• Tidak ada hasil yang ditemukan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

i

HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN AKADEMIK DAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh:

Bernadeti Dwi Esterina NIM: 079114102

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

iv MOTTO

“Kita menilai diri dari apa yang kita pikir bisa kita lakukan, padahal oranglain menilai kita dari apa yang sudah kita lakukan. Untuk itu apabila anda berpikir bisa

segeralah lakukan” - Mario Teguh -

“Bila anda berpikir anda bisa, maka anda benar. Bila anda berpikir anda tidak bisa, anda pun benar, karena itu ketika seseorang berpikir tidak bisa, maka

(5)

v

KARYA INI AKU PERSEMBAHKAN KEPADA:

TUHAN YESUS & BUNDA MARIA

yang selalu menjadi sumber hidup dan pemberi jalan terbaik dalam hidupku

KELUARGAKU

(6)
(7)

vii

HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN AKADEMIK DAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA

Bernadeti Dwi Esterina

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kecemasan akademik dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan yang signifikan antara kecemasan akademik dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Subjek penelitian ini adalah 82 orang mahasiswa dari beberapa prodi di Universitas Sanata Dharma. Mereka yang menjadi subjek adalah mahasiswa yang berada di semester tiga, lima, dan tujuh. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kecemasan akademik dan skala prokrastinasi akademik. Reliabilitas skala kecemasan akademik diuji dengan menggunakan metode koefisien reliabilitas Alpha Cronbach dan diperoleh hasil 0,90 dari 29 aitem, sedangkan reliabilitas skala prokrastinasi akademik diuji dengan menggunakan metode koefisien reliabilitas Alpha Cronbach dan diperoleh hasil 0,89 dari 26 aitem. Data dianalisis dengan menggunakan uji

Pearson Correlatian. Hasil analisis data menghasilkan nilai r sebesar 0,68 dan nilai p sebesar 0,00. Artinya ada hubungan yang signifikan antara kecemasan akademik dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Dalam uji korelasi tiap aspek dihasilkan nilai r sebesar 0,62 pada aspek pola kecemasan yang menimbulkan aktivitas mental, nilai r sebesar 0,68 pada aspek perhatian yang menunjukkan arah yang salah, nilai r sebesar 0,46 pada aspek distress secara fisik, dan nilai r sebesar 0,48 pada aspek perilaku yang kurang tepat.

(8)

viii

THE RELATION BETWEEN ACADEMIC ANXIETY AND ACADEMIC PROCRASTINATION IN COLLEGE STUDENTS

Bernadeti Dwi Esterina

ABSTRACT

This research aims to know the relationship between academic anxiety with academic procrastination in college students. The hypothesis that there is a significant correlation between academic anxiety with academic procrastination in college students. The subject of research was 82 college students of Sanata Dharma University. Those who become sample are college students who are in semesters three, five, and seven. The data were collected by the academic anxiety scale and academic procrastination scale. Reliability of academic anxiety scale was tested by using coefficient reliability alpha cronbach method and the value of 29 items is 0,90. Reliability of academic procrastination scale also was tested by using coefficient reliability alpha cronbach method and the value of 26 items is 0,89. Data is analysed using Pearson Correlation. From the analysis we get the value of r is 0,68, p=0,00. This means there is significant correlation between academic anxiety and academic procrastination in college students. In correlation coefficient every aspect earns r value of patterns of anxiety-engedering mental activity aspect for about 0,62, r value of misdirected attention aspect for about 0,68, r value of physiological distress aspect for about 0,46 and r value of innappropriate behaviours aspect for about 0,48.

(9)
(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan YME yang sudah memberikan kasih setianya sampai pada saat ini sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

yang berjudul “Hubungan Antara Kecemasan Akademik dan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa”.

Penulis menyadari banyak pihak yang telah berperan serta baik dalam memberikan waktu, tenaga dan pikiran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus yang sudah memberikan kesehatan serta kemampuan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

2. Dr. Christina Siwi Handayani selaku dekan yang sudah membantu kelancaran dalam penyusunan skripsi ini

3. Ibu Titik Kristiyani, M.Psi. selaku dosen pembimbing dan kaprodi Fakultas Psikologi yang sudah memberikan bimbingan, dukungan, serta kritik dan saran dengan penuh kesabaran dari awal sampai akhir dalam pembuatan skripsi ini

(11)

xi

5. Kakakku Alfonsa Ika Andriani dan Adikku Marieta Dea Karina yang sudah memberi motivasi dan bersedia meluangkan waktu untuk bertukar pikiran & pengalaman

6. Sahabat-sahabatku yang sudah memberikan dukungan dan bantuan dalam menyebarkan skala penelitian

7. Para responden yang sudah ikut berpartisipasi dalam memberikan data penelitian

8. Kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu dan telah membantu sampai pada penyusunan skripsi ini

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Yogyakarta, 17 Februari 2012

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Permasalahan ... 1

B. Rumusan Permasalahan ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian... 6

BAB II. LANDASAN TEORI ... 8

A. Mahasiswa dalam Tahap Dewasa Awal ... 8

(13)

xiii

2. Pengertian Masa Dewasa Awal ... 8

3. Perkembangan Mahasiswa Dalam Masa Dewasa Awal ... 9

B. Kecemasan ... 10

1. Pengertian Kecemasan ... 10

2. Pengertian Kecemasan Akademik ... 11

3. Sumber-sumber Kecemasan Akademik ... 13

4. Komponen-komponen Kecemasan Akademik ... 13

5. Indikator Kecemasan Akademik ... 14

C. Prokrastinasi Akademik ... 16

1. Pengertian Prokrastinasi Akademik ... 16

2. Jenis-jenis Tugas dalam Prokrastinasi Akademik... 18

3. Aspek-aspek Prokrastinasi Akademik ... 20

4. Faktor Penyebab Prokrastinasi Akademik ... 21

5. Dampak Prokrastinasi Akademik ... 26

6. Karakteristik Prokrastinator ... 27

7. Jenis Prokrastinasi ... 28

8. Teori Perkembangan Prokrastinasi Akademik... 30

D. Hubungan Antara Kecemasan Akademik dan Prokrastinasi Akademik .. 33

E. Skema Dinamika Hubungan Antara Kecemasan Akademik dan Prokrastinasi Akademik ... 37

F. Hipotesis ... 37

BAB III. METODE PENELITIAN ... 38

(14)

xiv

B. Identifikasi Variabel Penelitian ... 38

C. Definisi Operasional ... 39

D. Subjek Penelitian ... 40

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data ... 41

F. Kredibilitas Alat Ukur... 48

1. Validitas Alat Ukur ... 48

2. Reliabilitas dan Uji Daya Beda Aitem ... 49

G. Hasil Uji Coba ... 51

H. Uji Asumsi ... 62

I. Uji Hipotesis ... 63

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 64

A. Proses Penelitian ... 64

B. Deskripsi Subjek Penelitian ... 65

C. Hasil Penelitian ... 66

1. Hasil Uji Normalitas ... 66

2. Hasil Uji Linearitas ... 67

3. Hasil Uji Hipotesis ... 67

D. Pembahasan ... 69

BAB V. PENUTUP ... 75

A. Kesimpulan ... 75

B. Saran ... 75

DAFTAR PUSTAKA ... 77

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Blue Print Skala Kecemasan Akademik ... 43

Tabel 2. Blue Print Skala Prokrastinasi Akademik ... 46

Tabel 3. Indeks Daya Beda Aitem dan Reliabilitas Skala Kecemasan Akademik 52 Tabel 4. Distribusi Aitem Sahih dan Gugur Skala Kecemasan Akademik ... 52

Tabel 5. Blue Print Skala Kecemasan Akademik untuk Penelitian ... 55

Tabel 6. Indeks Daya Beda Aitem dan Reliabilitas Skala Prokrastinasi Akademik ... 57

Tabel 7. Distribusi Aitem Sahih dan Gugur Skala Prokrastinasi Akademik ... 58

Tabel 8. Blue Print Skala Prokrastinasi Akademik untuk Penelitian ... 60

Tabel 9. Hasil Uji Normalitas ... 66

Tabel 10. Hasil Uji Linearitas ... 67

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 (Tryout) ... 83

1.1 Format Skala Prokrastinasi Akademik dan Kecemasan Akademik ... 84

1.2 Uji Reliabilitas dan Seleksi Aitem ... 97

Lampiran 2 (Penelitian)... 100

2.1 Format Skala Prokrastinasi Akademik dan Kecemasan Akademik ... 101

2.2 Uji Normalitas ... 112

2.3 Uji Linearitas ... 114

2.4 Uji Hipotesis ... 116

(17)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan

Mahasiswa dapat dikatakan sebagai peserta didik yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi dengan jurusan atau program tertentu. Mahasiswa sebagai orang yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi tidak akan pernah terlepas dari aktivitas belajar dan keharusan mengerjakan tugas-tugas studi. Hal ini merupakan kewajiban yang harus dihadapi oleh seorang mahasiswa dalam menempuh bangku kuliah untuk mendapatkan gelar sarjana. Seorang mahasiswa dituntut untuk bisa mengikuti proses perkuliahan dengan jam kuliah yang ada aturannya, mendapat tugas dari dosen, serta mengerjakan ujian. Keberhasilan mahasiswa dalam menempuh studi dapat dilihat dari prestasi akademik (dalam Dini, 2010).

(18)

pengerjaan tugasnya. Djamarah (2002) menemukan banyak mahasiswa tidak dapat membagi waktu kapan harus memulai dan menyelesaikan tugasnya. Mereka pada akhirnya mengeluh karena waktu yang seharusnya dipergunakan untuk mengerjakan tugas justru terbuang percuma. Kecenderungan untuk tidak segera memulai ketika menghadapi tugas merupakan faktor penting yang menyebabkan individu menunda dalam melakukan dan menyelesaikan tugas (Knaus, 1986).

(19)

sebagai suatu penundaan terhadap tugas akademis yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang. Hal ini mampu menimbulkan masalah dalam diri mahasiswa karena perilaku prokrastinasi bisa menjadi kebiasaan. Menurut Knaus (1986), prokrastinasi juga dapat mempengaruhi keberhasilan akademik dan pribadi mahasiswa. Menurut Tuckman (1999) ketika pelajar memasuki dunia perkuliahan, terjadi proses peralihan tugas pengawasan belajar yang tadinya dilakukan oleh orang tua dan guru kepada diri sendiri, hal ini diduga mengawali timbulnya gejala prokrastinasi akademik.

(20)

prokrastinasi saat menyelesaikan tugas dan skripsi, sehingga rerata waktu studi di jenjang S-1 adalah 5,3 – 5,5 tahun (melebihi batas waktu yang seharusnya 4 tahun). Selain itu, Rizvi, dkk. (1997) juga melakukan penelitian mengenai prokrastinasi akademik ditinjau dari pusat kendali dan efikasi diri pada 111 Mahasiswa Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Hasil menunjukkan bahwa 20,38% mahasiswa telah melakukan prokrastinasi akademik dan didapat hubungan positif antara prokrastinasi akademik dengan pusat kendali eksternal. Beberapa hasil penelitian ini mampu menggambarkan gejala prokrastinasi akademik yang mulai menyebar di kalangan akademik di Indonesia.

Alasan mahasiswa melakukan prokrastinasi akademik diantaranya adalah manajemen waktu yang buruk, kesulitan untuk berkonsentrasi, rasa takut dan kecemasan, munculnya keyakinan negatif dalam diri, adanya masalah pribadi, kebosanan, ekspektasi yang tidak realistis dan perfeksionisme, serta ketakutan akan kegagalan (University of Buffalo Counseling Services). Berbagai hasil analisis menemukan aspek-aspek pada diri individu yang mempengaruhi seseorang untuk mempunyai suatu kecenderungan perilaku prokrastinasi, antara lain, rendahnya self control, self conscious, self esteem, self efficacy, dan kecemasan (dalam Muhid, 2006).

(21)
(22)

tinggi, serta sudah tidak terbawa lagi dengan pola belajar saat SMA dulu yang penuh dengan keteraturan jadwal dan juga pengawasan dari orang sekitar.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Hubungan antara kecemasan akademik dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa”.

B. Rumusan Permasalahan

Identifikasi permasalahan yang didasarkan oleh latar belakang permasalahan di atas adalah : Apakah ada hubungan antara kecemasan akademik dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk membuktikan secara empiris apakah ada hubungan antara kecemasan akademik dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis

(23)

perilaku kecemasan pada mahasiswa terkait tugas-tugas akademik dan hubungannya dengan perilaku penundaan dalam bidang akademik.

b. Bagi para peneliti selanjutnya, diharapkan penelitian ini mampu dijadikan sebagai bahan kajian untuk melakukan penelitian pada fokus perhatian yang sama yakni mengenai hubungan antara kecemasan akademik dan prokrastinasi akademik.

2. Manfaat praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pihak Universitas sebagai pemacu perbaikan kualitas lulusan mahasiswa agar dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan dapat bersaing dalam era sekarang dan mendatang.

(24)

8

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Mahasiswa dalam Tahap Perkembangan Dewasa Awal 1. Mahasiswa

Menurut Susantoro (dalam Rachmawati, 2003) mahasiswa merupakan kalangan muda yang berumur antara 19 sampai 28 tahun yang memang dalam usia tersebut berada dalam tahap perkembangan dewasa awal yakni peralihan dari tahap remaja ke tahap dewasa.

2. Pengertian Masa Dewasa Awal

Masa dewasa awal adalah masa pencarian kemantapan, yaitu masa yang penuh masalah dan ketegangan emosional, perubahan nilai, dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Dewasa awal merupakan awal dari suatu tahap baru dalam tahapan perkembangan kehidupan. Menurut Turner dan Helms (dalam Andi, 1983) masa dewasa awal merupakan masa pengalihan dari remaja dan merupakan saat dimana individu memulai tahap baru dalam kehidupannya. Individu telah menjalani masa remaja dan kini akan memasuki tahap pencapaian kedewasaan dengan segala tantangan yang lebih beragam bentuknya.

(25)

sampai 30 tahunlah batasan usia dewasa awal, dan yang terakhir adalah Levinson (dalam Andi, 1983) yang menyebutkan bahwa batasan usia dewasa awal adalah 20 sampai 40 tahun.

3. Perkembangan Mahasiswa dalam Masa Dewasa Awal

Menurut Erickson (dalam Santrock, 2002), karakteristik pada masa dewasa awal adalah keintiman vs isolasi (intimacy vs isolation). Secara deskriptif pada tahap ini yang menjadi faktor penting adalah cinta dan kasih sayang dalam menjalin hubungan persahabatan. Individu yang tidak sukses dalam mencapai keakraban cenderung terisolasi dengan diliputi kekhawatiran dalam melakukan suatu komitmen dan menunjukkan sifat tergantung.

Mahasiswa yang dalam tahap perkembangannya masuk dalam masa dewasa awal memiliki banyak persoalan yang dialami. Beberapa persoalan tersebut merupakan kelanjutan atau pengembangan persoalan yang dialami dalam masa remaja akhir.

(26)

yang tadinya dilakukan oleh orangtua dan guru kepada diri sendiri. Hal ini diduga mengawali timbulnya gejala prokrastinasi akademik.

B. Kecemasan

1. Pengertian Kecemasan

Nevid (2005) menjelaskan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan perasaan aprehensif bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kecemasan menurut Langgulung (dalam Andrianto, 2009) adalah pengalaman emosional yang tidak menggembirakan yang dialami seseorang ketika merasa takut atau ancaman dari sesuatu yang tidak dapat ditentukannya dengan jelas. Sedangkan menurut Freud (dalam Andrianto, 2009) kecemasan adalah respons atau pengalaman emosional menyakitkan yang dialami seseorang terhadap berbagai alat-alat dalam yang tunduk di bawah jaringan syaraf bebas seperti jantung, alat pernafasan, kelenjar-kelenjar peluh dan lain-lain.

(27)

berisikan ketakutan dan keprihatinan mengenai masa-masa mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut.

Berdasarkan pengertian-pengertian kecemasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan merupakan suatu keadaan, pengalaman, atau respon emosional yang tidak menyenangkan yang berefek pada keterangsangan fisiologis pada berbagai alat-alat dalam seperti jantung, alat pernafasan, kelenjar-kelenjar peluh, dll serta efek pada kondisi psikologis seperti adanya perasaan takut, tegang, terancam dari sesuatu yang tidak dapat ditentukan dengan jelas, serta munculnya perasaan aprehensif bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

2. Pengertian Kecemasan Akademik

Berdasarkan pengertian kecemasan diatas dapat disimpulkan bahwa kecemasan akademik adalah suatu keadaan, pengalaman, atau respon emosional yang tidak menyenangkan yang berefek pada keterangsangan fisiologis pada berbagai alat-alat dalam seperti jantung, alat pernafasan, kelenjar-kelenjar peluh, dll serta efek pada kondisi psikologis seperti adanya perasaan takut, tegang, terancam dari sesuatu yang tidak dapat ditentukan dengan jelas, serta munculnya perasaan aprehensif bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi secara konteks dalam menghadapi tugas-tugas akademik.

(28)

meningkatkan dan membutuhkan perhatian. Perubahan terjadi dalam respon terhadap situasi akademik, seperti menyelesaikan tugas-tugas di sekolah, diskusi di kelas atau ketika ujian. Ketika kecemasan meningkat, tubuh akan memberikan reaksi atau respon untuk menolak atau memperjuangkannya. Menurut Ottens (1991), kecemasan akademik adalah masalah yang penting yang akan mempengaruhi sejumlah besar individu. Ketika kecemasan yang dirasakan oleh individu berlebihan maka akan berpengaruh secara negatif karena individu tersebut akan mengalami tekanan psikologis sehingga hasil belajar menjadi kurang baik dan lebih banyak menghindari tugas, hal ini disebabkan oleh penurunan rentang perhatian, konsentrasi dan memori.

(29)

3. Sumber-sumber Kecemasan Akademik

Ada 4 Sumber-sumber kecemasan akademik, Divine & Kylen (dalam Ema, 2010), yaitu :

1. Reputasi akademik : kekhawatiran akan evaluasi/penilaian dari oranglain

2. Pendapat tentang kompetensi dan kemampuan : keyakinan irrasional bahwa dirinya memiliki kompetensi yang rendah dan percaya bahwa oranglain memiliki pengetahuan yang lebih

3. Fokus pada pencapaian dari tujuan : ketidakmampuan untuk mencapai standar yang tinggi

4. Rasa khawatir akan ketidaksiapan : selalu merasa tidak cukup siap dalam melakukan/menghadapi segala sesuatu

4. Komponen-komponen Kecemasan Akademik

Center for learning & teaching (dalam Ema, 2010), menyatakan bahwa komponen-komponen kecemasan akademik terbagi kedalam 4 komponen, yaitu :

a. Worry : Pikiran yang mencegah untuk fokus pada keberhasilan menyelesaikan tugas akademik. Misalnya, prediksi akan kegagalan, merendahkan diri, atau senang melakukan konsekuensi buruk. b. Emotionality : gejala kecemasan biologi. Misalnya, jantung

(30)

c. Task generated interference : Perilaku yang berhubungan dengan tugas tetapi tidak maksimal dalam mengerjakan tugas .

d. study skills deficits : Masalah dengan metode belajar yang dapat menyebabkan kecemasan.

5. Indikator Kecemasan Akademik

Menurut Ottens (1991), indikator seseorang mengalami kecemasan akademik dapat dilihat dari karakteristik kecemasan akademik yang dialami. Menurut Ottens karakteristik kecemasan akademik dibagi menjadi 4, yaitu :

a. Pola kecemasan yang menimbulkan aktivitas mental (Patterns of Anxiety-Engedering Mental activity)

(31)

b. Perhatian yang menunjukkan arah yang salah (Misderected Attention)

Ini adalah masalah yang besar dalam kecemasan akademik. Pada umumnya siswa diharapkan dapat berkonsentrasi penuh pada tugas-tugas akademik seperti membaca buku, mengikuti ujian, atau menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.Tetapi yang terjadi disini adalah siswa tidak perduli dan perhatian mereka menjadi teralihkan. Perhatian dapat terganggu melalui faktor eksternal (tindakan siswa lainnya, jam, suara-suara asing) atau faktor pengganggu internal (kecemasan, lamunan, dan reaksi fisik).

c. Distress secara fisik (Physiological Distress)

Banyak perubahan yang terjadi pada tubuh yang dihubungkan dengan kecemasan seperti kekakuan pada otot, berkeringat, jantung berdetak lebih cepat, dan tangan gemetar. Selain perubahan fisik, pengalaman kecemasan emosional juga berpengaruh seperti

(32)

d. Perilaku yang kurang tepat (Innappropriate behaviours)

Kecemasan akademik pada siswa terjadi karena siswa ingin memilih cara yang tepat dalam menghadpi kesulitan. Menghindar (procrastination) adalah hal yang umum, seperti menghindar dari melaksanakan tugas (berbicara dengan teman pada saat belajar). Kecemasan akademik pada siswa juga terjadi ketika menjawab pertanyaaan-pertanyaan ujian secara terburu-buru. Tindakan lain yang tidak benar adalah memaksa diri ketika dalam waktu untuk bersantai.

C. Prokrastinasi Akademik

1. Pengertian Prokrastinasi Akademik

Istilah prokrastinasi berasal dari bahasa Latin procrastination dengan awalan pro yang berarti mendorong maju atau bergerak maju dan akhiran crastinus yang berarti keputusan hari esok atau jika digabungkan menjadi menangguhkan atau menunda sampai hari berikutnya (Ghufron, 2003). Solomon and Rothblum (1984) mengemukakan bahwa prokrastinasi lebih dari sekedar lamanya waktu dalam menyelesaikan suatu tugas, tetapi juga meliputi penundaan secara konsisten yang disertai oleh kecemasan.

(33)

memenuhi syarat, 3) melibatkan tugas yang dipersepsi oleh prokrastinator sebagai sesuatu yang penting namun diabaikan, dan 4) menghasilkan gangguan emosional.

Milgram, Mey tall dan Levison (dalam Charlebois, 2007) mengungkapkan prokrastinasi akademis adalah salah satu tipe prokrastinasi dari lima tipe prokrastinasi yang ada, empat prokrastinasi lainnya adalah prokrastinasi umum atau prokrastinasi rutinitas kehidupan, prokrastinasi dalam membuat keputusan, prokrastinasi neurotis dan prokrastinasi kompulsif atau disfungsional. Karakteristik prokrastinasi akademis yang membuat prokrastinasi ini berbeda dari prokrastinasi lainnya adalah prokrastinasi ini khusus terjadi pada konteks tugas-tugas akademis.

Noran (dalam Akinsola, Tella & Tella, 2007) mendefinisikan prokrastinasi akademis sebagai bentuk penghindaran dalam mengerjakan tugas yang seharusnya diselesaikan oleh individu. Individu yang melakukan prokrastinasi lebih memilih menghabiskan waktu dengan teman atau pekerjaan lain yang sebenarnya tidak begitu penting daripada mengerjakan tugas yang harus diselesaikan dengan cepat.

(34)

dengan penundaan yang dilakukannya. Ferrari (dalam Ghufron, 2003) mengemukakan bahwa prokrastinasi akademis adalah jenis penundaan yang dilakukan pada jenis tugas formal yang berhubungan dengan tugas akademis.

Solomon dan Rothblum (dalam Ghufron, 2003) juga turut mengartikan prokrastinasi akademis sebagai suatu penundaan yang dilakukan oleh individu terhadap tugas akademis yang dianggap penting, dilakukan berulang-ulang secara sengaja dan menimbulkan perasaan tidak nyamansecara subyektif yang dirasakan oleh individu yang melakukannya.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli, maka dapat disimpulkan bahwa prokrastinasi akademis adalah perilaku penundaan yang khusus terjadi di dalam konteks tugas-tugas akademis dimana pelakunya lebih memilih mengerjakan aktivitas-aktivitas yang kurang berguna dan menyenangkan untuk menghindari kecemasan dan perasaan tidak menyenangkan lainnya yang berkaitan dengan pengerjaan tugas akademis.

2. Jenis-jenis Tugas dalam Prokrastinasi Akademik

(35)

Solomon dan Rothblum (1984) menyebutkan enam area akademik untuk melihat jenis-jenis tugas yang sering diprokrastinasi oleh pelajar, yaitu :tugas mengarang, belajar menghadapi ujian, membaca, kinerja administratif, menghadiri pertemuan, dan kinerja akademik secara keseluruhan. Tugas mengarang meliputi penundaan melaksanakan kewajiban atau tugas-tugas menulis, misalnya menulis makalah, laporan, atau tugas mengarang lainnya. Tugas belajar menghadapi ujian mencakup penundaan belajar untuk menghadapi ujian misalnya ujian tengah semester, akhir semester, atau ulangan mingguan. Tugas membaca meliputi adanya penundaan untuk membaca buku atau referensi yang berkaitan dengan tugas akademik yang diwajibkan. Kinerja tugas administratif seperti menyalin catatan, mendaftarkan diri dalam presensi kehadiran, daftar peserta praktikum dan sebagainya. Menghadiri pertemuan, yaitu penundaan maupun keterlambatan dalam menghadiri pelajaran, praktikum, dan pertemuan-pertemuan lainnya serta penundaan dalam kinerja akademik secara keseluruhan yaitu menunda mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas akademik secara keseluruhan.

(36)

3. Aspek-aspek Prokrastinasi Akademik

Menurut Ferrari, Johnson dan McCown (1995), prokrastinasi akademik dapat termanifestasikan dalam indikator tertentu yang dapat diukur dan diamati dalam aspek-aspek yang berupa :

a. Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi.

Seseorang yang melakukan prokrastinasi, tahu bahwa ia memiliki kewajiban untuk menyelesaikan tugasnya, namun ia tetap menunda-nunda untuk mengerjakan dan menyelesaikan tugasnya. b. Keterlambatan dalam mengerjakan tugas.

Orang yang melakukan prokrastinasi memerlukan waktu yang lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan pada umumnya dalam mengerjakan suatu tugas.

c. Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual.

Seorang prokrastinator mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu sesuai batas waktu yang telah ditentukan sebelumnya. d. Melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada

melakukan tugas yang harus dikerjakan.

(37)

4. Faktor Penyebab Prokrastinasi Akademik

Stell (dalam Ilfiandra, 2008) mengemukakan empat teori prokrastinasi yang menjadi faktor penyebab prokrastinasi akademik, yaitu; 1)anxiety, fear of failure, perfectionism, 2) self handicapping, 3) rebelliousness, dan 4) discounted expectancy theory. Menurut teori anxiety, fear of failure, perfectionism, seseorang melakukan prokrastinasi terhadap tugas karena takut dan stress. Konsekuensinya adalah seseorang yang rentan terhadap stress cenderung mengalami prokrastinasi. Terdapat sejumlah kondisi yang menyebabkan seseorang cemas, di antaranya adalah keyakinan tak rasional, seperti

takut gagal dan selalu ingin kesempurnaan. Menurut teori „self

handicapping’, seseorang mengalami prokrastinasi ketika

menempatkan hambatan sebagai penghalang dari kinerja terbaik.

Motivasi „self handicapping’ adalah untuk mempertahankan harga diri dengan mencari alasan-alasan ekternal. Menurut literatur klinis, penentangan (rebelliousness), permusuhan (hostility) dan ketikdaksetujuan (disagreeableness) merupakan motivasi utama untuk prokrastinasi. Seseorang orang yang memiliki ciri kepribadian seperti ini memandang bahwa tuntutan eksternal merupakan sesuatu yang mengancam sehingga perlu dijauhi. Berdasarkan ‘discounted

(38)

Konsekuensinya seseorang cenderung prokrastinasi terhadap tugas-tugas yang sulit.

Sedangkan menurut Briordy (dalam Larson, 1991), faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik dapat dikategorikan menjadi 3 macam, yaitu :

a. Karakteristik tugas yang dipersepsikan mahasiswa sebagai tugas yang menyenangkan atau membosankan mempengaruhi mahasiswa untuk menunda penyelesaian tugas. Karakteristik tugas yang membosankan pada umumnya membuat mahasiswa melakukan penundaan terhadap suatu tugas.

b. Faktor kepribadian prokrastinator.

Menurut Sapadin dan Maquire (dalam Sirois, 2004) karakteristik individu yang melakukan perilaku menunda adalah a). Perfeksionisme, yakni mengerjakan sesuatu yang dirasa kurang sempurna, b). Pemimpi, yaitu banyak mempunyai ide besar tapi tidak dilakukan, c.) Pencemas, yaitu tidak berpikir tugas dapat berjalan dengan baik dan tidak takut apa yang dilakukan lebih jelek atau gagal, d). Penentang, yaitu tidak mau diperintah atau dinasehati oranglain, e.) Pembuat masalah

(39)

dilakukan pada lingkungan yang rendah dalam pengawasan daripada lingkungan yang penuh pengawasan.

Rachmahana (2001) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik dapat dikategorikan menjadi dua macam yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang berpengaruh meliputi manajemen waktu yang tidak efektif, efikasi diri, pusat kendali atau locus of control, ketakutan terhadap kegagalan, perfeksionis, persepsi terhadap tugas, harga diri, dan kontrol diri. Sedangkan faktor-faktor eksternal atau faktor yang berasal dari luar diri individu yang berpengaruh terhadap munculnya perilaku prokrastinasi akademik antara lain adalah pola asuh orang tua, pengaruh teman sebaya, dan kondisi lingkungan. Semua faktor tersebut pada akhirnya dapat memunculkan perilaku prokrastinasi pada mahasiswa.

Berbagai hasil analisis menemukan faktor lain yang berupa aspek-aspek pada diri individu yang mempengaruhi seseorang untuk mempunyai suatu kecenderungan perilaku prokrastinasi, antara lain, rendahnya kontrol diri (self control),self consciuous, rendahnya self esteem, self efficacy, dan kecemasan (dalam Muhid, 2006).

(40)

a. Faktor internal, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu yang mempengaruhi prokrastinasi. Faktor-faktor itu meliputi kondisi fisik dan kondisi psikologis dari individu, yaitu:

1) Kondisi fisik individu.

Faktor dari dalam diri individu yang turut mempengaruhi munculnya prokrastinasi akademik adalah berupa keadaan fisik dan kondisi kesehatan individu misalnya fatigue. Menurut Bruno (dalam Ferrari, dkk, 1995) seseorang yang mengalami fatigue akan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk melakukan prokrastinasi daripada yang tidak. Tingkat intelegensi yang dimiliki seseorang tidak mempengaruhi perilaku prokrastinasi, walaupun prokrastinasi sering disebabkan oleh adanya keyakinan-keyakinan yang irrasional yang dimiliki seseorang (Ferrari dalam Wulan, 2000).

2) Kondisi psikologis individu.

(41)

semakin tinggi motivasi intrinsik yang dimiliki individu ketika menghadapi tugas, akan semakin rendah kecenderungannya untuk prokrastinasi akademik (Briordy, dalam Ferrari, dkk, 1995). Berbagai hasil penelitian juga menemukan aspek-aspek lain pada diri individu yang turut mempengaruhi seseorang untuk mempunyai suatu kecenderungan perilaku prokrastinasi, antara lain; rendahnya kontrol diri (Tuckman, 1999).

b. Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang terdapat di luar diri individu yang mempengaruhi prokrastinasi. Faktor-faktor itu antara lain berupa pengasuhan orang tua dan lingkungan yang kondusif, yaitu lingkungan yang lenient.

1) Gaya pengasuhan orangtua.

(42)

kecenderungan untuk melakukan avoidance procrastination pula.

2) Kondisi lingkungan yang lenient prokrastinasi akademik lebih banyak dilakukan pada lingkungan yang rendah dalam pengawasan daripada lingkungan yang penuh pengawasan (Millgram, dkk. Dalam Rizvi, 1997).

5. Dampak Prokrastinasi Akademik

Menurut Solomon dan Rothblum (1984) beberapa kerugian akibat prokrastinasi adalah tugas yang tidak terselesaikan, munculnya kecemasan bahkan depresi karena individu merasa tertekan oleh batas waktu yang semakin sempit, serta rusaknya kinerja akademik seperti rendahnya motivasi belajar dan rasa percaya diri.

Menurut Mochec dan Munchik (dalam Ilfiandra, 2008), prokrastinasi memiliki konsekuensi konkrit dan emosional. Termasuk konsekuensi konkrit adalah (a)missed deadline, (b) lost opportunities, (c) lost income, (d) lower productivity, (e)waste of time, dan (f) lost of

standing among associates. Sedangkan konsekuensi emosional prokrastinasi adalah (a) lower morale, (b) heightened stress, (c)frustration and anger, dan (d) lower motivation.

(43)

yaitu performa akademik yang rendah, stres yang tinggi, menyebabkan penyakit, dan kecemasan yang tinggi.

Adapun Bruno (1998) menyatakan bahwa perilaku menunda mempengaruhi mutu kehidupan seseorang dan merendahkan segala yang ada dalam diri individu. Sedangkan Djamarah (2002) menemukan bahwa banyak mahasiswa yang gelisah akibat menunda-nunda penyelesaian tugas seperti tidur kurang nyenyak, duduk tidak tenang, berjalan terburu-buru, dan tidak dapat menikmati waktu istirahat.

6. Karakteristik Prokrastinator

Menurut Young (2004), karakteristik orang yang melakukan perilaku menunda yaitu:

a. Kurang dapat mengatur waktu b. Percaya diri yang rendah

c. Menganggap diri terlalu sibuk jika harus mengerjakan tugas

d. Keras kepala, dalam arti menganggap oranglain tidak dapat memaksanya mengerjakan pekerjaan

e. Memanipulasi tingkah laku oranglain dan menganggap pekerjaan tidak dapat dilakukan tanpanya

f. Menjadikan penundaan sebagai coping untuk menghindari tekanan g. Merasa dirinya sebagai korban yang tidak memahami mengapa

(44)

Selain itu, menurut Sapadin dan Maquire (dalam Sirois, 2004) karakteristik individu yang melakukan perilaku menunda adalah :

a. Perfeksionisme, yakni mengerjakan sesuatu yang dirasa kurang sempurna

b. Pemimpi, yaitu banyak mempunyai ide besar tapi tidak dilakukan c. Pencemas, yaitu tidak berpikir tugas dapat berjalan dengan baik

tetapi tidak takut apa yang dilakukan lebih jelek atau gagal d. Penentang, yaitu tidak mau diperintah atau dinasehati oranglain e. Pembuat masalah

f. Terlalu banyak tugas

7. Jenis Prokrastinasi

Ferrari (dalam Rizvi dkk., 1997) membagi prokrastinasi menjadi dua: (a) functional procrastination, yaitu penundaan mengerjakan tugas

yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap dan akurat,

(b) disfunctional procrastination, yaitu penundaan yang tidak bertujuan, berakibat jelek dan menimbulkan masalah.

Ada dua bentuk prokrastinasi yang disfunctional berdasarkan tujuan mereka melakukan penundaan, yaitu decisional procrastination dan avoidance procrastination. Decisional

procrastination adalah suatu penundaan dalam mengambil

(45)

kognitif dalam menunda untuk mulai melakukan suatu kerja dalam menghadapi situasi yang dipersepsikan penuh stress (Ferrari, dalam Rizvi dkk.,1997). Prokrastinasi dilakukan sebagai suatu bentuk coping yang digunakan untuk menyesuaikan diri dalam perbuatan keputusan pada situasi-situasi yang dipersepsikan penuh stress. Jenis prokrastinasi ini terjadi akibat kegagalan dalam mengindentifikasikan tugas, yang kemudian menimbulkan konflik dalam diri individu, sehingga akhirnya seorang menunda untuk memutuskan masalah. Decisional procrastination berhubungan dengan kelupaan, kegagalan proses kognitif, akan tetapi tidak berkaitan dengan kurangnya tingkat intelegensi seseorang (Ferrari dalam Wulan, 2000).

(46)

8. Teori Perkembangan Prokrastinasi Akademik a. Psikodinamik

Penganut psikodinamik beranggapan bahwa pengalaman masa kanak-kanak akan mempengaruhi perkembangan proses kognitif seseorang ketika dewasa, terutama trauma. Seseorang yang pernah mengalami trauma akan suatu tugas tertentu, misalnya gagal menyelesaikan tugas sekolahnya, akan cenderung melakukan prokrastinasi ketika seseorang tersebut dihadapkan lagi pada suatu tugas yang sama. Seseorang tersebut akan teringat kepada pengalaman kegagalan maupun perasaan tidak menyenangkan yang pernah dialami seperti masa lalu, sehingga seseorang menunda mengerjakan tugas sekolah, yang dipersepsikannya akan mendatangkan perasaan seperti masa lalu (Ferrari dkk, dalam Romano, 1996).

(47)

sekolah, seperti tercermin dalam perilaku prokrastinasi akademik, sehingga bukan semata karena ego yang membuat seseorang melakukan prokrastinasi akademik.

a. Behavioristik

Penganut psikologi behavioristik beranggapan bahwa perilaku prokrastinasi akademik muncul akibat proses pembelajaran. Seseorang melakukan prokrastinasi akademik karena dia pernah mendapatkan punishment atas perilaku tersebut. Seorang yang pernah merasakan sukses dalam melakukan tugas sekolah dengan melakukan penundaan, cenderung akan mengulangi lagi perbuatannya. Sukses yang pernah dia rasakan akan dijadikan reward untuk mengulangi perilaku yang sama dimasa yang akan datang (Bijou, dkk, dalam Ferrari dkk, 1995). Adanya obyek lain yang memberikan reward lebih menyenangkan daripada obyek yang diprokrastinasi, menurut McCown dan Johnson (dalam Ferrari dkk, 1995) dapat memunculkan perilaku prokrastinasi akademik. Seseorang yang memandang bermain video game lebih menyenangkan daripada mengerjakan tugas sekolah, mengakibatkan tugas sekolah lebih sering diprokrastinasi daripada bermain video game.

(48)

prokrastinasi. Kondisi yang lenient atau rendah dalam pengawasan akan mendorong seseorang untuk melakukan prokrastinasi akademik, karena tidak adanya pengawasan akan mendorong seseorang untuk berperilaku tidak tepat waktu (Dossett, dkk, Bijou, dkk, dalam Ferrari, dkk., 1995).

b. Kognitif dan behavioral-cognitive

(49)

Akibatnya seseorang menunda-nunda untuk mengerjakan tugas yang dihadapinya.

D. Hubungan Antara Kecemasan Akademik dan Prokrastinasi Akademik

Mahasiswa dalam tahap perkembangannya masuk dalam masa dewasa awal. Dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan yang baru. Pada masa ini banyak tugas perkembangan yang harus dilalui. Melonjaknya persoalan hidup yang dialami menuntut seorang mahasiswa memiliki kedewasaan emosional, intelektual, serta sosial.

(50)

Dalam menghadapi hambatan itu tidak semua mahasiswa dapat selalu berhasil untuk melakukan penyesuaian. Pada akhirnya banyak pula mahasiswa yang mengalami tekanan psikologis akibat tugas yang tidak terselesaikan, munculnya kecemasan bahkan depresi karena individu merasa tertekan oleh batas waktu yang semakin sempit, serta rusaknya kinerja akademik seperti rendahnya motivasi belajar dan rasa percaya diri.

(51)

mengatasi kecemasan yang muncul dalam dirinya akibat tugas-tugas akademik yang harus diselesaikan. Hal ini menyebabkan mahasiswa lebih memilih untuk menunda dalam hal pengerjaan dan penyelesaian tugas akademiknya secara tuntas. Seseorang yang merasa takut dan khawatir menghadapi tugas-tugas akademiknya, maka akan memilih untuk menghindar dari tugas tersebut dengan cara melakukan kegiatan yang lebih menyenangkan daripada menyelesaikan tugas.

(52)

dipersepsikan penuh tekanan. Mahasiswa yang melakukan penghindaran tugas entah dengan cara menunda tugas maka akan menyebabkan keterlambatan dalam memenuhi batas waktu yang ditentukan dalam menyelesaikan tugas.

(53)

E. Skema Dinamika Hubungan Antara Kecemasan Akademik dan Prokrastinasi Akademik

F. Hipotesis

Berdasarkan tinjauan pustaka diatas maka dapat ditarik sebuah hipotesis yaitu ada hubungan antara kecemasan akademik dengan prokrastinasi akademik.

Kecemasan Akademik

Pola kecemasan yang menimbulkan aktivitas mental, perhatian yang menunjukkan arah yang salah, distress

secara fisik, perilaku yang kurang tepat Individu cenderung merasa

khawatir dan tugas dipersepsikan sebagai

tekanan psikologis Individu takut mengahadapi

tugas akademik

Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi, keterlambatan dalam mengerjakan tugas, kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual, melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan tugas yang harus

dikerjakan

(54)

38

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan secara kuantitatif. Menurut Azwar (2004), penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data numerik (angka) yang diolah dengan menggunakan metode statistik. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasional. Metode penelitian korelasional adalah metode untuk mendeteksi sejauhmana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi (Suryabrata, 2004). Menurut Hadjar (1996), penelitian korelasional bertujuan untuk memahami suatu fenomena dengan cara menentukan tingkat atau derajat hubungan di antara variabel-variabel tersebut. Penelitian korelasi juga bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, seberapa erat hubungan serta berarti atau tidak hubungan tersebut.

B. Identifikasi Variabel Penelitian

1. Variabel Bebas (independent variable).

Pada penelitian ini variabel bebas yaitu kecemasan akademik. 2. Variabel Terikat (dependent variable).

(55)

C. Definisi Operasional 1. Kecemasan Akademik

Kecemasan akademik adalah suatu keadaan emosional yang berefek pada kondisi psikologis seperti adanya perasaan takut, tegang, khawatir, gelisah, dan keadaan yang tidak menyenangkan pada seorang individu dalam menghadapi tugas-tugas akademik.

Variabel ini akan diukur dengan berdasarkan pada indikator kecemasan menurut Ottens (1991) yang dibagi menjadi 4, yaitu :

a). Patterns of Anxiety-Engedering Mental activity, b). Misderected

Attention, c). Physiological Distress, dan d.) Innappropriate behaviours. Tingkat kecemasan akademik dilihat dari besarnya skor yang diperoleh dari skala. Adapun skala yang digunakan adalah skala model Likert dan diberikan kepada mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Semakin tinggi skor total yang diperoleh individu dari aitem-aitem skala kecemasan akademik, maka semakin tinggi tingkat kecenderungan kecemasan akademik, sebaliknya semakin rendah skor total yang diperoleh dari aitem-aitem skala kecemasan akademik maka semakin rendah tingkat kecenderungan kecemasan akademik.

2. Prokrastinasi Akademik

(56)

dengan tugas atau aktivitas lain yang tidak begitu penting sehingga menjadi sebuah kebiasaan.

Variabel ini akan diukur dengan menggunakan Skala Prokrastinasi Akademik yang disusun oleh peneliti berdasarkan indikator prokrastinasi menurut Ferrari, Johnson, dan McCown yaitu (1) adanya penundaan dalam memulai dan menyelesaikan tugas, (2) adanya keterlambatan dalam mengerjakan tugas, (3) adanya kesenjangan waktu antara rencana dengan kinerja aktual dalam mengerjakan tugas, (4) adanya kecenderungan untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih mendatangkan hiburan dan kesenangan.

Tingkat prokrastinasi akademik dilihat dari besarnya skor yang diperoleh dari skala. Adapun skala yang digunakan adalah skala model Likert dan diberikan kepada mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Semakin tinggi skor total yang diperoleh dari aitem-aitem skala prokrastinasi akademik, maka semakin tinggi tingkat kecenderungan prokrastinasi akademik, sebaliknya semakin rendah skor total yang diperoleh dari aitem-aitem skala prokrastinasi akademik maka semakin rendah tingkat kecenderungan prokrastinasi akademik.

D. Subjek Penelitian

(57)

menjadi subjek penelitian adalah mahasiswa dengan periode usia 20 sampai 25 tahun yakni mahasiswa Universitas Sanata Dharma semester III sampai dengan semester VII.

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu pemilihan sekelompok subjek yang didasarkan pada ciri-ciri atau sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Peneliti mempertimbangkan sampel minimal dari mahasiswa tahun kedua atau yang berada pada semester tiga, lima, dan maksimal dari semester tujuh. Hal ini didasarkan pada analisis peneliti bahwa mahasiswa yang berada pada semester tersebut masih aktif mengambil kuliah, sudah beradaptasi dengan pola belajar di perguruan tinggi, serta sudah tidak terbawa lagi dengan pola belajar saat SMA dulu yang penuh dengan keteraturan jadwal dan juga pengawasan dari orang sekitar.

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data

(58)

a. Skala Kecemasan Akademik

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Kecemasan Akademik yang disusun oleh peneliti berdasarkan indikator kecemasan akademik menurut menurut teori Ottens (1991), dimana indikator seseorang mengalami kecemasan akademik dapat dilihat dari karakteristik kecemasan akademik yang dialami. Menurut Ottens karakteristik kecemasan akademik dibagi menjadi 4, yaitu : a). Patterns of Anxiety-Engedering Mental activity, b). Misderected Attention, c). Physiological Distress, dan d.) Innappropriate behaviours.

(59)

Tabel 1

Blue Print Skala Kecemasan Akademik

(60)
(61)

b. Skala Prokrastinasi Akademik

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Prokrastinasi Akademik yang disusun oleh peneliti berdasarkan indikator prokrastinasi yang dikemukakan oleh Ferrari, Johnson dan McCown (dalam Ghufron, 2003) yang terdiri dari penundaan dalam memulai menyelesaikan kinerja dalam menghadapi tugas, adanya keterlambatan dalam mengerjakan tugas, adanya kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual dalam mengerjakan tugas dan adanya kecenderungan untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih mendatangkan hiburan dan kesenangan.

(62)

Tabel 2

Blue Print Skala Prokrastinasi Akademik

No Indikator

1 Penundaan untuk memulai

2 Kelambanan dalam

(63)

- Tidak

(64)

ditentukan dalam

F. Kredibilitas Alat Ukur 1. Validitas Alat Ukur

(65)

ukur tergantung pada mampu tidaknya alat ukur tersebut menvapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat (Azwar, 2004).

Pengujian validitas skala dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan validitas isi (content validity). Validitas isi digunakan untuk melihat sejauhmana aitem-aitem dalam skala mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur (Azwar, 2004). Pengujian validitas ini tidak melalui analisa statistika melainkan menggunakan analisis rasional yang dalam penelitian ini peneliti meminta pendapat profesional (proffesional judgement). Pendapat profesional yang dimaksud adalah dosen pembimbing dalam penelitian ini.

2. Reliabilitas dan Uji Daya Beda Aitem

Reliabilitas alat ukur menunjuk pada sejauhmana inkonsistensi hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya, yang ditunjukkan oleh taraf keajegan (konsistensi) skor yang diperoleh para subjek yang diukur dengan alat yang sama atau diukur dengan alat yang sama pada kondisi yang berbeda (Suryabrata, 2004).

(66)

menghitung reliabilitas kedua skala peneliti menggunakan bantuan program SPSS version 12.0 for Windows. Suatu aitem instrumen dapat dikatakan ajeg, handal (reliabel), apabila memiliki koefisien reliabilitas mendekati satu.

Selain melihat reliabilitas alat ukur, pada penelitian ini juga dilakukan prosedur seleksi aitem dengan cara menguji karakteristik masing-masing aitem yang menjadi bagian tes yang bersangkutan. Aitem-aitem yang tidak memenuhi syarat kualitas tidak boleh diikutkan menjadi bagian tes (Azwar, 2004). Prinsip kerja yang dijadikan dasar untuk melakukan seleksi aitem dalam hal ini adalah memilih aitem-aitem yang fungsi ukurnya selaras atau sesuai dengan fungsi ukur skala sebagaimana dikehendaki oleh penyusunnya.

(67)

Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara kecemasan akademik dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa, maka analisis data yang dipakai adalah dengan korelasi pearson product moment. Alasan peneliti menggunakan analisa ini adalah korelasi pearson product moment dipakai untuk melukiskan hubungan antara dua gejala dengan skala interval atau rasio (Sugiyono, 2002). Keseluruhan analisa dilakukan dengan menggunakan fasilitas komputerisasi SPSS 12.0 for Windows.

G. Hasil Uji Coba

Uji coba skala kecemasan akademik dan prokrastinasi akademik dilakukan terhadap 95 mahasiswa Universitas Sanata Dharma.

1. Hasil Uji Coba Skala Kecemasan Akademik

(68)

Tabel 3

Indeks Daya Beda Aitem dan Reliabilitas Skala Kecemasan Akademik

Tahap Jumlah

Aitem minimal maksimal

Koefisien Reliabilitas

I 40 -.36 .67 .88

II 29 .22 .71 .90

Berdasarkan hasil seleksi aitem, Skala Kecemasan Akademik diperoleh 29 aitem sahih dan 11 aitem dinyatakan gugur. Aitem-aitem tersebut disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4

Distribusi Aitem Sahih dan Gugur Skala Kecemasan Akademik

No Aspek/Indikator

No.Aitem

Jumlah

Fav Unfav

Sahih Gugur Sahih Gugur Sahih Gugur

1 Pola kecemasan

yang

- Kekhawatiran yang

tidak beralasan

(69)
(70)

3 Distress berdetak lebih cepat, dan tangan gemetar)

(71)

Tabel 5

Blue Print Skala Kecemasan Akademik untuk Penelitian

(72)

3 Distress berdetak lebih cepat, dan tangan gemetar)

- Melakukan penghindaran terhadap tugas-tugas

2. Hasil Uji Coba Skala Prokrastinasi Akademik

(73)

dengan koefisien reliabilitas ( ) .86. Kemudian 26 aitem tersebut dianalisa kembali dan hasilnya indeks daya beda ( ) menjadi .27 sampai .65 dengan koefisien reliabilitas naik menjadi .89. Ringkasan selengkapnya dapat dilihat pada tabel.

Tabel 6

Indeks Daya Beda Aitem dan Reliabilitas Skala Prokrastinasi Akademik

Tahap Jumlah

Aitem minimal maksimal

Koefisien Reliabilitas

I 40 -.36 .65 .86

II 26 .27 .65 .89

(74)

Tabel 7

Distribusi Aitem Sahih dan Gugur Skala Prokrastinasi Akademik

(75)
(76)

4 Kecenderungan

Blue Print Skala Prokrastinasi Akademik untuk Penelitian

(77)
(78)

- Keterlambatan dalam

Sebelum data-data yang terkumpul dianalisa, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi yang meliputi :

1. Uji normalitas

(79)

2. Uji linearitas

Uji linearitas digunakan untuk mengetahui apakah distribusi data penelitian, yaitu variabel x (kecemasan akademik) dan variabel y (prokrastinasi akademik) memiliki hubungan linear. Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan uji F (Anova). Alasan peneliti menggunakan metode ini karena ini efektif dalam hal waktu dan tenaga. Data dikatakan linear apabila p

I. Uji Hipotesis

(80)

64

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Proses Penelitian

Prosedur pelaksanaan penelitian terdiri dari tiga tahap. Ketiga tahap tersebut yakni tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pengolahan data. Pada tahap yang pertama, peneliti membuat alat ukur yang terdiri dari Skala Kecemasan Akademik yang disusun berdasarkan teori Ottens (1991) dan Skala Prokrastinasi Akademik yang dibuat berdasarkan teori Ferrari, Johnson dan McCown (dalam Ghufron, 2003). Pada tahap uji coba alat ukur, peneliti membagikan alat ukur kepada mahasiswa dari beberapa prodi di Universitas Sanata Dharma yang meliputi : Prodi Psikologi, Prodi Bimbingan dan Konseling, dan Prodi Pendidikan Biologi. Uji coba alat ukur dilakukan kepada 100 orang, namun yang diisi lengkap hanya 95 orang. Setelah diketahui aitem-aitem yang memenuhi validitas dan reliabilitasnya, peneliti mengambil aitem-aitem tersebut untuk dijadikan Skala Kecemasan Akademik dan Skala Prokrastinasi Akademik yang digunakan peneliti dalam mengambil data untuk penelitian.

(81)

Dharma yang meliputi : Prodi Farmasi, Prodi Bimbingan dan Konseling, Prodi Pendidikan Akuntansi, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Prodi Pendidikan Ekonomi, Prodi Pendidikan Matematika, Prodi Psikologi, Prodi Teknik Informatika, Prodi Teknik Elektro dan Prodi Teknik Mesin. Pengambilan data dilakukan dari tanggal 12 Oktober sampai 21 Oktober 2011 kepada 90 orang, namun yang diisi lengkap hanya 82 orang. Pada tahap penyebaran skala ini peneliti mendapatkan bantuan dari beberapa mahasiswa untuk menyebarkan skala kepada mahasiswa yang menjadi sampel penelitian.

Setelah diperoleh data dari masing-masing subjek penelitian, maka pada tahap terakhir yakni tahap pengolahan data, untuk selanjutnya data diolah dengan menggunakan program SPSS versi 12.0 for windows.

B. Deskripsi Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini berjumlah 82 orang mahasiswa dari beberapa prodi di Universitas Sanata Dharma yang meliputi : Prodi Farmasi, Prodi Bimbingan dan Konseling, Prodi Pendidikan Akuntansi, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Prodi Pendidikan Ekonomi, Prodi Pendidikan Matematika, Prodi Psikologi, Prodi Teknik Informatika, Prodi Teknik Elektro dan Prodi Teknik Mesin.

(82)

C. Hasil Penelitian

1. Hasil Uji Normalitas

Data setiap variabel diuji dengan program uji normalitas sebaran yang dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 12.0 for windows. Uji normalitas sebaran data penelitian menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov Goodness of Fit Test. Normalitas variabel Kecemasan Akademik dan Prokrastinasi Akademik dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 9

Hasil Uji Normalitas

Variabel Z P Keterangan

Kecemasan Akademik

.43 .99 Sebaran Normal

Prokrastinasi Akademik

1.07 .19 Sebaran Normal

Data dikatakan terdistribusi normal jika harga p>.05. Dari hasil tes Kolmogorov Smirnov pada tabel maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

(83)

2. Variabel prokrastinasi akademik menunjukkan sebaran normal dengan nilai Z=1.07 dan p=.19 atau p>.05

2. Hasil Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan uji F (Anova). Variabel kecemasan akademik dan prokrastinasi akademik dikatakan memiliki hubungan linear jika nilai p<.05. Hasil uji linearitas dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 10 Hasil Uji Linearitas Kecemasan Akademik

Prokrastinasi Akademik

F P Keterangan

68.88 .00 Linear

Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa variabel kecemasan akademik dan prokrastinasi akademik memiliki hubungan linear. Hal ini ditunjukkan pada hasil uji Anova yang memperoleh nilai F=68.88 dengan nilai signifikansi (p) yaitu .00 sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan kedua variabel tersebut linear karena nilai signifikansi p<.05.

3. Hasil Uji Hipotesis

(84)

mahasiswa Universitas Sanata Dharma, maka hipotesis dalam penelitian

ini adalah “Ada hubungan antara kecemasan akademik dan prokrastinasi

akademik pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma”.

Untuk pengujian statistik dilakukan perumusan hipotesa statistik, yaitu:

1. Ha (Hipotesa Alternatif): p<.05, ada hubungan antara kecemasan akademik dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Santa Dharma.

2. Ho (Hipotesa Nihil): p>.05, tidak ada hubungan antara kecemasan akademik dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Santa Dharma.

Berdasarkan tujuan penelitian, maka dilakukan analisa statistik dengan menggunakan uji Pearson Correlatian. Hasil uji statistik ini dapat dilihat pada tabel.

Tabel 11 Hasil Uji Korelasi

Analisis Pearson Correlation Signifikansi (p)

Korelasi .68 .00

(85)

sebesar .68 (p<.05). Angka tersebut menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara kecemasan akademik dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma. Hal ini berarti, jika variabel kecemasan akademik tinggi maka variabel prokrastinasi akademik akan semakin tinggi pula.

D. Pembahasan

(86)

fokus sehingga seseorang yang mengalami kecemasan akademik memiliki manajemen waktu yang buruk. Manajemen waktu yang buruk ini didukung oleh adanya keyakinan negatif dalam diri individu tersebut, adanya ekspektasi yang tidak realistis, rasa takut akan kegagalan serta sikap perfeksionis. Salah satu perilaku yang dapat terjadi sebagai bentuk konsekuensi dari manajemen waktu yang buruk yang dimiliki oleh seseorang yakni perilaku menunda atau prokrastinasi. Prokrastinasi akademik menjadi salah satu cara yang mudah untuk mengatasi kecemasan akademik dalam diri seorang mahasiswa. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Young (2004), bahwa salah satu karakteristik orang yang melakukan perilaku menunda yaitu kurang dapat mengatur waktu.

Teori lain yang mendukung hasil penelitian adalah Stell (dalam Ilfiandra, 2008), yang menyebutkan bahwa salah satu faktor yang menjadi penyebab prokrastinasi yakni anxiety, fear of failure, perfectionism. Seseorang melakukan prokrastinasi terhadap tugas karena takut dan mengalami kondisi yang menyebabkan seseorang merasa cemas seperti takut gagal, selalu ingin kesempurnaan, serta memiliki keyakinan yang tak rasional. Selain itu Sapadin dan Maquire (dalam Sirois, 2004) juga berpendapat bahwa karakteristik individu yang melakukan perilaku menunda adalah pencemas dan perfeksionis.

(87)
(88)

Selain itu, penilaian yang negatif terhadap diri sendiri serta rendahnya rasa percaya diri pada seorang individu yang mengalami kecemasan juga mengindikasikan tingkat asertivitas diri yang rendah. Menurut Solomon dan Rothblum (dalam Rachmahana, 2001) individu yang kurang asertif tidak mau mencari bantuan (seeking for help) kepada oranglain untuk membantu menyelesaikan tugasnya sehingga tugasnya terbengkelai atau diselesaikan mendekati deadline. Akibatnya tugas diselesaikan dengan tidak optimal.

Aspek kedua dalam kecemasan akademik yakni perhatian yang menunjukkan arah yang salah. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa aspek ini berhubungan dengan prokrastinasi akademik (r=.68, p=.00). Mahasiswa yang mengalami kecemasan akademik, juga mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi pada tugas-tugas akademik. Hal ini disebabkan karena fokus perhatian mereka teralihkan. Teori yang mendukung hasil penelitian ini yakni Dafidoff (1988) yang menyatakan bahwa kecemasan menyebabkan seseorang merasa bingung dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Faktor ini menyebabkan mahasiswa menjadi cenderung mengerjakan tugas sambil melakukan aktivitas lain. Hal ini mengakibatkan keterlambatan dalam memenuhi batas waktu yang ditentukan dalam menyelesaikan tugas.

(89)

mengalami kecemasan akademik diantaranya adalah kekakuan pada otot, berkeringat, jantung berdetak lebih cepat, dan tangan gemetar. Ketika seorang mahasiswa mengalami kecemasan akademik, individu tersebut akan cenderung menghindari tugas-tugas akademik sebagai salah satu bentuk upaya coping yang tidak efektif (maladaptive response) terhadap situasi yang dipersepsikan penuh tekanan. Mahasiswa melakukan penghindaran salah satunya dengan cara menunda tugas. Hal ini sesuai dengan teori Freud (dalam Ferrari, 1995), yang menyatakan bahwa seseorang yang dihadapkan pada tugas yang mengancam ego pada alam bawah sadar akan menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Perilaku penundaan atau prokrastinasi merupakan akibat dari penghindaran tugas dan dijadikan sebagai mekanisme pertahanan diri.

(90)

menyatakan bahwa manusia yang mengalami kecemasan tidak mampu menginterpretasikan stimulus yang dihadapi, tidak mampu mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin dihadapi sehingga tidak mampu memilih tindakan yang tepat.

(91)

75

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengukuran, analisis data dan pembahasan variabel penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara kecemasan akademik dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar .68 dan tingkat signifikansi .00 (p<0,05). Hal ini berarti semakin tinggi kecemasan akademik maka semakin tinggi pula prokrastinasi akademik, dan sebaliknya semakin rendah kecemasan akademik maka semakin rendah pula prokrastinasi akademik.

B. Saran

1. Saran Metodologis

a. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk meneliti topik yang sama, disarankan untuk dapat membedakan pengukuran variabel kecemasan adaptif maupun maladaptif sehingga dapat lebih memberikan kejelasan gambaran mengenai fenomena yang ada pada mahasiswa.

(92)

subjek untuk memberikan respon secara tidak jujur dapat diminimalisir.

2. Saran Praktis

a. Bagi Mahasiswa

Bagi mahasiswa sebaiknya selalu memperhatikan cara berpikir dalam memandang tugas-tugas akademik agar tidak mengalami kecemasan akademik dan tidak memilih untuk memiliki kebiasaan menghindari tugas sebagai upaya untuk menghindari aktivitas akademik.

b. Bagi Universitas atau Fakultas

(93)

77

DAFTAR PUSTAKA

Akinsola, Tella & Tella. (2007). Correlates of academic procrastination and mathematics achievement of university undergraduate students. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology

Education. Diunduh tanggal 30 Desember 2011 dari

http://www.ejmste.com/v3n4/EJMSTE_v3n4_Akinsola_etal.pdf Andi, M. (1983). Psikologi orang dewasa. Surabaya: Usaha Nasional. Andrianto, N. (2009). Hubungan prokrastinasi akademik dengan

kecemasan siswa dalam menghadapi UNAS 2009 di SMP Kartika IV-8 Malang. Skripsi. Diunduh dari tanggal 30

Desember 2011

http://www.lib.uin-malang.ac.id/index.php?mod=th_detail&id=04410034

Azwar, S. (2004). Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Azwar, S. (2004). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bruno,F.J.(1998). Stop procrastinating!. Jakarta: PT.Gramedia.

Burka, J.B., & Yuen, L.M. (1983). Procrastination: Why you do it, what to do about it. New York: Perseus Books.

Chaplin C P, (2000). Kamus lengkap psikologi. Jakarta: PT. Raja grafindo Persada.

Charlebois, K.J. (2007). Doing tomorrow what could be done today: An investigation of academic procrastination. Diunduh tanggal 30 Desember 2011 dari http://www. Proquest.com

Dafidoff, L.L. (1988). Psikologi suatu pengantar. Jakarta: Erlangga. Dariyo, A. (2003). Psikologi perkembangan dewasa awal. Jakarta :

Grasindo.

Gambar

Tabel 1
Tabel 2
Tabel 4 Distribusi Aitem Sahih dan Gugur Skala Kecemasan Akademik
Tabel 5
+6

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan serangkaian uji yang dilakukan terhadap senyawa hasil sintesis, dapat disimpulkan bahwa asam sinamat dapat disintesis dari asam malonat dan benzaldehid

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan peneliti maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hubungan cinta baik jarak dekat/face to

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa (1) pilihan kata atau diksi mencakup kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk

Berdasarkan definisi-definisi yang telah dijabarkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Leader Member Exchange (LMX) merupakan sebuah pertukaran secara materi, informasi,

Kecepatan angin yang terjadi dapat mempengaruhi besarnya daya yang dihasilkan oleh kincir. Semakin besar kecepatan angin, maka kecepatan putar kincir dan daya

Kesimpulan yang diperoleh adalah kualitas perairan di Waduk Cengklik Boyolali berada dalam baku mutu air kelas III yang dimana dapat digunakan untuk budidaya

Dengan demikian pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian FHEMM pada dosis 34,28; 68,57; dan 137,14 mg/kgBB terbukti berpengaruh dalam menurunkan

(AAS: Angle-Angle-Side) Jika antara dua segitiga terdapat korespondensi dimana dua sudut dan satu sisi yang terletak di depan salah satu sudut itu adalah kongruen dengan dua sudut