TUGAS ASUHAN GIZI III
STUDI KASUS : STROKE
Disusun oleh: Kelompok 7
Siti Majidah (22030112120001)
Irfa Eka Angraresti (22030112120011)
Gardinia Nugrahani (22030112130017)
Nurul Riau Dwi S (22030112140033)
Agung Dwi Prasetyo (22030112130041)
Affini Nurratri U (22030112140061)
Dziky Muhammad (22030112140101)
Amanda Rambu Yuliana (22030112140109)
PROGRAM STUDI S1 ILMU GIZI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014
2 BAB I
PENDAHULUAN 1.1. Kasus
Ny. H, 60 tahun, didiagnosis mengalami stroke hemoragik. dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan penurunan kesadaran, tingkat kesadaran Sopor, GCS: E=2 M=2 V= 2. BB 95 kg dan TB 157 cm, dan klien tampak lemah. Hasil pemeriksaan tekanan darah pasien 201/133 mmHg.
Sebelum sakit pasien sering mengonsumsi gorengan, jerohan, dan dalam seminggu bisa 3 kali mengonsumsi telur ayam. Serhari-hari ia membutuhkan bantuan seseorang untuk menyiapkan makanan karena tubuhnya bagian kanannya sudah mengalami kelumpuhan sehingga untuk berjalan pun membutuhkan bantuan seseorang.
Keluarga pasien mengatakan 8 hari yang lalu tiba tiba pasien tidak bisa bangun dan tidak bisa berbicara. Kemudian keluarga langsung membawa pasien ke rumah sakit, 7 hari pasien dirawat di bangsal tetapi tidak ada kemajuan sehingga di pindah ke ICU. Saat ini Ny. H mengasup makanan yang disediakan rumah sakit berupa peptisol atau diabetasol melalui NGT.
Menurut keluarga 7 bulan yang lalu pasien pernah dirawat dirumah sakit ketika dilakukan pembedahan pada kaki kanannya akibat luka yang ditimbulkan oleh penyakit Diabetes Melitus yang diderita Pasien. Menurut keluarga pasien, dalam keluarga tidak ada yang menderita stroke, akan tetapi keponakan pasien menyebutkan bahwa ayah dari pasien menderita DM semasa hidupnya. Kedua orang tua pasien telah meninggal, pasien hidup sendiri, dia dirumah bersama seorang yang mengurusinya. Sedangkan orang orang terdekat adalah, keponakannya, akan tetapi mereka sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota untuk mengurus usahanya.
Hasil Pemeriksaan Laboratorium (23 Mei 2013) :
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal
Glukosa sewaktu 138 mg/dl 70-140 Urea 17 mg/dl 10-50 Kreatinin 1,08 mg/dl 0,5-1,2 Cholesterol 293 mg/dl 50-250 HDL Cholesterol 58 mg/dl 0-55 LDL Cholesterol 395 mg/dl 0-150 Trigliserida 129 mg/dl 0-150
3 SGOT 19 u/L 0-37 SGPT 10 u/L 0-42 Asam urat 5,0 mg/dl 3,4-7 K 3,3 mmol/L 3,4-5,4 Na 145 mmol/L 135-155 Cl 113 mmol/L 95-108 HbsAg - Negatif
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
WBC 7,36 103/UL 4,8-10,8 RBC 4,47 106 /UL P : 4,7 – 6,1 W : 4,2-5,4 HGB 12,0 gr/dl P : 14-18 gr/dl W : 12-16 gr/dl HCT 7,0 % P : 42-52 % W : 37-47% PLT 356 103/UL 150-400
Pemeriksaan Urinalisa (23 Mei 2013)
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Warna Kuning Kuning Muda-Kuning
Kejernihan Jernih Jernih
Berat Jenis 1017 1015-1030 pH 5,5 4,0-7,8 Leukosit 2+ - Nitrit - - Protein 3+ - Glukosa - - Keton - - Urobilinogen - - Eritrosit 3+ - Sedimen - Sel epitel - Leukosit - Eritrosit - Kristal - Silinder Hyalin Granula 1 10-15 15-25 - + + 1 0-5/LPB 0-2/LPB - - -
4 BAB II
PEMBAHASAN 2.1. Skrining gizi
Skrining gizi bertujuan untuk mengidentifikasi pasien yang beresiko malnutrisi atau kondisi khusus. Kondisi khusus yang dimaksud adalah pasien dengan kelainan metabolik hemodialisa anak, geriatrik, dengan kemoterapi atau radiasi, luka bakar, pasien dengan imunitas, sakit kritis. Sebagian besar alat skrining terdiri dari 3 pertanyaan: penurunan BB, penurunan asupan makanan, dan tingkat keparahan penyakit.1
