• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya peningkatan percaya diri siswa melalui bimbingan kelompok dengan menggunakan metode experiential learning pada siswa SMP (penelitian tindakan Bimbingan dan Konseling pada siswa kelas VIII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan tahun ajaran 2015/2016).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Upaya peningkatan percaya diri siswa melalui bimbingan kelompok dengan menggunakan metode experiential learning pada siswa SMP (penelitian tindakan Bimbingan dan Konseling pada siswa kelas VIII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan tahun ajaran 2015/2016)."

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA PENINGKATAN PERCAYA DIRI SISWA MELALUI BIMBINGAN KELOMPOK

DENGAN MENGGUNAKAN METODE EXPERIENTIAL LEARNING PADA SISWA SMP

(Penelitian Tindakan Bimbingan dan Knseling pada Siswa Kelas VIII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016)

Ruri Puspita Sari Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

Penelitian ini bertujuan; 1) meningkatkan percaya diri siswa melalui layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan metode experiential learning; 2) membandingkan hasil ukur peningkatan percaya diri siswa dalam tiap siklus; 3) mengetahui ada tidaknya peningkatan percaya diri siswa secara signifikan.

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK). Penelitian ini dilakukan di SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta. Subjek penelitian ini berjumlah 20 siswa yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi dan setiap siklus beralokasi 1X45 menit yang terdiri dari berbagai kegiatan bimbingan kelompok. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini diperoleh dengan observasi dan angket percaya diri. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan percaya diri siswa dari kondisi awal sebelum diberi tindakan yaitu rata-rata skor 57, menjadi 62,6 pada siklus I, dan pada siklus II meningkat menjadi 63,5. Hasil uji hipotesis antara pra penelitian-siklus I adalah -2.260 dan Asymp Sign (2-tailed) adalah 0.024. Pada pra penelitian-siklus II diperoleh nilai Z adalah -2.518 dan Asymp Sign (2-tailed) adalah 0.012. Pada sikus I-siklus II diperoleh nilai Z sebesar 0,627 dan Asymp Sign (2-tailed) adalah 0,627.Maka Ho diterima dan tidak terdapat perbedaan di siklus I-siklus II.Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa terdapat peningkatan signifikan percaya diri siswa kelas VIII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan antar siklus pra tindakan dengan siklus I maupun siklus II, namun tidak signifikan pada siklus I dan siklus II.

(2)

STUDENTS SELF CONFIDANCE ESCALATION EFFORT TROUGH GROUP COUNSELING

WITH EXPERIENTIAL LEARNING METHOD ON JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS

(Guidance and Counselling Action Research on 2nd Year Students of Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Junior High School Yogyakarta Class of 2015/2016)

RuriPuspita Sari Sanata Dharma University

Yogyakarta

This research aims to; 1) escalate the students’ self-confidence through group counselling service by using experiential learning method; 2) compare the measurement

results of students’ self-confidence escalation in each cycle; 3) identify whether there is

any significant escalation on the students’ self-confidence.

This research is a Guidance and Counselling Action Research. The research is held in Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Junior High School, Yogyakarta. The subjects are 20 students of the school, consist of 10 female students and 10 male students. There are two cycles of performing the research, each cycle is held by planning, implementing, observing, and reflecting. Each cycle lasts for 45 minutes for group counselling activities. Data collection technique used for this research is by using observation and self-confidence questionnaire. The data collected from this research is analyzed inquantitative descriptive.

The result of this research shows that there is self-confidence escalation on the students compared to the previous time before the actions are taken. The average score escalates from 57 to 62.6 in cycle I, and escalates to 63.5 in cycle II. Hypothesis testing on the research of cycle I is -2.260 and Asymp Sign (2-tailed) is 0.024. On the pre-research of cycle II, the Z value obtained is 0.627 and Asymp Sign (2-tailed) is 0.627. Therefore, Ho is accepted and there is no difference between cycle I and cycle II. Thus, it can be concluded that there is a significant escalation on Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Junior High School 2nd year students’ self-confidence between pre-action cycle and cycle I and cycle II, but it is not significant in cycle I and cycle II.

(3)

UPAYA PENINGKATAN PERCAYA DIRI SISWA MELALUI BIMBINGAN KELOMPOK

DENGAN MENGGUNAKAN METODE EXPERIENTIAL LEARNING PADA SISWA SMP

(Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling pada Siswa kelas VIII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Tahun Ajaran 2015/2016)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh : Ruri Puspita Sari NIM : 121114007

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(4)

i

UPAYA PENINGKATAN PERCAYA DIRI SISWA MELALUI BIMBINGAN KELOMPOK

DENGAN MENGGUNAKAN METODE EXPERIENTIAL LEARNING PADA SISWA SMP

(Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling pada Siswa kelas VIII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Tahun Ajaran 2015/2016)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh : Ruri Puspita Sari NIM : 121114007

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(5)
(6)
(7)

iv

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Sesungguhnya bersama kesukaran itu ada keringanan

Karena itu bila kau sudah selesai (mengerjakan yang lain). Dan berharaplah kepada Tuhanmu. (Q.S Al Insyirah: 6-8)

Sebuah tantangan akan selalu menjadi beban, jika itu hanya dipikirkan. Sebuah cita-cita juga adalah beban, jika itu angan-angan

Kupersembahkan skripsi ini untuk:

1. Allah SWT 2. Ibu dan Ayah

3. Kakakku

4. Dosen Pembimbing (Ibu Dra. M.J. Retno Priyani, M.Si.)

(8)
(9)
(10)

vii

ABSTRAK

UPAYA PENINGKATAN PERCAYA DIRI SISWA MELALUI BIMBINGAN KELOMPOK

DENGAN MENGGUNAKAN METODE EXPERIENTIAL LEARNING PADA SISWA SMP

(Penelitian Tindakan Bimbingan dan Knseling pada Siswa Kelas VIII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016)

Ruri Puspita Sari Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

Penelitian ini bertujuan; 1) meningkatkan percaya diri siswa melalui layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan metode experiential learning; 2) membandingkan hasil ukur peningkatan percaya diri siswa dalam tiap siklus; 3) mengetahui ada tidaknya peningkatan percaya diri siswa secara signifikan.

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK). Penelitian ini dilakukan di SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta. Subjek penelitian ini berjumlah 20 siswa yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi dan setiap siklus beralokasi 1X45 menit yang terdiri dari berbagai kegiatan bimbingan kelompok. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini diperoleh dengan observasi dan angket percaya diri. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan percaya diri siswa dari kondisi awal sebelum diberi tindakan yaitu rata-rata skor 57, menjadi 62,6 pada siklus I, dan pada siklus II meningkat menjadi 63,5. Hasil uji hipotesis antara pra siklus I adalah -2.260 dan Asymp Sign (2-tailed) adalah 0.024. Pada pra penelitian-siklus II diperoleh nilai Z adalah -2.518 dan Asymp Sign (2-tailed) adalah 0.012. Pada sikus I-siklus II diperoleh nilai Z sebesar 0,627 dan Asymp Sign (2-tailed) adalah 0,627.Maka Ho diterima dan tidak terdapat perbedaan di siklus I-siklus II.Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa terdapat peningkatan signifikan percaya diri siswa kelas VIII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan antar siklus pra tindakan dengan siklus I maupun siklus II, namun tidak signifikan pada siklus I dan siklus II.

(11)

viii

ABSTRACT

STUDENTS SELF CONFIDANCE ESCALATION EFFORT TROUGH GROUP COUNSELING

WITH EXPERIENTIAL LEARNING METHOD ON JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS

(Guidance and Counselling Action Research on 2nd Year Students of Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Junior High School Yogyakarta Class of 2015/2016)

RuriPuspita Sari Sanata Dharma University

Yogyakarta

This research aims to; 1) escalate the students’ self-confidence through group counselling service by using experiential learning method; 2) compare the measurement results of students’ self-confidence escalation in each cycle; 3) identify whether there is any significant escalation on the students’ self-confidence.

This research is a Guidance and Counselling Action Research. The research is held in Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Junior High School, Yogyakarta. The subjects are 20 students of the school, consist of 10 female students and 10 male students. There are two cycles of performing the research, each cycle is held by planning, implementing, observing, and reflecting. Each cycle lasts for 45 minutes for group counselling activities. Data collection technique used for this research is by using observation and self-confidence questionnaire. The data collected from this research is analyzed inquantitative descriptive.

