• Tidak ada hasil yang ditemukan

FONOLOGI BAHASA JAWA KUNO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FONOLOGI BAHASA JAWA KUNO"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

I NYOMAN SUARKA ANAK AGUNG GEDE BAWA

DWI CIPTA MEDIATAMA 2018

FONOLOGI

BAHASA JAWA KUNO

FONOLOGI BAHASA

JA

W

A

KUNO

I NYOMAN SUARKA ANAK AGUNG GEDE BA W A DWI CIPT A MEDIA T AMA 2018

(2)

FONOLOGI BAHASA JAWA KUNO

I NYOMAN SUARKA

ANAK AGUNG GEDE BAWA

PENERBIT CV. DWI CIPTA MEDIATAMA

(3)

FONOLOGI BAHASA JAWA KUNO PENULIS

I Nyoman Suarka

Anak Agung Gede Bawa ISBN : 978-979-18728-9-8 LAYOUT

CV. DWI CIPTA MEDIATAMA DESAIN SAMPUL

Ari Suprapta PENERBIT

CV. DWI CIPTA MEDIATAMA

Jln. Gunung Soputan I No.9, Denpasar 80119, Bali Phone : (0361) 482 500, E-mail:[email protected]

Cetakan I, Oktober 2018

Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit

(4)

PRAKATA

Puji syukur di panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmatNya, buku Fonologi Bahasa Jawa Kuno dapat disusun dan diselesaikan pada waktunya. Buku ini merupakan tindak lanjut dari penelitian Hibah Grup Riset Universitas Udayana yang dibiayai dari Dana PNBP Tahun Anggaran 2018 dengan Surat Perjanjian Penugasan Nomor 383-53/UN14.4.A/LT/2018 tertanggal 28 Maret 2018.

Buku ini memuat persoalan fonologis dalam bahasa Jawa Kuno seperti persoalan fonem dan aksara, cara pelafalanbunyi, distribusi fonem, pola persukuan, serta perubahan bunyi dalam bahasa Jawa Kuno. Karena itu, buku ini diharapkan dapat menambah khazanah perbendaharaan referensi kejawakunaan yang selama ini masih sangat terbatas adanya. Pengayaan bahan ajar kejawakunaan sangat dibutuhkan dalam upaya perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan Bahasa Jawa Kuno sebagai warisan budaya bangsa. Peran Bahasa Jawa Kuno sangat strategis dalam upaya pemajuan kebudayaan dan peradaban bangsa.

Sangat disadari bahwa buku ini berhasil disusun juga berkat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, kami mengucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Rektor Universitas Udayana dan Ketua LPPM Unud yang telah memberikan dana penelitian dan penerbitan buku ini. Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada Putu Eka Sura Adnyana, I Made Gede Wira Bhuwana Putra, Komang Uchi Seni Purnama, I Wayan Degus Jaya, dan Pande Putu Abdi Jaya Prawira, mahasiswa Program Studi Sastra Jawa Kuno, yang telah membantu peneliti mengumpulkandan mengolah data. Semoga budi baik adik-adik mendapat pahala mulia dari Tuhan Yang Maha Pengasih.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, buku ini dipersembahkan kepada pembaca budiman untuk dikritik dan

disempurnakan lebih jauh.

Denpasar, Oktober 2018

(5)
(6)

DAFTAR ISI

PRAKATA ... DAFTAR ISI ... BAB I PENDAHULUAN ... BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... BAB III METODE PENELITIAN ... BAB IV FONEM DAN AKSARA JAWA KUNO

(AKSARA KAWI) ... Fonem dan Aksara Jawa Kuno ……… Cara Pelafalan Bunyi Bahasa Jawa Kuno ……….... Bunyi Vokal ………... Bunyi Konsonan ………... BAB V DISTRIBUSI FONEM DAN POLA

PERSUKUAN BAHASA JAWA KUNO ... Distribusi Fonem Bahasa Jawa Kuno ………... Pola Persukuan Bahasa Jawa Kuno ………... BAB VI PERUBAHAN BUNYI DALAM BAHASA JAWA KUNO ... Asimilasi ……… Disimilasi ……….. ... Kaidah Berurutan………... Penggabungan Vokal (Sandi) ………...

i ii 1 4 6 8 8 14 15 16 21 21 62 77 77 82 83 86

(7)

Zeroisasi ……… Anaptiksis ………... Metatesis ……….. Monoftongisasi dan Diftongisasi ………..

Onek-onekan, guru laghu, dan guru basa: model

pelafalan bunyi-bunyi dalam bahasa Jawa Kuno ……… BAB VII PENUTUP ... DAFTAR PUSTAKA ... 91 95 99 100 101 106 109

(8)

BAB I PENDAHULUAN

Bahasa Jawa Kuno merupakan salah bahasa Nusantara termasuk kelompok bahasa Austronesia. Bahasa Jawa Kuno telah berkembang sejak abad ke-9 hingga abad ke-15 di Jawa. Bahasa Jawa Kuno memiliki keistimewaan karena karya sastranya berasal dari abad ke-9 dan ke-10. Bahasa Jawa Kuno menampakkan karakteristik yang sangat kuat sebagai bahasa Nusantara. Di satu sisi, bahasa Jawa Kuno mendapat pengaruh luar biasa dari bahasa Sansekerta, namun di sisi lain, bahasa Jawa Kuno dalam segala struktur dan ciri-ciri pokok tetap menunjukkan diri sebagai bahasa Nusantara (Zoetmulder, 1985:1—8).

Teeuw (1983:77—80) menyebutkan bahwa bidang penelitian bahasa Jawa Kuno merupakan bagian penting dalam rangka penelitian bahasa-bahasa dan sastra di Indonesia. Setidaknya ada tujuh alasan strategis diajukan Teeuw berkelindan dengan keistimewaan penelitian bahasa dan sastra Jawa Kuno, yaitu (1) bahasa Jawa Kuno merupakan bahasa pengantar kebudayaan pramodern Indonesia yang terpenting. Berkat bahasa Jawa Kuno, kita dapat memahami dan mendalami kebudayaan bangsa Indonesia yang pernah tumbuh dan berkembang pada masa lampau; (2) bahasa Jawa Kuno memiliki ciri khas, terutama dalam hal puitik; (3) bahasa Jawa Kuno memiliki peran strategis dalam sejarah bahasa Jawa dan bahasa-bahasa Nusantara lainnya; (4) bahasa Jawa Kuno memiliki urgensi dalam perbandingan bahasa-bahasa Nusantara atau bahasa-bahasa dalam rumpun Austronesia; (5) bahasa Jawa Kuno memiliki khazanah sastra pramodern Indonesia yang unggul, yang mengandung harta karun keindahan, kearifan, kebajikan yang mampu memberikan sumbangan yang khas pada khazanah sastra Indonesia dan sastra dunia; (6) bahasa dan sastra Jawa Kuno merupakan sumber dari banyak hasil sastra Nusantara, terutama sastra Jawa, sastra Sunda, sastra Bali, sastra Sasak, sastra Melayu; serta (7) bahasa dan sastra

(9)

Jawa Kuno merupakan pintu utama diplomasi kebudayaan pada masa Majapahit. Ketujuh alasan Teeuw tentang betapa pentingnya penelitian bahasa Jawa Kuno dilakukan merupakan pandangan yang layak dipertimbangkan dalam upaya penelitian bahasa Jawa Kuno lebih lanjut sebagaimana dilakukan tim peneliti grup riset ini.

Suarka (2014:239—241) menjelaskan bahwa bahasa Jawa Kuno telah dipilih dan ditetapkan sebagai bahasa resmi prasasti-prasasti yang dikeluarkan Raja Udayana di Bali pada abad ke-10. Bahasa Jawa Kuno dipilih dan ditetapkan sebagai bahasa resmi prasasti karena potensinya sebagai bahasa yang kaya dengan nilai-nilai religius dan sosial budaya yang dapat dijadikan sumber rasa kebanggaan dan identitas kerajaan Bali pada saat itu. Kebijakan Raja Udayana mampu menciptakan ruang yang memungkinkan tumbuh subur serta berkembangnya bahasa dan sastra Jawa Kuno di Bali. Hasil pertumbuhan dan perkembangan bahasa dan sastra Jawa Kuno diwarisi hingga saat ini melalui dokumentasi ribuan naskah lontar.

Bahasa Jawa Kuno merupakan bahasa yang tidak lagi memiliki penutur asli. Demikian pula peminatnya sangat terbatas. Lagi pula, hasil-hasil penelitian dan buku-buku referensi tentang bahasa Jawa Kuno sangat terbatas. Di sisi lain, sebagaimana dijelaskan di atas, kedudukan dan fungsi bahasa Jawa Kuno sangat penting dan strategis dalam berbagai aspek sebagai warisan budaya bangsa Indonesia.Berkelindan dengan permasalahan tersebut, penelitian fonologi bahasa Jawa Kuno dipandang penting dilakukan dalam upaya pelestarian, pewarisan, dan pemberdayaan bahasa Jawa Kuno sebagai sumber pengembangan bahasa Indonesia, terutama di bidang fonologi, di samping menyediakan dan memperkaya sumber referensi dalam pembelajaran bahasa Jawa Kuno di berbagai perguruan tinggi yang mengajarkan matakuliah bahasa Jawa Kuno di Indonesia, khususnya matakuliah Fonologi Bahasa Jawa Kuna.

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini meliputi:

(10)

(b) Bagaimana cara pelafalan bunyi bahasa Jawa Kuno? (c) Bagaimana distribusi fonem bahasa Jawa Kuno? (d) Bagaimana pola persukuan bahasa Jawa Kuno?

(e) Bagaimana perubahan bunyi dan hukum sandi bahasa Jawa Kuno?

Secara khusus penelitian ini menggali unsur-unsur fonologi bahasa Jawa Kuno, antara lainfonem dan huruf, cara pelafalan dan fungsi bunyi, distribusi fonem, hukum sandi, pola suku kata, korespodensi bunyi, serta fitur distingtif bahasa Jawa Kuno. Di samping itu, penelitian ini juga bertujuan memperkaya sumber-sumber referensi tentang bahasa Jawa Kuno yang masih langka, terutama di bidang fonologi.

(11)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Persoalan fonologi bahasa Jawa Kuno telah diteliti beberapa peneliti terdahulu sebagai berikut.

Mardiwarsito dan Harimurti Kridalaksana (1984) membahas fonologi bahasa Jawa Kuno dalam buku berjudul Struktur Bahasa

Jawa Kuno. Persoalan fonologi yang dibahas masih terbatas pada

permasalahan abjad, fonotaktik, dan morfofonemik. Namun demikian, buku tersebut memiliki relevansi dalam penelitian ini sebagai sumber informasi fonologi bahasa Jawa Kuno, baik untuk diikuti, dikembangkan, maupun dicermati ulang.

Seregeg (2003) menyinggung persoalan aksara bahasa Jawa Kuno atau bahasa Kawi yang membedakannya atas dua bagian, yaitu aksara swara (vokal) dan aksara wyanjana (konsonan), dengan pandangan bahwa aksara Jawa Kuno atau Kawi sama seperti aksara bahasa Sansekerta. Penelitian fonologi bahasa Jawa Kuno dalam buku tersebut sangat terbatas, yakni sebatas melihat jenis aksara dan keberadaan hukum sandi dalam bahasa Jawa Kuno. Akan tetapi, buku tersebut relevan dengan penelitian ini sebagai sumber informasi dalam pengembangan masalah fonologi bahasa Jawa Kuno, terutama dari segi ejaan atau huruf.

Ranuh (tanpa tahun) membahas aspek fonologi bahasa Jawa Kuno, yakni hukum sandi atau disebutnya sandi swara, dalam buku berjudul Çakuntala Peladjaran Bahasa Kawi, Jilid 1. Dalam bahasa Jawa Kuno, sandi swara dibedakan atas sandi dalam dan sandi luar. Buku tersebut digunakan sebagai bahan ajar atau buku pelajaran bahasa Kawi untuk siswa SMA sederajat. Cara pembahasan persoalan fonologi bahasa Jawa Kuno dilakukan secara pragmentaris. Namun demikian, buku tersebut juga relevan dengan penelitian ini, terutama dalam upaya membahas hukum sandi yang ada dalam bahasa Jawa Kuno.

(12)

Simanjuntak (1990) membahas tentang teori fitur distingtif dalam fonologi generatif. Dalam buku tersebut dibahas persoalan mengapa fonologi generatif penting dalam kancah pembicaraan fonologi ke depan, serta apa dan bagaimana teori fitur distingtif dalam fonologi generatif, termasuk perkembangan dan kritik atas teori fitur distingtif dari berbagai kalangan. Buku tersebut memiliki relevansi dengan penelitian ini dalam membahas fitur distingtif bahasa Jawa Kuno yang memang belum pernah dibahas dalam penelitian fonologi bahasa Jawa Kuno sebelumnya.