Alat skrining di medik antara lain: MUST (Malnutrition Universal Screening Tools), NRS 2002 (Nutritional Risk Screening), MNA (Mini Nutritional Asessment), SNAQ (Short Nutritional Asessment Quisioner), STAMP (Screening Tools Asessment of Malnutrition in Pediatric), PNI (Prognostic Nutritional Indexs) dan SGA (Subjective Global Assesment).3
Pada kasus ini kami memilih untuk menggunakan alat skrining MUST. MUST adalah alat skrining yang bertujuan untuk mengetahui apakah seseorang malnutrisi atau berisiko untuk malnutrisi. Alat ini bisa digunakan untuk memprediksi lama seseorang dirawat di rumah sakit terutama untuk orang dewasa.1,2 MUST menggunakan 3 kriteria dalam penggunaannya, yang tiap-tiap kriteria akan diberi skor tergantung pada standar yang telah ditetapkan3,4;
1. IMT : berdasarkan standar internasional yang telah disepakati
2. Penurunan berat badan : berdasarkan batas kira-kira antara perubahan berat badan yang dianggap normal dan abnormal
3. Efek penyakit akut : pemberian skor 2 apabila penyakit yang diderita mengganggu asupan gizi selama lebih dari lima hari
Setiap kriteria memiliki skor dan skor-skor tersebut akan dijumlah. Jumlah skor inilah yang dipakai untuk melihat apakah orang tersebut berisiko untuk malnutrisi atau tidak. Jika jumlah skor adalah nol, maka orang tersebut risiko malnutirisinya adalah rendah. Jika jumlah skor adalah satu, maka orang tersebut risiko malnutrisinya adalah sedang. Jika jumlah skor adalah dua, maka orang tersebut risiko malnutrisinya adalah
5
tinggi. Berdasarkan hasil skrining pasien dengan menggunakan MUST diperoleh hasil sebagai berikut 2 :
Step Interpretasi Skor
1 BMI = 38.54 kg/m2 (> 30 obese) 0
2 Tidak ada penurunan berat badan -
3 Pasien dengan penyakit yang tergolong akut 2
4 Hasil skrining (tinggi risiko malnutrisi) 2
2.2. Assesment
Domain Data Interpretasi Data Kesimpulan
FH 1.2.2.5 Variasi Makanan
Konsumsi telur, gorengan dan jerohan
FH 1.3.1.1 Asupan Enteral Asupan peptisol / diabetasol menggunakan NGT NGT diberikan karena Ny H mengalami penurunan kesadaran sehingga tidak dapat mengasup makanan melalui oral
FH 2.1.3.3 Caregiver Pasien tinggal bersama pengasuhnya
FH 5.4.1 Durasi Makan
Biasa makan 2x/hari
FH 7.3.1 Riwayat Aktivitas Fisik Aktivitas fisik minimum karena kelemahan AD 1.1.1 Tinggi 157 cm - -
6 Badan AD 1.1.2 Berat Badan 95 kg - - AD 1.1.5 BMI 38,54 kg/m2 - Obesitas BD 1.2.2 Kreatinin 1,08 mg/dl (Normal: 0,5-1,2 mg/dl) Normal BD 1.2.6 Klorida 113 mmol/L (Normal: 95-108 mmol/L) Tinggi BD 1.5.2 Glukosa 138 mg/dl (Normal: 70-140 mg/dl) Normal BD 1.7.1 Serum Kolesterol 293 mg/dl (Normal: 50-250 mg/dl) Tinggi BD 1.7.2 Kolesterol HDL 58 mg/dl (Normal: 0-55 mg/dl) Tinggi BD 1.7.3 Kolesterol LDL 395 mg/dl (Normal: 0-150 mg/dl) Tinggi BD 1.7.7 Serum Trigliserida 129 mg/dl (Normal: 0-150 mg/dl) Normal BD 1.10.1 Hemoglobin 12 gr/dl (Normal: 12-16 gr/dl) Normal
BD 1.10.2 Hematokrit 7% (Normal: 37-47%) Rendah
BD 1.12.1 Warna Urine
Kuning Kuning muda-kuning Normal
PD 1.1.1 Penampilan Keseluruhan
Fisik lemah dengan tingkat kesadaran sopor
7
PD 1.1.4 Ekstremitas, Otot dan Tulang
Ekstremitas atas dan ekstremitas bawah Ekstremitas atas kanan: Terdapat pembengkakan dan terpasang IVFD Ekstremitas Atas Kiri : Nampak sedikit bengkak Ekstremitas kanan bawah: terdapat luka bekas debridement ulkus DM, bagian paha terdapat penggelapan warna kulit akibat bedtres
yang lama.
Terdapat udema Ekstremitas kiri
bawah: terdapat penggelapan warna kulit akibat bedtres
yang lama. Terdapat udema PD 1.1.5 Sistem Pencernaan Pemeriksaan pada mulut, abdomen, genetalia dan perineal
Mulut: mukosa bibir lembab, mulut kotor, gigi tidak lengkap Abdomen: perut nampak besar (penumpukan lemak) Genetalia dan
8
perineal: terpasang selang kateter
PD 1.1.8 Kulit Turgor kulit buruk Terdapat luka lecet pada paha kanan, tangan kanan dan kiri serta terdapat luka bekas debridement 7 bulan yang lalu pada kaki kanan. PD 1.1.9.1 Tekanan Darah 210/133 mmHg (Normal: 120/80 mmHg) Tinggi
PD 1.1.9.2 Heart Rate 64 kali/menit (Normal: 60-100 kali/menit) Normal PD 1.1.9.3 Laju Respirasi 24 kali/menit (Normal: 14-20 kali/menit) Tinggi PD 1.1.9.4 Suhu 37,1 °C Normal CH 1.1.1 Umur 60 tahun - - CH 1.1.2 Jenis Kelamin Wanita
CH 1.1.10 Mobilitas Aktivitas minimun karena kelemahan tangan dan kaki sebelah kanan
CH 2.1.14 lain-lain Riwayat Diabetes Melitus
CH 2.2.2 Operasi Operasi debriment 7 bulan lalu pada kaki
9
kanan
CS 1.1.1 Perkiraan total kebutuhan energi
1363,89 kkal Disesuaikan dengan
kondisi pasien dan daya terima pasien.
CS 1.1.2 Metode perhitungan
kebutuhan energi
Perhitungan
kebutuhan energy bisa mengunakan Mifflin-St. Joer dengan disertai factor kondisi yang dialami pasien
BMR = (10 x BBI) + (6,25 x TB) – (5 x U) - 161 = (10 x 51.3) + (6,25 x 157) – (5 x 60 ) - 161 = 1033.25 AF = 20% x 1033.25 = 206.65 SDA = 10% x (1033.25+206.6 5) = 123.99 TEE =1033.25 + 206.65 + 123.99 = 1363.89 CS 2.1 Perkiraan kebutuhan lemak Disesuaikan dengan kondisi pasien dan daya terima pasien
(20% x 1363.89) : 9 = 30.31 gram
CS 2.2 Perkiraan kebutuhan protein
Disesuaikan dengan kondisi pasien dan daya terima pasien
(20% x 1363.89) : 4 = 68.19 gram
CS 2.3 Perkiraan Disesuaikan dengan
kondisi pasien dan
(60% x 1363.89) : 4 = 204.58
10
kebutuhan karbohidrat daya terima pasien gram
Dari data assessment diatas, diperoleh beberapa masalah gizi dari domain intake, klinis dan perilaku yaitu kelebiihan asupan mineral, peningkatan nilai laboratorium terkait gizi dan rendahnya aktivitas fisik.
2.3. Diagnosis
Berdasarkan data assessment dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa masalah yang harus diselesaikan yaitu:
1. Obesitas berkaitan dengan asupan energi yang berlebih ditandai dengan BMI 38, kadar kolesterol serum sebesar 293 mg/dL, kolesterol LDL sebesar 395 mg/dL, dan sering mengonsumsi gorengan, jeroan, dan telur ayam.
2. Ketidakmampuan mengasup makanan secara oral berkaitan dengan adanya gangguan motorik (stroke) ditandai dengan dysfagia.
2.4. Intervensi a. Tujuan
1. Memberikan asupan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan zat gizi pasien dengan memperhatikan kondisi fisik/klinis dan komplikasi penyakit yang ada.
2. Memberikan makanan dengan kandungan zat gizi yang adekuat untuk mencapai status gizi yang optimal dan mencapai berat badan normal (51,3 kg).
3. Memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit.
4. Membantu menurunkan tekanan darah penderita hingga mencapai normal (Normal: 120/80 mmHg).
5. Membantu menurunkan kadar kolestrol pasien hingga mencapai normal, yakni serum kolesterol 50-250 mg/dl mg/dl, kolesterol HDL 0-55 mg/dl, kolesterol LDL 0-150 mg/dl.
6. Meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga mengenai pola makan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan pasien.
11
b. Preskripsi
Terdapat dua tahap perencanaan diet yang kami berikan kepada Ny. H yaitu diet tahap 1 atau fase akut dan pada saat pemulihan. Hal ini bertujuan agar Ny. H dapat memenuhi asupan sesuai dengan kebutuhan dan daya terima pasien.
1. Perencanaan Diet Tahap 1 (Fase Akut) a. Modifikasi asupan dari segi jumlah
i. Kebutuhan energi yaitu 24-25 kkal/kgBB.5 Pada fase akut energi diberikan 1100-1500 kkal/hari dalam bentuk enteral.
ii. Kebutuhan lemak sebanyak 20-25% yaitu 30,31 gram.
iii.Kebutuhan protein sebanyak 0,8-1g/kgBB.
iv. Kebutuhan karbohidrat sebanyak 60-70% kebutuhan energi yaitu 204.58 gram. Diutamakan karbohidrat kompleks.5
v. Kolesterol diberikan sebanyak < 300 mg/hari.
vi. Pembatasan asupan natrium dengan pemberian 5 gram garam dapur/hari.
b. Modifikasi asupan dari segi jadwal yakni makanan diberikan sering dengan porsi kecil tiap 2-3 jam. Lama pemberian makanan disesuaikan dengan keadaan pasien.5
c. Modifikasi asupan dari segi jenis, yakni dengan pemberian makanan enteral (NGT), bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan pasien (fase akut), dan bentuk makanan merupakan kombinasi cair jernih dan cair kental, saring, lunak dan biasa (fase pemulihan).5
d. Serat 20-30 gr/hari.2
e. Cairan diberikan cukup, yaitu 6-8 gelas per hari, untuk mencegah terjadinya konstipasi dan menurunkan absorbsi lemak dari dinding usus.5
f. Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan pasien (keadaan pasien pada saat ini adalah pada fase akut) atau diet stroke 1 dengan gangguan fungsi menelan. Makanan diberikan dalam bentuk cair kental yang diberikan secara oral atau NGT sesuai dengan keadaan penyakit.
Selain itu kami juga memberikan edukasi gizi kepada keluarga guna menunjang proses penyembuhan pasien. Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
12
a. Topik : Menjelaskan dan memotivasi keluarga tentang kondisi dan kebutuhan gizi pasien
b. Sasaran : Keluarga
c. Waktu : Selama melakukan intervensi
d. Tempat : Ruang inap
e. Durasi : 15 – 20 menit
f. Metode : Tanya jawab, diskusi dan ceramah
g. Materi : Kondisi dan status gizi pasien serta kebutuhan dan tatalaksana gizi pada pasien stroke
2. Perencanaan Diet Tahap 2 (Fase Pemulihan) a. Modifikasi asupan dari segi jumlah
i. Kebutuhan energi yaitu 1500 kkal berdasarkan perhitungan dengan rumus Mifflin.
ii. Kebutuhan lemak sebanyak 20-25% yaitu 33 gram.
iii. Kebutuhan protein sebanyak 75 gram.
iv. Kebutuhan karbohidrat sebanyak 60-70% kebutuhan energi yaitu 225 gram. Diutamakan karbohidrat kompleks.5
v. Kolesterol diberikan sebanyak < 300 mg/hari.
vi. Serat diberikan sebesar 20 – 30gr/hari
vii. Pembatasan asupan natrium dengan pemberian 5 gram garam dapur/hari.
viii. Cairan diberikan cukup, yaitu 6-8 gelas per hari, untuk mencegah terjadinya konstipasi dan menurunkan absorbsi lemak dari dinding usus.
b. Modifikasi asupan dari segi jenis
Bentuk makanan yang diberikan adalah makanan lunak dan biasa.
