29
BAB III
HASIL PENELITIAN 3.1 Profil Perusahaan
PT Bawen Mediatama merupakan salah satu perusahaan unit Gramedia Printing Gruop dengan kantor pusat yang beralamat di Jl.
Palmerah Selatan 22-28 Jakarta dan memiliki 7 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia diantaranya Bandung, Jakarta, Semarang, Medan, Bali, Surabaya dan Cikarang. Salah satu cabang yang beroperasi di Semarang ialah Bawen Mediatama yang beralamat di Jl. Gatot Subroto No. 26, Kupang, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah 50612. Perusahaan yang bergerak di bidang percetakan koran dan tabloid ini didirikan oleh P.K.
Ojong dan Jakob Oetama yang merupakan jurnalis dari Mingguan Penabur pada tahun 1956. Percetakan yang beroperasi di Bawen ini lebih berfokus pada produksi cetak koran, tabloid, buku, majalah, material promosi dan paper packaging.
Bawen Mediatama memberikan nilai tambah kepada mitra industri melalui rantai produksi yang dimulai dari penyediaan material seperti roll kertas, tinta, dan kelengkapan kantor yang lainnya. Perusahaan ini membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar karena berkontribusi terhadap pendapatan desa setempat melalui program outsourcing bagi karyawan dan penjualan limbah kertas kepada pihak luar.
3.2 Profil Responden
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan 3 (tiga) orang responden untuk memenuhi hasil penelitiannya. Semua responden dalam penelitian ini tidak merasa keberatan untuk disebutkan namanya, adapun responden penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bapak Agustinus Djoko (Asisten Manager dan Pre Press Superintendent)
Tugas dan tanggung jawab: melakukan, mengawasi dan mengatur segala hal yang berkaitan dengan proses cetak materi, lebih khususnya pada bagian pra cetak.
2. Mbak Theresia Aprilce Makagansa – Echa (Sekretaris, Keuangan dan Sales)
Tugas dan tanggung jawab: membantu dan mengelola seluruh administrasi perusahaan, melakukan pekerjaan marketing dan menyusun laporan keuangan setiap periode yang ditentukan.
3. Mbak F.D. Sulistyorini – Rini ( HR & GA Superintendent)
Tugas dan tanggung jawab: melakukan segala hal yang berkaitan dengan dengan pemeliharaan dan pemaksimalan SDM mulai dari tahap awal perencanaan, implementasi dan masa evaluasi.
Bpk. FA.
Suprapto MANAGER
Pre Press Section Spt – Bpk Ag Djoko
Pre Press Section Spt – Bpk Ferdinan
Maint Section
Spt – Bpk Muryanto
HR & GA Section Spt –
Ibu Sulityo Rini Ast. Manager
Production Bpk. Ag Djoko
HO Shift I Team Leader
Goss Comm/ DGM 6 tower Shift I
Team Leader
DGM 6 tower, shift III Team Leader
DGM 4 tower, shift III Team Leader
Gross Common 2,
Shift III Team Leader
HO Shift III Team Leader
Secretary – Ibu Echa Sales – Jari Sumarlan, Echa, Saverius Trio
3.3 Struktur Organisasi
Spt = Superintendent/ Supervisor TL = Team Leader
Keterangan:
- Struktur Organisasi di PT Bawen Mediatama jabatan tertinggi diisi oleh manager yang dibawahnya terdapat asisten manager yang langsung berkoordinasi dengan berbagai divisi yang terdapat di perusahaan.
- Sekretaris dan Sales langsung berada pada pengawasan manager.
- Divisi yang terdapat di PT Bawen Mediatama ialah:
1. Pre Press : Bagian yang menerima materi dari pusat sebelum dilakukan proses cetak dan produksi.
2. Press : Bagian yang melakukan proses cetak materi dan produksi seluruh produk perusahaan seperti: majalah, koran, buku dan material promosi.
3. Maint : Bagian yang mengelola seluruh peralatan perusahaan, mulai dari operasi, perawatan dan perbaikan seluruh mesin perusahan.
4. HR & GA : Bagian yang mengawasi dan mengatur seluruh karyawan atau SDM perusahaan dan menyediakan semua kebutuhan perlengkapan perusahaan, seperti peralatan kantor, pengelolaan limbah pabrik, dan hubungan masyarakat.