Pastika (2005) membahas fonologi bahasa Bali berdasarkan pendekatan generatif transformasi. Ada beberapa pokok pikiran dan konsep-konsep tentang fonologi yang dijelaskan dalam buku tersebut dijadikan landasan dalam penelitian ini karena bahasa Jawa Kuno dan bahasa Bali memiliki kedekatan fonologis. Konsep-konsep yang dijadikan landasan dalam penelitian ini, yakni syarat-syarat struktur morfem dan proses-proses fonologi. Syarat struktur morfem yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah syarat-syarat positif yang dibatasi hanya mengungkapkan rangkaian ruas fonologis yang dibolehkan dalam morfem pangkal, tidak termasuk rangkaian ruas fonologis yang dibolehkan dalam afiks. Syarat-syarat positif sttuktur morfem itu digunakan untuk mendapatkan pola-pola kanonik dari bentuk asal morfem. Pola-pola kanonik memberikan informasi tentang pembatasan umum dari rangkaian ruas (konsonan atau vokal) dalam gambaran fonologis kata-kata atau entri leksikal bahasa Jawa Kuno.

(13)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini direncanakan mengambil lokasi di beberapa tempat penyimpanan naskah lontar sastra kakawin dan sastra parwa, seperti Gedong Kirtya Singaraja; Perpustakaan Lontar Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali; UPT Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana; Kolektor Lontar I Dewa Gede Catra di Amlapura, Karangasem.

3.2 Jenis Pendekatan dan Sumber Data

Penelitian fonologi bahasa Jawa Kuno dirancang sebagai penelitian bahasa secara sinkronik melalui pendekatan kualitatif dengan menggunakan data berupa kata-kata, frase, dan kalimat bahasa Jawa Kuno, baik yang ada di dalam teks kakawin,parwa, tutur, kamus, buku.

Sumber data primer penelitian ini adalah Kamus Jawa

Kuna-Indonesia (Zoetmulder dan S.O. Ronson, 1995); teks sastra kakawin, parwa, dan sastra tutur. Sumber data sekundernya meliputi buku,

jurnal, serta laporan hasil penelitian yang gayut dengan penelitian ini.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan metode simak, yakni dengan menyimak penggunaan bahasa Jawa Kuno dalam teks-teks berbahasa Jawa Kuno, seperti kakawin dan parwa. Penerapan metode simak dalam upaya pengumpulan data dibantu dengan teknik sadap dan teknik catat. Teknik sadap maksudnya penyadapan penggunaan bahasa (Mahsun, 2007:92), yakni bahasa Jawa Kuno secara tertulis dalam lontar sastra kakawin dan sastra parwa. Penerapan teknik sadap dilengkapi dengan teknik catat, yakni data yang telah terkumpul dicatat dalam kartu data agar mudah diklasifikasi dan tidak hilang.

(14)

3.4 Teknik Analisis Data

Dalam analisis data, penelitian ini menggunakan metode padan intralingual, yakni dengan cara menghubungbandingkan unsur-unsur yang bersifat lingual, yaitu unsur-unsur fonologi bahasa Jawa Kuno, baik dengan teknik hubung-banding menyamakan (HBS) maupun hubung-banding membedakan (HBB) serta teknik hubung-banding menyamakan hal pokok (HBSP). Di samping itu, dalam analisis data juga diterapkan metode padan ekstralingual dengan cara menghubungkan masalah fonologi bahasa Jawa Kuno dengan hal-hal yang berada di luar bahasa atau konteks (Mahsun, 2007: 118—121).

3.5 Teknik Penyajian Hasil Analisis Data

Hasil analisis data disajikan menggunakan metode informal, menggunakan uraian melalui kata-kata termasuk penggunaan terminologi yang bersifat teknis. Di samping itu, penyajian hasil analisis data juga menerapkan metode formal dengan menggunakan tanda-tanda atau lambang-lambang yang berlaku dalam bidang ilmu linguistik. Teknik penyajiannya disesuaikan dengan format laporan hasil penelitian Hibah Grup Riset Universitas Udayana.

3.6 Bagan Alir Penelitian

Penelitian fonologi bahasa Jawa Kuno yang telah dilakukan peneliti terdahulu dijadikan bahan referensi untuk memperluas wawasan fonologis peneliti dalam mengkaji sistem fonologi bahasa Jawa Kuno lebih lanjut. Penelitian fonologi bahasa Jawa Kuno dimulai dari pendeskripsian dan analisis secara komprehensif serta mendalam tentang satuan-satuan fonologi bahasa Jawa Kuno. Hasil analisis tersebut berupa kaidah-kaidah fonologi bahasa Jawa Kuno. Selanjutnya, kaidah-kaidah fonologi bahasa Jawa Kuno itu disajikan dalam bentuk buku referensi (tercetak dan ber-ISBN) sebagai bahan ajar matakuliah Fonologi Bahasa Jawa Kuno di setiap program studi yang menawarkan matakuliah Fonologi Bahasa Jawa Kuno atau bahasa Kawi yang ada di Indonesia.

(15)

BAB IV

FONEM DAN AKSARA JAWA KUNO (AKSARA KAWI) Fonem dan Aksara Jawa Kuno

Bahasa Jawa Kuno memiliki sejarah masa perkembangan sangat panjang, meliputi masa berabad-abad. Bahasa Jawa Kuno pertama kali ditemukan dalam Prasasti Sukabumi tertanggal 25 Maret 804. Prasasti Sukabumi merupakan piagam pertama yang menggunakan bahasa Jawa Kuno. Sejak saat itu pula, bahasa Jawa Kuno dipakai dalam kebanyakan dokumen resmi. Karena itu, tanggal 25 Maret 804 diklaim sebagai tonggak awal sejarah bahasa Jawa Kuno (Zoetmulder, 1985: 3—4).

Seiring dengan perkembangan bahasa Jawa Kuno yang meliputi masa sangat panjang, tampaknya aksara Jawa Kuno juga mengalami perkembangan. Pada masa awal, bahasa Jawa Kuno ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno atau juga disebut aksara Kawi, yakni jenis aksara yang berasal dari aksara Pallawa. Casparis (1975) membagi tahapan perkembangan aksara Jawa Kuno, yaitu:

(1) Aksara Jawa Kuno/Aksara Kawi Tahap Awal meliputi masa periode 750—925 M. Bentuk hurufnya terdiri atas tipe bentuk kuna, sebagaimana ditemukan dalam Prasasti Dinoyo di Malang, Prasasti Sangkhara di Sragen, Prasasti Plumpungan di Salatiga; serta tipe bentuk standar, seperti ditemukan dalam Prasasti Rukam dan Prasasti Munduan di Temanggung, dan Prasasti Rumwiga di Bantul.

(2) Aksara Jawa Kuno/Aksara Kawi Tahap Akhir meliputi masa periode 925—1250 M. Aksara Jawa Kuno/Kawi periode ini ditemukan dalam Prasasti Lemahabang di Lamongan, Prasasti Cibadak di Sukabumi, dan Prasasti Ngantang di Malang.

(16)

(3) Aksara Jawa Kuno periode Majapahit meliputi masa periode 1250—1450 M. Aksara Jawa Kuno/Kawi jenis ini ditemukan dalam Prasasti Kudadu di Mojokerto, Prasasti Adan-adan di Bojonegoro, dan Prasasti Singhasari di Malang.

Tampaknya setelah periode Majapahit berakhir, aksara Jawa Kuno/aksara Kawi tidak lagi digunakan menuliskan bahasa Jawa Kuno. Pada periode berikutnya, ada kemungkinan peran aksara Jawa Kuno/Aksara Kawi digantikan oleh aksara Jawa, aksara Bali, aksara Sunda, dan aksara Buda dalam penulisan bahasa Jawa Kuno, terutama penulisan bahasa Jawa Kuno di dalam karya sastra, baik sastra parwa, kakawin, maupun tutur-tattwa. Jawa, Bali, Sunda merupakan wilayah pewaris bahasa dan sastra Jawa Kuno yang diduga memiliki aksara berasal dari aksara Jawa Kuno/aksara Kawi.

Di Bali, sejak bahasa Jawa Kuno mulai masuk ke Bali pada abad ke-11, yakni pada masa pemerintahan Raja Udayana Warmadewa sampai saat ini masih tetap dipelihara dan ditulis dengan menggunakan aksara Bali Swalalita. Bahasa Jawa Kuno dipakai media dalam penggubahan karya sastra kakawin, parwa, dan tutur-tattwa. Demikian pula, bahasa Jawa Kuno digunakan dalam seni pertunjukan wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang serta dramatari, seperti dramatari gambuh, arja, dan sendratari.

Aksara Bali Swalalita memiliki 15 fonem vokal, terdiri atas a, à, i, ì, u, ù, å, æ, í, e, ai, o, au, ê, ö. Fonem /í/ (í dirga) yang ada di dalam aksara Jawa Kuno/Aksara Kawi tidak ditemukan dalam vokal aksara Bali Swalalita. Sementara itu, fonem konsonan aksara Bali Swalalita terdiri atas 33 buah, meliputik, kh, g, gh, ò,c, ch, j, jh, ñ, þ, þh, ð, ðh, ó, t, th, d, dh, n, p, ph, b, bh, m, y, r, l, w, ú, û, s, h. Akan tetapi, bunyi ð, ðh, dan dh ditulis dengan lambang aksara yang sama, yakni /ŒÒ/ yang disebut dengan istilah d-madu.

Demikian pula, masyarakat di sekitar wilayah Merapi-Merbabu sebagai pewaris tradisi sastra Jawa Kuna di Jawa Tengah memiliki aksara sendiri dalam menuliskan bahasa Jawa Kuno, yang disebut aksara Buda (van der Molen, 1983, Wiryamartana, 1990).

(17)

Namun demikian, pembicaraan fonem bahasa Jawa Kuno dalam penelitian ini tetap berdasarkan hasil identifikasi aksara Jawa Kuno dengan bentuk standar sebagaimana dikemukakan oleh Holle (1882).

Fonem ialah satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna (Haryanta, 2012:73). Fonem juga merupakan bunyi fungsional. Fonem dilambangkan dengan huruf yang diapit di antara dua garis miring (Verhaar, 2010:67). Sebagaimana bahasa-bahasa umumnya, bahasa Jawa Kuno memiliki fonem yang dilambangkan dengan huruf Jawa Kuno. Hasil-hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa fonem bahasa Jawa Kuno terdiri atas fonem vokal dan fonem konsonan (Mardiwarsito dkk., 1984; Zoetmulder dkk., 1995).

Sebagaimana dikemukakan Holle (1882), fonem konsonan bahasa Jawa Kuno terdiri atas 33 fonem, yaitu k, kh, g, gh, ò,c, ch, j, jh, ñ, þ, þh, ð, ðh, ó, t, th, d, dh, n, p, ph, b, bh, m, y, r, l, w, ú, û, s, h yang dilambangkan dengan huruf (aksara Jawa Kuno) sebagai berikut.

(18)

Fonem vokal bahasa Jawa Kuno terdiri atas 16 fonem, terdiri atas a, à, i, ì, u, ù, e, ai, o, au,ê, ö, å, æ, í, í yang dilambangkan dengan huruf (aksara) Jawa Kuno sebagai berikut.

(19)

Zoetmulder (1985; 1995) menyatakan bahwa fonem vokal bahasa Jawa Kuna hanya berjumlah 13 buah, terdiri atas a, à, ê, ö, i, ì, u, ù, å, e, ai, o, au. Vokal æ, í, dan í (dirga) tidak ditemukan pemakaiannya dalam kosa kata Jawa Kuno, baik pada karya sastra parwa, kakawin, maupun tutur-tattwa.

Bahasa, aksara, dan sastra Jawa Kuno banyak mendapat pengaruh dari aksara, bahasa, dan sastra Sanskerta (Holle, 1882; Brandes, 1889, Casparis, 1975; Zoetmulder, 1985). Diduga bahwa aksara Jawa Kuno berasal dari aksara Pallawa yang kemudian dimodifikasi di Jawa sekitar abad VIII. Dalam setiap bahasa, akulturasi merupakan faktor perubahan yang penting, dan perkembangan yang dialami bahasa Jawa Kuno. Dalam proses modifikasi aksara Pallawa, aksara Jawa Kuno tetap mempertahankan ciri-cirinya sebagai aksara Nusantara. Salah satu bukti adalah munculnya vokal ě (pepet) dan ö (pepet panjang) yang tidak ditemukan dalam aksara Pallawa ataupun dalam bahasa Sanskerta. Proses akulturasi dalam bahasa Jawa Kuno menunjukkan keunikan bahwa unsur-unsur asing dibaurkan ke dalam bahasa Jawa Kuno sedemikian rupa sehingga susunan dan sifatnya sebagai sebuah bahasa Nusantara tetap utuh. Dalam proses meminjam dan mencangkokkan kata-kata Sanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuno umumnya tidak mengalami perubahan fonetis. Tidak ditemukan jejak bahwa kata-kata Sanskerta disesuaikan dengan pola-pola bunyi dalam bahasa Jawa Kuno (Zoetmulder, 1985:13).

