Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 i
RENCANA
STRATEGIS
PIOM
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 ii
Kata Pengantar
Untuk mendukung tercapainya visi dan misi Badan POM, Pusat Informasi Obat dan Makanan (PIOM) sebagai organisasi yang menunjang kegiatan Badan POM, diharapkan mampu menghadapi segala bentuk perubahan yang sedang dan akan terus berubah dan berkembang, khususnya perkembangan dan perubahan dalam lima tahun mendatang. Untuk itu, disusun Rencana Strategis (Renstra) Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015 – 2019, yang merupakan rencana lima tahun kedepan. Rencana Strategis PIOM tahun 2015-2019 merupakan rencana program dan kegiatan PIOM selama 5 tahun mendatang yang memuat strategi, fokus prioritas serta kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan PIOM selama 2015-2019, yang sejalan dan mengacu kepada Renstra Badan POM tahun 2015-2019.
Renstra PIOM juga merupakan acuan dalam penyusunan rencana kinerja, penyusunan rencana kerja dan anggaran, penetapan kinerja, pelaksanaan tugas, pelaporan dan pengendalian kegiatan di Lingkungan Pusat Informasi Obat dan Makanan. Keberhasilan Renstra PIOM didukung dengan 2 (dua) Sasaran Kegiatan yaitu (a) berfungsinya sistem informasi yang terintegrasi secara online dan up to date untuk pengawasan obat dan makanan; (b) meningkatnya pelayanan pengelolaan data, informasi, dan teknologi informasi.
Renstra PIOM yang telah disusun ini tidak akan mempunyai makna tanpa ditindaklanjuti dengan pelaksanaan yang komprehensif, untuk itu diperlukan komitmen, motivasi dan kegigihan serta dedikasi tinggi dari semua warga organisasi di Lingkungan PIOM.
Jakarta, 08 April 2015 Sekretaris Utama
TTD
Dra. Reri Indriani, Apt., M.Si. NIP. 19630527 198903 2 001
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 iii
Daftar Isi
Halaman
Kata Pengantar ... i
Daftar Isi ... ii
Daftar Tabel ... iii
Daftar Gambar ... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
I.1 Kondisi Umum ... 1
I.1.1 Peran PIOM Berdasarkan Perundang-Undangan ... 3
I.1.2 Struktur Organisasi ... 5
I.1.3 Profil Sumber Daya Manusia... 5
I.1.4 Hasil Capaian Kinerja PIOM Periode 2010-2014 ... 9
I.1.5 Isu Strategis Sesuai dengan Tupoksi dan Kewenangan PIOM ... 13
I.2 Potensi Permasalahan ... 15
I.2.1 Sistem Kesehatan Nasional (SKN) ... 15
I.2.2 Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) ... 16
I.2.3 Globalisasi, Perdagangan Bebas dan Komitmen Internasional ... 17
I.2.4 Perubahan Ekonomi Sosial Masyarakat (Perubahan Pola Hidup Masyarakat) ... 18
I.2.5 Demografi, Perubahan Komposisi Penduduk, Desentralisasi & OTDA ... 19
I.2.6 Perkembangan Teknologi ... 20
I.2.7 Analisa Terhadap Lingkungan Strategis (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats/SWOT) ... 21
BAB II VISI, MISI DAN TUJUAN PIOM... 30
II.1 Visi ... 30
II.2 Misi ... 30
II.3 Budaya Organisasi ... 31
II.4 Tujuan ... 31
II.5 Sasaran Strategis ... 32
BAB III ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI DAN KERANGKA KELEMBAGAAN ... 38
III.1 Arah Kebijakan dan Strategi Nasional (Terkait PIOM) ... 38
III.2 Arah Kebijakan dan Strategi BPOM (Terkait PIOM) ... 43
III.3 Arah Kebijakan dan Strategi PIOM ... 47
III.4 Kerangka Regulasi ... 48
III.5 Kerangka Kelembagaan ... 45
BAB IV TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN ... 49
IV.1 Target Kinerja PIOM Periode 2015-2019 ... 49
IV.2 Kerangka Pendanaan ... 50
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 iv
Daftar Tabel
Halaman
Tabel 1.1. Latar Belakang Pendidikan Staf Pusat Informasi Obat dan Makanan (PNS) ... 7
Tabel 1.2. Latar Belakang Pendidikan Tenaga Non PNS Pusat Informasi Obat dan Makanan ... 7
Tabel 1.3. Capaian Kinerja PIOM Tahun 2010 - 2014 ... 9
Tabel 1.4. Pengukuran Sasaran Kinerja Tahun 2010 - 2014 ... 12
Tabel 1.5. Rangkuman Analisis SWOT ... 24
Tabel 1.6. Penguatan Peran PIOM untuk Mendukung Peran BPOM Tahun 2015-2019 ... 28
Tabel 2.1. Indeks Kesetaraan ... 35
Tabel 2.2. Target Rencana Pembangunan Jangka Menengah PIOM... 36
Tabel 3.1. Program, Sasaran Program, Kegiatan Strategis, Sasaran Kegiatan,Indikator di Lingkungan Kesektamaan ... 42
Tabel 4.1 Sasaran Kegiatan dan Indikator Kinerja ... 49
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 v
Daftar Gambar
Halaman Gambar 1 Struktur Organisasi PIOM ... 8 Gambar 2 Diagram Permasalahan dan Isu Strategis, Kondisi Saat Ini dan
Dampaknya ... 14 Gambar 3 Peta Bisnis Proses BPOM ... 26 Gambar 4 Penjabaran Bisnis Proses Utama PIOM di Dalam Mendukung Kegiatan
Badan POM ... 27 Gambar 5 Logic Model Penjabaran Sasaran Program dan Kegiatan PIOM sebagai
Pendukung Kegiatan Kedeoutian dan Kesektamaan BPOM ... 29 Gambar 6 Logic Model Penjabaran Sasaran Program dan Kegiatan PIOM sebagai
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 1
BAB I PENDAHULUAN
I.I Kondisi Umum
Sebagai tindak lanjut dari amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, bahwa perencanaan pembangunan nasional disusun secara periodik meliputi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) untuk jangka waktu 20 tahun, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga untuk jangka waktu 5 tahun, serta rencana pembangunan tahunan yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja K/L).
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 yang ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 memiliki maksud untuk memberikan arah sekaligus menjadi acuan bagi seluruh komponen bangsa (pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha) di dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional. Selanjutnya RPJPN ini dibagi menjadi empat tahapan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN), salah satunya adalah RPJMN 2015-2019 yang merupakan tahap ketiga dari pelaksanaan RPJPN 2005-2025. Sebagai kelanjutan RPJMN tahap kedua, RPJMN 2015-2019 ditujukan untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pada pencapaian daya saing kompetitif perekonomian yang berlandaskan keunggulan sumber daya alam, sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus meningkat.
Sesuai dengan amanat tersebut serta dalam rangka mendukung pencapaian program-program prioritas Pemerintah, BPOM sesuai kewenangan, tugas pokok dan fungsinya menyusun Rencana Strategis (Renstra) yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan serta program dan kegiatan BPOM untuk periode 2015-2019. Penyusunan Renstra BPOM ini berpedoman pada RPJMN Periode 2015-2019. Proses penyusunan Renstra BPOM periode 2015-2019 dilakukan sesuai dengan amanat peraturan perundang-undangan yang berlaku dan hasil evaluasi pencapaian kinerja periode 2010-2014 serta melibatkan pemangku kepentingan yang menjadi mitra BPOM. Renstra BPOM periode 2015-2019 ini diharapkan dapat meningkatkan Kinerja BPOM dibandingkan dengan pencapaian dari periode sebelumnya sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
Penyusunan Renstra BPOM pada RPJMN Periode 2015-2019, juga diikuti oleh Renstra unit teknis dilingkungan Badan POM termasuk Balai Besar/ Balai POM diseluruh Indonesia.
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 2
Pusat Informasi Obat dan Makanan (PIOM) yang merupakan salah satu unit teknis di lingkungan Badan POM Pusat, menyusun renstra pada RPJMN Periode 2015-2019 dengan merujuk pada perkembangan informasi dan kemajuan teknologi saat ini, karena berdasarkan Pengawasan Obat dan Makanan sebagai bagian integral pembangunan kesehatan yang sedang dan akan menghadapi lingkungan strategis sangat dinamis. Globalisasi ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesepakatan-kesepakatan regional mengarah pada implikasi signifikan pada Sistem Pengawasan Obat dan Makanan (SisPOM). Produk obat dan sediaan farmasi lainnya serta makanan akan lebih mudah masuk dan keluar dari satu negara ke negara lainnya tanpa hambatan (barrier) yang berarti. Realitas ini mengharuskan Indonesia memiliki SisPOM yang efektif dan efisien, untuk melindungi kesehatan dan keselamatan seluruh rakyat Indonesia terhadap produk-produk yang berisiko terhadap kesehatan. Pada saat yang sama, SisPOM harus memiliki basis yang kuat agar mampu menjadi penapis terhadap mutu Obat dan Makanan produksi Indonesia yang diekspor ke berbagai negara.
Telah terjadi gelombang tuntutan masyarakat atas transparasi badan publik dan partisipasi publik untuk dilibatkan dalam pembangunan. Bahkan telah menjadi komitmen tinggi presiden RI untuk mewujudkan open government dan memastikan bahwa UU KIP terimplementasi dengan baik, terbuka untuk pers dan masyakarat umum karena merupakan salah satu nilai dalam negara demokrasi. Dalam rangka menjalankan amanat Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), Badan POM sebagai salah satu Kementerian/Lembaga Pemerintah telah melakukan penyusunan standar pelayanan publik di lingkungan Badan POM dalam bentuk Peraturan Kepala Badan POM. Standar Pelayanan Publik Badan POM berhasil merumuskan sebanyak dua puluh dua (22) jenis pelayanan publik yang dapat di akses di Badan POM. Layanan informasi publik dan Layanan pengaduan juga merupakan salah satu bagian dari 22 standar pelayanan publik tersebut.
Selain itu, dengan adanya tuntutan kecepatan respon sekarang ini dari masyarakat sehingga pentingnya SATU DATA yang menjadi tupoksi PIOM di 5 tahun kedepan serta sebagai upaya pelaksanaan amanat Undang-undang KIP, telah dibuat peraturan Kepala Badan POM nomor HK.03.1.23.08.11.07456 TAHUN 2011 tentang Tata Cara Pelayanan Informasi Publik di Lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan dan juga sudah diterbitkan SK Kepala Badan POM nomor HK. 04.1.23.08.11.07457 tahun 2011 tentang Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) di Lingkungan Badan POM serta telah disusunnya SOP Layanan Informasi BPOM, dalam proses bisnis POM-06 yang mengatur mengenai tata cara
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 3
pemberian layanan informasi, kegiatan informasi, publikasi. dan edukasi, layanan perpustakaan dan layanan pengaduan.
Badan POM juga telah menyediakan ruang khusus layanan informasi yang dapat diakses publik yaitu ruang pelayanan informasi di Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) dan Pusat Informasi Obat dan Makanan (PIOM), informasi tersebut juga dapat diakses melalui website Badan POM. Sarana lainnya yang juga sudah disiapkan Badan POM dalam rangka implementasi UU KIP adalah pembangunan gedung Data Center dan persiapan pengembangan ruang pelayanan informasi publik yang terintegrasi dalam format ruang khusus Layanan PPID yang didukung oleh “Contact Center” atau “Call Center” dengan infrastruktur
yang memadai.
I.I.1. Peran PIOM berdasarkan peraturan perundang-undangan
Terkait perlindungan kesehatan masyarakat dari risiko produk obat yang tidak memenuhi syarat, Pusat Informasi Obat dan Makanan (PIOM) memiliki peran strategis, karena berkaitan dengan kebutuhan atau pun tuntutan masyarakat yang menginginkan tersedianya informasi yang tepat, cepat, akurat dan mutakhir melalui dukungan penataan sistem informasi atau sistem informasi manajemen (SIM) pengawasan Obat dan Makanan yang efisien dan efektif di lingkungan Badan POM.
Obat dan Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia, tetapi sekaligus juga memiliki risiko terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat apabila tidak dikelola dengan benar atau penggunaan produk-produk tersebut tidak tepat / disalahgunakan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat sehingga masyarakat mampu membentengi dirinya dari risiko penggunaan produk yang tidak memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan khasiat serta mencegah penyalahgunaan dan penggunaan yang salah obat keras, narkotika, psikotropika, zat adiktif/ rokok dan produk serta bahan berbahaya lainnya secara berkesinambungan dan profesional agar masyarakat mengkonsumsi produk-produk tersebut dengan mutu, keamanan dan khasiat/ kemanfaatan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam rangka meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat dari risiko produk obat yang tidak memenuhi syarat, maka Badan Pengawas Obat dan Makanan menyusun program dan kegiatan dengan lebih mengedepankan upaya perlindungan kepada masyarakat dengan dasar analisis risiko. Risiko keracunan Obat dan Makanan misalnya merupakan hal penting yang perlu dikelola informasinya, karena kejadian keracunan meskipun kecil/jarang
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 4
namun berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat. Keberhasilan peran ini tidak bisa dilepaskan dari peran strategis PIOM dan merupakan bagian dari pelayanan publik yang diberikan Badan POM kepada masyarakat melalui komunikasi, informasi dan edukasi (KIE). Untuk menyelenggarakan peran strategis tersebut, PIOM memiliki 2 (dua) unit layanan informasi yaitu Pusat Informasi Obat Nasional (PIO Nas) dan Sentra Informasi Keracunan Nasional (SIKerNas). PIO Nas adalah unit layanan yang menyediakan akses informasi terstandar (approved label) dari semua obat yang beredar di Indonesia yang telah disetujui oleh Badan POM selaku National Regulatory Authority. PIO Nas juga merupakan rujukan dalam layanan informasi dan konsultasi obat dalam segala aspek penggunaannya.
SIKerNas adalah suatu unit kerja yang secara aktif mencari dan mengumpulkan data informasi keracunan, kemudian menyiapkannya menjadi informasi siap pakai yang teliti, benar dan mutakhir untuk diberikan atau diinformasikan baik kepada kalangan internal Badan POM maupun kepada masyarakat luas, profesional kesehatan serta instansi pemerintah atau swasta yang membutuhkannya.
L
ayanan informasi yang selama ini dilakukan oleh PIOM sudah diintegrasikan dengan seluruh layanan informasi publik di BPOM, melalui layanan ContactCenter Halo BPOM 1500533
.
Penajaman analisis data hasil Survey Baseline Data untuk masukan bagi peningkatan proses internal serta pengembangan strategi komunikasi Badan POM berbasis kebutuhan masyarakat melalui perumusan strategi komunikasi dan pembangunan contact center sebagai perwujudan peningkatan layanan publik Badan POM. Disisi lain, untuk menunjang sistem informasi yang terintegrasi, yang memudahkan dalam pengambilan keputusan, maka PIOM memainkan peran strategis sebagai pengelola TIK untuk mewujudkan berfungsinya Sistem Informasi Manajemen yang terintegrasi secara online. Untuk menjawab kebutuhan adanya tuntutan kecepatan respon maka terdapat pergeseran tupoksi untuk PIOM karena dirasakan pentingnya sistem manajemen data dan informasi yang menghasilkan SATU DATA yang akan menjadi tupoksi PIOM di 5 (lima) tahun kedepan.
Seiring dengan era teknologi informasi saat ini, maka strategi KIE yang dilakukan dan media yang digunakan adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi yang sedang banyak diminati di masyarakat sehingga pendekatannya sesuai dengan apa yang ada di masyarakat. Dengan demikian peran strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan meliputi tugas melaksanakan kegiatan di bidang pelayanan informasi obat, informasi keracunan dan teknologi informasi. Rencana Strategis PIOM tahun 2015-2019 merupakan rencana program dan kegiatan PIOM selama 5 tahun mendatang yang memuat strategi, fokus prioritas serta
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 5
kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan PIOM selama 2015-2019, yang sejalan dan mengacu kepada Renstra Badan POM tahun 2015-2019.
Untuk dapat menyelenggarakan tugas PIOM dalam rangka mendukung tugas BPOM terkait pengawasan Obat dan Makanan secara optimal, maka perlu ditunjang oleh adanya regulasi atau peraturan perundang-undangan yang kuat dalam lingkup Pengawasan Obat dan Makanan. Beberapa regulasi yang penting dan dibutuhkan tersebut sudah cukup memadai, sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pangan.
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. 3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
5. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. 6. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
7. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.
8. Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2008 tentang Penggunaan Sistem Elektronik dalam Kerangka Indonesia
National Single Window.
9. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2008 tentang Penggunaan Sistem Elektronik dalam Kerangka Indonesia National Single Window.
10. Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government.
11. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 02001/SK/KBPOM Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.00.05.21.4231 Tahun 2004;
12. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 14 Tahun 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1714).
13. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.04.1.74.02.14.0859 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.04.1.74.01.13.111 Tahun 2013 Tentang Kebijakan Pengelolaan Keamanan Informasi Data Center Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 6
I.1.2. Struktur Organisasi
Pusat Informasi Obat dan Makanan terdiri dari : a. Bidang Informasi Obat
b. Bidang Informasi Keracunan c. Bidang Teknologi Informasi d. Sub Bagian Tata Usaha
Tugas pokok dan fungsi masing-masing Bidang dan Sub Bagian Tata Usaha adalah sebagai berikut :
Tugas Pokok sebagai berikut:
1. Bidang Informasi Obat mempunyai tugas melaksanakan penyusunan rencana dan program serta evaluasi pelayanan informasi obat
2. Bidang Informasi Keracunan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan rencana dan program serta evaluasi pelayanan informasi keracunan
3. Bidang Teknologi Informasi mempunyai tugas melaksanakan penyusunan rencana dan program serta evaluasi kegiatan teknologi informasi
4. Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis dan administrasi di lingkungan Pusat Informasi Obat dan Makanan
Fungsi sebagai berikut:
1. Bidang Informasi Obat menyelenggarakan fungsi sebagai berikut: a. Penyusunan rencana dan program pelayanan informasi obat b. Pelaksanaan pelayanan informasi obat
c. Pelaksanaan pengolahan data obat
d. Evaluasi dan penyusunan laporan pelayanan informasi obat
2. Bidang Informasi Keracunan menyelenggarakan fungsi sebagai berikut: a. Penyusunan rencana dan program pelayanan informasi keracunan b. Pelaksanaan pelayanan informasi keracunan
c. Pelaksanaan toksikovigilans
d. Evaluasi dan penyusunan laporan pelayanan informasi keracunan
3. Bidang Teknologi Informasi menyelenggarakan fungsi sebagai berikut: a. Penyusunan rencana dan program kegiatan teknologi informasi
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 7
b. Pelaksanaan penyusunan dan pembakuan sistem perangkat keras dan perangkat lunak di lingkungan Badan POM
c. Pelaksanaan penyusunan dan pembakuan program aplikasi dan sistem data di lingkungan Badan POM
d. Evaluasi dan penyusunan laporan kegiatan teknologi informasi
I.1.3. Profil Sumber Daya Manusia
Dalam melaksanakan kegiatan strategisnya, pada tahun 2015 PIOM didukung oleh SDM yang terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) sejumlah 31 (tiga puluh satu) orang dan non PNS (pramubakti) sejumlah 24 (dua puluh empat) orang, dengan rincian sebagai berikut:
1. Golongan IV : 4 orang 2. Golongan III : 25 orang 3. Golongan II : 3 orang 4. Golongan I : 0 orang 5. Pramubakti : 24 orang
Tabel 1.1 Latar Belakang Pendidikan Staf Pusat Informasi Obat dan Makanan (PNS) Jenjang
Pendidikan
Jumlah
Pegawai Keterangan
S2 7 orang Magister Komunikasi (1 orang), Teknologi
Informasi/Komputer (1 orang), Farmasi Klinis (1 orang), Epidemiologi (2 orang), Farmasi-Analisis Pangan (1 orang), Kesehatan Masyarakat (1 orang)
S1 15 orang Apoteker/Sarjana Farmasi (6 orang), Biologi (1orang), Komputer (5 orang), Administrasi Negara (1 orang), Pustakawan (1 orang), Ekonomi/Akutansi (1 orang).
D3 5 orang Manajemen Informatika (3 orang), Analis Farmasi (1 orang), Ilmu Perpustakaan dan Informasi (1 orang)
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 8
Tabel 1.2 Latar Belakang Pendidikan Tenaga Non PNS Pusat Informasi Obat dan Makanan
Jenjang
Pendidikan Jumlah pegawai Keterangan
S1 20 orang Apoteker/Sarjana Farmasi (15 orang), Komputer (2 orang), Teknik Kimia (1 orang), Kesehatan Masyarakat (2 orang)
D3 4 orang Komputer (2 orang), Farmasi (1 orang), Manajemen Industri (1 orang)
Berdasarkan penempatan struktur organisasi terdiri dari : 1. Kepala Pusat : Belum memiliki pejabat definitif
2. Kepala Bidang : 3 orang
3. Kepala Sub Bidang/Sub Bagian : 7 orang
4. Fungsional Umum : 20 orang
5. Fungsional PFM : 1 orang
6. Pramubakti (Pendukung Fungsional Umum dan PFM) : 24 orang
Berdasarkan analisis beban kerja (ABK) yang dilakukan pada tahun 2014, tugas pokok dan fungsi PIOM seharusnya dilakukan oleh 55 orang. Oleh karena itu, PIOM telah memiliki 24 orang Pramubakti untuk melengkapi 31 orang PNS yang tersedia. Berdasarkan ABK, 5 tahun kedepan kebutuhan staf PIOM sebanyak 66 orang.
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 9
Gambar 1. Struktur Organisasi PIOM
I.1.4. Hasil Capaian Kinerja Pusat Informasi Obat dan Makanan Periode Tahun 2010-2014
1. Evaluasi Pencapaian Kinerja dan Sasaran
Tingkat capaian kinerja Pusat Informasi Obat dan Makanan tahun 2010-2014 diilustrasikan dalam Tabel Pencapaian Target 2010 – 2014 sebagai berikut:
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 10
Tabel 1.3. Capaian Kinerja PIOM Tahun 2010 - 2014
Sasaran Indikator
Pencapaian Target Tahun 2010 – 2014
2010 2011 2012 2013 2014 Target Realisas i Target Realisas i Target Realisas i Target Realisas i Target Realisas i Berfungsinya sistem informasi yang terintegrasi dalam pengawasan Obat dan Makanan 1. Persentase tersedianya baseline data pengawasan Obat dan Makanan - - - - 100 100 - - - - 2. Jumlah layanan yang dapat diakses secara online melalui website 10 10,8 12 12 15 15 - - - - 3. Persentase layanan publik elektronik secara online (dihitung terhadap 12 modul aplikasi layanan publik) - - - 41 41 - - 4. Persentase layanan TIK (dihitung terhadap 12 layanan composite yaitu layanan publik online dan layanan TIK internal) - - - 66 66 5. Jumlah informasi Obat dan Makanan yang disusun dan atau disampaikan secara up to date 101 108 600 600 550 556,7 - - - - 6. Persentase informasi Obat dan Makanan yang up to date sesuai lingkungan strategis pengawasan Obat dan Makanan (dihitung dari 750 paket informasi) - - - 80 74,9 85 86
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 11
Pencapaian target sasaran “Berfungsinya sistem informasi yang terintegrasi secara
online dan up to date dalam pengawasan Obat dan Makanan” dengan indikator persentase
informasi Obat dan Makanan yang up to date sesuai lingkungan strategis pengawasan Obat dan Makanan serta persentase layanan publik elektronik secara online. Definisi Operasional (DO) satu satuan informasi, yaitu “sekumpulan informasi up to date sesuai lingkungan strategis BPOM yang disusun dan disampaikan terkait topik tertentu, yang dilakukan pada momen tertentu, melalui suatu jenis media tertentu kepada sasaran/target tertentu, yang dapat berupa: formulasi jawaban permintaan informasi, artikel, monografi, materi presentasi termasuk materi talk show, materi pedoman, materi kajian/analisis, hasil penelusuran pustaka, materi leaflet/poster/spanduk/billboard/iklan layanan masyarakat, peta kasus, deskripsi koleksi pustaka, dan atau materi lain yang sejenis.
Tingkat capaian kinerja Pusat Informasi Obat dan Makanan tahun 2010-2014 seperti pada Tabel 1.3 diatas merupakan sasaran kegiatan yang dibiayai oleh dana APBN tahun 2010-2014. Namun PIOM juga memiliki capaian kinerja yang dibiayai dari dana hibah WHO
(World Health Organization) pada tahun 2010-2011sebesar Rp. 167.715.007,-(seratus enam
puluh tujuh juta tujuh ratus lima belas ribu tujuh rupiah) dan tahun 2014 sebesar Rp. 234.300.000,- (dua ratus tiga puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah) serta dari dana hibah the
Global Fund tahun 2013-2014 sebesar Rp. 2.081.477.776,- (dua miliar delapan puluh satu juta
empat ratus tujuh puluh tujuh ribu tujuh ratus tujuh puluh enam rupiah). Tahun 2015 Anggaran dari WHO sebesar Rp 234.300.000,-.
7. Terpenuhinya layanan perkantoran sebagai penunjang kegiatan Pelayanan Informasi Obat dan Makanan, Informasi Keracunan dan Teknologi Informasi 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 12
Tabel 1.4. Pengukuran Sasaran Kinerja Tahun 2010 - 2014
No. Sasaran Indikator Sasaran
Rencana tingkat capaian (target) Realisasi Persentase Pencapaian Rencana tingkat capaian (target) Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 1 Berfungsinya sistem
informasi yang terintegrasi secara online dan up-to-date dalam pengawasan Obat dan Makanan
1,1 Persentase layanan
TIK (dihitung terhadap 12 layanan composite yaitu layanan publik online dan layanan TIK internal)
66% 66% 100,0%
1,2 Persentase informasi
Obat dan Makanan
yang up to date
sesuai lingkungan strategis pengawasan Obat dan Makanan (dihitung dari 750 paket informasi)
85% 86% 101,1%
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 13
2. Nilai Pencapaian Sasaran (NPS) Tahun 2010 - 2014
Kajian Nilai Pencapaian Sasaran (NPS) pada 5 (lima) tahun periode Renstra Pusat Informasi Obat dan Makanan 2010-2014 dengan rincian sebagai berikut:
Pada tahun 2014, dari 3 indikator sasaran yang ada, rata-rata persentase capaian ketiga indikator tersebut adalah 100,33% dan NPS Pusat Informasi Obat dan Makanan tahun 2014 adalah 100,4%.
Pada tahun 2013, dari 3 indikator sasaran yang ada, rata-rata persentase capaian ketiga indikator tersebut adalah 97,9%. NPS Pusat Informasi Obat dan Makanan tahun 2013 adalah 97,8%.
Pada tahun 2012, dari 4 indikator sasaran yang ada, persentase capaian keempat indikator tersebut adalah 100% atau lebih. NPS Pusat Informasi Obat dan Makanan tahun 2012 adalah 100,24%.
Pada tahun 2011, dari 4 indikator sasaran yang ada, persentase capaian dengan nilai 100% atau lebih dicapai oleh 3 indikator. Satu indikator, yaitu tersedianya baseline data pengawasan Obat dan Makanan belum mencapai sasaran karena terjadi seleksi gagal pada kegiatan Survey Baseline Data Pengawasan Obat dan Makanan sehingga NPS tahun 2011 adalah 65,16%.
Pada tahun 2010 dari 4 indikator sasaran yang ada, persentase capaian dengan nilai 100% atau lebih, NPS Pusat Informasi Obat dan Makanan tahun 2010 adalah 108,5%.
I.1.5 Isu Strategis sesuai dengan Tupoksi dan Kewenangan PIOM
Selama periode 2010-2014, pelaksanaan peran dan fungsi PIOM telah diupayakan secara optimal sesuai dengan target hasil capaian kinerjanya. Namun untuk menjaga konsistensi dan kualitas kinerja, maka upaya tersebut masih perlu dilanjutkan pada rencana kerja PIOM periode 2015-2019. Hal ini disebabkan karena tuntutan publik terhadap sistem elektronik semua bisnis proses dan perubahan sasaran program serta sasaran kegiatan yang diamanatkan BPOM kepada PIOM. Dengan dukungan Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang andal dapat mendukung Sistem Pengawasan Obat dan Makanan (SisPOM) secara keseluruhan interoperabilitas pre maupun post market, untuk kepentingan internal maupun eksternal. Perkembangan globalisasi teknologi informasi yang sangat cepat, serta kebutuhan ataupun tuntutan masyarakat yang menginginkan tersedianya data, informasi yang tepat, cepat, akurat dan mutakhir. selain itu data yang mumpuni akan menunjang pelayanan informasi demi perlindungan dan pemberdayaan kepada masyarakat melalui komunikasi,
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 14 informasi dan edukasi (KIE) tentang Obat dan Makanan. Pengelolaan informasi keracunan yang cepat, tepat dan akurat untuk mencegah, mengatasi dan menyelamatkan jiwa akibat keracunan dengan dilengkapi dengan kajian-kajian strategis untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Dari permasalahan-permasalahan tersebut diatas terdapat beberapa penyebab permasalahan yang sangat strategis dan sangat penting bagi peran PIOM dalam melakukan pembenahan di masa mendatang sehingga diharapkan pencapaian kinerja berikutnya akan lebih optimal. Di bawah ini terdapat diagram yang menunjukkan analisa permasalahan pokok dan isu-isu strategis sesuai dengan tupoksi dan kewenangan adalah sebagai berikut:
PERAN PUSAT INFORMASI OBAT DAN MAKANAN DALAM MENDUKUNG BPOM
Penguatan Kebijakan Teknis Pengawasan (Regulatory System) lebih cepat melalui dukungan pelayanan data,
informasi dan teknologi informasi yang handal
Pembinaan dan Bimbingan kepada pemangku kepentingan lebih efisien
melalui dukungan pelayanan data, informasi dan teknologi informasiyang
handal
Gambar 2. Diagram Permasalahan dan Isu Strategis, Kondisi Saat Ini dan Dampaknya
Berdasarkan kondisi obyektif yang dipaparkan di atas, kapasitas PIOM sebagai salah satu unit teknis di BPOM masih perlu terus dilakukan penguatan secara kelembagaan agar pencapaian kinerja dimasa datang dapat memastikan berjalannya proses pendukung pengawasan Obat dan Makanan yang lebih baik.
Untuk itu, ada 3 (tiga) isu-isu strategis dari permasalahan pokok yang dihadapi BPOM sesuai dengan peran dan kewenangan agar lebih optimal sehingga perlu terus diperkuat dalam
BELUM OPTIMALNYA PERAN PIOM DALAM MENDUKUNG PELAKSANAAAN PENGAWASAN
OBAT DAN MAKANAN
Belum Optimalnya Penguatan Sistem Pengawasan Obat dan
Makanan
Masih terbatasnya Kapasitas Kelembagaan akibat belum
optimalnya kualitas data, informasi dan teknologi
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 15 peningkatan kinerja dimasa yang akan datang, PIOM berperan pada isu nomor 1, 2 dan 3 adalah sebagai berikut :
1. Perlu adanya penguatan sistem dalam pengawasan Obat dan Makanan.
2. Perlu ditingkatkan peningkatan pembinaan dan bimbingan melalui Kerjasama, Komunikasi, Informasi dan Edukasi Publik dalam rangka mendorong kemandirian pelaku usaha dalam memberikan jaminan keamanan Obat dan Makanan serta peningkatan kemitraan dengan pemangku kepentingan.
3. Memperkuat kapasitas kelembagaan BPOM serta meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya.
Untuk memperkuat peran dan kewenangan tersebut secara efektif, PIOM perlu terus melakukan perbaikan.
I.2. POTENSI DAN PERMASALAHAN
Secara garis besar, lingkungan strategis bersifat eksternal yang dihadapi oleh BPOM terdiri atas 2 (dua) isu yaitu kesehatan dan globalisasi. Isu kesehatan yang akan diulas disini adalah Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Sedangkan terkait globalisasi, akan diulas tentang perdagangan bebas, komitmen internasional, post MDGs 2015, perubahan iklim, dan demografi, isu-isu tersebut saling terkait satu dengan yang lain. Adapun lingkungan strategis yang mempengaruhi peran BPOM baik internal maupun eskternal dan secara otomatis hal ini juga akan mempengaruhi peran PIOM adalah sebagai berikut :
1.2.1. Sistem Kesehatan Nasional (SKN)
Upaya pelayanan kesehatan masyarakat diselenggarakan oleh semua pihak (pemerintah, pemerintah daerah, swasta dan masyarakat) melalui peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan, dan pemulihan kesehatan. Hal ini merupakan tantangan kedepan yang akan dihadapi oleh BPOM dalam penyediaan obat-obatan yang aman dan bermutu.
Penjaminan mutu obat tidak terlepas dari kualitas obat tersebut, beberapa permasalahan lainnya juga memerlukan perhatian dalam penjaminan mutu Obat adalah semakin meluasnya penggunaan jamu dan obat-obat tradisional serta pengobatan secara tradisional di masyarakat yang memerlukan peningkatan penelitian ilmiah lebih lanjut. Disamping itu juga munculnya bibit penyakit baru atau bibit penyakit yang dulu pernah ada dan sudah langka kasusnya sekarang, namun kini berjangkit kembali.
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 16 Penyakit ini, baik menular maupun yang tidak menular sebagai akibat dari adanya perubahan iklim secara global, fluktuasi ekonomi, model perdagangan bebas dan kemajuan teknologi maupun transisi dari demografi, juga turut mengubah pola dan gaya hidup dari masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi Obat dan Makanan.
Untuk itu, permasalahan ini menjadi tantangan tersendiri bagi BPOM untuk dapat memberikan informasi yang terkini dan akurat masyarakat dalam mengkonsumsi Obat yang beredar di pasaran. Selain itu, BPOM juga dapat memberikan informasi dan edukasi pada masyarakat untuk memilih secara cerdas produk obat yang aman dan bermutu.
Dalam mendukung SKN, PIOM memiliki peran strategis dengan menyediakan akses teknologi informasi yang handal dan mudah diakses masyarakat dari segala penjuru tanah air dengan berbasiskan web based. Pengembangan strategi komunikasi informasi dan edukasi yang terstandar yang berbasiskan masyarakat, sehingga masyarakat lebih berdaya dalam melindungi diri sendiri dari peredaran Obat dan Makanan yang tidak memenuhi standar. Untuk menjawab kebutuhan adanya tuntutan kecepatan respon maka terdapat pergeseran tupoksi untuk PIOM karena dirasakan pentingnya sistem manajemen data dan informasi yang menghasilkan SATU DATA yang akan menjadi tupoksi PIOM di 5 tahun kedepan.
1.2.2. Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
Implementasi SJSN dapat membawa dampak secara langsung dan tidak langsung terhadap pengawasan Obat dan Makanan. Dampak langsung adalah meningkatnya jumlah permohonan pendaftaran produk obat baik dari dalam maupun luar negeri karena perusahaan/industri obat akan berlomba-lomba menjadi supplier obat untuk program pemerintah tersebut. Selain jumlah obat yang akan diregistrasi, jenis dari obat pun sangat bervariasi. Hal ini, karena adanya demand terhadap obat sebagai salah satu produk yang dibutuhkan. Sementara dampak tidak langsung diasumsikan adalah terjadi peningkatan konsumsi obat baik jumlah dan jenis.
Disamping itu,permintaan sertifikasi dan resertifikasi CPOB juga terjadi peningkatan. Dampak tersebut akan mengakibatkan peran BPOM semakin besar salah satunya adalah mengantisipasi dampak tersebut melalui intensifikasi post market control.
Dengan penerapan SJSN, maka akan banyak industri farmasi yang harus melakukan sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang berlaku 5 (lima) tahun. Sampai dengan tahun 2014, industri farmasi yang melakukan sertifikasi CPOB baru sekitar 207 sarana. Selain itu, dengan meningkatnya variasi obat sebagai implikasi penerapan SJSN, BPOM dituntut harus lebih intensif dalam melaksanakan farmakovigilans utamanya monitoring efek samping obat (MESO).
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 17 Pada penerapan SJSN, PIOM berperan pada pengawasan pre-market melalui dukungan ketersediaan akses teknologi informasi untuk mendukung percepatan proses registrasi secara online. Sedangkan pada pengawasan post market, PIOM berkontribusi dalam aktivitas berbasis masyarakat
(Community based activity) melalui pengembangan strategi komunikasi terkait obat, kegiatan
pemberdayaan masyarakat, dll, sehingga masyarakat menjadi cerdas dalam memilih serta menggunakan Obat dan Makanan. Pengembangan layanan publik satu pintu dengan pembangunan
contact center dan pengembangan media sosial juga memberikan jaminan kemudahan akses kepada
masyarakat untuk mendapatkan informasi yang valid dan kemudahan dalam menyampaikan keluhan atau complaint terkait Obat dan Makanan.
1.2.3. Globalisasi, Perdagangan Bebas dan Komitmen Internasional
Dampak globalisasi telah mengakibatkan Indonesia masuk dalam perjanjian-perjanjian khususnya ekonomi yang menghendaki adanya area perdagangan bebas (free trade area) dimulai dari perjanjian ASEAN-6 (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filiphina,Singapura, dan Thailand)Free Trade Area, ASEAN-China Free Trade Area, ASEAN Japan Comprehensive
Economic Partnership (AJCEP), ASEAN-Korea Free Trade Agreement (AKFTA), ASEAN-India
Free Trade Agreement (AIFTA), ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Agreement
(AANZFTA) memungkinkan negara-negara tersebut membentuk suatu kawasan bebas perdagangan
yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional dan berpeluang besar menjadikan ASEAN basis produksi dunia serta menciptakan pasar regional. Hal ini membuka peluang peningkatan nilai ekonomi sektor barang dan jasa serta memungkinkan sejumlah produk Obat dan Makanan Indonesia akan lebih mudah memasuki pasaran domestik negara-negara yang tergabung dalam perjanjian pasar regional. Dalam menghadapi FTA dan masyarakat ekonomi ASEAN pada 2015 diharapkan industri farmasi dan makanan dalam negeri mampu untuk menjaga daya saing terhadap produk luar negeri.
Perdagangan bebas juga membawa dampak tidak hanya terkait isu-isu ekonomi saja namun juga merambah pada isu-isu kesehatan. Terkait isu kesehatan, masalah yang akan muncul adalah menurunnya derajat kesehatan yang dipicu oleh perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat tanpa diimbangi dengan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan kesehatan. Permasalahan ini akan semakin kompleks dengan sulitnya Pemerintah dalam membuka akses kesehatan yang seluas-luasnya bagi masyarakat khususnya untuk masyarakat yang berada di pelosok desa dan perbatasan. Sebagai contoh, saat ini akses masyarakat untuk mendapatkan obat legal dari apotek masih terbatas sehingga menyebabkan harga obat menjadi lebih mahal. Secara
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 18 nasional, jumlah apotek yang ada masih kurang, belum semua kecamatan terjangkau dengan layanan apotek.
Dalam hal ini diperlukan perkuatan pengawasan pre-market untuk penapisan Obat dan Makanan melalui efisiensi dan efektivitas proses evaluasi Obat dan Makanan sebelum beredar yang dilakukan secara registration online. Efisiensi pada sistem registration online harus diikuti dengan
penguatan post-market berupa perkuatan pengawasan di entry point untuk mengantisipasi
membanjirnya produk import termasuk produk ilegal melalui National Single Window (NSW) secara online melalui e-bpom. Peran PIOM dalam memperkuat pengawasan di pre market maupun
di post market adalah melalui dukungan penataan Sistem Informasi Manajemen (SIM) pengawasan
Obat dan Makanan yang efisien dan efektif di lingkungan Badan POM.
Dwelling time menjadi isu nasional, Presiden RI turut memonitor sistem ekspor dan impor
produk di Pelabuhan Tanjung Priok mengupayakan percepatan dari 5,5 hari akan diturunkan menjadi 4,7 hari. Informasi yang berlimpah ini seharusnya dianalisis terlebih dahulu dari pihak yang kompeten di bidangnya sebelum diakses maupun disampaikan kepada masyarakat. Dalam hal informasi seputar obat, diperlukan analisis profesi apoteker untuk dapat melakukan penilaian terhadap validasi informasi yang tersedia dan memilah informasi yang diperlukan. Adapun dalam hal informasi seputar keracunan dan tata cara penanganannya, diperlukan analisis dari seorang ahli yang memiliki dasar pengetahuan toksikologi yang didukung dengan pengetahuan lain yang terkait. Layanan informasi obat dan layanan informasi keracunan merupakan peluang yang dimiliki oleh Pusat Informasi Obat dan Makanan untuk dikembangkan di masa mendatang dimana kebutuhan masyarakat akan adanya informasi obat dan informasi keracunan yang valid dan terkini akan semakin besar.
1.2.4. Perubahan Ekonomi dan Sosial Masyarakat (Perubahan Pola Hidup Masyarakat)
Kemajuan dari ekonomi Indonesia dapat dilihat dari indikator makro ekonomi yakni pendapatan per kapita sebesar USD 3000 tahun 2010 dan diproyeksikan pada tahun 2025 mencapai USD 14.250–15.500 (Bappenas; 2012) dan telah menjadi 10 (sepuluh) besar negara yang mendominasi kekuatan ekonomi dunia. Indikator ini menunjukan besarnya daya beli yang ada pada masyarakat Indonesia. Secara teori dan fakta bahwa semakin tinggi pendapatan maka semakin besar pula konsumsi masyarakat terhadap Obat dan Makanan yang memiliki standar dan kualitas.
Berdasarkan data konsumsi obat yang dilakukan masyarakat Indonesia sebagian besar penduduk masih banyak yang mengkonsumsi obat modern dibandingkan dengan obat tradisional. Konsumsi obat modern pada tahun 2012 mencapai 91,40% sedangkan obat tradisional hanya
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 19 sebanyak 24,33%. Beberapa penyakit degeneratif yakni penyakit yang dimiliki para kaum lanjut usia justru banyak menggunakan obat-obatan dalam jangka waktu yang relatif lebih lama.
Untuk itu, dengan banyaknya konsumsi obat modern yang dilakukan masyarakat perlu mendapatkan perhatian dari BPOM. Untuk itu PIOM merupakan sebagai salah satu ujung tombak POM-06 pada kegiatan KIE harus siap menyediakan data dan informasi yang valid menjadi public
domain/public goods, juga harus disampaikan dengan akurat tanpa mengurangi maksud dan tujuan
dalam hal perlindungan terhadap kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Dalam SisPOM tiga lapis, sistem pengawasan oleh konsumen dilakukan melalui peningkatan kesadaran dan peningkatan pengetahuan mengenai kualitas produk yang digunakannya dan cara-cara penggunaan produk yang tepat.
1.2.5. Demografi, Perubahan Komposisi Penduduk, Desentralisasi dan Otonomi Daerah
Laporan McKinsey (2012) menunjukkan bahwa kelompok middle class atau consuming class Indonesia naik dari waktu ke waktu, yakni tahun 2010 hanya 45 juta orang, maka proyeksi tahun 2020 naik menjadi 85 juta orang dan pada tahun 2030 sudah mencapai 135 juta orang. Kelompok ini akan banyak mempengaruhi pola konsumsi Obat dan Makanan serta gaya hidup masyarakat Indonesia.
Desentralisasi bidang kesehatan dan komitmen pemerintah belum dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Kerjasama lintas sektor dan dukungan peraturan perundangan merupakan tantangan yang sangat penting. Manajemen kesehatan yang meliputi kebijakan kesehatan, administrasi kesehatan, sistem informasi kesehatan, dan hukum kesehatan yang mencakup perlindungan masyarakat, penegakan dan kesadaran hukum belum sepenuhnya mendukung pembangunan kesehatan. Meskipun sistem informasi kesehatan sangat penting untuk mendukung pembangunan kesehatan, akan tetapi tidak mudah dalam pengembangannya agar berhasil-guna dan berdaya-guna. Desentralisasi di bidang kesehatan belum dapat berjalan sesuai yang diharapkan.
Agar tugas pokok dan fungsi BPOM berjalan dengan baik, diperlukan komitmen yang tinggi, dukungan dan kerjasama yang baik dari para pelaku untuk menghasilkan tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik (sound governance). Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis, berkepastian hukum, terbuka (transparan), rasional, professional, serta bertanggung jawab dan bertanggung gugat (akuntabel). Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggalang kemitraan yang dinamis dan harmonis antara pemerintah pusat dan daerah, antara pemerintah dan masyarakat, termasuk swasta dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki masing-masing. Dengan berlakunya Undang-Undang No 23 Tahun 2014
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 20 tentang Pemerintah Daerah, merupakan tantangan bagi BPOM untuk menyiapkan Norma, Standar, Pedoman dan Kriteria bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan kegiatan terkait Obat dan Makanan yang dilimpahkan ke daerah.
Untuk melindungi masyarakat dari peredaran Obat dan Makanan yang tidak memenuhi standar serta pemberdayaan pengetahuan masyarakat diperlukan peran PIOM untuk tetap melakukan strategi KIE yang berbasis masyarakat dalam rangka menyampaikan informasi Obat dan Makanan serta informasi keracunan yang valid, akurat dan cepat. Penyebaran informasi dapat dilakukan dalam bentuk penyebaran leaflet, poster, buku, kegiatan talkshow serta penyampaian informasi secara masive melalui iklan layanan masyarakat (ILM) di berbagai media elektronik. Strategi komunikasi dan kebijakan SATU DATA menjadi penting untuk menjawab tantangan perubahan akibat adanya desentralisasi dan otonomi daerah, sehingga menuntut adanya perubahan peran PIOM untuk memperkuat peningkatan pelayanan pengolahan data, informasi dan teknologi informasi yang menghasilkan peningkatan kualitas data, informasi dan teknologi informasi
1.2.6. Perkembangan Teknologi
Pasar sediaan farmasi masih didominasi oleh produksi domestik, namun penyediaan bahan baku obat yang diperoleh dari impor mencapai 96% dari kebutuhan. Padahal Indonesia memiliki 9.600 jenis tanaman berpotensi mempunyai efek pengobatan, dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan sebagai bahan baku. Dengan kemajuan teknologi dan besarnya kebutuhan produk obat, BPOM dapat mendorong industri farmasi untuk mengoptimalkan penggunaan bahan baku obat dalam negeri.
Selain teknologi produksi juga didukung dengan teknologi transportasi. Perkembangan industri transportasi baik darat, laut dan udara maupun jasa pengiriman barang mengalami perkembangan yang cukup pesat. Sehingga distribusi Obat dan Makanan secara masal dapat dilakukan lebih efisien. Untuk itu, dampak pengawasan atas peredaran Obat dan Makanan semakin tinggi dikarenakan distribusi obat dan makan ketempat tujuan di seluruh wilayah Indonesia semakin cepat sehingga perlu antipasi pengawasan Obat dan Makanan juga harus sama cepatnya.
Disamping itu, teknologi pangan juga semakin berkembang. Dengan adanya perubahan iklim mendorong berbagai inovasi dari perkembangan IPTEK yang berkembang, menjadikan varian bahan makanan yang sama dapat diproduksi secara berbeda, misalnya melalui rekayasa genetika yang terkadang tingkat keamanannya belum teruji. Hal ini menjadi antispasi BPOM dalam menghadapi hal tersebut.
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 21 Untuk itu, dengan meningkatnya perkembangan teknologi informasi juga dapat menjadi potensi bagi BPOM untuk dapat melakukan pelayanan secara online yang dapat memudahkan akses dan jangkauan masyarakat yang ada di Indonesia. Teknologi informasi juga dapat menjadi tantangan bagi BPOM akan banyaknya pemasaran dan transaksi produk makanan dan obat secara
online. Oleh karena itu diperlukan Pengembangan Sistem Informasi Manajemen (SIM) online
lanjutan bagi dukungan manajemen dan tugas teknisnya, serta pengembagan infrastruktur TIK untuk optimalisasi e-government bisnis proses BPOM dengan dukungan sistem teknologi informasi yang handal, dapat menjamin keamanan pengelolaan data (data security), untuk itu Badan POM telah meraih ISO 27001 tentang kemanan data.
1.2.7. Analisa Terhadap Lingkungan Strategis (Strengths, Weaknesses, Opportunities,
Threats/SWOT)
Sebagaimana dinamika perubahan lingkungan strategis yang telah dijelaskan di atas baik secara internal maupun eksternal, maka BPOM harus melakukan upaya-upaya agar pengaruh lingkungan khususnya eskternal dapat menjadi suatu peluang bukan ancaman yang dapat mempengaruhi Peran BPOM sebagai Lembaga yang bertanggung jawab dalam melakukan pengawasan terhadap Obat dan Makanan.
Atas dasar pengaruh lingkungan strategis tersebut, maka selanjutnya akan menjadi dasar dalam melakukan identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan melalui analisa SWOT sehingga dari analisa tersebut dapat ditetapkan arah strategi dan kebijakan BPOM kedepan agar dapat terwujud tujuan dan sasaran organisasi BPOM dalam Renstra Periode 2015-2019. Adapun pada Unit Kerja PIOM analisa SWOT telah disesuaikan dengan kondisi yang ada, dan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. KEKUATAN (STRENGTHS)
PIOM memiliki kualitas SDM yang cukup memadai khususnya tenaga-tenaga yang terampil dalam melakukan layanan informasi dan teknologi informasi. PIOM memiliki jaringan
(networking) yang kuat dengan unit kerja Badan POM maupun dengan K/L lain serta organisasi
profesi sebagai pijakan untuk percepatan tugas. PIOM menjadi penjuru pengembangan sistem INSW dan pada tahun 2014 memperoleh peringkat I PEGI Lembaga. PIOM selalu memiliki Sistem Manajemen Informasi (SIM) dalam bentuk Sistem Informasi Pengawasan Terpadu (SIPT) dan dukungan Contact Center. Dalam mendorong pencapaian tujuan organisasi Komitmen Pimpinan yang tinggi dalam mendukung pencapaian kinerja PIOM sangat memberikan kontribusi bagi
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 22 pelaksanaan dukungan pelayanan pengelolaan data, informasi dan teknologi informasi dalam pengawasan Obat dan Makanan.
2. KELEMAHAN (WEAKNESSES)
Saat ini SDM PIOM sudah memiliki kualitas yang memadai, namun dari sisi kuantitas SDM belum mencukupi kebutuhan untuk menjalankan tugas dan fungsinya. Sistem manajemen pemerintah menuntut adanya ukuran keberhasilan baik ditingkat organisasi sampai kepada individu. Untuk saat ini, sistem manajemen kinerja belum optimal diterapkan sehingga perlu dilakukan penerapan sistem manajemen kinerja yang lebih efektif dan efisien.
Peran dan kewenangan PIOM juga harus didukung oleh struktur organisasi dan tata kerja yang tepat. Saat ini pembagian kewenangan atau beban kerja masih belum menunjukkan ukuran yang sesuai. Diharapkan penataan sesuai dengan prinsip structure follow function follow strategy
sehingga struktur organisasi dan tata kerja (fungsi) dapat mewujudkan tujuan organisasi.
Perubahan dan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat serta perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi tentang Obat dan Makanan, menuntut adanya perubahan yang cepat dari PIOM pada saat harus merespons kebutuhan dari stakeholder, namun sistem birokrasi yang harus diikuti belum dapat secara optimal mengikuti kecepatan perubahan tersebut. Diperlukan perkuatan perangkatan/infrastruktur TI yang handal support perubahan dan tuntutan jaman.
Kebijakan pengelolaan “SATU DATA” belum dituangkan secara jelas di Badan POM.
3. PELUANG (OPPORTUNITIES)
Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun dalam berbagai sistem kemasyarakatan. SKN dan JKN merupakan bagian dari sistem kemasyarakatan yang dipergunakan sebagai acuan utama dalam mengembangkan perilaku dan lingkungan sehat serta berperan aktif masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan. Untuk itu, SKN dan JKN merupakan tantangan atau peluang bagi PIOM untuk menunjang Badan POM dalam mendorong upaya kesehatan masyarakat yang lebih baik lagi dalam menghadapi pola perilaku dan lingkungan sehat khususnya Obat dan Makanan.
Semakin bertambahnya penduduk dan berkembangnya varian penyakit maka akan mengakibatkan kebutuhan Obat dan Makanan semakin meningkat. Hal ini mendorongindustri Obat dan Makanan akan semakin bertambah jumlahnya dan juga akan semakin berkembang pesat. Hal ini menjadi peluangan dan tantangan BPOM dalam mengawasi Obat dan Makanan yang semakin banyak variannya.
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 23 Untuk melindungi masyarakat dari peredaran Obat dan Makanan yang tidak memenuhi standar serta pemberdayaan pengetahuan masyarakat merupakan peluang PIOM untuk memperkuat perannya dalam melakukan strategi KIE yang berbasis masyarakat dalam rangka menyampaikan informasi Obat dan Makanan serta informasi keracunan yang valid, akurat dan cepat. Penyebaran informasi dapat dilakukan dalam bentuk penyebaran leaflet, poster, buku, kegiatan talkshow serta penyampaian informasi secara masif melalui Iklan Layanan Masyarakat (ILM) di berbagai media elektronik.
Strategi komunikasi dan kebijakan SATU DATA menjadi penting untuk menjawab tantangan perubahan akibat adanya desentralisasi dan otonomi daerah, sehingga memberikan peluang dan tantangan bagi PIOM untuk memperkuat peningkatan pelayanan pengolahan data, informasi dan teknologi informasi yang menghasilkan peningkatan kualitas data, informasi dan teknologi informasi.
4. ANCAMAN (THREATS)
Dengan semakin tumbuhnya perekonomian Indonesia akan mempengaruhi perubahan pola perilaku hidup sosialnya, salah satunya dalam mengkonsumsi Obat dan Makanan. Hal ini menjadi ancaman bagi masyarakat apabila pengunaan Obat dan Makanan tidak diantisipasi dengan pemberian informasi, komunikasi dan edukasi atas penggunaan Obat dan Makanan.
Pengaruh globalisasi dapat menjadi area perdagangan bebas (free trade area) Dengan masuknya produk obat, makanan dan kosmetik termasuk jamu dari negara lain merupakan persoalan krusial yang perlu diantisipasi segera. Realitas menunjukan bahwa saat ini Indonesia telah menjadi pasar bagi produk Obat dan Makanan dari luar negeri yang belum tentu terjamin keamanan dan kualitasnya untuk dikonsumsi. Untuk itu, masyarakat membutuhkan proteksi yang kuat dan rasa aman dalam mengkonsumsi produk Obat dan Makanan.
Presiden RI melakukan monitor langsung pada kinerja Kementrian/Lembaga (K/L) terkait, tingginya dwelling time di Tanjung priok, juga kontribusi dari Badan POM. Perkembangan jumlah penduduk yang sangat cepat dan peningkatan kecepatan arus informasi di dunia digital seperti kondisi saat ini, jika tidak ditata dengan baik akan menjadi potensi ancaman bagi efektifitas keberhasilan strategi komunikasi yang diterapkan community based activity oleh PIOM khususnya dan Badan POM umumnya. Di bawah ini, Tabel 1.3 Rangkuman Analisis SWOT sesuai dengan pengaruh lingkungan strategis dari internal dan eskternal.
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 24
Tabe1 1.5. Rangkuman Analisis SWOT
HASIL PEMBAHASAN (SWOT) Kekuatan
(Strengths)
1. Penjuru INSW 2. Pengakuan PEGI
3. Pelayanan Publik online terintegrasi diakui secara Nasional (
e-goverment BPOM)
4. Networking yang kuat dengan lembaga-lembaga pusat/daerah
5. Tersedia SIM terbatas
6. Tersedia Contact Center melalui SIPT 7. Komitmen Pimpinan
Kelemahan (Weaknesses)
1. Masih terbatasnya jumlah dan kekuatan SDM 2. Belum terintegrasi data pre-market dan post-market
3. Perubahan dan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat belum diikuti dengan sistem birokrasi yang optimal 4. Dukungan perangkat IT yang belum optimal
5. Belum optimalnya struktur organisasi dan tata kerja
Tantangan (Opportunities)
1. Adanya Program Nasional (JKN dan SKN) 2. Perkembangan teknologi yang sangat cepat
3. Jumlah industri Obat dan Makanan yang berkembang pesat 4. Terjalinnya kerjasama dengan instansi terkait
5. Strategi komunikasi dan kebijakan “SATU DATA” 6. Poison Center Indonesia
Ancaman (Threats)
1. Perubahan iklim dunia 2. Lemahnya penegakan hukum 3. Perubahan pola hidup masyarakat
4. Adanya perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Area) 5. Perkembangan jumlah penduduk yang sangat cepat dan
peningkatan kecepatan arus informasi 6. Tingginya dwelling time Tanjung Priok
Berdasarkan hasil analisa SWOT tersebut di atas, maka PIOM untuk mendukung BPOM perlu melakukan penguatan organisasi agar faktor-faktor lingkungan strategis yang mempengaruhi baik dari internal maupun eskternal tidak akan menghambat pencapaian tujuan dan sasaran organisasi BPOM periode 2015-2019. Dilihat dari
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 25 keseimbangan pengaruh lingkungan internal antara kekuatan dan kelemahan serta pengaruh lingkungan eskternal antara peluang dan ancaman. Posisi organisasi BPOM harus melakukan pengembangan dan perluasan organisasi agar dapat mewujudkan visi, misi dan tujuan organisasi BPOM periode 2015-2019.
Untuk itu, dalam melaksanakan peran dan kewenangan yang optimal sesuai dengan peran dan kewenangan BPOM sebagai lembaga yang mengawasi Obat dan Makanan maka diusulkan penguatan peran dan kewenangan PIOM untuk mendukung kegiatan dan bisnis proses BPOM untuk periode 2015-2019 melalui dukungan pengembangan sistem elektronik pelayanan publik Badan POM yang terintegrasi (e-goverment BPOM) termasuk perkuatan infrastruktur teknologi informasi untuk mempermudah dan mendukung elektronisasi semua bisnis proses yang diakukan BPOM diantaranya pengembangan e-registrasi, e-bpom dan peningkatan akses pelayanan Informasi publik melalui Contact Center Halo BPOM 1500533, sebagaimana pada Gambar 4 dan Tabel 1.4.
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 26
Gambar 3.Peta Bisnis Proses BPOM
Pelaku Usaha Masyarakat Pelaku Usaha Masyarakat Pemerintah Pemerintah POM-01
Pengelolaan Perundang-undangan dan Standard
POM-02 Pengawasan Pre-Market POM-03 Pengawasan Post-Market POM-04 Pengelolaan Laboratorium POM-05 Riset dan Pengembangan POM-06 Pelayanan Komunikasi,
Informasi dan Edukasi
POM-07 Teknologi Informasi POM-09 Legal Management POM-08 Human Resource Dev. POM-11 Komunikasi Kemitraan
Dalam & Luar Negeri
POM-12 General Affair
POM-13 Pengadaan Barang & Jasa
POM-10 Perencanaan & Keuangan
POM-14 Organization Management POM-15 Management System Improvement Regulasi Pe ng aju an Re gis tra si Pe ng ad ua n m as ya ra k at Laporan Regulasi/ Standar Nomor Registrasi Pen gawasa n/ Surveila n Komunikasi/Informasi/Edukasi Komunikasi/Informasi/Edukasi Hasil Pe ngawas an Reg ulas i/Standa r Hasil Riset Ge ne ral Su pp ort Regulasi/ Standar Metode Analisis Regulasi/Standar Regulasi/Standar Permintaan Pengujian Permintaan Pengujian Approved Information Pla nnin g & Fin an cial Su pp ort Pla nn ing & F ina nci al Su pp ort Ge ne ral S up po rt Plan ning & F inancial Sup port
Proses Kerja Utama (CORE PROCESS)
Proses Pendukung Utama (DIRECT SUPPORT)
Proses Kerja Perencanaan (PLANNING SUPPORT)
Proses Kerja Perbaikan (IMPROVEMENT SUPPORT)
Nom or R
egis trasi
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 27
Gambar 4. Penjabaran Bisnis Proses Utama PIOM didalam mendukung Kegiatan BPOM
POM-06 Pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi
6.1 Layanan Informasi
6.2
Kehumasan, Publikasi dan Edukasi 6.3
Layanan Perpustakaan 6.4 Layanan Pengaduan
POM-06 Pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi
Semua Unit Kerja Pelaku UsahaMasyarakat/
Permintaan Informasi Pengaduan Informasi Pustaka Hasil Riset Leaflet/Buku/e-book Talkshow/Permintaan Informasi Informasi/ Support System
POM-07 Teknologi Informasi
7.1 Pengembangan TIK
7.2
Pemeliharaan Data, Informasi dan Perangkat Informasi POM-07 Teknologi Informasi
Semua Unit Kerja
Permintaan Perbaikan Hardware & Jaringan Permintaan Pengembangan Aplikasi
Permintaan IT Support Kebijakan TIK
Sistem Aplikasi Penyediaan Hardware & Jaringan
IT Support
Pemasok
Informasi TIK Sistem Operasi
Hardware
Permintaan Pengadaan TIK Pengaduan Hardware
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 28
Tabel 1.6. Penguatan Peran PIOM untuk Mendukung Peran BPOM Tahun 2015-2019
1. Dukungan PIOM melalui pencapaian sasaran kegiatan berfungsinya sistem informasi yang terintegrasi secara online
dan up to date untuk pengawasan Obat dan Makanan dalam bentuk e-government pada aspek :
• Pengawasan (Penilaian) Obat dan Makanan sesuai Standar • Pengawasan Sarana Produksi sesuai standar
• Pengawasan Sarana Distribusi sesuai standar • Sampling dan Pengujian Laboratorium • Penyidikan dan penegakan hukum
• Pengawasan oleh masyarakat melalui community based activity
2. Perkuatan INSW untuk memurunkan dwelling time
Peningkatan kualitas kapasitas
kelembagaan BPOM
3. Dukungan PIOM melalui pencapaian sasaran kegiatan meningkatnya pelayanan pengelolaan data, informasi dan teknologi informasi pada aspek :
• Mendorong kemitraan dan kemandirian pelaku usaha Melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi Publik termasuk Peringatan Publik
• Pengelolaan data dan informasi Obat dan Makanan • Penyebaran Informasi bahaya Obat dan Makanan yang
tidak memenuhi standard
• Dukungan terhadap Poison Center Indonesia
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 29
Gambar 5. Logic model penjabaran sasaran program dan kegiatan PIOM sebagai
pendukung kegiatan Kedeputian dan Kesektamaan BPOM
Pada log frame pusat-pusat seperti gambar 5 diatas, PIOM berperan mendukung meningkatnya kualitas kapasitas kelembagaan BPOM dengan menyediakan akses Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) misalnya pada proses registrasi online, e-bpom, Sistem Informasi Pelaporan Terpadu (SIPT) serta suplai data dan informasi yang akurat, tepat dan terkini dalam rangka perkuatan KIE yang berbasiskan kegiatan masyarakat.
LOG FRAME
(PUSAT-PUSAT DAN INSPEKTORAT)
Menguatnya Sistem Pengawasan Obat dan MakananMenguatnya Sistem Pengawasan Obat dan Makanan
Meningkatnya kualitas kapasitas kelembagaan BPOM
Meningkatnya kualitas Data dan teknologi Informasi Meningkatnya kuantitas dan kualitas investigasi awal dan penyidikan terhadap pelanggaran di bidang Obat dan
Makanan Meningkatnya pengawalan APIP terhadap pengelolaan sumber daya SS SP SK Meningkatnya hasil Riset di bidang pengawasan Obat dan Makanan Meningkatnya kemampuan uji laboratorium pengawasan Obat dan Makanan Sesuai standar Berfungsinya sistem informasi yang terintegrasi secara online dan up to date untuk pengawasan Obat dan Makanan Meningkatnya pelayanan pengelolaan data, informasi dan teknologi informasi Terselenggara nya pengawasan internal yang efektif dan efisien
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 30
BAB II
VISI, MISI, BUDAYA ORGANISASI, TUJUAN DAN SASARAN STRATEGIS
II.1. VISI
Sesuai tugas pokok dan fungsi Pusat Informasi Obat dan Makanan serta melihat latar belakang dan mencermati perubahan-perubahan internal dan eksternal yang ada, maka PIOM tidak memiliki visi khusus, namun demikian visi PIOM merujuk kepada visi BPOM sebagai institusi induk,yaitu :
”Obat dan Makanan Aman Meningkatkan Kesehatan Masyarakat dan Daya Saing Bangsa”
Pernyataan visi BPOM sepenuhnya merupakan komitmen PIOM dalam perannya sebagai pemberi layanan informasi dan unit pendukung Badan POM dalam pengawasan Obat dan Makanan.
Adanya visi merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh segenap pegawai PIOM, sebagai bentuk nyata dari visi tersebut ditetapkanlah misi PIOM yang menggambarkan hal-hal yang seharusnya dilaksanakan.
II.2. MISI
Lebih jauh pernyataan misi PIOM memperlihatkan kebutuhan yang hendak di penuhi oleh organisasi. Misi Pusat Informasi Obat dan Makanan adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan sistem pengawasan Obat dan Makanan berbasis risiko untuk melindungi masyarakat
2. Mendorong kemandirian pelaku usaha dalam memberikan jaminan keamanan Obat dan Makanan serta memperkuat kemitraan dengan pemangku kepentingan
3. Meningkatkan kapasitas kelembagaan BPOM
Misi tersebut disusun dengan mempertimbangkan adanya kebutuhan atau pun tuntutan masyarakat yang menginginkan tersedianya informasi yang tepat, cepat, akurat dan mutakhir; untuk menunjang pelayanan informasi dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat untuk sehat melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) tentang Obat dan Makanan serta mencegah, mengatasi serta menyelamatkan jiwa akibat keracunan.
Rencana Strategis Pusat Informasi Obat dan Makanan 2015-2019 31
II.3. BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi merupakan nilai-nilai luhur yang diyakini dan harus dihayati dan diamalkan oleh seluruh anggota organisasi dalam melaksanakan tugas. Nilai-nilai luhur yang hidup dan tumbuh kembang dalam organisasi menjadi semangat bagi seluruh anggota organisasi dalam berkarsa dan berkarya.
1. PROFESIONAL
Menegakkan profesionalisme dengan integritas, objektivitas, ketekunan dan komitmen yang tinggi
2. INTEGRITAS
Konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan
3. KREDIBILITAS
Dapat dipercaya dan diakui oleh masyarakat luas, nasional dan internasional
4. KERJASAMA TIM
Mengutamakan keterbukaan, saling percaya dan komunikasi yang baik
5. INOVATIF
Mampu melakukan pembaruan dan inovasi-inovasi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi terkini.
6. RESPONSIF/CEPAT TANGGAP
Antisipatif dan responsif dalam mengatasi masalah
II.4. TUJUAN
Tujuan merupakan penjabaran atas implementasi dari pernyataan misi yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 sampai 5 tahun ke depan dengan mempertimbangkan SDM dan kemampuan yang dimiliki.
Agar bisa diukur keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan strategi, setiap tujuan di tetapkan memiliki indikator kerja yang terukur.
Tujuan strategi PIOM 2015-2019 adalah sebagai berikut :
Meningkatnya jaminan Obat dan Makanan aman, bermanfaat dan bermutu dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat, dengan indikator :