RENCANA
KERJA 2016
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
KATA PENGANTAR
Penyelenggaraan sistem perencanaan pembangunan diharapkan
menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan; dengan memperhatikan
penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan dan
berkelanjutan untuk terciptanya Good Governance.
Salah satu kerangka perencanaan untuk mewujudkan sistem
manajemen dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan industri
melalui tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI) seluruh unit kerja di
lingkungan Kementerian Perindustrian, maka pada setiap tahun
anggaran seluruh unit kerja perlu menyusun Rencana Kerja (RENJA)
sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004
tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. RENJA merupakan
penjabaran lebih lanjut dari Undang-undang No. 3 Tahun 2014 tentang
Perindustrian, Rencana Induk Pembangunan Industri Prioritas (RIPIN)
2015 – 2035, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015 –
2019 dan Rencana Strategis (RENSTRA) 2015 – 2019 yang dilaksanakan
dalam program kegiatan tahunan.
Untuk mewujudkan sistem manajemen pemerintahan yang baik
serta memenuhi amanat sebagaimana dimaksud, Biro Perencanaan
menyusun Rencana Kerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016 sebagai
acuan dalam pelaksanaan program dan kegiatan untuk mencapai
sasaran dan target yang ditetapkan.
Jakarta, Juni 2015
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A.
LATAR BELAKANG ... 1
B.
MAKSUD DAN TUJUAN ... 1
C.
RUANG LINGKUP ... 1
BAB II ARAH KEBIJAKAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN ... 2
BAB III RENCANA KERJA ... 6
A.
SASARAN TAHUN 2016 ... 6
B.
PROGRAM DAN ANGGARAN TAHUN 2016 ... 7
C.
PROGRAM PRIORITAS TAHUN 2016 ... 8
D.
RENCANA PROGRAM, KEGIATAN DAN ANGGARAN TAHUN 2016 ... 9
BAB IV PENUTUP ... 32
LAMPIRAN - RINCIAN KEGIATAN, OUTPUT DAN KOMPONEN KEMENPERIN
TAHUN 2016 ... 33
A.
Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Kimia, Tekstil, dan
Aneka ... 33
B.
Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Berbasis Agro ... 40
C.
Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Logam, Mesin,
Alat Transportasi, dan Elektronika ... 48
D.
Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Kecil dan
Menengah ... 54
E.
Program Percepatan Penyebaran dan Pemerataan Pembangunan
Industri ... 59
F. Program Peningkatan Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri
Internasional ... 62
G.
Program Pengembangan Teknologi dan Kebijakan Industri ... 65
H.
Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur
Kementerian Perindustrian ... 86
I. Program Pengembangan SDM Industri dan Dukungan Manajemen
Kementerian Perindustrian ... 89
J. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kementerian
Perindustrian ... 100
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam rangka pelaksanaan program pembangunan industri, maka
pada tahun anggaran 2016 Kementerian Perindustrian menyusun
Rencana Kerja (RENJA) yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari
Undang-undang No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, Rencana
Induk Pembangunan Industri Prioritas (RIPIN) 2015 – 2035, Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015 – 2019 dan Rencana
Strategis (RENSTRA) 2015 – 2019. RENJA ditetapkan pada awal setiap
tahun anggaran dan merupakan suatu rencana kerja yang akan
dilaksanakan pada tahun 2016.
B. MAKSUD DAN TUJUAN
Rencana Kerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016 ini merupakan
pedoman bagi seluruh unit kerja di lingkungan Kementerian
Perindustrian dalam melaksanakan program dan kegiatan
pembangunan industri pada tahun 2016.
C. RUANG LINGKUP
Rencana Kerja ini disusun dengan ruang lingkup meliputi:
1. Arah kebijakan sektor industri Tahun 2016;
2. Program Prioritas Tahun 2016:
BAB II ARAH KEBIJAKAN KEMENTERIAN
PERINDUSTRIAN
Pada tahun 2016 industri pengolahan di targetkan tumbuh sebesar 5,5 - 6,0
persen, dimana industri nonmigas ditargetkan tumbuh 6,9 persen.
Untuk dapat mencapai sasaran pengembangan industri pengolahan tahun
2016, maka arah kebijakan pembangunan industri pengolahan sesuai
dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan Perwilayahan Industri di luar Pulau Jawa: (a) Wilayah
Pusat Pertumbuhan Industri terutama yang berada dalam Koridor
ekonomi; (b) Kawasan Peruntukan Industri; (c) Kawasan Industri; dan
(d) Sentra IKM. Strategi pengembangan perwilayahan industri adalah:
a. Memfasilitasi pembangunan 14 Kawasan Industri (KI) yang
mencakup: (i) Bintuni - Papua Barat; (ii) Buli - Halmahera
Timur-Maluku Utara; (iii) Bitung – Sulawesi Utara, (iv) Palu - Sulawesi
Tengah; (v) Morowali - Sulawesi Tengah; (vi) Konawe – Sulawesi
Tenggara; (vii) Bantaeng - Sulawesi Selatan; (viii) Batulicin -
Kalimantan Selatan; (ix) Jorong - Kalimantan Selatan; (x) Ketapang -
Kalimantan Barat; (xi) Landak – Kalimantan Barat, (xii) Kuala
Tanjung, Sumatera Utara, (xiii) Sei Mangke – Sumatera Utara; dan
(xiv) Tanggamus, Lampung.
b. Membangun paling tidak satu kawasan industri di luar Pulau Jawa.
c. Membangun 22 Sentra Industri Kecil dan Menengah (SIKIM) yang
trdiri dari 11 di Kawasan Timur Indonesia khususnya Papua, Papua
Barat, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur),
dan 11 di Kawasan Barat Indonesia.
d. Berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan dalam
membangun infrastruktur utama (jalan, listrik, air minum,
telekomunikasi, pengolah limbah, dan logistik), infrastruktur
pendukung tumbuhnya industri, dan sarana pendukung kualitas
kehidupan (Quality Working Life) bagi pekerja.
2. Penu
9 rib
tumb
unit
mend
moda
a. In
i.
ii.
Gambar
umbuhan
bu usaha
buh di lua
usaha.
dorong in
al dalam n
ndustri pen
Hasil-ha
pengolah
produk
gula, ba
hutan d
Produk
petrokim
sintetik
penunja
obatan;
I Pemban
Populasi
industri
ar Jawa,
Strategi u
nvestasi b
negeri, teru
ngolah su
asil perta
h minyak
karet, ind
ahan pen
an perkeb
turunan
mia hulu,
dan bah
ang pertah
ngunan 14
Industri d
berskala
serta tum
utama pe
baik mela
utama pa
umber day
anian/per
k sawit (o
dustri coke
nyegar, pa
bunan lain
Migas (
, kimia o
han plasti
hanan, pla
4 Kawasa
dengan m
besar da
mbuhnya
enumbuh
alui penan
ada:
ya alam, ya
rkebunan
leokimia),
elat, indu
akan, ser
nnya.
(petrokimi
organik, p
ik, karet
astik dan
an Industr
menambah
an sedang
Industri K
han popu
naman m
aitu indus
yang
, kemurgi
stri panga
rta indust
ia) yang
pupuk, g
sintetik,
karet hili
ri di Luar
h paling ti
g dimana
Kecil seki
ulasi adal
modal asin
stri pengo
mencakup
i, industri
an termas
tri pengol
mencaku
garam, se
serat tek
ir, farmas
r Jawa
idak sekit
50 perse
itar 20 rib
lah denga
ng maupu
lah:
p indust
i karet da
suk indust
lahan ha
up indust
emen, res
kstil, kim
si dan oba
tar
en
bu
an
un
tri
an
tri
sil
tri
sin
mia
at-iii. Mineral hasil pertambangan yang mencakup industri pengolahan
dan pemurnian besi baja dasar, pengolahan dan pemurnian
bukan besi (aluminium, tembaga, dan nikel), pembentukan
logam, logam untuk industri strategis, pengolahan logam tanah
jarang.
b. Industri penghasil barang konsumsi kebutuhan dalam negeri yang
padat tenaga kerja: industri mesin – permesinan, tekstil dan produk
tekstil, alat uji dan kedokteran, alat transportasi, kulit dan alas kaki,
alat kelistrikan, elektronika dan telematika.
c. Industri penghasil bahan baku, bahan setengah jadi, komponen, dan
sub-assembly (pendalaman struktur).
d. Industri yang memanfaatkan kesempatan dalam jaringan produksi
global baik sebagai perusahaan subsidiary, contract manufacturer,
maupun sebagai pemasok independen (Global Production Network).
e. Di samping itu, Industri Kecil dan Menengah (IKM) akan dibina agar
dapat terintegrasi dengan rantai nilai industri pemegang merek
(Original Equipment Manufacturer, OEM) di dalam negeri dan
menjadi basis penumbuhan populasi industri besar / sedang.
3. Peningkatan Daya Saing dan Produktivitas (nilai ekspor dan nilai
tambah per tenaga kerja) dengan strategi sebagai berikut:
a. Peningkatan Efisiensi Teknis
i. Pembaharuan/revitalisasi permesinan industri;
ii. Peningkatan dan pembaharuan keterampilan tenaga kerja;
iii. Optimalisasi keekonomian lingkup industri (economic of scope)
melalui pembinaan klaster industri.
b. Peningkatan Penguasaan Iptek/Inovasi
i. Infrastruktur mutu (measurement, standardization, testing, and
quality);
ii. Layanan perekayasaan dan teknologi;
iii. Penyelenggaraan riset dan pengembangan teknologi;
iv. Penumbuhan entrepreneur berbasis inovasi teknologi
(teknopreneur).
c. Peningkatan Penguasaan dan Pelaksanaan Pengembangan Produk
Baru (New Product Development) oleh industri domestik.
d. Pembangunan Faktor Input
i. Peningkatan kualitas SDM Industri;
ii. Akses ke sumber pembiayaan yang terjangkau.
Fasilitasi dan pemberian insentif dalam rangka peningkatan daya saing dan
produktivitas diprioritaskan pada: (1) industri strategis menurut Kebijakan
Industri Nasional; (2) industri maritim; dan (3) industri padat tenaga kerja.
Kebijakan fiskal terhadap impor bahan baku, komponen, barang setengah
jadi diharmonisasikan sesuai dengan rantai pertambahan nilai berikutnya di
dalam negeri.
BAB III RENCANA KERJA
A. SASARAN TAHUN 2016
Sasaran pembangunan sektor industri yang akan dicapai pada tahun
2016 seperti terlihat pada tabel berikut.
Tabel 1 Sasaran Pembangunan Industri Tahun 2016
NO
Sasaran Pembangunan Industri
Satuan
2015
1 Pertumbuhan sektor industri nonmigas
%
6,9
2 Kontribusi industri nonmigas terhadap PDB
%
21
3
Kontribusi ekspor produk industri terhadap total
ekspor
% 66,9
4 Jumlah tenaga kerja di sektor industri
Juta orang
16,01
5
Rasio impor bahan baku sektor industri terhadap
PDB sektor industri nonmigas
% 39,41
6 Nilai Investasi sektor industri
Rp Trilyun
305,6
7
Persentase nilai tambah sektor industri yang
diciptakan di luar Pulau Jawa
% 28,06
Sasaran Pertumbuhan sektor Industri nonmigas pada tahun 2016
adalah sekitar 6,9 persen, dengan sasaran pertumbuhan tersebut,
maka kontribusi industri nonmigas terhadap PDB pada tahun 2016
diharapkan dapat mencapai 21 persen. Kontribusi ekspor produk
industri terhadap total ekspor yang pada tahun 2016 diperkirakan
sebesar 66,9 persen. Seiring dengan kondisi diatas, tenaga kerja di
sektor industri non migas yang pada tahun 2016 diperkirakan
sebanyak 16,01 juta orang dan ketergantungan terhadap bahan baku
impor diharapkan akan semakin menurun menjadi 39,41 persen pada
tahun 2016.
Proyeksi kebutuhan Investasi untuk mendukung pertumbuhan sektor
industri yang pada tahun 2016 diperkirakan sebesar Rp 305,6 trilyun
dan penyebaran industri diluar pulau Jawa dengan indikator
persentase nilai tambah sektor industri yang diciptakan di luar Pulau
Jawa, yang pada tahun 2016 sebesar 28,06 persen.
B. PROGRAM DAN ANGGARAN TAHUN 2016
Dalam rangka mencapai sasaran pembangunan sektor industri tahun
2016, Kementerian Perindustrian didukung dengan anggaran per
program sebagaimana terlihat pada tabel berikut :
Tabel 2 Program dan Anggaran Tahun 2016
NO
PROGRAM
UNIT KERJA
ANGGARAN
(Rp.000)
1
Program Penumbuhan dan
Pengembangan Industri Kimia, Tekstil,
dan Aneka
Ditjen IKTA
302.704.400
2
Program Penumbuhan dan
Pengembangan Industri Berbasis Agro
Ditjen IA
245.756.000
3
Program Penumbuhan dan
Pengembangan Industri Logam, Mesin,
Alat Transportasi, dan Elektronika
Ditjen
ILMATE
231.059.000
4
Program Penumbuhan dan
Pengembangan Industri Kecil dan
Menengah
Ditjen IKM
529.668.000
5
Program Percepatan Penyebaran dan
Pemerataan Pembangunan Industri
Ditjen PPI
652.993.000
6 Program
Peningkatan Ketahanan dan
Pengembangan Akses Industri
Internasional
Ditjen KPAII
50.262.000
7
Program Pengembangan Teknologi dan
Kebijakan Industri
BPPI 777.309.400
8
Program Pengawasan dan Peningkatan
Akuntabilitas Aparatur Kementerian
Perindustrian
Inspektorat
Jenderal
49.569.000
9
Program Pengembangan SDM Industri
dan Dukungan Manajemen Kementerian
Perindustrian
Sekretariat
Jenderal
1.060.892.700
10
Program Peningkatan Sarana dan
Prasarana Aparatur Kementerian
Perindustrian
Sekretariat
Jenderal
18.231.300
C. PROGRAM PRIORITAS TAHUN 2016
Dalam rangka melaksanakan Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2015
tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2016, Kementerian
Perindustrian akan melaksanakan program prioritas antara lain sebagai
berikut :
1. Pengembangan Perwilayahan Industri di luar Pulau Jawa: (1) 9
Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri terutama yang berada dalam
Koridor ekonomi; (2) 22 Kawasan Peruntukan Industri; (3) 17
Kawasan Industri; dan (4) 8 Sentra IKM;
2. Fasilitasi Pembangunan (1) Bufferstock Bahan Baku Kapas di Jawa
Barat dan Bufferstock Kulit di Jawa Timur (lokasi); (2) pabrik
pupuk NPK di Aceh kapasitas 100.000 ton/tahun; (3) Mould and
Dies center; (4) Pusat Pengembangan Teknologi Industri Mesin
Perkakas dan Industri Alat Kesehatan; (5) Alsintan Center di luar
Pulau Jawa (Sumbar, Kalbar, Sulsel, NTB,NTT, dan Kaltim);
3. Revitalisasi Perusahaan Industri Tekstil dan Aneka;
4. Pembuatan prototype kereta api penumpang;
5. Pembangunan dan Pengembangan 5 (lima) Technopark;
6. Penyusunan Front End Enginering Design (FEED) 1 Pabrik
Methanol berbasis gasifikasi batubara (low rank coal) dengan
kapasitas 500.000 ton/tahun;
7. Penyusunan Detail Enginering Design (DED) pabrik Paracetamol
kapasitas 10.000 ton/th, amoxicilin kapasitas 750 ton/th, garam
farmasi 6.000 ton/th, Dextrose for infusion 6.000 ton/th, Vitamin C
kapasitas 3.000 ton/th, Sefalosporin kapasitas 150 ton/th;
8. Pengembangan Industri Oleokimia dan Kemurgi.
9. Pengembangan Industri Hilir Rumput Laut.
10. Fasilitasi Pengembangan produk untuk sentra, UPT dan IKM;
11. Restrukturisasi Mesin dan Peralatan IKM;
12. Penumbuhan Wirausaha Baru Industri Kecil;
14. Penyelenggaraan Pendidikan Vokasi dan Kejuruan Industri;
15. Penyusunan dan Penerapan SKKNI, RSNI dan SNI industri;
16. Penguatan Kemampuan Balai Besar dan Baristand Industri melalui
pemutakhiran peralatan laboratorium pengujian; dan peningkatan
sarana dan prasarana gedung sesuai dengan standar pelayanan
publik (standard ombudsman) dalam rangka peningkatan daya
saing dan produktifitas industri;
17. Penyusunan Analisis Dampak Perjanjian-Perjanjian Kerjasama
Internasional dan Analisa Penyusunan Strategi Promosi Investasi
Industri Pengolah Sumber Daya Alam (berbasis agro, berbasis
mineral tambang dan berbasis migas);
18. Penyusunan Rekomendasi Pemberdayaan Produk Industri Dalam
Negeri untuk Penurunan Rezim Impor.
D. RENCANA PROGRAM, KEGIATAN DAN ANGGARAN TAHUN 2016
I.
Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Logam,
Kimia, Tekstil dan Aneka dengan alokasi anggaran sebesar Rp
302.704.000.000,- yang dilaksanakan oleh 5 (lima) Direktorat
sebagai berikut:
1. Revitalisasi dan Penumbuhan Industri Tekstil dan Aneka pada
Direktorat Industri Tekstil dan Aneka dengan alokasi anggaran
sebesar Rp 153.156.000.000,- yang digunakan untuk :
a. Fasilitasi Pembangunan Bufferstock Bahan Baku Kapas di Jawa
Barat dan Bufferstock Kulit di Jawa Timur;
b. Penyusunan RSKKNI Industri Tekstil dan Aneka;
c. Penyusunan, Penerapan dan Pengawasan standard Industri
Tekstil dan Aneka;
d. Peningkatan Penguasaan Pasar;
2. Revitalisasi dan Penumbuhan Industri Kimia Hilir pada Direktorat
Industri Kimia Hilir, dengan alokasi anggaran sebesar
Rp 18.672.700.000,- yang digunakan untuk:
a. Fasilitasi Pengembangan Industri Kimia Hilir;
b. Peningkatan keterkaitan Industri Kimia Hilir;
c. Penyusunan RSKKNI Industri Kimia Hilir; serta
d. Penyusunan, Penerapan dan Pengawasan standard Industri
Kimia Hilir.
3. Revitalisasi dan Penumbuhan Industri Kimia Hulu pada Direktorat
Industri Kimia Dasar dengan alokasi anggaran sebesar Rp
56.822.400.000,- yang digunakan untuk :
a. Revitalisasi / Penumbuhan Industri Pupuk;
b. Revitalisasi Pabrik Pupuk Organik;
c. Fasilitasi Penumbuhan dan Pengembangan Industri Garam;
d. Penyusunan SKKNI Industri Kimia Hulu;
e. Penyusunan, Penerapan Dan Pengawasan Standard Industri
Kimia Hulu;
f. Fasilitasi Otoritas Nasional Senjata Kimia;
g. Peningkatan Kerjasama Internasional dan Iklim Usaha Industri
Kimia Hulu;
h. Fasilitasi Center of Excellence (CoE) Industri Petrokimia; serta
i. Fasilitasi Pengembangan Industri Pupuk dan Petrokimia di
Papua Barat.
4. Revitalisasi dan Penumbuhan Industri Material Dasar Logam pada
Direktorat Industri Material Dasar Logam dengan alokasi
anggaran sebesar Rp 13.408.700.000,- yang digunakan untuk :
a. Fasilitasi Pembangunan Industri Pengolahan Hasil Tambang
Menjadi Produk dan Jasa Industri;
b. Penyusunan, Penerapan dan Pengawasan Standard Industri
Material Dasar Logam;
c. Penyusunan RSKKNI Industri Material Dasar Logam Logam;
serta
d. Peningkatan Kerjasama Internasional dan Iklim Usaha Industri
Kimia Hulu.
5. Penyusunan dan Evaluasi Revitalisasi dan Penumbuhan Basis
Industri Manufaktur pada Sekretariat Direktorat Jenderal
Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka, dengan alokasi anggaran
sebesar Rp 60.644.300.000,- yang digunakan untuk :
a. Fasilitasi Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri
Melalui verifikasi dan Sertifikasi TKDN Produk Industri Kimia,
Tekstil, dan Aneka;
b. Pembangunan dan Pengembangan Sistem Informasi dan
Database Direktorat Jenderal IKTA;
c. Fasilitasi Peningkatan Iklim Usaha, Mutu Produk, dan
Kerjasama Industri;
d. Laporan Sistem Tata Kelola Keuangan Ditjen IKTA; serta
e. Pengembangan kompetensi aparatur dan administrasi
kepegawaian Ditjen IKTA;
f. Penyusunan Dokumentasi Perencanaan, Penganggaran, dan
Evaluasi Pengembangan Industri Kimia, Tekstil dan Aneka;
g. Pemenuhan Sarana dan Prasarana Perkantoran.
II.
Program di Direktorat Jenderal Industri Agro adalah Program
Penumbuhan dan Pengembangan Industri Berbasis Agro, dengan
alokasi anggaran tahun 2016 sebesar Rp 245.756.000.000,-
yang dilaksanakan untuk membiayai 4 (empat) kegiatan sebagai
berikut:
1. Revitalisasi dan Penumbuhan Industri Hasil Hutan dan Perkebunan
pada Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan dengan
alokasi anggaran sebesar Rp 51.730.400.000,- yang digunakan
untuk:
a. Pengembangan industri oleokimia dan kemurgi dengan target
sebanyak 2 komoditas;
b. Penyusunan standard produk industri hasil hutan dan
perkebunan dengan target sebanyak 15 RSNI/SNI;
c. Partisipasi Dit. IHHP dalam sidang dan pameran di dalam negeri
maupun luar negeri dengan target sebanyak 15 partisipasi; serta
d. Pengembangan industri hasil hutan dan perkebunan lainnya
dengan target sebanyak 3 komoditas.
2. Revitalisasi dan Penumbuhan Industri Minuman dan Tembakau
pada Direktorat Industri Minuman dan Tembakau, dengan
alokasi anggaran sebesar Rp 46.642.200.000,- yang digunakan
untuk :
a. Pengembangan industri pangan dengan target sebanyak 2
komoditas;
b. Pengembangan industri bahan penyegar dengan target sebanyak
3 komoditas;
c. Penyusunan standard produk industri minuman dan tembakau
dengan target sebanyak 5 RSNI/SNI;
d. Partisipasi dalam sidang dan pameran di dalam dan luar negeri
dengan target sebanyak 15 partisipasi; serta
e. Pengembangan industri minuman lainnya dengan target
sebanyak
2 komoditas.
3. Revitalisasi dan Penumbuhan Industri Makanan, Hasil Laut dan
Perikanan pada Direktorat Industri Makanan, Hasil Laut dan
Perikanan dengan alokasi anggaran sebesar Rp 42.411.300.000,-
yang digunakan untuk :
a. Pengembangan industri pangan dengan target sebanyak 4
komoditas;
b. Pengembangan industri pakan dengan target sebanyak 1
komoditas;
c. Pengembangan industri bahan penyegar dengan target sebanyak
1 komoditas;
d. Pengembangan industri oleofood dengan target sebanyak 1
komoditas;
e. Penyusunan standard produk industri makanan, hasil laut dan
perikanan dengan target sebanyak 8 RSNI/SNI; serta
f. Promosi dan kerjasama pada industri makanan, hasil laut dan
perikanan dengan target sebanyak 8 partisipasi.
4. Penyusunan dan Evaluasi Program Penumbuhan dan
Pengembangan Industri Berbasis Agro pada Sekretariat Direktorat
Jenderal Industri Agro dengan alokasi anggaran sebesar Rp
104.972.100.000,- yang digunakan untuk :
a. Penyusunan dokumen perencanaan, penganggaran, monitoring,
evaluasi dan data dengan target sebanyak 4 dokumen;
b. Rekomendasi peningkatan iklim usaha, mutu produk dan
kerjasama industri dengan target sebanyak 9 rekomendasi;
c. Penyusunan laporan keuangan dan BMN dengan target
sebanyak 3 laporan;
d. Fasilitasi kepesertaan dan pelaksanaan pembinaan aparatur
dengan target sebanyak 90 orang; serta
e. Layanan perkantoran dengan target sebanyak 12 bulan layanan.
III.
Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Alat
Transportasi, Mesin, Elektronika dan Alat Pertahanan sebesar
Rp 231.059.000.000,- yang dilaksanakan oleh 5 (lima) unit Eselon
II sebagai berikut :
1. Penumbuhan Industri Alat Transportasi Darat pada Direktorat
Industri Alat Transportasi Darat (IATD) dengan alokasi anggaran
a. Fasilitasi Pembangunan Protype Kereta Penumpang;
b. Penyusunan 6 standardd IATD;
c. Peningkatan Kompetensi SDM IATD;
d. Fasilitasi Pengembangan Teknologi IATD; serta
e. Promosi Kemampuan IATD.
2. Penumbuhan Industri Maritim, Kedirgantaraan dan Alat
Pertahanan pada Direktorat Industri Maritim, Kedirgantaraan dan
Alat Pertahanan (IMKAP) dengan alokasi anggaran sebesar Rp
27.500.000.000,- yang digunakan untuk :
a. Revitalisasi Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Nasional;
b. Penyusunan 5 standard IMKAP;
c. Peningkatan Kompetensi SDM IMKAP;
d. Pengembangan Teknologi IMKAP; serta
e. Promosi Kemampuan IMKAP.
3. Penumbuhan Industri Elektronika dan Telematika pada Direktorat
Industri Elektronika dan Telematika (IET) dengan alokasi anggaran
sebesar Rp56.000.000.000,- yang digunakan untuk :
a. Fasilitasi Pembangunan dan Pengembangan 5 (lima) ICT Center
dalam bentuk Incubator Business Center (IBC), RICE dan
Technopark (Bandung, Bali, Semarang, Batam, dan Makassar);
b. Penyusunan 15 standard IET;
c. Peningkatan Kompetensi SDM IET;
d. Pengembangan Teknologi IET; serta
e. Promosi Kemampuan IET.
4. Penyusunan dan Evaluasi Program Penumbuhan Industri Unggulan
Berbasis Teknologi Tinggi pada Sekretariat Direktorat Jenderal
Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi dengan alokasi
anggaran sebesar Rp 75.559.000.000,- yang digunakan untuk :
a. Fasilitasi Pembangunan Mould and Dies Center;
b. Penyusunan Dokumen Perencaaan, Evaluasi dan Pelaporan;
c. Fasilitasi Pembinaan Bidang IUBTT;
d. Penyusunan Rekomendasi Dukungan Kebijakan Teknis IUBTT;
e. Layanan Perkantoran; serta
f. Pengadaan Peralatan dan Failitas Perkantoran.
5. Penumbuhan Industri Elektronika dan Telematika pada Direktorat
Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP) dengan
alokasi anggaran sebesar Rp 36.000.000.000,- yang digunakan
untuk :
a. Pembangunan Pusat Pengembangan Teknologi Industri Mesin
Perkakas dan Industri Alat Kesehatan;
b. Pembangunan dan Pengembangan Alsintan Center di luar Pulau
Jawa;
c. Penyusunan 15 standardd IPAMP;
d. Peningkatan Kompetensi SDM IPAMP;
e. Pengembangan Teknologi IPAMP; serta
f. Promosi Kemampuan IPAMP.
IV.
Program Revitalisasi dan Penumbuhan Industri Kecil Menengah
dengan alokasi anggaran sebesar Rp 529.668.000.000,-,- yang
dilaksanakan oleh 4 (empat) unit Eselon II dengan kegiatan utama
sebagai berikut :
a. Fasilitasi Pengembangan Produk untuk 1.105 IKM melalui
fasilitasi peningkatan kualitas dan desain produk, bahan baku
serta sarana produksi;
b. Fasilitasi peningkatan kemampuan 170 sentra IKM baik sentra
IKM Agro, sentra IKM Kimia Tekstil dan Aneka (KTA) dan IKM
Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (LMATE);
c. Fasilitasi pembangunan wirausaha industri sebanyak 2.902
wirausaha melalui peningkatan kemampuan dan pelatihan
wirausaha industri;
d. Restrukturisasi Mesin/Peralatan IKM melalui pemberian
bantuan keringanan harga untuk pembelian mesin peralatan
produksi pada 102 IKM;
e. Fasilitasi Peningkatan Pelayanan IKM Melalui 22 UPT yakni UPT
Agro, Kimia Tekstil dan Aneka (KTA) dan Logam, Mesin, Alat
Transportasi, dan Elektronika (LMATE);
f. Fasilitasi Informasi Pasar, Promosi dan Pameran untuk 147 IKM;
g. Pengembangan industri di daerah melalui mekanisme
dekonsentrasi di 34 Propinsi dan 1 BPIPI.
h. Peningkatan kualitas Desain Kemasan dan Produk bagi IKM
melalui Klinik Hak Atas Kekayaan Intelektual IKM serta Klinik
Pengembangan Desain Merek dan Kemasan;
i. Pengembangan Tenaga Penyuluh Lapangan Ikm (TPL-IKM)
Program Beasiswa;
j. Peningkatan Mutu dan Standar IKM melalui Penyusunan RSNI,
SKKNI serta pembentukan Sekretariat OVOP;
k. Pengembangan Pembinaan IKM melalui Kerjasama dengan
Lembaga Nasional dan Internasional, Pengembangan Iklim
Usaha dan Kelembagaan, Fasilitasi Pengembangan IKM Melalui
Lembaga Pendidikan Keagamaan serta Fasilitasi Peningkatan
Akses Pembiayaan IKM.
V.
Program Pengembangan Perwilayahan Industri dengan alokasi
anggaran sebesar Rp 652.993.000.000.- yang dilaksanakan oleh 4
(empat) unit Eselon II sebagai berikut :
1. Pengembangan Fasilitasi Industri Wilayah Sumatera dan
Kalimantan pada Direktorat Pengembangan Fasilitasi Industri
Wilayah I, dengan alokasi anggaran sebesar Rp 226.534.000.000 ,-
a. Pembangunan infrastruktur di dalam Kawasan Industri Sei
Mangkei berupa pembangunan jalan poros, drainase, dan
gedung pengelola kawasan industri;
b. Penyusunan masterplan pengembangan WPPI di Sumatera dan
Kalimantan;
c. Penyusunan perencanaan pembangunan Sentra IKM di Kab.
Murung Raya, Kota Padang, Kota Tarakan, Tanjung Pinang, Kab.
Aceh Selatan;
d. Koordinasi Percepatan Pembangunan Kawasan Industri Prioritas
(Kuala Tanjung, Tanggamus, Batulicin, Landak, Ketapang,
Jorong).
2. Pengembangan Fasilitasi Industri Wilayah Jawa dan Bali pada
Direktorat Pengembangan Fasilitasi Industri Wilayah II dengan
alokasi anggaran sebesar Rp 41.300.000.000,- yang digunakan
untuk :
a. Penguatan Kerjasama WPPI Jawa dan Luar Jawa;
b. Fasilitasi Pembangunan Infrastruktur dalam WPPI di Banten,
Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah;
c. Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Industri di
Jawa Barat dan Jawa Timur;
d. Penyusunan Rencana Pembangunan Sentra IKM di Majalengka,
Magetan, dan Bangkalan;
e. Fasilitasi Pengembangan Kawasan Peruntukan Industri Melalui
Penyusunan Rencana Pembangunan Industri
Provinsi/Kabupaten/Kota.
3. Pengembangan Fasilitasi Industri Wilayah Nusa Tenggara,
Sulawesi, Maluku dan Papua pada Direktorat Pengembangan
Fasilitasi Industri Wilayah III dengan alokasi anggaran sebesar Rp
347.434.000.000.- yang digunakan untuk :
a. Pembangunan Jalan Poros, Jalan Lingkungan, dan Waste Water
Treatment Plant (WWTP) dalam Kawasan Industri Bitung,
Pembangunan Jalan Poros , Jalan Lingkungan, dalam Kawasan
Industri Palu, Peningkatan Kapasitas Politeknik di Kawasan
Industri Morowali, dan Pembangunan Akademi Komunitas
(Politeknik) di Kawasan Industri Bantaeng;
b. Fasilitasi Pembangunan Infrastruktur dalam WPPI di Sulawesi,
Maluku dan Papua;
c. Penyusunan perencanaan pembangunan Sentra IKM;
d. Koordinasi Percepatan Pembangunan Kawasan Industri Prioritas
(Teluk Bintuni, Buli, Konawe, Morowali, Bitung, Palu, dan
Bantaeng);
e. Fasilitasi Pengembangan Kawasan Peruntukan Industri Melalui
Penyusunan Rencana Pembangunan Industri
Provinsi/Kabupaten/Kota.
4. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Program pada Sekretariat
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
dengan alokasi anggaran sebesar Rp 37.725.000.000.- yang
digunakan untuk :
a. Monitoring dan evaluasi serta updating data pengembangan
sektor perwilayahan industri;
b. Rekomendasi peningkatan iklim usaha dan kerjasama
pengembangan perwilayahan industri;
c. Laporan keuangan dan BMN;
d. Pengembangan SDM aparatur yang profesional;
e. Layanan perkantoran Ditjen Pengembangan Perwilayahan
Industri.
VI.
Program Pengamanan Industri Dan Kerjasama Internasional
dengan alokasi anggaran sebesar Rp 50.262.000.000,- yang
1. Peningkatan Ketahanan Industri pada Direktorat Ketahanan
Industri dengan alokasi anggaran sebesar Rp8.263.300.000,- yang
digunakan untuk:
a. Pengamanan Industri Dalam Negeri (IDN) dari dampak Kebijakan
Regulasi dan Iklim Usaha (KRI) yang mengancam dan merugikan
Industri Dalam Negeri (IDN);
b. Pengamanan IDN dari dampak Persaingan Global;
c. Pendampingan atau monitoring IDN dari dampak persaingan
global;
d. Pendampingan atau Monitoring IDN dalam mempertahankan
pangsa pasar domestik akibat lonjakan impor;
e. Data dan informasi modul IRIS;
f. Kegiatan/Monev Bidang Ketahanan Industri Internasional;
g. Dukungan Manajemen Kinerja Direktorat Ketahanan Industri.
