BAB IV ANALISIS DATA DAN PENELITIAN. menghasilkan produk berupa kain-kain polosan berwarna (kain yang tidak

Teks penuh

(1)

commit to user

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PENELITIAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Sejarah PT. Sari Warna Asli III

Perusahaan tekstil PT Sari Warna Asli III adalah perusahaan yang menghasilkan produk berupa kain-kain polosan berwarna (kain yang tidak bermotif). Perusahaan ini pada saat didirikannya masih berbentuk perusahaan perseorangan oleh Bapak Abdullah Kawileh dengan Alladintex Abadi. Pemberian nama Alladintex Abadi ini diilhami oleh cerita yang mengisahkan tentang seorang pangeran Alladin yang tampan, gagah berani dan jujur yang memiliki sebuah lampu ajaib yaitu sebuah lampu wasiat yang mampu untuk mengubah yang buruk menjadi baik, yang jelek menjadi indah, semua yang telah berubah tidak akan berubah kembali atau akan menjadi abadi. Tujuan pemberian nama ini adalah agar perusahaan yang bersangkutan dapat menciptakan produk-produk berupa kain yang berkualitas baik serta indah untuk dilihat.

Pada permulaan usahanya, Persero Alladintex Abadi ini menerima pesanan berupa kain-kain polosan dalam kuantitas yang masih kecil, penjualan dan ekspansi yang dilakukan oleh persero ini lebih bersifat lokal. Pada tahun 1982 bentuk perusahaan yang merupakan persero diubah menjadi bentuk CV, dan terjadi pergantian pimpinan perusahaan. Yang semula dijabat oleh Bapak Abdullah Kawileh digantikan oleh putranya yaitu Bapak Drs. Muhammad Kawileh. Struktur organisasi dan manajemen dari CV Alladintex Abadi belum tertata rapi, sehingga para

(2)

pekerja masih bekerja secara serabutan karena pada saat itu job

description dari perusahaan belum jelas.

Tugas, wewenang dan tanggung jawab dari para karyawan belum teridentifikasi secara baik. Proses perekrutan tenaga kerja dilakukan secara langsung ke desa-desa, pendaftaran tenaga kerja dilakukan secara umum. Pada tahun 1983 perusahaan mengalami penurunan dalam pemasaran, hal ini kemudian mendorong perusahaan untuk mengadakan kerjasama dengan PT Sari Warna Asli Group. Mulai saat itu bentuk perusahaan berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) dengan nama PT Alladintex Abadi. Perusahaan ini merupakan anak cabang dari PT Sari Warna Asli Group, sehingga untuk peraturan-peraturan masih berpegang pada PT Sari Warna Asli Group.

Kegiatan produksi yang dijalankan oleh PT Alladintex Abadi adalah berdasarkan atas permintaan dari konsumen, yaitu tetap berupa kain polosan, sedangkan untuk pemberian motif kain untuk penyempurnaan produk adalah peran pihak PT Sari Warna Asli Group. Seiring dengan berjalannya waktu, permintaan konsumen pun semakin meningkat sehingga perlu diimbangi dengan peningkatan mutu produk yang berkualitas baik. Pengembangan mesin-mesin dengan mesin modern dan prasarana-prasarana lain yang akan lebih mendukung lancarnya kegiatan proses produksi. Selain pengembangan mesin, lokasi perusahaan pun mulai dikembangkan menjadi luas. Untuk memenuhi permintaan pasar dan meningkatkan produksinya, pada tahun 2000 tepatnya bulan Februari 2000 dilaksanakan merger dengan PT Sari Warna Asli Group dan nama

(3)

2009 bulan September dengan adanya pasar bebas perusahaan mengalami penurunan dan beberapa saham dijual dan dibeli PT SRITEX. PT SRITEX mulai Maret 2010 menjadi bagian dari PT. SRITEX GROUP, kemudian melakukan penggabungan teknologi dan mesin-mesin diperbaharui yaitu mesin persiapan, mesin tenun serta meningkatkan produksi dan penambahan mesin-mesin dan ekspor jadi lebih lancar.

