• Tidak ada hasil yang ditemukan

HALAMAN PRASYARAT GELAR SARJANA HUKUM...

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HALAMAN PRASYARAT GELAR SARJANA HUKUM..."

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PRASYARAT GELAR SARJANA HUKUM ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI ... iv

KATA PENGANTAR ... v

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... viii

DAFTAR ISI ... ix ABSTRAK ... xi ABSTRACT ... xii BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 13

1.3 Ruang Lingkup Masalah ... 14

1.4 Orisinalitas Penelitian ... 14 1.5 Tujuan Penelitian ... 16 1.5.1 Tujuan Umum ... 16 1.5.2 Tujuan Khusus... 16 1.6 Manfaat Penelitian ... 17 1.6.1 Manfaat Teoritis ... 17 1.6.2 Manfaat Praktis ... 18 1.7 Landasan Teoritis ... 19

1.7.1 Konsep Negara Hukum ... 19

1.7.2 Prinsip-Prinsip Perlindungan Hak Asasi Manusia ... 21

1.7.3 Asas Keadilan ... 23

1.7.4 Asas Praduga Rechtmatig ... 24

1.8 Metode Penelitian ... 24

1.8.1 Jenis Penelitian ... 25

1.8.2 Jenis Pendekatan ... 25

(2)

ii

1.8.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum ... 29

1.8.5 Teknik Analisis ... 29

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP PENUNDAAN PELAKSANAAN KEPUTUSAN TATA USAHA NEGARA DAN PERLINDUNGAN TERHADAP PENGGUGAT... 31

2.1 Pengertian Keputusan Tata Usaha Negara ... 31

2.2 Syarat Sahnya Keputusan Tata Usaha Negara ... 33

2.3 Kompetensi Pengadilan Tata Usaha Negara ... 35

2.4 Asas-Asas Yang Berlaku Dalam Pengadilan Tata Usaha Negara ... 43

2.5 Pengertian Penundaan Pelaksanaan ... 46

2.6 Perlindungan Hukum Terhadap Penggugat ... 47

BAB III PENUNDAAN PELAKSANAAN KEPUTUSAN TATA USAHA NEGARA DALAM UPAYA MEMBERIKAN PERLINDUNGAN TERHADAP PENGGUGAT ... 51

3.1 Penundaan Pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara Dalam Peradilan Tata Usaha Negara ... 51

3.2 Upaya Perlindungan terhadap Penggugat melalui Penetapan Penundaan Pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara ... 60

BAB IV AKIBAT HUKUM PENUNDAAN PELAKSANAAN TERHADAP KEPUTUSAN TATA USAHA NEGARA... 65

4.1 Eksekusi Penetapan Penundaan Pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara Menurut Undang-Undang Tata Usaha Negara ... 65

4.2 Pengaruh Penetapan Penundaan Pekasanaan Keputusan Tata Usaha Negara Terhadap Daya Laku Sebuah Keputusan Tata Usaha Negara ... 69

BAB V PENUTUP ... 74

5.1 Simpulan ... 74

5.2 Saran ... 76

(3)

iii ABSTRAK

Pasal 1 ayat (3) UUD NRI menegaskan bahwa Indonesia adalah Negara Hukum. Negara hukum Indonesia merupakan Negara Hukum yang berdasarkan Pancasila. Konsekuensi Indonesia sebagai negara hukum adalah perlu adanya Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Kompetensi absolut PTUN adalah memeriksa dan memutus Sengketa Tata Usaha Negara yang dimana objeknya adalah Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN). Penerbitan sebuah KTUN oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara harus berdasar pada peraturan perundang-undangan dan asas umum pemerintahan yang baik, apabila tidak sesuai dengan ketentuan ini maka sebuah KTUN dapat digugat oleh orang atau badan hukum perdata yang merasa dirugikan. Asas praduga rechtmatig menjadi pedoman dalam proses pemeriksaan di PTUN, sehingga apapun KTUN yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dianggap sah. Keadaan tersebut menjadi memberatkan pihak penggugat karena dalam keadaan terdesak dan menderita kerugian. Sehingga dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya-upaya yang dapat dilaksanakan untuk memberikan perlindungan kepada penggugat.

Jenis penelitian yang dipergunakan merupakan jenis penelitian normatif dengan mengutamakan pengkajian terhadap norma-norma hukum dan asas hukum serta norma hukum yang berlaku. Norma hukum yang dimaksud adalah peraturan perundang-undangan.

Hasil dari penelitian menunjukan bahwa upaya yang dapat ditempuh oleh penggugat apabila dalam keadaan yang sangat mendesak dan oleh karena KTUN tersebut menderita kerugian materiil yang cukup besar adalah Permohonan Penundaan Pelaksanaan. Dalam UU PTUN Penundaan Pelaksanaan KTUN diatur pada pasal 67 ayat (2) dan hasilnya adalah sebuah penetapan, sedangkan eksekusi dari Penetapan Penundaan Pelaksanaan ditunjang oleh SEMA RI Nomor 2 Tahun 1991 dengan merujuk kepada pasal 116 UU PTUN serta dalam ketentuan pasal yang sama menunjukan akibat hukum yang terjadi terhadap KTUN setelah Penetapan Penundaan Pelaksanaan dikeluarkan oleh PTUN

Kata Kunci : Pengadilan Tata Usaha Negara, Keputusan Tata Usaha Negara, Penundaan Pelaksanaan Tata Usaha Negara, Akibat Hukum

(4)

iv ABSTRACT

Article 1 Paragraph (3) Constitution of Republic Indonesia 1945 asserted that Indonesia is a Constitutional State. Indonesia is a country of law state law based on Pancasila. Consequences of Indonesia as a state of law is the need for the State Administrative Court (Administrative Court). Absolute competence of the Administrative Court is to examine and decide the State Administrative Dispute in which the object is an administrative decision. Publishing an administrative decision by the Agency or Official State Administration must be based on legislation and general principles of good governance, if not in accordance with this provision, an administrative decision can be sued by the person or entity who feel aggrieved civil law. Presumption rechtmatig guide the examination process in the Administrative Court, so whatever an administrative decision issued by agencies or officials of State Administration considered valid. The situation is becoming burdensome for the plaintiff in a tight and suffer losses. Thus, in this study aims to find measures that can be implemented to provide protection to the plaintiff.

This type of research that is used is a kind of normative research with emphasis on the assessment of the legal norms and principles of law and legal norms in force. Norma law in question is the legislation.

