1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pemberitaan mengenai penilaian setahun kinerja SBY-Boediono mewarnai media-media nasional pada tanggal 20-23 Oktober 2010 seperti Kompas, Jawa Pos, Republika, The Jakarta Post, Suara Pembaruan, dan sebagainya. Media-media nasional ini bahkan memuatnya sebagai headline seperti contohnya Suara Pembaruan. Harian yang sejatinya adalah reinkarnasi Sinar Harapan ini bahkan memuat 8 berita pada tanggal 20 Oktober 2010 mengenai aksi unjuk rasa yang dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia dan isu
reshuffle yang masih belum diberi sinyal oleh SBY. Sedangkan pada hari
berikutnya, tepatnya sehari pasca demo setahun pemerintahan SBY-Boediono, Suara Pembaruan memuat berbagai pendapat pakar mengenai rencana kudeta terhadap SBY dalam headline berjudul “Modal Politik SBY Sangat Kuat”. Banyak pakar yang berpendapat bahwa SBY tidak mungkin digulingkan dalam pemerintahannya. Contohnya Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari yang menyatakan bahwa aksi demo yang dilakukan pada 20 Oktober 2010 tidak cukup kuat untuk menggulingkan SBY, bahkan jika dilakukan berulang kali karena secara konstitusi Presiden hanya bisa diturunkan oleh MPR. Namun, para pakar terkait juga memberikan saran agar SBY meninggalkan politik pencitraan dan meningkatkan kinerja pemerintahannya. Anis Matta, Sekjen PKS menyarankan SBY agar tidak mengutamakan popularitas lagi, namun lebih meningkatkan kinerja menteri-menterinya.
Republika juga menjadikan berita mengenai penilaian setahun kinerja SBY-Boediono sebagai headline. Pada halaman headline tanggal 20 Oktober 2010, Republika menuliskan tindakan antisipasi oleh pihak kepolisian dan juga wawancara dengan Heru Lelono, staf khusus Presiden. Pada halaman yang sama, Republika juga memuat tabel Rapor Satu Tahun Kabinet SBY-Boediono. Namun, pemuatan tabel ini berbeda dengan harian-harian sebelumnya. Republika cenderung memuat kelebihan-kelebihan pada pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB II). Ekspor impor mengalami peningkatan, penurunan jumlah angka
kemiskinan dan pengangguran, serta pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang mengalami kemajuan.
Sedangkan Jawa Pos memuat 3 berita headline yang di antaranya: Tanpa Presiden, Ekonomi Jalan: Evaluasi Setahun SBY-Boediono (2010, Oktober 20, Jawa Pos), Empat Rapor Merah: Survey Setahun SBY-Boediono (2010, Oktober 21, Jawa Pos), dan SBY Klaim Kurangi Kemiskinan: Sejak 2004-2010, Orang Miskin Berkurang 3,6 Persen (2010, Oktober 22, Jawa Pos). Secara garis besar Jawa Pos membahas penilaian beberapa pihak mengenai setahun pemeritahan SBY-Boediono dan klaim pemerintahan dan prestasi yang dilakukan selama KIB II.
Kompas sebagai salah satu harian pagi memuat 4 berita headline yang dia antaranya berjudul: Benahi Koordinasi: Presiden: Kritik Masih Wajar (2010, Oktober 20, Kompas), Unjuk Rasa Digelar Serentak: Julian: Presiden Tak Akan Terpancing (2010, Oktober 21, Kompas), Fokus Saja pada Agenda Bangsa: Presiden: Jangan Terpengaruh Isu "Reshuffle" (2010, Oktober 22, Kompas), dan Gantilah Menteri Berkinerja Buruk: Masukan Publik Perlu Diperhatikan (2010, Oktober 23, Kompas),. Selama 4 hari berturut-turut Kompas menjadikan topik setahun pemerintahan SBY-Boediono sebagai headline. Secara garis besar Kompas lebih banyak membahas masalah-masalah yang timbul dalam setahun pemerintahan SBY-Boediono, yaitu koordinasi dan sinkronisasi. Namun, Kompas juga banyak membahas isu reshuffle yang terjadi.
Kompas sendiri yang dinahkodai oleh PK. Ojong dan Jakob Oetama adalah salah satu surat terkemuka di Indonesia dalam rumpun KKG (Kelompok Kompas Gramedia). Mengusung visi humanisme transendental, Kompas lebih banyak menggunakan bahasa humanistis, menyangkut perasaan intuisi, dan emosi manusia dalam penuturan faktanya. Dengan mengusung idealisme tercapainya misi “Amanat Hati Nurani Rakyat” yang sekaligus menjadi brand market, Kompas membidik pasar kalangan menengah ke atas. Dalam peredarannya, Kompas meliputi hampir seluruh kota di Indonesia dan selalu menjadi market
leader (Hamad, 2004, p.119).
The Jakarta Post juga menempatkan berita mengenai setahun pemerintahan SBY-Boediono sebagai headline. Dalam headline yang berjudul
“Amid protests, SBY takes to radio” memberitakan bagaimana tanggapan SBY di radio atas protes yang dilakukan menjelang setahun pemerintahannya. SBY sendiri menganggap aksi unjuk rasa yang ada ini sebagai hal yang wajar dalam negara demokrasi. Presiden-presiden sebelumnya juga mengalami hal yang sama, seperti Gus Dur dan Megawati. Sedangkan mengenai isu reshuffle yang tengah beredar, SBY tidak mau banyak berkomentar. Berita ini juga disertai foto aksi 2 pengunjuk rasa yang menggunakan topeng dan membawa piala Juara I Perampasan Tanah dan Juara I PHK/Outsourcing Buruh.
The Jakarta Post juga memberitakan mengenai aksi unjuk rasa yang terjadi di beberapa kota seperti Makassar, Jogjakarta, Cirebon, dan Jakarta. Di beberapa kota terjadi kericuhan dalam unjuk rasa, seperti Makassar di mana seorang mahasiswa tertembak kaki kirinya. Di Jogjakarta, para pengunjuk rasa membakar ban di jalan sebagai aksi protesnya. Sedangkan di kota lain, unjuk rasa berlangsung aman dan tertib.
Peneliti melihat bahwa dalam penulisan berita-berita pada harian nasional, ada pemilihan data. Ada data yang ditonjolkan, ada pula berita yang dihilangkan. Seperti contohnya harian Kompas yang menjelaskan secara detail mengenai kondisi akhir aksi unjuk rasa di berbagai kota di Indonesia dalam bentuk tabel. Sedangkan Jawa Pos tidak. Jawa Pos hanya memberitakan daerah yang berakhir dengan ricuh. Contohnya mahasiswa yang tertembak ketika melakukan aksi unjuk rasa di Istana. Karena adanya pemilihan fakta yang dituliskan pada media, maka peneliti tertarik meneliti harian Jawa Pos dan Kompas dengan metode analisis framing. Peneliti meneliti Jawa Pos karena media ini merupakan media dengan pembaca tertinggi. Jawa Pos berturut-turut berada di posisi pertama berdasar lembaga survei Nielsen pada kuartal ketiga 2010, yang diselenggarakan di sembilan kota besar. Sembilan kota besar di Indonesia itu antara lain, Jakarta dan sekitarnya, Semarang, Bandung, Surabaya dan sekitarnya, serta Jogjakarta dan sekitarnya. Ditambah Makassar, Denpasar, Palembang, dan Medan. Sedang peringkat berikutnya ditempati Kompas, Top Skor, Pos Kota, lalu disusul Warta Kota di posisi ke lima (JPNN.com, 2010). Penulis meneliti Kompas dan Jawa Pos karena dua media ini adalah media nasional terbesar dengan pembaca terbanyak. Menurut data Litbang Jawa Pos, oplah Jawa Pos mencapai
350.000 dalam seharinya. Sedangkan berdasarkan data Kompas, oplah Kompas mencapai 300.000 dalam seharinya. Pemilihan dua media nasional dengan pembaca terbanyak adalah alasan yang relevan karena salah satu fungsi framing adalah untuk memobilisasi massa (Eriyanto, 2007, p.142).
Pada penelitian ini, peneliti akan menggunakan teknik framing yang diperkenalkan Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Menurut mereka, framing adalah strategi konstruksi dan memroses berita. Perangkat kognisi yang digunakan dalam mengkode informasi, menafsirkan peristiwa, dan dihubungkan dengan rutinitas dan konvensi pembentukan berita. Pada intinya, framing didefinisikan sebagai proses membuat suatu pesan lebih menonjol, menempatkan informasi lebih daripada yang lain sehingga khalayak akan lebih tertuju pada pesan tersebut.
Peneliti tertarik meneliti headline karena headline merupakan berita yang dianggap paling besar dan penting bagi khalayak di antara semua berita yang dimuat hari itu. Karena itulah, headline dibuat paling menonjol dengan letak strategis dan penggunaan jenis tulisan yang tebal pada bagian judul. Headline biasanya juga disertai dengan foto-foto yang mendukung sehingga tampak menonjol di halaman depan (Zaenudin, 2007, p.178). Dalam konteks ini akan dibahas mengenai setahun kinerja SBY-Boediono Kabinet Indonesia Bersatu II.
Sebelumnya pernah ada penelitian yang dilakukan oleh Kadiwanu dengan tema mengenai pembingkaian pemberitaan penilaian kinerja SBY-Boediono Kabinet Indonesia Bersatu II dalam headline. Namun, bedanya Agriani meneliti pembingkaian pemberitaan penilaian seratus hari SBY-Boediono Kabinet Indonesia Bersatu II dalam headline. Sedangkan peneliti meneliti pembingkaian pemberitaan penilaian setahun kinerja SBY-Boediono Kabinet Indonesia Bersatu II dalam headline. Perbedaaan lainnya terletak pada media yang diteliti. Penelitian sebelumnya meneliti media Bisnis Indonesia, sedangkan peneliti menggunakan media berbeda. Perbedaan selanjutnya terletak pada model
framing yang digunakan. Agriani menggunakan model framing yang
diperkenalkan Entman, sedangkan peneliti menggunakan model framing yang diperkenalkan oleh Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.