Bahasa Jawa Kuno tidak lagi memiliki penutur asli. Lagipula, bahasa Jawa Kuno hanya diwarisi melalui bahan-bahan tertulis. Akan tetapi, jika dapat diasumsikan bahwa versi lisan bahasa Jawa Kuno itu tidak jauh berbeda dengan versi tertulis (Zoetmulder, 1985: 11), maka ada kemungkinan dari segi artikulasi fonetis, baik tempat maupun cara artikulasi terhadap konsonan dan vokal bahasa Jawa Kuno diinterpretasikan berdasarkan perbandingan dengan bahasa Sanskerta atau sistem yang disanskertakan, kecuali vokal ê, ö yang tidak ada dalam bahasa Sanskerta sehingga diperbandingkan dengan

(20)

bahasa Jawa dan bahasa Bali. Dengan demikian, konsonan bahasa Jawa Kuno dapat dikelompokkan menurut artikulasi fonetisnya sebagai berikut. gutturals (kaóþhya) : k, kh, g, gh, ÿ palatals (tàlavya) : c, ch, j, jh, ñ linguals (mùrdhanya) : þ, þh, ð, ðh, ó dentals (daóþya) : t, th, d, dh, n labials (oûþhya) : p, ph, b, bh, m

sibilan (uûma) : s (dental), û (lingual), ú (palatal)

semivokal : y, r, l, w aspirat (visarga) : h

Fonem vokal bahasa Jawa Kuno dapat dikelompokkan menurut artikulasi fonetisnya, yakni posisi lidah dan bentuk bibir sebagai berikut.

bunyi rendah-depan-tak bulat : a, à bunyi tinggi-depan-tak bulat : i, ì bunyi tinggi-belakang-bulat : u, ù bunyi tengah-depan-tak bulat : e bunyi agak rendah-depan-tak bulat : ai bunyi tengah-belakang-bulat : o bunyi agak rendah-belakang-bulat : au bunyi tengah-pusat-tak bulat : ê, ö bunyi tengah-pusat-tak bulat : å, æ bunyi tengah-pusat-tak bulat : í, í

(21)

Cara Pelafalan Bunyi Bahasa Jawa Kuno

Cara melafalkan bunyi bahasa menggunakan alat ucap. Muslich (2009) menyatakan bahwa organ-organ tubuh yang digunakan sebagai alat ucap dapat dibagi menjadi tiga komponen, yaitu (1) komponen supraglotal, terdiri atas rongga kerongkongan, rongga hidung, dan rongga mulut. Alat-alat ucap pada rongga mulut bagian atas, meliputi bibir atas (labium), gigi atas (dentum), pangkal gigi atas (alveolum), langit-langit keras (palatum), langit-langit lunak (velum), anak tekak (uvula). Alat-alat ucap pada rongga mulut bagian bawah meliputi bibir bawah (labium), gigi bawah (dentum), ujung lidah (apeks), tengah lidah (lamina), belakang lidah (dorsum), dan akar lidah (radiks); (2) komponen laring, di dalamnya terdapat pita suara yang berfungsi sebagai klep yang mengatur arus udara antara paru-paru, mulut, dan hidung; (3) komponen subglotal, terdiri atas paru-paru kiri dan kanan, saluran bronkial, dan saluran pernafasan (trakea).

Alat ucap dalam bahasa Jawa Kuno terdiri atas kaóþha (tenggorokan), tālu (anak tekak), oûþhya (bibir), mūrdhā (langit-langit), danta (gigi), dan jihwā (lidah). Alat-alat ucap bisa berperan sebagai alat ucap aktif (artikulator) dan alat ucap pasif (titik artikulasi). Alat ucap tersebut mengalami berbagai kemungkinan pertemuan dalam menghasilkan bunyi yang di kalangan fonetisi disebut artikulasi (Muslich, 2009).

Bahasa Jawa Kuno dikatagorikan sebagai bahasa mati karena tidak lagi digunakan oleh penutur aslinya dalam berkomunikasi sehari-hari. Sekalipun di Bali bahasa Jawa Kuno masih digunakan secara lisan dalam seni pertunjukan wayang misalnya, hal itu tidak dapat dijadikan bukti valid karena orang Bali bukanlah penutur asli bahasa Jawa Kuno. Karena itu, pelafalan bunyi bahasa Jawa Kuno sulit dipastikan sehingga hanya bisa dilakukan interpretasi melalui perbandingan, baik dengan bahasa Sanskerta (aksara Pallawa) sebagai asalnya maupun bahasa (aksara) Bali dan bahasa (aksara) Jawa sebagai bentuk perkembangannya. Dengan demikian, cara pelafalan aksara Jawa Kuno/aksara Kawi dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

(22)

Bunyi Vokal:

[a] diucapkan dengan cara mengaturdepan lidahdalam posisi merendah sehingga menjauh dari langit-langit keras dan posisi bibir merata atau tidak bulat. Rahang bawah diturunkan sejauh-jauhnya dari rahang atas. Misalnya, [a] pada [aran], pada [abala]. Di Bali, [a] pada akhir kata bahasa Jawa Kuno diucapkan seperti [ǝ] sesuai dengan dialek Bali. Misalnya, [a] pada [abhaya] akan diucapkan [abhayǝ]

[ā] diucapkan seperti [a] tetapi lebih panjang. Misalnya, [ā] pada [ādika], pada [abhāwa], pada [ābhā]. Di Bali, [ā] pada akhir kata bahasa Jawa Kuno diucapkan seperti [ǝ] tetapi lebih panjang. Misalnya, [ā] pada [ābha] akan diucapkan [ābhǝ]

[i] diucapkan dengan cara mengatur depan lidah dalam posisi meninggi mendekati langit-langit keras dan posisi bibir merata atau tidak bulat. Misalnya, [i] pada [ika], pada [ilik], pada [iki]

[ī] diucapkan seperti [i] tetapi lebih panjang. Misalnya, [ī] pada [īśa], pada [iûīka], pada [akûohióī]

[u] diucapkan dengan cara menaikkan bagian belakang lidah mendekati langit-langit keras dan posisi bibir membulat. Misalnya, [u] pada [uga], pada [ubub], pada [udu]

[ù] diucapkan seperti [u] tetapi lebih panjang. Misalnya, [ù] pada [ùna], pada [mùrka], pada [wadhù]

[e] diucapkan dengan cara menaikkan bagian depan lidah dan posisi bibir merata atau tidak bulat. Misalnya, [e] pada [ebeg], pada [jaleśa], pada [jambe]

[ai] diucapkan dengan mengatur posisi lidah agak rendah dan posisi bibir merata atau tidak bulat. Misalnya, [ai] pada [aig], pada [aiśwarya], pada [daitya]

(23)

[o] diucapkan dengan menaikkan bagian belakang lidah sehingga agak mendekati langit-langit keras dan posisi bibir membulat. Misalnya, [o] pada [ogha], pada [obor] [au] diucapkan dengan mengatur posisi lidah agak merendah

dan posisi bibir membulat. Misalnya, [au] pada [auûadha], pada [śauca], pada [saubhāgya]

[ě] diucapkan dengan mengatur posisi lidah merata di bagian tengah, rahang bawah dalam posisi netral, dan posisi bibir tidak membulat. Misalnya, [ě] pada [êðêk], pada [rêÿkà] [ö] diucapkan seperti [ê] tetapi lebih panjang. Misalnya, [ö]

pada [öd], pada [söÿ], pada [rêÿö]

[å] diucapkandengan mengatur posisi lidah merata di bagian tengah dan sedikit digetarkan, rahang bawah dalam posisi netral, dan posisi bibir tidak membulat. Misalnya, [å] pada [åûi], pada [tåûóa]

Bunyi Konsonan:

[k] diucapkan dengan cara mengatur pangkal lidah sebagai artikulator agar menyentuh langit-langit lunak sebagai titik artikulasi. Misalnya, [k] pada [kajar], pada [kakara], pada [karttika], pada [padik]

[kh] diucapkan seperti [k] tetapi disertai hembusan h (aspirat). Misalnya, [kh] pada [khadga], pada [mekhala], pada [mukhya], pada [mukha]

[g] diucapkan dengan cara mengatur pangkal lidah sebagai artikulator agar menyentuh langit-langit lunak sebagai titik artikulasi. Misalnya, [g] pada [gadā], pada [gagak], pada [aděg]

(24)

[gh]diucapkan seperti [g] tetapi disertai hembusan h (aspirat). Misalnya, [gh] pada [ghana], pada [wighna], pada [aghåóa], pada [amogha]

[ÿ] diucapkan dengan cara arus udara yang mengalir melalui rongga mulut ditutup rapat, tetapi dialirkan lewat rongga hidung. Misalnya, [ÿ] pada [ÿaran], pada [amaÿan], pada [mariÿ]

[c] diucapkan dengan cara mengatur posisi bagian tengah lidah sebagai artikulator agar menyentuh langit-langit keras sebagai titik artikulasi. Arus udara ditutup rapat, lalu dilepas secara perlahan-lahan. Misalnya, [c] pada [cakar], pada [cacad], pada [waca].

[ch] diucapkan seperti [c] tetapi diikuti dengan h (aspirat) dihembus. Misalnya, [ch] pada [chāyā], pada [chidra], pada [chedaÿga], pada [iccha]

[j] diucapkan dengan cara mengatur posisi bagian tengah lidah sebagai artikulator agar menyentuh langit-langit keras sebagai titik artikulasi. Arus udara ditutup rapat, lalu dilepas secara perlahan-lahan. Misalnya, [j] pada [jaga], pada [gajah], pada [yajña], pada [paÿkaja]

[jh] diucapkan seperti [j] disertai h (aspirat) yang dihembuskan. Misalnya, [jh] pada [jhag], pada [nirjhara], pada [jhaþiti], pada [jharjharita]

[ñ] diucapkan dengan mengatur bagian tengah lidah agar menyentuh langit-langit keras, dan arus udara yang mengalir melalui rongga mulut ditutup rapat, tetapi dialirkan lewat rongga hidung. Misalnya, [ñ] pada [ñaman], pada [kañcana], pada [yajña]

[þ] diucapkan dengan cara ujung lidah sebagai artikulator menyentuh kaki gigi atas sebagai titik artikulasi. Misalnya, [þ] pada [þika], pada [kuþāra], pada [tuûþa]

(25)

[þh] diucapkan seperti [þ] diikuti h (aspirat) yang dihembuskan. Misalnya, [þh] pada [þhara], pada [anteûþhikarya], pada [påûþha]

[ð] diucapkan dengan cara ujung lidah (apeks) sebagai artikulator menyentuh kaki gigi atas (alveolum) sebagai titik artikulasi. Misalnya, [ð] pada [ðah], pada [ðêðês], pada [ðaðaÿan]

[ðh] diucapkan seperti [ð] disertai h (aspirat) yang dihembuskan. Misalnya, [ðh] pada [dāðhā]

[ó] diucapkan dengan cara ujung lidah (apeks) sebagai artikulator menyentuh kaki gigi atas (alveolum) sebagai titik artikulasi, arus udara yang melewati rongga mulut ditutup rapat, tetapi arus udara dialirkan lewat rongga hidung. Misalnya, [ó] pada [aóþêÿ], pada [nirbaóa]

[t] diucapkan dengan cara ujung lidah menyentuh gigi atas. Misalnya, [t] pada [tabêh], pada [śaratala], pada [sarat] [th] diucapkan seperti [t] disertai h (aspirat) yang

dihembuskan. Misalnya, [th] pada [thàni], pada [sthiti], pada [yatha], pada [pathya]

[d] diucapkan dengan cara ujung lidah menyentuh gigi atas. Misalnya, [d] pada [dadi], pada [bhadra], pada [śabda], pada [padma], pada [sad]

[dh] diucapkan seperti [d] disertai h (aspirat) yang dihembuskan. Misalnya, [dh] pada [dhwaja], pada [dhyana], pada [madhya], pada[dhana], pada [dhanurdhara], pada [mudha]

[n] diucapkan dengan cara ujung lidah menyentuh gigi atas danarus udara yang melewati rongga mulut ditutup rapat, tetapi dialirkan lewat rongga hidung. Misalnya, [n] pada [ndak], pada [naga], pada [nagantun]

(26)