2. Pengembangan Kerja Sama Industri Internasional Wilayah I dan
Multilateral; pada Direktorat Pengembangan Akses Industri
Internasional Wilayah I dan Multilateral dengan alokasi Rp.
8.148.000.000,- yang digunakan untuk :
a. Penyusunan Program dan Kinerja Direktorat Wilayah I dan
Multilateral;
b. Pameran Produk dan jasa industri;
c. Penyusunan Posisi runding sektor industri;
d. Fasilitasi Pemanfaatan Rantai Suplai Global;
e. Penjajakan Kerjasama Teknik Inisiatif Baru;
f. Implementasi kerjasama teknik.
3. Pengembangan Kerja Sama Industri Internasional Wilayah II dan
Regional; pada Direktorat Pengembangan Akses Industri
Internasional Wilayah II dan Regional dengan alokasi Rp.
a. Penyusunan Program dan Kinerja Direktorat Wilayah II dan
Regional;
b. Pameran Produk dan jasa industri;
c. Penyusunan Posisi runding sektor industri;
d. Fasilitasi Pemanfaatan Rantai Suplai Global;
e. Penjajakan Kerjasama Teknik Inisiatif Baru;
f. Implementasi kerjasama teknik;
g. Peningkatan Minat investasi dari Perusahaan/Negara/Industri.
4. Peningkatan Dukungan Fasilitasi dan Kerjasama Industri
Internasional; pada Sekretariat Ditjen Ketahanan dan
Pengembangan Akses Industri Internasional dengan alokasi Rp.
24.688.700.000,- yang digunakan untuk :
a. Peningkatan kualitas Sistem Perencanaan, Penganggaran,
Evaluasi dan Pelaporan;
b. Pembangunan Kapasitas SDM Industri Dalam Penanganan
Kerjasama Internasional di Bidang Industri;
c. Peningkatan Sistem Tata Kelola Keuangan dan BMN yang
transparan dan akuntabel;
d. Penyediaan informasi kerjasama internasional yang terintegrasi;
e. Koordinasi dan Fasilitasi Pelaksanaan Kerjasam Teknik dan
Promosi Industri yang terintegrasi;
f. Pembayaran gaji dan tunjangan.
VII.
Program Pengembangan Teknologi dan Kebijakan Industri
sebesar Rp. 777.309.300.000,-. yang dilaksanakan oleh 5 (lima)
unit eselon II, 11 unit Balai Besar Industri, 11 unit Baristand
Industri dan 1 unit Balai Sertifikasi Industri sebagai berikut :
1. Pengkajian Kebijakan Iklim dan Usaha Industri oleh Pusat
Pengkajian Kebijakan Dan Iklim Usaha Industri dengan alokasi
a. Penyusunan Rekomendasi Kebijakan Perpajakan Sektor
Industri;
b. Penyusunan Rekomendasi Kebijakan Industri di Bidang Tarif
dan Non Tarif;
c. Partisipasi Aktif Pusat PKIUI pada Fora Kerjasama Internasional;
d. Penyusunan Rancangan Keputusan Menteri Perindustrian
tentang Penetapan Pengamanan Objek Vital Nasional Sektor
Industri (OVNI);
e. Penyusunan Analisis Kebijakan Industri berbasis Sektoral dan
Kewilayahan;
f. Penyusunan kebijakan industri dalam rangka pengembangan
bentuk-bentuk fasilitas nonfiskal;
g. Konsultasi Publik Dalam Pengembangan Fasilitas Sektor
Industri;
h. Analisis Industrial terhadap Isu Aktual Sektor Industri;
i. Penyusunan Analisis Struktur Industri ;
j. Analisis Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi.
2. Perencanaan kebijakan standarddisasi industri oleh Pusat
standardisasi
dengan alokasi anggaran sebesar
Rp. 17.975.400.000,- yang digunakan untuk:
a. Perumusan 150 judul RSNI;
b. Pemeliharaan sistem manajemen mutu (SMM);
c. Diseminasi standard, Regulasi Teknis dan Penilaian Kesesuaian;
d. Penyusunan rancangan peraturan pemerintah tentang
perencanaan, pemberlakuan, pembinaan dan pengawasan SNI,
spesifikasi teknis (ST) dan pedoman tata cara (PTC) barang
dan/atau jasa industri;
e. Pembinaan dan Pengawasan Lembaga Penilaian Kesesuaian
(LPK) dalam rangka SNI, ST dan PTC wajib;
g. Koordinasi penyusunan Peraturan Menteri tentang penujukkan
LPK dalam rangka pemberlakuan SNI, ST dan PTC secara wajib.
3. Pengkajian Industri Hijau dan Lingkungan Hidup oleh Pusat
Pengkajian Industri Hijau Dan Lingkungan Hidup dengan alokasi
anggaran sebesar Rp.16.100.000.000,- yang digunakan untuk:
a. Koordinasi Nasional dan Internasional Dalam Rangka
Pengembangan Industri Hijau;
b. Penyusunan kebijakan lingkungan hidup pada sektor industri;
c. Campaign industri hijau;
d. Penyusunan standard industri hijau;
e. Fasilitasi Sertifikasi Industri Hijau;
f. Penguatan Kapasitas Lembaga Setifikasi Industri Hijau;
g. Bimbingan Teknis Auditor Industri Hijau;
h. Penganugerahan penghargaan industri hijau.
5. Perencanaan, Pelaporan dan pendukung operasional BPPI oleh
Sekretariat Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim, Dan Mutu
Industri dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 128.027.500.000,-
yang digunakan untuk :
a. Pembayaran Gaji dan tunjangan;
b. Pembayaran Remunerasi;
c. Rintisan Gelar S-3;
d. Penyelenggaraan Operasional dan Pemeliharaan Perkantoran;
e. Perencanaan, pelaksanaan dan monev program dan kerjasama;
f. Pembinaan dan tindak lanjut keuangan;
g. Publikasi Produk dan Penyuluhan Riset Industri;
h. Pembinaan SDM Fungsional dan Struktural.
5. Pengkajian Teknologi dan HKI oleh Pusat Pengkajian Teknologi
dan Hak Kekayaan Intelektual dengan alokasi anggaran sebesar
Rp. 16.175.700.000,- yang digunakan untuk :
b. Penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP)
pelaksanaan UU tentang Perindustrian terkait teknologi industri;
c. Pemasyaratan teknologi hasil litbang Balai Besar dan Baristand
Industri;
d. Penerapan Teknologi Hasil Litbang di Industri
e. Perlindungan Teknologi Hasil Litbang secara hukum (paten,
merek, desain, dll)
f. Penghargaan rintisan teknologi industri;
g. Percepatan pemanfaatan teknologi melalui DAPATI (Dana
Kemitraan Peningkatan Teknologi Industri);
h. Penelitian dan penerapan teknologi industri;
i. Perlindungan HKI hasil litbang;
j. Layanan pusat manajemen HKI.
6. Penelitian dan Pengembangan Teknologi dengan alokasi anggaran
sebesar Rp. 408.171.200.000,- yang digunakan untuk :
a. Penelitian dan pengembangan industri sebanyak 71 litbang di 11
Balai Besar;
b. Jasa pelayanan teknis berupa Sertifikasi Sistem Mutu dan
Produk, Pengujian Produk Industri, Pengujian Pencemaran
Udara, Kalibrasi Alat Inspeksi, Penerbitan SPPT – SNI.
7. Riset dan standardisasi Bidang Industri (11 Baristand Industri)
dan Balai Sertifikasi Industri dengan alokasi anggaran sebesar
Rp. 183.562.500.000,- yang digunakan untuk :
a. Penelitian dan pengembangan industri sebanyak 91 litbang di 11
Baristand Industri;
b. Jasa pelayanan teknis berupa Sertifikasi Sistem Mutu dan
Produk, Pengujian Produk Industri, Pengujian Pencemaran
Udara, Kalibrasi Alat Inspeksi, Penerbitan SPPT – SNI, Sertifikasi
Industri.
VIII.
Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur
Kementerian Perindustrian dengan alokasi anggaran sebesar Rp
49.569.000.000,- yang dilaksanakan oleh 5 (lima) unit eselon II
sebagai berikut :
1. Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Pelaksanaan Program
Pengembangan Industri Inspektorat I pada Inspektorat I dengan
alokasi anggaran sebesar Rp 4.632.600.000,- yang digunakan
untuk :
a. Layanan Audit Inspektorat I dengan komponen kegiatan meliputi
Audit Kinerja Unit Pusat dan Vertikal Inspektorat I, Audit
Pelaksaan Dana Dekonsentrasi Perindustrian Inspektorat I,
Pengawasan Untuk Tujuan Tertentu/Riksus Inspektorat I, Audit
Hibah;
b. Layanan Reviu Inspektorat I dengan komponen kegiatan meliputi
Reviu Laporan Keuangan dan BMN;
c. Layanan Monitoring dan Evaluasi Inspektorat dengan komponen
kegiatan meliputi Laporan Hasil Monitoring Dan Evaluasi Sistem
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (sakip) Inspektorat I,
Laporan Monev Efektifitas Penelitian dan Rekayasa Balai Besar
& Baristand;
d. Layanan Manajemen Kinerja Inspektorat I dengan komponen
kegiatan meliputi Layanan Manajemen Inspektorat I;
e. Dokumen Perencanaan dan Akuntabilitas Kinerja Inspektorat I
dengan komponen kegiatan meliputi Penyusunan Laporan
Kinerja.
2. Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Pelaksanaan Program
Pengembangan Industri Inspektorat II pada Inspektorat II dengan
alokasi anggaran sebesar Rp 4.352.900.000,- yang digunakan
untuk :
a. Layanan Audit Inspektorat II dengan komponen kegiatan
meliputi Audit Kinerja Unit Pusat dan Vertikal Inspektorat II,
Audit Pelaksaan Dana Dekonsentrasi Perindustrian Inspektorat
II, Pengawasan Untuk Tujuan Tertentu/Riksus Inspektorat II,
Audit Hibah;
b. Layanan Reviu Inspektorat II dengan komponen kegiatan
meliputi Reviu Laporan Keuangan dan BMN;
c. Layanan Monitoring dan Evaluasi Inspektorat II dengan
komponen kegiatan meliputi Laporan Hasil Monitoring Dan
Evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(sakip) Inspektorat II, Laporan Monitoring dan Evaluasi
Penerapan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) di
lingkungan Kementerian Perindustrian;
d. Layanan Manajemen Kinerja Inspektorat dengan komponen
kegiatan meliputi Layanan Manajemen Inspektorat II;
e. Dokumen Perencanaan dan Akuntabilitas Kinerja Inspektorat II
dengan komponen kegiatan meliputi Penyusunan Laporan
Kinerja.
3. Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Pelaksanaan Program
Pengembangan Industri Inspektorat III pada Inspektorat III dengan
alokasi anggaran sebesar Rp 4.508.600.000 ,- yang digunakan
untuk :
a. Layanan Audit Inspektorat III dengan komponen kegiatan
meliputi Audit Kinerja Unit Pusat dan Vertikal Inspektorat III,
Audit Pelaksaan Dana Dekonsentrasi Perindustrian Inspektorat
III, Pengawasan Untuk Tujuan Tertentu/Riksus Inspektorat III,
Audit Hibah;
b. Layanan Reviu Inspektorat III dengan komponen kegiatan
meliputi Reviu Laporan Keuangan dan BMN;
c. Layanan Monitoring dan Evaluasi Inspektorat III dengan
komponen kegiatan meliputi Laporan Hasil Monitoring Dan
Evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(sakip) Inspektorat III, Laporan Monitoring Dan Evaluasi
Reformasi Birokrasi;
d. Layanan Manajemen Kinerja Inspektorat III dengan komponen
kegiatan meliputi Layanan Manajemen Inspektorat III;
e. Dokumen Perencanaan dan Akuntabilitas Kinerja Inspektorat III
dengan komponen kegiatan meliputi Penyusunan Laporan
Kinerja.
4. Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Pelaksanaan Program
Pengembangan Industri Inspektorat IV pada Inspektorat IV dengan
alokasi anggaran sebesar Rp 4.569.700.000 ,- untuk kegiatan
utama meliputi :
a. Layanan Audit Inspektorat IV dengan komponen kegiatan
meliputi Audit Kinerja Unit Pusat dan Vertikal Inspektorat IV,
Audit Pelaksaan Dana Dekonsentrasi Perindustrian Inspektorat
IV, Pengawasan Untuk Tujuan Tertentu/Riksus Inspektorat IV,
Audit Hibah;
b. Layanan Reviu Inspektorat IV dengan komponen kegiatan
meliputi Reviu Laporan Keuangan dan BMN;
c. Layanan Monitoring dan Evaluasi Inspektorat IV dengan
komponen kegiatan meliputi Laporan Hasil Monitoring Dan
Evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(sakip) Inspektorat IV, Laporan Monev Program Peningkatan
Kemampuan Sentra Ikm;
d. Layanan Manajemen Kinerja Inspektorat IV dengan komponen
kegiatan meliputi Layanan Manajemen Inspektorat IV;
e. Dokumen Perencanaan dan Akuntabilitas Kinerja Inspektorat IV
dengan komponen kegiatan meliputi Penyusunan Laporan
Kinerja.
5. Dukungan Manajemen, Pembinaan, Pemantauan Tindak Lanjut
Hasil Pengawasan Serta Dukungan Teknis Inspektorat Lainnya
Inspektorat Jenderal pada Sekretariat Inspektorat Jenderal
dengan alokasi anggaran sebesar Rp 31.502.200.000,- yang
digunakan untuk :
a. Data bahan Pengawasan dan sistem informasi pengawasan;
b. Layanan Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Inspektorat Jenderal;
c. Dokumen Perencanaan dan Akuntabilitas Inspektorat Jenderal;
d. Dokumen analisa hasil pengawasan Inspektorat Jenderal;
e. Layanan Dukungan Pengawasan dan Pengembangan Sistem
Pengendalian;
f. Layanan Kepegawaian dan Pengembangan SDM Pengawasan;
g. Layanan Organisasi dan Manajemen Kinerja Inspektorat
Jenderal;
h. Layanan perkantoran Inspektorat Jenderal.
IX.
Program Pengembangan SDM Industri dan Dukungan
Manajemen Kementerian Perindustrian dengan alokasi
anggaran sebesar Rp 1.060.892.500.000,- yang dilaksanakan
oleh 5 (lima) biro dan 3 (tiga) pusat serta 24 satker unit pendidikan
dan Balai Diklat Industri (BDI) sebagai berikut:
1. Peningkatan Pelayanan Hukum dan Penataan organisasi pada Biro
Hukum dan organisasi dengan alokasi anggaran sebesar
Rp 20.052.000.000,- yang digunakan :
a. Fasilitasi Penyusunan Peraturan Perundang-undangan Bidang
Industri dan Bidang Terkait Industri;
b. Evaluasi Produk Hukum Bidang Industri;
c. Pelayanan Informasi dan Dokumentasi;
d. Layanan Bantuan Hukum; serta
e. Layanan Organisasi dan Tata Laksana.
2. Pelayanan Administrasi dan Manajemen Perkantoran Berbasis
Teknologi pada Biro Umum dengan alokasi anggaran sebesar Rp
36.899.000.000,- yang digunakan untuk :
a. Pelayanan Pengelolaan Administrasi Kementerian dan
Ketatauasahaan Pimpinan;
b. Pelayanan Pengelolaan Kerumahtanggaan dan Perlengkapan.
3. Pengembangan SDM Aparatur pada Biro Kepegawaian dengan
alokasi anggaran sebesar Rp 14.124.000.000,- yang digunakan
untuk :
a. Pembinaan dan Pengembangan ASN Kementerian Perindustrian;
b. Layanan Administrasi ASN Kementerian Perindustrian.
4. Peningkatan Sistem Tata Kelola Keuangan dan Barang Milik Negara
yang Profesional pada Biro Keuangan, dengan alokasi anggaran
sebesar Rp 131.670.000.000,- yang digunakan untuk :
a. Pembayaran gaji dan tunjangan kinerja pegawai Sekretariat
Jenderal;
b. Peningkatan Kualitas Pengelolaan Keuangan Dan BMN di
Lingkungan Kementerian Perindustrian;
c. Peningkatan Kompetensi SDM Pengelolaan Keuangan;
d. Pedoman Pengelolaan Keuangan Dan BMN.
e. Layanan Pengadaan Barang/jasa (ULP);
f. Fasilitas Operasional Otorita Asahan;
g. Pembinaan/penyelenggaraan KDEI Taiwan dan Atase
Perindustrian di Belgia dan Jepang;
5. Peningkatan Kualitas Perencanaan dan Pelaporan pada Biro
Perencanaan, dengan alokasi anggaran sebesar Rp
43.888.400.000,- yang digunakan untuk :
a. Penyusunan Perencanaan Program, Kegiatan, dan Anggaran
Kementerian Perindustrian;
b. Penyusunan Kebijakan Industri Nasional;
c. Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Industri;
d. Fasilitasi Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Industri
Daerah (Ripida);
e. Perencanaan Penguatan Struktur dan Daya Saing Industri (Staf
Ahli Menteri);
f. Fasilitasi Kesekretariatan Timnas P3DN;
g. Perencanaan Sumber Daya dan Fasilitasi Industri;
h. Penyusunan Perencanaan dan Kerjasama Investasi Industri;
i. Pemantauan, Analisa, dan Evaluasi Program dan Kegiatan; serta
j. Layanan Fungsional Perencana.
6. Pembangunan Sistem Informasi Industri yang Terintegrasi dan
Handal pada Pusat Data dan Informasi dengan alokasi anggaran
sebesar Rp 45.347.700.000,- yang digunakan untuk :
a. Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS);
b. Pembangunan Database dan Datawarehouse yang mutakhir;
c. Analisis dan Penyajian Data Industri;
d. Pengembangan Aplikasi e-goverment;
e. Pelaksanaan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE);
f. Inventarisasi Barang/Jasa Produksi dalam negeri; serta
g. Pengadaan perangkat keras, perangkat lunak dan
pengembangan data center dan Jaringan.
7. Peningkatan Pengelolaan Pelayanan Publik pada Pusat Komunikasi
Publik, dengan alokasi anggaran sebesar Rp 41.496.000.000,- yang
digunakan untuk:
a. Pengembangan Layanan Publik Kementerian;
b. Pengembangan Layanan Kehumasan Kementerian; serta
c. Penyelenggaraan Unit Pelayanan Publik (UP2) Kementerian
Perindustrian.
8. Peningkatan kualitas SDM Industri pada Pusdiklat Industri dan 7
Balai Diklat Industri dengan alokasi anggaran sebesar
Rp. 231.470.500.000,- yang digunakan untuk :
b. Penyelenggaraan Pelatihan Industri Berbasis Spesialisasi dan
Kompetensi sistem 3 in 1 (15.000 Orang);
c. Penyelenggaraan Diklat Teknis, Struktural, dan Fungsional
untuk SDM Aparatur;
d. Penguatan Balai Diklat Industri dan Unit Pendidikan Vokasi
Industri.
9. Peningkatan kualitas Pendidikan Vokasi Industri pada Pusdiklat
Industri dan 17 Satker Pendidikan yang terdiri dari pendidikan
menengah kejuruan (9 satker), pendidikan tinggi (8 satker) dengan
alokasi anggaran sebesar Rp. 495.944.900.000,- yang digunakan
untuk :
a. Penyelenggaraan Pendidikan Kejuruan Industri di 9 SMK
Berbasis Spesialisasi dan Kompetensi (Lulusan 1.490 Orang);
b. Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi Vokasi di 8 Politeknik
Industri Berbasis Spesialisasi dan Kompetensi (lulusan 2.050
Orang);
c. Penyelenggaraan Pendidikan Akademi Komunitas Industri di
Morowali, Solo, dan Cilegon (Lulusan 450 Orang);
d. Penguatan kelembagaan status pendidikan vokasi yang ada dan
fasilitasi ijin pendirian Akademi atau Politeknik di kawasan
industri atau WPPI;
e. Pengembangan Workshop, laboratorium dan TUK pada Pusat
pendidikan (Akademi Komunitas) di Kawasan Industri dan di
Pendidikan Vokasi Industri yang sudah ada;
f. Fasilitasi Pembangunan Gedung Pendidikan di Unit Pendidikan
(SMK dan Politeknik) serta AK TPT di SOLO.
X.
Program Peningkatan Sarana Dan Prasarana Aparatur
Kementerian Perindustrian dengan alokasi anggaran sebesar Rp
15.923.000.000, Kegiatan yang dilakukan adalah Pembangunan,
Prasarana Kerja pada Biro Umum dengan alokasi anggaran sebesar
Rp 15.923.000.000,- yang digunakan untuk :
a. Pengadaan perlengkapan kerja, kendaraan bermotor, peralatan
dan fasilitas pendukung gedung;
b. Pemeliharaan dan renovasi gedung dan bangunan; serta
c. Pemeliharaan sarana/perlengkapan kesehatan.
BAB IV PENUTUP
Perencanaan kerja merupakan proses penyusunan rencana kerja tahun
2016 sebagai penjabaran dari sasaran dan program yang telah
ditetapkan dalam rencana strategis, yang akan dilaksanakan oleh
instansi pemerintah melalui berbagai kegiatan tahunan. Di dalam
rencana kerja ditetapkan rencana capaian kerja tahunan untuk seluruh
indikator kinerja yang ada pada tingkat sasaran dan kegiatan.
Penyusunan rencana kerja tahun 2016 dilakukan seiring dengan
agenda penyusunan kebijakan dan anggaran, mengacu pada Peraturan
Menteri Perindustrian Nomor 105/M-IND/PER/10/2010 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perindustrian, dan juga
mengacu pada Peta Strategi Kementerian Perindustrian, serta
merupakan komitmen bagi instansi untuk mencapainya dalam tahun
tertentu. Untuk itu Rencana Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun
2016 ini merupakan acuan bagi Kementerian Perindustrian dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsi masing-masing, sekaligus
sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan administrasi dalam
lingkungan Kementerian Perindustrian. Untuk itu dalam rangka
memenuhi sasaran tugas dan fungsi Kementerian Perindustrian perlu
diambil langkah-langkah seoptimal mungkin melalui penyusunan
rencana kegiatan yang lebih mantap berdasarkan skala prioritas
didukung dengan tertib hukum, administrasi dan keuangan.
Selanjutnya dalam rangka mewujudkan program/kegiatan yang berdaya
guna, maka diperlukan adanya kerja keras yang terarah, terkoordinasi
dengan baik antara keseluruhan unit/instansi yang terkait baik internal
maupun eksternal.
LAMPIRAN - RINCIAN KEGIATAN, OUTPUT
DAN KOMPONEN KEMENPERIN TAHUN 2016
A. Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Kimia, Tekstil,
dan Aneka
1. Revitalisasi dan Penumbuhan Industri Tekstil dan Aneka
No Sasaran Kegiatan(Output)/Komponen
Tahun 2016 Prakiraan Maju
volume Satuan Biaya
Jumlah Alokasi (Juta Rupiah)
Volume Jumlah Alokasi (Juta Rupiah)
2017 2018 2019 2017 2018 2019
01 Regulasi Pemberlakuan SNI Wajib Produk Industri Tekstil
dan Aneka 1 3.265,0 2 2 2 14.779,0 15.848,0 16.996,0
Penyusunan Regulasi SNI Wajib Produk Industri Tekstil dan Aneka
1 952,0 952,0
Penerapan dan Pengawasan SNI Wajib Produk Industri Tekstil dan Produk Tekstil
1 2.190,0 2.190,0
Partisipasi Rapat/Seminar Terkait SNI Wajib 1 123,0 123,0
02 RSNI/ SNI Produk Industri Tekstil dan Aneka 5 2.391,0 12 12 12 5.111,0 5.623,0 6.185,0
Identifikasi dan Penentuan RSNI Produk Industri Tekstil dan Aneka
3 87,3 262,0
Penyusunan Draft RSNI Produk Industri Tekstil dan Aneka
5 345,8 1.729,0
Fasilitasi Konsensus SNI Produk Industri Tekstil dan Aneka
3 133,3 400,0
03 SKKNI Industri Tekstil dan Aneka 2 6.392,0 3 3 3 27.894,0 30.400,0 33.136,0
Bimbingan Teknis SDM Industri Tekstil dan Aneka 16 200,0 3.200,0
Penguatan Lembaga Kompetensi SDM Industri Tekstil dan Aneka
1 1.174,0 1.174,0
Identifikasi dan Penentuan RSKKNI Industri Tekstil dan Aneka
3 54,0 162,0
Penyusunan Draft RSKKNI Industri Tekstil dan Aneka 2 728,0 1.456,0
Fasilitasi Konvensi SKKNI Industri Tekstil dan Aneka 2 200,0 400,0
04 Revitalisasi Perusahaan Industri Tekstil dan Aneka 85 103.154,0 175 175 175 246.754,0 247.377,0 254.018,0
Fasilitasi Tim Pengarah, Tim Teknis dan Tim Pendukung Program
1 755,0 755,0
Sosialisasi dan Publikasi Program 8 162,5 1.300,0
Penyusunan Permen dan Juknis Program 2 196,5 393,0
Bantuan Potongan Harga Pembelian Mesin dan Peralatan
1 89.000,0 89.000,0
Pengelolaan Operasional Program dan Verifikasi Perusahaan yang Mengikuti Program
2 5.500,0 11.000,0
Fasilitasi Rapat Tim Pengarah dan Tim Teknis Program 3 235,3 706,0 05 Bimbingan Teknis Peningkatan Kemampuan Pengelolaan
Usaha Industri Tekstil dan Aneka
10 1.331,0 20 20 20 2.531,0 2.546,0 2.561,0
Identifikasi Peningkatan Kemampuan Pengelolaan Usaha Industri Tekstil dan Aneka
1 131,0 131,0
Bimbingan Teknis Peningkatan Kemampuan Pengelolaan Usaha Industri Tekstil dan Aneka
1 1.200,0 1.200,0
06 Keterkaitan Industri Tekstil dan Aneka 200 15.273,0 350 350 350 38.552,0 42.341,0 46.504,0
Penguatan dan pengembangan keterkaitan Industri Tekstil dan Aneka
1 993,0 993,0
Peningkatan Akses Pasar Industri Tekstil dan Aneka 10 1.341,3 13.413,0
No Sasaran Kegiatan(Output)/Komponen
Tahun 2016 Prakiraan Maju
volume Satuan Biaya
Jumlah Alokasi (Juta Rupiah)
Volume Jumlah Alokasi (Juta Rupiah)
2017 2018 2019 2017 2018 2019
07 Dokumen Perencanaan dan Penganggaran 1 393,0 1 1 1 3.008,0 3.171,0 3.342,0
Penyusunan Dokumen Perencanaan dan Penganggaran 1 393,0 393,0
08 Dokumen Pelaporan dan Data 1 957,0 4 4 4 7.326,0 7.722,0 8.140,0
Penyusunan Dokumen Pelaporan dan Data Industri 1 957,0 957,0 09 Terbentuknya Lembaga Penyediaan Bahan Baku Kapas
dan Kulit
20.000,0 2 2 2 25,0 25,0 25,0
Pendirian Bufferstock Bahan Baku Kapas 1 14.000,0 14.000,0
Pendirian Bufferstock Bahan Baku Kulit (Material Center)
1 6.000,0 6.000,0
10 Pendirian Industri Technical Textile 0,0 1 1 1 0,0 700.000,0 0,0 11 Pendirian Lab Uji Dalam Rangka Penerapan dan
Pengawasan SNI Wajib Industri Tekstil dan Aneka
0,0 1 1 1 40.000,0 40.000,0 40.000,0
Jumlah 153.156,0 571 571 571 385.980,0 1.095.053,0 410.907,0
2. Revitalisasi dan Penumbuhan Industri Kimia Hilir
No Sasaran Kegiatan(Output)/Komponen
Tahun 2016 Prakiraan Maju
volume Satuan Biaya
Jumlah Alokasi (Juta Rupiah)
Volume Jumlah Alokasi (Juta Rupiah)
2017 2018 2019 2017 2018 2019
01 Rekomendasi Iklim Usaha Industri Kimia Hilir 1 379,5 1 1 1 585,7 664,2 708,7
Persiapan Pembinaan dan Pengawasan Implementasi GHS
1 22,0 22,0
Diseminasi Petunjuk Teknis Implementasi GHS 1 182,0 182,0
Monitoring Penerapan GHS di Pabrik Produk Industri Kimia Hilir
1 55,5 55,5
Fasilitasi Verifikasi TKDN Perusahaan Industri Kimia Hilir dan Profil Komoditi Industri Kimia Hilir
1 101,0 101,0
Forum Komunikasi Teknologi Industri Semen dan Monitoring GRK
1 19,0 19,0
02 Kerjasama Industri Kimia Hilir di dalam dan luar negeri 7 526,0 7 7 7 636,7 700,4 770,4
Perundingan di dalam dan luar negeri 1 393,0 393,0
Penyusunan Posisi Runding Sektor IKH 1 133,0 133,0 03 Rekomendasi Kebijakan Pengamanan Bahan Baku, Bahan
Penolong dan Energi
8 2.883,0 8 8 8 2.055,5 2.261,1 2.487,2
Forum dan Rapat Koordinasi Fasilitasi Pengembangan Industri
1 1.982,0 1.982,0
Pertemuan Teknis Fasilitasi Pengembangan Industri 1 901,0 901,0 04 Pilot Project untuk mendukung pengembangan Industri
Kimia Hilir
3 0,0 2 2 2 152.000,0 45.000,0 45.000,0 05 Bantuan Mesin dan Peralatan Pengembangan Industri Kimia
Hilir
4 2.345,0 4 4 4 4.913,7 5.405,1 5.945,6
Optimalisasi bantuan mesin dan peralatan 1 1.025,0 1.025,0
Fasilitasi peralatan pengembangan Industri Kimia Hilir 1 1.320,0 1.320,0
06 Promosi/ Pameran Industri Kimia Hilir 60 1.141,0 60 60 60 1.255,6 1.381,1 11.519,2
Partisipasi IKH dalam Pameran dalam Negeri 1 443,0 443,0
Partisipasi IKH dalam Pameran Luar Negeri 1 698,0 698,0
07 SKKNI Industri Kimia Hilir 2 774,0 2 2 2 1.492,9 3.592,2 1.701,4
Penyusunan Rencana Induk Pengembangan SKKNI 1 50,0 50,0
Pembentukan Tim Perumus dan Verifikasi 1 210,0 210,0
No Sasaran Kegiatan(Output)/Komponen
Tahun 2016 Prakiraan Maju
volume Satuan Biaya
Jumlah Alokasi (Juta Rupiah)
Volume Jumlah Alokasi (Juta Rupiah)
2017 2018 2019 2017 2018 2019 Rapat Teknis Penyusunan RSKKNI 1 153,0 153,0
Pra Konvensi 1 130,0 130,0
Fasilitasi Konvensi 1 130,0 130,0
Pelaporan 1 1,0 1,0 08 Bimbingan Teknis dalam Rangka Peningkatan Daya Saing
Industri Kimia Hilir
40 1.741,0 40 40 40 1.915,4 2.106,8 2.317,4
Perencanaan Bimbingan Teknis 1 257,0 257,0
Pelaksanaan Bimbingan Teknis 1 1.483,0 1.483,0
Evaluasi Pelaksanaan Bimbingan Teknis 1 1,0 1,0 09 Regulasi Pemberlakuan SNI Wajib Produk Industri Kimia
Hilir 3 5.743,7 3 3 3 5.697,3 6.267,0 6.893,7
Analisa awal 1 170,0 170,0
Penyusunan Peraturan Menteri Perindustrian 1 230,0 230,0
Penyusunan Petunjuk Teknis Pemberlakuan SNI Wajib Produk Industri Kimia Hilir
1 230,0 230,0
Bantuan Alat Uji SNI Wajib 1 3.866,0 3.866,0
Fasilitasi dan Monitoring Penerapan SNI Industri Kimia Hilir
1 1.246,0 1.246,0
Pelaporan 1 1,7 1,7
10 Terstandardisasinya kualitas produk Industri Kimia Hilir 21 2.470,5 21 21 21 2.663,4 2.929,7 3.222,7
Penyusunan Program Nasional Penyusunan Standar 1 50,0 50,0
Pembentukan Panitia Teknis 1 543,0 543,0
Penyusunan Draft SNI 1 1.875,0 1.875,0
Pelaporan 1 2,5 2,5 11 Program dan Evaluasi Kinerja Direktorat Industri Kimia
Hilir
2 669,0 2 2 2 1.204,7 1.325,2 1.457,7
Koordinasi Penyusunan Rencana Kerja 1 464,0 464,0
Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan dan DIPA 1 37,0 37,0
Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
1 168,0 168,0
Jumlah 18.672,7 150 150 150 174.420,9 71.632,8 82.024,0
3. Revitalisasi dan Penumbuhan Industri Kimia Dasar
No Sasaran Kegiatan(Output)/Komponen
Tahun 2016 Prakiraan Maju
volume Satuan Biaya
Jumlah Alokasi (Juta Rupiah)
Volume Jumlah Alokasi (Juta Rupiah)
2017 2018 2019 2017 2018 2019
01 Revitalisasi/Penumbuhan Industri Pupuk 5 31.321,0 5 5 5 1.455,0 1.600,0 1.760,0
Fasilitasi Pembangunan atau Revitalisasi 1 494,0 494,0
Pengamanan Pasokan Bahan Baku 1 462,0 462,0
Pengamanan Produksi Pupuk 1 365,0 365,0
Pembangunan pabrik pupuk NPK. 1 30.000,0 30.000,0
02 Pabrik Pupuk Organik Revitalisasi 2 1.209,0 2 2 2 1.210,0 1.331,0 1.464,0
Pelaksanaan Kegiatan 1 56,0 56,0
Koordinasi Pelaksanaan Pemberian Bantuan Peralatan 1 246,0 246,0