• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah proses yang terus-menerus dialami oleh manusia sepanjang hayat.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah proses yang terus-menerus dialami oleh manusia sepanjang hayat."

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Konteks Penelitian

Pendidikan adalah proses yang terus-menerus dialami oleh manusia sepanjang hayat. Pendidikan mencakup segala aspek keseharian saat seseorang belajar, mengamati, mendengarkan, membaca, menonton, bekerja dan lain sebagainya. Singkat kata, semua hal yang terjadi pada tindakan manusia mengandung arti kata pendidikan.

Pendidikan sangat berperan di dalam usaha mencerdaskan bangsa, cerdas yang dimaksudkan bukan hanya cerdas dalam arti pengetahuannya saja namun lebih ditekankan pada cerdas dalam emosionalnya. Maka dari pada itu upaya untuk mecerdaskan aspek emosional sangat diperlukan.

Sependapat Buchari (dalam Maryuni, 2011:25) bahwa, Pendidikan bertujuan membentuk budaya bangsa, yang digariskan oleh pemerintah. Setingkat demi setingkat dari sejak balita, anak-anak mengikuti jenjang SD, SLTP, SLTA, S-1, S-2, S-3, diharapkan akan terbentuk suatu budaya generasi muda yang ideal secara common sense adalah generasi yang menguasai Iptek, kreatif, disiplin, bertanggung jawab dan semua harus dilandasi oleh akhlaqul karimah penuh kejujuran.

Sekolah merupakan institusi paling depan dalam menjalankan proses pembelajaran. Pendidikan secara makro pada akhirnya akan bermuara pada sekolah melalui pembelajaran. Kepala sekolah sangat berperan dalam menggerakkan berbagai komponen di sekolah sehingga proses belajar mengajar di sekolah itu berjalan dengan baik.

Seorang kepala sekolah selaku penanggung jawab pengelolaan administrasi dan teknis pembelajaran diharapkan mampu bertindak selaku manajer dalam upaya menumbuh kembangkan kompetensi guru, lewat pemberdayaan kompetensi guru melalui bentuk

(2)

penghargaan seperti pemberian kesempatan sertifikasi guru, pendidikan dan latihan profesi, penyediaan sarana pendukung pembelajaran, pemerataan jam pembelajaran, pemberian insentif berdasarkan tugas dan tanggung jawabnya serta pemenuhan jaminan kenyamanan dan keamanan dalam menjalankan tugas pembelajarannya.

Mengingat peranan strategis guru dalam setiap upaya peningkatan mutu, relevansi, dan efisiensi pendidikan, maka peningkatan dan pengembangan aspek kompetensi profesional guru merupakan kebutuhan. Benar bahwa mutu pendidikan bukan hanya ditentukan oleh guru semata, melainkan juga oleh beberapa komponen pendidikan lainnya. Oleh karena itu, peran pemimpin selaku Kepala Sekolah sebagai supervaisor diharapkan menjadi sosok mengupayakan pemberian semangat atau motivasi bagi para guru agar senantiasa menjalankan tugas pembelajarannya dengan secara maksimal sebagaimana yang diamanatkan.

Dari pernyataan di atas, kepala sekolah selaku pemimpin dan guru sebagai penyelenggara proses pembelajaran dalam melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasil. Oleh karena itu, harus dibina dengan baik serta diarahkan untuk penyelenggaraan tugas kependidikan dan untuk menerapkan pendidikan kharakter. Pendidikan yang diselenggarakan mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, bahkan dilakukan dilembaga-lembaga nonformal dan informal seharusnya dapat menjadi landasan bagi pembentukan pribadi peserta didik.

Dengan penanaman nilai-nilai karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting untuk menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

(3)

Karena begitu pentingnya penanaman nilai-nilai karakter maka dari itu perlu dibentuk sejak dini guna mencapai hasil yang berkualitas. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Banyak pakar mengatakan bahwa kegagalan penanaman karakter sejak usia dini, akan membentuk pribadi yang bermasalah dimasa dewasanya kelak. Selain itu, menanamkan moral kepada generasi muda adalah usaha yang strategis. Oleh karena itu, penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mungkin kepada anak-anak adalah kunci utama untuk membangun bangsa. Disinilah peran pendidikan karakter harus tampak karena pada usia sekolah dasar adalah usia untuk membentuk kepribadian anak, jika di sekolah anak tidak diajarakan cara bersikap dengan baik, hal ini akan menjadi kebiasaan yang terus-menerus dilakukan dan pada akhirnya akan menjadi kepribadian yang buruk.

Dari uraian di atas bahwa kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peran penting dalam memfasilitasi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas. Berdasarkan Observasi awal peneliti di Sekolah Dasar Negeri 69/1 Simpang Ampelu, banyak ditemukan guru-guru yang belum optimal dalam menerapkan pendidikan. sehingga peran kepala sekolah dalam menanamkan nilai kerja keras sangat dibutuhkan untuk meningkatkan keberhasilan guru menerapkan pendidikan dalam proses belajar mengajar.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti keberhasilan guru dalam menerapkan pendidikan karakter tersebut dengan ini judul “Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Keberhasilan Guru dalam Menanamkan Nilai Kerja Keras pada Proses Belajar Mengajar di SD No.69/1 Simpang Ampelu Muara Tembesi”.

1.2 Fokus Penelitian

(4)

1) Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Keberhasilan Guru dalam Menanamkan Nilai Kerja Keras pada Proses Belajar Mengajar di SD No.69/1 Simpang Ampelu Muara Tembesi”.

2) Langkah-langkah yang dilakukan kepala sekolah dalam menanamkan nilai kerja keras pada guru dalam proses belajar mengajar.

1.3Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan konteks penelitian masalah dan focus masalah yang telah diuraikan diatas maka rumusan maslah dalam penelitian ini adalah:

1) Bagaimana peran kepala sekolah dalam meningkatkan keberhasilan guru dalam menanamkan nilai kerja keras pada proses belajar mengajar di SD No.69/1 Simpang Ampelu Muara Tembesi?.

2) Langkah-langkah apa saja yang dilakukan kepala sekolah dalam menanamkan nilai kerja keras pada guru dalam proses belajar mengajar.

1.4Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1) Untuk mengetahui peran kepala sekolah dalam meningkatkan keberhasilan guru dalam menanamkan nilai kerja keras pada proses belajar mengajar di SD No.69/1 Simpang Ampelu Muara Tembesi.

2) Untuk mengetahui langkah-langkah apa saja yang dilakukan kepala sekolah dalam menanamkan nilai kerja keras pada guru dalam proses belajar mengajar.

(5)

1.5Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat di peroleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Teoretis

Secara teoretis hasil penelitian ini mendeskripsikan ” Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Keberhasilan Guru dalam Menanamkan Nilai Kerja Keras pada Proses Belajar Mengajar di SD No.69/1 Simpang Ampelu Muara Tembesi”.

2) Praktis

2.1 Sebagai bahan masukan dan sumbangan pemikiran berupa informasi mengenai peran kepala sekolah meningkatkan keberhasilan guru dalam menanamkan nilai kerja keras.

2.2 Untuk menambah pengetahuan peneliti baik secara teoritis maupun praktis tentang pentingnya menanamkan nilai kerja keras di sekolah dasar.

1.6Definisi Operasional

1) Kepala Sekolah adalah tokoh kunci bagi keberhasilan sebuah sekolah. Kepala sekolah juga merupakan pemimpin komunitas sekolah yang paling bertanggung jawab mewujudkan cita-cita komunitas tersebut kedepannya.

2) Guru dikenal dengan al-mu’alim dalam bahasa arab, yang bertugas memberikan ilmu dalam majelis taklim. Artinya, guru adalah seseorang yang memberikan ilmu.

3) “Kerja keras merupakan perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar) dengan sebaik-baiknya” Mustari (2014:43). “Kerja keras artinya melakukan suatu usaha atau pekerjaan secara terus menerus tampa mengenal lelah. Kerja keras juga dapat

(6)

diartikan suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan serius sampai tercapai suatu tujuan” (Fauziah, 6 maret 2015, online).

Secara bahasa kerja keras artinya pantang menyerah. Kerja keras adalah berusaha dengan sepenuh hati dengan sekuat tenaga untuk berupaya mendapatkan keinginan pencapaian hasil yang maksimal pada umumnya. Berkerja keraslah sesuai kemampuan yang dimiliki dan jangan memaksakan diri nantinya dapat menghasilkan hasil yang kurang maksimal, kerja keras juga mempunyai batas-batas limit.

