REPRESENTASI POLA KOMUNIKASI ORANGTUA DAN ANAK DALAM KELUARGA BATAK PADA FILM TOBA
DREAMS
(Analisis Semiotika terhadap Pola Komunikasi Orangtua dan Anak dalam Keluarga Batak pada Film Toba Dreams)
SKRIPSI
MUHAMMAD AJI NASUTION 130904018
JURNALISTIK
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
REPRESENTASI POLA KOMUNIKASI ORANGTUA DAN ANAK DALAM KELUARGA BATAK PADA FILM TOBA
DREAMS
(Analisis Semiotika terhadap Pola Komunikasi Orangtua dan Anak dalam Keluarga Batak pada Film Toba Dreams)
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
MUHAMMAD AJI NASUTION 130904018
JURNALISTIK
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Skripsi ini adalah hasil karya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya
bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Nama : Muhammad Aji Nasution
NIM : 130904018 Tanda Tangan :
Tanggal : 14 Juni 2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya persembahkan ke hadirat Ilahi Rabbi Allah Jalla Wa
‘Azza atas segala berkah dan rahmat-Nya, saya dapat merampungkan tugas akhir ini. Penulisan skripsi ini dilakukan guna memenuhi salah satu syarat untuk menggapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU). Saya menyadari sebagai ‘one body’s noperfect’ bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak semenjak masa perkuliahan sampai dengan penyusunan skripsi ini, tentu sangatlah sulit bagi saya untuk merampungkannya. Oleh karena itu, saya menghaturkan ribuan rasa terima kasih terutama kepada Bapak ‘Zulkarnain Nasution’ yang telah membanting tulang, memeras keringat demi pendidikan tinggi yang dapat ditempuh anaknya. Mamak ‘Nurhayati Siagian’ yang senantiasa mendoakan saya dan menguatkan hati saya bahwa saya mampu menjadi sarjana pertama di keluarga besar kita. Kakak saya; Julida Astuti Nasution, A.Md. yang telah membesarkan hati saya untuk tetap bersemangat dalam mengerjakan skripsi dan juga selalu menolong saya dalam urusan materil. Tak luput, juga saya haturkan rasa terimakasih saya kepada:
(1) Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si., selaku Dekan FISIP USU yang baru, namun telah berkiprah dengan sangat baik dalam membangun FISIP lebih tertib, baik dari segi kualitas maupun fasilitas.
Salut, Pak! Semoga kinerja Bapak berpengaruh terhadap efektifitas belajar kami di kampus tercinta kedepannya.
(2) Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si,Ph.D selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU, yang telah mengayomi kami mahasiswa/i dengan penuh rasa keibuan.
(3) Ibu Emilia Rahmadhani, S.Sos, MA selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU
(4) Ibu Yovita Sabarina Sitepu, S.Sos, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya. Tidak luput tenaga serta sumbangsih pemikiran beliau yang amat sangat berarti guna mengarahkan saya dalam penyusunan skripsi ini.
(5) Kak Maya, Bagian Administrasi Departemen Ilmu Komunikasi, yang telah mengarahkan saya dengan baik dalam hal pengurusan segala macam administrasi.
(6) Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku dosen pengasuh saya, yang telah menuntun saya untuk lebih baik dalam setiap semester perkuliahan yang saya lalui.
(7) Sahabat saya Khairullah yang selalu menjadi motivator dalam setiap aktivitas akademik saya di kampus, Ismail, Sahat, Robby, Ayyub, Abdul Rahman, Jonathan Terimakasih, thankyou, syukran, sahabatku atas segala dorongan semangatnya. Wa Jazaakallahukhoiron katsir.
Serta seluruh teman-teman di Komunikasi USU 2013, yang juga ikut mendukung pengerjaan skripsi ini baik secara moril mau materil.
Terimakasih, teman-teman!
Akhirul kalam, saya berharap Allah Subhanallahu Wa Ta’ala berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah berjasa membantu saya.
Semoga kiranya skripsi ini dapat membawa manfaat bagi pengembangan ilmu komunikasi, khususnya di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU. Amin....
Medan, 14 Juni 2017
Peneliti
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai civitas akademika Universitas Sumatera Utara, saya yang bertandatangan di bawah ini:
Nama : Muhammad Aji Nasution
NIM : 130904018
Departemen : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas : Universitas Sumatera Utara (USU)
Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non- exclusive Royalty – FreeRight) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
REPRESENTASI POLA KOMUNIKASI ORANGTUA DAN ANAK DALAM KELUARGA BATAK PADA FILM TOBA DREAMS
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di :Medan
Pada Tanggal : 14 Juni 2017 Yang Menyatakan,
Muhammad Aji Nasution
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Representasi Pola Komunikasi Orangtua dan Anak dalam Keluarga Batak pada Film Toba Dreams”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi pola komunikasi orangtua dan anak dalam keluarga Batak pada film Toba Dreams berdasarkan denotasi, konotasi dan mitos yang ada. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa teori relevan, yaitu: Komunikasi Massa, Semiotika, Semiotika Roland Barthes, Film Sebagai Komunikasi Massa, Sinematografi, Pola Komunikasi Keluarga, Unsur-unsur Kebudayaan serta Film sebagai Representasi Budaya. Penelitian ini menggunakan analisis semiotika dengan perangkat analisis semiologi Roland Barthes berupa signifikasi dua tahap (two order of signification); denotasi dan konotasi, yang kemudian terbagi dalam penanda, petanda, level denotasi dan konotasi. Untuk memudahkan proses analisis, peneliti membagi film Toba Dreams kedalam tujuh scene yang diambil dari sepuluh sequence.Hasil penelitian ini menemukan bahwa dalam film Toba Dreams, tokoh ayah dalam keluarga Batak Toba direpresentasikan sebagai komunikator dengan pola komunikasi monopoli. Representasi tersebut didukung oleh mitos yang telah hidup di tengah masyarakat yang memandang bahwa etnis Batak, merupakan etnis yang keras dalam aktivitas komunikasinya sehari-hari.
Sehingga bukan merupakan suatu hal yang tabu lagi, jika sosok ayah dalam keluarga batak direpresentasikan sebagai orang yang monopolistik dalam aktivitas komunikasinya.
Kata kunci:
Toba Dreams, Keluarga Batak, Pola Komunikasi, Semiotika Roland Barthes.
ABSTRACT
This study entitled "Representation of Parent and Child Communication Pattern in Batak Family on Toba Dreams Movie". This study aims to find out how the representation of communication patterns of parents and children in the Batak family on Toba Dreams film based on the denotation, connotation and myths that exist. In this study the researcher uses several relevant theories, namely: Mass Communication, Semiotics, Semiotics Roland Barthes, Film As Mass Communication, Cinematography, Family Communication Patterns, Cultural Elements and Film as Cultural Representations. This research uses semiotics analysis with Roland Barthes semiological analysis tools in the form of two order of signification; Denotation and connotation, which are then divided into markers, markers, denotation levels and connotations. To facilitate the analysis process, researchers divide the Toba Dreams movie into seven scenes taken from ten sequences. The results of this study found that in the movie Toba Dreams, the father figure in the Batak Toba family is represented as a communicator with monopoly communication pattern. The representation is supported by the myth that has lived in the community who see that Batak ethnic, is a hard ethnic in their daily communication activities. So it is not a strange thing anymore, if the father figure in the batak family is represented as a monopolistic person in his communication activities.
Keywords:
Toba Dreams, Batak Family, Communication Pattern, Semiotics Roland Barthes.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERNYATAAN ORIGINALITAS……….. ii
LEMBAR PERSETUJUAN... iii
LEMBAR PENGESAHAN... iv
KATA PENGANTAR... v
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH... vii
ABSTRAK... viii
DAFTAR ISI... x
DAFTAR TABEL... xiii
DAFTAR GAMBAR... xiv
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Konteks Masalah... 1
1.2. Fokus Masalah...6
1.3. Tujuan Penelitian...6
1.4. Manfaat Penelitian...7
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Paradigma Kajian... 8
2.2. Kajian Pustaka... 11
2.2.1. Komunikasi Massa...11
2.2.2. Film Sebagai Komunikasi Massa... 12
2.2.2.1.Pengertian Film... 12
2.2.2.2. Jenis-jenis Film………...14
2.2.2.3. Klasifikasi Film…...14
2.2.2.4. Unsur-unsur dalam Film………... 15
2.2.2.5. Struktur Film... 18
2.2.3. Sinematografi…... 18
2.2.4. Pola Komunikasi Keluarga... 20
2.2.5. Unsur-unsur Kebudayaan………... 23
2.2.6. Film Sebagai Representasi Budaya... 24
2.2.7. Semiotika dan Film………... 27
2.2.8. Semiotika Roland Barthes... 30
2.3. Model Teoretik... 35
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian... 36
3.2. Objek Penelitian... 36
3.3. Subjek Penelitian...37
3.4. Teknik Pengumpulan Data...37
3.5. Teknik Analisis Analisis Data...38
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian...41
4.1.1. Deskripsi Film Toba Dreams……….. 42
4.1.2. Struktur dalam Film Toba Dreams………. 45
4.2. Penyaajian dan Analisis Data... 52
4.2.1. Analisis Scene Pertama Film Toba Dreams... 54
4.2.2. Analisis Scene Kedua Film Toba Dreams……….. 59
4.2.3. Analisis Scene Ketiga Film Toba Dreams……….. 61
4.2.4. Analisis Scene Keempat Film Toba Dreams……….. 68
4.2.5. Analisis Scene Kelima Film Toba Dreams………. 73
4.2.6. Analisis Scene Keenam Film Toba Dreams………... 77
4.2.7. Analisis Scene Ketujuh Film Toba Dreams……… 82
4.3. Mitos dan Temuan Analisis Data……….. 87
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan... 91
5.2. Saran... 92
DAFTAR REFERENSI……….. 93 LAMPIRAN
- Biodata Peneliti
- Daftar Bimbingan Skripsi
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Teknik dalam Pengambilan Gambar 19
2.2 Tabel Proses Representasi 25
4.1 Pembagian Waktu Pengambilan Gambar 50
Film Toba Dreams
4.2 Teknik dalam Menyunting Gambar 53
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Peta Tanda Roland Barthes 32
2.2 Sistem Analisa Bertingkat Barthes 33
2.3 Model Teoretik 35
4.1 Poster Film Toba Dreams 42
4.2 Analisis Scene Pertama 54
4.3 Analisis Scene Kedua
51
4.4 Analisis Scene Ketiga
61
4.5 Analisis Scene Keempat 68
4.6 Analisis Scene Kelima 73
4.7 Analisis Scene keenam 77
4.8 Analisis Scene ketujuh 82
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Konteks Masalah
“Kasih sayang bapakmu ini, sama besarnya kepada kalian bertiga. Cuma bedanya Ronggur, kau adalah anak tertua di keluarga ini. Jadi Bapakmu ini, berkewajiban mendidikmu. Bapak beri kau pendidikan yang keras, supaya kau bisa mengangkat harkat dan martabat keluarga kita” (dalam Film Toba Dreams, 2015).
Kutipan di atas merupakan potongan dialog dalam film Toba Dreams.
Film ini mengisahkan kehidupan seorang pensiunan tentara bernama Sersan Tebe yang mempunyai tiga orang anak yakni Ronggur, Sumurung dan Taruli. Ia tinggal bersama anak dan istrinya disebuah rumah dinas TNI di Jakarta. Namun dikarenakan masa bakti Sersan Tebe telah selesai, maka berakhirlah hak kepemilikan rumah tersebut. Sersan Tebe memutuskan untuk pindah ke kampung halaman orangtuanya di Tobasa.
Keadaan tersebut sangat berat diterima keluarganya. Namun mereka tidak berani berterus terang menolak keputusan bapaknya itu, kecuali Ronggur. Ia sangat menentang keras keputusan tersebut. Menurutnya pengabdian bapaknya selama puluhan tahun menjadi prajurit, tidak sebanding dengan balasan yang diterimakeluarganya, malah mereka harus terusir dari rumah yang ditempati.
Ronggur merupakan anak sulung dari Sersan Tebe yang paling keras wataknya dibanding Sumurung dan Taruli. Dia selalu bertindak sesuka hati tanpa pernah patuh kepada Orangtua. Kuliah Droup Out, pergaulan bambungan dan suka berkelahi. Namun menurutnya perilakunya tersebut adalah buah dari pendidikan yang diberikan oleh bapaknya.
Ronggur memang jarang merasakan kehadiran bapaknya di tengah-tengah kehidupan mereka. Selama bertahun-tahun, Sersan Tebe selalu sibuk dengan tugasnya sebagai prajurit dan hanya sesekali pulang. Akibatnya Ronggur kurang mendapat sentuhan kasih sayang seorang bapak. Bahkan di hari kelahirannya pun, bapaknya tidak hadir. Padahal Ronggur sangat merindukan sosok bapak yang dapat membimbingnya menjadi anak yang membanggakan. Hal ini terlihat dari uangkapan perasaannya di akhir film “Laki-laki hebat bukan mereka yang
sanggup melewati ribuan pertempuran Pak. Lelaki yang hebat itu, lelaki yang selalu ada untuk keluarganya.”
Sikap keras Sersan Tebe tersebutsebenarnya bukanlah tanpa alasan. Beliau melakukanitu semua demi mendidik Ronggur agar menjadi lebih dewasa daripada kedua adiknya. Namunsayang, hasilnya masih jauh panggang dari api. Bukannya malah mengangkat harkat dan martabat keluarga, tapi justru menghancurkannya.
Ronggur melarikan diri dari kampung dan kembali ke Jakarta hingga terjebak dalam pekerjaannya sebagai bagian dari mafia narkoba.
Film inimenyajikan suatu representasi dari realitassebuah keluarga dalam mendidik anak.Menurut Friedman dan Suparjitno (dalam Solaeman, 1994: 5-10) keluarga merupakan kumpulan dua orang atau lebih yang saling hidup bersama dengan ketertarikan aturan emosional dan memiliki peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga.
Komunikasi dalam keluarga dapat berlangsung secara timbal balik dan silih berganti, bisa dari orangtua ke anak atau sebaliknya. Pola komunikasi yang dibangun akan mempengaruhi pola asuh orangtua. Sebab kegiatan pengasuhan anak akan berhasil dengan baik jika pola komunikasi yang tercipta dihiasi dengan cinta dan kasih sayang dengan memposisikan anak sebagai subyek yang harus dibina, dibimbing, dididik dan bukan sebagai objek semata. Oleh karena itu, kehidupan keluarga yang harmonis perlu dibangun di atas dasar sistem interaksi yang kondusif sehingga pendidikan dapat berlangsung dengan baik dan terciptanya hubungan akrab dalam keluarga.
Hubungan yang baik antara orangtua dan anak tidak hanya diukur dengan pemenuhan kebutuhan materil saja, tetapi kebutuhan mental spiritual merupakan ukuran keberhasilan dalam menciptakan hubungan tersebut. Kasih sayang yang diberikan orangtua terhadap anaknya adalah faktor yang sangat penting dalam keluarga. Tidak terpenuhinya kebutuhan kasih sayang dan seringnya orangtua tidak berada di rumah menyebabkan hubungan dengan anak menjadi kurang intim.
Orangtua sebagai pemimpin adalah faktor penentu dalam menciptakan keakraban dala hubungan keluarga. Tipe kepemimpinan yang diberlakukan dalam keluarga akan memberikan suasan tertentu dengan segala dinamikanya. Interaksi
yang berlangsung pun bermaacam-macam bentuknya. Oleh karena itu, karakteristik seorang pemimpin akan menentukan pola komunikasi yang berlangsung dalam kehidupan keluarga. Kehidupan keluarga yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang otoriter akan melahirkan suasana yang berbeda dengan kehidupan keluarga yang dipimpin oleh seorang pemimpin demokratis (laissez faire). Perbedaan ini disebabkan karena adanya perbedaan karakteristik yang dimiliki oleh kedua tipe kepemimpinan tersebut (Djamarah, 2004: 5).
Pada sisi lain, film ini menampilkan unsur-unsur kebudayaan Batak yang kerap menghiasi beberapa adegan dalam film. Seperti upacara pernikahan, kematian,penggunaan rumah adat Batak sebagai tempat tinggal, backsoundlagu berbahasa Batak, sertagambaran kehidupan sosial masyarakat daerah Tobasa.
Penampilan unsur-unsur kebudayaan tersebut tentumenimbulkan banyak tafsiran yang sarat makna.
Saat memahami teks media, seringkali kita dihadapkan pada tanda-tanda semacam ini, yang perlu diinterpretasikan dan dikajiada apa di balik tanda-tanda itu. Tandaitu merupakan cerminan dari realitas, yang dikonstruksikan lewat kata- kata.Menurut Saussure (dalam Wibowo, 2013: 9), persepsi dan pandangan kita tentang realitas, dikonstruksikan oleh kata-kata dan tanda-tanda lain yang digunakan dalam konteks sosial.
Kebudayaan sendiri merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 2015: 144).Kebudayaan terdiri atas gagasan- gagasan, simbol-simbol, dan nilai-nilai sebagai hasil karya dari tindakan manusia, sehingga tidaklah berlebihan jika ada ungkapan:
“Begitu eratnya kebudayaan manusia dengan simbol-simbol, sampai manusia pun disebut makhluk dengan simbol-simbol. Manusia berpikir, berperasaan, dan bersikap dengan ungkapan-ungkapan yang simbolis”
(Sobur, 2004: 177).