The result of this research shows that there is self-confidence escalation on the students compared to the previous time before the actions are taken. The average score escalates from 57 to 62.6 in cycle I, and escalates to 63.5 in cycle II. Hypothesis testing on the pre-research of cycle I is -2.260 and Asymp Sign (2-tailed) is 0.024. On the pre-research of cycle II, the Z value obtained is 0.627 and Asymp Sign (2-tailed) is 0.627. Therefore, Ho is accepted and there is no difference between cycle I and cycle II. Thus, it can be concluded that there is a significant escalation on Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Junior High School 2nd year students’ self-confidence between pre-action cycle and cycle I and cycle II, but it is not significant in cycle I and cycle II.

(12)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas berkah dan rahmat Allah SWT, sehingga skripsi ini dapat

terselesaikan. Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan dari Program Studi Bimbingan dan

Konseling Universitas Sanata Dharma.

Penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu guna perbaikan penulisan skripsi ini diharapkan kritik dan saran yang membangun dari

semua pihak sebagai bahan masukan untuk menghasilkan karya ilmiah yang lebih baik di masa yang akan datang.

Dalam penyelesaian skripsi ini banyak pihak yang turut membantu dalam berupa semangat dan doa dari berbagai pihak yang sangat mendukung. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, oleh sebab itu rasa syukur dan terima kasih yang

sebesar-besarnya disampaikan kepada:

1. Dr. Gendon Barus, M.Si. selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling

Universitas Sanata Dharma yang telah membantu dan memberikan kelancaran dalam proses penyelesaian skripsi ini.

2. Dra. M.J. Retno Priyani, M.Si. Selaku dosen pembimbing yang selalu

(13)

x

3. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas

Sanata Dharma yang telah memberikan dan membagi ilmunya selama masa studi

di Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma.

4. Drs. Budi Angkoso selaku kepala sekolah SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan

yang telah berkenan memberikan kesempatan untuk melaksanakan penelitian di SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan .

5. Drs. Tri Widiyanto selaku guru bimbingan dan konseling yang bersedia

membantu, membimbing, dan mengarahkan dalam melaksanakan penelitian. 6. Seluruh siswa SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan khususnya siswa kelasa VIII

C Tahun Ajaran 2015/2016 atas kebersamaan dan kebahagiaanya saat melaksanakan penelitian.

7. Kedua orangtua tersayang, Bapak Tugiran dan Ibu Sri Astuti atas motivasi,

nasehat, kepercayaan, doa dan segalanya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. 8. Kakak tercinta, Anton Kurniawan yang selalu mendukung dengan semangat dan

doa-doanya.

9. Gaudensius Gasim yang selalu memberikan doa, dukungan dan motivasi

10. Seluruh mahasiswa BK USD angkatan 2012 yang selalu memberikan motivasi,

semangat, dan kebahagiaan.

11. Mas Stefanus Priyatmoko yang telah sabar dalam mebantu mengurus administrasi

perkuliahan serta penyelesaian skripsi ini.

12. Kepada seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah

(14)
(15)

xii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL……… i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING………. ii

HALAMAN PENGESAHAN……….. iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN……….. iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………... v

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI………. vi

ABSTRAK……… vii

ABSTRACT………. viii

KATA PENGANTAR………. ix

DAFTAR ISI……… xi

DAFTAR TABEL……… xiv

DAFTAR GRAFIK……….. xv

DAFTAR GAMBAR……… xvi

DAFTAR LAMPIRAN………..……. xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah………. 1

B. Identifikasi Masalah……… 3

C. Pembatasan Masalah……… 4

D. Rumusan Masalah……… 4

E. Tujuan Penelitian……….. 5

(16)

xiii

G. Definisi Operasional Variabel……….. 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat Percaya Diri 1. Pengertian Percaya Diri………. 8

2. Aspek-aspek Percaya Diri………. 9

3. Ciri-ciri Percaya Diri………. 10

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Percaya Diri….. 11

5. Tingkah Laku Orang yang Tidak Percaya Diri………. 14

B. Hakikat Metode Experiential Learning 1. Pengertian Experiential Learning………. 16

2. Tujuan Experiential Learning……… 17

3. Manfaat Experiential Learning………. 18

C. Hakikat Bimbingan Kelompok 1. Pengertian Bimbingan Kelompok………. 18

2. Tujuan Bimbingan Kelompok……….. 19

3. Manfaat Bimbingan Kelompok……… 20

D. Metode Experiential Learning dalam Layanan Bimbingan Kelompok... 22

E. Hasil Penelitian-penelitian yang Relevan……… 23

F. Kerangka Pikir……… 24

G. Hipotesis Tindakan……….. 26

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian……… 28

B. Setting (Lokasi dan Waktu Penelitian)……… 29

C. Subjek Penelitian………. 29

D. Jenis Tindakan dan Indikator Keberhasilan………. 29

E. Instrumen Penelitian ……… 30

F. Prosedur Penelitian……….. 38

(17)

xiv

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian……… 45

1. Proses Pelaksanaan Penelitian……… 45

2. Hasil Observasi Perilaku Siswa………. 55

3. Hasil Pengolahan Angket Percaya Diri………. 56

B. Pembahasan………. 71

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan……… 74

B. Saran……… 75

DAFTAR PUSTAKA……….. 76

(18)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kriteria Keberhasilan……… 30

Tabel 3.2 Kisi-kisi Panduan Observasi Kiraan Sifat……… 31

Tabel 3.3 Kisi-kisiSkalaPercayaDiri……….. 33

Tabel 3.4 Hasil Kompetensi Validitas Skor Percaya Diri .………. 35

Tabel 3.5 Daftar Indeks Korelasi Reliabilitas……..……… 37

Tabel 3.6 Rekapitulasi Hasil Reliabilitas……….………. 37

Tabel 3.7 Kategorisasi Skor Tingkat Percaya Diri Subjek ……… 40

Tabel 3.8 Kategorisasi Skor Butir-butir Percaya Diri ………. 42

Tabel 4.1 Tahapan Langkah experiential learning……… 48

Tabel 4.2 Tahapan Langkah experiential learning……… 52

Tabel 4.3 Penggolongan Skor Percaya Diri pada Data Awal……… 58

Tabel 4.4 Penggolongan Capaian Skor Butir-butir Percaya Diri pada Data Awal… 59 Tabel 4.5 Penggolongan Skor Percaya Diri Subjek pada Siklus I………... 61

Tabel 4.6 Penggolongan Capaian Skor Butir-butir Skala Percaya Diri Siklus I….. 62

Tabel 4.7 Penggolongan Capaian Skor Percaya Diri Subjek pada Siklus II……… 65

Tabel 4.8 Penggolongan Capaian Skor Butir-butir Skala Percaya Diri Siklus II…. 66

Tabel 4.9 Capaian Skor Percaya Diri Antar Siklus……… 70

(19)

xvi

DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1 Hasil Observasi Perilaku Percaya Diri dan Tidak Percaya Diri……… 56

Grafik 4.2 Penggolongan Skor Subjek Pra Tindakan……….. 58

Grafik 4.3 Skor Subjek Pra Tindakan……….. 59

Grafik 4.4 Hasil Pengolahan Data Skala Percaya Diri Siswa……….. 60

Grafik 4.5 Penggolongan Skor Subjek Pra Tindakan dan Siklus I……… 61

Grafik 4.6 Skor Subjek Tahap Siklus I………... 62

Grafik 4.7 Penggolongan Data Angket Percaya Diri Siswa……… 63

Grafik 4.8 Skor Subjek Pada Siklus I dan Siklus II………. 65

Grafik 4.9 Perkembangan Skor Subjek pada Siklus I dan Siklus II……… 66

Grafik 4.10 Pengolahan Data Angket Percaya DiriSiswa……….. 67

Grafik 4.11 Perkembangan Butir-butir Percaya Diri Siwa Antar Siklus………… 68

(20)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Siklus Model Experiential Learning……… 17

(21)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Satuan Pelayanan Bimbingan……… 79

Lampiran 2 Lembar Observasi……….. 87

Lampiran 3 Angket Percaya Diri Siswa……….88

Lampiran 4 Tabulasi Pengolahan Data Angket………. 92

Lampiran 5 Hasil Uji Validitas Angket………. 98

Lampiran 6 surat Ijin Penelitian………... 101

(22)

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi istilah.

