• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN DAN MORFOMETRIK TUBUH TERNAK SAPI PERANAKAN ONGOLE DAN KERBAU JANTAN DENGAN PENCITRAAN DIGITAL FIQY HILMAWAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERTUMBUHAN DAN MORFOMETRIK TUBUH TERNAK SAPI PERANAKAN ONGOLE DAN KERBAU JANTAN DENGAN PENCITRAAN DIGITAL FIQY HILMAWAN"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

PERTUMBUHAN DAN MORFOMETRIK TUBUH TERNAK

SAPI PERANAKAN ONGOLE DAN KERBAU JANTAN

DENGAN PENCITRAAN DIGITAL

FIQY HILMAWAN

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2016

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Pertumbuhan dan Morfometrik Tubuh Ternak Sapi Peranakan Ongole dan Kerbau Jantan dengan Pencitraan Digital adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Februari 2016 Fiqy Hilmawan NIM D151130301

(4)

RINGKASAN

FIQY HILMAWAN. Pertumbuhan dan Morfometrik Tubuh Ternak Sapi Peranakan Ongole dan Kerbau Jantan dengan Pencitraan Digital. Dibimbing oleh HENNY NURAINI dan RUDY PRIYANTO.

.

Penilaian ukuran tubuh pada ternak dapat digunakan sebagai indikator produktivitas ternak. Selama ini penilaian ukuran tubuh ternak pada sapi Peranakan Ongole (PO) dan kerbau dilakukan secara manual yaitu mengukur secara langsung bagian tubuh ternak yang berisiko terhadap tingkat stres pada ternak dan keamanan evaluator.

Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi metode penilaian morfometrik ternak secara manual dan citra digital, menganalisis pola pertumbuhan kerangka tubuh ternak serta mengkaji karakteristik morfometrik sapi PO dan kerbau berdasarkan tingkatan umur. Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah ternak sapi PO jantan dan kerbau jantan masing-masing 74 ekor dan 94 ekor dengan kisaran umur dari I0 sampai I3. Bagian tubuh/kerangka

yang diukur meliputi ruas tulang belakang, ruas tulang alat gerak, tulang bagian pelvis, dan dimensi performans umum. Pengukuran ukuran tubuh masing-masing ternak dilakukan dengan mengukur langsung bagian tubuh ternak (manual) dan dengan mengambil gambar ternak (citra digital). Data yang diperoleh dianalisis dengan uji t-student, rancangan acak lengkap pola faktorial 2 x 4 dengan faktor pertama spesies dan faktor kedua tingkatan umur. Metode Huxley digunakan untuk analisis pertumbuhan alometrik kerangka tubuh sapi PO dan kerbau.

Hasil pengukuran morfometrik ternak (sapi PO dan kerbau) secara manual dan digital menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0.05) dengan persentase perbedaan antara pengukuran manual dan citra digital sekitar 0.63-5.43% pada sapi PO dan 0.46-4.16% pada kerbau. Sapi PO memiliki nilai pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan kerbau. Pola pertumbuhan tulang sapi PO dan kerbau dengan citra digital menunjukkan pola pertumbuhan yang sama. Pola pertumbuhan tulang pada kerbau dan sapi PO secara keseluruhan dimulai dari bagian kaki (distal) menuju ke arah badan (proximal) dan dari bagian tulang sacral menuju ke arah depan pada bagian punggung (thorax). Perbedaan umur berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap semua ukuran morfometrik tubuh ternak sapi PO dan kerbau. Interaksi antara umur dan spesies terlihat pada ukuran ossa vertebrae sacrales. Hasil morfometrik tubuh menggambarkan bahwa sapi PO memiliki postur tubuh dan kaki (ossa radius-ulna dan ossa tibia-fibulla) yang lebih tinggi dibandingkan kerbau, sedangkan kerbau memiliki postur tubuh yang lebih pendek dan bulat (dalam dada besar) dibandingkan sapi PO. Perbedaan ukuran pertulangan dan bagian tubuh ternak ini dapat dijadikan sebagai penciri ternak dan mempengaruhi tingkat produktivitas perdagingan dan kinerja ternak. Kata kunci: sapi PO, kerbau, pertumbuhan tulang, morfometrik, citra digital

(5)

SUMMARY

FIQY HILMAWAN. The Skeletal Growth and Morphometrics of Male Peranakan Ongole Cattle and Buffalo by Digital Image Analysis. Supervised by HENNY NURAINI and RUDY PRIYANTO.

Body measurement of livestock animal could be used as indicator of animal productivity. Linear body measurements are commonly carried out by manual method using measuring tape. Although simple, this method pose stress to the animal and risks for the workers. Image analysis method is a potential technique linear measurements in animal mophometric analysis. The objectives of this study were to compare the linear body measurements by manual and digital image analysis methods, to identify the morphometry characteristics and to analyze the skeletal growth patterns of Peranakan Ongole (PO) cattle and buffalo.

This study used 74 heads of male PO cattle and 94 heads of male buffalo. The body parameters of this study consisted of 18 parameters. The experiments used t-student to determine differences between the two measurement methods, Completely Randomized Design (RAL) with 2 x 4 factorial to determine morphometry characteristics of the animals. The first factor was species (PO cattle and buffalo) and the second factor was age by dentition (I0, I1, I2, and I3). An

allometric model (Huxley 1932) was used to study the growth patterns of bones in PO cattle and buffalo.

The results showed that the morphometric measurements of PO cattle and buffalo by manual and digital image analysis gave similar accuracy. The differences between two methods ranging from 0.63-5.43% in PO cattle and 0.46-4.16% in buffalo. Therefore the digital analysis method could be used as an alternative morphometric measurement for large ruminant animal. PO cattle had large growth coefficients than buffalo. However, the growth patterns of bones between the two species were similar. The growth impetus of bones moved from the distal (leg) toward proximal regions (back) and from the sacral toward to thoracic regions. Based on body morphometry, PO cattle had larger body frame and longer leg (ossa radius-ulna dan ossa tibia-fibulla) than buffalo. The differences of body frame size between of the two animals could be used to identify the productivity of the animal in term of meat production and work ability of the animal.

Keywords: Peranakan Ongole cattle, buffalo, skeletal growth, animal morphometric, digital image analysis

(6)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

(7)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan

PERTUMBUHAN DAN MORFOMETRIK TUBUH TERNAK

SAPI PERANAKAN ONGOLE DAN KERBAU JANTAN

DENGAN PENCITRAAN DIGITAL

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2016

(8)
(9)
(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini adalah kajian pertumbuhan dan ukuran tubuh sapi Peranakan Ongole dan kerbau dengan judul Pertumbuhan dan Morfometrik Tubuh Sapi Peranakan Ongole dan Kerbau Jantan dengan Pencitraan Digital.

Terimakasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr Ir Henny Nuraini, MSi dan Bapak Dr Ir Rudy Priyanto selaku komisi pembimbing atas arahan dan bimbingannya. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para penguji sidang Bapak Dr Jakaria, SPt MSi dan Ibu Dr Ir Niken Ulupi, MS yang telah banyak memberi saran hasil penelitian. Terimakasih juga penulis sampaikan pada Kepala BPPT-SP Ciamis (Bapak drh Susanto), Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan bidang Peternakan Kabupaten Kudus (Ibu Dwi Listiyani, SPt MSi; Bapak Bambang, Bapak Zaenuri), Kelompok Ternak Kerbau Maeso Suro Kudus (Bapak Wasito dan Bapak Wagiri) dan Peternakan Doa Anak Yatim (Bapak Haji Dwi dan Bapak Tatang) atas izin, bantuan, dan kerjasama selama peneliti melakukan penelitian.

Terima kasih penulis sampaikan kepada seluruh dosen Program Studi ITP Fakultas Peternakan IPB atas ilmu dan pengalaman yang diberikan. Kepada Bapak Bramada WP, SPt MSi dan Muhammad Ismail, SPt MSi atas bimbingan dan arahannya, teman satu penelitian Annisa Hakim, SPt dan Dewi Wahyuni, SPt atas kerjasamanya dan Mahesa Agni PHP, STP atas bantuan selama di lapangan. Terimakasih juga kepada Dr Ir Salundik, MSi selaku Ketua Program Studi Pascasarjana ITP beserta jajarannya atas pelayanan prima selama penulis menempuh studi. Tak lupa kepada rekan-rekan ITP Pascasarjana khususnya angkatan 2013, atas persahabatan dan bantuan selama ini, penulis juga mengucapkan terimakasih. Ungkapan terima kasih penulis haturkan kepada kedua orang tua Ali Musthofa dan Ani Khalimah, serta seluruh keluarga besar atas segala doa dan perhatian yang diberikan. Semoga kelak ilmu yang telah diperoleh berguna bagi banyak pihak.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Februari 2016 Fiqy Hilmawan

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi DAFTAR GAMBAR vi DAFTAR LAMPIRAN vi 1 PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 3 Perumusan Masalah 3 Tujuan Penelitian 3 Manfaat Penelitian 4

Ruang Lingkup Penelitian 4

2 METODE 4

Waktu dan Tempat 4

Bahan 4

Alat 4

Prosedur Penelitian 5

Peubah Pengamatan 7

Analisis Data 9

3 HASIL DAN PEMBAHASAN 10

Perbandingan morfometrik sapi PO dan kerbau jantan secara manual

dan citra digital 10

Pertumbuhan Kerangka Tubuh Sapi PO dan Kerbau Jantan 13 Pola Pertumbuhan Kerangka Sapi PO dan Kerbau Jantan 15 Karakteristik Morfometrik Tubuh Sapi PO dan Kerbau Jantan 19 Hubungan Morfometrik Tubuh dengan Estimasi Karkas

pada Sapi PO dan Kerbau Jantan 27 Hubungan Morfometrik tubuh dengan Perilaku Lokomosi

