• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH TRUST IN A BRAND TERHADAP BRAND LOYALTY PADA KONSUMEN FRESTEA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH TRUST IN A BRAND TERHADAP BRAND LOYALTY PADA KONSUMEN FRESTEA."

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur Untuk Menyusun Skripsi S-1 Program Studi Manajemen

Oleh:

Guntur Hanafi 0712010209/FE/EM

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL " VETERAN" J AWA TIMUR

(2)

S K R I P S I

Oleh:

Guntur Hanafi 0712010209/FE/EM

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL " VETERAN" J AWA TIMUR

(3)

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah

melimpahkan hidayah dan karunianya-Nya, sehingga penulisan dapat

menyelesaikan skripsi ini, dengan judul “PENGARUH TRUST IN A BRAND

TERHADAP BRAND LOYALTY PADA KONSUMEN FRESTEA”

Penulisan skripsi ini merupakan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

program studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan bisa

terselesaikan dengan baik tanpa adanya bantuan dari beberapa pihak. Pada

kesempatan yang baik ini, perkenankan penulis dengan segenap kerendahan dan

ketulusan hati untuk menyampikan ucapan terimakasih kepada seluruh pihak yang

telah membantu guna mendukung kelancaran penyusunan skripsi ini.

Penulis dengan rasa hormat yang mendalam mengucapkan terimakasih

kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP., selaku Rektor Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Dr. H. R. Dhani Ichsanudin Nur, SE, MM., selaku Dekan Fakultas

Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3. Bapak Drs. Rahman Amrullah Suwaidi, MS., selaku wakil Dekan I Fakultas

Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur.

4. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM., selaku Ketua Program Studi Manajemen

(4)

mengarahkan, meluangkan waktu dan memberikan bimbingan guna

membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini

6. Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” Jawa Timur yang telah mendidik penulis selama menjadi

mahasiswa.

7. Ucapan terima kasih kepada keluargaku, ayah, ibu dan kekasihku serta

saudara yang senantiasa memberikan doa dan dukungan baik moral maupun

materil dengan tulus ikhlas.

8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah

membantu penulis dalam melakukan penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa isi dan cara penyajian skripsi ini masih jauh dari

sempurna. Oleh karena itu, segala kritik dan saran sangat penulis harapkan guna

meningkatkan mutu dari penulisan skripsi ini. Penulis juga berharap, penulisan

skripsi ini dapat bermanfaat dan menjadi acuan bagi peneliti lain yang tertarik

untuk mendalaminya dimasa yang akan datang.

Surabaya, Mei 2012

(5)

DAFTAR ISI ... i

2.2.2 PerilakuKonsumen ... 10

2.2.3 PengertianMerek (Brand)... 10

2.2.4. KepercayaanpadaMerek (Brand Trust)... 12

2.2.5. Dimensi Trust in a Brand ... 14

2.2.5.1. KarakteristikMerek……… 14

2.2.5.2. Karakteristik Perusahaan……… 15

2.2.5.3. Karakteristik Konsumen-Merek…………. 16

2.2.6. LoyalitasMerek(Brand Loyalty) ... 17

2.2.7. Pengaruh Trust in a Brand Terhadap Brand Loyalty.. 20

2.3 Kerangka Konseptual………..……... 22

2.4 Hipotesis……….. 23

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional Pengukuran Variabel ... 24

(6)

3.3.2. Sampel…...……… 28

3.4. Teknik Pengumpulan data... 29

3.4.1. Jenis Data ... ... 29

3.4.2. Sumber Data………..……….. 30

3.5. MetodePengumpulan Data ... 30

3.6. TeknikAnalisis Data ... 30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Obyek Penelitian……….. 38

4.1.1. Sejarah Perusahaan………... 38

4.2. Deskripsi Hasil Penelitian………. 41

4.2.1. Deskripsi Karakteristik responden……… 41

4.2.2. Deskripsi Variabel Trust in a Brand (X)………….. 43

4.2.3. Deskripsi Variabel Brand Loyalty (Y)……….. 46

4.3. Deskripsi Hasil Analisis dan Uji Hipotesis………... 47

4.3.1. Uji Normalitas Sebaran dan Linieritas………. 47

4.3.2. Evaluasi atas Outlier………. 48

4.3.3. Deteksi Multicollinierity dan Singularty…………. 50

4.3.4. Uji Validasi dan Reliabilitas………. 50

4.3.5. Pengujian Model dengan One-Step Approach……. 55

(7)

Tabel 1.1 Daftar TBI (Top Brand Indeks) minuman teh siap minum

Frestea dari tahun 2009 - 2011 ... 5

Tabel 3.1. Goodnes of Fit Indices... 37

Tabel 4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 41

Tabel 4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 42

Tabel 4.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan………….. 42

Tabel 4.4. Hasil Jawaban Responden (X1)………. 43

Tabel 4.5. Hasil Jawaban Responden (X2)………. 44

Tabel 4.6. Hasil Jawaban Responden (X3)……….. 45

Tabel 4.7. Hasil Jawaban Responden (Y)……… 46

Tabel 4.8. Uji Normalitas ... 48

Tabel 4.9. Uji Outlier Multivariate ... 49

Tabel 4.10. Faktor Loading ... 51

Tabel 4.11. Uji Reliability Consistency Internal ... 52

Tabel 4.12. Construct Reliability dan Variance Extrated ... 54

Tabel 4.13. Evaluasi Kriteria Goodness Of Fit Indices... 56

Tabel 4.14. Evaluasi Kriteria Goodness Of Fit Indices, Modification ... 57

(8)

Gambar 3.1 Model Pengukuran faktor Brand Characteristics ... 31

Gambar 4.1. Model Pengukuran Kausalitas One Step Approach ... 55

Gambar 4.2. Model Pengukuran Kausalitas One Step Approach

(9)

Lampiran 1 : Kuesioner

Lampiran 2 : Tabulasi Jawaban Responden

Lampiran 3 : Hasil Uji Outlier

Lampiran 4 : Hasil Uji Validitas, Reliabilitas dan Normalitas

(10)

LOYALTY PADA KONSUMEN FRESTEA

OLEH:

Guntur Hanafi

Abstraksi

Sejalan dengan munculnya minuman teh siap saji dalam kemasan dijual di pasaran semakin banyak, hal ini akan memberikan kesempatan pada konsumen untuk memilih produk yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Akibatnya persaingan antar perusahaan semakin ketat. Konsumen memiliki trust in a brand pada minuman tertentu dan pada akhirnya mereka akan menjadi loyal pada suatu merek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan apakah trust in a brand berpengaruh terhadap brand loyalty.

Penelitian ini menggunakan variabel brand characteristic (X1), company characteristic (X2), consumer-brand characteristic (X3), serta variabel brand loyalty (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang membeli dan mengkonsumsi minuman Frestea di Surabaya. Teknik penentuan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dan untuk pengujian data digunakan analisis SEM (Structural Equation Modeling).

Dari hasil pengujian dengan menggunakan SEM dan dilihat dari tingkat probabilitas arah hubungan kausal, maka hipotesis menyatakan bahwa faktor trust in a brand berpengaruh positif terhadap factor brand loyalty, dapat diterima (signifikan / positif).

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam perkembangan zaman yang semakin modern ini banyak sekali perusahaan

yang berlomba-lomba untuk meningkatkan penjualan, sehingga muncul suatu kondisi

persaingan yang sangat ketat pada setiap perusahaan. Perusahaan harus mampu

mengikuti perkembangan serta persaingan pada industri agar dapat tetap

mengembangkan perusahaannya dengan menjaga kualitas produk, pelayanan dan

mempertahankan loyalitas konsumen. Menurut Dick dan Basu (1994) pencapaian suatu

loyalitas konsumen melalui strategi pemasaran merupakan salah satu tujuan utama dari

aktivitas pemasaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan.

Loyalitas merek adalah komitmen yang dimiliki oleh para konsumen dalam

melakukan pertimbangan pembelian ulang suatu produk barang atau jasa baik dimasa

sekarang maupun dimasa yang akan datang. Mowen (2002:109) mengemukakan bahwa

loyalitas dapat didasarkan pada perilaku pembelian aktual produk yang dikaitkan dengan

proporsi pembeli. Salah satu konsep terpenting dalam kondisi tingkat persaingan yang

sangat ketat dengan tingkat pertumbuhan yang rendah adalah dengan menjaga dan

memperhatikan loyalitas konsumen terhadap merek produk. Mempertahankan loyalitas

merek merupakan strategi paling efektif dibandingkan dari strategi untuk mencari

konsumen yang baru, karena dengan loyalitas konsumen suatu merek akan mendapat

tempat yang istimewa dan tidak akan pernah tergantikan oleh merek lainnya. Sehingga

(12)

perusahaannya. Loyalitas perusahaan tidak hanya mampu mempertahankan konsumen

baru dan nilai dalam bisnis, tetapi perusahaan dapat menarik konsumen baru (Beerli et al,

2004).

Kepuasan konsumen adalah suatu pandangan yang dapat digunakan atau sebagai

alat ukur dalam melihat seberapa besar daya saing perusahaan, sehingga loyalitas

konsumen dapat memberikan pandangan yang positif terhadap loyalitas merek, sehingga

loyalitas konsumen dapat membantu perusahaan untuk meningkatkan penjualan dan

profitabilitas perusahaan. Konsumen yang loyal akan memberikan sikap dan perilaku

yang porsitif terhadap perusahaan, seperti kesetiaan terhadap merek dengan melakukan

pembelian ulang secara rutin dan tidak dapat beralih kepada merek lain, dan juga

kesetiaan konsumen dapat memberi rekomendasi positif yang dapat mempengaruhi

konsumen aktual maupun potensial. Menurut Delgado dan Manuera, 2001 loyalitas

konsumen bermanfaat bagi perusahaan dengan adanya pesaing atau perusahaan baru yang

bergerak dalam industri yang sama secara sebstansial bagi pesaing, loyalitas konsumen

dapat meningkatkan kemampuan perusahaan untuk merespon signal ancaman dari para

pesaing, meningkatkan penjualan dan pendapatan serta mempengaruhi konsumen akan

sensitivitas terhadap usaha-usaha yang dilakukan oleh para pesaing.

Penelitian ini mengambil salah satu obyek minuman kemasan teh yaitu Frestea

yang merupakan produk inovatif minuman siap saji (RTD) yang secara khusus dirancang

untuk memuaskan seluruh panca indera konsumen Indonesia. Merek ini dikembangkan

secara lokal dan merupakan hasil kemitraan yang sukses antara The Coca-Cola Company

(13)

The Coca Cola Company merupakan perusahaan internasional yang bekerja

dalam bidang produksi minuman dan bermarkas di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat.

Perusahaan ini berdiri pada tahun 1892. Produk yang dihasilkan antara lain, coca cola,

fanta dan sprite.

Menurut Lau dan Lee (1999:342), menyatakan bahwa karakteristik merek,

karakteristik perusahaan dan karakteristik hubungan konsumen dengan merek merupakan

prediktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen pada merek yang akhirnya

akan mengarah kepada loyalitas konsumen pada merek tersebut.

Dalam perkembangannya produk minuman tersebut ke Indonesia, The coca cola

company dibantu oleh Coca Cola Bottling Indonesia. Coca-Cola Bottling Indonesia

merupakan salah satu produsen dan distributor minuman ringan terkemuka di Indonesia

dengan memproduksi dan mendistribusikan produk-produk berlisensi dari The

Cola Company. Perusahaan tersebut memproduksi dan mendistribusikan produk

Coca-Cola ke lebih dari 400.000 outlet melalui lebih dari 120 pusat penjualan. Coca-Coca-Cola

Bottling Indonesia merupakan nama dagang yang terdiri dari perusahaan-perusahaan

patungan (join venture) antara perusahaan-perusahaan lokal yang dimiliki oleh

pengusaha-pengusaha independen dan Coca-cola Amatil Limited yang merupakan salah

satu produsen dan distributor terbesar produk-produk Coca-Cola di dunia.Coca-Cola

Amatil pertama kali berinvestasi di Indonesia pada tahun 1992.

Frestea diluncurkan pada tahun 2002 dan secara khusus dirancang untuk

memuaskan konsumen di Indonesia. Frestea yang pertama kali memenuhi kebutuhan

konsumen memiliki rasa jasmine dengan aroma melati dan dikembangkan secara lokal

(14)

Frestea dilakukan untuk memperoleh pengalaman dalam menikmati teh tubruk dengan

rasa, aroma, dan warna menjadi faktor terpenting sehingga konsumen dapat membedakan

kualitas sebuah produk. Cita rasa tehnya yang sangat khas dan inovatif tercipta melalui

sajian aroma melati yang menyenangkan dan rasa teh yang unggul. Kemasan yang unik

menonjolkan kualitas teh asli dengan tekstur emboss dua elemen daun yang saling

bersilang. Frestea diproduksi dengan menggunakan standar kualitas tinggi The

Coca-Cola Company, menggunakan teknologi tinggi dan didukung oleh proses produksi yang

higienis demi memastikan bahwa setiap produk Frestea memiliki kualitas yang sama.

Dalam perkembangannya, Frestea kemudian mengeluarkan varian baru. Adapun

beberapa jenis produk baru yang telah diproduksi oleh Frestea demi memberikan

kepuasan kepada konsumen :

1. Teh hijau yaitu Frestea Green.

Minuman teh hijau dibuat dengan daun teh hijau yang berkualitas

memberikan kesegaran untuk konsumen pecinta frestea.

2. Frestea Apel, Frestea Markisa dan Frestea Lemon.

Minuman teh siap saji dengan daun teh berkualitas dan rasa buah favorit:

Lemon, Markisa dan Apel. Dilengkapi juga dengan sensasi dingin (mint) untuk

menyegarkan konsumen dalam segala suasana. Frestea dengan rasa buah ini

berhasil menarik perhatian konsumen sehingga varian baru Frestea ini juga bisa

diterima dengan baik oleh konsumen.

3. Frestea Green Honey

Melihat baiknya respon konsumen terhadap Frestea Green, kembali

(15)

Frestea Green Honey menawarkan kombinasi antara minuman teh hijau yang

terbuat dari daun teh asli dan madu yang nikmat.

Daftar TBI (Top Brand Indeks) minuman teh siap minum Frestea dari tahun 2009-2011

Tabel 1.1 Top Brand Index Award

Merek TBI

14,8% dan tahun 2011 mengalami penurunan dengan presentasenya sebesar 10,7%. Hal

tersebut dikarenakan munculnya produk-produk pesaing yang berpengaruh terhadap

tingkat penjualan Frestea, seperti Teh Sosro dan Fruitea. Kemasan minuman siap minum

dapat menjadi pilihan konsumen dalam memilih minuman, karena dapat memberikan

kemudahan dan kepraktisan. Namun minuman siap minum pada dasarnya akan selalu

bersaing dengan produk minuman lainnya yang mampu menawarkan harga lebih murah

dan inovasi rasa dan kemasan yang menarik bagi konsumen. Dengan adanya pesaing

seperti Teh Sosro dan Fruitea dengan diferensiasi bahwa Teh sosro merupakan merk lama

yang sudah dikenal banyak konsumen dan Fruitea merupakan pesaing baru namun dapat

(16)

begitu banyak dan inovatif, sehingga hal tersebut yang menyebabkan penjualan frestea

mengalami menurunan pada tahun 2011.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa loyalitas konsumen terhadap frestea

juga menurun dan terdapat adanya kemungkinan terjadi suatu permasalahan yang patut

untuk diteliti lebih lanjut. Dengan demikian dalam penelitian kali ini Frestea dijadikan

objek penelitian, sehingga penelitian ini mengambil judul: ”PENGARUH TRUST IN A

BRAND TERHADAP BRAND LOYALTY PADA KONSUMEN FRESTEA”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka secara spesifik

permasalahan dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah variabel trust in a brand berpengaruh terhadap brand loyalty pada konsumen

Frestea ?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah diuraikan diatas,

maka secara spesifik tujuan dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh trust in a brand terhadap brand loyalty pada konsumen

(17)

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat dari hasil penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan ilmu pengatahuan dan wawasan

dalam pembelajaran tentang nilai perusahaan khususnya dalam materi dan

literatur mengenai trust in a brand dan brand loyality.

2. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan memberikan informasi dan pengetahuan mengenai

pengaruh trust in a brand terhadap brand loyality kepada perusahaan yang

membutuhkan.

3. Bagi Universitas

Penelitian ini diharapkan yang nantinya dapat menjadi acuan bagi para peneliti

lainnya yang akan mengembangkan hasil penelitian ini dengan lebih lanjut dan

(18)

BAB II

TINJ AUAN KEPUSTAKAAN

2.1. Penelitian Ter dahulu

Penelitian terdahulu yang menjadi acuan adalah penelitian yang dilakukan oleh

Badawi (2007) dengan judul “Pengaruh Trust In a Brand dan Satisfaction Terhadap

Loyalitas Merek”. Penelitian ini menggunakan sampel jaringan kantor perbankan syariah.

Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui pengaruh brand liking, brand

predictability, brand reputation, dan brand competence terhadap trust in a brand, serta

pengaruh trust in a brand terhadap satisfaction dan pengaruh trus in a brand terhadap

loyalitas merek. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel independen

berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

Jurnal alternatif berikutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Rully (2006)

tentang ”Brand Trust dalam Konteks Loyalitas Merek: Peran Karakteristik Merek,

Karakteristik Perusahaan, dan Karakteristik Hubungan Pelanggan-Merek”. Penelitian

ini memfokuskan perilaku konsumen sebagai aktivitas utama pemasaran yang dan hasil

dari penelitian ini membuktikan bahwa memiliki hubungan positif signifikan antara

variabel Trust in brand terhadap konteks loyalitas merek, meskipun ditemukannya

basis-basis konseptual yang lemah terhadap ukuran keperilakuan.

Sejumlah penelitian terdahulu menemukan bahwa pengujian yang dilakukan

terhadap Trust in a Brand dengan menggunakan proksi fiability, intentionality, dan

overall Satisfaction memberikan hasil bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap

(19)

Penelitian yang dilakukan oleh Riana (2008) tentang ”pengaruh trust in a brand

terhadap brand loyalty pada konsumen air minum aqua di kota Denpasar” dengan

menggunakan sampel penelitian yaitu para konsumen yang mengkonsumsi air minum

aqua di kota Denpasar. hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa trust in a brand

secara bersama-sama dan parsial berpengaruh signifikan terhadap brand loyalty.

Dengan melihat hasil dari penelitian terdahulu maka dalam penelitian ini

ditemukan persamaan yakni variabel trust in a brand berpengaruh terhadap brand

loyalty. Dan adapun perbedaan dalam penelitian ini adalah objek penelitian dan metode

penelitian.

2.2. Tinjauan Teori

2.2.1. Pengertian Marketing

Marketing adalah suatu kegiatan manusia yang dilakukan untuk memenuhi

kebutuhan dan mencapai apa yang diinginkan melalui proses pertukaran. Menurut Kotler

(1996:2) pemasaran adalah upaya yang dilakukan individu dan kelompok untuk

mendapatkan apa yang mereka butuh dan inginkan dengan suatu proses sosial dan

manajerial, dimana mereka akan melakukan proses perdagangan. Suatu usaha untuk

mengetahui dan memahami konsumen secara baik dapat menciptakan respon konsumen

kepada produk atau jasa merupakan tujuan dari pemasaran sehingga produk atau jasa

(20)

2.2.2. Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh perusahaan

untuk mengetahui kebiasaan individu, kelompok, dan organisasi dalam memilih,

membeli, menggunakan, dan menetukan produk, jasa, ide atau pengalaman yang dapat

memuaskan kebutuhan dan keinginan para konsumen (Kotler, 2003). Tujuan perusahaan

melakukan pemahaman terhadap perilaku konsumen tidak lain untuk mengetahui dan

memahami berbagai aspek yang ada pada konsumen, yang dapat membantu perusahaan

dalam menentukan dalam mengambil keputusan dalam suatu strategi pemasaran.

Konsumen memiliki tingkat kesetiaan yang sangat beragam terhadap merek, toko,

produk, dan perusahaan tertentu. Kesetiaan konsumen diperoleh dari pengalaman

konsumen pada masa lalu dalam melakukan pembelian, dan perilaku dimasa lalu akan

dapat memprediksi pembelian pada masa yang akan datang. Perilaku konsumen yang

loyal terhadap suatu merek tertentu dapat menjadi pedoman bagi kinerja perusahaan

dalam menentukan apakah perusahaan tersebut dapat mempertahankan eksistensi

produknya pada pasar.

2.2.3. Pengertian Merek (Brand)

Merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi yang

berkaitan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seseoang atau kelompok penjual

serta bertujuan untuk membedakan dari produk pesaing lainnya (Kotler, 2000:460).

Merek dapat membantu konsumen dalam pemberian tanda mengenai sumber produk

tertentu, sehingga konsumen dapat mengingat dan memberikan penilaian atas kualitas

(21)

sebagai pelindung bagi konsumen maupun produsen dari para pesaing yang berusaha

untuk mencontoh atau membuat kesamaan produk-produk yang dapat terlihat identik bagi

konsumen.

Suatu perusahaan dapat dikatakan sebagai pemasar profesional apabila

perusahaan memiliki keahlian atau kemampuan untuk menciptakan, memelihara,

melindungi, dan mengembangkan suatu merek dan citra merek. Menurut Kotler

(2000:460) merek mempunyai berbagai macam level pengertian, diantaranya adalah:

1. Atribut, merek dapat digunakan untuk meningkatkan atribut tertentu pada

masing-masing produk atau jasa.

2. Manfaat, yang merupakan bahwa merek tidak hanya sebagai atribut tertentu bagi

konsumen, tetapi merek dirasakan sebagai manfaat. Yang diartikan sebagai konsumen

membeli produk atau jasa tidak melihat dari atributnya saja, tetapi melihat dari

manfaat yang diperoleh.

3. Nilai, yang merupakan bahwa merek juga memberikan nilai pada produsen, yang

dapat digunakan konsumen dalam menilai kinerja, keamanan, serta hal-hal yang ada

dalam suatu citra merek bagi para produsen tersebut.

4. Budaya, merek juga mewakili budaya tertentu dimana tempat merek tersebut

dilahirkan dan mulai dikenal oleh konsumen.

5. Kepribadian, merek mencerminkan kepribadian tertentu

6. Pemakai, merk menunjukan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk

tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa merek merupakan penggunaan nama, logo, trade mark,

(22)

lain dalam hal apa yang mereka tawarkan. Penggunaan merek tersebut bertujuan untuk

mengingatkan kepada konsumen sesuatu yang berkaitan dengan produk agar mudah

dikenal. Dengan demikian , suatu merek dapat mengandung tiga hal, yaitu sebagai

berikut:

1.Menjelaskan apa yang dijual oleh perusahaan

2.Menjelaskan apa yang dijalankan oleh perusahaan.

3.Menjelaskan profit perusahaan itu sendiri.

2.2.4. Kepercayaan pada Mer ek (Trust in a Brand)

Kepercayaan konsumen pada merek merupakan bagian dari keinginan dari

konsumen untuk percaya dan setia terhadap merek dengan tingkat resiko yang dihadapi

karena ekspetasi terhadap merek dapat menciptakan hasil yang positif (Lau dan Lee,

1999). Terdapat tiga faktor (merek itu sendiri, perusahaan, dan konsumen) yang dapat

mempengaruhi kepercayaan terhadap merek yang berhubungan dengan entitas yang

terkandung dalam hubungan antara konsumen dan merek.

Trust merupakan bagian terpenting yang dimiliki oleh merek karena dipandang

sebagai dasar dalam hubungan dengan konsumen. Konsistensi yang dimiliki merek untuk

memenuhi harapan konsumen dapat menimbulkan kepercayaan yang tercipta dari

kepuasan pada konsumen. Adapun faktor dari dimensi Trust In Brand adalah Brand

Characteristic, Company Characteristic, dan Consumer-Brand Characteristic.

Kepuasan konsumen merupakan salah satu alat ukur yang penting untuk

mengukur daya saing suatu perusahaan (Irawan, 2003:16). Kepuasan yang tercipta pada

(23)

merek dalam memenuhi harapan dan keinginan konsumen. Terdapat faktor-faktor yang

menentukan tingkat kepuasaan konsumen, diantaranya adalah:

1. Kualitas produk; dengan melakukan beberapa dimensi yaitu performance, features,

reliability, conformance to spesification, durability, serviceability, estetika, dan

perceived quality. Hal ini bertujuan untuk memberi kepuasan pada konsumen dengan

hasil evaluasi yang menyatakan bahwa produk yang digunakan berkualitas.

2. Kualitas pelayanan; dengan melakukan beberapa dimensi yaitu reliability,

responsiveness, assurance, emphaty, dan tangible. Hal ini bertujuan untuk

memberikan kepuasan pada konsumen dengan memberikan pelayanan yang baik dan

sesuai dengan harapan konsumen.

3. Emosional; dengan social value sehingga konsumen merasa puas dan mendapat

keyakinan bahwa orang lain akan kagum terhadap produk yang dikenakan.

4. Harga; dengan menetapkan harga yang relatif murah tetapi memiliki kualitas yang

sama dengan produk lain, sehingga dapat menciptakan tingkat kepuasan bagi

konsumen.

5. Biaya dan pangsa pasar produk yang luas; dengan melakukan strategi yang tepat

untuk memudahkan konsumen dalam mendapatkan produk tersebut, sehingga

konsumen tidak perlu mengeluarkan biaya lebih dan membuang banyak waktu untuk

(24)

2.2.5. Dimensi Trust In a Brand

Menurut Riana (2008:193) terdapat 3 faktor yang dapat membentuk kepercayaan

terhadap merk, yaitu :

1. Karakteristik Merek (Brand Charactetristics)

Karakteristik merek merupakan faktor penting dalam menentukan pengambilan

keputusan konsumen untuk menentukan merek yang dinilai sesuai dengan yang

diharapkan dan juga untuk menciptakan rasa percaya pada suatu merek, karena para

konsumen akan melakukan penilaian sebelum melakukan pembelian pada suatu barang

atau jasa, sehingga konsumen dapat menentukan merek yang sesuai dengan yang

diharapkan. Sudah menjadi kebiasaan bagi perusahaan dalam memproduksi suatu barang

ditandai dengan logo, gambar dan kalimat untuk membedakan dengan produksi sejenis

dari perusahaan lain.

Dengan merek tersebut perusahaan mengharapkan agar konsumen mempunyai

kesan positif pada barangnya. Pemberian merek terhadap hasil produksi ini harus

disesuaikan dengan keadaan produk atau perusahaan yang bersangkutan.

(Alma,2002:106)

Dalam kepercayaan merek yang terdapat dalam karakteristik merek meliputi suatu

kondisi yang dapat diramalkan, mempunyai reputasi, dan berkompeten. Dalam konteks

hubungan konsumen-merek, kepercayaan konsumen dibangun berdasarkan pada

prediktabilitas merek, reputasi merek, dan kompetensi merek.

Berdasarkan definisi klasik dari Jacob & Keyner (1973) dalam Tjipto (2000:109),

(25)

1. Bersifat bias (non-random)

2. Merupakan respon behavioral (berupa pembelian)

3. Diekspresikan sepanjang waktu

4. Diekspresikan oleh unit pengambilan keputusan

5. Unit pengambilan keputusan mengekspresikan loyalitas merek berkenaan

dengan satu atau lebih alternatif merk dalam serangkaian merek.

6. Merek merupakan fungsi dari proses-proses psikologis (pengambilan

keputusan, evaluatif)

Merek sangat penting dalam situasi persaingan yang tidak terkendali. Konsumen

paling mudah untuk mengenali merek dibandingkan atribut-atribut lain yang melekat

pada suatu produk. Merek yang sukses dipersepsi oleh konsumen akan memberikan nilai

superior (Tandjung, 2004:57).

2. Karakteristik Perusahaan (Company Characteristics)

Karakteristik perusahaan dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan konsumen

terhadap suatu merek. Konsumen akan melakukan suatu penilaian terhadap merek

berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh konsumen, dan hal tersebut dapat

mempengaruhi suatu merek dalam suatu perusahaan. Karakteristik perusahaan yang dapat

mempengaruhi kepercyaan konsumen pada suatu merek adalah kepercayaan konsumen

terhadap perusahaan, reputasi perusahaan untuk memberikan rasa yang lebih aman pada

konsumen dalam memperoleh dan menggunakan merek perusahaan, motif dari

(26)

perusahaan yang layak untuk dipercaya dan malakukan sesuatu dengan kepentingan para

konsumen, dengan demikian konsumen akan mempercayai merek perusahaan tersebut.

Dan yang terakhir adalah integritas perusahaan yang merupakan penilaian konsumen dari

persepsi yang terdapat dari prinsip-prinsip yang diterima.

3. Karakteristik konsumen-Merek (Consumer-Brand Characteristics)

Karakteristik konsumen-merek merupakan dua kelompok yang saling

mempengaruhi kepercayaan terhadap merek. Ada beberapa karakteristik dalam hubungan

konsumen dengan merek diantaranya adalah kemiripan konsep emosional konsumen

dengan kepribadian merek, kesukaan terhadap merek, dan pengalaman terhadap merek.

Konsep diri merupakan totalitas pemikiran dan perasaan individu dengan acuan

dirinya sebagai objek sehingga seringkali dalam konteks pemasaran dianalogkan merek

sama dengan orang. Suatu merek dapat memiliki kesan atau kepribadian. Kepribadian

merek adalah asosiasi yang terikat dengan merek yang diingat oleh konsumen dan

konsumen dapat menerimanya. Konsumen sering kali berinteraksi dengan merek seolah-

olah merek tersebut adalah manusia. Dengan demikian, kesamaan antara konsep diri

konsumen dengan kepribadian merk sangat berkaitan dengan kepercayaan konsumen

terhadap merek tersebut.

Timbulnya suatu kesamaan visi dan daya tarik konsumen pada suatu merek dapat

disebabkan karena rasa suka konsumen terhadap merek yang dapat dipakai sebagai alat

ukur untuk menunjukkan rasa suka yang dimiliki oleh suatu kelompok terhadap

(27)

2.2.6. Loyalitas Merek (Brand Loyalty)

Loyalitas merek merupakan suatu konsep yang penting dalam strategi pemasaran,

dimana loyalitas merek yang diberikan para konsumen menjadi suatu alat ukur untuk

menentukan keberhasilan suatu barang atau jasa, sehingga perusahaan dapat bertahan

hidup. Loyalitas adalah suatu komitmen bagi para konsumen dalam melakukan

pembelian ulang dalam suatu barang atau jasa baik pada masa sekarang maupun masa

yang akan datang meskipun banyak pesaing baru dalam konteks yang sama.

Aaker (1996) dalam Riana (2008:187), mendefinisikan brand loyalty sebagai “A

measure of the attachment that a costumer has a brand”. Loyalitas merek menunjukan

adanya suatu ikatan antara konsumen dengan merek tertentu dan ini seringkali ditandai

dengan adanya pembelian ulang dari konsumen. Dalam suatu perusahaan yang memiliki

tingkat loyalitas konsumen yang tinggi, dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut

mampu menekan atau mengurangi biaya pemasaran, karena dengan adanya loyalitas

perusahaan dapat meminimumkan biaya untuk mempertahankan konsumen,

dibandingkan dengan melakukan strategi baru untuk mendapatkan konsumen baru.

Semakin tingginya tingat loyalitas merek dapa meningkatkan perdagangan dan dapat

menarik minat konsumen baru karena mereka memiliki argumen untuk membeli produk

yang memiliki loyalitas merek tanpa mengkuatirkan risiko pembelian terhadap produk

atau jasa tersebut.

Menurut Assael (1998) dalam Thayadi (2006) loyalitas konsumen memiliki empat

(28)

1. Percaya diri; Dapat diartikan bahwa konsumen yang loyal terhadap suatu merek

biasanya terkesan percaya diri dalam melakukan pembelian yang sesuai dengan

pilihannya.

2. Risiko tinggi; Diartikan bahwa konsumen yang loyal terhadap merek lebih merasakan

tingkat risiko yang tinggi dalam melakukan pembeliaan, karena konsumen melakukan

pembelian secara berulang-ulang dengan asumsi mereka akan mendapatkan produk,

kualitas dan layanan yang sama.

3. Loyal terhadap toko (store loyality); Diartikan bahwa konsumen yang loyal terhadap

suatu merek akan memberikan kepercayaan terhadap toko atau loyal terhadap toko

dengan melakukan membelian secara berulang-ulang dan tidak terpengaruh terhadap

produk atau merek baru dari para pesaing baru.

4. Loyal terhadap merek; Diartikan bahwa konsumen yang loyal terhadap suatu merek

cenderung untuk lebih loyal terhadap merek dengan memberikan kepercayaan dan

kesetiaan terhadap merek tersebut.

konsumen yang loyal dapat memberikan keuntungan bagi suatu perusahaan dalam

menghasilkan dan mengembangkan bisnisnya. Menurut Reichheld (1999) dalam

Tjahyadi (2006) keuntungan bagi perusahaan tersebut meliputi:

1. Continues profit yang merupakan keunggulan jangka panjang yang diberikan oleh

konsumen yang loyal terhadap suatu perusahaan dengan perolehan profit yang tetap

dari konsumen tersebut.

2. Reduces marketing cost merupakan keuntungan yang diperoleh perusahaan dengan

(29)

dilakukan oleh perusahaan untuk menarik konsumen potensial atau konsumen baru

dengan menginvestasikan dananya, seperti dengan melakukan advertising.

3. Increase per customer revenue growth merupakan kesetiaan konsumen pada

perusahaan sehingga perusahaan dapat mencapai pangsa pasar market share yang

lebih besar dan semakin mudah untuk dikembangkan.

4. Decrease operating cost merupakan keuntungan perusahaan dalam mengurangi

pengeluaran biaya layanan karena konsumen sudah mengenal dan memahami

produk-produk dari suatu perusahaan tersebut.

5. Increase referrals merupakan keuntungan bagi perusahaan yang diberikan konsumen

karena konsumen yang puas akan suatu produk atau merek akan merekomendasikan

pengalamannya terhadap merek tersebut kepada orang lain. Karena referrals

merupakan sumber yang penting dan diyakini dapat berdampak positif bagi

konsumen potensial.

6. Increase price premiums merupakan keuntungan yang diberikan konsumen dengan

membayar lebih untuk sebuah merek yang diyakini, karena mereka memiliki

keyakinan untuk mendapatkan produk atau merek yang unik dengan nilai yang cukup

tinggi. Karena mereka merasa tidak ada merek lain yang dapat memberikan kualitas

dan layanan yang sama dengan merek tersebut.

7. Provide competitive advantage merupakan ketidak sensitifan para konsumen yang

loyal terhadap suatu merek akan peningkatan harga, sehingga perusahaan dapat

mempertahankan perbedaan harga karena perusahaan percaya akan kemampuan

(30)

2.2.7. Pengaruh Trust In a Brand Terhadap Brand Loyalty

Trust in a brand adalah kepuasan pada suatu merek yang dimiliki oleh para

konsumen karena konsistensi yang terdapat dalam merek dapat memenuhi harapan dan

keinginan konsumen. Hubungan trust in a brand dengan brand loyalty dianggap sebagai

salah satu cara untuk mengetahui daya saing suatu perusahaan (Irawan, 2003:16).

Apabila konsumen memiliki trust in a brand dalam suatu produk atau merek dinilai

konsumen tersebut pasti memiliki brand loyalty yang lebih dalam merek tersebut dan

konsumen akan rela mengorbankan waktu serta biaya yang lebih untuk mendapatkan

suatu merek yang dinilai sesuai dengan harapan dan cerminan dirinya tersebut.

Karakteristik merek dinilai berpengaruh terhadap kepercayaan konsumen

terhadap suatu merek. Hal ini dikarenakan konsumen akan mempertimbangkan

karaketistik merek yang mereka percaya dan sesuai dengan keinginan para konsumen.

Konsumen akan percaya terhadap suatu merek apabila perusahaan memiliki kinerja dan

reputasi yang baik. Menurut Rihana (2008:192-193) sikap loyal terhadap suatu merek

dapat terjadi apabila karekateristik yang dimiliki oleh suatu dengan harapan yang dimiliki

oleh konsumen, dan karakteristik perusahaan akan mempengaruhi tingkat loyalitas

konsumen terhadap suatu merek.

Konsumen yang memiliki kepercayaan pada merek akan membuat konsumen

tidak akan berpindah ke merek lain. Jika trust in a brand yang dimiliki oleh konsumen

meningkat maka brand loyalty juga akan meningkat. Ketika konsumen percaya pada

suatu merek, maka konsumen akan lebih menunjukan sikap dan perilaku positif kepada

(31)

Morgan dan Hunt (1994) mendefinisikan loyalitas merek sebagai komitmen

konsumen terhadap suatu merek tertentu yang berasal dari adanya sikap yang positif

terhadap merek tersebut. Dalam konteks studi Perilaku Organisasional, kepercayaan

ditemukan dapat mengarah pada level tertinggi dari loyalitas, yaitu komitmen (Morgan

dan Hunt, 1994). Oleh karena itu, kepercayaan yang telah dibangun oleh konsumen pada

(32)

2.3 Kerangka Konseptual

Berdasarkan uraian diatas maka dapat ditarik kerangka berpikir sebagai berikut :

Gambar 2.1 Brand

Characteristic (X1)

Company Characteristic

(X2)

Consumer-Brand Characteristic

(X3)

Trust in a Brand

(33)

2.4. Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah dan teori yang diajukan tentang pengaruh brand

trust dalam konteks loyalitas merek dengan peran karakteristik merek, karakteristik

perusahaan, dan karakteristik hubungan konsumen-merek, maka hipotesis yang diajukan

adalah:

H1 : Diduga bahwa Trust In a Brand berpengaruh positif signifikan terhadap Brand

(34)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

3.1.1 Var iabel Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kausal dimana terdapat penilaian

metode kuantitatif dan data primer yang kemudian nilainya diolah menggunakan metode

SEM. Dengan demikian variabel penelitian terdiri dari beberapa variabel yang secara

garis besar diidentifikasikan sebagai berikut :

A. Trust in a Br and (X)

Trust in a Brand merupakan kepercayaan konsumen untuk mengkonsumsi pada

minuman Frestea .

1. Brand Characteristics (X1)

Brand Characteristics merupakan karakteristik merk yang berkaitan dengan

kepercayaan konsumen terhadap minuman Frestea dalam melakukan penilaian

sebelum membeli. Atribut-atribut pembentukan Brand Characteristics yaitu:

a. Merek dengan reputasi tinggi (X1.1)

Merupakan reputasi yang dicapai bahwa minuman Frestea dapat memberikan

kesegaran.

b. Pengetahuan publik tentang merek (X1.2)

Merupakan suatu pengetahuan umum tentang komposisi yang terkandung pada

(35)

c. Berita positif tentang merek (X1.3)

Merupakan informasi yang beredar di masyarakat bahwa minuman Frestea tidak

mengganggu kesehatan.

d. Pengetahuan konsumen tentang merek (X1.4)

Merupakan pengetahuan konsumen mengenai komposisi yang terkandung dalam

minuman Frestea.

e. Merek yang konsisten dengan kualitasnya (X1.5)

Merupakan ketetapan komposisi Frestea dalam kualitasnya

f. Berbeda dengan merek yang lain (X1.6)

Merupakan perbedaan komposisi, kemasan, harga antara minuman Frestea dengan

merek lain yang sejenis.

2. Company Characteristics (X2)

Company Characteristics merupakan penilai konsumen terhadap Frestea

berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh konsumen. Karakteristik perusahaan

dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan konsumen terhadap produk minuman

Frestea. Atribut-atribut pembentukan Company Characteristics yaitu :

a. Kepercayaan terhadap perusahaan (X2.1)

Merupakan kepercayaan konsumen kepada perusahaan yang dapat

mempengaruhi kepercayaan konsumen terhadap Frestea.

b. Perusahaan tidak akan menipu konsumen (X2.2)

Merupakan penilain konsumen kepada perusahaan yang memiliki reputasi baik

dan adanya rasa aman yang diterima konsumen dalam mengkonsumsi Frestea,

(36)

c. Perhatian perusahaan terhadap konsumen (X2.3)

Merupakan perhatian perusahaan minuman Frestea terhadap keluhan para

konsumen.

d. Keyakinan konsumen terhadap produk perusahaan (X2.4)

Merupakan keyakinan yang dimiliki oleh konsumen untuk mengkonsumsi

produk yang dihasilkan oleh minuman Frestea.

3. Consumer-Brand Characteristics (X3)

Consumer-Brand Characteristics merupakan kepercayaan konsumen terhadap

suatu merek yang dapat menciptakan loyalitas terhadap Frestea. Karakteristik

konsumen-merek merupakan dua kelompok yang saling mempengaruhi kepercayaan

terhadap merek. Menurut Arlan (2006:72), karakteristik ini merupakan dua

kelompok yang saling mempengaruhi. Atribut-atribut pembentukan

Consumer-Brand Characteristics yaitu :

a. Ada kesamaan merek dengan emosi konsumen (X3.1)

Merupakan persepsi yang dicipatkan minuman Frestea kepada konsumen untuk

memberikan kepuasan.

b. Merupakan merek favorit (X3.2)

Merupakan pilihan konsumen yang jatuh pada minuman Frestea sesuai dengan

seleranya.

c. Merek yang sesuai dengan kepribadian konsumen (X3.3)

Merupakan tingkat kesesuaian minuman Frestea dengan kepribadian yang

(37)

B. Brand Loyalty (Y)

Brand Loyalty merupakan komitmen dalam melakukan pembelian ulang produk

minuman Frestea pada masa yang akan datang. Indikator yang digunakan dalam

penelitian ini adalah ( Astuti dan Tjahyadi,2007:152)

a. Terus menggunakan merek tertentu (Y1)

Merupakan kesetiaan konsumen pada minuman Frestea

b. Merekomendasikan terhadap konsumen yang lain (Y2)

Merupakan pemberian informasi konsumen kepada konsumen yang lain dalam

memilih minuman Frestea.

c. Tidak terpengaruh oleh promosi merek lain (Y3)

Merupakan kesetiaan konsumen Frestea untuk tidak terpengaruh merek lain.

3.2.Skala Pengukuran

Skala pengukuran yang digunakan adalah skala interval, yaitu dengan skala jenjang

sematic differential menurut Indriantoro (2002:105). Analisis ini dilakukan dengan

meminta responden untuk menyampaikan pendapatnya tentang serangkaian pernyataan

yang berkaitan dengan objek yang diteliti dalam bentuk nilai yang berada dalam rentang

dua sisi. Digunakan jenjang 7 dalam penelitian ini mengikuti pola sebagai berikut :

(38)

3.3. Teknik Penentuan Sampel

3.3.1. Populasi

Populasi adalah gabungan dari seluruh elemen yang berbentuk peristiwa, hal atau

orang yang memiliki karakteristik yang serupa dan menjadi pusat perhatian seorang

peneliti (Ferdinan, 2006:223). Populasi dari penelitian ini adalah konsumen minuman

Frestea di Surabaya.

3.3.2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki, dan

dianggap dapat mewakili keseluruhan dari populasi (Djarwanto, 1993). Teknik

pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Purposive Sampling yaitu

sampel yang dipilih dengan menggunakan pertimbangan tertentu dan disesuaikan dengan

tujuan penelitian atau masalah penelitian yang dikembangkan. Penyesuaian sebagai

berikut :

- Konsumen yang pernah meminum produk Frestea minimal 2 kali.

- Konsumen yang berada di wilayah Surabaya.

- Konsumen yang berusia 17 tahun ke atas.

Menurut Ferdinand ( 2002:48), Pedoman pengukuran sampel adalah :

i. 100 – 200 sampel untuk teknik maximum likelihood estimation.

ii. Tergantung pada jumlah parameter yang diestimasi. Pedomannya adalah 5 – 10 kali

(39)

iii. Tergantung pada jumlah indikator yang digunakan dalam seluruh variabel laten.

Jumlah sample adalah jumlah indikator dikalikan 5 – 10. Bila terdapat 20 indikator,

maka besaran sample adalah 100 – 200.

iv. Sedangkan jenis pengambilan sample didasari oleh analisis SEM bahwa besarnya

sample 5 – 10 kali parameter yang destimasi.

Pada penelitian ini terdapat 16 indikator yang digunakan, dan jumlah sampel adalah

16 X 8 = 128 responden.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Suatu penelitian pada umumnya merupakan suatu usaha untuk membuat

fakta-fakta untuk mengembangkan dan menguji adanya kebenaran dengan cara mengumpulkan

dan mencatat serta menganalisis data.

3.4.1. J enis Data

Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian adalah :

a. Data primer

Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung

dari sumber asli atau tanpa media perantara (Supranto, 1997: 113). Pada penelitian ini

data primer diperoleh dari hasil survey dan pengisian kuesioner .

b. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung, baik berupa

keterangan maupun literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sifatnya

melengkapi atau mendukung data primer (Hadi, 1997). Data sekunder dalam

(40)

3.4.2. Sumber Data

Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini berasal dari konsumen yang

sebagai responden dalam penelitian ini.

3.5. Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian dibagi

menjadi dua, yaitu:

a. Metode Kuisioner

Kuisioner dilakukan untuk mengumpulkan data dengan cara membagikan angket

beserta pertanyaan-pertanyaan kepada responden dengan panduan kuisioner yang

telah disediakan pada lembar angket.

b. Metode Wawancara

Teknik wawancara ini dilakukan untuk memperoleh data dengan melakukan

wawancara atau kuisioner secara langsung tehadap para responden. Wawancara

dilakukan dengan menggunakan metode angket yang meliputi berbagi macam

pertanyaan mengenai variabel dan objek penelitian.

c. Metode Observasi

Metode ini dilakukan untuk memperoleh gambaran yang dilakukan untuk

melakukan pengamatan langsung pada obyek penelitian.

3.6. Teknik Analisis Data

Model yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah

(41)

Confirmatori Factor Analisis yang merupakan salah satu jenis analisis faktor yang

ditunjukan untuk menguji sebuah teori atau konsep mengenai sebuah proses atau sebuah

pengertian atau sebuah fenomena. Langka-langka dalam analisis SEM model pengukuran

dengan contoh faktor Brand Characteristics akan nampak sebagai berikut :

Persamaan dimensi faktor Brand Characteristics :

X1.1 = λ1 Brand Characteristics + er_1

X1.2 = λ2 Brand Characteristics + er_2

X1.3 = λ3 Brand Characteristics + er_3

Bila persamaan diatas dinyatakan dalam sebuah pengukuran modal untuk diuji

unidimensionalitasnya melalui confirmatory factor analysis, maka model pengukuran

dengan contoh faktor persepsi akan nampak sebagai berikut:

Gambar 3.1 : Contoh Model Pengukuran Faktor Brand Characteristics

(42)

X1.3 = Pertanyaan tentang ………

Er_j = error term X1j

Demikin juga faktor lain Company Characteristics, Consumer-Brand

Characteristics, Trust in a Brand dan Brand Loyalty.

1. Asumsi Model SEM (Structural Equation Modeling)

a. Uji Normalitas Sebaran dan Linieritas

1. Data yang disebarkan harus dianalisis, agar dapat dilihat apakah asumsi

normalitasnya telah terpenuhi. Sehingga data dapat diolah lebih lanjut untuk

permodelan SEM. Normalitas biasanya dapat diuji dengan melihat gambar

histogram data atau dapat juga diuji dengan metode-metode statistik.

2. Menggunakan Critical Ratio yang diperoleh dengan membagi koefisien

sampel dengan standard errornya dan Skewness Value yang biasanya disajikan

dalam statistic deskriptif dimana nilai statistic untuk menguji normalitas itu

disebut sebagai Z-value. Pada tingkat signifikan 1%, jika nilai Z lebih besar

dari nilai kritis, maka dapat diduga bahwa distribusi data adalah tidak normal.

3. Normal Probability Plot (SPSS 10.1)

4. Linearitas dengan mengamati scatterplots data yaitu dengan memilih

pasangan data dan dilihat pola penyebarannya untuk menduga ada tidaknya

linearitas

b. Evaluasi atas Outlier

Outliers adalah observasi yang muncul dengan nilai-nilai ekstrim baik

(43)

kharakteristik untuk yang dimilikinya dan terlihat sangat jauh berbeda dari

observasi-observasi lainnya. (Hair, 1998).

1. Mengamati nilai Z-score : ketentuannya diantara + 3,0 non outlier

2. Multivariate outlier diuji dengan criteria jarak mahalanobis pada tingkat p <

0,001. Jarak diuji dengan Chi-Square (x) pada df sebesar jumlah variabel

bebasnya. Ketentuan : bila mahalanobis > dari nilai x adalah multivariate

outlier.

c. Deteksi Multicolinearity dan Singularity

Salah satu syarat dari model linear klasik adalah tidak adanya

multikolinieritas. Apabila dalam pengujian persamaan regresi pada penelitian ini

terdapat multikolinearitas, maka di antara variabel-variabel tersebut memiliki

hubungan linear yang sempurna (Gudjarati, 1997:157). Cara untuk mengetahui

ada atau tidaknya gejala multikolinearitas di dalam model regresi adalah dengan

melihat nilai koefisien hubungan antara variabel idependen. Apabila nilai

koefisien tersebut mendekati angka 1, maka dapat diidentifikasikan bahwa adanya

hubungan linear antara variabel independen tersebut. Dengan mengamati

Determinan matriks cavarians yang apabila nilainya mendekati angka 0 (nol),

maka terjadi Multicolinearity dan Singularity.

d. Uji Validitasi dan Realiabilitas

Validitas menyangkut tingkat akurasi yang dicapai oleh sebuah indikator

dalam menilai sesuatu atau akuratnya pengukuran atas apa yang seharusnya

(44)

indikator-indikator sebuah konstruk yang menunjukkan derajat sampai dimana

masing-masing indikator itu mengindikasikan sebuah konstruk yang umum.

Karena indikator multidimensi, maka uji validitas dari setiap latent

variabel / construct akan diuji dengan melihat loading faktor dari hubungan antar

setiap obseverd variabel dan latent variabel. Construct reliability dan

variance-extracted dihitung dengan rumus berikut :

( ∑ Std. Loading) 2

Construct Liability =

( ∑ Std. Loading) 2 + ∑ εj

( ∑ Std. Loading) 2

Variance Liability =

( ∑ Std. Loading) 2 + ∑ εj

Sementara ε j dapat dihitung dengan formula ε j = 1- (Standardize Loading).

Secara umum, nilai reliability yang dapat diterima adalah > 0,7 dan

varianc-extrated > 0,5 { Hair et. al, 1998}. Standardize loading dapat diperoleh dari

output AMOS 4.01, dengan melihat nilai estimasi setiap contruct standardize

regression weights terhadap setiap butir sebagai indikatornya.

2. Pengujian Hipotesis dan Hubungan Kausal

Pengaruh langsung (koefisian jalur) diamati dari bobot regresi terstandar, dengan

pengujian signifikansi pembanding nilai t hitung. Apabila t hitung lebih besar

(45)

3. Evaluasi Model

Ferdinand (2002) menyatakan bahwa pola “confirmatory” menunjukkan

prosedur yang dirancang untuk mengevaluasi utilitas hipotesis-hipotesis dengan

pengujian fit antar model teoritis dan data empiris. suatu model teoritis

menggambarkan “good fit” dengan data, maka model dianggap sebagai yang terkuat.

Sebaliknya, suatu model teoritis tidak diperkuat jika teori tersebut mempunyai suatu

“poor fit” dengan data. Amos dapat menguji apakah model “good fit” atau “poor

fit”. Jadi, “good fit” model yang diuji sangat penting dalam penggunaan structural

equation modeling.

Pengujian terhadap model yang dikembangkan dengan berbagai kriteria goodness

of fit, adalah sebagai berikut :

1. X2-Chi Square Statistik

Chi Square merupakan uji statistik mengenai adanya perbedaan antara matrik

kovarians populasi dan matrik kovarians sampel yang memiliki sifat yang sangat

sensitif terhadap besarnya sampel yang digunakan. Model dianggap baik apabila

terdapat nilai Chi Square yang rendah.

2. Probability

Probability merupakan uji signifikansi yang dilakukan untuk mengetahui

perbedaan matriks covariance data dan matriks covariance yang diestimasikan.

3. RMSEM-The Root Mean Square Error of Approximation

RMSEM adalah sebuah indeks yang dapat digunakan untuk mengkompensasi

(46)

goodness of fit yang dapat diharapkan bila model di estimasi dalam populasi (Hair et

al, 1995).

4. GFI-Goodnes of Fit Index

GFI adalah sebuah ukuran non-statistikal yang mempunyai rentang nilai antara 0

(poor fit) sampai dengan 0,1 (perfect fit), dimana indeks kesesuaian akan menghitung

proporsi tertimbang dari varians. sehingga dapat memberikan yang “better fit”

apabila nilai dalam suatu indeks tinggi

5. AGFI-Adjusted Goodness of Fit Index

AGFI atau GFI merupakan kriteria untuk memperhitungkan proporsi tertimbang

dari varians dalam sebuah matriks dan covarians sample, dimana analog dari R2

dalam regresi berganda, Fit Index ini dapat di-adjust terhadap degreess of Freedom

yang tersedia untuk menguji dan diterima tidaknya model tersebut.

6. CMIN/DF

CMIN / DF merupakan statistik Che-Square yang dibagi dengan derajat bebas

sehingga disebut X2 relatif. Nilai X2 relatif kurang dari 2.1 atau bahkan kurang dari

3.0 adalah indikasi dari acceptable fit antara model dan data (Arbuckle, 1997).

7. TLI (Tucker Lewis Indeks)

TLI adalah sebuah alternative incremental fit index yang membandingkan antara

baseline model dengan suatu model yang akan diuji.

8. CFI (Comparative Fit Indeks)

CFI memiliki keunggulan yaitu besarnya indeks ini tidak dipengaruhi ukuran

sampel, maka dari itu indeks ini sangat baik untuk mengukur tingkat penerimaan

(47)

Pengujian terhadap model yang dikembangkan dengan berbagai criteria Goodnes

of Fit, yakni Chi-square, Prrobabiity RMSEA, GFI, TLI, CFI, AGFI, CMN/DF. Apabila

model awal tidak good fit dengan data maka model dikembangkan dengan pendekatan

two step approach to SEM.

Tabel 3.1 Goodness of Fit Indies

Goodnes of

Fit Index Keterangan Cut Off Value

X2-Chi

covariance data dan matriks covariance yang

diestimasi.

Minimal 0,1 atau 0,2, atau > 0,05

RMSEM Mengkompensasi kelemahan Chi-Square pada

sampel besar. < 0,08

GFI

Menghitung proporsi tertimbang varians dalam

matriks covarians dijelaskan oleh matriks covarians populasi yang diestimasi (analog

dengan R2 dalam regresi berganda).

> 0,90

AGFI GFI yang disesuaikan terhadap DF > 0,90

CMIN / DF Kesesuaian antara data dan model < 2,00

TLI Perbandingan antara model yang diuji terhadap

baseline model > 0,95

CFI Uji kelayakan model yang tidak senitive terhadap

besarnya sampel dan kerumitan model > 0,95

(48)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskr ipsi Obyek Penelitian

4.1.1. Sejar ah Perusahaan

Coca Cola merupakan produk minuman ringan yang dikenal dengan soft drink.

Pertumbuhan Coca Cola sebagai minuman ringan dan salah satu merek minuman ringan

yang terkenal didunia. Tentu tidak terlepas dari permulaan awal pertumbuhannya, sejarah

produk Coca Cola semula berawal pada bulan Mei 1886 di Atlanta, Georgia, Amerika

Serikat, ketika seorang ahli farmasi dan ahli minuman yang bernama Dr. Jhon Styth

Pemberton memformulasikan suatu ramuan khusus dengan gula murni menjadi sirup dan

beraroma segar dan berwarna karamel yang kemudian dikenal dengan Coca Cola.

Seiring dengan perjalanan waktu, Coca Cola semakin berkembang dan digemari

masyarakat, maka timbul ide dari Joseph Beidenharn untuk membotolkan Coca Cola.

Sejak tahun 1990 distribusi Coca Cola secara meyakinkan meluas sampai keluar negeri.

Pada tahun 1907 pembangunan pabrik-pabrik pembotolan Coca Cola diluar negeri mulai

digiatkan. Pembangunan dilakukan dengan cara memakai Franchise System, yaitu sistem

kerja sama saling menguntungkan antara dua perusahaan yang dijalankan oleh dua

perusahaan, yaitu The Coca Cola Company dengan Pabrik Minuman lain yang sama

sekali terpisah modal kepemilikan dan manajemen.

Coca Cola mulai diperdagangkan di Indonesia pada tahun 1927 ketika Nederland

Indische Mineral Water Fabriek (Pabrik Air Mineral Hindia Belanda) membotolkan

(49)

Jepang (1942-1945), tetapi setelah kemerdekaan Indonesia, pabrik tersebut beroperasi

dibawah nama The Indonesia Bootles Ltd. NV (IBL) dengan status perusahaan nasional.

Tahun 1971 IBL menjalin kerjasama dengan tiga perusahaan Jepang, yaitu Mitsui Toatsu

Chemical Inc, Mitsui & Co. Ltd dan Mikuni Coca Cola Bottling Co. membentuk PT.

Djaya Beverages Bootling Company (DBBBC).

Dengan semakin berkembangnya The Coca Cola Company, maka dikembangkan

juga produk dari Coca-Cola salah satunya adalah minuman siap saji Frestea. Frestea

pertama kali diluncurkan pada tahun 2002 dan merupakan bagian dari beverage partners

worldwide (BWP), yang merupakan perusahaan hasil kerjasama yang sukses antara The

Coca-Cola Company dengan Nestle, SA. Frestea diproduksi dengan menggunakan

standar kualitas tinggi The Coca-Cola Company, yang menggunakan teknologi tinggi,

berasal dari bahan baku pilihan berkualitas tinggi dan diproses melalui beberapa tahap:

penyiapan bahan, pencampuran, pencucian, pengisian dan penutupan, pengkodean,

pemeriksaan, pengemasan, dan pengangkutan, serta didukung oleh proses produksi

higienis, demi memastikan bahwa setiap botol Frestea memilki kualitas yang sama.

Semua produk yang dijual dan didistribusikan oleh Coca-Cola Amatil Indonesia

(CCAI) diproduksi langsung di Indonesia. Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) selain

bertindak sebagai produsen dan distributor juga memasarkan dan menjual produk

Coca-Cola melalui lebih dari 120 pusat penjualan yang tersebar di seluruh Indonesia,

memastikan bahwa produk yang dijual selalu tersedia di mana saja, kapan saja. Saluran

penjualan terdiri dari Foodstores (supermarket dan mini market di seluruh Indonesia) dan

General Trade (outlet tradisional). Dan dengan terbatasnya sumber daya dan kemampuan

(50)

menciptakan peluang kerja yang luas di sektor informal, Coca-Cola Amatil Indonesia

juga terdorong untuk secara serius dan berkesinambungan mengembangkan jaringan

Distribusi Tak Langsung (Indirect Distribution) berbasis Usaha Kecil dan Menengah

(UKM) melalui Manage Third Party (MTP) model di Indonesia. Sementara melalui

saluran (Modern Immediate Consumption) MIC, kami bekerjasama dengan berbagai

hotel, restoran, dan café ternama untuk memberikan penawaran menarik kepada para

konsumen.

Saat ini ada delapan pabrik pembotolan yang tersebar di seluruh Indonesia, yaitu di

Cibitung-Bekasi, Medan, Padang, Lampung, Bandung, Semarang, Surabaya dan

Denpasar. Semua pabrik diwajibkan untuk mematuhi dan bahkan kerap kali melampaui

standarisasi internasional dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pabrik kami

juga teratur melaksanakan audit di bidang pengawasan mutu, lingkungan, kesehatan dan

keselamatan kerja. Selama ini pabrik-pabrik kami di Indonesia telah menerima berbagai

penghargaan dari The Coca-Cola Company atas pencapaian standar yang melampaui

pabrik-pabrik sejenis di dunia. Atas kebanggan ini, kami membuka kesempatan bagi

semua orang yang ingin melihat langsung proses produksi kami yang higienis dan

berkualitas. Kemasan yang tersedia dalam penjualan Frestea adalah :

RGB : 220 ml

PET : 500 ml

Tetra Brik Aseptic (TBA) : 250 ml

(51)

Adapun produk-produk dari Frestea adalah :

1. Frestea dengan varian rasa Jasmine

2. Frestea dengan varian rasa Green

3. Frestea dengan varian rasa Green Honey

4. Frestea dengan varian rasa Apel

5. Frestea dengan varian rasa Lemon

6. Frestea dengan varian rasa Markisa

4.2.Deskripsi Hasil Penelitian

4.2.1.Deskr ipsi Karakteristik Responden

Data mengenai keadaan responden dapat diketahui melalui jawaban responden

dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kedalam kuisioner yang telah diberikan.

Dari jawaban-jawaban tersebut diketahui hal-hal seperti dibawah ini.

a. Jenis Kelamin

Dari 128 responden yang menjawab kuesioner yang telah diberikan dapat

diketahui jenis kelamin dari responden yakni pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.1. Karakteristik r esponden berdasar kan jenis kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah Persentase(%)

1 Laki-laki 77 60%

2 Wanita 51 40%

Total 128 100%

(52)

b. Usia

Dari 128 responden yang menjawab kuesioner yang telah diberikan dapat

diketahui usia para responden yakni pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.2. Karakteristik r esponden berdasar kan Usia

No Usia Jumlah Persentase(%)

Dari 128 responden yang menjawab kuesioner yang telah diberikan dapat

diketahui pekerjaan para responden yakni pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.3. Karakteristik r esponden Berdasar kan J enis pekerjaan

No Jenis Pekerjaan Jumlah Persentase (%)

(53)

4.2.2. Deskr ipsi Variabel Trust in A Brand (X)

4.2.2.1. Deskripsi Variabel Brand Characteristic (X1)

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan kepada para responden

yang berjumlah 128 orang diperoleh jawaban sebagai berikut :

Tabel 4.4. Hasil J awaban responden untuk pertanyaan Brand Characteristic (X1)

No Pertanyaan Skor Jawaban Total

1 2 3 4 5 6 7

1 Anda memilih Frestea karena

merupakan merek dengan reputasi

tinggi

berdasarkan berita positif yang anda

peroleh tentang merek tersebut

0 0 2 6 67 50 3 128

4 Anda mempunyai pengetahuan

tentang merek Frestea

0 0 0 9 48 62 10 128

5 Frestea selalu konsisten dengan

kualitasnya dari awal

0 0 0 8 35 67 18 128

6 Frestea memiliki perbedaan dengan

merek lain yang sejenis

0 0 3 22 63 33 7 128

0 0 5 50 317 325 72

Sumber : Hasil Penyebaran kuesioner (Lampiran)

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner diketahui bahwa jawaban yang diberikan

responden dapat dikatakan setuju dengan pernyataan yang diajukan mengenai brand

(54)

memilih minuman Frestea karena merupakan merek dengan reputasi tinggi, responden

mengetahui bahwa Frestea adalah minuman yang sudah dikenal oleh masyarakat,

responden memilih minuman Frestea berdasarkan berita positif yang diperoleh tentang

merek tersebut, responden mempunyai pengetahuan tentang merek minuman Frestea,

minuman Frestea selalu konsisten dengan kualitasnya dari awal dan minuman Frestea

memiliki perbedaan dengan merek lain yang sejenis.

4.2.2.2. Deskripsi Variabel Company Characteristic (X2)

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan kepada para responden

yang berjumlah 128 orang diperoleh jawaban sebagai berikut :

Tabel 4.5. Hasil J awaban untuk Pertanyaan Company Characteristic (X2)

No Pertanyaan Skor Jawaban Total

1 2 3 4 5 6 7

1 Anda percaya terhadap perusahaan

yang memproduksi minuman Frestea

3 Perusahaan minuman Frestea member

perhatian lebih terhadap para

konsumen nya

0 0 2 9 55 52 10 128

4 Anda yakin terhadap produk minuman

Frestea yang anda pilih

0 0 0 3 40 67 18 128

0 0 2 26 168 254 62

(55)

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner diketahui bahwa jawaban yang diberikan

responden dapat dikatakan setuju dengan dengan pernyataan yang diajukan mengenai

company characteristic. Hal tersebut ditunjukan dengan besarnya total skor yang berada

pada skor 6 dengan jumlah sebesar 254 jawaban. Kondisi tersebut menunjukan bahwa

responden percaya terhadap perusahaan yang memproduksi minuman Frestea , responden

yakin pada kejujuran perusahaan minuman frestea tersebut tidak akan menipu konsumen,

perusahaan minuman Frestea member perhatian lebih terhadap para konsumennya, dan

responden yakin terhadap minuman Frestea yang dipilih.

4.2.2.3. Deskripsi Variabel Consumer Brand Characteristics (X3)

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan kepada para responden

yang berjumlah 128 orang diperoleh jawaban sebagai berikut :

Tabel 4.6. Hasil J awaban untuk Pertanyaan Consumer Brand Characteristic (X3)

No Pertanyaan Skor Jawaban Total

1 2 3 4 5 6 7

1 Minuman frestea memiliki kesamaan

merek dengan emosi konsumen

sehingga timbul hubungan emosional

antara merek dengan konsumen

0 0 1 13 63 43 8 128

2 Minuman Frestea merupakan merek

favorit anda

0 0 0 11 27 72 18 128

3 Anda merasa bahwa minuman Frestea

sesuai dengan kepribadian anda

0 0 2 14 71 38 5 128

0 0 3 38 161 151 31

Gambar

Tabel 1.1  Top Brand Index Award
Gambar 2.1
Gambar 3.1 : Contoh Model Pengukuran Faktor Brand Characteristics
Tabel 3.1 Goodness of Fit Indies
+7

Referensi

Dokumen terkait

Universitas

Peranan brand image produk dalam membangun ekuitas untuk meningkatkan minat beli konsumen pada produk teh siap minum dalam kemasan merek Walini, maka

Untuk memgetahui pengaruh secara persial variabel brand characteristic , company caracteristic dan consumer-brand caracteristic terhadap brand loyalty pada konsumen sabun

PujidansyukurpenulispanjatkankehadiratTuhan Yang MahaEsa, karenaberkatkasihdankarunia-Nya, yang

Herawati, 2011“ Pengaruh Brand Characteristic, Company Characteristic, Consumer Brand Characteristic terhadap Brand Loyalty Melalui Trust in A Brand Teh dalam KemasanMerek

Ditinjau dari tiap-tiap variabel, yang memengaruhi loyalitas merek produk Teh Botol Sosro menunjukkan bahwa variabel consumer-brand characteristic memberikan pengaruh yang

Dari hasil penelitian uji Cochran yang telah dilakukan pada ketiga produk tersebut menyimpulkan bahwa NU Green Tea merupakan minuman teh hijau dalam kemasan siap

Salah satu konsep terpenting dalam kondisi tingkat persaingan yang sangat ketat dengan tingkat pertumbuhan yang rendah adalah dengan menjaga dan memperhatikan