155
Peran Kiai Pesantren dalam
Pemberdayaan Masyarakat
Fathorrahman 11
Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudlatul Iman (STIDAR), Jln. Flamboyant Permai Gadu Barat, Ganding, Sumenep, Jawa Timur, 69462 Indonesia Email: [email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan melihat fenomena
perkembangan masyarakat dalam berbagai lini. Tentu, amatan sementara penulis fenomena itu harus direspon oleh kiai pesantren. Artinya, pesantren harus memiliki peran di dalamnya. Harus ada aksi nyata dari kiai, dengan cara bersikap responsive terhadap berbagai hal yang terjadi dalam masya-rakat. Dan setelah dilakukan penelitian, penulis menyimpulkan bahwa memang ada peran aktif dari kiai pesantren. Kiai dan pesantrennya menjalin relasi dengan masyarakat. Praktisnya, kiai membangun
relasinya dengan cara relasi transformative,
fungsional, dan horizontal. Alhasil, kiai dapat
memberdayakan kehidupan sosial-keagamaan,
ekonomi, budaya, politik, dan pendidikan
masyarakat.
Kata Kunci: Kiai, Pesantren, Pemberdayaan
Masyarakat.
1. Pendahuluan
Pesantren yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dituntut responsif terhadap perkembangan dan dinamika masyarakat. Pesantren secara intens harus terus-menerus melakukan komunikasi atau interaksi dengan masyarakat, itu ditujukan tiada lain agar pesantren menunaikan fungsinya sebagai lembaga sosial-keagamaan. Menurut Asmani, pesantren dan masyarakat memiliki relasi yang disebut dengan horizontal-fungsional-transformatif. Horizontal yang dimaksud di sini adalah pesantren harus berinteraksi secara aktif dengan masyarakat, fungsional memiliki makna bahwa pesantren harus mempunyai peran, partisipasi, kontribusi, dan fungsi sosial yang jelas, positif, dan konstruktif, sedangkan transformatif di sini berarti pesantren harus mampu mengembangkan peran dan fungsi sosialnya ke arah perubahan ideal yang diharapkan Islam [1].
Ketiga relasi di atas akan digunakan oleh penulis untuk melihat pesantren dalam membangun relasi-relasi dengan masyarakat, dengan orientasi pokoknya untuk memberdayakan kehidupan masyarakat. Analisis atas relasi-relasi pesantren di atas, yang diwakili kiai sebagai pengasuh dan orang yang ditokohkan, kita akan menemukan cara-cara pesantren dalam memberdayakan masyarakat.
Sebagaimana uraian di atas, kiai merupakan komponen paling urgen di dalam pesantren. Posisinya yang sangat strategis dapat mempercepat pembangunan SDM dan kehidupannya, sebagaimana yang disinyalir oleh Profesor Babun Soeharto bahwa kiai pesantren mampu mewujudkan cita-cita sebagaimana dijelaskan di atas, karena posisi sentral kiai dalam masyarakat [2].
157 2. Metode
Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), dimana dalam proses pengumpulan data diperoleh dari karya-karya para ilmuwan yang membahas ‘kiai pesantren’. Karena penelitian ini kajian kepustakaan, maka peneliti menggunakan model penelitian historis faktual. Dengan ini, peneliti meneliti substansi teks yang berupa pemikiran atau gagasan dari seorang Ilmuwan—yang concern terhadap tema kiai pesantren. Pendekatan yang digunakan peneliti adalah kualitatif, penggunaan pendekatan kualitatif ini karena didasarkan pada alasan bahwa penelitian kualitatif memberikan peluang peneliti untuk meneliti fenomena sosial secara holistic, yaitu terkait dengan fenomena kiai pesantren dalam memberdayakan masyarakat.
Berdasarkan fokus kajian di atas, ada dua sumber data yang dipakai dalam penelitian ini, yaitu data primer dan sekunder. Data primer yang dimaksud adalah buku-buku tema kiai pesantren, sedangkan data sekundernya adalah buku-buku yang tidak membahas kiai pesantren namun masih terkait dengan tema penelitian ini.
Proses pengumpulan dan analisis data mengguna-kan model penelitian konstruksi sosial yang digunamengguna-kan oleh Peter L. Berger. Dimana penggunaan model ini menuntut peneliti melihat kiai sebagai bagian dari konstruksi sosial atas realitas sosial itu sendiri. Untuk melihat realitas di atas, Berger mengenalkan teorinya pada kita yang disebut objektivasi, internalisasi, dan eksternalisasi [3].
Dari konstruksi sosial di atas, maka dalam rangka analisis data dalam penelitian ini, ada hal yang harus dilakukan, yaitu menyiapkan materi konstruksi. Pada tataran ini, peneliti menyiapkan materi yang berkaitan dengan tema kiai pesantren.
Pada tahapan pengecekan keabsahan data, peneliti akan menggunakan metode Triangulasi. Menurut metode ini, kebenaran tidak terletak pada pra konsepsi peneliti
(subyek), melainkan terletak pada realitas objek itu sendiri. Pengecekan keabsahan data ini dilakukan untuk menjadikan penelitian ini lebih obyektif dan menghindari hasil penelitian yang subyektif. Dalam rangka inilah pengecekan data dimaksudkan. Pengecekan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi dengan teori. Secara gamblang dapat dilakukan dengan menguraikan pola, hubungan dan menyertakan penjelasan yang muncul dari analisis untuk mencari tema atau penjelasan pembanding.