Ternak Sapi PO dan Kerbau Jantan 29

4 SIMPULAN DAN SARAN 30

Simpulan 30

Saran 31

DAFTAR PUSTAKA 31

LAMPIRAN 37

(12)

DAFTAR TABEL

1 Perbandingan morfometrik sapi PO dan kerbau jantan secara manual

dan citra digital 11

2 Koefisien pertumbuhan tulang terhadap total ukuran linier panjang

tulang tubuh sapi PO dan kerbau jantan 14

3 Deskripsi indikator tingkat kematangan karkas 18

4 Rataan morfometrik komponen tulang belakang dan alat gerak belakang sapi PO dan kerbau jantan dengan citra digital (SE) 21 5 Rataan morfometrik komponen alat gerak depan dan tulang pelvis

sapi PO dan kerbau jantan dengan citra digital (SE) 22 6 Rataan performans ukuran tubuh sapi PO dan kerbau jantan dengan

citra digital (SE) 23

7 Persyaratan kuantitatif bibit sapi PO jantan 27

DAFTAR GAMBAR

1 Ilustrasi pengambilan gambar ternak dari samping 5 2 Ilustrasi pengambilan gambar ternak dari belakang 6 3 Metode analisis citra digital dengan program corel draw X4 6 4 Ilustrasi pengukuran morfometrik tubuh ternak dari samping 8 5 Ilustrasi pengukuran morfometrik tubuh ternak dari belakang 8

6 Pola pertumbuhan tulang ternak sapi PO jantan 16

7 Pola pertumbuhan tulang ternak kerbau jantan 16

DAFTAR LAMPIRAN

1 Perbedaan pengukuran secara manual dan citra digital pada kerbau jantan 36 2 Perbedaan pengukuran secara manual dan citra digital pada sapi PO

jantan 38

(13)

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ternak sapi Peranakan Ongole (PO) dan kerbau merupakan ternak ruminansia yang dibudidayakan oleh masyarakat peternak. BPS (2011) menyatakan populasi sapi PO berjumlah 4 281 602 ekor atau sekitar 28.88% dari total populasi sapi potong di Indonesia. Data Direktorat Jenderal Peternakan tahun 2013 menyatakan populasi kerbau di Indonesia diperkirakan sebanyak 1 485 082 ekor (Dirjennak 2013).

Sapi PO dan kerbau memiliki perbedaan secara morfologi maupun dari segi produktivitasnya. Sapi PO merupakan sapi hasil persilangan antara sapi Ongole dengan sapi lokal di Pulau Jawa secara grading-up. Ciri khas sapi PO adalah berpunuk, bergelambir, bertanduk pendek, kulit berwarna kuning dengan bulu putih atau putih kehitam-hitaman, telinga kecil dan tegak ke samping. Ujung ekor dan rambut sekitar mata berwarna hitam (SNI 2015). Kerbau adalah hewan ruminansia dari sub famili Bovidae yang berkembang di banyak bagian dunia dan diduga berasal dari daerah India. Kerbau domestikasi atau water bufallo berasal dari spesies Bubalus arnee. Spesies kerbau lain yang masih liar adalah Bubalus mindorensis, Bubalius depressicornis, dan Bubalus cafer (Hasinah dan Handiwirawan 2006). Kerbau domestik terdiri atas dua tipe yaitu kerbau rawa (swamp buffalo) dan kerbau sungai (river buffalo). Kerbau rawa memiliki warna tubuh keabu-abuan, leher terkulai dan memiliki tanduk besar yang mengarah ke belakang serta berpotensi sebagai ternak pedaging dan tenaga kerja.

Sapi PO dan kerbau umumnya digunakan sebagai ternak penghasil daging dan ternak kerja (dwiguna). Kedua jenis ternak ini dimanfaatkan sebagai ternak potong dan tenaga kerja dalam mengolah sawah atau sebagai alat transportasi pertanian karena memiliki watak yang tenang, mudah dilatih, tenaga yang kuat, dan daya adaptasi yang baik di lingkungan tropis. Selain digunakan sebagai ternak potong dan kerja, kerbau juga berperan penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia di antaranya sebagai komponen penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat dan agrowisata dan olah raga (Thalib dan Naim 2012).

Sapi PO dan kerbau memiliki potensi genetik yang rendah dibanding ternak sapi silangan apabila dilihat dari tingkat produktivitas ternak. Sapi PO dan kerbau memiliki bobot potong dan persentase karkas yang lebih rendah dibandingkan sapi silangan. Ternak sapi PO memiliki bobot badan dewasa sekitar 200-450 kg dengan persentase karkas 49.64-50.69% (Ngadiyono et al. 2008). Kerbau rawa memiliki bobot badan sekitar 350-500 kg (Mutthalib 2006) dan memiliki persentase karkas 47.62%. Diwyanto dan Handiwirawan (2006) menyatakan kerbau rawa memiliki pertambahan bobot badan harian sekitar 0.3-0.9 kg dengan persentase karkas < 50%. Daging kerbau memiliki kandungan lemak yang lebih sedikit dibanding dengan daging sapi. Kandungan lemak pada daging kerbau yang lebih sedikit, menyebabkan rendahnya kolesterol yang terkandung dalam daging kerbau (Usmiati dan Priyanti 2006).

Potensi genetik yang masih rendah ini memerlukan perhatian lebih dalam supaya dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas dari segi produktivitas maupun reproduksinya. Salah satu upaya dalam meningkatkan produktivitas ternak sapi

(14)

PO dan kerbau adalah dengan pengumpulan data-data kuantitatif (morfometrik) dari ternak tersebut. Data tersebut sangat dibutuhkan untuk identifikasi/penciri ternak, memprediksi potensi produksi dan peluang peningkatan produktivitas ternak.

Penilaian performans tubuh ternak dapat dilakukan dengan cara mengukur bagian tubuh ternak tersebut. Selama ini pengukuran tubuh ternak dilakukan dengan cara manual dengan suatu alat ukur. Metode ini dapat dikatakan sederhana, namun berisiko terhadap keselamatan peternak apabila ternak tersebut memiliki temperamen yang liar. Metode pengukuran manual juga dapat memicu tingkat stres pada ternak. Lawrence et al. (2012) menyatakan bahwa terdapat tiga metode dalam pengukuran dan pendugaan bobot hidup serta perubahan konformasi tubuh ternak, di antaranya dengan penimbangan langsung, pengukuran parameter tubuh, dan melalui analisis citra digital.

Citra atau image merupakan istilah lain dari gambar, yang merupakan informasi berbentuk visual. Suatu citra diperoleh dari penangkapan kekuatan sinar yang dipantulkan oleh obyek. Citra digital merupakan representasi dari sebuah citra dua dimensi sebagai sebuah kumpulan nilai digital yang disebut elemen gambar atau piksel. Analisis gambar dengan metode ini memiliki kelebihan diantaranya menghemat waktu, keakuratan dan ekonomis. Penggunaan analisis citra digital sudah banyak diterapkan diberbagai bidang salah satunya adalah bidang peternakan. Tasdemir et al. (2011) melakukan penelitian pengukuran dimensi tubuh dan pendugaan bobot badan sapi Friesian Holstein menggunakan teknik pengukuran digital (photogrammetry). Hasil pengukuran menunjukkan keakuratan metode untuk pengukuran dimensi tubuh adalah sebesar 95-98%. Munoz dan Perpinan (2010) menyatakan bahwa pengukuran morfometrik dengan komputerisasi memberikan pengaruh yang rendah dalam peningkatan standar eror daripada pengukuran manual pada tubuh mencit. Penelitian lain yang menggunakan metode analisis citra digital di antaranya pendugaan bobot badan sapi perah (Lasfeto et al. 2008), klasifikasi jenis-jenis tekstur dan identifikasi warna daging sapi dan babi (Budianita et al. 2015) dan penilaian body condition score serta pendugaan bobot hidup pada kerbau (Negretti et al. 2008).

Metode citra digital merupakan suatu terobosan dalam penilaian morfometrik ternak. Metode ini efektif diterapkan untuk ternak konvensional maupun ternak liar karena menghindari kontak langsung antara peternak (evaluator) dengan ternak. Metode pengukuran dengan analisis citra digital terbagi dua kategori yaitu secara dua dimensi (2D) dan tiga dimensi (3D). Pada penelitian ini digunakan metode citra digital secara dua dimensi (2D).

Prinsip metode pengukuran citra digital adalah mengambil foto digital dari ternak pada jarak tertentu. Metode ini menggunakan suatu acuan ukuran yang telah dibuat sesuai dengan proporsi dari gambar yang akan diambil. Ternak yang akan diambil gambarnya ditempatkan pada area yang datar dan lurus sehingga gambar ternak dapat terambil secara jelas. Gambar diambil dari samping dan belakang ternak secara tegak lurus. Hasil gambar ternak dianalisis dengan perangkat lunak (software) khusus pada komputer. Penelitian ini membandingkan hasil pengukuran morfometrik ternak sapi PO dan kerbau secara manual dengan citra digital.

