• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

5 BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Metode Klos

2.1.1 Pengertian Metode Klos

Klos berasal dari kata “CLOZURE” yaitu suatu istilah dari ilmu jiwa Gestalt.

Hal ini seperti yang dikemukakan Wilson Taylor yang dikutip oleh Kamidjan, bahwa: Konsep teknik klos ini menjelaskan tentang kecenderungan orang untuk menyempurnakan suatu pola yang tidak lengkap menjadi suatu kesatuan yang utuh. (Kamidjan, 1996:66).

Berdasarkan pendapat di atas, dalam teknik klos pembaca diminta untuk memahami wacana yang tidak lengkap, karena bagian tertentu telah dihilangkan akan tetapi pemahaman pembaca tetap sempurna.

Bagian - bagian kata yang dihilangkan itu biasanya disebut kata ke – an. Kata ke – an itu diganti dengan tanda garis mendatar atau tanda titik-titik, karena kata ke – an bisa berupa kata benda, kata kerja, kata penghubung, dan kata lain yang dianggap penting. Tugas pembaca ialah mengisi bagian-bagian yang kosong itu sama dengan wacana aslinya.

2.2.2 Manfaat Metode Klos

Metode Klos menurut Heilman, Hittleman, dan Bartmuth (dalam Sujana,1987:144) menyatakan bahwa, teknik klos ini bukan sekedar bermanfaat untuk mengukur tingkat keterbacaan wacana, melainkan juga mengukur tingkat keterpahaman pembacanya. Melalui teknik ini kita akan mengetahui perkembangan

(2)

konsep, pemahaman, pemahaman, dan pengetahuan linguistik siswa. Hal ini sangat berguna untuk menentukan tingkat instruksional yang tepat murid-muridnya.

Berdasarkan pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan beberapa manfaat dari metode klos ini yaitu dapat mengetahui tingkat keterbacaan sebuah wacana, tingkat keterbacaan siswa, dan latar belakang pengalaman yang berupa minat, dan kemampuan bahasa siswa.

2.2.3 Kriteria Pembuatan Klos

Tabel 2.1. Kriteria Pembuatan Klos

Karakteristik Sebagai Alat Ukur Sebagai Alat Ajar

1.Panjang Wacana

2. Delisi (lesapan)

3. Evaluasi

4. Tindak lanjut

Antara 250-350

perkataan dari wacana terpilih

Setiap kata ke-an hingga berjumlah lebih kurang 50 buah

Jawaban berupa kata, persis sesuai dengan kunci/teks aslinya: metode “exactwords”

Wacana yang terdiri atas maksimal 150 perkataan

Delisi secara selektif bergantung pada kebutuhan siswa dan pertimbangan guru

Jawaban boleh berupa sinonim atau kata yang secara struktur dan makna dapat menggantikan kedudukan kata yang dihilangkan “contextual method”

Lakukanlah diskusi untuk membahas jawaban-jawaban

(3)

siswa.

Berbagai penelitian telah memperlihatkan bukti bahwa teknik isian rumpang/teknik klos merupakan alat ukur keterbacaan yang mapan. Validitas dan reabilitas sebagai alat ukur bahasa Inggris terbukti cukup baik. Hal senada seperti Bachman (dalam Sujana 1987:148) mengatakan telah membuktikan keterhandalan teknik ini yang diperbandingkan dengan beberapa skor dari tes baku/standar bahasa Inggris. Bahkan Stump dalam Oller dan Perksm (dalam Sujana 1987:148) lewat penelitiannya membuktikan bahwa tes isian rumpang dan dikte merupakan dua bentuk pengetesan yang mampu memprediksi skor intelegensi dan prestasi belajar. Kedua bentuk pengetesan tersebut (prosedur isian rumpang dan dikte) telah dikorelasikan dengan sebuah tes standar yakni The Large Thorndike Intelligence Test

And The Low a Test Of Basic Skill (ITBS).

