SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam.

Teks penuh

(1)UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI METODE PETA KONSEP PADA MATA PELAJARAN FIKIH BAB MAWARIS KELAS XI DI MA NU NURUL HUDA MANGKANG KULON TUGU SEMARANG TAHUN AJARAN 2010/2011. SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam. Oleh:. M. Agus Afifudin NIM : 073111056. FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2011.

(2) PERNYATAAN KEASLIAN. Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama. : M. Agus Afifudin. NIM. : 073111056. Jurusan/ Program Studi. : Pendidikan Agama Islam. Menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.. Semarang, 05 Desember 2011 Saya yang menyatakan,. M. Agus Afifudin NIM : 073111056. ii.

(3) iii.

(4) iv.

(5) v.

(6) ABSTRAK Nama : M. Agus Afifudin (073111056). Judul: Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Metode Peta Konsep Pada Mata Pelajaran Fikih Bab Mawaris Kelas XI Di MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Semarang Tahun Ajaran 2010/2011. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas XI di MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Kota Semarang Dengan Menggunakan Metode Peta Konsep Pada Mata Pelajaran Fikih Bab Mawaris. Subyek penelitian ini adalah kelas XI IPS 1 MA NU Nurul Huda tahun ajaran 2010-2011 yang berjumlah 41 siswa yaitu terdiri dari 16 laki-laki dan 25 perempuan. Penelitian ini menggunakan studi tindakan (action research) pada siswa kelas XI MA NU Nurul Huda Semarang. Dari hasil observasi secara langsung dikelas XI, penelitian tindakan dapat diketahui dengan melihat metode yang digunakan oleh guru bidang studi fikih yang belum secara penuh mengedepankan pembelajaran aktif dan cenderung terjadi komunikasi satu arah, artinya siswa cenderung pasif dalam pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari kesiapan dan keaktifan pada saat pembelajaran berlangsung. Kesiapan dalam pembelajaran dan keaktifan siswa menggambarkan motivasi untuk mengikuti pembelajaran. Motivasi siswa tentunya akan sangat berpengaruh terhadap nilai yang akan didapat oleh masing-masing siswa. Penelitian ini terdiri dari tiga siklus, setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan reflesi (reflecting). Dengan tehnik analisis deskriptif kualitaif, penelitian tindakan kelas ini dipilih sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa. Sebelum dilakukan penelitian tindakan, diawali dengan tahap pra siklus, pada tahap ini peneliti melakukan observasi tentang hasil evaluasi pembelajaran fikih bab mawaris ditahun sebelumnya. Dari data-data observasi yang peneliti dapatkan, dapat diketahui dari kondisi awal bahwasannya dikelas XI, terjadi permasalahan yaitu hasil belajar siswa dalam pembelajaran fikih bab mawaris yang rendah dan jauh dari target KKM; 65 yang ditetapkan oleh pihak madrasah. Pada pelaksanaan pra siklus diperoleh hasil rata-rata nilai siswa adalah 42,03. Kemudian dilaksanakan siklus I, dari data penelitian tindakan kelas yang telah peneliti dapatkan terjadi peningkatan nilai rata-rata pada siklus I, menjadi 60,85, tetapi masih banyak sekali siswa yang belum mencapai KKM. Dilanjutkan ke tindakan siklus II, pada tindakan ini terjadi peningkatan lagi yaitu menjadi 72,07. Kemudian dilanjutkan ke siklus III, terjadi peningkatan lagi, yaitu 75,48. Dan dirasa cukup maka peneliti menghentikan tindakan pada siklus III. Hasil penelitian membuktikan bahwa dengan menggunakan metode peta konsep dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fikih bab mawaris di MA NU Nurul Huda tahun ajaran 2010-2011. Dan berdasarkan hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi, masukan, dan pengetahuan kepada semua fihak yang membutuhkan.. vi.

(7) MOTTO. "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya. malaikat-malaikat. yang. kasar,. keras,. dan. tidak. mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (Q. S. atTahrim/66: 6)1. 1. Departemen Agama RI, al-Qur'an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit Jumanatul 'Ali-Art, 2005), hlm. 561.. vii.

(8) PERSEMBAHAN. Tiada sesuatupun yang dapat memberikan rasa bahagia melainkan senyum manis penuh bangga dengan penuh rasa bakti, cinta dan kasih sayang dan dengan segala kerendahan hati kupersembahkan skripsi ini untuk  Allah SWT. yang tiada alasan sesuatupun dari NYA untuk tidak kita syukuri.  Kanjeng Nabi AGUNG Muhammad SAW.  Ayahanda Bapak Zarkoni dan Ibunda Sholehah tercinta yang telah mendidik dan membesarkanku serta mencurahkan kasih sayangnya.serta selalu memberikan Do'a dan semangat kepada penulis  adekku Ahmad najihan muzakky dan andik slamet yang telah membuatku selalu tersenyum.  Kepala MA NU NURUL HUDA bpk. Akhyar S.Pd, bpk H. Muftidin M. Ag, beserta dewan guru serta segenap jajaran staf, karyawan dan siswa khususnya siswa kelas XI yang telah memberikan izin, bimbingan dan bantuan serta meluangkan tenaga dan waktunya sehingga penulis mampu melaksanakan penelitian demi menyelesaikan skripsi ini.  Abah yai Hadlor Ihsan beserta keluarga, seluruh dosen, terutama dosen pembimbing (bpk. Amin farih M. Ag dan bpk Ridwan M. Ag), guru, ustadzustadzah, terimakasih atas segalanya.  Deni Indiana, yang entah dengan apa penulis membalas seluruh ketulusan.. viii.

(9)  Sesepuh dan sedulur [KPT]beta. (dari semua yang pernah aku jalani, disini yang berikan damai di hati.)  Orange juice. Reggae g harus gimbal.  Adek-adek teater Athena yang semangat belajarnya di luar nalar.  Sahabat-sahabat PAI 07B senasib seperjuangan yang telah memberikan motivasi untuk menyelesaikan skripsi ini.  Sahabat-sahabat, teman-teman, di Ponpes Al-Ishlah, the genix, Tim KKN Posko 15 desa branjang, Tim PPL di SMP 23. Hemh…hehe  Dan tak lupa pembaca budiman sekalian Semoga amal dan kebaikan mereka mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah Yang Maha Kuasa.. ix.

(10) KATA PENGANTAR. Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillâhi rabill ‘aalamin. Segenap puja dan puji syukur peneliti panjatkan ke hadirat Allah SWT., yang telah melimpahkan petunjuk, bimbingan dan kekuatan lahir batin kepada dir peneliti, sehingga penelitian hasil dari sebuah usaha ilmiah yang sederhana ini guna menyelesaikan tugas akhir kesarjanaan terselesaikan dengan sebagaimana mestinya. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan oleh-Nya kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, sosok historis yang membawa proses transformasi dari masa yang gelap gulita ke zaman yang penuh peradaban ini, juga kepada para keluarga, sahabat serta semua pengikutnya yang setia disepanjang zaman. Penelitian. yang. berjudul. “UPAYA. MENINGKATKAN. HASIL. BELAJAR SISWA MELALUI METODE PETA KONSEP PADA MATA PELAJARAN FIKIH BAB MAWARIS KELAS XI DI MA NU NURUL HUDA MANGKANG KULON TUGU SEMARANG TAHUN AJARAN 2010/2011” ini pada dasarnya disusun untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. Usaha dalam menyelesaikan skripsi ini memang tidak bisa lepas dari berbagai kendala dan hambatan, tetapi dapat penulis selesaikan juga walaupun masih banyak kekurangan yang ada. Oleh karena, itu izinkan peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada hamba-hamba Allah yang membantu peneliti sehingga karya sederhana ini bisa menjadi kenyataan, bukan hanya angan dan keinginan semata.. x.

(11) Akhirnya, penulis sadar bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Namun, terlepas dari kekurangan yang ada, kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan untuk perbaikan di masa yang akan datang. Besar harapan penulis skripsi ini dapat dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.. Semarang, 5 desember 2011 Penulis. M. Agus Afifudin NIM. 073111056. xi.

(12) DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i. PERNYATAAN KEASLIAN............................................................................ ii. PENGESAHAN.................................................................................................. iii. NOTA PEMBIMBING....................................................................................... iv. ABSTRAK.......................................................................................................... v. KATA PENGANTAR........................................................................................ vi. DAFTAR ISI...................................................................................................... vii. BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah.............................................................. 1. B. Rumusan Masalah....................................................................... 3. C. Tujuan Penelitian........................................................................ 4. D. Manfaat Hasil Penelitian………………………………………. 4. BAB II : PENERAPAN PETA KONSEP PADA MATA PELAJARAN FIKIH BAB MAWARIS A. Kajian Pustaka............................................................................ 5. B. Mawaris...................................................................................... 6. 1. Pengertian Ilmu Mawaris ………………………………… 2. Pentingnya Mempelajari Ilmu Mawaris………………….. 3. Sejarah Mawaris Pra Islam Sampai Datangnya Islam…..… 4. Sekilas Materi Tentang Mawaris Untuk MA/Sederajat…… C. Peta Konsep (Concept Mapping)…………………………….. 13. 1. Concept Map Dapat Digunakan Untuk Tehnik Mengajar… 2. Guna Concept Map Dalam Pembelajaran………………… 3. Keunggulan Concept Map…………………………………….. 4. Proses Pembuatan Concept Map…………………………….. D. Peta Konsep Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fikih Mawaris 22 E. Hipotesis Tindakan…………………………………………... xii. 25.