2. Letak Geografis Perusahaan

Lokasi perusahaan merupakan salah satu faktor yang cukup menentukan, disamping faktor lain yakni kualitas produk, harga jual produk, dan pelayanan. Sebab lokasi perusahaan secara langsung terkait dengan pamasaran hasil produksinya. PT Sari Warna Asli III terletak di Jalan Solo – Sragen Km 9/10 Jaten, Karanganyar, telp. (0271) 825471. Alasan pemilihan lokasi ini antara lain karena :

a. Daerah tersebut merupakan lingkungan industri tekstil. Dengan adanya perusahaan-perusahaan tekstil di sektiarnya akan menambah daya saing sehingga dapat mendorong dalam meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan.

b. Lokasi perusahaan yang terletak di Jalan Solo Km 9/10, merupakan jalan raya yang menghubungkan antara kota Solo dengan kota Sragen sehingga mudah dalam transportasi.

c. Tenaga kerja mudah didapat, karena perusahaan lebih memilih tenaga kerja di lingkungan sekitar perusahaan, karena fungsi didirikannya suatu perusahaan agar dapat menyerap tenaga kerja di lingkungan sekitar perusahaan tersebut.

(4)

3. Jam Kerja Perusahaan

Waktu jam kerja PT. Sari Warna Asli III menyesuaikan dengan kondisi dan situasi bidang-bidang pekerjaannya yang ada dalam perusahaan, yang diatur oleh kebutuhan dengan tidak meninggalkan undang-undang dan peraturan-peraturan yang berlaku. Proses produksi di PT Sari Warna Asli III bersifat kontinyu (tidak boleh berhenti mengingat bahan baku dan pemrosesannya), sehingga jadwal kerja karyawan di PT Sari Warna Asli III dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok shift dan kelompok general shift:

a) Jam kerja untuk kelompok shift:

Shift I (pagi) : jam 07.00 – 15.00 dan jam 12.00 – 13.00 istirahat Shift II (siang) : jam 15.00 – 11.00 dan jam 06.00 – 07.00 istirahat Shift III (malam) : jam 11.00 – 07.00 dan jam 02.00 – 03.00 istirahat b) Jam kerja untuk kelompok general shift

Hari I – IV : jam 08.00 – 17.00 Hari VI : jam 07.00 – 12.00 Hari VII : libur

(5)

B. Analisis Deskriptif Responden

Analisis deskriptif dilakukan dengan mengumpulkan, mengolah dan menyajikan data observasi agar pihak lain dapat dengan mudah memperoleh gambaran mengenai sifat objek dan data tersebut (Sekaran, 2000). Dalam penelitian ini yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan responden adalah supervisor dan karyawan dengan lama kerja 2 tahun atau lebih yang bekerja di PT. Sari Warna Asli III, Karanganyar.

Pengumpulan data dilakukan selama 1 (satu) bulan dimulai dari tanggal 10 November - 10 Desember 2015 dengan jumlah kuesioner yang diberikan kepada responden sebanyak 120 kuesioner. Hal ini didasarkan pada ketentuan sampel minimal 6 kali indikator yaitu 6 x 18 indikator pada kuesioner yaitu berjumlah 108, yang kemudian dilebihkan 12 kuesioner sebagai antisipasi adanya kuesioner yang tidak kembali, rusak, atau tidak lengkap.

Tabel IV.1

Jumlah Kuesioner Responden

Keterangan Jumlah Respon rate

Kuesioner yang dibagikan 120 100%

Kuesioner yang kembali 120 100%

Kuesioner tidak lengkap 11 9,2%

Jumlah kuesioner yang diolah 109 90,8%

1. Karakteristik Responden

Gambaran tentang karakteristik responden diperoleh dari data diri yang terdapat pada bagian data responden yang terdiri dari jenis kelamin, usia, pendidikan, lama kerja dan unit kerja yang disajikan pada tabel IV.2, IV.3, IV.4, IV.5 dan IV.6 berikut ini:

(6)

Tabel IV.2

Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)

Laki-laki 63 57,8

Perempuan 46 42,2

Jumlah 109 100

Sumber: Data primer yang diolah (2016)

Berdasarkan Tabel IV.2 dapat diketahui dari 109 responden, 57,8% atau 63 responden berjenis kelamin laki-laki dan 42,2% atau 46 responden berjenis kelamin perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan adalah laki-laki karena bekerja untuk parusahaan manufaktur.

Tabel IV.3

Deskripsi Responden Berdasarkan Usia

Usia (Tahun) Frekuensi Persentase (%)

21 – 25 35 32,1 26 – 30 19 17,4 31 – 35 13 11,9 36 – 40 16 14,7 > 41 26 23,9 Jumlah 109 100

Sumber: Data primer yang diolah (2016)

Berdasarkan Tabel IV.3 dapat diketahui bahwa dari 109 responden, sebagian besar responden yaitu 35 orang (32,1%) berusia dibawah 25 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan masih muda.

(7)

Tabel IV.4

Deskripsi Responden Berdasarkan Pendidikan

Pendidikan Frekuensi Persentase (%)

SD 8 7,3

SMP 28 25,7

SMA 72 66,1

D3 1 0,9

Jumlah 109 100

Sumber: Data primer yang diolah (2016)

Berdasarkan Tabel IV.4 dapat diketahui bahwa dari 109 responden, sebagian besar responden yaitu 72 orang (66,1%) berpendidikan terakhir SMA atau sederajat. Hal ini dikarenakan sebagian besar karyawan bekerja untuk bagian produksi perusahaan.

Tabel IV.5

Deskripsi Responden Berdasarkan Lama Kerja Lama Kerja

(Tahun) Frekuensi Persentase (%)

<5 53 48,6 6 – 10 8 7,3 11 – 15 11 10,1 16 – 20 9 8,3 21 – 25 24 22,0 26 – 30 4 3,7 Jumlah 109 100

Sumber: Data primer yang diolah (2016)

Berdasarkan Tabel IV.5 dapat diketahui bahwa dari 109 responden, sebagian besar responden yaitu 53 orang (48,6%) telah bekerja dibawah 5 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar merupakan karyawan baru di perusahaan.

(8)

Tabel IV.6

Deskripsi Responden Berdasarkan Unit Kerja

Unit Kerja Frekuensi Persentase (%)

Persiapan 20 18,3

Weaving 61 56,0

PPC 20 18,3

Mekanik 8 7,3

Jumlah 109 100

Sumber: Data primer yang diolah (2016)

Berdasarkan Tabel IV.6 dapat diketahui bahwa dari 109 responden, sebagian besar responden yaitu 61 orang (56,0%) bekerja di bagian Weaving. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden ketika dilakukan penyebaran kuesioner bekerja di bagian Weaving.

2. Tanggapan Responden

Tanggapan responden terhadap kuesioner yang diberikan peneliti nampak pada jawaban responden. Dalam analisis ini akan diuraikan mengenai kecenderungan pendapat dan tanggapan dari karyawan PT. Sari Warna Asli III. Pernyataan responden mengenai variabel penelitian dapat dilihat pada jawaban responden terhadap kuesioner yang diberikan peneliti dan pernyataan ini diukur menggunakan skala Likert.

a. Tanggapan Responden Mengenai Responsif Supervisor

Deskripsi tanggapan responden sebanyak 109 orang terhadap indikator pernyataan responsif supervisor berjumlah 6 indikator. Dari data kuesioner yang terdapat pada lampiran dapat dilihat deskripsi tanggapan responden pada setiap indikator pernyataan.

(9)

Indikator-indikator tersebut diukur dengan menggunakan skala likert 7 poin, (1) STS = Sangat Tidak Setuju, (2) TS = Tidak Setuju, (3) KS = Kurang Setuju, (4) RR = Ragu-ragu, (5) AS = Agak Setuju, (6) S = Setuju, (7) ST = Sangat Setuju.

Tabel IV.7

Deskripsi Tanggapan Responden Terhadap Responsif Supervisor

No Pertanyaan Alternatif Jawaban Mean

STS TS KS RR AS S SS

RS1 Supervisor saya bersedia mendukung saya jika urusan saya benar.

- - - 7 7 60 35 6,13

RS2 Supervisor saya mengambil tindakan untuk memperbaiki masalah yang saya bicarakan dengan dia atau tentang dia.

- - - 2 11 68 28 6,12

RS3 Supervisor saya berlaku adil ketika saya mencari perhatian kepadanya.

- - - 8 24 69 8 5,71

RS4 Supervisor saya mendengarkan dengan seksama apa yang saya katakan ketika saya berbicara kepadanya.

- - - 5 7 74 23 6,06

RS5 Supervisor saya menangani masalah saya dengan segera.