A. Latar Belakang Masalah

Percaya diri merupakan suatu bentuk kepribadian yang ditandai dengan sikap percaya dan yakin terhadap diri sendiri. Percaya diri sangat penting bagi

kehidupan individu agar individu memiliki arah dan tujuan dalam hidupnya, sehingga individu tersebut menjadi pribadi yang mandiri dan tidak

bergantung pada orang lain. Individu yang memiliki sikap percaya diri dapat bertanggung jawab dan berani menerima resiko dari perbuatannya. Hal

inidapat nampak pada diri individu, seperti berani mengemukakan pendapat, yakin akan kemampuan yang ia miliki, berani mengambil keputusan sendiri, berani melakukan suatu hal baru, dan bertanggung jawab atas keputusan serta

hal-hal yang ia lakukan. Individu yang tidak memliki rasa percaya diri, akan merasa minder, ragu-ragu, dan selalu takut dalam melakukan suatu hal

.Gejala rasa kurang percaya diri ini dapat ditandai dengan nada bicara yang gagap, gemetaran, dan menjadi pribadi yang pasif. Kurangnya rasa percaya diri invidu disebabkan karena kurang percaya pada potensi atau kemampuan

yang ia miliki, dan dipengaruhi oleh lingkungan, khususnya lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah sangat mempunyai pengaruh yang signifikan

(23)

lain yang mempengaruhi kurangnya rasa percaya diri siswa yang tidak dibahas di dalam penelitian ini.

Berdasarkan pengalaman selama mengikuti Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan, terdapat 4 siswa

yang kurang percaya diri. Hal ini dibuktikan pada saat melakukan layanan bimbingan klasikal, banyak siswa yang malu, enggan mengemukakan pendapatnya di depan umum, ragu-ragu untuk bertanya, dan tidak

beraniketika disuruh maju ke depan kelas. Masalah kepercayaan diri yang dialami oleh siswa perlu ditingkatkan agar tidak membuat prestasi belajar

siswa menurun sehingga siswa dapat berkembang secara optimal.

Upaya menumbuhkan rasa percaya diri dimulai dari dalam diri sendiri,

sehingga diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan rasa percaya diri, diantaranya dapat dilakukan dengan menggunakan metode experiential

learning. Adanya metode experiential learning banyak kegiatan yang dapat

merubah rasa kurang percaya diri siswa karena dalam metode ini siswa dapat terjun langsung dalam kegiatan tersebut sehingga siswa dapat menambah

pengetahuan dan pengalaman. Misalnya, dengan melalui berbagai kegiatan seperti permainan, membaca puisi, menonton video, sharing dan refleksi dari berbagai kegiatan yang dialami siswa menjadi paham dengan potensi yang

dimiliki sehingga siswa tidak merasa minder, tidak merasa malu, tidak sungkan dan berani mengemukakan pendapatnya di depan umum.

(24)

sebab itu guru mampu bersikap baik dan kreatif dalam memberikan bimbingan dan layanan, khususnya guru BK yang membimbing siswa agar

siswa menjadi pribadi yang memiliki rasa percaya diri tanpa harus merasakan perasaan minder di lingkungan keluarga, masyarakat dan khususnya di

sekolah. Dalam layanan bimbingan kelompok yang berfokus pada pengembangan karakter atau pembentukkan kepribadian, guru BK harus memberikan strategi penyampaian yang menyenangkan, mudah dipahami

oleh siswa, dan kreatif yaitu dengan menggunakan metode pendekatan belajar melaui pengalaman (experiential learning). Oleh sebab itu, layanan

bimbingan kelompok akan menjadi kegiatan yang tidak membosankan dan menarik bagi siswa karena cara penyampaian yang diberikan guru BK tidak

monoton dan tidak mengandalkan ceramah.

Berdasarkan fenomena-fenomena yang telah dipaparkan di atas, maka akan diadakan penelitian dengan judul “Upaya Peningkatan Percaya Diri Siswa Menggunakan Metode Experiential Learning dalam Layanan Bimbingan Kelompok Pada Siswa SMP”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dilakukan identifikasi masalah sebagai berikut:

1. Tingkat kepercayaan diri siswa kelas VIII SMP Taman Dewasa Ibu

Pawiyatan perlu ditingkatkan.

2. Belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi

(25)

3. Perilaku kurang percaya diri siswa terjadi pada beberapa siswa yang

nampak pada perilaku kurang berani menyampaikan pendapat dan

perasaannya di depan umum.

4. Metode bimbingan sangat berngaruh pada tingkat percaya diri siswa.

C. Pembatasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada kajian upaya peningkatan percaya diri siswa melalui layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan metode

experiential learning.

D. Rumusan Masalah

Berangkat dari beberapa kondisi yang melatarbelakangi penelitian ini, dirumuskan permasalahan yang menjadi fokus sorot PTBK sebagai berikut: 1. Apakah percaya diri siswa dapat ditingkatkan melalui layanan bimbingan

keompok dengan menggunakan metode experiential learning pada siswa kelas VIII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan?

2. Seberapa tinggikah peningkatan percaya diri siswa Kelas VIII SMP

Taman Dewasa Ibu Pawiyatan mealui layanan bimbingan kelompok

dengan menggunakan metode experiential learning dalam tiap siklus? 3. Apakah terdapat peningkatan percaya diri siswa kelas VIII SMP Taman

Dewasa Ibu Pawiyatan yang signifikan dengan penggunaan metode

(26)

E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan percaya diri siswa melalui layanan bimbingan kelompok

dengan menggunakan metode experiential learning pada siswa kelas VIII

SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan.

2. Mengetahui hasil ukur peningkatan percaya diri siswa Kelas VIII SMP

Taman Dewasa Ibu Pawiyatan mealui layanan bimbingan kelompok

dengan menggunakan metode experiential learning dalam tiap siklus. 4. Mengetahui ada tidaknya peningkatan kepercayaan diri siswa VIII SMP

Taman Dewasa Ibu Pawiyatan yang signifikan dengan penggunaan metode experiental learning antar siklus.

F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah wawasan dan

mengembangkan pengetahuan dalam memberikan bimbingan kelompok dengan menggunakan metode experiential learning.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi guru BK

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh guru BK sebagai

dasar untuk memberikan layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan metode experiential learning.

(27)

Prosedur penelitian ini memberi kesempatan kepada peneliti untuk berlatih mengaplikasikan prosedur penelitian tindakan dalam

Bimbingan dan Konseling guna meningkatkan rasa kepercayaan diri siswa setelah mengikuti bimbingan kelompok melalui metode

experiential learning.

c. Bagi siswa

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri

siswa.

d. Bagi peneliti lain

Prosedur penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti lain untuk mengaplikasikan metode experiential learning.

G. Definisi Operasional Variabel

Supaya tidak salah pengertian dan salah penafsiran maksud dari judul penelitian ini, maka peneliti merasa perlu memberikan penegasan-penegasan

batasan istilah dalam judul penelitian ini:

1. Percaya diri merupakansuatu kepercayaan diri terhadap diri sendiri yang

dimiliki oleh setiap orang dalam kehidupannya, serta bagaimana orang tersebut memandang dirinya secara utuh dengan mengacu pada konsep diri.

2. Bimbingan kelompok merupakan bantuan yang diberikan kepada individu

sesuai dengan kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh siswa yang

(28)

3. Experiential Learning merupakan proses belajar, proses perubahan yang

(29)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Dalam babini dipaparkan tentang hakikat percaya diri, faktor-faktor percaya

diri, gejala kurang percaya diri, memupuk rasa percaya diri, layanan bimbingan kelompok dalam metode Experiential Learning.

A. Hakikat Percaya Diri 1. Pengertian Percaya Diri

Banyak orang pernah mengalami masalah dengan rasa percaya

diri.Hal ini terkait dengan soal keberanian yang ada pada dalam dirinya. Percaya diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat berperan penting dalam kehidupan manusia. Berikut beberapa pengertian percaya

diri menurut para ahli:

Lauster (2002:4) mengungkapkan bahwa kepercayaan diri

merupakan suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggung jawab atas

perbuatannya, sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestsasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri

sendiri.

Rakhmat (2000:109) mengungkapkan bahwa kepercayaan diri dapat diartikan sebagai suatu kepercayaan terhadap diri sendiri yang dimiliki

(30)

Hakim (2002:6) mengungkapkan bahwa kepercayaan diri adalah suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang

dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya.