Results from the study showed that the measures can be taken by the claimant if the situation is urgent and therefore an administrative decision suffered material loss is large enough Request Delay Implementation. In Law Administrative Court Delays Implementation an administrative decision stipulated in Article 67 paragraph (2) and the result is a determination, while the execution of the Stipulation Delays Implementation is supported by SEMA No. 2 of 1991 with reference to article 116 of Law Administrative Court as well as in the provisions of the same Article indicates legal consequences happens to an administrative decision after Determination issued by the Administrative Court Delays Implementation

Keywords: State Administrative Court, an administrative decision, Delays Implementation of State Administration Effects

(5)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hukum merupakan sekumpulan kaedah yang mengatur perilaku masyarakat dan bertujuan untuk memberikan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Dr. Soedjono Dirdjosisworo, SH tujuan hukum adalah melindungi individu dalam hubungannya dengan masyarakat, sehingga dengan demikian dapat diharapkan terwujudnya keadaan aman, tertib dan adil.1 Dengan

mengetahui tujuan hukum tersebut, Indonesia sebagai sebuah negara hukum wajib mewujudkan keadaan yang aman, tertib dan adil dalam masyarakat.

Ridwan HR2 dalam bukunya yang berjudul Hukum Administrasi Negara mengemukakan mengenai konsep negara hukum yaitu

Konsep negara hukum muncul dalam berbagai model seperti negara hukum menurut Alquran dan Sunnah atau nomokrasi islam, negara hukum menurut konsep Eropa Kontinental yang dinamakan rechstaat, negara hukum menurut konsep Anglo Saxon (rule of law), konsep socialist

legality, dan konsep negara hukum Pancasila.

Melihat berbagai konsep negara hukum diatas Indonesia adalah Negara hukum (rechstaat) yang berdasarkan Pancasila.

Dalam konsep negara hukum yang telah ditinjau secara praktis dan historis, konsep negara hukum muncul dalam berbagai model seperti negara hukum menurut Alquran dan Sunnah atau nomokrasi islam, negara hukum menurut konsep Eropa Kontinental yang dinamakan rechstaat, negara hukum

1 J.B. Daliyo, 1989, Pengantar Ilmu Hukum, Gramedia, Jakarta, h.40.

2 Ridwan HR, 2006, Hukum Administrasi Negara, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta, h.2

(6)

2

menurut konsep Anglo Saxon ( rule of law), konsep socialist legality, dan konsep negara hukum Pancasila3 Melihat berbagai konsep negara hukum diatas Indonesia

adalah Negara hukum (rechstaat) yang berdasarkan Pancasila.

Konsep Negara Indonesia sebagai Negara hukum telah tertuang semenjak Indonesia memasuki fase kemerdekaan, yaitu dengan berlakunya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (selanjutnya disebut UUD NRI 1945). Setelah perubahan ketiga UUD NRI 1945, konsepsi Negara Hukum Indonesia tertuang secara jelas dalam Pasal 1 ayat (3) UUD NRI 1945 yang berbunyi “Negara Indonesia adalah Negara Hukum”. Artinya, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum (rechstaat) tidak berdasar atas kekuasaan belaka (machstaat), dan pemerintahan berdasarkan sistem konstitusi (hukum dasar), bukan absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas).4

Dengan melihat konsep Negara Hukum Pancasila yang dianut oleh Negara Indonesia maka dalam penyelenggaraan roda kehidupan di Indonesia haruslah berdasar kepada Pancasila, hal ini menjadi salah satu ciri khas dari konsep Negara Hukum Pancasila karena diangkat dari nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Dimana hal yang perlu ditekankan adalah hak asasi manusia yang secara implisit terkandung pada sila ke-2 Pancasila. Sejalan dengan hal tersebut terdapat konsep rechstaat dari Friederich Stahl yang diilhami oleh Immanuel Kant. Menurut Stahl, unsur-unsur negara hukum (rechstaat) adalah5 :

3 Ridwan HR, 2006, Hukum Administrasi Negara, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta, h.2. 4 Winarno, 2007, Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan, PT. Bumi Aksara,

Jakarta, h.116.

(7)

3

1. perlindungan hak-hak asasi manusia;

2. pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu; 3. pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan;

4. peradilan administrasi dalam perselisihan.

Melihat dari pendapat Stahl diatas menunjukan bahwa dalam penyelenggaraan pemerintahan wajib menjunjung tinggi perlindungan hak asasi manusia. Berikutnya, pemerintah yang memiliki kewenangan harus diberikan batasan-batasan agar tidak melakukan tindakan yang sewenang-wenang dengan mempergunakan sarana dan jabatan yang melekat padanya, setiap tugas-tugas yang dilaksanakan pemerintah merupakan sebuah perintah undang-undang (wetmatig bestuur).

Selanjutnya dalam usaha pemenuhan rasa keadilan yang diakibatkan oleh perselisihan antara pemerintah dengan masyarakat dibutuhkan sebuah peradilan administrasi. Alasan yang kuat dalam pembentukan peradilan administrasi adalah terdapat sebuah asas equality before the law yang artinya adalah semua orang memiliki kedudukan yang sama dihadapan hukum, baik pemerintah maupun masyarakat tidak ada pembedaan yang berkaitan dengan kedudukan dan jabatan.

Perwujudan dari teori Stahl di Indonesia terkhusus kepada peradilan administrasi adalah terdapat lembaga peradilan administrasi yaitu Peradilan Tata Usaha Negara yang diatur dalam Undang–Undang Peradilan Tata Usaha Negara Nomor 5 Tahun 1986. Ketentuan dalam konstitusi yang diperhatikan dalam pembentukan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 terdapat pada Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 24, dan Pasal 25 UUD 1945, sedangkan ketentuan lain yang menjadi landasan yuridis dalam pembentukan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 ini adalah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman.

(8)

4

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman telah digantikan dengan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, namun yang menjadi landasan yuridis dalam pembentukan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 masih tetap ada yaitu Pasal 25 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 yang menyatakan bahwa badan peradilan yang berada dibawah Mahkamah Agung meliputi lembaga peradilan di lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer dan peradilan tata usaha negara.

Tiap-tiap lembaga peradilan memiliki kompetensi absolut yang berbeda-beda sesuai dengan yang telah dimuat pada Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009. Kompetensi absolut merupakan kekuasaan suatu lembaga peradilan untuk memeriksa dan memutus suatu perkara yang sudah secara mutlak diamanatkan oleh undang-undang kepada lembaga peradilan tersebut atau dengan kata lain tidak dapat diperiksa oleh lembaga peradilan lain.

