Menilik Eksistensi Hukum Organisasi Internasional Bagi
Masyarakat Dunia
Albert Renaldi Tambunan
DATA BUKU
Judul Buku : Hukum Organisasi Internasional
Penulis : Wiwin Yulianingsih, SH, M.Kn & Moch. Firdaus Sholihin, SH
Penerbit : ANDI
Tahun Terbit : 2014
Kota Penerbit : Yogyakarta Bahasa Buku : Indonesia Jumlah Halaman : 258
ISBN Buku : 978-979-29-4298-9
DISKUSI/PEMBAHASAN REVIEW
Umumnya, jika berbicara tentang organisasi internasional, yang kita maksudkan adalah organisasi antarpemerintah (intergovernmental
organization). Walaupun harus diakui bahwa di samping organisasi antarpemerintah, masih dikenal pula organisasi non-pemerintah
(nongovernmental organization [NGO]).
Pada dasarnya Organisasi Internasional merupakan suatu persekutuan negara-negara yang dibentuk dengan persetujuan antara para anggotanya dan mempunyai suatu sistem yang ditetap atau perangkat badan-badan yang tugasnya adalah
untuk mencapai tujuan
kepentingan bersama dengan cara mengadakan kerjasama antara para anggotanya. Organisasi yang dibentuk melalui suatu perjanjian atau instrumen lainnya oleh sedikitnya tiga negara atau lebih sebagai pihak merupakan sebagai satu
dari satu atau beberapa badan. Badan didalam hal ini diartikan sebagai gabungan dari wewenang –wewenang yang berada dibawah satu nama.
Buku yang berjudul Hukum Organisasi Internasional ini merupakan sebuah buku yang menjelaskan tentang hukum internasional, lebih spesifiknya lagi adalah mengenai organisasi internasional.
Didalam buku ini dejelaskan bahwa suatu organisasi internasional biasanya hanya akan dibedakan menurut prinsip yang dianut dalam menentukan keanggotaannya. Prinsip-prinsip dimaksud sebagai berikut:
1. Prinsip universalitas (principle of universality) yang dianut oleh PBB sendiri dan termasuk juga badan-badan khusus PBB dimana keanggotaannya lebh didasrkan pada persamaan kedaulatan negara (sovereign equality of state). Organisasi internasional yang dibentuk berdasarkan prinsip ini tidak akan membedakan besar kecilnya negara sebagai anggota.
2. Prinsip kedekatan wilayah (principle of geographic proximity), dimana keanggotaannya hanya dibatasi pada negara-negara yang berada di wilayah-wilayah tertentu seperti Asia Tenggara (ASEAN);
3. Prinsip selektivitas (principle of selectivity), yang lebih melihat pada latar belakang kesamaan agama, budaya, etnis, pengalaman sejarah dan sesama produsen seperti Liga Arab, OPEC, EU, Persemakmura (commonwealth).
Sejak pertengahan abad ke-17 perkembangan organisasi internasional tidak saja diwujudkan dalam berbagai konferensi internasional yang kemudian melahirkan persetujuan-persetujuan, tetapi lebih dari itu telah melembaga dalam berbagai variasi dari komisi (commission), serikat (union), dewan (council), liga (league), persekutuan (association), perserikatan bangsa-bangsa (united nation), persemakmuran (commonwealth), masyarakat (community), kerjasama (cooperation) dan lain-lain.
Titik perkembangan organisasi internasional dapat dianggap tumbuh sejak kongres Wina 1815 (The Congress of Vienna and the concero of Europe System) yang berhasil mengadakan suatu deklarasi yang antara lain berbunyinya: “It was considered by it’s leading participant as the forerunner of a series of regular consultions among the great power which would serve as board meeting for the Europeans Community of Nations”.
Dari deklarasi tersebut, jelas di ketahui bahwa negara-negara sekutu yang menang perang, sepakat mengadakan pertemuan teratur yang diadakan dalam waktu dekat yang akan datang. Sebagai realisasinya antara tahun 1818-1822 telah diadakan 4 kali kongres “Aix-la-Chapple” di Troppau dan Laibach tahun 1820-1821 dan di Verona tahun 1822. Ide mengadakan pertemuan internasional ini telah membuktikan bahwa negara-negara telah menyadari akan perlunya lembaga permanen untuk menyelenggarakan persetujuan multilateral. Walaupun Aliansi Suci telah bubar, tetapi Congress Concero of Europe ini diadakan sampai timbul Perang Dunia I.
Pada hakekatnya organisasi internasional dapat dikatakan berkembang dengan pesat mulai abad ke-19. Hal ini terutama ditandai dengan adanya kebutuhan akan lembaga permanen yang fungsi menyelesaikan berbagai persoalan yang timbul dari berbagai hubungan internasional yang bersifat politis, hukum, maupun ekonomi dan sosial. Organisasi yang pertama sekali berdiri sebagai realisasi akan kebutuhan baik secara individu maupun kolektif, ialah organisasi swasta internasional (Privat International Union), misalnya”The World Anti Slavery Convention” tahun 1840.
membentuk organisasi internasional, negara-negara melalui organisasi itu akan berusaha untuk mencapai tujuan yang menjadi kepentingan bersama, dan kepentingan ini menyangkut dengan bidang kehidupan internasional yang sangat luas, karena bidang-bidang tersebut menyangkut kepentingan banyak negara, maka diperlukan peraturan internasional (international regulation) agar kehidupan masing-masing negara dapat terjamin.
Di dalam kepustakaan, selain istilah Hukum Organisasi Internasional ( The Law of International Organization) dikenal pula beberapa istilah lain. Henry G. Schermers menggunakan istilah seperti pada judul bukunya yaitu, International Institutional Law yang diterbitkan pada tahun 1980. Sementara itu, D.W. Bowett menulis buku dengan judul The Law of International Institutional yang terbit tahun 1982. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Hukum Organisasi Internasional” oleh Bambang Iriana Djajaatmadja, yang diterbitkan oleh Sinar Grafika tahun 1992. Ada pula istilah The Law of International Constitution. Istilah ini digunakan oleh J.L Brierly dalam bukunya The Law of Nations, An Introduction to the International Law of Peace. Serupa dengan itu, J.G. Starke menyebutkan bidang hukum ini dengan nama International Constitutional Law di dalam bukunya Introduction to International Law.
Sistem hukum internasional selalu berorientasi pada partisipasi pencapaian tujuan bersama melalui penggunaan kekuasaan yang normatif. Subjek-subjek hukum internasional terbagi menjadi dua kategori, yaitu subjek hukum internasinal publik (negara dan organisasi internasional) dan subjek hukum internasional privat (individu dan/atau badan hukum internasional), di mana kedua subjek hukum tersebut memainkan peranan dalam berbagai bidang jalinan kerja sama internasional.
Seiring dengan perkembangan hukum internasional di masyarakat dunia, untuk mengakomodasikan secara formal kepentingan-kepentingan dari pada subjek hukum internasional tersebut (subjek hukum internasional publik) dibentuklah suatu lembaga internasional.
Untuk mempermudah pengkajian yang lebih mendalam mengenai hukum organisasi internasional, buku Hukum Organisasi Internasional hasil karya Wiwin Yulianingsih, SH, M.Kn & Moch. Firdaus Sholihin, SH ini disajikan dengan berbagai macam pembahasan mengenai aspek-aspek dalam hukum organisasi internasional yang sangat mudah dipahami, karena buku ini disajikan beserta landasan teorinya.
Buku ini sangat membantu mahasiswa fakultas hukum sebagai pendamping buku pengantar mata kuliah Hukum Internasional, yang mana mata kuliah tersebut merupakan salah satu mata kuliah yang harus ditempuh seorang mahasiswa fakultas hukum untuk mendapatkan gelar sarjana. Dengan pembahasan yang sangat mendetail tentang hukum dan organisasi internasional ini, pembaca buku ini juga dapat memahami secara mendalam mengenai hukum organisasi internasional.
Berangkat dari bentuk buku, buku ini disajikan dengan tampilan yang sangat menarik, dengan kualitas sampul yang cukup baik, dan kualitas yang baik pula pada setiap lebaran kertasnya, sehingga buku ini dinilai cukup kuat, dan tidak mudah rusak. Kemudian dalam segi pembahasan yang diberikan pada buku ini sangatlah kaya akan ilmu pengetahuan, bagaimana tidak, buku ini terdiri dari 13 bab pembahasan yang saling berkesinambungan dan melengkapi dari setiap bab pembahasan.
sub-bab yang sangat menarik minat untuk membacanya. Di didalam bab 1 ini, buku ini menjelaskan hubungan antara organisasi internasional dengan hukum internasional, subjek hukum internasional, pendukung terbentuknya hukum internasional, forum untuk membicarakan berbagai persoalan yang dihadapi anggotanya, dan alat pemaksa agar hukum internasional dapat ditaati.
Di dalam bab 2 buku ini menjelaskan klasifikasi organisasi internasional, dengan beberapa pembahasan tentang organisasi internasional yang permanen dan tidak permanen, organisasi internasional publik dan privat, klasifikasi yang didasarkan pada keanggotaannya, dan klasifikasi yang didasarkan pada sifat organisasi yang suprasional.
Pada bab 3,4,dan 5 buku ini secara berurut membahas tentang objek dan ruang lingkup bahasan hukum organisasi internasional yang mana terdapat aspek-aspek dalam pembentukan hukum internasional, dan personalitas yuridis organisasi internasional. Kemudian pembahasan berlanjut pada bab 4, yang mengkaji tentang organisasi internasional sebagai salah satu subjek hukum internasional untuk perkembangan hukum internasional. Dan di bab 5 buku ini membahas landasan hukum organisasi internasional.
Kemudian buku ini membahas hubungan eksternal organisasi internasional pada bab 6, yang mana pada bab ini menjelaskan beberapa bentuk hubungan yang dapat dilakukan oleh organisasi internasional, diantaranya seperti hubungan antara organisasi internasional dengan negara, masyarakat, membuat suatu perjanjian, melakukan hubungan diplomatik, hingga penyelengaraan konferensi internasional.
Dalam bab 7 dan 8 buku ini mengajak kita untuk mengenal perserikatan bangsa-bangsa (PBB) yang mana merupakan salah satu organisasi internasional. Pembahasan ini dimulai dari, sejarah terbentuk dan lahirnya PBB, pembahasan mengenai piagam PBB, kemudian pembahasan mengenai peranan dan fungsi PBB, dan yang terakhir pada bab ini, yaitu unsur-unsur PBB. Di dalam kedua bab ini, kita telah dimanjakan dengan sajian materi yang mendalam mengenai perserikatan bangsa-bangsa dari berbagai aspek organisasi internasional tersebut.
Berlanjut pada bab 9 mengenai mahkamah internasional, pada bab ini penulis mengahdirkan banyak sekali pembahasan, dimulai dari sejarah berdirinya mahkamah internasional, statuta dan aturan mahkamah internasional, keanggotaan mahkamah internasional, yuridiksi mahkamah internasional, ajaran para ahli dan keputusan badan internasional, hingga contoh-contoh kasus mahkamah internasional yang disertai dengan putusannya.
Pada bab 10 buku ini membahas organisasi internasional yang berada di wilayah asia tenggara, yaitu ASEAN. Dimulai dari pembahasan mengenai lambang, latar belakang terbentuknya, tujuan, berbagai macam kerja sama, serta hubungan organisasi dengan non pemerintah. Pada bab ini juga terdapat bagian yang menurut saya sangat menarik dan menjadi suatu keunggulan dalam buku ini, yaitu simpulan yang disisipkan oleh penulis mengenai kondisi ASEAN, yaitu sebagai berikut :
1. Dilihat dari kegiatan administrasinya, ASEAN termasuk organisasi antar pemerintah (Inter-governmental organization [IGO]), dimana anggota-anggotanya terdiri atas negara atau pemerintah suatu bangsa.
kawasan asia tenggara, dan tujuan organisasinya berorientasi pada semua sektor. Mempunyai sifat hukum publik, bukan hukum privat. 3. Dilihat dari fungsinya, ASEAN termasuk organisasi administratif
(administrative organization), di mana kegiatannya difokuskan pada kerja sama di semua bidang antar-negara anggota pada khususnya dan negara-negara di dunia pada umumnya demi kepentingan perdamaian umat manusia.
4. Dilihat dari kewenangan kekuasaannya, ASEAN termasuk organisasi kerja sama (cooperative organization), di mana setiap anggota dianggap sederajat dan mempunyai kedaulatan masing-masing.
5. Dalam hal personalitas hukum (legal personality) sebagai organisasi internasional, ASEAN telah berhasil memenuhinya.
Kemudian pada bab 11 buku ini membahas tentang perlengkapan/organ yuridis, yang meliputi pengawasan keputusan, pengawasan kewenangan administratif, penerapan panafsiran, penerapan hukum perdata, beberapa aspek perlengkapan/organ yuridis yang utama dalam lingkup mahkamah internasional PBB, perlengkapan /organ yuridis regional yang utam. Didalam bab ini juga membahas tentang mahkamah adminstrasi dan mahkamah arbritase. Didalam pembahasan tentang mahkamah arbritase juga membahas penyelesaian sengketa investasi dan konvensi eropa untuk penyelesaian sengketa secara damai.
Masih dalam penyelesaian sengketa, pada bab 12 buku ini membahas penyelesaian sengketa dalam GATT dan WTO. Pembahasan pada bab ini diawali dengan GATT/WTO sebagai organisasi perdagangan internasional, kemudian beranjak pada penyelesaian sengketa, prosedur penyelesaian sengketa, hingga Indonesia dan penyelesaian sengketa GATT/WTO. Pada bab ini secara jelas membahas penyelesaian sengketa dengan bebarapa prosedur yang dapat ditempuh oleh para pihak yang bersengketa.
Tiba di bab terakhir dalam buku ini, yaitu bab 13. Bab terakhir dalam buku ini membahas tentang penyelesaian sengketa di setiap organisasi internasional regional yang berbeda-beda. Perlu di garis bawahi, pada bab ini cenderung lebih menampilkan model-model atau tata cara penyelesaian sengketa yang dilakukuan oleh masing-masing organisasi internasional sesuai regional. Kemudian dalam bab ini juga penulis mengajak kita untuk dapat membandingkan dari beberapa penyelesaian sengketa yang dilakukan oleh beberapa organisasi internasional yang berbeda.
Kemudian saya juga menemukan beberapa keunggulan lain dari buku ini, dalam setiap pembahasan buku ini menggunakan pendekatan-pendekatan dan beberapa teori yang sangat membantu pembaca untuk dapat memahami dengan baik isi buku tersebut. Buku ini juga merupakan buku yang memiliki pembahasan yang sangat kaya mengenai hukum organisasi internasional, dimana dari setiap pembahasan yang disajikan tersebut telah mencakup banyak aspek-aspek hukum organisasi internasional yang juga ikut memperkaya bahasan dalam buku ini. Jadi dapat disimpulkan bahwa buku ini sangatlah mendetail dalam pembahasannya mengenai hukum organisasi internasional.
Dibalik beberapa keunggulan yang saya jabarkan, tentunya saya juga menemukan beberapa kekurangan dari buku ini, yaitu buku ini banyak menjelaskan melalui tulisan-tulisan yang berbentuk paragraf, dengan materi yang dikaji sangat banyak, seharusnya buku ini mampu menghadirkan beberapa point-point penting mengenai suatu pembahasan. Karena jika terlalu banyak tulisan yang berbentuk paragraf, pembaca kadang merasa jenuh dan bosan dengan bacaaan tersebut. Kemudian dalam pembahasannya seharusnya penulis lebih memfokuskan kepada pokok pembahasan, didalam buku ini penulis terlalu banyak membahas yang tidak terlalu menjadi pokok pembahasan.
Kekurangan lainnya pada buku ini adalah banyaknya terdapat pembahasan yang berbahasa inggris dan tidak didampingi dengan terjemahan, seperti contoh pada hal 3, D.W.Bowett memberikan definisi sebagai berikut:
“....they were permanent association of governments, or administration, based upon a treaty of a multilateral rather than a bilateral type and with some define criterion of purpose”. Hal ini membuat sebagian pembaca yang kurang mengerti berbahasa inggris sulit untuk memahami pembahasan tersebut, seharusnya penulis juga menyertakan terjemahaan dalam bahasa Indonesia, sehingga dapat dengan mudah dipahami bagi semua pembaca.