Triangulasi dengan teori, menurut Lincoln dan Guba, berdasarkan anggapan bahwa fakta tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu atau lebih teori, melainkan, menurut Patton dalam Meleong, dapat dilakukan dengan menemukan penjelasan banding. Dalam hal ini, peneliti mencoba mengorganisasikan data, kemudian diarahkan pada upaya penemuan penelitian lain.
3. Hasil
Sebelum penulis menguraikan tulisan ini secara panjang lebar, penulis akan menjelaskan definisi dari istilah pesantren dan kiai. Hal ini dilakukan karena dua istilah ini merupakan kata kunci dari penelitian ini. Uraian definisi dari kedua istilah tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama, pesantren merupakan lembaga
pendidi-kan Islam yang memiliki ciri khas yang unik. Keunipendidi-kan yang dimiliki pesantren inilah yang membedakannya dari lembaga pendidikan lainnya. Pesantren juga berbada dengan sistem pendidikan surau/masjid yang belakangan ini tumbuh pesat di Indonesia. Pesantren pada dasarnya merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki asrama/pondok yang berfungsi sebagai tempat tinggal para santri dalam belajar bersama di bawah naungan kiai. Selain itu, pesantren dilengkapi dengan fasilitas tambahan berupa masjid/langgar yang
159 berfungsi sebagai tempat ibadah dan belajar. Pelajaran pokok pesantren adalah kitab kuning, sebuah kitab yang kertasnya berwarna kuning.
Sedangkan terkait asal usul pesantren, menurut Abdurrahman Mas’ud dalam Babun Suharto, tidak bisa lepas dari pengaruh Wali Songo, karena boleh dikata, Wali Songo-lah yang merintis pesantren pertama kali, tepatnya Sunan Maulana Malik Ibrahim pada Tahun 1399 M. Pesantren yang didirikan oleh Sunan Maulana Malik Ibrahim ini pertama kali hanya fokus pada penyebaran agama Islam di Jawa. Kemudian pesantren mulai berkembang baik dari kuantitas maupun kualitas seperti yang kita lihat saat ini [4].
Untuk memahami pesantren secara utuh, perlu dilakukan sebuah kajian dalam aspek historis. Secara historis pesantren tumbuh dan berkembang dimulai dengan seorang alim yang berdomisili disuatu daerah tertentu. Ia berasal dari komunitas penduduk dimana ia tinggal, kemudian ia mulai dikenal karena masyarakat mengetahui bahwa dirinya baru pulang kampung setelah sekian lama menuntut ilmu—atau dapat pula ia berasal dari tempat lain yang sengaja datang untuk menyebarkan ilmu yang dimilikinya kepada masyarakat setempat. Seiring berjalannya waktu, seorang yang alim ini diketahui memiliki banyak kelebihan dalam berbagai bidang yang tidak dimiliki oleh kebanyak orang. Sang alim inilah yang kemudian disebut ‘kiai’. Melihat fenomena dari sang alim ini, masyarakat mulai berdatangan untuk meminta fatwa atau bimbingan tentang berbagai persoalan, terutama persoalan-persoalan agama. Tentu kiai menyambutnya dengan sangat antusias karena ia menganggap hal tersebut sejalan dengan cita-cita awalnya untuk menyebarkan ajaran Islam. Di sisi yang lain, masyarakat juga memiliki minat untuk memondokkan anak-anak mereka ke kiai ini, dan untuk mewujudkan cita-cita tersebut kiai dengan dibantu masyarakat mendirikan sebuah asrama yang kemudian disebut pondok.
Kiai adalah sebuah gelar yang diberikan masyarakat kepada seseorang yang ahli agama dan memiliki pesantren serta mengajar kitab kuning kepada santri-santri yang bermukim disana. Kiai juga disebut sebagai pendiri dan pengasuh pesantren, tentu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kemajuan pesantren berada ditangan kiai [5].
4. Pembahasan
Dalam tulisan ini, penulis akan mengklasifikasi-kan relasi kiai dan masyarakat secara umum dalam upayanya memberdayakan masyarakat, yaitu mengguna-kan jenis relasi yang dikenalmengguna-kan oleh Asmani. Relasi yang dimaksud adalah relasi transformatif dan relasi horizontal- fungsional. Uraian ketiganya sebagai berikut:
A. Relasi Transformatif
Berdasarkan relasi ini, seorang kiai harus mampu mengembangkan peran dan fungsi sosialnya ke arah perubahan ideal yang diharapkan Islam. Tentang seberapa besar urgensinya, hal itu sangat tergantung peran yang dimainkan kiai dalam proses perubahan ideal yang dicita-citakan Islam. Kehidupan yang dicita-citakan Islam adalah kehidupan yang di dalamnya keyakinan tauhid dimantapkan, ajaran Islam dijalankan, akhlak menjadi karakter masyarakat, serta nilai-nilai kebaikan dijungjung tinggi oleh masyarakat sendiri.
