• Tidak ada hasil yang ditemukan

CATATAN RAPAT PANITIA KHUSUS RUU TENT ANG PENDIDIKAN NASIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "CATATAN RAPAT PANITIA KHUSUS RUU TENT ANG PENDIDIKAN NASIONAL"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

14. Rapat ke-12 Tahun Sidang Masa Persidangan Rapat ke Jenis Rapat Dengan Sifat Rapat Hari, tanggal W ak tu Tempat Ketua Rapat Sekretaris Ac a r a Had i r

ANGGOTA:

1. dr. Bawadiman

CATATAN RAPAT

PANITIA KHUSUS RUU

TENT ANG

PENDIDIKAN NASIONAL

1988-1989 II

15

Raker Pansus Ke- 12 Mendikbud

Terbuka

Selasa, 13 Desember 1988 09.00WIB

Etadartha Samiti

I

Gedung

MPR-RI

dr. Bawadiman

Drs. Noer Fata

Pembahasan DIM RUM tentang Pendidikan Nasional Pansus DPR-RI

42 dari 48 orang Anggota Tetap : 14 dari 23 orang Anggota Penggan ti. Pemerintah:

Mendikbud beserta Staf.

18. Mohammad Roem, S.H. 2. H. Sulaeman Tjakrawiguna, S.H. 19. H. Achmad H.M.S, S.H. 3. H. Suryo Mardjiyo

4. H. Imam Sofwan 5. B.N. Marbun

6. Ir. A. Moestahid Astari 7. Ki. Soeratman

8. H. Obos Syabandi Purwana 9. Drs. Dewa Putu T engah 10. Drs. Osman Simandjuntak 11. Soegiyono 12. H. Ismael Hassan, S.H. 13. H. Basyuni Suriamihardja 14. Drs. DS. Isaac Saujay 15. Anton Priyatno, S.H. 16. Drs. H. Iman SoedarwoYS. 17. Drs. H. Hasanudin 20. Ibnu Saleh

21. H. M. Ali Sri Inderadj~ja 22. Ir. Soewardjo Adikoesoemo 23. Har son o

24. Dra. Ny. Syamsiar l..asahido 25. H. pjamaluddin Tambunan, S.H. 26. Drs. Mozes Adisoerjo Soenarjo 27. Dr. Ir. Irma Alamsyah, MSc 28. Ir. Ida Bagus Putera 29. K.H.A. Syarifuddin Sapari 30 .. Prof. Drs. Wuryanto 31. Dr. Johannes Riberu 32. A.S. Harjono 33. Roebijanto 34. Basas &Jyono

(2)

3 5. Drs. Made Sudiartha 36. A.R. Lubis

37. Soebagjo, S.H. 38. Pudjo Bintoro

39. H. Ismail Hasan Metareum, S.H. 40. Drs. H. Zarkasih Nur

41. Sukardi Effendi, S.H. 42. Drs. Suandi Hambali 43. K.H. Sansuri Badawi 44. A. Tyas Satijono Soenarto 45. Soetardjo Soerjo Goeritno BSc. ANGGOTA PENGGANTI :

1. Dra. Ny. Inne E.A. Soekaryo 8. J.H. Salu 2. Ny. R.H. Madahera Hertasning

3. Drs. H. Hoesni Thamrin Assaat, S.H. 10. Muhamad Yusuf Husein 9. Sadikun Sugihwaras 4. Drs. Ali Sofwan

5. Drs. Bambang Wahyoedi 11. Djufri, S.H. 12. Ny. Aisyah Amini, S.H. 6. J. Moelyono 13. Ors. Awang Faroek, S.H. 7. Warsito Poespojo, S.H. 14. KH. Mochamad Tarmoedji

15. Krissantono

PEMERINTAH :

I. Prof. Dr. Fuad Hassan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) 2. Bambang Triantoro 3. Harsya W. Bachtiar 4. W .P. Napitupulu 5. Pug er 6. Was kit o 7. Noegiadi 8. Soetanto Wirjoprasonto 9. Budihardjo 10. E. Soeharya 11. Sugeng Karno 12. Soejoto 13. D. Budi Kencono, S.H. 14. Ny. Mardiyah Santoso 15. Barn bang Haryadi, S.H. 16. Mardjuki, S.H.

KETUA RAPAT (dr. Bawadiman ). :

Ibu, Bapak-bapak dan Saudara sekalian yang saya hormati, Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Menurut catatan Sekretariat korum telah terpenuhi dan dari semua Fraksi juga sudah hadir, Pemerintah juga sudah hadir, maka dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim Ra-pat Pansus saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

(KE TOK PALU)

Hari ini Pimpinan bergembira karena rekan kami di Pimpinan Pak Marbun tidak perlu terjun bebas, jadi sehingga kita tidak salah citra, seperti yang telah kami sampaikan kemarin

(3)

bahwa hari ini dimaksudkan untuk memasuki pembahasan Bab-bab tentunya beserta Pasal-nya kalau memang sudah ada yang merup_akan usulan Fraksi-fraksi, yaitu pertama "Wajib Belajar" seperti kita ketahui pada waktu kita membicarakan Pasal 14 pada tanggal 29 No-pember 1988, beranjak dari usulan FK:P dan FABRI akhirnya kita sepakat, Pemerintahpun sepakat saatnya kita ingin membicarakan masalah "Wajib Belajar": Oleh karena itu se-karang kita ingin membahas masalah "Wajib Belajar" tersebut.

Karena/dari Fraksi-fraksi lain secara suratan tidak ada yang mengemukakan, oleh kare-na itu dari F ABRI dan FK:P kiranya kare-nan ti bisa memberikan penjelasan la tar belakang ter-kait dengan Wajib Belajar tersebut. Pertama kami persilakan dari FKP.

FKP (Anton Priyatno, S.H.) :

Terima kasih Bapak Pimpinan, Bapak Menteri dan Ibu, Bapak sekalian yang kami hor-mati.

Dari FKP karena ini dulu kita pecah di dalam satu paket berdasarkan kesepakatan di Pansus ini ialah bahwa untuk yang sudah disepakati warga negara yang telah berumur 6 tahun berhak mengikuti pendidikan dasar, jadi kita mengungkapkan bahwa anak-anak yang berusia 6 tahun telah memperoleh hak yang dijamin oleh Undang-undang ini untuk meng-ikuti pendidikan dasar.

Nah dalam kaitan dengan kita ingin mengupayakan supaya seluruh rakyat Indonesia ini dan akhirnya juga mempunyai kesempatan dalam mengikuti pendidikan setidak-tidak-nya setara dengan pendidikan dasar itu saya kira juga sesuai dengan Pasal yang terdahulu yang telah kita sepakati, maka diusulkan bahwa warga negara yang berumur 7 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, Disinilah kita bicara mengenai wajib belajar, hanya saja ka-rena rumusan ini, rumusan wajib itu terdapat di dalam Undang-undang, kata "Wajib" di dalam rumusan yuridis mengandung sanksi, yang harus kita hindarkan ialah bayangan 1 kita seolah-olah dengan wajib belajar lalu kalau dilanggar ada sanksi pidana.

Apakah ada sanksi pidana atau tidak ten tu Undang-undang ini pulalah yang menentu-kan, apakah dia mempunyai sanksi pidana atau tidak, dan saya kira kita semua sepakat bah-wa tidak perlu ada sanksi pidana di dalam pelanggaran terhadap bah-wajib belajar, Nah untuk memberikan keleluasan gerak sekaligus menampung aspirasi yang beberapa waktu lalu dikemukakan rekan-rekan dari FPDI kalau kami tidak salah bahwa begitu banyaknya fak-tor atau fariabel di negara kita ini termasuk daerah-daerah terpencil, kemudian berbagai kendala sosial dan yang ada di negara kita ini mengenai pelaksanaan wajib belajar itu kita atur saja dengan Peraturan Pemerintah, dengan demikian ada keleluasaan gerak dari segi pengaturan teknisnya, tapi dari segi tujuan yang hendak kita capai tetap dapat terwujud dan tergambarkan secara nyata di dalam Undang-undang ini, bagaimana nan ti

perkembang-an dari pada wajib belajar itu kita serahkperkembang-an kepada Peraturperkembang-an Pemerintah.

Dan kita tahu bahwa sifat dari pada Peraturan Pemerintah itu dapat Jebih fleksibel dan beberapa setiap saat bisa ditinjau dengan demikian maka dapat disesuaikan dengan perkem-bangan dan hasil-hasil pembangunan yang ada, kami kira inilah latar belakang mengapa kami mengajukan usu] tambahan mengenai wajib belajar ini,

Kami kira demikian Pak Ketua dan Menteri serta Ibu, Bapak sekalian, terima kasih. KETUA:

Terima kasih kepada FKP yang telah memberikan latar pemikiran mengapa mengusul-kan dalam kaitannya dengan wajib belajar, Karena tersirat pula usulan dari FABRI, Pim-pinan mohon kiranya F ABRI bisa memberikan penjelasannya.