(13) BAB III : METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian........................................................................... 26. B.. Tempat dan Waktu Penelitian.................................................... 26. C. Pelaksana Dan Kolaborator........................................................ 27. D. Rancangan Penelitian................................................................ 27. E.. Teknik Pengumpulan Data......................................................... 33. F.. Teknik Analisis Data.................................................................. 34. BAB IV : ANALISIS HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum MA NU Nurul Huda Semarang………….. 37. 1. Sejarah.................................................................................. 2. Visi dan Misi........................................................................ B. Hasil Penelitian………………………………………………... 41. 1. Pra Siklus.......................................................................... 2. Siklus I.............................................................................. 3. Siklus II............................................................................. 4. Siklus III........................................................................... C. Analisis Hasil Penelitian…………………………………….... 53. 1. Analisis Pra siklus……………………………………….. 2. Analisis Siklis I…………………………………………. 3. Analisis Siklus II………………………………………... 4. Analisis Siklus III……………………………………….. D. Perbandingan Hasil Evaluasi Mawaris Dengan Metode Peta Konsep…………………………………………. 58 E. Diagram Hasil Evaluasi Mawaris Dengan Peta Konsep……... 59. BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan............................................................................... 60. B.. Saran........................................................................................... 60. C.. Kata Penutup.............................................................................. 61. xiii.

(14) DAFTAR PUSTAKA DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP. xiv.

(15) BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan. potensi. dirinya. untuk. memiliki. kekuatan. spiritual. keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.2 Pertumbuhan psikologis yang baik melalui berbagai media dan metode dapat. menolong. individu. dan. menghaluskan. perasaannya. dan. mengarahkannya ke arah yang diinginkan, dimana ia menjadi kekuatan dan motivasi ke arah kebaikan kerja yang membina dan berhasil sehingga dapat mencapai kemaslahatannya dan kemaslahatan masyarakat dimana ia hidup. Ia juga dapat menumbuhkan perasaan manusia yang mulia, yang menjadikan manusia yang mencintai kebaikan bagi orang lain, mampu berinteraksi dengan mereka, turut merasakan penderitaan dan masalah-masalahnya dan turut berkorban untuk mereka dan juga membantunya untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan juga masyarakat.3.  

(16) ‫    ا‬: ‫  ا   ا  ا

(17)  و ل‬  ‫ا ى وا ا‬ ‫ ا"ء‬# $ %&   ‫ اب ار* )(ن‬- (‫ا‬  

(18) ‫ ا‬56) ‫ ا"ء‬#(.‫ ا‬/&0‫   ا‬#&‫ وآ‬- (‫ ا‬/2‫ء وا‬3(‫ ا‬#&4) 7 ‫ى ا&" ه  ن‬-9‫ ا‬$6: ;   #‫ا وزر ا وا‬%‫ا و‬-2) ‫اس‬ 

(19) ‫   ا‬6&‫  د> ا

(20) و‬%)   @‫ا‬A) 3‫ آ‬#B 7‫@ ء و‬."B   #‫ي ار‬A‫ هى ا

(21) ا‬%> ‫ا@ راء و‬A 5)->   ‫) و  و‬ 4 (‫ب ا‬E‫رى ) آ‬F‫ ا‬0-9‫)ا‬ Abu Musa meriwayatkan: Nabi saw bersabda perumpamaan petunjuk (huda) dan pengetahuan (ilm) yang dengannya Allah SWT mengutusku adalah bagaikan hujan lebat yang turun ke atas bumi yang sebagian 2. Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional, (Semarang: Aneka Ilmu, 1992), hlm. 3. 3 Melvin L. Silberrnen, 101 Strategi Pembelajaran Aktif (Active Learning), terj. Sarjuli dan Azfat Ammar, (Jakarta: Yakpendis, 2001), hlm. 65. 4 Al-Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Kutub, 2008), Juz I, hlm 34. 1.

(22) darinya subur yang menyerap air hujan dan tumbuhlah tumbuhtumbuhan dan rumput yang lebat. Dan bagian yang lainnya adalah keras dan menyimpan air hujan dan Allah SWT memanfaatkan manusia dengannya dan merekapun memanfaatkannya untuk minum, menjadikannya menjadi minuman binatang dan untuk irigasi tanah yang ditanami. Dan sebagian daripadanya adalah tandus yang tidak menyimpan air dan tidak menumbuhkan tumbuh-tumbuhan (sehinnga tanah itu tidak bermanfaat apa-apa). Yang pertama adalah perumpamaan dari orang yang memahami Agama Allah dan memperoleh keuntungan (dari pengetahuan itu) yang telah Allah SWT wahyukan melalui aku (Nabi SAW), dan belajar dan mengajarkan orang lain. Yang terakhir adalah perumpamaan orang yang tidak berusaha untuk memperolehnya dan tidak menerima petunjuk dari Allah SWT yang diwahyukan melalui aku (itu bagian tanah yang tandus). (HR. Bukhori) Dari hadist di atas dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang menganut faham pendidikan sebagai suatu proses spiritual, akhlak, intelektual yang berusaha membimbing manusia dan memberinya nilai-nilai, prinsipprinsip dan teladan ideal dalam kehidupan, juga bertujuan mempersiapkan untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Ia juga bertujuan mengembangkan tujuan pribadinya dan memberinya segala pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang berguna disamping mengembangkan ketrampilan diri sendiri yang berkesinambungan tidak terbatas oleh waktu dan tempat kecuali taqwa. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, persoalan mawaris sering kali menjadi krusial yang terkadang memicu pertikaian dan menimbulkan keretakan hubungan keluarga. Penyebab utamanya ternyata keserakahan dan ketamakan manusia, di samping karena kekurang-tahuan pihak-pihak yang terkait mengenai hukum pembagian waris. Padahal, Allah SWT di dalam AlQur'an mengatur pembagian waris secara lengkap. Sementara itu, di sisi lain, banyak dijumpai kenyataan bahwa beberapa kalangan --termasuk para pelajar di sekolah-sekolah Islam---menganggap faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka) sebagai momok yang menakutkan. Dengan latar belakang rumus dan angka-angka yang njlimet, mawaris adalah salah satu bab yang di anggap sulit dan membingungkan dalam ilmu fikih. Sehingga untuk mempelajarinya dibutuhkan keseriusan yang maksimal.. 2.

(23) Walau bagaimanapun kesulitannya, mempelajari mawaris adalah Fardlu Kifayah. Setelah peneliti mendatangi MA NU NURUL HUDA di Mangkang Kulon Tugu Semarang & berkonsultasi dengan guru pengampu mata pelajaran fikih, Drs H. Muftidin menyimpulkan bahwa selama ini di MA NU NURUL HUDA hasil belajar siswa dalam bab mawaris dengan hanya menggunakan metode ceramah sangatlah rendah bila dibandingkan dengan hasil belajar bab-bab mapel fikih yang lainnya. Dari masalah yang ada di atas, maka peneliti memberanikan diri untuk mengajukan judul skripsi tentang mawaris di MA NU NURUL HUDA dengan menggunakan metode peta konsep. Diharapkan dengan menggunakan metode peta konsep siswa bisa lebih memahami mawaris secara detail. Peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antar tempat. Peta konsep bukan hanya meggambarkan konsep-konsep yang penting melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Untuk membuat suatu peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis. Peta konsep bisa berupa diagram hirarki, bisa juga memfokus pada hubungan sebab akibat. Karena dipandang mampu menghubungkan ide awal dengan ide yang berkembang, dan peta konsep berupa alternatif untuk mengorganisasi materi dalam bentuk peta (gambar) secara holistik, interelasi, dan komperehensif. Dan mawaris adalah ilmu yang sangat luas, sehingga dikhawatirkan siswa akan banyak terpecah konsentrasinya karena karakteristik mawaris yang sangatlah kompleks. Maka, peta konsep dianggap mampu menanggulangi kemrosotan hasil belajar siswa dalam materi mawaris.. B. Perumusan Masalah. 3.

(24) Berdasarkan konteks penelitian di atas, maka fokus penelitian yang dapat diambil adalah “Metode pembelajaran peta konsep dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fikih bab mawaris kelas XI di MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Semarang tahun ajaran 2010/2011. Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Bagaimanakah penerapan metode pembelajaran pembelajaran peta konsep dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fikih bab mawaris kelas XI di MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Semarang tahun ajaran 2010/2011?. C. Tujuan Penelitian Tujuan peneliti dari penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fikih bab mawaris. Untuk mengetahui apakah melalui metode peta konsep dapat meningkatkan prestasi belajar aqidah siswa pada mata pelajaran fikih bab mawaris kelas XI di MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Semarang tahun ajaran 2010/2011”.. D. Manfaat Hasil Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1. Guru Mapel Sebagai bahan masukan guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di kelasnya, khususnya guru materi pelajaran fikih pada bab mawaris. 2. Siswa Siswa bisa meningkatkan hasil belajarnya, khususnya pada materi pelajaran fikih bab mawaris. 3. Peneliti Untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dalam menggunakan metode pembelajaran peta konsep pada mata pelajaran fikih bab mawaris yang diterapkan langsung pada ruang kelas.. 4.

(25) BAB II PENERAPAN PETA KONSEP PADA MATA PELAJARAN FIKIH BAB MAWARIS A. Kajian Pustaka Dalam kajian pustaka ini terdiri atas penelitian terdahulu yang relevan dengan penulisan skripsi sebagai bahan perbandingan, penulis akan mengkaji beberapa penelitian terdahulu untuk menghindari kesamaan obyek dalam penelitian. 1. Penelitian Muhammad Subakir (63111074) Fakultas Tarbiyah, yang berjudul: “Implementasi Model Pembelajaran Concept Mapping Berbasis Paikem Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Materi Pokok Cahaya (Penelitian Tindakan Kelas) Di Kelas VII A Semester II MTs Fatahillah Bringin Kecamatan Ngaliyan Semarang”, membahas mengenai Concept Mapp (Peta Konsep) dalam peningkatan prestasi belajar siswa di Kelas VII A Semester II MTs Fatahillah Bringin Kecamatan Ngaliyan Semarang. Yang penulis bidik dari penelitian Muhammad Subakir ini adalah Concept Mapp (Peta Konsep) yang sudah di usung oleh Muhammad Subakir dalam penelitiannya. 2. Penelitian Eka Mahfiyatun Khoirisah NIM. 2101034 Fak. Syariah yang berjudul “Pendapat Syahrur Tentang Tidak Adanya Mekanisme ‘Aul Dan Radd Dalam Hukum Kewarisan Islam”, hasil penelitian yang dilakukan oleh Eka Mahfiyatun Khoirisah ini adalah penelitian yang bersifat kwantitatif, tetapi bukan itu yang menjadi sorotan penulis, tetapi ilmu waris yang diangkat bisa menjadi acuan dalam penelitian yang penulis susun ini. 3. Penelitian Ali Imron (53111123) Fak. Tarbiyah, “Implikasi Ujian Nasional Terhadap Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Semarang”, tempat penelitian yang sama, penulis mengharapkan mengetahui lebih banyak data dari yang. 5.