Untuk mewujudkan cita-cita di atas, tentu tidak-lah mudah, harus ada seorang figur yang memiliki berbagai kelebihan, karena dengan cara itulah kehidupan ideal dapat direalisasikan. Figur itu adalah kiai pesantren. Mengapa kiai pesantren, karena kiai memiliki banyak potensi dan power yang dapat mengubah masyarakat. Dengan potensi yang dimiliki, kiai dapat memberikan pendidikan keagamaan pada masyarakat, dengan power
161 yang dimilikinya, kiai dapat memengaruhi masyarakat agar berjalan sesuai dengan jalan Islam.
Implementasi relasi transformatif yang diperan-kan kiai semata-mata untuk tujuan berubahnya masya-rakat ke arah kehidupan yang sesuai dengan Islam. Tujuan mulya tersebut direspon oleh kiai dengan aksi nyata, yaitu kiai turun langsung ke lapangan memberikan pendidikan dan bimbingan pada masyarakat. Pendidikan dan bimbingan yang diberikan kiai itu berorientasikan pada terjaganya nilai-nilai Islam, atau dalam bahasa pesantren disebut nilai-nilai pesantren. Dalam konteks ini, kiai memiliki kewajiban moral sebagai pewaris para nabi untuk melanjutkan tugas-tugas kenabian, yaitu menyebarkan ajaran Islam serta menjaga nilai-nilai ortodoksi Islam.
Perlu ditegaskan di sini, bahwa antara nilai-nilai Islam dan nilai-nilai pesantren itu sebenarnya sama. Hampir tidak ada perbedaan antara keduanya, karena sebenarnya nilai-nilai pesantren itu bersumber pada Islam. Bahasan mengenai nilai-nilai pesantren penting juga dibahas dalam tulisan ini, karena nilai-nilai pesantren inilah yang dijaga dan dilestarikan kiai pesantren.
Sementara itu, nilai merupakan sesuatu yang esensial bagi seseorang atau institusi tertentu. Karenanya, nilai seringkali dijadikan landasan atau identitas seseorang, organisasi atau instansi dalam menjalankan aktivitas. Menurut Mardiyah values (nilai-nilai) adalah keyakinan abadi (enduring belief) yang dipilih dan digunakan seseorang atau sekelompok orang sebagai dasar untuk melakukan suatu kegiatan tertentu (mode of
conduct) atau dijadikan sebagai tujuan akhir dari tiap
tindakannya (end state of existense) [6]. Dengan nilai, sesorang atau instansi tertentu dapat menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya.
Dari uraian di atas, dapat dinyatakan bahwa betapa urgennya nilai bagi pesantren, sebagai sebuah
lembaga pendidikan yang bercorak Islam. Adanya nilai menjadikan pesantren memiliki identitas yang jelas, yang pada gilirannya akan membedakan pesantren dari lembaga lain. Selain itu, sebuah nilai akan membantu pesantren dalam menentukan setiap tindakan, kegiatan, program, dan tujuan yang hendak dicapai.
Nilai-nilai pesantren sebagaimana penjelasan Mardiyah, pada hakikatnya merupakan hasil dari interaksi Al-Qur’an, Al-Hadist, dan kitab-kitab klasik Islam dengan para stake holder pesantren, terutama pendiri dan antar pengasuh pesantren. Kemudian terjadilah sistem nilai pesantren yang selanjutnya ditransformasikan pada komunitas internal; keluarga pesantren, para asatidz, pengurus pesantren, dan santri, serta pada komunitas eksternal; wali santri, masyarakat, alumni pesantren, dan pemerintah. Adapun proses transformasi tersebut dengan menggunakan metode; keteladanan, conditioning, pengarahan, pembiasaan, penugasan, dan juga menggunakan media; perkataan, perbuatan, tulisan, dan kenyataan.
Dalam konteks penelitian ini, secara umum pembentuk nilai-nilai pesantren adalah cenderung sama yakni bersumber dari nilai-nilai individu pendiri dan pengasuh pesantren, sedangkan nilai-nilai individu pendiri dan pengasuh tersebut dipengaruhi oleh ilmu yang mereka miliki atau pemahaman mereka terhadap keilmuan Islam, misalnya Al-Qur’an, Al-Hadist, fiqh, tasawuf, dan lain-lain. Penting dicatat, bahwa posisi peneliti di sini bermaksud untuk melihat nilai-nilai pesantren secara keseluruhan.
Berkaitan dengan ini, penulis mengklasifikasikan nilai-nilai pesantren menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut.
Pertama, pesantren sebagai lembaga pendidikan
tradisional memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain, oleh karenanya segala aktivitas atau kegiatan di dalamnya dijiwai oleh suasana-suasana
163 ketradisionalan pesantren itu sendiri, misalnya nilai keikhlasan, kesederhanaan, kesanggupan menolong diri sendiri, ukhuwah diniyah yang demokratis antar santri, dan bebas. Nilai-nilai tersebut menjadi ciri khas dan umum dari pesantren, dan hampir semua pesantren memiliki nilai-nilai tersebut, meskipun dalam kadar yang berbeda antar pesantren satu dengan yang lain. Dalam hal ini, kiai memiliki peran yang sangat besar terhadap transformasi dan penanaman nilai-nilai pesantren terhadap para santri khususnya dan masyarakat pada umumnya. Tentunya, sebelum proses transformasi dan penanaman nilai-nilai pesantren tersebut di atas, kiai terlebih dahulu mengamalkannya sendiri, memberi contoh, bahkan nilai-nilai pesantren itu dijadikan karakter mereka sendiri. Ini dilakukan karena atas beberapa pertimbangan, pertama, sebagai kiai tentunya tidak ingin disebut hanya pandai berbicara tapi tidak pandai berbuat, hanya pintar menyuruh orang lain sedangkan dirinya sendiri tidak melakukan. Bukankah hal itu tidak boleh dan sangat dibenci oleh Allah SWT, sesuai dengan firmannya.
Artinya: Besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu
mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.(QS.
As-Saff: 3) [7].
Oleh karena itu, kiai tidak ingin menjadi hamba yang dibenci Allah SWT, juga tidak ingin dicap oleh masyarakat sebagai orang Islam yang munafik, antara perkataan dan perbuatan bertolak belakang. Pertimbang-an kedua, dengPertimbang-an mengamalkPertimbang-an sendiri terlebih dahulu, maka proses transformasi nilai-nilai pesantren terhadap santri dan masyarakat semakin mudah dan cepat diikuti, karena secara tidak langsung, jika kiai yang melakukan terlebih dahulu maka masyarakat dengan sendirinya akan menduplikasi mereka tanpa disuruh.
Kedua, karena pesantren merupakan pendidikan
berbasis Islam, maka tentu yang dijaga adalah nilai-nilai dan ajaran Islam. Ini sering disebut dengan trilogi Islam; aqidah (tauhid), syari’at (masuk di dalamnya fiqh; ibadah, muamalat, munakahat, dan hudud), dan akhlak (tasawuf). Pada posisi ini pesantren mengadopsi dan mengaplikasikan nilai-nilai trilogi Islam tersebut untuk kemudian dijadikan nilai-nilai bagi dirinya sendiri. Dengan demikian, esensi dari nilai-nilai pesantren adalah nilai-nilai trilogi Islam itu tadi. Selanjutnya, pesantren memelihara dan mengajarkan nilai-nilai pesantren tadi— yang notabene merupakan nilai-nilai Islam itu sendiri. Tujuan akhirnya adalah bagaimana santri dan masyarakat memiliki keyakinan yang benar terhadap agama, praktek dan segala perilakunya sesuai dengan syari’at, akhlaknya sesuai dengan tasawuf (dalam hal ini tasawuf ala Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah). Upaya demikian memiliki orientasi bagaimana santri dan masyarakat dapat membangun relasi yang baik, baik pada Allah (hablu mina Allah) maupun sesama manusia (hablu mina
al-nasi). Menjadi tidak baik jika hanya berat sebelah, relasi
pada Allah baik tapi relasi pada manusia tidak baik, atau relasi pada manusia baik tetapi relasi pada Allah tidak baik, yang ideal adalah relasi pada Allah dan sesama manusia seimbang.
Sedangkan cara kiai dalam menanamkan nilai-nilai pesantren pada santri dan masyarakat menggunakan metode yang sedikit berbeda, yaitu jika pada santri menggunakan komunikasi yang ilmiah, bahasa yang agak tinggi, atau menggunakan bahasa Arab, sedangkan pada masyarakat mengunakan bahasa rakyat, mudah dimengerti, tidak ilmiah, atau bahasa mereka sehari-hari, sehingga cara yang seperti itu sangat memungkinkan isi pesan (berupa nilai-nilai pesantren) mudah dimengerti dan dapat diterima oleh masyarakat. Selain dari itu, dalam menanamkan nilai-nilai pesantren kiai pesantren selalu berusaha memahami masyarakat, apa yang masyarakat butuhkan, apa yang masyarakat inginkan
165 maka mereka suplai. Bukan sebaliknya, masyarakat dipaksa untuk memahami kiai, dan jika ini yang terjadi resikonya adalah terjadinya disentegrasi antara kiai dengan masyarakat, misi transformasi nilai-nilai pesan-tren pun menjadi gagal.
Selain nilai-nilai pesantren yang ditanamkan kepada santri dan masyarakat, kiai juga menanamkan tradisi-tradisi pesantren kepada mereka. Tradisi pesantren yang dimaksud adalah segala kegiatan yang ada di pesantren. Namun, batasan ini memiliki ruang lingkup yang terlalu luas, sehingga perlu penulis membatasi demi efektivitas penelitian ini. Batasan tradisi pesantren yang penulis lakukan ini berwujud bentuk-bentuk tradisi pesantren, di mana ini yang dibawa kiai pesantren dalam setiap upayanya mewarnai tradisi-tradisi masyarakat. Adapun bentuk-bentuk tradisi-tradisi pesantren adalah sebagai berikut; istighasah, sarwa, barzanji, dan pengajian kitab. Pembahasan mengenai empat hal ini akan diuraikan secara singkat di bawah ini. 1. Istighasah
Tradisi istighasah sebenarnya merupakan kegiatan keagamaan, karena di dalamnya sarat dengan ritual-ritual Islam, dapat kita lihat dari bacaan yang dibaca sampai pada rentetan acaranya. Tradisi istighasah juga termasuk kegiatan yang sangat dianjurkan oleh agama. Ketika berbincang ria mengenai istighasah maka tidak dapat dilepaskan dari pesantren, karena tradisi ini dilestarikan, dikembangkan, dan merupakan bagian ritual-ritual pesantren. Tradisi istighasah sangat dianjurkan dalam Islam. Kiai tidak hanya menjadikan tradisi ini sebagai bagian dari tradisi pesantren, melainkan juga membawa-nya ke tengah-tengah masyarakat.
