1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan suatu negara dengan keadaan kondisi sosial ekonomi penduduk yang bervariasi. Variasi kondisi sosial ekonomi tersebut salah satunya dapat ditengarai dari aktivitas ekonomi penduduk. Aktivitas ekonomi penduduk menurut lapangan usaha oleh Badan Pusat Statistik diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok besar yaitu pertanian; pertambangan dan penggalian; industri; listrik, gas, dan air minum; konstruksi; perdagangan, rumah makan, dan jasa; transportasi, pergudangan dan komunikasi; lembaga keuangan, real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan; serta jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan.
Aktivitas ekonomi pada suatu wilayah dapat dipengaruhi oleh potensi lingkungan alam dan kondisi mayarakat. Contoh potensi lingkungan alam tersebut adalah bahan tambang, air, tanah, hutan, tumbuhan air, dan lain sebagainya. Aktivitas ekonomi yang intensif pada suatu wilayah akan mendorong wilayah tersebut menjadi suatu wilayah dengan fungsi tersendiri. Wilayah dengan banyaknya industri yang didirikan di dalam wilayah tersebut guna memperlancar proses aktivitas ekonomi penduduk, dapat pula disebut dengan wilayah industri. Perkembangan wilayah industri selain pada aktivitas ekonomi yang semakin intensif dapat pula tergantung pada sistem kepemerintahan, kondisi penduduk (sosial, budaya, termasuk juga ketersediaan tenaga kerja), skala pemasaran, serta ketersediaan bahan baku.
Ketersediaan bahan baku, ketersediaan tenaga kerja, serta skala pemasaran merupakan beberapa faktor yang memiliki andil dalam perkembangan suatu industri. Masing-masing industri akan memiliki perbedaan dalam strategi managemen pemanfaatan sumberdaya alam, proses industri, dan pemasaran produk industri. Hal ini dikarenakan setiap industri memiliki kepentingan tertentu guna memperoleh pendapatan maksimum pada saat ini sekaligus menjaga kelestarian sumberdaya. Sumberdaya (sebagai bahan baku) yang terjaga
2 kelestariannya akan memastikan keberlanjutan produktivitas suatu industri (Benda-Beckmann, 2001).
Ketersediaan tenaga kerja merupakan salah satu alasan mengapa terjadi sebuah konsentrasi industri pada suatu wilayah. Salah satu contoh pengelompokan industri akibat tenaga kerja adalah di Jepara. Hal ini dikarenakan banyaknya tenaga kerja terampil dalam bidang pembuatan kerajinan kayu sehingga banyak industri kayu ukir mengelompok di wilayah tersebut. Pengelompokan indsutri dapat pula disebut dengan klasterisasi industri. Menurut Kuncoro (2002), Klaster industri merupakan kumpulan industri dalam suatu wilayah yang memiliki jenis industri yang sama. Meskipun jenis industri tersebut sama, akan tetapi apabila dicermati lebih detil kenyataannya industri ini terdiri dari sub industri. Suatu klaster industri akan menghasilkan suatu barang (product) yang hampir sejenis dalam proses produsinya. Meskipun demikian, barang-barang tersebut diciptakan dengan tujuan meningkatkan nilai dan manfaat dari barang asal (bahan baku/barang setengah jadi).
Klasterisasi industri memicu peningkatan persaingan suatu industri dalam memperebutkan wilayah pemasaran. Keberadaan klusterisasi industri meningkatkan daya saing industri tersebut dalam mengembangkan kualitas maupun kuantitas produk. Pengembangan kualitas dan kuantitas tersebut diciptakan guna mendapatkan skala pemasaran yang lebih luas. Hal ini menyebabkan tiap-tiap unit industri yang berada di lokasi yang berdekatan akan bersaing secara sehat untuk memperoleh konsumen yang banyak. Porter (1990) dalam Kuncoro (2002) menyatakan bahwa para pesaing di banyak industri, dan bahkan seluruh kalster industri, yang sukses pada skala internasional, ternyata seringkali berlokasi disuatu kota/beberapa daerah dalam suatu negara.
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu tempat tujuan wisata bagi wisatawan domestik maupun internasional. Keberadaan tempat-tempat wisata tersebut dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat dalam bidang industri hingga jasa. Industri itu sendiri memiliki bermacam-macam jenis. Salah satu jenis industri yang menunjang kepariwisataan di DIY adalah industri kerajinan. Berbagai macam kerajinan yang menjadi ciri khas DIY, akan menjadi
3 salah satu benda yang dapat dijadikan buah tangan bagi para wisatawan ketika berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu kerajinan yang diminati baik oleh konsumen lokal maupun internasional adalah kerajinan serat alam. Hal inilah yang menyebabkan penting dilakukan penelitian mengenai industri kerajinan serat alam di wilayah penelitian. Wilayah penelitian adalah di Kabupaten Bantul dan Kulonprogo. Penelitian ini membandingkan industri kerajinan serat alam di dua kabupaten tersebut. Perbandingan dilakukan untuk mengetahui kabupaten mana yang memiliki andil yang cukup besar dalam menciptakan produk kerajinan serat alam dan faktor dominan yang mempengaruhi perkembangan industri di kabupaten tersebut. Industri kerajinan serat alam umumnya memerlukan tenaga kerja manusia dalam proses pengolahan produk-produk kerajinan. Nilai dan harga suatu kerajinan akan ditentukan oleh kerumitan pembuatan serta lama pembuatan kerajinan.
Bantul, Kulonprogo, dan Sleman memiliki sejumlah unit industri kerajinan Serat Alam. Kabupaten Bantul memiliki 74 unit usaha kerajinan serat alam, Kabupaten Kulonprogo memiliki 69 unit usaha kerajinan serat alam, sedangkan Kabupaten Sleman memiliki 5 unit usaha kerajinan serat alam. Industri kerajinan serat alam menurut peraturan kepala badan pusat statistik nomor 57 tahun 2009 tentang klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia termasuk ke dalam industri barang anyaman dari tanaman bukan rotan dan bukan bambu yang memiliki nomor kode 16292.
Tabel 1.1 Jumlah Unit Usaha Kerajinan Serat Alam
Kabupaten Industri Serat Alam %
Bantul 74 50,00
Kulonprogo 69 46,62
Sleman 5 3,38
Total 148 100,00
Sumber : 1. Disperindagkop Bantul dan Kulonprogo (2013) 2. Direktori Industri Manufaktur Indonesia (2012) 3. Hasil Survei lapangan (2014)
4 Tabel 1.1 menunjukkan bahwa pada masing-masing wilayah terdapat perbedaan jumlah unit usaha industri kerajinan serat alam. Penelitian ini memfokuskan pada Kabupaten Bantul dan Kulonprogo saja karena keterdapatan unit industri kerajinan serat alam jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang berada di Kabupaten Sleman. Selain itu agar tidak terjadi ketimpangan data yang nantinya akan menurunkan validitas data.