Ukuran tubuh ternak dapat digunakan sebagai identifikasi ternak dan indikator tingkat produktivitas ternak. Sapi PO dan kerbau termasuk dalam ternak

(15)

tipe kerangka sedang karena memiliki ukuran tubuh yang tidak besar yang dapat dilihat dari bobot badan dan tingkat produksi daging. Pembentukan kerangka tubuh dipengaruhi oleh pertumbuhan dan perkembangan ternak. Pertumbuhan merupakan perubahan ukuran-ukuran meliputi bobot hidup, bentuk, dan komponen tubuh (otot, tulang, dan lemak). Perkembangan merupakan perubahan konformasi tubuh dan bentuk serta fungsi tubuh sehingga dapat digunakan secara penuh (Field dan Taylor 2002). Ukuran pertumbuhan didasarkan pada dua hal, yaitu pertumbuhan tubuh yang ditandai dengan bertambahnya bobot badan dan besarnya tubuh yang ditandai dengan perubahan ukuran-ukuran tubuh. Pada umumnya kecepatan pertumbuhan ternak awalnya pelan, kemudian cepat dan pelan lagi saat kedewasaan dicapai. Ukuran tubuh ditentukan oleh tulang kerangka yang mencapai ukuran maksimum secara dini dibandingkan komponen tubuh lainnya seperti otot dan lemak. Pertumbuhan tulang ini erat kaitannya dengan produktivitas daging pada ternak karena tulang merupakan tempat melekatnya daging.

Pemahaman dan penguasaan ilmu pertumbuhan ternak dinilai sangat penting dalam budidaya ternak sapi PO dan kerbau bagi masyarakat peternak. Metode penilaian morfometrik dengan analisis citra digital memberikan keuntungan karena dapat mengurangi tingkat stres ternak dan mempermudah peternak dalam proses penanganan (handling) ternak. Metode pencitraan digital ini diharapkan dapat memberikan data yang akurat mengenai morfometrik ternak dan pola pertumbuhan kerangka tubuh ternak sapi PO dan kerbau. Informasi ini dapat digunakan untuk mengetahui tingkat produktivitas dan dapat dijadikan sebagai dasar seleksi ternak sapi PO dan kerbau di Indonesia.

Perumusan Masalah

Sapi PO dan kerbau merupakan tipe ternak potong dan kerja, meskipun kedua jenis ternak ini berbeda spesies. Sapi PO dan kerbau memiliki karakteristik ukuran tubuh yang berbeda. Perbedaan ukuran tubuh tersebut dapat diketahui dengan penilaian morfometrik. Penilaian morfometrik ternak biasanya dilakukan secara manual. Metode citra digital dapat digunakan sebagai metode alternatif dalam penilaian performans ternak. Penilaian performans ternak ini untuk mengetahui ukuran morfometrik dan pola pertumbuhan tulang ternak sapi PO dan kerbau jantan.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mendapatkan informasi efektivitas metode pengambilan data morfometrik ternak sapi PO dan kerbau jantan secara manual dan pencitraan digital

2. Menganalisis pola pertumbuhan kerangka sapi PO dan kerbau jantan

3. Mengkaji morfometrik tubuh ternak sapi PO dan kerbau jantan berdasarkan tingkatan umur.

(16)

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini berguna untuk mengenalkan metode pengukuran tubuh ternak dengan pencitraan digital. Metode citra digital ini dapat memudahkan pengambilan data secara lebih cepat dengan jumlah yang banyak. Kajian morfometrik ternak diharapkan memberikan informasi tentang ukuran tubuh dan pertumbuhan tulang sapi PO dan kerbau untuk menentukan produktivitas ternak.

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah melakukan pengukuran morfometrik ternak sapi PO dan kerbau jantan dengan kisaran umur I0 (< 2 tahun) sampai I3

(3.5-4 tahun) secara manual dan dengan pencitraan digital. Data morfometrik sapi PO dan kerbau yang diperoleh kemudian diaplikasikan untuk pengamatan pola pertumbuhan tulang dan karakteristik morfometrik ternak.

2 METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Mei 2015 di Balai Pengembangan dan Perbibitan Ternak Sapi Potong (BPPT-SP) Ciamis, Peternakan Doa Anak Yatim di Kabupaten Bogor, Pasar Hewan Kudus, dan Kelompok Ternak Kerbau Maeso Suro di Kabupaten Kudus.

Bahan

Bahan yang digunakan adalah sapi PO dan kerbau jantan dengan kisaran umur I0 sampai I3. Ketentuan umur sapi PO menurut SNI (2015) yaitu I0 (umur <

1.5 tahun), I1 (1.5-2 tahun), I2 (2-3 tahun), I3 (3-3.5 tahun). Ketentuan umur kerbau

menurut SNI (2011) yaitu I0 (umur < 2 tahun), I1 (2-3 tahun), I2 (3-3.5 tahun), I3

(3.5-4 tahun). Hasil penentuan umur ternak dicatat dalam bentuk I0, I1, I2, dan I3.

Jumlah keseluruhan sapi PO dan kerbau yang digunakan masing-masing sebanyak 74 ekor dan 94 ekor.

Alat

Peralatan yang digunakan adalah kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) merk Nikon D3200, tongkat pembanding (standing gauge) sepanjang satu meter, laptop, dan memory card kamera. Pengukuran manual sebagai pembanding menggunakan pita ukur dengan ketelitian 1 mm, tongkat ukur dengan ketelitian 1 cm, jangka ukur (caliper) dengan ketelitian 1 mm dan alat tulis.

(17)

Prosedur Penelitian Penentuan Umur Ternak

Umur sapi PO dan kerbau diperoleh dari data sekunder yaitu dari data rekording yang terdapat di tempat penelitian. Apabila tidak terdapat catatan tersebut, maka penentuan umur ternak dapat dilakukan dengan melihat/menghitung jumlah gigi seri pada ternak.

Pengukuran Morfometrik Ternak

Pengamatan ukuran tubuh ternak (morfometrik) dengan mengukur bagian tubuh ternak sapi PO dan kerbau secara manual dan dengan kamera (pencitraan digital). Pengukuran morfometrik secara manual dilakukan dengan mengukur bagian tubuh ternak secara langsung. Pengukuran konformasi kerangka memanfaatkan penonjolan tulang baik bungkul (tuberositas), penjuluran (processus) maupun persendian (articulatio) dari seluruh pertulangan yang terlihat jelas pada ternak hidup. Hasil pengukuran kemudian dicatat.

Pengukuran morfometrik secara digital dilakukan dengan menerapkan metode Schmidt-Nielsen (1984) yang dimodifikasi menggunakan metode citra digital. Pengukuran pencitraan digital dilakukan dengan mengambil foto digital ternak pada jarak terdekat (±3 meter) menggunakan kamera. Jarak terdekat adalah jarak yang dilakukan untuk mengambil gambar ternak hingga diperoleh view penuh satu area pandang dari kamera. Sapi PO dan kerbau ditempatkan pada area yang datar dalam kondisi tegak berdiri. Tongkat pembanding (standing gauge) ditempatkan di belakang dan di samping ternak dalam posisi tegak lurus sebagai skala pembanding saat pengambilan gambar. Pengambilan gambar ternak diambil gambarnya secara jelas (full frame). Gambar diambil dari samping dan belakang secara tegak lurus tubuh ternak (Fapet 2014). Ilustrasi cara pengambilan gambar metode pengukuran morfometrik dengan citra digital dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2.

(18)

Gambar 2 Ilustrasi pengambilan gambar ternak dari belakang

Gambar ternak yang telah diambil kemudian dianalisis parameter tubuhnya dengan perangkat lunak pengolah foto digital (Corel Draw versi X4). Perangkat lunak ini dipilih karena dapat melakukan perbesaran gambar yang proporsional tanpa terjadi perubahan perbandingan proporsi gambar serta dapat melakukan rotasi gambar yang lebih halus, sehingga hasil pengukuran dapat lebih detail dan akurat. Namun, penggunaan perangkat lunak ini hanya dapat menentukan ukuran panjang dalam bentuk dua dimensi, sehingga tidak dapat mengambil data ukuran lingkar.

Saat pengolahan citra digital, penentuan panjang garis dilakukan dengan menarik titik-titik dari setiap ukuran parameter tubuh, sehingga akan diperoleh nilai sumbu x dan sumbu y dari setiap garis. Cara analisis citra digital dengan menggunakan program Corel Draw X4 dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Metode analisis citra digital dengan program Corel Draw X4 Adapun tahapan analisis citra digital di komputer adalah sebagai berikut : 1. Launch aplikasi Corel Draw X4 lalu pilih New Blank Document

2. Klik File, pilih Import untuk menginput foto ternak (sapi PO atau kerbau) 3. Klik Smart Fill Tool (a), kemudian aplikasikan ke tongkat meteran dari

ujung atas sampai bawah untuk menentukan ukuran tongkat pembanding 4. Klik Pick Tool (b), kemudian lihat hasil pengukuran di kolom object (s)

(19)

5. Buat formulasi phytagoras dan matematika perkalian silang pada program aplikasi Ms. Excel

6. Formulasi phytagoras dengan rumus z = √x2+y2, dan matematika perkalian silang dengan rumus :

7. Input angka yang ada pada object (s) size (c) ke program Ms. Excel yang sudah diformulasikan untuk mengetahui nilai obyek pada foto dibandingkan dengan panjang obyek sebenarnya (tongkat pembanding) 8. Ulangi prosedur tersebut untuk mengukur parameter tubuh ternak lainnya.

Penghitungan ukuran obyek gambar dapat dilakukan dengan penggunakan program aplikasi Ms. Excel untuk memudahkan perhitungan. Rumus phytagoras digunakan untuk menghitung kemiringan obyek dari gambar hasil pengukuran. Gambar 3 menunjukkan bahwa tongkat pembanding dan parameter tubuh (panjang badan) pada foto tidak dalam posisi tegak (terlihat dari nilai object (s) size), oleh karena itu kemiringan tongkat pembanding dan parameter tubuh harus diukur untuk mengetahui nilai yang sebenarnya.

Peubah Pengamatan

Peubah/parameter yang diamati dalam penelitian ini menurut WAVA (2012) adalah :

1. Panjang kelompok ossa vertebrae cervicalis yang diukur dari batas axio-atlas hingga pangkal leher bagian dorsal. Pada sapi yang berpunuk diukur tepat di depan punuk.

2. Panjang kelompok ossa vertebrae thoracicae yang diukur dari pangkal leher hingga titik tengah tubuh bagian dorsal.

3. Panjang kelompok ossa vertebrae lumbales yang diukur dari titik tengah tubuh bagian dorsal hingga processus spinosus pertama tulang sacral. 4. Panjang kelompok ossa vertebrae sacrales yang diukur di sepanjang

tulang sacral.

5. Panjang os scapulla yang diukur dari titik tertinggi tubuh (untuk sapi berpunuk diukur dari pangkal punuk) hingga tuber humerus.

6. Panjang os humerus yang diukur dari tuber humerus hingga di titik tengah tuber radius-ulna

7. Panjang ossa radius-ulna yang diukur dari tuber radius-ulna hingga os carpal.

8. Panjang os metacarpale yang diukur dari os carpal hingga pangkal os phalank 1.

9. Panjang os femoris yang diukur dari tuber illium hingga tuber femoris. 10. Panjang os tibia-fibulla yang diukur dari tuber femoris hingga tuber calcis 11. Panjang os metatarsale yang diukur dari pangkal os tarsus hingga os

phalank 1.

12. Jarak antar coxae yang diukur dari tuber coxae kiri hingga tuber coxae kanan.

(20)

13. Jarak antar ischium yang diukur dari tuber ischium kiri hingga tuber ischium kanan.

14. Jarak coxae-ischium yang diukur dari tuber coxae hingga tuber ischium. 15. Panjang badan yang diukur dari tuber humerus hingga tuber ischium. 16. Tinggi badan yang diukur tepat di belakang os scapulla dari titik dorsal

hingga tanah.

17. Dalam dada yang diukur tepat di belakang os scapulla dari titik dorsal hingga ventral.

18. Tinggi pinggul/hip yang diukur lurus dari os coxae (tuber coxae) hingga tanah.

Gambar 4. Ilustrasi pengukuran morfometrik tubuh ternak dari samping

(21)

Analisis Data

Data morfometrik ternak sapi PO dan kerbau dianalisis dengan uji t-student untuk membandingkan metode pengukuran manual dan citra digital. Model matematikanya menurut Stell dan Torrie (1995) adalah :

Keterangan :

t = nilai t hitung yang akan dibandingkan dengan t tabel untuk menentukan penerimaan hipotesis

= selisih rata-rata sampel a (manual) dan b (digital) = selisih rata-rata populasi a dan b

= nilai standar deviasi

Analisis pertumbuhan kerangka/tulang pada sapi PO dan kerbau dilakukan dengan menggunakan persamaan alometrik Huxley (1932) yaitu Y = aXb yang dalam penggunaannya telah ditransformasikan terlebih dahulu ke dalam bentuk persamaan logaritma yaitu Log Y = Log a + b Log X. Dalam hal ini :

a = suatu konstanta (intersep) b = koefisien pertumbuhan tulang

X = total ukuran linier panjang tulang (ossa vertebrae cervicales,ossa vertebrae thoracecae, ossa vertebrae lumbales, ossa vertebrae sacrales, os scapulla, os humerus,

ossa radius-ulna, os metacarpale, os femoris, ossa tibia-fibulla,os metatarsale, os coxae-os ischium)

Y = ukuran linier tulang pada tubuh ternak sapi PO dan kerbau

Pertumbuhan linier tulang pada sapi PO atau kerbau dimulai dari tulang dengan koefisien pertumbuhan rendah mengarah ke tulang dengan nilai koefisien pertumbuhan yang lebih tinggi. Kecepatan pertumbuhan tulang pada sapi PO dan kerbau dibandingkan dengan menggunakan uji t-student.

Analisis karakteristik morfometrik tubuh sapi PO dan kerbau menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial 2 x 4 dengan dua faktor perlakuan yang berbeda yaitu spesies ternak (sapi PO dan kerbau) dan tingkatan kelompok umur (I0, I1, I2, I3). Model matematika yang digunakan menurut

Mattjik dan Sumertajaya (2013) adalah:

Yijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + εijk

Keterangan :

Yijk = hasil pengamatan terhadap morfometrik tubuh pada ternak

dengan spesies ternak ke-i, tingkatan umur ke-j, dan dengan ulangan ke-k.

µ = nilai rataan morfometrik tubuh ternak αi = pengaruh spesies ternak taraf ke-i

(22)

βj = pengaruh tingkatan umur ternak pada taraf ke-j

(αβ)ij = pengaruh interaksi faktor spesies ternak pada taraf ke-i dengan

tingkatan umur pada taraf ke-j

εijk = pengaruh galat percobaan yang berasal dari faktor spesies ternak

ke-i dan tingkatan umur ke-j pada ulangan yang ke-k

Hasil analisis yang menunjukkan perbedaan nyata diuji lanjut dengan Least Square Means (LS Means) menggunakan General Linier Model (GLM). Prosedur ini digunakan karena data yang didapat tidak seimbang akibat jumlah ulangan yang tidak sama.

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

Perbandingan Morfometrik Sapi PO dan Kerbau Jantan secara Manual dan Citra Digital

Lawrence et al. (2012) menyatakan bahwa terdapat tiga metode dalam pengukuran dan pendugaan bobot hidup serta perubahan konformasi tubuh ternak, di antaranya dengan penimbangan langsung, pengukuran parameter tubuh, serta melalui analisis video dan gambar. Penilaian morfometrik tubuh ternak (morfometrik) selama ini dilakukan secara manual yaitu dengan mengukur langsung ke tiap bagian komponen tubuh ternak. Pengukuran morfometrik tubuh pada ternak sapi PO dan kerbau jantan pada penelitian ini menggunakan metode secara manual dan dengan citra digital. Penggunaan kedua metode ini untuk melihat perbandingan antara kedua metode apabila digunakan dalam penilaian performa tubuh ternak.

Penggunaan analisis gambar/citra digital untuk penilaian performa ternak ini pertama kali dilakukan oleh Schofield (1990) pada ternak babi. Chiari et al. (2008) menyatakan teknik pengukuran dengan citra digital dapat dibedakan menjadi dua yaitu secara dua dimensi (2D) dan tiga dimensi (3D). Teknik dengan dua dimensi (2D) digunakan untuk mengukur jarak dan sudut pada suatu obyek setelah ditentukan skalanya. Pengukuran secara citra digital pada penelitian ini dilakukan secara 2 dimensi (2D) yaitu dengan mengambil fokus gambar ternak pada kondisi tubuh berdiri tegak dan gambar ternak dapat diambil secara jelas dan keseluruhan (full frame).

Analisis citra digital merupakan fungsi kontinu atas intensitas cahaya f(x,y) dalam bidang dua dimensi (2D). Koordinat dinyatakan oleh besaran x dan y. Citra digital dianggap suatu matriks dari indeks baris dan kolom sebagai koordinat setiap titik pada citra tersebut. Setiap titik pada citra digital diidentikan dengan nilai berupa piksel. Hasil pengukuran morfometrik tubuh ternak sapi PO jantan dan kerbau jantan secara manual dan dengan metode citra digital dapat dilihat pada Tabel 1.

Pengukuran morfometrik tubuh sapi PO dan kerbau secara keseluruhan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0.05) antara metode pengukuran manual dan citra digital. Hal ini karena dalam pengambilan gambar, ternak

(23)

11 T abe l 1 P erba ndin ga n morf ometr ik sapi P O da n k erba u janta n s ec ara manu al dan c it ra di g it al Par am et er ( cm ) Me to de Pe ng uk ur an Sapi PO Ja nt an ( n = 74 ) K er bau Ja n tan (n = 9 4) Ma nua l D ig it al Per bed aa n (% ) Ma nua l D ig it al Per bed aa n (% T ulang B el akan g O ss a ve rt ebrae ce rvi cal es 28.96 ± 4.03 28.95 ± 4.19 1.34 30.03 ± 4.43 29.45 ± 4.49 1.28 O ss a ve rt ebrae t ho rac ecae 50.68 ± 7 .93 50.57 ± 8.12 2.61 48.36 ± 7.31 48.16 ± 7.37 2.11 O ss a ve rt ebrae l um ba les 32.27 ± 4.83 32.05 ± 5.16 1.63 33.94 ± 4.68 33.99 ± 4.93 1.38 O ss a ve rt ebrae sac ral es 14.66 ± 2.04 14.51 ± 2.00 0.73 15.02 ± 1.77 15.18 ± 1.96 0.54 A lat G er ak D epan O s s capu ll a 33.94 ± 3.93 33.28 ± 4.41 1.36 32.96 ± 4.40 32.88 ± 4.27 1.25 O s humerus 25.70 ± 3.12 24.82 ± 3.62 1.10 25.23 ± 2.70 25.16 ± 3.03 0.83 O ss a rad ius -u lna 36.03 ± 3.98 36.74 ± 4.24 1.34 34.57 ± 3.60 34.83 ± 3.46 1.02 O s met aca rpa le 23.11 ± 1.76 22. 74 ± 2.09 0.63 20.39 ± 1.50 20.26 ± 1.67 0.46 A lat G er ak B el ak ang O s f emor is 28.53 ± 3.69 27.14 ± 4.01 1.25 27.73 ± 2.60 27.23 ± 2.89 0.79 O ss a t ibi a -f ibu ll a 41.85 ± 4.09 41.32 ± 4.55 1.40 37.87 ± 3.64 37.37 ± 3.24 0.99 O s met a tars al e 27.04 ± 1.9 6 26.18 ± 2.26 0.69 23.51 ± 1.61 23.22 ± 1.78 0.49 P er fo rm a U m u m Pan jang bad an 114.24 ± 16.33 113.70 ± 17.07 5.43 115.47 ± 14.36 114.61 ± 14.53 4.16 Ting g i bada n 116.93 ± 12.44 116.82 ± 12.97 4.13 114.50 ± 9.75 114.74 ± 9.83 2.82 Ting g i pi ng g ul /h ip 122.38 ± 12.78 122.36 ± 13.22 4.23 117.96 ± 9.45 117.53 ± 9.92 2.79 D al am dada 53.04 ± 7.82 53.36 ± 8.12 2.56 59.79 ± 6.97 60.42 ± 7.38 2.07 Ja rak an tar C oxae 31.89 ± 6.03 31.06 ± 6.12 1.97 37.53 ± 5.15 36.17 ± 5.46 1.53 Ja rak an tar I schi um 14.69 ± 2 .11 14.63 ± 2.55 0.76 15.66 ± 2.27 15.77 ± 2.62 0.70 Ja rak C oxae -I sc h ium 29.86 ± 5.25 29.79 ± 5.29 1.71 29.19 ± 4.04 29.24 ± 4.33 1.20 n = ju m lah s a m p el (e k o r )