Berdasarkan pengertian kepercayaan diri menurut para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri merupakan sikap keyakinan individu terhadap kemampuan sendiri untuk bertingkah laku sesuai yang

diharapkan sebagai suatu perasaaan yang yakin pada tindakannya, bertanggung jawab terhadap tindakannya, dan tidak mudah terpengaruh

oleh orang lain.

2. Aspek-aspek Kepercayaan Diri

Ghufron (2011:35) menyebutkan beberapa aspek-aspek rasa percaya diri, yaitu:

a. Keyakinan akan kemampuan diri yaitu sikap positif anak tentang

dirinya bahwa anak mengerti sungguh-sungguh akan apa yang dilakukannya. Anak yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya

maka, anak akan menyadari akan kemampuan yang dimilikinya.

b. Optimis yaitu sikap positif anak yang selalu berpandangan baik dalam

menghadapi segala hal tentang diri, harapan dan kemampuannya. Anak

(31)

c. Obyektif yaitu anak yang percaya diri memandang permasalahan atau

sesuatu sesuai dengan kebenaran yang semestinya, bukan menurut

kebenaran pribadi atau menurut dirinya sendiri.

d. Bertanggung jawab yaitu kesediaan anak untuk menanggung segala

sesuatu yang telah menjadi konsekuensinya, sehingga anak tersebut berani menghadapi tantangan dalam dirinya.

e. Rasional yaitu analisa terhadap sesuatu masalah, sesuatu kejadian

dengan menggunakan pemikiran yang dapat diterima oleh akan dan sesuai dengan kenyataan. Anak yang memiliki pikiran rasional, maka

anak tersebut dapat berpikir positif tentang dirinya maupun lingkungan disekitarnya.

3. Ciri-ciri Individu yang Memiiki Percaya Diri

Hakim (2002:5) menyebutkan bahwa ciri-ciri orang yang mempunyai kepercayaan diri antara lain:

a. Selalu bersikap tenang di dalam mengerjakan segala sesuatu; b. Mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai;

c. Mampu menetralisasi ketegangan yang muncul di dalam berbagai

situasi;

d. Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi di berbagai situasi;

e. Memiliki kondisi mental dan fisik yang cukup menunjang

penampilannya;

f. Memiliki kecerdasan yang cukup;

(32)

h. Memiliki keahlian atau keterampilan lain yang menunjang

kehidupannya, misalnya keterampilan bahasa asing; i. Memiliki kemampuan bersosialisasi;

j. Memiliki latar belakang pendidikan keluarga yang baik;

k. Memiliki pengalaman hidup yang menempa mentalnya menjadi kuat

dan tahan di dalam menghadapi berbagai cobaan hidup;

l. Selalu bereaksi positif di dalam menghadapi berbagai masalah,

misalnya dengan tetap tegar, sabar dan tabah;

Nasution (2000:73) mengungkapkan bahwa rasa kurang percaya

diri pada individu dapat dilihat dengan gejala-gejala tertentu yang dapt ditunjukkan dalam berbagai perilaku. Gejala-gejala perilaku kurang

percaya diri yaitu suka melamun, kelakuan tidak baik, berlebihan untuk menunjukkan kebaikan keadaan emosi, keadaan seperti gagap dan ngompol, serta gejala lainnya.kurang percaya diri ini dengan berbagai

faktor menyebabkan mungkin timbul kelakuan menarik diri atau negative, seperti malas, menyendiri, pengecut dan sebagainya.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Percaya Diri

Hakim (2002:121) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya percaya diri, yaitu:

a. Faktor internal 1) Konsep diri

(33)

perkembangan konsep diri yang diperoleh dalam sosialisasi dengan lingkungan. Seseorang yang mempunyai rasa rendah diri

biasanya memiliki konsep diri yang negatif, sebaliknya seseorang yang memiliki rasa percaya diri akan memiliki konsep diri yang

positif. 2) Kondisi fisik

Perubahan kondisi fisik juga berpengaruh pada kepercayaan diri.

Penampilan fisik dan ketidakmampuan fisik seseorang juga bisa menyebabkan rasa rendah diri pada diri orang tersebut.

3) Pengalaman hidup

Kepercayaan diri yang terbentuk dalam diri setiap orang

merupakan hasil dari pengalamannya sepanjang hidup. Biasanya orang yang memiliki pengalaman mengecewakan, akan menyebabkan timbulnya rasa rendah diri pada dirinya. Terlebih

jika pada dasarnya seseorang memilih rasa tidak aman, kurang kasih sayang, dan kurang perhatian.

b. Faktor eksternal 1) Pendidikan

Tingkat pendidikan yang rendah cenderung akan membuat

seseorang dibawah kekuasaan yang lebih pandai, sebaliknya seseorang yang memiliki pendidikan yang tinggi akan lebih

(34)

akan mampu memenuhi keperluan hidup dengan rasa percaya diri dan kekuatannya.

2) Lingkungan

Lingkungan disini merupakan lingkungan keluarga dan

masyarakat. Dukungan yang diterima dari lingkungan keluarga, seperti anggota keluarga yang saling berinteraksi dengan baik akan memberi rasa nyaman dan percaya diri yang tinggi pada diri

seseorang. Begitu juga dengan lingkungan masyarakat yang memberikan dampak positif, maka seseorang akan berkembang

menjadi lebih baik.

Krisis percaya diri adalah persoalan yang sangat penting

untuk diselesaikan, karena kepercayaan diri adalah modal awal untuk siapa saja dalam menghadapi hidup yang penuh dengan persaingan. Tentu saja banyak cara yang dapat dilakukan bahkan

dilatih untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam jangka waktu panjang.

Untuk menumbuhkan rasa percaya diri yang proporsional, maka individu harus memulainya dari dalam diri sendiri.Hal ini sangat penting mengingat bahwa hanya individu yang

bersangkutan yang dapat mengatasi rasa kurang percaya diri yang sedang dialaminya. Setiawan Pongky (2014:46) menyatakan cara

(35)

mengambil resiko, dan belajar mensyukuri dan menikmati rahmat tuhan.

5. Tingkah Laku Orang yang Tidak Percaya Diri

Individu yang memiiki rasa rendah diri atau tidak percaya diri,

individu tersebut akan menjadi pribadi yang tidak mandiri dan individu tersebut akan bergantung pada orang lain. Kelemahan yang dimiliki oleh seseorang baik berasal dari luar maupun dari dalam dirinya dapat

menimbulkan perasaan rendah diri. Orang yang merasa rendah diri dapat nampak dari tingkah lakunya.Setiawan Pongky (2014:21) menyebutkan

tingkah laku orang yang rendah diri antara lain sebagai berikut: a. Penyendiri

Selalu menyendiri dan menarik diri dari pergaulan. Orang yang menganggap dirinya tidak mempunyai kemampuan yang berarti biasanya tidak mau bergaul dan menarik dari pergaulan. Mereka

mungkin menganggap dirinya tidak berharga dibanding orang lain yang mereka anggap lebih baik dalam setiap aspek.

b. Peragu

Selalu ragu dalam bertindak. Orang yang merasa tidak memiliki kemampuan yang berarti akan selalu ragu-ragu dalam bertindak,

(36)

Orang yang rendah diri tidak ingin bersaing positif.Ia merasa tidak mampu untuk mengikuti persaingan seperti orang lain. Karena ia

merasa tidak mempunyai kemampuan atas dirinya sendiri. d. Tidak sportif

Orang yang rendah diri menolak untuk berpartisipasi dalam semua jenis kompetisi, di mana kemampuan mereka akan diuji melawan orang lain. Meski ia melakukannya, sikap yang suka mencela

sepertinya akan muncul. Meski begitu, dia sangat menikmati kemenangan, waktu itu mungkin bukan atas usahanya sendiri.

e. Sangat sensitif

Orang yang memiliki rasa rendah diri, maka orang tersebut akan

sangat sensitif terhadap pujian dan kritikan. Jika dipuji, dia akan mempertanyakan ketulusan dari orang yang memuji, dan jika dikritik, dia akan segera mempertahankan diri. Dia tidak bisa merespon humor

ringan dengan baik. f. Memancing pujian

Orang yang rendah diri itu sangat suka memancing pujian dari orang lain. Akan tetapi, terkadang, meski ingin sekali dipuji, dia mungkin tidak ingin menerimanya dan percaya bahwa orang yang memuji

(37)

Orang yang rendah diri juga takut untuk mencoba sesuatu yang baru, karena jauh di dalam hatinya dia sangat takut membuat kesalahan

sehingga akan terus menerus teringat dengan kesalahannya tersebut.

B. Hakikat Metode Experiential Learning 1. Pengertian Experiential Learning

Banyak sekali metode pendekatan belajar yang digunakan dalam penyampaian materi agar tidak monoton dan lebih menarik.Salah satunya

melalui metode pendekatan belajar menggunakan pengalaman (experiential learning). Berikut pengertian experiential learning menurut

para ahli:

Konsep experiential learning pertama kali dicetuskan oleh Kolb

(1984). Kolb mengatakan “experiential learning: experience as the source

of learning and development”. Dalam pernyataan tersebut, makna

pengalaman nyata peserta didik. Peserta didik berperan secara aktif

mengeksplorasi, dan membuat catatan tentang peristiwa yang terjadi. Berdasarkan unsur experiential learning di atas, dapat disimpulkan bahwa

experiential learning adalah suatu metode belajar di mana siswa teribat

secara personal dalam proses belajar sehingga siswa mengalami apa yang mereka pelajari yang diharapkan dapat membangun pengetahuan yang

(38)

Gambar 2.1. Siklus Model Experiential Learning

2. Tujuan Experiential Learning

Baharudin dan Wahyuni (2012:165) menyatakan bahwa tujuan dari model ini adalah untuk mempengaruhi siswa dengan tiga cara, yaitu: a. Mengubah struktur kognitif siswa,

b. Mengubah sikap siswa,

c. Memperluas keterampilan-keterampilan siswa yang telah ada,

Ketiga elemen tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi secara keseluruhan, tidak terpisah-pisah, karena apabila salah satu elemen

tidak ada, maka kedua elemen lainnya tidak akan efektif. Model

experiential learning memberi kesempatan kepada siswa untuk

memutuskan pengalaman apa yang menjadi fokus mereka, keterampilan-keterampilan apa yang mereka ingin kembangkan, dan bagaimana cara mereka membuat konsep dari pengalaman yang mereka alami tersebut. Hal

ini berbeda dengan pendekatan belajar tradisional di mana siswa menjadi pendengar pasif dan hanya guru yang mengendalikan proses belajar tanpa

melibatkan siswa.

PENGALAMAN

REFLEKSI

(39)

3. Manfaat Experiential Learning

Manfaat model experiential learning secara individual antara lain: a. Meningkatkan kesadaran akan rasa percaya diri,

b. Meningkatkan kemampuan berkomunikasi, perencanaan dan

pemecahan masalah,

c. Menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan untuk menghadapi

situasi yang buruk,

d. Menumbuhkan dan meningkatkan rasa percaya antar sesama anggota

kelompok,

e. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat kerjasama dan

kemampuan untuk berkompromi,

f. Menumbuhkan dan meningkatkan komitmen dan tanggung jawab,

g. Menumbuhkan dan meningkatkan kemauan untuk memberi dan

menerima bantuan,

h. Mengembangkan ketangkasan, kemampuan fisik dan koordinasi

C. Hakikat Bimbingan Kelompok 1. Pengertian Bimbingan Kelompok

Seorang guru BK wajib memberikan layanan bimbingan kepada siswanya. Hal ini terkait dengan kebutuhan siswa di sekolah. Layanan

bimbingan kelompok merupakan salah satu bantuan dalam situasi kelompok yang diberikan oleh guru BK kepada siswa untuk membahas

(40)

Juntika (2006:23) mengungkapan bahwa bimbingan kelompok merupakan bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi

kelompok.

Hartinah (2009:13) mengungkapkan bahwa bimbingan kelompok

adalah kegiatan yang diberikan kepada kelompok individu yang mengalami masalah, dimana kelompok sebagai wadah isi bimbingan konseling yang disurahkan.

Winkel & Sri Hastuti (2004:547) mengungkapkan bahwa bimbingan kelompok merupakan salah satu bentuk usaha pemberian bantuan kepada

orang-orang yang mengalami masalah.

Prayitno (1999:61) mengungkapkan bahwa bimbingan kelompok

adalah sutu layanan bimbingan yang di berikan kepada siswa secara bersama-sama atau kelompok itu menjadi besar, kuat dan mandiri.

Berdasarkan pengertian bimbingan kelompok menurut para ahli di atas,

dapat disimpulkan bahwa bimbingan kelompok adalah salah satu teknik dalam bimbingan konseling untuk memberikan bantuan kepada siswa yang

dilakukan oleh seorang pembimbing atau konselor melalui kegiatan kelompok yang dapat berguna untuk mencegah berkembangnya masalah-masalah yang dihadapi siswa.

2. Tujuan Bimbingan Kelompok

Prayitno (2004:2-3) menyebutkan beberapa tujuan bimbingan kelompok,

yakni:

(41)

Tujuan umum dari layanan bimbingan kelompok adalah berkembangnya sosialisasi siswa, khususnya kemampuan komunikasi

anggota kelompok. Melalui layanan bimbingan kelompok hal-hal yang mengganggu atau menghimpit perasaan yang diungkapkan, diringankan

melalui berbagai cara dan dinamika melalui berbagai masukan dan tanggapan baru. Selain bertujuan sebagaimana bimbingan kelompok, juga bermaksud mengentaskan masalah klien dengan memanfaatkan

dinamika kelompok. b. Tujuan khusus

Bimbingan kelompok bermaksud membahas topik-topik tertentu. Melalui dinamika kelompok yang intensif, pembahasan topik-topik itu

mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang diwujudkannya tingkah laku yang lebih efektif. Dalam hal ini kemampuan berkomunikasi verbal maupun non verbal

ditingkatkan.

3. Manfaat Bimbingan Kelompok

Manfaat bimbingan kelompok memang sangat besar dan manfaat bimbingan kelompok menurut Hartinah (2009:8) antara lain:

a. Tenaga pembimbing masih sangat terbatas dan jumlah murid yang

perlu dibimbing begitu banyak sehingga pelayanan bimbingan secara perseorangan tidak akan merata.

b. Melalui bimbingan kelompok, murid dilatih menghadapi suatu tugas

(42)

sedikit banyak didik untuk hidup secara bersama. Hal tersebut akan diperlukan/dibutuhkan selama hidupnya.

c. Dalam mendiskusikan suatu bersama, murid didorong untuk berani

mengemukakan pendapatnya dan menghargai pendapat orang lain.

Selain itu, beberapa murid akan lebih berani membicarakan kesukarannya dengan penyuluh sekolah mereka mengerti bahwa teman-temannya juga mengalami kesukaran tersebut.

d. Banyak informasi yang dibutuhkan oleh murid dapat diberikan secara

kelompok dan cara tersebut lebih ekonomis.

e. Melalui bimbingan kelompok, beberapa murid menjadi lebih sadar

bahwa mereka sebaiknya menghadap penyuluh untuk mendapat

bimbingan secara lebih mendalam.

f. Melalui bimbingan kelompok, seorang ahli bimbingan yang baru saja

diangkat dapat memperkenalkan diri dan berusaha mendapat

kepercayaan dari murid.

Dalam sejarah perkembangan bimbingan kelompok

mula-mulaperhatian diarahkan kepada penyebaran informasi/keterangan yang berkenaan dengan bimbingan belajar dan bimbingan jabatan.Kemudian, diusahakan pula untuk memasukkan penjelasan mengenai perkembangan

pribadi yang sehat, kesehatan mental, pergaulan yang sehat, kesehatan mental, dan pergaulan sosial yang baik. Dengan demikian, jenis bimbingan

(43)

D. Metode Experiential Learning dalam Layanan Bimbingan Kelompok

Layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan metode

experiential learning adalah metode pendekatan belajar melalui pengalaman

yang disajikan dalam kelompok, sehingga siswa dapat meningkatkan peran

sosial dan membentuk relasi antar siswa yang satu dengan yang lainnya. Layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan metode experiential

learning bertujuan untuk meningkatkan akan rasa percaya diri siswa, siswa

dapat memecahkan masalah yang terjadi di dalam kelompok, menumbuhkan dan meningkatkan rasa percaya antar sesama anggota kelompok. Metode

experiential learning dalam layanan bimbingan kelompok sangat efektif

digunakan kepada siswa yang memiliki masalah kurang percaya diri, Karena

di dalam kelompok siswa harus bisa meningkatkan semangat kerjasama dan kemampuan untuk berkompromi antar teman kelompok. Selain itu, siswa dapat berbicara di depan umum karena setelah kegiatan selesai siswa dapat

menceritakan pengalaman yang terkait dengan kegiatan tersebut.