Pengetahuan kebudayaan lebih dari suatu kumpulan simbol, baik istilah- istilah rakyat maupun jenis-jenis simbol lain. Semua simbol, baik kata-kata yang terucapkan, sebuah objek seperti bendera, suatu gerak tubuh seperti melambaikan tangan, sebuah tempat seperti mesjid atau gereja, atau suatu peristiwa seperti
perkawinan, merupakan bagian-bagian suatu sistem simbol. Simbol adalah objek atau peristiwa apa pun yang dapat kita rasakan atau kita alami. Di sisi lain simbol meupakan acuan wawasan, memberi “petunjuk” bagaimana warga budaya tertentu menjalani hidup, media sekaligus pesan komunikasi dan representasi realitas sosial (Sobur, 2004: 177-178).
Representasi merupakanproses merekam ide, pengetahuan, atau pesan dalam beberapa cara fisik (Danesidalam Wibowo, 2013: 148), Menurut David Croteau dan William Hoynes(dalam Wibowo, 2013: 149), representasi merupakan hasil dari suatu proses penyeleksian yang menggarisbawahi hal-hal tertentu dan hal lain diabaikan. Dalam representasi media, tanda yang akan digunakan untuk melakukan representasi tentang sesuatu mengalami proses seleksi. Mana yang sesuai dengan kepentingan-kepentingan dan pencapaian tujuan-tujuan komunikasi ideologisnya itu yang digunakan sementara tanda-tanda lain diabaikan.
Menurut Stuart Hall (dalam Wibowo, 2013: 148), ada dua proses representasi. Pertama, representasi mental, yaitu konsep tentang ‘sesuatu’
yang ada di kepala kita masing-masing (peta konseptual), representasi mental masih merupakan sesuatu yang abstrak. Kedua, ‘bahasa’, yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep abstrak yang ada dalam kepala kita harus diterjemahkan dalam ‘bahasa’ yang lazim, supaya kita dapat menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dari simbol-simbol tertentu. Media sebagai suatu teks, banyak menebarkan bentuk-bentuk representasi pada isinya. Isi media bukan hanya berita tetapi juga film dan hal-hal lain di luar pemberitaan.
Intinya bahwa sama dengan berita, film juga merepresentasikan orang, kelompok atau gagasan tertentu.
Film merupakan salah satu media atau saluran dari komunikasi massa dalam peyampaian pesan, baik itu pesan verbal atau non verbal. Hal ini dikarenakan film dibuat dengan tujuan tertentu, kemudian hasilnya diproyeksikan ke layar lebar atau ditayangkan melalui televisi dan dapat ditonton oleh sejumlah khalayak (Ardianto & Komala, 2004: 128-130).
Menurut Grame Turner (dalam Sobur, 2004: 128), film sebagai representasi dari realitas yakni film membentuk dan “menghadirkan kembali”
realitas berdasarkan kode-kode, konvensi-konvensi, dan ideologi dari kebudayaannya. Dalam sebuah film, pesan-pesan komunikasi terwujud lewat rangkuman cerita berdasarkan jenis film tersebut. Sehingga seorang sutradara mampu mengemasnya sesuai dengan tendensi (fungsi) masing-masing film
tersebut, seperti fungsi hiburan, fungsi informatif, fungsi edukasi maupun fungsi persuasif pada penontonnya.
Film juga merupakan suatu bentuk komunikasi massa yang dikelola menjadi suatu komoditi. Di dalamnya ada produser, sutradara, pemain dan seperangkat kesenian lain yang mendukung, seperti seni musik, seni rupa, seni teater, seni suara dan lainnya. Semua unsur tersebut terkumpul menjadi komunikator dan bertindak sebagai agen transformasi budaya (Baksin, 2002: 129).
Berdasarkan sifatnya film terbagi ke dalam empat jenis, yakni film cerita (story film), film berita (newsreel), film dokumenter (documentary film), dan film kartun (cartoon film) (Ardianto & Komala, 2004: 138).Adapun jenis film yang digunakan pada penelitian ini adalah film cerita, yaitu film yang sudah dituliskan dalam bentuk naskah (script), kemudian diperankan oleh bintang film yang sudah familiar di telinga penontonnya. Film Toba Dreams menyajikan cerita yang mengandung berbagai unsur yang dapat menyentuh perasaan manusia.
Film ini lazimnya dipertunjukkan di gedung pertunjukan atau gedung bioskop (cinema) dan didistribusikan sebagai barang dagangan yang diperuntukkan bagi semua publikdimanapun mereka berada. Maka tidak salah bila para produser saling berlomba-lomba memproduseri film cerita dengan sebaik- baiknya demi memuaskan kebutuhan khalayak akan film yang berkualitas.
Jika dicermati dari sisi makna, film Toba Dreams ini menarik untuk dianalisis. Karena di dalamnya banyak mengandung makna pesan berbentuk simbol-simbol atau tanda yang ditampilkan oleh sutradara. Ada beberapa adegan di dalam film yang mengandung tanda dan perlu ditelaah lebih dalam lagi. Tanda- tanda itu digabungkan untuk mencapai efek yang diinginkan. Karena film merupakan produk visual dan audio, maka tanda-tanda ini berupa gambar dan suara. Tanda-tanda tersebut merupakan gambaran tentang suatu pesan yang ingin disampaikan sutradara. Namun, untuk mengetahui semua makna dibalik gambaran tersebut, maka harus diteliti melalui pendekatan semiotika. Karena tanda tidak pernah benar-benar mengatakan suatu kebenaran secara keseluruhan (Danesi, 2010: 21).
Film merupakan bidang kajian yang amat relevan bagi analisis struktural atau semiotika. Seperti dikemukakan oleh V an Zoest (dalam Sobur, 2004:
128), film dibangun dengan tanda-tanda semata. Pada umumnya film memang dibangun dengan banyak tanda. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik dalam upaya mencapai efek yang diharapkan. Yang paling penting dalam film adalah gambar dan suara: kata yang diucapkan (ditambah dengan suara-suara lain yang serentak mengiringi gambar-gambar) dan musik film. Sistem semiotika yang lebih penting lagi dalam film adalah digunakannya tanda- tanda ikonis yakni tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu.
Sebetulnya, tanda-tanda film itu melakukan sesuatu yang tidak jauh berbeda dengan roman atau novel. Film Toba Dreamsini menyajikan suatu teks fiksional dengan memunculkan dunia (fiktif global) yang mungkin ada.
Permasalahan mengenai ketegangan antara fiksi dan nonfiksi yang muncul dalam sastra pada dasarnya juga muncul dalam film. Karena itu, hal serupa juga berlaku bagi hampir semua film yang menuturkan cerita. Jika kita hendak menganalisis penyusunan struktur dan aktivitas semiotika film ini, menurut Van Zoest (dalam Sobur, 2004: 129) konsep-konsepnya dapat kita pinjam dari teori bercerita dan berkisah yang berorientasikan semiotika.
Berdasarkan konteks masalah yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti bagaimanarepresentasi pola komunikasiorangtua dan anak dalam keluarga Batak pada film Toba Dreams, dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes.
1.2.Fokus Masalah
Berdasarkan uraian konteks masalah di atas, maka fokus masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut: “Bagaimanarepresentasi pola komunikasi orangtua dan anak dalam keluarga Batak dalam film Toba Dreams?”.
1.3.Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus dan pembahasan masalah di atas, maka diketahuilah tujuan-tujuan dari penelitian yang dilakukan, yaitu:
1. Untuk mengetahui makna denotasipola komunikasi orangtua dan anak dalam keluarga Batak yang direpresentasikan dalam film Toba Dreams.
2. Untuk mengetahui makna konotasi pola komunikasi orangtua dan anak dalam keluarga Batak yang direpresentasikan dalam film Toba Dreams.
3. Untuk mengetahui mitos pola komunikasi orangtua dan anak dalam keluarga Batak yang direpresentasikan dalam film Toba Dreams.
1.4.Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi perkembangan Ilmu Komunikasi terutama pada kajian semiotika yang mencoba mengkaji pola asuh Orangtua dalam keluarga Batak pada film Toba Dreams.
2. Secara praktis,penelitian ini diharapkan mampu memberikan deskripsi dalam membaca makna yang terkandung dalam sebuah film melalui semiotika, serta dapat menambah wawasan bahasa atau istilah yang digunakan dalam film. Disamping itu, penelitian ini juga diharapkan dapat lebih menerima dan memahami pola asuh Orangtua dalam keluarga Batak yang disajikan melalui film Toba Dreams, sehingga pesan dalam film tidak hanya ditangkap dari muatan pesan yang tampak (manifest content), tetapi juga muatan pesan yang tersembunyi (latent content).
3. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wacana studi mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU dalam menelaah konstruksi realitas sosial atau representasi fenomena politik atau sosial yang coba dimunculkan oleh media film, melalui pendekatan semiotika.
