Profil kemampuan siswa SMP Negeri Enam Yogyakarta kelas VIII B tahun ajaran 2013 2014 dalam menyelesaikan soal TIMSS

198 

Teks penuh

(1)

PROFIL KEMAMPUAN SISWA SMP NEGERI ENAM

YOGYAKARTA KELAS VIII B TAHUN AJARAN 2013/2014

DALAM MENYELESAIKAN SOAL

TIMSS

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

dalam Ilmu Pendidikan Matematika

Oleh :

Georgius Rocki Agasi

101414009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

PROFIL KEMAMPUAN SISWA SMP NEGERI ENAM

YOGYAKARTA KELAS VIII B TAHUN AJARAN 2013/2014

DALAM MENYELESAIKAN SOAL

TIMSS

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

dalam Ilmu Pendidikan Matematika

Oleh :

Georgius Rocki Agasi

101414009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini saya persembahkan untuk :

1. Tuhan Yesus Kristus

2. Kedua Orang tuaku :

Yohanes Sisworo

Veronica Issri Surnir Harjanti, SE

3. Adikku :

Monica Mevi Sances 4. Seseorang spesial :

Vincentia Septi Puspitawati, S.Pd

5. Sahabat-sahabat saya : Kontrakan “Ijo” :

Benediktus Tommy wirawan, Ricky

Antonius Leohani, Anang Cahyono,

Yudhianto Tobias

Just Five Of Us :

Nael, Nia, Arsya, Yohan, Faiz, Hendra,

(6)

v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 9 Oktober 2014 Penulis

(7)

vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertandatangan dibaawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Georgius Rocki Agasi

No. Mahasiswa : 101414009

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

PROFIL KEMAMPUAN SISWA SMP NEGERI ENAM YOGYAKARTA

KELAS VIII B TAHUN AJARAN 2013/2014 DALAM MENYELESAIKAN

SOAL TIMSS

Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, menditribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royaliti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Dengan demikian, pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal 9 Oktober 2014 Yang menyatakan

(8)

vii

ABSTRAK

Georgius Rocki Agasi (101414009). “PROFIL KEMAMPUAN SISWA SMP NEGERI ENAM YOGYAKARTA KELAS VIII B TAHUN AJARAN

2013/2014 DALAM MENYELESAIKAN SOAL TIMSS. Skripsi Jurusan

Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan

dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Agustus 2014.

Kemampuan penalaran (reasoning) sangat diperlukan dalam pembelajaran matematika karena penalaran merupakan dasar dari matematika itu sendiri.TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) adalah salah satu studi internasional untuk mengevaluasi pendidikan khusus untuk hasil belajar peserta didik yang memuat aspek penalaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan dan cara berpikir siswa SMP dalam mengerjakan soal-soal TIMSS

tipe penalaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan subyek penelitian siswa-siswa kelas VIII B SMP Negeri 6 Yogyakarta dengan jumlah 35 siswa. Pada penelitian ini, jumlah soal yang harus diselesaikan ada 13 nomor yang terdiri dari 10 soal pilihan ganda dan 3 soal esai yang diambil dari TIMSS grade 4 dan grade 8 dalam waktu 60 menit. Hasil penelitian menunjukkan 77 % siswa mengalami kesulitan dalam pengerjaan soal-soal penalaran yang membutuhkan pemahaman lebih terhadap maksud soal. Dalam penelitian ini, ada berbagai variasi cara berpikir siswa dalam mengerjakan soal-soal TIMSS seperti banyaknya bentuk penyelesaian dalam pengerjaan bebrapa nomor. Beberapa siswa yang masih mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah pada soal-soal

TIMSS masih sulit diungkap cara berpikirnya.

(9)

viii ABSTRACT

Georgius Rocki Agasi (101414009). " STUDENT SKILLS PROFILE SMP

YOGYAKARTA STATE SIX CLASS VIII B 2013/2014 ACADEMIC YEAR

IN RESOLVING PROBLEMS TIMSS ". Thesis Department of Mathematics

and Natural Sciences, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata

Dharma University, August 2014.

Reasoning ability (reasoning) is needed in the study of mathematics as the basis of mathematical reasoning itself. TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) is one of the international study to evaluate the special education student learning outcomes that contain aspects of reasoning. This study aims to determine the ability and way of thinking in the junior high school students working on the TIMSS type reasoning. This research is a descriptive qualitative research subjects students of class VIII B of SMP Negeri 6 Yogyakarta by the number of 35 students. In this study, the number of questions that must be resolved there are 13 numbers that consist of 10 multiple choice questions and three essays taken from the TIMSS grade 4 and grade 8 within 60 minutes. The results showed 77 % of students having difficulty in the execution of reasoning problems that require a comprehensive understanding of the intent question. In this study, there are many variations in the way of thinking of students working on the TIMSS as many forms of settlement in workmanship and keeping numbers. Some students are still having difficulties in solving the problems TIMSS still difficult to disclose his way of thinking .

(10)

ix

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis penjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena berkat rahmat kasih karuniaNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “PROFIL KEMAMPUAN SISWA SMP NEGERI ENAM YOGYAKARTA KELAS VIII B TAHUN AJARAN 2013/2014 DALAM

MENYELESAIKAN SOAL TIMSSdengan baik dan lancar.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapat nasehat, dukungan, bimbingan, dan motivasi yang penulis dapatkan dalam penyususnan skripsi ini. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Sanata Dharma.

2. Dr. M. Andy Rudhito, S.Pd. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma, dan dosen pembimbing, yang telah membimbing, memberikan pengarahan kepada penulis dengan sabar dan memberikan nasehat serta saran yang berguna dalam penyusunan skripsi ini sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.

3. Para dosen dan staf sekretariat Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang telah memberkan bantuan kepada penulis.

4. Bu Retna Wuryaningsih, S.Pd selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 6 Yogyakarta yang telah mengijinkan untuk melakukan penelitian.

5. Bu Berta Nurwidyastuti, S.Pd. selaku guru Bidang Studi Matematika SMP Negeri 6 Yogyakarta yang telah membantu dalam memberikan saran-saran selama peneliti melakukan penelitian.

6. Siswa-siswi kelas VIII B SMP Negeri 6 Yogyakarta atas partisipasi dan kerja samanya selama melaksanakan penelitian.

(11)

x

8. Pipin, Tommy, Ricky, Anang, Yudhi, Yohan, Faiz, Hendra, Nael, Nia, Arsya, Pak Sutrisno dan semua sahabat-sahabatku yang telah memberi semangat, penghiburan, saran, nasihat dan doa kepada penulis.

9. Teman-teman Pendidikan Matematika angkatan 2010 yang telah mendukung serta membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 10.Semua pihak yang telah berperan dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan pada penyusunan skripsi ini, oleh sebab itu penulis dengan terbuka menerima saran dan kritik dari pembaca. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi pembaca.

Yogyakarta, 9 Oktober 2014

(12)

xi

DAFTAR ISI

Hal

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iii

F. Penjelasan Istilah (Pembatasan Masalah) ... 7

G. Manfaat Penelitian ... 8

BAB II :KAJIAN PUSTAKA A. Hal-hal teoritik dan informasi mendasar terkait dengan masalah yang diteliti 1. Hakikat Belajar ... 9

2. Hakikat Belajar Matematika ... 12

(13)

xii

4. Penalaran Matematika ... 17

a. Penalaran Induktif ... 18

b. Penalaaran Deduktif ... 19

5. TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) . 21 6. Deskripsi SMP Negeri 6 Yogyakarta ... 22

B. Kerangka Berpikir ... 23

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 25

B. Subyek Penelitian ... 25

C. Objek Penelitian ... 25

D. Bentuk data ... 26

E. Metode dan Instrumen Pengumpul Data ... 26

1. Metode Pengumpulan Data ... 26

2. Instrumen Pengumpul Data ... 27

F. Komposisi Soal TIMSS ... 33

G. Metode/ Teknik Analisis Data ... 35

H. Prosedur Pelaksanaan Penelitian secara keseluruhan ... 35

I. Penjadwalan Waktu ... 36

BAB IV : ANALISIS DATA PENELITIAN A. Pelaksaan Penelitian ... 37

B. Penyajian Data ... 40

1. Data Tes Tertulis ... 40

2. Data Wawancara ... 41

C. Analisis Data ... 42

1. Analisis DataPengamatan ... 42

2. Analisis Hasil Tes Tertulis ... 42

3. Analisis Hasil Wawancara ... 47

BAB V : PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Pembahasan ... 51

(14)

