Rektor UNAIR Ajak Calon
Mahasiswa Termuda Berbincang
UNAIR NEWS – Salah satu yang menarik perhatian dalam prosespendaftaran ulang calon mahasiswa baru Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di Airlangga Convention Center, Universitas Airlangga, Selasa (31/5), adalah kehadiran Rania Tasya Ifadha. Gadis berusia 15 tahun itu berhasil diterima pada program studi S-1 Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, UNAIR, tahun angkatan 2016.
Rania jauh-jauh datang dari Semarang, Jawa Tengah, ke UNAIR dengan didampingi oleh ibunda tercinta, Suhartini. Mereka tiba di Surabaya sejak Senin (30/5), dengan diantar sang ayah Hasanudin. Namun, sang ayah tidak bisa menemaninya daftar ulang karena harus bergelut dengan pekerjaannya sebagai pelayar.
Di hadapan ribuan calon mahasiswa baru UNAIR, Rektor Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak, mengundang Rania dan ibunda untuk sejenak berbincang. “Saya undang calon mahasiswa baru Universitas Airlangga yang lahir pada bulan Februari tahun 2001. Berarti dia baru berusia 15 tahun dan diterima di Fakultas Kedokteran,” undang Rektor UNAIR yang disambut dengan tepukan tangan hadirin.
Rania menuturkan, tekad menjadi dokter sudah tertanam sejak ia masih kecil. Ia tak ingin profesi dokter hanya sebatas cita-cita. Rania juga berkeinginan untuk hidup mandiri dan bersekolah di luar provinsi tempat ia tinggal. Setelah mendengar reputasi prodi S-1 Pendidikan Dokter FK UNAIR yang baik, maka ia memutuskan untuk mendaftar pada prodi tersebut. “Pertama sih, ada tekad dalam diri sendiri. Dari kecil saya ingin menjadi dokter, apalagi Pendidikan Dokter UNAIR memiliki akreditasi A. Selain memang udah minat, saya juga ingin
mencoba ke tempat lain yang jauh dari rumah,” cerita Rania. Setelah diterima di FK UNAIR, Rania berharap agar ia bisa menjalani kuliah dengan lancar dan bisa menjadi dokter yang baik bagi masyarakat. “Semoga saya bisa menjadi dokter yang baik, menjalankan amanah, dan bisa membantu orang,” imbuh Rania.
Sejak usia dua tahun, Rania sudah duduk di bangku PAUD (pendidikan anak usia dini). Kemudian pada usia lima tahun, R a n i a m u l a i b e l a j a r d i b a n g k u s e k o l a h d a s a r ( S D ) . Ketertarikannya pada program kelas akselerasi dimulai sejak ia diterima di salah satu sekolah menengah pertama di Semarang. Pada saat itu, ibunya mencoba memantik minat Rania untuk mendaftar pada program kelas akselerasi.
“Waktu SD-nya belum akselerasi. Pas SMP, saya ingin mencoba. Alhamdulillah, keterima. Kok, SMA ingin lagi. Ya saya daftar,” cerita Rania dengan didampingi ibunda.
Dalam kesempatan wawancara bersama wartawan, Rektor UNAIR mengatakan pihaknya tak akan memberikan perlakuan khusus secara akademik maupun finansial kepada Rania. “Kalau perlakuan khusus, nanti dikira diskriminasi. Rania juga membayar tergantung UKT juga. Kalau berasal dari keluarga kaya, ya, berarti termasuk kelompok UKT VII,” canda Rektor UNAIR.
Namun, Prof. Nasih tidak menampik akan memberikan bantuan psikologis kepada Rania, mengingat usianya yang masih amat belia tapi sudah akan menjalani kuliah. Menurut Prof. Nasih, hal ini wajar karena berdasarkan usia Rania, ia seharusnya masih belajar di bangku SMP.
Prof. Nasih juga mengingatkan kepada Rania agar dirinya aktif bersosialisasi dengan rekan-rekan mahasiswa lainnya. “Di perguruan tinggi, tidak hanya sebatas kemampuan akademik yang ditonjolkan, maka Rania nanti perlu menyeimbangkan diri dengan cara berorganisasi, dan pelatihan. Kalau akademik, saya sudah
yakin dengan kemampuan Rania. Ada bidang lain yang juga perlu ditekuni,” pesan Rektor. (*)
Penulis : Defrina Sukma S. Editor : Binti Q. Masruroh
2.018 Mahasiswa Baru Jalur
SNMPTN Berpeluang Daftar
Ulang
UNAIR NEWS – Sebanyak 2.018 calon mahasiswa baru Universitas
Airlangga yang diterima melalui jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) hadir untuk mengikuti registrasi ulang di Airlangga Convention Center, Selasa (31/5). Tahap registrasi ulang ini dilakukan bersamaan dengan
computer-based test (CBT) dan paper-based test (PBT) seleksi
bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN).
Jumlah 2.018 itu belum ditambah dengan 20 orang yang tidak hadir dalam tahap pendaftaran ulang pada Selasa (31/5). Salah satu dari mereka yang tidak hadir tercatat dengan alasan sakit. Jumlah tersebut akan difinalisasi pada Jumat (3/6) usai verifikasi berkas daftar ulang.
Dari jumlah yang hadir pada proses daftar ulang, calon mahasiswa baru dengan angka terbanyak berasal dari program studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR sebanyak 127 orang. Disusul dengan prodi S-1 Akuntansi sebanyak 115 orang, dan S-1 Pendidikan Dokter sebanyak 102 orang.
Proses registrasi ulang itu dilakukan setelah mereka melalui p r a p e n d a f t a r a n u l a n g y a n g d i l a k s a n a k a n m e l a l u i
regmaba.unair.ac.id yang dilakukan pada tanggal 11 – 17 Mei 2016. Setelah melalui pra pendaftaran ulang, calon mahasiswa baru diwajibkan untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) sesuai dengan besaran yang telah ditetapkan.
Pada proses registrasi ulang kali ini, calon mahasiswa baru diharuskan untuk membawa kelengkapan berkas berupa kartu peserta SNMPTN 2016, dan ijazah sekolah menengah atas atau sederajat, atau membawa surat keterangan lulus dari sekolah. Peserta sudah memenuhi hall ACC UNAIR sejak pukul 08.00 WIB. Acara registrasi ulang itu dihadiri oleh Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak., Direktur Pendidikan Prof. Dr. Dra. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si. Hadir pula dua alumni UNAIR yaitu Aan Hunaifi, senior pada perusahaan multinasional Haankook asal Korea Selatan, dan Vania Santoso, pengusaha muda AV Peduli yang pernah menjadi Duta Lingkungan UNAIR 2009-2012. Kedua alumni ini memberikan berbagai motivasi dan pengalaman hidup kepada seluruh calon mahasiswa yang datang.
Dalam sambutannya, Rektor UNAIR mengucapkan selamat kepada calon mahasiswa baru. “Jangan disia-siakan. Gunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Bukan mahasiswa UNAIR kalau hanya pintar tapi tidak bermoral,” pesan Rektor UNAIR.
Setelah sambutan, Prof. Nasih berbaur dengan calon mahasiswa baru dari setiap fakultas. Mereka diberi kesempatan untuk meneriakkan yel-yel agar suasana ACC menjadi meriah. Seketika, atmosfer dalam ACC menjadi pecah karena keseruan yang diciptakan antara pimpinan UNAIR dan calon mahasiswa baru.
Prof. Nasih juga mengajak calon mahasiswa baru termuda UNAIR, Rania Tasya Ifadha, naik ke panggung untuk berdialog sejenak. “Apa yang membuat Rania ingin menjadi dokter?,” tanya Rektor UNAIR. “Saya ingin membantu orang lain untuk berobat,” jawab gadis berusia 15 tahun yang diterima sebagai calon mahasiswa S-1 Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran.
kepada calon mahasiswa baru untuk mengasah kemampuan akademik dan softskill semaksimal mungkin pada masa kuliah. Aan juga memberikan tiga ide yang menarik yang bisa dikembangkan di masa depan, yakni inovasi bidang kesehatan, anti-penuaan dini, dan konversi energi. (*)
Penulis : Defrina Sukma S. Editor : Binti Q. Masruroh
Ujian SBMPTN CBT dan PBT di
UNAIR Berjalan Lancar
UNAIR NEWS – Untuk kali pertama Seleksi Bersama Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dilangsungkan dengan berbasis komputer atau Computer Based Test (CBT). Universitas Airlangga ikut dipercaya sebagai tempat diselenggarakannya SBMPTN CBT. Sebanyak 160 siswa mengikuti ujian yang dilangsungkan di Airlangga Medical Education Center (AMEC), FK UNAIR, Selasa (31/5).
Rektor UNAIR Prof. Dr. H. Mohammad Nasih, MT., SE., Ak, CMA., melakukan sidak untuk memastikan ujian SBMPTN CBT berjalan dengan lancar.
“Ujian berjalan lancar. Peserta konsentrasi dengan soalnya masing-masing. Nampaknya soal memang acak penuh. Tadi saya lihat tidak ada yang sama antara satu komputer dengan komputer yang lain. Ini yang menurut saya jauh lebih fair,” ujar Prof Nasih.
Tidak ada gangguan teknis pada saat ujian berlangsung. “Saya lihat lancar dan tidak ada gangguan teknis. Tidak ada gangguan karena kita sudah persiapkan sebelumnya,” ujar guru besar
Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR tersebut.
Menurutnya, ujian dengan berbasis CBT ini dapat meminimalisir terjadinya kecurangan. Masing-masing peserta diberikan soal ujian yang berbeda-beda, sehingga tidak dimungkinkan terjadi kecurangan antara peserta satu dengan peserta yang lain.
“Masing-masing orang tidak mungkin melakukan kecurangan dengan melihat pekerjaan temannya. Dalam CBT ini kita tidak ada bocoran jawaban, karena urutan masing-masing soal berbeda-beda. Master jawabannya pasti juga akan berbeda-beda,” imbuhnya.
Ujian SBMPTN CBT terbagi menjadi tiga gelombang. Gelombang pertama, kelompok ujian Saintek dengan materi ujian TKPA dan TKD Saintek. Gelombang kedua, kelompok ujian Soshum dengan materi ujian TKPA dan TKD Soshum. Dan gelombang ketiga, kelompok ujian Campuran dengan materi ujian TKPA, TKD Saintek, dan TKD Soshum. Pengumuman ujian akan diinformasikan secara resmi pada 28 Juni 2016 mendatang.
Selain ujian SBMPTN CBT, UNAIR juga menjadi lokasi penyelenggaraan ujian SBMPTN PBT (Paper Based Test) atau sering disebut dengan ujian tulis. Baik ujian SBMPTN CBT maupun PBT semuanya berjalan dengan lancar, tanpa kendala yang berarti.
Untuk menghindari kecurangan dalam ujian SBMPTN PBT, panitia telah memasang Jammer (perangkat pengacak sinyal) di beberapa lokasi tempat penyelenggaraan SBMPTN PBT. Guna pemasangan perangkat tersebut adalah untuk meminimalisir kecurangan peserta, terkait penggunaan media seluler dalam pengerjaan ujian.
“Kita tadi sudah coba di handphone kita, memang mati tidak ada sinyal,” ujar Purkan, salah satu panitia penyelenggara SBMPTN PBT di FISIP UNAIR. (*)
Editor: Dilan Salsabila dan Nuri Hermawan
Cinta Surabaya, Mahasiswa FEB
UNAIR
Cetuskan
Bisnis
Clothing Line
RADIO UNAIR – Hal yang paling penting dalam memulai usaha
ialah niat. Namun ada hal lain yang mesti diperhatikan yaitu peluang dan lingkungan. Hal inilah yang kemudian membuat enam orang mahasiswa Program studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR untuk membuat sebuah bisnis. Keenam mahasiswa tersebut yakni Adi Hanifi, Andriawan aliefianto, Radinda Audi N, Fahima Budi Imaniar, Diva A Verdiar, dan Ivan Arya S, semuanya merupakan angkatan 2014.
Berawal dari mata kuliah kewirausahaan yang mengharuskan para mahasiswa untuk membuat suatu bisnis. Dari sana, tercetuslah sebuah ide bisnis Clothing Line. Mereka mengawali bisnis ini dengan modal yang didapatkan dari hasil patungan.
Clothing Line yang mereka produksi menawarkan desain yang
sederhana. Bertemakan tentang kota Surabaya karena kecintaan mereka pada kota tempat mereka menuntut ilmu, meskipun keenam mahasiswa ini bukan merupakan warga Surabaya asli. Clothing
Line ini di branding dengan nama SUB.CO yang diambil dari kode
penerbangan internasional Kota Surabaya.
“Setelah mata kewirausahaan selesai, kami tetap melanjutkan bisnis ini karena kami rasa ada peluang yang besar untuk bisnis clothing line ini, apalagi untuk masyarakat Surabaya,” tutur Adi Hanifi saat diwawancarai oleh Radio UNAIR.
Adi juga menambahkan, bahwa untuk Clothing Line yang membawa unsur Kota Surabaya ini masih sangat jarang. Oleh karena itu, ia dan teman-temannya bertekad untuk membuat bisnis SUB.CO ini menjadi lebih besar, hal tersebut juga bertujuan untuk memperkenalkan Kota Surabaya dengan medium T-shirt
Contoh desain produk SUB.CO (Ilustrasi: UNAIR NEWS)
Selain mengaplikasikan ilmu yang mereka pelajari di bangku perkuliahan, lingkungan tempat mereka mengenyam pendidikan pun mendukung keberlangsungan dari bisnis ini. Adi menuturkan bahwa keikutsertaanya dalam organisasi WEBS (Workshop
Entrepreneur Business Society) yang ada di Fakultas Ekonomi
dan Bisnis sangat berguna, dengan mengikuti organisasi tersebut ia bisa bertukar pengalaman dengan senior maupun rekan yang sudah memiliki bisnis terdahulu, baik bisnis yang berskala kecil hingga berskala internasional .
Selain melalui media sosial, Pemasaran dari SUB.CO ini juga melalui bazaar dan pameran yang diadakan di mall supermarket
yang ada di Kota Surabaya. (*) Penulis : Faridah Hari
Editor : Dilan Salsabila
Hidupkan Ikoma, FIB UNAIR
Kenalkan Cyber Campus Pada
Orang Tua
UNAIR NEWS – Peran orang tua dalam menentukan masa depan
anaknya sangatlah penting, meski seorang anak telah menjadi seorang mahasiswa, orang tua tetap memiliki tanggung jawab penuh terhadap keberhasilan studi putra-putrinya. Demi mendukung optimalisasi peran orang tua, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR menggelar sosialisasi program Cyber Campus UNAIR, Sabtu (28/5).
Bertempat di Aula Siti Parwati FIB UNAIR, acara sosialisasi tersebut dibingkai untuk menjalin silaturahmi sekaligus menghidupkan kembali Ikatan Orang Tua Mahasiswa (IKOMA). Dekan FIB UNAIR, Diah Ariani Arimbi, S.S., MA., Ph.D., menjelaskan bahwa pentingnya Cyber Campus sebagai media untuk memantau kegiatan belajar mahasiswa, selain itu dekan perempuan pertama FIB UNAIR tersebut juga menambahkan bahwa pada tahun ini Ikoma akan kembali dihidupkan di FIB.
“Ikoma ini nantinya akan menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan visi misi FIB, dana yang terkumpul ke depan murni untuk kegiatan mahasiswa baik dalam kegiatan akademis atau non-akademis, ini juga untuk mendorong misi UNAIR menuju kampus 500 dunia,” tegasnya.
Menambahkan pernyataan dekan, Wakil Dekan I FIB UNAIR, Puji Karyanto, S.S., M.Hum., membeberkan seputar informasi kegiatan akademik kemahasiswaan yang ada di FIB. Pentingnya mengenai fungsi Cyber Campus juga ditekankan, mulai sebagai media untuk mengetahui data mahasiswa, jadwal perkuliahan, data presensi mahasiswa, keuangan, kalender akademik, dan status mahasiswa serta nilai hasil studi.
“Dengan Cyber Campus ini bisa membantu kontrol orang tua terhadap putra-putrinya, sekaligus juga menjadi media komunikasi dengan dosen wali mahasiswa,” jelasnya.
Acara tersebut juga sebagai ajang untuk mengenalkan berbagai ragam kreatifitas mahasiswa yang tergabung dalam organisasi mahasiswa. Selain itu, juga ada pemaparan mengenai berbagai program unggulan FIB seperti percepatan kuliah S1 dan S2 yang ditempuh dalam kurun waktu 5 tahun, serta berbagai keunggulan yang dimiliki fakultas yang dapat mendorong reputasi universitas untuk terus bergerak ke kancah global. (*) Penulis : Nuri Hermawan
Editor :Dilan Salsabila
Mahasiswa HI UNAIR Ramaikan
Konferensi
Internasional
ASEAN dan Globalisasi
UNAIR NEWS – Bagi sebagian mahasiswa, mengikuti sebuah
Konferensi Internasional merupakan kesempatan berharga. Apalagi ketika berada di negeri orang dan berada dalam satu panel bersama para presenter lain yang mayoritas sudah memiliki gelar seperti seorang master dan doktor. Hal inilah
yang dirasakan sembilan mahasiwa Hubungan Internasional (HI), Universitas Airlangga, ketika mengikuti International
Conference on Advancement of Development Administration
(ICADA) di National Institute of Development Administration (NIDA) Bangkok, Thailand.
“Panel diskusi dan presentasi disini (Konferensi-red) tidak jauh beda dengan yang kita pelajari di kampus, pembahasannya juga tidak jauh berbeda, jadi kurang lebih kita bisa mengikuti,” tutur Eric Wicaksono, mahasiswa semester delapan HI UNAIR.
Ada ulasan menarik bagi mahasiswa HI, ketika Kobsak Pootrakool, Ph.D., Vice Minister for Office of the Prime
Minister memaparkan keynote-speech mengenai perkembangan
terkini Thailand dan integrasi kawasan di era globalisasi bersama negara Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam. Pembahasan ini menjadi informasi yang unik bagi mahasiswa HI, khususnya mengenai studi Asia Tenggara. Panel diskusi tersebut juga membahas mengenai ASEAN and Globalization: New Paradigm,
Interdependency, Democracy, and Accountability.
“Pembahasan mengenai materi diskusi ini sangat menarik, nyambung dengan paper yang kami buat untuk dipresentasikan,” ujar Reza Felayati, mahasiswa semester enam HI UNAIR.
Konferensi yang diadakan mulai tanggal 26 hingga 28 Mei tersebut dilanjutkan dengan presentasi paper baik individu maupun kelompok. Sembilan mahasiswa tersebut memaparkan enam
paper dengan kajian yang berbeda. Antara lain; Human Rights Violation towards Indonesian Migrant Workers in Malaysia; Community Based Tourism as Strategic Way to Enhance Economic Growth in Banyuwangi, Indonesia; ASEAN-EU Regional Comparison; Cultural, Ideological and Diversity Issues; Indonesia’s Role in Fostering Maritime Interconnectivity in Southeast Asia; Role of Small and Medium Enterprises in Indonesia for ASEAN Economic Community: Empowering Economy and Solve the Poverty;
through Information and Communication Technology Development.
Mahasiswa HI UNAIR ketika mengikuti Konferensi Internasional di Bangkok, Thailand (Foto: Istimewa)
“Ini konferensi internasional pertama yang saya ikuti, saya sempat grogi diawal ketika presentasi paper, tapi selanjutnya sudah bisa menyesuaikan,” ungkap Noviawati Lesmana, mahasiswa semester dua HI UNAIR.
Konferensi ini dihadiri oleh banyak presenter dari berbagai negara, tercatat ada tiga belas negara hadir. Dari Indonesia terdapat tiga belas presenter, yang mana sembilan diantaranya adalah mahasiswa UNAIR. Menurut Ahmad Safril, dosen HI UNAIR, keikutsertaan mahasiswa dalam Konferensi Internasional ini merupakan suatu hal yang membanggakan.
“Saya bangga dengan adik-adik mahasiswa di sini, mereka telah berusaha untuk bisa memaparkan paper buatan mereka,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ahalla Tsauro Editor : Dilan Salsabila
Tim Psikologi UNAIR Juara
Bertahan Festival Rujak Uleg
UNAIR NEWS – “Nemu jaket ngarepe gapuro, Kresek ireng isine tahu, Ojo kaget karo Suroboyo, Lanang ganteng wedoke ayu,”berikut adalah petikan yel-yel tim Fakultas Psikologi UNAIR yang kembali mempertahankan juara dalam Festival Rujak Uleg yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Penghargaan ini diraih sudah kali keempat oleh tim Psikologi UNAIR masuk dalam kelompok 15 peserta terbaik dalam festival tahunan peringatan Hari Ulang Tahun Kota Surabaya.
Sebanyak lima orang dalam satu tim menyajikan rujak cingur dalam festival yang diselenggarakan di kawasan Pecinan Kembang Jepun, Minggu (29/5). Tim yang dikapteni oleh Naning selaku Sekretaris Dekan FPsi, diawaki oleh empat orang lainnya, yakni Agus, Harri, Qomari, dan Ratna. Mereka merupakan staf kependidikan dari berbagai unit yang dinaungi oleh Fakultas Psikologi UNAIR.
Untuk menyajikan kudapan rujek uleg yang enak di lidah, tim mempersiapkan peralatan dan bahan yang telah ditentukan oleh panitia dan juri lomba. Dari segi bumbu, tim mempersiapkan komposisi yang diantaranya terdiri dari kacang, petis, gula jawa, garam, bawang putih goreng, dan pisang kluthuk. Dari segi campuran bahan, tim juga telah mempersiapkan mentimun atau kerahi, bengkuang, cingur, tahu, tempe, lontong, mangga muda, kacang panjang, dan, kecambah.
salah satu tim Psikologi UNAIR memiliki resep khusus. “Kami membeli petis dari orang Madura asli. Terus, kita tambah bawang putih. Kita juga beli satu cingur. Cingur itu direbus selama tiga jam,” tutur Naning seraya membocorkan resep rahasianya.
Sebelum tim mulai berkompetisi, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan para konsulat jenderal dari negara sahabat menguleg bumbu rujak dalam satu cobek besar. Setelah diberi aba-aba oleh panitia, tiap peserta meneriakkan yel-yel disertai goyangan-goyangan yang mampu membuat suasana tambah meriah.
Naning Dyah salah satu tim Psikologi UNAIR Jadi Juara Bertahan Festival Rujak Uleg Surabaya (Foto: UNAIR NEWS)
Dalam festival rujak uleg itu, panitia menganjurkan setiap tim untuk membuat sepuluh porsi rujak. Namun, karena adanya dukungan dana dari fakultas, tim Psikologi UNAIR menghidangkan 20 porsi rujak uleg. Selain menghidangkan porsi untuk
pengunjung, tim juga harus membuat sepiring rujak kepada panitia untuk dinilai.
“Kita bagi tim ya. Satu orang membuatkan rujak untuk panitia, dan empat orang lainnya untuk pengunjung. Tapi kita juga tidak berhenti goyang, mbak. Biar suasananya ramai saja. Jadi, ya, nguleg sambil goyang,” tutur Sekretaris Dekan Psikologi UNAIR sambil sesekali ditimpali tawa.
Dengan tampilan kostum yang didominasi warna hijau dan merah, paras wajah mereka didandani dengan bedak yang sangat tebal. Naning mengatakan, konsep kostum mereka meniru ala Lady Gaga. Sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan juri, 45 nominasi tim terbaik dinilai dari keunikan kostum, kebersihan, kelengkapan bahan rujak uleg, dan kesinambungan gerak ketika menyanyikan yel-yel.
Lalu, juri menetapkan 15 tim terbaik dengan memperhitungkan rasa dan penyajian rujak uleg. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini secara simbolis menyerahkan penghargaan tersebut kepada 15 tim terbaik. Mereka juga mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 1,5 juta per tim.
Secara keseluruhan, festival membuat makanan khas Surabaya ini diikuti oleh sekitar 1.500 tim. Peserta merupakan tim yang berasal dari perguruan tinggi, hotel berbintang, instansi pemerintahan, dan swasta. (*)
Penulis : Defrina Sukma S Editor : Nuri Hermawan
Atasi Kematian Ikan, FPK
Sebar Anti Racun di Danau
UNAIR
UNAIR NEWS – Universitas Airlangga memiliki berbagai macam
ikon yang sangat dikenal baik oleh masyarakat Surabaya. Selain lambang garuda Prabu Airlangga, danau UNAIR yang terletak di kampus C juga merupakan salah satu ikon yang sangat dikenal oleh warga Surabaya. Setiap akhir pekannya, danau UNAIR selalu dipenuhi oleh pengunjung local yang merupak warga sekitar kampus. Selain menikmati pemandangan danau, mereka juga dapat memberikan makan kepada angsa-angsa dan ikan yang sengaja dipelihara di sekitar danau.
Sudah seminggu yang lalu,di danau UNAIR tersebut ditemukan banyak ikan-ikan yang mati. Hal tersebut sontak menghebohkan para pengunjung. Banyak spekulasi yang muncul terhadap peristiwa matinya ikan-ikan di danau. Untuk membuktikan penyebab matinya ikan-ikan di danau tersebut, perwakilan dari mahasiswa dan dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga turun tangan. Para mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan yang tergabung dalam Kajian Keilmiahan Mahasiswa (KAKEMA) FPK UNAIR mulai bergerak untuk menyelidiki kematian ikan-ikan tersebut. Hal pertama yang mereka lakukan setelah menyaring ikan-ikan yang mati adalah mengambil data sampel.
“Data sampel yang kami kumpulkan selain beberapa ikan yang mati, juga air danau itu sendiri,” ujar Zakki Ardiansyah salah satu mahasiswa FPK yang tergabung dalam KAKEMA FPK UNAIR.
Pengujian sampel tersebut dibimbing langsung oleh dosen dari Fakultas Perikanan dan Kelautan. Salah satu dosen yang turut ambil alih adalah Dr. Ir. Endang Dewi Masithah, M. P. selaku Wakil Dekan I FPK. “Dari sampel ikan yang kami dapatkan,
terlihat banyak lumpur di insang ikan-ikan tersebut. Selain itu dari uji sampel air danau menunjukan adanya penurunan kadar oksigen (DO) yang rendah, dan tingginya kadar amoniak,” ujar Endang.
Selain itu, Endang menambahkan, salah satu penyebab dari rendahnya kadar oksigen dan tingginya amoniak dalam air danau adalah tingginya curah hujan sepekan terakhir. “Banyak lumpur yang terseret masuk oleh air hujan kedalam danau, menyebabkan semakin menumpuknya lumpur di dasar danau, hal tersebut yang akhirnya menyebabkan tingginya amoniak yang buruk bagi ikan-ikan tersebut, dan menurunnya oksigen yang sangat diperlukan ikan untuk bertahan hidup,” ujar Endang.
Zakki (dari kiri), Rachmat, Dony, Dr. Ir. Endang Dewi Masithah, M. P. bersama dengan putrinya, dan Iwan perwakilan dari UKM WANALA (Foto: Alifian Sukma)
Sebagai langkah untuk mengurangi jumlah ikan yang mati di danau unair, pihak FPK melalui KAKEMA akan menebar kapur
zeolite ke danau dan dilanjutkan dengan menebarkan probiotik.
“Zeolite merupakan jenis kapur yang digunakan sebagai pengikat senyawa toksik yang ada di dalam air dan di dasar danau. Sementara probiotik digunakan untuk membantu mengurai kelebihan bahan organik yang ada di dalam air dan di dasar danau,” ujar Zakki.
Untuk mencegah agar hal tersebut tidak terulang lagi, Endang menjelaskan bahwa lumpur yang ada di dasar danau perlu untuk dibersihkan. “Danau di Kampus C UNAIR ini memang tidak didesain untuk menyerupai tambak, dimana tidak tersedianya saluran untuk membersihkan dasar danau. Oleh karena itu, event panen ikan yang dilakukan di danau Kampus C ini agar terus dilakukan setiap tahunnya, dengan catatan untuk setiap kali dikuras lumpur yang ada di dasar danau juga ikut dibersihkan, hal ini tentunya agar kejadian matinya ikan-ikan disini tidak terulang lagi ditahun berikutnya,” ujar Endang. (*)
Penulis : Alifian Sukma Editor : Dilan Salsabila
Wabah Flu Burung Hambat
Perekonomian Indonesia
UNAIR NEWS – Selama Indonesia masih belum terbebas dari virus
flu burung, selama itu pula Indonesia akan terkekang dari ekonomi dagang ternak. Pasalnya, sejak memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Indonesia belum bisa mengekspor hasil ternak karena belum dinyatakan bebas dari penyebaran virus tersebut.
Hal inilah yang kemudian mendorong Dr. Iswahyudi, drh., M.P untuk menulis disertasi berjudul “Karakterisasi Asam Amino
Virus Flu Burung di Pulau Jawa Periode 2012-2015 sebagai Landasan Kebijakan Pengendalian Penyakit Flu Burung di Indonesia”. Disertasi tersebut diuji dan dipertahankan saat sidang terbuka di Ruang Tanjung Adiwinata, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Senin, (30/5).
“Penyakit flu burung di Indonesia sejak tahun 2003 sampai sekarang belum selesai, sehingga kami ingin mengetahui karakter virus yang ada di Indonesia itu seperti apa. Sehingga penyakit flu burung itu kedepannya bisa diselesaikan sebagaimana negara lainnya yang sudah bebas dari flu burung,” jelas pria kelahiran Lamongan tersebut.
Sebagaimana yang ia utarakan dalam disertasi miliknya, Iswahyudi mengemukakan bahwa virus flu burung di Indonesia selama ini memang selalu bermutasi. Menurutnya, untuk mengendalikan flu burung, harus ada kebijakan khusus untuk pemutakhiran master seed dalam proses vaksinasi.
“Seharusnya ada standart khusus untuk pemutakhiran master seed ini, agar vaksin yang didapatkan lebih kompatibel di lapangan,” seru Iswahyudi.
Dalam kesempatan tersebut, Iswahyudi berkomentar bahwa kebijakan pemerintah yang menetapkan adanya kompensasi terkait pengendalian penyakit pada hewan memang sudah tepat, namun implementasinya masih kurang maksimal. Ia menyarankan agar sebuah kebijakan yang masih berkaitan dengan flu burung, diberikan anggaran yang cukup.
Ia memberikan contoh data, vaksinasi membutuhkan hampir 57 juta dosis untuk setiap tahunnya. Namun, pemerintah hanya mampu menyiapkan 4 hingga 5 juta dosis saja.
“Kenapa pemerintah tidak bisa menyediakan, karena pembagian anggaran masih belum bisa merata. Di satu sisi, ketika penyakit itu sudah meloncat dari hewan ke manusia, akan diselesaikan dengan segera. Sedangkan, kalau penyakit itu masih menjangkiti hewan, maka akan dianggap itu penyakit yang
biasa,” jelas Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur tersebut.
Ketika disanggah mengenai dampak flu burung terhadap ekonomi, ia menanggapi bahwa negara Indonesia merupakan gudang ternak unggas. Saat perunggasan Indonesia mulai carut marut oleh wabah flu burung, ada tiga kerugian yang dialami oleh warga dan negara. Pertama, kehilangan proses produksi. Pasalnya, penyakit flu burung memiliki angka kematian seratus persen. “Kalau unggasnya sudah mati, apa yang mau diproduksi,” jelasnya.
Kedua, kerugian akan menimpa sebagian besar masyarakat Indonesia. Pasalnya, sebagian besar mata pencaharian masyarakat Indonesia memiliki latarbelakang sebagi peternak. Sedangkan ketiga, sumber daya alam Indonesia tidak akan dimanfaatkan dengan baik, khususnya dalam persaingan perdagangan bebas.
“Kalau saja Indonesia sudah bebas dari flu burung, maka Indonesia menjadi raja telur tingkat dunia, mereka (negara lain,-red) tidak bisa menerima produk kita karena kita belum bebas dari penyakit flu burung,” terangnya.
Iswahyudi berharap agar Indonesia dapat segera terbebas dari wabah flu burung. Dengan cara mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang sudah diatur, yaitu dengan memenuhi syarat dan ketentuan yang dibutuhkan.
“Untuk itulah alasan kami melakukan penelitian ini, Karena Indonesia belum bebas, dipasar nasional kita juga belum bisa apa-apa,” seru Iswahyudi. (*)
Penulis : Dilan Salsabila Editor : Defrina Sukma S.
Mahasiswa UNAIR Raih Tiga
Medali Perak di Olimpiade
Matematika dan IPA
UNAIR NEWS – Putra putri terbaik Universitas Airlangga terus
mengukir prestasi. Kali ini, nama UNAIR diharumkan oleh ketiga mahasiswa yang menyabet medali perak pada ajang ajang Olimpiade Nasional – Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ON-MIPA PT) tahun 2016. Ajang ON-MIPA PT itu diselenggarakan di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, pada tanggal 23 – 26 Mei 2016.
Pada ajang tersebut, sebanyak enam mahasiswa mewakili UNAIR dalam kompetisi ON-MIPA PT. Keenam mahasiswa itu adalah Dinni Royana (Fakultas Kedokteran/2013), Kharis Lazuardi (FK/2013), Winanda Denis Kurniawan (FK/2013), Miftau Rahman Taufik (FK/2013), Pandit Bagus (FK/2015), dan Riyan Iman Marsetyo (Fakultas Kedokteran Gigi/2014).
Dari keenam mahasiswa itu, tiga diantaranya meraih medali perak. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Kharis (peraih perak bidang Biologi), Denis (peraih perak bidang Biologi), dan Miftau (peraih perak bidang Kimia).
Denis, salah satu peserta olimpiade bidang Kimia, mengatakan bahwa dirinya senang dan bangga untuk mengikuti event sampai ke tingkat nasional. Pasalnya, ia telah mengikuti kompetisi semacam ini sejak ia duduk di bangku sekolah menengah atas. Dalam sesi pengerjaan soal, ia mengerjakan 10 soal Biologi dalam waktu 40 jam. Berhasil lolos ke tingkat nasional bukan tak menjadi tantangan sendiri bagi Denis. “Susah banget karena saya bukan berasal dari program studi Biologi murni. Jadi,
saya harus mengulang banyak lagi materi. Saya mendapat jatah pembinaan selama 70 jam dari dosen-dosen Biologi FST (Fakultas Sains dan Teknologi),” tutur mahasiswa FK UNAIR tahun angkatan 2013.
Atas prestasi yang berhasil diraih itu, tiga orang perwakilan tim ON-MIPA diterima oleh Wakil Rektor III UNAIR Prof. Ir. M. Amin Alamsjah, M.Si., Ph.D, Direktur Kemaahasiswaan UNAIR Dr. Hadi Subhan, S.H., M.H., C.N, dan beberapa tim pendamping kemahasiswaan UNAIR. Peserta ON-MIPA tingkat nasional itu diterima di Ruang Wakil Rektor III, Kantor Manajemen UNAIR, Senin (30/5).
Dalam sambutannya, Prof. Amin mengucapkan selamat kepada tim ON-MIPA UNAIR yang meraih tiga medali perak pada bidang studi Biologi. “Ini merupakan hal yang luar biasa karena menjaga kontinuitas bukan hal yang mudah. Mempertahankan itu tidak lebih mudah daripada meraih,” tutur Wakil Rektor III UNAIR. Selanjutnya, Prof. Amin akan berkoordinasi dengan Wakil Rektor I Prof. Djoko Santoso, dr., Sp-PD., K-GH., FINASIM, untuk memaksimalkan potensi prestasi yang dapat dikembangkan oleh sivitas akademika UNAIR. Ada tiga hal utama yang akan dikembangkan oleh pimpinan UNAIR agar prestasi bisa diraih dan ditingkatkan secara kontinu.
Pertama, pencarian bibit ke siswa-siswa sekolah menengah atas yang memenangkan olimpiade baik di tingkat nasional maupun internasional. Kedua, alokasi pendanaan kepada mahasiswa peserta dan dosen pendamping yang berhasil mengharumkan nama UNAIR ke kompetisi tingkat nasional maupun internasional. Ketiga, wacana pelembagaan latihan olimpiade kepada mahasiswa sejak semester satu.
ON-MIPA merupakan ajang kompetisi mahasiswa di bidang sains (matematika, fisika, kimia, dan biologi) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), Kemenristekdikti. Pada tahun-tahun sebelumnya, ON-MIPA hanya
boleh diikuti oleh mahasiswa asal FMIPA ataupun Fakultas Sains dan Teknologi. Pada tahun ini, Dikti membuka kesempatan bagi fakultas lain untuk mengikuti ajang ON-MIPA. (*)