(24)

dikondisikan dalam posisi berdiri tegak dan tenang. Pengambilan gambar ternak juga dalam kondisi fullframe pada kamera disertai keberadaan tongkat pembanding sebagai standar ukuran nyata. Penelitian Gaudioso et al. (2014) menyatakan metode analisis citra digital dapat menjadi estimasi ciri fisik tubuh sapi dengan baik dan tidak berbeda nyata dibandingkan hasil pengukuran langsung. Tasdemir et al. (2011) menyatakan photogrammetry (mengukur obyek dari foto) merupakan teknik yang akurat dalam teknik pengukuran obyek. Jika dibandingkan dengan pengukuran manual, photogrammetry memiliki keunggulan yang lebih efisien, cepat dan aman. Dalam pengukuran citra digital, jarak antara ternak dengan posisi kamera tidak mempengaruhi ukuran tiap bagian tubuh ternak dengan hasil pengukuran metode manual.

Persentase perbedaan antara kedua metode tergolong rendah yaitu pada kerbau berkisar 0.46-4.16% dan sapi PO berkisar 0.63-5.43%. Hasil persentase perbedaan ini lebih tinggi dengan pengukuran ukuran tubuh secara manual dan citra digital di tiap ukuran tubuh pada kerbau (0.32-1.55%) , pada sapi perah (0.2-2.0% ), dan 1.3-2.2% pada sapi pedaging (Tozser et al. 2000; Negretti et al. 2008). Semakin kecil nilai perbedaan (eror) berarti pengukuran semakin tepat (Munoz dan Perpinan 2010). Persentase perbedaan antara metode manual dan citra digital pada kedua jenis ternak memiliki nilai yang tinggi terdapat pada bagian panjang badan, tinggi badan, dalam dada, tinggi pinggul/hip dan terendah pada ossa vertebrae sacrales, os metacarpale, os metatarsale, dan jarak antar ischium. Bagian tubuh yang pendek seperti ossa vertebrae sacrales memberikan ketepatan yang lebih tinggi dibandingkan bagian tubuh dengan ukuran yang panjang. Bagian tubuh dengan nilai persentase perbedaan yang tinggi ini diduga disebabkan oleh distorsi pengukuran bagian tubuh yang ukurannya panjang dengan alat ukur.

Adanya nilai persentase perbedaan yang bervariasi antara kedua metode di tiap bagian tubuh diduga disebabkan oleh kondisi ternak, posisi ternak dan keahlian/ketepatan evaluator dalam melakukan pengukuran maupun interpretasi gambar di komputer. Perbedaan ketepatan pada pengukuran manual dan digital disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya keahlian evaluator, bentuk bagian tubuh, dan ketepatan media ukur. Posisi ternak yang tidak tenang dan berubah-ubah, kondisi area yang miring atau bergelombang merupakan kendala dalam pengambilan fokus gambar ternak. Hal ini yang menyebabkan terdapat perbedaan nilai pengukuran antara metode manual dan citra digital. Fisher (1975) mengemukakan terdapat tiga hal yang dapat menjadi sumber eror dalam pengukuran tubuh ternak yaitu: (1) identifikasi dalam penentuan titik tubuh yang akan diukur, (2) distorsi anatomi tubuh yang dihasilkan oleh ternak yang mengubah posisi atau posturnya atau dikarenakan perubahan otot (3) eror yang disebabkan pada saat pengukuran pada berbagai posisi tubuh ternak yang banyak terjadi saat menggunakan pita ukur.

Analisis digital dua dimensi (2D) ketelitian dan keakuratan pengukuran tergantung pada resolusi gambar pada kamera dan posisi ternak. Semakin tinggi resolusi gambar dan semakin sempurna posisi ternak (berdiri tegak), maka proses interpretasi gambar di komputer semakin mudah dan tepat. Pengambilan gambar dapat dilakukan dengan bermacam jarak posisi ternak dengan kamera karena tidak memberikan pengaruh terhadap hasil asalkan gambar ternak dapat terambil dengan baik dan tepat (Gaudioso et al. 2014).

(25)

Kendala yang dihadapi dalam pengukuran secara citra digital secara umum dapat diatasi dengan peningkatan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan baik dalam pengambilan gambar digital. Standar baku dalam pengambilan gambar digital juga perlu diterapkan untuk mengurangi kesalahan yang terjadi selama pengambilan gambar digital. Standar baku tersebut meliputi ketentuan kemiringan area pengambilan gambar digital, posisi ternak, pencahayaan, resolusi kamera, dan dimensi gambar digital yang diambil.

Pengukuran metode citra digital dapat dijadikan alternatif dalam pengukuran morfometrik ternak karena kemudahan mengumpulkan data di lapangan, pengambilan sampel dalam jumlah yang lebih banyak, waktu pengambilan data lebih singkat, aman, dan mengurangi tingkat stres ternak. Adanya tindakan meminimalisasi kontak langsung dengan ternak dapat menjadikan ternak menjadi lebih tenang dan stabil sehingga proses pengukuran dapat berlangsung dengan baik. Penerapan metode citra digital ini tentunya disertai dengan keterampilan dari sumberdaya manusia yang cakap terutama dalam hal analisis citra digital komputer. Tasdemir et al. (2011) menyatakan dengan metode pengukuran secara digital dapat meminimalkan masalah dalam hal biaya, kesulitan pengukuran, keterbatasan personel, dan mengatasi risiko serta stres pada ternak. Metode pengukuran citra digital dapat memberikan analisis yang lebih baik dan mendetail terhadap performans ternak. Performans ternak tersebut, tidak hanya performans utama seperti panjang dan tinggi badan, tetapi juga dapat memberikan informasi lebih banyak lagi tentang detail ukuran tubuh yang dapat digunakan seperti pertulangan. Performans ternak ini dapat digunakan untuk memprediksi pertumbuhan dan produktivitas ternak. Pada dasarnya, pengukuran morfometrik memiliki beberapa kegunaan pada ternak diantaranya untuk kajian hubungan filogenetik, mengetahui evolusi, dimorfisme seksual, ekomorfologi, kondisi tubuh, tingkat pertumbuhan, dan tingkah laku ternak (Zelditch et al. 2004; Green 2001; Ackerman 2005).

Pertumbuhan Kerangka Ternak Sapi PO dan Kerbau Jantan

Pertumbuhan dapat diartikan sebagai pertambahan massa tubuh per satuan waktu, dimana kecepatan pertumbuhan dan distribusi dari komponen-komponen tubuh seperti tulang, otot dan lemak berlangsung secara gradual dengan jaringan tulang bertumbuh lebih awal, kemudian diikuti jaringan otot dan terakhir yang bertumbuh adalah jaringan lemak. Perkembangan diartikan sebagai perubahan bentuk dan komposisi tubuh sebagai akibat perbedaan kecepatan pertumbuhan relatif dari berbagai komponen tubuh (Berg and Butterfield 1976; Aberle et al. 2001). Philips (2001) terdapat dua fase pertumbuhan pada ternak yaitu pertumbuhan sebelum lahir dan sesudah lahir. Pertumbuhan sebelum lahir ditandai dengan dengan adanya diferensiasi sel yang terdiri dari ektoderm, mesoderm, dan endoderm. Pertumbuhan setelah lahir lebih mengarah pada perkembangan jaringan tulang otot, dan lemak. Pertumbuhan bagian-bagian tubuh hewan tidak terjadi pada saat yang bersamaan. Pertumbuhan komponen-komponen tersebut berlangsung dengan laju yang berbeda selama pertumbuhan dan perkembangan serta peningkatan bobot tubuh.

(26)

Pertumbuhan kerangka/tulang ternak dapat dipelajari dengan mengukur pertumbuhan relatif komponen tulang tubuh. Melalui persamaan alometrik Huxley (1932) yaitu Y = aXb, dapat diketahui gambaran pertumbuhan tulang atau komponen tubuh secara kuantitatif. Penggunaan persamaan ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan relatif tulang atau komponen tubuh selama pertumbuhan lebih tergantung pada bobot hidup, dibandingkan dengan waktu yang diperlukan untuk mencapai ukuran tersebut. Kajian mengenai sistem kerangka dinilai sangat penting karena tulang berfungsi sebagai pemberi bentuk tubuh, tempat melekatnya otot dan perlindungan bagi organ-organ vital. Hasil analisis pertumbuhan alometrik kerangka/tulang sapi PO dan kerbau jantan dapat dilihat di Tabel 2.

Tabel 2 Koefisien pertumbuhan tulang terhadap total ukuran linier panjang tulang tubuh sapi PO dan kerbau jantan

Kerangka Tubuh Sapi PO Kerbau

b SE b SE

Ossa vertebrae cervicales 1.075b 0.057 1.283a 0.060 Ossa vertebrae thoracicae 1.244 0.050 1.339 0.052 Ossa vertebrae lumbales 1.182 0.074 1.229 0.076 Ossa vertebrae sacrales 1.030 0.078 0.985 0.081 Os scapulla 0.986b 0.042 1.181a 0.044 Os humerus 1.107 0.040 1.073 0.041 Ossa radius-ulna 0.892a 0.038 0.785b 0.039 Ossa metacarpale 0.549 0.052 0.570 0.054 Os femoris 1.096a 0.040 0.926b 0.042 Ossa tibia-fibulla 0.820a 0.038 0.679b 0.040 Os metatarsale 0.505 0.049 0.540 0.051 Coxae-ischium 1.338 0.069 1.200 0.071

Huruf superskrip yang berbeda pada baris yang sama menyatakan adanya perbedaan nyata antar perlakuan (P<0.05), b = koefisien pertumbuhan, SE = standar eror

Berdasarkan Tabel 2, koefisien pertumbuhan ossa vertebrae cervicales pada kerbau (b = 1.283) lebih besar (P<0.05) dibandingkan pada sapi PO (b = 1.075). Koefisien pertumbuhan tulang os scapulla pada kerbau (b = 1.181) lebih besar (P<0.05) dibandingkan pada sapi PO (b = 0.986).

Berdasarkan koefisien nilai b menunjukkan bahwa ossa vertebrae cervicales dan os scapulla pada kerbau merupakan tulang yang berkembang lebih lambat dibanding dimensi tulang secara keseluruhan dan memiliki pertumbuhan yang tinggi (b > 1). Namun pada sapi PO dengan nilai b = 1 menunjukkan bahwa os scapulla pada sapi PO mengalami pertumbuhan yang konstan. Pertumbuhan tulang ossa vertebrae cervicalis dan os scapulla pada kerbau lebih tinggi dibandingkan pada sapi PO terlihat pada bentuk leher kerbau yang lebih besar dibandingkan sapi PO. Hasil penelitian Johnson et al. (2002) menyatakan distribusi bobot tulang cervical vertebrae pada kerbau memiliki persentase 8.1% dari total bobot tulang. Bobot tulang cervical vertebrae pada kerbau lebih besar dibandingkan pada sapi Bos indicuss (Brahman) yaitu sebesar 7.3% dari total bobot tulang sehingga memungkinkan pertumbuhan tulang leher pada kerbau memiliki pertumbuhan yang lebih tinggi.

(27)

Koefisien pertumbuhan ossa radius-ulna pada kerbau (b = 0.785) lebih kecil (P<0.05) dibandingkan pada sapi PO (b = 0.892). Koefisien pertumbuhan ossa tibia-fibulla pada kerbau (b = 0.679) lebih kecil (P<0.05) dibandingkan pada sapi PO (b = 0.820). Berdasarkan koefisien nilai b menunjukkan bahwa ossa radius-ulna dan ossa tibia fibulla tumbuh lebih awal dibandingkan dimensi tulang secara keseluruhan dan memiliki kemampuan pertumbuhan yang rendah (b < 1). Os femoris pada kerbau (b = 0.926) lebih kecil (P<0.05) dibandingkan pada sapi PO (b = 1.096). Berdasarkan koefisien nilai b pada kerbau (b = 1) menunjukkan bahwa os femoris pada kerbau merupakan tulang yang berkembang/tumbuh secara konstan, namun pada sapi PO dengan nilai b > 1 menunjukkan perkembangan lebih lambat/akhir dibanding dimensi tulang secara keseluruhan dan memiliki pertumbuhan yang tinggi. Pertumbuhan ossa radius-ulna, os femoris, dan ossa tibia-fibulla pada sapi PO lebih tinggi dibandingkan dengan kerbau meskipun untuk tulang ossa radius-ulna dan ossa tibia-fibulla memiliki koefisien pertumbuhan yang sama (b < 1). Tulang ini merupakan komponen penyusun alat gerak ternak dan mempengaruhi postur tinggi badan ternak. Pertumbuhan tulang yang tinggi pada bagian kaki pada sapi PO terlihat pada postur tubuh sapi PO yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan kerbau yang terkesan lebih pendek. Bentuk kaki yang panjang pada sapi PO memberi kemungkinan daya jelajah yang lebih luas dan cepat.

Koefisien pertumbuhan yang tinggi pada beberapa bagian tulang penyusun alat gerak pada sapi PO dikarenakan sapi PO memiliki pertumbuhan yang baik pada bagian alat gerak dibandingkan dengan kerbau. Pertumbuhan yang baik pada alat gerak sapi PO ini terkait dengan performans fisik tipe ternak kerja pada sapi. Sapi PO memiliki ukuran kaki yang lebih panjang dibandingkan kerbau. Kecepatan pertumbuhan komponen alat gerak kerbau yang lebih rendah dibanding sapi PO dapat dilihat dari performans fisik kerbau dengan kaki yang pendek. Kedua jenis ternak ini memiliki persamaan sebagai tipe ternak kerja. Kerbau memiliki pertumbuhan tulang belakang yang lebih baik dibandingkan pertumbuhan komponen tulang kaki, sehingga ukuran badan kerbau lebih panjang dibandingkan ukuran kaki. Tipe ternak kerja yang baik adalah ternak yang memiliki kaki yang panjang dengan panjang badan yang relatif pendek atau kaki yang pendek dengan badan yang lebih panjang (Suin 2001).

Pola Pertumbuhan Kerangka Sapi PO dan Kerbau Jantan

Berdasarkan nilai b pada sapi PO dan kerbau dapat diketahui pola pertumbuhan tulang ternak. Pertumbuhan tulang dimulai dari nilai b yang rendah menuju ke nilai b yang tinggi. Pola pertumbuhan tulang sapi PO dan kerbau jantan dapat dilihat pada Gambar 6 dan Gambar 7.

Berdasarkan Gambar 6 dan 7 dapat dilihat bahwa pertumbuhan tulang antara ternak sapi PO dan kerbau memiliki pola yang relatif sama meskipun kedua jenis ternak berbeda koefisien pertumbuhannya. Pola pertumbuhan tulang yang relatif sama antara kedua jenis ternak ini diduga karena kedua jenis ternak memiliki persamaan anatomi tubuh dan kebutuhan nutrisi. Jones et al. (1978) menyatakan pola pertumbuhan tulang pada ternak tidak dipengaruhi oleh bangsa ternak dan jenis kelamin.

(28)

Gambar 6. Pola pertumbuhan tulang ternak sapi PO jantan

Pada tubuh bagian depan, pertumbuhan tulang kedua jenis ternak dimulai dari bagian tulang kaki depan (os metacarpale ke ossa radius-ulna) menuju ke tubuh bagian atas (badan). Begitu pula pada bagian belakang ternak, pertumbuhan dimulai dari bagian tulang kaki belakang (os metatarsale ke ossa tibia-fibulla) menuju ke arah pinggang/pinggul. Pertumbuhan tulang berakhir pada area komponen tulang belakang (punggung) yang memiliki nilai b > 1. Berdasarkan nilai koefisien b dapat dilihat pada bagian tulang belakang, pertumbuhan tulang ossa vertebrae sacrales lebih awal tumbuh, kemudian tulang ossa vertebrae lumbales, dan ossa vertebrae thoracecae.

Gambar 7. Pola pertumbuhan tulang ternak kerbau jantan

Hasil penelitian ini menegaskan hasil penelitian yang lebih dulu bahwa di kaki-kaki bawah belakang (os metatarsus) dan depan (os metacarpus) adalah pusat pertumbuhan badan yang kedua karena suatu gelombang pertumbuhan ke dua mulai dari daerah-daerah ini dan bergerak ke atas sepanjang kaki-kaki depan dan belakang dan batang tubuh hingga berakhir pada area pinggang. Area pinggang (the lumbar region) adalah bagian tubuh yang berkembang terakhir

(29)

(Sampurna dan Suatha 2010). Hal ini diperkuat dengan Berg et al. (1978) dan Aberle et al. (2001) yang menyatakan tulang belakang bagian sacral mencapai dewasa sebelum lumbar, dan lumbar mencapai dewasa sebelum tulang belakang bagian thorac.

Bagian kaki mengalami tumbuh lebih awal dengan tingkat pertumbuhan yang rendah. Bagian kaki berfungsi sebagai alat gerak utama dan juga sebagai penopang tubuh ternak, sedangkan badan terutama bagian punggung mengalami tumbuh terakhir dan lambat dalam mencapai ukuran dewasa. Bagian tubuh yang berfungsi lebih awal atau lebih dini akan berkembang lebih dulu, demikian juga

bagian tubuh yang komponennya sebagian besar terdiri dari tulang. Bagian tulang

penyusun alat gerak tumbuh lebih awal dibandingkan tulang penyusun sumbu tubuh, hal ini disebabkan oleh sapi atau kerbau merupakan hewan precocial yaitu lahir dengan mata terbuka dan dapat segera berdiri dan berjalan sehingga membutuhkan perkembangan alat gerak yang lebih dini (Allaby 1999).

Jones et al. (1978) melakukan penelitian pola pertumbuhan tulang pada sapi Brahman dan Charolais berdasarkan bobot tulang juga menunjukkan pola pertumbuhan yang sama. Pola pertumbuhannya dimulai dari tulang kaki (tarsus dan carpus) dan yang terakhir tumbuh adalah bagian rusuk. Pada penelitian ini, koefisien pertumbuhan untuk tulang rusuk tidak diketahui karena tidak dilakukan pengukuran panjang tulang rusuk terkait kendala penilaian ukuran tulang rusuk pada metode citra digital. Namun untuk bagian pinggul (coxae-ischium) pada hasil penelitian ini diperoleh nilai koefisien pertumbuhan tulang yang tinggi (b > 1) yang menunjukkan bahwa bagian pinggul serta bagian komponen tulang belakang lainnya memiliki pertumbuhan yang tinggi.

Hasil penelitian Priyanto et al. (2009) tentang pertumbuhan tulang yang dihubungkan pada bagian potongan komersial karkas menyatakan pertumbuhan tulang menunjukkan pola yang kurang jelas, namun sebagian besar pertumbuhan tulang dapat diidentifikasi polanya. Tulang pada area kaki memiliki nilai koefisien yang terendah dengan arah pertumbuhannya dari bagian potongan komersial shin menuju ke bagian thorax dan dari area chuck menuju belakang ke area brisket. Pola pertumbuhan tulang yang lainnya yaitu dimulai dari area shank menuju ke area tubuh bagian belakang atas (rump). Pada penelitian kali ini, pertumbuhan tulang dimulai dari bagian tulang kaki (os metatarsale) menuju tubuh atas (ossa tibia-fibulla, os femoris, dan coxae-ischium). Pada bagian punggung pertulangan tumbuh dari ossa vertebrae sacrales menuju ossa vertebrae thoracicae.

Berdasarkan komponen pertumbuhan tulang pada ternak sapi PO dan kerbau memiliki kaitan dengan pertumbuhan perototan. Pola pertumbuhan otot dilaporkan sama halnya dengan pola pertumbuhan tulang. Jones et al. (1980) dan Priyanto et al. (2009) menyatakan berdasarkan potongan komersial karkas, pertumbuhan otot bagian kaki belakang dimulai dari bagian shank menuju ke tubuh atas bagian belakang (silverside dan rump). Pada bagian kaki depan, pertumbuhan otot dimulai dari bagian shin menuju thorax, dan dari arah bagian chuck menuju ke bagian punggung. Pada bagian tulang belakang, pertumbuhan otot bergerak dari bagian loin menuju tubuh atas bagian depan (rib). Hal ini disebabkan oleh perototan melekat pada jaringan tulang, sehingga arah pertumbuhannya memiliki pola yang sama.

Kajian pola pertumbuhan tulang pada ternak ini dapat digunakan untuk memprediksi umur ternak berdasarkan tingkat kematangan fisiologis karkas.

(30)

Kajian ini didasarkan pada bentuk, ukuran dan proses pembentukan (osifikasi) tulang padat dan rawan serta kondisi lean pada area tulang belakang/spinal. USDA (1997) dan Tatum (2007) menyatakan tingkat kematangan karkas dan umur fisiologis ternak dibedakan menjadi lima yaitu tingkat kematangan A, B, C, D, dan E seperti yang disajikan di Tabel 3.

Tabel 3 Deskripsi indikator tingkat kematangan karkas

Kondisi Tingkat kematangan

A B C D E Sacral Sudah memisah Osifikasi sempurna Osifikasi sempurna Osifikasi sempurna Osifikasi sempurna Lumbar Masih ada

kartilago, berrongga Proses osifikasi hampir selesai Osifikasi selesai Osifikasi selesai Osifikasi selesai

Thorax Masih ada kartilago, berrongga Terlihat masih mengalami osifikasi Masih mengalami osifikasi sebagian Osifikasi hampir selesai, kartilago masih terlihat Osifikasi selesai, tulang sudah kompak Rusuk Warna merah cerah, pipih Agak luas dan rata/pipih Cukup lebar dan agak rata Cukup lebar dan rata Lebar dan rata/pipih Warna lean Merah cerah ke merah keabu-abuan Merah cerah ke merah gelap Agak merah gelap Agak merah gelap ke merah gelap Merah gelap Tekstur lean Sangat baik/lembut Baik/lembut Cukup baik Agak keras/kesat Keras/kesat Warna tulang Merah cerah Merah Agak merah

Agak putih Putih A (umur ternak 9-30 bulan), B (umur ternak 30-42 bulan), C (umur ternak 42-72 bulan), D (umur ternak 72-96 bulan, E (lebih dari 96 bulan).

Tingkat kematangan karkas dinilai sangat penting untuk mengetahui kisaran umur potong pada ternak sapi PO maupun kerbau. Tabel 3 menunjukkan bahwa kondisi osifikasi dan tingkat kematangan karkas, ossa vertebrae sacrales mengalami osifikasi lebih awal dibandingkan dengan ossa vertebrae lumbales dan ossa vertebrae thoraceae yang terlihat dari ossa vertebrae sacrales yang sudah mengalami osifikasi sempurna (tulang sudah kompak) dibandingkan ossa vertebrae lumbales dan ossa vertebrae thoraceae. Hal ini sesuai dengan arah pertumbuhan tulang belakang ternak di mana ossa vertebrae sacrales mengalami pertumbuhan lebih awal dibandingkan ossa vertebrae lumbales dan ossa vertebrae thoraceae. Pada penelitian ini ternak sapi PO dan kerbau yang digunakan sampai umur I3 (umur ≤ 4 tahun) maka dapat diindikasikan bahwa

(31)

kematangan karkas sapi PO dan kerbau ini berada pada kisaran grade A sampai grade C, di mana memiliki warna dan tekstur lean yang masih cukup baik sehingga karkas yang dihasilkan masih dapat diterima oleh pasar konsumen. Halomoan et al. (2001) menyatakan sapi yang umumnya dipotong untuk kebutuhan karkas di pasar tradisional adalah sekitar umur 2-4 tahun dan untuk pasar khusus sekitar 2-3 tahun. Perbedaan pola pertumbuhan di antara bangsa sapi dapat mengakibatkan perbedaan komposisi karkas dan hasil daging yang berdampak pada suplai kebutuhan konsumen (Hafid dan Priyanto 2006).

Lawrence dan Fowler (2002) menyatakan tampilan fisik seekor ternak merupakan suatu hasil proses pertumbuhan yang berkesinambungan dengan setiap bagian tubuh mempunyai kecepatan pertumbuhan atau perkembangan berbeda.

Soeparno (2005) menyatakan berdasarkan laju pertumbuhan maksimumnya,

jaringan tubuh mempunyai urutan pertumbuhan berdasarkan umurnya yaitu (1) jaringan syaraf, (2) tulang, (3) otot, dan (4) lemak. Semua bagian dari tubuh hewan tumbuh dengan cara teratur, namun tidak tumbuh dalam satu kesatuan karena berbagai jaringan tubuh tumbuh dengan laju yang berbeda dari lahir sampai dewasa. Pola pertumbuhan tersebut dapat diprediksi melalui perubahan ukuran-ukuran tubuh. Fenomena pertumbuhan ini dapat dilihat dari tulang yang merupakan komponen tubuh yang mengalami pertumbuhan paling dini. Pada hewan hidup, pertumbuhan tulang dapat dilihat dari perubahan ukuran-ukuran tubuh.

Karakteristik Morfometrik Tubuh Ternak Sapi PO dan Kerbau Jantan

Performans anatomis morfometrik/ukuran tubuh ternak dapat dijadikan sebagai acuan dalam melakukan seleksi maupun pemuliabiakan pada ternak dengan tujuan tertentu, misalnya pertumbuhan dan perdagingan. Ukuran kerangka (frame size) didefinisikan sebagai cara spesifik identifikasi tipe kematangan tubuh dan penciri komposisi karkas pada bobot hidup yang sama (Field dan Taylor 2008).

Field (2007) menyatakan bahwa ukuran kerangka bangsa sapi sama halnya dengan kerbau dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok berdasarkan pada pengukuran tinggi pundak. Pengelompokkan tiga tipe kerangka kecil, sedang, dan besar berdasarkan tinggi pundak ternak dewasa yaitu kerangka kecil (di bawah 117.22 cm), sedang (117.22-123.88 cm), dan besar (di atas 123.88 cm) (Afolayan et al. 2002). Berdasarkan kategori tipe kerangka ternak, maka sapi PO dan kerbau merupakan tipe ternak dwiguna yang termasuk kategori ternak kerangka sedang. Sapi kerangka sedang memiliki karakteristik yaitu ukuran tubuh lebih panjang, kecepatan tumbuh relatif lebih cepat, lebih mudah gemuk berbasis rumput dan bijian, umumnya gemuk pada bobot potong sekitar 300-600 kg, dan target bobot karkas yang diinginkan yaitu 200-350 kg (McKiernan 2005; Littler 2007).

Karakteristik morfometrik ternak dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok utama yaitu panjang, tinggi dan ketebalan. Pengukuran morfometrik seperti panjang dan tinggi berhubungan dengan pertumbuhan tulang dan bobot badan ternak. Peningkatan panjang tubuh terjadi karena adanya pertumbuhan tulang dan pembangunan otot (Assan 2013). Pengukuran morfometrik yang digunakan kali ini dengan hasil pengukuran secara analisis citra digital. Hal ini dikarenakan pada pembahasan sebelumnya, diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara metode pengukuran secara manual maupun dengan analisis citra

(32)

digital pada ternak sapi PO dan kerbau. Rataan morfometrik ternak sapi PO dan kerbau dapat dilihat pada Tabel 4, 5, dan 6.

Tabel 4, 5, dan 6 menunjukkan bahwa perbedaan umur memberikan pengaruh nyata (P<0.05) terhadap keseluruhan ukuran tulang dan performans tubuh. Pada komponen tulang belakang, perbedaan spesies memberikan pengaruh nyata (P<0.05) terhadap ukuran ossa vertebrae thoracecae, ossa vertebrae lumbales, ossa vertebrae sacrales. Pada komponen alat gerak belakang dan alat gerak depan, perbedaan spesies berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap ukuran ossa tibia-fibulla, ossa metatarsus, ossa radius-ulna, dan os metacarpale. Bagian tulang pelvis, perbedaan spesies berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap ukuran jarak os coxae dan jarak os ischium. Bagian performans tubuh, perbedaan spesies memberikan pengaruh nyata (P<0.05) terhadap ukuran tinggi pinggul dan dalam dada. Interaksi antar umur dan spesies terlihat berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap ukuran ossa vertebrae sacrales.

Perbedaan umur pada ternak sapi PO dan kerbau memberikan perbedaan ukuran pada tiap tulang. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi pertumbuhan atau perubahan ukuran tulang sapi PO dan kerbau dari umur I0 (kurang dari 2 tahun)

sampai dengan umur I3 (4 tahun). Berdasarkan Tabel 4, 5, dan 6 terlihat bahwa

pertumbuhan tiap tulang pada kisaran umur I0 mengalami pertumbuhan yang

tinggi dan pada umur dewasa pertumbuhan relatif konstan. Hal ini berkaitan dengan sifat pertumbuhan ternak, di mana pada ternak muda mengalami pertumbuhan yang cepat, setelah ternak mencapai umur dewasa pertumbuhannya cenderung konstan bahkan menurun. Pertumbuhan mempunyai tahap cepat dan tahap lambat, tahap tumbuh cepat terjadi sebelum dewasa kelamin dan tahap tumbuh lambat terjadi setelah dewasa kelamin (Eka et al. 2014). Sugeng (2008) menyatakan bahwa setelah pedet lahir pertumbuhan menjadi semakin cepat hingga usia penyapihan. Pada usia penyapihan hingga pubertas laju pertumbuhan masih berjalan pesat, tetapi dari usia pubertas hingga usia jual, laju pertumbuhan mulai menurun dan terus menurun hingga usia dewasa, dan pada akhirnya pertumbuhan terhenti.

Pada kedua jenis ternak, komponen tulang belakang memiliki persentase pertumbuhan dari umur I0 sampai I3 tertinggi pada ossa vertebrae sacrales

(29.58%) dan terendah pada ossa vertebrae sacrales (22.58%). Pada kedua jenis ternak, komponen alat gerak depan, persentase pertumbuhan tertinggi pada os humerus (25.59%) dan terendah pada os metacarpale (13.82%), sedangkan pada komponen alat gerak belakang, persentase pertumbuhan tertinggi pada os femoris (23.66%) dan terendah pada os metatarsale (11.61%). Hal ini terlihat dari nilai koefisien pertumbuhan (b) pada sapi PO dan kerbau di mana os metacarpale dan os metatarsale memiliki nilai pertumbuhan yang rendah dibanding tulang kaki lainnya, sedangkan ossa vertebrae sacrales memiliki koefisen pertumbuhan yang terendah dibandingkan tulang belakang lainnya. Titik awal pertumbuhan tulang pada ternak dimulai dari bagian dengan koefisien pertumbuhan yang rendah menuju ke koefisien pertumbuhan tinggi. Hal ini diperkuat dengan Aberle et al. (2001) yang menyatakan tulang belakang bagian sacral mencapai dewasa sebelum lumbar, dan lumbar mencapai dewasa sebelum tulang belakang bagian thorac. Berg et al. (1978) menyatakan pertumbuhan tulang pada sapi dimulai dari bagian

(33)

Ta be l 4 R ataa n mor fom etrik kom pone n tul ang b elaka n g da n alat g e ra k be laka n g sapi P O da n ke rba u janta n de n g an cit ra di g it al (SE) B ag ian Tubuh Par am et er ( cm ) Spesi es U m ur R at aa Spesi I0 I1 I2 I3 T u lang B el ak ang O ss a ve rt ebrae ce rvi cal es K er bau 25.26 ± 0.53 27.34 ± 0.51 31.21 ± 0.53 35.15 ± 0.58 29.74 ± Sapi PO 24.02 ± 0.61 27.70 ± 0.61 31.00 ± 0.55 33.10 ± 0.65 28.95 ± R at aa n U m ur 24.64 ± 0.40 d 27.52 ± 0.40 c 31.10 ±0.38 b 34.12 ±0.43 a O ss a ve rt ebrae t ho rac ecae K er bau 40.42 ± 0.94 45.24 ± 0.90 51.37 ± 0.94 57.42 ± 1.02 48.61 ±0.47 Sapi PO 40.99 ± 1.08 49.01 ± 1.08 54.14 ± 0.98 58.19 ± 1.15 50.58 ±0.54 R at aa n U m ur 40.71 ± 0.71 d 47.13 ± 0.70 c 52.75± 0.68 b 57.80 ±0.77 a O ss a ve rt ebrae l um ba les K er bau 30.08 ± 0.78 33.68 ± 0.75 34.56 ± 0.79 38.40 ± 0.86 34.18 ±0.40 Sapi PO 25.79 ± 0.9 1 32.01 ± 0.91 34.19 ± 0.82 36.20 ± 0.96 32.05 ±0.45 R at aa n U m ur 27.94 ± 0.60 c 32.84 ± 0.59 b 34.38± 0.57 b 37.30± 0.65 a O ss a ve rt ebrae sac ral es K er bau 13.57 ± 0.29 c 14.76 ± 0.28 b 16.22 ±0.29 a 16.44 ±0.32 a 15.25 ±0.15 Sapi PO 11.72 ± 0.33 d 14.55 ± 0.33 b 15.51±0.30 ab 16.24 ±0.35 a 14.50 ±0.16 R at aa n U m ur 12.65 ± 0.22 14.65 ± 0.22 15.86 ± 0.21 16.34 ± 0.24 A lat G er ak B el ak ang O s f emor is K er bau 24.13 ± 0.46 26.66 ± 0.45 28.62 ± 0.46 30.05 ± 0.51 27.36 ± Sapi PO 22.45 ± 0.54 26.66 ± 0.54 28.59 ± 0.48 30.98 ± 0.57 27.17 ± R at aa n 23.29 ± 0.35 d 26.66 ± 0.35 c 28.60± 0.34 b 30.51± 0.38 a O ss a t ibi a -f ibu ll a K er bau 34.17 ± 0.55 36.40 ± 0.53 38.78 ± 0.55 40.81 ± 0.61 37.54 ±0.28 Sapi PO 36.08 ± 0.64 41.23 ± 0.64 43.17 ± 0.58 44.81 ± 0.68 41.32 ±0.32 R at aa n U m ur 35.13 ± 0.42 d 38.81 ± 0.42 c 40.97 ±0.40 b 42.81 ±0.45 a O s met a tars al e K er bau 21.61 ± 0.35 23.26 ± 0.34 23.67 ± 0.35 24.59 ± 0.38 23.28 ±0.18 Sapi PO 24.36 ± 0.40 25.91 ± 0.40 26.99 ± 0.36 27.40 ± 0.43 26.17 ±0.20 R at aa n U m ur 22.98 ± 0.27 c 24.59 ± 0.26 b 25.33 ±0.25 a 26.00 ±0.29 a Hu ru f su p er sk rip y an g b er b ed a p ad a b ar is atau k o lo m y an g s a m a m e n y ata k an ad an y a p e rb ed aa n n y ata a n tar p er lak u a n ( P <0 .0 5 ), SE = stan d ar er o r

Gambar

Gambar 2 Ilustrasi pengambilan gambar ternak dari belakang
Gambar 4. Ilustrasi pengukuran morfometrik tubuh ternak dari samping
Gambar 7. Pola pertumbuhan tulang ternak kerbau jantan
Tabel 3 Deskripsi indikator tingkat kematangan karkas
+4

Referensi

Dokumen terkait

Segmentation in Cultural Heritage is fundamental in order to: (i) overcome the remarkable complexity of reality-based models by selectively simplifying the most suitable level of

Lewat kerja sama itu barang yang dibelanjakan pada ko Hengki Ia tidak mengenakan biaya pengiriman, tetapi ibu Rohani hanya mengurus kegiatan bongkar muat dan biaya buruh,

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kasih karunia dan rahmat-nya, sehingga penulisan tesis dengan judul: URGENSI

OPTIMASI FORMULA TABLET FLOATING GLIKLAZID MENGGUNAKAN HPMC K4M – AMILUM KULIT PISANG AGUNG DAN NATRIUM BIKARBONAT SEBAGAI

Variabel terikat adalah akibat yang muncul ketika peneliti mengubah variabel bebas, Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil jadi pewarnaan biji buah

[r]

Dikantor Kecamatan Krayan, Reability (handal) dari pegawai yang ada dikantor Kecamatan Krayan ini sudah baik, mampunya pegawai dikantor kecamatan Krayan dalam

Salah satu metode pembelajaran yang dilatarbelakangi permainan dalam salah satu situs Depdiknas adalah metode Crush Word (tebak kata )(www.dikmegnum.go.id ). Tebak