xiii

A. Kesimpulan ... 81

B. Saran ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 84

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Hal

Tabel 4.1 : Rincian Kegiatan Pelaksanaan Penelitian ... 39

Tabel 4.2 : Penilaian Tes TIMSS ... 40

Tabel 4.3 : Kategori Kemampuan Siswa ... 41

Tabel 4.4 : Hasil Tes Tertulis ... 42

Tabel 4.5 : Prosentase Hasil Pengerjaan Siswa ... 44

Tabel 4.6 : Skor Rata-rata Kemampuan Siswa... 46

(16)

xv

Gambar 5.10 : Pengerjaan ssiwa yang benar pada nomor B.3 ... 60

Gambar 5.11 : Pengerjaan siswa yang salah pada nomor B.3 ... 60

Gambar 5.12 : Pengerjaan siswa yang salah pada nomor B.3 ... 61

Gambar 5.13 : Pengerjaan siswa yang salah nomor A.1 ... 62

Gambar 5.14 : Pengerjaan siswa yang benar pada nomor A.1 ... 63

Gambar 5.15 : Pengerjaan siswa yang benar pada nomor A.3 ... 65

Gambar 5.16 : Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A.3 ... 65

Gambar 5.17 : Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A.4 ... 67

Gambar 5.18 : Pengerjaan siswa yang benar pada nomor A.4 ... 67

Gambar 5.19 : Pengerjaan siswa yang benar pada nomor A.7 ... 69

Gambar 5.20 : Pengerjaan siswa yang benar pada nomor A.7 ... 70

Gambar 5.21 : Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A.7 ... 71

Gambar 5.22 : Pengerjaan siswa yang benar pad a nomor A.8 ... 72

Gambar 5.23 : Pengerjaan siswa yang benar pada nomor A.8 ... 73

Gambar 5.24 : Pengerjaan siswa yang benar pada nomor A.8 ... 74

Gambar 5.25 : Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A.8 ... 75

Gambar 5.26 : Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A.8 ... 76

Gambar 5.27 : Pengerjaan siswa yang benar pada nomor B.2 ... 77

(17)

xvi

LAMPIRAN

Hal

DAFTAR LAMPIRAN A

1. Lampiran A.1 Penilaian Hasil Tes TIMSS... 86

2. Lampiran A.2 Pembagian Kelompok Wawancara ... 88

DAFTAR LAMPIRAN B 1. Lampiran B.1 Soal Tes TIMSS ... 89

2. Lampiran B.2 Kunci Jawaban Soal TIMSS ... 103

3. Lampiran B.3 Soal TIMSS tipe reasoning yang asli ... 105

DAFTAR LAMPIRAN C 1. Lampiran C.1 Daftar Nilai UTS Semester 1 Kelas VIII B ... 118

2. Lampiran C.2 Daftar Nilai UAS Semester 1 Kelas VIII B ... 120

3. Lampiran C.3 Daftar Nilai UAS Semester 2 Kelas VIII B ... 122

4. Lampiran C.4 Transkrip Wawancara dengan Siswa ... 124

DAFTAR LAMPIRAN D 1. Lampiran D.1 Surat Izin Penelitian dari Dinas Perizinan ... 178

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Matematika adalah ilmu pengetahuan yang dipelajari sejak dahulu hingga sekarang ini. Mata pelajaran matematika adalah mata pelajaran wajib yang ada disekolah dan ada di dalam tingkatan apapun. Hal ini disebabkan matematika mendasari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang terjadi di dunia.

Sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin kompleks dan banyak macamnya, maka masalah-masalah kehidupan itupun muncul semakin kompleks pula. Perkembangan zaman menuntut kita untuk berkompetisi dalam memenuhi segala kebutuhan hidup. Untuk itu kita harus mencetak manusia yang berkualitas dengan jalan meningkatkan mutu pendidikan sejak dini.

Perkembangan proses berpikir pada manusia sangat erat hubungannya dengan matematika, begitupun perkembangan konsep-konsep lain dalam disiplin ilmu lain, sangat terkait dengan perkembangan matematika. Oleh sebab itu tidak heran jika sekarang sedang diupayakan untuk perkembangan pembelajaran matematika dan ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan. Sebuah upaya menjadikan matematika menyenangkandan dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga banyak metode pembelajaran yang dikembangkan oleh ahli pendidikan matematika.

(19)

teknologi sekarang ini yang merubah dunia semakin canggih dan praktis dalam segala kehidupan adalah sumbangan ilmu matematika. Namun selama ini masih banyak orang yang menganggap bahwa matematika tidak lebih dari sekedar berhitung dan bermain rumus dan angka-angka. Bahkan banyak siswa menanyakan dimana matematika akan dipakai? Pertanyaan seperti ini mengindikasikan kekurangpahaman siswa akan manfaat matematika dalam kehidupan.

Tujuan pembelajaran matematika di Indonesia termuat dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006. Permendiknas tersebut tertulis mata pelajaran matematikan tingkat SMP/MTs matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antara konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah.

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, Melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. 3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami

masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. 5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam

kehidupan, yaitu memiliki keingintahuan, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

(20)

Sumarmo (2003) menyatakan bahwa kemampuan pemahaman matematis penting dimiliki siswa. Hal ini dikarenakan kemampuan itu diperlukan untuk menyelesaikan masalah matematis, masalah dalam disiplin ilmu yang lain, dan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang merupakan visi pengembangan pembelajaran matematika untuk memenuhi kebutuhan masa kini.

Alfeld (dalam Asmar,2011) menyatakan bahwa siswa dapat memahami matematika jika dia mampu menjelaskan konsep-konsep matematika dalam bentuk yang lebih sederhana. Selanjutnya dapat dengan mudah membuat koneksi antara fakta dan konsep yang berbeda dan dapat mengenali keterkaitan antara konsep baru dengan konsep sebelumnya yang sudah dipahamai.

Kemampuan penalaran matematis pun mempunyai peranan vital dalam matematika, selain juga kemampuan pemahaman.Darmayanti (2010:2) menyatakan bahwa “ dalam klasifikasi bidang ilmu pengetahuan, matematika termasuk kedalam ilmu-ilmu eksakta yang lebih banyak memerlukan pemahaman dan penalaran daripada hapalan. “Adapun tujuan umum pembelajaran matematika yang dirumuskan NCTM (2000) yaitu belajar untuk bernalar, belajar untuk menyelesaikan masalah, belajar untuk mengaitkan ide, dan pembentukan sikap positif terhadap matematika. NCTM (dalam Asmida,2010) merekomendasikan bahwa tujuan pembelajaran pada kelas 6-8 adalah agar siswa dapat:

1. Menguji pola dan struktur untuk mendeteksi keteraturan

2. Merumuskan generalisasi dan konjektur hasil observasi keteraturan 3. Mengevaluasi konjektur

4. Membuat dan mengevaluasi argumen matematika.

(21)

Penalaran dapat diartikan secara umum sebagai proses berpikir dalam penarikan kesimpulan (Permana dan Sumarmo, 2007). Penalaran secara matematis dapat diartikan sebagai proses penarikan kesimpulan yang berdasarkan pada data, pola dan argumen logis yang sudah dibuktikan kebenarannya. Penalaran secara matematis sangatlah dibutuhkan dalam proses pembuktian dalam matematika.

Kemampuan yang dinyatakan tersebut diharapkan dapat dimiliki oleh setiap siswa, tetapi pada kenyataannya belum sepenuhnya para siswa memiliki kemampuan pemahaman dan penalaran matematis yang baik. Hal ini bisa dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh Sumarmo (dalam Sukirwan 2010: 4) yang menyatakan bahwa skor kemampuan siswa dalam pemahaman dan penalaran masih rendah. Hal ini juga terlihat pada prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika.

Berdasarkan Trends in International Mathemathic and Science Study (TIMSS) tahun 2011 dalam matematika menempatkan siswa kelas VIII Indonesia pada peringkat 38 dari 63 negara dan 14 negara bagian yang disurvei (Kompas, 14 desember 2012). Beberapa aspek yang dinilai dalam matematika adalah tentang fakta, prosedur, konsep, penerapan pengetahuan dan pemahaman konsep. Pada tahun 2007 TIMSS

mengungkap bahwa 17% ( dari sampel yang diambil) anak Indonesia yang dapat menjawab soal penalaran matematika Armiati (2010). Kemudian berdasarkan hasil tes Programme for International Student Assessment (PISA) 2009 tentang matematika menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 61 dari 65 negara (OECD, 2010). Beberapa aspek yang dinilai adalah kemampuan pemecahan masalah, kemampuan penalaran dan kemampuan komunikasi.