Penelitian lainnya yang menggunakan framing adalah penelitian yang dilakukan Yoanita (2006) yang membahas mengenai konstruksi realita yang
dilakukan Kompas dan Jawa Pos dalam pemberitaan Tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam. Yoanita menggunakan model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.
Sedangkan Yusuf (2009) yang juga dalam tugas akhirnya membingkai gay dalam kasus pembunuhan yang dilakukan Ryan di harian lokal Surya dan Radar Surabaya. Dalam penelitiannya, Yusuf juga menggunakan model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.
Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu, maka Peneliti bermaksud mengadakan penelitian ini agar dapat melengkapi beberapa penelitian terdahulu dan memperkaya perbendaharaan penelitian dengan tema yang berbeda.
Yang menjadi perbedaan besar dari beberapa penelitian sebelumnya adalah penelitian yang peneliti angkat adalah peristiwa politik yang selalu menarik perhatian media massa sebagai bahan liputan (Hamad, 2004, p. 1).
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana media membingkai pemberitaan penilaian setahun kinerja SBY-Boediono Kabinet Indonesia Bersatu II dalam headline di Harian Jawa Pos dan Kompas?
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara media membingkai pemberitaaan penilaian setahun kinerja SBY-Boediono Kabinet Indonesia Bersatu II dalam headline di Harian Jawa Pos dan Kompas.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teoritis
Penulisan penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan kajian studi Ilmu Komunikasi serta mempraktikkan kegunaan teori bingkai (framing), serta sebagai sebagai bahan pertimbangan bagi rekan-rekan lainnya yang ingin mengadakan penelitian terhadap masalah yang sama di masa mendatang.
1.4.2. Manfaat Praktis
Melalui hasil penelitian dan penulisan ini, diharapkan dapat menambah wawasan peneliti mengenai bagaimana sebuah media dapat memberi bingkai dalam headlinenya. Peneliti juga berharap penelitian ini dapat membuat khalayak paham dan dapat bersikap skeptis pada setiap informasi yang diberikan, termasuk dalam headline sebuah media.
1.5. Batasan Penelitian
Penelitian berjudul Bingkai Pemberitaan Headline Penilaian Setahun Kinerja SBY-Boediono Kabinet Indonesia Bersatu II di Harian Kompas dan Jawa Pos ini akan dibatasi pada headline harian Kompas dan Jawa Pos pada periode waktu 20 Oktober 2010 hingga 23 Oktober 2010 dalam topik penilaian setahun kinerja SBY-Boediono Kabinet Indonesia Bersatu II karena pada tanggal itulah media secara serentak memberitakan topik setahun kinerja SBY-Boediono. Hal ini juga disebabkan 20 Oktober 2010 adalah tepat setahun pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu II dan tanggal 23 Oktober 2010 media sudah berhenti memberitakan topik tersebut. Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis framing model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.
1.6. Sistematika Penulisan
Pada bagian ini, peneliti akan menjabarkan keseluruhan rangkaian penelitian yang terbagi dalam lima bab dan pada masing-masing bab tersebut dibagi lagi dalam sub-sub bab untuk mempermudah penjelasan isi laporan dan mendukung isi bab secara keseluruhan. Adapun sistematika penulisan disusun sebagai berikut:
Bab I. Pendahuluan
Bab ini menguraikan latar belakang masalah yang berkaitan dengan pemberitaan mengenai penilaian setahun kinerja SBY-Boediono dalam media nasional, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II. Kerangka Teori
Bab ini berisi dasar-dasar teori yang berkaitan dengan pembahasan judul yaitu Analisis Framing Headline Penilaian Setahun Kinerja SBY-Boediono dalam Kabinet Indonesia Bersatu II di Harian Jawa Pos dan Kompas. Disamping itu juga disampaikan nisbah antar konsep dan kerangka pemikiran.
Bab III. Metode Penelitian
Bab ini merupakan bagian yang akan menguraikan tentang tahapan-tahapan yang dilakukan dalam proses penyusunan skripsi. Bagian ini meliputi definisi konseptual, jenis penelitian, metode penelitian, sasaran penelitian, unit analisis, jenis sumber data, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data serta triangulasi teori.
Bab IV. Analisis Data
Bab ini berisi analisis data dari masalah yang Peneliti angkat yaitu analisis framing headline penilaian setahun kinerja SBY-Boediono dalam Kabinet Indonesia Bersatu II di harian Jawa Pos dan Kompas.
Bab V. Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi hasil penelitian yang merupakan kesimpulan dan saran dari Peneliti. Bab ini juga dilengkapi dengan limitasi studi selama penelitian ini.