Bentuk pelaksanaan metode experiential learning dalam layanan

bimbingan kelompok adalah kegiatan belajar dengan menggunakan media belajar sebagai pengalaman sesuai dengan topik bimbingan yang akan dilaksanakan, sehingga siswa dapat memperoleh makna dan pengalaman dari

kegiatan tersebut. Guru menyiapkan media belajar yang digunakan dalam memberi bimbingan kelompok. Misalnya guru menggunakan media kertas

(44)

sebelum pelaksanaan bimbingan kelompok. Misalnya topik bimbingan yang akan dibawakan oleh guru adalah siapa aku, jadi guru bisa meminta

masig-masing siswa menuliskan sifat-sifat positif yang diketahui oleh semua orang lain dan sifat yang tidak diketahui oleh orang lain. Selanjutnya

masing-masing siswa menuliskan sifat-sifat positif masing-masing-masing-masing-masing-masing teman kelompoknya.Ini poin positif untuk siswa agar siswa bisa lebih mengenal diri sendiri baik dari pribadi sendiri maupun dari teman-teman.Selain itu, siswa

dapat memandang dirinya secara positif sehingga siswa bisa percaya diri dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari.

Dalam pelaksanaan kegiatan experiential learning, guru dapat meminta siswa untuk menceritakan pengalaman positif apa saja yang didapatkan

selama mengikuti kegiatan.

E. Hasil Penelitian-penelitian yang Relavan 1. Penelitian Ade Syarifah

Hasil penelitian ini yaitu: 1) Kepercayaan diri siswa dapat ditingkatkan melalui metode experiential learning. Peningkatan kepercayaan diri

dibuktikan dengan perolehan rata-rata pre test sebesar 95,00 dan 135,03 adanya peningkatan sebesar 40,03 poin. 2) Proses meningkatkan kepercayaan diri melalui experiential learningyaitu dengan

mengidentifikasi aspek-aspek kepercayaan diri kemudian mempraktikannya melalui teknik diskusi kelompok, permainan dan

(45)

2. Penelitian Yusika Dwi Marthafani

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan antara pre-test dan

post-test, dimana terdapat penaikan skor item dan skor subjek pada setiap siklusnya. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat adanya peningkatan

kepercayaan diri secara signifikan pada siswa kelas VIII ASMP Kanisius Kalasan Yogyakarta setelah mengikuti layanan bimbingan kelompok melalui layanan bimbingan kelompok berbasis outbound. Hasil uji

hipotesis pada pra penelitian-Siklus I adalah -3,245 dan Asymp Sign (2-tailed) adalah 0,001. Pada siklus I-siklus II nilai Z adalah -3,216 dan

AsympSign (2-tailed) adalah 0,001. Pada siklus II-siklus III nilai Z adalah -3,151 dan Asymp Sign (2.tailed) adalah 0,002. Pada pra penelitian-siklus

III nilai Z adalah -4,244 dan Asymp Sign (2-tailed) adalah 0,00. Dari hasil uji hipotesis disimpulkan bahwa 0,00 < 0,05 maka Ho ditolak . hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan diri pada siswa kelas VIII A

SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta dapt ditingkatkan melalui layanan bimbingan kelompok berbasis aktivitas outbound.

F. Kerangka Pikir terkait kegiatan bimbingan kelompok (sesuai dengan topik bimbingan) yaitu:

1. Keinsafan diri dan Jendela Johari

(46)

Telah dipaparkan beberapa teori penelitian. Penelitian ini telah mengkaji

teori dalam konteks kepercayaan diri. Penelitian ini menghubungkan antara kepercayaan diri ,experiential learning, dan bimbingan kelompok, dimana

ketiganya saling berkaitan dan berkesinambungan, kepercayaan diri siswa akan ditingkatkan melalui layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan metode experiential learning. Kegiatan dan aktivitas dari

metode experiential learningakan memberikan pengalaman-pengalaman bagi siswa untuk dapat menyelesaikan masalah yang ada di dalam permainan yang

akan meningkatkan kepercayaan dirinya.

Untuk itu dalam layanan bimbingan kelompok perlu ada sebuah metode

belajar yang dilakukan dengan sebuah kegiatan agar membuat kepercayaan diri siswa benar-benar tinggi. Salah satu metode yang dimungkinkan mampu membuat kepercayaan diri siswa tinggi ialah metode experiential learning

yang didalamnya terdapat beberapa aktivitas yang memberikan pengalaman bagi siswa untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa. Metode experiential

learning memiliki keunggulan dalam memotivasi belajar siswa, membangkitkan semangat, minat dan yang terutama membangkitkan rasa kepercayaan diri siswa. Sehingga siswa merasa tidak bosan dan jenuh dalam

mengikuti kegiatan bimbingan kelompok dengan menggunakan metode

experiential learning, dan muncul perilaku yang menunjukkan kepercayaan

(47)

berdampak pada perilaku di kelas maupun dilingkungan masyarakat. Berikut ciri-ciri perilaku siswa yang memiliki kepercayaan diri antara lain selalu

bersikap tenang di dalam mengerjakan segala sesuatu,mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai, mampu menetralisasi ketegangan yang muncul di

dalam berbagai situasi, mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi di berbagai situasi, memiliki kondisi mental dan fisik yang cukup menunjang penampilannya, memiliki kecerdasan yang cukup, memiliki tingkat

pendidikan formal yang cukup, memiliki keahlian atau keterampilan lain yang menunjang kehidupannya, misalnya keterampilan bahasa asing,

memiliki kemampuan bersosialisasi, memiliki latar belakang pendidikan keluarga yang baik, memiliki pengalaman hidup yang menempa mentalnya

menjadi kuat dan tahan di dalam menghadapi berbagai cobaan hidup. selalu bereaksi positif di dalam menghadapi berbagai masalah, misalnya dengan tetap tegar, sabar dan tabah. Hal ini juga akan membuat siswa mau dan

mampu meresapi setiap pengalaman yang terjadi dalam kegiatan, sehingga para siswa dapat berkembang dengan optimal sesuai dengan aspek

kepribadian, belajar, karier, dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

G. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir tersebut di atas diajukan

hipotesis tindakan sebagai beriku:

Ho: Percaya diri siswa kelas VIII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan tidak

(48)

Ha: Percaya diri siswa kelas VIII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan dapat ditingkatkan melalui bimbingan kelompok dengan menggunakan metode

(49)

BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini berisi paparan mengenai jenis penelitian, setting penelitian, subjek penelitian, jenis tindakan dan indikator keberhasilan, teknik pengumpulan data,

instrumen penelitian, prosedur penelitian, dan teknik analisis data.

A. Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Bimbingan dan

Konseling (PTBK) yang dilaksanakan berdasasrkan prosedur penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas atau Classsroom Action

Research (CAR) adalah proses pengkajian masalah bimbingan di dalam kelas

melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut

dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut (Sanjaya, 2009: 26). Menurut Kusumah, (2010:9) penelitian tindakan pada hakikatnya

merupakan rangkaian “riset-tindakan”, yang dilakukan dalam rangkaian guna memecahkan masalah. Penelitian ini menggunakan prosedur penelitian

tindakan kelas dalam konteks proses pelaksanaan bimbingan.

Penelitian ini mengkaji masalah kepercayaan diri siswa yang masih rendah.Selanjutnya diberikan tindakan perbaikan berupa penerapan

(50)

B. Setting (Lokasi dan Waktu Penelitian)

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII C SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan

2. Waktu Penelitian

Semester II tahun ajaran 2015/2016 dimulai bulan awal April 2016 sampai dengan bulan awal Mei 2016.

3. Partisipan dalam penelitian

Pada pelaksanaan penelitian ini dibantu oleh mitra kolaboratif yaitu: a. Mitra Kolaboratif 1

Nama : Drs. Tri Widiyanto

Jabatan : Guru BK SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan b. Mitra Kolaboratif 2

Nama : Bernadet Dwi Atmi N.

NIM : 121114040

Status : Mahasiswa BK USD

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016. Kelas ini terdiri dari 20

siswa dengan 10 siswi perempuan dan 10 siswa laki-laki.

(51)

Jenis tindakan yang diberikan dalam penelitian ini adalah bimbingan kelompok dengan menggunakan metode experiential learning. yang di

dalamnya terdapat berbagai kegiatan pendukung menjadi salah satu kegiatan bimbingan kelompok, siswa dapat langsung mendapatkan

pengalaman dari kegiatan experiential learning yang ia ikuti.

2. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan yang digunakan dalam penelitian ini

ditentukan pada setiap akhir siklus. Tindakan dalam penelitian ini dikatakan berhasil jika hasil yang dicapai oleh siswa melebihi kriteria yang

dihasilkan pada data awal. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 3.1

Penyusunan instrumen dalam penelitian ini berdasarkan aspek-aspek

(52)

1. Lembar Observasi

Observasi dilaksanakan untuk mengetahui perubahan-perubahan

langsung menyangkut ada tidaknya indikasi perubahan perilaku siswa dalam mengikuti bimbingan kelompok, maka dalam penelitian ini

digunakan satu lembar oservasi yaitu lembar observasi perilaku siswa selama pelaksanaan metode experiential learning. Lembar observasi digunakan sebagai pedoman peneliti dalam melakukan observasi

pelaksanaan metode tersebut termasuk di dalam aktivitas siswa pada saat kegiatan berlangsung sehingga kegiatan tidak terlepas dari konteks

permasalahan dan tujuan penelitian. Hasil observasi ini juga digunakan sebagai tolak ukur tindakan berikutnya. Berikut contoh tabel pedoman

observasi:

Tabel 3.2

Kisi-kisi Panduan Observasi Kiraan Sifat

No Waktu Perilaku Menit 1 Berani berbicara

2 Mendengarkan 3 Bertanya 4 Memperhatikan 5 Menjawab pertanyaan 6 Berani mengacungkan jari 7 Berani maju ke depan kelas 8 Berani menunjukan hasil pekerjaan 9 Diam saja

10 Gugup jika berbicara 11 Menundukan kepala

12 Tidak mau menunjukan hasil pekerjaan

(53)

2. Angket

Menurut Sugiyono (2010:199) angket merupakan teknik

pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

Angket yang digunakan merupakan Skala Percaya Diri yang disusun oleh peneliti berdasarkan teori yang telah dipaparkan oleh ahli.

Angket digunakan untuk mengukur kepercayaan diri siswa seteah

mengikuti bimbingan kelompok menggunakan metode experiental

learning pada tiap siklus. Skala dibagikan disetiap akhir siklus sesudah

pelakasanaan kegiatan bimbingan kelompok. Angket yang digunakan adalah kuesioner tertutup dengan alternatif jawaban, yaitu Sangat Sesuai

(SS), Sesuai (S), Kurang Sesuai (KS), Tidak Sesuai (TS). Siswa mengisi

angket dengan memberikan tanda √ (chek list) sesuai kondisi yang dialami

(54)

Tabel 3.3

Kisi-kisi Angket Percaya Diri Siswa

No Aspek Indikator Item sungguh akan apa yang ingin dilakukannya b. Siswa menyadari akan

kemampuan yang b. Siswa mau mencoba untuk

hal yang baru

a. Siswa mampu memandang permasalahan sesuai dengan kebenaran

b. Siswa mampu memandang sesuatu menurut dirinya b. Siswa berani menghadapi

tantagan

Menurut Wina (2009:41), pada penelitian tindakan kelas, validitas itu adalah ketepatan alat ukur sebagai instrument dalam proses penelitian.

Uji validitas dalam penelitian ini dilakukan pada kuesioner percaya diri.Penelaah butir-butir pada instrumen (expert judgement) dilakukan oleh ahli yaitu Dra. M.J Retno Priyani, M.Si. Hasil yang diperoleh ditelaah ahli

yaitu perlu dilakukan perbaikan pada butir-butir instrumen agar setiap butir instrumen menjadi kalimat yang efektif sehingga mudah dipahami

(55)

kuesioner. Dari hasil penelaah ahli, berdasarkan kesesuaian butir pernyataan dengan kisi-kisi instrumen maka kuesioner dinyatakan siap

untuk digunakan dalam penelitian tindakan Bimbingan dan Konseling ini.Pengujian validitas dilakukan dengan uji coba terpakai.Teknik uji yang

digunakan melalui pendekatan analisis korelasi Pearson Product moment.

Formula;

∑ ∑ ∑

√ ∑ ∑ ∑ – ∑

Keterangan:

=Korelasi skor-skor total kuesioner dan total butir-butir

N

=Jumlah subyek

X

=Skor item kuesioner

Y

=Skor total butir-butir kuesioner

XY

=Hasil perkalian antara skor X dan skor Y

Tahap pelaksanaannya menggunakan program komputer SPSS 16 Biasanya syarat minimum untuk dianggap memenuhi syarat adalah kalau r = 0,300. Bila harga korelasi di bawah 0,300 maka dapat disimpulkan

bahwa butir instrument tersebut tidak valid, sehingga harus diperbaiki atau dibuang Sugiyono (2010:179). Pelaksanaan uji coba terhadap instrumen

(uji empirik) dilakukan pada bulan April-Mei 2016.Hasil uji coba kemudian dihitung menggunakan rumus Pearson Product Moment dengan jumlah subjek (N) 20 siswa. Berikut adalah hasil keputusan pengujian

(56)

Tabel 3.4

Hasil Kompetensi Validitas Skor Percaya Diri Nomor

Item

r hitung Signifikansi Keterangan

(57)

4. Uji Reliabilitas Angket Percaya Diri

Realibilitas sebenarnya mengacu kepada konsistensi atau keterpercayaan

hasil ukur (Azwar, 2011: 83).Realibilitas mengukur sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya. Bila dilakukan pengukuran di waktu yang

berbeda pada kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relative sama. Untuk mengukur realibilitas kuesioner rumus yang digunakan adalah rumus dari Pearson yaitu rumus korelasi product-moment. Hasil

dari perhitungan rumus Pearson kemudian dimasukan ke dalam rumus

Spearmen Brown.Rumus koefisien skor-skor belahan ganjil-genap dengan

teknik korelasi product-moment disajikan sebagai berikut: Rumus Korelasi Product-Moment (Pearson)

∑ ∑ ∑

√ ∑ ∑ ∑ – ∑

Keterangan:

=Korelasi skor-skor total kuesioner dan total butir-butir

N

=Jumlah subyek

X

=Skor item kuesioner

Y

=Skor total butir-butir kuesioner

XY

=Hasil perkalian antara skor X dan skor Y

Koefisien korelasi antar item-item ganjil dan item-item genap yang diperoleh dari hasil perhitungan rumus di atas baru mencerminkan taraf

reliabilitas separuh atau setengah tes. Untuk memperoleh taraf reliabilitas satu tes digunakan formula koreksi dari Spearmen Brown.Rumusnya

(58)

r1 =

keterangan:

r1 = Reliabilitas internal seluruh instrument rb = Korelasi belahan ganjil-genap

kemudian ditentukan derajat reliabilitas dengan berpedoman dengan daftar indeks korelasi reliabilitas (Masidjo, 1995: 209) seperti yang disajikan

dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 3.5

Daftar Indeks Korelasi Reliabilitas Koefisien Korelasi Kualifikasi

±0,91 - ±1,00 Sangat Tinggi ±0,71 - ±0,90 Tinggi ±0,41 - ±0,70 Cukup ±0,20 - ±0,40 Rendah

0,00 - ±0,20 Sangat Rendah

Berdasarkan perhitungan reliabilitas, diperoleh nilai koefisien atau nilai

reliabilitas intrumen sebesar 0,970. Dengan demikian instrument penelitian masuk dalam kategori sangat tinggi untuk nilai reliabilitasnya.

Tabel 3.6

Rekapitulasi Hasil Reliabilitas

Reliability Statistics

Cronbach 's Alpha

(59)

G. Prosedur Penelitian (Deskripsi Siklus Penelitian)

Prosedur kerja dalam penelitian tindakan ini meliputi tahap

perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini, dilaksanakan dalam 2 siklus. Sebelum masuk ke siklus I, dilakukan observasi

terlebih dahulu untuk mengetahui situasi kelas dan kepercayaan diri siswa. Prosedur penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.1 Prosedur Penelitian Tindakan Kelas

1. Pra Siklus

Saat pra siklus dilakukan observasi perilaku siswa saat di kelas dan

membagikan angket untuk mengetahui tingkat percaya diri siswa di kelas.

