• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1

Universitas Kristen Petra

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Aspek finansial merupakan hal yang krusial, apabila perusahaan mengalami pendapatan negatif, hal ini dapat menyebabkan kehilangan uang dan juga menimbulkan beberapa masalah yang pertama pertumbuhan pendapatan tidak bisa diestimasi atau digunakan dalam perhitungan, dalam hal ini ketika laba bersih negatif, maka pengaplikasian rasio pertumbuhan hanya akan membuatnya semakin negatif. Kedua, pajak menjadi lebih rumit, dimana ketika laba bersih negatif, hal ini dapat mempersulit perhitungan pajak selama rentang periode tertentu. Ketika perusahaan mengalami kerugian dua tahun berturut-turut dan baru mengalami keuntungan pada tahun ketiga perhitungannya akan lebih rumit dibanding yang tidak mengalami kerugian.

Ketiga yaitu asumsi going concern tidak dapat diaplikasikan dalam perusahaan (Damodaran, 2002)

Pada awal September 2008 bursa Wall Street terguncang hebat, beberapa perusahan keuangan menyatakan bangkrut, pasar global meresponnya dengan negatif, harga-harga saham di lantai Bursa Jakarta, yang sekarang disebut Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut terkoreksi turun. Turunnya harga saham kemudian membuat pemerintah melakukan intervensi dengan menutup segera transaksi dilantai bursa. Krisis itu bermula dari kredit perumahan atau yang dikenal dengan istilah Subprime Mortage, yang disebut juga sebagai kredit kepemilikan rumah berisiko tinggi. Disebut berisiko tinggi karena pinjaman diberikan kepada para peminjam yang kurang memenuhi syarat, tanpa melihat bagus atau tidaknya sejarah kredit si peminjam dan kemampuannya membayar hutang. Kemudahan pemberian kredit tersebut juga terjadi saat harga properti di AS sedang mengalami kenaikan. Hal tersebut diikuti dengan spekulasi yang meningkat. Masalah kemudian muncul

(2)

2

Universitas Kristen Petra

ketika banyak lembaga keuangan pemberi kredit properti di Amerika Serikat menyalurkan kredit kepada masyarakat yang sebenarnya secara finansial tidak layak memperoleh kredit, atau dapat dikatakan tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk memenuhi kewajiban finansial.

Kondisi yang dihadapi lembaga-lembaga keuangan besar di Amerika Serikat mempengaruhi likuiditas lembaga keuangan yang lain, baik yang berada di Amerika Serikat maupun di luar Amerika Serikat. Sektor-sektor yang paling terkena imbas krisis global adalah industri manufaktur, pertanian, dan pertambangan, karena ketiga sektor ini menyumbang lebih dari 50% PDB dan menyerap lebih dari 60% tenaga kerja nasional. Terpukulnya kinerja sektor-sektor ini akan berujung pada gelombang pemutusan tenaga kerja, menurunnya daya beli, melemahnya konsumsi dan investasi sehingga pada akhirnya menahan akselerasi pertumbuhan ekonomi domestik. (Outlook Ekonomi Indonesia 2009-2014, 2009).

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia juga terkoreksi sangat tajam ke level 1.400-1.500 dibandingkan puncaknya pada level 2.800 pada akhir 2007 (Okezone, 2008). Dampak krisis keuangan terhadap industri manufaktur semakin serius, khususnya pada sektor konveksi dan furnitur. Hal tersebut dapat dilihat melalui angka pemutusan hubungan kerja yang terus melonjak serta sejumlah tenaga kerja yang terpaksa dipulangkan karena perusahaannya bangkrut (Kompas, 2009).

Selama krisis finansial global tahun 2008-2009, sektor manufaktur di Indonesia merupakan sektor ekonomi yang paling terkena dampak buruk dibanding sektor lainnya. Kenaikan harga komoditi primer yang menjadi bahan baku sektor ini telah menyebabkan biaya produksi meningkat.

