• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH BAHASA INDONESIA arab .doc(1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH BAHASA INDONESIA arab .doc(1)"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masa remaja merupakan masa yang penuh dengan gejolak. Pada saat ini perubahan sosial yang begitu cepat (terutama di kota-kota besar), serta sarana serta prasarana komunikasi dan perhubungan sudah sedemikian maju, ditambah lagi adanya kesimpangsiuran norma (keadaan anmie). Kondisi intern dan ekstern remaja yang demikian merupakan kondisi yang sangat rawan dalam perkembangan kejiwaan individu, sehingga sangat rawan juga terhadap timbulnya perilaku menyimpang pada remaja, khususnya dalam bentuk kenakalan remaja.

Dalam perspektif perilaku menyimpang, masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma social yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat

dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah menyimpang.

Untuk mengetahui latar belakang perilaku menyimpang perlu

membedakan adanya perilaku menyimpang yang tidak disengaja dan yang disengaja, diantaranya karena si pelaku kurang memahami aturan-aturan yang ada. Sedangkan perilaku yang menyimpang yang disengaja, bukan karena si pelaku tidak mengetahui aturan. Hal yang relevan untuk

memahami bentuk perilaku tersebut, adalah mengapa seseorang melakukan penyimpangan, sedangkan ia tahu apa yang dilakukan melanggar aturan.

(2)

pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami dorongan untuk melanggar pada situasi tertentu, tetapi mengapa pada kebanyakan orang tidak menjadi kenyataan yang berwujud penyimpangan, sebab orang dianggap normal biasanya dapat menahan diri dari dorongan-dorongan untuk menyimpang.

Masalah sosial perilaku menyimpang tentang Kenakalan Remaja bisa melalui pendekatan individual dan pendekatan sistem. Dalam pendekatan individual melalui pandangan sosialisasi. Berdasarkan pandangan sosialisasi, perilaku akan diidentifikasi sebagai masalah sosial apabila ia tidak berhasil dalam melewati belajar sosial (sosialisasi). Tentang perilaku disorder di kalangan anak dan remaja (Kauffman , 1989 : 6) mengemukakan bahwa perilaku menyimpang juga dapat dilihat sebagai perwujudan dari konteks sosial. Perilaku disorder tidak dapat dilihat secara sederhana sebagai tindakan yang tidak layak, melainkan lebih dari itu harus dilihat sebagai hasil interaksi dari transaksi yang tidak benar antara seseorang dengan lingkungan sosialnya.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apa pengertian dari Kenakalan Remaja? 2. Apa sajakah ciri-ciri pokok kenakalan remaja?

3. Apa sajakah karakteristik atau bentuk-bentuk kenakalan remaja? 4. Apa sajakah faktor – faktor penyebab kenakalan remaja?

(3)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja adalah perbuatan atau tingkah laku yang dilakukan oleh seseorang remaja baik secara sendirian maupun secara kelompok yang bersifat melanggar ketentuan- ketentuan hukum, moral, dan sosial yang berlaku di lingkungan masyarakatnya (Singgih, 1978). Intinya kenakalan remaja adalah perilaku menyimpang dari atau melanggar hukum (Sarwono, 2002:207), dan perilaku melanggar hukum yang dilakukan oleh orang muda yang biasanya dibawah umur 16-18 tahun ( Musen,dkk, 1994:557).

Menurut jansen( dalam Sarwono, 2002:207) kenakalan remaja dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:

a. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, misalnya: perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan dan lain-lain.

b. Kenakalan yang menimbulkan korban materi, misal : perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, perampokan dan lain-lain.

c. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak lain, misal : pelacuran, penyalahgunaan obat.

d. Kenakalan yang melawan status, misal : membolos, minggat dari rumah. Menurut bentuknya, Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan :

1. kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit

(4)

3. kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dll.

2.2 Ciri-Ciri Pokok Kenakalan Remaja :

a) Dalam pengertian kenakalan, harus terlibat adanya perbuatan atau tingkah laku moral.

b) Kenakalan tersebut mempunyai tujuan yang a-sosial yakni dengan perbuatan atau tingakah laku tersebut ia bertentangan dengan nilai atau norma sosial yang ada dilingkungan hidupnya.

c) Kenakalan remaja merupakan kenakalan yang dilakukan oleh mereka yang berumur diantara 13-17 tahun. Mengingat di Indonesia pengertian dewasa selain ditentukan oleh status pernikahan, maka dapat ditambahkan bahwa kenakalan remaja adalah perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh mereka yang berumur anatara 13-17 tahun dan belum menikah.

d) Kenakalan remaja dapat dilakukan oleh seoarang remaja saja, atau dapat juga dilakukan bersama-sama suatu kelompok remaja.

Selain itu, untuk menilai kenakalan remaja hendaknya perlu diperhatikan faktor kesengajaan atau kesadaran dari individu yang bersangkutan. Selama anak atau remaja itu tidak tahu, tidak sadar, dan tidak sengaja melanggar hukum dan tidak tahu pula akan konskuensinya maka ia tidak dapat digolongkan sebagai nakal.

Kenakalan remaja dapat kita golongkan dalam dua kelompok besar, sesuai dengan kaitannya dengan norma hukum, yakni:

a) Kenakalan remaja bersifat a-moral dan a-sosial dan tidak diatur dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan kedalam perbuatan melanggar hukum.

(5)

sedang dialami. Maka akan diperinci lebih lanjut bentuk tingkah laku apakah yang dapat digolongkan dalam kedua kelompok ini.

2.3 Karakteristik atau Bentuk-Bentuk Kenakalan Remaja.

Dari pengumpulan kasus mengenai kenakalan yang dilakuakan oleh remaja dan pengamatan murid disekolah lanjutan maupun mereka yang sudah putus sekolah dapat dilihat adanya gejala :

1. Membohong : memutar – balikkan kenyataan denagn tujuan menipu orang atau menutupi kesalahan.

2. Membolos : pergi meninggalkan sekolah tanpa sepengetahuan pihak sekolah.

3. Kabur : meninggalkan rumah tanpa izin orang tua atau menentang keinginan orang tua.

4. Keluyuran : pergi sendiri maupun berkelompok tanpa tujuan, dan mudah menimbulkan perbuatan iseng yang negatif.

5. Bersenjata tajam : memiliki dan membawa benda yang membahayakan orang lain, sehingga mudah terangsang untuk mempergunakannya. Misalnya: pisau, pistol, pisau silet, krakeling, dan sebagainya.

6. Pergaulan buruk : bergaul dengan teman yang memberi pengaruh buruk, sehingga mudah terjerat dalam perkara yang benar-benar kriminal.

7. Berpesta pora hura-hura : berpesta pora semalam suntuk tanpa pengawasn, sehingga timbul tindakan – tindakan yang kurang bertanggung jawab ( a-moral dan a-sosial).

8. Membaca pornograf : membaca buku-buku cabul, pornografi dan kebiasaan menggunakan bahasa yang tidak sopan, tidak senonoh, seolah-olah menggambarkan kurangnya perhatian dan pendidikan dari orang dewasa.

(6)

10. Melacurkan diri : turut dalam pelacuran atau melacurkan diri baik dengan tujuan kesulitan ekonomi maupun tujuan lainnya.

11. Merusak diri : merusak diri dengan cara mentato tubuhnya, minum-minuman keras, menghisap ganja, pecandu narkoba, sehingga merusak dirinya maupun orang lain. Tampilan urakan, berpakaian tidak pantas juga termasuk tingkah laku merusak diri.

2.4

Faktor Penyebab Kenakalan Remaja

Ulah para remaja yang masih dalam tarap pencarian jati diri sering sekali mengusik ketenangan orang lain. Kenakalan-kenakalan ringan yang

mengganggu ketentraman lingkungan sekitar seperti sering keluar malam dan menghabiskan waktunya hanya untuk hura-hura seperti

minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang, berkelahi, berjudi, dan lain-lainnya itu akan merugikan dirinya sendiri, keluarga, dan orang lain yang ada disekitarnya.

Cukup banyak faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja. Berbagai faktor yang ada tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Berikut ini penjelasannya secara ringkas: 1. Faktor Internal

a. Krisis identitas

Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

b. Kontrol diri yang lemah

Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua

(7)

2. Faktor Eksternal

a. Kurangnya perhatian dari orang tua, serta kurangnya kasih sayang

Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Sedangkan lingkungan sekitar dan sekolah ikut memberikan nuansa pada perkembangan anak. Karena itu baik-buruknya struktur keluarga dan masyarakat sekitar memberikan pengaruh baik atau buruknya pertumbuhan kepribadian anak.

Keadaan lingkungan keluarga yang menjadi sebab timbulnya kenakalan remaja seperti keluarga yang broken-home, rumah tangga yang berantakan disebabkan oleh kematian ayah atau ibunya, keluarga yang diliputi konflik keras, ekonomi keluarga yang kurang, semua itu merupakan sumber yang subur untuk memunculkan delinkuensi remaja.

Dr. Kartini Kartono juga berpendapat bahwasannya faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja antara lain:

1. Anak kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang dan tuntunan

pendidikan orang tua, terutama bimbingan ayah, karena ayah dan ibunya masing–masing sibuk mengurusi permasalahan serta konflik batin sendiri

2. Kebutuhan fisik maupun psikis anak–anak remaja yang tidak terpenuhi, keinginan dan harapan anak–anak tidak bisa tersalur dengan memuaskan, atau tidak mendapatkan kompensasinya

(8)

Maka dengan demikian perhatian dan kasih sayang dari orang tua merupakan suatu dorongan yang berpengaruh dalam kejiwaan seorang remaja dalam membentuk kepribadian serta sikap remaja sehari-hari. Jadi perhatian dan kasih sayang dari orang tua merupakan faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja.

b. Minimnya pemahaman tentang keagamaan

Dalam kehidupan berkeluarga, kurangnya pembinaan agama juga menjadi salah satu faktor terjadinya kenakalan remaja. Dalam pembinaan moral, agama mempunyai peranan yang sangat penting karena nilai-nilai moral yang datangnya dari agama tetap tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat.

Pembinaan moral ataupun agama bagi remaja melalui rumah tangga perlu dilakukan sejak kecil sesuai dengan umurnya karena setiap anak yang dilahirkan belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah, juga belum mengerti mana batas-batas ketentuan moral dalam lingkungannya. Karena itu pembinaan moral pada permulaannya dilakukan di rumah tangga dengan latihan-latihan, nasehat-nasehat yang dipandang baik.

Maka pembinaan moral harus dimulai dari orang tua melalui teladan yang baik berupa hal-hal yang mengarah kepada perbuatan positif, karena apa yang diperoleh dalam rumah tangga remaja akan dibawa ke lingkungan masyarakat. Oleh karena itu pembinaan moral dan agama dalam keluarga penting sekali bagi remaja untuk menyelamatkan mereka dari kenakalan dan merupakan cara untuk mempersiapkan hari depan generasi yang akan

datang, sebab kesalahan dalam pembinaan moral akan berakibat negatif terhadap remaja itu sendiri.

(9)

Kondisi masyarakat sekarang yang sudah begitu mengagungkan ilmu pengetahuan mengakibatkan kaidah-kaidah moral dan tata susila yang dipegang teguh oleh orang-orang dahulu menjadi tertinggal di belakang. Dalam masyarakat yang telah terlalu jauh dari agama, kemerosotan moral orang dewasa sudah lumrah terjadi. Kemerosotan moral, tingkah laku dan perbuatan – perbuatan orang dewasa yang tidak baik menjadi contoh atau tauladan bagi anak-anak dan remaja sehingga berdampak timbulnya

kenakalan remaja.

c. Pengaruh dari lingkungan sekitar,

Pengaruh budaya barat serta pergaulan dengan teman sebayanya yang sering mempengaruhinya untuk mencoba dan akhirnya malah terjerumus ke dalamnya

Lingkungan adalah faktor yang paling mempengaruhi perilaku dan watak remaja. Jika dia hidup dan berkembang di lingkungan yang buruk, moralnya pun akan seperti itu adanya. Sebaliknya jika ia berada di lingkungan yang baik maka ia akan menjadi baik pula.

Di dalam kehidupan bermasyarakat, remaja sering melakukan keonaran dan mengganggu ketentraman masyarakat karena terpengaruh dengan budaya barat atau pergaulan dengan teman sebayanya yang sering

mempengaruhi untuk mencoba. Sebagaimana diketahui bahwa para remaja umumnya sangat senang dengan gaya hidup yang baru tanpa melihat faktor negatifnya, karena anggapan ketinggalan zaman jika tidak mengikutinya.

d. Tempat pendidikan

(10)

bahkan kita telah melihat di media adanya kekerasan antar pelajar yang terjadi di sekolahnya sendiri. Ini adalah bukti bahwa sekolah juga

bertanggung jawab atas kenakalan dan dekadensi moral yang terjadi di negeri ini.

2.5

Akibat-Akibat yang Ditimbulkan Oleh Kenakalan

Remaja

1. Bagi diri remaja itu sendiri

(11)

tersebut tidak memiliki orang yang membimbing dan mengarahkan. 2. Bagi keluarga

Anak merupakan penerus keluarga yang nantinya dapat menjadi tulang punggung keluarga apabila orang tuanya tidak mampu lagi bekerja. Apabila remaja selaku anak dalam keluarga berkelakuan menyimpang dari ajaran agama, akan berakibat terjadi ketidakharmonisan di dalam kekuarga dan putusnya komunikasi antara orang tua dan anak. Tentunya hal ini sangat tidak baik karena dapat mengakibatkan remaja sering keluar malam dan jarang pulang serta menghabiskan waktunya bersama teman-temannya untuk bersenang-senang dengan jalan minum-minuman keras atau mengkonsumsi narkoba. Pada akhirnya keluarga akan merasa malu dan kecewa atas apa yang telah dilakukan oleh remaja. Padahal kesemuanya itu dilakukan remaja hanya untuk melampiaskan rasa kekecewaannya terhadap apa yang terjadi dalam keluarganya.

3. Bagi lingkungan masyarakat

Apabila remaja berbuat kesalahan dalam kehidupan masyarakat, dampaknya akan buruk bagi dirinya dan keluarga. Masyarakat akan menganggap bahwa remaja itu adalah tipe orang yang sering membuat keonaran, mabuk-mabukan ataupun mengganggu ketentraman masyarakat. Mereka dianggap anggota masyarakat yang memiliki moral rusak, dan

pandangan masyarakat tentang sikap remaja tersebut akan jelek. Untuk merubah semuanya menjadi normal kembali membutuhkan waktu yang lama dan hati yang penuh keikhlasan.

2.6 Pihak – Pihak yang Terkait Dengan Penanganan Kenakalan Remaja

Ada beberapa pihak yang terkait dengan penanganan masalah kenakalan remaja. Kenakalan biasanya ditangani langsung oleh orang yang berkepentingan atau pihak yang bersangkutan.

(12)

b) Orang tua / keluarga, misalnya kabur dari rumah dan bergaul dengan orang yang btidak disetujuioleh orang tua.

c) Aparat penegak hukum.

Sekarang terlihat adanya perubahan dalam penanganan kenakalan remaja dengan melibatkan aparatur negara penegak hukum. Kenakalan remaja yang tadinya hanya ditangani oleh orang tua remaja yang bersangkuatan, telah mulai diatur melalui hukum yang telah diberlakukan oleh negara.

Kenakalan yang dianggap melanggar hukum diselesaikan melalui hukum dan acap kali bisa disebut dengan istilah kejahatan. Kejahatan ini dapat diklasifikasikan sesuai dengan berat ringannya pelanggaran kejahatan tersebut, misalnya :

o Perjudian dan segala macam bentuk perjudian yang mempergunakan uang.

o Pencurian dengan kekerasan maupun tanpa kekerasan : pencopetan, perampasan, penjambretan.

o Penggelapan barang.

o Penipuan dan pemalsuan.

o Pelanggaran tata susila, menjual gambar – gambar porno, film porno, maupun pemerkosaan

o Pemalsuan uang dan pemalsuan surat – surat keterangan resmi.

o Tindakan – tindakan anti sosial ; perbuatan yang merugikan milik orang lain.

o Percobaan pembunuhan.

o Menyebabkan kematian orang, turut tersangkut dalam pembunuhan.

o Pengguguran kandungan.

o Penganiayaan berat yang mengakibatkan kematian seseorang.

(13)

2.7 Upaya Penanggulangan Masalah Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja macam apapun mempunyai akibat negatif baik bagi masyarakat umum maupun bagi diri remaja sendiri. Tindakan penangguulangan masalah kenakalan dapat dibagi dalam : (1) Tindakan Preventif, (2) Tindakan Represif, dan (3) Tindakan Kuratif

a. Upaya Preventif

Tindakan preventif yakni segala tindakan yang mencegah timbulnya kenakalan-kenakalan. Tindakan preventif untuk mencegah kenakalan remaja dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

1) Usaha Pencegahan Timbulnya Kenakalan Remaja secara Umum a) Berusaha mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas remaja

b) Mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para remaja. Kesulitan-kesulitan manakah yang biasanya menjadi sebab timbulnya penyaluran dalam bentuk kenakalan

c) Usaha pembinaan remaja, yang meliputi :

 Menguatkan sikap mental remaja supaya mampu menyelesaikan

persoalan yang dihadapinya. Misalnya dengan meserasikan antara aspek rasio dan aspek emosi.

 Memberikan pendidikan bukan hanya dalam penambahan pengeluaran

dan ketrampilan, namun juga pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti dan etika.

 Menyediakan sarana-sarana dan menciptakan suasana yang optimal demi

perkembangan pribadi yang wajar.

 Usaha memperbaiki keadaan lingkungan lingkungan sekitar, keadaan

sosial keluarga, maupun masyarakat di mana terjadi banyak kenakalan remaja.

2) Usaha Pencegahan Timbulnya Kenakalan Remaja Secara Khusus

(14)

para pendidik harus diarahkan terhadap si remaja dengan mengamati, memberikan perhatian khusus, dan mengawasi setiap penyimpangan tingkahlaku remaja di rumah dan di sekolah.

Pemberian bimbingan terhadap para remaja dapat berupa :

a) Pengenalan diri sendiri: menilai diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

b) Penyesuaian diri: mengenal dan menerima tuntutan dan penyesuaian diri dengan tuntutan tersebut.

c) Orientasi diri: mrngarahkan pribadi remaja ke arah pembatasan antara diri pribadi dan sikap sosial dengan penekanan pada penyadaran nilai-nilai sosial, moral dan etik.

Bimbingan dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu :

 Pendekatan langsung, yakni bimbingan yang diberikan secara pribadi

pada si remaja itu sendiri. Melalui percakapan mengungkapkan kesulitan si remaja dan membantu mengatasinya

 Pendekatan melelui kelompok dimana ia sudah merupakan anggota

kumpulan atau kelompok kecil tersebut :

 Memberikan wejangan secara umum dengan harapan dapat bermanfaat

 Memperkuat motivasi atau dorongan untuk bertingkahlaku baik dan

merangsang hubungan sosial dengan baik

 Mengadakan kelompok diskusi dengan memberikan kesempatan

mengemukakan pandangan dan pendapat para remaja dan memberikan pengarahan yang positif

 Dengan melakukan permainan bersama dan bekerja dalam kelompok

dipupuk solidaritas dan persekutuan dengan Pembimbing. b. Upaya Represif

Usaha menindakpelanggaran norma-norma sosial dan moral dapat dilakukan dengan mengadakan hukuman terhadap setiap pelanggaran.

(15)

adanya semacam hukuman yang dibuat orang tua terhadap pelanggaran tata tertib dan tata cara keluarga. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa pelaksanaan tata tertib dan tata cara keluarga harus dilakukan dengan konsisten. Setiap pelanggaran yang sama harus dikenakan sanksi yang sama. Sedangkan hak dan kewajiban anggota mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan umur. Seorang anak yang berumur 7 tahun sudah harus berada di dalam rumah sebelum maghrib. Seorang remaja mungkin saja pada waktu senja masih berada dalam perjalanan pulang ke rumah setelah mengikuti aktivitas ekstrakurikuler. Sedangkan seorang remaja lanjut pada waktu senja masih dalam perjalanan menuju kursus bahasa misalnya.

2) Di sekolah dan lingkungan sekolah, maka kepala sekolah dan guru yang berwenang dalam melaksanakan hukuman terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Misalnya : Dalam pelanggaran tata tertib kelas dan peraturan yang berlaku untuk pengendalian suasana pada waktu ulangan atau ujian. Akan tetapi hukuman yang berat seperti “skorsing” maupun pengeluaran dari sekolah merupakan wewenang kepala sekolah. Guru dan staf pembimbing bertugas menyampaikan data mengenai pelanggaran maupun akibatnya. Pada umumnya tindakan represif diberikan dalam bentuk memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis kepada pelajar maupun orang tua, melakukan pengawasan khusus oleh kepala sekolah dan tim guru atau pembimbing dan melarang bersekolah untuk sementara atau seterusnya tergantung dari macam pelanggran tata tertib sekolah yang telah digariskan. c. Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi

Tindakan kuratif dan rehabilitasi, dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya dilaksanakan dan dianggap mengubah tingkah laku si pelanggar remaja itu dengan memberikan pendidikan lagi. Pendidikan diulangi melalui pembinaan secara khusus, hal mana sering ditanggulangi oleh lembaga khusus meupun perorangan yang ahli dalam bidang ini.

(16)

kepribadian yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan akan menjadi orang dewasa yang berpribadi kuat, sehat badani dan rohani, teguh dalam kepercayaan dan iman sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari materi yang telah kami buat, dapat kami simpulkan sebagai berikut: Kenakalan remaja adalah perbuatan atau tingkahlaku yang dilakukan oleh seorang remaja baik secara sendirian maupun secara kelompok yang bersifat melanggar ketentuan – ketentuan hukum, moral, dan sosial yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Tingkah laku yang termasuk kenakalan remaja dapat berpengaruh negatif terhadap diri remaja, keluarganya, maupun masyarakatnya. Kenakalan remaja dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu, pertama, kenakalan remaja yang bersifat a-sosial dan a-moral yang belum diatur dalam hukum negara, dan kedua, kenakalan remaja yang bersifat pelanggaran hukum dan sudah diatur dalam hukum negara.

Bentuk – bentuk kenakalan remaja dapat dilihat dengan adanya gejala: berbohong, membolos, kabur, keluyuran, bersenjata tajam, pergaulan buruk, suka hura – hura, pesta pora yang sia – sia, membaca pornografi, mengkompas, melacurkan diri, dan bentuk – bentuk kenakalan remaja yang menjurus pada tindak kejahatan. Bentuk kenakalan remaja yang termasuk dalam tindak kejahatan diselesaikan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

(17)

berasal dari luar remaja, seperti: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Penanggulangan masalah kenakalan remaja dapat dilakukan dengan cara: (1) Tindakan preventif, (2) Tindakan represif, dan (3) tindakan kuratif dan rehabilitatif. Tindakan preventif dilakukan dengan cara memberikan pembinaan dan pendidikan mental secara cukup pada remaja agar ia dapat berlaku, bijak, bajik, dan bermoral.

3.2 Saran

Bagi Orang Tua

Sebaiknya orang tua lebih memperhatikan anaknya. Serta memberi pengarahan tentang cara bergaul. Orang tua harus bisa menjadi teman, agar anak dapat terbuka dan anak dapat menjadikan orang tua sebagai seorang sahabat terpercaya.

Para Pendidik (Guru)

Memberi gambaran bahwa, cukup banyak permasalahan tentang salah pergaulan yang timbul diantara remaja. Oleh sebab itu konsultasi dan penyuluhan tentang pergaulan yang baik dan benar sangat diperlukan, dan kegiatan ini dapat berjalan dengan bantuan seorang guru.

Para Remaja

Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana remaja dapat menempatkan dirinya sebagai remaja yang baik dan benar sesuai tuntutan dan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Agar kita dapat menjadi remaja yang baik dan agar kita bisa menciptakan Negara dan bangsa yang sukses.

(18)

Bagi masyarakat umum hendaknya ikut berpartisipasi guna pencegahannya. Apabila melihat hal-hal yang tidak wajar yang dilakukan oleh para remaja segera laporkan ke penegak hukum setempat agar diberi penyuluhan dan pengarahan.

PENUTUP

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.

Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah dikesempatan berikutnya .

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait

Dalam suatu keluarga apabila salah satu orangtua meninggal baik, bapak atau ibu sudah tidak ada lagi sedangkan anak tersebut belum dewasa dalam susunan masyarakat parental maka

Jika karena kondisi ekonomi keluarga yang kurang mendukung menjadi faktor anak turun ke jalanan untuk bekerja membantu orang tuanya, maka pembinaan terhadap keluarga yang

Pertumbuhan fisik yang terjadi pada remaja mengakibatkan remaja mengalami kebingungan akan identitas dirinya, satu hal yang pasti tentang aspek-aspek psikologis dari perubahan

Jika kata kerja di dalam bentuk Present Continuous Tense melukiskan perasaan seperti dislike, like, want dan lain-lain, maka tidak boleh ditambahkan

Banyak sekali manfaat yang kita peroleh dari tumbuhan yang sangat kecil ini, diantaranya adalah: Mencegah Kanker Proses menjadi tauge telah menguraikan 90 persen

Dengan demikian, yang dimaksud dengan anak berada di dalam lingkungan masyarakat, apabila anak itu tidak berada di bawah pengawasan orang tua atau anggota keluarga yang lain, dan

Tempat pengasuhan anak (taman inderia) adalah; fasilitas yang di mana di dalam keluarga yang orang tuanya bekerja dan mempunyai alasan karena sakit, dan disiang hari merasa

Jadi, yah, siang yang panas ini aku harus mengantar pesanan emak.Emak adalah tulang punggung keluarga, kalau tidak ada emak mungkin aku tidak bisa merasakan nikmatnya sekolah, belajar,