(4)

F ABRI (A.S. Harjono) :

Pimpinan yang kami hormati, terima kasih atas kesempatan untuk penjelasan ini, F ABRI beranjak pada masalah Pasal 14 yang berada dalam RUU, disini dinyatakan bahwa warga negara yang berumur 6 tahun dan selambat-lambatnya 7 tahun berhak mengikuti pendidikan dasar, Dari pemikiran F ABRI bahwa batasan semacam ini agak mengaburkan, oleh sebab itu F ABRI menyarankan bahwa untuk persyaratan atau untuk yang bisa ma-sukin sekolah dasar itu tidak kita adakan suatu pembatasan yang ketat, tapi dimulainya yaitu untuk warga negara yang berumur 6 tahun berhak mengikuti pendidikan dasar,

Mengingat di dalam Undang-undang yang lalu akan kita rubah atau Undang-undang yang sudah berjalan ini pada Undang-undang Nomor 12 Tahun 1959 Pasal 10 itu mengatur mengenai Wajib Belajar, demikian juga GBHN 1988 menganjurkan adanya peningkatan untuk pelaksanaan Wajib belajar, oleh sebab itu F ABRI berkeinginan untuk mengangkat kembali wajib belajar itu ke dalam RUU ini, sehingga untuk Pasal 14 F ABRI mengusulkan memecah batasan 7 tahun dan 6 tahun itu menjadi 6 tahun yang berhak mengikuti pendi-dikan dasar, sedangkan 7 tahun adalah merupakan batasan dimulainya anak-anak untuk mengikuti wajib belajar, seperti kita ketahui bahwa Pasal 1 untuk pembicaraan yang lalu sudah diterima, tinggal ayat (1 ), ayat (2) nya kalau tidak salah kami ingat pada waktu itu Pemerintah tidak berkeberatan untuk memberikan atau memasukkan wajib belajar itu tapi hanya dinyatakan dimulainya saja, umur kapan dimulai wajib belajar untuk selanjutnya diatur di tempat lain. Oleh sebab itu untuk usulan yang tadi sudah disampaikan oleh FKP bahwa pelaksanaan lebih lanjut untuk wajib belajar itu diatur di dalam Peraturan Pemerin-tah kami juga bersependapat, untuk ini asal wajib belajar itu ada cantolannya dalam Pasal, sehingga untuk mengatur wajib belajar tadi sudah ada Pasalnya a tau Ayatnya yang sebagai pedoman. Inilah la tar belakang dari usulan dari F ABRl.

Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih pada F ABRI yang telah memberikan alasan atas usulannya yang terkait dengan Wajib Belajar, Sebelum Fraksi-fraksi lain memberikan tanggapannya kami persi-lakan dari pihak Pemerintah untuk memberikan tanggapan lebih dahulu.

PEMERINTAH: (Prof. Dr. Fuad Hassan)

Terima kasih Saudara Ketua, Assalarnu'alaikum WarahmatullahrWabarakatuh.

Kalau melihat saran-saran dari FKP, F ABRI dan FPP maka disini nampak bahwa satu ayat yang disarankan berdiri sendiri terdapat pada ketiga usulan yaitu FPP, F ABRI dan FKP yang semuanya menyarankan rumusan tersendiri untuk warga negara yang berumur 6 ta-hun berhak mengikuti pendidikan dasar, ketiga-tiganya dapat diterima,

Kemudian F ABRI dan FKP mempunyai perumusan tersendiri tentang usia 7 tahun sebagai usia wajib belajar kedua-duanyapun dapat diterima, FKP mempunyai lagi satu ayat yang menyatakan pelaksanaan wajib belajar diatur oleh Peraturan Pemerintah juga satu konsekuensi logis dan oleh karenanya dapat diterima, Kalau ketiga-tiga kolom ini digabung, maka saya kira saran dari FKP untuk memecah Pasal ini menjadi 3 ayat dapat diterima,

Terima kasih.

KElUA:

Kami ingin menanyakan sekali lagi supaya jelas jadi Pemerintah tidak keberatan hal Wajib Belajar dicantolkan dalam Pasal 14, demikian penjelasan Pemerintah, dan kami

(5)

se-belumnya supaya kita nan ti tidak salah mengerti jadi apa yang diungkapkan oleh Pak Men-teri dengan disetujui tadi yang 6 tahun itu memang sudah disepakati, jadi usulan yang ke-betulan dari FKP, F ABRI, FPP waktu itu juga disepakati FPDI dan Pemerintah itu su-dah selesai, jadi yang sekarang khusus membicarakan kelanjutannya, Kami mohon pen-dapat dari FPP.

FPP (H. Ismail Hasan Metarewn, S.H.) :

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saudara Pimpinan, Saudara Menteri dan Staf, hadirin yang kami hormati.

Fraksi kami memang tidak mencantumkan apa yang diusulkan oleh FKP dan F ABRI, kalau dari segi RUU memang kami menyetujui Pasal 14 dengan mengurangi beberapa ka-limat sehingga sudah kita putuskan bersama, Pada hari ini kita membicarakan masalah wajib belajar, meskipun kami tidak menuliskan usu] di dalam kolom DIM kami tentang wajib belajar tapi kami juga pernah membahas permasalahan ini di dalam Fraksi,

Kami mempunyai beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan sebelum kita merumus-kan, yaitu pertama Wajib Belajar mempunyai efek sampingan atau akibat sampingan yang paling kurang ada 2 macam akibat sampingan yang harus kita pertimbangkan Jebih dahulu sebelum kita rumuskan, yaitu :

1. Hambatan-hambatan yang menyebabkan anak-anak yang sudah kita wajibkan tidak bisa melakukan kewajiban itu.

2. Sanksi, kalau kita istilahkan dengan istilah wajib ini perlu kita pertimbangkan secara mendalam,

Masalah hambatan pengalaman selama ini kita lihat bahwa anak yang sudah bersedia bukan karena wajib, tetapi sudah dengan hasrat, dengan keinginan dari dia dan orang tuanya untuk belajar tapi terdapat hambatan, ada hambatan-hambatan yang disebabkan oleh me-reka sendiri di dalam rumah artinya kesanggupan keluarga, ada hambatan yang ada hubung-annya dengan kesatuan pendidikan.

Ini apakah kita perlu rumuskan sesuatu atau kita hanya cukup mempertimbangkan, kita bersama yang akan men,entukan, kami sependapat sekali dengan Pak Menteri pada waktu-waktu beberapa hari yang terakhir selalu menyebutkan bahwa Undang-undang ini kita harapkan menjadi landasan untuk kita bergerak selanjutnya kalau kalimatnya tidak demikian, tapi pengertian kami demikian, dan segala sesuatu akan berhenti dulu sementara seolah-0lah demikian menunggu selesainya Undang-undang ini, kami setuju sekali dengan pandangan seperti itu sehingga kita melangkah yang akan datang ini dengan lebih man tap. Nah karena mengenai masalah wajib belajcµ- ini kita bahas pada hari ini dan harus kita bahas, maka kami ingin mengajukan beberapa hal yang seperti kami kemukakan tadi mung-kin masih sangat buat sementara barangkali agak secara umum Jebih dahulu. Kemudian itu yang pertama mengenai hambatan tadi,

Dan yang kedua mengenai sanksi, wajib belajar kalau dilihat dari segi kita menentu-kannya secara politis umpamanya mungkin tidak perlu dipikirkan apa sanksinya, tapi kalau dipikirkan secara yuridis dan Undang-undang biasanya sifatnya yuridis harus kita pikirkan hal itu, bagaimana sanksi kalau memang itu tidak dilaksanakan.

Kami mendengar ada di negeri-negeri lain yang melakukan wajib belajar kemudian ka-tanya polisi melihat kalau ada anak umur sampai sekian belas tahun ada di Juar pada

(6)

waktu belajar, maka polisi bertindak, ini ada yang demikian, kita barangkali tidak akan terlalu membebankan polisi mungkin dalam hal masalah yang seperti ini, kita harapkan cara lain barangkali bisa dilakukan.

Kemudian ada lagi masalah lainnya yang ada hubungan dengan ini yaitu fasilitas, Fasi-litas perlu kita pertimbangkan lebih dahulu juga sebelum kita menetapkan itu wajib, karena kekurangan fasilitas maka bukan hanya tidak bisa melaksanakan wajib tertapi barangkali ada faktor-faktor yang Jain Jagi yang menyebabkan secara psikologis dalam diri anak itu sendiri akan ada pertentangan batin.

Apalagi kalau memang ada hal-hal yang Jebih dari sesuatu kesatuan pendidikan, satuan pendidikan yang dilakukan sehingga menyebabkan anak itu kurang berminat atau menjadi hambatan. Adalagi masalah yang patut kita perhatikan pada masa kita sekarang se-dang begitu menggebu-gebu berusaha untuk membangun dan memang pembangunan kita sebagian besar sudah berhasil namun masih ada yang belum terangkat, masih ada rakyat kita yang belum terangkat, yaitu apakah di kota atau di desa masih ada rakyat yang barang-kali tidak terlalu sedikit atau bukan sedikit mereka yang anak-anaknya terpaksa membantu orang tua untuk mencari kehidupan, ini perlu juga kita pertimbangkan sebelum kita rumus-kan, kami karena ini forum yang untuk kita bahas maka kami ketengahkan semua masa-lah-masalah yang perlu kita pertimbangkan sebelum kita rumuskan,

Kami ingin menanyakan hal ini barangkali ada pandangan dari pihak Pemerintah bagaimana terhadap segala masalah ini termasuk masalah yang seperti yang saya)<emuka-kan tadi rterlu dia membantu orang tua atau ada malah yang lebih rendah dari itu, untuk makan saja susah, apalagi kita suruh ke pendidikan, ini yang perlu. Kemudian supaya tun-tas kami sampaikan perlu juga kita tetapkan kalau secara yuridis kita berpikir maka kalau kita menuliskan mulai umur berapa, mungkin juga sampai umur berapa dan berapa lama dia hams melakukan ini masalah kewajiban-kewajiban yang seperti ini perlu kita pertim-bangkan sebelum kita rumuskan, inilah Pak Pimpinan sementara ha] yang dapat kami ke-mukakan secara umum m~ngkin secaraJ.erperinci apabila diperlukan dapat kami tambah-kan pada waktunya nanti dan sekali lagi kami ingin memo hon perhatian kita bersama untuk memikirkan secara mendalam sebelum kita rumuskan,

T erima kasih. KETUA:

Terima kasih atas tanggapan dari FPP yang menurut pendapat Pimpinan apa yang di-lemparkan tadi tidak hanya ditujukan kepada Pemerintah tapi juga kita memikirkan ber-sama, karenanya barangkali FPP tidak keberatan untuk supaya sekaligus kita ingin mende-ngarkan juga tanggapan dari FPDI, kami persilakan dari FPDI.