Demikian juga kenaikan harga minyak bumi telah mendorong kenaikan biaya operasi karena harga bahan bakar minyak untuk sektor industri tidak disubsidi. Sementara itu pasar ekspor yang menjadi target utama pemasaran

(3)

3

Universitas Kristen Petra

produk manufaktur juga mengalami kemerosotan karena negara maju yang menjadi tujuan ekspor utama ekonominya sedang terkena dampak serius dari krisis financial (Indonesian Commercial Newsletter, 2010).

Industri manufaktur sendiri terpukul oleh krisis finansial global karena dua hal, baik karena pasar yang menyusut baik dipasaran ekspor maupun pasar dalam negeri, biaya produksi yang tinggi karena harga-harga bahan baku impor masih tinggi dengan lemahnya nilai tukar rupiah, dan juga kesulitan likuiditas karena bank masih belum berani menurunkan suku bunga walaupun suku bunga acuan Bank Indonesia sudah menurun. Selain masalah melemahnya pasar ekspor, industri manufaktur juga menghadapi masalah kesulitan likuiditas ketika perbankan menjadi lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit dengan suku bunga yang masih tinggi.

Menurut Purba (2006 : 44) pada saat krisis ekonomi, tidak satupun perusahaan yang operasinya luput dari risiko pailit, sehingga penuh dengan ketidakpastian. Hal ini membuat kelangsungan hidup perusahaan (going concern) terganggu, bahkan kemudian mengarah pada likuidasi atau kebangkrutan. Kebangkrutan adalah kesulitan keuangan yang sangat parah sehingga perusahaan tidak mampu untuk menjalankan operasi perusahaan dengan baik. Sedangkan kesulitan keuangan (financial distress) adalah kesulitan keuangan atau likuiditas yang mungkin sebagai awal kebangkrutan.

Financial Distress terjadi sebelum kebangkrutan. Model financial distress perlu untuk dikembangkan, karena dengan mengetahui kondisi financial distress perusahaan sejak dini diharapkan dapat melakukan tindakan-tindakan untuk mengantisipasi kondisi yang mengarah pada kebangkrutan (Almilia dan Kristijadi, 2003).

Kebangkrutan suatu perusahaan dapat dilihat dan diukur melalui laporan keuangan, dengan cara menganalisis laporan keuangan. Analisis laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh

(4)

4

Universitas Kristen Petra

informasi yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan serta hasil-hasil yang telah dicapai sehubung dengan pemilihan strategi perusahaan yang akan diterapkan (M.Akhyar Adnan dan Eha Kurniasih, 2002).

Plat dan Plat (2002) mendefinisikan financial distress sebagai tahap penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan ataupun likuidasi. Hofer (1980) dan Whitaker (1999) mengumpamakan kondisi financial distress sebagai suatu kondisi dari perusahaan yang mengalami laba bersih (net profit) negatif selama beberapa tahun.

Indikator untuk memprediksi adanya financial distress antara lain adalah cash flow analysis, corporate strategy analysis, financial statement of the firm, dan external variable seperti security returns dan bond ratings. Cash flow analysis langsung berfokus pada gagasan kesulitan keuangan untuk periode bunga, analisis ini tergantung pada persiapan yang mendasari asumsi anggaran. Corporate strategy analysis mempertimbangkan pesaing potensial dari perusahaan atau lembaga, struktur biaya relatif, ekspansi di industri, dan kemampuan perusahaan untuk menyampaikan kenaikan biaya, atau kualitas manajemen. Analisis laporan keuangan dari perusahaan dapat berfokus baik pada analisis univariat maupun multivariat. Sedangkan external variable dapat memberikan informasi tentang arus kas pada masa yang akan datang dan strategi perusahaan serta informasi dari laporan keuangan perusahaan (Foster, 1986).

Penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh Altman (1976) tujuannya untuk memprediksi financial distress (khususnya dalam bankruptcy) menggunakan discriminant analysis dengan istilah Altman Z- Score. Lima rasio keuangan yang digunakan adalah working capital to total assets, retained earning to total assets, earning before interest and taxes (EBIT) to total assets, market value of equity to total liabilities dan sales to total assets. Kemudian Altman melanjutkan penelitian keduanya dengan

(5)

5

Universitas Kristen Petra

model (ZETA) tahun 1976 dengan menggunakan rasio keuangan klasik penemuan Beaver (1967) dalam menentukan credit-wothiness dengan multi descriminant analysis (MDA).

Pada penelitian yang kali ini dilakukan, menggunakan lima rasio keuangan untuk memprediksi financial distress, pertama Current ratio, rasio yang digunakan untuk mengetahui kesanggupan memenuhi kewajiban jangka pendek. Kedua Leverage Ratio digunakan untuk untuk mengukur seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang atau dibiayai oleh pihak luar.

Yang ketiga Gross Profit Margin digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan mendapatkan laba bruto per rupiah penjualan, keempat yaitu Inventory Turn Over digunakan untuk mengetahui seberapa efisien perusahaan mengatur persediaannya, yaitu dengan menunjukkan berapa kali turnover inventory dalam satu tahun. Terakhir Return On Equity yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba berdasarkan modal sendiri.

Penelitian ini dilakukan dengan melihat pentingnya untuk mengetahui mengenai kesulitan keuangan yang mungkin akan dialami oleh suatu perusahaan, dengan melihat sektor manufaktur secara khusus dan menghubungkannya dengan krisis yang terjadi di tahun 2007-2008 peneliti ingin mengetahui lebih dalam akan pengaruh khusus dan dampak yang mungkin terjadi. Maka kemudian penulis mengambil judul “Prediksi Financial Distress pada perusahaan manufaktur (Studi kasus pada periode 2008-2011)”

(6)

6

Universitas Kristen Petra

1.2 Rumusan Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

Apakah rasio keuangan berupa Current Ratio, Leverage Ratio, Gross Profit Margin, Inventory Turn Over, dan Return On Equity dapat digunakan untuk memprediksi financial distress pada perusahaan manufaktur di Indonesia?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

Mengetahui apa rasio-rasio keuangan berupa Current Ratio, Leverage Ratio, Gross Profit Margin, Inventory Turn Over, dan Return On Equity dapat digunakan untuk memprediksi terjadinya financial distress pada perusahaan manufaktur di Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil yang dapat diperoleh dari penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Bagi penulis, dapat lebih memahami mengenai financial distress dengan lebih baik.

2. Bagi investor dan pelaku bisnis, diharapkan dapat menjadi bahan masukan yang dapat digunakan ketika perusahaan diketahui mengalami financial distress, agar dapat diambil keputusan yang dianggap perlu secepatnya.

3. Bagi peneliti berikutnya, kiranya dapat digunakan sebagai tambahan referensi untuk penelitian selanjutnya khususnya yang berkaitan dengan kondisi financial distress suatu perusahaan.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Islam "Ibnu Sina" Yarsi Sumbar Bukittinggi menunjukkan bahwa 54,7% perawat memiliki kecendrungan turnover, dari

pembiayaan tetep akan diberikan dengan jumlah pembiayaan di.. kurangi, hal ini tentunya akan berdampak kepada pihak BPRS Haji Miskin tersebut, yang mana nantinya

Kenaikan indeks harga terjadi pada subkelompok tembakau dan minuman beralkohol sebesar 1,04 persen, minuman yang tidak beralkohol sebesar 0,09 persen, serta makanan

value Teks default yang akan dimunculkan jika user hendak mengisi input maxlength Panjang teks maksimum yang dapat dimasukkan. emptyok Bernilai true jika user dapat tidak

Kemudian Anda juga harus menyatakan bahwa karena Anda mengajukan permohonan terhadap Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris yang

Sebelumnya dikatakan bahwa Kecamatan Reok lolos untuk menjadi Pusat Kegiatan Lokal dikarenakan memiliki pelabuhan kelas III dan jalan areteri yang mendukung

Lokasi tersebut dipilih secara purposif dengan alasan (a) ja- lan lintas Papua merupakan jalan yang mengikuti garis perbatasan antara Indonesia dan Papua New Guinea

1.1 PERSIAPAN YANG PERLU DIPERHATIKAN Ada beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan sebagai seorang pengajar sebelum mengakses E-learning UPU diantaranya yaitu