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Paradigma Kajian
Paradigma atau dalam bidang keilmuwan sering disebut sebagai perspektif (perspective), terkadang disebut mazhab pemikiran (school of though) atau teori.
Paradigma secara sederhana dapat diartikan sebagai kacamata atau cara pandang untuk memahami dunia nyata. Patton mengatakan (dalam Mulyana, 2004: 9) bahwa paradigma adalah:
“A paradigm is a world view, a general perspective, a way of breaking down the complexity of the real world. As such, paradigms are deeply embedded in the socialization of adherents and practitioners: paradigms tell them what is important, lagitimate and reasonable. Paradigms are also normative, telling the practitioner what to do without the necessity of long existential orepistimological consideration. But it isaspect of paradigms the constitutes bith their strength in that it makes action possible, their weakness in that the very reason foraction is hidden in the unquestioned assumptions of paradigm”.
Seperti yang dipaparkan di atas, bahwa paradigma adalah suatu pandangan dunia, suatu perspektif yang umum, suatu cara mematahkan kompleksitas dalam dunia nyata. Dengan demikian, paradigma sangat tertanam dalam sosialisasi pengikut dan praktisi: paradigma memberitahu mereka apa yang penting, sah dan masuk akal. Paradigma juga normatif, memberitahu praktisi apa yang harus dilakukan tanpa perlu pertimbangan eksistensial atau epistemologis yang panjang.
Tapi itu adalah aspek paradigma yang merupakan kedua kekuatan dalam membuat tindakan yang mungkin, kelemahan mereka bahwa alasan untuk tindakan tersembunyi dalam asumsi diragukan paradigma.
Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori. Paradigma penelitian merupakan perspektif penelitian yang digunakan oleh peneliti tentang bagaimana peneliti (Pujileksono, 2015: 26):
a. Melihat realita (world views) b. Bagaimana mempelajari fenomena
c. Cara-cara yang digunakan dalam penelitian
d. Cara-cara yang digunakan dalam menginterpretasikan temuan.
Paradigma itu sendiri bermacam-macam. Guba dan Lincoln (dalam Erlina, 2011: 14)menyebutkan ada empat macam paradigma yaitu, positivisme, post positivisme, konstruktivisme, dan kritis. Sedangkan Cresswel dalam buku yang sama membedakan dua macam paradigma, yaitu kuantitatif dan kualitatif.
Paradigma kuantitatif menekankan pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melaukukan analisis data dengan prosedur statistik. Paradigma kualitatif merupakan paradigma penelitian yang menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas yang holistis, kompleks dan rinci. Paradigma kualitatif disebut juga dengan pendekatan konstruktivis, naturalistik atau interperatif, atau perspektif post modern.
Teori konstruktivisme adalah pendektan secara teoritis untuk komunikasi yang dikembangkan tahun 1970-an oleh Jesse Delia dan rekan-rekannya (dalam Morissan, 2009: 107). Teori konstruktivisme meyatakan bahwa individu melakukan interpretasi dan bertindak menurut kategori konseptual yang ada dalam pikirannya. Dalam teori ini, realitas tidak menunjukkandirinya dalam bentuknya yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalui bagaimana cara seseorang meilhat. Paradigma konstruktivisme ialah paradigma di mana kebenaran suatu realitas sosial dilihat sebagai konstrruksi sosial, dan kebenaran suatu realitas sosial bersifat relatif.
Menurut paradigma konstruktivisme, realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang.
Konstruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek komunikasi. Bahasa tidak lagi dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan, tetapi konstruktivisme menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosialnya. Subjek mampu melakukan kontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacana (Ardianto & Q-Anees, 2007: 151).
Weber (dalam Wibowo, 2011: 27) menerangkan bahwa substansi bentuk masyarakat tidak hanya dilihat dari penilaian objektif saja, melainkan dilihat dari tindakan perorangan yang timbul dari alasan-alasan subjektif. Dalam proses sosial, individu manusia dipandang sebagai pencipta realitas sosial yang relatif bebas di dalam dunia sosialnya. Realitas sosial itu memiliki makna manakala realitas sosial tersebut dikonstruksikan dan dimaknakan secara subjektif oleh individu lain, sehingga memantapkan realitas itu secara objektif. Littlejohn mengatakan (dalam Wibowo, 2013:36) bahwa paradigma konstruktivis berlandaskan pada ide bahwa realitas bukanlah bentukan yang objektif, tetapi dikonstruksikan melalui interaksi dalam kelompok, masyarakat, dan budaya.
Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis. Di dalam penelitian semiotika, banyak peneliti yang menggunakan paradigma konstruktivis, walaupun terdapat beberapa orang yang juga menggunakan paradigma kritis. Paradigma kritis dianggap lebih relevan bila digunakan untuk melihat realitas signifikasi objek yang diteliti. Melalui paradigma konstruktivis, dapat dijelaskan 4 dimensi seperti yang tertulis (Wibowo, 2011: 28):
1. Ontologis: relativism, relativitas merupakan konstruksi sosial.
Kebenaran suatu realitas bersifat relatif, berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial.
2. Epistemologis, transactionalist/subjectivist, pemahaman tentang suatu realitas atau temuan suatu penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti.
3. Axiologis: Nilai, etika dan pilihan moral merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu penelitian. Peneliti sebagai passionate participant, fasilitator yang menjembatani keragaman subjektivitas pelaku sosial. Tujuan penelitian lebih kepada rekonstruksi realitas secara dialektis antara peneliti dengan pelaku sosial yang diteliti.
4. Metodologis: menekankan empati dan interaksi dialektis antara peneliti dengan responden untuk merekonstruksi realitas yang diteliti, malalui metode-metode kualitatif seperti participant observation.
Kriteria kualitas penelitian authenticity dan relectivity: sejauh mana temuan merupakan refleksi otentik dari realitas yang dihayati oleh para pelaku sosial.
2.2. Kajian Pustaka
Teori yang mendukung diperlukan dalam setiap penelian. Seorang peneliti harus terlebih dahulu menyusun teori yang bersangkutan dengan topik penelitian sebagai landasan berpikir untuk menggambarkan dari sudut pandang mana penelitian tersebut dilihat. Teori adalah suatu set dari hubungan antara konstruk, konsep, definisi/batasan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan sistematis tentang fenomena dengan merinci hubungan-hubungan antar variabel, dengan tujuan menjelaskan dan memprediksi fenomena tersebut (Pujileksono, 2015: 11). Teori dapat membantu memfokuskan perhatian dan peneliti akan mampu memahami fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya. Dalam hal ini, peneliti menggunakan beberapa teori yang relevan dengan topik yang menjadi permasalahan yang akan diteliti.
2.2.1.Komunikasi Massa
Media massa secara sederhana adalah kegiatan komunikasi yang menggunakan media (comunicating with media). Definisi komunikasi massa pada intinya merupakan penjelasan tentang pengertian massa serta tentang media yang digunakannya. Komunikasi massa ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Hal ini tidak berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang menonton, tetapi ini berarti khalayak itu besar dan pada umumnya sukar untuk didefinisikan (Ardianto & Komala, 2004: 6)
Definisi komunikasi massa yang lebih rinci dikemukakan oleh ahli komunikasi yang lain, yaitu Gerbner. Gerbner mengatakan (dalam Ardianto &
Komala, 2005: 3 – 4) bahwa:
“Mass commuinication is the technologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continuous flow of the message in industrial societies.“ (Komunikasi massa merupakan produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang berkelanjutan secara luas yang dimiliki oleh masyarakat industri).
Adapun fungsi komunikasi massa secara khusus menurut DeVito(dalam Ardianto & Komala, 2004: 23), yakni untuk meyakinkan khalayak,
menganugerahkan status sehingga prestise meningkat, membius, menciptakan rasa kebersatuan, privatisasi (kecenderungan penarikan diri) serta hubungan parasosial.
2.2.2.Film Sebagai Komunikasi Massa 2.2.2.1.Pengertian Film
Gambar bergerak (film) adalah bentuk dominan dari komunikasimassa visual. Lebih dari ratusan juta orang menonton film di bioskop, film televisi dan film video laser setiap minggunya (Ardianto & Komala, 2004: 134). Selain itu, dalam Peraturan Pemerintah Indonesia Nomor 7 Tahun 1994 Pasal 1 ayat 2 terdapat definisi film, di mana film merupakan karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan azas sinematografi.
Film direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara yang ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik, atau lainnya. Film sebagai salah satu media komunikasi massa memuat potret dari masyarakat di mana film itu dibuat. Film merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, yang kemudian diproyeksikan ke atas layar (Sobur, 2003: 127).
Film juga sebagai salah satu bentuk komunikasi massa yangdigunakan untuk menyampaikan pesan dari cerita yang ditayangkan. Unsur intrinsik dan ekstrinsik dari filmlah yang mampu menarik perhatian khalayak untuk menonton film tersebut.
