• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. SEFOPE atau dalam Bahasa Indonesia artinya Sekretariat Negara Urusan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. SEFOPE atau dalam Bahasa Indonesia artinya Sekretariat Negara Urusan"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

50 4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian

Secretaria de Estado da Formação Pofissional e Emprego yang disingkat SEFOPE atau dalam Bahasa Indonesia artinya Sekretariat Negara Urusan Pelatihan Profesional dan Ketenagakerjaan ini terletak di Jalan Cai-coli – Nain Feto – Dili- Timor Leste. Secretaria de Estado da Formação Pofissional e Emprego atau SEFOPE yang merupakan salah satu lembaga pemerintah yang berfungsi sebagai lembaga penyelenggara pelayanan publik khususnya di bidang ketenagakerjaan yang secara khusus diatur dengan Dekrit No. 3/2008 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7/2007 pada pasal 37 tanggal 5 September 2007, yaitu dimana setelah terbentuknya Pemerintahan Konstitusional IV Republik Demokrait Timor Leste.

Secretaria de Estado da Formação Professional e Emprego (SEFOPE) ini terbentuk untuk menjamin semua pelaksanaan aktivitas yang berkaitan dengan kebijakan ketenagakerjaan yang berhubungan dengan pengembangan, pendidikan dan pelatihan ketenagakerjaan untuk menciptakan sumber daya manusia Timor-Leste yang professional, menciptakan hubungan industrial yang harmonis antara pekerja dan pengusaha, mencari dan memberikan informasi-informasi yang jelas kepada masyarakat tentang masalah ketenagakerjaan sesuai dengan decreto Lei No. 7 / 2007, pasal 1

(2)

(Como orgão central do governo, em apoio a todas as politicas

desenvolvidas no âmbito de suas competências, deve desenvolver e implementar politicas e programas na area do trabalho, formação, profesonal e emprego, artinya sebagai pemerintah pusat untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan sesuai dengan ruang lingkup kewenangannya, mengembangkan dan mengimplementasikan kebijakan dan program untuk bidang pekerjaan, pelatihan profesional dan ketenagakerjaan).

4.1.1. Visi dan Misi SEFOPE A. Visi SEFOPE

Secretaria de Estado dan Formação Professional e Emprego (SEFOPE) atau Sekretariat Negera Urusan Pelatihan Profesional dan Ketenagakerjaan merupakan salah satu lembaga pemerintah yang berfungsi untuk memberikan pelayanan publik kepada masyarakat terutama pelayanan publik dibidang ketenagakerjaan.

Sesuai dengan rencana strategis yang telah ditetapkan oleh Sekertariat Negara Urusan Pelatihan Profesional dan Ketenagakerjaan yaitu bahwa: Stabilitas Sosial untuk memerlukan tenaga kerja dan pelayanan sepenuhnya pada peningkatan pekerjaan dan kesempatan yang sama serta dialog sosial, hubungan industrial dan administrasi ketenagakerjaan berada pada asas fundamental kearah peningkatan produksi di tempat kerja.

B. Misi

1. Mengusulkan kebijakan dan menyiapkan rancangan peraturan untuk bidang perkembangan ketrampilan dan pelayanan ketenagakerjaan.

(3)

3. Mengatur dan memonitor pekerja asing di Timor-Leste.

4. Meningkatkan dan memonitor keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja.

5. Menetapkan mekanisme kerja sama dan koordinasi dengan instansi-instansi terkait yang bertanggung jawab berhubungan yang dengan bidangnya.

6. Meningkatkan mutu akan hak dan kesempatan sebagai keikutsertaan penuh dan penggabungan dari orang-orang cacat.

7. Meningkatkan hubungan Tripartit dalam pencegahan perselisihan perburuhan

8. Mengembangkan dan meningkatkan monitorin sesuai dengan peraturan tenaga kerja dan ratifikasi perjanjian perburuhan internasional oleh Timor-Leste.

9. Memberikan pertolongan pada pengusaha dan pekerja masalah hubungan perburuhan.

10. Menegaskan dan melaksanakan aksi untuk kemajuan pekerjaan dan mengatasi pengangguran.

Agar supaya pelaksanaan visi dan misi Secretaria de Estado da Formação Pofissional e Emprego ini berjalan dengan baik maka Secretaria de Estado da Formação Pofissional e Emprego membentuk beberapa direktorat nasional guna menyelenggarakan visi dan misinya yang secara struktural berada dibawahnya. Direktorat-direktorat tersebut adalah sebagai berikut:

(4)

1. Direktorat Geral (DG) atau Direktorat Umum

a. Mementingkan orientasi pekerjaan secara umum dan melakukan kesepakatan program pemerintah dan berorientasi dari Sekretaris Negara. b. Berpartisipasi dalam politik dibidang pembangunan dan melakukan

peraturan sesuai dengan area Sekretariat Negara Urusan Pelatihan Profesional dan Ketenagakerjaan.

c. Melakukan koordinasi dan menyiapkan proyek tentang undang-undang dan peraturan dari Sekretaris Negara

d. Memperkuat administrasi umum secara intern dari Sekretariat Negara Urusan Pelatihan Profesional dan Ketenagakerjaan serta melakukan pekerjaan dan juga melakukan kesepakatan program kerja tiap tahun dari Sekretariat Negara Urusan Pelatihan Profesional dan Ketenagakerjaan e. Merencanakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Investasi publik

dan memperbaiki proyek serat menggunakan financial dengan baik

f. Mengevaluasi serta membuat finansial tentang kinerja Sekretariat Negara Urusan Pelatihan Profesional dan Ketenagakerjaan.

2. Direktorat Nasional Administrasi dan Keuangan

a. Memastikan dukungan teknis administratif kepada Sekretaris Negara, dan direktorat lainnya

b. Menjamin persediaan, pemeliharaan dan pelestarian dan pengelolaan barang milik negara, serta persediaan dan kontrak pemeliharaan

(5)

penyediaan barang dan jasa berkaitan dengan kebutuhan Sekretariat Negara

c. Mengkoordinasikan pelaksanaan dan pemantauan alokasi segala material yang dibutuhkan Sekretariat Negara

d. Memastikan sistem prosedur komunikasi umum organ internal dan pelayanan sekretariat negara

e. Bekerja sama dengan semua direktorat sesuai dengan pedoman dan meyiapkan rencana kegiatan tahunan

f. Siap bekerja sama dengan departemen yang berkompten dalam penyusunan anggaran tahunan untuk kepentingan secretariat negara

g. Mematuhi dan menegakkan hukum, peraturan dan lainnya tentang administrasi keuangan

h. Mengkoordinasikan dan menyelaraskan pelaksanaan anggaran tahunan sesuai kebutuhan yang telah diatur

i. Menggalakkan perekrutan, pemantauan, evaluasi, promosi dan pensiun dari pegawai negeri sipil

j. Proses daftar gaji pegawai

k. Memastikan penyimpanan dan pengolahan arsip-arsip SEFOPE

l. Mengembangkan kegiatan untuk mematuhi kondisi kenyamanan dan kebersihan lingkungan kerja

m. Mengusulkan agar adanya tindakan administrative untuk perbaikan managemen sumber daya manusia

(6)

n. Mengembangkan tindakan yang diperlukan untuk memastikan pemeliharaan jaringan komunikasi dan eksternal serta bekerja dengan baik dan menggunakan sumber daya komputer;

2. Direktorat Nasional Hubungan Ketenagakerjaan

a. Direktorat Nasional hubungan ketenagakerjaan, disingkat dengan DNRT memilki tugas mempromosikan dan merealisasi hubungan kerja yang baik dan harmonis bagi pengusaha dan pekerja di Timor-Leste

b. Mengembangkan program-program internal tentang hubungan kerja sama secara teknis dengan perusahaan nasional dan Internasional

c. Meningkatkan dan melaksanakan dialog sosial,koordinasi dan kerjasama dengan organisasi-organisasi yang mewakili pekerja dan pengusaha

d. Menetapkan dan menyediakan pemeliharaan sistem arsip data tentang hubungan kerja

e. Memfasilitasi Mediasi dan Konsiliasi untuk konflik di tempat kerja, termasuk yang berkaitan dengan hak untuk mogok

f. Mendorong penyelesaian perselisihan yang berkaitan dengan perjanjian kolektif bersama

g. Mempromosikan pendaftaran serikat pekerja dan pengusaha sesuai dengan kebijakan pemerintah dan menurut undang-undang perburuhan.

3. Direktorat Nasional Pengawasan Ketenagakerjaan

a. Direktorat Nasional pengawasan ketenagakerjaan, disingkat disebut DNIT memiliki tugas untuk mempromosikan dan menegakkan undang-undang

(7)

ketenagakerjaan, pengaturan konvensi internasional tentang ketenagakerjaan yang telah diratifikasi oleh Timor-Leste dan memastikan bahwa pekerja dan pengusaha dapat melaksanakan pencegahan resiko kerja ditempat kerja

b. Mengembangkan program pengawasan atas pelaksanaan undang-undang perburuhan

c. Meningkatkan kesadaran dan memberikan informasi untuk menjelaskan hubungan ketenagakerjaan dan perwakilan pekerja dan pengusaha sesuai dengan peraturan yang berlaku

d. Dengan dukungan Masyarakat dan perusahaan dalam mengidentifikasi resiko kerja, melakukan tindakan pencegahan dini terutama yang menyangkut keselamatan dan kesehatan kerja ditempat kerja

e. Mengembangkan dan memelihara program pengawasan kunjungan tahunan ditempat kerja, membuat laporan untuk ditaatinya undang-undang saat ini, termasuk pada keselamtan, Kesehatan dan Kebersihan di tempat kerja

f. Memberitahukan kepada pihak yang berwewenang ketika terjadi kejahatan administrsai ditempat kerja yang bersifat pidana

g. Memberikan rekomendasi izin visa kerja tenaga kerja asing h. Memantau pelaksanaan aturan Keamanan Pekerja sosial i. Untuk mencegah dan melindungi pekerja anak

j. Memberitahukan identitas inspektur bahwa inspekturlah yang berwewenag untuk melakukan pemeriksaan ketenagakerjaan.