1.7Kerangka Berfikir Penelitian

Kepala sekolah merupakan tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah, tempat diselenggarakannya proses belajar mengajar atau tempat terjadinya interaksi antar guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran. Dalam suatu organisasi khususnya organisasi sekolah sangat membutuhkan suatu pemimpin yang akan membawanya kearah kemajuan. Dalam organisasi sekolah kepemimpinan sepenuhnya dipegang oleh kepala sekolah. Adapun fungsi dari kepala sekolah adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan.

Pada umumnya pendidikan karakter menekankan pada keteladanan, penciptaan lingkungan, dan pembiasaan. Melalui berbagai tugas keilmuan dan kegiatan yang kondusif. Dengan demikian, apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasakan dan dikerjakan oleh peserta didik dapat membentuk karakter mereka. Selain menjadikan keteladanan dan pembiasaan

(7)

sebagai metode pendidikan utama, penciptaan iklim, dan budaya serta lingkungan yang kondusif juga sangat penting, dan turut membentuk peserta didik.

Guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tingkat institusional dan instruksional. Peran strategis tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, yang menempatkan kedudukan guru sebagai tenaga profesional sekaligus sebagai agen pembelajaran (Karwati & Priansa, 2013:39). “Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh sebuah benda atau individu, ciri khas tersebut asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu, serta merupakan ‘mesin’ yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, dan merespons sesuatu” (Kertajaya dalam Wiyani, 2013:24-25).

\

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir Peran Kepala Sekolah

Perncanaan menyediakan guru Menargetkan siswa sebagai proses kurikulum Membuat perencanaan Mengajar Pemahaman guru tentang kebutuhan isi kurikulum Menyediakan panduan Kurikulum

Keberhasilan guru dalam menanamkan nilai kerja keras pada Proses Belajar Mengajar

(8)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Penelitian yang Relevan

Penelitian Hairul Anwar, 2015 dengan judul “Persepsi Guru terhadap Supervisi Kepala Sekolah di SDN 110/1 Tenam”. Hasil yang didapat Secara umum pelaksanaan supervisi yang dilakukan Kepala Sekolah Dasar negeri 110/1 Desa Tenam menunjukkan skor rata-rata 79,12% termasuk dalam kategori baik. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan supervisi, pendidikan, maupun partisipasi guru dalam kegiatan pembelajaran memiliki pengaruh positif terhadap hasil supervisi yang telah dilakukan kepala sekolah.

Penelitian Sudiyanto, 2008. Pengaruh Supervisi, Pendidikan dan Pelatihan, serta Partisipasi dalam Kelompok Kerja Guru terhadap Profesional Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang. Hasil analisis regresi parsial maupun regresi linier ganda menunjukkan bahwa (1) Supervisi berpengaruh positif dan signifikan terhadap profesional guru SD, (2) Pendidikan dan Pelatihan berpengaruh positif dan signifikan terhadap profesional guru SD, serta Partisipasi dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) berpengaruh positif dan signifikan terhadap profesional guru Sekolah Dasar di Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang.

Berdasarkan temuan tersebut, disarankan kepada : (1) Kepada Kepala Sekolah Dasar agar lebih mengoptimalkan program supervisi oleh teman sejawat/sebaya; (2) Dinas Pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (diklat) seharusnya berdasarkan kebutuhan guru peserta (learner need

(9)

assessment); serta (3) Pengelola Kelompok Kerja Guru (KKG) lebih meningkatkan perannya sebagai fasilitator dan motivator bagi guru dalam mengatasi berbagai permasalahan yang dibutuhkan guru dalam upaya meningkatkan profesional guru.

2.2 Kepala Sekolah

2.2.1 Pengertian Kepala Sekolah

“Kepala Sekolah adalah tokoh kunci bagi keberhasilan sebuah sekolah. Kepala sekolah juga merupakan pemimpin komunitas sekolah yang paling bertanggung jawab mewujudkan cita-cita komunitas tersebut kedepannya” (Suhardiman, 2012:3).

Menurut Lipan, 1985:1 (dalam Karwati dan Priansa, 2013:37)

Kepala sekolah adalah guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah. Meskipun sebagai guru yang mendapat tugas tambahan, menjadi kepala sekolah merupakan orang yang paling betanggung jawab terhadap aplikasi prinsip-prinsip administrasi pendidikan yang inovatif di sekolah. Selain itu tugas pokok kepala sekolah sebagai seorang guru adalah melaksanakan atau memberikan pelajaran atau mengajar bidang studi tertentu atau memberikan bimbingan.

Kepala sekolah merupakan tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah, tempat diselenggarakannya proses belajar mengajar atau tempat terjadinya interaksi antar guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran. Dalam suatu organisasi khususnya organisasi sekolah sangat membutuhkan suatu pemimpin yang akan membawanya kearah kemajuan. Dalam organisasi sekolah kepemimpinan sepenuhnya dipegang oleh kepala sekolah. Adapun fungsi dari kepala sekolah adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan. Kepala sekolah sangat berperan dalam menggerakkan berbagai komponen di sekolah sehingga proses belajar mengajar di sekolah itu berjalan dengan baik.

Kepemimpinan kepala sekolah merupakan kunci keberhasilan lembaga pendidikan. Kepala sekolah berasal dari dua kata “kepala dan sekolah”. Kata kepala diartikan sebagai ketua

(10)

atau pemimpin dalam suatu organisasi atau lembaga. Sedangkan sekolah adalah sebuah lembaga dimana menjadi tempat menerima dan memberi pelajaran. Dengan demikian dapat diartikan secara sederhana kepala sekolah merupakan tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan peserta didik yang menerima pelajaran.( Wahjosumidjo, 2001:56)

Pengertian kepala sekolah menurut Daryanto (2010:80) menjelaskan bahwa: Kepala sekolah merupakan personel sekolah yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan-kegiatan sekolah, mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk menyelenggarakan seluruh kegiatan pendidikan dalam lingkungan sekolah yang dipimpinnya dengan dasar pancasila yang bertujuan untuk:

a. Meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. b. Meningkatkan kecerdasan dan ketrampilan.

c. Mempertinggi budi pekerti. d. Memperkuat kepribadian.

e. Mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air.

Mulyasa (2004:126) menjelaskan bahwa kepala madrasah adalah motor penggerak dan penentu kebijakan madrasah, yang akan menentukan bagaimana tujuan-tujuan dalam pendidikan pada umumnya dapat direalisasikan.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah merupakan pimpinan tertinggi dalam lembaga pendidikan yang bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan kelancaran jalannya sekolah demi terwujudnya tujuan sekolah tersebut. Seorang kepala sekolah hendaknya dapat meyakinkan kepada masyarakat bahwa segala sesuatunya telah berjalan dengan baik, termasuk perencanaan dan implementasi kurikulum,

(11)

penyediaan dan pemanfaatan sumber daya guru, rekruitmen sumber daya peserta didik, kerjasama sekolah dengan orang tua, serta lulusan yang berkualitas.

Kepala sekolah sebagai unsur vital bagi efektivitas dalam lembaga pendidikan menentukan tinggi rendahnya kwalitas lembaga tersebut, kepala sekolah diibaratkan sebagai panglima pendidikan yang melaksanakan fungsi kontrol berbagai pola kegiatan pengajaran dan pendidikan didalamnya, oleh kerana itu suksesnya sebuah madrasah tergantung pada sejauh mana pelaksanaan misi yang dibebankan diatas pundaknya, kepribadian, dan kemampuannya dalam bergaul dengan unsur-unsur yang ada didalamnya.

2.2.2 Peran Kepala Sekolah

Dalam menjalankan perannya, kepala sekolah tentu saja harus mampu membuat perencanaan yang sistematis, terpadu, berkelanjutan dan komperensif. Target utama perencanaan dalam pendidikan adalah tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien dengan mutu pendidikan yang memuaskan. Perencanaan yang mencakup penegasan dan kejelasan visi, misi, tujuan, dan strategi, merupakan hal penting untuk dicermati oleh semua pihak yang berkepentingan terhadap pendidikan, agar organisasi dapat bergerak meraih keberhasilan dn kesuksesan.