Indikator dari kegiatan istighasah salah satunya adalah untuk mendekatkan santri dan masyarakat pada Allah. Melalui kegiatan istighasah diharapkan santri dan masyarakat lebih dekat mengenal Allah dan meningkatkan kualitas iman dan ibadahnya. Selain itu, dengan kegiatan istighasah diharapkan agama tidak
dijahui oleh santri dan masyarakat, atau tidak tersisihkan dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan budaya, dan atau sebaliknya, agar masyarakat tidak menjahui agamanya sendiri. Karena melihat perkembangan kehidupan masyarakat saat ini, yang ditandai dengan gelombang modernisasi dan globalisasi yang semakin cepat, tidak menutup kemung-kinan santri dan masyarakat pelan-pelan meninggalkan agama beserta tradisinya. Maka, harus ada aktivitas-tradisi keagamaan yang harus dipertahankan sehingga santri dan masyarakat tetap konsisten terhadap agama Islam.
Kiai sebagai sumber kebaikan sekaligus tokoh agama, sudah sewajarnya mengajak pada hal-hal yang baik. Hal baik yang dimaksud adalah beribadah pada Allah, dengan cara menjalankan semua perintahnya dan menjahui segala larangannya. Dalam konteks ini, kiai mengajak santri dan masyarakat untuk dapat mengisi esensi kehidupan mereka dengan ibadah. Kesadaran ini yang dibangun oleh kiai lewat kegiatan istighasah, agar nantinya masyarakat benar-benar menyadari bahwa hidup dan kehidupan mereka hanyalah untuk beribadah pada Allah. Sesuai dengan firmannya.
Artinya : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
(QS. Adz-Dzariyat :56) [8].
Jika kita lihat dari ayat ini, permulaannya menggunakan ma nafi, kemudian di belakang ada kata illa yang berfaidah ikhtisos, yang mengandung makna bahwa kehidupan yang esensial adalah ibadah. Misalnya, ada orang yang memiliki umur panjang, tetapi umur yang panjang itu tidak diisi dengan ibadah maka nol (zero) nilai kehidupannya. Selain mengandung nilai ibadah dan
167 nilai edukatif, yaitu terdapat pengajaran dan pengajian dalam ritual istighasah.
2. Sarwa dan tahlil
Tradisi yang tidak kalah pentingnya adalah sarwa dan tahlil—yang notabene merupakan tradisi pesantren. Hampir semua pesantren yang ada di Indonesia, terutama pesantren NU, melaksanakan kegiatan sarwa dan tahlil, bahkan dua ritual ini merupakan bagian dari ritual kerohanian pesantren. Secara definitif, kedua ritual ini sebenarnya sama, tidak terlalu memiliki perbedaan yang mencolok, bacaannya sama dari awal hingga akhir. Perbedaan antara keduanya hanya terletak pada penambahan bilangan zikir. Menurut Kiai Dumairi, antara sarwa dan tahlil lafadhnya sama dari awal (membaca khususan al-Fatihah sampai) sampai yang terakhir (membaca salawat), perbedaan terletak pada penambahan jumlah ketika pemimpin sarwa dan pemimpin tahlil sampai pada bacaan kalimat tauhid la
ilaha illa Allah.
Secara etimologis ‘sarwa’ tidak belum memiliki kejelasan makna. Yang ada hanya berupa mitos-mitos yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, definisi ‘sarwa’ tidak akan dijelaskan dalam tulisan ini. Penulis hanya akan mendefinisikan kata yang kedua, yaitu tahlil. Kata tahlil berasal dari kata hallala, yuhallilu,
tahlilan, yang artinya membaca kalimat La Ilaha Illallah. Di
kalangan pesantren dan masyarakat NU sendiri berkembang pemahaman bahwa setiap kegiatan pertemuan yang di dalamnya dibacakan kalimat itu maka pertemuan itu dikatakan Majelis Tahlil.
Sementara itu, rangkaian kalimat yang ada dalam tahlil diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist Nabi SAW, yang memang dianjurkan dalam Islam. Pernyataan ini untuk menyangkal kelompok-kelompok yang mengatakan tahlil itu bid’ah karena hanya didasarkan pada alasan bahwa pada zaman nabi tidak ada amalan atau ritual tahlil. Kelompok ini memiliki asumsi bahwa tahlil buatan ulama yang tidak memiliki sumber yang
jelas. Kalau menurut penulis, untuk mengatakan bahwa tahlil buatan ulama atau kiai tidaklah benar, karena posisi mereka hanyalah sebagai penyusun tahlil, tidak lebih dari itu. Sedangkan jika kita cermati kalimat-kalimat tahlil yang mereka susun diambil dari Al-Qur’an dan amalan zikir yang memang sesuai dengan anjuran Rasulullah. Tahlil ini dilakukan karena berdasarkan beberapa dalil yang menguatkannya, pertama:
َلاَق ُلوُسَر ِللا ىَّلَص ُللا ِوْيَلَع َمَّلَسَو ْنَم َناَعأ َىلَع ٍتِّيَم ٍةَأَرَقِب َو ٍرْكِذ َبَجْوَ تْسِإ ُللا ُوَل َةَّنَلجا . هاور ىمرادلا يئاسنلاو نع نبا بع سا .
