See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/318663476
Fonologi dan Ortografi Bahasa Arab
Conference Paper · January 2013
CITATIONS
4
READS
5,092
1 author:
Eric Kunto Aribowo
Universitas Widya Dharma Klaten, Indonesia 59PUBLICATIONS 197CITATIONS
SEE PROFILE
All content following this page was uploaded by Eric Kunto Aribowo on 25 July 2017.
The user has requested enhancement of the downloaded file.
202 SEMINAR NASIONAL BULAN BAHASA DAN SASTRA 2013 FONOLOGI DAN ORTOGRAFI BAHASA ARAB
Eric Kunto Aribowo Pendidikan Bahasa Jawa – FKIP Universitas Widya Dharma Klaten
Abstract
The Arabic alphabet has a stable system of letters which portray phonetically the consonant phonemes which they stand for in classical Arabic. Each letter represents usually one sound.But there are two major defects or problems from which the Arabic writing and reading suffers considerably. The first is that the majority of letters have various forms, according to their position in a given word –whetherthey are initial, medial, or final– as well as other forms dependent on the position of the letter in relation to another in the construction of the word, as to whether it stands alone or is joined to others.Second, the problem of vowel signs, or what are called diacriticalmarks, which do not appearusuallyin the printing materialsor handwriting. The bare letters of the Arabic alphabet, without the vowelsigns, make it difficultto read correctly or quickly.
Keywords: Arabic phonology, Arabic orthography, Arabicdiacritic
A. Pendahuluan
Pentingnya bahasa Arab di dunia modern tentunya tidak lepas dari posisinya sebagai bahasa Alquran, bahasa religius. Sebagai bahasa nasional di 20 negara1, saat ini bahasa Arab menjadi bahasa –Semit yang tergolong ke dalam rumpun Afroasiatik–yang paling penting (Dalby, 2004: 25). Hal ini disebabkan karena bahasa ini merupakan bahasaritual keagamaan Islam yang digunakan oleh seluruh umat muslim di penjuru dunia.
Penyebaran agama Islam ke seluruh dunia, termasuk Indonesia2, sering kali diikuti pula perkembangan bahasa Arab yang dibawa oleh agama tersebut. Untuk mempermudah dan mempercepat perkembangan agama Islam, pada umumnya penyebaran agama Islam juga dilakukan melalui penggabungan unsur-unsur kebudayaan yang ada pada suatu daerah tertentu. Perkembangan yang berlangsung secara evolusi telah berhasil memunculkan cipta, rasa, dan karsa oleh pemeluk-pemeluknya, misalnya penggunaan doa-doa Islam dalam
1 Aljazair, Bahrain, Mesir, Eritrea, Irak, Yordania, Kuwait, Lebanon, Libya, Mauritania, Maroko, Oman, Qatar, Arab Saudi, Somalia, Sudan, Suriah, Tunisia, Yaman, dan Palestina.
2Menurut Karim (2007: 42)Islam sudah menyebar di pesisir pulau Jawa dan Sumatera (Maulana Maghribi dan negeri Islam Peureulak) pada akhir abad 14 M yang penyebarannya dimulai abad 13 M, dalamarti penyebaran yang dilakukan oleh kelompok sosial, sedangkan secara individual kontak budaya itu diperkirakan berlangsung sejak abad 7 M.
SEMINAR NASIONAL BULAN BAHASA DAN SASTRA 2013 203 upacara adat, seperti kelahiran, selapanan(peringatan bayi berusia 35 hari), perkawinan, seni wayang kulit, beberapa arsitektur bangunan, kesusastraan, danbahasa3.
Dalam hal kebahasaan, fakta tentang adanya kira-kira 3.000 kata4 –ataulebih– yang berasal dari bahasa Arab dapat ditemukan dalam kamus-kamus bahasa Indonesia, bukan berarti kata-kata ini biasa digunakan dalam pergaulan sehari-hari, bahkan belum tentu masyarakat Indonesia mengetahuimaknanya, baik mereka yang terpelajar maupun tidak. Atau mungkin masyarakat tidak mengetahui bahwa kata-kata dalam bahasa Indonesia modern yang mereka pakai ternyata berasal dari bahasa Arab.