(8)

4. Direktorat Nasional Pelatihan Profesional ketenagakerjaan

a. Direktorat Nasional pengembangan dan pelatihan professional disingkat DNFOP memiliki tugas untuk mempromosikan kebijakan pelatihan professional

b. Mengembangkan dan melaksanakan kebijakan pelatihan diseluruh wilayah Timor-Leste

c. Mempromosikan bahwa warga negara Timor Leste mempunyai akses yang sama untuk mendapatkan pelatihan profesional;

d. Meningkatkan bantuan teknis secara nasional dalam mengadopsi normatif instrumen dalam pelatihan profesional;

e. Bekerja sama dengan instansi pemerintah lainnya mengenai isu-isu yang terkait dengan pelatihan profesional;

f. Merencanakan dan mengkoordinasikan program pelatihan para penganggur dan pekerja, monitoring dan mengevaluasi agar tujuan tercapai;

g. Membangun kemitraan dengan organisasi-organisasi masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah (NGO), pengembangan dan pelaksanaan pelatihan profesional ditempat kerja;

h. Membangun kemitraan untuk mengidentifikasi proyek-proyek dan konsisten dengan kebijakan dan program kesempatan kerja

(9)

5. Direktorat Nasional Ketenagakerjaan

a. Direktorat Nasional Ketenagakerjaan, selanjutnya disebut oleh DNE memiliki tugas untuk mempromosikan tenaga kerja di Timor-Timur. b. Mengembangkan dan melaksanakan kebijakan untuk mempromosikan

kerja di seluruh wilayah Timor Leste

c. Membangun kemitraan dengan masyarakat sipil dan (NGO) untuk pengembangan dan mempromosikan proyek pelaksanaan kerja dan kerja mandiri;

d. Mempromosikan dan memelihara sistem informasi pasar tenaga kerja menyangkut jumlah penganggur, lowongan pekerjaan, program pelatihan-pelatihan

e. Membangun kemitraan untuk mengidentifikasi proyek-proyek dan konsisten dengan kebijakan program kesempatan kerja.

Sesuai dengan tugas dan fungsinya dari tiap-tiap direktorat tersebut diatas, secara struktural semua Direktorat Nasional ini dalam melaksanakan tugas dan fungsinya semua direktorat ini bertanggungjawab langsung kepada Secretaria de Estado da Formação Pofissional e Emprego. Terbentuknya beberapa direktorat ini adalah sebagai unit pelaksana kegiatan operasional dari Sekeratriat Negara Urusan Pelatihan Profesional dan Ketenagakerjaan untuk melaksanakan visi dan misi terbentuknya Sekretariat Negara ini khususnya pelaksanaan pembangunnan atau pelayanan publik di bidang ketenagakerjaan guna memenuhi tuntutan atau kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan bidang ketenagakerjaan.

(10)

Pelayanan publik dibidang ketenagakerjaan meliputi pelatihan dan penempatan tenaga kerja secara profesional, mencari dan memberi informasi yang jelas tentang hubungan industrial, mencegah konflik hubungan industrial, memberi perlindungan terhadap pekerja anak, adanya tuntutan penggunaan tenaga kerja asing oleh perusahaan-perusahaan baik dalam negeri maupun luar negeri dalam pelaksanaan dan peningkatan produksi di tempat kerja secara khusus dan pelaksanaan dan peningkatan pembangunan nasional secara umum.

4.1.2 Tujuan Didirikannya SEFOPE

Adapun tujuan didirikannya SEFOPE ini adalah sebagai pemerintah pusat yang mempunyai misi untuk menyusun konsep sentral dan menjamin semua aktivitas tentang pelaksanaan, koordinasi dan evaluasi yang berkaitan dengan kebijakan ketenagakerjaan yang disahkan melalui Dewan Menteri untuk bidang ketenagakerjaan, diantaranya yang berhubungan dengan pengembangan pendidikan dan pelatihan profesional ketenagakerjaan dalam menciptakan sumber daya manusia Timor-Leste yang professional, menciptakan hubungan industrial yang harmonis antara pekerja dan pengusaha, mencari dan memberikan informasi-informasi yang jelas kepada masyarakat tentang masalah ketenagakerjaan (Dekrit No. 3 / 2008 pasal 1).

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagaimana diuraikan diatas khususnya berkaitan dengan pengembangan keterampilan profesional dan penempatan tenaga kerja, hal ini merupakan salah satu tanggung jawab SEFOPE, maka untuk mewujudkan hal tersebut maka SEFOPE membentuk beberapa

(11)

Direktorat Nasional, diantaranya Direktorat Nasional Pelatihan Profesional dan Direktorat Nasional Ketenagakerjaan. Yang berfungsi sebagai unit pelaksana program SEFOPE yang berkaitan dengan pengembangan keterampilan profesional dan penempatan tenaga kerja baik di dalam maupun ke luar negeri.

Adapun tugas dan tanggung dari kedua direktorat nasional ini adalah sebagai berikut:

Direktorat Nasional Pelatihan Profesional bertugas sebagai: mempromosikan kebijakan pelatihan professional, Mengembangkan dan melaksanakan kebijakan pelatihan diseluruh wilayah Timor-Leste, Mempromosikan bahwa warga negara Timor Leste mempunyai akses yang sama untuk mendapatkan pelatihan profesional; Meningkatkan bantuan teknis secara nasional dalam mengadopsi normatif instrumen dalam pelatihan profesional; Bekerja sama dengan instansi pemerintah lainnya mengenai isu-isu yang terkait dengan pelatihan profesional; Merencanakan dan mengkoordinasikan program pelatihan para penganggur dan pekerja, monitoring dan mengevaluasi agar tujuan tercapai; Membangun kemitraan dengan organisasi-organisasi masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah (NGO), pengembangan dan pelaksanaan pelatihan profesional ditempat kerja; Membangun kemitraan untuk mengidentifikasi proyek-proyek dan konsisten dengan kebijakan dan program kesempatan kerja

Sedangkan Direktorat Nasional Ketenagakerjaan memiliki tugas untuk; mempromosikan tenaga kerja di Timor-Timur, Mengembangkan dan melaksanakan kebijakan untuk mempromosikan kerja di seluruh wilayah Timor Leste, Membangun kemitraan dengan masyarakat sipil dan (NGO) untuk

(12)

pengembangan dan mempromosikan proyek pelaksanaan kerja dan kerja mandiri; Mempromosikan dan memelihara sistem informasi pasar tenaga kerja menyangkut jumlah penganggur, lowongan pekerjaan, program pelatihan-pelatihan, Membangun kemitraan untuk mengidentifikasi proyek-proyek dan konsisten dengan kebijakan program kesempatan kerja.

4.1.3 Struktur SEFOPE

Untuk menyelenggarakan visi dan misi SEFOPE maka dikembangkan sebuah struktur organisasi berdasarkan Decreto Lei No. 3 /2008 pasal 10 untuk memberikan kompetensi terhadap sebagian staf SEFOPE untuk mengisi jabatan-jabatan pada Direktorat Nasional Pelatihan Profissional baik jabatan-jabatan struktural maupun fungsional. Adapaun Struktur Organisasi SEFOPE sebagai berikut:

(13)

4.1 Struktur Organisasi SEFOPE

ORGANIGRAMA DA SECRETARIA DE ESTADO DA FORMAÇÃO PROFESIONAL E EMPREGO di Timor-Leste

Sumber data: SEFOPE 2013

Secretário de Estado

Director Geral

Direccão Nac. De Inspeccão do Trabalho

Gab. do Secretaria de Estado

Gabinete de Ass. Juridico Departamento do Género

Secretaria de Apoio CNT

Direc. Nac. Adm. e Financas

Direccão Nac. De Relaccão do Trabalho Direccão Nac. De Emprego Direccão Nac. Da Formacão Professional D. Relecao Intern. Trab. D. Formacão Trabalho D. Fornecemento D. Seguransa Saude e Trabalho D. de Fiscalizão Trabalho D. Relecao Intern. Trab. D. Relecao Intern. Trab. D. Relecao Intern. Trab. D. Informac. Merc. Trab. D. Emprego Orient Profs. D. Auto Emprego D. Auto Emprego Direcções / Distritais

Instituto Nacional Desenv. Mão de Obra

(14)

4.1.4 Daftar Pimpinan Unit Pelatihan Profesional

Sesuai dengan struktur diatas, maka daftar pimpinan-pimpinan yang mengisi jabatan-jabatan struktur dan fungsional yang berkaitan langsung dengan Bidang Pelatihan Profesional pada Struktur SEFOPE diatas adalah sebagai berikut:

a. Direcção Nacional da Formação Profissional, yang dikepalai oleh seorang Direktur Nasional

b. Departamento de Formação do Trabalho yang dikepalai oleh seorang Kepala Bagian, yang membawahi dua KepalaSeksi, yaitu:

a) Secção de Trabalho Institucional para Formação no Trabalho b) Secção de Apoio orçamento e Levantamento de Dados

c. Departamento dos Forncedores de Formação Profissional, yang dikepalai oleh seorang Kepala Bagian, yang membawahi dua Kepala Seksi, yaitu

a) Secção de Aconselhamento e Registo de clientes b) Secção de Apoio Orçamento e Levantamento de Dados