- - - 16 30 56 7 5,50

RS6 Saya membawa masalah kepada supervisor saya karena dia dapat diandalkan.

- - - 12 30 53 14 5,63

Mean 5,85

Sumber: Data primer yang diolah (2016)

Tabel IV.7 menunjukkan tanggapan responden terhadap indikator-indikator responsif supervisor menyatakan ‘setuju’ dan memperoleh nilai mean sebesar 5,85 yang menunjukkan bahwa supervisor dianggap responsif terhadap karyawan terkait pekerjaan. Namun dari masing-masing mean pada setiap indikator dapat dilihat

(10)

bahwa indikator ke-5 bernilai paling rendah yaitu 5,50 sehingga sebaiknya supervisor harus mampu menangani masalah karyawan dengan segera.

b. Tanggapan Responden Mengenai

Deskripsi tanggapan responden sebanyak 109 orang terhadap indikator pernyataan self-perceived status berjumlah 3 indikator. Dari data kuesioner yang terdapat pada lampiran dapat dilihat deskripsi tanggapan responden pada setiap indikator pernyataan adalah sebagai berikut:

Tabel IV.8

Deskripsi Tanggapan Responden Terhadap

No Pertanyaan Alternatif Jawaban Mean

STS TS KS RR AS S SS

SPS1 Saya memiliki banyak status dalam tim. (dihormati, dihargai, dapat diandalkan, berpengalaman,

berwawasan luas, dan lain-lain)

- - - 7 36 49 17 5,70

SPS2 Tim saya sangat

menghargai saya. - - - 3 15 72 19 5,98

SPS3 Tim saya memberi saya kesempatan untuk membuat keputusan penting.

- 1 - 4 37 49 18 5,72

Mean 5,8

Sumber: Data primer yang diolah (2016)

Tabel IV.8 menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap indikator-indikator self-perceived status menyatakan ‘setuju’ dan memperoleh nilai mean sebesar 5,8 yang menunjukkan bahwa

(11)

anggota kelompok. Namun dari masing-masing mean pada setiap indikator dapat dilihat bahwa indikator ke-1 bernilai paling rendah yaitu 5,70 sehingga karyawan perlu diberikan kesempatan berkontribusi lebih dalam tim agar mendapatkan status dalam tim.

c. Tanggapan Responden Mengenai

Deskripsi tanggapan responden sebanyak 109 orang terhadap indikator pernyataan self-efficacy for voice berjumlah 3 indikator. Dari data kuesioner yang terdapat pada lampiran dapat dilihat deskripsi tanggapan responden pada setiap indikator pernyataan adalah sebagai berikut:

Tabel IV.9

Deskripsi Tanggapan Responden Terhadap

No Pertanyaan Alternatif Jawaban Mean

STS TS KS RR AS S SS

SEV1 Saya percaya diri dengan kemampuan

saya untuk

menyuarakan pendapat saya tentang kegiatan kerja.

- - - 1 17 57 34 6,14

SEV2 Saya memiliki cukup keterampilan dan pengalaman untuk menyuarakan pendapat saya.

- - - 1 13 66 29 6,13

SEV3 Saya yakin dengan kemampuan saya untuk menyuarakan pendapat saya dalam tim.

- - - - 15 63 31 6,15

Mean 6,14

(12)

Tabel IV.9 menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap indikator-indikator self-efficacy for voice menyatakan ‘setuju’ dan memperoleh nilai mean sebesar 6,14 yang menunjukkan bahwa karyawan merasa memiliki kemampuan dalam menyuarakan pendapatnya. Namun dari masing-masing mean pada setiap indikator dapat dilihat bahwa indikator ke-2 bernilai paling rendah yaitu 6,13 sehingga karyawan perlu dilatih agar memiliki kemampuan untuk menyuarakan pendapatnya.

d. Tanggapan Responden Mengenai

Deskripsi tanggapan responden sebanyak 109 orang terhadap indikator pernyataan voice behavior berjumlah 6 indikator. Dari data kuesioner yang terdapat pada lampiran dapat dilihat deskripsi tanggapan responden pada setiap indikator pernyataan seperti yang ditunjukkan tabel IV.10.