3.4 Menetapkan Tujuan dan Prioritas
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada pukul 10.30 hari Rabu mengenai langkah karyawan dalam menetapkan tujuan dan prioritas yang menjadi tugas dan tanggung jawab pada setiap pekerjaan, karyawan melakukan penetapan tujuan dan prioritas dengan mengutamakan pekerjaan yang mendesak, dilihat dari daftar urutan tanggal mana yang lebih dahulu masuk dalam daftar dan butuh penyelesaian yang cepat.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pertanyaan bagaimana langkah yang dilakukan dalam menentukan skala prioritas pada pekerjaan di PT. Bawen Mediatama. Tiga responden menjawab sebagai berikut:
Responden 1 oleh Mbak Rini selaku human resource yang bertanggung jawab terhadap seluruh kepentingan karyawan dan sebagai
supervisor general affair yang mengawasi semua kegiatan logistik menjawab sebagai berikut:
“Kalau untuk harian kan kita udah tahu jobnya apa, kayak hari ini kan kita udah kebayang besok pekerjaannya apa, jadi sudah mulai planning, kalau awal-awal dulu ada pencatatan pekerjaan apa saja yang harus dilakukan biar nggak lupa. Kita tentuin yang paling utama yang paling urgent yang memang harus dilakukan dari pagi, untuk yang tidak urgent berarti kan bisa dilakukan dari siang sampai sore. Untuk sekarang saya udah nggak pakai catatan tapi udah kebanyang besok pekerjaannya apa, contohnya besok ada pengiriman, hari ini udah bikin rute jadi besok tinggal proses buat dokumen.”
Responden 2 oleh Bapak Agus Djoko sebagai supervisor pre press dan press yang bertugas mengawasi dan bertanggungjawab terhadap berjalannya proses produksi serta memiliki wewenang sebagai asisten manager perusahaan menjawab sebagai berikut:
“Oh iya, jadi begini saya mengurusi produksi, bagaimana saya produksi itu mulai dari materi sampai barang itu siap saya serahkan ke customer saya, itu saya bikin planning untuk mulai yang menyiapan materi sampai dengan penyerahan barang tadi saya susun, setelah itu mengontrol prosesnya misalnya malem saya melakukan controling dengan komunikasi memalui whatsapp pekerjaan sampai dimana, materi sudah ada belum.”
Responden 3 Mbak Echa selaku sekretaris perusahaan yang juga mengurus bagian keuangan dan administrasi perusahaan serta merangkap sebagai sales menjawab sebagai berikut:
“Iya, mana yang udah mau deadline terutama yang berhubungan dengan keuangan, karena kan kalau keuangan setiap awal bulan ada deadline nya, kalau enggak kan kaitannya ke gaji ketahan, nah jadi mana yang kira-kira udah deadline itu dikerjain duluan. Sama karna aku sekarang megang sales, complain customer dibarengin kalau ada komplain langsung di tangani, utamakan complain, langsung diselesaikan.”
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dari ketiga responden dapat disimpulkan bahwa terdapat penentuan dan penyusunan skala prioritas terhadap setiap pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawab karyawan. Telah dilakukan dengan baik berdasarkan tingkat kepentingan setiap pekerjaan.
Selanjutnya peneliti melakukan observasi mengenai cara dalam menyusun daftar rincian tugas yang memiliki nilai tinggi atau menjadi skala prioritas, terlihat bahwa pegawai tidak memiliki To Do List sebagai daftar catatan pekerjaan, namun terdapat pegawai yang menandai setiap daftar pekerjaan dengan stabilo dan kertas berwarna sebagai tanda bahwa pekerjaan tersebut harus segera diselesaikan atau mempunyai deadline yang mendesak.
Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga respnden di PT Bawen Mediatama dengan pertanyaan apakah dilakukan penyusunan daftar rincian tugas yang termasuk dalam skala prioritas? Ketiga responden tersebut menjawab dengan jawaban yang senada sebagai berikut:
Responden 1 Mbak Rini yang bertanggung jawab terhadap proses logistik hasil produk perusahaan dan menyedia SDM menjawab pertanyaan apakah dilakukan penyusunan daftar rincian tugas yang termasuk dalam skala prioritas sebagai berikut:
“Kalau awal dulu memang ada tertulis pekerjaan apa saja yang harus diselesaikan, terutama yang paling urgent. Tetapi semakin kesini sih sudah nggak pakai cetetan ya, tapi udah siap setiap sore begini kita udah planning mana yang prioritas, kayak hari ini besok ada pengiriman kita atur persiapannya mulai dari sore, jadi
besok tinggal pelaksanaannya. Minimal besok yang mana harus kita kerjakan dulu itu sudah ada kasarannya.”
Responden 2 Bapak Agus Djoko yang memiliki tanggung jawab terhadap semua proses produksi mulai dari penyediaan bahan hingga menjadi produk yang siap dipasarkan menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“To do list awalnya saya punya, saya punya buku isinya tugas- tugas yang harus saya kerjakan, saya centangin kalo sudah, tapi semakin kesini karena sudah hafal dengan pekerjaannya, semua lolos. Kalo sekarang harus membuat daftar rincian tugas sudah kelupaan sudah tidak sempat, tapi seharusnya punya, ada di pracetak masih ada bukunya, misalnya ada daftar laporan yang harus saya buat saya susun a b c d, kalo sudah saya centangin.”
Responden 3 Mbak Echa yang merangkap pekerjaan dari sekretaris perusahaan, sales, hingga seluruh pekerjaan administrasi perusahaan menyampaikan jawaban atas pertanyaan sebagai berikut:
“Awalnya, awal kerja aku punya buku agenda, nah aku catet itu tiap hari, kan ada agenda yang hariannya ada jam-jamnya, aku tulis PR ku apa aja, nah kalau udah selesai aku coret-coret, yang belum tiap sore gini aku stabilo, besoknya aku kerjain. Itu dulu awal-awal aku kerja, lama-lama kan udah terbiasa sekarang udah enggak. Nah kalau sekarang aku bedain map, map mana yang masih on process, map mana yang hampir selesai, map mana yang belum dikerjakan, kalau sekarang modelnya gitu.”
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara diatas dapat dikatakan bahwa pegawai melakukan pekerjaan secara berkesinambungan, sesuai dengan tingkat kepentingan pekerjaan, tidak terdapat catatan fisik sebagai daftar rincian pekerjaan yang harus dilakukan karena meraka sudah hafal dengan pekerjaan sehari-hari dan tahu apa yang harus mereka kerjakan.
Peneliti lebih lanjut melakukan observasi mengenai langkah dalam menentukan daftar tujuan yang ingin dicapai oleh setiap pegawai dalam pekerjaannya, para pegawai terlihat kurang memperlihatkan bahwa mereka memikirkan daftar tujuan yang ingin dicapai, karena terlihat para pegawai disibukkan dengan pekerjaan yang dikejar deadline, sehingga untuk urusan jangka panjang kurang diperhatikan, mereka melakukan seiring dengan tugas dan pekerjaan yang memang sudah menjadi tanggung jawabnya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga responden dengan pertanyaan bagaimana langkah yang dilakukan dalam menentukan daftar tujuan yang ingin dicapai? Rencana jangka panjang dan jangka pendek apakah tersusun dalam daftar pekerjaan? Jawaban ketiga responden adalah sebagai berikut:
Responden 1 Mbak Rini sebagai human resource yang bertanggungg jawab atas segala kebutuhan SDM menjawab pertanyaan mengenai langkah dalam menentukan daftar tujuan yang ingin dicapai sebagai berikut:
“Untuk pekerjaan harian-harian kan masuk ke tujuan jangka pendek ya, yang besok harus terlaksana, paling kayak persiapan pengiriman untuk besok, karna kan sekarang ini kita fokusnya lagi ke proyek, kalau untuk tujuan jangka panjang di kita sebenarnya ada evaluasi, akhir tahun kita pasti bikin planning untuk tahun depan, kadang kala kita bikin planning tiba-tiba seperti ini ada proyek, kita kan nggak tahu tender ini akan berapa lama, tiba-tiba evaluasi yang sudah kita rencanakan bisa jadi mleset, artinya kita juga lakukan evaluasi jadi kita sudah tetapkan target itu di akhir tahun untuk enam bulan pertama. Tapi biasanya triwulan ada evaluasi untuk masing-masing itu sesuai nggak yang kita rencanakan, atau misalnya ada tambahan target-target. Misalnya
logistik kan bukan di jobku, harusnya dipegang bagian yang lain, tapi tiba-tiba masuk di pekerjaanku, jadinya saya harus menyesuaikan lagi bagaimana mengatur pekerjaan harian supaya tetap jalan, dan dibarengi dengan mengerjakan tender ini.”
Responden 2 Bapak Agus Djoko yang memiliki tanggung jawab sebagai pengelola seluruh pengadaan barang yang pada akhirnya akan di menghasilkan produk perusahaan menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“Ini nggak ada, karena ini kan pekerjaan proyek ya, jadi semua buru-buru jadi ya sudah untuk penyusanan rencana jangka panjangnya itu kadang-kadang kelewatan.”