Menurut Kamidjan (1996:69) kriteria penilaian tes klos di Indonesia lebih banyak menggunakan PAP (Penilaian Acuan Patokan), oleh karena itu lebih sesuai jika menggunakan kriteria Earl F. Rankin da Yoseph Cullhene sebagai berikut :

Pembaca berada dalam tingkat independen, jika persentase skor tes uji rumpang yang diperolehnya di atas 60 %, pembaca berada dalam tingkat instruksional, jika prosentase skor tes uji rumpang yang diperolehnya berkisar antara 41 % - 60 %, dan pembaca berada dalam tingkat frustasi atau gagal, jika prosentase skor tes uji rumpang yang diperolehnya sama dengan atau kurang dari 40 .

(4)

Menurut Kamidjan (1996:72) suatu alat ukur tentu memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulannya sebagai berikut : adanya pola interaksi antara pembaca dan penulis, menilai keterbacaan sekaligus keterampilan membaca, teknik klos merupakan alat tes yang bersifat fleksibel dan singkat, tes klos dapat menjangkau jumlah pembaca yang banyak, teknik klos dapat juga dipakai sebagai alat untuk mengajar di kelas, tes ini juga bisa dipakai untuk latihan membaca pemahaman, dan melatih siswa (pembaca) bersikap kritis terhadap wacana. Sedangkan kelemahannya yaitu : validitas keunggulan pemahaman kurang, pembaca belum tentu mengatasi pemahaman wacana tersebut, dan adanya kelipatan pengisian yang konsistensi.

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut peneliti memberikan bacaan yang sesuai dengan kemampuan siswa. Peneliti tidak memberikan bacaan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dengan kemampuan siswa.

2.2 Tinjauan tentang Membaca 2.2.1 Pengertian Membaca

Membaca adalah suatu proses yang kompleks dan rumit. Kompleks berarti dalam proses membaca terlibat berbagai faktor internal dan faktor eksternal pembaca. Faktor internal berupa intelegensi, minat, sikap, bakat, motivasi, tujuan membaca, dan lain sebagainya. Faktor eksternal bisa dalam bentuk sarana membaca, latar belakang sosial dan ekonomi, dan tradisi membaca. Rumit artinya faktor eksternal

(5)

dan internal saling berhubungan membentuk koordinasi yang rumit untuk menunjang pemahaman bacaan (Nurhadi, 2008 : 13).

Kegiatan membaca meliputi 3 keterampilan dasar yaitu recording, decoding, dan meaning. Recording merujuk pada kata-kata dan kalimat, kemudian mengasosiakannya dengan bunyi-bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan. Proses decoding merujuk pada proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam kata-kata. Sedangkan meaning merupakan proses memahami makna yang berlangsung dari tingkat pemahaman, pemahaman interpretatif, kreatif, dan evaluatif. Proses recording dan decoding berlangsung pada siswa kelas awal, sedangkan meaning lebih ditekankan pada kelas tinggi (Farida Rahim, 2008: 2).

Samsu Somadayo (2011: 4) mengungkapkan bahwa membaca adalah suatu kegiatan interaktif untuk memetik serta memahami arti yang terkandung di dalam bahan tulis.Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah proses pengasosiaan huruf, penerjemahan, dan pemahaman makna isi bacaan.

2.2.2 TujuanMembaca

Menurut Farida Rahim (2008: 11) ada beberapa tujuan membaca yang mencakup: a) kesenangan, b) menyempurnakan membaca nyaring, c) menggunakan strategi tertentu, d) memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik, e) mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya, f) memperoleh informasi untuk laporan lisan dan tertulis, g) mengkonfirmasikan atau menolak prediksi, h) menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang

(6)

diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain, i) mempelajari tentang struktur teks, dan j) menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik.