4.1.5 Sumber Daya Manusia Yang Dimiliki

Dalam mendukung pelaksanaan diklat kepada tenaga kerja maka SEFOPE menetapkan beberapa staf dari sumber daya manusia internal yang dimiliki untuk ditempat pada unit pelatihan profesional sebagai tenaga pelaksana maupun sebagai staf dalam mendukung proses administrasi terhadap penyelenggaraan

(15)

diklat. Jumlah sumber daya manusia yang ditempatkan pada unit pelatihan profesional sampai tahun 2013 berjumlah 39 orang, seperti pada tabel berikut ini:

Tabel 4.2 Sumber Daya Manusia Yang Dimiliki

No Tingkat Pendidikan Jenis Kelamin Jumlah Jumlah Laki-Laki Perempuan 1. SD 1 2 3 2. SMP - 5 5 2. SMA 11 7 18 3. Diploma (DII) - 4 4 4. Universitas (S1) 3 6 9 Jumlah 39 Sumber : SEFOPE 2013

Berdasarkan tabel diatas menjelaskan tentang sumber daya manusia yang dimiliki oleh unit pelatihan profesional dalam mendukung SEFOPE untuk melaksanakan program-program yang berkaitan diklat diantaranya tentang pendidkan dan pelatihan terhadap tenaga kerja dalam mendukung kebijakan pengiriman tenaga kerja ke Korea Selatan.

4.1.5 Program Pendidikan

1) Program pengembangan kebijakan dan prosedur untuk bidnag pelatihan profissional

2) Program penyelenggaraan pendaftaran, menfasilitasi, dan pengembangan kualitas pusat pelatihan

(16)

3) Program pelatihan untuk penyedia layanan diklat

4) Program mengembangakan informasi dan kerjasama untuk bidang pelatihan profissional

4.2. Pembahasan

Berdasarkan kajian pustaka pada bab terdahulu yang mana telah dijelaskan, sejalan dengan itu pula didalam kerangka pemikiran diuraikan langkah-langkah penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan (diklat) yang terpenting yang dapat mempengaruhi terhadap keberhasilan program pemerintah dalam pengembangan pendidikan dan pelatihan profesional ketenagakerjaan demi menciptakan sumber daya manusia Timor-Leste yang professional terutama dalam mendukung kebijakan pemerintah tentang pengiriman tenaga kerja Timor Leste ke Korea sesuai dengan Memorandum of Understanding antara Pemerintah Timor Leste dengan Pemerintah Korea Selatan.

Pelaksanaan diklat yang baik perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut: Melakukan Analisis Stratejik, Menetapkan Kompetensi yang dibutuhkan, Mengukur Kompetensi Saat ini, Melakukan Analisis Kebutuhan Diklat, Menyususn Rancangan Teknis Diklat, Menyelenggarakan Diklat dan Mengevaluasi Penyelenggaraan dan Hasil Diklat. Karena Langkah-langkah ini masing-masing saling mempengaruhi satu sama lain dalam proses penyelenggaraan diklat mulai dari langkah pertama sampai tahap terakhir.

Untuk merealisasi penyelenggarakan diklat yang bermutu tentunya ada aspek yang perlu diperhatikan yaitu aspek quality standard, quality assurence dan

(17)

quality control. Standar kualitas diklat dibuktikan dengan diciptakannya pedoman-pedoman diklat dan panduan teknis/Standart Operation Procedure (SOP) yang dijadikan tolak ukur bagi lembaga penyelenggara diklat untuk menyelenggarakan diklat. Penetapan standar kualitas melalui pedoman-pedoman terus ditingkatkan kualitasnya sehingga tetap sesuai dengan perkembangan lingkungan strategis tempat penyelenggaraan diklat. SOP hendaknya dibuat dan disepakati bersama semua unsur-unsur yang terkait dalam lembaga. Jaminan kualitas diperlukan sebagai sutau upaya untuk menjamin kualitas penyelenggaraan dan hasil diklat. lembaga penyelenggara diklat bertanggung jawab memotret kapasitas semua lembaga penyelenggara diklat melalui kegiatan akreditasi dan sertfifikasi, dengan menekankan beberapa hal sebagai indikator yang perlu diperhatikan, yaitu kelembagaan, design program dan kurikulum (sasaran, tujuan, metode pembelajaran), sumber daya mansuia penyelenggara (peserta dan tenaga pendidik dan pelatih) serta sarana prasarana diklat. Pengendalian/pengawasan diwujudkan dalam bentuk pelaporan penyelenggaraan diklat sebelum dan sesudah diklat diselenggarakan melalui sutau evaluasi terhadap proses diklat.

Sehubungan dengan kebijakan pemerintah tentang pengiriman tenaga kerja Timor Leste ke Korea Selatan, maka terlebih dahalu para tenaga kerja harus memenuhi salah satu kriteria yang ditawarkan oleh Pemerintah Korea yaitu harus bisa berbahasa korea. Maka untuk mendukung tenaga kerja supaya bisa memenuhi salah satu kriterian tersebut maka diselenggarakan pendidikan dan pelatihan terhadap tenaga kerja dengan materi tentang “Korea Linguage Training “KLT”. Untuk mewujudkan pendidikan dan pelatihan tenaga kerja ini berjalan

(18)

lancar dan dapat mencapai tujuan maka perlunya memperhatikan langkah-langkah penyelenggaraan diklat yang baik sehingga dapat mendukung kebijakan pengiriman tenaga kerja dapat terlaksana secara efektif. Untuk mencapai sebuah pelaksanaan diklat yang berhasil dan dapat mencapai tujuan yang ditetapkan maka harus diawali dengan sebuah persiapan yang matang, mulai dari melakukan analisis stratejik sampai kepada evaluasi penyelenggaraan dan hasil diklat .

Dengan demikian uraian permbahasan atau analisis yang meliputi Melakukan Analisis Stratejik, Menetapkan Kompetensi yang dibutuhkan, Mengukur Kompetensi Saat ini, Melakukan Analisis Kebutuhan Diklat, Menyususn Rancangan Teknis Diklat, Menyelenggarakan Diklat dan Mengevaluasi Penyelenggaraan dan Hasil Diklat akan diuraikan pada pembahasan selanjutnya dibawah ini.

4.5.1 Melakukan Analisis Stratejik

Pelaksanaan diklat ditujukan untuk menciptakan dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pencari kerja sehingga dapat memenuhi permintaan kerja yang ditawarkan oleh Korea kepada Tenaga Kerja Timor Leste melalui Secretaria de Estado da Formação Professional e Emprego (SEFOPE). Tentunya kesempatan ini memberikan suatu harapan yang besar bagi pencari kerja Timor Leste untuk memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan lapangan pekerjaan ke Korea dengan menjadi tenaga kerja pada perusahaan-perusahaan yang ada di Korea. Sehingga dengan adanya permintaan atau kesempatan ini diharapkan Pemerimtah Timor Leste melalui SEFOPE untuk lebih

(19)

efektif melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sehingga program pengiriman tenaga kerja Timor Leste ke Korea lebih banyak lagi sehingga mengurangi jumlah angka pencari kerja yang ada. Karena keberhasilan program pengiriman tenaga kerja dapat ditentukan oleh pelaksanaan diklat diselenggarakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian para pencari kerja sebagai langkah awal dalam menyiapkan tenaga kerja sehingga dapat merespon permintaan korea.

Oleh karena itu sebelum diklat dilaksanakan terlebih dahulu lembaga harus melakukan analisis stratejik untuk mengidentifikasi faktor-faktor stratejik yang dapat mendukung maupun menghambat pelaksanaan diklat. Faktor-faktor tersebut teridiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu meliputi kelemahan dan kelebihan yang ada dalam lembaga. Sedangkan faktor eksternal yaitu berupa kesempatan dan tantangan yang dihadapi dari luar lembaga seperti kebijakan atau dasar hukum yang ditetapkan oleh lembaga tentang penyelenggaraan diklat.

Pentingnya melakukan analisis stratejik karena langkah ini sebagai sutau proses untuk menghimpun berbagai informasi untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan lembaga yang dalam pelaksanaan diklat. Karena walaupun lembaga sudah melakukan persiapan dengan matang dan didukung dengan sumber daya manusia cukup dan berkualitas, sarana dan prasarana yang komplit, serta fasilitas-fasilitas pendukung pelaksanaan diklat lainnya tetapi untuk mencapai hasil penyelenggaraan diklat yang diharapkan tentu harus didukung dengan analisis stratejik yang baik terhadap faktor internal dan eksternal. Dengan

(20)

hal ini dapat membantu lembaga untuk mencapai tujuan penyelenggaraan diklat karena semua kebutuhan diklat sudah terpenuhi sebelum diklat diselenggarakan.