Responden 3 Mbak Echa selaku pengelola seluruh kegiatan administrasi perusahaan menyampaikan jawaban sebagai berikut:
“Oh jadi misalnya gini kalau pas lagi jadwal banyak dalam minggu depan itu yang harus diselesaikan ini ini ini gitu yak? itu ada. Contohnya kaya kemarin kalo di sekretaris kan lebih banyak ke filing-filing tetapi buat minggu depan, tapi kalo untuk pekerjaan yang hubungannya dengan penyelesaian keuangan nggak bisa, paling ya cuman kerjaan yang skala prioritasnya rendah, hari ini nggak usah dikerjain, buat minggu depan aja, paling kayak gitu.”
Dari hasil observasi dan wawancara dapat dikatakan bahwa kemampuan para pegawai dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai masih kurang diperhatikan, tidak terdapat penyusunan tujuan jangka pangjang maupun jangka pendek secara tertulis sehingga target yang ingin dicapai kurang maksimal, namun terdapat evaluasi dalam setiap trimester sehingga menjadikan hasil kinerja dapat dinilai dan ditingkatkan dan terlihat manajemen kantor sudah baik.
3.5 Mekanisme Dari Menejemen Waktu
Berdasarkan hasil observasi bahwa langkah yang dilakukan pegawai dalam mengatur jadwal pekerjaan yang harus diselesaikan sesuai dengan batasan waktu (target) adalah mereka bekerja secepat mungkin dan terlihat menggunakan jasa karyawan outsourcing untuk meringankan beban pekerjaan yang harus diselesaikan, juga menurut pengamatan si peneliti para pegawai bekerja melebihi batasan jam kerja, melakukan pekerjaan lembur untuk mengejar target yang sudah ditentukan.
Berdasarkan hasil wawancara dari ketiga responden dengan pertanyaan bagaimana langkah yang dilakukan dalam mengatur jadwal pekerjaan yang harus diselesaikan sesuai batasan waktu (target)? Mereka menjawab sebagai berikut:
Responden 1 Mbak Rini menjawab pertanyaan mengenai langkah dalam mengatur jadwal pekerjaan yang harus diselesaikan sesuai target sebagai berikut:
“Kayak gini misalnya pekerjaan-pekerjaan yang memang bisa dibantu misalnya pekerjaan admin, bisa kita minta tolong dikerjakan sama orang lain. Sebenarnya untuk pekerjaan pengiriman barang inipun kalau memang kita berani untuk melimpahkan ke orang lain sebenarnya bisa kita alihkan ke orang luar, tapi kan ini teknis banget ya masih harus menentukan rute, nego dengan sopir dan lain sebagainya, jadi tetap kita kerjakan sendiri, intinya untuk pekerjaan yang tingkat resikonya tinggi tetap kita pegang sendiri.”
Responden 2 Bapak Agus Djoko menyampaikan jawaban sebagai berikut:
“Kalo itu mengalir ya, jadi begini saya tahu pekerjaan ini akan selesai dengan target seminggu, sehingga saya harus tahu apa yang harus saya lakukan. Minimal saya harus tahu kebutuhan dari SDM yang pertama, saya harus menyiapkan itu, koordinasi dengan siapapun, bertanggung jawab diatasnya SDM, persiapan mesin dan kebutuhan apa saja yang diperlukan, dilogistik juga dipantau untuk kebutuhan bahan, jadi untuk skala prioritas kita tahu lah kebutuhan per bagian. Minimal ada gambaran misalnya target seminggu saya harus menyiapkan orang berapa, bahannya seperti apa, prosesnya bagaimana dan koordinasi dengan siapa, seperti itu.”
Responden 3 Mbak Echa menyampaikan jawaban sebagai berikut:
“Ya kerja secepat mungkin, kalau gak nyampe ya mau nggak mau lembur, atau sabtu minggu masuk.”
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa langkah yang karyawan lakukan dalam mengatur jadwal pekerjaan yang harus diselesaikan sesuai batasan waktu (target) adalah dengan memanfaatkan waktu yang telah disediakan, bekerja secepat mungkin, dibantu dengan pengadaan SDM seperti karyawan outsourcing dan jumlah karyawan yang dibutuhkan dalam setiap jenis pekerjaan. Para karyawan juga menerapkan jam lembur untuk mensiasati pekerjaan yang tidak terselesaikan sesuai batasan waktu yang telah ditetapkan.
