• Tidak ada hasil yang ditemukan

Etika Profesi Pustakawan Profesional dal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Etika Profesi Pustakawan Profesional dal"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS KELOMPOK II (REVISI) MAKALAH

“Etika Profesi Pustakawan Profesional dalam UU Perpustakaan UU No 43 Tahun 2007”

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Etika Profesi dan Aspek Hukum Informasi

Dosen:

Dr.Dra.Hj.Ninis Agustini Damayani, M.Lib

Di susun oleh:

Tiara Desyanti Raharja 210210120056

Nilawati Dewi Asmawi Putri 210210120061

Risa Aprilia Wahyudi 210210120071

DEPARTEMEN ILMU INFORMASI DAN PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

(2)

DAFTAR ISI

(3)

A. Undang-undang Republik Indonesia nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan

Latar belakang lahirnya UU No.43 tahun 2007 diantaranya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat mengembangkan potensi masyarakat agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional; sebagai salah satu upaya untuk memajukan kebudayaan nasional, perpustakaan merupakan wahana pelestarian kekayaan budaya bangsa; dalam rangka meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa, perlu ditumbuhkan budaya gemar membaca melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi yang berupa karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam serta ketentuan yang berkaitan dengan penyelenggaraan perpustakaan masih bersifat parsial dalam berbagai peraturan sehingga perlu diatur secara komprehensif dalam suatu undang-undang tersendiri;

(4)

dua pasal yang membahas batas waktu pembuatan peraturan perundang-undangan dan pengesahan undang-undang nomor 43 tahun 2007 perpustakaan.

Undang-undang ini menyebutkan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku. Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan. Pembentukan perpustakaan harus memenuhi syarat perpustakaan yaitu memiliki koleksi perpustakaan, tenaga perpustakaan, sarana dan prasarana perpustakaan, sumber pendanaan, dan memberitahukan keberadaannya ke Perpustakaan Nasional. Penyelenggaraan perpustakaan harus sesuai standar nasional perpustakaan. Standar nasional perpustakaan terdiri atas standar koleksi perpustakaan, sarana dan prasarana, pelayanan perpustakaan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan dan pengelolaan. Perpustakaan memiliki beberapa jenis-jenis perpustakaan yaitu perpustakaan nasional, umum, khusus, sekolah, dan perguruan tinggi. Pengguna perorangan, kelompok orang, masyarakat, dan lembaga yang menggunakan jasa dan fasilitas perpustakaan disebut sebagai pemustaka.

Masyarakat berhak atas layanan dan memanfaatkan fasilitas perpustakaan, mengusulkan keanggotaan Dewan Perpustakaan, mendirikan perpustakaan, dan berperan serta dalam pengawasan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan perpustakaan. Masyarakat terpencil atau terisolasi berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus. Masyarakat yang memiliki cacat atau kelainan fisik, emosional, mental, intelektual atau sosial berhak memperoleh layanan perpustakaan yang disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan masing-masing. Masyarakat berkewajiban untuk menjaga kelestarian koleksi perpustaakaan dan sumber daya perpustakaan di lingkungannya, mendukung upaya penyediaan fasilitas layanan perpustakaan di lingkungannya, mematuhi seluruh ketentuan dan peraturan perpustakaan, dan menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan lingkungan perpustakaan. Masyarakat juga berkewajiban untuk menyimpan, merawat dan melestarikan naskah kuno yang dimilikinya dan mendaftarkannya ke Perpustakaan Nasional.

(5)

pengembangan semua jenis perpustakaan sesuai lingkupnya, mengatur, mengawasi dan mengevaluasi penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sesuai dengan lingkupnya, dan mengalihmediakan naskah kuno yang dimiliki oleh masyarakat untuk dilestarikan dan didayagunakan.

Tenaga perpustakaan terdiri atas pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan. Pustakawan harus memenuhi kualifikasi sesuai dengan standar nasional perpustakaan. Tugas tenaga teknis dapat dirangkap oleh pustakawan sesuai dengan kondisi perpustakaan yang bersangkutan. Tenaga perpustakaan berhak atas penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial, pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas, dan kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana dan fasilitas perpustakaan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. Tenaga perpustakan memiliki kewajiban memberikan layanan prima terhadap pemustaka, menciptakan suasana perpustakaan yang kondusif, memberikan keteladanan, dan menjaga nama baik lembaga.

Pustakawan harus membentuk organisasi profesi dan setiap pustakawan menjadi anggota organisasi profesi. Organisasi profesi berfungsi untuk memajukan dan memberi perlindungan profesi kepada pustakawan. Organisasi profesi berwenang untuk menetapkan dan melaksanakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, menetapkan dan menegakkan kode etik pustakawan, memberi perlindungan hukum kepada pustakawan, dan menjalin kerja sama dengan asosiasi pustakawan tingkat daerah, nasional, dan internasional.

Semua lembaga penyelenggara perpustakaan yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana yang diatur oleh undang-undang ini dikenakan sanksi administratif. Sanksi administratif diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Semua peraturan undang-undang yang diperlukan untuk melaksanakan undang-undang-undang-undang tersebut harus diselesaikan paling lambat dua tahun terhitung sejak berlakunya undang-undang ini.

(6)

Pustakawan juga diberikan jaminan untuk meningkatkan kualitas. Taraf hidup pustakawan juga terjamin dalam undang-undang perpustakaan. Masyarakat atau pemustaka juga terjamin akan ketersediaan informasi. Proses pembelajaran sepanjang hayat bisa terwujud dengan adanya jaminan terselenggaranya perpustakaan. Sehingga penyediaan informasi yang dibutuhkan pemustaka dapat berjalan dengan baik. Pada intinya manfaat dari undang-undang perpustakaan adalah pemerintah dan masyarakat dapat tersadarkan akan pentingnya perpustakaan dan menjadikan perpustakaan sebagai pusat penyedia informasi.

Berdasarkan manfaat undang-undang perpustakaan, kelebihan undang-undang perpustakaan adalah telah mengatur cukup lengkap berbagai hal yang menyangkut pengembangan perpustakaan, anggaran perpustakaan, posisi pustakawan, jaminan taraf hidup pustakawan dan keterlibatan masyarakat serta tanggung jawab pemerintah dalam proses mencerdaskan kehidupan berbangsa seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945. Dengan undang-undang perpustakaan, maka, segala aturan dan ketentuan selama ini yang berkaitan dengan penyelenggaraan perpustakaan yang masih bersifat parsial sudah diatur secara lebih komprehensif dalam undang-undang perpustakaan

Namun pasti ada saja kekurangan dalam undang ini. Semisal, undang-undang ini adalah masih belum jelasnya berapa anggaran yang harus dikeluarkan oleh perguruan tinggi untuk perpustakaan. Perpustakaan sekolah/madrasah juga belum diatur siapa yang bisa menjadi kepala perpustakaannya. Penyelenggara perpustakaan khusus tidak dijelaskan dalam undang-undang ini. Perpustakaan digital juga tidak begitu dibahas dalam undang-undang ini.

Dalam UU no 43 tahun 2007 terutama dalam bab VIII mengenai tenaga perpustakaan, pendidikan, dan organisasi profesi perpustakaan Menjabarkan

Pasal 29

(1) Tenaga perpustakaan terdiri atas pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan.

(2) Pustakawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kualifikasi sesuai dengan standar nasional perpustakaan.

(3) Tugas tenaga teknis perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dirangkap oleh pustakawan sesuai dengan kondisi perpustakaan

yang bersangkutan.

(7)

berstatus pegawai negeri sipil dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5) Ketentuan mengenai tugas, tanggung jawab, pengangkatan, pembinaan, promosi, pemindahan tugas, dan pemberhentian tenaga perpustakaan yang

berstatus nonpegawai negeri sipil dilakukan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh penyelenggara perpustakaan yang bersangkutan.

Pasal 30

Perpustakaan Nasional, perpustakaan umum Pemerintah, perpustakaan umum provinsi, perpustakaan umum kabupaten/kota, dan perpustakaan perguruan tinggi dipimpin oleh pustakawan atau oleh tenaga ahli dalam bidang perpustakaan.

Pasal 31

Tenaga perpustakaan berhak atas:

a. penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial; b. pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas; dan

c. kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas perpustakaan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.

Pasal 32

Tenaga perpustakaan berkewajiban:

a. memberikan layanan prima terhadap pemustaka; b. menciptakan suasana perpustakaan yang kondusif; dan

c. memberikan keteladanan dan menjaga nama baik lembaga dan kedudukannya sesuai

(2) Pendidikan untuk pembinaan dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui pendidikan formal dan/atau nonformal.

(8)

Bagian Ketiga Organisasi Profesi Pasal 34

(1) Pustakawan membentuk organisasi profesi.

(2) Organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi untuk memajukan dan memberi pelindungan profesi kepada pustakawan.

(3) Setiap pustakawan menjadi anggota organisasi profesi.

(4) Pembinaan dan pengembangan organisasi profesi pustakawan difasilitasi oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

Pasal 35

Organisasi profesi pustakawan mempunyai kewenangan:

a. menetapkan dan melaksanakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga; b. menetapkan dan menegakkan kode etik pustakawan;

c. memberi pelindungan hukum kepada pustakawan; dan

d. menjalin kerja sama dengan asosiasi pustakawan pada tingkat daerah, nasional, dan internasional.

Pasal 36

(1) Kode etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf b berupa norma atau aturan yang harus dipatuhi oleh setiap pustakawan untuk menjaga kehormatan, martabat, citra, dan profesionalitas.

(2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat secara spesifik sanksi pelanggaran kode etik dan mekanisme penegakan kode etik.

Pasal 37

(1) Penegakan kode etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2) dilaksanakan oleh Majelis Kehormatan Pustakawan yang dibentuk oleh

organisasi profesi.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai organisasi profesi pustakawan diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.1

(9)

B. Profesi Pustakawan Profesional

Pustakawan diakui sebagai suatu jabatan profesi dan sejajar dengan profesi-profesi lain seperti profesi peneliti, guru, dosen, dokter dan lain-lain. Profesi secara umum diartikan sebagai pekerjaan. Menurut Sulistyo-Basuki (1991) ada beberapa ciri dari suatu profesi seperti (1) adanya sebuah asosiasi atau organisasi keahlian, (2) terdapat pola pendidikan yang jelas, (3) adanya kode etik profesi, (4) berorientasi pada jasa, (5) adanya tingkat kemandirian. Karena pustakawan merupakan suatu profesi, maka untuk menjadi pustakawan seseorang harus tunduk kepada ciri-ciri profesi tersebut.

Menurut Abraham Flexner yang dikutip Wirawan (1993) profesi paling tidak harus memenuhi 5 persyaratan sbb:

(1) profesi itu merupakan pekerjaan intelektual, maksudnya menggunakan intelegensia yang bebas yang diterapkan pada problem dengan tujuan untuk memahaminya dan menguasainya;

(2) Profesi merupakan pekerjaan saintifik berdasarkan pengetahuan yang berasal dari sains;

(3) Profesi merupakan pekerjaan praktikal, artinya bukan melulu teori akademik tetapi dapat diterapkan dan dipraktekkan;

(4) Profesi terorganisasi secara sistematis. Ada standar cara melaksanakannya dan mempunyai tolok ukur hasilnya;

(5) Profesi-profesi merupakan pekerjaan altruisme yang berorientasi kepada masyarakat yang dilayaninya bukan kepada diri profesionalisme. Sedangkan profesionalisme menunjukkan ide, aliran, isme yang bertujuan mengembangkan profesi, agar profesi dilaksanakan oleh profesional dengan mengacu kepada norma-norma, standar dan kode etik serta memberikan layanan terbaik kepada klien.2

(10)

Profesionalisme pustakawan mengandung arti pelaksanaan kegiatan perpustakaan didasarkan pada keahlian dan tanggung jawab. Keahlian merupakan dasar untuk membuahkan hasil kerja yang tidak sembarang orang dapat melakukannya. Dengan keahlian tersebut pustakawan diharapkan mampu memecahkan masalah yang tak dapat dipecahkan orang lain. Tanggung jawab pustakawan tak sekedar melakukan tugas-tugas rutin berkaitan dengan buku, namun juga kegiatan bermutu yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan sesuai prosedur kerja. Kompetensi profesi sangat erat hubungannya dengan hasil kerja pribadi pustakawan yang bersangkutan. Kompetensi profesi pustakawan dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu kompetensi professional dan kompetensi individual (UU RI No.43, 2007). Hal ini memerlukan adanya usaha yang dapat mempercepat peningkatan karir Jabatan Fungsional Pustakawan (JPF).3

Kemampuan pustakawan untuk hidup sejahtera. Ini berkaitan dengan hidup yang cerdas seperti dimaksud dalam Peraturan Undang-Undang Dasar Negara kita. Hidup yang cerdas bukan hanya manusia nya saja yang cerdas. Karena cerdas dan licik hanya dipisahkan oleh benang tipis saja, perlu adanya lebih kesadaran akan hakekat manusia sebagai ciptaan tertinggi yang memiliki akal budi yang luhur. Di sini terletak peran etika profesi. (Sudarsono, 2009)

Salah satu ciri profesi adalah adanya kode etik. Kode etik ini mengatur hubungan antar tenaga profesional dengan klien atau rekanan. Pustakawan sudah memiliki kode etik yang memberikan rambu-rambu etika ketika pustakawan melayani penggunanya. Dalam kode etik pustakawan dicantumkan kewajiban-kewajiban pustakawan didalam menjalankan tugas profesinya sebagai pustakawan. Kewajiban-kewajiban tersebut dibagi menjadi (1) kewajiban umum; (2) kewajiban kepada organisasi dan profesi; (3) kewajiban antar sesama pustakawan dan (4) kewajiban terhadap diri sendiri.

Etika profesi ini sifatnya mengikat bagi profesi pustakawan. Namun sayangnya belum pernah ada kasus pustakawan yang diberi sanksi jika yang bersangkutan melanggar etika profesi. Hal ini karena kode etik ini memang belum disertai dengan sanksi. Pada profesi lain, seperti dokter misalnya, jika ada anggota yang melanggar etika profesi akan mendapatkan sanksi seperti pencabutan ijin praktek dan sebagainya.4

3 http://eprints.rclis.org/8879/1/prof-profesi.pdf

(11)

C. Implementasi undang-undang no 43 tahun 2007 tentang perpustakaan terhadap profesi pustawakan profesional

UU Perpustakaan memberikan batasan pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Dengan demikian dua hal yang menjadi kriteria dasar seorang pustakawan adalah, Yang bersangkutan telah menempuh pendidikan kepustakawanan dan memiliki tugas dan tanggung jawab dalam bidang perpustakaan. Dengan demikian pasal 29 ayat 1 dan 2 menyatakan :

1. Tenaga perpustakaan terdiri atas pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan 2. Pustakawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kualifikasi

sesuai dengan standar nasional perpustakaan.

Pasal 33 menyatakan hak pustakawan antara lain adalah penghasilan diatas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial, serta pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas. Dengan demikian peningkatan kemampuan dan kesejahteraan pustakawan jelas menjadi amanat yang harus dilaksanakan oleh pustakawan. Organisasi pustakawan dapat menjadi wadah pustakawan berupaya mewujudkan kemampuan dan kesejahteraan.

Membangun organisasi pustakawan adalah amanat dari UU Perpustakan hal ini jelas diatur dalam pasal 34 ayat (1) sampai dengan (3) yang menyatakan :

1. Pustakawan membentuk organisasi profesi

2. Organisasi profesi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) berfungsi untuk memajukan dan memberi perlindungan profesi kepada pustakawan

3. Setiap pustakawan menjadi anggota organisasi profesi.

Dunia internasional sangat cepat menerapkan TIK dalam perpustakaan. Dapat disebut isu internasional yang perlu diperhatikan. Isu tersebut anatara lain adalah Perkembangan :

a. Konsep fisik perpustakaan dari book centered menjadi human centered

b. Konsep menejemen buku menjadi menejemen informasi menuju menejemen pengetahuan

(12)

d. Konsep layanan dari right information for the right persons menjadi right information for the right persons and right know

e. Konsep TIK yang dahulu sekedar alat ternyata memaksa perubahan pola pikir dan pola tindak pihak yang menerapkannya, dll. (Sudarsono, 2009)

Realitas di Lapangan

Sebagaimana bunyi pasal 33 bahwa pustakawan berpenghasilan diatas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial, serta pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas, tetapi fakta dilapangan berkata lain,contohnya saja di daerah Makasar gaji pustakawan lebih kecil dibanding dengan hansip sungguh ironis bukan ? ini disebabkan karena persepsi masyarakat mengenai perpustakaan masih sangat rendah.

Apakah ilmu perpustakaan itu ? Untuk apakah ilmu perpustakaan tersebut ? Bukankah pustakawan hanya bertugas sebagai pembuka tutup pintu perpustakaan saja, orang yang menjaga buku, tempat menampung orang-orang buangan dan lain sebagainya Jadi kenapa harus diadakan ilmu semacam itu ? Apakah ilmu seperti itu penting untuk kehidupan ? Apakah sarjana-sarjana dari ilmu seperti itu bisa menjadi orang yang sukses dan menjadi figur yang dibutuhkan. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu lah yang sering muncul dikalangan masyarakat awam. Masyarakat yang tak mengerti akan pentingnya sebuah ilmu. Padahal jika dikaji lebih mendalam lagi dan seorang mengerti akan pentingnya sebuah ilmu, mereka semua barulah akan mengerti bahwa ilmu adalah hal yang paling kuat untuk mengalahkan segalanya.

Sebenarnya jika masyarakat menghargai keberadaan perpustakaan dan tidak pernah memandang sebelah mata tentang Perpustakaan mereka barulah akan mengerti dan menghargai bahwa sebenarnya perpustakaan sangatlah dibutuhkan sekali. perpustakaan merupakan sumber dari berbagai ilmu, sumber dari berbagai kajian dan penelitian. Ibarat tubuh yang memiliki jantung maka begitulah analogi perpustakaan.

(13)

detik ini sebutan pustakawan masih belum banyak ‘dikenal’ dibandingkan dengan profesi lainnya.

Masyarakat lebih ‘mengenal’ pustakawan dengan sebutan “staf” di perpustakaan, “pegawai” di perpustakaan atau bahkan ‘penjaga buku di perpustakaan’. Anggapan itu seolah-olah membenarkan bahwa pustakawan bukanlah profesi, pustakawan bukanlah sebuah pekerjaan yang memerlukan keahlian tertentu, pustakawan hanyalah tenaga teknis yang sama dengan tenaga teknis lainnya atau tenaga administrasi lainnya. Singkatnya pustakawan bukanlah pekerjaan yang “bergengsi” dan “dikenal” oleh masyarakat secara luas. Begitulah pertanyaaan, pernyataan, dan penilaian yang sangat buruk sekali dari masyarakat yang berpikiran sempit.

Jika hanya sekedar menjaga buku kenapa harus jadi sarjana ? Disinilah dianggap kebutaan masyarakat awam, masyarakat yang tidak mengerti betapa pentingnya ilmu perpustakaan dan figur dari Pustakawan. Perpustakaan adalah organisasi yang mengumpulkan bahan informasi baik yang tercetak maupun yang terekam. Disinilah tugas yang nyata bagi seorang pustakawan yaitu mengelolah, mengorganisasikan, dan memperbaharui informasi.

Jika seorang pustakawan tidak mempunyai ilmu,bagaimana ia bisa mengelolah bahan pustaka jangankan mengelolah, menata dan mengklasifikasikan buku sesuai dengan tempat nya pun tidak mungkin akan bisa dilakukan. Ilmu perpustakaan tidak hanya mengajarkan yang berkaitan dengan perpustakaan saja, bahkan dari semua segi bentuk ilmu pun dirangkum didalam ilmu perpustakaan ini. Semakin majunya zaman, semakin canggihnya teknologi, maka semakin pesat juga semua hal yang dicampur adukan dengan teknologi dan perpustakaan merupakan adalah salah satunya. 5

(14)

DAFTAR PUSTAKA

1. Sudarsono,blasius.2009. Pustakawan Cinta dan Teknologi. Jakarta : ISIPII-Ikatan Sarjana Ilmu Informasi dan Perpustakaan Indonesia.

2. Undang-Undang Republik Indonesia No.43 Tahun 2007.

Diakses pada tanggal 6 Maret 2015.

http://www.kopertis7.go.id/uploadperaturan/UU_43_2007_PERPUSTAKAAN.pdf 3. http://eprints.rclis.org/8879/1/prof-profesi.pdf Diakses pada tanggal 6 Maret 2015. 4. http://www.academia.edu/5461469/

MEMBANGUN_PROFESIONALISME_PUSTAKAWAN_INDONESIA_Artikel Diakses pada tanggal 6 Maret 2015.

Referensi

Dokumen terkait

Ada terdapat beberapa masalah tentang asupan energi yang terjadi pada atlet remaja, seperti anak mengkonsumsi makanan yang mengandung energi dalam jumlah yang tidak dapat

Hal ini tidak sesuai dengan Peraturan Bupati Sidoarjo Nomor 13 Tahun 2016 tentang Izin Mendirikan Bangunan yang berisi ”Izin Mendirikan Bangunan yang selanjutnya

Perbandingan Health Related Physical Fitness Antara Lansia Yang Mengikuti Senam Dengan Lansia Yang Tidak Mengikuti Senam (Studi Ex Post Facto Pada Lansia Di

To answer both research questions, the writer used library research as the method of this study. Psychological approach was applied in this study because it focuses on the

The Effectiveness of Using Total Physical Response toward the Students’ Imperative Sentences Mastery (An Experimental Study at the First Year of SMPN 2 Tangerang

Demikian Pengumuman ini disampaikan, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.. Imam

Dalam AECT, kode Etik dibedakan menjadi 3 kategori yaitu: Komite individu , seperti perlindungan hak untuk mendapatkan materi dan hasil untuk dilindungi keselamatan dan kesehatan

Sehubungan dengan hasil evalusi dokumen kualifikasi Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan Pembangunan 3 (Tiga) Ruang Kelas Baru MAN Pangkalan Bun yang ditetapkan dengan