[p] diucapkan dengan cara bibir bawah sebagai artikulator menyentuh bibir atas sebagai titik artikulasi. Misalnya, [p] pada [panah], pada [sapta], pada [tapa], pada [harěp] [ph] diucapkan seperti [p] diikuti h (aspirat) yang

dihembuskan. Misalnya, [ph] pada [phala], pada [phālguna], pada [phalāśrama]

[b] diucapkan dengan cara bibir bawah sebagai artikulator menyentuh bibir atas sebagai titik artikulasi. Misalnya, [b] pada [bapa], pada [sabda], pada [atab]

[bh] diucapkan seperti [b] diiukti h (aspirat) yang dihembuskan. Misalnya, [bh] pada [bhaga], pada [wibhawa], pada [sabhya], pada [sabha]

[m] diucapkan dengan cara ujung lidah menyentuh gigi atas danarus udara yang melewati rongga mulut ditutup rapat, tetapi dialirkan lewat rongga hidung. Misalnya, [m] pada [mala], pada [mambaÿ], pada [karma], pada [malam] [s] diucapkan dengan cara ujung lidah menyentuh gigi atas

dan arus udara dihambat sedemikian rupa, tetapi tetap dapat keluar lewat rongga mulut. Misalnya, [s] pada [sada], pada [pastha], pada [raras]

[ś] diucapkan dengan cara mengatur bagian tengah lidah menyentuh langit-langit keras dan arus udara dihambat sedemikian rupa, tetapi tetap dapat keluar lewat rongga mulut. Misalnya, [ś] pada [śrī], pada [paścat]

[û] diucapkan dengan cara ujung lidah sebagai artikulator menyentuh kaki gigi atas sebagai titik artikulasidan arus udara dihambat sedemikian rupa, tetapi tetap dapat keluar lewat rongga mulut. Misalnya, [û] pada [ûadpaða], pada [śiûya], pada [wiûaya], pada [warûa]

[y] diucapkan dengan cara mengatur bagian tengah lidah sebagai artikulator menyentuh langit-langit keras sebagai

(27)

titik artikulasi, dan udara keluar melalui rongga mulut dengan menutupkan velik pada dinding faring. Misalnya, [y] pada [yoni], pada [haywa], pada [apuy]

[r] diucapkan dengan cara mengatur ujung lidah menyentuh gusi atau kaki gigi atas serta arus udara ditutup dan dibuka berulang-ulang secara tepat. Misalnya, [r] pada [rawi], pada [karóa], pada [sêkar]

[l] diucapkan dengan cara mengatur ujung lidah menyentuh gusi atau kaki gigi atas serta arus udara ditutup sedemikian rupa sehingga masih bisa keluar melalui sisi rongga mulut. Misalnya, [l] pada [lwah], pada [lama], pada [kalpa], pada [alal]

[w] diucapkan dengan cara mengatur bibir bawah sebagai artikulator menyentuh bibir atas sebagai titik artikulasi. Misalnya, [w] pada [wana], pada [sawya], pada [bhawa] [h] diucapkan dengan cara udara yang keluar dari paru-paru

digesekkan ke tenggorokan. Misalnya, [h] pada [hulun], pada [duhka], pada [pêjah]

(28)

BAB V

DISTRIBUSI FONEM DAN POLA PERSUKUAN BAHASA JAWA KUNO

Distribusi Fonem Bahasa Jawa Kuno

Distribusi fonem ialah persebaran fonem ke berbagai posisi. Menurut Parera (1983) distribusi fonem bisa berfokus pada lingkungan tutur, kata, morfem, unsur suprasegmental, dan suku kata. Namun, model distribusi fonem semacam itu tidak bisa ditemukan dalam semua bahasa (Muslich, 2009). Oleh karena itu, distribusi fonem bahasa Jawa Kuno dalam penelitian ini lebih banyak dilihat dari suku kata dan kata didasari pertimbangan situasi dan kondisi bahasa Jawa Kuno sebagai bahasa yang tidak lagi digunakan sebagai medium komunikasi sehari-hari dan tidak lagi memiliki penutur asli.

A. Fonem Vokal:

Distribusi fonem vokal bahasa Jawa Kuno dilihat dalam hubungannya dengan suku kata atau kata adalah masing-masing sebagai berikut.

Fonem

Vokal Distribusi dalam hubungannya dengan suku kata dan atau kataAwal Tengah Akhir /a/ [aběn] ‘serang’

[abdhi] ‘samudera’ [adyut] ‘sinar’

[agni] ‘api’ [aho] ‘siang hari’

[aji] ‘teks suci’ [akěn] ‘seperti’ [alěh] ‘letih’ [ambět] ‘lentur’ [aóðěg] ‘henti’ [aÿgěh] ‘tetap’ [añjing] ‘anjing’ [apuh] ‘kapur’ [ardi] ‘gunung’ [astri] ‘doa-doa’ [atus] ‘ratus’ [awe] ‘memberi isyarat’ [ayut] ‘tergila-gila’ [bahni] ‘api’ [caóði] ‘candi’ [dagdhi] ‘terbakar’ [ganti] ‘gilir’ [hasti] ‘gajah’ [jaÿgut] ‘dagu’ [kantên] ‘jelas’ [lampus] ‘mati’ [maksih] ‘masih’ [nandini] ‘lembu putih’ [pasti] ‘tentu’ [raśmi] ‘pesona’ [sadyuh] ‘sorga’ [tambiÿ] ‘pinggir [wagyu] ‘geger’ [yan] ‘jika’ [bhīma] ‘menakutkan’ [citra] ‘lukisan’ [dina] ‘hari’ [eka] ‘satu’ [guhya] ‘rahasia’ [hima] ‘kabut’ [ika] ‘itu’ [jihwa] ‘lidah’ [kita] ‘kamu’ [lima] ‘lima’ [megha] ‘awan’ [nitya] ‘selalu’ [ora] ‘tidak’ [peda] ‘kejam’ [ruddha] ‘terhalang’ [tīra] ‘tepi’ [ūrdha] ‘tinggi’ [wīja] ‘bibit’ BAB V

DISTRIBUSI FONEM DAN POLA PERSUKUAN BAHASA JAWA KUNO

(29)

[yuddha] ‘perang’ /ā/ [ābhā] ‘semarak’ [ācāri] ‘perempuan’ [ādi] ‘permulaan’ [āgama] ‘agama’ [āhuti] ‘korban suci’ [ājña] ‘perintah’ [ākrti] ‘bentuk’ [ālocita] ‘pertimbangan’ [ānana] ‘mulut] [āpti] ‘harap’ [ārya] ‘ningrat’ [āśih] ‘berkah’ [ātma] ‘jiwa’ [āwaraóa] ‘halangan’ [āyuûa] ‘umur’ [bāp] ‘banyak’ [ācārya] ‘guru’ [dān] ‘siap’ [gāóðewa] ‘busur panah’ [hāt] ‘keprihatinan’ [jāhnawi] ‘sungai’ [kārya] ‘tugas’ [lāÿgūla] ‘ekor’ [māÿśa] ‘daging’ [nāstika] ‘kafir’ [pādya] ‘air pembasuh’ [rājya] ‘istana’ [sāk] ‘pecah’ [tāmra] ‘tembaga’ [wāhya] ‘tampak luar’ [yātra] ‘ziarah’ [alā] ‘menjulur’ [bhrā] ‘kilau’ [ceûþā] ‘isyarat’ [daÿstrā] ‘taring’ [gadā] ‘gada’ [hiÿsā] ‘luka-luka’ [iÿā] ‘gerak’ [jihwā] ‘lidah’ [kanyā] ‘dara’ [lambā] ‘bulu’ [maÿkā] ‘maka’ [nanā] ‘rusak’ [ÿkā] ‘di sana’ [pāramitā] ‘kebajikan’ [ratā] ‘rata’ [sabhā] ‘pertemuan’ [tatā] ‘aturan’ [ulā] ‘ular’ [wêÿā] ‘lubang’ [yathā] ‘seperti’ /i/ [ibha] ‘gajah’

[icuk] ‘bujuk’ [idêr] ‘putar’

[igêl] ‘tari’ [ihatra] ‘di sini’

[ijyā] ‘korban’ [ika] ‘itu’ [ilir] ‘alir’ [ilu] ‘ikut’ [imbuh] ‘tambah’ [inak] ‘enak’ [iÿêr] ‘gerak’ [iñcut] ‘lika-liku’ [ipuk] ‘pelihara’ [iraÿ] ‘malu’ [isêp] ‘hisap’ [iti] ‘demikian’ [iwak] ‘ikan’ [biÿgêl] ‘gelang kaki’ [bintaÿ] ‘bintang’ [biñcaÿ] ‘rindu’ [cihna] ‘ciri’ [cipta] ‘pikiran’ [digda] ‘tekun’ [dik] ‘arah’ [dhik] ‘ancaman’ [gimbal] ‘gimbal’ [giÿgaÿ] ‘guncang’ [hir] ‘pelan-pelan’ [jihma] ‘bohong’ [kimburu] ‘cemburu’ [lintaÿ] ‘bintang’ [liÿ] ‘kata’ [adi] ‘permulaan’ [bahni] ‘api’ [bari] ‘sekejap’ [camêti] ‘cemeti’ [candiki] ‘kolam’ [dadi] ‘jelma, jadi’

[dami] ‘jerami’ [êmbi] ‘tangis’ [eÿgi] ‘goyah’ [gaóði] ‘busur’ [ganti] ‘ganti’ [gupi] ‘bicara’ [hani] ‘padi kuning’ [hari] ‘singa’ [idi] ‘usik’ [iki] ‘ini’ [jampi] ‘obat

(30)

[iya] ‘sungguh’ [liñcak] ‘lincah’ [minda] ‘biri-biri’ [miÿmaÿ] ‘terbalik’ [nimna] ‘kasar’ [nindya] ‘cela’ [ÿis] ‘cepat’ [pióða] ‘rupa’ [pinta] ‘pinta’ [piÿhe] ‘putih’ [piñcang] ‘pincang’ [rimbas] ‘kapak’ [rióði] ‘bola’ [riÿgit] ‘wayang’ [riñci] ‘rinci’ [simpaÿ] ‘simpang’ [siódêt] ‘jerat’ [siÿ] ‘apapun’ [siñjaÿ] ‘kain’ [timbal] ‘timbal’ [tindak] ‘tindak’ [tióðes] ‘tindas’ [tiÿgal] ‘tinggal’ [tiñjo] ‘tinjau’ [wighna] ‘bencana’ [wiÿkiÿ] ‘punggung’ penawar’ [janmi] ‘manusia’ [jāti] ‘status lahir’ [kasturi] ‘kesturi’ [kaki] ‘kakek’ [kalambi] ‘baju’ [kawi] ‘pujangga’ [lagi] ‘lagi’ [lindi] ‘pesona’ [mandi] ‘mujarab’ [mantri] ‘menteri’ [maÿsi] ‘tinta’ [nami] ‘nama’ [nīti] ‘ilmu politik’

[paðahi] ‘genderang’ [pêti] ‘hitam’ [peni] ‘barang mulia’ [pipi] ‘pipi’ [prāói] ‘mahluk hidup’ [rabi] ‘istri’ [åûi] ‘pendeta’ [riÿi] ‘tajam’ [rukmi] ‘emas’ [sagi] ‘jenis hewan

air’ [sêmi] ‘tunas’ [siddhi] ‘sukses’ [taji] ‘taji’ [têpi] ‘tepi’ [titi] ‘aturan’ [tåpti] ‘puas’ [uri] ‘belakang’ [wahni] ‘api’ [wêli] ‘beli’ /ī/ [īrûya] ‘dengki’ [īs] ‘alir’ [īśa] ‘yang berkuasa’ [īśāna] ‘nama Siwa’ [bhīma] ‘mengerikan’ [bhīru] ‘penakut’ [bhīûaóa] ‘menakutkan’ [bhīta] ‘takut’ [bāóī] ‘bahasa’ [bhaÿgī] ‘cara’ [bratī] ‘pertapa’ [ceþī] ‘pembantu’ [dampatī] ‘suami-istri’

(31)

[īśitwa] ‘keunggulan’ [īśwara] ‘raja’ [īśwari] ‘ratu’ [dīkûā] ‘inisiasi’ [dīna] ‘murung’ [dīpa] ‘lampu’ [dhīra] ‘berani’ [dīrgha] ‘panjang’ [gīta] ‘nyanyian’ [grhīta] ‘diterima’ [hīna] ‘hina’ [hīs] ‘aliran’ [jīwa] ‘hidup’ [kīróa] ‘tersebar’ [kīrti] ‘jasa’ [krīda] ‘main’ [līlā] ‘main’ [līna] ‘musnah’ [mīna] ‘ikan’ [nāgawīthī] ‘jalan naga’ [nīca] ‘hina’ [pīta] ‘kuning’ [prīti] ‘kesenangan’

[samīpa] ‘di samping] [śarīra] ‘tubuh’ [śīghra] ‘segera’ [tīrtha] ‘air suci’ [wīja] ‘benih’ [wīra] ‘pahlawan’ [wwīt] ‘asal-usul’ [dhyayī] ‘kusuk’ [dewatī] ‘dewi’ [gharióī] ‘istri’ [hênī] ‘pasir’ [hilī] ‘arus’ [lakûmī] ‘semarak’ [luÿgī] ‘naik’ [mahiûī] ‘ratu’ [mālinī] ‘nama metrum’ [mañjarī] ‘serangkai bunga’ [metrī] ‘kebajikan’ [nadī] ‘sungai’ [narī] ‘perempuan’ [nawamī] ‘kesembilan’ [padminī] ‘wanita ulung’ [påthiwī] ‘tanah’ [purī] ‘istana’ [putrī] ‘putri’ [rāgī] ‘tergila-gila’ [rewatī] ‘nama gugus bintang’ [rirī] ‘lemah lembut’ [śacī] ‘istri Dewa

Indra’ [śikharióī]

‘gunung’ [smarī] ‘Ratih’ [śåī] ‘kesuburan’ [sukī] ‘pusat roda’

[swī] ‘desakan’ [tamwī] ‘tamu’ [tandrī] ‘lesu’ [ūróī] ‘berpakaian wol’ [usī] ‘serang’ [wāgiśwarī] ‘dewi bicara’ [waitarinī] ‘nama

(32)

sungai’ [yakûī] ‘raksasa perempuan [yogī] ‘pertapa’ [yuwatī] ‘gadis remaja’ /u/ [ubhaya] ‘janji’

[ubêÿ] ‘keliling’ [ucap] ‘ucap’ [ucul] ‘timbul’ [udaka] ‘air’ [uðul] ‘menganga’ [ugra] ‘hebat’ [ugug] ‘enggan’ [uhuh] ‘teriak’ [uhut] ‘memberitahu’ [ujar] ‘ujar’ [ujwala] ‘menyala’ [ukêl] ‘gulungan’ [ukih] ‘tangkap’ [ulah] ‘ulah’ [ulêÿ] ‘jalin’ [umah] ‘rumah’ [umbaÿ] ‘apung’ [unata] ‘tinggi’ [uóðuh] ‘kocok’ [unmatta] ‘bingung’ [upadi] ‘pengganti’ [upêk] ‘tekan’ [uroja] ‘buah dada’

[urut] ‘utas’ [usap] ‘usap’ [usên] ‘cepat’ [utêk] ‘otak’ [uwah] ‘ulang’ [uyuh] ‘air kencing’ [abuk] ‘sombong’ [buntal] ‘tombak’ [cuóðuk] ‘temu’ [duk] ‘waktu’ [ðumpil] ‘ikut serta’ [êluk] ‘bengkok’ [êmuk] ‘selubung’ [guluÿ] ‘gelinding’ [hub] ‘pelindung’ [iÿguÿ] ‘goyang’ [jrum] ‘tipu daya’ [kum] ‘merendam diri’ [lumpat] ‘lompat’ [mudgara] ‘palu’ [nuknuk] ‘himpit’ [ÿuk] ‘pertikel penegas’ [ñamut] ‘samar’ [oyuh] ‘ayo’ [pukpuk] ‘jenis burung’ [sugya] ‘mungkin’ [śuddhi] ‘murni’ [tuÿgir] ‘punggung’ [turóa] ‘dengan cepat’ [upup] ‘cekik’ [wruh] ‘tahu’ [wuÿkuk] ‘bongkok’ [yukti] ‘cocok’ [abu] ‘abu’ [adu] ‘adu’ [bahu] ‘sering’ [camuru] ‘anjing’

[cupu] ‘pot keci’ [dadu] ‘dadu’ [ðalu] ‘saling tatap’ [ênu] ‘jalan’ [êru] ‘ujung’ [ewu] ‘seribu’ [garu] ‘garu’ [gisu] ‘bingung’ [halu] ‘pentung’ [hyu] ‘ikan hiu’ [jalu] ‘laki-laki’ [juru] ‘kepala’ [kayu] ‘pohon’ [ketu] ‘tanda’ [lêsu] ‘lemah’ [luru] ‘pucat’ [madhu] ‘madu’ [mululu] ‘menyembur’ [namu] ‘lenyap’ [ÿêlu] ‘sakit kepala’ [ñambu] ‘jambu’ [oru] ‘campur-baur’ [padu] ‘sudut’ [pitu] ‘tujuh’ [rabu] ‘lumpur kering’ [renu] ‘pasir’ [sādhu] ‘baik’ [setu] ‘jembatan’

(33)

[yuyut] ‘buyut lelaki’ [tiru] ‘tiru’ [ulu] ‘telan’ [wibhu] ‘kuasa’ [yuyu] ‘kepiting’ /ū/ [ūha] ‘mengerti’ [ūna] ‘kurang’ [ūnādika] ‘sesuatu yang dikerjakan atau tidak dikerjakan’ [ūnarātri] ‘kurang semalam’ [ūr] ‘pergi’ [ūr.dha] ‘luhur’ [ūrdhabhāwana] ‘meditasi yang agung’ [ūrdhadeha] ‘bagian atas badan’

[ūrmi] ‘ombak’ [ūróā] ‘permata di dahi’ [ūróī] ‘memakai pakaian wol’ [ūta] ‘yang ditenun’ [ūtagahana] ‘amat dalam’ [amūrti] ‘tanpa bentuk’ [bhūh] ‘bumi’ [bhūmi] ‘bumi’ [bhūr] ‘bumi’ [cūla] ‘cula’ [cūróa] ‘bedak’ [cūrnita] ‘remuk’ [dūm] ‘bagi’ [dhū.pa] ‘dupa’ [dūra] ‘jauh dari’

[gūdha] ‘tersembunyi’ [gupgūp] ‘gugup’ [ghūróa] ‘bergema’ [krūra] ‘galak’ [kūÿ] ‘cinta’ [kūr.ma] ‘penyu’ [lūd] ‘lagipula’ [lūm] ‘layu’ [luÿ] ‘pucuk’ [muhūrta] ‘satuan waktu’ [mūlya] ‘mulia’ [mūrcha’ pingsan’ [ÿūni] ‘lebih dulu’ [pūh] ‘patah’ [pūrwa] ‘permulaan’ [pūta] ‘murni’ [rūg] ‘hancur’ [rūkûa] ‘lesu’ [rūm] ‘indah’ [sampūróa] ‘sempurna’ [samūha] ‘kumpulan’ [asū] ‘mengikat menjadi satu] [birū] ‘biru’ [bhrū] ‘kening’ [dudū] ‘bukan’ [gulū] ‘leher’ [hapū] ‘kapur’ [hêmū] ‘mengandung’ [hênū] ‘jalan’ [hrū] “anak panah’ [igū] ‘goyang’ [ilū] ‘air liur’ [itū] ‘ukuran’ [kêmū] ‘kumur’ [kihū] ‘ambruk’ [kipū] ‘kipu’ [kukū] ‘mendekur’ [kusū] ‘suram’ [lampū] ‘menyerah’ [layū] ‘lari cepat’

[lêbū] ‘debu’ [lióðū] ‘gempa’

[lulū] ‘lolong’ [lurū] ‘jatuh’ [namū] ‘kata seru’

[nyū] ‘kelapa’ [rêmpū] ‘hancur’ [riÿgū] ‘goyang’ [rurū] ‘gugur’ [tawū] ‘timba’ [tū] ‘benang’ [turū] ‘tidur’ [ulū] ‘bergantung’ [wadhū] ‘istri’ [walū] ‘labu’ [wêlū] ‘keliling’

(34)

[śūóya] ‘kosong’ [tūb] ‘pukul’ [tūs] ‘aliran’ [tūt] ‘ikut’ [ulūka] ‘burung

hantu’ [wūk] ‘busuk’ [wūt] ‘campur’ /e/ [ebeg] ‘tutup

pelana’ [edan] ‘gila’ [egar] ‘riang [eka] ‘satu’ [elik] ‘benci’ [embuh] ‘imbuh’ [ena] ‘datanglah’ [eóðe] ‘jenis perisai’ [eÿgi] ‘goyah’ [eñcok] ‘mendarat’ [epek] ‘telapak tangan’ [er] ‘air’ [esêm] ‘senyum’ [estu] ‘nyata’ [ewer] ‘tarik’ [eyuÿ] ‘goyah’ [adeÿ] ‘diam’ [baðeg] ‘minuman keras’ [beñjiÿ] ‘esok pagi’ [chedya] ‘rusak’ [ceÿkok] ‘lekuk’ [den] ‘adakala’ [deÿ] ‘dendeng’ [eñjer] ‘potongan kain’ [ewer] ‘tarik’ [gempor] ‘lesu’ [geñjoÿ] ‘goncang’ [heÿ] ‘bagian luar’ [her] ‘tunggu’ [jeÿgot] ‘janggut’ [jer] ‘cair’ [kabeh] ‘semua’ [ken] ‘kain’ [ler] ‘ke utara’

[les] ‘hindar’ [men] ‘hibur’ [meÿkene] ‘jadi’ [nêÿgeh] ‘konon’ [netra] ‘mata’ [ÿel] ‘lelah’ [ñer] ‘merasuk [per] ‘banjir’ [pet] ‘cari’ [reh] ‘status’ [reges] ‘tidak berdaun’ [abe] ‘sedikit kesempatan’ [ade] ‘beda’ [bade] ‘wadah mayat’ [cabe] ‘cabai’ [cale] ‘cela’ [de] ‘oleh’ [dede] ‘bukan’ [êmbe] ‘embek’ [gade] ‘gadai’ [gale] ‘tolak’ [hale] ‘salah’ [ike] ‘ini’ [inte] ‘intai’ [jahe] ‘jahe’ [jambe] ‘buah pinang’ [kale] ‘gelang lengan’ [kêle] ‘sembrono’ [lale] ‘tembok’ [lambe] ‘bibir’ [maÿke] ‘sekarang’ [mêne] ‘kini’ [ÿkene] ‘sini’ [pahe] ‘beda’ [paóðe] ‘pandai besi’ [rame] ‘indah’ [rare] ‘bayi’ [sale] ‘jenis buah’

[samage] ‘jenis pohon’ [tabe] ‘ampun’

(35)

[sep] ‘cepat’ [seûþawa] ‘kritik’ [tembak] ‘tembak’ [teÿkek] ‘jenis burung’ [upekûa] ‘sabar’ [weh] ‘beri’ [weśma] ‘rumah’

[yen] ‘jika’

[tambe] ‘permulaan’ [unte] ‘gulung’

[ure] ‘jurai’ [wage] ‘nama hari’

[we] ‘matahari’

/ai/ [aih] ‘kata seru’ [aig] ‘cepat’

[air] ‘air’ [aiśanya] ‘timur

laut’ [aiśwarya] ‘kekuasaan’ [bhaikûa] ‘mengemis’ [bhairawa] ‘menakutkan’ [caitya] ‘makam suci’ [daitya] ‘raksasa’ [daiwa] ‘takdir’ [jaimini] ‘nama pendeta’ [kailaśa] ‘nama

gunung’ [maitri] ‘kebajikan’ [maithuna] ‘sanggama’ [nairiti] ‘barat daya’ [naiyāyika] ‘tahu’

[śaila] ‘gunung’ [sainya] ‘prajurit’ [śaiwa] ‘pemuja Siwa’ [waibhatsya] ‘memuakkan’ [wai.cit.ryan] ‘kecakapan’ [waidya] ‘tabib’ [wai] ‘matahari’ [wuyai] ‘uye’ [lêngai] ‘berjalan’

/o/ [obor] ‘siksa’ [ocak] ‘guncang’ [odod] ‘urat darah’

[ogha] ‘wanita [aboÿ] ‘tidak sudi’ [acokûa] ‘najis’ [ārogya] ‘sehat’ [aho] ‘siang’ [ambo] ‘pengiring’ [ba.o] ‘bangau’ [bo] ‘bau busuk’

(36)

rindu’ [okok] ‘genta sapi’

[olih] ‘oleh’ [om] ‘memang’

[on] ‘jika’ [oÿkara] ‘suku kata

suci’ [opak] ‘dorong’ [orêg] ‘huru-hara’ [oûadha] ‘obat’ [otot] ‘otot’ [owah] ‘ubah’ [owêl] ‘segan’ [oya] ‘ada’ [oyuh] ‘ayo’ [bobot] ‘hamil’ [bontit] ‘keriting’ [codya] ‘paksa’ [cor] ‘sumpah’ [doh] ‘jauh’ [dok] ‘burung hantu’ [êcok] ‘taruhan’ [eÿgok] ‘goyang’ [goh] ‘sapi’ [goóðala] ‘anting-anting’ [hol] ‘peluk’ [hop] ‘memikirkan’ [iÿoÿ] ‘aku’ [jog] ‘tiba’ [joÿ] ‘payung’ [kol] ‘peluk’ [kon] ‘suruh’ [lod] ‘laut’ [lolya] ‘resah’ [mok.ûa] ‘lenyap’ [mon] ‘jika’ [nohan] ‘beruntung’ [nom] ‘muda’ [ÿgon] ‘tempat’ [poûya] ‘nama bulan’ [potra] ‘cucu’ [ron] ‘daun’ [ros] ‘ruas’ [ton] ‘lihat’ [tos] ‘keturunan’ [ubon] ‘ternak’ [uðoda] ‘gantung’ [woh] ‘buah’ [wot] ‘bawa’ [yogya] ‘benar’ [yojya] ‘disatukan’ [cañco] ‘terkenal’ [do] ‘dua’ [ergulo] ‘mawar putih’ [gêlo] ‘kasar’ [go] ‘lembu’ [hano] ‘enau’ [ho] ‘jernih’ [ijo] ‘hijau’ [iko] ‘itu’ [jro] ‘dalam’ [ko] ‘kau’ [kamalo] ‘jenis tumbuhan’ [lañjo] ‘jenis penyakit’ [logoko] ‘bungkuk’ [lo] ‘lebar’ [maÿ.ko] ‘jadi’ [me.ÿo] ‘toleh’ [meñ.co] ‘beo’ [namo] ‘hormat’ [ndo] ‘permintaan’ [pado] ‘hamba wanita’ [pióðo] ‘dua kali’

[rêko] ‘konon’ [reÿo] ‘tertinggal’ [ro] ‘dua’ [sato] ‘binatang’ [tamo] ‘kegelapan’ [tam.po] ‘minuman keras’ [wado] ‘jenis keris’

[wiro] ‘sedih’

(37)

-[aum] ‘aksara suci’ satu dari 11 karaóa’ [kaumara] ‘anak muda’ [kaurawa] ‘keturunan wangsa Kuru’ [kau.śa.la] ‘kemakmuran’ [kaustubha] ‘jenis permata’ [pauûya] ‘nama bulan’ [śauca] ‘kesucian’ [śrauta] ‘telinga’ /ě/ [êbak] ‘serang’ [êcok] ‘taruhan’ [êdul] ‘keras kepala’ [êgêp] ‘terengah-engah’ [êhah] ‘mengeluh’ [êkah] ‘merintih’ [êluh] ‘air mata’ [êmbat] ‘gemulai’ [ênah] ‘meletakkan’ [êóðas] ‘kepala’ [êÿgêp] ‘pura’pura’ [êñêt] ‘sunyi senyap’ [êpêp] ‘sembunyi’ [êri] ‘duri’ [êsah] ‘desah’ [êtêt] ‘tolak’ [êwel] ‘caci maki’

[êyeh] ‘air’ [abên] ‘serang’ [aÿên] ‘pemikiran] [bantêr] ‘hebat’ [bêndu] ‘marah’ [cakêt] ‘jepit’ [cêÿga] ‘sombong’ [ðêm] ‘sunyi’ [dêÿ.ki] ‘irihati’ [êmbêk] ‘isak tangis’ [êsês] ‘deru’ [eñcêp] ‘cibir’ [esêm] ‘senyum’ [gêg] ‘kencang’ [gulêm] ‘mendung’ [hêlêd] ‘telan’ [hirêÿ] ‘hitam’ [idêr] ‘edar’ [igêl] ‘tari’ [jêÿêr] ‘terdiam’ [ji.êm] ‘kamar tidur’ [kêcêk] ‘cakap’ [kitêr] ‘itar’ [lêmbu] ‘sapi’ [raóðê] ‘pohon kapuk’ [raÿrê] ‘pohon kapuk’ [wêðê] ‘basi, busuk’ [bākapê] ‘jenis ikan’

(38)

[liÿêr] ‘pikat’ [mêndêm] ‘mabuk’ [melêm] ‘jenis ikan’ [nêb] ‘pengendalian diri’ [nênêh] ‘tepat’ [ÿêr] ‘partikel deskriptif’ [ñêg] ‘partikel deskriptif’ [orêg] ‘gempar’ [owêl] ‘segan’ [pêtêÿ] ‘gelap’ [purêt] ‘kerdil’ [rêmbês] ‘kucur’ [riÿgêk] ‘putar’ [sêb] ‘asap’ [siðêp] ‘salah sangka’ [têbêÿ] ‘tebal] [tiÿkêr] ‘terlindung’ [ubêd] ‘ganggu’ [ulêm] ‘layu’ [wêltêk] ‘pancar’ [wintên] ‘intan’ /ö/ [öb] ‘naung’ [öd] ‘pendek’ [ölwan] ‘lahap’ [adöh] ‘tindas’ [ayöm] ‘teduh’ [böh] ‘bengkak’ [bök] ‘penuh’ [döh] ‘kata seru’ [döm] ‘sunyi’ [êsör] ‘potong’ [gajöÿ] ‘gayung’ [gêgöÿ] ‘pegang erat’ [göÿ] ‘besar’ [hamöÿ] ‘berbau busuk’ [höb] ‘naungan’ [alö] ‘gaduh’ [asö] ‘maju’ [bêntêlö] ‘bergelang’ [bun.tê.lö] ‘?’ [dêdö] ‘berdekatan’ [dêlö] ‘pandang’ [êlö] ‘tak tahu malu’ [ênö] ‘siram’ [gêgö] ‘pegang’ [halêlö] ‘mengaum’

(39)

[iÿöt] ‘sadar’ [jöÿ] ‘kaki’ [kawör] ‘takut’ [köl] ‘tahan’ [köm] ‘rendam’ [löm] ‘lemah’ [löÿ] ‘sinar’ [ÿöt] ‘?’ [ÿör] ‘pertikel deskriptif’ [ÿös] ‘pertikel deskriptif’ [ñöt] ‘pertikel deskriptif’ [pöh] ‘perah’ [pöm] ‘tertutup’ [pöÿ] ‘mumpung’ [saÿlök] ‘lengket’ [söb] ‘hembus’ [söh] ‘lebat’ [sök] ‘penuh’ [söÿ] ‘cahaya’ [taÿgöÿ] ‘tabah’ [töb] ‘lebat’ [usör] ‘jenis tumbuhan’ [wök] ‘babi’ [wör] ‘terbang’ [hêlö] ‘lahap’ [iwö] ‘namun’, memperhatikan’ [kapö] ‘kuping’ [kêdö] ‘ingin sekali’ [laÿö] ‘pengalaman estetik’ [lö] ‘tegang’ [lêgö] ‘lalai’ [maÿö] ‘terpesona’ [mêÿö] ‘menganga’ [pakö] ‘paku’ [parö] ‘dekat’ [rêÿö] ‘dengar’ [riwö] ‘sibuk’ [sênö] ‘sinar’ [sêóðö] ‘sedih’ [taÿgö] ‘tetap bertahan’ [têgö] ‘sulit bergerak’ [u.ö] ‘?’ [walêlö] ‘seteguk’ [wêrö] ‘mabuk’

/å/ [åcu] ‘jenis balai’ [åju] ‘lurus’ [åóa] ‘hutang’ [åûi] ‘pendeta’ [åta] ‘benar’ [åtu] ‘musim’

[adåśya] ‘idak tampak’ [aghåóa] ‘kejam’ [bhåti] ‘bantuan’ [bhåtya] ‘pasukan’ [dåwya] ‘milik’ [dhåti] ‘keteguhan’ [gåha] ‘rumah’ [ghåóā] ‘belas kasih’ [håbuk] ‘tepung sari’ [håtśalya] ‘luka di [bhartå] ‘suami’ [dhatå] ‘gelar Dewa Brahma’ [pitå] ‘leluhur’

(40)

Berdasarkan distribusi fonem vokal bahasa Jawa Kuna di atas dapat dijelaskan lebih jauh bahwa fonem /e/ yang berada di akhir kata dasar tertentu seringkali digantikan dengan [-ay] atau [-ya]. Misalnya, pada [awe] dan [away]; [rare] dan [raray], [gawe] dan [gaway]; [jule] dan [julay]; [kale] dan [kalay]; [lale] dan [lalay]; atau pada [rame] dan [ramya]; [maÿke] dan [maÿkya]; [maÿgale] dan [maÿgalya].

Fonem /ê/ bahasa Jawa Kuno tidak ditemukan distribusinya di tengah kata dasar yang berawal /y/. Fonem /ö / bahasa Jawa Kuno tidak ditemukan distribusinya di tengah kata dasar yang berawal fonem /c/, /m/, /o/, /r/, dan /y/. Demikian pula, fonem vokal /ö / bahasa Jawa Kuno tidak ditemukan distribusinya di akhir kata dasar yang berakhir fonem /c/, /j/, /n/, /o/, dan fonem /y/. Fonem vokal /å / tidak ditemukan distribusinya di tengah kata dasar yang dimulai dengan fonem /c/, /ě/, /e/, /i/, /l/, /o/, /r/, /u/, /y/. Sementara itu, fonem vokal /æ//í/ belum ditemukan distribusi pemakaiannya di dalam bahasa Jawa Kuno (lihat Zoetmulder dkk, 1995; Warna dkk., 2011).

hati’ [jåmbhana] ‘menguap’ [kåpā] ‘sayang’ [kåśa] ‘kurus’ [måcchika] ‘kalajengking’ [måga] ‘binatang buruan’ [nåpa] ‘raja’ [nåśaÿsa] ‘kejam’ [pådana] ‘piutang’ [påûþha] ‘punggung’ [śågāla] ‘srigala’ [såja] ‘ciptaan’ [tåóa] ‘rumput’ [tåûóa] ‘cinta’ [wåddha] ‘tua’ [wåkûa] ‘pohon’

Berdasarkan distribusi fonem vokal bahasa Jawa Kuna di atas dapat dijelaskan lebih jauh bahwa fonem /e/ yang berada di akhir kata dasar tertentu seringkali digantikan dengan [-ay] atau [-ya]. Misalnya, pada [awe] dan [away]; [rare] dan [raray], [gawe] dan [gaway]; [jule] dan [julay]; [kale] dan [kalay]; [lale] dan [lalay]; atau pada [rame] dan [ramya]; [maÿke] dan [maÿkya]; [maÿgale] dan [maÿgalya].

Fonem /ê/ bahasa Jawa Kuno tidak ditemukan distribusinya di tengah kata dasar yang berawal /y/. Fonem /ö / bahasa Jawa Kuno tidak ditemukan distribusinya di tengah kata dasar yang berawal fonem /c/, /m/, /o/, /r/, dan /y/. Demikian pula, fonem vokal /ö / bahasa Jawa Kuno tidak ditemukan distribusinya di akhir kata dasar yang berakhir fonem /c/, /j/, /n/, /o/, dan fonem /y/. Fonem vokal /å / tidak ditemukan distribusinya di tengah kata dasar yang dimulai dengan fonem /c/, /ě/, /e/, /i/, /l/, /o/, /r/, /u/, /y/. Sementara itu, fonem vokal /æ//í/ belum ditemukan distribusi pemakaiannya di dalam bahasa Jawa Kuno (lihat Zoetmulder dkk, 1995; Warna dkk., 2011).

Berdasarkan tingkat frekuensi distribusinya, fonem /ê/ bahasa Jawa Kuno jarang berada di akhir kata dasar, sebagaimana pula fonem semivokal /å/. Fonem diftong /ai/ dalam bahasa Jawa Kuno langka ditemukan pemakaiannya di akhir kata dasar, kemungkinan digantikan oleh /ay/ atau /ya/. Fonem diftong /au/ tidak ditemukan pemakaiannya di akhir kata dasar. Fonem vokal /ī/, /ö/, /å/, dan diftong /ai/, serta /au/ jika

(41)

Berdasarkan tingkat frekuensi distribusinya, fonem /ê/ bahasa Jawa Kuno jarang berada di akhir kata dasar, sebagaimana pula fonem semivokal /å/. Fonem diftong /ai/ dalam bahasa Jawa Kuno langka ditemukan pemakaiannya di akhir kata dasar, kemungkinan digantikan oleh /ay/ atau /ya/. Fonem diftong /au/ tidak ditemukan pemakaiannya di akhir kata dasar. Fonem vokal /ī/, /ö/, /å/, dan diftong /ai/, serta /au/ jika dilihat distribusinya di awal kata dasar, dapat dikatakan fonem yang memiliki frekuensi distribusi terbatas pada kata-kata dasar tertentu. Kata-kata bahasa Jawa Kuno yang dimulai dengan fonem vokal /å/, diftong /ai/, dan /au/ kebanyakan merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta.

A. Fonem Konsonan

Distribusi fonem konsonan bahasa Jawa Kuno dilihat dalam hubungannya dengan kata dasar atau morfem asal adalah sebagai berikut.

dilihat distribusinya di awal kata dasar, dapat dikatakan fonem yang memiliki frekuensi distribusi terbatas pada kata-kata dasar tertentu. Kata-kata bahasa Jawa Kuno yang dimulai dengan fonem vokal /å/, diftong /ai/, dan /au/ kebanyakan merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta.

A. Fonem Konsonan

Distribusi fonem konsonan bahasa Jawa Kuno dilihat dalam hubungannya dengan kata dasar atau morfem asal adalah sebagai berikut.

Fonem

Konsonan Distribusi dalam hubungannya dengan kata dasar/morfemasal Awal Tengah Akhir /b/ [babah] ‘pintu’ [bāyu] ‘angin’ [bacot] ‘hidung’ [bêbêd] ‘ikat’ [bêbêÿ] ‘terbendung’ [bêtah] ‘tahan’ [böh] ‘bengkak’ [bela] ‘bela’ [berag] ‘gembira’ [bero] ‘juling’ [bibi] ‘ibu’ [bilih] ‘boleh jadi’

[bodhi] ‘pohon bodi’ [bontit] ‘keriting’ [bra.ta] ‘sikap’ [brêk] ‘keroyok’ [brekot] ‘terhuyung’ [bris] ‘tebal’ [brokosokan] ‘hantu hutan’ [bubar] ‘bubar’ [bubul] ‘tembus’ [buhaya] ‘buaya’ [abda] ‘tahun’ [babar] ‘hancur’ [bomboÿ] ‘adu’ [cabwal] ‘cebol’ [dibya] ‘mulia’ [êmbih] ‘tangis’ [ebeg] ‘tutup pelana’ [gêbrad] ‘cepat dan berulang-ulang’ [hêmban] ‘bawa’ [ibêr] ‘terbang’ [jambul] ‘jambul’ [kabeh] ‘semua’ [labdha] ‘berhasil’ [mambaÿ] ‘kelompok rakyat’ [nabda] ‘berbunyi’ [obor] ‘obor’ [piambêk] ‘sendiri’ [prabala] ‘kokoh’ [rabdha] ‘siap’ [sabraÿ] ‘asing’ [têmbiÿ] ‘sisi’ [ubêÿ] ‘itar’ [wibajra] ‘tanpa kekerasan’ [abab] ‘nafas’ [cacab] ‘debur, wabah’ [cêb] ‘partikel deskriptif’ [êbêb] ‘isap’ [halab] ‘tampak sejenak’ [höb] ‘naungan’ [i.bab] ‘sobek’ [jub] ‘subur’ [kêkêb] ‘tutup’ [kêlêb] ‘tenggelam’ [lablab] ‘nama jabatan’ [mwab] ‘mendidih’ [nêb] ‘endap’ [pa.rab] ‘nama’ [rab[ ‘getar’ [rêbab] ‘rebab’ [rurub] ‘tutup’ [sab] ‘genang’ [silib] ‘selinap’ [têlêb] ‘hebat’ [tub] ‘lebat’ [ubub] ‘ububan’ [urab] ‘kobar’ [wwab]

(42)

‘mendidih’ /bh/ [bhadra] ‘untung’ [bhāryā] ‘istri’ [bhasma] ‘abu’ [bheda] ‘beda’ [bhairawa] ‘menakutkan’ [bhīna] ‘menakutkan’ [bhīru] ‘penakut’ [bhoga] ‘makanan’ [bhoja] ‘makan’ [bhrā] ‘kilauan’ [bhramara] ‘lebah’ [bhåÿga] ‘lebah hitam’ [bhrukuþi] ‘alis’ [bhūbhāga] ‘daerah’ [bhujaga] ‘ular’ [bhuwana] ‘bumi’ [abheda] ‘tersusun rapat’ [bībhatsa] ‘jijik’ [durbhaga] ‘sial’ [durbhiksa] ‘kelaparan’ [gambhīra] ‘seram’ [ibha] ‘gajah’ [ibhakara] ‘belalai gajah’ [jåmbhana] ‘menguap’ [kubhikûa] ‘kelaparan’ [lobha] ‘rakus’ [nabha] ‘langit’ [nabhastala] ‘udara’ [prabhā] ‘sinar’ [prabhata] ‘fajar’ [rabhasa] ‘kejam’ [sabhaya] ‘takut’ [sambhrama] ‘sambut’ [ubhaya] ‘janji’ [waibhatsya] ‘memuakkan’ [wibhuh] ‘melingkupi’ -/c/ [cabar] ‘pengecut’ [cabe] ‘cabe’ [cacad] ‘cacat’ [cacah] ‘potong’ [cêcêd] ‘kelakar’ [cêcêk] ‘titik, cecak’ [celeÿ] ‘babi’ [celu] ‘rindu’ [cicir] ‘kesasar’ [ācāra] ‘adat’ [añco] ‘jala’ [bacot] ‘hidung’ [cañcala] ‘getar’ [durācāra] ‘jahat’

[êcok] ‘jenis taruhan’ [gêcêk] ‘terburu-buru’ [hañcaÿ] ‘?’

(43)

-[cidra] ‘cacat’ [crol] ‘palsu’ [codya] ‘paksa’ [cora] ‘pencuri’ [culik] ‘culik’ [cunduk] ‘temu’ [cwalika] ‘suku bangsa’ [iccha] ‘hasrat’ [iñcut] ‘berliku-liku’ [kacaÿ] ‘kacang’ [laca] /ch/ [chanda] ‘prosodi’ [chattra] ‘payung’ [chāyā] ‘cahaya’ [cheda] ‘irisan’ [chedya] ‘rusak’ [acchedya] ‘kebal’ [gucchaka] ‘rumpun’ [iccha] ‘keinginan’ [mleccha] ‘biadab’ [mūrchā] ‘pingsan’ [mūrchita] ‘pingsan’ [nicchā] ‘tolak’ [tuccha] ‘hina’ -/d/ [dadah] ‘kurban’ [dadak] ‘tiba-tiba’ [dadali] ‘jenis burung’ [dadar] ‘gosok’ [dadi] ‘menjadi’ [dagan] ‘kaki’ [dagdha] ‘bakar’ [dāhana] ‘pembakaran’ [dakûióa] ‘selatan’ [dalu] ‘malam’ [dama] ‘cinta kasih’ [dāna] ‘dana’ [daÿū] ‘dahulu’ [dêdêg] ‘tinggi’ [dêlö] ‘pandang’ [dede] ‘bukan’ [deśa] ‘desa’ [deûþi] ‘jenis ilmu

[adbhuta] ‘mengagumkan’ [bada] ‘bujuk’ [bheda] ‘beda’ [candramā] ‘bulan’ [codya] ‘paksa’ [dêdêr] ‘saling merapat’ [êdul] ‘keras kepala’ [edan] ‘gila’ [gadgada] ‘gagap’ [hadyan] ‘tuan’ [hidu] ‘air liur’ [idêk] ‘injak’ [jadi] ‘jenis buah’

[kadācit] ‘pada waktu’ [kidaÿ] ‘kijang’ [ladiÿ] ‘lading’ [alad] ‘jilat’ [bahud] ‘angkuh’ [bêbêd] ‘ikat’ [cacad] ‘cacat’ [cod] ‘jenis burung’ [êlêd] ‘telan’ [öd] ‘pendek’ [gêbrad] ‘mempercepat’ [hêlêd] ‘sekali telan’ [jêbad] ‘kesturi’ [kampid] ‘sayap’ [lad] ‘iris’ [lūd] ‘lagipula’ [mêlêd] ‘rindu’ [odwad] ‘akar’ [parad] ‘mengikir’ [parud] ‘parut’

(44)

hitam’ [dilat] ‘lidah’ [dīna] ‘murung’ [dodot] ‘kain’ [doh] ‘jauh’ [drawya] ‘milik’ [dudug] ‘sampai’ [durlabha] ‘sukar didapatkan’ [dweûa] ‘benci’ [dyastu] ‘sekalipun’ [mada] ‘mabuk’ [medinī] ‘bumi’ [nāda] ‘bunyi’ [nindya] ‘cela’ [odod] ‘urat darah’ [pada] ‘baris’ [peda] ‘keras hati’

[radin] ‘bersih’ [rudita] ‘tangis’ [sādara] ‘hormat’ [sodama] ‘kunang-kunang’ [tadwat] ‘begitu’ [udaka] ‘air’ [wadana] ‘mulut’ [rampad] ‘rampok’ [rêgêd] ‘kotor’ [rêÿkêd] ‘lebat’ [riwêd] ‘susah’ [sad] ‘nyata’ [sarad] ‘makanan’ [subud] ‘tangkis’ [tad] ‘tidak’ [talad] ‘bungkusan makanan’ [tud] ‘tandan bunga pisang’ [udud] ‘isap’ [ulad-alid] ‘goyah’ [uwad-awid] ‘tarik-menarik’ [walad] ‘potong’ [wwad] ‘akar’ [yad] ‘jika’ /dh/ [dhana] ‘uang’ [dhani] ‘tempat menyimpan’ [dhanuh] ‘busur’ [dhānya] ‘beras’ [dhara] ‘pembawa’ [dhāraka] ‘tabah’ [dhārana] ‘menguasai’ [dharani] ‘tanah’ [dharma] ‘kewajiban’ [dhairya] ‘teguh’ [dhīh] ‘kecerdasan’ [dhikkāra] ‘kutuk’ [dhīra] ‘teguh’ [dhåti] ‘keputusan’ [dhūpa] ‘dupa’ [ādhāra] ‘tempat’ [baddhaka] ‘tahanan’ [biddhanāga] ‘langit-langit’ [dagdha] ‘terbakar’ [digdhā] ‘langit merah’ [gandha] ‘bau harum’ [gandharwa] ‘mahluk setengah dewa’ [jagaddhita] ‘kesejahteraan dunia’ [jaladhara] ‘awan’ [jaladhi] ‘laut’ [krodha] ‘marah’

(45)

-[dhwaja] ‘bendera’ [dhwasta] ‘tumbang’ [dhyāna] ‘meditasi’ [dhyayī] ‘kusuk’ [kûuradhara] ‘tajam’ [labdha] ‘berhasil’ [lubdhaka] ‘pemburu’ [madhubrata] ‘kumbang’ [madhyama] ‘menengah’ [nidhāna] ‘wadah’ [nirdhuma] ‘tak berasap’ [oûadha] ‘obat’ [prabaddha] ‘himpun’ [pradhana] ‘utama’ [pratidhwani] ‘gema’ [rodha] ‘tindih’ [ruddha] ‘terhalang’ [sādhaka] ‘ahli’ [sādhya] ‘tercapai’ [udadhi] ‘laut’ [udhāni] ‘sadar’ [uddhata] ‘sengit’ [wādhaka] ‘rintangan’ [widha] ‘bentuk’ [yuddha] ‘perang’ /ð/ [ðaða] ‘dada’ [ðaðal] ‘robek’ [ðaduÿ] ‘tali besar’ [ðahar] ‘makanan’ [ðêðêk] ‘dedak’ [ðêh] ‘kata seru’ [ðêÿên] ‘teman’ [ðeðel] ‘cabut’ [ðiðik] ‘sedikit’ [ðimin] ‘dahulu’ [ðomas] ‘delapan [aðam] ‘matang’ [aðeÿ] ‘sepi’ [baðyag] ‘minuman keras’ [baóðaÿ] ‘tawanan’ [caóði] ‘candi’ [cióðaga] ‘pandan’ [ðêðêt] ‘tebal’ [dêóða] ‘denda’ [êðêk] ‘bungkuk’ [ûað] ‘enam’

(46)

ratus’ [ðudat] ‘robek’ [ðuðuk] ‘bongkar, duduk’ [ðuðut] ‘tarik keluar’ [ðuhuÿ] ‘keris’ [ðukuh] ‘pertapaan’ [ðulaÿ] ‘dulang’ [ðumpak] ‘tendang’ [ðuÿkul] ‘bungkam’ [ðusun] ‘dusun’ [ðuwêt] ‘jenis pohon’ [ðuyuÿ] ‘duyung’ [êðêm] ‘padam’ [gaday] ‘gadai’ [gêðoÿ] ‘gedung’ [giðê-giðö] ‘gemetar’ [haðaÿ] ‘hadang’ [hiðêp] ‘pikiran’ [iðêm] ‘rindu’ [ióðaÿ] ‘pertapa wanita’ [jaða] ‘bodoh’ [kaðat] ‘lambat’ [kiðukus] ‘runduk’ [lêóðö] ‘bujur’ [lióðuÿ] ‘lindung’ [maóðaga] ‘bubur’ [maóðala] ‘wilayah’ [nāði] ‘nadi’ [pêðêk] ‘abdi’ [puóðut] ‘ambil’ [raóða] ‘janda’ [raóðu] ‘pohon kapok’ [saóðiÿ] ‘sisi’ [saóðuÿ] ‘sandung’ [têða] ‘makan’ [tióðih] ‘tindih’ [uðik] ‘naik’ [uðul] ‘menganga’ [waðawa] ‘kuda betina’ [wiðure] ‘biduri’ /ðh/ - [dåðha] ‘teguh’ -/g/ [gabah] ‘gabah’ [gabus] ‘gabus’ [gêcêk] ‘terburu-buru’ [gocara] ‘diskusi’ [agra] ‘puncak’ [agrodha] ‘beringin’ [bagas] ‘jenis hewan air’ [adêg] ‘berdiri’ [baðog] ‘makan’ [badyag] ‘minuman keras’ [caÿkag] ‘loncat’

