PT. INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR
ASET LANCAR
Kas dan setara kas 2i,3 49,721,763,604 76,946,892,803 Investasi jangka pendek 2f,4 473,475,573 7,279,116,443 Piutang usaha kepada pihak ketiga 2f,5 20,316,796,674 26,783,671,922 Piutang lain-lain kepada pihak ketiga 2f,6 4,599,248,040 5,628,554,360
Persediaan 2k,7 2,224,042,573 1,912,745,418
Pajak dibayar dimuka 2w,8 10,600,620,225 7,621,548,858 Biaya dibayar dimuka 2l 6,373,309,123 2,731,681,307 Jumlah Aset Lancar 94,309,255,812 128,904,211,111 ASET TIDAK LANCAR
Aset real estat 2m,9 282,315,889,385 277,118,780,212 Investasi saham 2j,10 70,362,843,627 49,158,848,800 Aset pajak tangguhan 2w,30 896,026,470 896,026,470 Properti investasi 2n,2p,11 130,856,780,043 129,905,302,345 Aset tetap 2o,2p,12 127,928,378,468 131,580,142,110 Aset bangun kelola serah 2q,13 27,060,416,165 28,833,696,017 Beban tangguhan - hak atas tanah 2r,12 3,747,452,056 3,534,846,617 Aset lain-lain 14 7,477,942,842 17,589,678,487 Jumlah Aset Tidak Lancar 650,645,729,056 638,617,321,058 JUMLAH ASET 744,954,984,868 767,521,532,169 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi. PT. INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASI
30 SEPTEMBER 2011 DAN 31 DESEMBER 2010
Catatan 2011 2010
Rp Rp
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Hutang usaha kepada pihak ketiga 2g,15 5,744,869,854 5,793,343,637 Hutang lain-lain kepada pihak ketiga 2g,16 8,997,754,907 8,748,101,306 Hutang pajak 2w,17 8,474,110,728 27,815,228,763 Biaya yang masih harus dibayar 2s,18 71,748,496,558 70,625,476,077 Pendapatan diterima di muka dan uang muka penjualan 2u,19 151,907,168,894 141,846,641,061 Hutang Bank dan pihak ketiga jangka panjang
yang sudah jatuh tempo 2g,20 32,939,494,129 33,566,699,730 Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 279,811,895,070 288,395,490,574 LIABILITAS JANGKA PANJANG
Hutang lain-lain kepada pihak ketiga jangka panjang setelah
dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun 2g,21 - 25,996,257,474 Uang jaminan penyewa 2g,22 12,148,741,724 12,164,835,157 Kewajiban imbalan pasca kerja 2v,31 33,869,719,587 29,518,284,264 Goodwill negatif 2b,23 3,907,018,927 4,094,057,067 Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 49,925,480,238 71,773,433,962 EKUITAS
Modal saham - nilai nominal Rp 1.000 per saham untuk saham Seri A dan Rp 200 per saham untuk saham Seri B Modal dasar - 495.000.000 saham Seri A dan 7.025.000.000 saham Seri B
Modal ditempatkan dan disetor - 495.000.000 saham
Seri A dan 1.250.000.000 saham Seri B 2g,24 745,000,000,000 745,000,000,000 Agio saham 2g,25 36,750,000,000 36,750,000,000
Defisit (366,532,390,440) (374,397,392,367)
Jumlah Ekuitas 415,217,609,560 407,352,607,633 JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 744,954,984,868 767,521,532,169
Rp Rp PENJUALAN DAN PENDAPATAN USAHA 2u,26 186,984,641,544 227,065,148,864 BEBAN POKOK PENJUALAN DAN BEBAN LANGSUNG 2u,27 116,511,824,909 133,572,032,081
LABA BRUTO 70,472,816,635 93,493,116,783
Beban penjualan 28 (2,507,680,501) (3,776,873,707)
Beban umum dan administrasi 28 (45,250,929,712) (34,829,994,311)
Penghasilan bunga 1,883,999,878 1,133,483,394
Beban keuangan 2f,2g,29 (2,002,881,365) (5,440,995,407)
Bagian laba bersih perusahaan asosiasi 10 3,086,064,827
-Lain-lain - bersih (5,194,182,981) 5,021,943,898
LABA SEBELUM PAJAK 20,487,206,781 55,600,680,650
BEBAN PAJAK 2w,30 (12,622,204,856) (14,895,230,354)
LABA (RUGI) PERIODE BERJALAN 7,865,001,925 40,705,450,296
PENDAPATAN KOMPREHENSIF LAINNYA -
-JUMLAH LABA (RUGI) KOMPREHENSIF 7,865,001,925 40,705,450,296 LABA YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN KEPADA
Pemilik Entitas Induk 7,865,001,925 40,705,450,296
Kepentingan nonpengendali -
-7,865,001,925 40,705,450,296 LABA KOMPREHENSIF YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN KEPADA
Pemilik Entitas Induk 7,865,001,925 40,705,450,296
Kepentingan nonpengendali -
-7,865,001,925 40,705,450,296
LABA PER SAHAM (dalam rupiah) 5 23
Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.
Modal disetor Agio saham Defisit Jumlah ekuitas
Rp Rp Rp Rp
Saldo per 1 Januari 2010 745,000,000,000 36,750,000,000 (473,851,322,012) 307,898,677,988
Laba bersih tahun berjalan - - 40,705,450,296 40,705,450,296
Saldo per 30 September 2010 745,000,000,000 36,750,000,000 (433,145,871,716) 348,604,128,284
Saldo per 1 Januari 2011 745,000,000,000 36,750,000,000 (374,397,392,367) 407,352,607,633
Laba bersih tahun berjalan - - 7,865,001,925 7,865,001,925
Saldo per 30 September 2011 745,000,000,000 36,750,000,000 (366,532,390,442) 415,217,609,558
Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.
2011 2010
Rp Rp
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan kas dari pelanggan 226,523,383,952 236,862,341,193
Pembayaran kas pada karyawan dan pemasok (137,905,168,088) (98,896,755,153)
Kas dihasilkan dari operasi 88,618,215,864 137,965,586,040
Pembayaran beban keuangan (71,830,160,329) (56,403,239,395)
Pembayaran pajak penghasilan (12,119,781,579) (5,986,097,214)
Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Operasi 4,668,273,956 75,576,249,431
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Penerimaan bunga 703,792,245 404,372,734
Hasil penjualan aset tetap 580,472,727 583,227,046
Perolehan aset tetap (10,113,506,462) (9,823,635,769)
Kenaikan (Penurunan) investasi 2,378,483,266 (11,987,437,244)
Penambahan aset bangun kelola serah (40,478,700) (66,378,901)
Kenaikan (penurunan) beban ditangguhkan 442,763,017 758,600,613
Penurunan uang jaminan 253,197,738 297,133,000
Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan untuk) Aktivitas Investasi (5,795,276,169) (19,834,118,521)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Penambahan hutang lain-lain kepada pihak ketiga (26,037,295,075) 1,822,599,936
Penambahan (hutang) hutang leasing - (10,000,000,000)
Pembayaran hutang jangka panjang - (8,810,924,570)
Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Pendanaan (26,037,295,075) (16,988,324,634)
KENAIKAN BERSIH KAS DAN SETARA KAS (27,164,297,288) 38,753,806,276
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 76,946,892,836 29,188,865,630
Pengaruh perubahan kurs mata uang asing (60,831,943) (117,714,787)
KAS DAN SETARA KAS AKHIR PERIODE 49,721,763,605 67,824,957,119
Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.
1. UMUM
a. Pendirian dan Informasi Umum
PT. Indonesia Prima Property Tbk (Perusahaan) didirikan dalam rangka Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri No. 6 tahun 1968 jo. Undang-Undang No. 12 tahun 1970 berdasarkan akta No. 31 tanggal 23 April 1983 dari Sastra Kosasih, S.H., notaris di Surabaya. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya No. C2-6044-HT.01.01-TH'83 tanggal 5 September 1983 serta diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia No. 19 tanggal 6 Maret 1984, Tambahan No. 241. Anggaran dasar Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan, terakhir dengan akta notaris No. 21 tanggal 23 Juli 2008 dari Isyana Wisnuwardhani Sadjarwo, S.H., notaris di Jakarta, mengenai penyesuaian anggaran dasar Perusahaan dengan Undang-undang No. 40 tahun 2007 mengenai Perseroan Terbatas. Akta perubahan ini telah memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusannya No. AHU-82927.AH.01.02.Th.2008 tanggal 6 Nopember 2008, serta diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia No. 94 tanggal 24 Nopember 2009, Tambahan No. 27681 Tahun 2009.
Perusahaan berdomisili di Jakarta dengan kantor pusat beralamat di Wisma Sudirman Lt. 11, Jl. Jendral Sudirman Kav.34, Jakarta.
Ruang lingkup kegiatan Perusahaan dan anak perusahaan terutama meliputi bidang persewaan perkantoran, pusat perbelanjaan (ruang pertokoan), apartemen, hotel dan pembangunan perumahan beserta segala fasilitasnya. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada
bulan April 1983. Jumlah karyawan Perusahaan dan anak perusahaan 1131karyawan pada tgl
30 September 2011 dan 1.137. karyawan pada tgl 31 Desember 2010.
Susunan pengurus Perusahaan pada tanggal 30 September 2011 adalah sebagai berikut:
Presiden Komisaris : Ong Beng Kheong
Wakil Presiden Komisaris dan
Komisaris Independen : Drs. H. Lutfi Dahlan
Komisaris : Boediman Gozali
Yugi Prayanto
Komisaris Independen : Matheus Rukmasaleh Arif
Soedibyo
Presiden Direktur : Husni Ali
Wakil Presiden Direktur : Sriyanto Muntasram
Direktur tidak terafiliasi : Njudarsono Yusetijo
Direktur : Ng Haker Larson
Sriyanto Muntasram Anna Susanti Satriyana Komite Audit
Ketua : Drs H Lutfi Dahlan
Anggota : Sandra Lukas Darmadjaja
b. Anak Perusahaan
Perusahaan memiliki, baik langsung maupun tidak langsung, 100% saham anak perusahaan berikut:
Jumlah Aset Tahun Operasi sebelum eliminasi Anak Perusahaan 2011 2010 Komersial Nama Proyek 30 Sept 2011
Rp Perumahan
PT Graha Mitrasantosa (GMS) 1994 Bukit Tiara 259,813,653,543
Pemilikan: (Tangerang)
Langsung 99,99% 99,99% Tidak langsung, melalui
LAL, anak perusahaan 0,01% 0,01%
PT Paramita Swadaya (PS) Pra-operasi Bukit Tiara II 1,067,865,392
Pemilikan: (Tangerang)
Tidak langsung, melalui
GMS, anak perusahaan 99,92 % 99,92 % Tidak langsung, melalui
LAL, anak perusahaan 0,08 % 0,08 % Hotel dan Apartemen
PT Griyamas Muktisejahtera 1996 Hotel Novotel 131,194,857,114
(GMMS) (Surabaya)
Pemilikan:
Langsung 99,91% 99,91% Tidak langsung, melalui
LAL, anak perusahaan 0,09% 0,09%
PT Graha Hexindo (GH) 1995 Tropik Apartemen 192,390,172,967
Pemilikan: dan Grand Tropic
Langsung 99,95% 99,95% Suites Hotel
Tidak langsung, melalui (Jakarta)
LAL, anak perusahaan 0,05% 0,05%
PT Angkasa Interland (AIL) Puri Casablanca 250,384,956,326
Pemilikan: (Jakarta)
Langsung 99.59% 98,96% 1995
Tidak langsung, melalui
LAL, anak perusahaan 0.41% 1.04% Pusat Perbelanjaan
PT Langgeng Ayomlestari (LAL) Mal Blok M 74,876,411,856
Pemilikan: (Jakarta)
Langsung 99,99 % 99,99 % 1993 Tidak langsung, melalui
GH, anak perusahaan 0,002% 0,002%
PT Almakana Sari (AS) Plaza Parahyangan 26,285,399,065 Pemilikan tidak langsung, melalui (Bandung)
LAL, anak perusahaan 99.81% 99.81% GH, anak perusahaan 0.19% 0.19% Perkantoran
PT Panen Lestari Basuki (PLB) Wisma Sudirman 163,762,940,423
Pemilikan: (Jakarta)
Langsung 99.33% 96,67% 1986
Tidak langsung, melalui
LAL , anak perusahaan 0.67% 3.33% Lain-lain
PT Karya Makmur Unggul (KMU) Pra - operasi - 13,482,905,216 Pemilikan tidak langsung, melalui
LAL, anak perusahaan 99.98% 99.98% GH, anak perusahaan 0.02% 0.02%
PT Mega Buana Sentosa (MBS) Pra - operasi - 17,153,718,754 Pemilikan tidak langsung, melalui
LAL, anak perusahaan 99.97% 99.77% GH, anak perusahaan 0.03% 0.03%
PT Mahadhika Girindra (MG) Pra-operasi - 28,330,218 Pemilikan:
Langsung 99,95% 99,95% Tidak langsung, melalui
LAL, anak perusahaan 0,05% 0,05% Persentase Pemilikan
Kecuali GMMS dan AS yang masing-masing berdomisili di Surabaya dan Bandung, seluruh anak perusahaan berdomisili di Jabotabek.
c. Penawaran Umum Efek Perusahaan
Pada tanggal 29 Juni 1994, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan
Pengawas Pasar Modal Bapepam (sekarang Bapepam-LK) dengan suratnya
No. S-1194/PM/1994 untuk melakukan penawaran umum atas 35.000.000 saham Perusahaan kepada masyarakat. Pada tanggal 22 Agustus 1994 saham tersebut telah dicatatkan pada Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia).
Pada tanggal 28 Nopember 1996, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Bapepam (sekarang Bapepam-LK) dengan suratnya No. S-1937/PM/1996 untuk melakukan Penawaran Umum Terbatas Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu sebesar 360.000.000 saham. Pada tanggal 19 Desember 1996 saham tersebut telah dicatatkan pada Bursa Efek Jakarta.
Pada tanggal 30 Juni 2003 berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, pemegang saham menyetujui peningkatan modal ditempatkan dan disetor perseroan sebesar 1.250.000.000 saham melalui pengeluaran saham baru tanpa Hak Memesan Efek terlebih dahulu sesuai dengan Peraturan Bapepam Nomor IX.D.4.
Pada tanggal 30 September 2011, seluruh saham perusahaan atau sejumlah 1.745.000.000 saham telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia.
2. KEBIJAKAN AKUNTANSI
a. Penyajian Laporan Keuangan Konsolidasi
Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan prinsip dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Dasar penyusunan laporan keuangan konsolidasi, kecuali untuk laporan arus kas, adalah dasar akrual. Mata uang pelaporan yang digunakan untuk penyusunan laporan keuangan konsolidasi adalah mata uang Rupiah (Rp) dan laporan keuangan konsolidasi tersebut disusun berdasarkan nilai historis, kecuali beberapa akun tertentu disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut.
Laporan arus kas konsolidasi disusun dengan menggunakan metode langsung dengan mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.
b. Prinsip Konsolidasi
Laporan keuangan konsolidasi menggabungkan laporan keuangan Perusahaan dan entitas yang dikendalikan oleh Perusahaan (dan anak perusahaan). Pengendalian dianggap ada apabila perusahaan mempunyai hak untuk mengatur dan menentukan kebijakan finansial dan
operasional dari investee untuk memperoleh manfaat dari aktivitasnya. Pengendalian juga
dianggap ada apabila induk perusahaan memiliki baik secara langsung atau tidak langsung melalui anak perusahaan lebih dari 50% hak suara.
Hasil dari anak perusahaan yang diakuisisi atau dijual selama tahun berjalan dari tanggal efektif akusisi atau sampai dengan tanggal efektif penjualan termasuk dalam laporan laba rugi konsolidasi.
Hak minoritas terdiri dari jumlah kepemilikan pada tanggal terjadinya penggabungan usaha (Catatan 2c) dan bagian minoritas dari perubahan ekuitas sejak tanggal dimulainya penggabungan usaha. Kerugian yang menjadi bagian minoritas melebihi hak minoritas dialokasikan kepada bagian induk perusahaan.
Penyesuaian dapat dilakukan terhadap laporan keuangan anak perusahaan agar kebijakan akuntansi yang digunakan sesuai dengan kebijakan akuntansi yang digunakan oleh Perusahaan.
Seluruh transaksi antar perusahaan, saldo, penghasilan dan beban dieliminasi pada saat konsolidasi.
c. Penggabungan Usaha
Akuisisi anak perusahaan dicatat dengan menggunakan metode pembelian (purchase
method). Biaya penggabungan usaha adalah keseluruhan nilai wajar (pada tanggal
pertukaran) dari aset yang diperoleh, kewajiban yang terjadi atau yang diasumsikan dan instrumen ekuitas yang diterbitkan sebagai penggantian atas pengendalian dari perolehan ditambah biaya-biaya lain yang secara langsung dapat diatribusikan pada penggabungan usaha tersebut.
Pada saat akuisisi, aset dan kewajiban anak perusahaan diukur sebesar nilai wajarnya pada tanggal akuisisi. Selisih lebih antara biaya perolehan dan bagian Perusahaan atas nilai wajar aset dan kewajiban yang dapat diidentifikasi diakui sebagai goodwill. Jika biaya perolehan lebih rendah dari bagian Perusahaan atas nilai wajar aset dan kewajiban yang dapat diidentifikasi yang diakui pada tanggal akuisisi (diskon atas akuisisi), maka nilai wajar aset non-moneter yang diakuisisi harus diturunkan secara proposional, sampai seluruh selisih tersebut tereliminasi. Sisa selisih lebih setelah penurunan nilai wajar aset dan kewajiban non moneter tersebut diakui sebagai goodwill negatif, dan diperlakukan sebagai pendapatan ditangguhkan dan diakui sebagai pendapatan dengan menggunakan garis lurus selama 20 tahun.
Hak pemegang saham minoritas dinyatakan sebesar bagian minoritas dari biaya perolehan historis aset bersih.
d. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing
Pembukuan Perusahaan dan anak perusahaan diselenggarakan dalam mata uang Rupiah. Transaksi-transaksi selama tahun berjalan dalam mata uang asing dicatat dengan kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi. Pada tanggal neraca, aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing disesuaikan untuk mencerminkan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut. Keuntungan atau kerugian kurs yang timbul dikreditkan atau dibebankan dalam laporan laba rugi konsolidasi tahun yang bersangkutan.
e. Transaksi Hubungan Istimewa
Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah:
1) Perusahaan baik langsung maupun melalui satu atau lebih perantara, mengendalikan, atau dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama, dengan
Perusahaan (termasuk holding companies, subsidiaries dan fellow subsidiaries);
2) perusahaan asosiasi;
3) perorangan yang memiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di Perusahaan yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksudkan dengan anggota keluarga dekat adalah mereka yang dapat diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan Perusahaan);
4) karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin dan mengendalikan kegiatan Perusahaan, yang meliputi anggota dewan komisaris, direksi dan manajer dari Perusahaan serta anggota keluarga dekat orang-orang tersebut; dan
5) perusahaan di mana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan dalam butir (3) atau (4), atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut. Ini mencakup perusahaan-perusahaan yang dimiliki anggota dewan komisaris, direksi atau pemegang saham utama dari Perusahaan dan perusahaan-perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan Perusahaan.
Semua transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, baik yang dilakukan dengan atau tidak dengan tingkat bunga atau harga, persyaratan dan kondisi yang sama sebagaimana dilakukan dengan pihak ketiga, diungkapkan dalam laporan keuangan konsolidasi.
f. Aset Keuangan
Seluruh aset keuangan diakui dan dihentikan pengakuannya pada tanggal diperdagangkan dimana pembelian dan penjualan aset keuangan berdasarkan kontrak yang mensyaratkan penyerahan aset keuangan dalam kurun waktu yang ditetapkan oleh kebiasaan pasar yang berlaku, dan awalnya diukur sebesar nilai wajar ditambah biaya transaksi, kecuali untuk aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, yang awalnya diukur sebesar nilai wajar.
Aset keuangan Perusahaan dan anak perusahaan diklasifikasikan sebagai berikut:
Nilai wajar melalui laporan laba rugi
Pinjaman yang diberikan dan piutang
Nilai wajar melalui laporan laba rugi (FVTPL)
Aset keuangan diklasifikasi dalam FVTPL, jika aset keuangan sebagai kelompok diperdagangkan atau pada saat pengakuan awal ditetapkan untuk diukur pada FVTPL. Aset keuangan diklasifikasi sebagai kelompok diperdagangkan, jika:
diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual kembali dalam waktu dekat; atau
merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan
terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek yang terkini; atau
merupakan derivatif yang tidak ditetapkan dan tidak efektif sebagai instrumen lindung
nilai.
Aset keuangan selain aset keuangan yang diperdagangkan, dapat ditetapkan sebagai FVTPL pada saat pengakuan awal, jika:
penetapan tersebut mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidak-konsistenan
pengukuran dan pengakuan yang dapat timbul; atau
aset keuangan merupakan bagian dari kelompok aset keuangan atau kewajiban atau
keduanya, yang dikelola dan kinerjanya berdasarkan nilai wajar, sesuai dengan dokumentasi manajemen risiko atau strategi investasi Perusahaan, dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci; atau
merupakan bagian dari kontrak yang mengandung satu atau lebih derivatif melekat, dan
PSAK 55 (revisi 2006) memperbolehkan kontrak gabungan (aset atau kewajiban) ditetapkan sebagai FVTPL.
Aset keuangan FVTPL disajikan sebesar nilai wajar, keuntungan atau kerugian yang timbul diakui dalam laporan laba rugi. Keuntungan atau kerugian bersih yang diakui dalam laporan laba rugi mencakup dividen atau bunga yang diperoleh dari aset keuangan. Nilai wajar ditentukan dengan cara seperti dijelaskan pada Catatan 4.
Pinjaman yang diberikan dan piutang
Piutang pelanggan dan piutang lain-lain dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif diklasifikasi sebagai “pinjaman yang diberikan dan piutang”, yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi penurunan nilai. Bunga diakui dengan menggunakan metode suku bunga efektif, kecuali piutang jangka pendek dimana pengakuan bunga tidak material.
Metode suku bunga efektif
Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari instrumen keuangan dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga selama periode yang relevan. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan dan diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suku bunga efektif, biaya transaksi dan premium dan diskonto lainnya) selama perkiraan umur instrumen keuangan, atau, jika lebih tepat, digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan pada saat pengakuan awal.
Pendapatan diakui berdasarkan suku bunga efektif untuk instrumen keuangan selain dari instrumen keuangan FVTPL
Penurunan nilai aset keuangan
Aset keuangan, selain aset keuangan FVTPL, dievaluasi terhadap indikator penurunan nilai pada setiap tanggal neraca. Aset keuangan diturunkan nilainya bila terdapat bukti objektif, sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset keuangan, dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal.
Bukti obyektif penurunan nilai termasuk sebagai berikut:
kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam; atau
pelanggaran kontrak, seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok
atau bunga; atau
terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan
reorganisasi keuangan.
Untuk kelompok aset keuangan tertentu, seperti piutang, aset yang dinilai tidak akan diturunkan secara individual akan dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif. Bukti objektif dari penurunan nilai portofolio piutang dapat termasuk pengalaman Perusahaan atas tertagihnya piutang di masa lalu, peningkatan keterlambatan penerimaan pembayaran piutang dari rata-rata periode kredit, dan juga pengamatan atas perubahan kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan default atas piutang.
Untuk aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi, jumlah kerugian penurunan nilai merupakan selisih antara nilai tercatat aset keuangan dengan nilai kini dari estimasi arus kas masa datang yang didiskontokan menggunakan tingkat suku bunga efektif awal dari aset keuangan.
Nilai tercatat aset keuangan tersebut dikurangi dengan kerugian penurunan nilai secara langsung atas aset keuangan, kecuali piutang yang nilai tercatatnya dikurangi melalui penggunaan akun penyisihan piutang. Jika piutang tidak tertagih, piutang tersebut dihapuskan melalui akun penyisihan piutang. Pemulihan kemudian dari jumlah yang sebelumnya telah dihapuskan dikreditkan terhadap akun penyisihan. Perubahan nilai tercatat akun penyisihan piutang diakui dalam laporan laba rugi.
Jika pada periode berikutnya, jumlah penurunan nilai berkurang dan penurunan dapat dikaitkan secara obyektif dengan sebuah peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai tersebut diakui, kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui dipulihkan melalui laporan laba rugi hingga nilai tercatat investasi pada tanggal pemulihan penurunan nilai tidak melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum pengakuan kerugian penurunan nilai dilakukan.
Penghentian pengakuan aset keuangan
Perusahaan menghentikan pengakuan aset keuangan jika dan hanya jika hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset berakhir, atau Perusahaan mentransfer aset keuangan dan secara substansial mentransfer seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset kepada entitas lain. Jika Perusahaan tidak mentransfer serta tidak memiliki secara substansial atas seluruh risiko dan manfaat kepemilikan serta masih mengendalikan aset yang ditransfer, maka Perusahaan mengakui keterlibatan berkelanjutan atas aset yang ditransfer dan kewajiban terkait sebesar jumlah yang mungkin harus dibayar. Jika Perusahaan memiliki secara substansial seluruh risiko dan manfaat kepemilikan aset keuangan yang ditransfer, Perusahaan masih mengakui aset keuangan dan juga mengakui pinjaman yang dijamin sebesar pinjaman yang diterima.
g. Kewajiban Keuangan dan Instrumen Ekuitas
Klasifikasi sebagai kewajiban atau ekuitas
Kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh Perusahaan dan anak perusahaan diklasifikasi sesuai dengan substansi perjanjian kontraktual dan definisi kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas.
Instrumen ekuitas
Instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak residual atas aset Perusahaan dan anak perusahaan setelah dikurangi dengan seluruh kewajibannya. Instrumen ekuitas dicatat sebesar hasil penerimaan bersih setelah dikurangi biaya penerbitan langsung.
Kewajiban keuangan
Hutang usaha dan hutang lain-lain, obligasi dan wesel bayar serta pinjaman lainnya pada awalnya diukur pada nilai wajar, setelah dikurangi biaya transaksi, dan selanjutnya diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif, dengan beban bunga diakui berdasarkan metode suku bunga efektif.
Selisih antara hasil emisi (setelah dikurangi biaya transaksi) dan penyelesaian atau pelunasan pinjaman diakui selama jangka waktu pinjaman.
Penghentian pengakuan kewajiban keuangan
Perusahaan dan anak perusahaan menghentikan pengakuan kewajiban keuangan, jika dan hanya jika, kewajiban Perusahaan dan anak perusahaan telah dilepaskan, dibatalkan atau kadaluarsa.
h. Penggunaan Estimasi
Penyusunan laporan keuangan konsolidasi sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengharuskan manajemen membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan kewajiban yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan kewajiban kontinjensi pada tanggal laporan keuangan konsolidasi serta jumlah pendapatan dan beban selama periode pelaporan. Realisasi dapat berbeda dengan jumlah yang diestimasi.
i. Kas dan Setara Kas
Untuk tujuan pelaporan arus kas, kas dan setara kas terdiri dari kas, bank dan semua investasi yang jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dari tanggal perolehannya dan yang tidak dijaminkan serta tidak dibatasi penggunaannya.
j. Investasi Saham
Investasi dalam bentuk saham dengan pemilikan kurang dari 20% yang nilai wajarnya tidak tersedia dan dimaksudkan untuk investasi jangka panjang dinyatakan sebesar biaya perolehan (metode biaya). Bila terjadi penurunan nilai yang bersifat permanen, maka nilai tercatatnya dikurangi untuk mengakui penurunan tersebut dan kerugiannya dibebankan pada laporan laba rugi konsolidasi tahun berjalan.
k. Persediaan
Persediaan dinyatakan sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih
rendah. Biaya perolehan ditentukan dengan metode rata-rata tertimbang (weighted average
method).
l. Biaya Dibayar Dimuka
Biaya dibayar dimuka diamortisasi selama masa manfaat masing-masing biaya dengan menggunakan metode garis lurus.
m. Aset Real Estat
Aset real estat terdiri dari tanah dan bangunan (rumah tinggal) dan bangunan strata title yang siap
dijual dan tanah yang belum dikembangkan, dinyatakan sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah.
Biaya perolehan tanah yang belum dikembangkan meliputi biaya praperolehan dan perolehan tanah ditambah biaya pinjaman dan dipindahkan ke tanah yang sedang dikembangkan pada saat pematangan tanah akan dimulai.
Biaya perolehan tanah yang sedang dikembangkan meliputi biaya perolehan tanah yang belum dikembangkan ditambah dengan biaya pengembangan langsung dan tidak langsung yang dapat diatribusikan pada aset pengembangan real estat serta biaya pinjaman (beban bunga dan selisih kurs). Tanah yang sedang dikembangkan akan dipindahkan ke bangunan yang sedang dikonstruksi pada saat tanah tersebut selesai dikembangkan atau dipindahkan ke aset tanah bila tanah tersebut siap dijual dengan menggunakan metode luas areal.
Biaya perolehan bangunan (rumah tinggal) dan bangunan strata title meliputi biaya perolehan
tanah yang telah selesai dikembangkan ditambah dengan biaya konstruksi, biaya lainnya yang dapat diatribusikan pada aktivitas pengembangan real estat dan biaya pinjaman.
Biaya pinjaman yang secara langsung dapat diatribusikan dengan kegiatan pengembangan dikapitalisasi ke proyek pengembangan. Kapitalisasi dihentikan pada saat proyek pengembangan tersebut ditangguhkan/ditunda pelaksanaannya atau secara substansial siap untuk digunakan sesuai tujuannya.
Properti investasi adalah properti (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau kedua-duanya) untuk menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai atau kedua-duanya. Properti investasi diukur sebesar nilai perolehan setelah dikurangi akumulasi penyusutan dan setiap akumulasi kerugian penurunan nilai.
Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis dari properti investasi selama 4 – 20 tahun.
Properti investasi sewa pembiayaan disusutkan berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama atau disusutkan selama jangka waktu yang lebih pendek antara periode sewa dan umur manfaatnya.
Tanah dinyatakan berdasarkan biaya perolehan dan tidak disusutkan. o. Aset Tetap – Pemilikan Langsung
Aset tetap yang dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan barang atau jasa atau untuk tujuan administratif dicatat berdasarkan biaya perolehan setelah dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian penurunan nilai.
Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aset tetap sebagai berikut:
Tahun
Bangunan dan prasarana 4 – 20
Peralatan kantor 3 – 10
Peralatan dan perlengkapan operasional 4 – 10
Kendaraan 3 – 5
Masa manfaat ekonomis, nilai residu dan metode penyusutan direview setiap akhir tahun dan pengaruh dari setiap perubahan estimasi tersebut berlaku prospektif.
Aset sewa pembiayaan disusutkan berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama dengan aset yang dimiliki sendiri atau disusutkan selama jangka waktu yang lebih pendek antara periode masa sewa dan umur manfaatnya.
Tanah dinyatakan berdasarkan biaya perolehan dan tidak disusutkan.
Beban pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laporan laba rugi konsolidasi pada saat terjadinya. Biaya-biaya lain yang terjadi selanjutnya yang timbul untuk menambah, mengganti atau memperbaiki aset tetap dicatat sebagai biaya perolehan aset jika dan hanya jika besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas dan biaya perolehan aset dapat diukur secara handal. Aset tetap yang sudah tidak digunakan lagi atau yang dijual dikeluarkan dari kelompok aset tetap berikut akumulasi penyusutannya. Keuntungan atau kerugian dari penjualan aset tetap tersebut dibukukan dalam laporan laba rugi konsolidasi pada tahun yang bersangkutan.
Aset dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan tersebut termasuk biaya pinjaman yang terjadi selama masa pembangunan yang timbul dari hutang yang digunakan untuk pembangunan aset tersebut. Akumulasi biaya perolehan akan dipindahkan ke masing-masing aset tetap yang bersangkutan pada saat selesai dan siap digunakan.
p. Sewa
Sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara substantial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset. Sewa lainnya, yang tidak memenuhi kriteria tersebut, diklasifikasikan sebagai sewa operasi.
Sebagai Lessor
Dalam sewa pembiayaan, lessor mengakui aset berupa piutang sewa pembiayaan sebesar jumlah investasi sewa neto Perusahaan dan anak perusahaan. Pengakuan penghasilan sewa pembiayaan dialokasikan pada periode akuntansi yang mencerminkan suatu tingkat pengembalian periodik yang konstan atas investasi bersih lessor.
Pendapatan sewa dari sewa operasi diakui sebagai pendapatan dengan dasar garis lurus selama masa sewa. Biaya langsung awal yang terjadi dalam proses negosiasi dan pengaturan sewa operasi ditambahkan ke jumlah tercatat dari aset sewaan dan diakui dengan dasar garis lurus selama masa sewa.
Sebagai Lessee
Aset pada sewa pembiayaan dicatat pada awal masa sewa sebesar nilai wajar aset sewaan Perusahaan dan anak perusahaan yang ditentukan pada awal kontrak atau, jika lebih rendah, sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum. Kewajiban kepada lessor disajikan di dalam neraca sebagai kewajiban sewa pembiayaan.
Pembayaran sewa harus dipisahkan antara bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pengurangan dari kewajiban sewa sehingga mencapai suatu tingkat bunga yang konstan (tetap) atas saldo kewajiban. Beban keuangan dibebankan langsung ke laba rugi. Rental kontijen dibebankan pada periode terjadinya.
Pembayaran sewa operasi diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus (straight-line basis)
selama masa sewa, kecuali terdapat dasar sistematis lain yang dapat lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat aset yang dinikmati pengguna. Rental kontijen diakui sebagai beban di dalam periode terjadinya.
Dalam hal insentif diperoleh dalam sewa operasi, insentif tersebut diakui sebagai kewajiban. Keseluruhan manfaat dari insentif diakui sebagai pengurangan dari biaya sewa dengan dasar garis lurus kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat yang dinikmati pengguna.
q. Aset Bangun Kelola Serah
Aset tetap berupa bangunan dalam rangka bangun kelola dan serah (B.O.T.) beserta mesin dan instalasi yang melekat serta peralatan yang berada pada bangunan tersebut dinyatakan berdasarkan biaya perolehan dan diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan umur ekonomis dari aset tetap yang bersangkutan dengan batas maksimum sesuai jangka waktu perjanjian bangun kelola dan serah, sebagai berikut:
Tahun
Bangunan 30
Mesin dan instalasi 8 - 10
Hak pakai atas aset B.O.T. yang dijual dikeluarkan dari kelompok aset B.O.T. berikut akumulasi amortisasinya. Keuntungan atau kerugian dari penjualan tersebut dibukukan dalam laporan laba rugi konsolidasi tahun yang bersangkutan.
Biaya yang terjadi sehubungan dengan pengurusan legal hak atas tanah ditangguhkan dan diamortisasi dengan metode garis lurus sepanjang umur hukum hak atas tanah karena umur hukum hak atas tanah lebih pendek dari umur ekonomisnya.
s. Penyisihan Penggantian Peralatan dan Perlengkapan Hotel
Penyisihan untuk penggantian peralatan dan perlengkapan hotel dibentuk berdasarkan persentase tertentu dari pendapatan hotel. Pembelian dan penggantian pada periode berjalan dibebankan ke penyisihan tersebut.
t. Penurunan Nilai Aset
Pada tanggal neraca, Perusahaan dan anak perusahaan menelaah nilai tercatat aset non-keuangan untuk menentukan apakah terdapat indikasi bahwa aset tersebut telah mengalami penurunan nilai. Jika terdapat indikasi tersebut, nilai yang dapat diperoleh kembali dari aset diestimasi untuk menentukan tingkat kerugian penurunan nilai (jika ada). Bila tidak memungkinkan untuk mengestimasi nilai yang dapat diperoleh kembali atas suatu aset individu, Perusahaan dan anak perusahaan mengestimasi nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas atas aset.
Perkiraan jumlah yang dapat diperoleh kembali adalah nilai tertinggi antara harga jual neto atau nilai pakai. Jika jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aset non-keuangan (unit penghasil kas) kurang dari nilai tercatatnya, nilai tercatat aset (unit penghasil kas) dikurangi menjadi sebesar nilai yang dapat diperoleh kembali dan rugi penurunan nilai diakui langsung ke laba rugi.
Kebijakan akuntansi untuk penurunan nilai aset keuangan dijelaskan dalam catatan 2f. u. Pengakuan Pendapatan dan Beban
Penjualan Real Estat
Pendapatan dari penjualan real estat berupa bangunan rumah tinggal dan bangunan sejenis lainnya beserta kapling tanahnya serta apartemen yang telah selesai
pembangunannya diakui dengan metode akrual penuh (full accrual method) apabila seluruh
kriteria berikut terpenuhi:
proses penjualan telah selesai;
harga jual akan tertagih, yaitu jumlah yang telah dibayar sekurang-kurangnya telah
mencapai 20% dari harga jual;
tagihan penjual tidak akan bersifat subordinasi di masa yang akan datang terhadap
pinjaman lain yang akan diperoleh pembeli; dan
penjual telah mengalihkan risiko dan manfaat ke pemilikan unit bangunan kepada pembeli
melalui suatu transaksi yang secara substansi adalah penjualan dan penjual tidak lagi berkewajiban atau terlibat secara signifikan dengan unit bangunan tersebut.
Pendapatan penjualan kapling tanah tanpa bangunan, diakui dengan menggunakan metode
akrual penuh (full accrual method) pada saat pengikatan jual beli apabila seluruh kriteria
berikut ini terpenuhi:
jumlah pembayaran oleh pembeli sekurang-kurangnya telah mencapai 20% dari harga
jual yang disepakati dan jumlah tersebut tidak dapat diminta kembali oleh pembeli;
harga jual akan tertagih;
tagihan penjual tidak akan bersifat subordinasi di masa yang akan datang terhadap
proses pengembangan tanah telah selesai sehingga penjual tidak berkewajiban lagi untuk menyelesaikan kapling tanah yang dijual, seperti kewajiban untuk mematangkan kapling tanah atau kewajiban untuk membangun fasilitas-fasilitas pokok yang dijanjikan oleh atau yang menjadi kewajiban penjual, sesuai dengan pengikatan jual beli atau ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
hanya kapling tanah saja yang dijual, tanpa diwajibkan keterlibatan penjual dalam
pendirian bangunan di atas kapling tanah tersebut.
Apabila persyaratan tersebut di atas tidak dapat dipenuhi, maka seluruh uang yang diterima
dari pembeli diperlakukan sebagai uang muka dan dicatat dengan deposit method sampai
seluruh persyaratan tersebut dipenuhi. Pendapatan Sewa
Pendapatan sewa diakui pada saat penggunaan aset oleh pihak lain sejalan dengan berlalunya waktu. Uang muka sewa yang diterima dari penyewa dicatat ke dalam akun pendapatan yang diterima di muka dan akan diakui sebagai pendapatan secara berkala sesuai dengan kontrak sewa yang berlaku.
Pendapatan Hotel
Pendapatan sewa hotel dan pendapatan hotel lainnya diakui pada saat jasa diberikan atau barang diserahkan.
Pendapatan Bunga
Pendapatan bunga diakui berdasarkan waktu terjadinya dengan acuan jumlah pokok terhutang dan tingkat bunga yang sesuai.
Beban
Beban diakui pada saat terjadinya. v. Imbalan Pasca Kerja
Perusahaan dan anak perusahaan memberikan imbalan pasca kerja imbalan pasti untuk karyawan sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan No.13/2003. Tidak terdapat pendanaan yang disisihkan oleh Perusahaan dan anak perusahaan sehubungan dengan imbalan pasca kerja ini.
Perhitungan imbalan pasca kerja menggunakan metode Projected Unit Credit. Akumulasi
keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum diakui yang melebihi 10% dari nilai kini imbalan pasti diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diprakirakan dari para pekerja dalam program tersebut. Biaya jasa lalu dibebankan langsung
apabila imbalan tersebut menjadi hak atau vested, dan sebaiknya akan diakui sebagai beban
dengan metode garis lurus selama periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested.
Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan pasti di neraca merupakan nilai kini kewajiban imbalan pasti disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuaria yang belum diakui, dan biaya jasa lalu yang belum diakui.
w. Pajak Penghasilan
Pajak Penghasilan Final
Atas penghasilan sewa dan jasa pelayanan dan pemeliharaan yang dikenakan pajak penghasilan final, beban pajak diakui proposional dengan jumlah pendapatan menurut akuntansi. Selisih antara jumlah pajak penghasilan final dengan jumlah yang dibebankan sebagai pajak kini pada perhitungan laba rugi diakui sebagai pajak dibayar dimuka atau hutang pajak. Akun pajak penghasilan final dibayar dimuka disajikan terpisah dari hutang pajak penghasilan final.
Perusahaan dan anak perusahaan tidak mengakui aset atau kewajiban pajak tangguhan yang timbul dari perbedaan nilai tercatat dengan dasar pengenaan pajak untuk aset atau kewajiban yang berhubungan dengan pajak penghasilan final.
Pajak Penghasilan Tidak Final
Beban pajak kini ditentukan berdasarkan laba kena pajak dalam periode yang bersangkutan yang dihitung berdasarkan tarif pajak yang berlaku.
Aset dan kewajiban pajak tangguhan diakui atas konsekuensi pajak periode mendatang yang timbul dari perbedaan jumlah tercatat aset dan kewajiban menurut laporan keuangan konsolidasi dengan dasar pengenaan pajak aset dan kewajiban kecuali perbedaan yang berhubungan dengan pajak penghasilan final. Kewajiban pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer kena pajak dan aset pajak tangguhan diakui untuk perbedaan temporer yang boleh dikurangkan, sepanjang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi laba kena pajak pada masa datang.
Pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku atau secara substansial telah berlaku pada tanggal neraca. Pajak tangguhan dibebankan atau dikreditkan dalam laporan laba rugi konsolidasi, kecuali pajak tangguhan yang dibebankan atau dikreditkan langsung ke ekuitas.
Aset dan kewajiban pajak tangguhan disajikan di neraca, kecuali aset dan kewajiban pajak tangguhan untuk entitas yang berbeda, atas dasar kompensasi sesuai dengan penyajian aset dan kewajiban pajak kini.
x. Laba Per Saham
Laba per saham dasar dihitung dengan membagi laba bersih residual dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar pada tahun yang bersangkutan.
y. Informasi Segmen
Informasi segmen disusun sesuai dengan kebijakan akuntansi yang dianut dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasi. Bentuk primer pelaporan segmen adalah segmen usaha sedangkan segmen sekunder adalah segmen geografis.
Segmen usaha adalah komponen perusahaan yang dapat dibedakan dalam menghasilkan produk atau jasa (baik produk atau jasa individual maupun kelompok produk atau jasa terkait) dan komponen itu memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan segmen lain.
Segmen geografis adalah komponen perusahaan yang dapat dibedakan dalam menghasilkan produk atau jasa pada lingkungan (wilayah) ekonomi tertentu dan komponen itu memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan pada komponen yang beroperasi pada lingkungan (wilayah) ekonomi lain.
Aset dan kewajiban yang digunakan bersama dalam satu segmen atau lebih dialokasikan kepada setiap segmen jika, dan hanya jika, pendapatan dan beban yang terkait dengan aset tersebut juga dialokasikan kepada segmen-segmen tersebut.
3. KAS DAN SETARA KAS 2011 2010 Rp Rp Kas Rupiah 389,472,250 608,124,282 Dollar Singapura 7,030,484 7,128,126 Bank Rupiah
Bank Danamon Indonesia 11,104,026,947 29,827,321,066
Bank Central Asia 6,142,910,169 8,122,261,619
Bank Mandiri 3,643,084,951 4,528,172,481
Bank Permata 493,441,957 1,620,171,689
Bank Ganesha 2,543,494,723 1,072,770,184
Bank Rakyat Indonesia 866,536,057 905,271,125
Lain-lain (masing-masing dibawah Rp 700 juta) 2,101,919,188 3,741,383,679
Dollar Amerika Serikat
Bank Central Asia 1,672,926,225 1,730,411,990
Lain-lain (masing-masing dibawah Rp 400 juta) 668,382,050 447,155,632
Deposito berjangka Rupiah
Bank Danamon Indonesia 16,775,000,000
Bank Ganesha 2,000,000,000 4,333,160,000
Bank Internasional Indonesia 2,800,000,000
Bank Windu Kentjana 18,010,871,233
Bank Central Asia 350,000,000
Dollar Amerika Serikat
Bank Internasional Indonesia 77,667,369 78,560,930
Jumlah 49,721,763,603 76,946,892,803
Tingkat bunga deposito berjangka per tahun
Rupiah 7% - 8% 5,25% - 8%
Dollar Amerika Serikat 1.5% 1.5%
4. INVESTASI JANGKA PENDEK
2011 2010 Rp Rp Biaya perolehan Dana pasti 373,090,202 7,001,519,404 Dana premier 4,500,696 2,190,926 Jumlah 377,590,898 7,003,710,330
Laba yang belum direalisasi
Dana pasti 95,055,135 274,625,231
Dana premier 829,540 780,882
Jumlah 95,884,675 275,406,113
Investasi jangka pendek merupakan penempatan dana untuk dikelola pada PT Equity Securities Indonesia (ESI). Pada tahun 2010 Perusahaan dan anak perusahaan menandatangani kontrak manajemen dana dengan ESI dimana ESI ditunjuk untuk mengelola dana Perusahaan dan anak perusahaan sejumlah Rp 7.000.000.000.
Padatanggal 30 september 2011 dan 31 Desember 2010 , nilai investasi jangka pendek mewakili
nilai wajar dari investasi berdasarkan nilai aset bersih dari masing-masing investasi. 5. PIUTANG USAHA KEPADA PIHAK KETIGA
2011 2010
Rp Rp
a. Berdasarkan langganan:
Pelanggan dalam negeri 22,040,619,181 28,581,836,045
Penyisihan piutang ragu-ragu (1,723,822,507) (1,798,164,123) Jumlah Piutang Usaha - Bersih 20,316,796,674 26,783,671,922 b. Berdasarkan umur (hari):
Belum jatuh tempo 5,666,044,590 15,448,814,024
Sudah jatuh tempo
1 s/d 30 hari 8,006,176,204 9,180,697,647 31 s/d 60 hari 2,198,671,876 1,451,317,872 61 s/d 90 hari 2,683,157,747 778,082,183 91 s/d 120 hari 488,093,789 236,453,936 > 120 hari 2,998,474,977 1,486,470,383 Jumlah 22,040,619,183 28,581,836,045
Penyisihan piutang ragu-ragu (1,723,822,507) (1,798,164,123)
Bersih 20,316,796,676 26,783,671,922
Mutasi penyisihan piutang ragu-ragu:
Saldo awal 1,666,371,939 957,010,311
Penambahan (pengurangan) tahun berjalan 57,450,568 841,153,812
Saldo akhir 1,723,822,507 1,798,164,123
Seluruh piutang usaha kepada pihak ketiga dalam mata uang Rupiah.
Manajemen berpendapat bahwa penyisihan piutang ragu-ragu atas piutang usaha kepada pihak ketiga adalah cukup.
6. PIUTANG LAIN-LAIN KEPADA PIHAK KETIGA
2011 2010
Rp Rp
Tropic Strata Title (Tropic) 1,931,824,410 2,707,638,615
Lain-lain (masing-masing dibawah Rp 500 juta) 2,667,423,630 2,920,915,745
Jumlah 4,599,248,040 5,628,554,360
Piutang Tropic terutama merupakan piutang yang timbul akibat pembayaran terlebih dahulu biaya-biaya milik Tropic oleh GH.
Manajemen berpendapat bahwa piutang lain-lain kepada pihak ketiga dapat tertagih sehingga tidak ditetapkan penyisihan piutang ragu-ragu.
7. PERSEDIAAN
Akun ini merupakan persediaan hotel dengan rincian sebagai berikut:
2011 2010 Rp Rp Perlengkapan 1,646,170,047 1,333,609,280 Makanan 426,716,888 429,823,848 Minuman 67,877,239 74,243,995 Lainnya 83,278,399 75,068,295 Jumlah 2,224,042,573 1,912,745,418
Manajemen berpendapat bahwa seluruh persediaan dapat digunakan untuk kegiatan usaha normal sehingga manajemen tidak membuat penyisihan kerugian atas persediaan usang.
8. PAJAK DIBAYAR DIMUKA
2011 2010
Rp Rp
Pajak penghasilan final atas pendapatan diterima dimuka 8,254,569,147 7,541,845,420
Pajak penghasilan - pasal 25 2,207,900,115
Pajak pertambahan nilai - bersih 138,150,964 79,703,438
Jumlah 10,600,620,226 7,621,548,858
9. ASET REAL ESTAT
2011 2010
Rp Rp
Tanah dan bangunan siap dijual
Puri Casablanca (Apartemen) 12,985,986,632 14,148,611,703
Bukit Tiara (Perumahan) 7,572,486,082 7,460,979,832
Tropik (Apartemen) 603,446,569 850,190,938
Jumlah 21,161,919,283 22,459,782,473
Tanah yang belum dikembangkan
Bukit Tiara (Perumahan) 238,155,875,483 231,660,903,120
Lebak Bulus - Karang Tengah 13,474,083,265 13,474,083,265
Puri Casablanca (Apartemen) 9,524,011,354 9,524,011,354
Jumlah 261,153,970,102 254,658,997,739
Tanah perumahan Bukit Tiara yang belum dikembangkan , terletak di Desa Pasir Jaya, Tangerang.
Tanah Lebak Bulus - Karang Tengah yang belum dikembangkan merupakah tanah milik KMU
seluas 13.732 m2, terletak di Kampung Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Tanah Puri Casablanca yang belum dikembangkan merupakan tanah milik AIL seluas 5.668 m2,
terletak di proyek apartemen Puri Casablanca, Jakarta.
Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, aset real estat, kecuali tanah, telah diasuransikan terhadap risiko kebakaran, bencana alam dan risiko lainnya kepada PT Asuransi Dayin Mitra Tbk, dengan jumlah pertanggungan sebesar US$ 73.000.000. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian atas aset yang dipertanggungkan.
10. INVESTASI SAHAM
Tempat Persentase
kedudukan pemilikan Rp
% Metode Ekuitas
PT Nusadua Graha International Jakarta 26.65 66,386,778,800
Bagian Laba bersih perusahaan asosiasi 3,086,064,827
69,472,843,627
PT Agung Ometraco Muda Jakarta 0.52 890,000,000
Jumlah 70,362,843,627
Tempat Persentase
kedudukan pemilikan Rp
% Metode biaya
PT Nusadua Graha International Jakarta 18.27 48,268,848,800
PT Agung Ometraco Muda Jakarta 0.52 890,000,000
Jumlah 49,158,848,800
2011
2010
PT Nusadua Graha International (NGI) bergerak dalam bidang usaha jasa perhotelan (Westin Hotel) yang berlokasi di Nusa Dua, Bali.
Berdasarkan Akta No. 69 tanggal 29 Maret 2011 dari Notaris Yualita Widyadhari, SH telah disetujui dalam Rapat PT Nusadua Graha International transaksi Jual Beli Saham antara Hendra Soerijadi dengan LAL dan PLB sebagai berikut:
LAL setuju untuk membeli 12.120 saham NGI yang terdiri dari 5.989 saham seri A dan 6.131
saham seri B dengan total harga pembelian sebesar Rp 11.998.800.000.
PLB setuju untuk membeli 2.787 saham NGI yang terdiri dari 1.377 saham seri A dan 1.410
saham seri B dengan total harga pembelian sebesar Rp 2.759.130.000.
Berdasarkan Akta No.82 dan 83 tanggal 24 Juni 2011 dari Notaris Hannywati Gunawan, SH telah disetujui transaksi Jual Beli Saham antara Perusahaan dengan LAL dan PLB dan PT Tri Handayani Utama (THU) sebagai berikut :
LAL setuju untuk menjual 12.120 saham NGI yang terdiri dari 5.989 saham seri A dan 6.131 saham seri B dengan total harga pembelian sebesar Rp 11.998.800.000.
PLB setuju untuk menjual 16.587 saham NGI yang terdiri dari 1.377 saham seri A dan 1.410
saham seri B dengan total harga pembelian sebesar Rp 16.421.130.000.
THU setuju untuk menjual 2.100 saham NGI saham seri A dengan harga pembelian sebesar
Rp 3.360.000.000
11. PROPERTI INVESTASI
Properti investasi terdiri dari:
2011 2010
Rp Rp
Aset yang disewakan 15,876,925,453 14,925,447,755
Tanah yang tidak digunakan 114,979,854,590 114,979,854,590
Jumlah 130,856,780,043 129,905,302,345
Nilai wajar properti investasi bersama dengan aset tetap adalah sebesar Rp 681.051.000.000 berdasarkan penilaian manajemen. Penilaian dilakukan berdasarkan metode biaya dan pendapatan.
Aset yang Disewakan
1 Januari 2011 Penambahan Pengurangan Reklasifikasi 30 September 2011
Rp Rp Rp Rp Rp
Biaya perolehan: Pemilikan langsung
Tanah 9,556,437,211 - - - 9,556,437,211
Bangunan dan prasarana 21,718,920,151 2,290,634,412 0 (772,017,519) 23,237,537,044
Jumlah 31,275,357,362 2,290,634,412 0 (772,017,519) 32,793,974,255
Akumulasi penyusutan: Pemilikan langsung
Bangunan dan prasarana 16,349,909,607 687,651,839 0 (120,512,643) 16,917,048,803
Jumlah 16,349,909,607 687,651,839 0 (120,512,643) 16,917,048,803
1 Januari 2010 Penambahan Pengurangan Reklasifikasi 31 Desember 2010
Rp Rp Rp Rp Rp
Biaya perolehan: Pemilikan langsung
Tanah 9,556,437,211 - - - 9,556,437,211
Bangunan dan prasarana 19,014,864,027 438,660,628 - 2,265,395,496 21,718,920,151
Aset sew a pembiayaan
Bangunan dan prasarana 895,000,000 - - (895,000,000)
-Jumlah 29,466,301,238 438,660,628 - 1,370,395,496 31,275,357,362
Akumulasi penyusutan: Pemilikan langsung
Bangunan dan prasarana 15,327,714,220 720,192,604 - 302,002,783 16,349,909,607
Aset sew a pembiayaan
Bangunan dan prasarana 111,670,361 243,715,703 - (355,386,064)
-Jumlah 15,439,384,581 963,908,307 - (53,383,281) 16,349,909,607
Jumlah Tercatat 14,026,916,657 14,925,447,755
.
Pada tahun 2011 dan 2010, properti investasi dan aset tetap kecuali tanah di asuransikan terhadap risiko kebakaran dan risiko lainnya .
Tanah yang Tidak Digunakan
Merupakan tanah milik PLB seluas 9.377 m2 yang terletak di Jl. Karet Tengsin, Jakarta dengan
nilai tercatat sebesar Rp 114.979.854.590. Hak legal tanah tersebut berupa hak guna bangunan yang berjangka waktu 20 dan 30 tahun yang akan jatuh tempo antara tahun 2021 dan 2030.
12. ASET TETAP
1 Januari 2011 Penambahan Pengurangan Reklasifikasi 30 September 2011
Rp Rp Rp Rp Rp
Biaya perolehan: Pemilikan langsung
Tanah 45,454,640,297 45,454,640,297
Bangunan dan prasarana 195,514,994,306 1,020,808,227 772,017,519 197,307,820,052
Peralatan kantor 8,812,732,249 379,040,650 23,875,000 9,167,897,899
Peralatan dan perlengkapan
operasional 59,144,007,306 1,835,042,141 1,109,267,367 59,869,782,080
Kendaraan 16,020,911,356 3,881,610,000 769,592,275 19,132,929,081
Aset dalam penyelesaian
Bangunan dan prasarana 34,011,000 182,628,181 216,639,181
Jumlah 324,981,296,514 7,299,129,199 1,902,734,642 772,017,519 331,149,708,590
Akumulasi penyusutan: Pemilikan langsung
Bangunan dan prasarana 120,848,539,391 7,789,654,752 19,077,684 108,487,644 128,727,604,103
Peralatan kantor 7,290,861,975 746,202,289 23,875,000 8,013,189,264
Peralatan dan perlengkapan
operasional 54,346,209,708 1,376,137,083 1,079,194,248 54,643,152,543
Kendaraan 10,915,543,330 1,608,941,420 687,100,539 11,837,384,211
Jumlah 193,401,154,404 11,520,935,544 1,809,247,471 108,487,644 203,221,330,121
1 Januari 2010 Penambahan Pengurangan Reklasifikasi 31 Desember 2010
Rp Rp Rp Rp Rp
Biaya perolehan: Pemilikan langsung
Tanah 45.454.640.297 - - - 45.454.640.297
Bangunan dan prasarana 195.298.435.066 277.387.619 830.946.568 770.118.189 195.514.994.306
Peralatan kantor 8.320.619.585 492.112.664 - - 8.812.732.249
Peralatan dan perlengkapan
operasional 58.568.808.470 1.283.789.741 708.590.905 - 59.144.007.306
Kendaraan 14.516.218.901 1.770.942.455 682.150.000 415.900.000 16.020.911.356
Aset dalam penyelesaian
Bangunan dan prasarana 257.216.400 1.917.308.285 - (2.140.513.685) 34.011.000
Aset sew a pembiayaan
Kendaraan 415.900.000 - - (415.900.000)
-Jumlah 322.831.838.719 5.741.540.764 2.221.687.473 (1.370.395.496) 324.981.296.514
Akumulasi penyusutan: Pemilikan langsung
Bangunan dan prasarana 110.562.867.990 10.633.912.296 401.624.176 53.383.281 120.848.539.391
Peralatan kantor 6.197.210.660 1.093.651.315 - - 7.290.861.975
Peralatan dan perlengkapan
operasional 52.736.859.709 2.306.437.922 697.087.923 - 54.346.209.708
Kendaraan 8.835.450.642 2.228.901.011 460.733.323 311.925.000 10.915.543.330
Aset sew a pembiayaan
Kendaraan 207.950.000 103.975.000 - (311.925.000)
-Jumlah 178.540.339.001 16.366.877.544 1.559.445.422 53.383.281 193.401.154.404
Jumlah Tercatat 144.291.499.718 131.580.142.110
Perusahaan dan anak perusahaan memiliki beberapa bidang tanah seluruhnya seluas 35.228 m2
yang terletak di Jakarta dan Surabaya dengan hak legal berupa Hak Guna Bangunan (HGB) yang berjangka waktu antara 20 dan 30 tahun dan akan jatuh tempo antara tahun 2011 dan 2034. Manajemen berpendapat tidak terdapat masalah dengan perpanjangan dan pengurusan hak atas tanah karena seluruh tanah diperoleh secara sah dan didukung dengan bukti pemilikan yang memadai.
Biaya yang dikeluarkan atas pengurusan legal hak atas tanah milik anak perusahaan disajikan sebagai akun beban tangguhan dan diamortisasi selama umur legal hak atas tanah tersebut. Beban amortisasi yang dialokasikan sebagai beban pokok penjualan dan beban langsung selama tahun 2011 dan 2010.
Tanah dan bangunan milik GMMS dijadikan sebagai jaminan hutang bank dan pihak ketiga jangka panjang yang sudah jatuh tempo .
Aset tetap beserta properti investasi kecuali tanah telah diasuransikan terhadap risiko kebakaran, bencana alam dan risiko lainnya kepada PT Asuransi Dayin Mitra Tbk dengan jumlah pertanggungan sebesar Rp 218.360.616.000 dan US$ 7.808.152 . Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian atas aset yang dipertanggungkan.
13. ASET BANGUN KELOLA SERAH
1 Januari 30 September 2011 Penambahan Pengurangan 2011 Rp Rp Rp Rp Biaya perolehan: Bangunan 66,901,997,318 150,000,000 - 67,051,997,318
Mesin dan instalasi 2,937,770,023 40,478,700 - 2,978,248,723
Jumlah 69,839,767,341 190,478,700 - 70,030,246,041
Akumulasi amortisasi:
Bangunan 38,765,518,883 1,807,296,069 - 40,572,814,952
Mesin dan instalasi 2,240,552,441 156,462,484 - 2,397,014,925
Jumlah 41,006,071,324 1,963,758,553 - 42,969,829,877 Jumlah Tercatat 28,833,696,017 27,060,416,164 1 Januari 31 Desember 2010 Penambahan Pengurangan 2010 Rp Rp Rp Rp Biaya perolehan: Bangunan 66.859.792.943 42.204.375 - 66.901.997.318
Mesin dan instalasi 2.820.853.398 116.916.625 - 2.937.770.023
Jumlah 69.680.646.341 159.121.000 - 69.839.767.341
Akumulasi amortisasi:
Bangunan 36.365.966.643 2.399.552.240 - 38.765.518.883
Mesin dan instalasi 2.040.774.230 199.778.211 - 2.240.552.441
Jumlah 38.406.740.873 2.599.330.451 - 41.006.071.324
Akun ini merupakan aset bangun kelola serah milik LAL atas gedung pusat perbelanjaan (mal) dua
lantai, dengan luas area ± 61.750 m2, terletak dibawah terminal bis Blok M, Jakarta, yang dimiliki
Pemda DKI Jakarta seperti dijelaskan pada Catatan 36a.
Aset bangun kelola serah telah diasuransikan terhadap risiko kebakaran, bencana alam dan risiko lainnya kepada PT Asuransi Dayin Mitra Tbk dengan jumlah pertanggungan sebesar US$ 1.218.283 dan Rp 270.845.119.000. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut adalah cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian atas aset yang dipertanggungkan.
14. ASET LAIN-LAIN
2,011 2010
Rp Rp
Uang muka pembelian tanah 1,851,386,578 1,100,494,198
Uang muka pembelian saham 13,978,800,000
Uang muka lainnya 209,574,779 1,154,993,567
Uang jaminan 1,080,603,321 1,062,591,121
Lain-lain 4,336,378,164 292,799,601
Jumlah 7,477,942,842 17,589,678,487
Uang muka pembelian tanah terutama merupakan uang muka atas pembelian tanah di daerah Tangerang. .
15. HUTANG USAHA KEPADA PIHAK KETIGA
Jumlah hutang usaha berdasarkan mata uang adalah sebagai berikut:
2011 2010
Rp Rp
Rupiah 5,234,318,136 5,273,070,431
Dollar Amerika Serikat 510,551,718 520,273,206
Jumlah 5,744,869,854 5,793,343,637
Hutang usaha terutama merupakan hutang atas pembelian persediaan hotel, pekerjaan pembangunan hotel, prasarana dan proyek perumahan.
Kecuali hutang usaha atas proyek Hotel Ibis, Surabaya milik MG , jangka waktu kredit berkisar antara 7 sampai 30 hari.
2011 2010
Rp Rp
PT Prima Tunas Investama (PTI) 2,809,979,671 2,806,979,671
Lainnya 6,187,775,236 5,941,121,635
Jumlah 8,997,754,907 8,748,101,306
.
Hutang kepada PTI merupakan sisa penyelesaian hutang Perusahaan dan GMMS yang sebagian penyelesaiannya dilakukan dengan penyerahan apartemen dan aset real estat. Pinjaman ini tidak dikenakan bunga, tanpa jaminan dan dapat dilunasi sewaktu-waktu.
Hutang lainnya pada tahun 2009 terutama merupakan denda pajak atas SKPKB tahun 1999, 2002 dan 2003 sebesar Rp 3.005.747.928 milik AIL. Hutang ini telah dilunasi pada tanggal 22 Januari
2010. Selebihnya hutang lainnya merupakan guest deposit milik GH dan GMMS.
17. HUTANG PAJAK
2011 2010
Rp Rp
Pajak penghasilan final
Pendapatan sewa 1,191,795,678 7,380,377,663 Penjualan apartemen 1,415,945,000 1,415,945,000 Pajak penghasilan: Pasal 21 599,144,038 771,074,292 Pasal 23 107,981,892 185,214,604 Pasal 26 71,058 Pasal 29 2,442,498,353 3,804,756,243 Pasal 4 ayat 2 525,451,642 0 Pajak pembangunan 1 933,485,239 765,211,587
Pajak pertambahan nilai - bersih 1,257,808,885 13,492,578,316
Jumlah 8,474,110,727 27,815,228,763
2011 2010
Rp Rp
Bunga dan denda 56,931,707,258 55,953,147,105
Penyisihan penggantian perlengkapan dan peralatan hotel 8,339,556,657 6,166,411,796
Listrik, air dan telepon 2,338,804,564 1,756,103,620
Jasa profesional 263,344,670 850,174,624
Kebersihan dan keamanan 150,616,800 645,734,523
Lain-lain (masing-masing dibawah Rp 500 juta) 3,724,466,609 5,253,904,409
Jumlah 71,748,496,558 70,625,476,077
Bunga yang masih harus dibayar merupakan biaya bunga atas hutang bank dan pihak ketiga jangka panjang yang sudah jatuh tempo .
19. PENDAPATAN DITERIMA DI MUKA DAN UANG MUKA PENJUALAN
2011 2010
Rp Rp
Pendapatan diterima di muka 19,395,383,160 18,866,164,416
Uang muka penjualan 132,511,785,734 122,980,476,645
Jumlah 151,907,168,894 141,846,641,061
Pendapatan diterima di muka berasal dari sewa perkantoran, pusat perbelanjaan, apartemen dan jasa pemeliharaan.
Uang muka penjualan terutama merupakan uang muka penjualan rumah tinggal dan tanah di perumahan Bukit Tiara, Tangerang, yang belum memenuhi persyaratan untuk diakui sebagai pendapatan.
20. HUTANG BANK DAN PIHAK KETIGA JANGKA PANJANG YANG SUDAH JATUH TEMPO
Merupakan pinjaman sindikasi anak perusahaan (GMMS) yang dikoordinasi oleh Bank Bira dengan jumlah maksimum sebesar US$ 14.000.000. Pinjaman ini sudah jatuh tempo pada tanggal 4 April 2002. Jaminan pinjaman adalah tanah dan bangunan Hotel Novotel serta Apartemen di jalan Ngagel No. 173 dan 175, Surabaya dan jaminan perusahaan.
Sejak Bank Bira menjadi Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU), GMMS melakukan negosiasi secara bilateral dengan masing-masing kreditur untuk penyelesaian pinjaman. Pinjaman yang belum diselesaikan pada tanggal neraca adalah sebagai berikut:
2011 2010
Rp Rp
Bank Pan Indonesia (US$ 2.800.000) 24,704,400,000 25,174,800,000
Top World Pacific Limited (US$ 933.367) 8,235,094,129 8,391,899,730
Jumlah 32,939,494,129 33,566,699,730
Tingkat suku bunga yang dikenakan adalah 2.7% - 10% per tahun.
Hutang kepada Top World Pasific Limited merupakan hasil pengalihan dari anggota sindikasi lainnya (Bank Merincorp).
Hutang bank dan pihak ketiga jangka panjang yang sudah jatuh tempo memiliki tingkat bunga tetap sehingga Perusahaan dan anak perusahaan terekspos terhadap risiko suku bunga atas nilai wajar.
21. HUTANG LAIN-LAIN KEPADA PIHAK KETIGA JANGKA PANJANG
2010 Rp
PT Bukit Baiduri Energi (BBE) 22,996,257,474
PT Equity Finance Indonesia (EFI) 3,000,000,000
Hutang lain-lain pihak ketiga jangka panjang - bersih 25,996,257,474
PT Bukit Baiduri Energi (BBE)
Merupakan hutang anak perusahaan dengan rincian sebagai berikut:
2010 Rp
GMS 17,141,329,300
PLB 5,854,928,174
Jumlah 22,996,257,474
Hutang ini timbul sehubungan dengan pelunasan hutang bank milik anak perusahaan kepada Bank
Pan Indonesia yang dilakukan oleh BBE, sehingga seluruh hutang beralih ke BBE.
Hutang BBE ini tidak dikenakan bunga, tanpa jaminan dan harus dilunasi selambatnya dalam jangka waktu 5 tahun terhitung sejak tanggal perjanjian 11 Agustus 2008.
Pada bulan Januari dan Pebruari 2011, GMS dan PLB telah melunasi seluruh pinjamannya. PT Equity Finance Indonesia (EFI)
Merupakan hutang GMS dengan tingkat bunga sebesar 14% per tahun dan jatuh tempo tanggal 28 April 2014. Fasilitas pinjaman ini dijamin dengan sebagian aset real estat.
Pada tanggal 3 Januari 2011, GMS telah melunasi seluruh pinjamannya kepada EFI.
22. UANG JAMINAN PENYEWA
Akun ini merupakan uang jaminan yang diterima dari penyewa perkantoran, pusat perbelanjaan dan apartemen, dengan rincian sebagai berikut:
2011 2010 Rp Rp Sewa 8,026,796,932 6,410,931,822 Jasa pemeliharaan 2,739,406,737 2,828,179,905 Telepon 1,243,131,825 1,318,761,010 Lainnya 139,406,230 1,606,962,420 Jumlah 12,148,741,724 12,164,835,157
Terdapat uang jaminan sewa dalam mata uang asing sebesar US$ 132.377 untuk tahun 2011 dan 2010.
23. GOODWILL NEGATIF – BERSIH
Akun ini merupakan selisih lebih antara aset bersih yang diakuisisi dengan biaya akuisisi AS dan KMU dengan rincian sebagai berikut:
2011 2010 Rp Rp Harga perolehan 4,987,683,737 4,987,683,737 Akumulasi amortisasi (1,080,664,810) (893,626,670) Goodwill - Bersih 3,907,018,927 4,094,057,067 24. MODAL SAHAM
Sesuai dengan daftar pemegang saham yang dikeluarkan oleh Biro Administrasi Efek Perusahaan (PT Datindo Entrycom), susunan pemegang saham Perusahaan adalah sebagai berikut:
2011 dan 2010
Jumlah Persentase Nilai Nominal Jumlah Jenis Saham Pemilikan Per Saham Modal Disetor
% Rp Rp
First Pacific Capital Group Limited Seri B 1,250,000,000 71.63 200 250,000,000,000 Seri A 322,073,000 18.46 1,000 322,073,000,000
PT Ometraco Seri A 5,999,500 0.34 1,000 5,999,500,000
Tn. Tazran Tanmizi Seri A 259,000 0.01 1,000 259,000,000
Tn. Piter Korompis Seri A 980,000 0.06 1,000 980,000,000
Masyarakat (masing-masing
di bawah 5%) Seri A 165,688,500 9.50 1,000 165,688,500,000
Jumlah 1,745,000,000 100.00 745,000,000,000
Nama Pemegang Saham
25. AGIO SAHAM
Akun ini merupakan agio saham yang diperoleh dari penawaran umum saham Perusahaan pada tahun 1994.
2011 2010 Rp Rp Jasa Sewa 76,912,523,225 74,897,859,969 Pemeliharaan 21,993,049,218 21,490,417,464 Lain-lain 17,470,141,454 13,777,026,710 Hotel Kamar 40,974,145,665 38,867,614,289
Makanan dan minuman 22,596,997,720 20,316,480,295
Lain-lain 4,231,446,444 4,038,829,339
Penjualan
Apartemen 2,806,337,818 13,224,625,298
Tanah dan rumah 40,452,295,500
Jumlah 186,984,641,544 227,065,148,864
27. BEBAN POKOK PENJUALAN DAN BEBAN LANGSUNG
2011 2010
Rp Rp
Beban langsung jasa
Pegawai 29,720,245,983 25,562,481,891
Apartemen sewa 29,177,873,943 25,565,552,066
Penyusutan 12,309,600,041 12,956,433,654
Beban langsung hotel
Pemeliharaan dan energi 6,829,770,117 6,243,008,120
Gaji dan kesejahteraan karyawan 13,212,703,534 12,551,348,887
Makanan dan minuman 6,890,728,663 6,241,485,297
Penyisihan penggantian perabot dan peralatan hotel 1,455,694,587 1,260,956,057
Telepon dan teleks 20,651,238 38,150,383
Lain-lain 15,722,506,178 15,292,391,837
Beban pokok penjualan
Apartemen 1,172,050,624 4,711,186,809
Tanah dan rumah 22,149,037,079
Jumlah 116,511,824,908 132,572,032,080