Rasulullah bersabda: Siapa menolong mayit dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan zikir, Allah memastikan surga baginya (HR. ad-Darimy dan Nasa’i dari Ibnu
Abbas). Dalil kedua: ِنَعَو ِِّبَّنلا ىَّلَص ُللا ِوْيَلَع َمَّلَسَو ُوَّنَأ َلاَق : َّدَصَت اوُق ىَلَع ْمُكِسُفْ نَأ ىَلَعَو ْمُكِتاَوْمَأ ْوَلَو ِةَبْرُشِب ٍءاَم ْنِإَف َْل اوُرِدْقَ ت ىَلَع َكِلاَذ ٍةَيَأِبَف ْنِم ِباَتِك ِللا َلاَعَ ت ْنِإَف َْل اوُمَلْعَ ت اًئْيَش َنِم ِنَأْرُقلا اوُعْداَف ْمَُلَ ِةَرِفْغَمْلاِب ِةَْحَّْرلاَو َّنِإَف َللا َو َدَع ْمُك َةَباَجِلإا .
Artinya: Sabda Nabi: Bersedekahlah kalian untuk diri kalian
dan orang-orang yang telah mati dari keluarga kalian walau hanya air seteguk. Jika kalian tak mampu dengan itu, bersedekahlah dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Jika kalian tidak mengerti Al-Qur’an, berdoalah untuk mereka dengan memintakan ampunan dan rahmat. Sungguh, Allah telah berjanji akan mengabulkan doa kalian
Dalil Ketiga: ( َلاَق يِوَوَّ نلا ) ِف ِحْرَش ِبَّذَهُمْلا بَحَتْسُي ِنْعَ ي ِرِئاَزِل ِتاَوْمَلأا ْنَا َءاَرْقَ ي َنِم ِنَاْرُقلا اَم َرَّسَيَ ت اوُعْدَيَو ْمَُلَ اَهَ بْقُع َّصَن ِوْيَلَع ىِعِفاَّشلا ُقَفَّ تلاَو ِوْيَلَع ُباَحْصلآا
Artinya: Dalam Syara’ al-Muhaddab imam an-Nawawi
berkata: adalah disukai seseorang yang berziarah kepada orang mati lalu membaca ayat-ayat al-Quran sekedarnya dan berdoa untuknya. Keterangan ini di ambil dari teks imam Syafi’ie dan disepakati oleh para ulama yang lainnya.
169 3. Barzanji
Kitab Al-Barzanji merupakan karangan dari ulama yang terkanal yakni Syeikh Jakfar Al-Barzanji. Di dalam kitab ini menerangkan biografi insan agung yaitu Nabi besar Muhammad SAW. Jika kita lihat lirik syair maupun prosa yang terdapat dalam kitab Al-Barzanji, seratus persen isinya memuat sejarah hidup dan kehidupan Rasulullah. Jika disimak lebih mendalam terlihat betapa indahnya untaian kata demi kata yang tertulis di dalam kitab Al-Barzanji ini. Bagi yang membacanya akan terkagum-kagum karena kalimat-kalimatnya yang memukau dan dapat menggetarkan hati. Umumnya, mereka terkesima dan mengagumi sifat-sifat Rasullullah yang memang sulit ditiru, indah menarik, dan mengharukan.
Bagi kalangan pesantren dan NU, kitab ini menjadi pegangan yang sudah familiar dan tidak asing lagi, biasanya, kitab ini digunakan setiap melakukan ritual muludan dalam rangka menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad. Tradisi Barzanjian ini pada perkembangannya juga digunakan atau dibaca ketika ada hajat anak lahir, khitanan, selametan, dan lain-lain. Sementara itu, di Cangkreng tradisi Barzanjian secara umum digunakan pada acara muludan, walimatu al-ursy, dan acara-acara selametan.
Di tengah-tengah acara Barzanjian atau Diba’an ada ritual berdiri. Ritual berdiri ini dilakukan ketika imam sampai pada bacaan mahallu al-qiyam, maka secara otomatis jama’ah akan berdiri sendiri tanpa disuruh kembali. Menurut keputusan Muktamar NU ke-5 1930 di Pekalongan, berdiri ketika Berzanjian atau Diba’an hukumnya sunah, ia termasuk ‘uruf syar’i. Dalil mengenai hal ini adalah sebagai berikut:
Dalil Pertama: ْدَقَو َدَرَو ِف ِرَثَلأا ْنَع ِدِّيَس ِرَشَبلا ىَّلَص ُللا ِوْيَلَع َمَّلَسَو ُوَّنَأ َلاَق : ْنَم َخَّرَو اًنِمْؤُم اََّنََّأَكَف ُهاَيْحَأ ْنَمَو َأَرَ ق َت ُوَْيِْرا اََّنََّأَكَف ُهَراَز ْدَقَ ف َبَجْوَ تُسِإ َناَوْضِر ِللا ِف ِروُرُح ِةَّنَلجا .