(47)

[gadā] ‘gada’ [gagā] ‘gaga’ [gajih] ‘lemak’ [galak] ‘galak’ [gamêl] ‘pegang’ [gêlis] ‘cepat’ [gêlö] ‘kejam’ [geger] ‘geger’ [gempor] ‘lusuh’ [gigal] ‘lepas’ [gilir] ‘gilir’ [go] ‘sapi’ [goða] ‘goda’ [grah] ‘lemah’ [grêbêg] ‘gemuruh’ [gåha] ‘rumah’ [gugu] ‘percaya’ [guhya] ‘rahasia’ [gyā] ‘segera’ [gyat] ‘kaget’ [bhagna] ‘hancur’ [cagêr] ‘jamin’ [cêÿga] ‘sombong’ [dagdha] ‘hangus’ [digjaya] ‘menang’ [êgêp] ‘terengah-engah’ [egar] ‘riang’ [gadgada] ‘gagap’ [gêgêh] ‘teguh’ [haga-haga] ‘liar’ [higā] ‘tulang rusuk’ [iguh] ‘goyang’ [igul] ‘liak-liuk’ [jaga] ‘jaga’ [jaÿga] ‘jenis tanaman’ [kaga] ‘burung’ [laga] ‘lawan’ [lagna] ‘telanjang’ [maga] ‘kecewa’ [maÿgala] ‘doa’ [naga] ‘gunung’ [nêÿguh] ‘konon’ [ÿgwan] ‘tempat’ [ogya] ‘benar’ [pagêh] ‘tetap’ [pêÿgak] ‘curam’ [rêÿgaÿ] ‘renggang’ [riÿgit] ‘wayang’ [sadigawe] ‘menghalangi’ [sugyan] ‘mungkin’ [tagih] ‘tagih’ [têguh] ‘teguh’ [ugra] ‘kuat’ [uraga] ‘ular’ [wagug] ‘bingung’ [cêÿgêg] ‘hiasan rambut’ [dêlêg] ‘tegak’ [dudug] ‘sepanjang’ [êlêg] ‘lecut’ [ebeg] ‘tutup pelana’ [gaðag] ‘celana panjang’ [gêbog] ‘batang pohon pisang’ [ilag] ‘tidak mungkin’ [jujug] ‘langsung’ [jugug]’ gonggong’ [kêtug] ‘dentum’ [kêg] ‘dengkur’ [lêgêg] ‘terhalang’ [lisig] ‘cerdas’ [mêgêg] ‘tercengang’ [mêlêðog] ‘retak’ [pajêg] ‘rencana’ [pilêg] ‘pilek’ [rampog] ‘serang’ [rêgag] ‘kecewa’ [sêsêg] ‘gemetar’ [sisig] ‘memoles gigi’ [taóðêg] ‘tidak mau’ [têgêg] ‘bingung’ [ugug] ‘segan’ [ulug] ‘tak cukup’ [warêg] ‘puas’ [wêwêg] ‘tercengang’

(48)

[wêgig] ‘nakal’ [yogya] ‘benar’ /gh/ [ghana] ‘awan’ [ghanāgama] ‘musim hujan’ [ghaóþa] ‘genta’ [ghāra] ‘istri’ [gharinī] ‘istri’ [ghasita] ‘dihabiskan’ [ghaþa] ‘periuk’ [ghātaka] ‘pembunuhan’ [ghaþi] ‘jam’ [ghora] ‘hebat’ [ghoûa] ‘huruf hidup’ [ghoûana] ‘pengumuman’ [ghotaka] ‘kuda’ [ghrāóa] ‘hidung’ [ghrātā] ‘pencium’ [ghåta] ‘mentega’ [ghūróa] ‘bergema’ [ghūróita] ‘riuh’ [ghūróitatara] ‘sangat keras’ [ghyana] ‘awan’ [ghyaþita] ‘jam’ [ghyor] ‘partikel hormat’ [ghyora] ‘dahsyat’ [aghoûa] ‘konsonan tak bersuara’ [aghåóa] ‘kejam’ [bhrūnaghna] ‘menggugurkan janin’ [dāgha] ‘ingin’ [dirgha] ‘panjang’ [dirghya] ‘panjang’ [jaghana] ‘pantat’ [kåtaghna] ‘kejam’ [lāghawa] ‘tangkas’ [laghu] ‘pendek’ [māgha] ‘nama bulan’ [megha] ‘mendung’ [nirghana] ‘tak berawan’ [ogha] ‘wanita jatuh cinta’ [raghu] ‘nama wangsa’ [raghawa] ‘keturunan Raghu] [saÿgha] ‘jumlah’ [saÿghya] ‘rombongan’ [wighata] ‘tak terganggu’ [wighna] ‘rintangan’ -/h/ [habalaÿ] ‘lempar’ [habêt] ‘pukul’ [haða] ‘tulang daun’ [haji] ‘raja’ [ahita] ‘musuh’ [bahni] ‘api’ [brahma] ‘minuman keras’ [cihna] ‘ciri’ [abah] ‘pakaian kuda’ [bêlah] ‘belah’ [caÿgah] ‘garpu’ [cawuh] ‘tanpa

(49)

[hala] ‘jahat’ [hamba] ‘hamba’ [hana] ‘ada’ [haÿan] ‘ringan’ [hapit] ‘apit’ [harip] ‘kantuk’ [hêb] ‘naung’ [hêli] ‘pergantian’ [höt] ‘sempit’ [hema] ‘emas’ [her] ‘tunggu’ [hiÿsā] ‘membunuh’ [hilaÿ] ‘hilang’ [hudan] ‘hujan’ [hulu] ‘kepala’ [hol] ‘peluk’ [homa] ‘kurban api’ [hrêbuk] ‘serbuk’ [hrêdaya] ‘hati’ [hyaÿ] ‘dewa’ [hyun] ‘ingin’ [dahat] ‘sangat’ [êhah] ‘mengeluh’ [gahwara] ‘dalam gua’ [guhya] ‘rahasia’ [ihatra] ‘ di sini’ [jahya] ‘jahe’ [jahnawi] ‘sungai’ [kahal] ‘keras’ [kahit] ‘kait’ [lahru] ‘musim kemarau’ [luhuÿ] ‘lebih baik’ [mahantên] ‘paviliun’ [mihat] ‘lihat’ [nahan] ‘demikian’ [nihan] ‘begini’ [pahit] ‘pahit’ [pahula] ‘hadiah’ [rahi] ‘dahi’ [rahuÿ] ‘raung’ [sahur] ‘jawab’ [sihuÿ] ‘taring’ [tahên] ‘tahan’ [têhêr] ‘lalu’ [uhuh] ‘jerit’ [uhut] ‘larang’ [wāhya] ‘bagian luar’ [wehweh] ‘beri’ pikir’ [döh] ‘kata seru’ [dyah] ‘kata sandang’ [êhah] ‘mengeluh’ [embuh] ‘tambah’ [gagah] ‘berdiri tegak’ [gubah] ‘gorden’ [harih] ‘hibur’ [hênah] ‘letak’ [iguh] ‘goyang’ [kakah] ‘keras’ [kêdêh] ‘ingin sekali’ [lampah] ‘perjalanan’ [luh] ‘air mata’ [malah] ‘bahkan’ [manah] ‘pikiran’ [nênêh] ‘cocok’ [nyuh] ‘kelapa’ [olah] ‘gerak’ [osah] ‘gelisah’ [pagêh] ‘teguh’ [pejah] ‘mati’ [rêÿih] ‘rengek’ [rêrêh] ‘diam’ [sah] ‘pergi’ [sih] ‘kasih’ [têðuh] ‘teduh’ [titah] ‘rencana’ [uwah] ‘ulang’ [weh] ‘beri’ [yayah] ‘ayah’ /j/ [jaba] ‘luar’ [jabuÿ] ‘jenis tumbuhan’ [jada] ‘bodoh’ [jadi] ‘nama buah’

[jaga] ‘jaga’ [aja] ‘jangan’ [ājñā] ‘perintah’ [bajra] ‘kilat’ [bija] ‘bibit’ [doja] ‘bendera’ [gajah] ‘gajah’

(50)

-[jagat] ‘dunia’ [jahit] ‘bahan tenun’ [jahloka] ‘hewan air’ [jaja] ‘dada’ [jajar] ‘deret’ [jaka] ‘perjaka’ [jala] ‘air’ [jalir] ‘pelacur’ [jamah] ‘jamah’ [jambat] ‘panjang lebar’ [janma] ‘manusia’ [janur] ‘janur’ [joÿ] ‘perahu’ [japa] ‘doa’ [jara] ‘tua’ [jasuÿ] ‘bawang putih’ [jāti] ‘kelahiran’ [jawuh] ‘hujan’ [jiwita] ‘hidup’ [jaya] ‘menang’ [gobraja] ‘kandang sapi’ [haji] ‘raja’ [hañjawar] ‘jenis pohon’ [ijiÿ] ‘sembunyi’ [ijya] ‘korban’ [jajah] ‘jelajah’ [jajal] ‘coba’ [kajaÿ] ‘tabir’ [kêjêÿ] ‘kaku’ [lajêÿ] ‘lari’ [lajja] ‘malu’ [majja] ‘sungsum’ [majyum] ‘obat bius’ [nija] ‘pembawaan lahir’ [ojwala] ‘bersinar’ [pajaÿ] ‘sinar bulan’ [pijêr] ‘selalu’ [rāja] ‘raja’ [rujit] ‘sobek’ [sajêÿ] ‘tuak’ [sajjana] ‘orang bijak’ [tajêm] ‘tajam’ [tujah] ‘tikam’ [ujar] ‘ujar’ [ujwalita] ‘menyala’ [waja] ‘gigi’ [yajña] ‘korban’ /jh/ [jhara] ‘air terjun’

[jhatiti] ‘seketika’ [nirjhara] ‘air terjun’ -/k/ [kabêt] ‘lambat’ [kabeh] ‘semua’ [kacah] ‘debur’ [kacaÿ] ‘kacang’ [kadācit] [akûara] ‘huruf’ [akûi] ‘mata’ [bakta] ‘bawa’ [bhakti] ‘bakti’ [cakra] ‘cakra’ [ajak] ‘ajak’ [awak] ‘tubuh’ [babak] ‘lecet’ [biÿkuk] ‘bengkok’

Referensi

Dokumen terkait

bahasa ini berasal dari Bahasa Jawa Kuno yang digunakan secara tumn-temumn sejak. zamaln pra-Majapahit (tahun

Karya ini dalam prosa; bentuknya mirip dengan teks Brahmandapurana , dan banyak juga kata-katanya dalam bahasa Sanskerta yang dijelaskan ke dalam bahasa Jawa kuno.. Isinya:

Dalam pengucapan bunyi yang terdapat dalam kata-kata bahasa Belanda ini juga terjadi beberapa proses fonologis yang memungkinkan terjadinya beberapa penyesuaian

Bunyi vokal u miring, ditulis u bukan o, meskipun pengucapan vokal ini berbunyi o, bunyi vokal u jejeg ini diucapkan seperti vokal u pada kata do ubt.. Vokal e, meskipun

Kemiripan proses pengucapan bunyi itu mengarah pada adanya tipikalitas Jawa dalam pengucapan bunyi bahasa Inggris JLE, yakni bunyi-bunyi tertentu dari bahasa Jawa akan dipakai

pelafalan nada dalam pengucapan kata tunggal dalam bahasa Mandarin oleh siswa.

Bukan hanya Bahasa Indonesia yang terpengaruh oleh bahasa daerah tetapi bahasa asing juga ikut berperan dalam kesalahan pelafalan.Contoh diatas merupakan kesalahan pelafalan

Sebagai misal, bahasa Arab Fuṣha tidak memiliki fonem /p/, yang sering kali menyebabkan karakteristik aksen bahasa Arab p-b yang membingungkan dalam pelafalan orang-orang non-Arab, fon