Pada makalah ini, penulis sampaikan mengenai deskripsi dasar fonologi dan konsep- konsep yang berkaitan mengenai bahasa Arab Fuṣha (bahasa Arab baku/standar). Diikuti deskripsi tentang ortografi bahasa Arab5, misalnya standar pengucapan, yang digunakan untuk memetakan fonologi ke/dari tulisan Arab. Hal ini dimaksudkan agar pengenalan terhadap bahasa Arab menjadi lebih mudah dan universal. Dengan demikian, bermunculan kajian-kajian baru berkaitan dengan akulturasi dua budaya yang berbeda tersebut.
B. Pembahasan
1. Fonologi bahasa Arab
Pada bagian ini ditampilkan pengantar awal kepada fonologi bahasa Arab. Istilah- istilah fonologi dimunculkan sebagaimana diperlukan. Meskipun bahasa Arab memiliki variasi dialektal yang berbeda dari bahasa Arab Fuṣha, tidak kami bahasa di sini.
1.1 Konsep dasar
Fonologi merupakan studi mengenai bagaimana bunyi-bunyi atau fon-fon tersusun secara sistematis di dalam bahasa manusia. Konsep utama pada fonologi adalah fonem, satuan makna terkecil bunyi dalam bahasa yang membedakan makna. Membedakan berarti bahwa dalam bahasa dianggap memiliki pasangan minimal yang melibatkan fonem: dua kata yang memiliki perbedaan makna dan terjadi karena perbedaan fonologis pada fonem. Sebagai misal, kata dalam bahasa Arab Fuṣha
ﺐﻠﻗ
/qalb/ ‘hati’ danﺐﻠﻛ
/kalb/ ‘anjing’ yang merupakan bagian dari pasangan minimal untuk fonem /q/ dan /k/. Sebuah fonem dapat berkorespondensi (memiliki kesamaan bunyi) terhadap beberapa fon atau bunyi dasar yang didistribusikan menurut aturan-aturan yang dapat diprediksi, dikenal dengan istilah fonotaktik. Bunyi-bunyi yang dapat diprediksi tersebut berasosiasi (memiliki hubungan) dengan sebuah fonem yang disebut alofon. Sebagai misal, bahasa Arab Fuṣha tidak memiliki fonem /p/, yang sering kali menyebabkan karakteristik aksen bahasa Arab p-b yang membingungkan dalam pelafalan orang-orang non-Arab, fon [p] muncul sebagai alofon dari fonem /b/ pada konteks-konteks tertentu, misalnya bunyi tak bersuara pada kataﺲﺑد
dibs
3 Pengaruh dalam hal bahasa seperti pada Hadi (2003) dan Fauziah (2006a, 2006b, 2008); sedangkan dalam kesusastraan dapat diamati pada Junanah (2008) dan Hindun (2012).
4 Lebih lengkap baca Hadi dalam “Kata-kata Serapan dari Bahasa Arab yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia” (Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2003).
5 Sejarah perkembangan penulisan Arab dapat dilihat pada karya Hasanah dengan judul “Tulisan Arab Dulu dan Kini” (Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, 1997).
204 SEMINAR NASIONAL BULAN BAHASA DAN SASTRA 2013
‘manisan anggur’ yang secara fonemis direpresentasikan sebagai /dibs/, tetapi secara fonetik sebagai [dips].6
1.2 Sketsa Fonologi bahasa Arab
Tabel 1 Inventarisasi Fonem Konsonan Bahasa Arab7
labial labio-dental interdental dental alveolar palatal velar uvular faringal glotal
hambat
b
ت
tط
ṭك
kق
qء
ʔtb
ب
bد
dض
ḍafrikatif b
tb
ج
jfrikatif
b
ف
fث
θس
sص
ṣش
šخ
xح
ħه
htb
ذ
ðظ
ðز
zغ
ɣع
ʕnasal
م
mن
nlateral
ل
lgetar
ر
rsemivokal
و
wي
yBaris mewakili perbedaan cara artikulasi, sedangkan kolom mewakili perbedaan tempat artikulasi. Pasangan fonem merupakan variasi bunyi lemah dan emfatik.