Dari uraian tersebut peneliti menyimpulkan bahwa tujuan membaca yang paling utama adalah memperoleh informasi. Setelah informasi diperoleh pembaca akan melakukan tindak lanjut yang dapat berupa kegiatan menyimpulkan, menilai, dan membandingkan isi bacaan.

2.2.3 Komponen Kegiatan Membaca

Farida Rahim (2008: 12) menyampaikan bahwa kegiatan membaca terdiri dari dua komponen yaitu:

a. Proses Membaca

Farida Rahim (2008: 12) menyampaikan bahwa proses membaca terdiri dari 9 aspek, yaitu sensori, perseptual, urutan, pengalaman, pikiran, pembelajaran, asosiasi, sikap, dan gagasan. Proses sensori visual menurut Farida Rahim (2008: 12) diperoleh dengan pengungkapan simbol-simbol grafis melalui indra penglihatan. Anak-anak belajarmembedakan secara visual simbol-simbol grafis (huruf atau kata) yang digunakan untuk mempresentasikan bahan lisan. Kegiatan perseptual dijelaskan Farida Rahim (2008: 12) sebagai aktivitas mengenal suatu kata sampai pada suatu makna berdasarkan pengalaman yang lalu. Aspek urutan merupakan kegiatan mengikuti rangkaian tulisan yang tersusun secara linear, yang umumnya tampil dalam satu halaman dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah.

(7)

Untuk memahami makna bacaan, pembaca terlebih dahulu harus memahami kata-kata dan kalimat yang dihadapinya. Kemudian pembaca membuat simpulan dengan menghubungkan isi preposisi yang terdapat dalam materi bacaan. Agar proses ini dapat berlangsung pembaca harus berpikir sistematis, logis, dan kreatif.

Guru dapat membimbing siswa meningkatkan kemampuan berpikir melalui membaca dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Adapun pertanyaan-pertanyaan yang diberikan sehubungan dengan bacaan tidak hanya pertanyaan yang menghasilkan jawaban yang berupa fakta. Proses membaca selanjutnya yaitu aspek asosiasi meliputi mengenal hubungan antara simbol dengan bunyi bahsa dan makna (Farida Rahim, 2008: 13). b. Produk Membaca

Komponen kegiatan membaca yang kedua yaitu produk membaca. Farida Rahim (2008: 12) menjelaskan bahwa produk membaca merupakan komunikasi dari pemikiran dan emosi antara penulis dan pembaca. Komunikasi juga bisa terjadi dari konstruksi pembaca melalui integrasi pengetahuan yang telah dimiliki pembaca dengan informasi yang disajikan dalam teks. Komunikasi dalam membaca tergantung pada pemahaman yang dipengaruhi oleh seluruh aspek proses membaca.

Henry Guntur Tarigan (1985: 13) membagi jenis-jenis membaca yang menjadi bagian dari membaca dalam hati sebagai berikut.

(8)

Membaca ekstensif ini mencakup membaca survey, membaca sekilas, dan membaca dangkal.

2) Membaca intensif

Membaca intensif dibagi membaca telaah isi yang mencakup membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis, dan membaca ide. Bagian yang kedua dari membaca intensif yaitu membaca telaah bahasa, mencakup membaca bahasa asing dan membaca sastra.

2.2.4 Kemampuan Membaca Pemahaman

a. Pengertian Kemampuan Membaca Pemahaman

Kemampuan membaca adalah kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan secara keseluruhan. Sedangkan Puji Santosa, dkk. (2010: 3.20) menjelaskan bahwa membaca pemahaman merupakan lanjutan dari membaca dalam hati, mulai diberikan di kelas, membaca tanpa suara dengan tujuan untuk memahami isi bacaan. Pendapat tersebut didukung, membaca pemahaman merupakan sub pokok bahasan dari membaca lanjut.

Tujuannya agar siswa mampu memahami, menafsirkan, serta menghayati isi bacaan. Aktivitas membaca pemahaman dapat diklasifikasi menjadi pemahaman literal, pemahaman interpretasi, pemahaman kritis, dan pemahaman kreatif.

Lebih lanjut, Samsu Somadayo (2011: 10) menjelaskan bahwa kemampuan membaca pemahaman merupakan suatu proses pemerolehan makna yang secara aktif

(9)

melibatkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki oleh pembaca serta dihubungkan dengan isi bacaan.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca pemahaman adalah kemampuan dalam memperoleh makna baik tersurat maupun tersirat dan menerapkan informasi dari bacaan dengan melibatkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki. Aktivitas membaca yang tepat untuk memperoleh keterampilan pemahaman ini adalah dengan membaca dalam hati.

b. Prinsip-prinsip Membaca Pemahaman

Prinsip-prinsip membaca pemahaman menurut Farida Rahim (2008: 3-4), ialah seperti yang dikemukakan berikut ini.

1) Pemahaman merupakan proses kontruktivis sosial.

2) Keseimbangan kemahiraksaraan adalah kerangka kerja kurikulum yang membantu perkembangan pemahaman.

3) Guru membaca yang profesional mempengaruhi belajar siswa.

4) Pembaca yang baik memegang peranan yang strategis dan berperan aktif dalam proses membaca.

5) Membaca hendaknya terjadi dalam konteks yang bermakna.

6) Siswa menemukan manfaat membaca yang berasal dari berbagai teks pada berbagai tingkat kelas.

7) Perkembangan kosakata dan pembelajaran mempengaruhi pemahaman membaca. 8) Pengikutsertaan adalah suatu faktor kunci pada proses pemahaman.

(10)

9) Strategi dan keterampilan membaca bisa diajarkan.

10) Asesmen yang dinamis menginformasikan pembelajaran membaca pemahaman. c. Bahan Penilaian Kemampuan Membaca Pemahaman

Burhan Nurgiyantoro (2010: 371) menyampaikan bahwa penilaian kemampuan membaca bertujuan untuk mengukur kompetensi peserta didik dalam memahami isi informasi yang terdapat dalam bacaan. Pemilihan wacana hendaknya dipertimbangkan dari segi tingkat kesulitan, panjang pendek isi, dan jenis atau bentuk wacana.

Tingkat Kesulitan wacana terutama ditentukan oleh kekomplekan kosakata dan struktur serta kadar keabstrakan informasi yang dikandung. Semakin sulit dan kompleks kedua aspek tersebut akan semakin sulit pemahaman wacana yang bersangkutan. Demikian pula yang terkait dengan isi wacana. Jika isi wacana tersebut bersifat umum, konkret, dalam jangkauan pengalaman peserta didik atau dalam bidang keilmuan yang sama, wacana tersebut relatif tidak sulit bagi mereka. Secara umum dapat dikatakan bahwa wacana yang baik untuk bahan tes kompetensi membaca adalah wacana yang tingkat kesulitannya sedang, atau yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik (Burhan Nurgiyantoro, 2010: 371).

Wacana yang diteskan untuk membaca pemahaman sebaiknya tidak terlalu panjang. Sepuluh butir tes dari tiga atau empat wacana lebih baik daripada hanya dari sebuah wacana panjang. Dengan wacana yang pendek, kita dapat membuat soal tentang berbagai hal sehingga lebih komprehensif. Kecuali alasan tersebut secara

(11)

psikologis peserta didik juga lebih senang dengan wacana pendek karena tidak membutuhkan waktu banyak untuk membacanya dan wacana pendek terlihat lebih mudah. Wacana pendek yang dimaksud yaitu berupa satu atau dua alenia atau kira-kira sebanyak 50 sampai 100 kata (Burhan Nurgiyantoro, 2010: 373).

Wacana kesastraan sebaiknya juga digunakan ketika soal tes kompetensi membaca terdiri dari beberapa wacana. Wacana ini dapat berupa kutipan fiksi (cerpen, novel), puisi, maupun teks drama. Karena informasi yang dikandung di dalam puisi lebih sulit dipahami, maka tes pemahaman dengan bentuk puisi belum dipergunakan untuk sekolah dasar (SD, SMP dan SMA).

2.2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Pemahaman

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pemahaman menurut Farida Rahim (2008: 16) yaitu faktor fisiologis, intelektual, lingkungan dan psikologis. Faktor fisiologis mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, jenis kelamin, dan kelelahan. Gangguan alat bicara, alat pendengaran, dan alat penglihatan juga dapat memperlambat kemajuan belajar anak. Secara umum ada hubungan positif antara kecerdasan dengan kemampuan membaca. Namun tidak semua siswa yang memiliki intelegensi tinggi mampu menjadi pembaca yang baik.

Faktor lingkungan dapat berupa latar belakang anak di rumah dan faktor sosial ekonomi. Latar belakang anak di rumah dapat berupa sikap yang diberikan orangtua kepada anak, kondisi keharmonisan keluarga, dukungan orang tua terhadap minat belajar anak, dan luasnya pengalaman anak di rumah juga mendukung kemajuan

(12)

membaca anak. Jika dilihat dari sudut pandang sosial ekonomi, semakin tinggi status ekonomi siswa semakin tinggi kemampuan membacanya. Anak yang berasal dari keluarga yang banyak memberikan kesempatan membaca dalam lingkungan yang penuh bahan bacaan akan memiliki kemampuan membaca yang tinggi.

Sedangkan faktor psikologis yang mempengaruhi kemampuan membaca pemahaman adalah motivasi, minat, dan kematangan sosial, emosi, serta penyesuaian diri. Siswa yang memiliki motivasi dan minat yang tinggi akan memiliki kemampuan membaca yang tinggi. Dari aspek emosi, siswa yang dapat mengontrol emosi akan lebih mudah memusatkan perhatian pada teks yang dibacanya. Jika anak memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi akan terus mencoba walaupun menemui kegagalan sehingga dapat menguasai berbagai kemampuan termasuk kemampuan membaca pemahaman..

2.2.6 Pentingnya Kemampuan Membaca Pemahaman

Membaca pemahaman merupakan pengajaran yang sangat penting. Jika diselenggarakan dengan baik, pengajaran ini akan memberikan dampak positif terhadap keberhasilan belajar siswa pada masa mendatang. Melalui pengajaran membaca ini siswa dapat memperoleh peningkatan kemampuan bahasa, kemampuan bernalar, kreativitas, dan penghayatan tentang nilai-nilai moral.

Burhan Nurgiyantoro (2010: 369) berpendapat bahwa membaca pemahaman tampaknya yang paling penting dan harus mendapat perhatian khusus. Kompetensi pemahaman terhadap berbagai teks yang dibaca tidak akan diperoleh secara

(13)

cuma-cuma tanpa ada usaha untuk meraihnya. Hal itu didasari pemikian bahwa dalam berbagai tuntutan pekerjaan diperlukan kompetensi membaca yang memadai bahkan juga untuk memperoleh kenikmatan batin seperti ketika membaca majalah ringan atau berbagai teks kesastraan. Selain itu kompetensi membaca pemahaman yang baik diperlukan dan menjadi prasyarat untuk dapat membaca dan memahami berbagai literatur mata pelajaran yang lain. Untuk itu kompetensi membaca pemahaman harus dibelajarkan dan diukur ketercapaiannya secara lebih intensif daripada kemampuan membaca yang lain.

2.3 Tinjauan Tentang UUD 1945 2.3.1 Pengertian UUD 1945

Dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Dasar 1945 angka I dinyatakan bahwa: “Undang-undang Dasar suatu negara ialah hanya sebagian dari hukumnya dasar Negara itu. Undang-undang Dasar ialah hukum dasar yang tertulis, sedang disampingnya Undang-undang dasar itu berlaku juga hukum dasar yang tidak tertulis, ialah aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan Negara meskipun tidak tertulis”.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan, pengertian kata Undang-Undang Dasar menurut UUD 1945, mempunyai pengertian yang lebih sempit daripada pengertian hukum dasar karena yang dimaksud Undang-undang Dasar adalah hukum dasar yang tertulis, sedangkan pengertiann hukum dasar mencakup juga hukum dasar yang tidak tertulis.

(14)

Di samping istilah undang-undang dasar, dipergunakan juga istilah lain yaitu Konstitusi. Istilah konstitusi berasal dari bahasa inggris constitution atau dari bahasa Belanda Constitutie. Kata konstitusi mempunyai pengertian yang lebih luas dari Undang-undang dasar karena pengertian Undang-undang Dasar hanya meliputi konstitusi yang tertulis saja, selain itu masih terdapat konstitusi yang tidak tertulis, yang tidak tercakup dalam pengertian Undang-undang Dasar.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, atau disingkat UUD 1945 adalah hukum dasar tertulis,dan juga konstitusi pemerintahan negara Republik Indonesia saat ini.

Pada kurun waktu tahun 1999-2002, UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan (amandemen), yang mengubah susunan lembaga-lembaga dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia.

Latar belakang terbentuknya UUD 1945 bermula dari janji Jepang untuk memberikan kemerdekaan bangsa Indonesia di kemudian hari. Janji tinggalah janji, setelah Jepang berhasil memukul mundur tentara Belanda, malah mereka sendiri yang menindas kembali bangsa Indonesia, bahkan lebih sadis dari sebelumnya.

Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibentuk pada tanggal 29 April 1945, adalah Badan yang menyusun rancangan UUD 1945. Pada masa sidang pertama yang berlangsung dari tanggal 28 Mei sampai dengan tanggal 1 Juni 1945 Ir.Sukarno menyampaikan gagasan tentang "Dasar Negara" yang diberi nama Pancasila. Kemudian BPUPKI membentuk Panitia Kecil

(15)

yang terdiri dari 8 orang untuk menyempurnakan rumusan Dasar Negara. Pada tanggal 22 Juni1945, 38 anggota BPUPKI membentuk Panitia Sembilan yang terdiri dari 9 orang untuk merancang Piagam Jakarta yang akan menjadi naskah Pembukaan UUD 1945. Setelah dihilangkannya anak kalimat "dengan kewajiban menjalankan syariah Islam bagi pemeluk-pemeluknya" maka naskah Piagam Jakarta menjadi naskah Pembukaan UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pengesahan UUD 1945 dikukuhkan oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang bersidang pada tanggal 29 Agustus 1945. Naskah rancangan UUD 1945 Indonesia disusun pada masa Sidang Kedua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Nama Badan ini tanpa kata "Indonesia" karena hanya diperuntukkan untuk tanah Jawa saja. Di Sumatera ada BPUPK untuk Sumatera. Masa Sidang Kedua tanggal 10-17 Juli1945. Tanggal 18 Agustus1945, PPKI mengesahkan UUD 1945 sebagai Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.

2.3.2 Fungsi UUD 1945

Di atas telah dibahas tentang apa yang dimaksud dengan UUD 1945. Dari pengertian tersebut dapatlah dijabarkan bahwaUUD 1945 mengikat pemerintah, lembaga-lembaga negara, lembaga masyarakat,dan juga mengikat setiap warga negara Indonesia dimanapun mereka berada danjuga mengikat setiap penduduk yang berada di wilayah Negara Republik Indonesia. Sebagai hukum dasar, UUD 1945

(16)

berisi norma-norma, dan aturan-aturan yangharus ditaati dan dilaksanakan oleh semua komponen tersebut di atas.

Undang-undang Dasar bukanlah hukum biasa, melainkan hukum dasar,yaitu hukum dasar yang tertulis. Dengan demikian setiap produk hukum seperti undang-undang,peraturan pemerintah, peraturan presiden, ataupun bahkan setiap tindakanatau kebijakan pemerintah haruslah berlandaskan dan bersumber pada peraturanyang lebih tinggi, yang pada akhirnya kesemuanya peraturan perundang-undangantersebut harus dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan UUD 1945,dan muaranya adalah Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara. Dalam kedudukan yang demikian itu, UUD 1945 dalam kerangka tataurutan perundangan atau hierarki peraturan perundangan di Indonesia menempatikedudukan yang tertinggi.

Dalam hubungan ini, UUD 1945 juga mempunyai fungsi sebagai alat kontrol, dalam pengertian UUD 1945 mengontrol apakah normahukumyang lebih rendah sesuai atau tidak dengan norma hukum yang lebih tinggi, danpada akhirnya apakah norma-norma hukum tersebut bertentangan atau tidak denganketentuan UUD 1945. Selain itu UUD 1945 juga memiliki fungsi sebagai pedoman atau acuan dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam UUD 1945 juga terkandung:

1. Materi pengaturan sistem pemerintahan, termasuk pengaturan tentang kedudukan, tugas, wewenang dan hubungan antara lembaga-lembaga negara

(17)

2. Hubungan negara dengan warga negara baik dibidang politik, ekonomi, sosial dan budaya maupun hankam.

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam hukum dan pemerintahan serta hak azasi terhadap perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan hukum baik didalam maupun di luar negeri. Keseluruhan hak azasi manusia di negara kita tercantum didalam UUD 1945. Serta setiap warga negara Indonesia berhak dan wajib menjunjung tinggi serta membela negara indonesia.

2.4 Hipotesi Tindakan

Jika membaca materi UUD 1945 melalui metode klos maka pemahaman membaca siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 1 Tolangohula Kabupaten Gorontalo meningkat.

2.5 Indikator Kinerja

Adapun yang menjadi indikator kinerja dalam penelitian ini adalah: jika sebelumnya siswa yang memiliki pemahaman membaca materi UUD 1945 melalui metode klos hanya berkisar 12 siswa atau 30% mengalami peningkatan menjadi 34 siswa atau 85%.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Lamb dan Arnold dalam Farida Rahim (2007:16-19) kemampuan membaca permulaan dilanjutkan lagi dengan kemampuan membaca pemahaman dipengaruhi oleh faktor

Menurut Tarigan (2008: 37), dilihat dari kemampuan membacanya, ada tiga jenis keterampilan membaca pemahaman, yaitu: (1) membaca literal, (2) membaca kritis, dan (3) membaca

alat semi otomatis yang dirancang untuk membaca reagen strip secara spektrofotometer dengan menganalisa warna dan intensitas cahaya yang dipantulkan dari reagen,

Menurut undang-undang perbankan No.10 Tahun 1998, prinsip syariah dikemukakan sebagi berikut : ”Prinsip Syariah dalam aturan berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak

McLaughlin dalam Rahim (2005) menyebutkan bahwa prinsip-prinsip membaca yang paling mempengaruhi pemahaman bacaan, sebagai berikut. a) Pemahaman merupakan

Langkah-langkah dalam membaca pemahaman dengan menggunakan strategi Directed Reading Thinking Activity (DRTA) menurut Rahim (2008: 48-51) adalah seba- gai berikut:

Menurut Kasmir (2008:98), Unsur-unsur yang terkandung dalam pembiayaan adalah sebagai berikut :.. 1) Kepercayaan, merupakan suatu keyakinan bahwa pembiayaan yang

Pengertian membaca pemahaman Nurhadi 1995: 340 menyatakan bahwa secara umum orang menyatakan membaca adalah suatu interpretasi simbol-simbol tertulis atau membaca adalah menangkap