Seperti halnya televisi siaran, tujuan khalayak menonton film terutama adalah untuk memperoleh hiburan. Akan tetapi dalam film dapat pula terkandung fungsi informatif maupun edukatif, bahkan persuasif. Hal ini pun sejalan dengan misi perfilman nasional sejak tahun 1979, bahwa selain sebagai media hiburan, film nasional digunakan sebagai media edukasi untuk pembinaan generasi muda dalam rangka nation and character building (Ardianto & Komala, 2004: 136).
Berbagai fungsi film termasuk fungsi edukatif dapat tercipta apabila film nasional memproduksi film-film sejarah yang objektif, atau film dokumenter dan film yang diangkat dari kehidupan sehari-hari secara berimbang. Berdasarkan
pengertian dan fungsi dari film, maka sejumlah faktor yang dapat menunjukkan karakteristik film, yaitu:
a. Layar yang luas atau lebar
Layar semacam ini memberikan keleluasaan bagi penonton untuk melihat adegan-adegan dalam film. Bahkan dengan kemajuan teknologi saat ini film disajikan dalam bentuk tiga dimensi, sehingga penonton seolah-olah melihat kejadian nyata (real) dan menimbulkan kesan yang tidak berjarak.
b. Pengambilan gambar
Shot dalam film bioskop memungkinkan pengambilan jarak jauh atau extreme long shot dan paranomic shot, yakni pengambilan pemandangan menyeluruh. Sehingga terkesan artistik dalam suasana yang sesungguhnya dan menjadikan film semakin menarik.
c. Konsentrasi penuh
Penciptaan suasana mulai dari ditutupnya pintu-pintu hingga lampu yang dimatikan menimbulkan kesan bahwa penonton terbebas dari hiruk pikuk suara di luar (biasanya kedap suara) dan pada akhirnya penonton dapat berkonsentrasi penuh saat menonton film.
d.Identifikasi psikologis
Suasana di bioskop membuat pikiran dan perasaan khalayak larut dalam cerita yang disajikan. Dengan penghayatan yang amat mendalam, secara tidak sadar seseorang mengidentifikasikan diri sebagai salah satu pemeran dalam film tersebut (Ardianto & Komala, 2004: 136).
Faktor di atas menunjukkan semakin pesatnya perkembangan teknologi saat ini. Dalam arti banyak kemudahan yang diberikan teknologi digital saat ini, yang dapat mengembangkan pengetahuan manusia mengenai film. Namun hal tersebut kembali kepada tiap-tiap individu, penayangan film yang dibuat semenarik mungkin setidaknya dapat menambah ketertarikan juga pada penontonnya untuk dapat benar-benar menikmati film. Pada dasarnyatujuan seseorang ke bioskop bukan untuk menonton gambar, karena sebenarnya yang akan dibawa pulang adalah penggalan cerita dari film tersebut, bagus atau tidaknya serta kesinambungan dari cerita di dalamnya.
2.2.2.2.Jenis-jenis Film
Sebagai seorang komunikator, penting untuk mengetahui jenis-jenis film agar dapat memanfaatkan film tersebut sesuai dengan karakteristiknya (Ardianto
& Komala, 2004: 136).Adapun pengelompokan film menurut Effendy (2003: 212- 215) antara lain:
a. Film Cerita, merupakan jenis film yang biasanya ditayangkan di gedung- gedung bioskop lewat kemampuan akting para bintang di dalamnya guna menarik perhatian khalayak. Film ini mengandung unsur-unsur yang dapat menyentuh rasa manusia. Kisah-kisah di dalamnya dikutip melalui kitab injil, kisah sejarah hingga kisah nyata dari kehidupan sehari-hari yang kemudian diolah menjadi sebuah film.
b. Film Berita, merupakan film yang berisikan fakta, di mana peristiwa yang ada di dalamnya benar-benar terjadi (nyata). Dalam film sejenis ini terdapat nilai berita yang penting dan menarik bagi khalayak.
c. Film Dokumenter, merupakan karya yang berisikan kehidupan nyata. Film ini biasanya dibuat tanpa adanya editan. Kalau pun ada, editan digunakan semata-mata hanya untuk menjadikan tampilan gambar menjadi lebih menarik.
2.2.2.3. Klasifikasi Film
Berdasarkan genre (jenis/ragam), film diawali dari genre drama pada abad XVIII. Klasifikasi tersebut muncul atas berbagai jenis stereotip dan tanggapan manusia terhadap hidup dan kehidupan.Seiring perkembangan zaman, genre film pun mengalami perubahan, tanpa menghilangkan keaslian dari awal pembentukannya. Pengklasifikasian film menurut Pratista (2008: 1) antara lain:
1. Film Drama
Film drama adalah film yang sebagian besarnya bercerita mengenai kehidupan. Film ini bertujuan untuk membawa penonton pada alur ceritanya sehingga penonton mampu merasakan apa yang dirasakan tokoh dalam cerita. Contoh: Hachiko
2. Film Animasi (Animation)
Film animasi merupakan hasil dari pengolahan gambar tangan sehingga menjadi gambar yang bergerak. Untuk memberikan suara pada film ini menggunakan pengisi suara seolah-olah menjadi tokoh utama dan ikut dalam cerita. Contoh: Wall – E
3. Film Horor (Horror)
Film horor merupakan film yang berusaha memancing emosi berupa ketakutan dan rasa ngeri pada penontonnya. Alur cerita yang disajikan biasanya melibatkan tema-tema seperti kematian, supranatural, atau penyakit mental. Contoh: The Ring
4. Film fiksi ilmiah (Sciene Fiction)
Film fiksi ilmiah adalah film imajinasi yang didasari oleh alasan dan penjelasan ilmiah. Jenis film ini agak sukar dipahami karena lebih banyak berisi penjelasan ilmiah. Contoh: Avatar
5. Film musikal (Musical)
Film musikal merupakan film yang pada alur ceritanya disertai lagu maupun tarian dari tokoh-tokohnya. Musik yang ditampilkan sesuai dengan alur ceritanya. Contoh: High School Musical
6. Film petualangan (Adventure)
Film petualangan merupakan film yang menyajikan pengalaman yang menegangkan di dalamnya. Jenis film ini memiliki kemiripan dengan film aksi. Berbeda dengan film aksi yang didominasi oleh unsur kekerasan, film ini lebih menampilkan petualangan melalui perjalanan maupun perjuangan. Contoh: Jurassic Park
7. Film aksi/ laga (Action)
Film aksi ini bertujuan menciptakan ketegangan pada penontonnya, sperti pada jenis film petualangan. Pada dasarnya film ini lebih menekankan pada aksi kekerasan fisik, tembak-menembak, maupun kejar-kejaran mobil. Terkadang jenis film ini terkait dengan unsur spionase. Contoh:
Spiderman
8. Film komedi (Comedy)
Film komedi ditujukan untuk menghibur penontonnya dengan aksi komedi yang mampu mengundang tawa. Film komedi banyak digemari penonton karena ceritanya yang ringan dan mudah dimengerti. Contoh: Mr Beans Holiday
9. Film fantasi (Fantasy)
Film fanstasi merupakan film yang umumnya menggunakan sihir dan kekuatan supranatural dalam ceritanya. Film jenis ini tidak didasari pemikiran ilmiah sehingga ceritanya murni tercipta dari imajinasi sang pembuatnya. Contoh: Harry Potter.
2.2.2.4. Unsur-unsur dalam Film
Menurut Pratista (2008: 2), film secara umum dapat dibagi atas dua unsur pembentuk, yakni unsur naratif dan unsur sinematik. Dua unsur tersebut saling berinteraksi dan berkesinambungan satu sama lain:
1. Unsur Naratif
Unsur naratif berhubungan dengan aspek cerita atau tema film. Dalam hal ini unsur-unsur seperti tokoh, masalah, konflik lokasi dan waktu.
a. Tokoh
Dalam film cerita, terdapat dua tokoh penting, yaitu utama dan pendukung.
Tokoh utama sering diistilahkan dengan tokoh protagonis, sedangkan tokoh pendukung biasa disebut dengan tokoh antagonis yang biasanya bertindak sebagai pemicu konflik.
b. Masalah dan Konflik
Masalah di dalam film dapat diartikan sebagai penghalang yang dihadapi tokoh protagonisdalam meraih tujuannya. Permasalahan ini yang kemudian memicu konflik (konfrontasi) fisik atau batin dari luar diri tokoh protagonis ataupun dari dalam diri tokoh protagonis(konflik batin) Lokasi.
Tempat/lokasi di dalam film biasanya berfungsi sebagai pendukung narasi di dalam skenario. Pemilihan lokasi dapat membangun cerita, sehingga cerita dapat menjadi lebih nyata.
2. Waktu
Waktu merupakan salah satu aspek penting dalam membangun cerita. Pagi, siang, sore dan malam dalam film memiliki makna sendiri sebagai pembangun suasana narasi film.
Pada kajian sastra, kajian narasi atau cerita di dalam suatu karya disebut juga dengan kajian naratologi. Teori naratif cenderung erat kaitannya dengan naratologi, yakni proses menyampaikan suatu cerita. Naratif juga berasal dari kata narasi yaitu suatu cerita tentang peristiwa atau kejadian dengan adanya paragraf narasi yang disusun dengan merangkaikan peristiwa-peristiwa yang berurutan atau secara kronologis.
Naratologi berasal dari kata narration dan logos (bahasa Latin). Narration berarti ‘cerita’‘perkataan’‘kisah’‘hikayat’dan logos berarti ilmu. Naratologi disebut juga teori wacana (teks) naratif. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan.
Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan, maka hanya penceritaanyang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. MiekeBal (dalam Hudayat, 2007: 72) menyebutkan, bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa, tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. Setiap orang misalnya, akrab dengan cerita Jaka Tarub, tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama. Sebab tekstidak diceritakan dalam bahasa, melainkan melalui bahasa; diceritakan oleh narator, bukan pengarang.
Dari beberapa penjelasan di atas, narasi adalah gambaran cerita dalam peristiwa yang dirangkai secara kronologis, dengan tujuan mengajak pembaca seolah-olah mengalami sendiri peristiwa yang diceritakan.
3. Unsur Sinematik
Sinematik atau language of film berguna untuk menganalisis tekstual dari beberapa rangkaian film, video, atau televisi. Bordwell dan Thompson (dalam Pratista, 2008: 1-2) membagibahasa film menjadi empat elemen, yaitu mise- en-scene, cinematography, editing dan sound. Semua rangkaian ini saling membantu satu sama lainnya. Adapun penjelasan keempat elemen tersebut adalah sebagai berikut:
a. Mise en scene: Segala hal yang berada di depan kamera. Empat elemen pokok Mise en Scene, yaitusetting atau latar, tata cahaya, kostum dan make- up, serta akting dan pergerakan pemain.
b. Cinematography: Perlakuan terhadap kamera dan filmnya serta hubungan kamera dengan obyek yang diambil.
c. Editing: Transisi sebuah gambar (shot) ke gambar (shot) lainnya.
d. Sound: Segala hal dalam film yang mampu kita tangkap melalui indera pendengaran.
Penjelasan film inibermanfaat sekali bagi peneliti dalam menganalisis gaya sinematika film. Untuk beberapa rangkaian analisis yang lebih detilnya peneliti memerlukan mencatat apa saja yang terjadi dalam setiap kejadian dan pengambilan sudut gambar kamera. Maka, untuk mentranskrip setiap rangkaian diperlukan menonton lebih dari satu kali rangkaian yang ada dalam film. Setel mute suara film untuk mencatat. Ini akan sangat membantu menganalisis film tanpa menggunakan suara sehingga peneliti dapat lebih fokus kepada mise-en- scene (content of the shot), cinematography (how content is filmed), dan editing.
Kemudiandengan mendengarkan soundtrack tanpa melihat gambar, sehingga kamu peneliti dapat fokus kepada suara. Selanjutnya perhatikan dan dengarkan dengan suara keras, catatlah hubungan antara suara dan gambar. Masukkan kedalam catatan ekstra detail mengenai durasi sebuah adegan dan buat juga catatan tentang tata lampu (lighting), pertunjukan (performance), serta pendapat setiap adegan. Dengan pengamatan yang detail dapat diketahui bagaimana mise-en-scene, cinematography, editing dan sound dalam sebuah film memiliki makna dan pengaruh yang kuat (O’Shaughnessy dan Stadler,2005: 219-220).
2.2.2.5. Struktur Film
Menurut Pintoko dan Umbara (2010: 97), struktur film terdiri atas:
1.Shot
Shot adalah a concecutive series of pictures thatconstitutes a unit of action in a film, satu bagian dari rangkaian gambar yang begitu panjang, yang hanya direkam dalam satu take saja. Secara teknis, shot adalah ketika kamerawan mulai menekan tombol recordhingga menekan tombol record kembali.
2.Scene.
Scene atau adegan adalah satu segmen pendek dari keseluruhan cerita yang memperlihatkan satu aksi berkesinambungan yang diikat oleh ruang, waktu, isi (cerita), tema, karakter, atau motif. Satu adegan umumnya terdiri dari beberapa shot yang saling berhubungan.
3.Sequence
Sequence adalah satu segmen besar yang memperlihatkan satu peristiwa yang utuh. Satu sekuen umumnya terdiri dari beberapa adegan yang saling berhubungan. Dalam karya literatur, sekuen bisa diartikan seperti sebuah bab atau sekumpulan bab.
2.2.3. Sinematografi
Sinematogtrafi/cinematography terdiri dari dua suku kata yaitu cinema dan graphy yang berasal dari bahasa Yunani, kinema, yang berarti gerakan dan graphoo yang berarti menulis. Jadi sinematografi bisa diartikan menulis dengan gambar yang bergerak (Nugroho, 2014: 11). Di dalam sinematografi unsur visual merupakan alat utama dalam berkomunikasi. Bahasa yang digunakan dalam sinematografi adalah suatu rangkaian beruntun dari gambar bergerak yang dalam pembuatannya memperhatikan ketajaman gambar, corak penggambarannya, memperhatikan seberapa gamabar itu ditampilkan, iramanya dan sebagainya yang kesemuanya merupakan alat komunikasi non verbal (Nugroho: 2014: 12).
Sebagaimana definisi dari sinematografi adalah gambar bergerak, ini berarti setiap pembuatan program yang menggunakan gambar bergerak sebenarnya memiliki keinginan untuk menyampaikan sesuatu kepada penontonnya yang dengan kata lain pembuat program itu sendiri ingin berkomunikasi dengan menggunakan audio visual kepada orang lain. Sesuatu yang ingin disampaikan itu bisa berupa ide, perasaan, ataupun visi dan misi dari si pembuat program yang sudah dipelajari sebelumnya atau dapat pula berupa sikap atau keberpihakan dari pembuat program terhadap suatu masalah, misalnya
masalah gender, kekerasan terhadap anak, perempuan, perdamaian, bahkan mengenai rasa cinta dan mencintai.
Sebuah film memang tidak terlepas dari teknik sinematografi. Film dapat terlihat baik jika teknik sinematografi yang dilakukan juga baik. Gambar menjadi elemen terpenting untuk membentuk suatu tayangan berdurasi. Teknik pengambilan suatu gambar akan menentukan kualitas gambar yang dihasilkan apakah memenuhi kriteria menjadi gambar yang layak. Teknik pengambilan suatu gambar memiliki kode-kode yang memiliki makna tersendiri. Berikut adalah beberapa elemen gambar dapat ditemui dalam kode, terutama yang berhubungan dengan bahasa gambar yang bisa dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2.1Teknik dalam Pengambilan Gambar.
PENANDA (SIGNIFIER) MENANDAKAN (SIGNIFIED)
PENGAMBILAN GAMBAR
Extreme Long Shot Kesan luas dan keluarbiasaan
Full Shot Hubungan sosial
Big Close Up Emosi, dramatik, momen penting
Close Up Intim atau dekat
Medium Shot Hubungan personal dengan subjek
Long Shot Konteks perbedaan dengan publik
SUDUT PANDANG (Angle) Pengambilan Gambar:
High Dominasi, kekuasaan dan otoritas
Eye –Level Kesejajaran, keamanan dan sederajat
Low Didominasi, dikuasai dan kurang otoritas
TIPE LENSA
Wide Angle Dramatis
Normal Normalitas dan keseharian
Telephoto Tidak personal, Voyeuristik
FOKUS
Selective Focus Meminta perhatian (tertuju pada satu objek)
Soft Focus Romantis serta nostalgia
Deep Focus Semua unsur adalah penting (melihat cara
keseluruhan objek) PENCAHAYAAN
High Key Riang dan cerah
Sumber: (Selby dan Codery, 1995).
2.2.4. Pola Komunikasi Keluarga
Hubungan dengan anggota keluarga menjadi landasan sikap terhadap orang, benda, dan kehidupan secara umum. Mereka juga meletakkan landasan bagi pola penyesuaian dan belajar berpikir tentang diri mereka sebagaimana dilakukan anggota keluarga mereka. Akibatnya mereka belajar menyesuaikan pola kehidupan atas dasar landasan yang telah diletakkan ketika lingkungan untuk sebagian besar terbatas pada rumah. Dengan meluasnya lingkup sosial dan adanya kontak dengan teman sebaya dan orang dewasa di luar rumah, landasan awal ini, yang diletakkan di rumah, mungkin berubah dan dimodifikasi, namuntidak akan pernah hilang sama sekali. Sebaliknya, landasan ini mempengaruhi pola sikap dan perilaku di kemudian hari. C. H. Cooley (dalam Daryanto, 1984: 64) berpendapat bahwa keluarga sebagai kelompok primer, setiap anggotanya memiliki arti yang khas yang tidak dapat digantikan oleh anggota lain tanpa mengganggu emosi dan relasi di dalam kelompok.
Anggota-anggota sebuah keluarga, suami istri dan anak-anaknya mempunyai status dan peranannya masing-masing, sehingga interaksi dan inter- realasi mereka menunjukkan pola yang jelas dan tetap. Status anggota-anggota keluarga ini sedemikian pentingnya, sehingga bila salah seorang anggota keluarga keluar dari ikatan atau hubungan keluarga, maka anggota-anggota yang lain akan merasakan ssuatu yang kurang menyenangkan dalam hatinya, di samping itu pola relasi di dalam keluarga itu akan berubah. Tiap anggota keluarga merupakan kepribadian yang khas dan diperlakukan sama oleh anggota-anggota lain.
Low Key Suram dan muram
High Contrast Dramatikal dan teatrikal
Low Contrast Realistik serta terkesan seperti dokumenter PEWARNAAN
Warm (kuning, orange, merah, abu-abu) Riang dan cerah
Cool (biru dan hijau) Pesimisme, tidak ada harapan Black and White (Hitam dan Putih) Realisme, aktualisme, harapan
Keluarga sebagai kelompok primer bersifat fundamental, karena di dalam keluarga, individu diterima dalam pola-pola tertentu. Kelompok primer merupakan persemaian di mana manusia memperoleh norma-norma, niali- nilai, dan kepercayaan. Kelompok primer adalah badan yang melengkapi manusia untuk kehidupan sosial (Daryanto, 1984: 64).
Selain itu, kelompok primer bersifat fundamental karena membentuk titik pusat utama untuk memenuhi kepuasan-kepuasan soaial, seperti mendapat kasih sayang atau afeksi, keamanan dan kesejahteraan, dan semuanya itu diwujudkan melalui komunikasi yang dilakukan terus menerus dan membentuk sebuah pola.
Devito dalam bukunya The Interpersonal Communication Book (1986) mengungkapkan empat pola komunikasi keluarga secara umum, yaitu:
1. Pola Pomunikasi Persamaan (Equality Pattern)
Pada pola ini, tiap individu membagi kesempatan komunikasi secara merata dan seimbang, peran yang dimainkan tiap orang dalam keluarga adalah sama. Tiap orang dianggap sederajat dan setara kemampuannya, bebas mengemukakan ide-ide, opini, dan kepercayaan. Komunikasi yang terjadi berjalan dengan jujur, terbuka, langsung, dan bebas dari pemisahan kekuasaan yang terjadi dalam hubungan interpersonal lainnya. Di dalam pola ini tidak ada pemimpin dan pengikut, pemberi pendapat dan pencari pendapat, tiap orang memainkan peran yang sama.
2. Pola Komunikasi Seimbang Terpisah (Balance Split Pattern)
Pada pola ini, persamaan hubungan tetap terjaga, namun tiap orang memegang kontrol atau kekuasaan dalam bidangnya masing0masing.
Setiap orang dianggap sebagai ahli dalam wilayah yang berbeda. Sebagai contoh, dalam keluarga biasa, suami dipercaya bekerja/mencari nafkah untuk keluarga sedang istri mengurus anak dan memasak. Dalam pola ini, bisa jadi semua anggotanya memiliki pengetahuan yang sama mengenai agama, kesehatan, seni, dan satu pihak dianggap lebih dari yang lain.
Konflik yang terjadi tidak dianggap sebagai ancaman karena tiap orang memiliki wilayah sendiri-sendiri. Sehingga sebelum konflik terjadi, sudah ditentukan siapa yang menang atau kalah. Sebagai contoh, bila konflik terjadi dalam hal bisnis, suamilah yang menang, dan bila konflik terjadi
dalam urusan anak, istrilah yang menang. Namun tidak ada pihak yang dirugikan oleh konflik tersebut karena masing-masing memiliki wilayahnya sendiri.
3. Pola Komunikasi Tidak Seimbang Terpisah (Unbalanced Split Pattern) Pada pola ini satu orang mendominasi, satu orang dianggap sebagai ahli lebih dari setengah wilayah komunikasi timbal balik. Satu orang yang mendominasi ini sering memegang kontrol. Dalam beberapa kasus, orang yang mendominasi ini lebih cerdas atau berpengalaman lebih, namun dalam kasus lain orang itu secara fisik lebih menarik atau berpenghasilan lebih besar. Pihak yang kurang menarik atau berpenghasilan lebih rendah berkompensasi dengan cara membiarkan pihak yang lebih itu memenangkan tiap perdebatan dan mengambil keputusan sendiri. Pihak yang mendominasi mengeluarkan pernyataan tegas, memberitahu pihak lain apa yang harus dikerjakan, memberi opini dengan bebas, memainkan kekuasaan untuk menjaga kontrol, dan jarang meminta pendapat yang lain kecuali untuk mendapatkan rasa aman bagi egonya sendiri atau sekedar meyakinkan pihak lain akan kehebatan argumennya. Sebaliknya, pihak yang lain bertanya, meminta pendapat dan berpegang pada pihak yang mendominasi dalam mengambil keputusan.
4. Pola Komunikasi Monopoli (Monopoly Pattern)
Satu orang dipandang sebagai penguasa. Orang ini lebih bersifat memerintah daripada berkomunikasi, memberi wejangan daripada mendengarkan umpan balik orang lain. Pemegang kekuasaan tidak pernah meminta pendapat, dan ia berhak atas keputusan akhir. Maka jarang terjadi perdebatan karena semua sudah mengetahui siapa yang menang. Dengan jarang terjadi perdebatan itulah maka bila ada konflik masing-masing tidak tahu bagaimana mencari solusi bersama secara baik-baik. Mereka tidak tahu bagaimana mengeluarkan pendapat atau mengungkapkan ketidaksetujuan secara benar, maka perdebatan akan menyakiti pihak yang dimonopoli. Pihak yang dimonopoli meminta ijin dan pendapat dari pemegang kuasa untuk mengambil keputusan, seperti halnya hubungan orangtua ke anak. Pemegang kekuasaan mendapat kepuasan dengan
perannya tersebut dengan cara menyuruh, membimbing, dan menjaga pihak lain. Sedangkan pihak lain mendapat kepuasan lewat pemenuhan kebutuhannya atau dengan tidak membuat keputusan sendiri sehingga ia tidak akan menanggung konsekuensi dari keputusan tersebut.
2.2.5. Unsur-unsur Kebudayaan
Koentjaraningrat dalam buku Mentalitas dan Kebudayaan (2004: 2) mengemukakan ada tujuh unsur kebudayaan universal yang meliputi:
1. Religi (sistem kepercayaan). Berkenaan dengan agama dan kepercayaan yang dianut dalam suatu masyarakat.
2. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan), yaitu cara-cara perilaku manusia yang terorganisir secara sosial meliputi sistem kekerabatan, sistem komunitas, sistem pelapisan sosial, sistem politik.
3. Sistem pengetahuan. Meliputi teknologi dan kepandaian dalam hal tertentu, misalnya pada masyarakat petani ada pengetahuan masa tanam, alat pertanian yang sesuai lahan, pengetahuan yang menentukan proses pengolahan lahan.
4. Bahasa (lisan, tulisan). Terdiri dari bahasa lisan, bahasa tertulis dan naskah kuno.
5. Kesenian. Berkenaan dengan hal-hal yang menurut etika dan estetika seperti: seni gambar, musik, tari dan sebagainya.
6. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi), yaitu segala sesuatu yang berkenaan dengan perekonomian dan mata pencaharian.
7. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transportasi). Ini meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan kelengkapan atau peralatan hidup manuisia sehari-hari demi menunjang aktivitas kehidupan dan mencapai kesejahteraan.
Adapun wujud kebudayaan menurut Koentjaraningrat (2004: 5), ada tiga, diantaranya:
1. Gagasan
yaitu wujud kebudayaan yang berupa gagasan, ide, nilai, norma, peraturan dan sebagainya. sifatnya abstrak, tidak dapat diraba, disentuh dan bukan barang yang nyata. Jika gagasan ini dalam bentuk tulisan, maka posisi dari kebudayaan tersebut berada dalam karangan-karangan atau tulisan-tulisan.
Misalnya: kitab kuno, prasasti dan lain sebagainya.
2. Aktivitas
Yaitu tindakan atau aktivitas manusia yang berasal dari pemikiran kebudayaan. Wujud kedua ini sering disebut dengan sistem sosial, terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang sering berinteraksi. Sifatnya nyata, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, dapat diamati dan didokumentasikan.
Misalnya: sistem adat, sistem kemasyarakatan dan lain sebagainya.
3. Artefak
Yaitu wujud fisik berupa hasil aktivitas atau karya manusia dalam masyarakat yang berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, didokumentasikan serta sifatnya wujud konkret. Misalnya: patung, bangunan dan lain sebagainya.
2.2.6. Film sebagai Representasi Budaya
Representasi merupakan konsep yang digunakan dalam proses sosial pemaknaan melalui sistem penandaan yang tersedia: dialog, tulisan, video, film, fotografi dan sebagainya. Secara ringkas, representasi adalah produksi makna melalui bahasa (Juliastuti, 2000).
Menurut stuart Hall (dalam Juliastuti, 2000), representasi adalah salah satu praktek penting yang memproduksi kebudayaan. Kebudayaan merupakan konsep yang sangat luas, kebudayaan menyangkut ‘pengalaman berbagi’.
Seseorang dikatakan berasal dari kebudayaan yang sama jika manusia- manusia yang ada disitu membagi pengalaman yang sama, berbicara dalam ‘bahasa’ yang sama, dan saling berbagi konsep-konsep yang sama.
Salah satu fungsi komunikasi yakni sebagai warisan budaya antar generasi.
Maka film sebagai salah satu wadah komunikasi massa juga berfungsi sebagai transmisi budaya pada masyarakat. Film dipahami sebagai representasi realitas budaya masyarakat. Sebab film digunakan sebagai cerminan atau gambaran yang memperlihatkan bagaimana suatu budaya bekerja dan hidup dalam masyarakat.
Komunikasi, terutama melalui media/penyebaran informasi memainkan peran khusus dalam memengaruhi budaya tertentu. Media sangat penting karena mereka langsung menampilkan sebuah cara untuk memandang kehidupan. Meski demikian, pada saat bersamaan penonton mungkin menggunakan kategori mereka sendiri untuk menginterpretasikan pesan tersebut (Ardianto & Q-Anees, 2007: 183).
Dalam bidang ilmu komunikasi, representasi merupakan istilah yang sangat penting karena pembicaraannya menyangkut hal-hal pokok atau mendasar. Seperti yang dikemukakan oleh Marcel Danesi(dalam Wibowo, 2013: 148) bahwa representasi adalah proses merekam ide, pengetahuan, atau pesan dalam beberapa cara fisik. Lebih tepatnya dapat didefenisikan sebagai kegunaan dari tanda yaitu untuk menyambungkan, melukiskan,
meniru sesuatu yang dirasa, dimengerti, diimajinasikan atau dirasakan dalam beberapa bentuk fisik. Jika dikarakterisasikan sebagai proses konstruksi bentuk X untuk menimbulkan perhatian kepada sesuatu yang ada secara material atau konseptual, yaitu Y, atau dalam bentuk spesifik Y,X = Y.Danesimencontohkan representasi dengan sebuah konstruksi X yang dapat mewakilkan atau memberikan suatu bentuk kepada suatu materil atau konsep tentang Y. Sebagai contoh misalnya konsep sex diwakili atau ditandai melalui gambar sepasang sejoli yang sedang berciuman secara romantis.
Menurut Stuart Hall (dalam Wibowo, 2013: 148), ada dua proses representasi. Pertama, representasi mental, yaitu konsep tentang ‘sesuatu’
yang ada di kepala kita masing-masing (peta konseptual), representasi mental masih merupakan sesuatu yang abstrak. Kedua, ‘bahasa’ yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep abstrak yang ada dalam kepala kita harus diterjemahkan dalam ‘bahasa’ yang lazim, supaya kita dapat menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dari simbol-simbol tertentu. Media sebagai suatu teks banyak menebarkan bentuk-bentuk representasi pada isinya. Isi media bukan hanya berita tetapi juga film dan hal-hal lain di luar pemberitaan.
Intinya bahwa sama dengan berita, film juga merepresentasikan orang, kelompok atau gagasan tertentu.
John Fiske (dalam Wibowo, 2013: 149) merumuskan tiga proses yang terjadi dalam representasi melalui Tabel 2.2 di bawah ini:
Tabel 2.2 Tabel Proses Representasi PERTAMA REALITAS
(Dalam bahasa tulis, seperti dokumen wawancara transkrip dan sebagainya. Dalam televisi seperti perilaku, make up, pakaian, ucapan, gerak-gerik dan sebagainya
KEDUA REPRESENTASI
Elemen tadi ditandakan secara teknis. Dalam bahasa tulis seperti kata, proposisi, kalimat, foto, caption, grafik dan sebagainya. Dalam TV seperti kamera, musik, tata cahaya, dan lain-lain). Elemen-elemen tersebut ditransmisikan ke dalam kode representasional yang memasukkan di antaranya bagaimana objek digambarkan (karakter, narasi setting, dialog dan lain-lain)
KETIGA IDEOLOGI
Semua elemen diorganisasikan dalam koherensi dan kode- kode ideologi, seperti individualisme, liberalisme, sosialisme, patriaki, ras, kelas, materialisme, dan sebagainya.
Sumber: Fiske (dalam Wibowo, 2013: 149).
Pertama, realitas, dalam proses ini peristiwa atau ide dikonstruksi sebagai realitas oleh media dalam bentuk bahasa gambar ini umumnya berhubungan dengan aspek seperti pakaian, lingkungan, ucapan ekspresi dan lain-lain. Di sini realitas selalu ditandakan dengan sesuatu yang lain.
Kedua, representasi, dalam proses ini realitas digambarkan dalam perangkat-perangkat teknis, seperti bahasa tulis, gambar, grafik, animasi, dan lain- lain. Ketiga, tahap ideologis, dalam proses ini peristiwa-peristiwa dihubungkan dan diorganisasikan ke dalam konvensi-konvensi yang diterima secara ideologis.
Bagaimana kode-kode representasi dihubungkan dan diorganisasikan ke dalam koherensi sosial atau kepercayaan dominan yang ada dalam masyarakat.
Menurut David Croteau dan William Hoynes (2000: 194), representasi merupakan hasil dari suatu proses penyeleksian yang menggarisbawahi hal hal tertentu dan hal lain diabaikan. Dalam representasi media, tanda yang akan digunakan untuk melakukan representasi tentang sesuatu mengalami proses seleksi. Mana yang sesuai dengan kepentingan-kepentingan dan pencapaian tujuan-tujuan komunikasi ideologisnya itu yang digunakan sementara tanda-tanda lain diabaikan.
Representasi bekerja pada hubungan tanda dan makna. Konsep representasi sendiri bisa berubah-ubah. Selalu ada pemaknaan baru. Menurut Nuraini Julianti representasi berubah-ubah akibat makna yang juga berubah-ubah.
Setiap waktu terjadi proses negosiasi dalam pemaknaan.
Jadi, representasi bukanlah suatu kegiatan atau proses statis tapi merupakan proses dinamis yang terus berkembang seiring dengan kemampuan intelektual dan kebutuhan para pengguna tanda yaitu manusia sendiri yang juga
terus bergerak dan berubah. Representasi merupakan suatu bentuk usaha konstruksi. Karena pandangan-pandangan baru yang menghasilkan pemaknaan baru juga merupakan hasil pertumbuhan konstruksi pemikiran manusia. Juliastuti (dalam Wibowo, 2011: 123-124) mengatakan, bahwa melalui representasi makna diproduksi dan dikonstruksi. Ini terjadi melalui proses penandaan, praktik yang membuat suatu hal bermakna sesuatu.
2.2.7. Semiotika dan Film
“Secara etimologis, istilah semiotika berasal dari kata yunani Semeion yang berarti tanda. Tanda itu sendiri didefenisikan sebagai suatu –yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya – dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain. Tanda pada awalnya dimaknai sebagai suatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Contohnya asap menandai adanya api, sirene mobil yang keras meraung-raung menandai adanya kebakaran di sudut kota” (Sobur dalam Wibowo, 2013: 7).
Secara terminologis, semiotika dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Pada dasarnya, analisis semiotika memang merupakan sebuah ikhtiar untuk merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang perlu dipertanyakan lebih lanjut ketika kita membaca teks atau narasi/wacana tertentu. Analisisnya bersifat paradigmatic dalam arti berupaya menemukan makna termasuk dari hal- hal yang tersembunyi di balik teks. Maka orang sering mengatakan semiotika adalah upaya menemukan makna ‘berita dibalik berita’.
Film merupakan bidang kajian yang sangat relevan bagi analisis struktural atau semiotika. Seperti dikemukakan oleh Van Zoest(dalam Sobur,2003: 128), film dibangun dengan tanda semata-mata. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerjasama dengan baik demi mencapai efek yang diharapkan.
Hal terpenting dalam film adalah gambar dan suara yakni kata yang diucapkan (ditambah sound effect) dan musik film. Sistem semiotika yang lebih penting dalam film adalah digunakannya tanda-tanda ikonis, yakni tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu. Sehingga dengan kata lain, semiotika film merupakan proses pemaknaan atas tanda-tanda yang terdapat dalam film yang akan diteliti. Tanda-tanda tersebut berupa audio (suara, bahasa verbal, dialog