• Tidak ada hasil yang ditemukan

T1 712008031 BAB III

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "T1 712008031 BAB III"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

23

BAB III

HASIL PENELITIAN DAN ANALISA

3.1Gambaran Umum

Dalam bab ini, penulis akan menggambarkan hasil penelitian di GKS Jemaat Nggongi meliputi, (1) deskripsi umum GKS Jemaat Nggongi, (2) pemahaman Gereja dan Pelayan GKS tentang makna pendampingan pastoral bagi jemaat dan (3) pemahaman Gereja dan Pelayan GKS tentang penyelesaian konflik bagi Jemaat.

3.1.1 Sejarah Gereja

Gereja Kristen Sumba Nggongi berdiri pada tanggal 24 Oktober 1958. Gereja ini merupakan pemekaran dari Gereja GKS Kananggar. Pada mulanya Gereja GKS Nggongi merupakan pos PI dari Gereja GKS Kananggar. Pendeta K. Manudjawa dengan tekun mempersiapkan Nggongi untuk mekar dari Kananggar setelah Sinode GKS menyetujui pemekaran semua pos di Karera menjadi jemaat GKS Nggongi karena dilihat dari keadaan khas jemaat di Nggongi ini sudah dinilai mampu membayar gaji pendeta.

Pendeta pertama di jemaat GKS Nggongi adalah pendeta Ngguli Kemarak. Sampai saat ini Pendeta yang pernah melayani sebagai pimpinan jemaat di GKS Nggongi mencapai 7 orang Pendeta. Jemaat GKS Nggongi memiliki 6 cabang. Pendeta yang melayani sampai saat ini adalah Pendeta Pieter Mutu Romu, S.Th.

(2)

24

Komentar Peneliti : Gedung Gereja GKS Nggongi yang terletak desa Nggongi. Merupakan gereja yang memiliki warga jemaat terbanyak dari beberapa denominasi gereja yang ada di Ngonggi. Dengan jumlah warga jemaat yang banyak, justru pelayanan yang dilakukan oleh gereja kurang maksimal sehingga sebagian warganya pindah ke Gereja bebas Hosen, Gereja Bethel Indonesia, Gereja Bethel Taber Nakel, Gereja Sidang Jemaat Allah Lembah Damai dan Gereja Reformasi.

3.1.2 Letak Geografis

Gambar 3.1.b Peta Sumba Timur

Kabupaten Sumba Timur terletak di bagian selatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, diapit oleh dua pulau kecil di bagian selatan yang berpenghuni yaitu Pulau Salura dan Pulau Mangkudu. Bagian timur dengan Pulau Nuha (belum berpenghuni) yang secara administrasi pemerintahan masuk dalam wilayah Desa Kabaru Kecamatan Rindi. Disamping itu terdapat 98 pulau tidak berpenghuni dimana 97 pulau tersebut belum

(3)

25

Bujur Timur (BT) disebelah timur dan 9’ 16 – 10’ 20 Lintang Selatan (LS).1 Daerah paling selatan yakni Nggongi, kecamatan Karera tempat dimana peneliti melakukan penelitian. Dengan luas desa Nggongi 99,0 Km²2

a. Batas Wilayah

 Utara : dengan Gunung Wanggameti

 Selatan : dengan laut Indonesia

 Timur : dengan desa Tandula Jangga

 Barat : dengan desa Ananjaki

b. Iklim

Kabupaten Sumba Timur beriklim kering (Semi arid) yang dipengaruhi oleh angin muson. Musim penghujan sangat pendek dan terjadi antara bulan november sampai bulan maret, sedangkan musim Kemarau panjang dan kering terjadi pada bulan april sampai dengan bulan oktober. Tipe iklim daerah ini adalah tipe B sampai F (pembagian menurut Smidt dan Ferguson) dengan penyebaran paling luas adalah tipe iklim E (46,34%); F (27,37%); D (22,93%); B (2,30%) dan C (1,05%). Curah hujan berkisar antara 697 - 2.737 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata tiap tahun antara 44 sampai 61 hari. Suhu maksimum rata-rata 33,2°C dan suhu minimum rata-rata 21,7°C. Kelembaban nisbi terendah terjadi pada musim timur tenggara (63-76%) yaitu bulan juni sampai november dan kelembaban tertinggi pada musim barat daya (82-88%) yaitu bulan desember sampai bulan mei. Kecepatan angin rata-rata pada bulan nopember sampai april 03-05 knot dan angin musim timor tenggara terjadi

1

http://www. sumbaisland.com/budaya-picu-kemiskinan-di-sumba-timur. Sabtu 12 Agustus 2012, pukul 14.00

2

(4)

26

pada bulan mei sampai dengan oktober dengan kecepatan dapat mencapai 06-10 Knot (apabila ditunjang angin permukaan).

c. Penduduk

Penduduk Nggongi tidak lagi memiliki bentuk pemerintahan kerajaan, akan tetapi tingkat kepatuhan masyarakat terhadap rajanya masih cukup tinggi. Menurut sejarah, di daerah ini dahulu berdiri sebuah kerajaan bernama Kerajaan Karera. Jumlah Penduduk Nggongi adalah ± 7.000 jiwa. Laki-laki berjumlah ± 3000 orang sedangkan perempuan berjumlah ± 4000 orang. Masyarakat Nggongi masih memiliki strata sosial yang sangat tinggi. Rata-rata penduduknya berpendidikan maksimal SD. Bahasa sehari-hari yang digunakan yaitu bahasa Sumba. Di Nggongi terdapat beberapa denominasi Gereja lain, antara lain: Gereja bebas Hosen, Gereja Bethel Indonesia, Gereja Bethel Taber Nakel, Gereja Sidang Jemaat Allah Lembah Damai dan Gereja Reformasi.

d. Keadaan Jemaat GKS Nggongi

Jumlah Jemaat

Berdasarkan data jemaat yang ditulis oleh sekretaris Gereja, tercatat bahwa GKS Nggongi mempunyai 1 Pendeta, 1 vicaris, 105 Majelis jemaat (73 penatua dan 32 diaken) dan 2 Guru injil, memiliki 6 cabang, 2 Pos PI serta seratus tujuh puluh sembilan (179 KK) Kepala Keluarga3. Jumlah jemaat GKS Nggongi ialah 2000 jiwa, dengan memiliki 770 KK.

Keadaan Ekonomi

Melalui wawancara dengan salah satu anggota Gereja GKS Nggongi bapak ketua RT STA, diketahui perekonomian masyarakat atau jemaat yang ada di GKS

3

(5)

27

Nggongi dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya. Mata pencaharian jemaat GKS Nggongi pada umumnya adalah bertani baik di ladang, kebun maupun di sawah. Selain bertani sebagian jemaat juga berternak dan sedangkan yang lain terdiri dari nelayan, wiraswasta, guru SD maupun SMP, Pegawai, dan tenaga Medis. Dengan keadaan alam yang baik membuat jemaat bisa bertahan disaat musim paceklik.

Keadaan Sosial Budaya

Jemaat GKS Nggongi adalah jemaat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan kekerabatan. Selain itu juga strata sosial antara golongan raja dan golongan hamba masih sangat terasa. Sehingga dalam menjalani suatu hubungan dalam kemasyarakatan ada jarak antara golongan raja dan golongan hamba. Akan tetapi karena keadaan sosial jemaat GKS Nggongi merupakan bagian dari masyarakat Sumba yang hidup secara teratur dan bersatu didalam suatu kelompok, sehingga setiap anggotanya saling mengenal satu dengan yang lain, saling mendukung dan menolong. Dapat disimpulkan bahwa keadaan sosial budaya jemaat GKS Nggongi yang masih menjunjung tinggi nilai budaya dan kekerabatan, tidaklah menjadi suatu masalah yang menghambat pelayanan Gereja, sebaliknya nilai-nilai budaya itu menjadi motivasi bagi pelayanan Gereja untuk mempersatukan umat sebagai tubuh Kristus.

3.2Faktor-faktor yang menyebabkan warga jemaat GKS Nggongi pindah Gereja.