3.6 Pengorganisasian Tugas
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan tentang kebiasaan individu dalam melakukan pemeriksaan pada setiap kegiatan agar dapat terorganisir dengan baik terlihat bahwa pengecekan kembali terhadap tugas yang telah selesai dikerjakan, para pegawai melakukan pengecekan secara pararel, dilakukan pengecekan seiring dengan
pekerjaan tersebut akan mencapai tahap akhir, jadi tidak meluangkan waktu secara khusus untuk hanya sekedar melakukan pengecekan kembali.
Berdasarkan hasil wawancara dengan 3 responden dengan pertanyaan apakah dilakukan pengecekan kembali terhadap tugas-tugas yang telah selesai dikerjakan? Mereka menjawab sebagai berikut:
Responden 1 Mbak Rini menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“Saya lakukan pengecekan kembali, kalau untuk pekerjaan yang kita kerjakan sendiri kan otomatis kita tahu ya, nah untuk itu biasanya nggak koreksi lagi, tapi itu semua akan ter recheck ketika dokumen itu sudah siap, cocok nggak dokumen yang telah disiapkan dengan planningku, jadi pada tahan itu kan otomatis saya melakukan pengecekan.”
Responden 2 Bapak Agus Djoko menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“Tidak selalu kita lakukan, karna kan pekerjaan seperti ini random, jadi kita lakukan pengecekan ya bareng beriringan, kita sesuaikan pekerjaannya pada saat kapan kita bisa ngecek bareng, pada saat kapan kita bisa crosscheck kembali, misalnya untuk surat jalan itu kan bisa dilakukan pengecekan kembali, tapi kalau untuk pekerjaan dicetak itu kan susah untuk kita lakukan pengecekan kembali, membuang-buang waktu.”
Responden 3 Mbak Echa menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“Wajib, apalagi kan aku banyak di administrasi, harus di cek lagi, sejalan dengan pekerjaan yang lain, terutama sebelum minta otorisasi, harus dicek terlebih dahulu.”
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dari ketiga responden menunjukkan bahwa tidak dilakukan pengecekan secara khusus pada setiap pekerjaan yang telah selesai dikerjakan, namun tetap terjadi
pengecekan secara beriringan dengan proses pekerjaan, jadi pegawai tidak membuang waktu untuk melakukan pengecekan ulang pada setiap pekerjaan yang telah selesai dikerjakan, kecuali pekerjaan yang memang butuh tingkat ketelitian tinggi.
Lebih lanjut peneliti melakukan observasi mengenai pendelegasian tugas pada pekerjaan para karyawan, terlihat bahwa para pengawai melakukan pendelegasian tugas pada jenis-jenis pekerjaan yang memang memiliki tingkat resiko sedang dan dapat dikerjakan dengan mudah oleh orang lain, para karyawan mampu memberikan intruksi dengan baik kepada orang lain karena pada kenyataannya setiap orang yang diberikan perintah untuk mengerjakan tugas dapat menyelesaikan dengan baik.
Berdasarkan hasil wawancara ketiga responden dengan pertanyaan bagaimana cara yang anda lakukan dalam memberikan tugas ataupun perintah kepada orang lain? Jawaban mereka bertiga senada sebagai berikut:
Responden 1 Mbak Rini menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“Pendelegasian tentunya sangat membantu ya, tapi pertama kita harus yakin bahwa yang kita delegasi itu mampu, jadi kita pertimbangkan apakah dengan delegasi itu akan meringankan pekerjaanku atau malah menghambat pekerjaan. Contohnya jasa yang kita pakai dari karyawan outsourcing, biasanya kita trial dulu kalau memang seminggu kita lihat meraka nggak bisa ngikuti ritme kita, aku minta ganti orang. Karna kita sendiri merasakan kan kalau pekerjaan nggak ada habisnya bahkah terkadang kita lupa waktu, jadi sebelum dilakukan pendelegasian harus kita pastikan bahwa orang yang kita perintahkan itu mampu.”
Responden 2 Bapak Agus Djoko menjawab dengan jawaban yang senada sebagai berikut:
“Oh biasanya saya lewat WA mbak, semua arahan saya sampaikan melalui WA, kalau koordinasi jelas, untuk pendelegasian biasanya tergantung dari pekerjaan apa yang harus didelegasikan, bisa nggak didelegasikan kalo memang bisa kita lakukan delegasi. Yang jelas pemantauannya melalui telepon sih mbak.”
Responden 3 Mbak Echa menjawab pertanyaan apakah pendelegasian tugas kepada orang lain cukup membantu pekerjaan?
Jawabannya sebagai berikut:
“Membantu banget, contohnya deka, dari awal mana yang bisa deka hendle itu udah aku ajarin, tapi memang ada hal-hal tertentu yang memang aku nggak bisa kasih ke deka, karna pekerjaan tersebut butuh pemikiran, butuh keputusan dan butuh lebih kehati- hatian karena pencatatan uang, itu aku nggak kasih deka. Tapi kalau hanya untuk ngerjain operasional, aku delegasikan ke deka.”
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kemampuan pegawai dalam pendelegasian tugas kepada orang lain terlihat sudah baik, para pegawai memberikan arahan dengan jelas dan mempertimbangkan resiko dari pendelegasian tugas tersebut, sehingga tidak menjadikan pekerjaan yang seharusnya dapat teratasi dengan bantuan orang lain menjadi penghambat dalam pekerjaan. Para pengawai sangat berhati-hati dalam memberikan delegasi kepada orang lain.
3.7 Proporsi Alokasi Waktu
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti terhadap hal- hal yang menyebabkan terjadinya penundaan perkerjaan, terlihat bahwa para pegawai lebih banyak meluangkan waktu dengan gadget-nya, semua komunikasi hampir sebagian besar dilakukan memalui telepon, sehingga
waktu tersita banyak untuk urusan komunikasi, apa yang seharusnya dikerjakan pada saat itu menjadi lupa dan teralihkan dengan kegiatan yang lain. Terlihat juga pegawai terlalu fokus dengan satu pekerjaan, sehingga mengesampingkan pekerjaan yang lain, yang seharusnya juga dapat diselesaikan seiring dengan pekerjaan yang lainnya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan 3 responden mengenai pertanyaan hal apa sajakah yang menyebabkan terjadinya penundaan pekerjaan? Jawaban ketiga responden adalah sebagai berikut:
Responden 1 Mbak Rini menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“Kalau untuk penundaan pekerjaan itu biasa terkait dengan pihak lain, misalnya bikin rute untuk logistik nih, ternyata rutenya belum deal dengan harga otomatis kan besok belum bisa jalan, tapi kalau untuk hal yang bisa diputuskan sendiri sejauh ini bisa sesuai, contohnya hari ini deadline lemburan belum selesai, yaudah pulangku berarti molor, atau misalnya besok jam 9 data harus sudah ditarik berarti aku harus datang lebih awal, tapi kalau terkait dengan pihak luar ya memang tergantung sama orang lain, kalau pihak luar lambat yang kita ikut terhambat.”
Responden 2 Bapak Agus Djoko menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“Yang jelas mood pekerjaan itu pasti ya, mood pasti berpengaruh.
Kalo lagi moodnya tinggi pekerjaan cepat selesai dikerjakan, tapi kalo moodnya lagi nggak ada yang mau mengerjakan saja malas, pekerjaan menjadi pusing. Tapi paling yang sering tertunda itu biasanya laporan, tapi kalo memang pekerjaan yang deadline nya sebentar ya pasti terselesaikan.”
Responden 3 Mbak Echa menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“Biasanya ini karena ternyata yang prioritas itu lebih banyak, jadi terpaksanya hal-hal yang prioritasnya lebih kecil itu ditunda dulu, jadi misalnya gini, kayak awal bulan gini harusnya aku ngerjain
laporan surat, tapi karena laporan keuangan lebih penting, lemburin laporan keuangan dulu, yang lain terpaksa aku tinggal dibuat besok, sebenarnya juga penting kejar deadline, tapi dilemburin buat besok.”
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada para pegewai yang memiliki rangkap jabatan di PT Bawen Mediatama bahwa para pengawai merasa yang menjadi kendala dari tidak terselesaikannya pekerjaan adalah bermacam-macam faktor, mulai dari hubungan dengan pihak luar, banyaknya jenis pekerjaan yang harus diselesaikan, niat untuk mengerjakan dan faktor komunikasi melalui telepon.
3.8 Kualitas Pekerjaan
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada tingkat kualitas pekerjaan mengenai cara yang ditempuh para pegawai untuk mengatasi permasalahan pada pekerjaan, menunjukkan bahwa pegawai mengatasi setiap masalah dengan menelusuri akar permasalahan yang berujung pada musyawarah bersama untuk menyelesaikan masalah, terlihat para pegawai sering melakukan meeting mendadak apabila terjadi kendala pada sebuah pekerjaan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pertanyaan bagaimana cara yang dilakukan untuk mengatasi sebuah permasalah pada pekerjaan?