Artinya: Tersebut dalam sebuah atsar: Rasulullah pernah
bersabda: Siapa membuat sejarah orang mukmin (yang sudah meninggal) sama artinya menghidup-kannya kembali; siapa membacakan sejarahnya seolah-olah ia sedang mengunjunginya, siapa yang mengunjunginya, Allah akan memberikan surga.
Dalil Kedua: َلاَق ُلوُسَر ِللا ىَّلَص ِللا ِوْيَلَع َمَّلَسَو : َعَمَتْجااَم ٌمْوَ ق اوُقَّرَفَ تَ ف ْنَع ِْيَغ ِللاِرْكِذ َّلِّا َأَك اََّنَّ اوُقَّرَفَ ت ْنَع ِةَفْ ي ِج ٍراَِحْ َناَكَو َكِلاَذ ُسِلْجَمْلا ْمِهْيَلَع ًةَرْسَح . هاور دحْأ ف هدنسم نع با ةريرى لاقو ىطويسلا ثيدح حيحص
Artinya: Rasulullah bersabda tidaklah sutu majlis orang
banyak dimana orang-orangnya berkumpul tanpa berdzikir kepada Allah, melainkan merekan itu bagaikan bangkai hemar yang berserakan dan majlis itu hanya akan membawa kerugian bagi mereka. (HR.
Ahmad dalam Musnadnya, dari Abu Hurairah. As-Suyuthi menilai hadits ini shahih) [9]
4. Pengajian Kitab Kuning
Pesantren sebagai lembaga tradisional minimal memiliki dua kandungan makna. Pertama, disebut tradisional karena umurnya yang sudah tua, bahkan termasuk satu-satunya lembaga pendidikan di Indonesia yang paling awal keberadaannya. Sejarah telah membuktikan bahwa pesantren tidak hanya tua umur-nya, tetapi seiring berjalannya waktu pesantren selalu mencoba beradaptasi dengan berbagai situasi dan kondisi yang berkembang di luar mereka, sehingga cara seperti itu menjadikan pesantren tetap eksis sepanjang masa. Hipotesis tersebut mementahkan stigma pesantren yang oleh beberapa kelompok disebut kolot. Melainkan tradisional yang melekat padanya karena umurnya yang tua, bukan kolot dan terbelakang. Terbukti sekarang
171 sudah banyak pesantren yang melepas baju tradisionalnya diganti dengan baju modern, tanpa menghilangkan ciri khas dan tradisi-tradisinya. Kedua, disebut tradisional karena pesantren berhasil menjaga nilai-nilai ortodoksi Islam atau tradisi Islam. Hal itu dapat dilakukan oleh pesantren karena ia sukses dalam menerapkan sistem pengajaran dan pembelajaran yang menjadi ciri khas dari pendidikan pesantren, yang kita kenal dengan sistem sorogan dan bandongan. Penggunaan dua sistem ini berimplikasi positif terhadap transformasi keilmuan Islam yang memang menjadi misi dan target dari pesantren itu sendiri. Sementara itu, sistem pengajaran yang dimiliki pesantren tidak hanya diterapkan di pesantren saja tetapi juga dalam masyarakat. Sistem pengajaran yang sering dipakai kiai ketika memberikan pengajaran pada masyarakat adalah sistem bandongan saja, sedangkan sorogan tidak digunakan oleh kiai, karena jika dipakai metode ini akan menjadi tidak efektif dan transformasi keilmuan dapat menjadi gagal.
Dari dulu sampai sekarang, ada beberapa macam kitab yang biasa digunakan pesantren, di antaranya adalah ilmu alat (nahwu-sorof), fiqh, usul fiqh, tafsir, hadist, tauhid, tasawuf, etika, tarikh dan balaghah. Tetapi kitab-kitab ini tidak digunakan semua oleh kiai dalam memberikan pengajaran pada masyarakat. Kiai memilih kitab mana yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat. Namun demikian, kitab yang digunakan kiai adalah kitab yang berafiliasi dengan empat mazhab besar, terutama Syafi’iyah, karena mayoritas masyarakat Indonesia bermadzab Syafi’i.
B. Relasi Horizontal- Fungsional
Pada tataran ini, kiai harus berinteraksi secara aktif, berpartisipasi, dan memiliki kontribusi yang jelas terhadap pembangunan sosial kemasyarakatan. Artinya, kiai tidak hanya melakukan pemberdayaan terhadap
kehidupan keagamaan masyarakat, tetapi juga pada kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politik dan pendidi-kan. Bagaimana kiai dapat mewujudkan kehidupan masyarakat yang moralis, internalisasi nilai solidaritas, kejujuran, sejahtera dan makmur ekonominya, supremasi hukum yang tegak, kualitas pendidikan yang baik, kondisi politik yang demokratis dan jauh dari praktek-praktek KKN, berkembagnya sains dan teknologi, dan terkelolanya SDA dengan sebaik-baiknya demi kesejah-teraan masyarakat.
Dua relasi ini, yang lebih berorientasi pada kehidupan sosial, menunjukkan bahwa kiai harus responsif terhadap berbagai problematika sosial kemasyarakatan. Seorang kiai tidak boleh pasif dan apatis terhadap persoalan kemasyarakatan, ia harus responsif dan proaktif terhadap masalah yang melanda masya-rakat.
Ini berarti kiai memiliki tugas yang kompleks, disatu sisi ia memiliki kewajiban membimbing masyarakat pada jalan Islam, di sisi yang lain kiai memiliki kewajiban moral dalam memberdayakan kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politik, dan pendidikan masyarakat. Dalam kehidupan sosial missal-nya, kiai berperan aktif dalam mencegah dekadensi moral masyarakat seperti mabuk-mabukan, narkoba, seks bebas, pencurian, dan tindakan kriminal lainnya, dengan cara membuka pengajian dimana-mana, terutama di tempat-tempat yang rawan maksiat, atau dengan cara menjalin kerja sama dengan instansi berwenang mencari solusi terbaik untuk meredam tindakan kriminal masyarakat, yang dianggap jauh dari nilai Islam.
Dalam bidang ekonomi, kiai dapat menciptakan lapangan kerja, misalnya membuka toko, swalayan. Terobosan ini dapat menekan angka pengangguran karena karyawan diambil dari masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan. Atau dapat juga pesantren yang dikelola kiai membuat program pelatihan keterampilan, dimana ini dimaksudkan agar masyarakat mandiri secara
173 ekonomi. Sedangkan dalam bidang politik, kiai melalui pesantrennya bekerja sama dengan pemerintah untuk memberikan pendidikan politik yang benar, benar menurut Islam dan benar menurut dasar pancasila. Selain itu, kiai juga dapat memberikan masukan pendapat bagaimana cara memilih pemimpin yang benar.
Bidang yang terakhir, yaitu pendidikan. Bidang pendidikan ini menjadi bidang yang paling pokok bagi kiai. Demikian karena keberadaan pesantren pada awalnya ditujukan untuk memberikan pendidikan Islam pada masyarakat. Seiring berkembangnya zaman yang ditandai dengan derasnya arus modernisasi dan globalisasi, pesantren dituntut mengadaptasikan pendidi-kannya yang awalnya hanya fokus pada pendidikan agama Islam ke pendidikan yang menawarkan berbagai disiplin keilmuan seperti misalnya sains dan teknologi. Praktisnya, pesantren harus melakukan perubahan dan memperbaharui segala hal yang dianggap penting dalam rangka memenuhi kebutuhan riil masyarakat dan menjawab tantangan zaman [10]. Pembaharuan yang dimaksud adalah pesantren mendirikan lembaga-lembaga formal dari yang paling bawah (PAUD dan TK) sampai yang paling tinggi (perguruan tinggi).
Implikasi dari perubahan pesantren tersebut adalah pesantren mempersiapkan santri-santrinya untuk menguasai disiplin keilmuan Islam, disiplin pengetahuan umum (sains), dan mencetak santri-santri yang memiliki skill dan kreatifitas yang tinggi. Selain itu, pesantren membantu pemerintah dalam program pembentukan karakter bangsa, melalui pendidikan karakter yang ada di pesantren [11]
5. Kesimpulan
Kiai pesantren memiliki peranan penting dalam pemberdayaan masyarakat. Upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan kiai dengan cara terlibat langsung dengan masyarakat; berinteraksi dan menjalin
komuniaksi dengan mereka. Praktisnya, kiai membangun relasinya dengan cara relasi transformative, fungsional, dan horizontal. Alhasil, kiai dapat memberdayakan kehidupan sosial-keagamaan, ekonomi, budaya, politik, dan pendidikan masyarakat.
6. Referensi
[1] Ma’mur Asmani, Jamal. 2016. Peran Pesantren dalam
Kemerdekaan dan Menjaga NKRI. Aswaja Pressindo. pp.
165.
[2] Suharto, Babun. 2018. Pondok Pesantren dan Perubahan
Sosial: Studi Transformasi Kepemimpinan Kiai Pesantren.
Pustaka Ilmu.
[3] Bungin, Burhan. 2012. Penelitian Kualitatif: Komunikasi,
Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya.
Kencana Prenada Media Group. pp. 183.
[4] Halim Soebahar, Abd. 2013. Modernisasi Pesantren: Studi
Transformasi Kepemimpinan Kiai dan Sistem Pendidikan Pesantren. LKiS. pp. 41.
[5] Dhofier, Zamakhsyari. 2009. Tradisi Pesantren: Memadu
Modernitas untuk Kemajuan Bangsa. Pesantren Nawesea
Press. pp. 93.
[6] Mardiyah. 2013. Kepemimpinan Kiai dalam Memelihara
Budaya Organisasi. Aditya Media Publishing. pp. 454.
[7] Terjemahan Al-Qur’an, Surat Adz-Dzariyat :56. al-Huda.
pp. 552.
[8] Terjemahan Al-Qur’an. 2005. Surat Adz-Dzariyat :56.
al-Huda. pp. 524.
[9] Abdul Fatah, Munawir. 2012. Tradisi Orang-orang NU.
Pustaka Pesantren.
[10] Hasan Siswanto, Ali. 2015. Dialektika Tradisi NU Di Tengah Arus Modernisasi. IQ Media. pp. 99.
[11] Masrokan Mutohar, Prim. 2013. Pengembangan Budaya Religius (Religious Culture) di Madrasah: Strategi Membentuk Karakter Bangsa Peserta Didik. Didaktika