3.2.1 Warga jemaat yang pindah karena ketidakpuasan terhadap pelayanan

a. Kasus Bapak YL

(6)

28

adalah untuk memenuhi kebutuhannya terhadap pelayanan terutama pemberkatan nikah dan baptisan. YL mengatakan mengatakan dalam penjelasannya :

“...Majelis jemaat GKS Nggongi menolak untuk melakukan pemberkatan nikah dan

baptisan dengan alasan urusan adat/belisnya belum selesai, sedangkan saya sangat memiliki kerinduan membawa keluarga saya untuk dimateraikan dalam sebuah pernikahan dan juga anak-anak kami dimateraikan menjadi milik Kristus dalam sebuah baptisan. Ketika pihak Gereja menolak, saya sangat kecewa dan sakit hati. Saya menahan diri untuk tidak hadir dalam persekutuan di jemaat GKS selama enam bulan. Selama enam bulan itupun Gereja tidak datang mengunjungi saya untuk memberikan jalan keluar kepada saya dan juga istri. Saya sangat kecewa karena itu saya bersama istri akhirnya memutuskan untuk pindah ke Gereja GBI Kahembi pada bulan November 2011. 4

Setelah mewawancarai YL peneliti mendapatkan informasi nama-nama dari jemaat lain yang juga pindah menyusul setelah YL pindah.

b. Kasus bapak HB

Hari berikutnya peneliti mewawancarai HB yang juga merupakan jemaat yang pindah ke GBI Kahambi. HB mengatakan perasaannya sebagai berikut:

“....Saya merasa sangat kecewa saat saya sakit dirumah tidak ada satu orang majelis

jemaatpun yang datang untuk mendoakan saya, sedangkan saat pendeta dari GBI mendengar saya sakit beliau langsung datang untuk mendoakan saya. Sedangkan waktu itu saya masih menjadi anggota jemaat GKS. Mengapa pendeta dari Gereja lain datang mendoakan dan peduli dengan saya tapi pendeta dari Gereja asal saya tidak datang untuk mendoakan saya. Saya menahan diri selama sembilan bulan dari persekutuan dengan jemaat. Dan selama itu juga Gereja tidak melakukan pendekatan kepada saya dan istri untuk menyelesaikan masalah tersebut. Saya rasa lebih baik, saya dan keluarga pindah saja ke GBI dari pada saya harus bertahan di GKS.5

c. Kasus Bapak BN

Wawancara dilakukan kepada bapak BN. Beliau mengungkap-kan alasan dan penyebab ia memilih untuk pindah ke GBT. Dalam penjelasannya beliau mengungkapkan :

“...Saya merasa selama bergereja di GKS iman saya tidak tumbuh dan juga GKS terlalu

terikat dengan aturan tata Gereja sehingga terkesan sangat kaku, alasan lainnya karena ketika ada permasalahan yang terjadi di jemaat, GKS sangat lamban dalam melakukan penanganan serta ketika saya minta Gereja untuk menghadiri dan memimpin ibadah syukuran karena anak saya yang ketiga lulus dari teologia GBT, majelis jemaat tidak hadir. Saya kecewa karena saya merasa pelayanan Gereja pilih kasih. Saya menahan diri dari peresekutuan dengan jemaat dan selama menahan diripun tidak ada perkunjungan ataupun pendekatan yang dilakukan oleh Gereja agar dapat menyelesaikan masalah yang

4

Wawancara, Rabu 5 september 2012, pukul 14.00 di rumah

5

(7)

29

ada. Melihat tidak ada tanggapan dari Gereja, saya bersama istri memutuskan untuk pindah ke GBT. Setelah pindah baru adanya pendekatan dalam bentuk tim yang di lakukan oleh GKS kepada saya. Bagi saya kedatangan tim dari GKS sudah terlambat karena saya sudah merasa nyaman dan iman saya pun tumbuh saat menjadi bagian dari jemaat GBT. Saya sudah menemukan apa yang selama ini saya cari.6

d. Kasus Ibu EH

Wawancara kepada ibu EH salah satu warga jemaat yang pindah ke GBT. Ibu E H mengatakan alasan yang mendasar sehingga beliau pindah ke GBT :

“...Saat saya datang kepada Gereja GKS untuk minta dilakukan pemberkatan nikah

permintaan itu di tolak oleh Gereja dengan alasan karena calon suami saya masih berstatus suami orang. Menurut saya tidak ada salahnya ketika saya ingin di berkati dalam sebuah pernikahan karena istri calon suami sudah menyetujui hubungan kami. Saya kecewa GKS terlalu terpaku pada tata aturan Gereja sehingga saya tidak di beri kesempatan untuk membawa keluarga saya di hadapan Tuhan untuk dimateraikan. Saya tidak pernah merasa ada pendekatan yang di lakukan oleh GKS saat saya mengalami masalah ini. Saya merasa seperti domba yang kehilangan arah tanpa dicari dan dilindungi. Saya memutuskan untuk pindak ke GBT dan melakukan pemberkatan nikah di Gereja tersebut.7

e. Kasus Bapak EN

Peneliti mewawancarai Bapak EN yang juga telah pidah ke GBT. Bapak EN menjelaskan:

“...Keputusan untuk pindak ke GBT bermula saat saya mencalonkan diri menjadi anggota majelis jemaat. Dan melalui rapat dewan lengkap saya telah mendapat persetujuan untuk menjadi calon majelis jemaat, pada saat yang sama sebelum nama-nama calon majelis jemaat di umumkan, saya bertikai dengan ayah saya, melihat hal itu Gereja melakukan mediasi antara saya dengan sang ayah, namun hal itu belum mendapat titik terang untuk berdamai karena saat itu kami masih dalam suasana yang sangat tidak memungkinkan untuk berdamai. Ayah saya tidak mempermasalahkan pencalonan saya sebagai majelis jemaat karena masalah yang ada antara kami berdua adalah masalah pribadi dan tidak ada sangkut paut dengan pencalonan saya sebagai majelis jemaat.Yang buat saya sangat sakit hati majelis jemaat langsung mencopot nama saya saya tanpa pemberitahuan seolah-olah saya difonis bersalah. Dan setelah itu mereka tidak datang berkunjung untuk memberikan penjelasan kepada saya mengapa nama saya di copot. Yang tragisnya lagi majelis jemaat mengangkat salah seorang jemaat untuk menggantikan saya dengan alasan mengisi kekosongan, sedangkan jemaat tersebut tidak tidak mengikuti prosedur pencalonan. Saya merasa majelis jemaat sudah menyimpang dari tata aturan Gereja tentang pencalonan majelis jemaat. Saya bersama istri memutuskan untuk pindah ke GBT.8

f. Kasus Bapak R K

(8)

30

Pada hari berikutnya peneliti melakukan wawancara terhadap R K. Dalam wawancara yang dilakukan, R K menjelaskan bahwa :

“...Saat saya meminta kepada Gereja GKS untuk memberkati anak saya dalam sebuah

pemberkatan nikah, Gereja menolak dengan alasan urusan adat/ belis belum selesai sehingga Gereja tidak dapat melakukan pemberkatan. Saya juga merasa tidak mendapatkan keadilan oleh pihak Gereja karena anak saya yang belum menikah mengapa saya yang harus dikenakan siasat (tidak boleh ikut perjamuan kudus)?. Saya sangat kecewa dengan cara Gereja yang seperti ini. Akhirnya saya menulis surat kepada Gereja bahwa saya mengundurkan diri dari jemaat, saya pindah ke Gereja lain. Surat saya itu sudah di bawa ke rapat dewan lengkap tapi tidak ada respon dari Gereja untuk mengidahkan permohonan saya itu. Saya merasa saya sudah pantas untuk pindah karena saya sudah menulis surat, di respon atau tidak sudah tidak menjadi urusan saya lagi. Bersama 10 kepala keluarga yang semuanya adalah keluarga saya, memutuskan untuk pindah ke GBT. Tidak ada paksaan kepada mereka untuk bergabung bersama saya di GBT akan tetapi niat dari hati mereka sendiri dan karena kekecewaan mereka terhadap pelayanan yang dilakukan oleh Gereja serta lambannya penanganan serta penyelesaian masalah oleh Gereja. Dan setelah kami telah menjadi bagian GBT barulah tim yang di bentuk oleh GKS yang telah di bahas dalam dewan lengkap datang dan mengunjungi kami. Akan tetapi keputusan kami sudah bulat sehingga kami tidak ingin kembali lagi ke GKS.9

Analisa

Dari seluruh hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap informan kunci, dapat dikatakan bahwa terjadi perpindahan warga jemaat GKS Nggongi ke gereja lain, hal tersebut disebabkan karena adanya peraturan dari GKS Nggongi yang menyatakan, warga jemaat tidak dapat mengikuti acara pemberkatan nikah di gereja jika dalam kehidupan sosialnya belum melakukan upacara pernikahan adat (belis). Pada umumnya pemberkatan nikah di gereja dapat di lakukan terlebih dahulu sebelum pelaksanaan pernikahan adat. Berdasarkan peraturan yang di buat oleh GKS Nggongi, maka hal tersebut juga berimbas pada anak-anak dari keluarga tersebut sehingga tidak bisa mendapatkan sakramen Baptisan Kudus, seperti contoh kasus pada bapak YL :