Indikator-indikator tersebut diukur dengan menggunakan skala likert 7 poin, (1) TP = Tidak Pernah, (2) HP = Hampir Pernah, (3) HS = Hanya Sekali, (4) J = Jarang, (5) AS = Agak Sering, (6) S = Sering, (7) HS = Hampir Selalu.

Tabel IV.10 menunjukkan tanggapan responden terhadap indikator-indikator voice behavior menyatakan ‘setuju’ dan memperoleh nilai mean sebesar 5,91 yang menunjukkan bahwa rata-rata karyawan mampu menyuarakan pendapatnya dalam tim kerja. Namun dari masing-masing mean pada setiap indikator dapat dilihat

(13)

karyawan juga perlu menyampaikan pendapat orang lain dalam kelompok agar terdapat banyak pandangan tentang bagaimana solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah pekerjaan yang dihadapi.

Tabel IV.10

Deskripsi Tanggapan Responden Terhadap

No Pertanyaan Alternatif Jawaban Mean

TP HP PS J AS S HS

VB1 Karyawan mengembangkan dan membuat rekomendasi tentang isu-isu yang mempengaruhi kelompok kerja.

- - - 4 33 46 26 5,86

VB2 Karyawan berbicara dan mendorong orang lain dalam kelompok untuk terlibat dalam isu-isu yang mempengaruhi kelompok kerja.

- - - - 26 56 27 6,01

VB3 Karyawan menyampaikan pendapat orang lain

tentang masalah

perkerjaan dalam kelompok

kerja meskipun

pendapatnya berbeda dengan yang lain.

- - - 13 20 61 15 5,72

VB4 Karyawan selalu

memberikan informasi dengan baik tentang isu-isu di mana pendapatnya mungkin berguna untuk kelompok kerja

- - - 2 9 74 24 6,10

VB5 Karyawan terlibat dalam isu-isu yang mempengaruhi kualitas pekerjaan di dalam kelompok.

- - - - 31 57 21 5,91

VB6 Karyawan berbicara dalam kelompok dengan ide-ide untuk proyek baru atau perubahan dalam prosedur.

- - - 7 18 62 22 5,91

Mean 5,91

(14)

C. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan dengan tujuan untuk membuktikan bahwa instrument atau alat ukur, teknik, atau proses yang digunakan untuk mengukur suatu konsep benar-benar melakukan fungsi ukurnya yaitu konsep yang diinginkan (Sekaran, 2000). Pengujian validitas penelitian ini dengan

Confirmatory Factor Analysis (CFA) menggunakan software SPSS Statistics 22 for windows, dikatakan valid jika setiap item pertanyaan mempunyai factor loading ≥ 0,50. Selain itu, nilai Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy yang berada diatas 0,5 dan memiliki signifikansi dibawah 0,05

menunjukkan bahwa suatu variabel dapat dianalisis lebih lanjut.

Berdasarkan hasil uji validitas pada Tabel IV.11, indikator pertanyaan yang tidak terekstrak dikeluarkan untuk mendapatkan hasil uji validitas yang diharapkan. Hasil uji validitas yang telah terekstrak sempurna dapat dilihat pada Tabel IV.12.

(15)

Tabel IV.11 Hasil Uji Validitas KMO and Bartlett’s Test

Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling

Adequacy. .698 Bartlett’s Test of Sphericity Approx. Chi-Square 635.890 df 153 Sig. .000

Rotated Component Matrixa

Component 1 2 3 4 RS1 .815 RS2 .673 RS3 .705 RS4 .691 RS5 .615 RS6 SPS1 .737 SPS2 .799 SPS3 .749 VB1 .694 VB2 .686 VB3 VB4 .565 VB5 .627 VB6 .575 SEV1 .881 SEV2 .866 SEV3 .867

Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization.a a. Rotation converged in 5 iterations.

(16)

Tabel IV.12 Hasil Uji Validitas KMO and Bartlett’s Test

Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling

Adequacy. .714 Bartlett’s Test of Sphericity Approx. Chi-Square 558.291 df 105 Sig. .000

Rotated Component Matrixa

Component 1 2 3 4 RS1 .870 RS2 .645 RS3 .697 RS4 .695 SPS1 .792 SPS2 .880 SPS3 .752 VB1 .681 VB2 .634 VB4 .582 VB5 .634 VB6 .642 SEV1 .888 SEV2 .888 SEV3 .871

Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization.a

a. Rotation converged in 5 iterations. Sumber: Data primer yang diolah (2016)

(17)

mengukur variabel yang diuji pada penelitian sehingga indikator pertanyaan tersebut perlu dihilangkan dengan pertimbangan masih ada indikator-indikator pertanyaan lain yang dapat mengukur variabel tersebut.

Nilai Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy dalam penelitian ini sebesar 0,714. Karena nilai KMO Measure of Sampling

Adequacy diatas 0,5 dan signifikansi pada 0,000 dapat disimpulkan bahwa uji

analisis dapat dilakukan lebih lanjut. Selanjutnya, pada tabel Rotated

Component Matrix, seluruh indikator baik dari Responsif Supervisor, Self-Perceived Status, Voice Behavior, dan Self-Efficacy for Voice telah terekstrak

sempurna (factor loading ≥ 0,50).sehingga dinyatakan valid dan dapat dilanjutkan pada uji reliabilitas.

D. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2006). Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach’s Alpha ≥ 0,60 (Nunnally dalam Ghozali, 2006). Dari hasil uji reliabilitas menggunakan bantuan SPSS

Statistics 22 for windows didapatkan nilai Cronbach’s Alpha masing-masing

(18)

Tabel IV.13 Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Keterangan

Responsif Supervisor (RS) 0,751 Reliabel

Self-Perceived Status (SPS) 0,816 Reliabel

Voice Behavior (VB) 0,648 Reliabel

Self-Efficacy for Voice (SEV) 0,876 Reliabel

Sumber: Data primer yang diolah (2016)

Berdasarkan Tabel IV.13, dapat diketahui bahwa keseluruhan variabel penelitian dinyatakan reliabel karena mempunyai nilai Cronbach’s Alpha ≥ 0,60.

E. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode statistik

Structural Equation Model (SEM). Pada prinsipnya, model struktural

bertujuan untuk menguji hubungan sebab akibat dari hubungan variabel sehingga jika salah satu variabel diubah, maka terjadi perubahan pada variabel yang lain. Analisis SEM dimungkinkan terdapat beberapa variabel dependen, dan variabel ini dimungkinkan menjadi variabel independen bagi variabel dependen yang lainnya.

Data penelitian ini diolah menggunakan sofware Amos 16. Ada beberapa asumsi yang harus dipenuhi sebelum melakukan pengujian dengan pendekatan SEM. Asumsi-asumsi SEM tersebut meliputi asumsi kecukupan sampel, normalitas, dan outliers (Ferdinand, 2000). Berikut pembahasan mengenai asumsi pada SEM.

(19)

1. Asumsi Kecukupan Sampel

Jumlah responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 120 responden. Dari 120 kuesioner yang dibagikan, kembali 120 kuesioner, dan setelah dilihat bahwa kuesioner yang lengkap dan layak untuk diolah sebanyak 109 kuesioner yang kemudian diuji dan dianalisis dalam penelitian ini. Jumlah tersebut sudah dinilai memenuhi karena jumlah sampel minimal bagi penelitian yang menggunakan analisis statistik SEM dengan prosedur Maximum Likelihood Estimation (jumlah indikator dikali 5-10). Sample minimal 6 kali indikator yaitu 6 x 18 indikator pada kuesioner yaitu berjumlah 108 responden, sehingga jumlah sampel sebanyak 109 sudah dianggap memenuhi.

2. Asumsi Normalitas

Syarat lain yang harus dipenuhi dalam menggunakan analisis SEM yaitu normalitas data. Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah distribusi data mengikuti atau mendekati distribusi normal. Normalitas dibagi menjadi 2 yaitu univariate normally dan multivariate

normally. Ghozali (2008) membagi distribusi data menjadi 3 bagian, yaitu:

4) Normal, yaitu nilai skewness kurang dari 2 dan nilai kurtosis kurang dari 7.

5) Moderately non-normal, yaitu besarnya data yang tidak normal adalah sedang. Nilai skewness antara 2 sampai 3 dan nilai kurtosis antara 7 sampai 21.

6) Extremely non-normal, yaitu distribusi data yang tidak normal sangat besar. Nilai skewness diatas 3 dan nilai kurtosis diatas 21.

(20)

Normalitas univariate dan multivariate terhadap data yang digunakan dalam analisis ini diuji menggunakan Amos 16. Hasil Uji asumsi normalitas dapat dilihat pada Tabel IV.14.

Tabel IV.14 Hasil Uji Normalitas

ß--»--³»²¬ ±º ²±®³¿´·¬§ øÙ®±«° ²«³¾»® ï÷

Variable min max skew c.r. kurtosis c.r.

RS 16.000 28.000 -1.181 -5.033 2.450 5.221 SEV 15.000 21.000 -.288 -1.228 -.473 -1.007

SPS 12.000 21.000 -.307 -1.308 .247 .526

VB 25.000 35.000 .099 .421 -.529 -1.127

Multivariate 22.111 13.795

Sumber: Data primer yang diolah (2016)

Berdasarkan Tabel IV.14, evaluasi normalitas diidentifikasi baik

secara univariate. Secara univariate untuk nilai c.r. pada skewness,

semua variabel bernilai < 2. Sedangkan untuk nilai c.r. pada kurtosis, semua variabel < 7. Dengan demikian berarti data terdistribusi secara normal.

3. Evaluasi

Data outliers adalah data yang memiliki karakteristik unik yang terlihat jauh berbeda dari data observasi lainnya. Umumnya perlakuan terhadap outliers adalah dengan mengeluarkannya dari data dan tidak diikutsertakan dalam perhitungan berikutnya. Apabila tidak terdapat alasan khusus untuk mengeluarkan outliers, maka observasi dapat diikutsertakan dalam analisis selanjutnya. Outliers dapat dievaluasi dengan nilai Mahalanobis Distance dengan nilai degree of freedom sejumlah variabel pada tingkat p < 0,001.

(21)

(18, 0,001) = 42,31240 maka nilai tersebut adalah outliers multivariate. Rangkuman Mahalanobis Distance dapat dilihat pada tabel IV.15 berikut.

Tabel IV.15

Jarak Data Penelitian

Ѿ-»®ª¿¬·±²- º¿®¬¸»-¬ º®±³ ¬¸» ½»²¬®±·¼ øÓ¿¸¿´¿²±¾·- ¼·-¬¿²½»÷ øÙ®±«° ²«³¾»® ï÷ Observation number Mahalanobis d-squared p1 p2

5 95 49 … 32 89 77 32.369 22.547 21.582 …… .686 .635 .599 .000 .000 .001 …. .984 .986 .988 .001 .000 .000 …. 1.000 1.000 1.000 Sumber: Data primer yang diolah (2016)

Berdasarkan tabel IV.15, dapat dilihat bahwa tidak ada outlier karena seluruh observasi memiliki Mahalanobis Distance < 42,31240.

4. Analisis Goodness of Fit

Evaluasi nilai Goodness of Fit dari model penelitian yang diajukan dapat dilihat pada Tabel IV.16 berikut ini:

Tabel IV.16

Hasil Model

Hasil Uji Keterangan

Chi-square(χ²) Diharapkan kecil 4,970

-Significance Probability (p) ≥ 0,05 0,174 Fit

CMIN/DF ≤ 2,00 1,657 Fit GFI ≥ 0,90 0,982 Fit AGFI ≥ 0,90 0,912 Fit TLI ≥ 0,90 0,989 Fit CFI ≥ 0,90 0,997 Fit NFI ≥ 0,90 0,992 Fit RMSEA ≤ 0,08 0,078 Fit

(22)

Berdasarkan Tabel IV. 16, nilai chi-square sudah memenuhi (nilai probabilitas > 0.05) terpenuhi dengan nilai probabilitas sebesar 0.174 > 0.05, nilai CMIN/DF, GFI, AGFI, TLI, CFI, NFI, dan RMSEA dalam model penelitian ini menunjukkan tingkat kesesuaian yang baik. Secara keseluruhan dari sembilan pengukuran goodness of fit model dinyatakan fit. Setelah model penelitian dapat diterima, berikutnya akan menjelaskan mengenai analisis mediasi, analisis moderasi, uji hipotesis, dan pembahasan hasil penelitian.

F. Pengujian Uji Hipotesis

Gambar IV.1 Model Struktural (SEM)

Tabel IV.17 Hubungan Variabel S.E. C.R. P SPS<--SEV -2.237 0.838 -2.669 0.008 SPS<--RS -1.681 0.670 -2.507 0.012 SPS<--Interaksi 0.106 0.035 2.986 0.003

(23)

Hipotesis 1: memediasi hubungan positif antara responsif supervisor dan

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 1 pada tabel IV.17 didapatkan hasil bahwa responsif supervisor (RS) signifikan dan negatif terkait dengan self-perceived status (SPS), terlihat dari nilai C.R yang diperoleh sebesar -2.507. Nilai C.R lebih besar dari 1.96 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan negatif antara responsif supervisor dengan self-perceived status pada tingkat signifikansi 5%. Selain itu, hasil pengujian self-perceived status (SPS) terkait dengan voice behavior (VB) signifikan dan positif, terlihat dari nilai C.R yang diperoleh sebesar 2.992. Nilai C.R lebih besar dari 1.96 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan positif antara self-perceived status dengan voice behavior pada tingkat signifikansi 5%.

Untuk mengetahui apakah self-perceived status memediasi hubungan antara responsif supervisor dengan voice behavior, maka dilakukan uji sobel sebagai berikut:

Tabel IV.18

Input Test statistic Std. Error p-value

a -1.681 Sobel test -1.91973343 0.28458378 0.05489158 b 0.325 Aroian test -1.85948236 0.29380488 0.0629588

0.670 Goodman test -1.98624837 0.27505372 0.04700575 0.109

Sumber: Data primer yang diolah (2016)

Setelah dilakukan sobel test seperti terlihat pada tabel IV.18 menunjukkan hasil bahwa (efek tidak langsung = 0.054; sobel z = -1.919), nilai sobel z (t hitung) kurang dari 1.96 yang menunjukkan bahwa

(24)

self-perceived status tidak memediasi hubungan antara responsif supervisor

dengan voice behavior. Dengan demikian H1 dalam penelitian ini tidak

didukung.

Hipotesis 2: memoderasi hubungan antara

responsif supervisor dan

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 2 pada tabel IV.17 menunjukkan bahwa responsif supervisor (RS) dan self-efficacy for voice (SEV) berinteraksi secara signifikan dalam efek mereka pada

self-perceived status, terlihat dari nilai C.R yang diperoleh sebesar 2.986. Nilai

C.R lebih besar dari 1.96 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan positif pada tingkat signifikansi 5%.

Saat responsif supervisor berhubungan dengan self-perceived

status tanpa dimoderasi oleh self-efficacy for voice didapatkan hasil C.R

sebesar -2.507, seperti terlihat pada tabel IV.17. Setelah responsif supervisor dan self-efficacy for voice berinteraksi dalam efek mereka pada self-perceived status didapatkan hasil C.R sebesar 2.986, seperti terlihat pada tabel IV.17. Hasil ini menunjukkan bahwa self-efficacy for

voice memperkuat dan memoderasi hubungan antara responsif supervisor dengan self-perceived status. Dengan demikian H2 dalam penelitian ini didukung.

(25)

G. Pembahasan

H1 : memediasi hubungan positif antara responsif

supervisor dan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa self-perceived status tidak memediasi hubungan antara responsif supervisor dengan voice behavior. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Janssen & Gao (2013) yang menyatakan bahwa

self-perceived status memediasi hubungan antara responsif supervisor dengan voice behavior. Artinya, self-perceived status karyawan di perusahaan tidak

mampu memperkuat dan mendorong karyawan untuk terlibat berkontribusi dalam voice behavior.

H2 : memoderasi hubungan antara responsif

supervisor dan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa self-efficacy for voice memoderasi hubungan antara responsif supervisor dengan self-perceived

status secara semu (Quasi Moderator) yaitu variabel yang memoderasi hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen yang sekaligus menjadi variabel independen.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Janssen & Gao (2013) yang menyatakan bahwa self-efficacy for voice memoderasi hubungan antara responsif supervisor dengan self-perceived

status. Artinya, responsif supervisor akan berhubungan dengan self-perceived status karyawan tergantung tinggi rendahnya self-efficacy for voice

(26)

maka semakin kuat hubungan responsif supervisor terhadap self-perceived

status karyawan, dan sebaliknya, jika semakin rendah keyakinan self-efficacy for voice karyawan maka semakin lemah hubungan responsif supervisor

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :