• Tidak ada hasil yang ditemukan

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN STRES KERJA PADA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT HERMANA LEMBEAN

Chindy F. Wagiu*, Febi K. Kolibu*, Afnal Asrifuddin* *Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi

ABSTRAK

Stres kerja banyak dialami oleh tenaga kerja. Salah satu faktor yang menyebabkan tenaga kerja cenderung mengalami stres kerja yaitu beban kerja yang berlebih. Tingkat pembebanan yang terlalu tinggi dialami oleh pekerja memungkinkan pemakaian energi yang berlebihan sehingga menyebabkan terjadinya overstres. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Hermana Lembean. Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan rancangan penelitian cross sectional study yang dilaksanakan pada bulan April-Juli 2017dan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling yang berjumlah 44 responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Analisis data pada penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (p<0,05). Kesimpulannya terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Hermana Lembean. Saran bagi rumah sakit perlu penambahan jumlah perawat mengingat jumlah perawat yang masih kurang dibandingkan dengan kebutuhan pasien yang semakin meningkat, manajemen complain diperbaiki agar keluhan dari keluarga pasien bisa ditampung dalam kotak saran sehingga tidak langsung memberi keluhan kepada pihak rumah sakit khususnya perawat dan saran bagi perawat perlunya manajemen diri sehinga apabila perawat dengan beban kerja yang tinggi maka stres kerja perawat dapat di kendalikan secara efektif dan tidak mengganggu kinerja.

Kata Kunci : Beban Kerja, Stres Kerja

ABSTRACT

Working stress is experienced by many workers. Excessive workload is one factor that cause workers tend to experience work stress. Excessive loading levels experienced by workers cause excessive use of energy resulting in overstress. The purpose of this study was to understand the relationship between workload and work stress on nurses in inpatient room of Hermana Hospital Lembean. This research used analytic survey method with cross sectional study design and was conducted from April to July 2017. Total sampling was used as sampling technique with total number of respondents was 44. The instrument used in this study was a questionnaire. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with Chi-square test. The results showed that (p <0.05). In conclusion there was relationship between workload and work stress on nurses in inpatient room of Hermana hospital Lembean. As suggestion for the hospital, it is important to increase the number of nurses considering the increasing needs of patients. Complaint management can be improved by providing suggestion box so that complaints from the patient's family can be accommodated instead of to directly give the complaints to the hospital, especially to nurses on duty. Self -management is important for nurses so that if the nurses experienced high workload, the work stress can be controlled effectively and does not impair their performance.

(2)

2 PENDAHULUAN

Setiap tempat kerja dituntut untuk melakukan pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Menurut America Society of Safety and Engineering (ASSE) Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang berkaitan dengan lingkungan dan situasi kerja merupakan suatu bidang kegiatan yang bertujuan untuk mencegah semua jenis kecelakaan (Widayana dan Wiratmaja, 2014). Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) diterapkan di seluruh tempat kerja yang memiliki pekerja, termasuk Rumah Sakit.

Menurut PERMENKES RI (2014), setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan dibidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan merupakan pengertian dari tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan khususnya perawat memiliki peranan penting dalam pelayanan terhadap pasien di rumah sakit. Perawat sebagai salah satu bagian dari pemberi pelayanan keperawatan mempunyai waktu yang paling panjang di sisi pasien, memungkinkan terjadi

kelelahan kerja.

Losyk dalam Jojang (2015) mengemukakan bahwa Northwestern National Life Insurance pernah melakukan penelitian

tentang dampak stres ditempat kerja, kesimpulannya yaitu satu juta absensi ditempat kerja berkaitan dengan masalah stres, 27% mengatakan bahwa aspek pekerjaan menimbulkan stres paling tinggi dalam hidup para pekerja, 46% menganggap tingkat stres kerja sebagai tingkat stres yang sangat tinggi, satu pertiga pekerja berniat untuk langsung mengundurkan diri karena stres dalam pekerjaan dan 70% berkata stres kerja telah merusak kesehatan fisik dan mental pekerja.

Aspek lingkungan fisik dan lingkungan psikososial yang tinggi dari pekerjaan menyebabkan perawat memiliki stres yang tinggi karena setiap hari perawat akan berhadapan dengan hal-hal tersebut. Rumah Sakit Hermana Lembean ditinjau dari lokasi yang dekat dengan padat penduduk ditambah dengan Rumah Sakit ini menampung rujukan BPJS, menyebabkan tingginya jumlah pasien, banyaknya pasien yang memerlukan tindakan medis yang harus segera dilakukan dan kewajiban perawat untuk selalu siap siaga dalam melakukan tindakan perawatan pada pasien. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Antara Beban Kerja Dengan Stres Kerja Pada Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Hermana Lembean”.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan yaitu metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan

(3)

3 selama bulan April-Juni 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Hermana Lembean berjumlah 44 orang.

HASIL PENELITIAN

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Hermana Lembean berdasarkan kategori Beban Kerja

Kategori Beban Kerja n % Beban Kerja Berat 23 52.3 Beban Kerja Ringan 21 47.7

Jumlah 44 100.0

Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa responden memiliki beban kerja berat sebanyak 23 responden atau 52.3% dan responden mengalami beban kerja ringan sebanyak 21 atau 47.7%. Data tersebut menunjukkan bahwa perawat yang bekerja di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Hermana Lembean sebagian besar memiliki beban kerja berat. Hal ini sesuai dengan penelitian Hariyono dkk, (2009) yang menyatakan bahwa semakin banyaknya tugas tambahan yang harus dikerjakan oleh seorang tenaga perawat maka akan menambah tingginya beban kerja demikian juga sebaliknya. Menurut Meshkati (1988) dalam Tarwaka (2015), beban kerja (workload) dapat didefinisikan sebagai suatu perbedaan antara kapasitas atau kemampuan pekerja dengan tuntutan pekerjaan yang harus dhadapi. Pekerjaan manusia bersifat mental dan fisik, maka masing-masing mempunyai tingkat pembebanan yang berbeda-beda.

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Hermana Lembean berdasarkan kategori Stres Kerja

Kategori Stres Kerja n

%

Mengalami Stres Kerja 22

50.0

Tidak Mengalami Stres Kerja 22

50.0

Jumlah 44

100.0

Berdasarkan data pada tabel 2 menunjukkan bahwa responden yang mengalami stres kerja sebanyak 22 responden atau 50% dan responden yang tidak mengalami stres kerja sebanyak 22 responden atau 50%. Dari hasil yang diperoleh kedua kategori memiliki hasil yang sama.

Stres merupakan realita kehidupan sehari-hari yang dapat menyerang siapa saja. Kebanyakan stres timbul dalam kegiatan sehari-hari, ditempat kerja dirumah, maupun didalam pekerjaan.

Seluruh tenaga kerja merupakan salah satu sasaran dari stres kerja namun pada penelitian ini dipusatkan pada perawat karena dalam suatu organisasi di rumah sakit, perawat merupakan tenaga kerja bagian kesehatan yang harus selalu siap siaga dalam menangani pasien, menghadapi situasi yang darurat seperti kondisi kesehatan pasien yang kritis, kesulitan dalam menghadapi keluarga pasien yang terlalu banyak keluhan dan sebagainya.

(4)

4 Tabel 3. Hubungan antara Beban Kerja dengan Stres Kerja Pada Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Hermana Lembean

Beban Kerja Stres Kerja O.R P Value Mengalami Stres Tidak Mengalami Stres n % n % 28.5 0,000 Berat 19 82 ,6 4 17 ,4 Ringan 3 14 ,3 18 85 ,7 Jumlah 22 50 22 50

Hasil penelitian pada tabel 3, yang dilakukan antara beban kerja dengan stres kerja diperoleh data bahwa jumlah responden yang memiliki beban kerja berat dan mengalami stres kerja yaitu sebanyak 19 responden atau 82,6%, dan responden dengan beban kerja berat dan tidak mengalami stres sebanyak 4 responden atau 17,4%. Sedangkan responden yang memiliki beban kerja ringan namun mengalami stres kerja sebanyak 3 responden atau 14,3% dan responden yang memiliki beban kerja ringan dan tidak mengalami stres sebanyak 18 responden atau 85,7%.

Terlihat dari data tersebut bahwa stres merupakan realita kehidupan setiap hari yang dapat menyerang siapa saja. Seluruh tenaga kerja merupakan salah satu sasaran dari stres kerja termasuk perawat. Persentasi terbanyak perawat yang mengalami stres dalam pekerjaan

berjenis kelamin perempuan. Besarnya persentasi perempuan yang menjadi responden dikarenakan jumlah perawat yang ada di Rumah Sakit Hermana Lembean mayoritas berjenis kelamin perempuan dengan pemikiran bahwa perawat perempuan akan lebih teliti, sabar, dan lebih bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas, sehingga tidak jarang pimpinan akan memberikan tugas tambahan karena merasa yakin pasti akan diselesaikan dengan baik.

Salah satu faktor yang menyebabkan perawat dengan beban kerja yang berat kemudian mengalami stres yaitu pelimpahan tugas pekerjaan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya jumlah perawat yang bekerja di Rumah Sakit khususnya di masing-masing ruang rawat inap .

Setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam menghadapi stres. Faktor yang menyebabkan perawat dengan beban kerja yang berat cenderung mengalami stres yaitu jarak dari rumah tempat tinggal ke tempat kerja. Seperti diketahui bahwa dalam melaksanakan tugas sebagai perawat ditentukan dengan menggunakan shift kerja. Perawat dengan jarak rumah tempat tinggal yang jauh dari tempat kerja menganggap bahwa penggiliran jadwal kerja shift pagi merupakan masalah utamanya dalam bekerja. Keluhan lain dari perawat yaitu perawat merasa ada gangguan tidur setelah pulang bekerja dari rumah sakit, perawat sering marah dan mengomel pada saat bekerja di rumah

(5)

5 sakit, perawat merasa tergantung pada orang lain dan suhu udara panas dalam ruangan tempat bekerja yang membuat parawat merasa terganggu dalam

melakukan pekerjaan.

Akan tetapi pada kenyataannya bahwa setiap orang pernah stres dan semua akan pernah mengalaminya namun kadarnya berbeda-beda serta dalam jangka waktu yang tidak sama (Hardjana, 2004 dalam Haryanti, dkk, 2013).

Hasil penelitian mengatakan bahwa sebagian besar perawat mengalami stres disebabkan oleh beban kerja berat. Tingkat pembebanan yang terlalu tinggi memungkinkan pemakaian energi yang berlebihan sehingga menyebabkan terjadinya „overstres’. Namun ada juga ditemukan dilapangan bahwa responden dengan kategori beban kerja ringan tetapi mengalami stres kerja sebanyak 3 responden atau 14.3%. Menurut Taruh (2013), beban kerja terlalu sedikit kuntitatif juga dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang. Seperti yang terlihat dari hasil tersebut bahwa responden dengan beban kerja ringan juga mengalami stres kerja. Pada pekerjaan yang sederhana dimana banyak terjadi pengulangan gerak akan timbul rasa bosan akan tetapi posisi yang monoton seperti pada saat menyelesaikan laporan dengan sikap duduk yang terlalu lama juga menyebabkan otot kaku (kaku leher) dan letih sehingga memicu terjadinya stres. Menurut Dedi A (2013) intensitas pembebanan

yang terlalu rendah memungkinkan rasa bosan dan kejenuhan atau „understres’. Seperti halnya responden dengan beban kerja ringan tetapi mengalami stres yaitu pada saat penyakit lambung kumat ketika terlambat jam makan, ada ketegangan dalam berinteraksi dengan tim lain, merasa mudah tersinggung pada saat bekerja, dan jumlah pasien sedikit didalam ruang rawat inap tetapi merasa kesal ketika menghadapi keluarga pasien yang banyak keluhan. Oleh karena itu perlu diupayakan tingkat intensitas pembebanan yang optimum yang ada diantara kedua batas yang ekstrim antara „overstres’ dan „understres’ yang tentunya berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya (Dedi A, 2013).

Pendapat dari Robbins dalam Tejasurya (2008) mengatakan bahwa faktor yang sangat mempengaruhi timbulnya stres kerja yaitu faktor organisasi seperti tuntutan kerja atau beban kerja terlalu berat membutuhkan tanggung jawab yang tinggi sehingga sangat cenderung mengakibatkan stres tinggi.

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan uji statistik chi square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Hermana Lembean dimana p value 0,000 (p<0,05). Nilai Odds Ratio (OR) = 28.5 lebih besar dari 1 (95% CI = 5.585 – 145.440) yang artinya responden yang memiliki beban kerja berat beresiko 28.5 kali lebih besar mengalami stres

(6)

6 kerja dibandingkan responden yang memiliki beban kerja ringan.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arief Fardiansyah di Puskesmas Blooto Kota Mojokerto pada tahun 2014 yaitu terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres pada perawat. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Fitria Rukmala Dewi di Ruang Perawatan RSUD RA. Basuni Gedeg Mojokerto pada tahun 2012 dengan menggunakan uji Rank Spearman diperoleh hasil bahwa ada hubungan beban kerja dengan stres pada perawat.

Hasil penelitian ini didukung juga dari hasil penelitian yang sama dilakukan oleh Haryanti, Faridah dan Puji Purwaningsih di Instalasi Gawat Darurat RSUD Kabupaten Semarang pada tahun 2013 yang menggunakan uji Kendall Tau dalam menganalisis data. Hasil penelitian yaitu terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja perawat di RSUD Kabupaten Semarang.