Misalnya target pekerjaan tidak tercapai. Ketiga responden menjawab sebagai berikut:
Responden 1 oleh Mbak Rini menjawab sebagai berikut:
“Kalau untuk mengatasi problem kita banyak sharing, kita lihat masalahnya dimana kita omongin sama atasannya, kita cari jalan
keluar. Kalau memang sudah mentok kami nggak bisa cari jalan keluar kita ngomong ke pimpinan untuk dipecahkan bersama- sama. Tapi selama kita masih bisa pikirkan sendiri ya kita cari solusinya sendiri. Kuncinya itu komunikasi, di dalam pekerjaan itu komunikasi harus, jangan cuma nunggu sebaiknya kita tanya, kita kasih target ke mereka. Kita yang bikin rencana, mereka yang ikut kita, jadi planningnya kita tetap jalan.”
Responden 2 oleh Bapak Agus Djoko menjawab sebagai berikut:
“Yang pasti koordinasi ya, masalah pada pekerjaan itu hubungannya dengan apa, dengan siapa ya koordinasinya dengan itu, kalau bisa kita temui pasti kita temui, kita selesaikan bersama- sama.”
Responden 3 Mbak Echa menjawab pertanyaan mengenai bagaimana cara yang dilakukan untuk mengatasi sebuah permasalah pada pekerjaan? Misalnya target pekerjaan tidak tercapai? Jawabanya sebagai berikut:
“Nggak pernah nggak tercapai, karna pekerjaan administarasi saldonya harus nol, jadi harus tercapai. Dan itu membuat kepikiran, karna itu kan tanggungjawab aku kalo bukan aku siapa lagi yang mau ngerjain. Kalo misalnya pekerjaan di deka dia nggak kelar pada akhirnya aku yang nyelesein, karena kalo keuangan itu nggak boleh ada yang meleset baik itu administrasinya maupun cash tunainya nggak boleh meleset, jadi ya harus selesai.”
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dari ketiga responden terlihat bahwa cara yang dilakukan dalam mengatasi permasalahan pada pekerjaan dilakukan dengan cara komunikasi yang baik, mencari akar permasalahan dari suatu masalah pada pekerjaan, tidak menyalahkan secara subyektif, tetap melihat pada sumber permasalahan.
3.9 Kuantitas Pekerjaan
Berdasarkan hasil observasi bahwa para pegawai sejauh ini terlihat mampu mencapai target pada setiap pekerjaan yang harus diselesaikan, menurut pimpinan meraka juga mendapat apresiasi untuk hasil pekerjaannya selama ini karena dinilai selalu tuntas dalam mengerjakan setiap tugas yang sudah menjadi tanggung jawab mereka.
Berdasarkan hasil wawancara dari ketiga responden yang sama dengan pertanyaan sejauh ini apakah pekerjaan selalu mencapai target?
Jika tidak langkap apa yang anda lakukan untuk mengatasi masalah tersebut? Jawaban mereka adalah sebagai berikut:
Responden 1 Mbak Rini menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“Kalau untuk pekerjaan yang saya lakukan sendiri sejauh ini mencapai target, tapi kalau sebagai HR dan GA Supervisor itu kan penilaian bukan hanya pekerjaanku, pekerjaan anak buahku itu kan menjadi nilai juga untukku. Ketika mereka gagal otomatis nilaiku akan jelek, yang saya lakukan adalah bagaimana memantau pekerjaan harian agar mereka itu mencapai target.”
Responden 2 Bapak Agus Djoko menyampaikan jawaban sebagai berikut:
“Ya tidak selalu, yang tidak mencapai target juga ada.
Langkahnya yang jelas evaluasi, apa saja yang menyebabkan pekerjaan tidak mencapai target, biasanya hubungannya dengan aspek pendukung yang lain, misalnya SDM, peralatan, lingkungan.
Kemudian kita lakukan pendekatannya pada setiap masalah dari masing-masing faktor.”
Responden 3 Mbak Echa menyampaikan jawaban sebagai berikut:
“Sejauh ini untuk bagian administrasi aku selalu mencapai target.
Tapi ya itu tadi jadinya pulang malem.”
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara menunjukkan hasil kerja pegawai dalam mencapai target terlihat cukup baik karena sebagian besar selalu tuntas dalam setiap penyelesaikan pekerjaan. Apabila tidak mencapai target juga selalu dilakukan evaluasi untuk perbaikan kedepan.
3.10 Penggunaan Waktu Dalam Bekerja
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan tentang kesesuaian jam kerja para pegawai terlihat pada pegawai masuk kerja tepat waktu, bahkan ketika jam pulang kerja mereka tidak sesuai jam yang sudah ditentukan, selalu melebihi jam kerja demi menyelesaikan pekerjaan yang belum terselesaikan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan 3 responden dengan pertanyaan apakah anda bekerja sesuai dengan jam kerja? Mereka menjawab sebagai berikut:
Responden 1 Mbak Rini menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“Seringnya enggak, lewat dari jam kerja. Karena kalau kita nggak molor ya numpuk lagi hari berikutnya.”
Responden 2 Bapak Agus Djoko menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“Kalau saya sesuai, karena itu merupakan karakter seseorang, kalau saya memang dibentuknya untuk disiplin, jadi selalu saya berusaha untuk tertib, bahkan sering lemburnya.”
Responden 3 Mbak Echa menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“Kalau masuk aku memang rata-rata diatas jam 8, tapi aku pulangnya selalu lewat dari jam pulang kantor, karna aku lebih
konsentrasi juga kalo jam 5 gini, lebih enak kerja dibanding kalau kerja pagi, telepon bunyi suasana rame, jadi kurang kondusif.”
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dari ketiga responden menunjukkan bahwa mereka bekerja selalu sesuai jam kerja, bahkan melebihi jam kerja karena menyelesaikan pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawab para pegawai.
Selanjutnya peneliti melakukan observasi mengenai kemampuan pengawai dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, terlihat bahwa pegewai dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai target, namun tetap melibatkan orang lain, dibantu oleh karyawan outsourcing.
Berdasarkan hasil wawancara dengan tiga responden mendapatkan jawaban sebagai berikut:
Responden 1 Mbak Rini menjawab sebagai berikut:
“Sejauh ini bisa ya, tapi ya itu konsekuensinya harus membawa pulang pekerjaan, sabtu minggu yang harusnya off ya saya masuk, atau ternyata harus pulang lebih dari jam pulang kerja. Kalau nggak dilakukan begitu ya jadi nggak tercapai.”
Responden 2 Bapak Agus Djoko menjawab dengan jawaban sebagai berikut:
“Kadang iya kadang tidak, tergantung pekerjaannya, karena hubungannya kan banyak. Kalau planning selalu oke, tapi kalau ditengah perjalanan ada masalah ya sudah, terhambat disitu.”
Responden 3 Mbak Echa menjawab sebagai berikut:
“Bisa, pasti bisa karena jaminannya gaji, kalau aku nggak bisa nyelesein pekerjaan nggak gajian.”
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa sikap kedisiplinan dan tanggung jawab pegewai cukup tinggi, melihat hasil kerja dalam mencapai target sebagian besar tuntas dan mereka terlihat loyal terhadap pekerjaan dan perusahaan.
3.11 Kerjasama Dengan Orang Lain dalam Bekerja
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada kemampuan pegawai dalam bekerja dalam tim terlihat kuat, hampir semua pekerjaan saling berkaitan, sehingga dapat dikatakan bahwa para pegawai di PT Bawen Mediatama mampu bekerja dengan baik didalam team maupun secara individu.
Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga responden mengenai pertanyaan apakah anda merasa dapat bekerja dalam tim? Peneliti memperoleh jawaban sebagai berikut:
Responden 1 Mbak Rini menjawab sebagai berikut:
“Bisa ya, karena hampir semua pekerjaan kan dalam team ya.
Cuma pekerjaan-pekerjaan yang khusus HR aja tidak dikerjakan dalam team. Terutama saya memantau anak buah saya, kalau memang ada yang salah ya saya tegur, saya harus bersikap tegas meskipun disini saya lebih muda, tetapi tetap saya mengutamakan kesopanan apabila saya harus berhubungan dengan yang lebih tua.”
Responden 2 Bapak Agus Djoko menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“Pasti semua pekerjaan saya ini butuh kerja tim, yang nggak butuh tim itu paling cuma dibagian desain. Tapi kalau dipekerjaan saya yang harus tim.”
Responden 3 Mbak Echa menjawab pertanyaan sebagai berikut:
“Kalau aku sebagai sekretaris kan pekerjaannya individual ya, nggak bisa dalam tim, tapi aku anggap bagian yang ada kaitannya itu sebagai tim, misalnya keuangan, kita selalu komunikasi terus untuk pembuatan laporan.”
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara para pegawai dapat dikatakan mampu bekerja dalam tim dengan baik, semua pekerjaan saling berkaitan, dan memiliki sikap keterbukaan satu sama lain, saling membantu dalam menyelesaikan permasalahan, jadi dapat dikatakan bahwa kemampuan berkerja dalam timnya cukup bagus.