FPDI (A. Tyas Satijono Soenarto) :

Saudara Pimpinan dan Sidang yang kami hormati, pertama-tama kami sampaikan terima kasih kepada FKP yang masih memperhatikan pendapat kami yang Jalu. Pada rapat-rapat yang lalu mengenai Pasal ini, khususnya mengenai Wajib Belajar dan hak memasuki pendidikan memang kami tidak mencantumkan angka umur, namun demikian tidak berarti bahwa kami tidak menyetujui kalau itu nanti menjadikan satu keputusan · bersama ang-ka-angka umur itu dipastikan.

Yang perlu kami ingatkan kembali kepada pendapat kami yang Jalu ialah ketentuan tentang umur hendaknya dirumuskan lebih fleksibel ini memang seperti apa yang kami aju-kan sebagai pendapat kami terdahulu, situasi dan kondisi masyarakat Indonesia ini. Kemu-dian kami juga tentu saja dan tidak keberatan kalau wajib belajar itu menjadi pendapat kita

(7)

bersama, mengapa karena tentu saja kita bersama menginginkan bahwa untuk menanggapi masyarakat maju di Indonesia sedapat mungkin rakyat ini tidak ada lagi yang bodoh, se-hingga mereka didorong untuk belajar, hanya masalahnya saya kira seperti apa yang dike-mukakan oleli. FKP di mana ada wajib ini dihadapkan kepada sanksi, karena ini dalam

Undang-undang. ·

Andaikata kita bersepakat wajib ini sesuai dengan pendapat kami pada yang lalu ke-tentuan umur yaitl.l fleksibel tidak dihadapkan kepada sanksi, tetapi sanksi ini hendak-nya dibuat demikian rupa sehingga tidak membuat yah rakyat yang seperti kami keprnka-kan lebih dahulu itu akhirnya menderita. Jadi sekali lagi di dalam Peraturan Pemerintah ataukah di dalam penjelasan Pasal Undang-undang ini kami mohon agar apa yang kami ke-mukakan tentang fleksibelitas umur ini masih nampak di sana, demikian Saudara Ketua.

Terima kasih. KETUA:.

Terima kasih atas tanggapan dan pendapat dari FPDI hanya sekedar untuk menggaris bawahi kembali sebelum penjelasan Pemerintah, jadi ada beberapa permasalahan yang tadi dilemparkan terkait pada wajib belajar pertama pertanyaan hambatan-hambatan yang tidak dapat dilakukan, kemudian menyangkut sanksi dan fasilitas yang diperlukan, ke-mudian faktor sosial dan ekonomi yang terkaait pada anak di beberapa d<t~rnh mencari nafkah dan juga pertanyaan terakhir dari FPP tadi batas umur wajib belajar mulai kapan dan diakhiri kapan dan juga FPDI yang menyangkut fleksibelitas dan sebagainya. Kami mo-hon Pemerintah untuk memberikan tanggapannya. ·

PEMERINTAH :

Terima kasih Saudara Ketua, pertama untuk melengkapi keterangan kami tadi maka kami tidak berkeberatan mencantumkan Ayat (2) itu dengan ketentuan Ayat ketika se-bagaimana disarankan FKP juga diterima, artinya kaitan antara 2 dan 3 ini langsung.

Kedua mengenai kekuatiran seakan-akan nanti akan ada sejumlah populasi anak berusia 7 .tahun yang akan mengalami kesulitan melaksanakan wajib belajar ini ingin ba-rangkali saya mengusulkan bahwa kewajiban mengikuti pendidikan dasar ini harus diarti-kan luas termasuk tentunya juga pendididiarti-kan non-formal yang setara dengan pendididiarti-kan dasar, itulah yang sekarang diterapkan juga dalam penerapan wajib belajar.

Jadi tidak sulit untuk mengatasi keadaan-keadaan luar biasa sebagaimana dicontoh-kan tadi kalau dalam hal ini kita dalam penjelasan kebetulan Pasal 14 ini tidak ada penje-lasannya dinyatakan cukup jelas, tapi sampai sekarang ini kita menyelenggarakan kewajib-an belajar dengkewajib-an peluar untuk mendapatkkewajib-an pendidikkewajib-an non-formal setara dengkewajib-an pendi-dikan dasar. Oleh karena itu maka rasa-rasanya tidak akan ada kesulitan kalau dalam pen-jelasan itu dileluasakan tafsiran mengikuti pendidikan non-formal setara pendidikan dasar,

jadi bisa tertampung semuanya. ·

Lepas dari itu saya pikir kalau bisa diterima saran FKP Ayat (3) itu, maka saya pikir Peraturan Pemerintah bisa tentunya mempertimbangkan kondisi yang masih berlaku, namun secara rumus saya pikir perlu bahwa pada tingkat kemajuan sekarang ini kita se-mua mempunyai formula atau rumus yang menegaskan berlakunya wajib belajar, sebab keberlakuan wajib belajar ini sudah universal. Jadi kalau dicantumkan usia 7 tahun wajib belajar ini cukup am-an dengan pengertian pendidikan non-formal setara pendidikan dasar juga termasuk, lalu diterima usul FKP Ayat (3.) yang nanti memberikan peluang untuk mengatur masih adanya kondisi-kondisi yang perlu diperhatikan ini.

(8)

KETUA:

Terima kasih Pak, sebelum Fraksi-fraksi lain untuk menanggapi mohon tambahan penjelasan sesuai dengan ya_ng diungkap oleh FKP dan FPP kaitannya istilah wajib yang berkonotasi sanksi, bagaimana?

PEMERINTAH:

Memang istilah wajib tentu ada sanksinya tapi oleh karena pengaturan yang nanti memperhatikan masalah-masalah peralihan ini saya pikir masalah sanksi itu tidak perlu ter-lalu menonjol sebab akhirnya juga kita harus mengajarkan masyarakat kita mewajibkan anak-anaknya belajar demi kepentingan mencerdaskan kehidupan bangsa secara menye-luruh, jadi kita dengan menegaskan kewajiban ini tidak merpbiarkan saja kondisi sebagai-mana adanya tetapi mengarahkan agar kondisi itu berubah menjadi suatu kondisi baru di-mana setiap anak mendapatkan pendidikan dasar itu tadi,

Terima kasih.

KETUA:

Maaf ini agak terlupa tadi, pertanyaan FPP apakah pertanyaan FPP pada Pemerimah bagaimana batasan wajib belajar. dimulainya ada apa ada batasnya.

PEMERINTAH :

Di sini ada beberapa variasi usu] FPP sendiri maupun FKP tidak menyebutkan batas usul F ABRI sarnpai tamat, kalau kita perhatikan Undang-undang yang lama Tahun 1950 kalau saya tidak keliru itu menyebutkan masanya, jadi pendidikan dasar sekurang-kurang-nya selama 6 tahun, jadi tidak jenjangsekurang-kurang-nya disebut tapi masa belajarsekurang-kurang-nya. Jadi ada beberapa variasi untuk menentukan batas itu. Kami sendiri cenderung untuk tidak menetapkan ba-tas dalam rumusan jenjang oleh karena di banyak negara jenjang ini bergeser, dan mungkin pada suatu waktu kitapun akan bergeser sampai ke tingkat yang lebih tinggi.

Oleh karena itu jangan jenjangnya tapi mungkin kalau mau disebutkan masa belajar-nya, yangmenurut hemat saya dua-duanya tidak terlalu urgent,jadi kalau akan dibicarakan ada 3 alternatif yaitu menyebut sampai tamat ini yang berarti harus menunjuk jenjang kematian itu, kedua tidak menyebut apa atau menyebut masa belajar, seperti Undang-undang yang lama yaitu sekurang-kurangnya 6 tahun, tersilah pada I!ansus mana yang paling baik untu1c diambil dari pihak Pemerintah mengingat Wajib belajar itu bisa ber-geser dalam perkembangan jaman, maka batasnya lebih baik tidak disebutkan, sebab mung-kin saja suatu waktu kalau keaoaan memungmung-kinkan wajib belajar ini bisa sampai SMTA kita belum tahu, seperti di Singapura sekarang sampai SMTA.

Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih. demikian penjelasan dari pihak Pemerintah, Pimpinan mengharap tang· gapan ulang dari Fraksi-fraksi. kami persilakan FKP.

(9)

FKP (Anton Priyatno, S.H.):

Terima kasih Bapak Pimpinan dan terima kasih pada Bapak Me11teri.atas tanggapannya. Apa yang dipikirkan oleh rekan dari FPP dan juga FPDI juga kami kaji secara menda-lam yang akhirnya berkesimpulan seperti yang kami usulkan. Yang pertama ingin kami tanggapi dafi segi sanksi dulu, kesanksian teman-teman bukan kesanksian sanksi dalam arti ini, kesanksian dari FPP saya kira dengan adanya wajib lalu kaitannya dengan sanksi per-tama tadi juga sudah kami kemukakan bahwa hendaknya kita tidak memasukkan pelang-garan terhadap wajib belajar ini sebagai perbuatan pidana. Kita masih ingat kebetulan kami pernah sinahu/belajar sedikit mengenai hukum ini ya ada azas-azas, azas legalitas, tidak ada perbuatan pidana yang sebelumnya tidak dinyatakan itu sebagai perbuatan pidana oleh Undang-undang, jadi kalau Undang-undang ini tidak menyatakan bahwa pelanggaran ini sebagai perbuatan pidana dia tidak dinyatakan sebagai perbuatan pidana dia tidak dinyata-kan sebagai perbuatan pidana oleh hakim.

Nah Fraksi kami saya kira sudah pada saat ini sudah memikirkan bahwa ini tidak akan kita kaitkan dengan pasal yang ada pada sanksi pidana walaupun itu nanti masih kita bica-rakan di dalam Panja, tapi sikap ini kami kira sudah per Ju kita ungkapkan sebagai satu ja-minan. bahwa kami tidak akan memasukkan Pasal mengenai wajib belajar pelanggaran wa-jib beiajar pada sanksi pidana, yang kedua adalah kita masih ingat di dalam KUHP buku ke-satu Pasal 103 itu juga demikian, bahwa pencantuman sanksi pidana harus dinyatakan de-ngan Undang-undang nah kita sendiri dalam RUU ini tidak mencantumkan ini pelanggaran ini sebagai perbuatan pidana tidak perlu ada keraguan lagi bahwa ini akan menjadi perbuat-an pidperbuat-ana terhadap lperbuat-anggarperbuat-annya. lni untuk menghilperbuat-angkperbuat-an keragu-raguperbuat-an yperbuat-ang ada, yperbuat-ang semula ada juga pada Fraksi kami, oleh karena itulah jalan ke luar yang kami usulkan ialah bahwa pelaksanaannya itu nanti kita atur dengan Peraturan Pemerintah dan Peraturan Pe-merintah pasti tidak akan bisa mencantumkan pidana, karena hanya boleh dengan Un dang· undang, kecuali atas kuasa Undang-undang Peraturan Pemerintah diberikan.

Karena i tu jalan keluar yang kami usulkan pada ayat (3) perkara nan ti penempatannya kita atur bab tersendiri atau bagaimana terserah, tetapi itulah substansinya.

Ini yang pertama mengenai sanksi.

Yang kedua. berbagai kendala yang tadi juga dikemukakan. jadi kalau kita melihat ru-musan mengenai wajib belajar hendaknya juga tidak dipisahkan mengenai ayat yang telah disepakati. Penerapannya nanti punya gambaran bahwa Pemerintah ten tu tidak hanya De-partemen P & K karena Undang-undang ini juga bukan Undang-undangnya Departemen P & K, Undang-undang mengenai Pendidikan Nasional yang mengikat seluruhnya. aparatur Pe-merintah maupun masyarakat. Dengan demikian ada kesatuan gerak dari semua aparatur Pemerintah, tentu tidak pertama-tama kata ''wajib" itu yang digunakan sebagai pendekatan terhadap masyarakat, tetapi melakukan persuasi kepada masyarakat mengenai kesadaran belajar. itu kami kira dimasukkan dalam program-program Pemerintah yang menyeluruh ~ala'.:1 ,;a_ni?<a p_en~uiuhan pendidikan masyarakat. Sehingga dengan demikian mungkin wa31b !Ill men1ad1 ada tumbuh kesadaran di dalam orang tua untuk menyekolahkan anak-nya seperti tadi yang dikatakan oleh Bapak Menteri. Sehingga dengan demikian maka kita ~erharap bahwa ayat yang pertama itu yang akan menjadi program yang utama bagi Peme-nntah untuk lebih membuat program-program yang menyadarkan kepada masyarakat.

(10)

Yang kedua, dengan adanya ini dan tentu berbagai kasus-kasus yang ada diberbagai daerah seperti yang tadi diungkapkan oleh FPDI dan juga FPP bahwa banyak <lnak-anak yang harus membantu orang tua. lni juga memerlukan pemikiran bagi Pemerintah dan kita semua, agar kurikulum pendidikan dasar itu tidak tercabut dari akar-akar lingkungan. Dengan demikian ada satu pendekatan di mana sekolah itu juga memang betul-betul ber-:ikar pada lingkungan, sehingga ada kedekatan antara pendidikan dengan dunia kerja, dan dunia yang ada di masyarakat itu. Ini tentu memerlukan satu proses untuk pembaruan ter-hadap penyelenggaraan pendidikan di masa yang akan datang.

Kami kira demikian, terima kasih. KETUA:

Terima kasih atas tanggapan dari FKP dan selanjutnya kami persilakan dari Fraksi ABRI.

F ABRI (A.S. Harjono) :

Kita semua telah mendengarkan penjelasan dari Pemerintah dan saya rasa ini juga seja-jar dengan pemikiran dari Fraksi ABRI. Jadi masalah wajib belaseja-jar memang kami meng-anggap bahwa i tu perlu dican tumkan dalam Undang-undang ini. So al pelaksanaannya sesuai dengan kondisi. itu adalah nanti da!'>at diatur dalam Peraturan Pemerintah yang merupakan pasal yang merupakan satu kesatuan yang harus diterima menurut penjelasan dari Menteri tadi. Mengapa kita menyatakan itu harus? Karma masalah wajib belajar itu pada Undang· undang yang berlaku sekarang masih ada, dan Pemerintah sudah rrn:laksanakan. Disamping itu GBHN 88 menganjurkan bukan hanya melaksanakan tetapijustru meningkatkan.

Inilah alasan kami bahwa ini harus ada.

Lalu tentang batasan tadi dimulai dengan 7 dan berapa akhirnya. mernang di sini ter--;;r:n pada kami yaitu pendidikan dasar sampai tamat. ~tengapa kami tidak mencantumkan Jamanya belajar atau usia? Ini karena perkembangannya di mana pengertian pendidikan da-sar yang oleh Pemerintah sekarang cenderung untuk diartikan pendidikan SD 6 tahun de-ngan SMP 3 tahun maka pengertian ini sampai tamat itu sudah akan bisa membatasi waktu sampai seberapa lama harus belajar. Dan ap:ibila ini merupakan kita hubungkan dengan GBHN '88 maka ini juga mt:rupakan suatu pelaksanaan amanat daripada GBHN '88. Dan andaikata nanti Pemerintah itu akan melanjutkan dengan kemampuannya sudah bisa nanti menaikkan lagi sampai dengan SMA maka masalah itu tidak akan ada hambatan.

Masalah sanksi, kami juga bisa menerima bahwa itu nan ti bisa diatur di dalam PP. Ma-salah ketakutan untuk nanti mt:nyulitkan orang tua atau membt:bani orang tua, saya kira tidak perlu ada. karena masalah ini sudah kita bicarakan terdahulu pada waktu kita membi-carakan mengenai sanksi pidana Pasal 55 dan 56. Apa yang sudah disebut di dalam RUU bisa kita setujui untuk kita hapuskan a tau kita keluarkan daripada sanksi pidana yang nan-tinya akan kita berikan sanksi administrasi, di antaranya adaJah Pasal-pasal 7, 31 dan 38. Kalau itu kita sudah bisa pahami dan bisa kita terima masalah itu maka untuk memasukkan kategori wajib belajar itu dalam kategori pasal-pasal itl! yang tidak akan dikenakan sanksi karena wajibnya itu nanti apalagi pada sanksi pidana maka bisa kita atur. sehingga kekha· watiran untuk kita nanti tt:rjebak pada pengertian wajib harus ada sanksi dan sanksi itu menjurus kepada sanksi pidana bisa kita bicarakan sesuai dengan kesepakatan kita pada waktu membicarakan Pasal 5 5 dan 56.

Inilah dasar dari FABRI, sehingga F ABRI mengusulkan bahwa wajib belajar itu harus dicantumkan di daJam pasal RUU ini.

(11)

KETUA:

Terima kasih atas tanggapan vlang dari FABRI.

Mohon Fraksi Persatuan Pembangunan untuk memberikan tanggapan ulang.

FPP (H. Ismail Hasan Metarewn, S.H.) :

Kami menyampaikan terima kasih baik kepada Pemerintah maupun FKP dan FABRI yang sudah menambah in put bagi kami juga.

. Kami ingin_ memang dalam kesempatan pembahasan ini kita samakan dulu pandangan k1ta. Sesudah k1ta sama pandangan baru kita rumuskan. Memang kami tidak merumuskan apa-apa mengenai masalah ini karena ingin supaya kita bahas lebih dahulu secara mendalam dari segala segi, sehingga kita tidak ada yang keterlanjuran.

. Yang kedua. kami tadi sudah mengemukakan kemungkinan-kemungkinan. Pertama, k1ta menyatakan wajib disini adalah wajib dalam arti apa politis, apa moral namanya

tetapi bukan yuridis. '

Kalau itu yang kita sebutkan maka barangkali tidak hanya di SD. lebih dari itu bisa ki-ta lakukan.

Tetapi kalau sanksi yuridis maka lain. Kami tidak bermaksud kalau menyatakan sanksi yuridis itu sudah harus pidana, bukan itu maksudnya. Tetapi adalah sesuatu akibat daripa-da tidaripa-dak dilaksanakan suatu kewajiban, apa akibat terhadaripa-dap yang tidaripa-dak melaksanakan ke-wajiban itu perlu kita pertimbangkan dalam merumuskan suatu Undang-undang. Bukan kami mengharapkan sanksi pidana. Ini perlu saya tegaskan karena di pasal-pasal lain pun kami menentang adanya sanksi pidana di dalam pendidikan, karena tidak mendidik. Apa-lagi di sini juga demikian, meskipun kita harapkan untuk mendidik, tetapi tidak kami mengusulkan sanksi pidana. Itu yang perlu kami tegaskan.

Kemudian disamping itu, kita juga harus dapat membayangkan apa langkah-langkah yang mau diambil atau yang harus diambil oleh Pemerintah nanti apabila apa yang kita pikirkan, kita rencanakan ini tidak terlaksana. Barangkali lebih baik kita ikut urun rembug daripada hanya menyerahkan kepada Pemerintah. Saya kira ini perlu kita insyafi. sehingga apa yang harus dilaksanakan nanti benar-benar sudah dt;:ngan pertimbangan yang rnenda-lam. Kami pernah mengusulkan sesuatu yang ada hubungan dengan hambatan yang kami kemukakan tadi dalam pembicaraan pertama. Kami tadi menyebutkan hilangnya hambatan apakah itu masalah bebas uang sekolah, apakah itu masalah bebas daripada pungutan, me-mang pernah kami usulkan dalam salah satu pasal di dalam DIM ini yang kita sudah putus-kan dipanjaputus-kan ke Pasal 28 yaitu supaya terhadap peserta didiputus-kan pada tingkat dasar. me-nengah pertama dan meme-nengah atas yang diselenggarakan oleh Pemerintah tidak diperke-nankan dipungut pembiayaan apa pun. lni salah satu daripada cara menghindarkan hambat-an. Kalau memang dia sudah tidak sanggup sama sekali barangkali pemikiran lain, itu Pasal 31 barangkali UUD akan berkata untuk itu atau akan bisa diterapkan untuk itu. Tetapi yang fasilitas dan hambatan lainnya yang ada di satuan pendidikan perlu sekarang kita per-timbangkan dan kita hindari. Fasilitas diberikan oleh Pemerintah, kemudian yang kedua hambatan·hambatan harus dihindari bersama supaya tidak terjadi Jagi untuk masa yang akan datang, sehingga apa yang kita akan wajib sebenarnya kita sendiri seolah-olah meng-hambat kewajiban itu.

(12)

Inilah yang per]u kami sampaikan. Sekali lagi kalau memang wajib dalam arti moral atau politis lain halnya daripada kita mengatakan wajib dalam arti yuridis, dan sebaiknya di sini kita buat Undang-undang kita pikirkan ha] itu, sehingga tidak tertinggal nan ti pada waktu Pemerintah memutuskan, jangan sampai kita ikut berpikir sesudah diambil ke-putusan.

Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih atas tanggapan dari FPP. Berikutnya kami persilakan FPDI.

FPDI

(A. Tyas Satijono Soenarto) :

Berbicara tentang wajib, kami timbul pikiran demikian:

Apa-yang bisa mendorong wajib ini kalau tidak ada sanksi. Dan kita tahu wajib ini un-tuk apa, pasti ada sasarannya. Oleh karena itu, tadi FKP mengatakan bahwa kalau itu be-rangkat daripada kejahatan itu tidak bisa dilakukan sanksi.

Kami menjadi tidak mengerti bagaimana itu dapat kita capai kalau sesuatu wajib tanpa ada sanksi. Tetapi oleh rekan-rekan terdahulu juga dengan jalan pendekatan persuasif mungkin itu juga dapat ditempuh. Lalu dari Pemerintah tadi juga itu tidak perlu disanksi-kan, tidak perlu ditakutkan lagi, karena bisa ditempuh jalan lain dengan penggeseran dari-pada pendidikan formal ke pendidikan non formal. Namun demikian apa pun ujud sanksi ini hendaknya menjadi a tau membuat orang yang diwajibkan itu merasa harus memenuhi. merupakan sesuatu yang nanti kalau tidak saya lakukan akan, itu rangkaian wajib dan sank-si itu. Walaupun kami sendiri tidak mengehendaki bahwa sanksank-si yang akan dihadapkan pada wajib ini akan terlalu memberatkan masyarakat atau akan menjadikan masyarakat ini menjadi terbebani. Saya tidak tahu bagaimana tadi diusulkan juga oleh F ABRI bahwa sank-si wajib ini dengan administratif, apa itu yang dimaksudkan dengan administratif? Tidak diberikan surat kelahiran a tau kawin tidak boleh a tau tidak diberikan surat nikah a tau ba-gaimana, saya tidak tahu. Hanya saya pikir bahwa untuk membuat orang menepati kewa-jibannya itu memang harus ada sesuatu yang ia pikirkan. Kami tidak begitu takut akan ma-salah wajib ini. karena mudah·mudahan tidak terjadi pelanggaran. Karena apa? Jalan yang telah diajukan oleh Pemerintah tadi yaitu dari formal ke non formal. ini sesuatu yang mungkin tidak akan terlalu ditakutkan untuk terjadi pelanggaran. Mengenai batasan umur. memang kalau 6 tahun itu berhak, 7 tahun itu wajib, kami kira kami dapat menerima itu atau kami kira nanti kalau itu menjadi keputusan kami tidak keberatan. Dan sampai batas mana. ya dengan apa yang kami kemukakan dahulu bahwa pengertian pendidikan seumur hidup itu maka batasan waktu atau umur kami kira tidak perlu dicantumkan. Sebagai nanti. pada non formal itu umur begitu lanjut masih dimungkinkan. Yang penting bahwa tujuan wajib itu dicapai, apa tujuan wajib itu? Mengapa kita mewajibkan? Sasaran apa yang akan kita capai dengan mewajibkan itu?

Demikian Saudara Ketua, terima kasih.

KETUA:

(13)

Kalau Pimpinan boleh mengulas sementara dari penjelasan Pemerintah, Pemerintah berang· gapan perlunya ha] tersebut ada. Dan dari Fraksi-fraksi kalau Pimpinan boleh menyimpul-kan pada prinsipnya tidak berkeberatan, hanya di sana sini mohon bagaimana merumusmenyimpul-kan- merumuskan-nya ini supaya tepat baik rumusanmerumuskan-nya maupun pemikiran nantimerumuskan-nya di dalam pelaksanaan dan sebagainya. Hambatan yang masih dirasakan kelihatannya masalah sanksi antara lain, tetapi seperti yang diuraikan FPDI tentunya jangan sampai sanksi itu menimbulkan masa-lah baru lagi yang lebih besar di masyarakat.

Oleh karena itu kami mohon tanggapan sekali lagi dari pihak Pemerintah.

PEMERINT AH :

Semua keterangan yang disampaikan ini tadi memang relevan dan perlu menjadi pe-mikiran kita semua. Namun demikian kiranya tidak akan menyebabkan kesulitan apabila kewajiban belajar yang menegaskan usia batasnya itu dicantumkan sebagai pasal tersendiri. Alasannya satu diantaranya sudah saya sebutkan tadi yaitu bahwa yang digolongkan dalam pendidikan dasar ini termasuk pendidikan non formal yang setara. Itu satu. Kedua, kenya-taan-kenyataan yang ada dalam sesuatu masyarakat di sini a tau di tempat lain, itu barang· kali bisa juga diarahkan oleh karena adanya ketentuan-ketentuan yang akan menata masya-rakat itu. Kita ambil contoh misalnya kalau nanti berlaku ketentuan bahwa Undang-undang Ketenagakerjaan batas minimal 15 tahun, maka mungkin sebagian besar anak-anak yang bekerja di bawah 15 tahun akan terkena. J adi ban yak ketentuan-ketentuan yang diletakkan mendahului kenyataan tetapi menjadi pengarah agar kenyataan yang ada ditata menurut ketentuan yang dirumuskan itu. Jadi kalau misalnya dalam hal pendidikan dasar ini kita masih menyaksikan kemungkinan adanya oleh sesuatu sebab anak-anak yang tidak mung-kin ikut sekolah apakah sebab itu orang tua atau lingkungan, sebab lingkungan bisa juga, sampai sekarang ini ada kenyataan beberapa daerah misalnya perkawinan usia usia muda sebelum tamat SMP, 12-13 tahun, tradisi ini tentu juga akan punya dampak terhadap ke· wajiban belajar sampai SMTP misalnya. Namun demikian. kita tidak bisa menyerah begitu saja pada kenyataan yang ada, tetapi mengantisipasikan keadaan sebagaimana ingin tata itu. Sama h.alnya dengan misalnya usaha membatasi jumlah anak, ini juga secara legal sulit ditetapkan. Kalau dianggap bahwa setiap orang berhak mengatur sendiri berapa anaknya bisa 9, 10, tetapi sementara itu ada kampanye yang mengatakan harus 2 a tau 3 sudah ba-nyak. Mungkin Jama-Jama disamping sanksi-sanksi yang kita bahas selama ini ada sanksi Jain ini yang saya tidak tahu kedudukannya dalam hukum, tetapi punya dampakjuga yaitu sanksi sosial atau sanksi moral. Sehingga apa yang ditumbuhkan sebagai usaha menata itu akhirnya diikuti juga. Saya tidak tahu bagaimana fungsi dari moral sanction atau social sanction ini dilihat dari perumusan wajib atau dilihat dalam kaitan wajib belajar. Sehingga pada suatu saat kalau ada orang yang tidak menyekolahkan anaknya itu malu terhadap ma-syarakat a tau merasa melengahkan kewajiban moralnya. Ten tu saja sanksi moral a tau sanksi sosial itu sulit dirumuskan dalam hukum.

Yang terakhir Saudara Ketua, apakah masalah sanksi ini akan lebih fleksibel kekrang· annya andaikata kata "wajib" diganti "berkewajiban", apa ini ada pengaruhnya dari pan-dangan orang-orang hukum, saya kurang tahu. Tetapi barangkali dalam pikiran saya "ber-kewajiban" ini ditafsirkan sebagai obligation. J adi yang kedua ini bukan "wajib" tetapi "berkewajiban". Ini ada bedanya a tau tidak, saya kurang paham.

Kesirnpulannya, oleh karena ada sanksi-sanksi lain yang bukan hukum sifatnya maka apa yang kita tata di sini mengantisipasikan keadaan sebagaimana kita cita-citakan. Sehing· ga sanksi moral dan sanksi sosial ini mudah-mudahan juga punya dampak. Yang terakhir tadi ten tang kewajiban saya kurang paham, apakah itu berbeda atau tidak kalau disebut "berkewajiban", bukan wajib tetapi berkewajiban.

(14)

KETUA:

Terima kasih kepada Saudara Menteri yang telah memberikan penjelasannya. Kelihat-annya kok prinsipnya sudah disetujui, hanya per Ju mendaJami, bagaimana kalau kita sarong ke Panja, dalam arti Pemerintah tadi mengusulkan alternatif untuk dipikirkan di Pasal 14 dengan tidak keberatan dalam rangka pelaksanaan selanjutnya diatur oleh Peraturan Pemt-rintah.

Ini alternatif pemikiran sehingga nanti Panja itulah yang akan iebih bisa mtndalami sesuai dengan harapan khususnya rekan FPP, juga FPDI yang btnanya sanksi apa yang bisa mendorong kepada wajib. Lalu disambung oith Pemtrintah. ada sanksi moral. sanksi sosial. Mungkin nanti dengan pendalaman itu akan bisa menemukan rumusan yang tepat serta pemikiran kearah implikasinya nanti bagaimana.

Apakah bisa disetujui? Silakan FPP.

FPP (Ny. Aisyah Aminy,S.H.):

Kita semuanya kelihatan memang tidak ada yang tidak ingin adanya pasal yang akan mendorong bangsa kita a tau generasi muda kita khususnya akan memasuki pendidikan itu sebagai suatu kewajiban. Tetapi perlu kita lihat sekarang ini dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1959 sudah ada, kewajiban wajib belajar itu sudah ada. Tadi bahkan salah seorang pembicara mengatakan sebetulnya Pemerintah sudah melaksanakan, tetapi nyatanya se-karang ini tidak terasa bahwa itu sudah dalam pelaksanaan, apakah benar sudah terlaksana a tau tidak. Karena memang tidak ada sanksi apapun bagi orang yang tidak melakukannya. Jadi dalam kaitan inUah tadi dari Fraksi kami mengharapkan kita memikirkan sanksi apa kira-kira yang dapat kita berikan untuk benar-benar kewajiban ini dapat terlaksana. Dan seperti juga tadi sudah kami kemukakan sanksi itu tidak selalu pidana dan bahkan ka-mi tidak sama sekali setuju kalau ada sanksi pidana. Mungkin salah satu yang dapat kaka-mi usulkan pada ,sekarang ini sebelum nan ti Peraturan Pelaksanaannya yang akan diatur de-ngan Peraturan Pemerintah ialah -sekarang ini banyak di desa-desa orang yang tidak bisa menyekolahkan anaknya karena adanya pungutan-pungutan yang tadi sudah berapa kali sudah diungkapkan pada Pak Menteri termasuk daiam Sidang-sidang Komisi, banyak orang tua yang tidak bisa memasukkan anaknya sekolah karena pungutan-pungutan yang berma-cam-macam itu, ada yang uang bangku, uang gedung, uang apalah uang kebersihan, yang akhirnya untuk orang di desa itu tidak terpikul sehingga dia terpaksa mengeluarkan anak-nya dari sekolah. Andaikata sekarang ini memang kita memang bertekad untuk mewajib-kan ini, walaupun Peraturan Pemerintah belum ada. kalau misalnya begitu Undang-undang ini sudah diundangkan terasa memang ada perbedaan.dengan selama ini ialah larangan un-tuk memungut apapun terhadap anak-anak di sekolah dasar ini oleh pihak sekolah entah namanya biasanya guru bersepakat, kelihatannya bersepakat dengan orang tua tetapi se-betulnya itu adalah suatu keharusan oleh guru karena kepentingan-kepentingan lain. Kalau misalnya sekarang ini begitu Undang-undang ini dinyatakan sudah berlaku maka sebagai follow up-nya terhadap pasal ini, larangan secara resmi di sekolah·sekolah dasar negeri dipungut apapun. Sehingga demikian terasa bahwa memang salah sa tu kendala yang selama ini dirasakan akan menjadi pendorong bagi orang untuk mewajibkan anak-anaknya untuk pergi sekolah.

lni barangkali sementara, kita setuju prinsipnya ini dipanjakan Bapak Ketua, tetapi ini mun_gkin salah satu yang ingin kami usulkan sehingga benar-benar Undang-Undang Pen-didikan ini sudah terasa ke arah adanya suatu peiaksanaan yang konkret.

(15)

KETUA:

Terima kasih usulan dari FPP yang menuju ke arah contoh kasus tetapi itu memang hampir sudah tidak menjadi kasus barangkali menjadi problem. Tetapi seperti pihak Peme-rintah mengatakan bahwa itu nanti bisa dikaitkan jiwanya bagairnana kehendak kita di dalam penjelasan apabila nanti itu sudah terumuskan. Oleh karena itu dari FPP usulannya· tadi merupakan tambahan imput bagi Panja yang nan ti akan membahasnya sedalam-dalam-nya. Bagi Pimpinan yang menarik adalah ajakan FPP supaya kalau memang: benar-benar ini dicantumkan di Undang-undang, demikian nanti undang-undang selesai disahkan nampak ada sesuatu yang lain. Itu nanti Panja bagaimana untuk menggodognya, kami yakin penuh dengan teman-teman,yang bijaksana. arif dan sebagainya.

Apakah masih ada yang ingin menambahkan? Kalau tidak ada, oh, silakan Fraksi Kar-ya Pembangunan.

FKP (Anton Priyatno, S.H.) :

Kami tidak mengubah apa yang nampaknya sudah ditangkap oleh Bapak Ketua, tetapi ini sebagai tambahan sebagaimana tadi dikemukakan oleh FPP mengenai pungutan itu, ka-mi kira nanti kita harus terkait pada pembebasan uang sekolah, yang prinsipnya kaka-mi kira sampai dengan jenjang apa wajib belajar itu diperlakukan yang nanti akan diatur oleh PP ini. Sejauh itu pulalah Pemerintah harus membebaskan uang sekolah. Dus itu konsekwensi logis, sehingga tidak boleh ada pungutan-pungutan apa pun yang dilakukan oleh Pemerin-tah pada jenjang yang menjadi kewajiban belajar.

Demikian, sekedar sebagai tambahan. Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih atas tambahan dari FKP yang bisa nyambung terhadap permasalahannya itu.

Silakan F ABRI. F ABRI (A.S. Harjono) :

Kami ingin mengajak bersama-sama untuk memikirkan benar-benar masalah usulan pembebasan SPP tadi. Kalau bagi kami atau kita yang di Komisi IX, saya kira masalah ini bukan masalah lagi. Mengapa hanya sampai SD, tidak ke-SMP atau SMA. Saya kira sudah jelas semuanya. Masalahnya yaitu Kemampuan Negara. Di samping itu kita tahu bahwa tanggung jawab pendidikan bukan hanya pada Pemerintah _ Jadi apabila kita mau mensuk-seskan wajib belajar dalam rangka mencerdaskan bangsa, itu adalah kewajiban Pemerintah, masyarakat, dan orang tua. Dan kita semua sudah tahu bahwa, secara real secara kenyataan apabila satuan-satuan pendidikan, terutama adalah SD yang sekarang dibicarakan dibebas-kan dari SPP, lalu dilarang terang-terang oleh pemerintah tidak boleh mengambil suatu bia-ya atau sumbangan apapun maka kita tahu bahwa satuan pendidikan itu tidak akan menca-pai tujuan pendidikannya. Dengan segala sesuatu kekurangannya, dan itu sudah diambil secara kebijaksanaan yaitu mengizinkan adanya POMG ataupun BP3. Dan itu adalah sudah mencerminkan bahwa selain daripada pembebasan SPP oleh pemerintah sebagai tanggung jawab Pemerintah, maka dilebarkan orang tua untuk ikut bertanggungjawab atas berjalan-nya pendidikan itu. Jadi kita hams juga secara riil, kita melihat keberjalan-nyataan ini. Haberjalan-nya ini soalnya yang harus dijaga' adalah jangan sampai itu diwajibkan untuk keseluruhannya atau membebankan orang tua murid yang memang benar-benar tidak mampu. Dan itu su-dah ada jalannya bagi mereka yang tidak mampu, dengan surat~urat penjelasan tidak mampu, mereka sama sekali dibebaskan dari iuran POMG maupun BP. 3

(16)

Ini supaya kita fahami, jangan sampai kita memaksakan justeru nantinya pelaksanaan wajib belajar ini bukan masyarakat yang tidak mampu yang jadi sasaran bahkan justeru nanti kalau dengan pembebasan mutlak SPP bahkan sampai dengan SMP atau SMA, bahkan Pemerintah yang nanti akhirnya tidak mampu untuk melaksanakan. Karena kita tahu sen-diri bahwa kemampuan Pemerintah itu apabila dipaksakan untuk pendidikan maka harus juga mengurangi kemampuan-kemampuan yang lain dan sampai sekarang tuntutan untuk biaya pendidikan itu mendapat prioritas yang lebih daripada sekarang rupanya belum men-dapatkan prioritas. Seperti halnya yang kita kehendaki misalnya, pembebasan sampai SMP atau SMA. Inilah yang perlu kami ingatkan. kita fahami oersama pada waktu penentuan nanti, kita dapat menentukan sebaik-baiknya, tidak memberatkan masyarakat atau orang tua murid dan juga tidak memberatkan pemerintah, sehingga di luar kemampuan pemerin-tah terutama DEPDIKBUD di dalam melaksanakan wajib belajar ini.

KETUA:

Terima kasih jadi ini juga suatu masukan uang nanti bisa dibahas dalam Panja karena satu sama lain mempunyai argumentasinya sehingga bisa enak. Silakan Fraksi PP.

FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S.H.):

Kami menyambut baik ajakan FKP tadi untuk kita kaitkan permasalahan pungutan ini dengan pembahasan ini nanti dalam Panja. Saya kira ini sudah suatu ide yang baik untuk dibicarakan. Namun apakah orang tua mau kita libatkan atau tidak, saya kira ini kita semua bisa berpikir dan semua anggota DPR berperanan dalam APBN. Pemerintah lebih dahulu mengatur kemudian kita ikut mendukung. Barangkali kalau memberikan biaya lebih besar untuk P & K untuk pendidikan itu barangkali sudah kita harapkan bersama semuanya. Ha-nya kita harapkan Pemerintah mengatur supaya biayaHa-nya untuk pendidikan lebih besar. Pe-merintah dalam hal ini bukan hanya pak Fuad barangkali, jadi kita akan mendukung di sini. Saya kira marilah kita melihat negeri-negeri yang sudah berhasil maju oleh karena ia mementingkan pendidikan.

KETUA:

Kita dorong ke Panja untuk kita dalami sedalam-dalamnya, tapi jangan sampai akhir-nya kita menerobos sekali dalam sampai kita tldak menemukan apa-apa. Yang penting ba-gaimana wajib belajar ini dengan betul-betul berjalan dengan melihat situasi, kondisi dan sebagainya. Jadi menyangkut Wajib Belajar kita dorong ke Panja dan di dalam pembahas-annya nanti dikaitkan dengan pasal-pasal yang terkait kepada wajib belajar itu tadi. FPDI (A. Tyas Satijono Soenarto):

Mohon diberi waktu, saya kira PDI walaupun kecil suaranya tapi bisa Jipungut manfa-atnya.

KETUA:

Jadi begini Pak, maaf bukan bermaksud karena Pimpinan menganggap prinsipnya itu sudah disetujui dan segala masukan itu ke Panja. Tapi kalau FPDI tadi meminta bukan karena kecilnya, justeru karena besarnya, besar jiwanya. Maka kami persilakan dari FPDI untuk menyampaikan input.

FPDI (A. Ty as Satijono Soenarto) :

Saudara Ketua yang di sana~ini sebenarnya termasuk humor, tidak menjadi suatu ca-tatan yang tajam

(17)

Saudara Ketua, wajib belajar hampir semua atau bisa dikatakan kesepakatan ini sudah diambang pintu. Lalu beralih kepada masalah pungutan, tadi bahwa di sana-sini disebut mengenai sebagai resi.k:o daripada wajib belajar itu harus ada pembebasan dari pungutan-pungutan. Kemudian dari FKP mengatakan itu memang wajar kalau Pemerintah membebas-kan uang sekolah. Dari ABRI apa mungkin itu semua dibebasmembebas-kan.

Memang sebenarnya apa yang ingin kami sampaikan di sini seperti atau mirip yang disampaikan ABRl. Kalau orang tua yang berbicara itu Pemerintah atau bukan, karena orang tua melihat ingin bahwa anak-anaknya di sekolah itu lebih mendapatkan peningkatan pelayanan yang tidak hanya dari guru tetapi juga karena bantuan orang tua. Hanya saja FPDI, ada pengawasan itu. Pungutan yang diambil dari orang tua itu oleh POMG atau BP.3 itu. Masalahnya sekarang ini yang menjadi kenyataan amat sangat bergantung pada siapa yang menjadi BP.3. Kalau BP-3 ini orang-orang gedean, pikiran-pikiran yang tumbuh dan berkembang itu memang pikiran yang ukurannya gede. Sehingga kalau nanti di dalam ra-pat, memang itu rapat orang tua, tetapi kadang-kadang yang kecil itu tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu didog, itu yang keluar gede hampir jarang dikatakan bahwa, tidak ada itu pengurus BP-3 atau dari orang-orang kecilan. Itu jarang sekali. Oleh kaiena itu memang pengawasan pen ting. Syukur kalau di dalam Pemerintah atau Peraturan Menteri mengatur, paling tinggi pungutan dari orang tua yang lewat BP-3 itu hanya demikian hingga demikian, begitu. Tidak lalu ada suatu Inpres dari BP-3, karena anak saya sekolah di situ, sekolahnya harus hebat, Drum Bandnya tidak cukup satu tapi tiga, misalnya begitu. Ini hendaknya ada rem, ada pengawasan.

Memang sebagai konsekuensi logis tentu pembebasan uang sekolah dalam wajib belajar itu. Hanya pasti kalau dari sana saja, situasi yang sekarang ada apakah nanti kita 25% dari-pada seluruh anggaran itu betul seperti usul PDI di dalam pandangan umurnnya yang Ialu, syukur kalau begitu. Tetapi saya pikir berapa periode DPR ini jangkauan itu belum begitu dekat. Jadi apa yang kami sampaikan, andaikata itu terjadi nanti, PDI menghimbau atau, mengharap bahwa ada pengawasan terhadap pungutan-pungutan lain yang di luar pungut-an Pemerintah, karena Pemerintah sendiri tentu saja sebagai konsekuensi logisnya membe-baskan uang sekolah itu.

KETUA:

Terima kasih, jadi rupanya usulan dari FPDI juga menambah input untuk kepentingan kita bersama, J adi kami ketok untuk kedua kalinya, jadi tidak bertentangan dengan yang diketok tadi,

(KETOK PALU)

Dengan demikian maka aspirasi PDI sudah masuk di dalam. Kita membahas wajib belajar-nya, jangan nanti kita lalu membahas pungutan. Tapi wajib belajar yang terkait kepada hal-hal yang akan menghambat. lni hanya himbauan Pirripinan.

Baik terima kasih atas pandangan-pandangan wajib b~lajar yang memang merupakan sesuatu disamping rnernang diarnanatkan oleh GBHN, juga.hal yang penting dalam mendo-rong mempercepat kemajuan bangsa di masa yang akan datang.

Kita rnenginjak sekarang usulan bab baru yaitu yang di dalam DIM terkait dengan isti-lah Dewan Pendidikan Nasional. Sekretariat Pansus teisti-lah mencoba menyandangkan, karena letak di DIM itu diberbagai halaman, maka telah disandangkan, itu nampak jelas. Hanya pimpinan ingin menambahkan rupanya masih ada satu ketinggalan, yaitu di jalur FPDI supaya dikaitkan pula pada halaman 47. Halaman 47, pada waktu itu FPDI

(18)

me-nyinggung-nyinggung salah satu harapan tugas yang diusulkan sebagai narna Dewan

Pendi-dikan Nasional terkait dengan penilaian kurikulum. Nah, ini supaya dikaitkan lagi.

Dan juga Pimpinan tidak keberatan kalau juga dikaitkan hakekat jiwa terhadap usulan pasal baru FPP yang kemarin sudah kita bahas, yang sudah kita sepakati kita masukkan di dalam Penjelasan Umum, tetapi dari FABRI mengingatkan mungkin bisa terkait ke-pada masalah usulan apa yang diusulkan dengan nama Dewan Pendidikan Nasional.

Ini Pimpinan hanya ingin merangkum supaya tidak ada tercecer, jadi bukan pasalnya, tapi jiwanya. Kami persilakan terlebih dahulu dari FPDI untuk mengajukan alur fikir ter-hadap usulannya terse but, kami persilakan.

FPDI (A. Tyas Satijono Soenarto) :

Timbulnya Pikiran PDI mengenai masalah Dewan Pendidikan Nasional, memang be-rangkat dari akan diadakannya Undang-undang ini sendiri khususnya mengenai judul Un-dang-undang. Di.mana kami mengusulkan bahwa undang ini merupakan Undang-undang pokok. Oleh karena itu banyakhal yang tentu saja rinciannya tidak bisa dicantum-kan di dalam Undang-undang pokok ini. Dan tentu saja tidak semuanya harus diatur oleh Menteri atau oleh Pemerintah, sehingga harus diatur oleh Undang-undang lain.

Kemudian juga mengenai masalah-masalah yang akan ada kemungkinan terjadi peru· bahan-perubahan yang prinsipiil. Ini tentu saja tidak hanya diatur dengan Peraturan Peme-rintah atau oleh Menteri yang bersangkutan tapi hendaknya ini juga menyangkut masyara-kat, mengikutsertakan masyarakat dan para pakar-pakar. Dari sinilah PDI berangmasyara-kat, me-ngapa lalu ada usul untuk dibentuknya Dewan Pendidikan Nasional di dalam mendam-pingi perjalanan Undang-undang ini beserta Pemerintah.

KETUA:

Terima kasih, kami persilakan dari FPP. FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S.H.):

Terima kasih, kami bergembira bahwa semua fraksi berpendapat sama dalam hal ini bahwa perlu adanya suatu badan yang ikut memberikan input kepada Menteri dalam me-ngelola sistem pendidikan nasional ini.

Baik FPP maupun F ABRI atau FKP dan FPDI terlihat adanya kesamaan pendapat tentang, bahkan nama pun sama yaitu Dewan Pendidikan Nasional. Sehingga karni merasa tidak lagi sulit untuk menyampaikan dan barangkali sudah tidak perlu menyampaikan banyak mengenai masalah ini, mengenai prinsip daripada pembentukan Dewan Pendidikan Nasional. Hanya barangkali yang perlu kita pikirkan apakah fungsi daripada Dewan itu, sejauh mana fungsinya dapat dikaitkan dengan masalah sistem Pendidikan Nasional ini, dan sejauh mana dia dapat berperanan dalam ikut memberikan bahan pemikiran dan konsepsi-konsepsi kepada Menteri. Jadi pengisian dari pada Dewan Pendidikan Nasional ini yang perlu kita fikirkan bersama-sama dalam pembahasan ini, barangkali kalau masalah prin-sip dan nama sudah sama semuanya kalau kami menarik kesan, bukan menarik kesirnpulan, karena itu adalah Pimpinan yang akan mengambil kesirnpulan nan ti.

Kesan kami demikian sehingga karni hanya menjelaskan di sini bahwa pendidikan Nasional ini, Dewan Pendidikan nasional ini dirasa perlu untuk dapat menghubungkan antara Men-teri Pendidikan dengan Masyarakat terutama masyarakat pendidik, untuk inilah maka perlu adanya suatu badan. Adapun tata kerja atau cara bekerja dari badan itu nanti diatur sendiri oleh badan yang bersangkutan. Kami mengharapkan anggota-anggotanya diangkat

(19)

oleh Bapak Presiden, sehingga dengan begitu, betul-betul melalui suatu saringan yang akan masuk di dalamnya adalah tokoh-tokoh yang akan diharapkan pemikirannya dan partisi-pasinya dalam bidang pendidikan,

KETUA:

Kami persilakan F ABRI. FABRI (A.S. Harjono):

F ABRI dalam menyarankan adanya Dewan Pendidikan Nasional, beranjak pada Pa-sal 49 ayat (3). PaPa-sal 49 yang mengatur maPa-salah keikutsertaan masyarakat. Sedangkan da-lam ayat (3)nya dikatakan termasuk dada-lam pengaturan yang terse but antara lain dada-lam

membicarakan pemecahan permasalahan persoalan-persoalan yang penting yang dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan nasional secara keseluruhan. Sedangkan Ayat (2).itu hanyalah untuk mengenai penyelenggaraan, jadi kami menganggap bahwa Pasal 49 itu perlu dilengkapi dengan wadah tempat masyarakat itu berperan serta, bukan hanya dalam . penyelenggaraan pendidikan tetapi dalam menentukan kebijaksanaan pendidikan,

Sehubungan dengan maksud ini maka F ABRI menganggap perlu adanya dua tingkat ~wan itu tadi, Masalah Dewan itu namanya apa, nanti kita serahkan tetapi adalah merupa-kan suatu wadah orang-orang yang amerupa-kan berfungsi membantu Pemerintah di dalam menen-tukan kebijaksanaan, yaitu pada tingkat Nasional itu adalah merupakan pembantu nanti-nya kepada Menteri sedangkan kami usulkan juga untuk tingkat daerah yaitu nantinanti-nya akan merupakan pembantu Gubernur ataupun Kakanwil di daerah.

Mengapa kami usulkan untuk adanya pada tingkat daerah, karena banyak juga masalah-masalah yang perlu adanya ketentuan atau keputusan yang ada ditingkat daerah yang me-nyangkut pada masalah-masalah daerah. Hal ini kami hubungkan langsung dengan. nanti-nya adananti-nya penentuan kebijaksanaan mengenai pengisian muatan lokal. Di mana akan di-tentukan apa yang diperlukan oleh daerah itu yang perlu dimasukkan didalam muatan lo-kal itu.

Di samping itu juga merupakan suatu tempat, . forum di mana akan diadakan koordinasi antara Pemerintah dan masyarakat, ataupun Pemerintah dengan instansi-instansi yang ada di daerah.

Inilah pemikiran dari F ABRI di mana Dewan tadi yang merupakan pembantu daripada Pemerintah. dalam menentukan kebijaksanaan yang kami usulkan baik di pusat maupun

ke daerah. KETUA:

Terima kasih yang telah menyampaikan la tar belakang pikirannya atas usulannya dari FABRI.

Kami . persilakan FKP. FKP (Ki Soeratman):

FKP berpangkal tolak dari tanggung jawab pendidikan, seperti GBHN demi ·GBHN sudah ditegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan adalah keluarga, masyarakat dan pemerintah. Dalam rangka pemikiran partisipasi masyarakat itulah maka FKP mengusul-kan adanya Bab dan Pasal Baru tentang Dewan Pendidimengusul-kan Nasional ini, Mengenai peran serta masyarakat, hakekatnya bisa berbagai ragam :

(20)

Pertama, turut mendirikan sekolah yang berwujud perguruan Swasta. Peran ser-ta wali murid aser-tau orang tua di dalam membantu pengadaan sarana aser-tau prasa-rana, dan sebagainya-,

Ketiga, keikutsertaan dalam perencanaan dan penentuan kebijakan,

Ini semua yang kedua tadi sudah diatur melalui Pasal 49 baik ayat (1) sampai ke ayat (3). Mengenai yang ketiga keikutsertaan djilam membantu dalam penentuan kebi-jakan inilah yang menjadi usul kami untuk menjadi bab baru.

Ada pun usul kami sesuai dengan DIM itu menjadi Bab tersendiri, menjadi pasal tersendiri, terdiri atas empat ayat.

Ayat (1) Dewan Pendidikan Nasional dibentuk oleh Pemerintah untuk menunjang Pen-didikan Nasional.

Ayat (2) Dewan Pendidikan Nasional bertugas membantu Menteri dalam menentukan ke-bijakan di bidang Pendidikan Nasional.

Ayat (3) Dewan Pendidikan Nasional terdiri dari unsur Pemerintah, dan masyarakat. Ayat (4) Pembentukan dan Tata Kerja Dewan Pendidikan Nasional tersebut diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Jadi di sini jelas bahwa lembaga yang diusulkan oleh FKP fungsinya adalah membantu Menteri dalam menentukan kebijakan di bidang Pendidikan Nasional.

Kemudian tempatnya diusulkan agar tempatnya Bab tentang Pendidikan Nasional, dibelakang Bab tentang Peran serta Masyarakat, karena itu ada kaitannya.

Mengenai Dewan Pendidikan Nasional ini menurut FKP hanya ada di pusat, karena kebijakan nasional itu mestinya di pusat itu lah. Di daerah FKP menganggap tidak perlu· karena Dewan Pendidikan Daerah itu harus membicarakan Policy atau kebijakan dari Pusat. Kalau sekadar pemuatan lokal dan sebagainya, saya kira sudah ada kantor Wilayah Depar-teman P dan K yang bisa membantu Gubernur di dalam mengatur dan menentukan kira-nya muatan apa yang bisa dimasukkan di d~amnya.

Jadi maksudnya agar jangan sampai kalau itu merupakan Dewan nanti bisa mengambil ke-bijakan yang bisa bertentangan atau jumbuh dengan yang dari pusat itu. Itulah karenanya FKP hanya mengusulkan agar Dewan Pendidikan Nasional itu di Pusat saja.

KETOA:

Terima kasih dari FKP yang telah memberikan latar belakang pemikirannya. Kami persilakan dari Pemerintah untuk memberikan tanggapannya.

PEMERINT AH :

Mengenai saran dibentuknya Dewan Pendidikan Nasional ini, karni di Departemen P dan K sudah mendalami agak lama dan kalau tadi disebutkan bahwa keempat fraksi meng-usulkan sesuatu yang jiwanya sama, kami dapat menambahkan bahwa juga di Departemen P dan K jiwa ini hidup. Dan ini bukan sekarang, tapi sudah 3 tahun yang lalu, ketika diben-tuk forum tentang Pendidikan Nasional dengan asumsi yang sama yaitu bahwa Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan hams mendengar pendapat masyarakat untuk merumuskan kebijakan-kebijakannya.

Masalahnya yang berbeda barangkali atau yang belum jelas disini ialah apakah Dewan ini suatu badan struktural yang melekat pada Departemen atau pada organisasi-organisasi lain atau lnstansi lain, itu pertama.

(21)

Yang kedua, karena disini disebutkan bahwa anggota Dewan itu berasal dari masyara-kat, tokoh-tokoh pendidikan, ahli-ahli pendidikan dan ·lain sebagainya, maka kriteria ini nampaknya amat umum, sebab sulit menetapkan riapa-siapa yang dianggap tokoh-tokoh masyarakat, siapa yang dianggap ahli-ahli pendidikan. Artinya yang dianggap dan akan dipi-lih .Jadi mungkin saja kita akan mempunyai suatu wahana untuk bekerja bersama-sama De-partemen Pendidikan guna merumuskan kebijakan Nasional .di bidang Pendidikan akan te-tapi kami belum mendapat visualisasinya dari gagasan Dewan ini. Pertama, strukturnya, ke-dua ukurannya artinya berapa besar, lalu apa kriteria pengangkatan itu tadi. Yang penting adalah kalau nanti wahana ini dibentuk, tentu pertimbangannya adalah _pertimba~gan yan~ nyata terkait pada kepentingan Pendidikan Nasional dan bukan wahana yang menjadi ke-pentingan di luar pendidikan.

Dari fihak kami pada instansi sekarang ini hanya bisa menyampaikan bahwa gagasan ma-syarakat dalam merumuskan kebijakan nasional di bidang pendidikan, ini baik dan bahkan sudah kamijalankan selama beberapa tahun terakhir. Dan beberapa saran-saran yangmasuk diforum itu diambil oper oleh Departemen sebagai saran yang kemudian dilaksanakan. Saran Kongres Kebudayaan, misalnya itu datang dari forum Pendidikan itu. Tinggal lagi se-karang tentang perkataan Dewan itu sendiri. Banyak nama yang kira-kira sejenis dengan de-wan ini, pertanyaannya adalah Dede-wan Pendidikan Nasional ini tidak merupakan duplika~ si dengan Dewan Pertimbangan Agung, Dewan Perwakilan Rakyat, dan lain-lain. Saya pikir pada saat ini yang dapat dicatat adalah dapat diterimanya ide adanya wahana untuk me-nampung atau gagasan-gagasan, pendapat-pendapat atau saran-saran, usul-usul dari masya-rakat guna merurnuskan kebijakan Pendidikan Nasional. Apalagi kalau nanti Undang-un-dang ini berlaku tentunya maka wahana seperti ini tentu berpijak pada pedoman-pedoman yang sama, namun demikian hendaknya difikirkan apakah sebutan Dewan ini memadai untuk digunakan dalam konteks Pendidikan Nasional ini, sebab <lulu juga ada Majelis Pen-didikan Nasional. Dan Majelis itu juga menetapkan siapa-siapa keanggotaannya.

Walaupun kami cenderung untuk mengusulkan yang lebih longgar, rnisalnya dengan meng-gunakan istilah forum saja, sehingga sifatnya tidak terlalu ketat dan struktural, sehingga juga partisipasi masyarakat tidak terlalu terikat oleh siapa yang diangkat, tapi siapa yang pada suatu saat dianggap perlu untuk ambil bagian dalam suatu diskusi maka pada saat ini kami cenderung untuk mengusulkan sebagai pengganti istilah Dewan dengan istilah Forum saja, hal ini mengingat bahwa bidang pendidikan khususnya penyelenggaraan pengajar-an begitu beragam-ragam sehingga kadang-kadang diperlukan suatu pertemuan dari orang-0rang yang kebetulan minatnya terpusat pada sesuatu ragam masalah pen-didikan saja, maka kalau diminta pendapat kami, kami bisa mengusulkan istilah Forum se-bagai alternatif dari kata Dewan, sedangkan mengenai hal-hal lain yang kami singgung tadi itu, struktur, ukuran dan lain-lain, saya pikir perlu kita bahas lebih lanjut, oleh karena ini mempunyai konsekuensi yang saya kira cukup luas terutama dalam memilih orang-orang tua.

Sekian dahulu tanggapan kami terima kasih.

KETUA:

Terima kasih atas tanggapan dari pihak Pemerintah kalau Pimpinan boleh mengangkat inti sari yang diungkapkan oleh Pemerintah, Pemerintah masih menghendaki bagaimana tentang status lembaga tersebut secara struktural, dan bagaimana susunannya, tentunya ba-gaimana tugasnya dan sebagainya. dan sebagainya.

Oleh karena itu tadiPemerintah juga memberikan usulan sebagai alternatif nama, karni mo-hon Fraksi-fraksi untuk lebih mengembangkan dalam arti mendalami sesuai dengan apa yang telah dijawab oleh Pemerintah karni persilakan dari FPDI.

Referensi

Dokumen terkait