(22)

Selain secara umum kemampuan pemahaman dan penalaran siswa Indonesia masih rendah, didalam kelas kemampuan akademik siswa pun heterogen. Ruseffendi (2006) mengemukakan bahwa perbedaan kemampuan yang dimiliki siswa bukan semata-mata bawaan lahir, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkunga sekitar. Pada konteks pembelajaran di dalam kelas artinya kemampuan siswa terbentuk dari hasil proses pembelajaran.

Selain hal-hal yang disebutkan tadi, penguasaan siswa terhadap suatu topik matematika tertentu menuntut penguasaan siswa pada topik matematika sebelumnya. Hal itu terkait dengan pemerolehan pengetahuan baru yang sangat ditentukan oleh pengetahuan awal (prior knowledge)

siswa, apabila pengetahuan siswa pada awal itu baik maka akan berakibat pada perolehan pengetahuan yang baik juga. Hal tersebut sesuai dengan teori kontruktivisme yang berpandangan bahwa belajar merupakan kegiatan membangun pengetahuan yang dilakukan oleh siswa itu sendiri berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Salah satu prediksi terbaik untuk hasil belajar matematika adalah hasil belajar matematika sebelumnya (Darhim, 2004).

Berdasarkan masalah diatas maka penelitian ini pun akan melihat apakah benar pemahaman siswa akan soal-soal matematika yang berasal dari TIMSS masih rendah dan soal-soal seperti apakah yang cukup membuat sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam pengerjaannya, lalu apakah yang menjadi permasalahan sebenarnya ketika siswa SMP kelas VIII mengalami kesulitan dalam pengerjaannya.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, dapat diidentifikasi masalah antara lain sebagai berikut :

1. Kemampuan matematika siswa Indonesia masih rendah.

(23)

3. Siswa belum optimal menggunakan kemampuan penalaranya dalam menyelesaikan soal/ masalah non rutin.

4. Lemahnya proses pembelajaran di dunia pendidikan di Indonesia. 5. Pembelajaran yang terjadi selama ini berpusat pada aktifitas guru dan

tidak berorientasi pada siswa.

6. Pembelajaran bermakna yang diharapkan dapat mengembangkan daya nalar dan sikap siswa terhadap matematika ternyata sering terabaikan. 7. Penerapan pendekatan pembelajaran matematika yang dilakukan guru

selama ini belum dapat meningkatkan kemampuan penalaran matematika siswa dan belum dapat membentuk sikap siswa yang positif terhadap matematika (penggunaan sistem pembelajaran yang kurang tepat).

C. Rumusan Masalah

Masalah yang akan diteliti dan dicari jawabannya hanyaberfokus pada kemampuan penalaran matematika siswa SMP kelas VIII terhadap soal dari TIMSS. Secara rinci rumusan masalah penelitian ini adalah :

1. Apakah benar siswa kelas VIII B SMP Negeri 6 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 masih rendah dalam pengerjaan soal-soal TIMSS ? 2. Seberapa tingkat kemampuan penalaran siswa kelas VIII B SMP

Negeri 6 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 dalam mengerjakan soal-soal TIMSS ?

3. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan siswa kelas VIII B SMP Negeri 6 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 tidak dapat mengerjakan soal-soal TIMSS secara maksimal ?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah :

(24)

2. Melihat seberapa tingkat penalaran siswa kelas VIII B SMP Negeri 6 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 dalam mencapai hasil pengerjaan soal-soal TIMSS.

3. Mencari penyebab mengapa siswa kelas VIII SMP kurang bisa maksimal dalam menyelesaikan soal-soal non rutin terutama yang membutuhkan penalaran. Apakah disebabkan karena soal yang tidak pernah diajarkan, atau kemampuan penalaran siswa SMP kelas VIII memang rendah ataukah tingkat kesulitan soalnya dirasa terlalu tinggi untuk siswa Indonesia, Ataukah karena guru tidak pernah memberi siswa soal-soal yang berhubungan dengan penalaran.

E. Pembatasan Masalah

Didasari banyaknya masalah yang teridentifikasi danterbatasnya kemampuan peneliti, maka perlu pembatasan dalam penelitian ini :

1. Penggunaan soal TIMSS yang berfokus pada soal bertipe penalaran (Reasoning).

2. Soal TIMSS yang digunakan diambil dari soal TIMSS grade 4 dan 8. Tahun 2003.

3. Objek dalam penelitian ini adalah siswa SMP kelas VIII B SMP Negeri 6 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014.

F. Penjelasan Istilah (Pembatasan Masalah)

Supaya tidak terjadi kesalahpahaman mengenai variabel penelitian yang akan digunakan maka perlu dijelaskan beberapa istilah sebagai berikut :

(25)

peserta didik Indonesia di bidang matematika dan sainberdasar pada

benchmark Internasional.

2. Kemampuan penalaran siswa adalah salah satu kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika dengan menggunakan indikator-indikator sebagai berikut:

a. Menarik kesimpulan yang logis

b. Menggunakan penjelasan dengan menggunakan model, fakta, sifat-sifat, dan hubungan

c. Menemukan pola pada suatu gejala matematika d. Menarik analogi untuk menanalisis situasi matematika e. Menarik generalisasi untuk menganalisis situasi matematika

G. Manfaat Penelitian

Manfaat dilaksanakannya penelitian ini adalah :

1. Bagi guru, dengan dikerjakannya soal-soal TIMSS oleh siswa kelas VIII maka akan dapat diketahui pembelajaran seperti apakah yang untuk SMP di Yogyakarta khususnya SMPN 6 Yogyakarta.

2. Bagi siswa, dengan mengerjakan soal-soal non rutin seperti yang ada pada soal TIMSS secara tidak langsung dapat meningkatkan kemampuan penalaran siswa kelas VIII B SMPN 6 Yogyakarta itu sendiri dalam menyelesaikan soal-soal non rutin yang terdapat dalam

TIMSS.

(26)

9

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Hal-hal teoritik dan informasi mendasar terkait dengan masalah yang

diteliti

1. Hakikat Belajar

Dalam keseluruhan proses pendidikan disekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan dalam pendidikan ini banyak sedikitnyabergantung pada proses belajar yang dirasakan oleh siswa sebagai anak didik. Belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya pun juga akan berkembang. Semua katifitas dan prestasi yang didapat selama kita hidup adalah hasil dari belajar. Kita pun hidup menurut hidup dan bekerja menurut apa yang telah kita pelajari selama ini.

Slameto (dalam Rosnawati, 2013) mengemukakan bahwa Pandangan seseorang tentang belajar akan mempengaruhi tindakan-tindakan seseorang itu yang berhubungan dengan belajardan setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda tentang belajar. Dalam teori Gestalt yang dikemukakakn oleh Koffka dan Kohler, dalam belajar yang terpenting adalah adanya penyesuaian pertama yaitu memperoleh respon yang tepat untuk memperoleh respon yang tepat untuk memecahkan problem yang dihadapi. Belajar yang terpenting bukanlah mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight, yaitu suatu saat dalam proses belajar dimana seseorang melihat pengertian tentang sangkut paut dan hubungan-hubungan tertentu dalam unsur yang mengendung suatu problem.

(27)

1. Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku.

2. Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari intruksi.

Menurut teori belajar W.S. Winkel, belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas. Sedangkan (Iska Zikri N, 2006) mengemukakan bahwa belajar adalah proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu, terjadi dalam jangka waktu tertentu. Perubahan yang terjadi harus secara relatif bersifat menetap (permanen) dan tidak hanya terjadi pada perilaku saat ini terlihat

(immediate behavior), tetap perilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang (potential behavior). Oleh karena itu, perubahan-perubahan terjadi karena pengalaman.

Chaplin dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam rumusan, yaitu:

Rumusan pertama berbunyi; “... acquistion of any relatively permanent change in behavior as a resultof practice and

experience”. Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan keduanya Process of acquiring responses as a result of special practice, belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus (Muhibbin Syah, 2008).

(28)

proses belajar. Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali baik sifat maupun jenisnya. Oleh karena itu, tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar. Perubahan tingkah laku seseorang yang berada dalam keadaan mabuk, perubahan yang terjadi dalam aspek-aspek kematangan, pertumbuhan dan perkembangan tidak termasuk perubahan pengertian belajar.

(Slameto, 2003) Mengemukakan perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1. Perubahan terjadi secara sadar

2. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional 3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif

4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara 5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah 6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.

Secara umum belajar dapat dipahami sebagi suatu proses memperoleh pengetahuan melalui latihan-latihan dan pengalaman guna pembentukan perubahan tingkah laku yang relatif menetap dengan cara atau usaha yang berbeda dalam pencapaiannya. Belajar itu bukan sekedar pengalaman. Belajar adalah suatu proses dan bukan suatu hasil. Karena itu, belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan.

(29)

sikap manifestasi dari minat, motivasi, kecemasan, apresiasi perasaan, penyesuaian diri, bakat dan sebagainya. Sedangkan aspek psikomotorik adalah aspek yang mencakup gerakan sederhana sampai kompleks. Semua aspek-aspek tersebut tidak berdiri sendiri melainkan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

2. Hakikat Belajar Matematika

Matematika merupakan satu dari sekian banyak pelajaran yang tercakup dalam kurikulum sekolah dan bahkan penekanan pada anak untuk berhasil dalam matematika lebih besar dari pelajaran lainnya. Matematika merupakan pelajaran disekolah yang dipandang penting untuk dipelajari siswa di semua tingkat pendidikan. Tidak ada keraguan dan pasti setiap orang pada umumnya sepakat bahwa setiap anak harus mendapatkan pelajaran matematika disekolah dan kenyataannya memang demikian, karena pelajaran matematika dipandang seseorang sebagai pelajaran yang esensial.

Seiring dengan berkembangnya ilmu matematika sebagai ilmu pengetahuan, muncullah berbagai pendapat tentang pengertian matematika tersebut yang dipandang dari pengetahuan dan pengalaman masing-masing yang berbeda. Courant dan Robin mengatakan bahwa untuk dapat mengetahui apa matematika itu, yaitu dengan mempelajari, mengakaji dan mengerjakannya. Termasuk pengkajian sejauh timbulnya matematika dan perkembangannya (Suherman et all, 2003).

Istilah mathematics (Inggris), mathematik (Jerman), matemathique (Prancis), matematico (Itali), matematiceski (Rusia), atau mathematick/ wiskunde (Belanda) berasal dari perkataan lain mathematica, yang mulanya diambil dari perkataan Yunani, mathematike, yang berarti “relating to

(30)

mathematike berhubungan sangat erat dengan sebuah kata lainnya yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar (berpikir).

Menurut Russeffendi (dalam Adjie Nahrowi dkk, 2007), matematika sebagai ilmu deduktif, bahasa, seni, ratunya ilmu, ilmu tentang struktur yang terorganisasikan dan ilmu tentang pola dan hubungan. Sehubungan dengan itu, Soedjadi memberikanenam definisi atau pengertian tentang matematika, yaitu:

1. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir dengan baik

2. Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi 3. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan

berhubungan dengan bilangan

4. Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah ruang dan bentuk

5. Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik

6. Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat. Berikut adalah beberapa definisi para ahli mengenai matematika antara lain (Suwangsih erna dan Tiurlina, 2006):

1. James dan James, matematika adalah ilmu tentang logika, mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya.

2. Johnson dan Rising, matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logis, matematika adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat representasinya dengan simbol padat, lebih berupa bahsa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi.

(31)

4. Kline, matematika itu bukan pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan alam.

Dari definisi-definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang logis yang berhubungan dengan bilangan-bilangan serta menggunakan aturan-aturan tertentu dan dapatdigunakan sebagai bahasa yang melambangkan serangkaian makna yang memudahkan berpikir serta bersifat abstrak.

Tujuan mata pelajaran matematika disekolah adalah agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut (Wardhani Sri,2008):

1. Memahami konsep matematika

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat 3. Memecahkan masalah

4. Mengkomunikasikan gagasan

5. Memiliki sifat menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan Jerome Bruner dalam teorinya menyatakan bahwa “belajar matematika akan lebih berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur-struktur yang terbuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, disamping hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktur. Ini menunjukkan bahwa materi yang mempunyai suatu pola atau struktur tertentu akan lebih mudah dipahami dan diingat anak. Karena dengan mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam bahan yang sedang dibicarakan, anak akan memahami materi yang harus dikuasainya.

(32)

belajar melalui upaya memahami arti dan hubungan-hubungan antar konsep dan simbol-simbol yang terkandung dalam matematikasecara sistematik, cermat, tepat, kemudian menerapkan konsep-konsep tersebut dalam pemecahan masalah, dalam palajaran matematika maupun dalam kehidupan sehari-hari.

3. Pendekatan Pemecahan Masalah

Pendekatan pemacahan masalah berangkat dari masalah yang harus dipecahkan melalui praktikum atau pengamatan. Dalam setiap kegiatan manusia pada hakikatnya selalu berhadapan dengan masalah, baik masalah besar maupun kecil. Sesuatu akan menjadi masalah bagi seseorang atau kelompok apabila algoritma atau prosedur yang sudah tersedia dan mereka tidak tertantanguntuk menyelesaikannya. Suatu pertanyaan merupakan suatu permasalahan bila pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan prosedur rutin. Prosedur itu harus dicari dan menemukannya juga tidak mudah

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Lester (dalam Teguh, 2001) yang mengatakan bahwa masalah adalah “a situation in which individual or group is called to perform a task for which there is no ready accessible algorithm which determine completely the methods of

solution”. Sejalan dengan itu, Krulik dan Rudnick menyatakan bahwa

suatu masalah adalah “a situation quantitative or otherwise, that

confronts an individual or group of individuals, that requires resolutions, and for which the individual sees no apperent or obvious

means or parth to obtaining a solutions”. Menurut Grouws (dalam Wayan I Sudiana, 2005), masalah dalam matematika adalah segala sesuatu yang menghendaki untuk dikerjakan dan sebuah pertanyaan yang tidak dapat dijawab langsung (sukar).

(33)

dijawab dengan prosedur rutin dan siswa merasa tertantang untuk Pemecahan masalah dalam pengertian yang lebih sederhana dapat diartikan sebagai penyelesaian soal. Sedangkan pemecahan masalahdalam arti luas adalah penyelesaian yang tidak hanya membutuhkan pemahaman secara teoritik tetapi juga didasarkan pada pengamatan empirik. Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pengertian yang lebih luas dimulai dari menentukan masalah sampai pada langkah menarik kesimpulan.

Pemecahan masalah menurut Polya (dalam Teguh, 2000) adalah “to find out a way no ways is known off hand to find a way out of

difficulity, to find a way around an obstacles, to attain a desired end,

that is not immediately attainable by appropriate means”. Sejalan dengan itu, Mazano dkk menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah proses berpikir untuk mengaplikasikan pengetahuan.

Pada dasarnya belajar pemecahan masalah adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya adalah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas serta meningkatkan kemampuan berpikir tingkat siswa. Pemacahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sanagat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat non rutin.

Berbicara pemecahan masalah tidak bisa dilepaskan dari tokoh utamanya, yaitu George Polya, dalam pemecahan masalah terdapat empat langkahyang harus dilakukan (Suherman et all, 2003), yaitu: 1. Memahami masalah

2. Merencanakan pemecahannya

(34)

Selanjutnya Polya (Suwangsih Erna dan Tiurlina, 2006) memberikan empat petunjuk kepada guru agar dapat menumbuhkan perilaku siswa sebagai seorang yang mampu memecahkan masalah, yaitu:

1. Yakinkan bahwa siswa memahami permaslahan, sebab jika siswa tidak memahaminya maka minatnya akan hilang.

2. Bantulah siswa mengumpulkan bahan sebagai landasan berpikir untuk membuat rencana. Dalam hal ini guru hendaknya mengarahkan siswa untuk mengidentifikasi seluruh syarat yang diketahui untuk membangun informasi sebanyak-banyaknya. 3. Menciptakan iklim kondusif dalam pemecahan maslah.

4. Setelah mencapai solusi, beri semangat kepada siswa untuk merefleksikan masalah dan cara penyelesaiannya.

Dalam pemecahan masalah kadang kita terpaksa merenung memikirkan strategi yang akan dipilih atau beralih kepada strategi lain karena kegagalan yang dialami. Mengkaji ulang keberhasilan yang pernah dibuat atau mengkaji ulang kegagalan yang pernah dibuat.

4. Penalaran Matematika

Penyempurnaan, pengembangan dan inovasi pembelajaran matematika matematika melalui revisi kurikulum akan selalu dan akan terus dilaksanakan Depdiknas untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia. Salah satu kelebihan dari kurikulum terbaru ini adalah dengan masuknya pemecahan masalah, penalaran dan komunikasai sebagai kompetensi dasar lainnya yang sudah biasa.

Istilah penalaran sudah tidak asing lagi karena telah diuraikan sebelumnya pada standar isi sebagai terjemahan dari bahasa Inggris

(35)

kekuatan mental yang berkaitan dengan pembentukan kesimpulan dan panilaian). Jadi yang membedakan pelajar dengan orang yang bukan pelajar, mahasiswa dengan pemuda bukan mahasiswa adalah faktor penalarannya dan yang membedakan pelajar dengan pelajar lainnya adalah kadar kekuatan penalaran atau daya nalarnya. Ini ditentukan oleh individual power of reason (daya nalar individual) yang merupakan dasar yang paling menentukan dari kemampuan berpikir analitis dan sintesis (Munadi Yudhi, 2008).

Shurten dan Pierce (dalam Roslina dkk, 2007) mengemukakan bahwa penalaran sebagai proses pencapaian kesimpulan logis berdasarkan fakta dan sumber yang relevan. Penalaran menurut Fadjar Shadiq adalah suatu proses atau suatu aktifitas berpikir untuk menarik suatu kesimpulan atau proses berpikir dalam rangka membuat suatu pernyataan baru yang benar dan berdasar pada beberapa pernyataan yang kebenaranya telah dibuktikan atau diasumsikan sebelumnya. Depdiknas dalam Fadjar Shadiq mengungkapkan bahwa materi dan penalaran matematika merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Materi matematika dipahami melalui penalaran dan penalaran dipahami dan dilatihkan melalui belajar matematika.

Penalaran matematis penting untuk mengetahui dan mengerjakan matematika. Kemampuan untuk bernalar menjadikan siswa dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya, didalam atau diluar sekolah. Kapanpun kita menggunakan penalaran untuk memvalidasi pemikiran kita, maka kita meningkatkan rasa percaya diri dengan matematika dan berpikir secara matematis.Terdapat dua jenis penalaran, yaitu penalaran deduktif (deduksi) dan penalaran induktif (induksi) sebagai berikut:

a. Penalaran Induktif

(36)

pernyataan yang bersifat khusus (Adji Nahrowi, 2006). Menurut Johnson-Laird (dalam Robert J. Stenberg, 2008) penalaran induktif adalah proses penalaran dari fakta-fakta atau observasi-observasi spesifik untuk mencapai kesimpulan yang bisa menjelaskan fakta-fakta tersebut secara koheren.

Induksi merupakan suatu kegiatan, suatu proses atau suatu aktivitas berpikir untuk menarik suatu kesimpulan atau membuat suatu pernyataan baru yang bersifat umum berdasar pada beberapa pernyataan khusus yang diketahui benar. Jadi penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang berupa penarikan kesimpulann umum dari hal-hal yang khusus. Penalaran induktif dapat dilakukan dalam kegiatan nyata melalui suatu permainan atau melakukan sesuatu secara terbatas dengan mencoba-coba. Penalaran induktif terjadi ketika proses berpikir yang berusaha menghubung-hubungkan fakta-fakta khusus yang sudah diketahui menuju kepada suatu kesimpulan yang bersifat umum.

Penalaran Induktif pada prinsipnya menyelesaikan persoalan (masalah) matematika tanpa memakai rumus (dalil), melainkan dimulai dengan memperhatikan data/soal. Dari data/soal tersebut diproses sehingga berbentuk kerangka/ pola dasar tertentu yang kita cari sendiri sedemikian rupa sehingga kita dapat menarik kesimpulan (Adji Nahrowi, 2006).

b. Penalaran Deduktif

(37)

yang diketahui untuk mencapai satu kesimpulan logis tertentu (Robert J. Stenberg, 2008).

Dasar penalaran deduktif yang berperan dalam matematika adalah kebenaran suatu pernyataan haruslah didasarkan pada kebenaran pernyataan-pernyataan lain. Maksudnya, kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan matematika bersifat konsisten. Dalam penerapan deduktif, kita membutuhkan sebagai pengetahuan yang dapat mengantarkan kita dalam menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi, seperti ingatan, pemahaman dan penerapan sifat/ aturan/ teorema/ aksioma/ rumus/ dalil/ definisi/ hukum.

Siswa dikatakan mampu melakukan penalaran bila ia mampu menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. (Wardhani Sri, 2008) Dalam kaitan itu pada penjelasan teknis Peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas Nomor 506/C/Kep/PP/2004 tanggal 11 November 2004 tentang rapor pernah diuraikan bahwa indikator siswa memiliki kemampuan dalam penalaran adalah mampu:

1. Mengajukan dugaan

2. Melakukan manipulasi matematika

3. Menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti terhadap kebenaran solusi

4. Menarik kesimpulan dari pernyataan 5. Memeriksa kesahihan suatu argumen

(38)

5. TIMSS(Trends in International Mathematics and Science Study)

Salah satu studi internasional untuk mengevaluasi pendidikan khusus untuk hasil belajar peserta didik yang berusia 14 tahun pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) yang diikuti oleh Indonesia adalah Trends in International Mathematics and Science Study

(TIMSS). Keberadaan TIMSS adalah sebagai studi yang berlanjut dilakukan setiap empat tahun sekali dan merupakan rangkaian panjang dari studi yang dilakukan oleh International Association for the Evaluation of Educational Achievment (IEA), yaitu sebuah asosiasi international untuk menilai prestasi dalam pendidikan.

TIMSS dirancang untuk meneliti pengetahuan dan kemampuan matematika dan sain anak-anak berusia 14 tahun beserta informasi yang berasal dari peserta didik, guru, dan kepala sekolah. Salah satu tujuan keikutsertaan Indonesia di dalam studi ini adalah untuk mendapat informasi mengenai kemampuan peserta didik Indonesia di bidang matematika dan sain berdasar benckmark Internasional.

Untuk memberikan uraian bermakna mengenai arti kemampuan pada skala dalam kaitannya dengan pengetahuan dan kecakapan matematika para peserta didik, TIMSS menampilkan empat tingkat pada skala sebagai standar internasional. Empat tingkatan untuk merepresentasikan rentang kemampuan peserta didikberdasar

(39)

siswa Indonesia kelas delapan pada TIMSS 2011 khususnya pada kemampuan penalaran.

Dalam TIMSSassessment framework (Mullis, et al, 2009) disebutkan bahwa dimensi penilaian pada TIMSS meliputi dua dimensi, yaitu dimensi konten dan dimensi kognitif yang masing-masing terdiri dari beberapa domain. Untuk penilaian terhadap siswa SMP, dimensi konten matematika sejalan dengan kurikulum yaitu domain bilangan, pengukuran, geometri, aljabar, data dan perubahan. Sedangkan dimensi kognitif meliputi tiga domain, yaitu pengetahuan (knowing), penerapan (applying) dan penalaran (reasoning) dengan persentase masing-masing berturut-turut adalah 35%, 40%, dan 25%.

Soal yang disajikan dalam studi TIMSS pada domain penalaran merupakan soal-soal non-rutin dengan proporsi 25% yang menuntut

kemampuan siswa untuk menganalisa,

menggeneralisasi/menspesialisasi, dan memberi alasan dalam menyelesaikan soal-soal yang disajikan (Rosnawati, 2011). Untuk menyelesaikan soal-soal jenis ini, tentu saja dibutuhkan beberapa kecakapan matematis siswa, di antaranya adalah kecakapan penalaran (reasoning) dan komunikasi matematis (mathematical communication).

6. Deskripsi SMP N 6 Yogyakarta

SLTP 6 Yogyakarta terletak di Jl. R. WolterMonginsidi No. 1 Yogyakarta. Bangunan tersebut terbagi menjadi dua kategori yaitu bangunan lama (yang dibangun pada masa kolonial) dan bangunan baru. Sistem pendidikan di SMP N 6Yogyakarta merupakan satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan merupakan kegiatan yang berkaitan satu dengan yang lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan di SMP N 6Yogyakarta.

(40)

ini diterapkan oleh guru dengan cara mengadakan diskusi yang berpedoman pada guru (dibimbing oleh guru), siswa menguasai bahan dengan mencari sendiri, dan dengan adanya lembar pembagian kerja siswa dalam kegiatan pembelajaran. Tetapi semua kegiatan tersebut didampingi (dibimbing) oleh guru.

Kurikulum yang diterapkan di SMPN 6 Yogyakarta adalah menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai wujud dari kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah dibawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor. Departemen agama kabupaten/ kota untuk pendidikan dasar dan propinsi, pendidikan menengah berpedoman pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan seta panduan penyusunan kurikulam yang disusun oleh BSNP.

B. Kerangka Berpikir

Belajar tentunya para siswa mempunyai kendala atau problem yang berbeda-beda yang menjadi penghambat tercapainya tujuan belajar mengajar itu sendiri. Misalnya pada pelajaran matematika, banyak anak yang mengalami kesulitan dalam belajar matematika karena kebanyakan dari mereka bukan memahami konsep melainkan hanya menghafalnya. Kemungkinan penyebab kesulitan belajar matematika dapat dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor itu adalah bersumber dari siswa sendiri dan dari luar siswa. Faktor dari siswa adalah sikap, perkembangan kognitif, gaya kognitif, kemampuan dan jenis kelamin. Sedang dari luar diri siswa adalah pendekatan atau metode mengajar, materi matematika dan lingkungan sosial. Namun demikian, tentunya para siwa tersebut memiliki kemampuan yang membuat dirinya tetap bertahan.

(41)

siswa dalam belajar matematika yang juga merupakan masalah yang umum dimiliki siswa. Dalam hal ini tugas seorang guru adalah memberikan atau menawarkan suatu inovasi baru yakni pembelajaran yang dapat meningkatkan daya nalar matematika siswa.

Pendekatan pemecahan masalah adalah cara untuk mengatasi masalah tersebut karena dengan pendekatan pemecahan masalah dapat meningkatkan kemampuan penalaran siswa. Dengan kata lain, kemampuan penalaran siswa yang diberi soal-soal yang berhubungan dengan penalaran dan pemecahan masalah seperti yang ada pada TIMSS

akan dapat meningkatkan kemampuan siswa itu sendiri

(42)

25

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif yaitu jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur-prosedur statistic atau dengan cara kuantifikasi lainnya.

Penelitian deskriptif menurut Kenneth D. Bailey (dalam wibowo wahyu et all, 2013) adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu fenomena secara detil (untuk menggambarkan apa yang terjadi). Penelitian deskriptif bermaksud memberikan gambaran suatu gejala social tertentu, sudah ada informasi mengenai gejala sosial seperti yang dimaksudkan dalam suatu permasalahan penelitian namun belum memadai. Penelitian deskriptif dilakukan terhadap variable mandiri, yaitu tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variable yang lain.

B. Subjek Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah siswa SMP Negeri 6 Yogyakarta kelas VIII B. Pemilihan siswa kelas VIII dilakukan karena mengikuti tingkatan pada soal TIMSS yang mengacu pada siswa kelas IV dan Kelas VIII sehingga peneliti memefokuskan penelitian hanya pada siswa kelas VIII B yang ada pada SMP Negeri 6 Yogyakarta.

C. Objek Penelitian

(43)

rendah (berdasarkan hasil TIMSS). Dengan mengambil sampel yaitu kelas VIII B SMP Negeri 6 Yogyakarta dimana peringkat SMP Negeri 6 Yogyakarta termasuk dalam kategori rata-rata baik di Yogyakarata dan kelas VIII B tahu ajaran 2013/2014 merupakan siswa dengan kemampuan yang termasuk dalam rata-rata dibanding seluruh kelas VIII di SMP Negeri 6 Yogyakarta mampu mewakili kemampuan siswa secara umum.

D. Bentuk data

Data dalam penelitian ini ada satu macam bentuk data yaitu, Data kualitatif sebagai berikut:

1)Hasil observasi

Hasil yang digunakan untuk pemeilihan kelas yang tepat guna penelitian.

2)Hasil pengujian soal TIMSS

Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan soal yang akan di teskan dengan waktu yang disediakan.

3)Catatan Lapangan

Fungsi dari catatan lapangan adalah untuk melihat adanya hal-hal khusus yang didapat dari penelitian saat berlangsung. 4)Hasil wawancara

Wawancara dilakukan untuk melihat hal-hal yang masih belum terungkap terutama cara berpikir dari para siswa.

5)Hasil dokumentasi

Hasil dokumentasi berupa foto kegiatan Tes soal TIMSS 6)Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa, guru bidang studi dan peneliti.

E. Metode dan Instrumen Pengumpul Data

1. Metode Pengumpulan Data

(44)

a) Hasil observasi kelas

Data hasil observasi dalam penelitian ini adalah data hasil observasi pemilihan kelas kelas yang tepat yang akan digunakan untuk Tes

b) Hasil wawancara

Peneliti melakukan wawancara terhadap guru bidang studi pada proses persiapan untuk pemilihan kelas yang tepat sesuai tes yang akan diujikan. Selanjutnya tes yang akan digunakan yaitu kepada siswa yang menjalani tes itu sendiri dengan mewancarai secara langsung apa saja yang menjadi kesulitan dan alasan saat pengerjaan tes.

c) Hasil dokumentasi

Dokumentasi yang dimaksud adalah foto-foto yang diambil pada saat pengujian berlangsung

d) Nilai tes awal

Nilai test awal pada soal TIMSS diperoleh dari pengerjaan siswa saat menjalani pengujian kesesuain tes yang diberikan dengan waktu yang disediakan agar soal dan waktu bisa tepat. e) Nilai Tes Akhir

Nilai tes akhir diperoleh dari pengerjaan siswa saat menjalani tes yang berasal dari soal TIMSS dan telah disesuaikan dengan waktu yang dipersiapkan.

2. Instrument Pengumpulan Data

(45)

TES SOAL

SOAL

TIMSS

(Trends in International Mathemathic and Science Study)

Reasoning

Data Diri :

1. Nama Lengkap : 2. Nama Panggilan : 3. Sekolah :

4. Kelas :

5. Umur :

6. Jenis Kelamin : L / P (coret yang tidak perlu) 7. Tempat lahir :

8. Tanggal lahir : 9. Alamat : 10.No HP/Telp : 11.Email/ FB/ dll :

A.

PilihanGanda

Berilah tanda ( X ) pada jawaban dan berikan penjelasannya.

1. Manakahdarigambardibawahinimemilikiluasterbesar? a.

b.

c.

(46)

JelaskanJawabanmu :

2. Diketahuisebuah pola bilangan 100, 1, 99, 2, 98, ..., ..., ...

3. Grafikdi bawah ini menunjukkantinggiempatsiswaperempuan

(47)

Manakahpilihandibawahini yang paling cocoksetelahbangundiatasberubahposisi?

a. b. c. d.

JelaskanJawabanmu :

5. Satusentimeterpadapetadi bawah ini mewakili 8 kilometer daerah sebenarnya.

Berapakahjarakantara Oxford dan Smithville sebenarnya? a. 4 km

b. 16 km c. 35 km d. 50 km

JelaskanJawabanmu :

(48)

Dimanakah titik pusat rotasi (perputaran) di atas?

7. Gambar dibawah ini menunjukkan lingkaran dengan 24 bagian. Seseorang akan memutar panah tersebut dan panah akan berhenti di salah satu bagian.

1

8lingkaran adalah warna biru, 1

adalah merah. Jika seseorang memutar panah, pada warna bagian manakah yang paling mungkin untuk berhenti?

a. Biru b. Ungu c. Oranye d. Merah

JelaskanJawabanmu :

8. Batang korek api disusun seperti terlihat pada gambar

Jika pola di atas berlanjut. Berapa banyak jumlah batang korek api yang digunakan untuk membuat Gambar 10 ?

(49)

a. 30 b. 33 c. 36 d. 39 e. 42

JelaskanJawabanmu :

9. Di suatu sekolahada 1200 siswa (laki-lakidanperempuan). Dalam 100 siswayang dipilihsecaraacak, ternyata terdapat 45 anaklaki-laki. Berapakah kira-kirajumlahanaklaki-lakidisekolah tersebut?

a. 450 b. 500 c. 540 d. 600

JelaskanJawabanmu :

10.Sejumlah jeruk akan dikemasdalamsebuah kotakdenganpanjang 60 cm, lebar 36 cm, tinggi 24 cm. Jika rata-ratadiameter jeruk tersebut 6cm, berapakah kira-kira jumlahjeruk yang dapatdikemasdalamkotak itu ? a. 30

b. 240 c. 360 d. 1920

JelaskanJawabanmu:

B. Soal Esai

(50)

Kotak diatasmemilikiluas 1 sentimeterpersegi. Gambarkanruas-garisruas-garisuntukmenyelesaikangambarsehinggamemilikiluasmenjadi 13

sentimeterpersegi.

JelaskanJawabanmu :

2. Pada gambar, besar ∠POR is 110⁰, besar ∠QOS adalah 90⁰, dan besar ∠POS adalah 140⁰

Berapakah besar ∠QOR ?

JelaskanJawabanmu :

3. Klub komputer memiliki 40 anggota dan 60% dari anggota adalah perempuan. Kemudian, 10 anak laki-laki bergabung dengan klub, berapa persen anggota anak perempuan sekarang?

JelaskanJawabanmu :

F. Komposisi soal TIMSS

Dalam pemilihan soal TIMSS yang akan digunakan untuk penelitian diambil dari dua jenis soal yaitu grade 4 and grade 8 dengan komposisi sebagai berikut:

 Soal Pilihan Ganda

1. TIMSS (4th-Grade) Content Domain: Measurement (mudah) 2. TIMSS (4th-Grade) Content Domain:Patterns and Relationship

(mudah)

(51)

5. TIMSS (4th-Grade) Content Domain: Measurement (Sulit)

6. TIMSS (8th-Grade) Content Domain:Geometry (mudah) 7. TIMSS (4th-Grade) Content Domain:Data (mudah) 8. TIMSS (8th-Grade) Content Domain:Algebra (Sedang) 9. TIMSS (8th-Grade) Content Domain: Data (Sedang) 10.TIMSS (8th-Grade) Content Domain:Measurement (sulit)

 Soal Esai

1. TIMSS (4th-Grade) Content Domain:Measurement (mudah) 2. TIMSS (8th-Grade) Content Domain:Geometry (Sedang) 3. TIMSS (8th-Grade) Content Domain:Number (Sulit)

Adapun instrumen non tes dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pedoman observasi

Pedoman observasi digunakan untuk mengamati aktifitas siswa sebelum proses pengerjaan soal Tes.

2. Lembar catatan lapangan

Lembar catatan lapangan digunakan untuk mencatat semua hal yang dianggap penting yang terjadi selama proses tes berlangsung.

3. Pedoman wawancara

Kegiatan wawancara diajukan kepada guru dan siswa. Wawancara yang dilakukan diawal peneltian hanya ditujukan kepada guru agar mendapat kelas yang sesuai untuk kriteria objek yang diteliti. Selanjutnya penelitian dilakukan diakhir pengujian tes yang hanya ditujukan kepada siswa yang mengikuti tes untuk mengetahui alasan pengerjaan siswa yang mungkin belum terungkap pada lembar kerja siswa dan wawancara digunakan untuk mengungkap kesulitan yang terjadi dalam pengerjaan tes.

(52)

Lembar soal tes digunakan untuk melihat kemampuan siswa pada pengerjaan soal-soal yang berdasar pada penalaran dan juga untuk mencari jumlah soal yang tepat dengan waktu yang telah dipersiapkan sebelumnya.

5. Lembar soal Post-test

Lembar Post test digunakan untuk menguji kemampuan penalaran siswa. Lembar soal post test dibuat berdasarkan hasil evaluasi dari lembar soal pre test yang telah disesuaikan dengan waktu yang telah disiapkan.

G. Metode/ Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan unsur penting dalam penelitian. Sebelum dianalisis, peneliti memeriksa kembali kelengkapan data dari berbagai sumber. Setelah terkumpul, data direduksi dengan cara memilah, memilih, menggolongkanserta menyusun dalam satuan-satuan dan mengkategorikannya, kemudian diperiksa keabsahannya. Hasil analisis data akan memberikan gambaran yang jelas tentang hasil penelitian maupun proses pembelajaran dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif.

H. Prosedur Pelaksanaan Penelitian secara Keseluruhan

Adapun tahapan-tahapan dalam penelitian ini dideskripsikan sebagai berikut:

1. Tahap Pra penelitian

a. Meminta izin penelitian kepada kepala SMPN 6 Yogyakarta b. Observasi proses dan kemampuan siswa khususnya kemampuan

penalaran siswa

c. Melakukan wawancara dengan guru bidang studi d. Memilih kelas sebagai subjek penelitian

(53)

a. Mempersiapkan soal tes yang diambil dari soal TIMSS yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

b. Mempersiapkan lembar alasan pada nomor yang telah disediakan

3. Tahap Tindakan

a. Pengujian soal tes awal sebagai pengujian awal dan untuk memperkenalkan soal-soal penalaran serta sebagai penguji waktu yang tepat dalam pemilihan soal.

b. Mengevalusi jumlah soal Tes awal

c. Pengujian soal Post akhir yang telah disesuaikan dengan waktu yang telah dipersiapkan.

4. Tahap Wawancara

a. Mewawancarai siswa mengenai hasil pengujian yang telah mereka jawab dan bertanya tentang alasan yang belum terisikan atau pun alasan yang masih kurang tepat pada hasil pengerjaan siswa

5. Tahap Refleksi

a. Mengumpulkan data b. Mengecek keabsahannya c. Menganalisis data

I. Penjadwalan Waktu

(54)

37

BAB IV

ANALISIS DATA PENELITIAN

Analisis data penelitian meliputi : pelaksanaan penelitian dan hasil analisis data. Pelaksanaan penelitian data akan dipaparkan pada subbab A, sedangkan hasil analisis data akan dipaparkan pada subbab B yang meliputi, (i) analisis tes tertulis, (ii) analisis data wawancara.

A. PelaksanaanPenelitian

Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan beberapa persiapan, diantaranya pengurusan surat izin penelitian, observasi lingkungan sekolah dan wawancara dengan guru matematika, dan uji pakar tes kepada guru dan dosen pembimbing. Selain itu peneliti juga mempersiapkan instrument tes tertulis.

Penelitian ini dialaksanakan pada akhir bulan maret yaitu tanggal 25 sampai tanggal 31 Mei 2014 dengan subjek penelitian siswa kelas VIII-B SMP Negeri 6 Yogyakarta semester genap tahun ajaran 2013/2014.Adapun jumlah siswa kelas VIII-B adalah 35siswa. Guru yang mengampu mata pelajaran kelas VIII adalah Ibu Berta Nurwidyastuti, S.Pd.

Berikut ini adalah uraian saat persiapan penelitian di SMP Negeri 6 Yogyakarta :

a. Izin penelitian

(55)

penelitian dan jadwal wawancara. Kesepakatan dengan guru pengampu matematika, observasi dilakukan pada akhir maret dan kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan penelitian pada awal bulan April 2014. b. Observasi lingkungan dan wawancara dengan guru matematika

Observasi penelitian ini dilakukan pada Sabtu, 29 Maret 2014.Observasi dilakukan peneliti bertujuan untuk mengenal lebih dekat keadaan yang ada di sekolah serta melihat secara tidak langsung pembelajaran dikelas untuk mengetahui karakteristik siswa.Di dalam observasi, peneliti melakukan observasi kelas dan observasi lingkungan untuk memperlancar jalannya penelitian.

Observasi ini memperoleh data berupa jadwal pelajaran sekolah dan nilai UTS semester 1 dan 2 serta nilai UAS semester 1 kelas VIII-B.Selain itu juga observasi ini memperoleh data berupa jadwal pelajaran kelas VIII-B.Mata pelajaran matematika dijadwalkan setiap hari kamis pada jam ke-3-4, hari jumat jam ke-6dan hari sabtu jam ke-3-4.Peneliti juga memperoleh informasi (analisis siswa) bahwa kelas tersebut memiliki keampuan akademik yang cenderung standar sehingga kelas ini layak sebagai subjek penelitian. Daftar nilai UTS semester 1 dan 2 serta nilai UKK semester 2 disajikan dalam dalam lampiran C, yaitu sebagai berikut:

Daftar Nilai UTS Semester 1 Kelas VIII-B

(Terlampir pada Lampiran C) Daftar Nilai UAS Semester 1 Kelas VIII-B

(Terlampir pada Lampiran C)

Daftar Nilai UTS Semester 2 Kelas VIII-B

(Terlampir pada Lampiran C)

(56)

pada hasil UTS semester genap belum terjadi “pengkatrolan” nilai sehingga hasil siswa yang belum tuntas masih cukup banyak.

Pelaksanaan penelitian dilakukan pada satu kelas VIII.Pelaksanaan penelitian terdiri dari tes tertulis ini dilakukan di kelas VIII pada Sabtu,5 April 2014.Dengan 10 butir soal pilihan ganda dan 3 butir soal esai dalam waktu 60 menit serta dalam soal diberikan kolom alasan yang digunakan untuk mengetahui cara berpikir siswa dalam menentukan jawaban. Soal tes ini menggunakan validitas uji pakar baik guru matematika kelas VIII maupun dosen pembimbing.Tes tertulis ini dilakukan untuk mengetahui pengerjaan soal TIMSSmatematika yang diujikan kepada siswa SMP Negeri 6 Yogyakarta.Selain tes tertulis, dalam penelitian ini dilakukan wawancara yang dilakukan setelah mengetahui hasil tes tertulis.Wawancara dilaksanakan pada Kamis, 10 April 2014 sampai dengan Sabtu, 26 April 2014.Wawancara ini dilakukan terhadap beberapa siswa menurut hasil tes tertulis yang bertujuan untuk mengetahui mendalami profil kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal timss. Berikut tabel rincian penelitian:

Tabel 4.1

Rincian Kegiatan Pelaksanaan Penelitian

No Hari Tanggal Agenda Kegiatan Jumlah Siswa

(57)

analisis data. Proses analisis data dilaksanakan melalui beberapa langkah, yaitu transkripsi dan penentuan topik-topik data dari hasil tes tertulis dan wawancara kemudian penarikan kesimpulan.

1. Data Tes Tertulis

a. Transkripsi hasil tes tertulis

(Terlampir pada Lampiran C)

b. Penentuan topik data

Data hasil tes tertulis untuk mengukur kemampuan siswaa dilihat datri skor yang diperoleh siswa. Skor maksimum dan skor minimumnya sebagai berikut :

Tabel 4.2

Penilaian Tes TIMSS

No Soal Kriteria Penilaian Nilai per

nomor Hasil 2.Alasan kurang tepat :

(58)

Peneliti membagi 5 selang dengan 9 rentang . kategori kemampuan siswa ditentukan dalam tabel berikut:

Tabel 4.3

Kategori Kemampuan Siswa

Skor

Penilaian Kategori 90 – 100 Sangat Baik

80 – 89 Baik 70 – 79 Cukup 60 – 69 Kurang

< 59 Sangat kurang

Sumber: Modifikasi Suharsimi Arikunto(1999:245)

2. Data Wawancara

Setelah peneliti melihat hasil tes tertulis, maka dilakukan wawancara terhadap beberapa siswa. Wawancara dilakukan terhadap 23siswa yang dibagi berdasarkan kesalahan jawaban pada nomor yang dikerjakan dan cara berpikir siswa yang ada dalam kertas jawaban, setiap kelompok memiliki kriteria data yang berbeda. Pembagian kelompok pada wawancara ini dilakukan dengan kesengajaan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembagian wawancara salah satunya adalah ingin mengetahui cara berpikir yang ada dalam siswa sehingga mengetahui mengapa siswa bisa menjawab benar atau salah. Berikut tabel pembagian kelompok wawancara dengan 12 siswa:

Pembagian Kelompok Wawancara

(59)

C. Analisis Data

Data pengamatan dianalisis dengan mendeskripsikan hasil pengamatan.Data tes tertulis dianalisis dengan menghitung rata-rata, kemudian dialanisis dengan mendeskripskan jawaban siswa.Dalam tes tertulis setiap soal baik pilihan ganda ataupun esai terdapat kolom “jelaskan pendapatmu” untuk mengetahui cara pikir siswa apakah jawabannya mempunyai hubungan dengan jawaban atau tidak dan melihat bentuk kreatifitas siswa dalam mengerjakan soal-soal tersebut. Data wawancara dianalisis dengan langkah transkripsi, kemudian dideskripsikan untuk mengetahui bagaimana kemampuan dan cara berpikir siswa SMP dalam mengerjakan soal-soal TIMSS tipe penalaran.

1. Analisis Data Pengamatan

Analisis data pengamatan bertujuan untuk mengetahui jumlah siswa, dan informasi bahwa siswa kelas VIII-B SMP Negeri 6 Yogyakarta yang masing-masing berjumlah 35 siswa terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan dengan kemampuan rata-rata dari hasil UTS semester ganjil yaitu 75,64 lalu UAS semester genap 7,52 dan hasil mid semester genap yaitu 7,14. Selain itu, para siswa juga belum pernah mengerjakan soal-soal dari TIMSS.

2. Analisis Hasil Tes Tertulis

Setelah melakukan tes tertulis pada hari Sabtu, 5 April 2014 yang diikuti 33 siswa dan pada kamis, 10 April 2014 yang diikuti 2 siswa. Peneliti memeriksa hasil jawaban para siswa dan didapatkan hasil yang dapat dalam tabel4.10. Berikut rekapitulasi hasil tes tertulis:

Tabel 4.4

Hasil Tes Tertulis

No Siswa A.1 A.2 A.3 A.4 A.5 A.6 A.7 A.8 A.9 A.10 B.1 B.2 B.3

(60)

Figur

Gambar 1
Gambar 1 . View in document p.48
Tabel 4.1 Rincian Kegiatan Pelaksanaan Penelitian
Tabel 4 1 Rincian Kegiatan Pelaksanaan Penelitian . View in document p.56
Tabel 4.3 Kategori Kemampuan Siswa
Tabel 4 3 Kategori Kemampuan Siswa . View in document p.58
Tabel 4.5 Prosentase Hasil Pengerjaan siswa
Tabel 4 5 Prosentase Hasil Pengerjaan siswa . View in document p.61
Tabel 4.6 Skor Rata-Rata Kemampuan Siswa
Tabel 4 6 Skor Rata Rata Kemampuan Siswa . View in document p.63
Tabel 4.7
Tabel 4 7 . View in document p.64
Gambar 5.1 Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A.5
Gambar 5 1 Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A 5 . View in document p.69
Gambar 5.2Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A.5
Gambar 5 2Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A 5 . View in document p.70
Gambar 5.3 Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A.5
Gambar 5 3 Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A 5 . View in document p.71
Gambar 5.4 Pengerjaan siswa yang benar pada nomor A.5
Gambar 5 4 Pengerjaan siswa yang benar pada nomor A 5 . View in document p.72
Gambar 5.5 Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A.10
Gambar 5 5 Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A 10 . View in document p.73
Gambar 5.13Pengerjaan siswa yang salah nomor A.1
Gambar 5 13Pengerjaan siswa yang salah nomor A 1 . View in document p.79
Gambar 5.14Pengerjaan siswa yang benarpada nomor A.1
Gambar 5 14Pengerjaan siswa yang benarpada nomor A 1 . View in document p.80
Gambar 5.16Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A.3
Gambar 5 16Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A 3 . View in document p.82
Gambar 5.17.Dikarenakan mereka kurang teliti dalam membaca soal dan ada
Gambar 5 17 Dikarenakan mereka kurang teliti dalam membaca soal dan ada . View in document p.83
Gambar 5.17Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A.4
Gambar 5 17Pengerjaan siswa yang salah pada nomor A 4 . View in document p.84
Gambar 5.19Pengerjaan siswa yang benarpada nomor A.7
Gambar 5 19Pengerjaan siswa yang benarpada nomor A 7 . View in document p.86
Gambar 5.20Pengerjaan siswa yang benarpada nomor A.7
Gambar 5 20Pengerjaan siswa yang benarpada nomor A 7 . View in document p.87
Gambar 5.21Pengerjaan siswa yang salahpada nomor A.7
Gambar 5 21Pengerjaan siswa yang salahpada nomor A 7 . View in document p.88
Gambar 5.22Pengerjaan siswa yang benarpada nomor A.8
Gambar 5 22Pengerjaan siswa yang benarpada nomor A 8 . View in document p.89
Gambar 5.23 Contoh pengerjaan siswa yang benarpada nomor A.8
Gambar 5 23 Contoh pengerjaan siswa yang benarpada nomor A 8 . View in document p.90
Gambar 5.24Pengerjaan siswa yang benarpada nomor A.8
Gambar 5 24Pengerjaan siswa yang benarpada nomor A 8 . View in document p.91
Gambar 5.25Pengerjaan siswa yang salahpada nomor A.8
Gambar 5 25Pengerjaan siswa yang salahpada nomor A 8 . View in document p.92
Gambar 5.26Pengerjaan siswa yang salahpada nomor A.8
Gambar 5 26Pengerjaan siswa yang salahpada nomor A 8 . View in document p.93
Gambar 5.27Pengerjaan siswa yang benarpada nomor B.2
Gambar 5 27Pengerjaan siswa yang benarpada nomor B 2 . View in document p.94
Gambar 5.28Pengerjaan siswa yang salahpada nomor B.2
Gambar 5 28Pengerjaan siswa yang salahpada nomor B 2 . View in document p.95
Gambar 1  Gambar 2
Gambar 1 Gambar 2 . View in document p.116
Tabel 4.2
Tabel 4 2 . View in document p.139
gambar mas.”
gambar mas.” . View in document p.155
gambar 2 ada 9. Berarti kelipatan 3 mas, karena yang ditanyain
Berarti kelipatan 3 mas karena yang ditanyain . View in document p.157

Referensi

Memperbarui...