Penelitian yang dilakukan oleh Lilis Prihatini di Tiap Ruang Rawat Inap RSUD Sidikalang tahun 2008 diperoleh hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan stres kerja pada perawat di seluruh ruang rawat inap, dengan tingkat signifikan dan koefisien korelasi bervariasi. Pada ruang perawatan bedah terdapat hubungan beban kerja dengan stres kerja. Pada perawat yang bertugas diruang perawatan anak juga terdapat hubungan beban kerja dengan stres kerja perawat. Di ruang

perawatan penyakit dalam juga mendapatkan hasil bahwa terdapat hubungan beban kerja dengan stres kerja. Jadi pada kesimpulannya beban kerja merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya stres kerja.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan di Rumah Sakit Hermana Lembean pada perawat di Ruang Rawat Inap dengan jumlah respoden 44 perawat, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Hermana Lembean melalui pengujian data dengan menggunakan uji statistik chi-square dimana p=0.000 (p ≤ 0,05) maka Ho ditolak.

DAFTAR PUSTAKA

Dewi F. 2012. Hubungan Beban Kerja Dan Lama Masa Kerja Dengan Stres Pada Perawat Di Ruang Perawatan 2 RSUD RA. Basuni Gedeg Mojokerto. Journal Medica Majapahit, Vol. 4, No. 1, Maret 2012. (Online), (http:// ejurnalp2m. stikesmajapahitmojokerto.ac.id/index.p hp/MM/article/view/46 diakses pada 18 Juli 2017)

Fardiansyah A. 2014. Analisis Hubungan Beban Kerja Dan Lama Masa Kerja Dengan Stres Pada Perawat Di Puskesmas Blooto Kota Mojokerto.

(7)

7 Journal Medica Majapahit, Vol. 6, No.2, Oktober 2014. (Online), (http:// ejurnalp2m.

stikesmajapahitmojokerto.ac.id/index.p hp/MM/article/view/19 diakses pada 18 Juli 2017)

Haryanti., Aini F., Purwaningsih P. 2013. Hubungan Antara Beban Kerja Dengan Stres Kerja Perawat Di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Semarang. Journal Management Keperawatan, Vol. 1, No.1, Mei 2013.

Haryono W, Suryan D, Wulandari Y. 2009. Hubungan Antara Beban Kerja, Stres Kerja Dan Tingkat Konflik Dengan Kelelahan Kerja Perawat Di Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI Kota Yogyakarta. Journal. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan. Yogyakarta. (Online), (https://www.

google.co.id/urljournal.uad.ac.id%2Find ex.php KesMas-articledownload.pdf diakses pada 29 Juli 2017)

Jojang H. 2015. Hubungan Antara Shift Kerja Dan Kepuasan Kerja Dengan Stres. Kerja Pada Perawat Dan Bidan Di Rumah

Sakit Islam Sitti Maryam Manado. Skripsi. Manado: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Samratulangi Manado.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan. Jakarta.

Taruh F, 2013. Stres Kerja. Manado: Daniel Perkasa.

Tarwaka, 2015. Dasar-Dasar Pengetahuan Ergonomi Dan Aplikasi Di Tempat Kerja. Edisi Kedua. Surakarta: Harapan Press.

Widayana I, Wiratmaja I. 2014. Kesehatan Dan Keselamatan Kerja. Yogyakarta:

(8)

Referensi

Dokumen terkait

Judul Penelitian : Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Kepuasan Pasien di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Doloksanggul dan Rumah Sakit Umum HKBP Balige.. Nama

Responden dengan tingkat pendidikan rendah yang melakukan tindakan pengolahan sampah rumah tangga baik sebanyak 4 orang, yang melakukan tindakan pengolahan sampah

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT JALAN PUSKESMAS RATAHAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA PERIODE DESEMBER 2013- MEI 2014..

Dari hasil pengukuran kelelahan kerja didapatkan hasilpada shift pagi terdapat 1 perawat dengan tingkat kelelahan kerja normal (8,3%), 10perawat mengalami kelelahan

Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis apakah terdapat hubungan antara pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan jumlah anggota keluarga dengan usia pertama

3 Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan dokter dan perawat di RSUD Kota Kotamobagu diperoleh informasi bahwa dokter dan perawat sering tidak menggunakan

Kandou Manado Hasil analisis hubungan antara faktor supervisi dengan penerapan universal precaution oleh perawat, menunjukkan bahwa responden dengan beban kerja

Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara masa kerja, pendidikan dan pelatihan, iklim kerja, kompensasi dan motivasi dengan kinerja perawat di