Karena dengan analisis stratejik ini dapat membantu lembaga untuk menetapkan kebutuhan-kebutuhan yang tepat dalam mendukung lembaga untuk melaksanakan diklat dengan baik. Untuk mewujudkan hal tersebut dapat dilakukan melalui; pertama; melakukan analisis stratejik terhadap faktor internal yang meliputi; penyediaan SDM termasuk tenaga pengajar, sarana dan prasarana, serta fasilitas pendukung lainnya, dukungan anggaran, dan lain sebagainya dalam lembaga, yang kedua melakukan analisis stratejik terhadap faktor eksternal, meliputi kebijakan pemerintah tentang diklat, dukungan anggaran pemerintah, kebutuhan pasar, dan faktor lainnya yang berada di luar organisasi.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keberhasilan pelaksanaan diklat terhadap peserta diklat tentunya tergantung kepada sejauhmana lembaga melakukan analisis stratejik dalam mengidentifikasi faktor internal dan eksternal sehingga lembaga dapat menyiapkan berbagai kebutuhan-kebutuhan penyelenggaraan diklat dengan baik sehingga dapat mendukung lembaga dalam menyelenggarakan diklat yang berhasil.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dilapangan, menurut Direktur Nasional Pelatihan Profesional menyatakan bahwa:

Sesuai dengan Decreto Lei No.3/2008 tentang SEFOPE, yang mana bertanggung jawab terhadap permasalahan ketenagakerjaan yaitu masalah pengangguran atau pencari kerja. Dan Nota kesepahaman antara SEFOPE dengan Korea tentang pengiriman tenaga kerja Timor Leste ke Korea, Penyelenggaraan diklat terhadap tenaga kerja dengan tujuan dapat meningkatkan pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki dalam mendukung kebijakan pengiriman tenaga kerja ke Korea berdasarkan

(21)

kesempatan yang ditawarkan oleh Korea. Hal ini dapat membantu mengatasi masalah pencari kerja yang terus bertambah. Sesuai dengan data yang ada bahwa mulai tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 jumlah pencari kerja yang yang mendaftar ke SEFOPE sebanyak 6.028 orang. Tentu hal ini menunjukkan begitu banyaknya pencari kerja yang ingin bekerja ke Korea.

Sesuai dengan data yang ada diatas, menunjukkan bahwa partisipasi dari pencari kerja terhadap kebijakan yang diambil oleh pemerintah melalui SEFOPE ini diperlukan oleh mereka karena dengan adanya kebijakan ini dapat memberikan harapan dan manfaat terutama dalam menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi yaitu lapangan pekerjaan akibat dari minimnya penciptakaan dan penyediaan lapangan pekerjaan dalam negeri. Sehingga dengan adanya kebijakan ini dapat membantu mereka untuk mendapatkan lapangan pekerjaan dengan menjadi tenaga kerja ke luar negeri khususnya ke Korea Selatan melalui program pengiriman tenaga kerja ke Korea Selatan.

Maka hasil wawancara diatas menurut Direktur Nasional Pelatihan Profesional ini dapat dianalisis bahwa dalam mendukung tugas dan tanggung SEFOPE tentang penyelenggaraan diklat, hal ini sudah ada aturan, ada tujuan yang jelas dan tersedia lapangan pekerjaan oleh SEFOPE bersama Korea Selatan melalui Nota Kesepahaman yang ditandatangani oleh Timor Leste dengan Korea Selatan tentang pengriman tenaga kerja Timor Leste ke Korea Selatan, tentunya hal ini dapat mengurangi atau mengatasi permasalahan pengangguran atau pencari kerja yang ada atas lapangan pekerjaan.

Namun kenyataan yang ada bahwa kebijakan pengiriman tenaga kerja ke Korea Selatan ini belum berjalan sesuai dengan keinginan dan harapan masyarakat khsusunya pencari kerja karena penyelenggaraan diklat yang

(22)

diselenggarakan oleh SEFOPE belum memberikan masukan yang baik terhadap kebijakan tersebut karena minimnya penyediakan tenaga-tenaga kerja yang berkualitas sesuai dengan lowongan kerja yang ditawarkan.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dilapangan menurut seorang staf Pelatihan Profesional menyatakan bahwa:

proses penyelenggaraan diklat terhadap pencari kerja tidak diawali oleh suatu persiapan awal yang matang oleh SEFOPE terutama dalam menyediakan kebutuhan-kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang dimiliki oleh SEFOPE sehingga dapat mendukung kami untuk melakukan kerjasama yang baik dengan pihak korea dalam melaksanakan diklat terutama faktor bahasa.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut diatas dapat dianalisis bahwa rendahnya analisis stratejik yang dilakukan oleh SEFOPE bersama unsur-unsurnya sebagai penyelenggara diklat terutama dalam mengidentifikasi kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihan yang melekat pada sumber daya manusia yang dimiliki baik itu internal maupun eksternal sehingga menyebabkan SDM yang disediakan kurang tepat dengan kondisi ril dilapangan atau peserta diklat. Sehingga menyebabkan angka pengirimanpun menurun.

Sehingga untuk menciptakan dan menyiapkan tamatan-tamatan diklat yang dapat merespon kebutuhan Korea Selatan dengan baik maka SEFOPE mengambil sebuah keputusan untuk melakukan kerjasama dengan Korea dalam mendukung penyelenggaraan diklat terhadap pencari kerja. Namun hal ini belum membawa hasil yang baik terhadap program pemerintah tentang pengiriman tenaga kerja ke Korea Selatan. Dikarenakan keputusan yang diambil terutama dalam mengontrak tenaga pengajar dari Korea sebagai instruktur diklat kurang melibatkan seluruh unsur penyelenggaraa diklat yang ada untuk melakukan diskusi bersama supaya

(23)

dapat memberikan memberikan ide-ide atau masukan-masukan yang perlu diperhatikan oleh SEFOPE sebagai langkah awal dalam mendukung kualitas pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki terutama kemampuan pengusaaan bahasa korea sehingga dapat menfasilitasi mereka untuk membangun komunikasi yang baik dalam proses penyelenggaraan diklat. Namun hal ini tidak dilakukan dan SEFOPE karena lebih mengandalkan anggaran pemerintah untuk mengontrak tenaga pengajar dari luar tanpa memperdulikan kualitas SDM internal, namun hal ini tetap mempengaruhi kualitas penyelenggaraan diklat karena penyelenggaraan diklat dilaksanakan secara tim.

Sehingga hasil penelitian yang diperoleh dilapangan menurut Kepala Bagian Pelatihan Profesional menyatakan bahwa:

Dengan adanya pihak korea dalam mendukung proses penyelenggaraan diklat terhadap tenaga kerja ini kurang memberikan manfaat bagi kami karena semua diambil alih oleh pihak korea sehingga tugas kami yang sebagai pelaksana program pelatihan tidak dimanfaat sehingga keputusan yang diambil hanya untuk memberikan kesempatan kepada pihak korea karena mereka lebih mengerti bahasa korea pada hal itu bukan kesalahan kami hal ini dikarenakan kurang perhatian dan analisis yang dilakukan oleh SEFOPE untuk melakukan antisipasi terhadap hal-hal tersebut. Hasil informasi diatas ini menjelaskan bahwa SEFOPE sendiri mempunyai sebuah komitmen yang tinggi untuk mengatasi permasalahan ketenagakerjaan yang ada khususnya masalah pengangguran atau pencari yang kerja terus bertambah. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya Nota Kesepahaman antara Timor Leste dengan Korea Selatan dengan memanfaatkan hubungan bilateral yang dibangun oleh kedua negara. Yang mana Korea bersedia untuk menerima tenaga kerja Timor Leste untuk bekerja ke Korea Selatan melalui beberapa kesempatan kerja yang ditawarkan. Namun hal ini masih tetap mengalami

(24)

beberapa kendala dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya tersebut karena kurangnya adanya kerjasama yang baik antar internal sendiri terutama dalam mengantisipasi hal-hal yang menjadi prioritas penentu kualitas tenaga kerja dalam memenuhi kesempatan kerja yang ditawarkan. Akibat dari kurang melakukan persiapan yang baik terhadap kualitas tenaga-tenaga penyelenggara yang ada sehingga dapat memberikan dukungan dengan instruktur Korea untuk menyelenggarakan diklat yang berkualitas sehingga dapat memberikan peluang kepada peserta diklat untuk terkirim lebih banyak melalui program pemerintah yang telah ditetapkan sehingga dapat mengatasi masalah yang dihadapi oleh pencari kerja.

Berdasarkan hasil wawancara dan hasil observasi peneliti dilapangan menunjukkkan bahwa proses persiapan yang dilakukan oleh SEFOPE sebagai langkah awal melakukan analisis stratejik dalam penyelenggaraan diklat terhadap tenaga kerja belum dilakukan dengan baik sehingga menyebabkan masih adanya beberapa kebutuhan yang belum dipenuhi dengan baik oleh SEFOPE terhadap sumber daya manusia internal sehingga memberikan dukungan yang baik terhadap pihak korea sebagai mitra kerja.

Disamping itu kurangnya melakukan analisis stratejik dengan baik dalam menganalisa faktor internal terutama dalam mengidentifikasi hal-hal yang menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan diklat seperti keputusan untuk kerjasama dengan korea terutama dalam menetapkan instruktur korea sebagai instruktur diklat menyebabkan tenaga-tenaga internal sendiri kurang diperhatikan dan dimanfaatkan sehingga mereka kurang memberikan dukungan yang baik dalam

(25)

pelaksanaan diklat akibatnya diklat yang dilaksanakan belum memberikan masukan yang baik terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja sehingga kurang mendukung kebijakan pemerintah tentang pengiriman tenaga kerja Timor Leste ke Korea.

Keputusan untuk melakukan kerjasama dengan korea ini pada dasarnya baik, apalagi hal ini didukung atau diawali dengan suatu analisis stratejik yang baik terutama dalam melakukan proses persiapan dalam mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan yang ada dalam SEFOPE dan adanya adanya koordinasi yang baik antara internal dalam melakukan analisis startejik untuk menentukan unsur-unsur diklat sebagai prioritas utama dalam mempengaruhi proses pelaksanaan diklat. Seperti keputusan untuk mengontrak instrktur dari korea, tentu hal ini merupakan sutau hasil analisis yang kurang mendalam sehingga kurang melakukan antisipasi terhadap hal-hal internal yang mempengaruhi keberhasilan diklat dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja akibatnya jumlah angka pengiriman tenaga kerja Timor Leste ke Korea belum optimal.

Oleh Karena itu perlunya memperhatikan kemampuan-kemampuan yang telah dimiliki sehingga dapat memberikan dukungan yang baik kepada lembaga maupun pihak lain. Untuk mewujudkan hal ini sangat diharapkan untuk melakukan persiapan-persiapan yang matang sebelum diklat dilaksanakan terutama dalam melakukan analisis stratejik terhadap faktor internal dan eksternal sehingga dalam penetapan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan lembaga sebelum diklat dilaksanakan dapat terpenuhi dengan baik, seperti menyediakan sumber daya manusia yang tepat dapat menghasilkan diklat berkualitas.

(26)

4.5.2 Menetapkan Kompetensi yang dibutuhkan

Guna menunjang penyelenggaraan diklat dalam mencapai tujuan diklat, tentu dibutuhkan kompetensi-kompetensi tertentu yang dapat mendukung lembaga penyelenggara diklat sehingga dapat memberikan dukungan dalam menjalankan tanggung jawabnya sesuai dengan kemampuan yang telah dimiliki. Setiap pimpinan dan unsur-unsurnya yang ada dalam lembaga penyelenggara diklat membutuhkan kompetensi-kompetensi yang dapat mendukung apa yang menjadi kewenangannya terutama dalam penyelenggaraan diklat. Karena kompetensi merupakan aspek yang menjadi fokus utama dalam mendukung pelaksanaan diklat. Oleh karena itu untuk melaksanakan diklat yang berkualitas, hal ini perlu didukung oleh kompetensi–kompetensi yang dapat mendukung pelaksanaan diklat sehingga dapat mencapai tujuan akhir yang diinginkan oleh semua pihak termasuk lembaga penyelenggara diklat.

Sesuai dengan kebijakan pemerintah tentang pengiriman tenaga kerja Timor Leste ke Korea sebagai salah satu langkah positif yang diambil oleh pemerintah melalui SEFOPE untuk merespon permasalahan ketenagakerjaan yang ada yaitu jumlah angka pencari kerja yang terus bertambah akibat kurangnya penyediaan lapangan pekerjaan baik kuantitas maupun kualitas oleh pemerintah maupun non pemerintah (pihak swasta) sehingga menyebabkan rendahnya jumlah angka penyerapan tenaga kerja untuk lapangan pekerjaan. Maka untuk mengatasi hal tersebut, maka pemerintah melalui SEFOPE membangun hubungan bilateral dengan Korea. Manfaat dari hubungan bilateral yang dibangun tersebut

(27)

menghasilkan sebuah Nota Kesepahaman yang ditandatangani oleh kedua negara yaitu Timor Leste dengan Korea pada tanggal 10 Mei 2008.

Tentu hal ini memberikan suatu tanggung jawab kepada SEFOPE untuk mendukung tugas dan tanggung jawabnya tersebut khususnya dalam mewujudkan suatu penyelenggaraan diklat yang baik dan bermutu tentu dibutuhkan kompetensi-kompetensi yang memberikan ruang kepada SEFOPE untuk mendukung tugas dan tanggung jawabnya terutama yang berkaitan dengan penyelenggaraan diklat. Maka berdasarkan Decreto Lei No.3/2008, pasal 2 ini memberikan beberapa kompetensi kepada SEFOPE guna mendukung kewajibannya dalam melaksanakan diklat terhadap pencari pekerja sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka supaya dapat merespon permintaan Korea. Kompetensi-kompetensi tersebut adalah sebagai berikut:

a. Mengusulkan kebijakan dan menyiapkan rancangan peraturan untuk bidang perkembangan ketrampilan dan pelayanan ketenagakerjaan.

b. Menganjurkan pengiriman orang Timor-Leste ke luar negeri. c. Mengatur dan memonitor pekerja asing di Timor-Leste.

d. Meningkatkan dan memonitor keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja.

e. Menetapkan mekanisme kerja sama dan koordinasi dengan instansi-instansi terkait yang bertanggung jawab berhubungan yang dengan bidangnya.

f. Meningkatkan mutu akan hak dan kesempatan sebagai keikutsertaan penuh dan penggabungan dari orang-orang cacat.

g. Meningkatkan hubungan Tripartit dalam pencegahan perselisihan perburuhan

h. Mengembangkan dan meningkatkan monitorin sesuai dengan peraturan tenaga kerja dan ratifikasi perjanjian perburuhan internasional oleh Timor-Leste.

i. Memberikan pertolongan pada pengusaha dan pekerja masalah hubungan perburuhan.

j. Menegaskan dan melaksanakan aksi untuk kemajuan pekerjaan dan mengatasi pengangguran.

(28)

Dengan adanya kompetensi-kompetensi tersebut diatas, tentu SEFOPE harus merealisasikannya kedalam tiap-taip unit yang telah dibentuk. Agar unit-unit tersebut memiliki kompetensi dalam menjalankan tugas pokoknya sesuai dengan apa yang menjadi tanggung jawabnya berdasarkan struktur yang ada. Supaya tiap unit yang ada dalam lembaga dapat menjalankan kompetensi-kompetensi yang telah diberikan tersebut tentunya membutuhkan adanya pembagian kerja yang jelas dan terinci sehingga mempermudah tiap unit dalam menjalankan tugasnya dengan baik dan berdasarkan uraian tugas yang jelas.

Berdasarkan hasil penelitian dilapangan menurut Kepala Bagian Pelatihan Profesional menyatakan bahwa:

Sumber daya manusia yang dimiliki pada unit kami dalam mendukung pelaksanaan diklat terhadap tenaga kerja cukup. Karena hal ini berkaitan dengan keputusan yang telah ditetapkan bahwa materi diklat tentang “Korea Langauge Training”KLT”maka kami tetap membutuhkan dukungan dari Korea untuk melaksanakan diklat dalam mengembangkan kualitas SDM yang lebih baik, terutama berkaitan dengan diklat terhadap tenaga kerja.Namun apabila hal ini didukung dengan kerjasama yang baik antara tenaga-tenaga penyelenggara SEFOPE dengan instruktur korea tentu akan menghasilkan kualitas diklat yang lebih baik.

Dari hasil wawancara ini dapat analisis bahwa SEFOPE merupakan salah satu lembaga pemerintah yang bertugas untuk menyediakan tenaga kerja yang berkualitas sesuai dengan kompetensi diberikan sehingga dapat memenuhi tuntutan yang diminta oleh Korea Seletan. Sebagai lembaga penyelenggara diklat pentingnya memperhatikan kondisi ril SEFOPE dengan memikirkan bagaimana caranya meningkatkan SDM-SDM yang sudah dimiliki sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik oleh SEFOPE dalam menunjang kompetensi yang diberikan tanpa harus tergantung kepada orang lain. Sehingga untuk mendukung

(29)

kompetensi yang sudah diberikan perlu adanya pengembangan terhadap sumber daya manusia yang ada terutama dalam penguasaan bahasa khsususnya Bahasa Korea sehingga dapat mendukung tenaga penyelenggara internal untuk lebih mengembangan mutu penyelenggaraan diklat tersebut.

Terkait dengan kompetensi-kompetensi yang telah diberikan kepada SEFOPE dalam mendukung diklat terhadap pencari kerja yang mendaftar tentunya dibutuhkan komitman SEFOPE untuk bisa mengambil keputusan-keputusan yang dapat memberikan peluang atau kesempatan terhadap unsur-unsur internal dalam mempersiapkan diri sesuai kondisi aktual sehingga memberikan kontribusi yang lebih baik terhadap penyelenggaraan diklat yang diselenggarakan.

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dilapangan, menurut seorang staf pelaksana pelatihan profesional menjelaskan bahwa:

Perlunya SEFOPE melakukan alternatif-alternatif yang dapat menjaga kualitas diklat yang dilaksanakan oleh SEFOPE kedepannya, sehingga tidak lagi tergantung kepada orang lain tetapi bisa berdiri sendiri dengan melaksanakan diklat yang lebih berkualitas. Karena tuntutan perubahan selalu ada setiap saat sehingga perlu melakukan pelatihan-pelatihan secara kontinua sehingga mengurangi SEFOPE untuk mengontrak pihak lain untuk menyelenggarakan diklat. Namun tetap membangun kerjasama dengan pihak lain jika ada-ada yang perlu diselesaikan dengan bantuan pihak lain.

Sesuai dengan hasil wawancara dan hasil observasi peneliti dilapangan bahwa SDM-SDM yang dimiliki membutuhkan adanya perhatian dari pimpinan SEFOPE untuk mengambil kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan mereka sehingga dapat menunjang tugas dan tanggung jawabnya dengan baik terutama

(30)

dalam membangun komunikasi yang baik dengan mitra kerja terhadap proses penyelenggaraan diklat.

Pada prinsipnya keputusan untuk melakukan kerjasama dengan pihak lain seperti Korea Selatan merupakan sebuah keputusan yang positif karena akan dapat menghasilkan diklat yang lebih baik, namun hal ini dapat berjalan lancar jika SEFOPE memberikan perhatikan kepada SDM yang sudah dimiliki karena mereka merupakan salah satu aset lembaga. Sehingga perlunya SEFOPE secara terus menerus membekali mereka. Oleh karena itu perlu adanya komitmen dari lembaga sendiri untuk bagaimana mengambil keputusan untuk melakukan hal-hal yang dapat lebih mengembangkan kemampuan mereka sehingga apabila adanya perubahan atau tuntutan mendadak terhadap kompetensi lembaga khsususnya yang berkaitan langsung dengan tugas dan tanggung jawab unit-unit penyelenggaraan diklat. Sehingga kedepannya SEFOPE bisa menyelenggarakan diklat sendiri tanpa harus mendatangkan SDM dari luar selain itu adanya penghematan dalam penggunaan anggaran karena lembaga tidak lagi mengeluarkan dana yang banyak untuk membayar instruktur dari luar, dan biaya tersebut bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya seperti yang mendukung lembaga untuk mengembangkan pelaksanaan diklat yang lebih berkualitas.

4.5.3 Mengukur Kompetensi Saat ini

Keberhasilan proses penyelenggaraan diklat sangat tergantung kepada kompetensi-kompetensi yang dimiliki dalam mendukung kompetensi-kompetensi

(31)

yang diberikan kepada lembaga. Untuk mewujudkan hal ini lembaga harus melakukan pengukuran kompetensi yang dimiliki sehingga dapat mengetahui dengan baik tentang kemampuan-kemampuan yang dimiliki sehingga dapat mendukung kompetensi-kompetensi yang diberikan kepada lembaga ini berjalan dengan baik dan dapat mencapai tujuan diklat dalam meningkatkan pengetahuan dan keahlian tenaga kerja melalui diklat yang diselenggarakan sebagai salah satu kompetensinya. Pengukuran terhadap kompetensi yang dimiliki ini berkaitan dengan melakukan pengukuran terhadap kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh lembaga yang berkaitan dengan kualitas kemampuan, kualitas keahlian dan kualitas sikap dalam mendukung proses pelaksanaan diklat dalam menghasilkan tamatan-tamatan diklat yang berkualitas sehingga dapat mengurangi jumlah angka pencari kerja melalui kebijakan pemerintah tentang pengiriman tenaga kerja Timor Leste ke Korea yang sebanyak-banyaknya.

Kompetensi atau kemampuan yang dimaksud disini adalah kemampuan yang dimiliki yang melekat kepada unsur-unsur pokok sebagai penentu kesuksesan pelaksanaan diklat diantaranya adalah kualitas pengetahuan, keahlian dan sikap yang dimiliki oleh tenaga pengajar atau tenaga penyelenggara diklat. Oleh karena itu pentingnya lembaga memperhatikan langkah pengukuran kompetensi yang dimiliki ini, karena dapat mempermudah lembaga untuk menjalankan kompetensi yang diberikan dengan baik sehingga dapat mencapai tujuan diklat yang telah ditetapkan karena didukung oleh tenaga penyelenggara yang berkualitas.

(32)

Berdasarkan hasil penelitian dilapangan, menurut Direktur Pelatihan Profesional bahwa:

Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab SEFOPE sesuai dengan kompetensi yang dipercayakan kepada sefope terutama dalam menciptakan tenaga-tenaga kerja yang berkualitas dalam memenuhi permintaan korea melalui pelaksanaan diklat, hal ini sudah didukung oleh sumber daya manusia atau tenaga-tenaga pelaksana yang cukup. Walaupun demikian apa beberapa kendala yang masih dihadapi seperti masalah kemampuan penguasaan bahasa korea, sehingga menyebabkan para tenaga pelaksana belum bisa menjalankan tugas dan tanggung yang diberikan khusus dalam meningkatkan jumlah angka pengiriman tenaga kerja sesuai dengan permintaan yang diminta. Oleh sebab perlu adanya perlu adanya pelatihan bahasa korea kepada para tenaga pelaksana sehingga kedepannya dapat dimanfaat oleh lembaga untuk diklat selanjutnya dan pihak korea hanya sebagai pendamping atau penasehat.

Hal ini dapat dianalisis bahwa penyelenggaraan diklat yang diselenggarakan itu apabila didukung dengan manajemen yang baik dalam memanfaatkan sumber daya manusia yang ada sesuai dengan kompetensi yang yang dilimpahkan kepada unit-unit pelaksana yang ada tentu dapat menghasilkan kualitas diklat yang bermanfaat karena mereka merasa bertanggung jawab dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi yang diberikan kepada mereka karena didukung dengan manajemen yang baik sehingga memberikan semangat kerja yang baik dalam menjalankan tupoksisnya yang diberikan.

Keberhasilan SEFOPE dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab terutama dalam menyediakan dan menciptakan tenaga-tenaga kerja yang berkualitas melalui penyelenggaraan diklat yang diselenggarakan salah satu ditentukan oleh tenaga penyelenggara yang dimiliki. Sehingga kedepan bisa menciptakan dan menyediakan tenaga-tenaga kerja yang berkualitas, tentu hal ini tidak terlepas dari kualitas kompetensi-kompetensi yang dimiliki oleh

(33)

penyelenggara diklat sebagai wadah untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan oleh para pencari kerja. Dengan demikian perlu adanya pengembangan secara kontinua terhadap SDM-SDM tersebut. Supaya hal ini dapat direalisasikan dengan baik tentu harus didukung oleh proses pengukuran yang baik atau mendalam terhadap kompetensi-kompetensi yang telah dimiliki sehingga dapat menghasilkan informasi yang tepat tentang kualitas kemampuan yang dimiliki oleh tenaga penyelenggara internal sehingga dapat menentukan training-training yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan oleh SEFOPE dalam mendukung penyelenggaraan diklat yang bermutu sehingga dapat membawa perubahan atau manfaat terhadap kebutuhan pencari kerja akan lapangan pekerjaan.

Sesuai dengan hasil penelitian dilapangan menurut Kepala Bagian Pelatihan Profesional menyatakan bahwa:

masalah sumber daya manusia bagi kita tidak ada masalah namun saja karena ini berkaitan dengan bahasa korea maka yang perlu diperhatikan yaitu masalah penggunaan bahasa.Sehingga kedepannya bisa membangun koordinasi dan kerjasama yang lebih baik lagi antar internal maupun dengan pihak korea dalam menjalankan kompetensi yang diberikan, sehingga dapat menghasilkan tamatan-tamatan diklat yang dapat memenuhi permintaaan yang ditawarkan oleh Korea sehingga pengangguran dapat dikurangi atau diatasi.

Hal ini dapat dianalisis bahwa apabila adanya komitman yang baik dari SEFOPE dalam memperhatikan sumber daya manusia yang dimiliki dan ditambah dengan sumber daya manusia dari luar sehingga dapat membentuk tim penyelenggaraan diklat yang baik tentu akan membawa perubahan yang lebih baik terhadap kebutuhan peserta diklat. Terutama komitmen dalam memperhatikan atau menfasilitasi sumber daya manusia yang sudah dimiliki sehingga dapat

(34)

menjalankan tugas dan tanggungnya lebih baik sesuai dengan kompetensi yang diberikan.

Berdasarkan hasil penelitian dilapangan menurut seorang staf menyatakan bahwa:

perlu adanya manajemen yang baik dalam pemanfaatan terhadap sumber daya manusia yang sudah dimiliki sehingga dapat mendukung lembaga dalam melaksanakan diklat yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keahlian tenaga kerja sehingga dapat memenuhi permintaan korea.

Oleh sebab itu kompetensi-kompetensi yang sudah dimiliki belum dapat membantu SEFOPE untuk menyediakan tenaga-tenaga penyelenggara diklat yang bermutu dan sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan diklat. Karena kurang adanya manajemen yang baik dalam internal sehingga menyebabkan SEFOPE harus tergantung kepada pihak lain alias Korea dan yang harus menyediakan anggaran yang besar untuk mengontrak tenaga-tenaga pengajar dari luar yang hasil belum optimal juga karena penyelenggaraan diklat yang diselenggarakan belum memberikan manfaat terhadap kualitas pengetahuan dan keahlian tenaga kerja. Karena faktor kualitas tenaga pengajar dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar yaitu faktor bahasa.

Berdasarkan hasil penelitian dan hasil observasi dilapangan bahwa SEFOPE memiliki beberapa kompetensi sebagai penyelenggaraan diklat terhadap tenaga kerja seperti sudah memiliki SDM cukup dalam mendukung pelaksanaan diklat terhadap tenaga kerja apalagi ditambah dengan adanya dukungan dari Korea tentu hal ini memberikan peluang untuk menghasilkan suatu penyelenggaraan diklat yang lebih baik terhadap tenaga kerja. Namun hal ini belum direalisasikan dengan baik yaitu kurang adanya kerjasama dan koordinasi

(35)

yang dilakukan oleh internal SEFOPE terutama dalam meningkatkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki internal sehingga dapat memberikan dukungan yang baik dalam penyelenggaraan diklat kepada tenaga kerja dikarenakan kurang adanya komunikasi yang baik dalam tim sebagai penyelenggara diklat. Oleh karena itu sangat diharapkan peranan seorang pimpinan untuk bisa mengambil keputusan-keputusan yang dapat dimanfaatkan oleh sumber daya manusia internal yang telah dimiliki dalam mendukung kompetensi mereka sehingga dapat menunjang tugas dan tanggung jawabnya khususnya membangun hubungan kerjasama dan koordinasi yang baik dengan pihak korea sehingga dapat mencapai tujuan diklat.

4.5.4 Melakukan Analisis Kebutuhan Diklat

Analisis kebutuhan diklat merupakan langkah berikutnya yang dilakukan oleh lembaga setelah penetapan kompetensi yang dibutuhkan dan pengukuran kompetensi yang dimiliki. Karena langkah ini dilakukan untuk mengumpulkan berbagai informasi atau bahan-bahan yang berkaitan dengan penetapan kebutuhan diklat yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan diklat yaitu dengan membandingkan kompetensi yang dibutuhkan dengan kompetensi yang dimiliki.

Oleh karena itu perlunya melakukan analisis yang mendalam oleh lembaga dalam menetapkan kebutuhan diklat karena hal ini sangat membantu lembaga dalam penyusunan rancangan diklat. Karena tujuan dilakukannya analisis kebutuhan diklat adalah untuk menghimpun berbagai informasi-informasi atau

(36)

hal-hal yang dibutuhkan oleh lembaga dalam menyusun rancangan diklat. Informasi-informasi yang dibutuhkan tersebut adalah yang berhubungan dengan kebutuhan peserta diklat dan kebutuhan lembaga. Kebutuhan-kebutuhan diklat tersebut meliputi: tenaga pengajar, sarana dan prasarana dan fasilitas pendukung lainnya, jumlah ruangan dalam mendukung kegiatan diklat, tenaga administrasi yang dapat membantu dan mengelola kegiatan-kegiatan diklat, penyediaan anggaran dalam mendukung kegiatan diklat serta hal-hal lainnya yang diperlukan dalam mengantisipasi jika kegiatan diklat tidak berjalan sesuai rencana yang ditetapkan sebelumnya.

Dengan demikian analisis kebutuhan diklat merupakan salah satu bagian penting yang perlu diperhatikan dengan baik oleh lembaga dalam melaksanakan diklat. Karena langkah ini harus terlebih dahulu dilakukan untuk menetapkan kebutuhan diklat sebelum diklat dilaksanakan. Selain menetapkan kebutuhan diklat yang tepat dapat juga membantu lembaga dalam menentukan solusi-solusi yang dapat dimanfaatkan untuk mengantisipasi hal-hal yang muncul selama penyelenggaraan diklat, seperti materi kurang sesuai dengan kondisi ril dilapangan, kualitas tenaga pengajar, sarana dan prasarana, alokasi waktu yang kurang baik, anggaran yang disediakan kurang mencukupi serta hal-hal lainnya yang dapat mempengaruhi kualitas penyelenggaraan diklat. Oleh sebab itu penting sekali bagi lembaga maupun pihak-pihak yang terlibat dalam proses diklat untuk lebih serius melakukan analisis kebutuhan diklat untuk menetapkan kebutuhan diklat yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan sehingga dapat menghindari hal-hal yang dapat mempengaruhi keberhasilan diklat.

(37)

Berdasarkan hasil penelitian dilapangan, menurut Direktur Pelatihan Profesional menyatakan bahwa:

masih membutuhkan tenaga staf maupun tenaga pelaksana diklat yang tepat yang sesuai dengan kebutuhan diklat, sarana dan prasarana, serta dukungan anggaran pemerintah karena berdasarkan kondisi dilapangan bahwa jumlah angka pencari kerja selalu bertambah.

Hasil informasi dari hasil wawancara diatas dapat dianalisis bahwa SEFOPE perlunya memperhatikan langkah analisis kebutuhan diklat ini dengan baik sehingga dapat menghasilkan informasi-informasi yang akurat dan tepat terutama dalam memutuskan atau menetapkan kebutuhan-kebutuhan diklat yang sesuai dengan topik penyelenggaraan diklat sehingga proses penyelenggaraan diklat itu benar-benar dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh peserta diklat sehingga dapat merespon dengan baik terhadap lapangan pekerjaan yang disediakan dan adanya penyerapan tenaga kerja yang lebih banyak. Namun kenyataan yang ada tidak demikian dikarenakan rendahnya melakukan analisis kebutuhan diklat yang dilakukan menyebabkan poses penyelenggaraan diklat masih tergantung kepada pihak lain selain itu masih minimny penyediaan kebutuhan-kebutuhan diklat yang tepat.

Sedangkan menurut Kepala Bagian Pelatihan Profesional menyatakan bahwa:

Perlunya pengembangan pengetahuan bagi tenaga-tenaga pelaksana internal melalui pelatihan-pelatihan terhadap mereka terutama berkaitan bahasa korea sehingga mereka bisa membangun komunikasi dan kerjasama yang baik dengan pihak lain (korea) sehingga pelaksaaan diklat itu bisa menghasilkan tenaga kerja-tenaga kerja yang lebih berkualitas. Hal ini dapat dianalisis bahwa SEFOPE perlu adanya analisis kebutuhan diklat secara periodik sehingga dapat menghasilkan informasi-informasi aktual

(38)

terhadap kebutuhan-kebutuhan yang perlu dipenuhi sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan diklat. Karena dengan adanya analisis kebutuhan diklat secara terus menerus maka dapat memberikan masukan-masukan yang bermanfaat terhadap SEFOPE dalam menyiapkan tenaga-tenaga penyelenggara yang ada setiap waktu terhadap pengembangan keahlian mereka sehingga apabila ada tuntutan terhadap kualitas pengetahuan dan keahlian mereka bisa dipenuhi dengan baik terutama dalam membangun komunikasi dengan mitra kerja dalam mendukung proses penyelenggaraan diklat. Jika hal ini tidak analisis dengan baik maka dapat berpengaruh negatif terhadap kualitas penyelenggaraan diklat.

Berdasarkan hasil penelitan dilapangan, menurut seorang staf pada unit pelaksana pelatihan profesiona menyatakan bahwa:

Perlunya penambahan staf maupun fasilitas pendukung lainnya pada sekretariat sehingga menfasilitasi tugas dan tanggung jawab dalam mendukung penyelanggaraan diklat kedepannya lebih baik lagi.

Hal ini dapat dianalisis bahwa keberhasilan penyelenggaraan diklat salah satu ditentukan oleh kualitas pelayanan administrasi sebagai unit yang bertanggung jawab dalam mengelola seluruh proses penyelenggaraan diklat apalagi jumlah pencari kerja terus bertambah setiap tahunnya tentunya hal ini dapat mempengaruhi tugas dan tanggung jawab unit pengelola kegiatan administrasi. Sehingga untuk mendukung pelayanan administrasi terhadap proses penyelenggaraan diklat itu berjalan lancar tentunya harus didukung dengan penyediaan SDM yang cukup pula. Oleh karena itu pentingnya menyediakan SDM yang memadai sehingga dapat mendukung proses penyelenggaraan diklat kedepannya.

(39)

Berdasarkan hasil penelitian dilapangan, menurut seorang calon dan yang lainnya menyatakan bahwa:

Perlunya diperhatikan penggunaan bahasa pengantar dalam proses belajar bukan berarti kami tidak senang dengan bahasa korea namun harus ada bahasa pengantar yang baik sehingga membantu kami untuk lebih memahami materi diklat maupun dalam mengikuti proses belajar berlansung. Disamping waktu yang disediakan terlalu singkat kalau bisa waktunya ditambah, karena waktu 6 bulan tidak cukup untuk mempelejari materi diklat karena semuanya dengan bahasa korea sulit sekali.

Peserta diklat merupakan salah satu unsur penting dalam penyelenggaraan diklat karena mereka sebagai sasaran utama diadakan sebuah diklat sehingga penyelenggaraan diklat ini dikatakan berhasil jika diklat yang diselenggarakan dapat memberikan kemudahan-kemudahan yang dapat membantu mereka dalam mengiktui proser belajar mengajar diantaranya seperti adanya proses komunikasi yang baik sehingga dapat menfasilitasi mereka untuk berpartisipasi aktif dalam proses penyelenggaraan teori atau materi diklat dikelas.

Kualitas seorang instruktur mempunyai peranan penting terhadap penyelenggaraan diklat karena hal ini sebagai salah satu indikator untuk mengukur kualitas peserta diklat melalui penyelenggaraan diklat yang diselenggarakan. Terutama bagaimana seorang instruktur membangun komunikasi yang baik dengan peserta diklat dalam menyelenggarakan proses belajar, seorang instruktur yang profesional perlunya menyesuaikan diri dengan kondisi ril peserta diklat yaitudalam menyelenggarakan proses belajar mengajar terlebih dahulu harus mengetahui penggunaan bahasa yang mudah dimengerti oleh peserta diklat sehingga dapat membangun komunikasi yang baik karena keberhasilan penyelenggaraan diklat itu salah satu sangat ditentukan oleh kualitas seorang

(40)

instruktur terutama dalam menyelenggarakan proses belajar dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kondisi peserta diklat terutama dalam penggunaan bahasa pengantar dalam menyampaikan materi diklat. Karena hal ini akan mempengaruhi kualitas pengetahuan dan keahlian peserta diklat terhadap proses belajar yang diselenggarakan terutama dalam meningkatkan dan mengembangkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki oleh peserta diklat terhadap materi diklat yang telah ditetapkan.

Begitupun halnya dengan penyediaan waktu perlu disesuaikan dengan kemampuan peserta diklat karena tidak semua peserta itu memiliki kemampuan yang sama dalam meresapkan apa yang diberikan dalam waktu yang telah ditentukan, untuk itu perlunya melakukan analisis yang baik sebelum menetapkan waktu penyelenggaraan diklat sehingga waktu yang disediakan cukup bagi peserta diklat untuk mengembangkan pengetahuan dan keahlian mereka sehingga dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat terhadap kebijakan yang diambil sehingga mengurangi angka pencari kerja yang ada.

Mencermati pada hasil informasi-informasi yang didapat dilapangan bahwa SEFOPE perlu adannya penambahn sumber daya yang cukup sehingga dapat mendukung pelaksanaan diklat terhadap tenaga kerja yaitu seperti tenaga-tenaga pelaksana diklat yang sesuai dengan kebutuhan diklat tentang korea linguage training. Dengan demikian perlunya adanya manajemen yang baik dan secara terus menerus terhadap sumber daya yang dimiliki sehingga dapat mendukung SEFOPE dalam melaksanakan tugas dan tanggungnya sebagai lembaga penyelenggara diklat terhadap tenaga kerja sehingga bisa menciptakan

(41)

dan menyediakan tamatan-tamatan diklat yang berkualitas sehingga penyerapan ke Korea akan lebih banyak lagi.

Berkaitan dengan itu menurut salah satu mantan tenaga kerja dan yang lainnya menyatakan bahwa:

Pelatihan yang dilakukan oleh SEFOPE dengan korea seyogyanya disesuaikan dengan kemampuan calon tenaga kerja yaitu dengan melakukan evaluasi pradiklat sehingga bisa mengerti kemampuan calon tenaga kerja dan mengkategorikan mereka dalan tingkatan-tingkatan tertentu sesuai dengan kemampuan mereka tentu saja hal ini akan berakibat pada rancangan-rancangan diklat sehingga pelaksanaanpun kedalam kategori-kategori yang telah ditetapkan. Kami yakin bahwa dengan cara seperti itu SEFOPE akan memperoleh calon-calon tenaga kerja yang siap dikirim berdasarkan permintaan dari perusahaan-perusahaan yang ada di Korea.

Perlunya melakukan evaluasi pradiklat oleh SEFOPE dalam mengukur kualitas kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing peserta diklat sehingga mereka ditempatkan sesuai dengan kualitas kemampuan mereka dalam tingkatan tertentu sehingga rancangan diklatpun disesuai dengan tingkatan-tingkatan yang ada bukan disama ratakan karena tidak semua peserta diklat memiliki kapasitas kemampuan yang sama ada yang cepat mencerna materi diklat namun ada yang lambat. Oleh karena itu pentingnya evaluasi pradiklat terhadap penempatan peserta diklat berdasarkan tingkatan-tingkatan yang baik.

Berdasarkan hasil penelitian dilapangan dan hasil observasi bahwa SEFOPE sendiri belum menyediakan sumber daya yang cukup dalam mendukung program pendidikan dan pelatihan terhadap tenaga kerja sehingga hal yang mempengaruhi kualitas pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja, seperti penyediaan tenaga-tenaga pengajar yang berkualitas serta sarana dan prasarana

(42)

dan fasilitas pendukung lainnya seperti penyediaan ruangan-ruangan, transportasi dan internet yang dapat membantu peserta diklat untuk mengakses informasi tambahan tentang materi diklat sehingga bisa menunjang mereka untuk lebih menambah pengetahuan dan keterampilan mereka. Karena hal ini sangat berpengaruh terhadap kualitas lembaga dalam menyediakan fasilitas-fasilitas pendukung lainnya sehingga pelaksanaan diklat itu lebih berjalan optimal. Karena penyediaan fasilitas yang lengkap atau mencukupi kebutuhan peserta diklat menjadi salah satu alasan bagi peserta diklat untuk lebih menumbuhkan semangat dan kemauan dalam berpartisipasi dalam pelaksanaan diklat yang berhasil salah satu ditentukan oleh bagaimana lembaga menyediakan fasilitas yang lebih memadai sehingga membuat peserta diklat lebih semangat untuk mengikuti proses belajar.

Disamping itu perlunya penambahan sarana dan prasarana seperti penyediaan ruangan-ruangan sebagai fasilitas penyelenggaraan proses belajar mengajar walaupun sudah disediakan namun masih membutuhkan beberapa kebutuhan-kebutuhan pendukung lainnya penyediaan ruangan-ruangan untuk membantu proses belajar dalam penyelenggaraan diklat terhadap peserta diklat seperti perlu adany penambahan ruangan untuk ruangan belajar teori yang masih terbatas jika dibandingkan dengan jumlah angka pencari kerja yang semakin meningkatkan dari tahun ke tahun. Tentu berpengaruh terhadap kualitas lembaga terutama dalam menyediakan fasilitas-fasilitas untuk mendukung proses penyelenggaraan diklat.

(43)

Berdasarkan hasil penelitian diatas dan juga hasil observasi peneliti dilapangan dapat di simpulkan SEFOPE sendiri masih membutuhkan penambahan staff untuk Sekretariat dalam menyiapkan keperluan-keperluan diklat. Begitupun dengan transportasi sebenarnya sudah ada namun perlu ada penambahan untuk lebih menfasilitasi peserta diklat untuk menjangkau tempat penyelenggaraan diklat.

Sehingga perlunya bagi SEFOPE untuk melakukan analisis kebutuhan diklat ini, karena ini merupakan salah satu langkah penting yang harus dilakukan secara mendalam karena pada langkah ini akan dapat memberikan informasi yang menjadi bahan pertimbangan bagi lembaga untuk menetapkan bagaimana sebuah program diklat itu diselenggarakan dan kebutuhan-kebuthan apa saja yang dibutuhkan termasuk juga kebutuhan untuk mengantisipasi hal-hal yang dapat menghambat proses penyelenggaraan diklat.

4.5.5 Menyususn Rancangan Diklat

Langkah menyusun rancangan diklat ini erat kaitannya dengan melakukan analisis kebutuhan diklat, karena sebelum penyusunan rancangan diklat terlebih dahulu didahului dengan analisis kebutuhan diklat. Setelah itu lembaga mengambil keputusan untuk menetapkan kebutuhan diklat yang dibutuhkan. Setelah kebutuhan diklat ditetapkan barulah penyusunan rancangan diklat yang memuat tentang kebutuhan-kebutuhan yang telah ditetapkan dan melalui analisis kebutuhan diklat yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta diklat. Oleh karena itu rancangan diklat yang dirancang harus berdasarkan kepada

(44)

kebutuhan-kebutuhan diklat yang telah ditetapkan sehingga dapat merespon kebutuhan-kebutuhan peserta diklat dengan tepat.

Adapaun hal-hal yang yang termuat dalam sebuah rancangan diklat adalah sebagai berikut; tujuan diklat, manfaat diklat, program-program diklat, syarat dan kriteria peserta, pengajar, rangkaian kegiatan dan jadwal, serta teknik evaluasi yang digunakan. Dengan adanya rancangan diklat ini tentu dapat mempermudah pelaksanaan diklat terhadap tenaga kerja karena rancangan diklat tersebut tersusun secara jelas dan terarah. Tentu hal ini dapat mewujudkan keberhasilan diklat terhadap tenaga kerja tercapai dengan baik. Karena rancangan tersebut telah memuat poin-poin penting yang dapat menuntun penyelenggara diklat beserta unsur-unsurnya dengan baik. Sebab masing-masing pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan diklat itu sudah mengetahui dengan jelas arah penyelenggaran diklat itu sehingga mempermudah mereka untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Untuk menghasilkan rancangan diklat yang bermutu tentunya sangat tergantung kepada langkah analisis kebutuhan diklat yang dilakukan karena hasil analisis kebutuhan ini mempunyai dampak atau pengaruh kepada rancangan diklat. Sebab langkah melakukan analisis kebutuhan diklat akan menghasilkan informasi-informasi yang dimanfaatkan oleh lembaga sehingga dapat menyusun rancangan diklat yang tepat. Sehingga hasil rancangan diklat tersebut dapat mewujudkan pelaksanaan diklat yang baik terutama dalam mencapai harapan peserta diklat.

Gambar

Tabel 4.2 Sumber Daya Manusia Yang Dimiliki

Referensi

Dokumen terkait

Apakah orang tua anda memberi motivasi untuk belajar membaca Al Qur’an dengan benar.. Apakah orang tua anda memberi motivasi untuk meningkatkan

Dan setelah dilakukannya pengujian dua buah motor kapasitor (motor A dan motor B) ini yang dioperasikan secara tunggal dan terhubung seri, hanya menghasilakan nilai efisiensi

Perlakuan biourin sapi menunjukkan nilai rata-rata hasil lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa biourin sapi, walaupun antara perlakuan konsentrasi biourin sapi B1 1 l urin sapi + 5

Pembahasan inti dari masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini dan sebagai bahan kajian yang akan dijawab nantinya adalah: “Bagaimana Kualitas Hadis-hadis yang

Pada penelitian ini, diawali dengan pra eksperimen berupa pembuatan desain halter neck macramé, dilanjutkan dengan membuat beberapa simpul macramé, sesuai desain

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah organisasi Islam yang berdiri pada tanggal 17 April 1960 di Surabaya. Alasan peneliti menggunakan objek HMI dan PMII

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran kegiatan ekstrakurikuler dalam menumbuhkan kedisiplinan peserta didik di SMP Negeri Se Kabupaten Karawang, dengan melihat

stilah emosi kurang lebih dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang muncul dari organisme manusia. <mosi adalah suatu pengalaman yang sadar yang mempengaruhi