Kompetensi absolut dari lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara terdapat dalam Pasal 47 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 yang menentukan bahwa Pengadilan bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengkata Tata Usaha Negara.

Dalam Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 menyebutkan pengertian dari Sengketa Tata Usaha Negara yaitu Sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atai Pejabat Tata Usaha Negara, baik di Pusat maupun di Daerah, sebagai akibat

(9)

5

dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 angka 10).

Berdasarkan ketentuan diatas dapat diketahui beberapa unsur dari Sengketa Tata Usaha Negara, yaitu :

1. Sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara;

2. Sengketa tersebut antara orang atau badan hukum perdata dengan badan atau Pejabat Tata Usaha Negara;

3. Sengketa yang dimaksud sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara.

Dalam unsur-unsur sengketa diatas terlihat bahwa yang menjadi objek dalam sengketa tata usaha negara adalah Keputusan Tata Usaha Negara. Pengertian tentang apa yang dimaksud dengan Keputusan Tata Usaha Negara terkandung dalam ketentuan pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 yang menyebutkan bahwa Keputusan Tata Usaha Negara adalah “Suatu

penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.”

(10)

6

Menurut pendapat R. Wiyono6, jika diuraikan apa yang dimaksud dengan

Keputusan Tata Usaha Negara tersebut, maka akan ditemukan unsur-unsurnya yaitu :

1. penetapan tertulis;

2. dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara;

3. berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan;

4. bersifat konkret, individual dan final;

5. menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata. Badan atau pejabat tata usaha negara merupakan badan atau pejabat yang melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pada Ketentuan Umum Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, badan atau pejabat tata usaha negara memiliki wewenang untuk mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara.

Tidak ada ketentuan umum yang mengatur tentang tata cara pembuatan Keputusan Tata Usaha Negara, setiap bidang memiliki prosedur tersendiri dan persyaratannya tersendiri.7 Walaupun demikian dalam pembentukan Keputusan

Tata Usaha Negara harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan asas-asas umum pemerintahan yang baik. Gugatan terhadap sebuah Keputusan Tata Usaha Negara dapat diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara apabila tidak sesuai dengan dua ketentuan yang disyaratkan diatas,hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 53 ayat (2) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

6 R. Wiyono, 2015, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara Edisi Ketiga, Sinar

Grafika, Jakarta, h. 18

7 Philipus M. Hadjon, 2008, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia (Introduction To

(11)

7

Pembentukan Keputusan Tata Usaha Negara harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Perjenjangan peraturan perundang-undangan sangat penting diperhatikan agar dasar hukum dari pembuatan suatu Keputusan Tata Usaha Negara tidak tumpang tindih. Lazimnya tidak hanya peraturan perundang-undangan yang wajib diperhatikan melainkan segala jenis hukum yang berlaku baik tertulis dan tidak tertulis karena sudah merupakan kewajiban dari badan atau pejabat tata usaha negara mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat.

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa badan atau pejabat tata usaha negara itu tidak hanya sekedar melaksanakan peraturan perundang-undangan saja, karena tidak semua urusan pemerintahan tidak atau belum diatur oleh peraturan perundang-undangan atau semua peraturan perundang-undangan yang sudah ada dan berlaku belum menampung semua urusan pemerintahan.

Oleh karena itu, agar pelaksanaan urusan pemerintahan yang penting dan mendesak tidak sampai terganggu, maka kepada badan atau pejabat tata usaha negara diberikan kebebasan bertindak menurut kebijaksanaannya yang dalam bahasa asing disebut Freies Ermessen (Jerman), Discretionary (Inggris) atau

Pouvoir Discretionnare (Prancis), yang jika dirumuskan kebebasan bertindak

tersebut adalah kebebasan dari badan atau pejabat tata usaha negara yang dimungkinkan oleh hukum dan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk bertindak atas inisiatif sendiri, menyelesaikan urusan pemerintahan yang penting dan mendesak yang belum diatur dalam peraturan perundang-undangan.

(12)

8

Menurut R. Wiyono8 kebebasan bertindak bukan kebebasan tanpa dasar

hukum, tetapi kebebasan yang masih tetap atas dasar hukum atau yang dimungkinkan oleh hukum. Kebebasan bertindak yang dimiliki oleh badan atau pejabat tata usaha negara memiliki batasan terhadap pelaksanaannya yaitu dengan apa yang disebut dengan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik. Dengan kata lain kebebasan bertindak yang dimiliki oleh badan atau pejabat tata usaha negara merupakan sebuah pengecualian dalam kewajiban mereka membuat Keputusan Tata Usaha Negara.

Sebuah Keputusan Tata Usaha Negara dalam pembentukannya harus didasarkan kepada Peraturan Perundang-Undangan dan Asas Umum Pemerintahan yang baik. Apabila sebuah Keputusan Tata Usaha Negara dirasa merugikan seseorang atau badan hukum dengan indikasi bahwa tidak sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku serta Asas Umum Pemerintahan yang Baik maka bagi pihak yang merasa dirugikan dapat mengajukan gugatan tertulis ke Pengadilan Tata Usaha Negara yang berisi tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu dinyatakan batal atau tidak sah, dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan/atau rehabilitasi, sesuai dengan ketentuan Pasal 53 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004.

Asas Umum Pemerintahan yang Baik selain menjadi pedoman yang perlu diperhatikan dalam pengajuan gugatan terhadap sebuah Keputusan Tata Usaha Negara, juga menjadi landasan bagi badan atau pejabat Tata Usaha Negara dalam

(13)

9

melaksanakan tugas dipemerintahan, dimana yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan. Berdasar dengan undang-undang tersebut badan atau pejabat tata usaha negara dapat meningkatkan kualitas penyelenggara pemerintahan serta mendukung pelaksanaan reformasi birokrasi dengan menjamin akuntabilitas badan atau pejabat tata usaha negara dan mengedepankan perlindungan hukum kepada masyarakat. Penerapan Asas ini perlu ditekankan terkhusus dalam pembuatan sebuah Keputusan Tata Usaha Negara oleh badan atau pejabat tata usaha negara, agar tidak adanya kesewenang-wenangan yang bertujuan memberikan perlindungan terhadap hak asasi manusia.