(26) dilakukan oleh Ali Imron yang juga melaksanakan penelitian di MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Semarang.. Dengan berdasarkan pustaka di atas terdapat persamaan dengan penelitian yang sedang peneliti kaji yaitu tentang peta konsep, dan mawaris. akan tetapi terdapat perbedaan yang jelas yaitu variabel penelitian dan populasi, sehingga nantinya akan hasil penelitian yang dilakukan peneliti berbeda dengan penelitian diatas. Maka diharapkan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya dan mempunyai kesamaan dengan penelitian yang sedang di kaji oleh penulis bisa memberikan semacam acuan demi berhasilnya penelitian ini.. B. Mawaris 1. Pengertian Ilmu Mawaris Menurut bahasa: harta peninggalan orang yang meninggal dunia. Menurut istilah: ilmu tentang bagaimana membagi harta peninggalan seseorang setelah ia meninggal dunia. 2. Pentingnya Mempelajari Ilmu Mawaris Para ulama berpendapat bahwa mempelajari dan mengajarkan Fiqh Mawaris adalah wajib kifayah. Ini sejalan dengan perintah Rasulullah SAW. agar umatnya mempelajari dan mengajarkan ilmu faraid sebagaimana mempelajari dan mengajarkan al-Quran:. M:‫ا‬-6ْ‫"ُاا‬Kَ Bَ ‫ ا( ل ل رل ا

(27)  ا

(28)  و‬$ H‫  د‬ $‫ع  ا‬O> PQ ‫ وه أ ول‬.> ‫ ا وه‬ST& &) ‫س‬ َ K‫ ا‬Uْ"ُ V َ ‫َو‬ ٥ (W‫ واار‬:.‫" وا‬H‫ ا‬0-9‫)ا‬ “Dari Dihyatul Kunbi berkata: Rasulullah bersabda: Pelajarilah ilmu faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. Karena faraid adalah setengah dari ilmu, dan faraid akan terlupakan, faraid adalah sesuatu yang pertama kali akan hilang dari ummatku” (HR. Ahmad, alNasa’I, dan al-Daruqutny).. 5. Imam Ibnu Hambal. Musnad Imam Ibnu Hanbal, (Darul Fikri, t.th) Hlm. 205. 6.

(29) 3. Sejarah Mawaris Pra Islam Sampai Datangnya Islam Pada zaman Jahiliyah, aturan pusaka orang arab didasarkan atas nasab dan qorobah (hubungan darah dan kekeluargaan). Namun terbatas kepada anak laki-laki yang sudah dapat memanggul senjata untuk membela kehormatan keluarga dan dapat memperoleh harta rampasan perang. Mereka tidak memberikan pusaka, kepada para wanita dan anak-anak yang masih kecil. Sistem warisan pada masa jahiliyah juga didasarkan atas sumpah setia atau perjanjian. Bila seseorang lelaki berkata kepada temannya, “darahku, darahmu, tertumpahnya darahmu, berarti tertumpahnya darahku. Engkau menerima pusaka dari padaku, dan aku menerima pusaka dari padamu, engkau menuntut belaku dan aku menuntut belamu.” Dengan ucapan ini mereka kelak menerima seperenam harta dari masing-masing. Yang selebihnya diterima oleh ahli waris. Sebelum Islam datang, bagian warisan bagi kaum wanita dikalangan masyarakat arab jahiliyyah tidak ada sama sekali. Alasan mereka karena kaum wanita tidak terlibat dalam peperangan dan tidak menanggung biaya sedikitpun untuk kepentingan keluarga. “Bagaimana mungkin kami akan memberikan warisan kepada orang yang tidak pernah menunggang kuda, tidak pernah memnggul senjata dan tidak pernah berperang melawan musuh?” demikian alas an mereka. Hal yang sama juga diperlakukan kepada anak-anak kecil.6 Cara warisan lain dimasa jahiliyah yang terus berlaku sampai permulaan Islam, ialah adopsi (mengangkat anak). Lazim di zaman jahiliyah, seseorang mengangkat anak orang lain sebagai anaknya dan dibangsakan kepadanya, tidak lagi kepada ayahnya sendiri, dan anak itu menerima pusaka dari orang tua angkat.7. 6. Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Al-Mawarist, terj. Abdul Hamid Zahwan, Hukum Waris, (Jakarta, CV. Pustaka Mantiq, 1994) Hlm. 18-19, cet. 1 7 Teungku Muhammad Hasbi Ash Shidieqy, Fiqh Mawaris, (Semarang, PT. Pustaka Rizki Putra, 2010) hlm. 2-4, Cet 3.. 7.

(30) Dalam perkembangannya masalah pengangkatan anak tidak lagi berjalan, karena Islam menghapuskannya. Terkecuali apabila yang diinginkan mengangkat anak hanya bermotivasi sosial atau semacam orang tua asuh, justru sangat dianjurkan. Penghapusan pengangkatan anak sebagai dasar pewarisan, ditegaskan dalam Firman Allah:. ‫ن‬ َ ‫ُو‬-‫[َ ِه‬Bُ ِ:K‫ ُ( ُ ا‬0 َ ‫ َأزْوَا‬ َ َ 0 َ َ‫ْ ِ) ِ َو‬0 َ ِ)  ِ ْ َ ْ َ ِْ  ٍ0 ُ -َ ِ ُ K‫ ا‬ َ َ 0 َ َ ‫ل‬ ُ ُ%>َ ُ K‫ ْ)َا ِه ُ(ْ وَا‬4َ ِ ْ(ُ َُْ ْ(ُ ِ‫ َ َء ُآْ َأ َْ َء ُآْ َذ‬ ِ ْ‫ َأد‬ َ َ 0 َ َ‫ِ ُ(ْ َو‬Bَ K ‫ ُأ‬ K ُ ْ ِ ‫ َْ"ُا‬Bَ َْ ْ‫ ِ َ) ِ`ن‬K‫ ْ َ ا‬ ِ a ُ. َ ْ ‫ ِْ ُه َ َأ‬:ِ َ]َ ِ ْ‫ ادْ ُ ُه‬ َ ِ. K ‫^ َو ُه َ َ> ِْي ا‬ K_ َ ْ ‫ا‬ (٤-٥:‫ب‬OH7‫ َو ََاِ ُ(ْ )ا‬ ِ >V‫َا ُ& ُ(ْ )ِ ا‬9 ْ `ِ )َ ْ‫َ َء ُه‬bَ “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu”.(Al- Ahzab 4-5). Akan halnya tentang hijrah dan ikatan persaudaraan antara golongan muhajirin dan ansor dijadikan dasar pewarisan adalah karena pertimbangan “politis”. Dakwah Rasulullah SAW. di Mekah selama kurun waktu 11 tahun nyaris tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Tercatat kurang lebih 200 orang yang bergabung dengan Rasul untuk hijrah ke madinah. Karena sebagian besar masyarakat Quraisy waktu itu memusuhi Rasulullah, karena menerima ajaran islam, berarti mengancam eksistensi agama nenek moyang mereka. Ajakan hijrah Rasulullah SAW. kepada orang-orang Mekah agaknya kurang mendapat sambutan positif dari warga Mekah, sehingga perlu memberi rangsangan bahwa keluarga yang ikut hijrah yang nantinya berhak mewarisi, apabila saudaranya meninggal dunia.. 8.

(31) Ketentuan hukum hijrah dan ikatan persaudaraan antara muhajirin dan ansor ini tidak berlangsung lama. Karena setelah penaklukan (fath) Mekah, ketentuan tersebut tidak lagi berlaku.. ‫ر‬T eH ‫ ن ل‬6 eH     _> eH

(32) ‫    ا‬eH. 

(33) ‫ه  ا س ر*

(34)  " ل ل رل ا

(35)  ا‬f  ٨ (  ^6E) ‫وا‬-6&) B-6E‫ واذا ا‬$ &‫ د و‬0 (‫ و‬g ِ Eْ 6َ ْ ‫ة َْ َ ا‬-ْf‫و َ ِه‬ “Dari Ali bin Abdullah dari Yahya bin Sa’id dari Sufyan dari Mansur dari Mujahid dari Ibnu Abbas R.A.: Rasullah SAW. Bersabda: Tidak ada kewajiban berhijrah lagi setelah penaklukan kota Mekah, akan tetapi jihad dan niat, dan jika kamu diperintahkan untuk berperang maka pergilah berperanglah.”(Muttafaq Alaih). Penghapusan ketentuan hijrah dan muakhah sebagai dasar pewarisan didasarkan pertimbangan bahwa kekuatan kaum muslimin tidak diragukan. Jumlah pemeluknya semakin bertambah banyak, terutama sejak Fath Mekah. Orang-orang dengan sukarela berbondong-bondong menyatakan diri masuk Islam. 9 Hukum waris Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. telah mengubah hukum waris Arab pra-Islam dan sekaligus merombak struktur hubungan kekerabatannya, bahkan merombak sistem pemilikan masyarakat tersebut atas harta benda, khususnya harta pusaka. Sebelumnya, dalam masyarakat Arab ketika itu, wanita tidak diperkenankan memiliki harta benda --kecuali wanita dari kalangan elite-- bahkan wanita menjadi sesuatu yang diwariskan. Adapun bagian laki-laki dua kali bagian perempuan adalah karena kewajiban laki-laki lebih berat dari perempuan, seperti kewajiban membayar mas kawin dan memberi nafkah.10 Seperti yang tertera dalam surat an-Nisa ayat 34:. 8. Al-Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, (Darul Hadist, 2004) hlm. 424 Ahmad Rofiq, Fiqh Mawaris, cet 3 (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998). Hal 12 10 Tim Pelaksana Pentashihan Mushaf Al-Quran, Al-Quran Tajwid Warna Dan Terjemahnya, (Jakarta, AMZAH Quran, 2009), hlm 78 9. 9.

(36) ِْ ‫ُا‬%6َ &ْ ‫ َو ِ"َ َأ‬M ٍ ْ َ َ َ ُْ j َ ْ َ ُ K‫ ا‬ َj K )َ َ"ِ ‫َ ِء‬.V ‫ َ ا‬ َ ‫ن‬ َ ُ‫ا‬Kَ ‫ل‬ ُ َ0-V ‫ا‬ ‫ن‬ َ ُ)َFBَ ِBK‫ ُ وَا‬K‫ ا‬k َ 6ِ H َ َ"ِ / ِ ْ َ ْ ِ ٌ‫َ ِ)[َت‬H ٌ‫َت‬E&ِ َ ‫ت‬ ُ َ_ِKTَ) ِْ ِ‫َأ َْا‬ َ)َ ْ(ُ َ ْ ; َ ‫ َ) ِ`نْ َأ‬ K ‫ُ ُه‬-ِ * ْ ‫ وَا‬5ِ 0 ِ َj"َ ْ ‫ )ِ ا‬ K ‫ُو ُه‬-f ُ ‫ وَا ْه‬K‫ َ) ِ[ُ ُه‬ K ‫ُ َز ُه‬2&ُ (٥−٤: ‫ء‬.‫)ا‬.‫ًا‬- ِ‫ َآ‬o ِ َ ‫ن‬ َ َ‫ َ آ‬K‫ن ا‬ K ‫ِ ً ِإ‬ َ  K ِ ْ َ َ ‫ ُْا‬Bَ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (an-Nisa ayat 34) Pertanyaan lainya yang sering dianjurkan oleh sebagian orang adalah mengapa bagian warisan seorang laki-laki dua kali lipat dibandingkan seorang wanita? Bukanlah wanita kedudukanya lebih lemah dari laki laki sehingga lebih membutuhkan biaya dalam kehidupanya? Beberapa alasan yang melandasi ketentuan hukum warisan itu adalah : a.. Bagi seorang perenpuan semua biaya hidup dan kebutuhan sudah di tanggung oleh anaknya, bapaknya, saudaranya lelakinya atau orang lain diantara kerabatnya.. b.. Seorang prempuan tidak mempunyai kewajiban untuk membiayai kaum kerabatnya. Hal ini berbeda dengan seorang laki laki yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada orang orang yang mejadi tanggung jawabnya.. c.. Biaya seorang laki laki lebih banyak dibandingkan seorang wanita.. d.. Seorang laki laki diwajibkan memberi mas kawin kepada seorang wanita jika menikah. Demikian juga ia mempunyai tanggung jawab untuk mencukupi semua kebutuhan keluarganya, baik sandang, pangan maupun papan.. 10.

(37) e.. Seorang laki laki juga harus menanggung semua kebutuhan hidup keluarganya, misalnya biaya kesehatan, biaya pendidikan dan sebagainya. Kewajiban seorang lelaki untuk memberi nafkah kepada orang orang. yang menjadi tanggung jawabnya akan terus berlanjut. Syariat islam telah menegaskan mengenai hal itu, sebagaimana terdapat dalam firman Allah SWT didalam Al-Qur’an:. ‫ق‬3W‫ )ا‬. ُ K‫ ا‬Uُ َBbَ K"ِ ْ^6ِ ْ ُ ْ )َ ُ ُ ْ‫ َ ْ ِ ِرز‬ َ ‫ ِ َو َْ ُ ِ َر‬Eِ َ  َ ِْ $ٍ َ  َ ‫^ْ ذو‬6ِ ْ ُ ِ ( ٧: “Hendaklah orang yang mampu member nafkah menurut kemampuannya. Dan orangyang disempitkan rezkinya hendaklah member nafkah dari harta yang diberikan allah kepadanya.’’(AthThalaaq:7) Sistem pembagian warisan yang menetapkan bagian laki laki dua kali lebih besar dibandingkan bagian wanita ini merupakan suatu wujud keadilan dari Allah SWT. Karena system pembagian seperti ini di sesuaikan dengan besarnya tanggung jawab yang harus di pikul antara seorang laki laki dan wanita. Dengan memberikan bagian warisan kepada seorang lelaki dua kali lipat bagian seorang perempuan, berarti islam telah melindungi harta dan martabat kaum wanita. Islam telah memikirkan kebahagiaan hiddup seorang wanita dengan memberinya hak untuk menerima pembagian warisan tanpa disertai tanggung jawab yang berat sebagaimana yang harus dilakukan oleh seorang lelaki.11 Islam merinci dan menjelaskan --melalui Al-Qur'an Al-Karim-- bagian tiap-tiap ahli waris dengan tujuan mewujudkan keadilan didalam masyarakat. Meskipun demikian, sampai kini persoalan pembagian harta waris masih menjadi penyebab timbulnya keretakan hubungan keluarga. Ternyata, disamping karena keserakahan dan ketamakan manusianya, kericuhan itu. 11. Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Al-Mawarist, terj. Abdul Hamid Zahwan, Hukum Waris, (Jakarta, CV. Pustaka Mantiq, 1994) Hlm. 17, cet. 1. 11.

(38) sering disebabkan oleh kekurangtahuan ahli waris akan hakikat waris dan cara pembagiannya. 4. Sekilas Materi Tentang Mawaris Untuk MA/Sederajat a. Sebab-Sebab Terjadinya Mawaris 1) Keluarga. 2) Perkawinan yang Sah. 3) Wala’ 4) Hubungan Agama b. Ahli Waris Laki-Laki Anak lelaki, cucu lelaki dari anak lelaki, bapak, kakek dari bapak sampai ke atas, saudara sekandung, saudara seayah, saudara seibu, anak lelaki dari saudara kandung, anak laki-laki dari saudara seayah, paman yang sekandung dengan ayah si mayit, paman yang seayah dengan ayah si mati, anak lelaki dari paman yang sekandung, anak lelaki dari paman seayah, suami. c. Ahli Waris Perempuan Anak perempuan, cucu perempuan dari anak lelaki dan terus ke bawah, ibu, nenek dari bapak sampai ke atas, nenek dari ibu sampai ke atas, saudara perempuan sekandung, saudara perempuan sebapak, saudara perempuan seibu, isteri Apabila semua ahli waris berkumpul semua, maka yang berhak menerima harta pusaka adalah suami atau isteri, ibu, bapak, anak lelaki dan anak perempuan.. d. Dzawil Furud Ahli waris yang jatah pembagiannya telah disebutkan dalam alQuran maupun hadis Rasulullah saw. Adapun jumlah pembagiannya adalah: ½,1/3,1/4,1/6,1/8,2/3. e. Ashabah Ahli waris yang mendapatkan seluruh sisa harta pusaka dan dapat memperoleh seluruh harta jika tidak ada ahli waris dzawil furud.. 12.

(39) Ashabah dibagi menjadi 3: 1) Ashabah bin nafs 2) Ashabah bi ghoir 3) Ashabah ma’al ghoir. f. Hajib Mahjub Hajib adalah Ahli waris yang dapat menghalangi ahli waris lain untuk tidak mendapatkan harta pusaka. Mahjub adalah ahli waris yang terhalang oleh ahli waris lain untuk mendapatkan harta pusaka. Hajib & mahjub ada 2: hirman & nuqshan. Ahli waris yang tidak bisa terhalangi oleh siapapun adalah, anak, suami, istri, bapak, ibu.. C. Peta Konsep (Concept Mapping) Suatu konsep adalah suatu kelas atau kategori stimuli yang memiliki ciri-ciri umum. Stimuli adalah objek-objek atau orang (person). Kita menyatakan suatu konsep dengan menyebut “nama” misalnya buku, perang, siswa, wanita cantik, guru-guru yang berdedikasi, dan sebagainya. Semua konsep tersebut menunjuk ke kelas/kategori stimuli.12 Adapun yang dimaksud peta konsep adalah ilustrasi grafis konkret yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan dengan konsep-konsep lain pada kategori yang sama. Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas, maka ciri-ciri peta konsep adalah sebagai berikut: a. Peta konsep atau pemetaan konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep atau proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika. Dengan menggunakan peta konsep, siswa dapat melihat bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna. b. Suatu peta konsep merupakan gambar dua dimensi dari suatu bidang studi, atau suatu bagian dari bidang studi. Cirri inilah yang dapat. 12. Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan System, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003), hlm. 162. 13.

(40) memperlihatkan hubungan-hubungan proporsional antara konsepkonsep. c. Tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama. Ini berarti ada konsep yang lebih inklusif daripada konsep-konsep yang lain. d. Bila dua atau lebih konsep digambarkan dibawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hierarki pada peta konsep tersebut.13. Untuk mengatasi kelemahan-kelamahan teknik narasi dalam mendesain materi mata kuliah dan untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berdasar expertise based-theacing, tehnik. concept map atau peta konsep. adalah alternatif untuk mengorganisasi materi dalam bentuk peta (gambar) secara holistic, interelasi, dan komperehensif. Konsep itu akan meletakkan dosen sebagai seorang yang ahli dalam disiplinnya (expertise based-teacer) dan meletakkan seorang dosen lebih naturalistik pada tabiatnya, yaitu seorang “raja” pada wilayah kajiannya; dan dia bukan seorang “prajurit”. Dalam konteks pengorganisasian materi perkuliahan guna persiapan mengajar satu semester, concept map dapat digunakan sebagai cara untuk membangun struktur pengetahuan para dosen dalam merencanakan materi perkuliahan. Desain content berdasarkan concept map memiliki karakteristik khas. Pertama, hanya memiliki konsep-konsep atau ide-ide pokok (central, mayor, utama), kedua, memiliki hubungan yang mengaitkan antara satu konsep dengan konsep yang lain. Ketiga, memiliki label yang membunyikan arti hubungan yang mengaitkan antara konsep-konsep. Keempat, desain itu berwujud sebuah diagram atau peta yang merupakan satu bentuk representasi konsep-konsep atau materi perkuliahan yang penting. Concept map sebagai satu tehnik telah digunakan secara ekstensif dalam pendidikan tinggi lebih dari tiga puluh tahun. Tehnik concept map diilhami oleh teori belajar asimilasi kognitif (subsumpition) dari david P. Ausubel, yang menyatakan bahwa belajar bermakna (meaningful learning) 13. Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep Landasan, Dan Implementasinya Pada Kurikulum Tinkat Satuan Pendidikan ( KTSP), (Jakarta: Prenada Media Group, 2010), hlm. 158-159, cet.2. 14.

(41) terjadi dengan mudah apabila konsep-konsep baru dimasukkan kedalam konsep-konsep yang lebih inklusif. Dengan kata lain, proses belajar terjadi bila mahasiswa mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan yang baru. Dengan mengambil ide dari teiri Ausebel, Novak mengembangkan teori ini dalam penelitiannya tentang mahasiswa pada tahun 1974. Ia berhasil merumuskan concept map sebagai satu diagram yang berdimensi dua, yaitu analog dengan sebuah peta jalan yang tidak hanya mengidentifikasi butirbutir utama kepentingan (konsep-konsep), tetapi juga menggambarkan hubungan-hubungan antara konsep-konsep utama (mayor), sebagai mana banyak kesamaan garis-garis yang menghubungkan antara kota-kota besar yang tergambarkan dengan jalan-jalan utama dan jalan bebas hambatan atau highways.14 Pada awalnya concept map diterapkan untuk pengorganisasian materi perkuliahan guna persiapan mengajar satu semester, karena dipandang mampu menghubungkan ide awal dengan ide yang berkembang, karena peta konsep berupa alternatif untuk mengorganisasi materi dalam bentuk peta (gambar) secara holistic, interelasi, dan komperehensif. Dan mawaris adalah ilmu yang sangat luas, sehingga dikhawatirkan siswa akan banyak terpecah konsentrasinya karena karakteristik mawaris yang sangatlah kompleks. Maka, peta konsep dianggap mampu menanggulangi kemrosotan belajar siswa dalm materi mawaris. Ada beberapa urgensi concept map ditinjau dari berbagai kepentingan pembelajaran. Pertama, concept map merupakan representasi secara visual dari ide-ide kunci yang berhubungan. Artinya, concept map merupakan satu bentuk diagram atau gambar visualisasi konsep-konsep yang saling berhubungan, kedua, concept map mampu menunjukkan arti hubunganhubungan tersebut kedalam bentuk label. a. Concept map dapat digunakan untuk tehnik mengajar, 14. Hisyam Zaini, dkk., Desain Pembelajaran Diperguruan Tinggi, (Yogyakarta; CTSD IAIN Sunan Kalijogo, 2002), Hlm 19-20. 15.

(42) Ada beberapa kegunaan concept map sebagai tehnik mengajar, yaitu: 1) Ia dapat digunakan oleh guru untuk untuk memperkenalkan kesuluruhan materi dari mata pelajarannya secara utuh dalam satu lembar kertas, dalam bentuk gambar, dan dalam satu waktu yang sama. 2) Ia dapat digunakan sebagai dasar untuk mencanakan pemilihan urutan materi perkuliahan. Seorang guru dapat dengan leluasa merencanakan pemilihan secara berurutan atas konsep-konsep yang akan disampaikan didalam proses pembelajaran. 3) Ia dapat berperan sebagai suatu satu paduan proses pembelajaran materi-materi. perkuliahan,. sehingga. terhindar. dari. keseatan. penyampaian bahan ajar. Dengan kata lain, tidak keluar dari peta perjalanan materi pelajaran. 4) Ia dapat menjaga konsistensi pengontrolan penyampaian materi dan menjaga batas-batas informasi luar yang akan masuk kedalam materi bahan ajar. 5) Ia dapat menjaga transisi antarunit bahan ajar, karena ia dengan mudah dapat menunjukkan letak konsep-konsep. Dengan begitu, seorang guru dapat dengan mudah membuat skala prioritas penyampaian bahan ajar. 6) Daya ingat otak akan gambar jauh lebih kuat bertahan dalam otak dibandingkan daya ingat otak akan susunan kalimat. 7) Ia dapat juga berperan untuk meringkas bahan ajar, karena ia hanya menunjukkan butir-butir penting tentang materi bahan ajar. 8) Ia juga dapat digunakan sebagai alat pertimbangan dalam pemilihan strategi pembelajaran yang tepat. Sebab, konsep-konsep yang tertera dalam concept map dapat juga menunjukkan bobot informasi yang dikandungnya.15. 15. Bermawy Munthe, Desain Pembelajaran, (Yogyakarta: Pusaka Insan Madani, 2009),. hlm. 19-23. 16.

(43) b. Concept map dapat digunakan untuk strategi belajar bermakna, Ada beberapa kegunaan concept map sebagai strategi belajar siswa, yaitu: 1). Ia dapat digunakan sebagai sarana belajar dengan membandingkan concept map siswa dengan guru. Seorang guru dapat melakukan evaluasi terhadap penguasaan siswa atas materi-materi perkuliahan yang akan atau telah disampaikan. Sebab, peta-peta yang telah dihasilkan dapat menunjukkan tingkat penguasaan siswa, apalagi jika dibandingkan concept map yang dibuat guru.. 2). Ia dapat digunakan sebagai cara lain dalam mencatat pelajaran sewaktu belajar. Siswa dapat menggunakannya sebagai alternative cara membuat catatan kelas yang biasanya bersifat naratif, agak panjang, dan linier. Ini cara belajar aktif individual.. 3). Ia dapat juga digunakan siswa sebagai alat belajar dengan membandingkan peta konsep yang dibuat diawal dengan dia akhir sebuah kelas. Siswa melakukan penilaian mandiri terhadap penguasaan bahan ajar dengan mencoba melihat perbedaan antara dua peta konsep yang dibuat diawal perkuliahan dengan diakhir perkuliahan.. 4). concept map membantu meningkatkan daya ingat siswa dalam belajar. Siswa dapat belajar semakin efektif dan efisien, karena ia belajar berpikir reduktif, dengan merangkum informasi yang banyak kedalam konsep-konsep utama yang saling berhubungan ke dalam sebuah diagram atau gambar yang mencakup keseluruhan konsepkonsep yang dipelajari.. c. Guna concept map dalam pembelajaran Disamping urgensi di atas, concept map dapat juga digunakan dalam pembelajaran bila dilihat dari sebelum dan sesudah siswa mengetahui teknik pembuatannya. Seorang guru mungkin menggunakan. 17.

(44) concept map sebagai teknik untuk beberapa kesempatan (sebelum siswa mengetahui langkah-langkah membuat concept map), yaitu: 1) Persiapan desain materi untuk satu semester. Anda akan menemukan concept map dapat memetakan konsep-konsep utama yang akan diajarkan selama satu semester, dengan menunjukkan organisasi konseptual. mata. pelajaran.. Hanya,. concept. map. ini. tidak. mencantumkan konsep-konsep kecil atau minor. 2) Pesiapan mengajar per sesi. Memetakan konsep-konsep informasi yang akan diajarkan didalam pertemuan-pertemuan dapat membantu guru menghubungkan rincian bahan ajar kedalam bingkai konsep utama. 3) Persiapan mengajar per topik bahasan. Pembuatan peta konsep pertopik bahasan mata pelajaran dapat membantu guru menunjukkan kepada siswa letak hubungan konsep-konsep per topic dengan bingkai konsep utama, khususnya dalam pertemuan per sesi kelas. 4) Menghubungkan sesi kelas dengan tutorial, laboratorium, atau studi tour, misalnya, atau seminar. Kegiatan tutorial, laboratorium dan seminar adalah kegiatan yang menjabarkan atau memperluas atau memperdalam materi-materi yang didapatkan siswa sewaktu dikelas. concept map akan membantu siswa memahami hubungan penting antara kegiatan didalam kelas dengan kegiatan tutorial, laboratorium, atau seminar. Contoh: concept map akan menjelaskan posisi antara belajar teori didalam kelas dengan praktek dilaboratorium. 5) Menghubungkan kelas sebelumnya dengan kelas yang akan dihadapi. concept map dapat digunakan untuk menunjukkan urgensi dan posisi hubungan konsep-konsep yang akan diajarkan sebelumnya dengan konsep-konsep yang akan diajarkan. Dengan begitu, siswa lebih mudah mengikuti materi pelajaran, karena mereka mencoba memahami hubungan antar konsep yang berhubungan.. 18.

(45) Apabila siswa telah mengetahui cara membuat concept map, maka guru dapat memanfaatkannya untuk beberapa kesempatan aktivitas pembelajaran: 1) Membuat rangkuman teks bacaan sebagi alternatif cara belajar. Seorang guru dapat menerima siswanya untuk membuat satu rangkuman dalam bentun concept map sebagai hasil bacaan mereka dari sejumlah buku yang telah ditentukan untuk dibaca. Bahkan, guru dapat menerima concept map siswa sebelum memulai kelas. Hal ini akan mendorong siswa untuk membaca sebelum masuk kelas. 2) Menentukan pemahaman sebelumnya. Sebelum guru mengajarkan sebuah topik. Ia dapat meminta siswa membuat sebuah concept map tentang sejumlah konsep untuk memastikan sejauh mana siswa mengetahui topik itu. Kepedulian guru terhadap prior knowledge siswa dapat menjadikan guru terdorong untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki siswa. 3) Melokasi kesalahpahaman. Dengan meminta siswa membuat satu concept map sebelum atau sesudah diajarkan materi bahan ajar dapat memberikan perhatian guru tentang kesalahpahaman yang terjadi dikalangan siswa. Kesalahpahaman ini dapat juga digunakan untuk memberikan informasi kepada sesi kelas berikutnya. 4) Mengembangkan rangkuman tugas-tugas atu semester. Setelah siswa memahami mata pelajaran yang dikembangkan, pengetahuan mereka semakin berkembang dan mereka akan dapat membuat koneksikoneksi antar konsep. concept map mereka akan memantulkan perkembangan pemahaman mereka. 5). Merangkum catatan ceramah kelas. Teknik concept map ini dapat mendorong siswa memetakan catatan-catatan kelas mereka. Dengan demikian, siswa merasa bertanggung jawab terhadap beklajar mereka.. 6) Membuat kertas kerja. Kadang kala siswa menemukan kesulitan dalam merencanakan dan mengurutkan informasi yang akan mereka. 19.

(46) sajikan dalam sebuah tugas kelas. Dengan memetakan tugas tersebut, mereka dapat mengurutkan materi dan melahirkan satu makalah yang utuh dan koheren. 7) Evaluasi dan penilaian. Seorang guru dapat meminta mahasiswa memetakan sejumlah konsep sebagai bagian dari ujian, kuis atau ujian (dibawa pulang). Membuat concept map adalah salah satu teknik diagnostik yang excellent. d. Keunggulan Concept Map Keunggulan concept map terletak pada pemahaman yang terwakili didalam concept map yang dihasilkan, proses pembuatan concept map, dan potensi proses memfasilitasi satu hubungan yang lebih wajar antara guru dan siswa. 1) Berbagi pemahaman Concept Map adalah satu tehnik pendidikan yang penuh kekuatan, karena baik siswa maupun guru dapat membuat dan berbagi Concept Map, sehingga tercipta berbagi pemahaman tentang suatu topik. Dalam realitas, sesorang mungkin berusaha menjelaskan struktur kognisinya dengan banyak cara, termasuk narasi bicara, ringkasan tertulis, dan pembicaraan formal dan informal. Keterbatasan format-format itu terletak pada liniaritas (berfikir secara garis lurus) yang membatasi kapasitas untuk menggambarkan secara utuh hubungan-hubungan yang dibuat seseorang diantara dan antara konsep-konsep. Dengan sebuah concept map, hubungan di antara dan antara yang secara eksplisit dinyatakan di dalam peta konsep dapat dilihat secara sekaligus. 2) Proses pembuatan Concept Map. 20.

(47) Pembuatan peta konsep dilakukan dengan membuat suatu sajian visual atau suatu diagram tentang bagaimana ide-ide penting atau suatu topic tertentu dihubungkan satu sama lain. 16 Proses aktualitas pemetaan konsep-konsep menuntut individu untuk menentukan hierarki konsep-konsep, memilih konsep-konsep untuk diintrokoneksikan, dan melukiskan tabiat yang tepat hubungan diantara konsep-konsep tersebut. Proses aktualitas pengonstruksian peta dapat mendorong siswa mengonstruksi arti-arti.17 D. Peta Konsep Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fikih Mawaris Dengan menguasai konsep, ia dapat menggolongkan dunia sekitarnya menurut konsep itu, misalnya menurut warna, bentuk, besar jumlah, dan sebagainya. Ia dapat menggolongkan manusia menurut hubungan keluarga, seperti bapak, ibu, paman, saudara dan sebagainya.18 Mawaris adalah ilmu yang bersifat kasuistik, yaitu diantara keilmuan yang dipelajari bisa jadi hanya segelintirnya saja yang terjadi secara nyata di lapangan. Dan yang digunakan saat itu adalah yang segelintir itu. Tetapi yang segelintir itu tidak bisa dipastikan yang mana yang akan digunakan. Mawaris bersifat luas dan komperehensif, sesuai dengan kasus-kasus kekeluargaan yang terjadi dikehidupan nyata. Keluarga atau sanak famili adalah hal yang sangat berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Mawaris dipastikan tidak bisa dilepaskan dengan masalah-masalah kekeluargaan, dan keluarga sangatlah bersifat krusial, tidak bisa mengabaikan orang lain. Untuk menjembatani hal tersebut dibutuhkan metode dan cara yang pas untuk mengantisipasi kekeliruan dan kesalahan.. 16. Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep Landasan, Dan Implementasinya Pada Kurikulum Tinkat Satuan Pendidikan ( KTSP), (Jakarta: Prenada Media Group, 2010), hlm.159, cet.2 17. Bermawy Munthe, Desain Pembelajaran, (Yogyakarta: Pusaka Insan Madani, 2009),. hlm. 19-23 18. S. Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Bumi Aksara), hlm. 138. 21.

(48) Diatas telah disebutkan bahwa peta konsep adalah metode yang bisa berbentuk gambar, bagan ataupun rantai kesinambungan. Dalam bab mawaris, untuk menjelaskan kepada siswa tentang bagan keluarga, siapa si mayit, mana saja keluarga yang mendapat hak waris, siapa saja anggota keluarga yang termahjub, dan lain sebagainya, guru sangat membutuhkan media gambar, bagan ataupun rantai kesinambungan tersebut.. 22.

(49) Contoh:. ½ Tidak ada anak 1/4 Ada anak suami. Dzawil Furudh. Istri. Anak pr. ¼ 1/8 ½ 2/3. Ash. Tidak ada anak Ada anak Anak tunggal Lebih dari seorang dan tidak ada anak lelaki Dengan anak lelaki. IBU. bapak Pembagian waris. 1/3. Jika yang tersisa hanya bapak dan ibu saja. 1/6. Jika tidak ada anak dan cucu. Dzawil Arham Ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris, namun mereka tidak mewarisinya secara ashabul furudh ataupun ashabah. Contoh, bibi, paman, keponakan lk, dll.. sababiyah Ashabah. Bi nasabiyah. bi nafsi. Seluruh AW LK kecuali suami dan sdr lk Se-. AP dikarenakan AL CP dikarenakan CL Cicit pr dikarenakan cicit lk seterusnya ke bawah Sdr pr SI SB dikrenakan Bi ghoir Sdr lk SI SB Sdr pr SB dikarenakan sdr lk SB Sdr pr SI karena mewaris. Maalghoir bersama dengan AP/ CP. 23.

(50) MAHMUD. istri. (meninggal 1948). Menikah 1950 AP. AP. AP. AL. AL ALI (Meninggal 1994). Siti. Menikah 1970 Budi. AP AP AP AL(mnnggl ‘98). (Menikah 1993) S. AL. AL. AL. AP. AP19. 19. Suhrawardi K. Lubis, SH. Dan Komis Simanjuntak, SH., Hukum Waris Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008) hlm 122, cet.2. 24.

(51) Peta konsep dipandang mampu menghubungkan ide awal dengan ide yang berkembang, dan peta konsep berupa alternatif untuk mengorganisasi materi dalam bentuk peta (gambar) secara holistic, interelasi, dan komperehensif. Maka, peta konsep dianggap mampu menjembatani kasus dan masalah kekeluargaan yang ada. Maka hemat peneliti, peta konsep dan mawaris adalah hal yang sama dalam penerapan. Peneliti berharap peta konsep mampu menanggulangi kemrosotan hasil belajar siswa dalam materi mawaris. Peneliti menganggap ada kecocokan diantara peta konsep dengan mawaris.. Maka, peneliti berharap metode peta konsep akan cocok jika. diterapkan dalam mapel fikih bab mawaris.. E. Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah “Penerapan metode pembelajaran peta konsep dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran fikih bab mawaris kelas XI di MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Semarang tahun ajaran 2010/2011”.. 25.

(52) BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti adalah penelitian tindakan. Penelitian tindakan menekankan kepada kegiatan (tindakan) dengan mengujicobakan suatu ide ke dalam praktik atau situasi nyata dalam skala mikro, yang diharapkan kegiatan tersebut mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.20 Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, yaitu kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan. dalam. pembelajaran,. berdasarkan. refleksi. mereka. mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut.. B. Tempat Dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Dalam penilitian ini peneliti mengambil lokasi di MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Kota Semarang. Peneliti mengambil lokasi atau tempat ini dengan pertimbangan bahwa MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Kota Semarang adalah satuan sekolah yang berbasik Agama Islam dan berdasarkan informasi yang ada bahwa di MA NU Nurul Huda juga diajarkan ilmu mawaris, akan tetapi dibandingkan dengan bab-bab yang lain, nilai mawaris dari siswa selalu lebih rendah. Sehingga membuat peneliti penasaran dan ingin tahu lebih jauh tentang kebenaran informasi tersebut. Dan dengan kemantapan hati, peneliti mengambil lokasi penelitian di MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Kota Semarang. 2. Waktu Penelitian Dengan beberapa pertimbangan dan alasan peneliti menentukan waktu penelitian selama 1 bulan, yaitu 30 Maret 2011 – 30 April 2011 . Peneliti 20. Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006), hlm. 70. 26.

(53) menentukan tanggal tersebut dikarenakan berdasarkan informasi dari guru mapel pelajaran Fiqih, bab Mawaris dimulai pada tanggal itu. Waktu dari perencanaan sampai penulisan laporan hasil penelitian tersebut adalah selama semester II Tahun pelajaran 2010/2011. C. Pelaksana Dan Kolaborator 1. Pelaksana Pelaksana yang melaksanakan skenario pembelajaran di kelas adalah guru asli dari mapel fikih kelas XI di MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Kota Semarang, sedangkan peneliti hanya mengamati, mempersiapkan, membantu mensukseskan skenario pembelajaran yang telah disusun bersama. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan agar siswa tidak kaget dan tidak merasa bahwa sedang dilakukan penelitian. Peneliti mempunyai asumsi bahwa jika skenario pembelajaran dilaksanakan oleh peneliti sendiri maka akan terjadi perbedaan keadaan dan situasi dalam penyampaian skenario pembelajaran, sehingga dikhawatirkan siswa akan terganggu konsentrasinya dan tentunya akan menggangu hasil belajar siswa nantinya. Harapan peneliti adalah agar penelitian ini murni penelitian. 2. Kolaborator Kolaborator adalah suatu kerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti atasan, sejawat, atau kolega. Kolaborator ini di harapkan dapat di jadikan sumber data, karena pada hakikatnya kedudukan peneliti pada penelitian tindakan kelas ini merupakan bagian dari situasi dan kondisi dari suatu latar yang ditelitinya. Peneliti tidak hanya sebagai pengamat, tetapi juga terlibat langsung dalam proses situasi dan kondisi.21 Kerjasama ini diharapkan dapat memberikan informasi dan kontribusi yang baik sehingga dapat tercapai tujuan dari penelitian ini. Yang menjadi kolaborator di sini adalah peneliti sendiri, dikarenakan peneliti juga memahami skenario pembelajaran yang akan diterapkan didalam kelas. 21. Departemen Pendidikan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Penelitian Tindakan Kelas, (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2003), hlm ; 13. 27.

(54) D. Rancangan Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dipilih dengan menggunakan model spiral dari Kemmis dan Taggart yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto dalam bukunya Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari beberapa siklus tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan pada siklus sebelumnya. Dalam setiap siklusnya terdiri dari empat elemen penting, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Prosedur penelitian yang akan diterapkan dalam hal ini antara lain : 1.. Perencanaan Meliputi penyampaian materi pelajaran, latian soal, pembahasan latian soal, tugas pekerjaan rumah ( kegiatan penelitian utama ) pembahasan PR, ulangan harian.. 2.. Tindakan ( Action )/ Kegiatan, mencakup: a. Siklus I, meliputi : Pendahuluan, kegiatan pokok dan penutup. b. Siklus II ( sama dengan I ) c. Siklus III ( sama dengan I dan II ). 3.. Observasi Kegiatan observasi ini dilakukan di dalam kelas XI MA NU NURUL HUDA ketika kegiatan pembelajaran fikih mawaris berlangsung.. 4.. Refleksi Dimana perlu adanya pembahasan antara siklus – siklus tersebut untuk dapat menentukan kesimpulan atau hasil dari penelitian.. 28.

(55) Model Penelitian Tindakan22 Perencanaan Refleksi. SIKLUS I. Pelaksanaan. Pengamatan Perencanaan Refleksi. SIKLUS II. Pelaksanaan. Pengamatan. ?. Langkah-langkah dalam penelitian tindakan ini adalah sebagai berikut : 1. Siklus I a. Perencanaan 1). Merencanakan model pembelajaran yang akan diterapkan dalam pembelajaran fikih Materi Pokok Mawaris dengan metode peta konsep pada siswa kelas XI MA Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Semarang.. 2). Menyiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan dalam pembelajaran fikih Materi Pokok Mawaris dengan metode peta konsep.. 3). Menyusun LOS (Lembar Observasi Siswa).. 4). Menyiapkan format evaluasi pembelajaran fikih Materi Pokok Mawaris.. b. Pelaksanaan Bersama guru mapel: 1) Guru menerapkan tindakan yang mengacu pada skenario pembelajaran yang sudah direncanakan. Yaitu menggunakan metode peta konsep. 2) Kolaborator mengisi LOS didalam kelas.. 22. Suharsimi Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta, Bumi Aksara, 2006), hlm; 16. 29.

(56) 3) Peneliti mencatat semua proses yang terjadi dalam tindakan yang menggunakan metode peta konsep. 4) Peneliti mencatat semua kelemahan dan ketidaksesuaian antara skenario dengan tindakan di dalam kelas. 5) Mengamati respon dari peserta didik yang mungkin tidak diharapkan. c. Pengamatan 1). Melakukan pertemuan dengan guru mapel untuk membahas hasil. evaluasi. tentang. proses. pembelajaran. mawaris. menggunakan metode peta konsep yang telah dilaksanakan. 2). Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format LOS.. 3). Mendiskusikan dengan guru mapel tentang tindakan I yang telah dilakukan. d. Refleksi 1) Mengidentifikasi permasalahan dalam pelaksanaan metode peta konsep dalam pembelajaran mawaris dan mencari solusi. 2) Menganalisis hasil pengamatan untuk memperoleh gambaran bagaimana dampak dari tindakan I yang telah dilakukan, hal apa saja yang perlu diperbaiki sehingga diperoleh hasil refleksi kegiatan yang telah dilakukan. 3) Mempersiapkan siklus II untuk memperbaiki tindakan I. 2. Siklus II Setelah melakukan evaluasi tindakan I, maka dilakukan tindakan II. Peneliti dan guru bersama-sama mengamati proses kegiatan yang berlangsung di dalam kelas. Langkah-langkah siklus II adalah sebagai berikut: a.. Perencanaan 1) Mengidentifikasi ulang permasalahan dalam pelaksanaan tindakan I. 2) Mempersiapkan media pembelajaran untuk memperbaiki tindakan I.. 30.

(57) 3) Mengembangkan skenario pembelajaran dari tindakan I dan masih menggunakan metode peta konsep. 4) Menyusun LOS (Lembar Observasi Siswa). 5) Menyiapkan format evaluasi. b.. Pelaksanaan Bersama guru mapel: 1) Guru menerapkan tindakan II yang mengacu pada skenario pembelajaran yang sudah direncanakan dan dikembangkan dari tindakan I. 2) Kolaborator mengisi LOS didalam kelas. 3) Peneliti mencatat semua proses yang terjadi dalam tindakan pembelajaran mawaris yang menggunakan metode peta konsep. 4) Peneliti mencatat semua kelemahan dan ketidaksesuaian antara skenario yang sudah direncanakan dengan tindakan yang terjadi didalam kelas yang menggunakan metode peta konsep yang telah dikembangkan. 5) Mengamati respon dari peserta didik yang mungkin tidak diharapkan. Kegiatan yang dilaksanakan tahap ini yaitu pengembangan tindakan. I. dengan. melaksanakan. tindakan. upaya. lebih. meningkatkan semangat belajar peserta didik dalam kegiatan pembelajaran fikih Materi Pokok Mawaris dengan menggunakan metode peta konsep pada siswa kelas XI MA Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Semarang yang telah direncanakan. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi siklus sebelumnya. c. Pengamatan 1) Melakukan pertemuan dengan guru mapel untuk membahas hasil. evaluasi. tentang. proses. pembelajaran. mawaris. menggunakan metode peta konsep yang telah dilaksanakan.. 31.

(58) 2) Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format LOS. 3) Mendiskusikan dengan guru mapel tentang tindakan II yang telah dilakukan d.. Refleksi 1) Menganalisis hasil pengamatan untuk memperoleh gambaran bagaimana dampak dari tindakan II yang telah dilakukan, hal apa saja yang perlu diperbaiki sehingga diperoleh hasil refleksi kegiatan yang telah dilakukan. 2) Identifikasi masalah dan penerapan alternatif pemecahan masalah yang terjadi pada tindakan II. 3) Hasil pengamatan dianalisis untuk memperoleh gambaran bagaimana dampak dari tindakan yang dilakukan hal apa saja yang perlu diperbaiki dan apa saja yang perlu menjadi perhatian untuk tindakan III. 4) Mempersiapkan siklus III.. 3. Siklus III Setelah melakukan evaluasi tindakan II, maka dilakukan tindakan II. Peneliti dan guru bersama-sama mengamati proses kegiatan yang berlangsung di dalam kelas. Langkah-langkah siklus III adalah sebagai berikut: e.. Perencanaan 1) Mengidentifikasi ulang permasalahan dalam pelaksanaan tindakan II. 2) Mempersiapkan media pembelajaran untuk memperbaiki tindakan II. 3) Mengembangkan skenario pembelajaran dari tindakan II dan masih menggunakan metode peta konsep. 4) Menyusun LOS (Lembar Observasi Siswa). 5) Menyiapkan format evaluasi.. f.. Pelaksanaan. 32.

(59) Bersama guru mapel: 1) Guru menerapkan tindakan III yang mengacu pada skenario pembelajaran yang sudah direncanakan dan dikembangkan dari tindakan II. 2) Kolaborator mengisi LOS didalam kelas. 3) Peneliti mencatat semua proses yang terjadi dalam tindakan pembelajaran mawaris yang menggunakan metode peta konsep. 4) Peneliti mencatat semua kelemahan dan ketidaksesuaian antara skenario yang sudah direncanakan dengan tindakan yang terjadi didalam kelas yang menggunakan metode peta konsep yang telah dikembangkan. 5) Mengamati respon dari peserta didik yang mungkin tidak diharapkan. Kegiatan yang dilaksanakan tahap ini yaitu pengembangan tindakan. II. dengan. melaksanakan. tindakan. upaya. lebih. meningkatkan semangat belajar peserta didik dalam kegiatan pembelajaran fikih Materi Pokok Mawaris dengan menggunakan metode peta konsep pada siswa kelas XI MA Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Semarang yang telah direncanakan. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi siklus sebelumnya. g. Pengamatan 1) Melakukan pertemuan dengan guru mapel untuk membahas hasil. evaluasi. tentang. proses. pembelajaran. mawaris. menggunakan metode peta konsep yang telah dilaksanakan. 2) Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format LOS. 3) Mendiskusikan dengan guru mapel tentang tindakan III yang telah dilakukan. h.. Refleksi. 33.

(60) 1) Menganalisis hasil pengamatan untuk memperoleh gambaran bagaimana dampak dari tindakan III yang telah dilakukan, hal apa saja yang perlu diperbaiki sehingga diperoleh hasil refleksi kegiatan yang telah dilakukan. 2) Identifikasi masalah dan penerapan alternatif pemecahan masalah yang terjadi pada tindakan III. 3) Hasil pengamatan dianalisis untuk memperoleh gambaran bagaimana dampak dari tindakan yang dilakukan. 5.. Tehnik Pengumpulan Data Data diperoleh dari proses pembelajaran Fikih Materi Pokok Mawaris yang dilakukan pada siswa kelas XI MA Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Semarang dan data dari sekolah. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa metode pengumpulan data, antara lain: a. Metode Observasi Metode observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.23 Metode observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian.24 Dalam kegiatan ini yang di observasi secara langsung adalah kegiatan penerapan pembelajaran fikih Materi Pokok Mawaris dengan metode peta konsep pada siswa kelas XI MA Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Semarang. Metode observasi ini memuat tiga fase esensial yaitu pertemuan perencanaan, observasi di dalam 23. Sugiyono, Metodelogi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung : Alfabeta, 2007), hlm. 203 24 S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), Cet. 4, hlm. 158. 34.

(61) kelas, dan diskusi balikan. Penelitian ini dilakukan selama 4 minggu, rincian bagan jadwal terdapat pada halaman sebelumnya.. b. Metode Tes Adalah seperangkat rangsangan (stimuli) yang mendapat jawaban yang dapat dijadikan dasar bagi penetapan skor angka.25 Metode tes ini digunakan untuk mengetahui skor nilai melalui angka yang diberikan kepada siswa dengan kriteria-kriteria penskoran sebagaimana telah tertulis. Dan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam proses pembelajaran Fikih materi pokok Mawaris dengan menggunakan Metode peta konsep. c. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, buku, transkip, surat kabar majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya.26 Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai seluk beluk MA Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Semarang, antara lain tentang sejarah singkat, letak geografis, visi misi, fasilitas sekolah, keadaan guru, karyawan, dan siswa. Dan data yang terkait dengan proses pembelajaran fikih materi pokok mawaris dengan menggunakan metode peta konsep.. 6. Tehnik Analisis Data a. Fokus Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti lebih memfokuskan pada ruang lingkup masalah penelitian yang bertumpu pada Upaya meningkatkan prestasi belajar Mata pelajaran fikih Materi Pokok Mawaris dengan metode peta konsep pada siswa kelas XI MA Nurul Huda Mangkang 25. S. Margono, op. cit., hlm. 170 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta : Rineka Cipta, 2006), Cet. 13, hlm : 206 26. 35.

(62) Kulon Tugu Semarang. Dikarenakan siswa kelas XI di MA NU NURUL HUDA dibagi menjadi 3 lokal, yaitu; XI IPA, XI IPS1, dan XI IPS2. Dan berdasarkan random, peneliti cuma melaksanakan penelitian di kelas XI IPS1. Maka semua siswa yang berada dalam kelas XI IPS1 adalah subyek penelitian.. b. Instrumen Penelitian 1) Data Keaktifan Peserta didik Untuk mengetahui seberapa besar keaktifan peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar, analisis ini dilakukan pada instrumen lembar observasi dengan menggunakan tehnik deskriptif melalui prosentase. Dalam penelitian ini ada beberapa aspek yang menjadi bahan pengamatan peneliti diantaranya: A. Proses siswa memperhatikan keterangan guru. B. Proses siswa bertanya kepada guru tentang apa yang tidak difahaminya. C. Proses siswa aktif mengerjakan tugas dari guru. D. Proses siswa menjawab pertanyaan guru. E. Proses siswa membantu temannya untuk memahami penjelasan guru. Tabel 2. Tabel Lembar Observasi Aspek Pengamatan. No Nama A. B. C. D. Jumlah Aktifitas E. JUMLAH. Adapun perhitungan prosentase keaktifan peserta didik adalah setiap aspek pengamatan yang dilakukan oleh peserta. 36.

(63) didik bernilai 2 poin, jadi jika peserta didik melaksanakan semua aspek yang ada dia akan mendapatkan nilai maksimal 10 poin. Kriteria penafsiran variabel keaktifan peserta didik dalam penelitian ini ditentukan dengan: a. > 7 poin. = keaktifan peserta didik baik. b. 5 poin - 7 poin = keaktifan peserta didik cukup c. < 5 poin. = keaktifan peserta didik kurang. 2) Data Prestasi Siswa Dalam Pembelajaran Mawaris Untuk mengetahui kemampuan kognitif peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal, dianalisis dengan cara menghitung ratarata nilai ketuntasan belajar secara klasikal. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis. Tes ini berisi 10 soal pilihan ganda: Jawaban benar dengan skor 1 dan jawaban salah dengan skor 0. Tabel 3. Model Penilaian Ulangan No. Nama. Nilai. Keterangan. Data yang diperoleh dari hasil belajar peserta didik ditentukan ketuntasan belajar individu menggunakan analisis deskriptif prosentase, dengan perhitungan: Ketuntasan belajar = Jumlahnilai yang diperolehsiswa x 100% jumlah seluruhnilai. Keberhasilan dapat dilihat dari jumlah sekurang-kurangnya ketuntasan belajar 70 % dari keseluruhan peserta didik yang ada di kelas tersebut memperoleh nilai 70 (nilai ketuntasan).. 37.

(64) BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN. A. Gambaran Umum MA NU Nurul Huda Semarang Madrasah Aliyah NU Nurul Huda Kota Semarang berlokasi di jalan Kyai Gilang Nomor 36b Kauman Mangkangkulon Telpon (024)8663945 Kota Semarang Kode Pos 50155. Lokasi Madrasah berada di tengah-tengah daerah industri, jarak madrasah dengan Kota Semarang + 16 KM, dengan kota Kecamatan Tugu hanya 5 KM, dan hanya 150 meter dari jalan raya trans Semarang – Jakarta. Kelurahan Mangkangkulon, dimana madrasah ini berada adalah merupakan wilayah Kota Semarang yang paling barat yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Dati II Kendal, sebagai pintu masuk dari arah barat tentunya sangat rawan kriminalitas dan suatu tantangan yang berat bagi dunia pendidikan dimana madrasah kami berada, mengingat di sekitar lingkungan madrasah selain Pondok Pesantren juga ada Pangkalan Truk, Lokalisasi Gambilangu, dan Sub Terminal Mangkang, apalagi sekarang sedang dibangun terminal terpadu, yang jaraknya kurang dari 1 KM dari MA NU Nurul Huda. Jumlah penduduk di Kecamatan Tugu yang kurang dari 20.000 jiwa, yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian di bidang industri, pertanian dan wiraswasta, terdapat 27 buah MI/SD, MTs/SLTP ada 9 buah dan SLTA/SMK/MA ada 3 buah serta ada 11 buah Pondok Pesantren. Sebagian dari siswa MA NU Nurul Huda adalah santri Pondok Pesantren. 1.. Sejarah Madrasah Aliyah NU Nurul Huda, sama halnya dengan MTs NU Nurul Huda, juga lembaga pendidikan yang dikelola oleh sebuah kepengurusan dan secara teknis admiunistratif di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif Cabang Kota Semarang yang didirikan pada tanggal. 38.

(65) 24 Januari 1987, yang kemudian pada tahun 1993 secara struktural disatukan. Ide Pendirian Madrasah Aliyah ini bermula ketika SMU 2 Hasanuddin pada 1985 ditutup, karena kekurangan siswa dan tidak dikelola dengan baik. Atas usul dari beberapa walisantri yang putra-putrinya belajar di Pondok Pesantren Al Ishlah dan bersekolah di MTs NU Nurul Huda mengharakan ada kelanjutan belajar setelah putra-putrinya lulus dari MTs NU Nurul Huda, mereka berharap putra-putrinya minimal berada di Pondok Pesantren selama enam tahun. Nama Nurul Huda adalah nama yang pada dasarnya diambil dari nama Madrasah Tsanawiyah yang telah berdiri lebih dahulu, dengan memakai nama tersebut diharapkan Madrasah Aliyah NU Nurul Huda tidak lepas sama sekali dengan Madrasah Tsanawiyah, baik secara historis maupun moral edukatif. Untuk merealisasikan. ide pendirian madrasah ini, dalam suatu. musyawa-rah diputuskan, bahwa untuk sementara waktu kegiatan belajar mengajar dilaksanakan menumpang di gedung MTs NU Nurul Huda, dengan waktu belajar sore hari. Dan untuk sementara waktu pula, Kepala Madrasah, Staf, Guru dan Karyawan tidak mendapatkan honorarium sampai dengan madrasah mampu membiayai dirinya sendiri. Diantara orang-orang yang ikut andil dalam penggagasan dan pendirian MA NU Nurul Huda Kota Semarang, yang mayoritas adalah guru-guru MTs, antara lain : Mudjito S., A. Hadlor Ihsan, M. Thohir Abd., Lukman Hakim, Muhyiddin S., Khaerun, Achirin Bachr, Shobirin, Ajma’in, Hasan Fauzi dan Agus Nahtadi. Adapun susunan personalia pertama MA NU Nurul Huda Kota Semarang adalah sebagai berikut : Drs. A. Hadlor Ihsan (Ka Madrasah), M. Thohir Abd. (Wakabid Kurikulum), Lukman Hakim, BA. (Wakabid Kesiswaan), Hasan Fauzi (Wakabid Humas) Muhyiddin S (TU Administrasi), Agus Nahtadi (TU Keuangan). Sedang guru bidang studinya antara lain : A. Hadlor (Quran Hadits), A. Choiruddin (Aqidah Akhlaq), Ali Hasan (Fiqih), M. Thohir (Bhs, Arab),. 39.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :