• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III AKUNTABILITAS KINERJA"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

15 BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

3.1 Pengukuran dan Analisis Pencapaian Kinerja 3.1.1 Pengukuran Kinerja

Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah merupakan wujud nyata instansi pemerintah untuk mempertanggung jawabkan keberhasilan / kegagalan kepada pemberi mandat atas pelaksanaan kegiatan dan program dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran dalam suatu media pelaporan (LAK). Penyusunan LAK Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya tahun 2012 didasarkan kepada pengukuran dan evaluasi pelaksanaan atas rencana strategis.

Pengukuran kinerja adalah kegiatan manajemen khususnya

membandingkan tingkat kinerja yang dicapai dengan standar, rencana, atau target dengan menggunakan indikator kinerja yang telah ditetapkan (Permenpan 09/2007 tentang Pedoman Umum Penetapan IKU di lingkungan Instansi Pemerintah). Pengukuran kinerja ini diperlukan untuk mengetahui sampai sejauh mana realisasi atau capaian kinerja yang berhasil dilakukan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya dalam kurun waktu Januari – Desember 2012.

Selain untuk mendapat informasi mengenai masing-masing indikator, pengukuran kinerja ini juga dimaksudkan untuk mengetahui kinerja Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2012.

Manfaat pengukuran kinerja antara lain untuk memberikan gambaran kepada pihak-pihak internal dan eksternal tentang pelaksanaan misi organisasi dalam rangka mewujudkan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam dokumen Penetapan Kinerja.

Pengukuran kinerja ini dilakukan dengan menghitung pencapaian kinerja dengan cara membandingkan antara rencana kinerja dengan realisasi ditinjau dari aspek masukan, keluaran, dan hasil. Hasil pengukuran kinerja tahun 2012 terhadap pencapaian komponen kinerja dituangkan ke dalam formulir pengukuran kinerja berikut ini :

(2)

16

Tabel 3.1 Formulir Pengukuran Kinerja Tahun 2012

No. Sasaran Strategi Indikator Kinerja Target Realisasi %

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1. Terlaksananya berbagai jenis pelayanan laboratorium yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan Meningkatnya jumlah pemeriksaan laboratorium 10% (298.400 pemeriksaan) 260.636 pemeriksaan 87% 2 Meningkatnya jejaring

pelayanan laboratorium dalam bentuk pengelolaan rujukan sampel atau alih teknologi

Meningkatkan sistem jejaring dalam pengelolaan sampel rujukan dan alih teknologi dengan mengoptimalkan fungsi sebagai : 1 Kegiatan 1 Kegiatan 100% 1. Pusat rujukan pemeriksaan khusus : HIV, Polio, Campak, TBC, Yersinia Pestis, H5N1 dan H1N1 2. Pusat rujukan pemeriksaan laboratorium klinik dan kimia lingkungan 3. Penyelenggaraan Pemantapan Mutu Eksternal Regional dan Nasional 3 Meningkatnya profesionalisme SDM sesuai standar kompetensi

Pelatihan bagi tenaga laboratorium dan non teknis

30 % (34 orang)

33 orang 97%

4 Meningkatnya kerjasama antar lembaga pendidikan

kesehatan dalam rangka pendidikan, pelatihan dan penelitian di bidang laboratorium

Melakukan pembinaan laboratorium pemerintah atau swasta se Jawa Timur dan Balai

Laboratorium Kesehatan di 6 provinsi binaan 36 labkes & 6 BLK 30Labkes & 6 BLK 86% 5 Terlaksananya fungsi manajemen secara baik dan konsisten serta pengelolaan keuangan yang mandiri dan manajemen keuangan yang akuntabel

Terciptanya pengelolaan keuangan yang sesuai dengan kaidah

keuangan yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel

1 Kegiatan 1 Kegiatan 100%

6 Meningkatnya kualitas dan pelayanan pemeriksaan laboratorium Implementasi ISO 17025 : 2005 , implementaasi 9001:2008 serta Implementasi ISO 15189 : 2007 dan KALK 1 Kegiatan 1 Kegiatan 100%

7 Terwujudnya team work dalam pengelolaan kasus kejadian luar biasa (wabah)

Peningkatan pemeriksaan dalam pengelolaan kasus kejadian luar biasa (wabah) 20 % (10.919 pemeriksaan) 9.888 pemeriksaan 91%

(3)

17

Jumlah Anggaran Kegiatan Tahun 2012 : Rp 16.738.139.000

Jumlah Realisasi Anggaran Kegiatan Tahun 2012 : Rp14.111.165.686 (84,31%)

3.1.2 Analisis Pencapaian Kinerja

Dilihat dari capaian masing-masing indikator, untuk tahun 2012 Balai Besar Laboratorium Keshatan Surabaya dapat melaksanakan tugas utama yang menjadi tanggung jawab unit organisasi.

Pencapaian kinerja pada masing-masing indikator sasaran dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Sasaran : Terlaksananya berbagai jenis pelayanan

laboratorium yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan

Indikator Kinerja : Meningkatnya jumlah pemeriksaan laboratorium Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kesehatan R.I. yang berada di Jawa Timur, memberikan pelayanan untuk pemeriksaan sampel biologis maupun sampel lingkungan.

Kegiatan yang terkait langsung dengan indikator tersebut adalah : a. Kegiatan pemeriksaan laboratorium

Meliputi pemeriksaan laboratorium klinik dan laboratorium kesehatan masyarakat

Sedangkan kegatan yang bersifat pendukung indikator tersebut adalah :

a. Kegiatan marketing/pemasaran

Kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu pemasaran dan pengembangan pasar melalui : pembuatan leaflet, brosur, Customer Gathering dan penawaran ke beberapa prospektur. b. Perjanjian kerjasama (MoU) dengan instansi lain (misal : ASKES) c. Terlaksananya program pembinaan upaya kesehatan, dukungan

sarana dan prasarana kantor, operasional BLU. Kondisi yang dicapai :

Pada indikator ini ditargetkan jumlah pemeriksaan laboratorium tahun 2012 sebanyak 298.400 pemeriksaan, atau meningkat sebesar 10% dibanding jumlah pemeriksaan laboratorium tahun2011.

(4)

18 Secara keseluruhan, jumlah pemeriksaan laboratorium dan penunjang medik di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya tahun 2012 adalah 260.636 pemeriksaan, atau tercapai 87% dari target.

Berikut ini capaian pemeriksaan laboratorium dan penunjang medik dibandingkan dengan target pada tahun 2012:

Tabel 3.2 Capaian Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang Medik Dibandingkan dengan Target Tahun 2012

No. Pemeriksaan Jumlah % Capaian dari target Target 2012 Capaian 2012 A. Laboratorium 1. Hematologi 31.049 26.107 84% 2. Kimia Klinik 81.398 66.312 81% 3. Mikrobiologi 95.246 93.346 98% 4. Virologi - 1.501 - 5. Bakteriologi Sanitasi 21.607 13.708 63% 6. Imunologi 16.851 17.776 105% 7. Kimia Kesehatan 50.156 40.113 80% 8. Patologi Anatomi 90 98 109%

Jumlah Pemeriks. Lab. 296.397 258.947 87%

B. Penunjang Medik 1. Radiologi Diagnostik 1.273 1.029 81% 2. ECG 730 594 81% 3. USG - 31 - 4. Treadmill - 3 - 5. Audiometri - 18 -

Jumlah Pemeriks. Penunj.

Medik 2.003 1.675 84%

TOTAL 298.400 260.636 87%

Sumber : Data Pelayanan dan Penunjang Program BBLK Surabaya, 2012

Anggaran yang digunakan untuk pencapaian indikator sasaran ini sebesar Rp 10.479.104.000 dan terealisasi sebesar Rp 9.126.293.007 atau 87% dari anggarannya.

Target pendapatan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya

tahun 2012 sebesar Rp 6.766.535.000 dan terealisasi sebesar Rp 5.685.259.836 atau 84,02%. Realisasi pendapatan tahun 2012

(5)

19 seluruhnya berasal dari : Pendapatan PNBP Lainnya (akun 423)

sebesar Rp 42.950.396, PNBP BLU (akun 424) sebesar Rp 5.642.309.440. Jika dibandingkan dengan tahun 2011, pendapatan

Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 14,86% (Rp 4.949.635.392 pada tahun 2011 menjadi Rp 5.685.259.836 tahun 2012).

Permasalahan/kendala :

1) Adanya persaingan yang ketat karena di sekitar Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya terdapat laboratorium / rumah sakit yang cukup banyak.

2) Laboratorium swasta lebih mudah memberiksan diskon/fee bagi key

person (persaingan antar laboratorium), sedangkan Balai Besar

Laboratorium Kesehatan tidak diperbolehkan (pola tarif sesuai Permenkes)

3) Telah meningkatnya kemampuan laboratorium kesehatan daerah dalam pemeriksaan spesimen lingkungan (air, makanan minuman). Dengan demikian mereka dapat melakukan pemeriksaan secara mandiri.

4) Sistem online yang ada belum bisa memenuhi kebutuhan untuk pengolahan dan analisa data, sehingga masih menggunakan data secara manual.

Usulan Pemecahan Masalah :

1) Peningkatan marketing dan pelayanan BBLK Surabaya agar dapat bersaing dengan laboratorium lain di sekitarnya.

2) Laboratorium swasta mempunyai nilai lebih yaitu keleluasaan untuk memberikan diskon/fee bagi key person, maka BBLK Surabaya mempunyai nilai lebih yaitu dari segi mutu (terakreditasi ISO dan KALK) serta dari segi pelayanan (petugas front office telah mendapat pelatihan di John Robert Power).

3) Meningkatkan kemampuan BBLK Surabaya sebagai laboratorium rujukan spesimen dan pendidikan bagi tenaga laboratorium.

4) a) Penggunaan Sistem Informasi Laboratorium Kesehatan (SILK) online tahun 2013. Untuk data yang tidak bisa tertampung dalam sistem online, tetap menggunakan laporan secara manual sesuai kebutuhan.

(6)

20 b) Memberikan usulan kepada Ditjen Bina Upaya Kesehatan Kemenkes RI mengenai sistem pelaporan yang baku dan disesuaikan dengan kondisi pelaporan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan saat ini.

2. Sasaran : Meningkatnya jejaring pelayanan laboratorium dalam bentuk pengelolaan rujukan sampel atau alih teknologi

Indikator Kinerja : Meningkatkan sistem jejaring dalam

pengelolaan sampel rujukan dan alih teknologi dengan mengoptimalkan fungsi sebagai :

a. Pusat rujukan pemeriksaan khusus : HIV, Polio, Campak, TBC, Yersinia Pestis, H5N1 dan H1N1

Kegiatan-kegiatan yang terkait langsung dengan sub indikator tersebut yaitu :

1) Pemeriksaan HIV sejumlah 2.375 Pemeriksaan

Sampel berasal dari program surveilans dari Dinas Kesehatan Kab./Kota di Jawa Timur.

2) Pemeriksaan spesimen tinja untuk kasus AFP dalam mendukung Eradikasi Polio secara Regional maupun global sejumlah 1.279 spesimen.

3) Pemeriksaan Campak sejumlah 1.397 pemeriksaan dan Rubella sejumlah 1.054 pemeriksaan.

Sampel berasal dari sampel KLB dan program surveilans (Case

Based Measles Surveilans/CBMS) dari Dinas Kesehatan

Kab./Kota di Jawa Timur dan wilayah Indonesia Timur. 4) Pemeriksaan TBC

- Pemeriksaan mikroskopis dengan teknik Pewarnaan Ziehl Neelsen : sebanyak 4.444 spesimen.

- Pemeriksaan kultur TBC sebanyak 3.692 spesimen.

- Permintaan pemeriksaan untuk Tes Kepekaan sejumlah 648 spesimen.

- Selain itu di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya telah melaksanakan kegiatan Cross Check BTA yang berasal dari 10 RSU/RSUD dan 5 BP4/RS Paru sejumlah 2.940 slide BTA.

(7)

21 5) Pemeriksaan Yersinia pestis sejumlah 1.710 Pemeriksaan

Sampel berasal dari Dinkes Kab. Pasuruan

6) Pemeriksaan H5N1 dan H1N1 sejumlah 91 spesimen

Sedangkan kegatan yang bersifat pendukung sub indikator tersebut adalah : memenuhi kebutuhan alat kesehatan.

Anggaran yang digunakan untuk pencapaian sub indikator sasaran

ini sebesar Rp 2.094.167.000 dan terealisasi sebesar Rp 1.149.455.000 atau 55% dari anggarannya. Hal ini disebabkan

karena beberapa kegiatan di belanja modal BLU tidak bisa terserap karena mengikuti tingkat pendapatan BLU yang belum memenuhi target.

Permasalahan/Kendala :

1) a) Untuk menghadapi eradikasi Polio secara regional dan global, maka WHO - EPI akan segera mengurangi support untuk kegiatan Laboratorium Polio Nasional.

b) Sebagai Laboratorium Campak Nasional, BBLK Surabaya mendapatkan support dari WHO-EPI dalam pengadaan media dan reagensia, sedangkan sejak tahun 2011 WHO – EPI telah mengurangi dana pengadaan reagen tersebut. Dampak saat ini yang sudah dirasakan adalah pengiriman reagen yang terlambat sehingga pemeriksaan Serologi menjadi terlambat, banyak spesimen pending sehingga tidak bisa mencapai tenggang waktu hasil yang sudah ditetapkan.

c) Reagen PCR untuk pemeriksaan H5N1 dan H1N1 tidak di anggarkan di BBLK Surabaya, sehingga sepenuhnya

merupakan bantuan/hibah dari Badan Litbangkes Jakarta. Usulan Pemecahan Masalah :

1) Mulai menganggarkan media reagensia untuk Laboratorium Polio, Laboratorium Campak dan Laboratorium PCR H5N1 dan H1N1.

(8)

22 b. Pusat rujukan pemeriksaan laboratorium klinik dan kesehatan

masyarakat

Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya sebagai pusat rujukan pemeriksaan laboratorium klinik dan kesehatan masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang terkait langsung dengan sub indikator tersebut adalah :

a) Rujukan pemeriksaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) di wilayah Jawa Timur

b) Rujukan pemeriksaan KLB Keracunan makanan minuman secara Bakteriologi Sanitasi maupun Kimia Kesehatan

c) Rujukan pemeriksaan untuk KLB difteri dan pemeriksaan rutin difteri di Jawa Timur dan beberapa provinsi di luar Jawa Timur d) Rujukan untuk pemeriksaan KLB diare karena penyakit menular e) Rujukan untuk pemeriksaan KLB dan permintaan rutin,

Hepatitis A,B,E. Leptospirosis, Filaria, Malaria, Chikungunya, Meningitis, Anthrax.

f) Rujukan untuk pemeriksaan Surveilans rutin dan permintaan rutin diantaranya; HIV, Kusta, Toxoplasma, GO.

Sedangkan kegatan yang bersifat pendukung sub indikator tersebut adalah :

a) Pengadaan bahan laboratorium

b) Pengadaan bahan makanan hewan percobaan

Anggaran yang digunakan untuk pencapaian sub indikator sasaran ini sebesar Rp 2.627.872.000 dan terealisasi sebesar Rp 2.568.373.370 atau 98% dari anggarannya.

Permasalahan/kendala :

1) Kurangnya sosialisasi regulasi pendukung penanganan/uji laboratorium keracunan makanan/minuman.

2) MoU penanganan/uji laboratorium KLB keracunan makanan/ minuman tidak jelas.

3) Kurangnya koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi dalam pemeriksaan KLB keracunan makanan/minuman.

4) Beberapa reagen memerlukan waktu yang lama (indent 3-4 bulan) dalam pengadaan.

(9)

23 5) Beberapa reagen (import) dengan batasan expired date yang

pendek (± 6 bulan) padahal spesimen tidak selalu banyak. Usulan Pemecahan Masalah :

1) Meningkatkan sosialisasi terhadap regulasi pendukung penanganan/uji laboratorium keracunan makanan/minuman. 2) Penelusuran kejelasan MoU penanganan/uji laboratorium KLB

keracunan makanan/minuman

3) Peningkatan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi dalam pemeriksaan KLB keracunan makanan/minuman.

4) Perencanaan pengadaan reagen sesuai tren pemeriksaan tahun sebelumnya.

5) Perencanaan pengadaan reagen berdasarkan stok yang ada di Instalasi.

c. Penyelenggaraan Pemantapan Mutu Eksternal Regional dan Nasional

Kegiatan yang terkait langsung dengan indikator tersebut adalah kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal, dimana Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya selain bertindak sebagai peserta juga sebagai penyelenggara.

Kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal yang dilaksanakan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya adalah :

1) Sebagai Peserta PME Nasional

a) Penyelenggara : Ditjen Bina Upaya Kesehatan

PNPME Hematologi, dilaksanakan sebanyak 2 siklus dengan parameter : Hemoglobin, Lekosit, Eritrosit, Hematokrit dan Trombosit.

Hasil : masih dalam proses evaluasi

PNPME Kimia Klinik, dengan parameter : Total Protein, Albumin, SGOT, SGPT, Alkali Fosfatase, Gama GT, Urea, Kreatinin, Uric Acid, Glukosa, Natrium, Kalium, Klorida, Bilirubin, Kalsium, Kolesterol dan Trigliserida.

Hasil : masih dalam proses evaluasi

PNPME Urinalisis, dengan parameter : BJ, pH, Glukosa, Bilirubin, Urobilinogen, Lekosit, Keton, Protein, Nitrit, Blood dan Kehamilan.

(10)

24 PNPME Mikroskopis Malaria, dilaksanakan 2 siklus.

Hasil : masih dalam proses evaluasi

PNPME Imunologi, dengan parameter : VDRL, HbsAg, Anti HCV dan Anti HIV.

Hasil : Baik

PNPME Toksikologi Logam Berat (PNPME-TLB) dengan contoh uji berupa Lysat Urine dengan parameter uji Raksa (Hg), Arsen (As), Timbal (Pb) dan Mangan (Mn), Kadmium (Cd).

Hasil : masih dalam proses evaluasi b) Penyelenggara : EQAS PT Sysmex Indonesia

Bidang Hematologi : Pelaksanaan 5 kali dalam 1 tahun dengan parameter : Red Blood Count, White Blood Count, Hemoglobin, Hematokrit dan Platelet.

Hasil : Baik

c) Penyelenggara : Persatuan Dokter Spesialis - Patologi Klinik (PDS-PATKLIN)

- Bidang Hematologi :

* parameter WBC, RBC, HGB, PLT Indeks Deviasi, hasil : Baik Sekali * Hasil Sel darah tepi : Kurang

- Kimia Klinik : Pelaksanaan 2 kali 1 tahun dengan parameter :

Total Protein, Albumin, SGOT, SGPT, Alkali Fosfatase, Gama GT, Urea, Kreatinin, Uric Acid, Glukosa, Kolesterol, Trigliserida, Bilirubin, Natrium, Kalium, Klorida dan Kalsium. Hasil :

Siklus I : secara keseluruhan rata-rata dari kelompok metode, alat, reagen dan seluruh peserta, hasil : baik

Siklus 2 : masih dalam proses evaluasi

d) Penyelenggara : Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes Kemenkes R.I.

(11)

25 2) Sebagai Penyelenggara PME Regional dan Nasional

a) PME Tingkat Regional :

PME-Regional Hemoglobin (bahan hemolysat)

- pelaksanaan 2 siklus masing-masing 2 spesimen (spesimen A dan B ) dengan 166 peserta ( 4 BBLK/BLK Provinsi, 41 RSUD, 2 RS Jiwa, 6 RS Paru, Kusta dan BP4, 3 Puskesmas, 14 Labkesda dan UPTD Kab./Kota, 17 RS BUMN, 26 RS Swasta, dan 53 Lab. Swasta)

- Dari 166 peserta, jumlah peserta yang mengirim hasil pada Siklus I sebanyak 155 peserta dan pada Siklus II sebanyak 154 peserta.

Tabel 3.3 Data PME-Regional Hemoglobin Tahun 2012

No Uraian Siklus I Siklus II

A B A B

1. 2. 3.

Jumlah peserta Jumlah peserta yang mengirim hasil

Jumlah peserta yang tidak mengirim hasil 166 155 11 166 155 11 166 154 12 166 154 12 4. Kelompok analyser : - Jumlah peserta - Hasil 2 SD - Hasil 2 SD 110 89 (81%) 21 (19%) 110 85 (77%) 25 (23%) 113 83 (73%) 30 (27%) 113 88 (78%) 25 (22%) 5. Kelompok cyanmethhemoglobin : - Jumlah peserta - Hasil 2 SD - Hasil 2 SD 45 38 (84%) 7 (16%) 45 39 (87%) 6 (13%) 41 34 (83%) 7 (17%) 41 34 (83%) 7 (17%)

Sumber : Instalasi Patologi BBLK Surabaya, 2012

PME-Regional Kimia Klinik

Pelaksanaan 2 siklus dengan 75 peserta (1 Labkes, 42 RSUD, 8 RS Swasta, 2 RS Paru, 2 RS TNI, 11 Labkesda, dan 9 Lab. Swasta).

Parameter : Albumin, Total Protein, Kolesterol, Trigliserida, Uric Acid, SGOT, SGPT, Glukosa, Kreatinin dan Blood Urea Nitrogen.

(12)

26 Dari 75 peserta, yang mengirimkan hasil pemeriksaannya sebanyak 74 peserta (98%) pada Siklus I dan Siklus II. Hasil : masih dalam proses evaluasi

PME-Regional Urinalisis

Pelaksanaan 2 siklus dengan 60 peserta (21 RSUD, 4 RS Swasta, 23 Puskesmas, 10 Labkesda dan 2 Lab.

Swasta).

Parameter : Berat Jenis, pH, Keton, Protein/Albumin, Glukosa, Bilirubin dan Tes Kehamilan.

Dari 60 peserta, yang mengirimkan hasil pemeriksaannya sebanyak 57 peserta (95%) pada Siklus I dan Siklus II. Hasil : masih dalam proses evaluasi

PNPME-Mikrobiologi Klinik untuk pemeriksaan BTA

Pelaksanaan 2 siklus dengan 103 peserta (43 RSUD, 43 Puskesmas, 3 BP4, 3 RSP, 11 Labkesda).

Dari 103 peserta, 102 peserta (99,03%) mengerjakan dan mengirimkan hasil pemeriksaan.

Hasil :

- Siklus I : dari 102 peserta yang mengirimkan hasil pemeriksaannya, 101 peserta (99,01%)

dinyatakan lulus.

- Siklus II : dari 102 peserta yang mengirimkan hasil pemeriksaannya, 101 peserta (99,01%) dinyatakan lulus.

PME Telur Cacing

Pelaksanaan 2 siklus dengan 80 peserta (41 RSUD, 31 Puskesmas dan 8 Labkesda).

Dari 80 peserta, 78 peserta (97,5%) mengerjakan dan mengirimkan hasil pemeriksaan.

Hasil :

- Siklus I : dari 78 peserta yang mengirimkan hasil pemeriksaannya, 57 peserta (73%) dinyatakan lulus.

- Siklus II : dari 78 peserta yang mengirimkan hasil pemeriksaannya, 72 peserta (92%) dinyatakan lulus.

(13)

27 PME Mikroskopis Malaria

Belum dapat terlaksana karena bahan PME belum datang.

b) PME Tingkat Nasional

PNPME Imunologi

Parameter = VDRL, TPHA, HBsAg, Anti HCV dan Anti HIV. Peserta sebanyak 150 ( 26 BLK, 74 RS dan 50 PMI)

Dari 150 peserta, yang mengirimkan hasil sebanyak 124 (83%).

PME Anti-HIV

Dilaksanakan 2 (dua) siklus, dengan jumlah peserta = 50 (20 RS, 26 Puskesmas, 2 BKPM dan 2 Klinik).

dari 50 peserta, yang mengirimkan hasil sebanyak 46 (92%)

PNPME Kimia Air, de.ngan parameter : Cr, Cd dan Fe. BBLK Surabaya berperan sebagai pelaksana penyelenggaraan PNPME Kimia Air (pengadaan sampel kontrol dan distribusinya serta sebagai laboratorium rujukan).

Jumlah peserta = 25 (3 BBLK dan 22 Labkes Provinsi). Hasil :

- 20 laboratorium mengirim umpan balik / hasil uji - 5 laboratorium tidak mengirim umpan balik / hasil uji

PNPME Kimia Air Terbatas, dengan parameter : Fe dan Mn

BBLK Surabaya berperan sebagai pelaksana penyelenggaraan PNPME Kimia Air (pengadaan sampel kontrol dan distribusinya serta sebagai laboratorium rujukan).

Jumlah peserta sebanyak 126 dengan rincian : a) 11 Labkes/Labkesling/Lab. Mutu Air (8,73%) b) 92 Labkes Kota/Kab. di Pulau Jawa (73,02%

c) 2 Labkes Kota/Kab. di Nusa Tenggara Timur (1,59%) d) 9 Labkes Kota/Kab. di Kalimantan (7,14%)

e) 11 Labkes Kota/Kab. di Sulawesi (8,73%) f) 1 BTKL-PP di Sulawesi (0,79%)

(14)

28 Hasil :

- 96 peserta (76,19%) mengirimkan umpan balik / hasil uji

- 4 peserta (3,17%) mengirimkan biodata tapi tidak mengirimkan umpan balik / hasil uji

- 3 peserta (2,38%) mengirimkan alasan untuk tidak mengikuti PNPME Kimia Air Terbatas

- 23 peserta (18,25%) tanpa berita

Untuk PME Tingkat Nasional, seluruh evaluasi PME dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Jakarta. Hasil evaluasi sampai saat ini masih dalam proses.

3) Sebagai Peserta Pemantapan Mutu Ekstenal (PME) Internasional

a) Uji Profisiensi Anti HIV dari NRL Australia, dengan hasil : Baik

b) Uji Profisiensi VDRL dan TPHA dari CDC Atlanta, dengan hasil : Score 100%

c) Uji Profisiensi isolasi virus Polio dari WHO, dengan hasil : Score 100%

d) Uji Profesiensi IgM Anti Campak dan IgM Anti Rubella dari WHO-R Australia, dengan hasil : Score 100%

e) Uji Profisiensi First Line and Second Line Drugs Susceptibility Testing of Mycobacterium tuberculosis dari IMVS Australia, dengan hasil : masih dalam proses evaluasi f) External quality assurance scheme for diphtheria diagnostics,

2012 and achieved acceptable results for all six EQA specimens (score 100%).

Sedangkan kegatan yang bersifat pendukung sub indikator tersebut adalah :

1) Pengadaan bahan Pemantapan Mutu Eksternal (PME) 2) Pengepakan bahan Pemantapan Mutu Eksternal (PME) 3) Pengiriman bahan Pemantapan Mutu Eksternal (PME)

Anggaran yang digunakan untuk pencapaian sub indikator sasaran ini sebesar Rp 621.925.000 dan terealisasi sebesar Rp 597.622.299 atau 96% dari anggarannya.

(15)

29 Permasalahan/kendala :

Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Pemantapan Mutu Eksternal yaitu :

1) Sebagai peserta PME (Nasional dan Internasional) :

- Belum ada dana dan masih sulitnya prosedur dalam keikutsertaan dan penerimaan bahan pemantapan mutu eksternal internasional.

2) Sebagai penyelenggara PME Regional dan Nasional :

- Banyak berdiri laboratorium baru, namun dana PME yang tersedia tidak bisa mencukupi penyelenggaraan PME untuk semua laboratorium di wilayah kerja BBLK Surabaya.

Usulan Pemecahan Masalah : 1) Sebagai peserta PME :

- Memberikan porsi anggaran yang cukup untuk ikut serta dalam PME internasional dan mengupayakan kemudahan / regulasi dalam penerimaan bahan / spesimen PME Internasional

2) Sebagai penyelenggara PME Regional dan Nasional : - Peningkatan dana untuk pelaksanaan PME.

Kondisi yang dicapai :

Pada indikator ini ditargetkan 1 kegiatan untuk meningkatkan sistem jejaring

dalam pengelolaan sampel rujukan dan alih teknologi dengan

mengoptimalkan fungsi sebagai :

a. Pusat rujukan pemeriksaan khusus : HIV, Polio, Campak, TBC, Yersinia Pestis, H5N1 dan H1N1

b. Pusat rujukan pemeriksaan laboratorium klinik dan kesehatan masyarakat

c. Penyelenggaraan Pemantapan Mutu Eksternal Regional dan Nasional Dari target tersebut telah terealisasi sebesar 100%.

3. Sasaran : Meningkatnya profesionalisme SDM sesuai standar kompetensi

Indikator Kinerja : Pelatihan bagi tenaga laboratorium dan non teknis

Dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan internal BBLK Surabaya, karyawan telah mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan di bidang teknis maupun non teknis sesuai kebutuhan guna lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan karyawan.

(16)

30 Pada indikator ini ditargetkan pelatihan bagi tenaga laboratorium dan non teknis tahun 2012 sebesar 30 persen dari jumlah karyawan atau sejumlah 34 orang.

Pada tahun 2012, jumlah karyawan teknis dan non teknis yang mengikuti Pelatihan, Seminar, Lokakarya, Simposium dan Workshop teknis maupun non teknis sebanyak 33 orang atau tercapai sebesar 97% dari target.

Adapun kegiatan yang mendukung indikator tersebut yaitu kegiatan peningkatan mutu SDM dan perjalanan dinas sebagai berikut :

Sebanyak 23 tenaga teknis mengikuti Pelatihan, Seminar, Lokakarya, Simposium dan Workshop di dalam negeri

Sebanyak 10 tenaga non teknis mengikuti Pelatihan, Bimbingan Teknik, Seminar, Lokakarya dan Workshop di Dalam Negeri

Anggaran yang digunakan untuk pencapaian indikator sasaran ini sebesar Rp 594.671.000 dan terealisasi sebesar Rp 421.055.110 atau 71% dari anggarannya.

Sedangkan peran BBLK Surabaya dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan eksternal BBLK Surabaya antara lain sebagai tempat praktek kerja lapangan, magang, orientasi dan penelitian untuk mahasiswa kesehatan dan non kesehatan, instansi pemerintah/swasta maupun perorangan, dengan rincian :

a. Praktek Kerja Lapangan/PKL : 427 orang

b. Magang : 126 orang

c. Orientasi : 20 orang

d. Kunjungan : 484 orang

e. Penelitian : 41 jenis penelitian

Permasalahan/kendala :

1) Sarana prasarana untuk peserta Diklat (PKL dan Magang), baik dari segi tempat maupun alat masih menjadi satu dengan sarana prasarana untuk pemeriksaan rutin.

Usulan Pemecahan Masalah :

1) Tersedianya sarana prasarana untuk peserta Diklat yang terpisah dengan sarana prasarana untuk pemeriksaan rutin.

(17)

31 4. Sasaran : Meningkatnya kerjasama antar lembaga

Pendidikan kesehatan dalam rangka

pendidikan, pelatihan dan penelitian di bidang laboratorium

Indikator Kinerja : Melakukan pembinaan laboratorium

pemerintah atau swasta se Jawa Timur dan Balai Laboratorium Kesehatan di 6 provinsi Binaan

Kegiatan yang mendukung pencapaian indikator tersebut yaitu : a. Bimbingan Teknis Dalam Provinsi

b. Bimbingan Teknis Luar Provinsi c. Pengambilan sampel di lapangan

Bimbingan teknis merupakan kegiatan pembinaan yang dilaksanakan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya terhadap laboratorium pemerintah atau swasta se Jawa Timur dan Balai Laboratorium Kesehatan di 6 provinsi binaan. Dengan adanya Bimtek, terjalin kerjasama lintas sektoral, peningkatan mutu sumber daya manusia dan penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi.

Pada indikator ini ditargetkan bimbingan teknis terhadap 36 laboratorium kesehatan di Jawa Timur dan 6 Balai Laboratorium

Kesehatan di luar Provinsi Jawa Timur yang menjadi binaan BBLK Surabaya.

Dari target tersebut terealisasi 30 laboratorium RSU/RSUD dan Labkesda Kab./Kota di Provinsi Jawa Timur dan 6 Balai Laboratorium Kesehatan di Luar Provinsi Jawa Timur yang menjadi binaan BBLK Surabaya atau sebesar 86% dari target yang ditetapkan.

Adapun kegiatan Bimbingan Teknis yang dilaksanakan oleh petugas Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya terlaksana sebagai berikut :

a. 6 UPTD-BLK Provinsi yang menjadi wilayah binaan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya

Lingkup Bimtek : Laboratorium (aspek teknis dan non teknis) Dana : APBN

b. 23 Laboratorium RSU/RSUD dan 7 Laboratorium Kesehatan Daerah di Kab./Kota di Provinsi JawaTimur

Lingkup Bimtek : Pemantapan Mutu Dana : APBN

(18)

32 Anggaran yang digunakan untuk pencapaian indikator sasaran ini sebesar Rp 85.400.000 dan terealisasi sebesar Rp 84.063.350 atau 98% dari anggarannya.

Permasalahan/kendala :

1) Beberapa wilayah kunjungan Bimbingan Teknis tidak merasakan kepentingan antara BBLK Surabaya dan wilayah tersebut.

Usulan Pemecahan Masalah :

1) BBLK Surabaya mengirimkan tenaga untuk Bimbingan Teknis sesuai dengan permasalahan yang disampaikan oleh laboratorium binaan.

5. Sasaran : Terlaksananya fungsi manajemen secara baik dan konsisten serta pengelolaan keuangan yang mandiri dan manajemen keuangan yang akuntabel

Indikator Kinerja : Terciptanya pengelolaan keuangan yang sesuai dengan kaidah keuangan yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel

Berdasarkan Sistem Akuntansi (SAK), Akuntabilitas Keuangan Balai Besar Laboratorium Tahun 2012 adalah sebagai berikut :

Laporan Realisasi Anggaran memberikan informasi tentang realisasi

pendapatan dan belanja. Berdasarkan laporan keuangan tahunan

TA 2012, Realisasi Belanja tahun 2012 menjadi sebesar Rp 14.111.165.686 atau 84,26% dari anggaran dalam DIPA TA 2012

Realisasi belanja menurut jenis belanja terdiri dari : Belanja Pegawai sebesar Rp 5.411.307.638, Belanja Barang sebesar Rp 7.369.392.073, dan Belanja Modal sebesar Rp 1.322.125.900.

Komposisi realisasi Belanja menurut jenis belanja dapat disajikan seperti Grafik berikut ini :

(19)

33 Belanja Pegawai 38,37% Belanja Barang 52,25% Belanja Modal 9,37%

Gambar 3.1 Komposisi Realisasi Belanja Menurut Jenis Belanja Tahun 2012

Anggaran yang digunakan untuk pencapaian indikator sasaran ini sebesar Rp 60.000.000 dan terealisasi sebesar Rp 28.891.500 atau 48% dari anggarannya.

Sedangkan berdasarkan indikator sasaran telah tercapai 100%.

Hal ini dikarenakan KAP mengajukan penawaran di bawah pagu anggaran BBLK Surabaya.

Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai indikator ini adalah sebagai berikut :

1) Melakukan audit laporan keuangan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP), sebagai satker yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLU setiap tahun diwajibkan laporan keuangan satker untuk diaudit oleh auditor independen. Sedangkan laporan keuangan BBLK Surabaya Tahun 2012 telah diaudit oleh auditor eksternal Drs. Henry dan Sugeng.

(20)

34 6. Sasaran : Meningkatnya kualitas pelayanan pemeriksaan

Laboratorium

Indikator Kinerja : Implementasi ISO 17025 : 2005, implementasi ISO 9001 : 2008 serta Implementasi ISO 15189 : 2007 dan KALK

Pada indikator ini ditargetkan 1 (satu) kegiatan implementasi ISO 17025:2005, implementasi ISO 9001:2008 serta implementasi ISO

15189:2007 dan KALK telah terealisasi sebesar 100%. Kegiatan yang mendukung indikator ini antara lain : a. Akreditasi ISO 17025 : 2005

Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya sebagai Laboratorium Penguji telah terakreditasi ISO / IEC 17025 : 2005 oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) pada tanggal 25 September 2008 dengan Nomor Akreditasi LP-399-IDN (untuk Laboratorium Kimia Kesehatan, Mikrobiologi, Virologi, Kimia Klinik, Hematologi dan

Imunologi) dan telah berhasil mempertahankan status akreditasi ISO 17025:2005 pada surveilans tahun 2009-2011 sedangkan tahun

2012 sedang dalam proses evaluasi tindakan koreksi. b. Akreditasi ISO 9001 : 2008

Tahun 2010 Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya telah terakreditasi ISO 9001:2008 oleh TUV Rheinland dengan nomor akreditasi Cert No. 01100106413 tanggal 17 Desember 2010 dan dapat mempertahankan status akreditasi pada surveilans tahun 2011 dan 2012.

BBLK Surabaya berkomitmen untuk senantiasa melakukan perbaikan berkesinambungan (continous improvement) dalam upaya memenuhi harapan pelanggan dan persyaratan perundang-undangan yang berlaku.

Prinsip Sistem Manajemen Mutu :

1) Fokus kepada pelanggan (customer focus) 2) Kepemimpinan (leadership)

3) Keterlibatan personal (involvement of people) 4) Pendekatan proses (process orientation)

5) Pendekatan sistem terhadap manajemen (system approach to

management)

(21)

35 7) Pendekatan faktual dalam pembuatan keputusan (factual

approach to decision making)

8) Hubungan pemasok yang saling menguntungkan (mutually

beneficial supplier relationship)

c. Akreditasi ISO 15189:2007

Selain itu Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya juga sedang dalam proses menuju akreditasi ISO 15189:2007. Asesmen awal ISO 15189:2007 telah dilaksanakan tanggal 14-15 Mei 2012 dan sampai sekarang pada tahap evaluasi tindakan koreksi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN).

d. Akreditasi Komite Akreditasi Laboratorium Kesehatan (KALK)

Tahun 2011 Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya telah terakreditasi oleh KALK dengan nomor akreditasi 01/S/KALK-P/IX/2011 tanggal 5 September 2011.

Monitoring dan evaluasi dilaksanakan setiap tahun dengan melaksanakan “self assessment ” oleh tim KALK BBLK Surabaya. Anggaran yang digunakan untuk pencapaian indikator sasaran ini sebesar Rp 100.000.000 dan terealisasi sebesar Rp 61.890.800 atau 62% dari anggarannya.

Permasalahan/kendala : -

7. Sasaran : Terwujudnya team work dalam pengelolaan kasus kejadian luar biasa (wabah)

Indikator Kinerja : Peningkatan pemeriksaan dalam pengelolaan kasus kejadian luar biasa (wabah)

Pada indikator ini ditargetkan jumlah pemeriksaan dalam pengelolaan kasus Kejadian Luar Biasa (wabah) tahun 2012 sejumlah 10.919 spesimen atau mengalami peningkatan sebesar 20% dibandingkan tahun 2011. Peningkatan ini menunjukkan semakin besarnya peranan BBLK Surabaya dalam mendukung program Dinas Kesehatan Kab./Kota yaitu Sistem Kewaspadaan Dini KLB (SKD KLB) dan selama terjadinya KLB. Dinas Kesehatan semakin menyadari bahwa setiap ada kasus yang mengarah terjadinya KLB (SKD KLB) dan selama terjadi

(22)

36 KLB diperlukan pemeriksaan laboratorium sebagai konfirmasi terhadap penyebab adanya kasus ataupun KLB tersebut.

Kegiatan-kegiatan yang terkait langsung dengan indikator tersebut sebagai berikut :

a. Pemeriksaan Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri

Jumlah spesimen yang diperiksa Tahun 2012 sebanyak 9.048 kasus dan kontak. Sedangkan tahun 2011 sebanyak 8.012 kasus dan kontak.

b. Pemeriksaan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak dan Rubella

Jumlah spesimen KLB Campak/Measles yang diperiksa Tahun 2012

sebanyak 308 spesimen, dan pemeriksaan KLB Rubella sebanyak 170 spesimen. Sedangkan Tahun 2011 diperiksa 604 spesimen KLB

Campak/Measles dan 206 spesimen KLB Rubella. c. Pemeriksaan Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare

Jumlah spesimen KLB Diare yang diperiksa tahun 2012 sebanyak 50 sampel. Sedangkan tahun 2011 diperiksa sebanyak 16 sampel

KLB Diare.

d. Pemeriksaan Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Makanan dan Minuman, secara Bakteriologi Sanitasi dan Kimia Kesehatan

- Tahun 2012 jumlah spesimen KLB Keracunan Makanan/Minuman yang diperiksa secara Bakteriologi Sanitasi sebanyak 154 sampel. Sedangkan tahun 2011 sebanyak 124 sampel.

- Tahun 2012 jumlah spesimen KLB Keracunan Makanan/Minuman yang diperiksa secara Kimia Kesehatan sebanyak 158 sampel. Sedangkan tahun 2011 sebanyak 137 sampel.

Secara keseluruhan, jumlah pemeriksaan KLB di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya tahun 2012 sejumlah 9.888 sampel, atau tercapai 91% dari target.

Kegiatan yang bersifat pendukung indikator tersebut yaitu pengadaan bahan untuk pemeriksaan KLB.

Anggaran yang digunakan untuk pencapaian indikator ini sebesar Rp 75.000.000 dan terealisasi sebesar Rp 73.521.250 atau 98% dari

(23)

37 Permasalahan/Kendala :

1) Beberapa Kabupaten / Kota belum mempunyai tenaga yang berpengalaman dalam pengambilan spsimen KLB seperti Difteri, Campak, Diare dan keracunan makanan.

2) Spesimen untuk KLB keracunan makanan dan minuman seringkali tidak memenuhi syarat untuk pemeriksaan KLB (volume kurang, bukan sisa makanan/minuman yang menyebabkan KLB dll.)

3) Beberapa Dinas Kesehatan Kab./Kota tidak menyertakan kronologis dan laporan penyelidikan epidemiologi sementara, sehingga laboratorium kesulitan dalam pemilihan pemeriksaan laboratorium apa yang diperlukan untuk konfirmasi KLB tersebut padahal spesimen yg dikirim volumenya tidak mencukupi.

4) Kurangnya koordinasi dan komitmen dalam penanganan KLB keracunan makanan dan minuman antar instansi lintas sektoral. Usulan Pemecahan Masalah :

1) Melakukan pertemuan, pelatihan atau on the job training dalam pengambilan, pengelolaan dan pengiriman spesimen KLB di lapangan.

2) Membuat dan melaksanakan SOP pengambilan spesimen KLB yang harus dipatuhi petugas KLB lintas sektor yang terkait.

3) Melakukan advokasi dan tiap institusi berperan aktif sesuai perannya masing-masing dalam regulasi penanganan KLB.

(24)

38 3.2 Sumber Daya

3.2.1 Sumber Daya Manusia

Jumlah dan status Pegawai pada Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya per 31 Desember 2012 sejumlah 101 orang tenaga Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 13 orang tenaga kontrak.

Berikut ini jumlah pegawai Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2012 menurut Jabatan, Golongan dan Tingkat Pendidikan :

Tabel 3.4 Sumber Daya Manusia Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2012

NO URAIAN JAN 2012 TAMBAH KURANG DES. 2012

A MENURUT JABATAN 1 STRUKTURAL Eselon I Eselon II 1 0 0 1 Eselon III 2 1 0 3 Eselon IV 5 1 0 6 2 FUNGSIONAL 44 7 0 51 3 STAFF 55 0 15 40 JUMLAH 107 9 15 101 B MENURUT GOLONGAN Golongan IV 8 8 0 16 Golongan III 65 0 12 53 Golongan II 34 0 2 32 Golongan I JUMLAH 107 8 14 101 C MENURUT PENDIDIKAN S3 S2 5 2 0 7 S1 D.IV 33 3 0 4 2 0 31 7 D.III Akademi 13 23 0 0 0 5 13 18 SMA 20 0 3 17 SMP 5 0 0 5 SD 4 0 1 3 JUMLAH 107 5 11 101

(25)

39 3.2.2 Sumber Daya Anggaran

Dalam mencapai kinerjanya, Balai Besar Laboratorium Keehatan Surabaya didukung oleh sumber daya anggaran sebesar Rp 16.738.139.000 yang berasal dari Dana Rupiah Murni sebesar Rp 9.971.604.000 dan Dana BLU sebesar Rp 6.766.535.000.

Tabel 3.5 Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja Tahun 2012 per Jenis Belanja Kode Jenis Bel. Uraian Jenis Belanja Anggaran (Rupiah) Realisasi Belanja (Rupiah) Persentase 1 2 3 4 5=(4/3)x100% 51 Belanja Pegawai Rp 5.559.909.000 Rp 5.419.647.713 97,48% 52 Belanja Barang Rp 8.739.063.000 Rp 7.369.392.073 84,33% 53 Belanja Modal Rp 2.439.167.000 Rp 1.322.125.900 54,20% Jumlah Rp 16.738.139.000 Rp 14.111.165.686 84,31%

Sumber : Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan BBLK Surabaya, 2012

3.2.3 Sumber Daya Sarana dan Prasarana

Laporan pengelolaan sumber daya sarana dan prasarana a. BMN INTRAKOMTABEL

Posisi Awal ( 1 Januari 2012 ) : Rp. 20.317.816.744

Penambahan : Rp. 1.322.125.900

Pengurangan : Rp. 0

Posisi Akhir ( 31 Desember 2012 ) : Rp. 21.639.942.644 b. BMN EKSTRAKOMTABEL

Posisi Awal ( 1 Januari 2012 ) : Rp. 10.989.500

Penambahan : Rp. 0

Pengurangan : Rp. 0

(26)

40 c. BMN GABUNGAN INTRA dan EKSTRA

Posisi Awal ( 1 Januari 2012 ) : Rp. 20.328.806.244

Penambahan : Rp. 1.322.125.900

Pengurangan : Rp 0

Posisi Akhir ( 31 Desember 2012 ) : Rp. 21.650.932.144 d. BMN ASET TAK BERWUJUD Posisi Awal ( 1 Januari 2012 ) : Rp. 187.000.000 Penambahan : Rp. 0

Aset Definitif : RP. 0

Posisi Akhir ( 31 Desember 2012 ) : Rp. 187.000.000 e. KONTRUKSI DALAM PENGERJAAN Posisi Awal ( 1 Januari 2012 ) : Rp. 0

Penambahan : Rp. 0

Pengurangan : Rp. 0

Posisi Akhir ( 31 Desember 2012 ) : Rp. 0

Pada tahun 2012 terdapat penambahan alat laboratorium / medik yang berasal dari pengadaan / pembelian dengan sumber dana APBN sebagai berikut :

Tabel 3.6 Penambahan Alat Laboratorium / Medik Tahun 2012

No. Nama Merk/Tipe Jumlah

Barang Satuan

1. Laboratory Emergency

Shower / Eyewash Lokal 2 unit

2. Sketsel Radiologi Lokal 1 unit

3. Defibrilator Schiller DG 4000 1 unit

4. Laminar Air Flow (Biosafety

Cabinet Class II) Faster 1

unit

5. USG GE 1 unit

6. Examination Table MAK 1 unit

7. Examination Stool MAK 1 unit

(27)

41 Sedangkan penambahan peralatan kantor / non medik tahun 2012 dengan sumber dana APBN sebagai berikut :

Tabel 3.7 Penambahan Peralatan Kantor / Non Medik Tahun 2012

No. Nama Merk/Tipe Jumlah

Barang Satuan

1. Laptop Dell 1 unit

2. Laptop Asus A43SM 1 unit

3. Laptop Toshiba L735-1131UB 1 unit

4. PC Unit HP Pavillion P2-1180L 1 unit

5. Printer HP Laserjet 1025 1 unit

6. Printer Epson TX 121X 1 unit

7. Printer Canon IP 2770 modif 2 unit

8. Printer Epson L-100 modif 1 unit

9. Printer HP Laserjet CP 1525n 1 unit

10. Printer Canon IP 2770 1 unit

11. Printer Canon IP 2770 1 unit

12. Scanner Brother MFC – J625DW 1 unit 13. AC Split 0,5 PK Panasonoc CSKC5NKJ 2 unit 14. AC Split 1 PK Panasonic CSS10MKP 1 unit 15. AC Split 1,5 PK Panasonic CSC12NKP 1 unit

16. AC Toshiba 1 unit

17. Meja Tulis 1 Biro Horsemetal MTP 03 2 unit 18. Meja Tulis 1/2 Biro Horsemetal MTP 02 1 unit 19. Kursi Tunggu + Meja Indachi PS-64AT 3 unit 20. Kursi Tunggu Gandeng 4 Indachi PS-64AT 3 unit

21. Sandaran+dudukan busa

oscar Indachi DSC22 10 unit

22. Beroda 5+hydrolic Indachi ORIS II CR 5 unit 23. Kaki model U croem Indachi Cassa IIBV/CR 5 unit 24. Beroda 5+hydrolic+tangan Indachi D-2013CR 1 unit 25. Kaki U croem+tangan Indachi D2013UCR 2 unit 26. Rak Besi uk. 98x58x220 cm Lokal 1 unit

Gambar

Tabel 3.2   Capaian  Pemeriksaan  Laboratorium  dan  Penunjang  Medik Dibandingkan dengan Target Tahun 2012
Tabel  3.3  Data PME-Regional Hemoglobin Tahun 2012
Gambar 3.1  Komposisi Realisasi Belanja Menurut Jenis Belanja   Tahun 2012
Tabel 3.4  Sumber  Daya  Manusia  Balai  Besar  Laboratorium  Kesehatan  Surabaya Tahun 2012
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pada awal perencanaan bangunan tersebut didesain dengan menggunakan struktur beton bertulang yang kemudian akan dimodifikasi ulang menjadi 16 lantai dengan

Jika seseorang melakukan refleksi atas operasi yang digunakan dalam proses tertentu, menjadi sadar tentang proses tersebut sebagai suatu totalitas, menyadari bahwa

Pada akhirnya, rekomendasi ini akan bermanfaat bagi para pekerja film, terutama MFI (Masyarakat Film Indonesia) sebagai lembaga film yang mempunyai kepentingan terhadap kemajuan

Hubungan kerjasama dan bantu membantu dalam kegiatan pertanian tidak hanya dalam lingkaran aktivitas produksi bertani saja, akan tetapi berkembang pada tatanan sosial

pada hari ini Jumat, 30 Agustus 2019 digelar Upacara penutupan pelatihan peningkatan dan pemeliharaan kemampuan Navigasi Darat dan Anti Anarkhis bertempat di Lapangan

Tujuan kegiatan IbM ini adalah untuk meningkatkan profesionalitas usaha kue rumahan melalui pembenahan lay-out pabrik, alat pengupas kulit ari kelapa kemasan,

Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris. 21 Dikatakan sementara karena jawaban yang