Setelah pasien berada pada fase pemulihan, kami memberikan konseling gizi yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga. Konseling gizi juga
13
dapat diberikan saat pasien rawat jalan. Adapun perencanaan konseling gizi yang akan diberikan adalah sebagai berikut:
a. Topik : Menjelaskan tata cara diet dan pemilihan bahan makanan
b. Sasaran : Pasien dan keluarga
c. Waktu : Selama melakukan home visit
d. Tempat : di rumah
e. Durasi : 15 – 20 menit
f. Metode : Observasi dan tanya jawab
g. Alat bantu : Daftar bahan makanan penukar
h. Materi :
1. Menjelaskan tentang tata cara diet dan pemilihan bahan makanan yang dianjurkan.
2. Memberikan contoh menu sehari kepada pasien.
3. Memotivasi pasien dan keluarga untuk berkomitmen dalam menjalani diet. 4. Menghimbau kepada keluarga untuk melakukan pengawasan terhadap
pasien.
Berikut ini adalah materi bahan penukar sesuai kebutuhan pasien : Bahan Makanan yang Dianjurkan Pada Diet Stroke
Jenis Bahan Makanan Penukar
Sumber karbohidrat ½
Sumber protein hewani* 1
Sumber protein nabati -
Sumber lemak (susu tanpa lemak) 5/6
Buah 2
Sayuran A Sekehendak
Gula 7
Minyak 4
14
c. Implementasi diet
Contoh menu pada fase akut atau diet stroke 1 adalah makanan diberikan dalam porsi kecil tiap 2 – 3 jam. Lama pemberian makanan dapat disesuaikan dengan keadaan pasien.
Contoh Menu Sehari dengan 1300 kkal
Waktu makan Menu makanan Bahan makanvfb an Penukar Berat
Pagi 07.00 Susu formula Formula A - 1 gls
Snack Pagi 10. 00 Susu Sari buah Tepung susu skim 1 susu 20 gr Pepaya 1 bh 190 gr Gula 1 gula 13 gr
Siang 13.00 Susu formula Formula B - 1 gls
Snack sore 15.00 Susu Sari buah Tepung susu skim Pepaya 1 susu 20 gr Gula 1 bh 190 gr 1 gula 13 gr Malam 18.00
Susu formula Formula C - 1 gls
Malam
21.00
Susu formula Formula D - 1 gls
Ket : Formula A+B+C+D bahan : susu skim 80 gr, susu penuh bubuk 25gr, tepung mizena 25 gr, telur ayam 50 gr( 1p hewani*). Minyak jagung 20 gr, gula pasir 65 gr, dicairkan menjadi 4 gelas.
15
Diet stroke fase pemulihan dengan 1700 kkal
Waktu makan Menu masakan Bahan makanan Penukar (p) Berat (gr) Pagi
07.00
Bubur sum sum (+susu skim)
Saus gula merah
Telur rebus+mayonaise Teh Tepung beras Susu skim Gula merah Telur ayam ½ karbohidrat 1 susu 1 gula 1 protein hewani lemak sedang 25 gr 20 gr 13 gr 55 gr Snack pagi 10.00 Susu pepaya Tepung susu skim Gula pasir Buah 1 susu 1 gula 1 buah 20 gr 13 gr 190 gr Siang 12.00 Bubur saring Sup daging saring Tahu bumbu tomat saring Sayur bening bayam saring Pepaya saring Minyak jagung Tepung beras Daging Tahu Sayuran B Buah minyal 1 karbohidrat 1 protein hewani ½ nabati ½ Sayuran 1 Buah 3 minyak 50 gr 35 gr 55 gr 50 gr 110 gr 15 gr Snack sore 14.00
Puding maizena Tepung susu skim
16 Gula pasir Tepung maizena 1 gula ½ karbohidrat 13 gr 25 gr Malam 19.00 Bubur saring
Sup ayam saring
Gadon tahu saring Sup wortel saring Air jeruk Tepung beras
Ayam tanpa kulit
Tempe Sayuran B Buah Minyak jagung 1 karbohidrat 1 protein hewani rendah lemak ½ protein nabati ½ sayuran 1 buah 2 minyak 50 gr 40 gr 25 gr 50 gr 110 gr 10 gr Snack malam 21.00
Susu Susu skim
Gula pasir
1 susu
1 gula
20 gr
13 gr
2.5 Monitoring dan Evaluasi
No. Diagnosis Intervensi Monitoring dan Evaluasi
1 Obesitas a. Modifikasi asupan dari
segi jumlah
b. Menentukan kebutuhan asupan kalori, protein, karbohidrat dan lemak c. Karbohidrat dalam
bentuk kompleks
a. Melakukan pemantauan kecukupan asupan kalori, protein, karbohidrat, dan lemak. b. Melakukan pemantauan
nilai lab profil lipid. c. Melakukan pemantauan
17
d. Modifikasi asupan dari segi jadwal
e. Modifikasi asupan dari segi jenis
asupan kolesterol
d. Melakukan pemantauan nilai lab serum kolesterol (nilai normal : 50-250 mg/dl), HDL (nilai normal : 0-55 mg/dl), LDL (nilai normal : 0-150 mg/dl) dan serum trigliserida (nilai normal : 0-150 mg/dl)
e. Melakukan pemantauan berat badan pasien, mencapai IMT normal secara perlahan.
2 Ketidakmampuan mengasup makanan secara oral
a. Modifikasi asupan dari segi jumlah
b. Menentukan kebutuhan asupan kalori, protein, karbohidrat dan lemak c. Modifikasi asupan dari
segi jadwal
d. Modifikasi asupan dari segi jenis, NGT (enteral)
a. Melakukan pemantauan kebutuhan asupan.
a. Pembahasan Kasus
Langkah pertama yang dilakukan untuk menangansi kasus Ny. H adalah melakukan skrining gizi, karena skrining gizi sangat berpengaruh pada status kesehatan Ny H. Skrining gizi dilakukan dengan melihat gejala dan tanda-tanda fisik maupun klinis yang dialami oleh Ny H untuk menentukan penanganan selanjutnya dan waktu penanganan yang harus diberikan. Skrining bertujuan untuk menilai kondisi pasien dan menapis adanya masalah supaya dapat dilakukan upaya preventif untuk mencegah terjadinya
18
kondisi yang lebih buruk. Dalam kasus ini, skrining dilakukan menggunakan MUST karena mempertimbangkan kebiasaan makan, penurunan berat badan, dan tingkat keparahan penyakit. Skrining dalam kasus ini menunjukkan bahwa pasien berisiko tinggi mengalami malnutrisi. Oleh karena itu, pasien perlu dengan segera ditangani oleh ahli gizi. Langkah selanjutnya dilakukan pengkajian data antropometri untuk mengetahui status gizi pasien. Data yang diperlukan antara lain berat badan dan tinggi badan. Kemudian dilakukan penghitungan BB ideal (BBI) dan diperoleh hasil BBI Ny H 51,3 kg ± 62.7 kg. BB aktual Ny H tergolong obesitas karena berada diatas kisaran BMI normal menurut perhitungan7 :
BMI =
= 95/ (1,57)2
= 38,54 kg/m2
Setelah mengetahui status gizi Ny H, kemudian dilakukan pengkajian data asupan, biokimia, pemeriksaan fisik, riwayat penyakit pasien dan keluarga pasien. Data yang terkumpul kemudian dikategorikan sesuai domain yang terdapat di lembar pengkajian. Pada domain asupan terdapat kebiasaan-kebiasaan makan dan minum Ny H sehari-hari yaitu sering mengonsumsi gorengan, jeroan dan telur, makanan-makanan tersebut merupakan faktor risiko terjadinya peningkatan kolesterol darah, dan obesitas. Hal ini merupakan salah satu penyebab masalah yang muncul pada kasus ini. Semenjak terjadi penurunan kesadaran, Ny H dirawat di rumah sakit dan mengasup makanan melalui saluran naso gastric tube (NGT), hal ini dikarenakan orang yang tidak sadar akan kesulitan mengasup makanan melaui oral. Di rumah sakit Ny H mengasup peptisol atau diabetasol. Pada domain data biokimia, ditemukan adanya kolesterol (serum, LDL, HDL) dan yang tinggi dalam darah. Dari data pemeriksaan fisik, ditemukan bahwa tekanan darah Ny H tinggi, hal ini dapat disebakan karena adanya kolesterol darah yang tinggi membuat jantung harus memompa darah lebih kuat sehingga tekanan darah meningkat.9
Dari data-data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa masalah yang harus diselesaikan, masalah pertama yaitu obesitas. Terjadinya kelebihan asupan energi tampak pada berat badan Ny H yang berlebih, BMI yang berada diatas batas normal, kolesterol serum dan kolestrol LDL yang tinggi. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan mengenai makanan dan zat gizi yang benar dan sesuai dengan kebutuhan pasien, serta kesenangan pasien mengonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi (gorengan, jeroan, kuning telur). Masalah yang kedua adalah
19
ketidakmampuan mengasup makanan secara oral, hal ini terjadi karena adanya gangguan motorik akibat penyakit stroke yang diderita pasien. Penyakit stroke ini mempengaruhi kerja saraf kranial (V, VII, IX, X, XI, XII) yang berpengaruh pada kemampuan menelan.
Langkah selanjutnya adalah intervensi diet yang bertujuan memberikan asupan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan zat gizi Ny. H dengan memperhatikan kondisi fisik/klinis dan komplikasi penyakit yang ada, memberikan makanan dengan kandungan zat gizi yang adekuat untuk mencapai status gizi yang optimal dan mencapai berat badan normal (51,3 kg), memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit, membantu menurunkan tekanan darah penderita hingga mencapai normal (Normal: 120/80 mmHg), serta membantu menurunkan kadar kolestrol pasien hingga mencapai normal, yakni serum kolesterol 50-250 mg/dl mg/dl, kolesterol HDL 0-55 mg/dl, kolesterol LDL 0-150 mg/dl.
Dengan mempertimbangkan kondisi pasien saat ini, kami memberikan perencanaan diet yang dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah pemberian diet stroke 1 dengan menggunakan NGT serta edukasi gizi untuk keluarga. Pada fase akut, jumlah energi yang diberikan 1100-1500 kkal/hari dengan porsi kecil tiap 2-3 jam. Dikarenakan Ny. H mengalami sulit menelan, maka kami memberikan makanan dengan bentuk cair kental secara enteral menggunakan NGT sesuai dengan keadaan penyakit. Lama pemberian makanan disesuaikan dengan keadaan pasien.
Intervensi tahap kedua dilakukan pada fase pemulihan. Intervensi diet yang diberikan berupa makanan lunak hingga makanan biasa, hal ini diharapkan supaya pasien dapat lebih mencukupi kebutuhan sehari-harinya bila dibandingkan dengan menggunakan asupan makanan cair pada fase akut, karena makanan biasa dapat disesuaikan jumlahnya dengan kebutuhan secara bertahap. Energi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan Ny H menggunakan rumus mifflin yaitu 1300 kkal, lemak yang diberikan jumlahnya 20-25% dari total energi sesuai dengan kebutuhan orang normal, protein yang diberikan 68.19 gram dan karbohidrat 60-70% dari total energi. Selain itu, asupan diet yang diberikan pada fase pemulihan untuk Ny H juga diharapkan dapat menurunkan berat badan secara perlahan mendekati berat badan normal.
Setelah intervensi selesai dilakukan, langkah selanjutnya yaitu kegiatan monitoring dan evaluasi untuk mengetahui dan mengontrol sejauh mana perkembangan kondisi pasien. Parameter yang digunakan yaitu asupan, gejala fisik klinis, antropometri, serta kondisi umum pasien dan perilaku saat keadaan pasien telah membaik. Monitoring yang dilakukan diantaranya adalah pemantauan berat badan pasien, memantau asupan yang dapat diterima
20
pasien, dengan makanan berbentuk cair atau enteral. Parameter nilai lab yang perlu di monitoring dan evaluasi adalah penurunan tensi darah dan kadar kolesterol pasien dengan memantau hasil laboratorium dan tensi pasien perharinya sehingga mengembalikan keadaan pasien menjadi normal secara bertahap.
Setelah keadaan pasien membaik dan pasien mulai dapat beraktifitas, parameter domain perilaku yang dimonitor adalah pengetahuan dan informasi yang diperoleh dari pendidikan dan konseling gizi yang kemudian diimplementasi ke dalam perubahan perilaku menuju gaya hidup sehat dan pola makan seimbang. Untuk parameter fisik klinis, pasien memiliki kondisi tubuh yang mulai kembali normal, yakni dapat menghabiskan makanan dalam bentuk normal/padat yang diberikan pada saat intervensi maka intervensi dapat dikatakan berhasil selain di ikuti perubahan nilai biokimia kolesterol dan tensi pasien menjadi normal.
21 BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengkajian antropometri, biokimia, fisik, riwayat gizi dan kesehatan pasien, maka di rumuskan diagnosis utama yakni obesitas berkaitan dengan asupan energi yang berlebih ditandai dengan BMI 38,54 kg/m2, kadar kolesterol serum sebesar 293 mg/dL, kolesterol LDL sebesar 395 mg/dL, dan sering mengonsumsi gorengan, jeroan, dan telur ayam. Dan ketidakmampuan mengasup makanan secara oral berkaitan dengan adanya gangguan motorik (stroke) ditandai dengan dysfagia
Intervensi yang di lakukan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi pasien dengan memperhatikan kondisi fisik/klinis, komplikasi penyakit yang ada, mencapai status gizi yang optimal, mencapai berat badan normal (51,3 kg), memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit, menurunkan tekanan darah penderita hingga mencapai normal dan membantu menurunkan kadar kolestrol pasien hingga mencapai normal. Selain itu juga diberikan edukasi dan konseling untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga mengenai pola makan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan pasien
Monitoring dan evaluasi bertujuan untuk mengetahui dan mengontrol sejauh mana perkembangan kondisi pasien dengan beberapa parameter. Monitoring yang dilakukan diantaranya adalah pemantauan berat badan pasien, memantau asupan yang dapat diterima pasien, dengan makanan berbentuk cair atau enteral. Parameter nilai lab yang perlu di monitoring dan evaluasi adalah penurunan tensi darah dan kadar kolesterol pasien dengan memantau hasil laboratorium. Untuk tahap akhir, ketika pasien sudah membaik kondisi tubuhnya, beberapa perubahan yang di monitoring dan evaluasi adalah perubahan perilaku dan pengetahuan.
22 DAFTAR PUSTAKA
1. Nutrition Screening Method in Hospital with MST is More Effective than SGA Herawati, Triwahyu S, Arief Alamsyah Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar Malang Rumah Sakit Islam Unisma Malang Program Magister Manajemen Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol. 28, Suplemen No. 1, 2014
2. Status Gizi Berdasarkan Subjective Global Assessment Sebagai Faktor yang Mempengaruhi Lama Perawatan Pasien Rawat Inap Anak, Fina Meilyana, Julistio Djais, Herry Garna Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, Sari Pediatri, Vol. 12, No. 3, Oktober 2010, Sari Pediatri 2010;12(3):162-7
3. Anthony, P.S., 2014. Nutrition screening tools for hospitalized patients. Nutrition in clinical practice : official publication of the American Society for Parenteral and
Enteral Nutrition, 23(4), pp.373–82. Available at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18682588 [Accessed March 20, 2014].)
4. Thresia Dewi KB, Aswita Amir, Hendrayati, Sri Dara Ayu. Studi Komparasi Metode Penilaian Status Gizi Indeks Massa Tubuh (Imt) Dengan Subjektif Global Assesment (SGA) Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit DR WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR, Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Makassar, Media Gizi Pangan, Vol. XI, Edisi 1, Januari – Juni 2011
5. Sarwono W, Kartini S, Suharyati. Daftar Bahan Makanan Penukar. 3rd ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010
6. American Dietetic Association. Stroke nutrition teraphy. Available from :
http://www.greenhosp.org/upload/docs/factsheets/english/stroke_nutrition_therapy.pdf
7. Nelms M. Nutrition Therapy and Pathophysiology, 2e. Kathrine P Sucher KL, Sara Long Roth, editor. United States Wadsworth, Cengage Learning; 2011.
8. WAHYUNINGTYAS ES. Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital 2013 [cited 2014 29 September].
23
9. Egan B, Li J, Qanungo S, Wolfman T. Blood pressure and cholesterol control in hypertensive, hypercholesterolemic patients : National Health and Nutrition Examination Surveys 1988-2010. American Heart Association. 2013. 128:29-41