sample Number

Proportion

P Chart for Pegangan

P=0.2619 UB=0.5027

LB=0.02109

Gambar 5.3

Peta Kendali Akhir Proses Pembuatan Pegangan

(7)

4. Proses rakit

Sample size yang digunakan sebanyak 20 unit dan sub-grup 28 buah.

Interval pengambilan data selama 30 menit dan diambil secara acak.

Data untuk proses ini sudah terkendali karena semua data yang ada masuk dalam batas kendali. Proses memiliki tingkat kecacatan sebesar [Σdefek/(sample size*sub-grup)] = [51/(20*28)] = 0.09107 = 9.107%.

Peta kendali:

60 50 40 30 20 10 0 0.3

0.2

0.1

0.0

Sample Number

Proportion

P Chart for Rakit

P=0.1018 UB=0.3046

LB=0.000

Gambar 5.4

Peta Kendali Akhir Proses Rakit

5. Proses cutting gergaji

Sample size yang digunakan sebanyak 60 unit dan sub-grup 28 buah.

Interval pengambilan data selama 30 menit dan diambil secara acak.

Data untuk proses ini sudah terkendali karena semua data yang ada

masuk dalam batas kendali. Proses memiliki tingkat kecacatan sebesar

[Σdefek/(sample size*sub-grup)] = [341/(60*28)] = 0.20298 = 20.298%.

(8)

Peta kendali:

60 50 40 30 20 10 0 0.5

0.4

0.3

0.2

0.1

Sample Number

Proportion

P Chart for Potong

P=0.3304 UB=0.5125

-3.0SL=0.1482

Gambar 5.5

Peta Kendali Akhir Proses Cutting Gergaji

6. Proses pembentukan

Sample size yang digunakan sebanyak 30 unit dan sub-grup 28 buah.

Interval pengambilan data selama 30 menit dan diambil secara acak.

Data untuk proses ini sudah terkendali karena semua data yang ada masuk dalam batas kendali. Proses memiliki tingkat kecacatan sebesar [Σdefek/(sample size*sub-grup)] = [92/(40*28)] = 0.10953= 10.953%.

Peta kendali:

60 50 40 30 20 10 0 0.3

0.2

0.1

0.0

Sample Number

Proportion

P Chart for Pembentu

P=0.1429 UB=0.3345

LB=0.000

Gambar 5.6

Peta Kendali Akhir Proses Pembentukan

(9)

7. Proses bor

Sample size yang digunakan sebanyak 30 unit dan sub-grup 28 buah.

Interval pengambilan data selama 30 menit dan diambil secara acak.

Data untuk proses ini sudah terkendali karena semua data yang ada masuk dalam batas kendali. Proses memiliki tingkat kecacatan sebesar [Σdefek/(sample size*sub-grup)] = [71/(30*28)] = 0.0845= 8.45%.

Peta kendali:

60 50 40 30 20 10 0 0.3

0.2

0.1

0.0

Sample Number

Proportion

P Chart for Bor

P=0.1036 UB=0.2705

LB=0.000

Gambar 5.7

Peta Kendali Akhir Proses Bor

5.4. Analisa Tingkat Kecacatan Akhir

Perbandingan tingkat kecacatan dapat dilihat pada tabel 5.1.

Tabel 5.1

Perbandingan Kecacatan Awal, Akhir dan Penurunan Cacat

Proses p awal p akhir Penurunan

Sekop cutting 0.3688 0.2304 0.1384

bubut 0.17 0.1043 0.0657

pegangan 0.2619 0.1821 0.0798

rakit 0.1018 0.0911 0.0107

Gergaji cutting 0.3304 0.203 0.1274

pembentukan 0.1429 0.11 0.0329

bor 0.1036 0.0845 0.0191

(10)

Berdasarkan tabel 5.1 diatas dapat dilihat bahwa tingkat kecacatan akhir lebih kecil dibandingkan dengan tingkat kecacatan mula-mula. Hanya saja perbandingan diatas masih belum dapat dijadikan patokan yang sebenarnya, karena itu dilakukan uji secara statistik dengan menggunakan uji proporsi.

Uji proporsi dilakukan dengan menggunakan α sebesar 5% untuk menguji apakah benar terjadi perubahan tingkat kecacatan. Hipotesa yang digunakan adalah:

H

0

: p

1

= p

2

H

1

: p

1

> p

2

Perhitungan dengan menggunakan rumus:

2 1

2 2 1

ˆ

1

n n

p n p p n

+

= +

hipotesa dengan menggunakan:

Z

0

=

 

 

 +

2 1

2 1

1 ) 1

1 ˆ ˆ (

n p n

p

p p

p

1

adalah tingkat kecacatan awal dan p

2

adalah tingkat kecacatan akhir.

Dengan menggunakan α sebesar 5% maka nilai Z

tabel

adalah 1.645 dan tolak H

0

(cacat awal lebih besar dari cacat akhir) bila nilai Z

0

> Z

tabel

.

Sekop:

Tabel 5.2

Data Uji Proporsi Produk Sekop

Cutting Bubut Pegangan Rakit

0.299553572 0.137142857 0.22 0.096428572 Z

0

7.14962025 3.573861929 3.93 0.607376659

Hipotesa Tolak Tolak Tolak Gagal Tolak

(11)

Gergaji:

Tabel 5.3

Data Uji Proporsi Produk Gergaji Cutting Pembentukan Bor 0.266666667 0.126190477 0.09 Z

0

8.348511652 2.057224601 1.34

Hipotesa Tolak Tolak Gagal Tolak

Proses cutting sekop menunjukkan penurunan prosentase kecacatan. Hasil tolak H

0

menunjukkan telah terjadi penurunan cacat secara signifikan.

Proses bubut menunjukkan penurunan prosentase kecacatan. Hasil tolak H

0

menunjukkan telah terjadi penurunan cacat secara signifikan.

Proses pembuatan pegangan menunjukkan penurunan prosentase kecacatan. Hasil tolak H

0

menunjukkan telah terjadi penurunan cacat secara signifikan.

Proses rakit menunjukkan penurunan prosentase kecacatan. Hasil gagal tolak H

0

menunjukkan tidak terjadi penurunan cacat secara signifikan. Penyebab hal ini adalah kurangnya pemahaman mengenai pentingnya kualitas oleh operator atau kurang pedulinya mereka terhadap kualitas suatu produk. Seringkali bila tidak diawasi oleh supervisor mereka tidak melakukan pekerjaannya sesuai dengan prosedur yang diberikan. Kelalaian dan kurang disiplin ini yang menyebabkan tidak terjadi penurunan cacat secara signifikan.

Proses cutting gergaji menunjukkan penurunan prosentase kecacatan.

Hasil tolak H

0

menunjukkan telah terjadi penurunan cacat secara signifikan.

Proses pembentukan menunjukkan penurunan prosentase kecacatan. Hasil tolak H

0

menunjukkan telah terjadi penurunan cacat secara signifikan.

Proses bor menunjukkan penurunan prosentase kecacatan. Hasil gagal

tolak H

0

menunjukkan tidak terjadi penurunan cacat secara signifikan. Penyebab

hal ini adalah kurangnya pemahaman mengenai pentingnya kualitas oleh operator

atau kurang pedulinya mereka terhadap kualitas suatu produk. Seringkali bila

tidak diawasi oleh supervisor mereka tidak melakukan pekerjaannya sesuai

(12)

dengan prosedur yang diberikan. Kelalaian dan kurang disiplin ini yang menyebabkan tidak terjadi penurunan cacat secara signifikan.

5.5. Standar Baru

Peta kendali baru digunakan sebagai standar kecacatan baru dan perbaikan berlangsung terus menerus sehingga lama kelamaan proses menjadi semakin baik.

Rata-rata cacat baru dapat dilihat pada nilai p pada peta kendali baru. Batas-batas yang digunakan pada peta kendali ini digunakan sebagai standar dan rata-rata cacat sebagai rata-rata kecacatan yang baru. Tabel 5.4 menunjukkan standar yang baru. Peta kendali untuk standar yang baru dapat dilihat pada lampiran 6.

Tabel 5.4

Standar Kecacatan yang Baru

Proses p

Sekop cutting 0.2304

bubut 0.1043

pegangan 0.1821

rakit 0.0911

Gergaji cutting 0.203

pembentukan 0.11

bor 0.0845

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Hal-hal inilah yang menjadi sebuah gagasan awal perlunya suatu bangunan dengan fungsi utama kantor pelayanan yang berisikan fasilitas pelayanan (penyedia jasa)

Berkaitan dengan variable yang berhubungan lainnya dalam penelitian ini, 54% perawat dengan masa kerja baru yang memiliki kelengkapan berkas rekam medis adalah

Sedangkan hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah “Ha” yaitu ada Korelasi antara Kegiatan Kepramukaan Terhadap Pembentukan Karakter Mahasiswa IAIN

Berdasarkan hasil analisis regresi berganda diatas dapat diketahui bahwa variabel pemahaman tentang peraturan perpajakan dan persepsi efektifitas sistem perpajakan

Using the JXTA protocols, peers can cooperate to form self -organized and self-configured peer groups independently of their positions in the network (edges, firewalls), and

 Mulai timbul luka pada payudara dan lama tidak sembuh meskipun sudah diobati, serta puting susu seperti koreng atau eksim dan tertarik ke dalam  Kulit payudara menjadi

USAHA- USAHA YANG DAPAT DI LAKUKAN UNTUK MELI NDUNGI KEPENTI NGAN