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dan keberlangsungan organisasi adalah kuat tidaknya kepamimpinan, kegagalan dan keberhasilan suatu organisasi ditentukan oleh pemimpin karena pemimpin merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh menuju tujuan yang akan dicapai.

Menurut Lunenburg dan Irby (dalam Suhardiman, 2012:3) peran kepala sekolah dalam perencanaan pembelajaran sebagai berikut:

1) Perencanaan menyediakan guru dengan map sehari-hari. Disiplin merupakan intruksi yang sangat penting bagi guru untuk merencanakan kelas dan aktifitas lainnya buat siswa. Jika guru tidak mempersiapkan itu maka masalah yang berkaitan dengan disiplin akan terjadi.

(12)

2) Perencanaan tiap hari adalah penting sebagaimana untuk menargetkan siswa sebagai bagian dari proses kurikulum.

3) Guru dapat membuat perencanaan megajar yang berkelanjutan setelah mengidentifikasi kekurangan siswa. Dari satu hari dan seterusnya ini dapa menjaga sistem perencanaan untuk mencapai target siswa dengan kebutuhan siswa yang berbeda-beda.

4) Perencanaan pembelajaran terdiri atas pemahaman guru tentang kebutuhan isi untuk memfasilitasi kesuksesan pembelajaran bagi siswa dan dalam mengetahui apakah isi tersebut berhubungan dengan tujuan siswa, sumber komunitas dan tujuan pembelajaan.

5) Perencanaan pembelajaran dijalin dengan proses kurikulum. Biasanya guru daerah menyediakan panduan kurikulum untuk setiap subjek, dengan bermacam-macam kemampuan siswa, menilai pengajaran yang berhungan dengan outcome pembelajaran, dan untuk memfasilitasi proses perencanaan pembelajaran.

Oleh karena itu, kepala sekolah harus memiliki visi, misi, dan tujuan yang jelas tentang hendak di bawa kemana sekolah yang dipimpinnya. Selain itu, kepala sekolah harus memiliki langkah-langkah atau strategi yang efektif dan efisien untuk mencapai visi, misi dan tujuan yang telah ditetapkan bersama tersebut.

Adapun peran kepala sekolah dapat diuraikan berikut ini:

a. Kepala sekolah sebagai Educator (Pendidik), dalam hal ini kepala madrasah harus berusaha menanamkan, memajukan, dan meningkatkan sedikitnya empat nilai kepada para tenaga kependidikan yaitu: pembinaan mental tentang hal-hal yang berkaitan dengan sikap batin dan watak, pembinaan moral yang berkaitan dengan ajaran baik buruk suatu pebuatan, sikap, kewajiban sesuai tugas masing-masing, pembinaan fisik terkait kondisi jasmani atau badan dan penampilan secara lahiriyah serta pembinaan artistik terkait kepekaan menusia terhadap seni dan keindahan.

b. Kepala sekolah sebagai Manager (pengelola) hendaknya mampu merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan agar lembaga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

c. Kepala sekolah sebagai Administrator merupakan penanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan pendidikan dan pengajaran.

(13)

d. Kepala sekolah sebagai Supervisor dituntut untuk mampu meneliti, mencari, dan menentukan syarat-syarat mana saja yang diperlukan untuk kemajuan lembaga.

e. Kepala sekolah sebagai Leader (pemimpin) berupaya memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan, membuka dan berkomunikasi dua arah dan mendelegasikan tugas.

f. Kepala sekolah sebagai inovator harus mampu mencari dan menentukan serta melaksanakan berbagai pembaharuan di madrasah.

g. Kepala sekolah sebagai Motivator. Dalam hal ini harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada tenaga kependidikan dalam melakukan tugas dan fungsinya (Agus, 2010:180)

Fungsi dan tanggung jawab kepala sekolah sebagai pemimpin lembaga pendidikan akan menjadi efektif apabila mampu menjalankan proses kepemimpinannya yang mendorong, mempengaruhi dan menggerakkan kegiatan dan tingkah laku kelompoknya. Inisiatif dan kreativitas kepala sekolah yang mengarahkan kepada kemajuan mendasar merupakan bagian integratif dari tugas dan tanggung jawab. Fungsi utamanya adalah menciptakan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien.

Suetopo dan Suemanto (2003:195) menjelaskan kepala sekolah memiliki dua tanggung jawab ganda yaitu: (1) melaksanakan administrasi sekolah sehingga dapat tercipta situasi belajar yang baik. (2) melaksanakan supervisi pendidikan agar memperoleh peningkatan kegiatan mengajar guru dalam membimbing pertumbuhan peserta didik.

Seorang kepala sekolah tidak hanya bertanggung jawab atas kelancaran sekolah secara teknis akademis saja, melainkan juga bertanggung jawab dengan kondisi dan situasinya serta

(14)

hubungannya dengan masyarakat sekitarnya. Kegiatan yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah antara lain sebagai berikut:

a. Kegiatan mengatur proses belajar mengajar. b. Kegiatan mengatur kesiswaan.

c. Kegiatan mengatur personalia.

d. Kegiatan mengatur peralatan pembelajaran.

e. Kegiatan mengatur dan memelihara gedung dan perlengkapan. sekolah. f. Kegiatan mengatur keuangan.

g. Kegiatan mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat. (Agus, 2010:196) 2.2.3 Syarat-syarat Kepala Sekolah

Pengalaman kerja merupakan syarat penting yang tidak dapat diabaikan. Tugas dan tanggung jawab kepala sekolah sangat besar, oleh sebab itu untuk menjadi kepala sekolah harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Adapun syarat tersebut antara lain:

a. Memiliki ijazah yang sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

b. Mempunyai pengalaman kerja yang cukup, terutama di sekolah yang sejenis dengan sekolah yang dipimpinnya.

c. Mempunyai sifat kepribadian yang baik, terutama sikap dan sifat yang diperlukan bagi kepantingan pendidikan.

d. Mempunyai keahlian dan pengetahuan yang luas, terutama mengenai bidang-bidang pengetahuan pekerjan yang diperlukan bagi madrasah yang dipimpinnya. e. Mempunya ide dan inisiatif yang baik untuk kemajuan dan pengembangan

sekolahnya. (Daryanto, 2010:92)

Menurut Sulistiorini (2009:195) Kepala sekolah merupakan faktor penentu efektivitas sekolah oleh sebab itu seorang kepala sekolah hendaknya memiliki sifat-sifat dibawah ini antara lain:

1. Memiliki keinginan untuk memimpin dan kemauan untuk bertindak dengan keteguhan hati dan melakukan perundingan dalam situasi yang sulit.

(15)

2. Memiliki inisiatif dan upaya yang tinggi.

3. Berorientasi kepada tujuan dan memiliki rasa kejelasan yang tajam tentang tujuan intruksional dan organisasional.

4. Menyusun sendiri contoh-contoh yang baik secara sungguh-sungguh.

5. Menyadari keunikan guru dalam gaya, sikap, ketrampilan dan orientasi mereka serta mendukung gaya-gaya mengajar yang berbeda. Kepala madrasah yang efektif sanggup menggabungkan ketrampilan mengajar dengan penataan dan penguasaan mengajar.

Melihat penjelasan di atas dapat diketahui bahwa kedudukan kepala sekolah benar-benar orang yang terpilih menjadi kepala sekolah, dengan beberapa syarat yang diajukan diharapkan unsur di dalam lembaga pendidikan tersebut dapat lebih meningkat yang akhirnya tujuan pendidikan dapat tercapai.

2.2.4 Fungsi Kepala Sekolah

Menurut Ahmad (2011:169) “kepala sekolah berfungsi sebagai sosok pribadi yang kontinu memberi bimbingan, bantuan, pengawasan, dan penilaian terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan pengembangan dan perbaikan program kegiatan pengajaran dan pendidikan”.

Menurut Suryabroto (2004:118) Implikasi tugas yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin antara lain:

a.Mengetahui keadaan atau kondisi guru dalam latar belakang kehidupan dan sosial ekonominya.

b.Merangsang semangat kerja guru dengan berbagai cara.

c.Mengusahakan tersedianya fasilitas yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan guru.

d.Meningkatkan partisipasi guru dalam kehidupan sekolah.

e.Membina rasa kekeluargaan dilingkungan sekolah antar kepala sekolah, guru, dan pegawai.

f. Mempercepat hubungan sekolah dengan menyarakat khususnya BP3 dan orang tua murid.