Tabel 2 Inventarisasi FonemVokal Bahasa Arab8 depan tengah belakang
tinggi i ī u ū
sedang
rendah a ā
6 Kami mengikuti penggunaan umum ‘/.../’ untuk mengindikasikan unsur fonemik dan ‘[...]’ untuk unsur fonetis.
Dalam tulisan ini digunakan transkripsi International Phonetic Alphabet (IPA) untuk meminimalisasi beberapa wujud representasi yang digunakan pada makalah ini.
7DiadopsidariRyding dalamA Reference Grammar of Modern Standard Arabic(Cambridge: Cambridge University Press, 2005), hlm. 13.
8 Bunyi vokal direpresentasikan dengan istilah tinggi dan belakang dari posisi lidah.
SEMINAR NASIONAL BULAN BAHASA DAN SASTRA 2013 205 Profil fonologis dasar dalam bahasa Arab mengandung 28 konsonan, tiga vokal pendek, dan tiga vokal panjang. Sebagai tambahan, bahasa Arab memiliki dua diftong: /ay/
dan /aw/. Tabel 1 dan 2 menampilkan variasi fonem konsonan dan vokal dalam bahasa Arab.
Pada Tabel 1, kehadiran pasangan fonem di satu sel, sebagai misal ‘t ṭ’ mengindikasikan adanya bunyi datar dan emfatik9. Emfasis (
ﻢﻴﺨﻔﺗ
tafxiym) merupakan efek bas yang diberikan sebagai resonansi penekanan atau pemberatan pada bunyi dasar. Pasangan fonem vokal pada Tabel 2 mengindikasikan perbedaan panjang (pendek dan panjang).Sebagai pembeda antara vokal pendek dan vokal panjang adalah kata /mudīruna/ ‘(seorang) direktur kami’ dan /mudīrūna/ ‘direktur-direktur kami’.Sebagai kontras pembeda pada konsonan emfatik, dalam bahasa Arab terdapat kata
سﺎﺑ
/bās/ ‘mencium’ danصﺎﺑ
/bāṣ/ ‘bis’.2. Ortografi bahasa Arab
Ortografi merupakan sebuah spesifikasi bagaimana bunyi-bunyi dalam sebuah bahasa dipetakan atau digambarkan ke/dari sebuah tulisan tertentu. Pada bagian ini, kami tampilkan ortografi bahasa Arab Fuṣha menggunakan tulisan Arab. Korespondensi antara penulisan dan pelafalan dalam bahasa Arab ditunjukkan pada bagan berikut.
Bagan 1 Pemetaan
Huruf Arab ke
Bunyi Bahasa Arab Fuṣha memiliki 34 fonem (28 konsonan, 3 vokal panjang, dan 3 vokal pendek). Sistem penulisan Arab memiliki 36 huruf dan 9 tanda diakritik (termasuk tanda Alif Ṣilah). Sebagian besar huruf dalam bahasa Arab Fuṣha memiliki pemetaan satu huruf ke satu bunyi (bagan 1). Meskipun demikian, terdapat beberapa perkecualian umum yang penting, yang diringkas pada penjelasan berikut.
2.1 Nama dan bentuk huruf Arab
Dalam sistem penulisan Arab tidak terdapat kapitalisasi, sehingga tidak terdapat perbedaan antara huruf kapital dan huruf kecil. Huruf-huruf dibedakan menurut posisinya dalam sebuah kata: berada pada awal, tengah, atau akhirkata. Setiap huruf memiliki empat kemungkinan bentuk: berada pada awal, tengah, akhirkata, dan terpisah (tunggal).
9Bahasa Arab mempunyai bunyi-bunyi bahasa yang spesifik, misalnya empat bunyi emfatik dalam bahasa Arab
ص
/ṣ/,ض
/ḍ/,ط
/ṭ/, danظ
/ð /. Salah satu bunyi bahasa yang menjadi ciri khas dan dimiliki bangsa Arab adalah bunyiض
/ḍ/ merupakan karakteristik bahasa Arab. Inilah sebabnya bahasa Arab juga dikenal dengan‘bahasa yang memiliki huruf ḍaḍ’ (lugat aḍ-ḍāḍ).
206 SEMINAR NASIONAL BULAN BAHASA DAN SASTRA 2013 Tabel 3 Bentuk Huruf Arab berdasarkan Posisinya
Nama Akhir Tengah Awal Tunggal
(hamza)
ء
alif
ﺎـــ ﺎـــ ا ا
bāʔ
ﺐـــ ـــﺒـــ ـــﺑ ب
tāʔ
ﺖـــ ـــﺘـــ ـــﺗ ت
θāʔ
ﺚـــ ـــﺜـــ ـــﺛ ث
jīm
ﺞـــ ـــﺠـــ ـــﺟ ج
ħāʔ
ﺢـــ ـــﺤـــ ـــﺣ ح
xāʔ
ﺦـــ ـــﺨـــ ـــﺧ خ
dāl
ﺪـــ ﺪـــ د د
ðāl
ﺬـــ ﺬـــ ذ ذ
rāʔ
ﺮـــ ﺮـــ ر ر
zay
ﺰـــ ﺰـــ ز ز
sīn
ﺲـــ ـــﺴـــ ـــﺳ س
šīn
ﺶـــ ـــﺸـــ ـــﺷ ش
ṣād
ﺺـــ ـــﺼـــ ـــﺻ ص
ḍād
ﺾـــ ـــﻀـــ ـــﺿ ض
ṭāʔ
ﻂـــ ـــﻄـــ ـــﻃ ط
ð āʔ
ﻆـــ ـــﻈـــ ـــﻇ ظ
ʕayn
ﻊـــ ـــﻌـــ ـــﻋ ع
ɣayn
ﻎـــ ـــﻐـــ ـــﻏ غ
fāʔ
ﻒـــ ـــﻔـــ ـــﻓ ف
qāf
ﻖـــ ـــﻘـــ ـــﻗ ق
kāf
ﻚـــ ـــﻜـــ ـــﻛ ك
lām
ﻞـــ ـــﻠـــ ـــﻟ ل
mīm
ﻢـــ ـــﻤـــ ـــﻣ م
nūn
ﻦـــ ـــﻨـــ ـــﻧ ن
SEMINAR NASIONAL BULAN BAHASA DAN SASTRA 2013 207
hāʔ
ﻪـــ ـــﻬـــ ـــﻫ ه
wāw
ﻮـــ ﻮـــ و و
yāʔ
ﻲـــ ـــﻴـــ ـــﻳ ي
2.2Diakritik Opsional10
Tanda diakritik dalam bahasa Arab dapat dipetakan ke dalam bunyi-bunyi berikut.
(a) Tiga tanda diakritik untuk vokal pendek,
ـَــــ
a,ـُــــ
u, danـِــــ
i yang secara berurutan mewakili vokal /a/, /u/, /i/. Vokal pendekـُــــ
udanـِــــ
i secara kolektif digunakan bersama semivokalو
w danي
y untuk mengindikasikan vokal panjang /ū/ (sebagai uw) dan /ī/(iy). Vokal panjang /ā/ pada kebanyakan penulisan umum merupakan kombinasi dari diakritik vokal pendek
ـَــــ
a dan hurufا
a.(b) Tiga tanda diakritik nunasi
ـًــــ
ã,ـٌــــ
ũ, danـٍــــ
ĩ mewakili kombinasi sebuah vokal pendek dan tanda indefinit (tak takrif) /n/ dalam bahasa Arab Fuṣha yang secara berurutan:/an/, /un/, dan /in/.
(c) Diakritik pemanjangan konsonan šadda (geminasi; konsonan ganda) dengan
ـّــــ
~pengulangan/pemanjangan konsonan sebelumnya, misalnya
ﺐّﺘﻛ
kat~ab yang dilafalkan /kattab/11.(d) Sukun
ـ ْ ــــ
diakritik yang menandai ketidakhadiran vokal.(e) Diakritik vokal panjang, Alif Ṣilah12
ٰـــــ
á mewakili vokal panjang /ā/ pada yang muncul sebagian kata.Diakritik dalam bahasa Arab hanya muncul setelah hadirnya sebuah huruf. sebagai misal vokal pendek penghubung yang diwakili oleh sebuah bunyi diam, yang sering disebut Alif-Waṣla atau Hamzat-Waṣla,
ٱ
(yang sering kali secara sederhana ditulisا
). Kalimat atau ujaran yang diawali oleh Hamzat-Waṣla dilafalkan layaknya sebuah bunyi glotal hambat yang diikuti vokal pendek. Kalimat yang Hamzat-Waṣlaberada di tengah dilafalkan senyap,sebagai contohبﺎﺘﻛ ﺐﺘﻜﻧا
inkataba kitābũ ‘sebuah buku telah ditulis’ yang dilafalkan10 Istilah linguistik yang merujuk pada sebuah unsur yang dapat dihilangkan keberadaannya dari sebuah struktur tanpa membuat struktur tersebut tidak gramatikal (Crystal, 2008: 343).
11Termasuk unsur penting karena dapat membedakan makna, misalnya pada kata /ħamām/ ‘merpati’ dan /ħammām/ ‘kamar mandi’. Pastikan untuk melafalkan dua bunyi /t/ secara terpisah sebagaimana mengucapkan /kat/ dan /tab/ secara cepat.
12 Bentuk pendek dari Alif Panjang yang ditulis di atas konsonan (menggantung di atas) seperti pada kata
ﷲا
/ʔallah/ ‘Tuhan’,
اﺬ ٰﻫ
/hāðā/ ‘ini (maskulin)’, danﱠﻦِﻜٰﻟ
/lākinna/ ‘tetapi’.208 SEMINAR NASIONAL BULAN BAHASA DAN SASTRA 2013 /ʔinkataba kitābun/, tetapi pada
ﺐﺘﻜﻧا بﺎﺘﻛ
kitābũn inkataba dilafalkan /kitābun inkataba/.Hamzah sejatinya selalu dilafalkan sebagai bunyi glotal hambat. Hamzat-Waṣla muncul pada umumnya di sebagian Alif yang berfungsi sebagai artikel definit al. Selain itu, juga muncul pada kata-kata khusus dan kelas-kelas kata seperti pronomina relatif, misalnya allaðiy ‘yang’.
Sebagian besar problematika yang terjadi adalah pada diakritik optional. Bukan sebuah permasalahan yang besar ketika memetakan dari fonologi ke tulisan, tetapi arah sebaliknya. Tanda diakritik pada umumnya terbatas pada teks-teks religius dan buku-buku teks bahasa Arab. Tanda diakritik akan dibubuhkan pada suatu kata hanya untuk menghindari ambiguitas. Beberapa tanda ini ada yang bersifat leksikal (di mana sebuah kata memiliki beberapa makna) dan ada yang bersifat infleksional (di mana terdapat variasi kasus pada nomina atau modus pada verba). Tanda infleksional ini berada di akhir kata.
2.3Pelafalan Hamza
Sebagaimana telah dibahas pada bagian sebelumnya, konsonan hamza (glotal hambat /ʔ/) memiliki beberapa bentuk pada sistem penulisan Arab:
ء
,آ
,أ
,ؤ
,إ
, danئ
. Aturanmengenai pelafalan hamza utamanya berdasar pada konteks vokal dan morfologis. Sebagai misal, perbedaan bentuk hamzah pada beberapa kata yang bermakna ‘kemenangannya’ ketika penanda kasusnya berubah:
ﻩءﺎﻬـﺑ
/bahāʔahu/ (akusatif),ﻩؤﺎﻬـﺑ
/bahāʔuhu/ (nominatif), danﻪﺋﺎﻬـﺑ
/bahāʔihi/ (genitif).
Pelafalan hamza dianggap lebih membingungkan karena pada faktanya bahwa penulis-penulisArab sering kali mengganti huruf yang ber-hamza dengan bentuk tidak ber- hamza, misalnya
أ
yang digantikan denganا
. Variasi umum ini tidak selalu memunculkan ambiguitas, khususnya ketika hamza merupakan stem awal (huruf pertama), misalnya pada kataلوأ/لوا
‘pertama’. Pada kasus lain, ambiguitas akan terjadi, pada umumnya ketika hamza menempati posisi stem tengah (huruf tengah) atau stem final (huruf akhir), misalnya:اﺪﺑ
/badā/ ‘dia muncul’ dan
أﺪﺑ
/badaʔa/ ‘dia mulai’. Ini berarti bahwa hamza pada stem awal merupakan Alif yang ber-hamzah yang pada umumnya dianggap oleh para penulis Arab sebagai tanda diakritik optional jika dibandingkan dengan kasus hamzapada stem tengah dan stem final–yang dianggap sebagai tanda diakritik yang harus muncul.2.4Pelafalan Morfofonemik
Sistem penulisan Arab memiliki jumlah kecil berkaitan dengan pelafalan morfofonemik/leksikal, beberapa di antaranya yang umum terjadi:
(a) Tā Marbuta (
ة
h) pada umumnya merupakan akhiran penunjuk feminin, misalnyaﺔﺒﻟﺎﻃ
/ṭālibah/ ‘mahasiswi’yang hanya muncul pada akhir sebuah kata dan selalu diikuti sebuah tanda diakritik. Pada bahasa Arab Fuṣha dilafalkan sebagai /t/, kecuali jika tidak diikuti oleh vokal (seperti pada bunyi waqf), pada kasus tersebutSEMINAR NASIONAL BULAN BAHASA DAN SASTRA 2013 209 tidak dilafalkan. Sebagai misal
ﺔﺒﺘﻜﳌا
‘perpustakaan’ yang diucapkan /ʔalmaktabatu/ (normal) atau /ʔalmaktabata/ (waqf).(b) Alif Maqṣūra (
ى
ý) yang merupakan tanda derivasional senyap yang selalu berada setelah vokal pendek /a/ pada akhir sebuah kata. Sebagai misalﻰﺼﻋ
‘durhaka;melawan’ dan
ﺎﺼﻋ
‘tongkat’ yang keduanya dilafalkan /ʕaṣā/.(c) Artikel Definit yakni proklitik yang berasimilasi terhadap konsonan pertama pada nomina atau adjektiva, memodifikasi apabila terdapat konsonan merupakan yang bagian dari fonem alveolar, dental, atau interdental (kecuali /j/). Rangkaian 14 konsonan ini disebut sebagai Huruf Šamsiyyah, yakni:
ت
t,ث
θ,د
d,ذ
ð,ر
r,ز
z,س
s,ش
š,ص
ṣ,ض
ḍ,ط
ṭ,ظ
ð ,ل
l, danن
n. Sebagai contoh kataﺲﻤﺸﻟا
al+šams ‘matahari’yang diucapkan /ʔaššams/ bukan */ʔalšams/13. Konsonan-konsonan lain disebut sebagai Huruf Qamariyyah, artikel definit yang tidak berasimilasi terhadap hamza. Sebagai contoh kata
ﺮﻤﻘﻟا
al+qamar ‘bulan’ yang dilafalkan /ʔalqamar/bukan */ʔaqqamar/. Aturan pelafalan bahasa Arab diperlukan penambahan sebuah tanda diakritik šadda pada huruf šamsiyyah untuk mengindikasikan bunyi yang berasimilasi tanpa menghapus
ل
l, sepertiﺲﻤﱠﺸﻟا
.(d) Nunasi(tanwin) merupakan pelafalan morfem indefinit dengan tanda diakritik.Merupakan contoh lain dari pelafalan morfofonemis yang telah dibahas pada tanda diakritik sebelumnya.
(e) Huruf Senyap merupakan bunyi Alif senyap yang muncul pada morfem
او
/ū/ (واو ﺔﻋﺎﻤﳉا
waw al-jamāʕah) yang mengindikasikan sebuah konjugasi maskulin plural pada verba. Alif senyap yang lain tampak pada kata yang diakhiri oleh nomina yang bertanda nunasi (sebelum atau setelah tanda diakritik), misalnyaﺎﺑﺎﺘﻛ
/kitāban/. Selain itu, pelafalan yang berbeda tampak pada nama diri
وﺮﻤﻋ
ʕamruw/ʕamr/ ‘Amr’ di mana bunyi akhir
و
w senyap.C. Penutup
Bahasa Arab memiliki vokal panjang dan penggandaan konsonan yang tidak dimiliki oleh bahasa Indonesia. Selain itu, bunyi-bunyi yang berdekatan dan bunyi emfatik merupakan ciri khas bahasa Arab yang sering kali menjadi kendala dalam pembelajaran bahasa. Pada konteks sistem penulisan, para pembelajar bahasa Arab awal (yang belum mengenal tata
13 Simbol asterik (*) yang mengawali sebuah contoh merupakan tanda linguistik yang mengindikasikan bahwa contoh tersebut salah atau tidak berterima.
210 SEMINAR NASIONAL BULAN BAHASA DAN SASTRA 2013 bahasa Arab) masih sangat bergantung pada tanda diakritik. Lebih lagi, hadirnya alif dan hamza sering kali masih menimbulkan kebingungan dalam membedakannya.
Daftar Pustaka
Crystal, David. 2008.A Dictionary of Linguistics and Phonetics. 6th Edition. Oxford:
Blackwell Publishing.
Dalby, Andrew. 2004. Dictionary of Languages: The Definitive Reference to more than 400 Languages. London: A&C Black.
Fauziah. 2006a.“Perubahan Makna Leksikal Verba Bahasa Indonesia dari Bahasa Arab”.
Karya ilmiah (tidak dipublikasikan). Medan: Universitas Sumatera Utara.
_______. 2006b.“Unsur-unsur Bunyi Kata-kata Serapan dari Bahasa Arab dalam Bahasa Melayu Deli”. Karya ilmiah (tidak dipublikasikan). Medan: Universitas Sumatera Utara.
_______. 2008.“Sisi Monograf Pengaruh Bahasa Arab terhadap Bahasa Jawi (Aksara Melayu) Indonesia”. Karya ilmiah (tidak dipublikasikan). Medan: Universitas Sumatera Utara.
Hadi, Syamsul. 2003. “Kata-kata Serapan dari Bahasa Arab yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Disertasi (belum dipublikasikan). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Hasanah, Uswatun. 1997. “Tulisan Arab Dulu dan Kini”.Dalam Jurnal HumanioraTahun 1997 Volume 4. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
Hindun. 2012. “Syingir: Transformasi Puisi Arab ke dalam Puisi Jawa”. Dalam JurnalHumaniora Volume 24 No. 1 Februari 2012. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
Junanah. 2008.“Dialektika Bahasa Arab dalam Karya Serat Centhini”. Dalam JurnalFenomena Volume 6 No. 1 Maret 2008.
Karim, Abdul. 2007. Islam Nusantara. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
Pedoman Transliterasi Arab-Latin. Keputusan BersamaMenteri Agama dan Menteri Pendidikan dan KebudayaanRepublik IndonesiaNomor : 158 Tahun1987Nomor : 0543b/U/1987.
Rogers, Henry. 2005. Writing Systems: A Linguistics Approach. Oxford: Blackwell Publishing.
Ryding, Karin C. 2005. A Reference Grammar of Modern Standard Arabic. Cambridge:
Cambridge University Press.
The International Phonetic Alphabet (revised to 2005).
Wightwick, Jane dan Mahmoud Gaafar. 2005. Mastering Arabic Script: A Guide to Handwriting. New York: Palgrave Macmillan.
SEMINAR NASIONAL BULAN BAHASA DAN SASTRA 2013 211 Riwayat Hidup
Eric Kunto Aribowo, S.S., M.A. lahir di Yogyakarta pada 7 Maret 1986. Saat ini penulis tinggal di Botokan RT 08 RW V Ngaran, Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Pendidikan Sekolah Dasar diselesaikan di Klaten (1997), Sekolah Menengah Pertama di Palangkaraya (2000), dan Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta (2005).
Gelar Sarjana Sastra (S1) diraih di Jurusan Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (2009) dengan judul skripsi “Kekohesifan dalam Wacana Tajuk RencanaMajalah “Deutschland” Terbitan Tahun 2008:Analisis Wacana”. Mendapatkan gelas Master of Arts di jurusan Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (2011) dengan judul “Perbandingan GramatikaBahasa Arab Fuṣḥā dan ‘Āmiyyah Mesir”.
Sejak tahun 2011 mengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Widya Dharma Klaten sampai sekarang yang bertanggung jawab pada mata kuliah Bahasa Arab.
View publication stats