Negara Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi perlindungan Hak Asasi Manusia, dimana dalam Ideologi Negara Indonesia terdapat sila ke-2 pada Pancasila yang mengemukakan “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”. Penegasan tentang perlindungan hak asasi manusia dalam konstitusi setelah Perubahan Kedua UUD NRI 1945 pada tahun 2000, ketentuan mengenai hak asasi manusia dan hak-hak warga negara dalam UUD NRI 1945 telah mengalami perubahan yang sangat mendasar. Materi yang semula hanya berisi tujuh butir ketentuan yang juga tidak seluruhnya dapat disebut sebagai jaminan konstitusional hak asasi manusia, sekarang telah bertambah secara sangat signifikan, ketentuan baru yang diadopsikan ke dalam UUD NRI 1945 setelah Perubahan Kedua pada tahun 2000 termuat dalam Pasal 28A sampai dengan Pasal 28J, ditambah beberapa ketentuan lainnya yang tersebar di beberapa pasal. Oleh karena itu, perumusan tentang hak-hak asasi manusia dalam konstitusi Republik

(14)

10

Indonesia dapat dikatakan sangat lengkan dan menjadikan UUD NRI 1945 sebagai salah satu undang-undang dasar yang paling lengkap memuat ketentuan yang memberikan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia.9

Jimly Asshiddiqie10 membagi ketentuan tentang hak asasi manusia dalam

konstitusi menjadi beberapa kelompok dimana salah satunya yang mengatur mengenai tanggung jawab negara dan kewajiban asasi manusia yang meliputi sebagai berikut :

1. Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

2. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk pada pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghorsemata-matan atas hak dan kebebasan orang lain serta untuk memenuhi tuntutan keadilan sesuai dengan nilai-nilai agama, moralitas dan kesusilaan, keamanan dan ketertiban uum dalam masyarakat yang demokratis.

3. Negara bertanggung jawab atas perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak-hak asasi manusia.

4. Untuk menjamin pelaksanaan hak asasi manusia, dibentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang bersifat independen dan tidak memihak, yang pembentukan, susunan, dan kedudukannya diatur dalam undang-undang.

9 Jimly Asshiddiqie, 2009, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, PT. Rajagrafindo

Persada, Jakarta, h. 361.

(15)

11

Sesuai dengan yang disyaratkan oleh konstitusi bahwa perlindungan hak asasi manusia dan pembentukan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia perlu diatur dalam sebuah undang-undang. Amanah tersebut telah diakomodir dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia. Dalam undang-undang ini perlindungan hak asasi manusia diatur lebih spesifik, termasuk di dalamnya adalah kewajiban pemerintah (eksekutif) untuk menghormati, melindungi dan menegakkan hak asasi manusia. Hal tersebut diatur dalam Pasal 71 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia

Dengan demikian badan atau pejabat tata usaha negara dalam menjalankan pemerintahan perlu memperhatikan peraturan perundang-undangan dan asas umum pemerintahan yang baik agar dalam pelaksanaannya tidak mencederai hak asasi manusia, tidak terkecuali dengan Keputusan Tata Usaha Negara. Dalam melaksanakan tugasnya badan atau pejabat tata usaha negara dijamin dengan diberlakukannya asas praduga rechtmatig sebagaimana yang dianut dalam Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara.

Pengertian dari Asas Praduga Rechmatig (vermoeden van rechtmatigheid,

prasumptio iustae causa) yakni dengan asas ini setiap tindakan pemerintahan

selalu dianggap rechtmatig sampai ada pembatalannya. Dengan asas ini, gugatan tidak menunda pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat.11

Rechmatig merupakan terjemahan dari bahasa Belanda yang memiliki arti

keabsahan. Jadi segala tindak pemerintahan berupa Keputusan Tata Usaha Negara yang dilakukan oleh pemerintah memiliki keabsahan dan dengan kata lain

11 Riawan Tjandra, 2010, Teori dan Praktik Peradilan Tata Usaha Negara, Universitas

(16)

12

Keputusan Tata Usaha Negara akan tetap dapat dijalankan, sekalipun sudah ada gugatan yang dilayangkan terhadap Keputusan Tata Usaha Negara yang merugikan seorang atau badan hukum perdata. Dengan menerapkan asas ini memberikan sebuah pandangan bahwa apapun Keputusan Tata Usaha Negara yang dibuat oleh badan atau pejabat tata usaha negara adalah sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan asas umum pemerintahan yang baik.

Dalam Peradilan Tata Usaha Negara menganut asas praduga rechtmatig terhadap segala tindakan badan atau pejabat tata usaha negara yang berupa Keputusan Tata Usaha Negara, namun dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun !986 masih memungkinkan bagi penggugat untuk mengajukan penundaan pelaksanaan apabila pelaksanaan dari Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat dirasa terlalu memberatkan dan upaya pemulihan yang sulit terhadap dilaksanakannya sebuah putusan tata usaha negara tetapi setelah itu mendapat putusan yang inkracht dengan mengabulkan gugatan. Terkait dengan penundaan pelaksanaan diatur dalam Pasal 67 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986.

Dalam setiap negara hukum, harus terbuka kesempatan bagi tiap-tiap warga negara untuk menggugat keputusan pejabat administrasi negara dan dijalankannya putusan hakim tata usaha negara (administrative court) oleh pejabat tata usaha negara.12 Dengan adanya asas praduga rechtmatig bukan berarti

memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada badan atau pejabat tata usaha negara untuk mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara, apabila terdapat pihak yang dirugikan terhadap sebuah Keputusan Tata Usaha Negara maka dapat

12 Nurul Qamar, 2013, Hak Asasi Manusia dalam Negara Hukum Demokrasi (Human

(17)

13

mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara dan dapat dibarengi dengan permohonan penundaan pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara.

Dengan kata lain walaupun dalam pelaksanaan Peradilan Tata Usaha Negara menerapkan asas praduga rechtmatig, usaha untuk menjamin perlindungan hak asasi manusia harus tetap dilaksanakan salah satunya melalui penetapan penundaan pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara. Berdasarkan uraian tersebut diatas penulis tertarik untuk mengangkat persoalan tentang perlindungan hak asasi kepada penggugat akibat dari sebuah Keputusan Tata Usaha Negara dalam bentuk skripsi dengan judul “PENUNDAAN PELAKSANAAN KEPUTUSAN TATA USAHA NEGARA SEBAGAI PERLINDUNGAN TERHADAP PENGGUGAT “

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan merupakan kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang senyatanya, antara apa yang diperlukan dengan apa yang tersedia, dan antara harapan dengan capaian.13 Dari pengertian diatas dapat diartikan terdapat

sebuah ketidaksuaian keadaan di masyarakat sehingga memerlukan pemecahan dan pembahasan.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas penulis menemukan beberapa permasalahan yang penting untuk dibahas lebih lanjut. Adapun permasalahan tersebut sebagai berikut:

13 Bambang Sugono, 2013, Metodologi Penelitian Hukum, cet. 14, Rajawali Pers, Jakarta,

(18)

14

1. Bagaimana penundaan pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara dapat memberikan perlindungan kepada penggugat ?

2. Bagaimana akibat hukum penundaan pelaksanaan terhadap Keputusan Tata Usaha Negara ?

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Ruang lingkup penelitian merupakan bingkai penelitian, yang menggambarkan batas penelitian, mempersempit permasalahan, dan membatasi area penelitian.14 Pembatasan ini dimaksdukan agar penelitian yang nantinya

dilakukan tidak menyimpang dari pokok permasalahan karena pada dasarnya ruang lingkup penelitian menunjukkan secara pasti faktor-faktor mana yang akan dilakukan pendalaman dalam penelitian dan yang tidak perlu untuk dibahas.

Adapun ruang lingkup permasalahan di dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Akan dijelaskan mengenai penundaan pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara yang dapat memberikan perlindungan hak asasi kepada penggugat. 2. Akan dijelaskan dampak putusan penundaan pelaksanaan terhadap Keputusan

Tata Usaha Negara.

1.4 Orisinalitas Penelitian

Mahasiswa diwajibkan untuk menuliskan penelitian-penelitian terdahulu yang sejenis sebagai bahan pembanding untuk menunjukan orisinalitas dari penelitian tersebut. Dalam hal ini mehasiswa juga diwajibkan untuk memberikan

(19)

15

minimal 2 (dua) substansi pembela. Agar menghindarkan penelitian dari anggapan plagiat.

Adapun dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan 2 (dua) buah skripsi terdahulu yang pembahasannya berkaitan dengan Peradilan Tata Usaha Negara, yang meliputi :

Tabel 1.1 Daftar Penelitian Sejenis

No Judul Skripsi Penulis Rumusan Masalah

1 Eksekutabilitas Penetapan Penundaan Pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara.

Asmuni (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hangtuah Surabaya)Tahun 2013 1. Bagaimana Eksekusi Penetapan Penundaan Keputusan Tata Usaha Negara?

2. Bagaimana Problematika yang timbul dari

pelaksanaan Penetapan Penundaan Pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara?

2 Penundaan Pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara Dalam Kasus Gugatan Pembatalan Keputusan Tender Dalam Perkara No. 167/G/2008/PTUN JKT. Muhammad Indra R. (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia) Tahun 2009.

1. Apakah ada alasan yang sangat mendesak yang mengakibatkan

penggugat sangat dirugikan dalam kasus gugatan pembatalan Keputusan tender dalam perkara No.

167/G/2008/PTUN JKT? 2. Bagaimana proses

penundaan keputusan tersebut dilaksanakan?

(20)

16

1.5 Tujuan Penelitian

Di dalam Buku Pedoman Pendidikan Fakultas Hukum Universitas Udayana menyebutkan bahwa tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum berupa upaya peneliti untuk pengembangan ilmu hukum terkait dengan paradigma

science as a process. Sedangkan tujuan khusus berupa pendalaman permasalahan

hukum secara khusus yang tersirat dalam rumusan permasalahan penelitian. Adapun tujuan-tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.5.1 Tujuan Umum

1. Untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum Universitas Udayana

2. Untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa.

3. Sebagai sarana bagi mahasiswa untuk dapat berfikir kritis, rasional, dan sistematis.

4. Untuk melatih diri mengembangkan kemampuan dalam menyatakan suatu pemikiran ilmiah tertulis sebagai sumbangan pemikiran ilmiah dan turut serta mengembangkan ilmu hukum.

5. Sebagai sumbangan pemikiran bagi mahasiwa yang membutuhkan pengetahuan lebih dalam, khususnya untuk mahasiswa bagian hukum acara.

1.5.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui sejauh mana penundaan pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara yang dapat memberikan perlindungan hak asasi kepada penggugat.

(21)

17

2. Untuk mengetahui dampak putusan penundaan pelaksanaan terhadap Keputusan Tata Usaha Negara.

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian yang baik adalah penelitian yang dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Khusus untuk ilmu hukum, penelitian yang dihasilkan biasanya dipelajari dan bermanfaat hanya untuk praktik hukum saja. Namun menurut Endin Campbell , penelitian hukum bukan hanya untuk para praktisi hukum, melainkan juga untuk akademisi hukum.15 Oleh karena itu, pada

dasarnya manfaat daripada penelitian hukum dibagi dua, yaitu : manfaat teaoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu hukum, sedangkan manfaat praktis memberikan kontribusi untuk keperluan praktik.

Adapun manfaat yang diharapkan atas penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut :

1.6.1 Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan bagi mahasiswa, akademisi, masyarakat, dan pihak terkait lainnya dalam penerapan ilmu hukum yang dalam hal ini di bidang hukum acara peradilan tata usaha negara khususnya mengenai penundaan pelaksanaan yang dapat memberikan perlindungan hak asasi kepada penggugat terhadap sebuah Keputusan Tata Usaha Negara serta mengetahui dampak putusan penundaan pelaksanaan terhadap Keputusan Tata Usaha Negara.

15 Peter Mahmud Marzuki, 2010, Penelitian Hukum, cet. 6, Predana Media Group,

(22)

18

1.6.2 Manfaat Praktis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebesarnya-sebesarnya bagi para praktisi hukum dan instansi-instansi hukum serta instansi terkait lainnya dalam penegakan hukum kedepan. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfaat bagi kalangan mahasiswa khususnya mahasiswa hukum dan masyarakat secara luas. Adapun manfaat yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

• Bagi Mahasiswa

Dengan adanya penelitian ini diharapkan mahasiswa khususnya mahasiswa hukum dapat mengetahui apakah teori yang didapatkan sama dengan apa yang terjadi di dalam praktik.

• Bagi Masyarakat

Dengan membawa hasil penelitian ini diharapkan masyarakat terutama dalam menyikapi sebuah Keputusan Tata Usaha Negara hendaknya mengetahui hak dan kewajiban sehingga terjadi hubungan yang baik antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan masyarakat.

• Bagi Praktisi Hukum

Dengan membawa hasil penilitian ini diharapkan para praktisi hukum mengetahui tentang sejauh mana penundaan pelaksanaan sebuah Keputusan Tata Usaha Negara sebagai upaya perlindungan hak asasi dari penggugat. • Bagi Instansi hukum dan Instansi Terkait

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi gambaran kepada instansi hukum maupun instansi terkait lainnya bahwa penerapan praduga

(23)

19

Keputusan Tata Usaha Negara sehingga melalui penundaan tersebut dapat menjamin hak penggugat. Dengan penelitian ini pula dapat menjadi masukan dan evaluasi dalam menyikapi keadaan yang terjadi di masyarakat.

1.7 Landasan Teoritis

Landasan teoritis merupakan salah satu aspek penting di dalam melakukan suatu penelitian utamanya penelitian hukum. Landasan teoritis ini berfungsi untuk memberikan dasar pemikiran terhadap permasalahan yang akan dipecahkan. Landasan teoritis meliputi : filosofi, teori hukum, asas-asas hukum, norma, konsep-konsep hukum dan doktrin. Adapun landasan teori yang penulis gunakan adalah sebagai berikut :

1.7.1 Konsep Negara Hukum

Pengertian yang mendasar dari Negara Hukum bahwa kekuasaan tumbuh pada hukum dan semua orang sama dihadapan hukum. Negara menempatkan hukum sebagai dasar kekuasaannya dan penyelenggaraan kekuasaan tersebut dalam segala bentuknya dilakukan di bawah kekuasaan hukum.

Negara hukum merupakan Negara yang berlandaskan pada hukum dan menjamin keadilan bagi seluruh rakyaktnya. Artinya, segala tindakan alat-alat perlengkapan Negara atau penguasa semata-mata berdasarkan hukum atau dengan kata lain diatur oleh hukum. Hal tersebut sebagai cerminan rasa keadilan bagi pergaulan hidup warganya. 16

16 Wiratni Ahmadi, 2006, Perlindungan Hukum Bagi Wajib Pajak Dalam Penyelesaian

Sengketa Pajak (Menurut UU No. 14 Tahun 2002 Tentang Pengadian Pajak), PT. Refika

(24)

20

Ajaran Negara Hukum Indonesia merupakan ajaran khas Indonesia karena adanya unsur khas Indonesia disamping terdapatnya unsur-unsur ajaran hukum yang universal sebagaimana terdapat pada ajaran rechstaat dan the rule od law. Adapun unsur-unsur Ajaran Negara Hukum Indonesia,17 sebagai berikut :

a. hukum bersumber pada Pancasila; b. kedaulatan rakyat;

c. pemerintah berdasarkan atas sistem konstitusi;

d. persamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;

e. kekuasaan kehakiman yang bebas dari pengaruh kekuasaan lainnya: f. pembentukan undang-undang oleh presiden bersama-sama DPR; g. dianutnya sistem MPR.

Lebih lanjut Philipus M. Hadjon18 menyebutkan bahwa ciri-ciri Negara

Hukum Pancasila, sebagai berikut:

a. keserasian hubungan antara pemerintah dan rakyat berdasarkan asas kerukunan;

b. hubungan fungsional yang proporsional antara kekuasaan-kekuasaan Negara;

c. prinsip penyelesaian sengketa secara musyawarah dan peradilan merupakan sarana terakhir;

d. keseimbanngan antara hak dan kewajiban.

Tujuan yang hendak dicapai oleh Negara Indonesia adalah mencapai masyarakat adil dan makmur baik spiritual maupun material secara merata berdasarkan Pancasila. Untuk mewujudkan tujuan di atas, maka Negara tidak hanya bertugas memelihara ketertiban masyarakat saja, akan tetapi dituntut untuk turut serta aktif secara aktif (proaktif) dalam semua aspek kehidupan dan penghidupan rakyat. Kewajiban ini merupakan amanat para pendiri Negara

17 Azhary, 1995, Negara Hukum Indonesia. Analisis Yuridis Normatif tentang

Unsur-unsurnya, UI Press, Jakarta, h. 144.

18 Philipus M. Hadjon, 1992, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia: Sebuah Studi

Tentang Prinsip-Prinsipnya, Penerapannya oleh Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum dan Pembentukan Peradilan Adminstrasi Negara, Bina Ilmu, Surabaya, h. 90.

(25)

21

Hukum Indonesia seperti yang tercantum pada Pembukaan UUD NRI 1945 alinea ke-4 (empat). Sebagai Negara Hukum maka segala aktivitas Pemerintahan dan Masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara haruslah sesuai atau tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku. Hukum menjadi landasan pokok dalam melakukan segala aktivitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Asas Negara Hukum ini dapat menunjukan keberadaan Peradilan Tata Usaha Negara dalam sistem peradilan di Indonesia, beranjak dari konstitusi hingga peraturan pelaksanaan yang berkaitan dengan Peradilan Tata Usaha Negara. 1.7.2 Prinsip-Prinsip Perlindungan Hak Asasi Manusia

Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Rhona K.M. Smith, bahwa ada tiga prinsip dalam Perlindungan Hak Asasi Manusia, yaitu:

1. Prinsip Kesetaraan (Equality)

Kesetaraan dianggap sebagai prinsip hak asasi manusia yang sangat fundamental. Kesetaraan dimaknai sebagau perlakuan yang setara, dimana pada situasi yang sama harus diperlakukan dengan sama, dan dimana pada situasi berbeda dengan sedikit peredebatan diperlakukan secara berbeda. Kesetaraan juga dianggap sebagai prasyarat mutlak dalam negara demokrasi. Kesetaraan di depan hukum, kesetaraan kesempatan, kesetaraan akses dalam pendidikan, kesetaraan dalam mengakses peradilan fair dan lain-lain hal penting dalam hak asasi manusia.19

2. Prinsip Non-Diskriminasi (Non-Discrimination)

Pelanggaran terhadap diskriminasi atau non-diskriminasi adalah salah satu bagian dari prinsip kesetaraan. Jika semua orang setara, maka seharusnya tidak ada perlakuan yang diskrimantif (selain tindakan afirmatif yang

(26)

22

dilakukan untuk mencapai kesetaraan). Pada efeknya, diskriminasi adalah kesenjangan perbedaan perlakuan dari perlakuan yang seharusnya sama atau setara.

3. Prinsip Kewajiban Positif Suatu Negara

Prinsip kewajiban positif negara digunakan untuk melindungi hak-hak tertentu. Menurut hukum hak asasi internasional, suatu negara tidak boleh secara sengaja mengabaikan hak-hak dan kebebasan-kebebasan. Sebaliknya negara diasumsikan memiliki kewajiban positif untuk melindungi secara aktif dan memastikan terpenuhinya hak-hak dan kebebasan-kebebasan. Untuk kebebasan berekspresi, sebuah negara boleh memberikan kebebasan dan sedikit memberikan pembatasan. Untuk hak hidup, negara tidak boleh menerima pendekatan yang pasif. Negara wajib membuat suatu aturan hukum dan mengambil langkah-langkah guna melindungi secara positif hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang dapat diterima oleh negara. Karena alasan inilah, negara membuat aturan hukum melawan pembunuhan untuk mencegah aktor non negara (non state actor) melanggar hak untuk hidup. Sebagai persyaratan utama, negara harus bersifat proaktif dalam menghormati hak untuk hidup, bukan bersikap pasif. 20

Perlindungan Hak Asasi Manusia hendaknya wajib diupayakan oleh seluruh negara di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Penulis mengimplementasikan prinsip-prinsip perlindungan hak asasi manusia diatas dalam proses penyelesaian

(27)

23

Sengketa Tata Usaha Negara terkhusus dalam penerapan asas praduga rechtmatig dalam Peradilan Tata Usaha Negara.

1.7.3 Asas Keadilan

Aristoteles dalam buah pikirannya Ethica Nicomachea dan Rhetorica mengatakan hukum mempunyai tugas yang suci yakni memberi kepada setiap orang apa yang berhak diterima. Anggapan itu berdasarkan etika dan Aristoteles berpendapat bahwa hukum hanya bertugas membuat keadilan (ethisce theorie). 21

Keadilan menurut Aristoteles bukanlah berarti penyamarataan atau tiap-tiap orang memperoleh bagian yang sama. Menurut Aristoteles ada dua macam keadilan, yaitu keadilan distributief dan keadilan comutatief. Keadilan distributief ialah keadilan yang memberikan kepada tiap-tiap orang jatah menurut jasanya. Ia tidak menuntut supaya tiap-tiap orang mendapat bagian yang sama banyaknya, bukan bersamaan, melainkan kesebandingan. Keadilan comutatief ialah keadilan yang memberikan kepada setiap orang yang sama banyaknya dengan tidak mengingat jasa-jasa perseorangan.

Asas keadilan merupakan roh yang menjadi tujuan dalam semua proses peradilan. Rakyat yang merasa haknya dirugikan menjadikan lembaga peradilan sebagai sarana pemenuhannya. Pada penelitian ini penggunaan asas keadilan tentunya menjadi asas yang mendasari penggugat dalam memberikan respon terhadap keadaan yang membuat dirinya dirugikan, pada Peradilan Tata Usaha Negara dapat melalui gugatan dan dalam keadaan mendesak melalui Penundaan Pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara.

(28)

24

1.7.4 Asas Praduga Rechtmatig

Asas ini mengandung makna bahwa setiap tindakan penguasa selalu harus dianggap rechtmatig sampai dengan ada pembatalannya. Dengan asas ini, gugatan tidak menunda pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat (Pasal 67 ayat 1 UU No. 55 Tahun 1986).22

Asas praduga rechtmatig merupakan asas yang menjadi pembeda dengan lingkungan lembaga peradilan lain, dengan demikian dalam penelitian ini asas praduga rechtmatig memiliki peran yang sangat vital karena melalui asas praduga rechtmatig menunjukan sebuah pertentangan norma yang menjadi bahasan dalam penelitian ini. Kemudian melalui asas praduga rechtmatig dapat menunjukan keberadaan penetapan penundaan pelaksanaan yang diperlukan untuk memberikan perlindungan kepada penggugat.

1.8 Metode Penelitian

Penelitian senantiasa bermula dari rasa ingin tahu (niewgierigheid) terhadap suatu permasalahan aktual yang dihadapi. Jika jawabannya telah diketahui, maka tidak perlu lagi diadakan penelitian. Suatu penelitian ilmiah dimaksudkan untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang objek yang diteliti berdasarkan serangkaian langkah yang diakui komunitas ilmuwan sejawat dalam suatu bidang keahlian (intersubjektif). Dengan demikian penemuan hasil penelitian ilmiah tersebut diakui sifat keilimiahaannya (wetenschappelijkheid)

(29)

25

dapat ditelusuri kembali oleh sejawat yang berminat sebagai hal baru (nieww

moetzijn).23

Metode penelitian yang akan dibahas lebih lanjut dalam skripsi ini adalah yang berkaitan dengan penelitian hukum. Penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi.24

Adapun metode penelitian hukum yang digunakan di dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

1.8.1 Jenis Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan jenis penelitian normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya.25 Penelitian

hukum normatif juga disebut dengan penelitian terhadap kaidah atau hukumnya itu sendiri dalam peraturan perundang-undangan, yurisprudensi maupun hukum yang tidak tertulis.

1.8.2 Jenis Pendekatan

Dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan antara lain: pendekatan undang-undang (statues approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan historis (historical approach), pendekatan

23 Johny Ibrahim, 2007, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia

Publishing, Malang, h.278.

24 Peter Mahmud Marzuki, op.cit. h 35. 25 Johny Ibrahim, op.cit, h.57.

(30)

26

komparatif (comparative approach) dan pendekatan konseptual (conceptual

approach).26

Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan (statues approach), pendekatan konseptual (conceptual

approach). Penggunaan kedua pendekatan ini dimaksudkan untuk memperoleh

kajian yang menyeluruh mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penundaan pelaksanaan sebuah Keputusan Tata Usaha Negara yang dapat memberikan perlindungan hak asasi kepada penggugat.

Pendekatan perundang-undangan (statues approach) dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani.27 Pendekatan undang-undang digunakan untuk

menelaah semua undang-undang atau mengkaji ketentuan-ketentuan hukum serta peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Keputusan Tata Usaha Negara dikhususkan dengan penundaan pelaksanaan yang dapat dilakukan. Sehingga apabila dikaitkan dengan regulasi perlindungan hak asasi manusia dapat menjamin hak penggugat.

Pendekatan konseptual (conceptual approach) beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum.28

Pendekatan konseptual (conceptual approach) dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengkaji dan menganalisis secara mendalam konsep-konsep dan asas-asas hukum yang terkait dengan pelaksanaan penundaan pelaksanaan dan

26 Peter Mahmud Marzuki, op.cit, h. 93. 27 Peter Mahmud Marzuki, op.cit, h. 93. 28 Peter Mahmud Marzuki, op.cit. h. 95.

(31)

27

perlindungan hak asasi kepada tergugat. Pemahaman akan pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin tersebut merupakan sandaran bagi peneliti dalam membangun suatu argumentasi hukum dalam memecahkan isu yang dihadapi.

1.8.3 Bahan Hukum

Dalam penelitian pada umumnya, dibedakan antara data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat yang dinamakan data primer dan data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka yang dinamakan data sekunder. 29 Pada

penelitian ini, jenis data yang digunakan adalah data sekunder.

Data sekunder pada penelitian hukum mencakup: bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.30 Bahan hukum primer

merupakan bahan hukum yang bersifat mengikat, yang terdiri dari norma atau kaidah dasar, peraturan dasar, peraturan perundang-undangan, bahan hukum yang tidak dikodifikasikan, yurisprudensi, traktat, dan bahan hukum dari zaman penjajahan yang hingga kini masih berlaku. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti misalnya RUU, hasil-hasil penelitian, hasil karya dari kalangan hukum dan seterusnya. Bahan hukum tersier, yakni bahan hukum primer dan sekunder; contohnya adalah kamus, ensiklopedia, indeks kumulatif, dan seterusnya.

Adapun bahan-bahan hukum primer yang dipergunakan dalam penulisan skirpsi ini adalah sebagai berikut:

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945;

29 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2006, Penelitian Hukum Normatif: Suatu

Tinjauan Singkat, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, h. 12.

(32)

28

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3344);

3. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Pertama Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 35, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4380);

4. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 160, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5079);

5. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia 2014 Nomor 292);

6. Undang-Undang Nomor 30 Tahunn 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886);

7. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 208, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4026);

8. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 1993 tentang Komisi Nasional Hak Asasi Manusia;

9. Peraturan perundang-undangan lainnya dan putusan – putusan Pengadilan Tata Usaha Negara terkait dengan permasalahan yang dibahas.

(33)

29

Kemudian bahan-bahan hukum sekunder yang penulis gunakan di dalam penulisan skripsi ini adalah buku-buku atau literature-literatur hukum yang berkaitan dan relevan dengan isu hukum yang menjadi pembahasan dalam skripsi ini.

1.8.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Dalam melakukan penelitian, teknik pengumpulan bahan hukum merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan agar memudahkan dalam memperoleh bahan-bahan hukum baik primer maupun sekunder yang dapat menunjang dalam proses penilitian. Buku pedoman Fakultas Hukum Universitas Udayana menyebutkan bahwa teknik pengumpulan bahan hukum dapat dibagi menjadi 2 (dua) teknik bola salju (snow ball method) dan teknik system kartu (card system).

Teknik pengumpulan bahan hukum yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah, teknik sistem kartu (card system) yaitu setelah mendapat semua bahan yang diperlukan kemudian dibuat catatan mengenai hal-hal ini yang dianggap penting bagi penelitian yang dilakukan.31

1.8.5 Teknik Analisis

Analisis bahan-bahan hukum perlu dilakukan setelah terkumpul, dalam Buku Pedoman Fakultas Hukum Universitas Udayana menyebutkan beberapa teknik analisis, diantaranya : teknik deskripsi, teknik interpretasi, teknik konstruksi, teknik evaluasi, teknik argumentasi, teknik sistematisasi.

(34)

30

Dalam skripsi ini teknik analisis yang dipergunakan adalah teknik deskripsi, teknik interpretasi, teknik evaluasi, teknik argumentasi dan teknik sitematisasi. Teknik deskripsi adalah teknik dasar analisis yang berisikan uraian apa adanya terhadap sesuatu kondisi atau posisi dari proposisi-proposisi hukum atau non hukum. Kemudian teknik interpretasi memiliki pengertian berupa penggunaan jenis-jenis penafsiran dalam ilmu hukum seperti gramatikal, historis, sistematis, teleologis, kontekstual dan lain-lain.

Selanjutnya teknik yang dipergunakan adalah penilaian berupa tepat atau tidak tepat, setuju tidak setuju, benar atau salah, sah atau tidak sah oleh peneliti terhadap pandangan, proposisi, pernyataan rumusan norma, keputusan, baik yang tertera dalam bahan primer maupun dalam bahan hukum sekunder. Kemudian teknik argumentasi tidak bias dilepaskan dari teknik evaluasi karena penilaian harus didasarkan pada alasan-alasan yang bersifat penalaran hukum. Dan yang terakhir mempergunakan teknik sitematisasi yaitu berupa upaya mencari kaitan rumusan suatu konsep hukum atau proposisi hukum antara peraturan perundang-undangan yang sederajat maupun antara yang tidak sederajat.

Gambar

Tabel 1.1 Daftar Penelitian Sejenis

Referensi

Dokumen terkait

Lembar kerja hasil penyelesaian perhitungan tegangan normal dan tegangan geser Ketepatan hasil penyelesain masalah / tugas 15 1,2,3,4,5 9-11 Menerapkan perangkat lunak

Aplikasi mobile-smarthome ini merupakan aplikasi yang digunakan untuk memudahkan pemilik rumah untuk dapat memantau, mengendalikan pintu,alarm, kunci, kendali kamera dengan

Skripsi ini bermanfaat bagi penulis setelah dilakukannya pengkajian dan penelitian, penulis dapat menambah pengalaman dan pengetahuan serta wawasan dalam meningkatkan kualitas

Hasil evaluasi akhir menunjukkan bahwa 80% peserta pelatihan mampu menguasai teknik yang dilatihkan, sehingga dapat dikatakan bahwa program pelatihan pembuatan nata de

Berdasarkan Output yang diinginkan dari aktivitas EA Zachman, yang bertujuan untuk peningkatan status akreditasi dan peningkatan jumlah mahasiswa baru serta dapat bersaing

Berdasarkan perhitungan validitas yang dilakukan dengan bantuan program SPSS 20, item dari skala dzikir Asmaul Husna yang terdiri dari 30 item, terdapat 15 item yang

Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi topografi kolon, patologi dari karsinoma kolon, tumor pada kolon dan kasus trauma pada kolon,