Beberapa lokasi industri kerajinan serat alam di Bantul dan Kulonprogo hanya terletak pada beberapa wilayah (Disperindagkop Bantul, 2013 dan Disperindagkop Kulonprogo, 2013). Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan keruangan (spatial approach). Penggunaan pendekatan keruangan akan menelaah lebih lanjut mengenai permasalahan yang diprioritaskan pada pola sebaran industri kerajinan serat alam. Mengetahui pola sebaran dapat menggunakan peta dengan terlebih dahulu mengetahui lokasi absolut industri-industri kerajinan serat alam.
Pendekatan keruangan juga memandang pada hubungan timbal balik antar sektor dalam menunjang keberlangsungan industri kerajinan serat alam. Terdapat beberapa tahapan dalam industri kerajinan serat alam untuk mengolah serat alam menjadi suatu kerajinan yang lebih bernilai. Tahapan proses pembuatan kerajinan dimulai dari pengambilan bahan baku, pengolahan bahan baku, pewarnaan dan penganyaman bahan baku hingga proses pemasaran. Tenaga kerja diperlukan dalam proses pengolahan kerajinan serat alam untuk menjadikan bahan baku menjadi barang jadi dan/atau barang setengah jadi. Tahap pemasaran memerlukan pihak-pihak ataupun perusahaan-perusahaan yang mampu menampung dan memasarkan produk-produk kerajinan serat alam yang telah dihasilkan oleh tenaga kerja dengan lebih baik dan menarik sehingga menciptakan pasar bagi jual-beli produk serat alam.
Proses distribusi dan distribusi industri berisi tentang langkah-langkah seperti berikut : (1) Menjamin lokasi dan modal tetap; (2) Menjamin bahan baku, energi, dan bahan bakar; (3) proses industri itu sendiri; (4) pengkapalan (pendistribusian) barang-barang………… (Webber, 1929)
5 Tenaga kerja diperlukan dalam proses pengolahan kerajinan serat alam. Persentase jumlah pekerja di Bantul dan Kulonprogo menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 30 % pekerja telah bekerja pada sektor industri dan perdagangan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sektor industri dan perdagangan menjadi salah satu sektor yang diminati baik di Bantul maupun di Kulonprogo. (BPS, 2013).
1.2 Perumusan Masalah Penelitian
Tanaman serat alam merupakan tanaman yang mudah tumbuh di wilayah tropis seperti di Indonesia. Terdapat beberapa tempat di Indonesia dimana tanaman serat alam dapat tumbuh subur dan dibudidayakan oleh warga setempat. Tempat-tempat tersebut dapat berdekatan dengan lokasi industri dapat pula berjauhan dari lokasi industri. Hal ini tergantung pada kondisi fisik wilayah, kebijakan pemerintah setempat, serta mata pencaharian masyarakat wilayah tersebut.
Permasalahan menarik pada industri kerajinan serat alam ini berada pada keterdapatan industri kerajinan serat alam yang banyak terletak hanya dibeberapa wilayah di Kabupaten Bantul dan Kulonprogo. Letak industri-industri kerajinan serat alam pada suatu wilayah tersebut dapat membentuk sebuah pola sebaran dimana pola tersebut dapat mengelompok dan dapat pula menyebar. Pola sebaran lokasi industri tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor pendukung perkembangan industri itu sendiri. Faktor-faktor tersebut antaralain adalah bahan baku, tenaga kerja, dan pasar.
Bahan baku, tenaga kerja, dan pasar merupakan bagian dari faktor produksi dan pemasaran pada suatu industri. Produktivitas suatu industri kerajinan serat alam ditentukan oleh tenaga kerja. Semakin banyak tenaga kerja tentu akan menjadikan produktivitas suatu industri kerajinan serat alam semakin meningkat. Akan tetapi pendapatan yang akan diperoleh pekerja industri kerajinan yang berada di Kabupaten Bantul dan Kulonprogo tidak hanya tergantung pada produktivitas semata namun juga tergantung pada skala pemasaran dari suatu industri kerajinan serat alam.
6 Keterdapatan faktor-faktor industri dan pemasaran tersebut memungkinkan adanya hubungan timbal balik antar sektor dalam menunjang kontinuitas dan perkembangan produksi pada industri kerajinan serat alam. Hubungan antar sektor pada industri kerajinan serat alam akan menciptakan keterkaitan antar sektor mulai dari sektor primer hingga sektor tersier dan/atau sektor kuarter. Sektor primer hingga sektor tersier dan/atau kuarter sangat diperlukan dalam siklus industri. Oleh sebab itu, apabila salah satu sektor tidak ada ataupun rendah keberadaannya maka tentu akan berimbas pada industri kerajinan serat alam itu sendiri.
Berdasarkan uraian yang telah diungkapkan pada latar belakang dan rumusan masalah diatas, kegiatan industri kerajinan serat alam ini memiliki beberapa permasalahan inti, yaitu :
1. Seperti apa pola sebaran industri kerajinan serat alam di Bantul dan Kulonprogo?
2. Adakah perbedaan faktor dominan yang mempengaruhi sebaran industri kerajinan serat alam di Bantul dan Kulonprogo?
3. Adakah pengaruh dari faktor pemasaran pada pendapatan pemilik industri kerajinan serat alam di Bantul dan Kulonprogo?
4. Adakah keterkaitan antar sektor yang timbul dari industri kerajinan serat alam di Bantul dan Kulonprogo?
1.3 Tujuan Penelitian
Pelaksanaan penelitian studi komparatif industri kerajinan serat alam Bantul dengan Kulonprogo memiliki tujuan :
1. Mengetahui pola sebaran industri kerajinan serat alam di Bantul dan Kulonprogo.
2. Mengetahui perbedaan faktor yang mempengaruhi sebaran industri kerajinan serat alam di Bantul dan Kulonprogo.
3. Mengetahui pengaruh faktor pemasaran pada pendapatan pemilik industri kerajinan serat alam Bantul dan Kulonprogo?
7 4. Mengetahui adanya keterkaitan antar sektor yang timbul dari industri
kerajinan serat alam di Bantul dan Kulonprogo.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian mengenai studi komparatif industri kerajinan serat alam di Kabupaten Bantul dengan Kulonprogo memiliki manfaat teoritis dan praktis. Manfaat penelitian secara teoritis adalah untuk memperoleh data obyektif industri kerajinan serat alam di Bantul dan Kulonprogo serta pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kajian spasial pola penyebaran lokasi industri. Manfaat penelitian secara praktis adalah sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam memberikan alternatif kebijakan pemerintah untuk melindungi, mendukung, dan mengembangkan keberadaan industri kerajinan.
1.5 Penelitian Sebelumnya
Dewasa ini penelitian mengenai industri kerajinan serat sebagai terobosan dalam variasi kreatifitas industri sangat banyak. Sumberdaya serat alam yang melimpah di Indonesia membuat pemberdayaan serat alam dapat semakin ditingkatkan. Beberapa penelitian yang berkaitan dengan industri serat alam tersebut antara lain penelitian yang telah dilakukan oleh Vani Gallant tahun 2006. Metode yang digunakan pada penelitian tersebut adalah metode kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor dominan yang mempengaruhi perkembangan industri adalah besaran skala produksi yang dihasilkan unit industri dan faktor tenaga kerja yang diukur dari jumlah tenaga kerja. Terdapat hubungan positif antara penyerapan tenaga kerja dengan Industri Kecil Rumah Tangga (IKRT). Penjelasan hubungan posisif tersebut adalah semakin banyak IKRT maka penyerapan tenaga kerja semakin besar. Semakin banyak tenaga kerja yang terserap maka pendapatan keluarga pekerja akan meningkat.
Penelitian yang telah dilakukan oleh Gallant tahun 2006 memiliki fokus obyek yang sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Sahwalita pada tahun 2010. Fokus obyek yang diteliti tersebut adalah enceng gondok. Penelitian
8 Sahwalita ini mempunyai tujuan untuk mengetahui salah satu upaya yang cukup prospektif dalam menanggulangi gulma enceng gondok di Sungai Musi melalui pembuatan kertas seni. Sahwalita melakukan penelitian ini dengan metode pengambilan sampel enceng gongok secara purposive sampling untuk dijadikan bahan pupl pencampur kertas. Hasil yang didapatkan oleh Sahwalita dengan penelitiannya ini adalah enceng gondok memiliki nilai potensi yang tinggi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurut perhitungan yang telah dilakukan oleh Sahwalita, keuntungan financial yang didapatkan dari pengolahan pulp enceng gondok tersebut dapat mencapai Rp. 185.062 per 1 kilogram pulp atau 262 lembar kertas. hasil perhitungan ini belum dikurangi dengan modal awal yaitu modal tetap.
Fokus obyek pada penelitian Sahwalita tahun 2010 masih sama dengan penelitian Arief Hidayatullah tahun 2011. Meskipun demikian, pokok bahasan penelitian Hidayatullah lebih mandalam pada analisis BEP. Hasil penelitian Hidayatullah adalah ada suatu masa ketika usaha kerajinan enceng gondok mengalami titik impas (BEP), yaitu ketika biaya produksi sama persis dengan biaya output/pemasaran. Arief menggunakan metode kuantitatif pada penelitian ini dan menghasilkan data yang menunjukkan bahwa terdapat hambatan dalam pemasaran produk kerajinan enceng gondok. Hambatan tersebut antara lain adalah pemasaran produk kerajinan berbahan baku enceng gondok yang tidak mudah. Hal ini dikarenakan, banyaknya produk yang sejenis namun berbeda bahan baku.
Penelitian Paryanto dkk (2011) berbeda dengan penelitian Gallant, Sahwalita, dan Hidayatullah. Penelitian paryanto lebih mengarah pada peningkatan ketrampilan pengrajin dalam pembuatan kerajinan serat alami. Penelitian ini memiliki beberapa tujuan khusus. Tujuan tersebut adalah menciptakan mesin pemilin serat alami, membuat instalasi pengolah air limbah (IPAL), meningkatkan kemampuan pengrajin dalam hal pewarnaan, pengolahan limbah sisa pewarnaan, manajemen usaha, serta peningkatan kemampuan dalam hal penggunaan media internet. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, demonstrasi, praktek langsung, dan obeservasi. Hasilnya adalah terjadi
9 peningkatan kemampuan pengrajin sebanyak 40 % hingga 100 % dari total pengrajin yang mengikuti pelatihan.
Penelitian yang dilakukan oleh Nia Budi Puspitasari, Ary Arvianto, dan Aditya Hendra S tahun 2012 memiliki tingkatan yang lebih luas dibandingkan dengan penelitian-penelitian pada tahun-tahun sebelumnya. Penelitian ini lebih luas karena berkenaan dengan strategi pengembangan usaha kerajinan enceng gondok. Pengembangan usaha kerajinan enceng gondok meliputi bagaimana cara agar suatu industri dapat memperoleh keuntungan yang besar dari produk-produknya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi dalam membuat kerajinan enceng gondok di Kabupaten Semarang agar lebih mampu bersaing di pasaran. Metode yang digunakan adalah sampel purposive. Penelitian ini menghasilkan banyak strategi agar sebuah industri enceng gondok dapat lebih bersaing di pasaran yaitu dengan cara diadakan penurunan harga barang kerajinan, menjalin kerjasama dengan supplier, dan lain sebagainya.
Strategi pengembangan usaha kerajinan enceng gondok yang menjadi bahasan di penelitian Kristina Sri Utami dan Nany Noor Kurniyati (2013) hampir sama dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Puspitasari dkk (2011). Perbedaan penelitian ini adalah penelitian ini lebih spesifik yaitu penelitian mengenai strategi pengembangan usaha kecil menengah (UKM) kreatif pedesaan kerajinan ayaman mendong yang berada di Kabupaten Sleman. Hasil penelitian Utami menyatakan bahwa bahan baku bukan kendala bagi UKM kreatif di Sleman. Kendala terbesar adalah minat masyarakat untuk menjadi pengrajin mendong rendah dan butuh bantuan pihak lain agar dapat memberikan inovasi dalam rantai kreasi, produksi, komersialisasi dan distribusi kerajinan. Metode yang digunakan adalah purposive sampling dengan analisa rantai nilai dan SWOT. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kendala dan strategi pengembangan industri kerajinan anyaman mendong.
Natalia Wulandari dan Nurcahyaningtyas (2013) menggunakan tempat yang sama dengan Budi dkk (2012) yaitu berada di kabupaten Semarang. Meskipun demikian, penelitian Wulandari hanya meliputi satu desa di Kabupaten Semarang yaitu desa Rowoboni. Penelitian ini meneliti mengenai kajian nilai
10 ekonomis dan persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan enceng gondok mengemukakan bahwa nilai ekonomis dari pemanfaatan enceng gondok Danau Rawa Pening adalah rata-rata sebesar Rp. 5.791.290 perorang pertahun. Persepsi masyarakat terhadap enceng gondok di sana sangat bervariasi. Masyarakat lokal yang berpersepsi tidak baik sebanyak 66%. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat pendapatan masyarakat lokal dari memanfaatkan enceng gondok. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah simple random sampling. Sampel acak sederhana ini digunakan pada wawancara terstruktur oleh peneliti pada warga desa Rowoboni yang terpilih untuk dijadikan sebagai narasumber penelitian.
1.6 Keaslian Penelitian
Penelitian yang berkaitan dengan industri kerajinan serat alam telah cukup banyak diteliti seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, mulai dari penelitian mengenai pemanfaatan serat alam hingga strategi meningkatkan keuntungan finansial dari pemanfaatan serat alam. Akan tetapi, penelitian yang mengkhususkan pada komparasi ruang dalam industri serat alam antar dua kabupaten dan faktor yang mempengaruhi industri serat alam di sana, pada sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan oleh peneliti lain sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu.
Perbedaan lain dari penelitian ini tampak dari aspek lokasi penelitian, metode, maupun hasil yang dicapai dalam penelitian ini. Lokasi penelitian ini berada pada Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulonprogo. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif dan metode kualitatif. Metode kuantitatif yang digunakan adalah analisa tetangga terdekat. Analisa tetangga terdekat pada penelitian ini menggunakan variabel yang berupa letak lokasi industri kerajinan serat alam. Metode kualitatif yang digunakan adalah tabel silang. Tabel silang yang digunakan untuk mendeskriptifkan hasil wawancara lapangan. Secara lebih rinci perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya dapat dilihat pada Tabel 1.2.
11
Tabel 1.2 Perbandingan Penelitian Terdahulu dengan Penelitian yang Dilakukan Peneliti PENELITIAN SEBELUMNYA
Peneliti (tahun)
Judul Lokasi
penelitian
Tujuan Metode Hasil penelitian
Vani Gallant (2006)
Perkembangan Industri Kecil Enceng Gondok dan Kontribusinya terhadap Penyerapan Tenaga Kerja serta Pendapatan Pekerja di Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulonprogo Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulonprogo
1. Mengetahui factor paling berpengaruh terhadap perkembangan industri enceng gondok.
2. Mengkaji peranan industri enceng gondok terhadap penyerapan tenaga kerja.
3. Mengetahui besar sumbangan upah dari industri kecil kerajinan enceng gondok terhadap pekerjanya Teknik analisa data Kuantitatif dan Kualitatif dengan metode purposive sampling dan sensus industri
1. Faktor yang berpengaruh dominan adalah besaran skala produksi yang dihasilkan unit industri dan factor tenaga kerja yang diukur dari jumlahnya
2. Hubungan IKRT dengan Tenaga Kerja merupakan hubungan positif kuat. 3. Upah dari industri kerajinan
memberikan kontribusi peningkatan pendapatan
Sahwalita (2010)
Prospek Pemanfaatan Enceng Gondok untuk Industri Kerajinan Kertas Seni di Kawasan Wisata Sungai Musi untuk Peningkatan Pendapatan Masyarakat Kawasan Wisata Sungai Musi, Palembang
Mengetahui salah satu upaya yang cukup prospektif dalam menanggulangi gulma enceng gondok di Sungai Musi melalui pembuatan kertas seni Pengambilan enceng gondok dari pinggiran sungai (Purposive Sampling)
1. Enceng gondok memiliki potensi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar dan pengembangan sektor wisata di Musi.
2. Keuntungan financial yang didapatkan dari pengolahan pulp enceng gondok sebesar Rp. 185.062 non modal awal.
12 Lanjutan Tabel 1.2 PENELITIAN SEBELUMNYA Peneliti (tahun) Judul Lokasi penelitian
Tujuan Metode Hasil penelitian
Arief Hidayatullah (2011) Analisis Keuntungan Usaha Kerajinan Anyaman Enceng Gondok di Kecamatan Amuntai Selatan
Kabupaten Hulu Sungai Utara Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara 1. Mengetahui struktur biaya, penerimaan, pendapatan dan
keuntungan dari industri anyaman enceng
gondok.
2. Mengetahui titik impas (Break Event Point) industri anyaman enceng gondok.
3. Mengetahui
permasalahan yang dihadapi pada usaha kerajinan anyaman enceng gondok di Kecamatan Amuntai Selatan. Kuantitatif dengan metode purposive sampling
1. Biaya total rata-rata pada usaha kerajinan anyaman serat alam selama satu periode adalah Rp 7.440,43 perbuah. Keuntungan rata-rata per orang selama satu periode adalah Rp 16.448,46 perbuah dan pendapatan rata-rata pengrajin anyaman enceng gondok yaitu sebesar Rp 18.733,43 per buah.
2. Titik impas (Break Event Point) pada usaha kerajinan enceng gondok selama satu periode tercapai pada hasil penjualan atau penerimaan sebesar Rp 1.120.317,-dan pada volume produksi sebanyak 52,11 buah.
3. Permasalahan yang ditemui adalah pemasaran produk enceng gondok tidak mudah, karena banyaknya produk yang sejenis tapi berbahan baku berbeda telah menjamur di pasaran.
13 Lanjutan Tabel 1.2 PENELITIAN SEBELUMNYA Peneliti (tahun) Judul Lokasi penelitian
Tujuan Metode Hasil penelitian
Paryanto, Siti Marwati, Penny Rahmawaty (2011) Peningkatan Produktivitas Kelompok Pengrajin Berbahan Baku Serat Alami Di Sentolo Kabupaten Kulonprogo Melalui Konsep Proses Produksi Terpadu
Sentolo, Kabupaten Kulonprogo
1. Menciptakan mesin pemilin serat alami 2. Membuat IPAL 3. Meningkatkan
kemampuan pengrajin dalam hal pewarnaan, pengolahan limbah, manajemen usaha, kemampuan dibidang media internet Ceramah (penyampaian materi), diskusi (komunikasi saat pelatihan berlangsung), demonstrasi (prosdes pemberian contoh), praktik langsung (mengaplikasik an materi yang telah didapat), Observasi (mengetahui dampak pelatihan)
1. Pelatihan metode pewarnaan mampu meningkatkan kemampuan pewarnaan pengrajin (100%)
2. Pelatihan pengolahan limbah mampu meningkatkan kemampuan pengrajin dalam mengolah limbah sisa warna (80%)
3. Pelatihan penggunaan internet mampu meningkatkan kemampuan pengrajin dalam memanfaatkan media untuk pemasaran (40%)
4. Pelatihan manajemen usaha mampu meningkatkan kemampuan pengrajin dalam manajemen usaha (70%)
5. Mesin pemilin serat yang telah dibuat,
mampu meningkatkan 50%
14 Lanjutan Tabel 1.2 PENELITIAN SEBELUMNYA Peneliti (tahun) Judul Lokasi penelitian
Tujuan Metode Hasil penelitian
Nia Budi dkk (2012)
Strategi Pengembangan Usaha Kerajinan Enceng Gondok Sebagai Produk Unggulan Kabupaten Semarang Menggunakan Analsis Rantai Nilai
Kabupaten Semarang
Mendapatkan suatu strategi yang dapat membuat produk serat alam khususnya untuk daerah Semarang agar mampu lebih bersaing di pasar
Metode
Purposive Sampling
1. Strategi untuk persaingan harga pada retailer, misal : diskon, tenaga professional, pemborongan bahan baku ketika murah
2. Strategi dalam meningkatkan nilai
untuk pelanggan, misal :
memperhatikan iklim untuk
penjemuran, percobaab kreatifitas, dan sebagainya
3. Strategi dalam menurunkan biaya, missal : penetapan harga yang tidak terlalu mahal, menjalin kerjasama yang baik dengan supplier, dan sebagainya
4. Strategi dalam membuat batik painting lebih dapat bersaing, missal : pelatihan SDM terampil, pelatihan manajemen, dan lain sebagainya.
15 Lanjutan Tabel 1.2 PENELITIAN SEBELUMNYA Peneliti (tahun) Judul Lokasi penelitian
Tujuan Metode Hasil penelitian
Kristina Sri Utami dan Nany Noor Kurniyati (2013) Strategi Pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kreatif Pedesaan di Kabupaten Sleman Studi Kasus Subsektor Industri Kerajinan Anyaman Mendong
Kabupaten Sleman
Mengetahui kendala dan strategi pengembangan industri kerajinan anyaman mendong.
Metode :
Purposive Sampling
Analisa :
Rantai Nilai dan SWOT
1. Bahan baku tidak menjadi kendala karena Sleman merupakan daerah penghasil mendong
2. Minat masyarakat setempat untuk menjadi pengrajin mendong rendah 3. Membutuhkan bantuan pihak lain
agar dapat memberikan inovasi dalam
rantai kreasi, produksi,
komersialisasi, dan distribusi. Natalia
Wulandari, Nurcahyaning tyas (2013)
Kajian Nilai Ekonomis Dan Persepsi Masyarakat terhadap Pemanfaatan Enceng Gondok di Desa Rowoboni Kabupaten Semarang Desa Rowoboni, Kabupaten Semarang 1. Mengetahui nilai ekonomi dari pemanfaatan enceng gondok di Danau Rawa Pening bagi masyarakat Desa Rowoboni 2. Mengetahui persepsi masyarakat Desa Rowoboni terhadap pemanfaatan enceng gondok Metode simpel random sampling
1. Nilai ekonomis dari pemanfaatan enceng gondok Danau Rawa Pening adalah rata-rata sebesar Rp. 5.791.290 perorang pertahun
2. Persepsi masyararakat sangat bervariasi, sebanyak 34 % berpersepsi baik. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat pendapatan yang diperoleh oleh
masyarakat selain itu umur,
pendidikan, jenis pekerjaan, serta jarak danau ke rumah juga berpengaruh terhadap persepsi masyarakat.
16
Lanjutan Tabel 1.2
PENELITIAN YANG DILAKUKAN PENELITI Peneliti
(tahun) Judul
Lokasi
penelitian Tujuan Metode Hasil penelitian
Nurin Haq Swarsingkin (2014)
Studi Komparatif Industri Kerajinan Serat Alam Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Kulonprogo Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulonprogo 1. Mengetahui pola sebaran industri kerajinan serat alam 2. Mengetahui perbedaan
faktor yang
mempengaruhi pola sebaran industri kerajinan serat alam 3. Mengetahui pengaruh
faktor pemasaran pada pendapatan pekerja 4. Mengetahui adanya
keterkaitan antar sektor yang timbul dari industri kerajinan serat alam
Metode Sampel: Simple Random Sampling Analisa : - Tetangga terdekat - Chi Square - Pearson Product Moment - Value Chain
1. Industri kerajinan serat alam di Bantul dan Kulonprogo
Mengelompok dengan rasio tetangga terdekat 0,16 dan 0,48. 2. Tenaga kerja yang dekat dengan
industri merupakan faktor dominan yang mempengaruhi pola sebaran industri
3. Terdapat keterkaitan antar sektor primer sebagai penyedia bahan baku dengan sektor sekunder sebagai pembuat barang jadi dan sektor tersier sebagai distributor barang jadi.
17
1.7 Telaah Pustaka 1.7.1 Geografi Ekonomi
Geografi Ekonomi adalah cabang geografi manusia yang bidang studinya struktur keruangan aktivitas ekonomi. Dengan titik berat studinya adalah aspek keruangan struktur ekonomi manusia yang termasuk kedalamnya bidang pertanian, industri, perdagangan, transportasi, komunikasi, dan lain sebagainya dan penghambat struktur aktivitas ekonomi penduduk. Dalam analisa geografi ekonomi, faktor lingkungan alam ditinjau sebagai faktor pendukung (sumberdaya) Geografi Ekonomi dapat diuraikan lagi menjadi : Geografi Pertanian, Geografi Industri, Geografi Perdagangan, Geografi Transportasi dan Komunikasi (Nursid Sumaatmadja, 1988 dalam Anonim, 2011). Berdasarkan pendapat ini, maka penelitian ini termasuk kedalam kajian ekonomi khususnya geografi industri yang berhubungan dengan aktivitas manusia dalam mengolah bahan mentah (serat alam) menjadi barang jadi (kerajinan serat alam) untuk mendapatkan keuntungan finansial dari hal tersebut.
Geografi Industri itu sendiri adalah bagian dari geografi ekonomi yang mempelajari mengenai lokasi industri, sedangkan lokasi industri berkaitan dengan keberadaan bahan mentah, pasaran, sumber suplai, tenaga kerja, wilayah bahan bakar dan tenaga, jalur transportasi, medan wilayah, pajak dan persatuan penyalur (zoning) kota (Daldjoeni, 2003 dalam Anonim, 2011).
1.7.2 Aktivitas Ekonomi dan Industri
Kegiatan ekonomi adalah suatu kegiatan atau bagian kegiatan yang menghasilkan barang/jasa yang secara langsung atau tidak langsung dimaksudkan untuk pencapaian tujuan komersial (BPS, 2000). Salah satu kegiatan ekonomi tersebut adalah Industri Manufaktur. Industri manufaktur adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan menggunakan barang dasar secara mekanis, kimia, atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah jadi dan/atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya, dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir. Termasuk dalam hal ini adalah jasa industri dan pekerjaan perakitan (BPS, 2010).
18 Definisi Industri menurut undang-undang nomor 5 tahun 1984 tentang perindustrian yaitu kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri. Meskipun demikian, Setiap kegiatan ekonomi yang dilakukan pada suatu industri akan berorientasi pada laba (profit oriented). Hal ini akan membuat suatu industri sarat akan sirkulasi uang. Sirkulasi uang yang dimaksudkan adalah perputaran uang untuk berbagai macam biaya produksi. Biaya produksi antara lain biaya input, biaya output, dan biaya transportasi. Definisi serupa juga dinyatakan oleh Verkoren (1991) yangmana industri manufaktur adalah semua kegiatan ekonomi yang khususnya ditujukan pada transformasi bahan mentah dan/atau produksi setengah jadi menjadi produk setengah jadi/produk jadi meskipun sering disebut dengan kegiatan perakitan dan kegiatan reparasi juga dimasukkan dalam manufaktur.
Perkembangan industri manufaktur pada suatu wilayah menimbulkan terbentuknya sentra-sentra industri manufaktur. Sentra itu sendiri adalah bentuk dari kegiatan/aktivitas di suatu wilayah yang menggunakan bahan baku yang sama dan menghasilkan produk yang sama serta memiliki prospek pengembangan kearah klaster (Disperindagkop Sleman, 2013). Sentra industri tercipta oleh beberapa industri dengan produk yang sama. Industri-industri tersebut mempunyai jenis yang sangat beragam. Jenis industri menurut Bale (1981) diklasifikasikan menjadi 4 kelompok. Adapun klasifikasi tersebut adalah :
1. Industri Primer : Industri yang mengambil bahan-bahan yang berasal dari bumi (atau laut) dan tidak melakukan pengolahan ataupun penciptaan dari produk jadi. Industri ini terletak dekat dengan bahan-bahan mentah (raw
materials).
2. Industri Sekunder : Industri yang mengubah barang-barang mentah atau merangkai bagian-bagian bentuk barang menjadi barang jadi/setengah jadi. 3. Industri Tersier : Industri yang menyediakan jasa dan cenderung berada di
lokasi dimana jasa dibutuhkan seperti pasar. Industri ini sering disebut berorientasi pada pasar eceran.
19 4. Industri Kuarter : Industri yang mementingkan penyediaan informasi dan keahlian. Aktivitas ini juga cenderung berorientasi pada pasar tetapi secara teoritis terletak hampir di semua tempat karena informasi dapat di kirimkan dengan mudah dari tempat satu ke tempat yang lain oleh media elektronik.
Pengolahan bahan baku dan/atau barang setengah jadi menjadi barang setengah jadi dan/atau barang jadi membutuhkan jasa dari pengolah barang (pekerja). Beberapa industri menjalin kerjasama tidak hanya dengan pekerja hasil perekrutan perusahaan melainkan juga menggunakan jasa industri dari industri kecil yang lain. Menurut BPS tahun 2010 pada Indikator Industri Besar dan Sedang Indonesia, Jasa industri adalah kegiatan industri yang melayani keperluan pihak lain. Pada kegiatan ini bahan baku disediakan oleh pihak lain sedangkan pihak pengolah hanya melakukan pengolahannya dengan mendapat imbalan sebagai balas jasa (upah makloon).
1.7.3 Bahan Baku
Berdasarkan undang-undang perindustrian No. 5 Tahun 1984 dari departemen perindustrian, bahan baku adalah bahan mentah yang diolah atau tak diolah yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana produksi dalam industri. Bahan mentah adalah semua bahan yang didapat dari sumber daya alam dan atau diperoleh dari usaha manusia untuk dimanfaatkan lebih lanjut.
Suatu industri membutuhkan bahan baku dalam proses produksinya. Industri kerajinan serat alam membutuhkan bahan baku berupa serat alam ataupun produk setengah jadi (longsong) untuk membuat suatu barang kerajinan baik kerajinan dalam bentuk barang setengah jadi maupun barang jadi. Bahan mentah yang dimaksud pada industri kerajinan serat alam adalah serat alam itu sendiri.
1.7.4 Keterkaitan dalam Industri (Industrial Linkages)
Keterkaitan industri adalah seluruh hubungan (contact) operasional, termasuk aliran (flow) dari bahan-bahan (materials) dan pertukaran informasi (exchange of information) antara elemen-elemen fungsional secara terpisah dari
20 suatu sistem industri (Bale, 1981). Salah satu keterkaitan industri yang sangat mungkin terjadi adalah keterkaitan antar sektoral. Keterkaitan antar sektoral tersebut terbentuk oleh adanya hubungan timbal balik antar sektor untuk mendukung sektor yang lain guna menciptakan produktivitas yang berkelanjutan.
Ada berbagai teori yang menjelaskan bagaimana keterkaitan antar sektor mempengaruhi perekonomian suatu negara. Keterkaitan ke belakang (backward linkages) dan keterkaitan ke depan (forward linkages) merupakan alat analisa yang digunakan untuk mengetahui tingkat keterkaitan suatu sektor dengan sektor lain dalam perekonomian. Keterkaitan ke belakang menunjukkan hubungan keterkaitan antar sektor dalam pembelian terhadap total pembelian input yang digunakan untuk proses produksi, sedangkan keterkaitan ke depan menunjukkan hubungan keterkaitan antar sektor dalam penjualan terhadap total penjualan output yang dihasilkannya.
Keterkaitan antar sektoral mampu melingkupi batasan keterkaitan ke belakang dan ke depan suatu industri. Sektor primer merupakan sektor utama dan pertama yang akan membangun sebuah keterkaitan usaha. Produk dari sektor primer akan diproses dan diolah pada sektor sekunder. Keterkaitan ke belakang suatu industri merupakan sebuah keterkaitan industri yangmana suatu produk yang dihasilkan oleh sektor primer akan dijadikan sebuah input pada sektor sekunder (industri). Keterkaitan ke depan suatu industri merupakan sebuah kerterkaitan yangmana produk dari sektor sekunder akan menjadi input bagi sektor tersier (jasa pemasaran). Seperti contohnya adalah proses pengambilan bahan baku (serat alam) pada sektor primer akan menjadi input bagi pengolahan industri kerajinan di sektor sekunder. Industri kerajinan serat alam menghasilkan berbagai produk model kerajinan serat alam. Produk-produk kerajinan serat alam tersebut kemudian akan menjadi input bagi industri tersier dan seterusnya.
1.7.5 Klaster Industri dan Aglomerasi Industri
Kalster industri mempunyai perbedaan karakteristik dengan aglomerasi industri. Ciri penting dan utama dari suatu klaster industri adalah konsentrasi geografis dan spesialisasi industri. (Kuncoro, 2002). Jadi, Klaster industri
21 merupakan kumpulan industri sejenis yang terkonsentrasi pada suatu wilayah geografis tertentu. Berbeda dengan Aglomerasi industri yangmana aglomerasi industri adalah kumpulan dari beberapa industri yang tidak sejenis. Aglomerasi industri tidak dapat diidentikkan sebagai superklaster ataupun suatu kota karena aglomerasi industri biasanya berkembang sesuai dengan bentuk-bentuk geografis wilayah. Teori klasik berargumen bahwa aglomerasi terjadi karena para pelaku ekonomi berupaya mendapatkan penghematan aglomerasi (agglomeration
economies), baik karena penghematan lokalisasi maupun penghematan urbanisasi,
dengan mengambil lokasi yang saling berdekatan satu sama lain (Kuncoro, 2002).
1.7.6 Modal
Menurut UU No 25 tahun 2007 tentang penanaman modal menyebutkan bahwa modal adalah asset dalam bentuk uang atau bentuk lain yang bukan uang yang dimiliki oleh penanam modal yang mempunyai nilai ekonomis. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh benda yang bernilai ekonomis dan dimiliki oleh suatu perusahaan adalah modal. Modal usaha dapat digunakan secara langsung maupun bertahap tergantung pada kebijakan penggunaan modal. Beberapa jenis modal dapat digunakan secara terus menerus seperti mesin-mesin ataupun benda-benda industri lainnya yangmana disebut modal tetap dan modal yang digunakan sekali seperti uang yangmana disebut dengan moda tidak tetap.
Modal usaha menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Nugraha, 2011 dalam Anonim, tt) adalah uang yang dipakai sebagai pokok (induk) untuk berdagang, melepas uang, dan sebagainya; harta benda (uang, barang, dan sebagainya) yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan sesuatu yang menambah kekayaan. Dalam hal ini, modal merupakan sarana yang digunakan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar nilainya dilain waktu. Modal digunakan untuk awal pembangunan usaha yang mana usaha tersebut memiliki tujuan untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar dibandingkan dengan modal yang telah dikeluarkan (profit oriented).
22 1.7.7 Pasar dan Pemasaran
Pemasaran menurut Komaruddin (1979) adalah segala kegiatan barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Proses pemasaran tersebut tidak dapat terwujud tanpa adanya pasar yang potensial. Pasar merupakan kumpulan yang terdiri dari pelanggan potensial (konsumen) yang memiliki kebutuhan atau keinginan tertentu yang sama, yang mungkin bersedia dan mampu melaksanakan pertukaran untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan itu (Kotler, 1997 dalam Anonim, tt)
Sementara menurut Soeprihanto (2003), pemasaran merupakan suatu sistem keseluruhan dari kegiatan yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, memproduksi, dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan para pembeli. Pemasaran seringkali dilakukan oleh distributor, dimana distributor akan menyalurkan produk dari sebuah industri hingga sampai ke tangan konsumen. Penyaluran produk tersebut dapat berupa informasi produk maupun produk itu sendiri.
1.7.8 Perdagangan
Kegiatan perdagangan menurut BPS tahun 2000 merupakan usaha jasa yang menghubungkan antara produsen dengan konsumen, yang dalam teori ekonomi mempunyai fungsi Time and Place Utility. Keuntungan kegiatan perdagangan selain memindahkan barang dari suatu tempat ke tempat lain juga mengangkut barang ke tempat yang mempunyai nilai lebih tinggi.
Perdagangan pada penelitian ini akan mengacu pada perdagangan yang bersifat spasial, yaitu perdagangan dimana suatu sektor membutuhkan sektor lain untuk melakukan sebuah proses dari bahan baku hingga menjadi barang jadi yang telah sampai kepada konsumen. Masing-masing sektor yang menyediakan barang yang akan diperjualbelikan tentu tidak berada di satu tempat yang sama. Bahan-bahan baku yang diperlukan sebagai input awal industri dapat dimungkinkan dari wilayah pertanian. Kemudian bahan-bahan baku akan mengalami proses pengolahan sehingga menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Kemudian, diproses kembali pada industri selanjutnya dan/atau didistribusikan kepada konsumen yang tempatnya tidak berada di wilayah industri. Proses industri dan
23 perdagangan ini akan berdampak pada biaya yang harus dikeluarkan oleh pemilik industri. Kelancaran dalam kegiatan perdagangan akan meningkatkan arus balik yang baik bagi industri dan pertanian.
1.7.9 Serat alam
Serat alam merupakan serat yang diambil dari alam. Serat alam dapat diproduksi oleh binatang maupun tanaman. Serat alam yang berasal dari tanaman terdiri atas serat batang, serat daun, serta biji, dan serat buah. Tanaman serat batang adalah tanaman yang menghasilkan serat dari kulit batangnya, seperti : kenaf, rosela, yute, hemp, rami, linum, urena, sida, crotalaria, bunga matahari, okra, widuri, dll. Tanaman serat daun adalah tanaman yang menghasilkan serat dari daunnya, misalnya abaka, agave (sisal), sansiviera, dll. Tanaman serat buah adalah tanaman yang menghasilkan serat pada buahnya, seperti kapuk, kapas, kelapa, dll (Syakir, tt). Beberapa jenis tanaman yang termasuk kedalam serat alam tersebut terdapat di wilayah perairan. Salah satu serat alam yang berada di wilayah perairan adalah enceng gondok. Enceng gondok (Latin: Eichhornia crassipes) adalah tanaman air abadi (perennial) yang mengambang bebas dan membentuk seperti tikar besar. Enceng gondok tumbuh pada perairan dangkal yang bergerak lambat maupun perairan dangkal yang diam seperti danau (Osmond, 2013). Tumbuhan ini merupakan kelompok gulma perairan dengan kecepatan berkembang tinggi dan menyebabkan eutrofikasi tanaman air di wilayah perairan (Harahap dkk, 2003). Pandan, mendong, dan agel merupakan tanaman serat alam yang berbeda dengan enceng gondok. Pandan, mendong, dan agel merupakan tanaman yang tumbuh ditanah subur. Kandungan air pada ketiga tanaman tersebut jauh lebih sedikit dibandingakan dengan kandungan air pada tanaman enceng gondok. Tanaman-tanaman serat alam tersebut dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku sebuah industri kerajinan.
1.7.10 Tenaga Kerja
Berdasarkan undang-undang No. 25 tahun 1997 tentang tenaga kerja Indonesia, yang dimaksud tenaga kerja adalah setiap orang laki-laki atau wanita
24 yang sedang, dalam, atau akan melakukan pekerjaan baik di dalam ataupun diluar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pekerja akan menghasilkan suatu produk dari proses pekerjaan yang telah dilakukan. Produk yang telah dihasilkan oleh pekerja tentu akan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.
Menurut Swasono (1983), tenaga kerja adalah manusia yang melakukan pekerjaan. Selanjutnya dikatakan pula bahwa perkembangan suatu industri tidak terlepas dari masalah tenaga kerja. Tenaga kerja sebagai faktor produksi akan mempengaruhi produktivitas suatu industri. Faktor yang mempengaruhi kerja seorang pekerja adalah faktr fisik, mental, bakat, ketrampilan, motivasi, pngalaman pendidikan formal dan non formal.
1.8 Kerangka Pemikiran Penelitian
Perbedaan keanekaragaman potensi lingkungan hidup memicu terjadinya aktivitas ekonomi masyarakat di suatu wilayah. Aktivitas ekonomi masyarakat tersebut merupakan proses penciptaan barang/jasa dengan tujuan komersil antara produsen kepada konsumen. Proses menciptakan sebuah barang yang mempunyai nilai guna termasuk dalam proses industri. Jadi, keanekaragaman potensi lingkungan hidup dapat mempengaruhi keberadaan suatu industri. Keberadaan industri itu sendiri memiliki pola sebaran industri. Pola sebaran tersebut dapat terkonsentrasi pada titik-titik/wilayah-wilayah tertentu maupun menyebar di seluruh wilayah. Pola sebaran indusri pada suatu wilayah dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti ketersediaan bahan baku, ketersediaan tenaga kerja, serta pangsa pasar yang akan dituju.
Kabupaten Bantul dan Kulonprogo merupakan wilayah tropis dengan kondisi fisik alam yang sesuai untuk perkembangan keanekaragaman hayati. Salah satu keanekaragaman hayati yang berada di Kabupaten Bantul dan Kulonprogo tersebut adalah serat alam. Selain itu, kabupaten Bantul dan Kulonprogo juga memiliki ketersediaan tenaga kerja industri. Bahan baku (Serat alam) dan tenaga kerja merupakan turunan dari faktor produksi dari suatu industri. Ketersediaan faktor produksi dapat membuat suatu industri memproduksi suatu
25 barang. Jadi, Ketersediaan serat alam di kedua kabupaten tersebut menciptakan lapangan usaha baru yaitu industri kerajinan serat alam.
Industri kerajinan serat alam tidak akan berkembang tanpa adanya pemasaran produk kepada konsumen. Oleh sebab itu faktor pemasaran juga mempengaruhi perkembangan suatu industri. Faktor pemasaran industri kerajinan serat alam di Bantul dan Kulonprogo itu sendiri dipengaruhi oleh jenis produk dan skala pemasaran. Skala pemasaran industri kerajinan serat alam terbagi menjadi tiga kelompok yaitu lokal, regional, dan internasional. Baik Jenis produk maupun skala pemasaran tentu akan menentukan harga produk yang kemudian akan berimbas pada pendapatan pemilik industri kerajinan serat alam. Skala pemasaran juga menentukan pendapatan pekerja yang bekerja pada industri kerajinan serat alam. Hal ini dikarenakan perbedaan skala pemasaran akan memberikan perbedaan jenis dan ukuran produk. Skala internasional menginginkan produk dengan ukuran yang besar. Semakin besar ukuran dari jenis kerajinan serat alam tentu akan memakan waktu pembuatan kerajinan yang lebih lama dan akan membuat pendapatan pekerja lebih besar.
Keseluruhan proses industri kerajinan serat alam akan mempengaruhi keterkaitan antar sektor lapangan usaha. Keterkaitan antar sektor terjadi guna memberikan kontinuitas produksi dari sebuah industri. Keterkaitan antar sektor tersebut dapat berasal dari sektor primer hingga sektor tersier dan/atau sektor kuarter. Sektor primer merupakan keterkaitan kebelakang pada suatu industri yang menyediakan bahan baku sebagai bahan masukan (input). Sektor tersier dan/atau sektor kuarter merupakan keterkaitan ke depan pada suatu industri seperti jasa pemasaran produk dari suatu industri serat alam. Keterdapatan sektor tersier ini dipengaruhi oleh produk/ barang keluaran (output) dari suatu proses produksi.
26 Gambar 1.1 Diagram Alir Kerangka Pemikiran
27
1.9 Batasan Istilah
Batasan Istilah yang digunakan sebagai pelingkupan dan pembatasan makna pada penelitian ini, yaitu :
1. ArcGIS adalah adalah software/program bantu pada komputer untuk menganalisa data dan membantu dalam pembuatan peta serta penentuan pola sebaran industri kerajinan serat alam.
2. Bahan Baku (Raw Materials) adalah bahan dasar harus ada dalam pembuatan sebuah kerajinan serat alam. Bahan baku pada penelitian ini adalah serat alam.
3. Distributor adalah pihak yang menyalurkan produk dari sebuah industri kepada konsumen
4. Eksportir / Trading adalah distributor barang untuk skala pemasaran internasional.
5. Geografi Ekonomi adalah pembelajaran mengenai variasi wilayah di permukaan bumi yang berhubungan dengan aktifitas manusia untuk berproduksi, bertukar, dan menikmati kekayaan (Alexander, 1963)
6. Industri adalah suatu kegiatan ekonomi yang mengolah barang dasar s menjadi barang jadi atau setengah jadi dan/atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya.
7. Industri kerajinan serat alam adalah suatu kegiatan ekonomi yang mengolah tumbuhan serat alam menjadi barang kerajinan yang lebih bernilai hargannya seperti tas anyaman, sofa, sandal, meja, dan barang anyaman yang lain.
8. Input adalah segala sesuatu yang digunakan untuk proses produksi, seperti modal tetap dan modal berjalan.
9. Jasa Industri adalah suatu kegiatan industri yang hanya meberikan jasa pengolahan sedangkan bahan baku telah disediakan oleh pihak pemilik indsustri.
10. Kegiatan perdagangan merupakan usaha jasa yang menghubungkan antara produsen dengan konsumen, yang dalam teori ekonomi mempunyai fungsi Time and Place Utility. Keuntungan kegiatan perdagangan selain
28 memindahkan barang dari suatu tempat ke tempat lain juga mengangkut barang ke tempat yang mempunyai nilai lebih tinggi (BPS)
11. Keterkaitan Industri adalah Seluruh hubungan (contact) operasional, termasuk aliran (flow) dari bahan-bahan (materials) dan pertukaran informasi (exchange of information) antara elemen-elemen fungsional secara terpisah dari suatu sistem industri (Bale, 1981)
12. Klasterisasi Industri adalah industri-industri sejenis yang mengelompok/terkonsentrasi pada suatu wilayah geografis tertentu
13. Komparasi adalah perbandingan yang dimaksudkan untuk mengetahui dan/atau menguji perbedaan antara satu hal dengan hal yang lain.
14. Modal Tetap (Fixed Modal) adalah modal yang dapat digunakan berkali-kali dalam proses produksi, seperti alat kerajinan.
15. Modal Berjalan adalah modal yang hanya digunakan sekali dalam sekali proses produksi, seperti uang dan bahan.
16. Output adalah hasil dari proses industri, seperti barang kerajinan.
17. Pasar (The Market) adalah tempat barang kerajinan serat alam diperjualbelikan.
18. Pemasaran produk adalah segala aktivitas dalam memperkenalkan dan/atau mendistribusikan barang dan jasa dari produsen ke konsumen. 19. Pengelola industri adalah seseorang yang mengelola suatu kegiatan
industri.
20. Plotting adalah membuat titik industri serat alam pada peta dengan bantuan GPS untuk menentukan latitude dan Altitude lokasi industri. 21. Serat Alam adalah serat yang diambil langsung dari alam seperti pandan,
agel, mendong, dan enceng gondok.
22. Skala Pemasaran adalah jangkauan pemasaran suatu industri baik lokal, regional, nasional, maupun internasional.
23. SPSS adalah program bantu pada komputer untuk menganalisa data yang dihasilkan dari proses input kuesioner wawancara
24. Studi Komparatif adalah pembelajaran/penelitian yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih.