KONTRIBUSI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Dalam SISTEM PERTAHANAN NEGARA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Bela negara adalah sebagian organisasi mata rantai perintis kemerdekaan republik indonesia yang dibentuk untuk turut mempertahankan republik indonesia dengan tetap tegak dan utuhnya wilayah negara kesatuan republik indonesia dan juga turut peran serta membantu dan mendampingi pemerintahan sebagai penyelenggaraan negara dalam setiap kebijakan pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah demi tercapainya pembangunan di segala bidang secara menyeluruh di seluruh wilayah indonesia.
Mengingat usia para pelaku sejarah bangsa ini sudah semakin tua dan bahkan sudah berkurang jumlahnya karena sudah banyak yang meninggal dunia akan tetapi semngat nilai perjuanganya harus tetap kita gelorakan kepada anak bangsa mendatang agar tidak terjadi kepada negara muda yang melupakan sejarah dan merupakan para pahlawan dn para pendiri Bangsa terdahulu,BELA NEGARA berkewajiban juga dituntut pada anggota nya untuk menegakan kebenaran dalam berbangsa dan bernegara bahwa di kemudian hari jangan ada lagi bangsa yang tidak menghormati pemimpinnya dan jangan ada lagi bangsa yang melecehkan lembaga-lembaga tinggi negara dan intitusi negara yang sah lainnya.
Para pejuang perintis kemerdekaan republik indonesia menginginkan rakyat ini tetap bersatu tidak ada yang makar namun sebaliknya tidak ada lagi di negara ini kesewenangan pemimpin dan para penyelenggara negara menindas rakyatnya, pejuang perintis kemerdekaan ingin bangsa ini tetap hidup rukun bersatu bersinergi antara lembaga tinggi negara pemerintah dan TNI/POLRI bersam rakyat membangun dan menjaga keutuhan negara dalam satu tujuan Bela negara seperti yang tecantum dalam amanat UUD 45 sebagaimana tersebut diatas.
Dengan demikian sesuai dengan namanya penerus pejuang perintis kemerdekaan republik indonesia Bela negara yang mendapat amanah dari para pejuang perintis Kemerdekaan lewat surat keputusan sah dari Ketua umum perintis Kemerdekaan Republik indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Hakikat Pertahanan Negara?
2. Apa yang dimaksud dengan Kewarganegaraan?
3. Apa yang dimaksud Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan?
4. Apa yang dimaksud Pendidikan kewarganegaraa bersifat semesta?
5. Apa yang dimaksud Implementasi sistem pertahanan negara?
6. Apa yang dimaksud dengan Substansi Kajian PKn di Perguruan Tinggi?
C. Tujuan Masalah
2. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Kewarganegaraan.
3. Mengetahui apa yang dimaksud Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan
4. Mengetahui Apa yang dimaksud Pendidikan kewarganegaraa bersifat semesta.
5. Mengetahui apa yang dimaksud Implementasi sistem pertahanan negara.
6. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Substansi Kajian PKn di Perguruan Tinggi.
BAB II PEMBAHASAN A. Hakikat Pertahanan Negara
Undang-undang Nomor 3 Tahun 2002 sebagai pengganti UU Nomor 20 Tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia, yang menganut sistem pertahanan negara bersifat semesta dikatakan, pertahanan negara adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Hakikat pertahanan negara adalah segala upaya pertahanan bersifat semesta yang penyelenggaraannya didasarkan pada kesadaran hak dan kewajiban warga negara serta keyakinan pada diri sendiri.Kesemestaan pertahanan negara didasarkan pada kesadaran hak dan kewajiban warga negara yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah dan sumber nasional secara total.
Pertahanan negara diselenggarakan melalui usaha membangun dan membina kemampuan, daya tangkal negara dan bangsa, serta menanggulangi setiap ancaman. Ancaman dalam sitem pertahanan bersifat semesta mencakup ancaman militer dan non militer. Sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer menempatkan Tentara Nasional Indonesia sebagai komponen utama dengan didukung oleh kompoen cadangan dan komponen pendukung.
Ancaman militer adalah ancanam yang menggunakan kekuatan bersenjata yang terorganisasi yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara dan keselamatan segenap bangsa.
Karakteristik ancaman nonmiliter berbeda dengan ancaman militer. Ancaman nonmiliter berada dalam dinamika kehidupan bangsa dan negara dan bahkan melekat dalam profesional warga negara diberbagai bidang kehidupan.
Membangun kerangka konsep moral kebangsaan itu, kiranya harus ada pemahaman bersama perlunya revitalisasi kesadaran bangsa dan bernegara indonesia bagi segenap warga negara. Dengan kata lain semakin dirasakan perlunya dibangun kesepahaman dan ditumbuh kembangkannya kesadaran bela negara bagi seluruh warga negara sebagaimana diamanatkan pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945.
Keikutsertaan warga negara dalam upaya bela negara ini kemudian dijabarkan oleh Undang-undang Nomor. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, secara berjenjang dari spectrum yang paling lunak ke spektrum yang paling keras yakni : pendidikan kewarganegaraan, pelatihan dasar kemiliteran secara wajib pengabdi sebagai prajurit TNI.
B. Kewarganegaraan
Kewarganegaraan dalam paradigmanya telah memiliki akar sejarah yang panjang. Semenjak adanya pemikiran tentang organisasi negara modern kewarganegaraan adalah menjadi bagian pemikiran tentang ide negara itu sendiri. Setelah beberapa waktu menghilang kemudian diolah kembali oleh pemikiran terkmuka , melalui pemikiran Ibnu Chaldum ide kewarganegaraan muncul kembali seiring dengan masa pencerahan maka gagasan kewarganegaraan adalah gagasan tentang keikutsertaan individu dalam komunitas politik dimana hak-hak dilindungi dan diakui. Menurut pendapat :
1. Montesque misalnya memandang bahwa dalam kewarganegaraan suatu individu dalam negara
yang penting adalah membina keteraturan (order)
2. Rousseau menganggap warga negara adalah peserta aktip yang senantiasa mengupayakan
kesatuan komnual. Ide ini dikembangkan Kant yang menekankan kehidupan berwarganegara dalam kepatuhan terhadap hukum.
3. Alexis de Tocquuville melihat kewarganegaraan merupakan suatu posisi yang membedakan
apakah seseorang berbeda dalam keadaan terisolasi aau memiliki tujuan-tujuan yang sama dengan anggota masyarakat lainnya.
4. Marx menekankan bahwa kewarganegaraan adalah suatu kondisi yang menentukan apakah
seseorang sebenarnya dalam kondisi bebas ataukah tertindas dalam sebuah komunitas politik.[2]
Pendidikan kewarganegaraan dalam kerangka ini adalah suatu upaya untuk menumbuhkan sikap perilaku bela negara yang mencakup pembangunan sikap moraldan watak bangsa serta pendidikan politik kebangsaan. Pembangunan sikap moral dan watak bangsa memberikan ikatan dasar yang dapat mendukung ide kewarganegaraan tersebut. Pendidikan politik menyangkut aktivitas membentuk diri sendiri dengan kesadaran penuh tanggung jawab untuk menjadi insan politik, hakikatnya adalah sebagai bagian dari pendidikan orang dewasa, karena hal ini menyangkut hal relasi antar individu atau individu dengan masyarakat ditengah status/lapisan sosial, dalam situasi-situasi konflik yan ditimbulkan oleh bermacam-macam perbedaan dan kemajemukan masyarakat.
Dengan kata lain pendidikan politik bagi warga negara adalah penyadaran warga negara untuk sampai pemahaman politik atau sapek-aspek politik dari setiap permasalahan sehingga dapat mempengaruhi dan ikut mengambil keputusan ditengah medan politik dan pertarungan konflk-konflik.[3]
C. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan
Bahwa dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dinyatakan bahwa setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat pendidikan, pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan. Materi pokok pendidikan kewarganegaraan adalah tetang hubungan antara warga negraa dan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara (PPBN). Dalam pelaksanaannya selama ini, pada jenjang pendidikan menengah, pendidikan kewarganegaraan digabung dengan pendidikan pancasila menjadi pendidikan pancasila dan kewarganegaraan (PPKn).Sedangakan diperguruan tinggi, pendidikan kewarganegaraan dikenal dengan pendidikan kewiraan yang lebih menekankan pada pendidikan pendahuluan bela negara.
Kewarganegaraan serta pendidikan pendahuluan bela negara (PPBN) merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dari kelompok mata kuliah pengmebangan kpribadian (MKPK) dalam susunan kurikulum inti perguruan tinggi di indonesia.
Berdasarkan surat keputusan DIRJEN DIKTI No. 267/DIKTI/2000, tujuan Pendidikan Kewarganegaraan mencakup tujuan umum dan tujuan khusus sebagai berikut ;
a. Tujuan umum
Dimaksudkan agar mahasiswa dapat memahami dan melaksanakan hak dan kewajiban secara santun , jujur , dan demokratis berdasarkan Pancasila serta ikhlas sebagai warga negara Republik Indonesia terdidik dan bertanggung jawab dengan maksud.
1) Agar mahasiswa menguasai dan memahami berbagai masalah dasardalam kehidupan
masyarakat , berbangsa dan bernegara , serta dapat mengatasinya dengan pemikiran kritis dan bertanggung jawab yang berlandasan pancasila, wawasan nusantara , dan ketahanan nasional.
2) Agar mahasiswa memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kejuangan,cinta
tanah air, serta rela berkorban bagi nusa dan bangsa.
3) Agar mahasiswa memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kejuangan, cinta
tanah air, serta rela berkorban bagi nusa, bangsa dan negara.[4]
D. Pendidikan kewarganegaraa bersifat semesta
Untuk mewujudkan sistem pertahanan negara, diselenggarakan usaha pembangunan dan membina kemampan, daya tangkal negara dan bangsa serta menanggulangi setiap ancaman yang diselenggarakan oleh pemerintah dan persiapan secara dini. Sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer menempatkan Tentara Nasional Indonesia sebagai komponen utama dengan didukung oleh komponen cadangan dan komponen pendukung.
1. Komponen cadangam terdiri atas warga negara, sumber daya alam, sumber daya bauatan , serta
sarana dan prasarana nasional yang telah disisipkan untuk dikerahkan melalui mobilitas guna memperbesar dan memperkuat komponen utama.
2. Komponen pendukung terdiri atas warga negara, sumber daya alam, sumber daya buatan, serta
sarana dan prasarana nasional yang secara langsung atau tidak langsung dapat meningkatkan kekuatan dan kemampuan komponen utama dan komponen cadangan.
Ancaman non militer berada dalam dinamika pemnfaatan sumber daya dan sarana serta prasarana nasional. Ia tersebar diberbagai fungsi pemerintahan dan bahkan berada dalam dinamika kehidupan bangsa. Untuk itu sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman non militer menempatkan lembaga pemerintahan di luar bidang pertahanan sebagai unsur utama, sesuai bentuk dan ancaman yang dihadapi dengan didukung oleh unsur-unsur lain dari kekuatan bangsa.
pertahanan negara oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu terarah dan berlanjut, akan menghasilkan hasil bakekuatan yang berdimensi ganda.
1. Dimensi pertama adalah masih dalam profesionalisme untuk menghadapi anacaman non militer,
sedangkan
2. Dimensi kedua adalah kesadarannya bahwa untuk kepentingan pertahanan negara sumber daya
nasional dalam lingkup pengelolaan profesionlismenya siap dimanfaatkan untuk mendukung komponen pertahanan dalam menghadapi ancaman militer.
Dengan kata lain sistem pertahanan negara bersifat semesta yang melibatkan seluruh sumber daya dan sarana dan prasarana nasional tidak akan bergerak jika warga negara atau sumber daya manusia yang menjadi sentral bergeraknya sistem itu tidak memiliki sikap perilaku yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Strategisnya kedudukan bela negara dalam sistem pertahanan bersifat semesta itu ditunjukkan denga bahwa upaya bela negara selain sebagai kewajiban dasar manusia juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara. Untuk itu pembelaan negara harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran, tanggung jawab dan rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa.
E. Implementasi Sistem Pertahanan Negara
Sifat semesta pertahanan negara menghendaki pelibatan sumber daya nasional dalam upaya pertahanan negara. Dalam mewujudkan pelibatan itu dilaksanakan penyiapan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah dan berlanjut :
1. Diselenggarakan secara total berarti melibatkan segenap komponen bangsa dan sumber nasional.
2. Terpadu berarti semua departemen dan lembaga pemerintah non departemen terintegrasi dalam
mengelola sumber daya nasional untuk kepentingan pertahanan, yang dituangkan dalam suatu rencana strategis pengelolaan sumber daya nasional.
3. Terarah memberikan arti bahwa penyelenggaraan sistem pertahanan yang bersifat semesta
dilandasi dengan kebijakan pemerintah untuk memberikan arah yang jelas kepada Departemen dan LPND dalam mewujudkan Sishannas. Kebijakan dimaksdukan adalah kebijakan umum pertahanan negara yang ditetapkan oleh presiden dan kebijakan penyelenggaraan pertahanan negara yang ditetepkan oleh menteri Pertahanan.
4. Berlanjut berarti dilaksanakan dengan program tahapan waktu jangka pendek, jangka sedang,
dan jangka panjang. Pengelolaan dan pendayagunaan sumber daya nasional yang menghasilkan komponen pertahanan negara harus tetap terpelihara dan diintegrasikan disetiap wilayah, agar memiliki kekuatan dan kemampuan pertahanan negara untuk menghadapi ancaman.[5]
Sebelum konsepsi bela negara lahir, tercetuslah sebuah keingian untuk melahirkan sebuah bangsa yang pada akhirmya melahirkan negara.
1. Periode Tahun 1945-1949, yaitu periode perang kemerdekaan. Pada periode ini wujud hak dan
kewajiban warga negara dalam pembelaan negara lebih pada keikutsertaan dalam perang kemerdekaan, baik bersenjata maupun tidak bersenjata.
2. Periode Tahun 1950-1965, yaitu bangsa indonesia mengalami berbagai bentuk gangguan
keamanan dalam negara yang berwujud berbagai pemberontakan. Perjuangan Trikora merebut kembali irian barat serta perjuangan Dwikora menggayang malaysia pada periode ini.
3. Periode Tahun 1966-1998, yaitu bangsa indonesia menghadapi periode pembangunan dengan
tantangan yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.
4. Periode Reformasi sejak tahub 1998, tantangan kebebasan indonesia semakin banyak karena
masuk dalam lingkup tantangan globalisasi yang mendorong kehidupan bangsa yang lebih transparan dan demokratis.
Dari gambaran periodisasi tersebut dapat dipahami bahwa melalui pendidikan kewarganegaraan yang sudah tercakup didalamnnya kesadaran bela negara, kompleksitas pengelolaan sumber daya nasional dapa disimplikasikan. Dalam kehidupan negara setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban, termasuk yang paling mendasar adalah hak dan kewajiban membela negara, sebagai dan perilaku warga negara indonesia yang dijiwai oleh kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang didasarkan Pancasila dan Undang-undang 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Dalam pasal 9 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang pertahanan negara disebutkan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pertahanan negara yang penyelenggaraannya melalui Pendidikan Kewarganegaraan.[6]
F. Substansi Kajian Pkn di Perguruan Tinggi
Substansi kajian dan pembelajaran yang diasuhkan dalam kandungan pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi sebagai unsur mata kuliah pengembangan kepribadian, dimaksudkan untuk mengembangkan potensi mahasiswa agar mampu :
1. Barpartisipasi aktip
2. Menguasai nilai-nilai yang menjadi dasar dan pedoman berkarya bagi mahasiswa guna
memotivasi diri.
Mencapai kompetensi kewarganegaraan yang dituju seperti tersebut diatas maka mahasiswa perlu diberi peluang berpengalaman belajar, mengetahui dan menguasai materi intruksional sebagai berikut :
a. Filsafat bangsa indonesia yaitu filsafat pancasila, identik nasional, hak dan kewajiban
warganegara indonesia , HAM , kehidupan demokratis berkeadaban dan kemampuan mengkritisinya.
b. Pengetahuan tentang konstitusi pemerintah negara dan warganegara.
c. Pemahaman dan penghormatan terhadap nilai-nilai pancasila , nilai-nilai merebut dan mengisi
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Kesimpulan dari pembuatan makalah ini adalah bahwa kita lebih tau tentang arti Bela Negara, mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata. Tercukup di dalamnya adalah bersikap dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan Negara.
Sebagai warga negara yang mengerti warga makna hak dan kewajiban, kita seharusnya juga mengerti akan maksa dari pasal 30ayat 1 UUD 1945 dan juga Undang-Undang Republik Indonesia nomer 20 tahun 1982, yang keduanya menyatakan tentang hak dan kewajiban warga negara Indonesia dalam urusan pembelaan negara.Kontribusi kita sebagai warga negara Indonesia dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Republik Indonesia adalah dengan cara tetap patuh dan memegang teguh prinsip pancasila. Jadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pelita yang senantiasa menuntun langkah kita.
B.
Saran-SaranPenulis hanya bisa menyarankan semoga para pembaca lebih bisa memahami kenapa kita harus membela Negara kita ini dan janganlah sekali-kali menodai tanah kelahiran kita ini dengan perbuatan yang tidak baik, karena tercela satu bernoda semua.
DAFTAR PUSTAKA
Darmadi, Prof. Dr. Hamadi . Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan . Bandung : alfabeta . 2013