(16)

Thomkins dan Backly yang dikutip oleh Purwanto (2010:84) menyatakan bahwa “kualitas yang baik bagi seorang supervisor adalah sebagai berikut: memiliki intuisi yang baik, kerendahan hati, keramah-tamahan, ketekunan, sifat humor, kesabaran, dan sebagainya, hal ini merupakan ciri-ciri yang penting karena supervisi menyangkut hubungan antara orang-orang”.

Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikaan di madrasah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian merupakan tindakan preventef untuk mencegah agar para tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpanagan dan lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaanya.

Suekarno (2003:92) “menambahkan tentang prinsip negatif dalam artian merupakan larangan bagi kepala sekolah adalah sebagai berikut: a) Bersifat otoriter, b) Mencari kesalahan guru-guru, c) Bersikap sebagai inspektur yang ditugaskan memeriksa apakah peraturan dan instruksi yang telah diberikan dilaksanakan atau tidak, d) Menganggap dirinya lebih tinggi, e) Terlalu banyak memperhatikan hal-hal kecil dalam guru mengajar, f) Cepat kecewa jika mengalami kegagalan”.

Menurut Made (2004:13) “kepala sekolah harus melakukan tugasnya secara efektif antara lain: a) Melalui diskusi kelompok untuk memecahkan berbagai masalah sekolah, b) Kunjungan kelas untuk mengamati kegiatan pembelajaran secara langsung, c) Pembicaraan Individual yang merupakan bimbingan dan konseling kepada guru berkaitan dengan masalah pembelajaran, d) Stimulasi pembelajaran yang merupakan demonstrasi pembelajaran yang dilakukan kepala sekolah”.

Dari beberapa fungsi kepala sekolah dapat disimpulkan bahwa tugas kepala sekolah adalah merencanakan usaha-usaha untuk memperbaiki kekeliruan guru, mengkoordinasi sarana yang tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru, mengarahkan guru yang kurang berdedikasi, dan

(17)

mengontrol pekerjaan guru tersebut.Dalam bidang kurikulum peran kepala sekolah sangat penting, karena dalam bidang ini merupakan faktor yang strategis untuk menentukan keberhasilan sekolah tersebut.

Beberapa langkah yang perlu dilaksanakan kepala sekolah antara lain: a. Membimbing guru agar dapat memilih metode mengajar yang tepat.

b. Membimbing dan mengarahkan guru dalam pemilihan bahan pelajaran yang sesuai dengan perkembangan peserta didik dan tuntutan kehidupan masyarakat.

c. Mengadakan kunjungan kelas yang teratur, untuk observasi pada saat guru mengajar dan selanjutnya didiskusikan dengan guru.

d. Pada awal tahun pelajaran baru, mengarahkan penyusunan silabus sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

e. Menyalenggarakan rapat rutin untuk membawa pelaksanaan kurikulum di sekolah. f. Setiap akhir pelajaran menyelenggarakan penilaian bersama terhadap program

sekolah.

Keberhasilan kepala sekolah sebagai dapat ditunjukkan oleh (1) peningkatan kesadaran tenaga kependidikan (guru) untuk meningkatkan kinerjanya (2) meningkatkan ketrampilan tenaga kependidikan (guru) dalam melaksanakan tugasnya. Mengenai kemampuan kepala sekolah melaksanakan supervisi diharapkan mampu mengidentifikasi para guru yang bermasalah atau yang kurang profesional dalam melaksanakan tugas, sehingga pada akhirnya diketahui titik kelemahan yang menghambat pencapaian tujuan pendidikan untuk selanjutnya dicarikan solusi.

Upaya-upaya untuk mencapai tingkat kemajuan di atas, harus terus-menerus dilakukan oleh kepala sekolah selaku supervisor, segala hal yang berhubungan dengan pencapaian tersebut perlu dicermati oleh kepala sekolah jadi dapat dikatakan bahwa kepala sekolah bertanggung jawab dalam kelancaran proses belajar mengajar, mengawasi, membina, memotivasi kinerja guru dan pegawai lainnya. (Sam, 2005:83)

Pelaksanaan pembinaan terhadap guru harus benar-benar dilaksanakan dengan baik, kepala sekolah sebagai supervisor dalam upaya meningkatkan keberhaslan guru dapat menggunakan beberapa strategi dibawah ini antara lain:

(18)

a. Mengikutsertakan guru-guru dalam penataran-panataran untuk menambah wawasan. b. Memberi kesempatan guru untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya dalam

mengajar ke jenjang yang lebih tinggi.

c. Mencari peserta didik bagi guru yang melanjutkan pendidikan melalui kerja sama dengan masyarakat, dunia usaha atau kerja sama.

2.3 Tinjauan Tentang Keberhasilan Kinerja Guru 2.3.1 Pengertian Keberhasilan Kinerja Guru

Istilah kinerja berasal dari job performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi yang sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Dalam kamus bahasa Indonesia, “kinerja berarti sesuatu yang dicapai, prestasi diperhatikan,kemampuan kerja. “Bernardin menyatakan bahwa kinerja merupakan catatan hasil yang diproduksi (dihasilkan) atas fungsi pekerjaan tertentu atau aktivitas-aktivitas selama periode waktu tertentu” (Daryanto, 2007:134)

Menurut Yamin (2010: 187) “keberhasilan kinerja pengajar atau guru adalah perilaku atau respons yang memberi hasil yang mengacu kepada apa yang mereka kerjakan ketika dia menghadapi suatu tugas . kinerja tenaga pengajar atau guru menyangkut semua kegiatan atau tingkah laku yang dialami tenaga pengajar, jawaban yang mereka buat, untuk memberi hasil atau tujuan”.

Menurut Sudjana (2010:19) “keberhasilan guru terlihat dari keberhasilanya didalam meningkatkan proses dan hasil belajar, yang meliputi: 1) Merencanakan belajar mengajar, 2) Melaksanakan dan mengelola proses belajar mengajar, 3) Menilai kemajuan proses belajar mengajar, 4) Menguasai bahan pelajaran”.

(19)

Menurut Suharsini (2003:243) keberhasilan guru dapat dilihat dari kegiatan mengajar yang dilaksanakan melalu prosedur yang tepat, yaitu dengan:

1. Membuat persiapan mengajar, berupa menyusun persiapan tertulis, mempelajari pengetahuan yang akan diberikan atau ketrampilan yang akan dipraktikan di kelas, menyiapkan meia, dan alat-alat pengajaran yang lain, menyusun alat evaluasi.

2. Melaksanakan pengajaran dikelas, berupa membuka dan menutup, memberikan penjelasan, memberikan peragaan, mengoperasikan alat-alat pelajaran serta alat bantu yang lain, mengajukan pertanyaan, memberikan jawaban melakukan program remedial. 3. Melakukan pengukuran hasil belajar, berupa pelaksanaan kuis ( pertanyaan singkat)

melaksanakan tes tertulis, mengoreksi, memberikan skor, menentukan nilai akhir.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa keberhasilan kinerja guru dapat dilihat dari kemauan dan kemampuan guru dalam melaksanakan tugas pokoknya sehari-hari. Tugas seorang guru tercermin dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dimulai dari merencanakan kegiatan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan melakukan kegiatan evaluasi pembelajaran. Itu semua tercermin dalam tugas pokok seorang guru dalam pembelajaran.

Berikut ini pengertian guru menurut para ahli yaitu:

1) Darojat (2001:39) mendefinisikan guru adalah “pendidik profesional karena secara implisit telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak orang tua”.

2) Suryosubroto (2003:26) memberikan definisi guru adalah: pendidik adalah “orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan

(20)

memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu berdiri memenuhi tugasnya sebagai hamba Allah SWT dan kholifah, dan sebagai makhluk sosial, dan sebagai makhluk individu yang mandiri”. 3) Pendapat Elaine yang dikutip oleh Ngainun (2011:115) bahwa “guru yang berkwalitas

memungkinkan anak didiknya untuk tidak hanya mencapai standar nilai akademik secara nasional, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang penting untuk belajar selama hidup mereka‟.

Jadi dapat ditegaskan kembali bahwa yang dimaksud guru yang berkualitas adalah guru yang dapat membawa peserta didik pada peningkatan dari berbagai arah, khususnya dalam peningkatan ilmu pengetahuan sebagai bekal mereka meniti masa depan.

2.3.2 Syarat dan Kompetensi Guru

Seorang guru dalam menjalankan tugasnya harus memenuhi syarat yang ditentukan, agar pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal. Mengenai tugas seorang guru yang semakin berat di masa yang akan datang, karena guru tidak hanya mendidik, mengajar, dan membimbing maka dibawah ini adalah uraian mengenai syarat-syarat seorang guru.

UU Republik Indonesia No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional pasal 42 menyatakan bahwa:

a. Pendidik harus memiliki harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasional.

b. Pendidik untuk pendidikan formal pada jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi dihasilkan oleh perguruan tinggi yang terakreditasi.

c. Ketentuan mengenai kualifikasi pendidikan sebagaimana dimaksud didalam ayat (1) dan ayat (2) ditur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

(21)

2.4 Peran kepala Sekolah dalam Meningkatkan Keberhasilan Guru 2.4.1 Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan adalah suatu cara yang memuaskan untuk membuat kegiatan dapat berjalan dengan baik, disertai dengan berbagai langkah yang antisipatif guna memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Uno, 2008:2).

Perencanaan pembelajaran merupakan sebuah usaha untuk menjalankan proses pembelajaran agar dapat berjalan dengan baik dan matang sehingga akan mendapatkan hasil pembelajaran yang memuaskan seperti apa yang telah diharapkan. Dalam konteks pengajaran, perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media, pendekatan dan metode pembelajaran, dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Jadi pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan semua potensi dan sumber yang ada baik dari dalam diri siswa maupun dari luar siswa untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Perencanaan pembelajaran ini sangat penting menjadi pedoman bagi seorang tenaga pendidik agar mampu mengarahkan peserta didiknya untuk belajar dengan baik. Guru yang baik akan berusaha sedapat mungkin agar pembelajarannya berhasil dengan optimal. Salah satu faktor yang bisa membawa keberhasilan itu ialah guru tersebut senantiasa membuat perencanaan mengajar sebelumnya. Pada garis besarnya, perencanaan pembelajaran itu bertujuan untuk mengarahkan dan membimbing kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

Secara ideal tujuan perencanaan pembelajaran adalah menguasai sepenuhnya bahan dan materi ajar, metode dan penggunaan alat dan perlengkapan pembelajaran, menyampaikan kurikulum atas dasar bahasan dan mengelola alokasi waktu yang tersedia dan membelajarkan

(22)

siswa sesuai yang diprogramkan. Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikemukakan bahwa tujuan perencanaan itu memungkinkan guru memilih metode mana yang sesuai sehingga proses pembelajaran itu mengarah dan dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Bagi guru, setiap pemilihan metode berarti menentukan jenis proses belajar mengajar mana yang dianggap efektif untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Hal ini juga sekaligus mengarahkan bagaimana guru mengorganisasikan kegiatan-kegiatan siswa dalam proses pembelajaran yang telah dipilihnya. Dengan demikian betapa pentingnya tujuan itu diperhatikan dan dirumuskan dalam setiap pembelajaran, agar pembelajaran itu benar-benar dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam kurikulum. Perencanaan pembelajaran ini memiliki beberapa tujuan yang utama yang diantaranya adalah sebagai berikut:

1.Pertama adalah dengan melakukan perencanaan pembelajaran maka jalannya pendidikan atau pembelajaran tersebut akan lebih teratur sehingga dengannya lebih memudahkan bagi para tenaga pendidik maupun bagi peserta didik untuk melakukan evaluasi terhadap pembelajaran.

2.Selanjutnya para tenaga pendidik juga akan merasa lebih mudah dalam memberikan materi kepada para peserta didiknya dan lebih mudah dalam menentukan target-target pembelajaran karena memang telah direncanakan sedemikian rupa di awal sebelum pembelajaran terjadi.

3.Dengan perencanaan yang baik maka setiap unsur dalam pembelajaran yang meliputi tenaga pendidik serta peserta didik mampu memahami perannya dengan baik dalam proses pembelajaran karena tugas-tugas yang seharusnya mereka kerjakan telah direncanakan sebelumnya.

4.Karena pembelajaran ini telah berjalan di dalam alur yang telah ditentukan dalam sebuah perencanaan yang matang maka diharapkan akan menghemat waktu dan biaya pada saat proses pembelajaran dilakukan (Sendi, 2003:78)

Perencanaan pembelajaran memainkan peran penting dalam memandu guru untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik dalam melayani kebutuhan belajar siswanya. Perencanaan pembelajaran juga dimaksudkan sebagai langkah awal sebelum proses pembelajaran berlangsung. Terdapat beberapa manfaat perencanaan pembelajaran dalam proses belajar mengajar yaitu:

(23)

a) Dengan perencanaan yang matang dan akurat, akan dapat diprediksi seberapa besar keberhasilan yang akan dicapai. Oleh karena itu akan terhindar dari keberhasilan yang sifatnya untung-untungan sebab segala kemungkinan kegagalan sudah dapat diantisipasi oleh guru. Dalam perencanaan, guru harus paham tujuan apa yang akan dicapai, strategi apa yang tepat dilakukan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, dan dari mana sumber belajar yang dapat digunakan.

b) Sebagai alat untuk memecahkan masalah. Dengan perencanaan yang matang, maka segala kemungkinan dan masalah yang akan timbul dapat diantisipasi sehingga dapat diprediksi pula jalan penyelesaiannya.

c) Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat. Dengasn perencanaan yang tepat, maka guru dapat menentukan sumber-sumber belajar yang dianggap tepat untuk mempelajari suatu bahan pembelajaran sebab saat ini banyak sekali sumber belajar yang ditawarkan baik melalui media cetak maupun elektronik.

d) Perencanaan akan membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis. Dengan perencanaan yang baik, maka pembelajaran tidak akan berlangsung seadanya, tetapi akan terarah dan terorganisir dan guru dapat memanfaatkan waktu seefektif mungkin untuk mencapai tujuan pembelajaran (Sendi, 2003:82)

2.4.2 Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran adalah “proses yang diatur sedemikian rupa menurut langkah– langkah tertentu agar pelaksanaan mencapai hasil yang diharapkan” (Nana Sudjana, 2010:136). Menurut Bahri dan Zain (2010:1) “pelaksanaan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif, nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan siswa”. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai.

Bardasarkan beberapa pembahasan di atas maka dapat diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran adalah berlangsungnya proses interaksi siswa dengan guru pada suatu lingkungan belajar.

Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru melakukan beberapa tahap pelaksanaan pembelajaran antara lain:

a) Membuka pelajaran

Kegiatan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan siswa siap secara mental untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Pada kegiatan ini guru harus memperhatikan dan memenuhi

(24)

kebutuhan siswa serta menunjukan adanya kepedulian yang besar terhadap keberadaan siswa. Dalam membuka pelajaran guru biasanya membuka dengan salam dan apsensi siswa, dan menanyakan tentang materi sebelumnya.

b) Penyampaikan Materi Pembelajaran

Penyampaian materi pembelajaran merupakan inti dari suatu proses pelaksanaan pembelajaran. Dalam penyampaian materi guru menyampaikan materi berurutan dari materi yang paling mudah terlebih dahulu,untuk memaksimalakan penerimaan siswa terhadap materi yang disampaikan guru maka guru menggunakan metode mengajar yang sesuai dengan materi dan menggunakan media sebagai alat bantu penyampaian materi pembelajaran.

Tujuan penyampaian materi pembelajaran adalah, 1) membantu siswa memahami dengan jelas semua permasalahan dalam kegiatan pembelajaran, 2) membantu siswa untuk memahami suatu konsep atau dalil, 3) melibatkan siswa untuk berpikir 4) memahami tingkat pemahaman siswa dalam menerima pembelajaran.

c) Menutup Pembelajaran

Kegiatan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan inti pembelajaran. Dalam kegiatan ini guru melakukan evaluasi terhadap materi yang telah disampaikan. Tujuan kegiatan menutup pelajaran adalah 1) Mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran. 2) Mengetahui tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. 3) Membuat rantai kompetensi antara materi sekarang dengan materi yang akan datang.

2.4.3 Evaluasi Pembelajaran

Bagi seorang tenaga pendidik yang memiliki wewenang untuk mengontrol kegiatan pembelajaran maka evaluasi pembelajaran ini sangat penting untuk mereka perhatikan. Menurut

(25)

Tyler (dalam Arikunto 2009:3) menyatakan bahwa “Evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai”.

Sementara itu, Sudijono (2011:102) menggungkapkan bahwa “kata evaluasi bersinonim dengan penilaian”. Jadi, evaluasi menunjuk pada suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Sedangkan menurut Suchman (dalam Wiyani, 2013:179) berpendapat bahwa “evaluasi adalah proses untuk menentukan hasil yang telah dicapai dari kegiatan yang telah direncanakan untuk mendukung tercapainnya kegiatan-kegiatan tersebut”.

Menurut Majid (dalam Wiyani 2013:204) Evaluasi pembelajaran otentik yaitu “proses pengumpulan informasi oleh guru mengenai perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan, atau menunjukkan secara tepat bahwa kompetensi, baik berupa pengetahuan, sikap, dan ketrampilan telah benar-benar dicapai dan kuasai”.

Penilaian otentik (Aunthentic Assesment) adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan penguatan. Istilah Assesment merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi. Sedangkan istilah otentik merupakan sinonim dari asli, nyata, valid, atau reliabel (Daryanto, 2014:113).

Penilaian otentik merupakan suatu bentuk tugas menghendaki peserta didik untuk menunjukkan kinerja di dunia nyata secara bermakna, yang merupakan penerapan esensi pengetahuan dan keterampilan. Jenis-jenis penilaian autentik terdiri dari “pengamatan sikap, penilaian-diri, tes tertulis, tes lisan, penilaian melalui penugasan, tes praktik, penilaian proyek, penilaian portofolio” (Daryanto,2014:115-122).

2.5Kerja Keras

(26)

“Kerja keras artinya melakukan suatu usaha atau pekerjaan secara terus menerus tampa mengenal lelah. Kerja keras juga dapat diartikan suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan serius sampai tercapat suatu tujuan” (Fauziah, 2001: 19)

Secara bahasa kerja keras artinya pantang menyerah. Kerja keras adalah berusaha dengan sepenuh hati dengan sekuat tenaga untuk berupaya mendapatkan keinginan pencapaian hasil yang maksimal pada umumnya. Berkerja keraslah sesuai kemampuan yang dimiliki dan jangan memaksakan diri nantinya dapat menghasilkan hasil yang kurang maksimal, kerja keras juga mempunyai batas-batas limit.

2.5.2 Manfaat kerja keras

(1) Mengembangkan potensi diri, (2) Membentuk pribadi yang bertanggung jawab, (3) Mengangkat harkat dan martabat, (4) Meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan , (5) Mencukupi kebutuhan hidup ( Maghfiroh, 2003: 68).

2.6 Pendidikan Karakter

2.6.1 Pengertian Pendidikan Karakter

“Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari” Wynne (Mulyasa, 2014: 3). “Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh sebuah benda atau individu, ciri khas tersebut asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu, serta merupakan ‘mesin’ yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, dan merespons sesuatu” (Kertajaya dalam Wiyani, 2013:24-25). Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, “karakter diartikan sebagai sifat-sifat kejiwaan, tabiat, watak, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain”. Menurut kamus psikologi, “karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan

(27)

biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap”. Secara harfiah, karakter bermakna kualitas mental atau moral, nama dan reduplikasi. Kamisa (dalam Wiyani, 2013: 25) “berkarakter artinya mempunyai watak dan kepribadian”.

Dari beberapa pengertian yang telah dijelaskan, dapat dinyatakan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental, moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus, yang menjadi pendorong dan penggerak, serta membedakannya dengan individu lain. Seseorang dapat dikatakan berkarakter, jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat, serta digunakan sebagai moral dalam hidupnya.

Menurut Mulyasa (2014:3) “Pendidikan karakter merupakan proses yang berkelanjutan dan tidak pernah berakhir (never ending process), sehingga menghasilkan perbaikan kualitas yang berkesinambungan (continous quality improvement), yang ditunjuk pada terwujudnya sosok manusia masa depan, dan berakar pada nilai-nilai budaya bangsa”. Menurut Gaffar (dalam Wiyani, 2013:26) “pendidikan karakter adalah sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam kehidupan orang itu”. Dalam definisi tersebut, ada tiga pemikiran penting, yaitu proses tansformasi, ditumbuh-kembangkan dalam kepribadian, dan menjadi salah satu dalam prilaku. “Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai upaya sungguh-sungguh dengan cara, ciri kepribadian positif dikembangkan, didorong, dan diberdayakan melalui keteladanan, kajian, serta praktik emulasi” Screnco (Wiyani, 2013: 27). Lockword (Wiyani, 2013: 27) kemudian mendefinisikan “pendidikan karakter sebagai aktivitas berbasis sekolah yang mengungkapkan secara sistematis bentuk perilaku dari siswa”. Dari definisi Lockword di atas, ternyata pendidikan karakter dihubungkan dengan setiap rencana sekolah, yang dirancang bersama lembaga masyarakat lain, untuk membentuk secara langsung dan sistematis perilaku orang

(28)

muda. Dengan demikian, idealnya pelaksanaan pendidikan karakter merupakan bagian yang terintegrasi dengan manajemen pendidikan sekolah.

“Pendidikan karakter dalam setting sekolah diartikan sebagai pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah” (Wiyani, 2013:27). Definisi ini mengandung makna berikut :

1) Pendidikan karakter adalah pendidikan yang terintegrasi dengan pembelajaran yang terjadi pada semua mata pelajaran; 2) Pendidikan karakter diarahkan pada pengembangan perilaku anak secara utuh. Asumsi yang dikemukakan ialah anak merupakan manusia yang memiliki potensi untuk dikuatkan dan dikembangkan; 3) Penguatan dan pengembangan perilaku dalam pendidikan karakter didasari oleh nilai yang dirujuk sekolah.

Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nila-nilai karakter kepada peserta didik yang meliputi komponen: kesadaran, pemahaman, kepedulian, dan komitmen yang tinggi untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik itu dihadapan Allah SWT, diri sendiri, sesame, lingkungan, maupun masyarakat dan bangsa secara keseluruhan, sehingga menjadi manusia sempurna sesuai dengan kodratnya. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen yang ada dalam sistem pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, rencana pembelajaran, proses pembelajaran, mekanisme penilaian, kualitas hubungan, pengelolaan pembelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan pengembangan diri peserta didik, pemerdayan sarana prasarana, pembiayaan, serta etos kerja seluruh warga dn lingkungan sekolah.

Dari beberapa definisi di atas dapat dinyatakan, pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya, yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Pendidikan karakter dapat dimaknai dengan pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan

(29)

untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

(30)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif yang didasarkan pada data alamiah. Metode kualitatif digunakan untuk dapat mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna.

Menurut Sugyono (2010:1) “pada penelitian kualitatif ini sering disebut sebagai metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah”. Obyek dalam penelitian ini juga bersifat alamiah, obyek yang alamiah adalah obyek yang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti sehingga kondisi pada saat peneliti memasuki obyek, setelah berada di obyek dan setelah keluar dari obyek relatif tidak berubah.

3.2 Waktu Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada kepala sekolah dan guru-guru di SDN No. 69/1 Simpang Ampelu Kec. Muara Tembesi. Sebelum penelitian ini dilakukan, peneliti melakukan observasi awal terlebih dahulu. Guna melihat situasi dan kondisi sekolah tersebut.

3.3 Data dan Sumber Data penelitian

Teknik pengumpulan data sangat dibutuhkan dalam penelitian, sebab dapat menentukan keberhasilan suatu penelitian. Kualitas data ditentukan oleh kualitas alat pengumpulan data. Untuk memperoleh gambaran dan data yang dibutuhkan ini menggunakan metode kualitatif, maka penelitian menggolongkan data kepada dua golongan, yaitu:

3.3.1 Jenis Data

(31)

3.3.1.1 Data Primer (Data Utama)

Arikunto (1993:123) menyatakan “Data primer adalah data yang diambil langsung oleh peneliti dari sumbernya”. Diamati dan dicatat untuk pertama kalinya. Karena penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dimana peneliti merupakan instrumen penelitian, maka data primer pada penelitian ini diperoleh dengan cara wawancara dan observasi. Dalam hal ini peneliti mencari dan mengumpulkan data yang berkenaan dan langsung berkaitan dengan pokok permasalahan dalam penelitian yaitu peran Kepala Sekolah dalam menanamkan nilai kerja keras pada guru dalam proses belajar mengajar diSDN No.69/1 Simpang Ampelu.

3.3.1.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data pendukung yang dikumpulkan, diolah dan disajikan dari beberapa buku bacaan dan dokumen lainnya yang berisi komentar, analisis kritik, dan sejenisnya yang berkaitan dengan data primer.

Adapun sumber data sekunder yang dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (a) Letak historis dan geografis

(b) Struktur organisasi (c) Keadaan guru dan siswa (d) Sarana dan prasarana (e) Keadaan kurikulum

3.4Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah orang yang bisa memberikan informasi-informasi utama yang dibutuhkan dalam penelitian kita. Narasumber atau informan peneliti adalah kepala sekolah, disertai 6 guru kelas dan 5 guru bidang studi.

(32)

3.5 Instrumen Penelitian

Instrumen pendukung yang peneliti gunakan adalah observasi, wawancara, dan kamera untuk mendokumentasikan proses penggunaan media kartu kata dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas. Peneliti dalam penelitian ini berperan sebagai pengamat penuh.

3.6 Teknik Pengumpulan Data Penelitian

Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 3.6.1 Observasi

Metode observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek ditempat terjadinya peristiwa. Sehingga observasi berada bersama objek yang diselidiki.

Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Dengan observasi ini maka data yang diperoleh akan lengkap, tajam dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. Metode observasi ini digunakan untuk melihat aktivitas dan peristiwa yang terjadi di sekolah SD No.69/I Simpang Ampelu tentang keberhasilan guru pada perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran dalampenerapan pendidikan karakter.

Pertama peneliti melakukan observasi tentang Letak historis dan sejarah sekolah, struktur organisasi, keadaan guru dan siswa serta sarana dan prasarananya.

3.6.2 Wawancara

“Wawancara adalah cara pengumpulan data yang dilakukan dengan bertanya dan mendengarkan jawaban langsung dari sumber utama data (Kountur, 2007:186)”. Peneliti adalah

(33)

pewawancara dan sumber data adalah orang yang diwawancarai. Jenis wawancara yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah jenis wawancara terstruktur.

W awanca ra terstruk tur adalah wawanc ara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Pokok-pokok yang menjadi dasar pertanyaan diatur sangat terstruktur.

Metode wawancara ini digunakan untuk memperoleh data atau informasi langsung melalui tanya jawab dengan responden untuk mengetahui Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Keberhasilan Guru dalam Menanamkan Nilai Kerja Keras pada Proses Belajar Mengajar di SD No.69/1 Simpang Ampelu Muara Tembesi. Dalam wawancara ini diminta agar responden memberikan informasi sesuai dengan yang dialami, diperbuat atau dirasakan.

Tabel 3.1 kisi-kisi wawancara peran kepala sekolah

(34)

Sumber: Lunenburg dan Irby (Suhardima n, 2012:3) Beri kut ini merupakan lembar observasi peran kepala sekolah: Indikator Deskriptor Keterangan 1 2 3 4 5

Sebagai Edukator Kepala sekolah

menanamkan

pembinaan mental, moral dan sikap.

Sebagai Manager Kepala sekolah

mengordinasikan serta mengendalikan agar lembaga dapat 1 Mengarahkan Guru agar mengaktifkan siswa 1. Merencanakan Guru yang akan mengajar

1. Instruksi bagi guru menyediakan kelas 2. Mendisiplinkan guru menyediakan kelas 1,2 2. Mengontrol Guru 1. Menargetkan siswa pada guru dalam pembelajaran 2. Memberikan materi sesuai batasan kurikulum 3,4 3. Membimbing Guru 1. Membuat RPP sebelum pembelajaran secara berkelanjutan 2. Menjaga system perencanaan. 5,6 4. Pemahaman guru tentang kebutuhan isi kurikulum 1. Pemahaman guru tentang kebutuhan isi untuk memfasilitasi kesuksesan pembelajaran. 2. Sumber komunitas dan tujuan pembelajaran. 7,8 5. Menyediakan panduan Kurikulum 1. Memfasilitasi perencanaan pembelajaran 2. Perencanaan pembelajaran dijalin dengan proses kurikulum. 9,10

(35)

mencapai tujuan yang telah ditetapkan

Sebagai Administrator Penangung jawab atas kelancaran pelaksanaan pendidikan

Sebagai Supervisor Menentukan syarat-syarat yang diperlukan

untuk kemajuan

lembaga

Sebagai Leader Memberikan petunjuk

dan pengawasan dan meningkatkan

kemajuan tenaga kependidikan

Sebagai Inovator Melaksanakan berbagai pembaharuan

Sebagai Motivator Memberikan motivasi

kepada tenaga kependidikan Sumber: (Agus, 2010:180) Keterangan: 1= Sangat berperan 2= Berperan 3= Cukup Berperan 4= Kurang Berperan 5= Tidak berperan 3.7 Analisis Data

Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan analisis kualitatif. 3.7.1 Analisis kualitatif

Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta (Participan observation), wawancara mendalam (in depth interview) dan

(36)

dokumentasi. Penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan, dan setelah selesai dilapangan. Dalam hal ini Nasution (1988) menyatakan “analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun kelapangan dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Analisis data menjadi pegangan bagi penelitian selanjutnya sampai jika mungkin, teori yang grounded”. Namun dalam penelitian kualitatif, analisis data lebih difokuskan selama proses di lapangan besama dengan pengumpulan data. Dalam kenyataannya, analisis data kualitatif berlangsung selama proses pengumpulan data dari pada setelah selesai pengumpulan data.

Analisis sebelum di lapangan dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian. Namun demikian fokus penelitian ini masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk dan selama penelitian.

3.7.2 Reduksi Data

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak untuk itu perlu dicatat secara teliti dan terinci, semakin lama peneliti dilapangan maka semakin banyak jumlah data yang diperoleh untuk itu perlu segera dianalisis data melalui reduksi data, mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, dicari tema dan polanya dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan dan mencari bila diperlukan. Reduksi data dapat dibantu dengan menggunakan komputer mini dengan cara memberikan kode-kode pada aspek tertentu. Dalam hal ini peneliti mereduksi data dengan memfokuskan pada rumusan masalah yang ada dalam penelitian peneliti.

(37)

Setelah direduksi maka langkah selanjutnya penyajian data bisa dilakukan dengan bentuk uraian singkat, bagan, hubungan anatar kategori. Melalui penyajian data tersebut akan terorganisasikan dean tersusun dalam pola hubungan sehingga mudah dipahami. Dengan penyajian data maka akan mempermudah memahami apa yang terjadi untuk merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami. Untuk itu, peneliti akan menguji apa yang telah ditemukan saat memasuki lapangan yang masih bersifat hipotetik itu berkembang atau tidak.

Data-data dikumpulkan dari lapangan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data-data yang terkumpul tersebut direduksi kemudian setelah dipilih hal-hal pokok mengenai masalah penelitian, data tersebut bisa disajikan dalam bentuk teks yang berupa naratif dan jika diperlukan penyajian data juga dapat berupa grafik, matrik, network (jejaring kerja) chart.

3.7.4 Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan diawal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukan merupakan kesimpulan yang kaut.

3.8Triangulasi Data

Dalam teknik pengumpulan data “triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada” (Sugiyono, 2012:83). Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji

(38)

krebilitas data, yaitu mengecek krebilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data.

Triangulasi teknik, berarti peneliti menggunakan tehnik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama, peneliti menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak, triangulasi sumber berarti untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dari teknik yang sama.

Ada beberapa macam triangulasi yang bisa dilakukan oleh seseorang peneliti diantaranya:

3.8.1 Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Sebagai contoh, untuk menguji kredibilitas data tentang gaya kepemimpinan seseorang, maka pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh dilakukan kebawahan yang dipimpin, keatasan yang menugasi, dan keteman kerja yang merupakan kelompok kerja sama. Data dari ketiga sumber tersebut tidak bisa dirata-ratakan seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi dideskripsikan, dikategorisasikan, mana pandangan yang sama, yang berbeda dan mana spesifik dari tiga sumber data tersebut.

3.8.2 Triangulasi Teknik

Dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, misalnya data yang diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumetasi dan begitu pula dengan sebaliknya.

3.8.3 Triangulasi Waktu

Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data, data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara dipagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan

(39)

memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda.

(40)

BAB IV

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

Pada bab ini akan dipaparkan secara berturut-turut data dan temuan penelitian yang diperoleh dari SD Negeri No 69/1 Simpang Ampelu Kec. Muara Tembesi.

4.1 Hasil Penelitian

Penelitian ini mengenai pendekatan saintifik dalam meningkatkan keberhasilan guru dalam menanamkan kerja keras pada proses belajar mengajar di SDN 69/1 Simpang Ampelu Muara Tembesi.Penelitian ini dilakukan pada kepala sekolah dan guru-guru di SDN No. 69/1 Simpang Ampelu Kec. Muara Tembesi.

4.1.1 Hasil Observasi/ Pengamatan

Berikut ini hasil observasi dengan guru tentang peran kepala sekolah dalam meningkatkan keberhasilan guru dalam menanamkan nilai kerja keras pada proses belajar mengajar di SD N 69/I Simpang Ampelu Muara Tembesi

Tabel 4.1 Hasil Observasi Peran Kepala sekolah dalam meningkatkan keberhasilan guru dalam menanamkan nilai kerja keras

Indikator Deskriptor Keterangan

1 2 3 4 5 Sebagai Edukator Kepala sekolah menanamkan

pembinaan mental, moral dan sikap.

Sebagai Manager Kepala sekolah mengordinasikan serta mengendalikan agar lembaga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan

Sebagai Administrator

Penangung jawab atas kelancaran pelaksanaan

√ 43

(41)

pendidikan

Sebagai Supervisor Menentukan syarat-syarat yang diperlukan untuk kemajuan lembaga

Sebagai Leader Memberikan petunjuk dan pengawasan dan meningkatkan kemajuan tenaga kependidikan

Sebagai Inovator Melaksanakan berbagai pembaharuan

Sebagai Motivator Memberikan motivasi kepada

tenaga kependidikan √ Keterangan: 1= Sangat berperan 2= Berperan 3= Cukup Berperan 4= Kurang Berperan 5= Tidak berperan

Hasil keterangan observasi peran kepala sekolah dalam meningkatkan keberhasilan guru dalam menanamkan nilai kerja keras pada proses belajar mengajar di SD N 69/I Simpang Ampelu Muara Tembesi.

Deskriptor Tanggapan peneliti

Kepala sekolah menanamkan pembinaan mental, moral dan sikap.

Terlihat dari hasil observasi kepala sekolah sudah berperan dalam meningkatkan dan menanamkan pembinaan mental, watak serta pembinaan moral

Kepala sekolah mengordinasikan serta mengendalikan agar lembaga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan

Terlihat kepala sekolah berperan dalam mengendalikan segala kegiatan belajar di sekolah..

Penangung jawab atas kelancaran pelaksanaan pendidikan

Kepala sekolah terlihat sangat berperan atas kelancaran pelaksanaan pendidikan dan pengajaran.

(42)

Menentukan syarat-syarat yang diperlukan untuk kemajuan lembaga

Terlihat kepala sekolah sangat berperan dalam kemajuan sekolah, segala kegiatan yang ada dapat berjalan dengan baik.

Memberikan petunjuk dan

pengawasan dan meningkatkan kemajuan tenaga kependidikan

Terlihat kepala sekolah sangat berperan dalam membuka komunikasi kepada tenaga pendidik di sekolah. Melaksanakan berbagai pembaharuan Kepala sekolah berperan langsung

dalam pembaharuan kemajuan seperti mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan dinas pendidikan setempat. Memberikan motivasi kepada tenaga

kependidikan

Kepala sekolah berperan langsung dalam memotivasi tenaga pendidik dengan baik.

4.1.1.1 Display Data

Terlihat kepala sekolah sudah berperan dalam meningkatkan dan menanamkan pembinaan mental, watak serta pembinaan moral, dalam mengendalikan segala kegiatan belajar di sekolah, kepala sekolah terlihat sangat berperan atas kelancaran pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, dalam kemajuan sekolah, segala kegiatan yang ada dapat berjalan dengan baik, serta membuka komunikasi kepada tenaga pendidik di sekolah, kemudian kepala sekolah tersebut dapat melakukan pembaharuan kemajuan seperti mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan dinas pendidikan setempat dan juga dapat memotivasi tenaga pendidik dengan baik.

4.1.1.2 Verifikasi dan Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat dijeaskan bahwa peran kepala sekolah dalam meningkatkan keberhasilan guru dalam menanamkan nilai kerja keras sudah berjalan dengan baik.

(43)

Wawancara dilakukan di SDN 69/1 Simpang Ampelu Muara Tembesi pada tanggal 28 september sampai dengan 10 oktober 2015. Wawancara berlangsung pada saat proses kegiatan belajar mengajar telah usai sehingga tidak menganggu kegiatan pembelajaran. Informan dalam wawancara ini adalah wali kelas 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan informan bersedia untuk diwawancarai. Peneliti meminta agar responden dapat menjawab pertanyaan dengan sebenar-benarnya. Peneliti mewawancarai informan secara bergantian, dengan menanyakan 10 pertanyaan dalam pedoman wawancara yang telah peneliti susun. Pada saat wawancara jawaban dari informan di tulis ke dalam buku. Berikut ini uraian hasil wawancara dengan guru SDN 69/1 Simpang Ampelu Muara Tembesi.

1) Uraian Hasil Wawancara dengan Informan I (Wali Kelas IV A)

Peneliti : “Ibu, maaf menganggu waktunya sebentar, saya astuti, di sini saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada ibu, Apakah Ibu bersedia?”. Informan 1 : “ Iya, bersedia”

Peneliti : “ Baik Bu, di sini saya memiliki 10 pertanyaan. Kita mulai saja ya bu”?.

Informan 1 : “Ya”.

Peneliti : “Apakah kepala sekolah memberikan instruksi tertentu kepada setiap guru untuk memulai kegiatan belajar?

Informan 1 : “Iya, kepala sekolah selalu memberikan arahan waktu untuk masuk kelas”

Peneliti : Apakah ada sanksi tertentu untuk guru yang terlambat datang ke sekolah?”.

Informan 1 : “ada, yaitu tunjangan guru akan dipotong jika guru terambat dating ke sekolah”

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir Peran Kepala Sekolah
Tabel  4.1  Hasil  Observasi  Peran  Kepala  sekolah  dalam  meningkatkan  keberhasilan  guru dalam menanamkan nilai kerja keras
Tabel 4.3 Hasil Reduksi Data Wawancara Wali kelas 4 dan Wali Kelas 5  Jawaban dari Wali Kelas 4  Jawaban dari wali kelas5
Tabel 4.5 Temuan Penelitian  No                           Temuan penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menjamin efektifitas dan keamanan, pemberian obat harus dilakukan secara rasional, yang berarti perlu dilakukan diagnosis yang akurat, memilih obat

Penyebab terbanyak peritonitis akut adalah akibat rupture appendiks dengan presentase 15,9% dari seluruh etiologi yang termasuk dalam peritonitis akut dengan jumlah

bahwa untuk memberikan pedoman penggunaan Dana Desa sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 21 Tahun

Setiap kali anda datang ke rumah sakit tersebut, apakah petugas kesehatan mengingatkan anda untuk teratur menjalani ARV dari segi waktu minum obat, dosis sampai risiko

Luaran yang diharapkan dari penelitian ini melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsacipta (PKM-KC) ini adalah tercapainya aplikasi edukatif matematika pada materi

Dalam penelitian ini sebesar 72% (lampiran 3, tabel 4.2.1) dari total responden menyatakan bahwa teman memberikan dorongan untuk membeli produk di restoran atau kafe

Sementara berdasarkan data sebaran gambut, sekitar 29,46% dari wilayah Kabupaten Katingan merupakan kawasan bergambut dan kawasan yang bergambut dalam dan tebal

Hal ini karena dengan implementasi IP Multipath dilakukan pembagian trafik pada kedua link yang terpasang pada sistem sehingga ukuran paket yang melalui