“...Majelis jemaat GKS Nggongi menolak untuk melakukan pemberkatan nikah dan baptisan

dengan alasan urusan adat/belisnya belum selesai, sedangkan saya sangat memiliki kerinduan membawa keluarga saya untuk dimateraikan dalam sebuah pernikahan dan juga anak-anak kami dimateraikan menjadi milik Kristus dalam sebuah baptisan. Ketika pihak Gereja menolak, saya sangat kecewa dan sakit hati. Saya menahan diri untuk tidak hadir dalam persekutuan di jemaat GKS selama enam bulan. Selama enam bulan itupun Gereja tidak

9

(9)

31

datang mengunjungi saya untuk memberikan jalan keluar kepada saya dan juga istri. Saya sangat kecewa karena itu saya bersama istri akhirnya memutuskan untuk pindah ke Gereja GBI Kahembi pada bulan November 2011. 10

Peraturan tersebut yang menyebabkan terjadinya konflik antara pihak gereja dan jemaat yang bersangkutan, sehingga berujung pada perpindahan warga jemaat ke gereja lain dengan alasan tidak mendapatkan kepuasan pelayanan dari GKS Nggongi. Selain itu juga kurang pekanya gereja terhadap masalah yang dialami oleh warga jemaat contohnya kasus bapak HB yang mengeluh karna tidak mendapatkan perhatian dari GKS Nggongi ketika beliau dalam keadan sakit sedangkan dari Gereja GBI datang berkunjung dan mendoakannya. Berdasarkan kasus diatas dapat dilihat bahwa para pelayan tidak memahami fungsi pastoral yang merupakan upaya untuk mencari dan mengunjungi anggota jemaat terutama yang sedang bergumul dengan persoalan-persoalan yang menghimpitnya dan pelayanan ditujukan kepada mereka yang mengalami pergumulan hidup.11

Berdasarkan konflik yang terjadi dalam Gereja GKS Nggongi maka kasus ini sangat mendukung teori yang katakan oleh Samiyono bahwa jika konfilk tidak dikelola dengan baik maka akan menyebabkan terjadinya hal yang negatif12. Di antaranya pertama, kerugian berupa material dan spiritual. Bila di kaitkan dengan keadaan di lapangan maka terlihat jelas bahwa konflik yang ada dalam tubuh jemaat GKS Nggongi menimbulkan kerugian berupa material dengan berkurangnya persembahan yang masuk dalam setiap ibadah minggu dan juga kerugian berupa spritual yang mana banyak jemaat menjadikan konflik tersebut sebagai sebuah alasan untuk tidak mengikuti ibadah dan bersekutu bersama dengan jemaat lainnya.

10

Wawancara, Rabu 5 september 2012, pukul 14.00 di rumah

11

Ibid.

12

(10)

32

Kedua, menggangu harmoni sosial. Bila dikaitkan dengan keadaan di jemaat GKS Nggongi maka dengan adanya konflik yang terjadidalam tubuh jemaat dapat mempengaruhi harmoni sosial yang selama ini terjalin dengan baik menjadi terpecah. Jemaat yang berkonflik tidak lagi begitu bersimpati dengan kehidupan jemaat lainnya dan terkesan saling menyalahkan satu dengan yang lain, merasa diri paling benar, dan mempengaruhi orang lain untuk mengikuti keputusan yang di anggap benar olehnya (jemaat yang pindah).

Ketiga, terjadi perpecahan kelompok. Bila dikaitkan dengan keadaan di jemaat GKS Nggongi sangat jelas terlihat perpecahan yang terjadidalam kehidupan jemaat GKS Nggongi. Jemaat tidak lagi bersatu membangun persekutuan yang indah akan tetapi masing-masing jemaat mencari jalan yang menurut mereka benar dan lebih menumbuhkan iman mereka dari pada tetap berkumpul bersama dalam persekutuan di jemaat GKS Nggongi.

(11)

33

Usaha yang dilakukan oleh pihak gereja ini dilakukan hanya semata-mata untuk menjalankan tugas gereja. Contoh kasus seperti yang terjadi kepada bapak EN :

“...Keputusan untuk pindah ke GBT bermula saat saya mencalonkan diri menjadi anggota majelis jemaat. Dan melalui rapat dewan lengkap saya telah mendapat persetujuan untuk menjadi calon majelis jemaat, pada saat yang sama sebelum nama-nama calon majelis jemaat di umumkan, saya bertikai dengan ayah saya, melihat hal itu Gereja melakukan mediasi antara saya dengan sang ayah, namun hal itu belum mendapat titik terang untuk berdamai karena saat itu kami masih dalam suasana yang sangat tidak memungkinkan untuk berdamai. Ayah saya tidak mempermasalahkan pencalonan saya sebagai majelis jemaat karena masalah yang ada antara kami berdua adalah masalah pribadi dan tidak ada sangkut paut dengan pencalonan saya sebagai majelis jemaat.Yang buat saya sangat sakit hati majelis jemaat langsung mencopot nama saya saya tanpa pemberitahuan seolah-olah saya divonis bersalah. Dan setelah itu mereka tidak datang berkunjung untuk memberikan penjelasan kepada saya mengapa nama saya di copot. Yang tragisnya lagi majelis jemaat mengangkat salah seorang jemaat untuk menggantikan saya dengan alasan mengisi kekosongan, sedangkan jemaat tersebut tidak tidak mengikuti prosedur pencalonan. Saya merasa sudah majelis jemaat sudah menyimpang dari tata aturan Gereja tentang pencalonan majelis jemaat. Saya bersama istri memutuskan untuk pindah ke GBT.13

Melihat usaha yang dilakukan oleh pihak gereja dalam penyelesaian konfik seperti kasus yang dialami oleh bapak EN, maka usaha gereja tersebut termasuk dalam salah satu dari kelima strategi penyelesaian realita konflik yang di usulkan oleh Pruitt dan Rubin yaitu contending (pertandingan) yaitu mencoba menerapkan solusi yang lebih disukai oleh satu pihak atas pihak lain. Strategi tersebut meliputi segala macam usaha untuk menyelesaikan konflik sesuai dengan kemauan sendiri tanpa mempedulikan kepentingan pihak lain14. Dari strategi pertandingan tersebut tidak dapat menyelesaikan konflik yang terjadi, karena itu peneliti merekomendasikan salah satu dari lima stategi tersebut yaitu problem solving (pemecahan masalah). Hal tersebut didasarkan pada pendapat peneliti bahwa mengunakan strategi pemecahan masalah kedua pihak yang berkonflik dapat mencari alternatif yang memuaskan kedua belah pihak dan berusaha mempertahankan aspirasinya sendiri, tetapi sekaligus berusaha mendapatkan cara untuk melakukan rekonsiliasi dengan pihak lain dan mencari solusi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Dengan demikian masalah

13

Wawancara, Jumat 7 september 2012, pukul 16.00 di rumah

14

(12)

34

yang terjadi di jemaat GKS Nggongi dapat diselesaikan dengan baik tanpa merugikan salah satu pihak.

Bila dikaitkan dengan data dan analisa diatas maka Gembala jemaat maupun majelis jemaat rupanya mampu menjadi mediator yang baik, sehingga menjadi penangah bagi warga jemaat yang memiliki konflik. Terutama konflik antara warga jemaat dengan tata aturan Gereja dan juga adat istiadat yang berlaku, sehingga pihak-pihak berkonfik menemukan penyelesaian yang mereka sepakati sejak dini. Hal ini sebetulnya sesuai dengan langkah-langkah yang diungkapkan oleh Pruit dan Rubin mengenai mengenai penyelesaian realita konflik.

Perlu juga di pahami bahwa untuk menyelesaikan konflik yang ada, gereja tidak hanya mampu menjadi mediator akan tetapi gereja dapat menjadi penyembuh dan juga dapat memulihkan relasi yang telah rusak akibat konflik tersebut. Oleh karena itu perlu ada pemahaman tentang pendampingan dalam relasi antara satu dengan yang lainnya. Seorang gembala atau majelis dan orang-orang yang terlibat dalam pendampingan pastoral harus belajar agama dengan baik, dalam hal ini Kristen, sebagaimana agama itu berfungsi didalam dan melalui orang-orang yang terlibat dalam pendampingan pastoral itu dalam relasinya satu sama lain.15

Dapat dikatakan bahwa setiap konflik yang ada dalam tubuh jemaat dapat di selesaikan baik sehingga konflik yang ada tidak menjadi pemecah dalam persekutuan jemaat akan tetapi dengan konflik yang ada dapat menolong, misalnya memberi pelajaran, perasaan memiliki tujuan bersama, dan pertumbuhan ke arah hubungan yang lebih baik. Melalui proses tawar menawar, konflik dapat membantu terciptanya tatanan baru dalam interaksi sosial sesuai dengan kesepakatan bersama. Apabila konflik dapat dikelola dengan baik sampai batas tertentu dapat juga dipakai sebagai

15Ibid,

(13)

35

alat perekat kehidupan bermasyarakat.16 Untuk itu, maka konflik bukanlah suatu hal yang harus di hindari akan tetapi diselesaikan bersama agar mencapai pertumbuhan ke arah yang lebih baik.

3.3Warga jemaat pindah gereja karena faktor konflik internal dan masalah sosial

ekonomi.

Faktor-faktor yang menyebabkan warga jemaat pindah gereja antara lain faktor konflik internal dan masalah ekonomi. Seperti yang dijelaskan oleh bapak MM yang mengatakan bahwa:

“...yang menjadi faktor penyebab jemaat pindah Gereja ialah ketidakpuasan warga jemaat terhadap

pelayanan yang di lakukan oleh Gereja. Oleh karena itu, banyak jemaat yang pindah dan mencari pelayanan yang menurut mereka dapat menumbuhkan iman mereka. Selaku pelayan kami melakukan pendekatan kepada mereka, akan tetapi jika keputusan mereka sudah bulat untuk pindah maka kami (Gereja) tidak dapat melakukan apa-apa. Harus diakui memang bahwa setiap konflik yang terjadidalam kehidupan warga jemaat selalu menjadi pemicu perpindahan jemaat ini terjadi. Baik konflik yang terjadi antara warga jemaat dengan keluarga maupun konflik antara jemaat dengan pelayan.17

Demikian halnya dengan bapak AMM setuju dengan bapak MM yang mengatakan bahwa:

“...adanya perpindahan jemaat yang terjadi didasari oleh dua faktor yakni Pertama kekecewaan warga jemaat terhadap pelayanan yang dilakukan oleh gembala sidang. Karena setelah saya menanyakan kepada beberapa warga baik yang pindah maupun yang tidak pindah mengatakan bahwa mereka (warga jemaat) kecewa dan sakit hati dengan pelayanan yang lakukan oleh gembala sidang (pendeta), yang sebenarnya gembala adalah tempat mencurahkan rasa saat mereka mengalami pergumulan dan persoalan hidup, akan tetapi hal itu tidak mereka temukan. Dan kedua

adalah faktor ekonomi, yang mana keadaan ekonomi di jemaat nggongi sangat lemah. Sehingga ketika ada tawaran-tawaran dan janji-janji yang di berikan oleh Gereja lain, mereka tergiur dan akhirnya pindah Gereja. faktor yang tidak kalah penting adalah tingkat pemahaman warga jemaat terhadap arti dari kekristenan masih sangat minim dan pemahaman tentang kepercayaan yang mereka percayai itu masih sangat lemah sehingga dengan mudah warga jemaat itu memilih untuk pindah Gereja. Pehamaham warga jemaat bahwa semua Gereja itu sama saja sehingga mereka tidak menyesal dan merasa takut saat mereka memilih untuk pidah ke denominasi Gereja lain. 18

Bapak NMA mendukung pernyataan bapak A M M menjelaskan bahwa :

16

Agus Surata dan Tuhana Taufiq Andrianto, Atasi Konflik Etnis, (Yogyakarta : Global Pustaka Utama, 2001) hal 1

17

Wawancara, Selasa 11 september 2012, pukul 10:00 di rumah

18

(14)

36

“...yang menjadi faktor penyebab jemaat pindah Gereja ialah faktor ekonomi. Jemaat kami

memiliki tingkat pendapatan yang cukup rendah sehingga ketika ada masalah dan mereka mendapatkan janji-janji dari denominasi Gereja lain, mereka langsung tergiur dan pindah. Jika ada masalah antar angota keluarga maka mereka menjadikan Gereja sebagai sasaran. Mereka tidak lagi mau bergereja dengan alasan mereka tidak damai sejahtera saat orang yang bermasalah itu hadir juga dalam Gereja. Dan hal yang tidak kalah pentingnya yakni adanya kekurang kompakan dalam tubuh majelis jemaat dalam melakukan pelayanan serta penanganan masalah. Hal ini juga membuat warga jemaat merasa tidak di perhatikan dan memilih untuk mencari Gereja lain. 19

Sama halnya juga dengan bapak MM dan bapak AMM, bapak APM yang mengatakan bahwa:

“...Yang menjadi faktor penyebab warga jemaat kami pidah Gereja adalah adanya kesalah

pahaman antara warga jemaat dengan pelayanan yang di lakukan oleh Gereja. Dalam artian saat Gereja terlambat merespon permasalahan yang terjadidalam hidup warga jemaat maka jemaat langsung memilih untuk mencari Gereja lain yang menurut mereka mampu menjawab dengan cepat masalah yang mereka hadapi. Faktor lain, adanya masalah pribadi diantara keluarga warga jemaat yang imbasnya kepada Gereja. Permasalahan yang ada dalam keluarga di sangkut pautkan dengan Gereja, sehingga ketika ada masalah antara anggota keluarga maka Gerejalah yang harus bertanggung jawab. Jika Gereja tidak menyelesaikan masalah mereka maka mereka langsung memilih untuk pindah ke Gereja lain.20

Bapak NRD setuju dengan pernyataan beberapa penatua diatas, mengatakan bahwa :

“...Yang menjadi alasan warga jemaat pindah Gereja ialah kekecewaan terhadap pelayanan kami

yang kurang maksimal. Akan tetapi menurut saya yang sebenarnya warga jemaat tidak mengerti tata aturan Gereja sehingga ketika mereka minta dilakukan pemberkatan nikah, baptisan terhadap keluarga dan anak mereka dan di tolak oleh kami selaku pekerja Gereja, mereka langsung marah dan menahan diri untuk tidak bersekutu lagi bahkan ada juga yang langsung pindah. Mereka tidak menerima kalau kami tidak dapat melakukan pemberkatan dan baptisan kalau mereka belum memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Karena hal inilah maka banyak dari warga jemaat kami yang pindah dan tidak mau kembali lagi sampai kami menyetujui untuk melakukan pemberkatan nikah. Sebanarnya ini sangat salah ketika mereka menuntut demikian karena mereka saja tidak bisa menaati peraturan Gereja yang sudah ada.21

Berbeda dengan beberapa Penatua diatas ibu Diaken MUH menjelaskan bahwa : “...Yang menjadi alasan warga jemaat saya pindah Gereja yaitu karena masalah keluarga yang di

hadapi oleh jemaat tersebut dan akhirnya berimbas ke gerja dan kebetulan warga tersebut merupakan salah seorang dari calon majelis yang akan di pilih oleh warga jemaat khususnya cabang Lalindi. Warga jemaat tersebut memiliki masalah dengan ayahnya dan ketika kami pergi untuk menyelesaikan masalah tersebut, agar mereka berdamai tapi tidak ada niat dari kedua belah pihak yang bertikai untuk berdamai. Dan saat itu juga warga ini tidak bisa menjadi calon kalau masih terbelit dalam masalah tersebut maka majelis jemaat bersepakat untuk menggantikannya karena ada kekosongan pelayanan. Hal itu kami lakukan karena sesuai dengan tata aturan Gereja terhadap calon majelis jemaat. Dari masalah terbut akhirnya warga jemaat ini pindah Gereja dan

19

Wawancara, Senin 17 september, pukul 16.00 di rumah

20

Wawancara, Rabu 12 september 2012, pukul 10.00 di rumah

21

(15)

37

ketika di kunjungi warga jemaat ini tidak mau kembali sebelum orang yang dipilih untuk menggantikan dia harus di turunkan dari jabatan. Kami tidak bisa menurunkan orang dari jabatan yang telah di tabiskan menjadi majelis jemaat hanya karena warga jemaat kami yang bermasalah ini. 22

Bapak KMD mendukung pernyataan ibu MUH yang menegaskan pernyataan tersebut bahwa :

“...Faktor utama warga jemaat pindah Gereja ialah konflik yang terjadi antara keluarga dan ketika Gereja datang sebagai penengah dan ingin menyelesaikan konflik tersebut maka Gerejalah yang kembali mendapat imbas dari persoalan itu. Warga jemaat yang bermasalah tersebut menahan diri untuk tidak ikut ambil bagian dalam persekutuan dengan Tuhan dan jemaat. Dan ketika dilakukan pendekatan warga jemaat tersebut tidak merespon pendekatan yang dilakukan oleh majelis jemaat. Selain itu yang menjadi alasan lain ketika warga jemaat pidah ke denominasi Gereja lain yaitu karena faktor ekonomi. Yang mana dari denominasi Gereja lain dapat memberikan sumbangan bahkan beasiswa untuk warga dan anak-anak dari warga jemaat. sehingga merasa adanya jaminan kehidupan yang di berikan dan juga warga jemaat merasa di perhatikan oleh Gereja-Gereja tersebut.23

Ketika peneliti mewawancarai bapak Pdt. PMR24 selaku gembala sidang di jemaat GKS Nggongi, ada beberapa alasan yang menyebabkan jemaat pindah gereja, yaitu warga jemaat merasa tidak puas dengan pelayanan yang dilakukan oleh majelis dan ada warga jemaat yang merasa tidak dilayani dengan PA. Faktor ekonomi juga menyebabkan jemaat pindah gereja karena ada banyak janji-janji yang di tawarkan kepada warga jemaat sehingga mereka dengan mudahnya pindah. Contohnya diberikan mie instan, gula, minyak goreng dan juga beasiswa. Dari hal tersebut warga jemaat merasa diperhatikan dan beralih ke gereja lain. Dapat dilihat pada salah satu contoh kasus yang di ungkapkan oleh beliau dalam wawancara yang di lakukan penulis yakni:

“...Contohnya ipar kandung saya B N, anaknya U R sudah pindah ke GBT dan setelah lulus

SMA, UR dikirim diam-diam kuliah teologi ke Sumba Barat, setelah pulang UR bergereja di Tabernakel. Dan ketika saya tahu hal itu sebagai keluarga saya datang untuk mendekati mereka (NB dan keluarga) dan bertanya kenapa anak ini pindah Gereja dan alasan mereka bahwa mereka tidak memiliki biaya sehingga saat ada beasiswa dari Tabernakel akhirnya mereka mengijinkan untuk kuliah di teologi Tabernakel. Dan setelah itu saat U R ingin melanjutkan lagi kuliahnya di Solo, mereka mengadakan syukuran dan mereka datang kepada saya dan memberiahukan kepada saya yang akan pimpim ibadah pendeta dari Tabernakel. Dan saya menyetujui itu karena saya U R sudah menjadi jemaat tabernakel. Seminggu setelah U R berangkat. N B bersama keluarga pindah ke GBT, melihat hal itu majelis jemaat Ananjaki langsung mengadakan pendekatan dan alasan mereka ialah mengikuti anak perempuan mereka

22

Wawancara, Sabtu 15 september, pukul 10.30 di rumah

23

Wawancara, selasa 11 september 2012, pukul 16.00 di rumah

24

(16)

38

E N yang juga pindah karena tidak diijinkan melakukan pemberkatan nikah di GKS karena calon suaminya masih berstatus suami orang. Menurut aturan Gereja E N dikenakan siasat karena E N melakukan perzinahan dengan suami orang. Majelis jemaat melakukan pendekatan lagi untuk mengembalakan E N agar tidak pindah Gereja akan tetapi N B mendukung anaknya untuk pindah karena ia sadar bahwa di GKS sangat keras dengan tata Gereja yang ada dan sudah pasti E N tidak dapat melakukan pemberkatan nikah, karena sebenarnya istri sah dari suami E N tidak merestui hubungan mereka.”25

Contoh diatas merupakan salah satu dari sekian banyak alasan yang menyebabkan jemaat pindah gereja. Melihat hal ini maka gereja melakukan tim pendekatan untuk mendekati warga jemaat yang pindah gereja. Hal tersebut bertujuan untuk mendekati warga jemaat yang pindah agar dapat kembali berkumpul bersama dalam sebuah perekutuan. Beliau juga menjelaskan bahwa masalah perpindahan jemaat ini bukan hanya menjadi pergumulan jemaat GKS Nggongi saja, akan tetapi ini merupakan pergumulan GKS secara keseluruhan dan telah dibahas dalam sidang Sinode untuk mengurangi perpindahan jemaat dengan cara meningkatkan pengembalaan dan strategi pelayanan yang produktif dan kreatif serta mewujudkan diakonia.

Berdasarkan wawancara dengan bapak A, B C,D maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor penyebab warga jemaat GKS Nggongi pindah gereja ialah ketidakpuasan dan kekecewaan terhadap pelayanan yang dilakukan oleh gereja, keadaan ekonomi, konflik internal yang terjadidalam kehidupan warga jemaat serta pemahaman warga jemaat terhadap kekristenan yang masih sangat minim. Dengan banyaknya warga jemaat GKS Nggongi yang pindah maka dampaknya cukup terasa dimana adanya ketegangan antara warga jemaat yang pindah dengan majelis jemaat, tingat kehadiran dari warga jemaat GKS Nggongi yang semakin menurun serta menjadi pemicu bagi warga jemaat lainnya untuk pindah gereja ketika ada konflik diantara keluarga mereka. Saat GKS Nggongi lamban menyelesaikan masalah-masalah yang ada maka dengan mudah warga jemaat beralih ke Gereja lain.

25

(17)

39

Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa yang menjadi pemicu warga jemaat GKS Nggongi pindah Gereja tidak semata-mata hanya karena kelambanan dan kekurangan dari mejelis jemaat dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi warga jemaat, akan tetapi karena kebutuhan ekonomi jemaat yang akhirnya membuat mereka berpaling ke denominasi Gereja lain karena janji-janji yang diberikan kepada mereka serta kurangnya pemahaman warga jemaat GKS Nggongi terhadap kekristenan itu sendiri.

Dari kasus diatas dapat dilihat dalam tubuh jemaat GKS Nggongi adanya sebuah konflik yang di timbulkan karena ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungan dengan orang lain.26 Oleh karena itu yang perlu dilakukan adalah mengelola konflik tersebut dan melakukan resolusi konflik sehingga konflik tidak berkembang menjadi konflik yang baru lagi.

GKS Nggongi membutuhkan resolusi yang tepat dari konflik-konflik yang ada. Seperti yang diungkapkan oleh Fera Nugroho dkk27 dalam tulisannya tentang Konflik dan kekerasan pada Aras Lokal maka resolusi konflik bertujuan menangani sebab-sebab

konflik dan berusaha membangun hubungan baru yang lebih baik diantara kelompok-kelompok yang berkonflik. Resolusi konflik juga mengacu pada strategi-strategi untuk menangani konflik terbuka dengan harapan tidak hanya mencapai suatu kesepakatan untuk mengakhiri konflik, tetapi juga mencapai suatu resolusi dari berbagai perbedaan sasaran yang menjadi penyebabnya.

Berdasarkan masalah yang terjadi maka masalah ekonomi merupakan salah satu tantangan bagi gereja karena itu gereja harus peka dan kreatif dalam menyelesaikan masalah yang sedang dialami oleh warga jemaat, khususnya dalam bidang ekonomi

26

David Samiyono:Pluralisme dan Pengelolaan Konflik, tanggal 28-29 di UKSW Salatiga.

27

(18)

40

dengan mempersiapkan strategi-strategi untuk memenuhi kebutuhan warga jemaat dan merupakan salah satu mediator untuk pemulihan hubungan antar warga jemaat dan kebutuhan ekonomi serta hubungan warga jemaat dengan Gereja.

3.4Warga Jemaat GKS Ngonggi yang tetap bertahan di jemaat memandang pindah

Gereja bukan solusi.

Peneliti ingin menvalidasi data dilakukan dengan menggabungkan sumber data yang lain untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas lagi mengenai faktor-faktor penyebab jemaat pindah gereja, dalam hal ini peneliti menggunakan teknik wawancara informan penting yang divalidasi dengan teknik Focus Group Discussion (FGD). Teknik FGD dilakukan bersama keluarga: HH, TRN, NN, DNH, SBK, MRM, MMD, dan FNT28 selepas ibadah minggu. Dalam penggunaan teknik FGD, mereka memberi tanggapan yang tidak jauh berbeda dengan teknik wawancara pada informan kunci. Menurut mereka yang menjadi faktor penyebab warga jemaat pindah gereja ialah:

a. Kelambanan majelis jemaat dalam menyelesaikan masalah yang di hadapi jemaat dan juga terhadap pelayanan yang dilakukan oleh gembala sidang (Pendeta), dapat dikatakan pelayanan tersebut “pilih kasih”. Hal ini dapat dikatakan karena mereka juga merasakan hal yang sama dengan warga jemaat lainnya yang telah pindah. b. Selama menjadi anggota jemaat atau bergereja di GKS Nggongi, mereka belum

merasakan apa yang dinamakan dengan pendampingan pastoral. Bahkan ada beberapa keluarga seperti MRM, MMD, FNT, dan NN, tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan pendampingan pastoral sehingga peneliti harus menjelaskan lagi arti dan contoh dari pendampingan pastoral tersebut.

c. Bagi mereka pelayanan yang dirasakan atau perkunjungan yang ada hanya sebatas pelayanan rumah tangga dan ibadah pada hari minggu di gereja, sedangkan DNH,

28

(19)

41

TNR, SBK dan H H cukup memahami apa yang dimaksudkan dengan pendampingan pastoral sehingga peneliti tidak harus menjelaskan lagi lebih mendetail tentang pendampingan pastoral tersebut. Sama halnya dengan empat reponden diatas mereka setuju mengatakan bahwa pendampingan pastoral di jemaat GKS Nggongi tidak sungguh-sungguh dilakukan oleh pihak gereja atau bisa dikatakan perkunjungan pastoral tidak terprogram.

Dari beberapa faktor-faktor penyebab warga jemaat pindah gereja diatas, ternyata warga jemaat GKS Nggongi tidak mendapatkan suatu jawaban terhadap kebutuhan setiap orang akan kehangatan, perhatian penuh, dukungan, dan pendampingan.29 Hal inilah yang menyebabkan jemaat memutuskan untuk pindah dan mencari sendiri perhatian penuh serta pendampingan yang mereka butuhkan. Dalam pengertian warga jemaat yang pindah, ketika mereka pindah ke gereja lain maka setiap kebutuhan rohani mereka akan terpenuhi dan mereka dapat mengalami pertumbuhan iman yang selama ini tidak pernah mereka dapat dari gereja asal yakni GKS Nggongi.

Dari hasil FGD yang dilakukan kepada HH, TRN, NN, DNH, SBK, MRM, MMD, dan FNT maka dapat dikatakan bahwa warga jemaat yang tidak pindah merasa gereja tidak menyelamatkan akan tetapi iman yang mampu menyelamatkan manusia. Sehingga mereka tidak harus mencari gereja lain untuk masuk surga dan karena orang tua mereka adalah para pendiri GKS Nggongi ini, sehingga mereka tetap ingin menjaga apa yang telah menjadi warisan dan menghargai apa yang telah di lakukan oleh orang tua mereka. Alasan tersebut yang membuat mereka terus bertahan walaupun banyak anggota jemaat yang memilih untuk pindah ke Gereja lain. Meskipun mereka kecewa dengan pelayanan yang ada mereka lebih memilih untuk mengalah dan tetap bersekutu dengan jemaat GKS Nggongi meskipun ada konflik yang terjadi.

29

(20)

42

Salah satu contoh kasus bapak DNH dan TRN yang merasa pelayanan yang dilakukan

oleh gembala sidang (pendeta) adalah pelayanan yang “pilih kasih”. Meskipun demikian

mereka tidak lantas mengikuti jemaat-jemaat lain yang sudah pindah, akan tetapi mereka memilih untuk diam dan terus bertahan dalam persekutuan jemaat GKS Nggongi dengan suatu harapan bahwa kedepannya mereka akan mendapatkan gembala sidang yang adil dan setia terhadap pelayanan, sehingga mereka bisa mendapatkan pemerataan pelayanan tanpa harus dilihat dari strata sosial yang ada dalam kehidupan jemaat.

Melihat kasus diatas ternyata jemaat yang tidak pindah gereja ini menggunakan strategi Yielding (mengalah)30 yaitu menurunkan aspirasi sendiri dan bersedia menerima yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Dalam strategi ini bukan berarti bahwa mengalah dan menyerah secara total, tetapi mengalah dengan mencari alternatif pemecahan masalah lain. Strategi ini adalah salah salah satu dari lima strategi yang bisa digunakan untuk menyelesaikan realita konflik yang di usulkan oleh Pruitt dan Rubin.

Strategi ini dapat pakai oleh jemaat yang tidak pindah namun jika strategi ini terus di pakai untuk menyelesaikan konflik yang ada, maka yang terjadi adalah jemaat akan terus berada dalam bayang-bayang ketidakadilan. Hal ini akan menjadi bom waktu yang kapan saja bisa meledak tanpa bisa dikendalikan. Dengan kata lain, ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan mereka untuk mendapat pemimpin yang adil dalam melayani mereka, maka bukan tidak mungkin suatu saat mereka juga akan pergi meninggalkan persekutuan jemaat. Ketika hal itu terjadi maka relasi antara jemaat dan gereja serta relasi antara jemaat dan Allah akan rusak.

Dapat dikatakan bahwa dalam kehidupan jemaat GKS Nggongi pastoral merupakan hal yang tidak di perhatikan, karena pelayanan yang seharusnya ditujukan kepada mereka

30

(21)

43

yang mengalami pergumulan hidup31 tidak dilakukan secara maksimal. Bahkan banyak dari jemaat yang merasa bahwa pelayanan yang dilakukan GKS Nggongi hanya sebatas ibadah minggu dan ibadah rumah tangga.

3.5Pendampingan pastoral terhadap jemaat yang pindah Gereja kurang ditangani

dengan sungguh-sungguh oleh majelis GKS Nggongi

Pada bagian sebelumnya, peneliti telah menggambarkan secara kongkrit faktor-faktor penyebab jemaat pindah gereja. Dari deskripsi itu, peneliti bisa menarik sedikit kesimpulan bahwa faktor-faktor penyebab warga jemaat pindah Gereja karena tidak puas dengan pelayanan yang dilakukan oleh Gereja, faktor ekonomi dan juga lambatnya penanganan masalah yang dilakukan oleh gereja.

Pada bagian ini peneliti akan mengkaji tentang pelaksanaan pendampingan pastoral terhadap jemaat yang pindah gereja ternyata kurang ditangani dengan sungguh-sungguh. Untuk lebih jelasnya, peneliti akan mendeskripsikan pelaksaan pendampingan pastoral dengan mewawancarai para responden, seperti yang akan dijabarkan di bawah ini.

Bapak Pendeta PMR yang di wawancarai tanggal 18 September 2012 memberikan penjelasan sebagai berikut:

“...Tidak ada program pendampingan pastoral atau perkunjungan pastoral terstruktur yang kami buat hanya saja ketika ada warga jemaat yang bermasalah maka kami akan membawa masalah itu ke dalam rapat dewan untuk dibahas dan juga tidak ada tim khusus untuk melakukan pendampingan pastoral. Akan tetapi kami memiliki trategi dimana dalam setiap lingkungan memiliki majelis dan mereka (majelis lingkungan) yang selalu ada dan mengetahui apa yang menjadi pergumulan warga jemaat. Dengan membawa persoalan yang dialami warga jemaat kedalam rapat dewan maka kami berusaha untuk melakukan pendekatan kepada warga jemaat yang pindah.32

Ibu Diaken cabang lalindi MUH yang dimintai tanggapan terhadap pelaksaan pendampingan pastoral terhadap jemaat mengatakan:

31

Ibid.

32

(22)

44

“... memang tidak ada pelaksaan perkunjungan pastoral secara terprogram tapi kami sebagai majelis jemaat cabang Lalindi melakukan perkunjungan ketika jemaat bermasalah, kami hadir untuk membantu warga jemaat menyelesaikan masalah mereka. Dan yang perlu diketahui masalah yang sering dihadapi oleh warga jemaat di lingkungan saya yaitu masalah pribadi mereka dengan keluarga. Dengan demikian kami (majelis jemaat) menjadi mediator untuk mendamaikan mereka yang bertikai. Tidak hanya itu saja akan tetapi jika ada warga jemaat yang sakit kami mengunjungi dan mendoakan mereka. Dan juga jika ada warga jemaat yang mengalami kedukaan, maka kami akan hadir untuk memberikan penguatan dan penopangan kepada keluarga yang di tinggalkan. Dengan beberapa hal diatas seperti yang telah saya uraikan tadi maka saya rasa kami telah melakukan pendampingan pastoral terhadap warga jemaat khususnya cabang lalindi ini.33

Bapak MM setuju dengan bapak pdt. PMR dan Ibu MUH mengatakan bahwa: “...Saya rasa mengenai perkunjungan pastoral itu ada walaupun tidak secara terprogram atau

terstruktur. Namun yang disayangkan adalah pendampingan pastoral ini tidak berjalan dengan baik karena majelis jemaat kurang kompak dalam menyelesaikan masalah yang dialami jemaat dan program kerja yang tidak berjalan dengan baik. Mungkin karena kesibukan atau alasan lainnya kami selaku mejelis jemaat lalai dalam melihat setiap masalah dan persoalan yang ada, dan harus diakui memang terkadang juga kami terlalu lamban untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada untuk itu banyak dari warga jemaat kami yang ketika mengalami masalah langsung memilih pindah kedenominasi Gereja lain. Dan perkunjungan pastoral dapat berjalanan ketika ada warga jemaat kami yang minta untuk di doakan dan di kunjungi.34

Bapak APM yang juga diwawancarai selaku majelis jemaat GKS cabang Lalindi mengatakan:

“...Selama saya menjadi majelis jemaat, yang saya tahu ada perkunjungan pastoral melalui kunjungan kepada jemaat dan melakukan pendekatan kepada jemaat yang bermasalah dengan tujuan untuk mencapai solusi. Dan ketika kunjungan pastoral tersebut tidak efektif maka akan dilakukan pembentukan tim yang di lakukan oleh majelis jemaat dalam rapat dewan lengkap yang diselenggarakan selama 3 bulan sekali. Tim yang di bentuk ini akan pergi ke rumah jemaat yang bermasalah dan melakukan pendekatan selama 3 bulan masa yang di tentukan untuk melakukan perkunjungan pastoral tersebut sehingga bisa mendapatkan solusi yang baik terhadap masalah tersebut. Dan jika selama 3 bulan itu tidak ada perkembangan yang baik maka akan dibawa lagi dalam rapat dewan lengkap. Sehingga Dengan adanya pendampingan pastoral ini dapat mengurangi perpindahan jemaat.35

Bapak KMD yang diwawancarai di rumahnya selaku Kaum awam cabang Lalindi mengatakan :

“...Khususnya di cabang Lalindi ini kami membuat program perkunjungan pastoral dan hal

tersebut rutin dilakukan. Sehingga ketika ada warga jemaat kami yang bermasalah maka kami akan langsung menyelesaikan masalah mereka. Dengan demikian masalah yang ada tidak berlarut-larut. Hanya saja kemarin ada kasus dari salah satu warga jemaat kami yang mencalonkan diri sebagai majelis dan karena masalah pribadinya dengan keluarga, yang akhirnya berimbas kepada Gereja. kami telah melakukan pendekatan terhadap warga jemaat kami ini. Akan tetapi ia masih kukuh dengan pendiriannya untuk pindah ke denominasi Gereja. kami telah melakukan pendekatan terhadap warga jemaat kami ini akan tetapi belum ada hasil dan juga kami telah membahasnya

33

Wawancara M U H diaken cabang lalindi 15 september 2012, pukul 10.30 di rumah.

34

Wawancara M M majelis jemaat cabang lalindi, Selasa 11 september 2012, pukul 10:00 di rumah

35

(23)

45

dalam rapat dewan lengkap sehingga sudah di buat tim khusus untuk pergi ke rumah warga jemaat kami ini, namun hal itu juga sampai saat ini belum mendapat hasil yang kami harapkan.36

Bapak AMM selaku Majelis Jemaat pusat yang diwawancarai selepas ibadah keluarga, mengatakan bahwa :

“... Tidak ada program perkunjungan pastoral yang dibuat. Hanya saja jika ada warga jemaat yang

bermasalah maka akan dibuat sebuah tim untuk melakukan pendekatan agar dapat menemukan masalah apa yang dihadapi warga jemaat dan mencari solusi sehingga warga jemaat mendapatkan solusi dari masalah tersebut. Pembentukan tim ini dilakukan pada saat warga jemaat telah pindah dan bergerja di jemaat lain. Dan ketika mendengar ada warga jemaat yang sakit, jujur saya katakan bahwa sebanarnya kami (majelis jemaat) tidak langsung pergi mendoakan seperti yang dilakukan oleh Gereja-Gereja lain. Hanya saja ketika kami diminta untuk mendoakan dan juga saat warga yang sakit itu adalah keluarga kami maka dengan inisiatif sendiri kami mengunjungi dan mendoakan warga tersebut.

Bapak TRN yang diwawancarai selepas ibadah minggu di Gereja mengatakan bahwa:

“... Tidak ada perkunjungan pastoral yang dilakukan oleh Gereja ketika ada masalah dan persoalan yang dihadapi warga jemaat. Dan saya tidak melihat seorang gembala menjalankan tugasnya untuk membawa kembali domba yang tersesat. Yang ada malah sebaliknya bahwa gembala kami mempunyai prinsip yaitu membiarkan warga jemaat pindah karena ia percaya bahwa suatu saat mereka akan sadar dan kembali. Prinsip seperti inilah yang akhirnya membuat banyak warga jemaat merasa tidak di perhatikan dan beralih ke denominasi Gereja lain. Kadang saya merasa pelayanan yang dilakukan pilih kasih, karena jika pelayanan dilakukan kepada warga kaya atau orang-orang yang berkedudukan maka pelayanan tersebut akan di pimpin langsung oleh pendeta sedangkan jika pelayanan kepada kami warga yang biasa-biasa saja maka pemimpin ibadah akan diwakilkan kepada majelis jemaat.37

Bapak HH yang dimintai tanggapannya selaku warga jemaat yang tidak pindah, yang diwawancarai secara terspisah mengatakan:

“... selama saya bergereja di GKS Nggongi ini, saya tidak pernah menemukan atau melihat apa yang dinamakan perkunjungan pastoral itu. saya sangat berharap kedepannya harus ada pogram perkunjungan pastoral agar dapat mengurangi perpindahan jemaat yang ada dan juga mampu menjawab apa yang menjadi pergumulan warga jemaat. Karena menurut pengamatan saya selama ini ketika ada permasalahan yang dialami oleh warga jemaat baik itu yang sakit, masalah pemberkatan nikah, baptisan dan masalah-masalah lainnya, gereja sangat lamban untuk menangani masalah-masalah tersebut. Bahkan tidak jarang banyak warga jemaat yang merasa tidak di perhatikan oleh Gereja, sehingga ketika beralih ke Gereja lain dan mendapat perhatian khusus dari Gereja tersebut, mereka (yang pindah) merasa nyaman. Hal inilah yang membuat saya sangat prihatin dan merasa sangat perlu adanya program pendampingan pastoral di Gereja saya.38

36

Wawancara, bapak K M D selaku kaum Awam cabang Lalindi, selasa 11 september 2012, pukul 16.00 di rumah

37

Wawancara, Minggu 9 selaku warga yang tidak pindah Gerejaseptember, pukul 12.00 di Gereja

38

(24)

46

Analisa

Berdasarkan ungkapakan para responden diatas (Pendeta, Diaken, Kaum Awam, dan beberapa anggota warga jemaat), maka peneliti dapat meringkas dan menemukan dua poin penting yang bisa dijadikan kesimpulan sementara. Kedua poin yang dimaksud itu adalah pertama, terlepas dari tidak adanya program perkunjungan atau pendampingan pastoral yang tidak dibuat, ternyata perkunjungan yang dilakukan oleh majelis jemaat dapat berjalan jika diminta oleh warga jemaat. Kedua, tidak hanya warga jemaat yang telah pindah gereja saja yang merasakan bahwa pelayanan perkunjungan pastoral tidak dilakukan dengan sunguh-sungguh, akan tetapi warga jemaat yang tidak pindah pun merasakan hal yang sama, sehingga pengaruhnya sangat besar bagi setiap warga jemaat yang mengalami masalah-masalah baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan rumah tangga mereka. Perlu diketahui bahwa peneliti memakai istilah perkunjungan pastoral karena jemaat GKS Nggongi sangat akrab dengan istilah tersebut dan mereka lebih memahami ketika pendampingan pastoral di sebut sebagai perkunjungan pastoral.

Pendampingan pastoral merupakan cara yang harus digunakan untuk melakukan resolusi konflik dalam gereja. Pendekatan yang diberikan biasanya dari pihak gereja dengan tujuan supaya pihak yang berkonflik dapat menyalurkan masalah yang sedang dihadapi dan bersedia dibimbing untuk mencapai penyelesaian. Pendampingan tidak hanya sekedar meringankan beban penderitaan, tetapi menempatkan orang dalam relasi dengan Allah dan sesama, dalam pengertian menumbuhkan dan mengutuhkan orang dalam kehidupan spritualnya untuk membangun dan membina hubungan dengan sesamanya, mengalami penyembuhan dan pertumbuhan serta memulihkan orang dalam hubungan dengan Allah.39 Hal ini tidak terlihat dalam Gereja GKS Nggongi. Pendampingan pastoral menurut Clinebell menjadi suatu jawaban terhadap kebutuhan setiap orang akan kehangatan, perhatian penuh,

39

(25)

47

dukungan, dan pendampingan.40 Pelaksanaan pendampingan pastoral di jemaat GKS Nggongi sangatlah memprihantinkan karena tidak sesuai dengan yang seharusnya.

Warga jemaat GKS Nggongi membutuhkan kehadiran seorang gembala dan juga majelis jemaat dalam setiap pergumulan hidup mereka. Jadi sangat tepat usulan Wiryasaputra, yang mengungkapkan :

“...Ketika berada bersama dengan mereka yang sedang bergumul, dengan persoalan hidup berarti kita

sebagai pendamping harus berkonsentrasi pada keunikan individu yang berada di hadapan kita, yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Kehadiran dan kepedulian kita dapat meyakinkan mereka bahwa mereka tidak sendirian, sehingga tercipta relasi yang hangat, baik dan ramah. Dan dengan demikian maka akan tumbuh rasa saling percaya antara kita dengan mereka yang sedang bergumul tersebut. Dengan kata lain dapat di artikan bahwa, sepanjang ada komunitas maka keberadaan seseorang akan selalu dinantikan demi sebuah sentuhan manusiawi, bagi mereka yang mengalami Krisis Kehidupan.41

Jemaat GKS Nggongi sebenarnya membutuhkan konseling pastoral terutama fungi-fungsi pastoral. Bila fungi-fungsi-fungi-fungsi pastoral di urai dapat di indentifikasi sesuai dengan pendapat Clebsch dan Jaekle42 didalam bukunya yang berjudul Pastoral Care in Historical Perspective. Penjabarannya sebagai berikut :

1. Penyembuhan adalah salah satu fungsi pastoral yang bertujuan untuk mengatasi beberapa kerusakan dengan cara mengembalikan orang itu pada suatu keutuhan dan menuntun dia ke arah yang lebih baik daripada kondisi sebelumnya. Kita perlu mengerti bahwa kasih sayang dan perhatian juga dapat menyembuhkan. Tentulah hal ini bukan dalam pengertian secara fisik, akan tetapi dalam segi mental dan spritual. Jikalau pendamping sungguh-sungguh mendengarkan keluhan dari mereka yang bermasalah maka akan mempercepat kesembuhan secara emosional. Dalam konteks GKS Nggongi sangat membutuhkan penyembuhan karena dari konflik yang selama ini terjadi dalam kehidupan jemaat telah menimbulkan rasa sakit hati dan kekecewaan yang luar biasa bagi jemaat.

40

Howard Clinebell, Tipe-tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral, (Yogyakarta: Kanasius, 2002) hal 59

41

Totok S. Wiryasaputra, Pendampingan Pastoral Orang Sakit, (Yogyakarta: Pusat Pastoral, 2004) hal 5

42Ibid,

(26)

48

Oleh karena itu warga jemaat GKS Nggongi perlu di bantu untuk menyembuhkan rasa kecewa dan sakit hati yang ada sehingga mereka bisa berdamai dengan keadaan yang ada serta mampu menyelesaikan konflik yang ada.

2. Penopangan berarti, menolong orang yang “terluka” untuk bertahan dan melewati suatu keadaan yang terjadi pada waktu lampau, yang didalamnya pemulihan kepada kondisi semula atau penyembuhan dari penyakitnya tidak mungkin atau tipis kemungkinannya. Bila dikaitkan dengan kenyataan yang ada di jemaat GKS Nggongi maka warga jemaat belum membutuhkan penopangan karena masalah tersebut masih dalam konteks. Jika warga jemaat telah menemukan solusi dari konflik yang ada maka dibutuhkan sebuah penopangan sehingga warga jemaat bisa melewati masalah demi masalah yang ada dengan tegar.

3. Pembimbingan berarti membantu orang-orang yang kebingungan untuk menentukan pilihan yang pasti diantara berbagai pikiran dan tindakan alternatif, jika pilihan-pilihan demikian dipandang sebagai yang mempengaruhi keadaan jiwanya sekarang dan yang akan datang. Ketika seseorang berada dalam kebingungan, mereka biasanya sulit untuk berpikir dengan baik. Hal ini sangat mempengaruhi seseorang dalam mengambil sebuah keputusan. Disaat inilah seorang pendamping hadir untuk membantu orang yang berada dalam kebingungan mengambil keputusan yang jelas yang dipandang mempengaruhi keadaan jiwa mereka sekarang dan pada waktu yang akan datang. Dalam konteks GKS Nggongi warga jemaat perlu di bimbing karena mereka masih butuh bimbingan dalam mengambil keputusan. Agar keputusan yang di ambil warga jemaat merupakan keputusan yang benar dan tepat dalam menghadapi masalah dan konflik yang ada.

(27)

49

pengampunan dan displin Gereja, tentunya dengan didahului oleh pengakuan. Dalam konteks GKS Nggongi sangat penting suatu pendamaian karena dalam kehidupan jemaat terdapat banyak konflik yang terjadi sehingga warga jemaat perlu didamaikan dengan Allah, dengan diri sendiri dan dengan lingkungannya. Dengan demikian warga jemaat dapat menyelesaikan konflik yang ada dengan sebuah pengambilan keputusan yang benar.

Bila di kaji, GKS Nggongi saat ini sangat membutuhkan penyembuhan karena

konflik yang ada selama ini disebabkan oleh sakit hati dan kekecewaan warga jemaat terhadap pelayanan yang dilakukan oleh gereja, karena itu sangatlah dibutuhkan penyembuhan dan pemulihan dari rasa kecewa dan sakit hati tersebut sehingga warga jemaat dapat berdamai dengan diri sendiri, dengan Allah dan juga dengan lingkungan yang ada. Maka setiap konflik yang ada dapat di selesaikaan dengan baik tanpa adanya sebuah perpecahan. Selanjutnya GKS Nggongi membutuhkan bimbingan dengan kata lain setelah warga jemaat sembuh dan bisa berdamai dengan diri sendiri, Allah dan lingkungannya, maka perlu warga jemaat dibimbing sehingga dengan adanya bimbingan setiap keputusan yang akan di ambil dalam penyelesaian konflik tersebut membantu warga jemaat menemukan solusi yang tepat dari permasalahan tersebut. Akhirnya penopangan dibutuhkan warga jemaat setelah berhasil melewati penyembuhan, perdamaian dan bimbingan.

Pada dasarnya kehadiran dan kepedulian kita dapat meyakinkan mereka bahwa mereka tidak sendirian, sehingga tercipta relasi yang hangat, baik dan ramah. Dengan demikian maka akan tumbuh rasa saling percaya antara kita dengan mereka yang sedang bergumul tersebut. Dengan kata lain dapat di artikan bahwa, sepanjang ada komunitas maka keberadaan seseorang akan selalu dinantikan demi sebuah sentuhan manusiawi, bagi mereka yang mengalami Krisis Kehidupan.43

43

(28)

50

Rangkuman

Seorang gembala dapat menjadi penyembuh bagi warga jemaatnya untuk kembali pada keutuhan dan menuntun mereka kearah yang lebih baik dari pada kondisi sebelumnya. Juga menolong warga jemaat yang mengalami persoalan untuk bertahan dan melewati persoalan yang mereka hadapi, serta bisa menjadi pendamai bagi warga jemaat yang memiliki konflik dengan sesama maupun dengan disiplin gereja melalui pengakuan. Dengan demikian warga jemaat tidak lagi merasa bahwa hanya mereka sendiri yang menanggung persoalan tersebut akan tetapi ada yang selalu mendampingi dan menopang mereka.

Menurut peneliti dengan menerapkan fungsi pastoral seperti diatas maka konflik yang ada dalam tubuh jemaat GKS Nggongi dapat terselesaikan dengan baik dan menyatukan kembali jemaat yang telah pindah. Perlu di perhatikan bagi seorang pelayan ialah ketekunan melakukan tugas dan panggilan sebagai seorang hamba dan Pelayan Tuhan, agar apa yang telah menjadi janji dan sumpah di hadapan Tuhan dan jemaat dapat dilaksanakan dengan baik. Perlunya kepekaan terhadap persoalan yang dialami oleh warga jemaat sehingga masalah yang ada tidak dibiarkan berlarut-larut akan tetapi di tangani dengan serius.

(29)

51

Gambar

Gambar 3.1.a Gedung Gereja GKS Nggongi
Gambar 3.1.b Peta Sumba Timur

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

6 Wawancara yang dilakukan kepada salah satu jemaat GKST Pendeta Ellen Kandori, yang dilakukan pada hari kamis 6.. september 2012, pukul 17.00 di Gedung Gereja

Akta gereja bagi GPIB adalah merupakan pokok-pokok penyelesaian persoalan kehidupan yang dihadapi oleh warga jemaat yang disoroti dari hasil pembahasan teologis sesuai

Dengan mengacu pada tujuan dan misi diatas maka gereja tidak hanya mengasihi Tuhan dan diri sendiri akan tetapi gereja juga mengasihi sesama dalam hal ini warga jemaat

sudah Gereja lakukan, namun dari peran-peran tersebut Gereja hanya berperan sebagai motivator tetapi belum berperan sebagai penghubung untuk menghubungkan warga jemaat

Inilah yang perlu kami (Gereja) pelajari ketika gereja melakukan kunjungan terhadap warga jemaat yang sakit, terkhususnya bagi warga jemaat pasca stroke tidak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja melakukan perkunjungan pastoral bagi warga gereja pasca stroke hanya berupa ibadah, konseling pastoral dianggap sangat penting oleh jemaat

Hasil penelitian ialah Jemaat HKBP Filadelfia mengalami kesulitan dalam hal tidak mempunyai tempat peribadahan, sehingga mereka harus berpindah-pindah dan menumpang di gereja

Jika Gereja dianalogikan sebagai perusahaan, maka mereka yang menjadi customer, adalah mereka-mereka yang menjadi sasaran pelayanan dari Gereja, yaitu bukan hanya warga