5. Siklus I

a. Tahap Perencanaan

PELAKSANAAN

PERENCANAAN SIKLUS 1 PENGAMATAN

REFLEKSI

PELAKSANAAN

PERENCANAAN SIKLUS 2 PENGAMATAN

(60)

1) Mempersiapkan Satuan Pelayanan Bimbingan (SPB). Topik yang

disiapkan ialah siapa aku?. Topik ini diberikan agar siswa dapat

menilai dirinya secara positif.

2) Mempersiapkan jenis dan alat permainan.

3) Mempersiapkan instrumen penelitian berupa angket kepercayaan

diri, lembar observasi, dan pedoman wawancara. b. Tahap Pelaksanaan

1) Pengenalan awal dan penjelasan mengenai materi dengan topik

Percaya Diri.

2) Tanya jawab dan penjelasan singkat terkait dengan materi yang

disampaikan.

3) Melaksanakan kegiatan

4) Refleksi kegiatan yang telah dilaksanakan 5) Penutupan berupa pengisian angket percaya diri

Waktu yang digunakan dalam pelaksanaan sesuai dengan yang ada pada SPB. Terlampir catatan waktu dalam SPB tercatat 45 menit.

c. Tahap Pengamatan

Pada tahap ini mitra kolaboratif mengamati proses jalannya bimbingan kelompok. Pengamatan dilakukan guna mendapatkan rekam data

mengenai layanan bimbingan kelompok yang telah dilaksanakan. d. Tahap Refleksi

(61)

data observasi maka akan didapatkan rekam data untuk mendukung angket kepercayaan diri. Diharapkan melalui diskusi ini, peneliti

mendapatkan umpan balik sehingga akan didapatkan hasil refleksi yang akan digunakan sebagai upaya perbaikan siklus selanjutnya.

3. Siklus II

Setelah melakukan refleksi dan evaluasi dari upaya perbaikan siklus I maka disusun upaya perbaikan siklus II sebagai berikut:

a. Tahap Perencanaan

1) Menyiapkan SPB sebagai skenario proses jalannya layanan

bimbingan kelompok. Topik yang akan digunakan pada siklus ini ialah aku dan kelebihanku. Topik ini diberikan agar siswa

mengetahui dan sadar akan potensi yang dimilikinya.

2) Menyiapkan instrumen penelitian berupa angket kepercayaan diri,

lembar observasi, dan pedoman wawancara. b. Tahap pelaksanaan

Pelaksanaan upaya perbaikan siklus II dilakukan sesuai tahapan dalam

SPB dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus I. Layanan bimbingan kelompok pada siklus II diharapkan proses metode

experiential learning yang terjadi lebih padu, siswa lebih terlibat dalam

seluruh kegiatan, dan aktif. c. Tahap Pengamatan

(62)

d. Tahap Refleksi

Seperti upaya perbaikan siklus I, setelah selesai pelaksanaan, bersama

mitra kolaboratif melakukan diskusi untuk mendapatkan umpan balik dari upaya perbaikan yang telah dilaksanakan.

H. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini teknik yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan komperatif. Analisis deskriptif adalah suatu teknik pengolahan data yang

bertujuan untuk menggambarkan atau melukiskan kelompok data dari populasi yang diamati. Sedangkan komperatif adalah jenis penelitian yang

digunakan untuk membandingkan antara dua kelompok atau lebih dari suatu variabel tertentu. Berikut rincian teknik analisa data dalam penelitian ini.

1. Teknik Analisis Data Observasi

a. Data Observasi

Hasil data observasi diolah dan dianalisis setelah penelitian tindakan

diberikan, hasil data diolah secepat mungkin agar dapat menjadi rujukan bagi siklus berikutnya. Hasil observasi yang diterima dari

hasil pengamatan kolabolator kemudian dianalisis dan meningterpretasikan data yang telah diberikan. Setelah itu didiskusikan dengan mitra kolaboratif mengenai siklus yang telah

(63)

2. Menentukan Skor Data Kuesioner Percaya Diri

Kuesioner percaya diri siswa terdiri dari 40 butir pertanyaan. Skoring

kuesioner untuk butir item favourable (+) adalah 4 untuk jawabansangat sesuai, 3 untuk jawaban sesuai, 2 untuk jawaban kurang sesuai, dan 1

untuk jawaban tidak sesuai. Untuk butir unfavourable (-) adalah 1 untuk jawaban sanagat sesuai, 2 untuk jawaban sesuai, 3 untuk jawaban kurang sesuaidan 4 untuk jawaban tidak sesuai.

3. Menentukan Kategori Distribusi Normal

Angket percaya diri pada penelitian ini dianalisis dengan menggunakan

pengkategorisasian 3 jenjang ordinal yaitu tinggi, sedang dan rendah. Azwar (2011:6) menjelaskan mengkategorikan subjek dan butir item

berdasarkan kriteria kategori. Oleh karena itu perlu dihitung untuk mendapatkan rentang kategori subjek dan kategori butir item. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

a. Kategori Skor Subjek

Kategori ini untuk menentukan nilai skor tiap subjek berada

dalam daerah kategori tertentu. Kategori skor subjek didapatkan berdasasarkan perhitungan sebagai berikut:

Skor maksimal teoritik : 140

Skor minimal teoritik : 35

Luas jarak : 140-35= 105

(64)

Tabel 3.7

Kategorisasi Skor Tingkat Percaya Diri Subjek No Formula Kriteria Rentang

Skor Kategori

1 [ ] 104 < X Tinggi

2 [ ] [ ] 70 < X ≤ 104 Sedang

3 [ ] X ≤ 70 Rendah

b. Kategori Skor Item

Kategori skor item ini bertujuan agar mudah untuk menentukan tinggi atau rendahya suatu item, dengan jumlah 35 item. Sehingga jika item

itu rendah maka item tersebut digunakan sebagai pedoman perbaikan pada siklus selanjutnya. Kategori skor item didapatkan melalui perhitungan sebagai berikut:

Skor maksimal teoritik : 80 Skor minimal teoritik : 20

Luas jarak : 80-20 = 60

Standar deviasi (sd/σ) : 60:6 = 10 Mean toritik (µ) : (80+20):2 = 50

Tabel 3.8

Kategorisasi Skor Butir-butir Tingkat Percaya Diri No Formula Kriteria Rentang

Skor Kategori

1 [ ] < 60 Tinggi

2 [ ] [ ] 40 < X ≤ 60 Sedang

Gambar

Gambar 2.1 Siklus Model Experiential Learning………………………………… 17
Gambar 2.1. Siklus Model Experiential Learning
Tabel 3.1 Kriteria Keberhasilan
Tabel 3.2 Kisi-kisi Panduan Observasi Kiraan Sifat
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hal diatas, maka perlu diketahui kekuatan struktur dan umur fatigue pada crane yang sudah ada kemudian dilakukan desain ulang untuk mendapatkan struktur

Dimana tujuan dari perancangan sistem tersebut untuk meringankan pekerjaan dan menghasilkan laporan-laporan yang berguna bagi manajemen untuk membuat keputusan yang pada akhirnya

rahasia hakikat agama yaitu ilmu yang lebih tinggi dari pada ilmu yang biasa didapati oleh orang-orang pada umumnya. Ma’rifah adalah pengetahuan yang obyeknya bukan pada hal-hal

Tindakan ini dilakukan Apabila Wajib Pajak tidak membayar pajak terutang sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan dalam Surat Tagihan Pajak(STP), atau Surat Ketetapan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pengaruh disiplin terhadap kinerja pegawai Badan Kepegawaian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, (2) Pengaruh lingkungan kerja

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu kontak dan konsentrasi awal kromium ketika adsorpsi mencapai kesetimbangan serta untuk mengetahui pola isoterm

Kemiskinan merupakan potret buram dari realitas sosial yang sampai saat ini masih membelenggu ruang gerak kemajuan rakyat untuk hidup “merdeka”. Memahami

kimia dalam sehari-hari 32 Mendeskripsikan konfigurasi elektron 35-40 Menjelaskan Anatomi salah satu organ. tumbuhan dan fungsi 1 essai Menjelaskan gerak tumbuhan 2 essai