BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dunia bisnis telah menjadi sensitif seiring dengan berjalannya waktu dan persaingan pada saat ini dikarenakan banyaknya ketidakpastian informasi. Salah satu ketidakpastian yang dihadapi adalah permintaan yang fluktuatif. Kondisi ini dapat terjadi di rantai pasok suatu perusahaan yang menyebabkan perusahaan salah dalam mengambil keputusan, seperti keputusan dalam jumlah persediaan dan jumlah produksi suatu barang jadi. Hal ini dapat menyebabkan tingginya persediaan produk jadi ataupun kekurangan persediaan.
Integrasi teknologi dan informasi memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan perusahaan dalam bersaing di era globalisasi. Perilaku konsumen seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin inovatif menuntut perhatian lebih dari perusahaan. Hal ini dikarenakan konsumen menginginkan produk yang semakin berkualitas. Peranan informasi dalam mengintegrasikan semua elemen sistem mulai dari supplier, perusahaan, dan
buyer sebagai satu kesatuan sangat menentukan keberhasilan dalam rantai pasok perusahaan.
produksi PT Asia Bina Semesta Abadi pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 1.1.
Tabel 1.1. Data Produksi PT Asia Bina Semesta Abadi Tahun 2015
No. Jenis Produk Jumlah Produksi (Box)
1. Air mineral dalam kemasan cup 200 ml 269.485
2. Apple Tea 90.468
3. Extra Atos 110.089
4. Grass Jelly 103.690
Sumber: PT. Asia Bina Semesta Abadi
Air mineral dalam kemasan cup 200 ml merupakan produk yang paling banyak diproduksi oleh PT. Asia Bina Semesta Abadi dibandingkan minuman variasi rasa sehingga produk air mineral dalam kemasan 200 ml dijadikan sebagai objek penelitian.
Pada bulan tertentu terjadi penumpukan produk (over stock) ataupun kekurangan produk (stock out) apabila perencanaan tidak akurat. Selama ini perusahaan manufaktur (vendor) dan buyer menghitung lot produksi dan lot pemesanan produk masing-masing dengan mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak. Pada kenyataannya demand yang harus dipenuhi selalu tidak pasti dan menyebabkan terjadinya kesulitan dalam menentukan kebijakan ukuran lot produksi. Kekurangan informasi dapat menimbulkan kekacauan di rantai supply.
pihak buyer menghubungi vendor dan memberitahukan berapa jumlah permintaan yang akan dipesan. Produk dikirim per minggu menggunakan 4 truk kontainer sekali pengiriman kepada buyer.
Dalam memproduksi air mineral dalam kemasan 200 ml, PT. Asia Bina Semesta Abadi mempunyai dua perusahaan buyer, yaitu CV. Tirata Cinta Alam Indonesia dan CV.Saihati. Data persediaan, data permintaan, data jumlah produksi dan selisih dapat dilihat pada Tabel 1.2.
Tabel 1.2. Data Persediaan, Data Permintaan, Data Jumlah Produksi dan Selisih
Oktober 2015, dan Desember 2015 dan stock out pada bulan Januari 2015, Maret 2015, Juli 2015, dan November 2015. Terjadinya over stock dan stock out
disebabkan oleh permintaan yang cenderung berubah dan tidak adanya bagian atau departemen khusus untuk perencanaan produksi dan persediaan dalam penentuan lot order dengan jelas antara vendor dan buyer. Over stock
menimbulkan penambahan biaya penyimpanan dan biaya pengawasan pada
vendor yang terjadi karena vendor membuat persediaan yang berlebihan terhadap produk air mineral, sedangkan stock out dapat mengakibatkan kekecewaan pada pelanggan yang pada akhirnya dapat mengurangi jumlah permintaan yang terjadi karena kapasitas produksi vendor tidak mampu memenuhi jumlah permintaan daripada buyer dengan kapasitas produksi tiap mesin sekitar 5400 cup per jam dengan 2 lini sekali produksi dengan total 10800 cup per jam.
Salah satu pendekatan yang dapat menentukan ukuran lot dan persediaan yang terintegrasi antara perusahaan dan buyer adalah VMI (Vendor Managed Inventory) dan penetapan ukuran lot gabungan dengan metode JELS (Joint Economic Lot Sizing) yang banyak diterapkan pada perusahaan manufaktur dan berdampak signifikan untuk menekan total biaya yang diperlukan.
Menurut Reza Hosseini Rad, et.al.1 Vendor Managed Inventory (VMI) adalah program koordinasi antara vendor, seringkali produsen atau pemasok, dan pembeli, mengambil kendali penuh dari manajemen persediaan dan keputusan pengisian untuk pengecer. Dalam VMI, pembeli menyediakan informasi persediaan kepada vendor dan vendor menggunakan informasi ini untuk
1 Reza Hosseini Rad, et. Al. “Optimizing an integrated vendor managed inventory system for a
memonitoring persediaan dan menempatkan pesanan. Maka lewat pengecer, manajemen persediaan ini merupakan tugas dan tanggung jawab pembeli untuk memberikan informasi kepada vendor yang merupakan landasan dari VMI. Peranan dari pengecer dalam VMI bergeser dari mengelola persediaan menjadi hanya menyewa vendor untuk mengatasi masalah persediaan.
Menurut Tahereh Poorbagheri dan Seyed Taghi Akhavan Niaki2 VMI adalah praktek yang terkenal sebagai kolaborasi supply chain, dimana vendor
mengelola persediaan dari pengecer dan menentukan kapan dan seberapa banyak untuk pengisian kembali produk. Dalam kebijakan VMI, vendor menentukan interval waktu dan jumlah dari pengisian produk dengan mengakses persediaan pengecer dan juga data permintaan (Darwish & Odah 2010). Sistem VMI di desain agar bisa mengurangi level persediaan dan meningkatkan integrasi supply chain melalui pengurangan biaya sistem (Achabal et al. 2000; Angulo et al. 2004; Cetinkaya & Lee 2000). Pada tahun 1980, ketika Walmart dan Procter dan Gamble memulai kemitraan mereka dibawah kontrak VMI, banyak pengecer lainnya seperti K-mart, Home Depot, dan JC Penny menjalankan kebijakan VMI (Yao et al. 2007). Dalam persediaan rantai pasok tradisional, setiap pihak mengupayakan minimisasi biaya. Namum, dengan menjalankan kebijakan VMI, mereka bertujuan untuk menunjukkan bahwa dengan berkerjasama adalah cara untuk mencapai koordinasi yang membantu mereka untuk mengambil keputusan dan untuk mencapai biaya total yang minimum dalam supply chain (Cachon & Fisher 2000).
2 Tahereh Poorbagheri dan Seyed Taghi Akhavan Niaki. “Vendor managed inventory of a supply
Kenyataannya, pada industri manufaktur, produk cacat merupakan suatu kejadian yang tidak dapat dihindarkan. Produk cacat yang dikirim oleh vendor
kepada buyer akan menimbulkan kerugian terhadap buyer. Oleh karena itu, buyer
perlu mengirimkan feedback kepada vendor tentang jumlah produk cacat agar dilakukan pengembalian biaya terhadap produk cacat tersebut. Produk cacat yang dihasilkan akan berpengaruh terhadap total cost yang didapatkan dari lot optimum
baik untuk vendor maupun untuk buyer.
Produk cacat yang terjadi dikarenakan material bahan baku yang kurang baik, metode kerja yang tidak sesuai, kurang konsentrasi dalam bekerja dan faktor mesin. Kecacatan dapat berupa cacat lid, pecah, dan volume tidak sesuai. Jumlah kecacatan yang dapat diterima perusahaan buyer yaitu tidak melebihi 3,5 %. Pada kenyataannya perusahaan mengirimkan produk beserta produk cacat yang jumlahnya rata-rata 5,12%.
Dalam penelitian ini model matematis akan diterapkan untuk menentukan ukuran lot yang optimal dengan mengintegrasikan lot produksi perusahaandan lot
pengiriman produk ke buyer dengan mempertimbangkan adanya produk cacat dan
backorder.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi perumusan masalah adalah tidak terintegrasinya sistem rantai pasok produk air minum dalam kemasan dalam hal penentuan ukuran lot optimal antara lot
dan backorder.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan ukuran lot optimal yang mengintegrasikan antara permintaan dan pengiriman produk
Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian tugas akhir ini adalah: 1. Mendapatkan Total cost yang minimum bagi vendor dengan buyer.
2. Melakukan analisis sensitivitas untuk melihat pengaruh perubahan parameter terhadap model yang dihasilkan.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat – manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Perusahaan dapat memecahkan masalah persediaan dan mendapatkan ukuran
lot optimal dalam pemenuhan order air minum dalam kemasan.
2. Mahasiswa dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari selama kuliah dalam penelitian ini.
1.5. Batasan Masalah dan Asumsi Penelitian Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Penelitian hanya dilakukan pada produk air mineral dalam kemasan 200 ml. 2. Penelitian dibatasi hanya pada penentuan joint economic lot size pada PT.
Asia Bina Semesta Abadi
4. Adanya pertimbangan produk cacat dan kebijakan backorder dalam bentuk biaya yang terletak pada vendor.
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tidak terjadi perubahan struktur supply chain perusahaan selama penelitian berlangsung.
2. Produksi untuk kebijakan backorder dilakukan di akhir siklus.
3. Perusahaan tidak melakukan penambahan atau pengurangan distributor atau pembeli selama penelitian.
1.6. Sistematika Penulisan Laporan
Sistematika yang digunakan dalam penulisan laporan tugas sarjana adalah sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan, menguraikan latar belakang masalah yang mendasari penelitian dilakukan, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan dan asumsi yang digunakan dalam penelitian serta sistematika penulisan tugas akhir.
Bab II Gambaran Umum PT. Asia Bina Semesta Abadi yang menguraikan sejarah perusahaan, visi dan misi perusahaan, proses produksi, struktur organisasi dan uraian tugas.
(JELS), dan vendor managed inventory (VMI). Sumber teori atau literatur yang digunakan berupa buku, jurnal penelitian dan tugas sarjana mahasiswa yang pernah mengangkat topik permasalahan yang sama.
Bab IV Metodologi Penelitian, menjelaskan langkah-langkah penelitian yang dilaksanakan yaitu meliputi penentuan lokasi penelitian, jenis penelitian, objek penelitian, variabel penelitian, kerangka konseptual, definisi variabel penelitian, pengumpulan data sekunder, serta langkah-langkah penelitian meliputi, pengolahan data, analisis pemecahan masalah, serta kesimpulan dan saran.
Bab V Pengumpulan dan Pengolahan Data, berisi tentang pengumpulan data historis biaya pengiriman dan persediaan kemudian penetapan biaya total yang optimum, penentuan ukuran lot gabungan dan analisis sensitivitas terhadap beberapa parameter.
Bab VI Analisis Pemecahan Masalah, meliputi analisis perhitungan ukuran lot optimum dan analisis sensitivitas terhadap beberapa parameter.