BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
Teks penuh
(2) membuat pemerintah cukup percaya diri untuk menjadikan hal ini sebagai target capaian di 2019. Modalitas itu antara lain, saat ini sudah ada 444 kabupaten/kota yang saat ini telah memiliki perencanaan strategis dalam bentuk Strategi Sanitasi Kota (SSK); peningkatan investasi sanitasi sebesar 1,2% per kapita di APBD dan terus didorong hingga 2%; adanya inisiatif para Kepala Daerah untuk peduli sanitasi lewat organisasi AKKOPSI (Asosiasi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi); adanya regulasi, pedoman, dan manual pembangunan sanitasi yang dikerjakan melalui Program Percepatan Pembangunan Sanitasi (PPSP); adanya partisipasi masyarakat; serta sistem monitoring dan evaluasi berbasis web yang disebut Nawasis. Soliditas kementerian terkait yang merupakan ujung tombak Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) memang sangat dibutuhkan, mengingat saat ini animo kabupaten kota untuk memiliki perencanaan strategis dalam pembangunan sanitasi sangat tinggi. Akan sangat disayangkan bila modalitas ini tidak bersambut baik hanya karena ketiadaan ataupun tumpang tindih arahan. Dan, sangat disayangkan pula ketika berbagai pembelajaran yang baik selama berjalannya PPSP di berbagai daerah tidak terdiseminasi luas. Dari hal diatas, maka Pemerintah Kabupaten Pasaman melalui program percepatan pembangunan sanitasi permukiman berusaha untuk memperbaiki kondisi ini dengan konsep pemberdayaan masyarakat. Program ini diharapkan dapat melibatkan peran serta pemerintah, stakeholder dan masyarakat yang dimulai dari tahap perencanaan, implementasi sampai dengan tahap pemanfaatan dan pemeliharaan serta monitoring dan evaluasi. Dengan adanya peran serta dari masyarakat diharapkan timbul rasa memiliki terhadap hasil pembangunan sehingga program ini dapat berhasil. Untuk itu diperlukan kumpulan data yang akurat terkait dengan sanitasi di Kabupaten Pasaman meliputi data dan kondisi faktual, potensi dan permasalahannya yang tertuang dalam Buku Putih Sanitasi dan Strategi Sanitasi Kabupaten Pasaman Tahun 2011 sebagai profil dan gambaran pemetaan karakteristik dan kondisi sanitasi, serta prioritas/arah pengembangan kabupaten dan masyarakat Pasaman jangka menengah.. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 2.
(3) Dokumen Pemutakhiran SSK Kabupaten Pasaman tahun 2015 merujuk pada dokumen SSK yang sudah ada dan lebih difokuskan pada upaya untuk mengimplementasikan program dan kegiatan jangka menengah dalam upaya mencapai universal access tahun 2019. Untuk memastikan dokumen Pemutakhiran SSK dapat diimplementasikan maka dalam proses penyusunannya disinkronkan dengan dokumen-dokumen perencanaan yang ada di kabupaten seperti RPJMD, Renstra SKPD dan Renja SKPD sebagaimana yang digambarkan sebagai berikut. Peran SSK Pemutakhiran didalam dokumen perencanaan lainnya adalah merupakan dokumen rencana strategis berjangka menengah yang disusun untuk percepatan pembangunan sektor sanitasi Kabupaten yang berisi tentang potret kondisi sanitasi Kabupaten saat ini, rencana strategi dan rencana tindak pembangunan sanitasi jangka menengah. A. Keterkaitan RPJM Daerah dengan Dokumen Perencanaan Lainnya RPJM Daerah Kabupaten Pasaman Tahun 2010-2015 adalah merupakan penjabaran dari Visi, Misi dan Program Bupati dan Wakil Bupati Pasaman periode 2010-2015 berdasarkan hasil pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Pasaman periode tahun 2010-2015 yang dilaksanakan pada tanggal 30 Juni 2010. Bupati dan Wakil Bupati terpilih adalah H.BENNY UTAMA, SH.,MM. dan DANIEL dilantik secara resmi oleh Gubernur Sumatera Barat dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Pasaman di Lubuk Sikaping pada tanggal 29 Agustus 2010. Mengingat peran dan fungsi RPJMD sangat strategis bagi penyelengaraan pemerintahan sekaligus menjadi acuan bagi seluruh stakeholders termasuk swasta dan masyarakat, maka dalam perjalanannya RPJMD perlu dilakukan evaluasi dan direvisi agar dapat tetap berjalan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku serta tanggap terhadap perubahan lingkungan strategis yang senantiasa berubah. Revisi dipandang perlu dilakukan kerena terjadinya perubahan-perubahan baik dari tingkat regional, nasional maupun secara global, sehingga mengakibatkan beberapa indikator kinerja perlu dilakukan penyesuaian. Penyesuaian juga disebabkan adanya perubahan pada SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 3.
(4) beberapa kebijakan nasional dan peraturan perundang-undangan sebagai payung hukum dalam penyelenggraan pemerintahan serta beberapa substansi yang telah disusun belum sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah RPJMD direvisi sesuai dengan PP Nomor 8 Tahun 2008 tentang tahapan, tata cara penyusunan, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah. RPJMD dapat diubah dalam hal: Hasil pengendalian dan evaluasi menunjukan bahwa proses perumusan dan subtansi yang dirumuskan belum sesuai dengan mekanisme yang diatur dalan peraturan perundang-undangan; adanya perubahan mendasar dan RPJMD dapat direvisi bilamana adanya kemungkinan dapat merugikan negara Revisi RPJMD yang disusun, akan menjadi pedoman dan acuan dalam penyusunan renstra SKPD serta RKPD dan renja SKPD, sekaligus akan berdampak kepada penyusunan anggaran baik APBD maupun RAPBD. Yang paling diharapkan pada kesempatan ini dapat dihasilkan suatu rumusan dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk kurun waktu sampai dengan tahun 2015 yang komprehensip dan realistik sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah. Program yang ada dalam RPJMD nantinya merupakan program prioritas yang bisa menjadi pengungkit meningkatnya kesejahteraan masyarakat, meningkatnya pelayanan publik dan bisa menjadi ukuran daya saing daerah. Keterkaitan antar dokumen perencanaan dengan RPJMD Kabupaten Pasaman mengacu pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah, sebagaimana ditunjukkan pada gambar 1.1 yang menunjukkan hubungan antara dokumen-dokumen perencanaan dan penganggaran. Gambar 1.1 Keterkaitan Dokumen Perencanaan. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 4.
(5) Keberadaan RPJM Daerah Kabupaten Pasaman Tahun 2010-2015 merupakan satu bagian yang utuh dari manajemen kerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pasaman khususnya dalam menjalankan agenda pembangunan yang telah tertuang dalam dokumen perencanaan dimana selain berpedoman kepada RPJP Daerah Kabupaten Pasaman dan memperhatikan RPJM nasional juga memperhatikan RTRW Kabupaten Pasaman, serta dari keberadaannya akan dijadikan pedoman bagi SKPD untuk penyusunan Renstra SKPD. Selanjutnya, untuk setiap tahun selama periode perencanaan akan dijabarkan dalam bentuk Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Pemerintah Kabupaten Pasaman, sehingga akan dijadikan acuan bagi SKPD untuk menyusun Rencana Kerja (Renja) SKPD. Dalam kaidah sistem keuangan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2003, maka penjabaran RPJM Daerah Kabupaten Pasaman dilaksanakan setiap tahunnya dalam bentuk RKPD Kabupaten Pasaman yang kemudian digunakan sebagai acuan bagi SKPD untuk menyusun Rencana Kerja (Renja) SKPD. Dalam kaitan ini, untuk lebih terarahnya sistem perencanaan dan sistem keuangan dalam implementasinya terhadap pembangunan Kabupaten Pasaman sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, maka diagendakan penyusunan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 5.
(6) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBD setiap tahunnya yang akan dijadikan pedoman bagi penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kabupaten Pasaman. B. Kedudukan Dokumen SSK Pemutakhiran Dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Kedudukan dokumen SSK pemutakhiran atau yang biasa disebut dengan dokumen strategis perencanaan sanitasi dapat dilihat sebagaimana bagan berikut. Gambar 1.2 RPJMD STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK). RENSTRA SKPD. RENCANA STRATEGIS. RENJA SKPD. PROGRAM KEGIATAN. Untuk memastikan pemenuhan 100% akses sanitasi pada tahun 2019, pemerintah melalui PPSP akan fokus untuk peningkatan kualitas SSK, konsolidasi pendanaan, dan pemantapan kelembagaan dan peraturan. Hal lain yang juga akan terus didorong adalah pelibatan dan peningkatan partisipasi masyarakat. 1.2 Metodologi Penyusunan Secara umum metode di dalam penyusunan SSK pemutakhiran ini terdiri dari beberapa langkah, yaitu : 1.. Pengumpulan Data Sekunder. Data sekunder sektor sanitasi digunakan sebagai dasar untuk membuat pemetaan kondisi SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 6.
(7) sanitasi secara aktual, serta memotret kebutuhan akan layanan sanitasi yang baik, sesuai standar kebutuhan minimal pembangunan sanitasi. Tidak hanya sekedar kompilasi, tetapi juga dilakukan proses seleksi dan verifikasi data. Banyak dokumen kegiatan program yang mampu memberikan informasi mengenai apa yang terjadi dimasa lampau yang erat kaitannya dengan kondisi yang terjadi pada masa kini. 2.. Pendalaman data Sekunder yang telah diperoleh. Dari data sekunder yang telah diperoleh maka dilakukan verifikasi lanjutan, pengecekan silang data-data yang diperoleh dan pendalaman data tersebut dengan melaksanakan: pertemuan secara berkala dengan anggota Pokja yang dikoordinasikan oleh Bappeda Kabupaten Pasaman selaku Ketua Pokja ; meninjau tempat-tempat yang dilayani program sanitasi serta sebagian dari daerah pelayanan di kawasan perkotaan dan daerah kumuh (survey dan observasi) ; diskusi yang bersifat teknis (focus group discussion) dan mendalam juga akan dilakukan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam sanitasi. Diskusi untuk memberikan gambaran yang lebih jelas terkait kondisi yang ada serta upaya-upaya yang telah, sedang dan akan dilakukan untuk meningkatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat di bidang sanitasi ; 3. Pengumpulan Data Primer Data primer yang dikumpulkan meliputi : - Studi Kelembagaan dan Keuangan - Penilaian Sanitasi Berbasis Masyarakat (Community-based Sanitation Assessment) - Studi Penyedia Layanan Sanitasi (Sanitation Supply Assessment/SSA) - Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan (Environmental Health Risk Assessment/EHRA) - Studi Komunikasi dan Pemetaan Media - Kajian Sanitasi Sekolah 1.3. Dasar Hukum. Penyusunan Program Strategi Pembangunan Sanitasi di Kabupaten Pasaman didasarkan pada aturan-aturan dan produk hukum yang meliputi :. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 7.
(8) 1.. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Sumatera Tengah dan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2003;. 2.. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan;. 3.. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alami Hayati dan Ekosistemnya;. 4.. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;. 5.. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antar Pemerintah Pusat dan Daerah;. 6.. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan;. 7.. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;. 8.. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah;. 9.. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik;. 10. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup; 11. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan; 12. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015; 13. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman; 14. Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1998 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah dibidang Kehutanan Kepada Daerah; 15. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air; 16. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan; 17. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 8.
(9) 18. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan; 19. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional; 20. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam; 21. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai; 22. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan; 23. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 185 Tahun 2014 tentang Percepatan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi; 24. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 25. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung; 26. Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1990 tentang Penggunaan Tanah bagi kawasan Industri; 27. Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 1996 tentang Kawasan Industri; 28. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP); 29. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/2008 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman (KSNPSPALP); 30. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 7 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 7 Tahun 2008, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 7 Tahun 2008); 31. Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman Nomor 6 Tahun 2007 tentang Perusahaan SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 9.
(10) Daerah Air Minum; 32. Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman Nomor 4 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah Kabupaten Pasaman Tahun 2011 – 2015; 33. Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman Nomor 6 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah kabupaten Pasaman Tahun 2010 – 2030; 34. Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman Nomor 11 Tahun 2011 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kelola Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman Nomor 8 Tahun 2013; 1.4. Sistematika Penulisan. Sistematika penyusunan dokumen Pemutakhiran SSK Kabupaten Pasaman terdiri dari 6 Bab, yaitu sebagai berikut; . Bab pertama berisi pendahuluan yang menggambarkan tentang latar belakang penulisan, metodologi penulisan, dasar hukum dan sistematika penulisan. . Bab kedua menyajikan profil sanitasi saat ini yang berisi gambaran wilayah, kemajuan pelaksanaan SSK, profil sanitasi saat ini, area beresiko dan permasalahan mendesak sanitasi.. . Bab ketiga berisi tentang kerangka pengembangan sanitasi yang meliputi visi dan misi sanitasi, pentahapan pengembangan sanitasi, kemampuan pendanaan sanitasi daerah.. . Bab keempat berisi tentang strategi pengembangan sanitasi meliputi air limbah domestik, pengelolaan persampahan dan drainase perkotaan.. . Bab kelima berisi program, kegiatan dan indikasi pendanaan sanitasi yang meliputi ringkasan, kebutuhan biaya pengembangan sanitasi dengan sumber pendanaan pemerintah, kebutuhan biaya pengemangan sanitasi dengan sumber pendanaan non pemerintah, antisipasi funding gap.. . Bab keenam berisi monitoring dan evaluasi capaian SSK.. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 10.
(11) BAB 2 PROFIL SANITASI SAAT INI 2.1 Gambaran Wilayah a. Geografis dan Administratif . Secara Geografis, Kabupaten Pasaman merupakan salah satu dari 19 kabupaten/ kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat dengan luas wilayah 3.947,63,08 Km 2, dilintasi khatulistiwa dan berada pada 0055' Lintang Utara sampai dengan 0006' Lintang Selatan dan 99045' Bujur Timur sampai dengan 100021' Bujur Timur. Ketinggian antara 50 meter sampai dengan 2.240 meter di atas permukaan laut. Pada beberapa kecamatan terdapat beberapa gunung, seperti Gunung Ambun di Bonjol, Gunung Sigapuak dan Kalabu di Dua Koto, Malenggang di Rao, dan Gunung Tambin yang merupakan gunung tertinggi di wilayah ini terletak di Kecamatan Lubuk Sikaping. Rata-rata curah hujan di Kabupaten Pasaman pada tahun 2011 naik dibandingkan tahun 2010. Pada tabel 1.10 tercatat bahwa rata-rata curah hujan tahun 2013 adalah 406,58 mm/bulan sedangkan pada tahun sebelumnya 8,85 bulan. Kemudian pada tabel 1.11 dapat dilihat rata-rata hari hujan sepanjang tahun 2013 naik catatan pada tahun 2013 melakukan pencatatan di stasiun Lubuk Sikaping saja dan jika dilihat bulan-bulan yang frekuensi hari hujan terbanyak adalah pada bulan November 2013 yakni berkisar 30 hari.. . Secara administratif, Kabupaten Pasaman terbagi dalam 12 kecamatan, 37 Nagari dan 225 Jorong. Dalam hal luas wilayah, kecamatan yang paling luas wilayahnya adalah Kecamatan Mapat Tunggul dengan luas 605,29 Km² atau sebesar 15,33% dari luas wilayah Kabupaten Pasaman, dengan 2 Nagari dan 11 Jorong. Sedangkan Kecamatan terkecil adalah Kecamatan Simpang Alahan Mati dengan luas 69,56 Km² atau 1,76% dari luas wilayah Kabupaten Pasaman yang terdiri dari 2 Nagari dan 9 Jorong. Adapun yang menjadi batas-batas wilayah Kabupaten Pasaman adalah sebagai berikut : Sebelah Utara Sebelah Timur. : Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Padang Lawas Provinsi Sumatera Utara : Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau dan Kabupaten 50 Kota. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 1.
(12) Sebelah Selatan : Kabupaten Agam : Kabupaten Pasaman Barat Sebelah Barat Gambar 2.1 Peta Administasi Kab.Pasaman. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 2.
(13) SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 3.
(14) Tabel 2.1 Luas Administrasi Dan Luas Wilayah Terbangun Saat Ini Luas Wilayah Nama Kecamatan. (Ha). (%) thd luas administrasi. 3 2. Administrasi (%) thd (Ha) total administrasi 21.894 8.94 39.764 1.76. 1278 664. 0.70% 0.27%. 4. 7.839. 4.92. 1306. 0.38%. 6 3 2 4 3 3. 39.037 40.630 23.992 18.022 26.610 68.196. 8.78 5.39 9.14 4.05 8.59 15.16. 1325 769 1668 1325 966 134. 0.66% 0.70% 0.55% 0.31% 0.89% 11.31%. 2. 53.144. 5.98. 140. 4.28%. 3 2 37. 38.190 67.445 444.763. 15.33 11.95 100. 861 159 669. 1.78% 7.51% 14.96%. Jumlah Kelurahan/Desa. Bonjol Tigo Nagari Simpang Alahan Mati Lubuk Sikaping Dua Koto Panti Padang Gelugur Rao Mapat Tunggul Mapat Tunggul Selatan Rao Selatan Rao Utara TOTAL. Terbangun. Sumber : Pasaman dalam angka 2014. b. Wilayah Kajian SSK Wilayah Kajian Sanitasi di Kabupaten Pasaman melibatkan semua Nagari/ Jorong yang masuk daerah administratif di 12 Kecamatan. Pembangunan sanitasi pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang merupakan salah satu elemen penting dalam upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sementara itu derajat kesehatan tidak hanya ditentukan oleh pelayanan kesehatan oleh pemerintah, faktor yang lebih dominan justru adalah kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat.. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 4.
(15) Gambar 2.2 Peta Wilayah Kajian SSK. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 5.
(16) c. Demografi Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Dan Kepala Keluarga Saat Ini Dan Proyeksinya Untuk 5 Tahun. Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Pasaman Tahun 2015 SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 6.
(17) Tabel 2.3 Jumlah Kepala Keluarga Saat Ini Dan Proyeksinya Untuk 5 Tahun Jumlah KK Nama Kecamatan 2015. 2016. Wilayah Perkotaan. Wilayah Perdesaan. Total. Tahun. Tahun. Tahun. 2017. 2018. 2019. 2020. Bonjol Tigo Nagari. 2015. 2016. 2017. 2018. 2019. 2020. 2015. 2016. 2017. 2018. 2019. 2020. 6,996. 7,275. 7,566. 7,869. 8,184. 8,511. 6,996. 7,275. 7,566. 7,869. 8,184. 8,511. -. -. -. -. -. -. 6,598. 6,862. 7,136. 7,422. 7,719. 8,027. 6,598. 6,862. 7,136. 7,422. 7,719. 8,027. -. -. -. -. -. -. 2,559. 2,661. 2,767. 2,878. 2,993. 3,113. 2,559. 2,661. 2,767. 2,878. 2,993. 3,113. 12,928. 13,445. 13,982. 14,542. 15,123. 15,728. -. -. -. -. -. -. 12,928. 13,445. 13,982. 14,542. 15,123. 15,728. Dua Koto. -. -. -. -. -. -. 7,814. 8,126. 8,451. 8,789. 9,141. 9,506. 7,814. 8,126. 8,451. 8,789. 9,141. 9,506. Panti. -. -. -. -. -. -. 10,004. 10,404. 10,820. 11,253. 11,703. 12,171. 10,004. 10,404. 10,820. 11,253. 11,703. 12,171. Padang Gelugur. -. -. -. -. -. -. 5,970. 6,209. 6,457. 6,715. 6,984. 7,263. 5,970. 6,209. 6,457. 6,715. 6,984. 7,263. 6,425. 6,682. 6,949. 7,227. 7,516. 7,817. 6,425. 6,682. 6,949. 7,227. 7,516. 7,817. Simpang Alahan Mati Lubuk Sikaping*. Rao Mapat Tunggul Mapat Tunggul Selatan Rao Selatan* Rao Utara. -. -. -. -. -. -. 2,285. 2,376. 2,471. 2,570. 2,673. 2,780. 2,285. 2,376. 2,471. 2,570. 2,673. 2,780. -. -. -. -. -. -. 1,857. 1,932. 2,009. 2,089. 2,173. 2,260. 1,857. 1,932. 2,009. 2,089. 2,173. 2,260. 8,219. 8,547. 8,889. 9,245. 9,614. 9,999. 8,219. 8,547. 8,889. 9,245. 9,614. 9,999. -. -. -. -. -. -. 2,685. 2,792. 2,904. 3,020. 3,140. 3,266. 2,685. Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Pasaman Tahun 2015 SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 7. 2,792. 2,904. 3,020. 3,140. 3,266.
(18) Tabel 2.4 Tingkat Pertumbuhan Penduduk Dan Kepadatan Saat Ini Dan Proyeksinya Untuk 5 Tahun Nama Kecamatan Bonjol Tigo Nagari Simpang Alahan Mati Lubuk Sikaping * Dua Koto Panti Padang Gelugur Rao Mapat Tunggul Mapat Tunggul Selatan Rao Selatan* Rao Utara. 2015 2,66 2,22 1,77 0,10 1,30 1,16 1,77 1,05 0,61 1,72 0,47 0,05. Tingkat Pertumbuhan % Tahun 2016 2017 2018 2019 2,61 2,57 2,52 2,48 2,18 2,14 2,11 2,07 1,74 1,71 1,68 1,65 0,09 0,09 0,08 0,08 1,28 1,26 1,24 1,21 1,15 1,12 1,10 1,08 1,74 1,71 1,68 1,65 1,04 1,02 1,00 0,98 0,60 0,59 0,58 0,57 1,70 1,67 1,64 1,61 0,45 0,44 0,43 0,43 0,04 0,04 0,03 0,03. 2020 2,43 2,03 1,62 0,08 1,19 1,06 1,62 0,96 0,55 1,58 0,42 0,03. Sumber : Data Perkiraan Badan Pusat Statistik Kabupaten Pasaman Tahun 2015. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 8. 2015 1 4 1 2 2 2 2 1 1 1 1 1. Kepadatan Pddk (orang/Ha) Tahun 2016 2017 2018 2019 1 1 1 1 4 4 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1. 2020 1 5 1 2 2 2 2 1 1 1 1 1.
(19) Tabel 2.5 Jumlah Penduduk Miskin Per Kecamatan Nama Kecamatan Bonjol Tigo Nagari Simpang Alahan Mati Lubuk Sikaping Dua Koto Panti Padang Gelugur Rao Mapat Tunggul Mapat Tunggul Selatan Rao Selatan Rao Utara Total. Jumlah keluarga miskin (KK) 1.977 2.465 860 2.964 3.515 2.769 1,232 1,462 1.068 977 1.656 1.268 22.213. Sumber: PPLS 2011 d. Tata Ruang Wilayah Rencana struktur ruang wilayah merupakan rencana pengaturan pusat - pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana untuk mendukung perkembang kegiatan sosial ekonomi. Pusat-pusat permukiman tersebut membentuk pusat kegiatan secara fungsional saling berhubungan satu sama lain. Pengembangan struktur ruang wilayah Kabupaten Pasaman pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan perkembangan seluruh bagian wilayah sesuai dengan fungsi dan peranan masing-masing bagian wilayah. Konsep struktur ruang yang sesuai dikembangkan di Kabupaten Pasaman adalah konsep sentralisasi dan desentralisasi. Konsep sentralisasi mempunyai arti bahwa pusat utama pengembangannya diarahkan untuk pelayanan pemerintahan dan pusat-pusat lain (sub pusat) dapat secara bebas berinteraksi dengan wilayah lain baik secara inter maupun intra wilayah sepanjang hal tersebut didukung oleh prasarana dan sarana wilayah yang memadai. Namun demikian prasarana dan sarana wilayah tersebut dapat disediakan dan ditingkatkan untuk menunjang pengembangan sub pusat utama, dengan koordinasi pusat utama.. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 9.
(20) Sedangkan konsep desentralisasi berarti bahwa setiap wilayah kecamatan dapat melakukan interaksi langsung dengan wilayah kecamatan lain baik inter maupun intra wilayah, dengan tetap memperhatikan kelengkapan prasarana dan sarana wilayah dalam menunjang reaksi tersebut. Konsep ini lebih memberikan kebebasan kepada setiap wilayah kecamatan sebagai pusat pertumbuhan untuk berinteraksi dengan wilayah lain. Dengan. memperhatikan. kondisi. wilayah. Kabupaten. Pasaman. saat. ini. dan. kecenderungannya, penerapan kedua konsep tersebut lebih sesuai untuk memberikan kesempatan berkembangnya seluruh bagian wilayah Kabupaten Pasaman. Berdasarkan konsep tersebut maka rencana pengembangan struktur ruang wilayah Kabupaten Pasaman adalah sebagai berikut : 1. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) Terkait dengan sistem kota secara makro, Kota Lubuk Sikaping sebagai ibu kota Kecamatan Lubuk Sikaping ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL). Kota Lubuk Sikaping sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) berperan sebagai pusat wilayah (Regional Center) di wilayah Kabupaten Pasaman, terutama dalam proses transformasi dan pengembangan ekonomi wilayah serta struktur ruang. Pusat kegiatan lokal Kota Lubuk Sikaping berfungsi sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat permukiman perkotaan, pusat pelayanan jasa dan berperan sebagai barometer perkembangan seluruh wilayah kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Pasaman. Kota Lubuk Sikaping juga merupakan salah satu faktor pembentuk sistem perkotaan, sistem permukiman perkotaan dan sistem pusat pelayanan. Wilayah Kota Lubuk Sikaping beserta segala macam kepentingan dan kegiatannya termasuk pusat kegiatan lokal. Hal ini berdasarkan pada pertimbangan Kota Lubuk Sikaping sebagai Ibukota Kabupaten Pasaman. 2. Pusat Kegiatan Lokal di Promosikan (PKLp) Pusat Kegiatan Lokal di Promosikan (PKLp) yaitu Kawasan Kota Panti sebagai ibu kota Kecamatan Panti, Kota Rao (ibu kota Kecamatan Rao) dan Kumpulan (Kecamatan Bonjol) termasuk ke dalam sistem perkotaan Kabupaten Pasaman. Ketiga wilayah kecamatan tersebut direncanakan sebagai pembentuk struktur ruang Pusat Kegiatan Lokal di Promosikan (PKLp) dikarenakan mempunyai fungsi sebagai kegiatan pemasaran bagi daerah SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 10.
(21) perdesaan, terutama bagi daerah belakang (hinterland) yang menjadi daerah pelayanannya. Kota – kota pada Pusat Kegiatan Lokal di Promosikan (PKLp) ini secara keruangan/spasial memungkinkan memberi pengaruh lebih luas dari wilayah kecamatannya sendiri. Terkait dengan penetapan kecamatan-kecamatan tersebut sebagai Pusat Kegiatan Lokal di Promosikan (PKLp), keberadaannya dalam sistem pengembangan adalah: a) Kecamatan Rao, telah efektif memberikan pelayanan yang jangkauannya melebihi wilayah administrasi. Kota Rao juga menjadi strategis karena didukung pula oleh jalan kolektor primer yang merupakan lanjutan dari jalan lintas yang menghubungkan Kota Bukittinggi – Kabupaten Pasaman – Kabupaten Pasaman Barat – Kabupaten Mandailing Natal. Kota Rao di masa yang akan datang menjadi strategis karena didukung rencana pengembangan jaringan jalan menuju Kota Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara. Fungsi dan peranan yang demikian besar serta prospek pengembangan kegiatan ekonomi di kawasan ini, maka selayaknya Kota Rao dipromosikan sebagai PKL baru di Kabupaten Pasaman (PKLp) dimana fungsi utamanya adalah untuk pelayanan kegiatan ekonomi. b. Kecamatan Panti, telah efektif memberikan pelayanan yang jangkauannya melebihi wilayah administrasi. Kota Panti menjadi strategis di wilayah Kabupaten Pasaman, karena didukung oleh jalan arteri primer, yaitu jalan lintas yang menghubungkan Kota Bukittinggi – Kabupaten Pasaman – Kabupaten Pasaman Barat – Kabupaten Mandailing Natal (Propinsi Sumatera Utara). Kota Panti juga didukung oleh adanya persimpangan jalan menuju Kota Talu Kabupaten Pasaman Barat. c) Kecamatan Bonjol, ditetapkan sebagai PKLp karena mempunyai aksesibilitas yang relatif lebih baik bila dibandingkan dengan pusat-pusat permukiman lainnya. Penetapan Kumpulan (Kecamatan Bonjol) ini dimasudkan agar orientasi pelayanan yang selama ini cenderung keluar wilayah (Bukittinggi) dapat dikurangi, selain itu peningkatan kawasan sebagai pusat kegiatan pariwisata Kabupaten Pasaman akan memberikan peran fungsional yang lebih besar. Keberadaan Kumpulan (Bonjol) saat ini belum memberikan pelayanan secara efektif sehingga kawasan ini akan dikembangkan secara signifikan agar lebih efektif. Karena itu diperlukan kebijakan khusus agar dapat berfungsi sebagai PKLp. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 11.
(22) Kebijakan khusus yang terkait dengan penetapannya sebagai PKLp adalah berkenaan dengan. investasi. publik. (Social. Overhead. Capital/SOC). yang. memungkinkan. berkembangnya kegiatan investasi yang bersifat produktif (Directly Productive Activities/DPA). 3. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) Ibu Kota Kecamatan di Kabupaten Pasaman sebai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) yaitu Padang Gelugur (Ibu Kota Kecamatan Padang Gelugur), Alahan Mati (Ibu Kota Kecamatan Simpang Alahan Mati), Ladang Panjang (Ibu Kota Kecamatan III Nagari), Simpang Tonang (Ibu Kota Kecamatan II Koto), Silayang (Ibu Kota Kecamatan Mapat Tunggul Selatan), Lansat Kadap (Ibu Kota Kecamatan Rao Selatan) dan Koto Rajo (Ibu Kota Kecamatan Rao Utara). Keseluruhan wilayah yang termasuk dalam PPK hampir memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai pusat permukiman perdesaan dan sebagai pembentuk wilayah kabupaten dari lingkup terkecil. 4. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) Dilihat dari prasarana dan sarana yang dimiliki maka sub pusat pengembangan wilayah yang termasuk Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) yaitu Lubuk Gadang (Ibu Kota Kecamatan Mapat Tunggul). Kecamatan Mapat Tunggul merupakan wilayah pada hakikatnya belum mampu melayani wilayah yang lebih luas. Rencana struktur ruang ini juga meliputi sistem-sistem perwilayahan Kabupaten Pasaman sebagai faktor pembentuk struktur ruang wilayah Kabupaten Pasaman, yaitu Sistem perkotaan dan perdesaan, Sistem pusat permukiman, Sisten pusat-pusat pelayanan dan Sistem prasarana wilayah. Untuk lebih jelasnya mengenai rencana pengembangan struktur ruang di wilayah Kabupaten Pasaman ini disajkan pada tabel dibawah ini.. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 12.
(23) Tabel 2.6 Rencana Pembagian Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Pasaman Satuan Wilayah Pembangunan Pusat Kegiatan Lokal ( PKL ). Kecamatan Lubuk Sikaping. Pusat Kegiatan Lokal dipromosikan ( PKLp ) . Rao Panti Bonjol. Pusat Pelayanan Kawasan ( PPK ). II Koto III Nagari Padang Gelugur Simpang Alahan Mati Mapat Tunggul Selatan Rao Selatan Rao Utara. . Pusat Pelayanan Lingkungan ( PPL). Mapat Tunggul. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 13. Peran Kawasan Pusat Pemerintahan. Pengembangan perumahan kepadatan sedang. Pengembangan pendidikan terpadu. Perdagangan dan jasa skala sub regional Kesehatan Perhubungan Pertanian Perikanan darat Perdagangan dan jasa skala sub regional Pusat pelayanan social Pusat pelayanan tersier jasa pemerintahan Pertanian Peternakan Permukiman Perkebunan Permukiman skala sedang dan besar dengan kepadatan sedang. Pertambangan Pariwisata Perdagangan dan jasa skala sub regional Pusat pelayanan social Pusat pelayanan tersier jasa pemerintahan Pengembangan industri skala regional Pertanian Peternakan Permukiman Perkebunan Permukiman skala sedang dan besar dengan kepadatan sedang. Pertambangan Pariwisata Permukiman kepadatan rendah Pariwisata Pertanian Peternakan Perikanan.
(24) Gambar 2.3 Peta Rencana Struktur Ruang Kabupaten Pasaman. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 14.
(25) Sistem Pekotaan Untuk skenario pengembangan rencana sistem perkotaan yang terintegrasi di wilayah Kabupaten Pasaman adalah sebagai berikut : 1. Skenario Pertama Untuk 10 (sepuluh) tahun pertama (2010–2020), sistem perkotaan akan dibentuk oleh 4 (empat) wilayah kecamatan utama, yaitu Kecamatan Lubuk Sikaping (PKL), Kecamatan Rao, Kecamatan Panti dan Kecamatan Bonjol (PKLp). Keempat kecamatan tersebut merupakan faktor pembentuk sistemsistem perkotaan yang terdapat di wilayah Kabupaten Pasaman yang ditunjang dengan perkembangan eksisting dan ditunjang dengan perkembangan sepuluh tahun ke depan. 2. Skenario Kedua Untuk 10 (sepuluh) tahun ke dua (2020–2030), sistem perkotaan akan dibentuk oleh 8 (delapan) kecamatan berdasarkan hasil dari identifikasi tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang terdapat di wilayah delapan kecamatan tersebut. Kedelapan kecamatan tersebut adalah Kecamatan Padang Gelugur, Kecamatan Simpang Alahan Mati, Kecamatan III Nagari, Kecamatan II Koto, Kecamatan Mapat Tunggul Selatan, Kecamatan Rao Selatan, Kecamatan Rao Utara dan Kecamatan Mapat Tunggul. Melalui pertimbangan diatas, maka rencana sistem perkotaan yang akan dikembangkan di Kabupaten Pasaman adalah Kota Lubuk Sikaping sebagai PKL,Kota Panti (Kecamatan Panti), Kumpulan (Kecamatan Bonjol) dan Kota Rao (Kecamatan Rao) sebagai PKLp Padang Gelugur (Kecamatan Padang Gelugur), Alahan Mati (Kecamatan Simpang Alahan Mati), Ladang Panjang (Kecamatan III Nagari), Simpang Tonang (Kecamatan II Koto), Silayang (Kecamatan Mapat Tunggul Selatan), Lansat Kadap (Kecamatan Rao Selatan) dan Koto Rajo (Kecamatan Rao Utara) sebagai PPK dan Lubuk Gadang (Kecamatan Mapat Tunggul sebagai PPL). Keduabelas kecamatan tersebut merupakan wilayah faktor pembentuk sistem perkotaan yang terintegrasi sesuai dengan tingkat perkembangan dan pertumbuhan yang ada dan direncanakan di wilayah Kabupaten Pasaman selama dua puluh tahun ke depan. Sistem Permukiman Perkotaan. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 15.
(26) Sebelum menentukan rencana struktur ruang untuk pengembangan sistem permukiman perkotaan, terlebih dahulu memperhatikan kriteria-kriteria permukiman perkotaan dan dengan memperhatikan dasar-dasar pertimbangan yang menjadi proses penentuan rencana ini. Berikut adalah kriteria penentu permukiman perkotaan, antara lain : 1. Berfungsi sebagai pusat pengumpul dan pemasaran komoditi unggulan lokal berorientasi pasar wilayah beberapa kecamatan atau lokal (internal); 2. Berfungsi sebagai simpul jaringan transportasi lokal (kabupaten atau beberapa kecamatan); 3. Memiliki fungsi pelayanan jasa-jasa pemerintahan dan kemasyarakatan beberapa kecamatan; 4. Bersifat khusus mendorong perkembangan sektor strategis atau kegiatan khusus lainnya di wilayah kabupaten. Selanjutnya beberapa pertimbangan yang menjadi dasar proses penentuan rencana sistem permukiman perkotaan, antara lain : 1. Penduduk dalam wilayah tersebut adalah penduduk dengan kegiatan pencaharian utamanya adalah bukan dari pertanian (non pertanian); 2. Kelengkapan fasilitas dan sarana penunjang masyarakat perkotaan tersedia sesuai dengan tingginya tingkat kebutuhan; 3. Ketersediaan sistem transportasi atau kemudahan dalam pencapaian (aksesibilitas dan mobilitas) ke tempat tujuan. Dari identifikasi pusat-pusat permukiman diketahui bahwa wilayah yang dikategorikan sebagai permukiman perkotaan adalah wilayah pusat Kecamatan Lubuk Sikaping, Kota Rao (Kecamatan Rao), Kota Panti (Kecamatan Panti) dan Kumpulan (Kecamatan Bonjol). Tetapi seiring dengan perkembangan dan pembangunan wilayah yang terus beranjut, maka status wilayah yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung dari pembangunan fisik wilayah secara berkesinambungan akan ikut berubah seperti Kecamatan III Nagari, Kecamatan Simpang Alahan Mati, Kecamatan Padang Gelugur dan Kecamatan Rao Selatan. Pengembangan struktur ruang suatu wilayah selain berdasarkan kepada adanya potensi kecenderungan (trend oriented), juga harus mengarah pada terbentuknya struktur ruang SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 16.
(27) yang optimal (target oriented). Potensi dan keinginan di atas secara sinergi diwujudkan melalui kegiatan dalam ruang dan dihubungkan dengan struktur jaringan yang memadai. Dasar pertimbangan perencanaan yang digunakan adalah bertitik tolak dari peranan Kabupaten Pasaman secara regional yaitu sebagai pusat kegiatan lokal (PKL) yang harus dapat melayani wilayahnya sendiri maupun wilayah yang lebih tinggi, disamping itu melihat bentuk geografis wilayah Kabupaten Pasaman yang linier sehingga diharapkan dapat menumbuhkan kegiatan untuk mendorong perkembangan kota dan melayani wilayah sekitarnya. Dari dasar pertimbangan diatas, maka orientasi pengembangannya dibedakan menjadi orientasi spasial yang didasarkan pada kedudukan Kabupaten Pasaman terhadap wilayah yang lebih luas, sedangkan orientasi sektoral didasarkan pada perkembangan sektor-sektor kegiatan ekonomi perkotaan dan wilayah seperti perdagangan dan jasa, permukiman, jasa keuangan dan lain-lain. Pertumbuhan penduduk Kabupaten Pasaman (2003–2008) relatif rendah dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk Provinsi Sumatera Barat. Tercatat antara tahun 2003 – 2008 pertumbuhan penduduk Kabupaten Pasaman adalah 1,84% pertahun. Rencana untuk pendistribusian jumlah penduduk di wilayah Kabupaten Pasaman sampai dengan tahun 2030 diarahkan tidak lebih dari jumlah 417.039 jiwa. Sedangkan untuk rencana pendistribusian kepadatan penduduk wilayah Kabupaten Pasaman sampai dengan tahun 2030 diarahkan tidak melebihi dari 106 jiwa/km2, sesuai dengan standar kepadatan penduduk ideal (Ditjen Cipta Karya). Walaupun distribusi kepadatan penduduk di wilayah Kabupaten Pasaman masih cukup rendah, tetapi dalam perencanaan dan pengaturannya harus tegas, agar tidak melebihi kapasitas daya dukung lahan yang masih tersedia. Untuk lebih jelasnya distribusi jumlah dan kepadatan penduduk di Kabupaten Pasaman.. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 17.
(28) Gambar 2.4 Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Pasaman. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 18.
(29) Kebijakan Dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Pasaman Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud, maka kebijakan yang akan dilaksanakan meliputi : 1. optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan; 2. menciptakan keseimbangan antar wilayah dan menyerasikan perkembangan antar wilayah dan antar sektor melalui penataan ruang yang serasi, selaras dan seimbang serta berkelanjutan; 3. mendorong terbentuknya aksesibilitas jaringan transportasi dalam rangka menunjang perkembangan wilayah; 4. pengembangan kawasan strategis; 5. mendukung kebijakan penataan ruang Propinsi Sumatera Barat dalam penetapan dan peningkatan Kota Lubuk Sikaping menjadi Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang melayani kegiatan skala Kabupaten/ Kota atau beberapa kecamatan. Strategi penataan ruang wilayah Kabupaten Pasaman yang ditempuh dalam rangka mendukung kebijakan penataan ruang tersebut, mencakup : 1. menciptakan keseimbangan antar wilayah dan menyerasikan perkembangan antar wilayah dan antar sektor melalui penataan ruang yang serasi, selaras dan seimbang serta berkelanjutan, melalui : a. mempertahankan fungsi kawasan lindung; b. melarang melakukan kegiatan budidaya pada kawasan lindung; c. menjaga keseimbangan dan kelestarian kehidupan hayati dan konservasi air, tanah dan udara; d. mempertahankan luas kawasan berfungsi lindung untuk mencapai sekurangkurangnya 30% dari luas DAS. 2. optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan, melalui : a. mengarahkan lokasi kegiatan budidaya melalui mekanisme perijinan dan penerapan pola insentif dan disentif; b. pengembangan kegiatan budidaya sesuai dengan kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan; SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 19.
(30) c. melarang kegiatan budidaya pada kawasan lindung; d. pengembangan kawasan pertanian lahan basah beririgasi teknis dengan memperluas daerah irigasi; e. pengembangan. kawasan. agropolitan. untuk. meningkatkan. perekonomian. masyarakat dan mengurangi kesenjangan wilayah; f. melakukan sosialisasi pengembangan kawasan permukiman yang berada pada daerah rawan bencana alam; g. mengembangkan dan mempertahankan kawasan budidaya pertanian tanaman pangan minimal untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk Kabupaten Pasaman dengan mempertahankan sawah irigasi teknis; h. pengembangan kawasan budidaya perkotaan yang didasarkan pada kemampuan lahan dan kesesuaian lahan bagi pembangunan fisik perkotaan; i.. pengembangan kawasan permukiman diarahkan ke pusat-pusat permukiman yang telah ada, baik permukiman perkotaan maupun permukiman perdesaan;. j.. pengembangan kawasan budidaya pertanian tanaman pangan lahan basah diarahkan pada wilayah yang memiliki kesesuaian lahan optimal serta dukungan pengembangan prasarana pengairan;. k. pengembangan kawasan budidaya pertanian tanaman pangan lahan kering diarahkan pada wilayah yang memiliki kesesuaian lahan optimal untuk tanaman palawija, hortikultura atau tanaman pangan lainnya; l.. pengembangan kawasan budidaya perkebunan diarahkan untuk pengembangan tanaman perkebunan atau tanaman tahunan, dan diarahkan untuk perluasan kesempatan kerja, peningkatan pemanfaatan pertanian, dan pemeliharaan lingkungan hidup baik berupa perkebunan rakyat maupun perkebunan besar;. m. pengembangan kawasan budidaya peternakan diarahkan pada pusat-pusat permukiman yang telah ada; n. pengembangan kawasan budidaya perikanan diarahkan untuk meningkatkan produksi perikanan melalui upaya ekstensifikasi dan diversifikasi produk perikanan darat; SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 20.
(31) o. pengembangan kawasan pertambangan diarahkan untuk pemanfaatan potensi bahan galian yang ramah lingkungan; p. pengembangan kawasan industri diarahkan pada kawasan yang mempunyai prospek pengembangan secara fisik maupun ekonomi,efisiensi dalam penyediaan prasarana, dan terpadu dengan pengembangan sektor lain; q. pengembangan kawasan pariwisata diutamakan pada wisata alam dan wisata budaya. 3. mendorong terbentuknya aksesibiltas jaringan transportasi dalam rangka menunjang perkembangan wilayah, meliputi : a. mewujudkan dan meningkatkan hubungan lintas tengah Sumatera melalui pengembangan jaringan jalan arteri primer dan kolektor primer; b. mendorong peningkatan akses kecamatan-kecamatan di Kabupaten Pasaman yang belum berkembang melalui pembangunan/ pengembangan jaringan jalan kolektor sekunder. 4. pengembangan kawasan strategis, meliputi : a. penyediaan prasarana dan sarana penunjang kawasan strategis; b. menyusun program pembangunan kawasan strategis; c. Menyusun rencana detail tata ruang kawasan startegis; d. Meningkatkan aksesibilitas kawasan strategis dengan kawasan cepat tumbuh, dan kawasan yang didorong pertumbuhannya. 5. mendukung kebijakan penataan ruang Propinsi Sumatera Barat dalam penetapan dan peningkatan Kota Lubuk Sikaping menjadi Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang melayani kegiatan skala kabupaten/ kota atau beberapa kecamatan, melalui : a. pengembangan fungsi Kota Lubuk Sikaping sesuai dengan potensi wilayah; b. pengembangan sarana dan prasarana sesuai dengan fungsi pusat kegiatan; c. peningkatan prasarana transportasi dalam rangka untuk menunjang pengembangan ekonomi daerah. e. Keuangan dan Perekonomian Daerah. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 21.
(32) Sumber data realisasi pendapatan dan belanja daerah Kabupaten Pasaman diperoleh melalui Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Kabupaten Pasaman. Realisasi pendapatan pembangunan yang disajikan pada tabel 2.7 memperlihatkan peningkatan dari tahun 2012 sebanyak 629,7 juta rupiah naik menjadi 687,12 milyar pada tahun 2013. Dana terbesar diperoleh dari bagian Pendapatan yang berasal dari pemberian pemerintah atau instansi yang lebih tinggi yaitu sebesar 544,32 milyar rupiah, sedangkan pendapatan asli daerah 46,02 milyar rupiah. Dari PAD yang memberikan kontribusi terbesar bagi pemerintah daerah adalah penerimaan lain-lain diikuti restribusi daerah sedangkan penerimaan dari dinas-dinas belum memberikan kontribusi. Belanja rutin mengalami kenaikan dibanding tahun 2012, yaitu dari 599,27 milyar rupiah naik menjadi 698,29 milyar rupiah pada tahun 2013. Pengeluaran terbesar dimanfaatkan untuk belanja pegawai yaitu 387,12 milyar rupiah diikuti belanja modal sebesar 148,87 milyar rupiah (Tabel 2.8) Sedangkan untuk Realisasi Pengeluaran Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman yang paling besar adalah Bidang Pendidikan dan Kebudayaan yaitu sebesar 287,20 milyar rupiah dan untuk pengeluaran bidang terkecil berada di Bidang Sosial dan Tenaga Kerja sebesar 312,60 juta rupiah (Tabel 2.9) Realisasi penerimaan pajak bumi dan bangunan (PBB) untuk tahun 2013 belum mencapai target yang ditentukan yaitu hanya mencapai 75,546 persen dengan nilai 1.008.289,826 rupiah (tabel 2.9) Tabel 2.7 Realisasi Penerimaan Pemerintah Kabupaten Pasaman Tahun 2013 1. Si sa lebih Tahun lalu 2. Pendapatan Asli Daerah a.Pajak daerah b.Retribusi Daerah c.Laba Badan Usaha Milik Daerah d.Penerimaan dari Dinas - dinas e.Penerimaan Lain-lain 3. Pendapatan yang Berasal dari Pemberian Pemerintah atau Ins tansi yang Lebih Tinggi a.Bagi Hasil Pajak /Bagi Hasil Bukan Pajak b. Dana Alokasi Umum (DAU) c. Dana Alokasi Khusus (DAK) SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 22. 00 72.878.860.051,17 6.156.712.535,00 31.301.869.634,00 5.489.731.243,00 00 29.930.546.639,17 17.399.271.096,00 542.067.878.000,00 50.669.030.000,00.
(33) d. DBH Cukai Hasil Tembakau 4. Lain-lain Penerimaan yang Sah a.Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus b.Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya c. Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah lainnya d.Pendapatan Hibah 5. Pembiayaan Transfer Dana Cadangan Jumlah/ Total. 184.896.513,00 96.774.426.850,00 99.104.894.000,00 27.640.879.700,00 1.023.125.000,00 2.433.094.000,00 00 Tahun 2014 Tahun 2013 Tahun 2012 Tahun 2011 Tahun 2010. 813.401.928.360,17 687.124.559.030,24 629.709.796,940 623.643.864,297 446.792.619.826,28. Sumber : Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Kabupaten Pasaman Tahun 2015. Tabel 2.8 Realisasi Pengeluaran Pemerintah Kabupaten Pasaman Tahun 2013 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.. Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Pemel iharaan Belanja Perjalanan Dinas Belanja Modal Angsuran Pinjaman/Hutang dan Bunga Subsidi /Sumbangan Bantuan dan Onderstand Pengeluaran yang Tidak Termasuk Bagian Lain Pengeluaran Tidak Terduga Pembiayaan Jumlah/ Total. 402.308.900.790 166.599.357.343 00 00 157.967.854.426 00 00 700.000.000 296.177.000 14.179.000.000 Tahun 2013 Tahun 2012 Tahun 2011 Tahun 2010 Tahun 2009. 698.291.539.257 599.274.086,111 566.568.767,438 439.038.321,636 446.738.006,321. Sumber : Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Kabupaten Pasaman Tahun 2014 SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 23.
(34) Tabel 2.9 Target dan Realisasi Pengeluaran Pemerintah Kab.Pasaman Menurut Sektor Tahun 2013 Sektor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20.. Target. Realisasi. Industri dan Perdagangan 855.250.000 Pertanian 12.279.019.205 Sosial dan Tenaga Kerja 322.159.000 Perhubungan 7.059.784.888 Pertambangan dan Energi 5.933.092.366 Pemukiman dan Pekerjaan 138.985.374.216 Umum Pendidikan dan Kebudayaan 300.585.379.223 Kependudukan 4.311.463.595 Kesehatan 95.284.673.763 Kehutanan 6.428.967.060 Lingkungan Hidup 8.611.119.990 Perikanan dan Kelautan 4.296.508.604 Perencanaan Pembangunan 6.100.811.723 Pemberdayaan Perempuan dan 6.057.678.842 Perlindu Anak, Masyarakat Desa Pemuda dan Olahraga 5.114.373.495 Wajib Kesatuan Bangsa dan 12.159.929.016 Politik Urusan Pemerintahan Umum 129.763.056.024 Urusan Wajib Kepegawaian Kearsipan 1.416.942.335 Komunikasi dan Informatika 3.000.640.400. 772.811.200 9.758.062.236 312.609.700 6.563.819.739 4.926.284.171 113.473.981.629. Persentase (%) 90,36085 79,46939 97,03584 92,97478 83,03063 81,64455. 287.197.879.556 3.794.500.764 82.111.912.137 5.994.458.274 6.251.699.920 3.863.601.626 5.282.316.289 5.605.151.194. 95,54619 88,00957 86,17536 93,24139 72,600 89,924 86,584 92,530. 4.557.499.757 9.400.874.405. 89,112 77,310. 111.299.005.116 1.287.619.239 2.870.540.634. 85,771 90,873 95,664. Sumber : Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Kabupaten Pasaman Tahun 2013 f. Sosial dan Budaya 1. Pendidikan Tabel 2.10 Banyaknya Sekolah Negeri dan Swasta yang Berada di Lingkungan Disdik Kab. Pasaman Kecamatan 1. 2. 3. 4.. Tigo Nagari Bonjol Simpang Alahan Mati Lubuk Sikaping. TK. SD. 4 6 2 9. 20 25 10 35. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 24. SLTP/ Sederajat 3 3 2 5. SLTA/ Sederajat 1 5 1 4. Perguruan Tinggi 2.
(35) 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Total. Dua Koto Panti Padang Gelugur Rao Rao Utara Rao Selatan Mapat Tunggul Mpt Tgl Selatan. 11 3 5 5 2 4 1 1 53. 29 28 17 19 14 19 14 13 243. 5 3 2 3 2 2 5 4 39. 4 4 4 2 1 4 1 1 32. 2. Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Tahun 2013 Tabel 2.11 Banyaknya Tahapan Prasejahtera & Sejahtera per Kecamatan Kecamatan 1. 2. 3.. Tigo Nagari Bonjol Simpang Alahan Mati 4. Lubuk Sikaping 5. Dua Koto 6. Panti 7. Padang Gelugur 8. Rao 9. Rao Utara 10. Rao Selatan 11. Mapat Tunggul 12. Mpt Tgl Selatan Total. Pra Sejahtera Ekonomi/ Non Ekonomi 1.226 605 309. KS-I Ekonomi/ Non Ekonomi 1.587 1.685 816. 1.732 1.531 408. 313 345 447 412 555 185 1.129 466 613 6.605. 1.541 4.558 1.778 2.280 1.222 742 1.704 1.050 1.075 20.038. 2.865 1.966 2.803 3.887 2.674 475 1.436 939 749 21.465. KS-II. Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Kabupaten Pasaman Tahun 2013 Tabel 2.12 Banyaknya Sekolah yang Berada di Lingkungan Departemen Agama Kecamatan 1. 2. 3. 4. 5. 6.. Tigo Nagari Bonjol Simpang Alahan Mati Lubuk Sikaping Dua Koto Panti. Ibtidaiyah Tsanawiyah Aliyah (Negeri/Swasta) (Negeri/Swasta) (Negeri/Swasta) 1 1 2 2 1 1 1 3 3 1 2 1. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 25.
(36) 7. 8. 9. 10. 11. 12. Total. Padang Gelugur Rao Rao Utara Rao Selatan Mapat Tunggul Mpt Tgl Selatan. 5 1 1 10. 2 2 1 1 15. 2 1 2 12. Sumber : Kementerian Agama Kabupaten Pasaman Tahun 2013 Taman Kanak-kanak (TK) Dari jumlah 53 TK tersebut terdapat 98 lokal, dengan jumlah guru sebanyak 168 orang yang semuanya berjenis kelamin perempuan. Jumlah murid 2.026 orang dan rasio murid terhadap guru 12 (artinya 1 orang guru menangani sekitar 12 orang murid). Sekolah Dasar (SD) dan sederajat. SD berjumlah 243 unit dengan lokal 1.747, sementara guru berjumlah 2.680 orang dan murid 40.246 orang. Dengan rasio murid dibanding guru sebesar 15. Sedang Madrasah Ibtidaiyah ada 10 buah terdiri dari 2 MIN dan 8 MIS dengan lokal 64 buah, guru 110 orang dan murid 1.143 orang. Dengan rasio murid dibanding guru sebesar 10. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan sederajat Untuk SLTP yang dikelola oleh Dinas Pendidikan terdiri dari 36 buah, kelas 357, guru 894 orang dan murid sebanyak 9.571 orang dengan rasio murid dibanding guru sebesar 11. Sedangkan yang dibawah Kementerian Agama, yaitu Madrasah Tsanawiyah, terdiri dari madrasah negeri ada 5 buah dan madrasah swasta ada 10 buah. Dengan jumlah lokal 134 buah, guru 433 orang dan murid 4.901 orang. Perbandingan antara murid terhadap guru untuk seluruh Madrasah Tsanawiyah adalah 1 orang guru menangani 11 orang murid. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dan sederajat. SLTA negeri ada 17 unit dan swasta ada 15 unit dengan lokal 340 buah. Banyaknya murid SLTA ada 10.817 orang dengan ditangani oleh 522 orang guru. Dengan rasio murid dibanding guru sebesar 21. Sedangkan Madrasah Aliyah ada sebanyak 12 buah terdiri dari 2 Negeri dan 10 swasta, dengan jumlah lokal 61, murid 1.484 dan guru 266 orang, dengan rasio murid dibanding guru sebesar 6. 2. Kesehatan SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 26.
(37) Pembangunan dibidang kesehatan, pemerintah telah menyediakan sarana kesehatan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Kabupaten Pasaman. Terdapat 1 buah Rumah Sakit Umum (RSU) , 16 buah Puskesmas dan Puskesmas pembantu ada 51 buah yang tersebar di 12 kecamatan. Setiap kecamatan telah ditempati bidan desa yang semuanya berjumlah 220 orang. Bila dilihat dari jenis penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat, maka penyakit yang dominan diderita masyarakat adalah ISPA, yaitu sebesar 32,99 % dan yang terendah adalah penyakit asma karena alergi 2,18 %. Sistem Prasarana Lingkungan 1. Sistem Penyediaan Air Minum Pelayanan air minum yang telah dilakukan oleh PDAM Kabupaten Pasaman saat ini meliputi 7 (tujuh) kota ibukota kecamatan, yaitu PDAM Lubuk Sikaping, PDAM Kumpulan Toboh, PDAM Bonjol, PDAM Petok, PDAM Panti, PDAM Cubadak, PDAM Rao dan PDAM Sontang Tapus. Pelayanan air minum yang sudah dapat diberikan sampai dengan tahun 2008 sebanyak 12.083 pelanggan dengan total pemakaian air di tahun 2008 sebanyak 1.214.909 m³. Seiring dengan perkembangan penduduk dengan berbagai aktivitasnya, kebutuhan akan air minum ini juga akan mengalami peningkatan. Berdasarkan perkiraan, kebutuhan air minum per hari, pada tahun 2030 mempunyai tingkat kebutuhan sebesar ± 69.671.578 liter/hari. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, debit air minum yang harus disediakan sebesar 806 liter/detik. 2. Sistem Pengelolaan Air Limbah Tujuan utama penyaluran limbah adalah untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui aspek kesehatan lingkungan. Rencana penyaluran air limbah untuk tiap kecamatan akan berbeda sesuai dengan tingkat perkembangan kekotaan masing-masing kecamatan. Sistem pengelolaan limbah di Kabupaten Pasaman meliputi : . Pengelolaan air limbah rumah sakit di Kecamatan Lubuk Sikaping dan Kecamatan Panti.. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 27.
(38) . Pengelolaan air limbah perumahan di Kecamatan Lubuk Sikaping, Kecamatan Padang Gelugur dan Kecamatan Rao.. Pokok-pokok rencana penyaluran air limbah antara lain adalah sebagai berikut: 1. Pengelolaan IPAL RS Lubuk Sikaping dan RS Panti. 2. Pembangunan MCK umum untuk wilayah untuk wilayah perdesaan yang langka akan ketersediaan air bersih. 3. Peningkatan penyuluhan masyarakat untuk membangun MCK pribadi sehingga pembuangan kebadan-badan air, saluran irigasi dan drainase dapat di kurangi. 4. Peningkatan sistem saluran pembuangan air kotor wilayah dan pipa – pipa penyalur serta pembangunan sistem baru pada wilayah-wilayah yang baru yang berkembang. 5. Pengelolaan air limbah perumahan di Kecamatan Lubuk Sikaping, Kecamatan Padang Gelugur dan Kecamatan Rao. 3. Sistem Pengelolaan Persampahan Semakin berkembang suatu kawasan, maka akan semakin besar volume sampah yang dihasilkan. Apabila volume sampah tersebut tidak ditangani, maka akan menjadi persoalan serius, terutama berdampak terhadap kualitas lingkungan. Permasalahan sampah di Wilayah Kabupaten Pasaman ini sudah mulai terasa, terutama pada kawasan perkotaan seperti Lubuk Sikaping, Panti dan kota-kota kecil lainnya. Volume sampah yang dihasilkan dari kawasan perkotaan tersebut sudah mulai relatif besar, sedangkan kemampuan pelayanannya masih relatif kecil. Akibatnya banyak sampah-sampah, terutama sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga yang dibuang kesaluran-saluran drainase yang berdampak terhadap penyumbatan saluran, sehingga bisa menimbulkan genangan. Pengelolaan persampahan yang telah dilakukan di Wilayah Kabupaten Pasaman baru terbatas pada Kota Lubuk Sikaping, yang hanya mampu melayani 42 m³/hari. Sedangkan volume sampah yang ada saat ini mencapai 58 m³/hari. Volume sampah yang dihasilkan di wilayah Kabupaten Pasaman ini akan semakin besar sampai dengan akhir tahun perencanaan, diperkirakan mencapai 1.251.117 liter/hari atau 1.251,117 m3/hari. Untuk itu diperlukan pengelolaan yang cukup serius. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 28.
(39) Dalam hal pelayanan sampah yang telah mampu dilayani, saat ini baru tersedia sarana persampahan berupa: TPS & Kontainer 19 unit dengan Kapasitas 42 m³, 4 unit Truk, satu unit Doser, 16 Gerobak Dompeng, 9 unit Gerobak Dorong, dengan tenaga Kerja yang terserap baru berjumlah 58 orang. Bentuk pelayanan yang dilakukan hanya pada hari pasar/pekan. Dalam hal penyediaan lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA), saat ini sudah disediakan 2 (dua) lokasi yaitu: 1. TPA yang berlokasi di Ampang Gadang Kecamatan Panti seluas 5 Ha. Bentuk pengelolaan sampah pada lokasi ini dalam bentu sanitary land fill. Lokasi ini diperuntukan bagi sampah wilayah Pasaman bagian Utara, meliputi Kecamatan Tapus, Kecamatan Panti, Kecamatan Rao dan kecamatan sekitarnya. 2. TPA Koto Tengah Nagari Tanjung Beringin Kecamatan Lubuk Sikaping, dikhususkan bagi sampah yang dihasilkan pada bagian selatan meliputi Kecamatan Lubuk Sikaping, Kecamatan Bonjol dan kecamatan sekitarnya. Luas yang direncanakan pada TPA ini seluas 4 Ha, yang saat ini baru dibangun 1,25 Ha. Lokasi ini belum dapat dimanfaatkan karena belum diserahkan oleh Dinas Pekerjaan Umum sebagai instansi yang membangun kepada Dinas Lingkungan Hidup yang mengelola sampah. Permasalahan persampahan saat ini, masih terdapat tumpang tindih kewenangan dalam pengelolaannya, seperti pengelolaan sampah oleh Dinas Perindustrian dan Koperasi, sedangkan pengangkutannya oleh Dinas Pekerjaan Umum. Untuk itu diperlukan ketegasan dan kejelasan kewenangan pengelolaannya. Dalam rangka pelayanan penanganan sampah, volume sampah yang dihasilkan di wilayah Kabupaten Pasaman dapat diperkirakan. Berdasarkan jumlah penduduk sampai akhir tahun perencanaan dan standar produksi sampah setiap jiwa 2,5 liter/hari. Volume sampah yang dihasilkan pada tahun 2030 dapat Guna mengatasi peningkatan produksi sampah tersebut, diperlukan organisasi pengelolaan yang baik. Peran pemerintah dalam penanganan sampah ini sangat besar, selain diperlukan organisasi pengelola, juga fasilitas-fasilitas yang dapat digunakan dalam penanganan sampah harus tersedia. Selain dari itu, kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan perlu ditingkatkan. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 29.
(40) Pengelolaan persampahan diarahkan pada pencapaian tujuan agar setiap kota kecamatan pada akhir tahun 2030 telah mampu mengelola sampah perkotaannya di bawah suatu organisasi pengelolaan yang teratur. Prioritas penanganan sampah perkotaan adalah kawasan perdagangan (komersil) dan perumahan padat. Adapun pokok-pokok perencanaan adalah sebagai berikut : 1. Pengembangan sistem persampahan yang ada saat ini belum efektif. Pelayanan yang relatif baik baru dilakukan di Kota Lubuk Sikaping, sedangkan pada tempat-tempat lain, hanya dilakukan pada hari pekan. 2. Untuk setiap wilayah perkotaan perlu dikembangkan suatu program pengembang-an pelayanan mulai dari pengumpulan, transfer, pengangkutan sampah dan alokasi tempat pembuangan akhir serta sistem pengolahannya. 3. Pelaksanaan secara aktif berupa peningkatan manajemen teknis dan administratif dari organisasi pelayanan persampahan di Kabupaten Pasaman. 4. Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya management persampahan yang layak, yaitu sosialisasi menjaga kebersihan bersama, penyuluhan secara teratur dan penyediaan tempat-tempat pembuangan sampah. 5. Pembangunan TPS dan TPA Selanjutnya dalam pengembangan wilayah Kabupaten Pasaman perlu dilakukan pengembangan terhadap kawasan perkotaan dan perdesaan. Rencana pengembangan sistem perkotaan dan perdesaan dilihat dan didefinisikan dari tingkat pertumbuhan dan perkembangan wilayah-wilayah kecamatan. Dalam rangka pelayanan penanganan sampah, volume sampah yang dihasilkan di wilayah Kabupaten Pasaman dapat diperkirakan. Berdasarkan jumlah penduduk sampai akhir tahun perencanaan dan standar produksi sampah setiap jiwa 2,5 liter/hari. Berikut tabel 2.13 menjelaskan tentang perkiraan volume sampah yang dihasilkan hingga pada tahun 2030.. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 30.
(41) Tabel 2.13 Perkiraan Volume Sampah dan Kebutuhan Fasilitas Di Kabupaten Pasaman Tahun 2010 – 2030 No. Jenis Kebutuhan. Standar. Jumlah (liter/hari) 2010. 2015. 2020. 2025. 2030. 1. Domestik. 2,5 liter/orang/hari. 688.955. 66.765. 854.615. 953.893. 1.042.598. 2. Non Domestik. 20% dari sampah domestic. 137.791. 153.353. 170.923. 190.779. 208.520. 826.746. 920.118. 1.025.538. 1.144.671. 1.251.117. Jumlah (liter/hari) Fasilitas Persampahan 1. Tong Sampah. 1 unit/ KK. 2. Gerobak Sampah. 3 4. Jumlah (Unit) 55.116. 61.341. 68.369. 76.311. 83.408. 1 unit/ 200 KK. 276. 307. 342. 382. 417. Container. 1 unit/ 500 KK. 110. 123. 137. 153. 167. Truk Sampah. 1 unit/ 1000 KK. 55. 61. 68. 76. 1.251. Sumber : RTRW Kabupaten Pasaman 2010 - 2030. Pengelolaan persampahan diarahkan pada pencapaian tujuan agar setiap kota kecamatan pada akhir tahun 2030 telah mampu mengelola sampah perkotaannya di bawah suatu organisasi pengelolaan yang teratur. Prioritas penanganan sampah perkotaan adalah kawasan perdagangan (komersil) dan perumahan padat. Adapun pokok-pokok perencanaan adalah sebagai berikut : 1. Pengembangan sistem persampahan yang ada saat ini belum efektif. Pelayanan yang relatif baik hanya di Kota Lubuk Sikaping, dan sedangkan pada tempat-tempat lain pengelolaannya pada hari pekan. 2. Untuk setiap wilayah perkotaan perlu dikembangkan suatu program pengembang-an pelayanan mulai dari pengumpulan, transfer, pengangkutan sampah dan alokasi tempat pembuangan akhir serta sistem pengolahannya. 3. Pelaksanaan secara aktif berupa peningkatan manajemen teknis dan administratif dari organisasi pelayanan persampahan di Kabupaten Pasaman.. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 31.
(42) 4. Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya manajemen persampahan yang layak, yaitu sosialisasi menjaga kebersihan bersama, penyuluhan secara teratur dan penyediaan tempat-tempat pembuangan sampah. 5. Pembangunan TPS dan TPA 2.2 Kemajuan Pelaksanaan SSK Kemajuan pelaksanaan SSK Kabupaten Pasaman diukur dengan cara mereview Buku Putih Sanitasi dan Strategi Sanitasi Kabupaten yang telah disusun pada tahun 2011. Status implementasi SSK untuk 3 (tiga) sub-sektor utamanya. yakni air limbah domestik,. persampahan dan drainase perkotaan dapat diketahui kemajuannya sebagaimana tertera pada tabel dibawah ini . a. AIR LIMBAH. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 32.
(43) Tabel 2.13 Kemajuan pelaksanaan SSK untuk sub-sektor air limbah domestik Tujuan (1) Meningkatkan lingkungan yang sehat dan bersih di Kabupaten Pasaman melalui pengelolaan air limbah domestik dan industri rumah tangga yang berwawasan lingkungan.. SSK (periode sebelumnya) Thn 2011– Thn 2015 Sasaran (2) Penanganan sektor air limbah telah mencapai 1. peningkatan layanan pengelolaan limbah 63.80% untuk sistem on site, serta 70% masyarakat bebas 2. BABS.. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 33. Data dasar (3) Belum dimilikinya sistem penanganan sanitasi yang baik Belum adanya manajemen sanitasi yang maksimal dari masing-masing permukiman. 3.. Kesadaran masyarakat yang belum optimal. 4.. Kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki pemerintah dan masyarakat. 5.. Belum optimalnya pengaturan hukum yang mengatur sanitasi. 6.. Belum adanaya IPAL. 1.. SSK Tahun 2015 Status saat ini (4) Belum adanya masterplan air limbah. 2.. Belum terbangunnya IPLT. 3.. Belum tersedianya layanan air limbah setempat (on site) dan sistem air limbah terpusat skala kawasan (off site). 4.. 72,64 % penduduk atau sekitar 207,291 Jiwa tidak memiliki akses kefasilitas pengelolaan air limbah domestik setempat (ON-SITE SISTEM ). 5.. Belum tersedianya layanan air limbah setempat (on site) dan sistem air limbah terpusat skala kawasan (off site). 6.. Belum adanya saluran khusus pembuangan air limbah. 7.. Perlunya Pembangunan IPAL kawasan dan peningkatan IPAL di pusat layanan kesehatan seperti RS dan Puskesmas. 8.. 27.4 % atau sekitar 19.519 KK, kategori tanki septik aman dan masih ada 9% dari 27.4% tanki septik kategori tidak aman dikarenakan sudah 5 tahun tidak dikuras. 9.. Belum ada Perda air limbah.
(44) b. PERSAMPAHAN Tabel 2.14 Kemajuan pelaksanaan SSK untuk sub-sektor persampahan Tujuan (1) Menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih di Kabupaten Pasaman melalui peningkatan kualitas dan kuantitas pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan. 1.. 2. 3. 4. 5. 6.. SSK (periode sebelumnya) Thn 2011– Thn 2015 Sasaran (2) Tercapainya kondisi Kabupaten dan lingkungan 1. yang bersih dengan Pencapaian pengurangan kuantitas sampah sebesar 20%. Pencapaian sasaran cakupan pelayanan 60% penduduk. 2. Peningkatan kualitas pelayanan yang sesuai atau mampu melampaui standar pelayanan minimal persampahan. Dan Peningkatan kualitas pengelolaan TPA menjadi Sanitary Landfill. Tersedianya perencanaan pengelolaan sektor sanitasi skala kabupaten yang terintrgrasi dan berkelanjutan Pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai dari sumbernya 3. Peningkatan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta sebagai mitra pengelolaan. Peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas 4. system pengelolaan. Pengembangan kelembagaan, peraturan dan perundangan.. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 34. Data dasar (3) Belum tersedianya dokumen perencanaan pengelolaan persampahan Tingkat kapasitas layanan persampahan yang terangkut ke TPA di kecamatan Lubuk Sikaping hanya 42 M3/hari, tidak sebanding dengan volume sampah yang mencapai 58 M3 sampah per-hari, dan efektivitas cakupan tingkat pelayanan persampahan baru sekitar 60% Pelayanan TPA Lubuk Sikaping bersifat open dumping dengan luas lahan sekitar 4 Ha Masih bercampurnya sampah orgranik dan anorganik. 1. 2. 3. 4. 5.. 6. 7.. SSK Tahun 2015 Status saat ini (4) Belum ada masterplan persampahan Pengelolaan TPA masih terbatas pada pembuangan dan penutupan dengan tanah penutup Luas area TPA lama tidak memadai Pengelolaan sampah sistem 3R (reduce, reuse dan recycle) belum maksimal Cakupan pelayanan pengangkutan persampahan hanya bisa melayani 4 Kecamatan dari 12 Kecamatan yang ada atau sekitar 60,45% (EHRA) Belum adanya keterlibatan masyarakat dan pihak swasta Belum ada Perda persampahan.
(45) c. DRAINASE Tabel 2.15 Kemajuan pelaksanaan SSK untuk sub-sektor drainase Tujuan (1) Meningkatkan Iingkungan yang sehat dan bersih di Kabupaten Pasaman melalui penyediaan sarana dan prasarana drainase. SSK (periode sebelumnya) Thn 2011– Thn 2015 Sasaran (2) Penanganan Sanitasi untuk subsektor drainase 1. lingkungan adalah dengan meningkatkan cakupan layanan melalui peningkatan sarana dan prasarana. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 35. 2.. Data dasar (3) Tersedianya 1.909.32 km drainase perkotaan sedangkan kondisi baik 647.36 km atau 34% Cakupan wilayah bebas genangan banjir/rob sudah mencapai 86.6 %. 1.. SSK Tahun 2015 Status saat ini (4) Drainase perkotaan dalam kondisi baik sekitar 647.36 km atau 34 % sedangkan 66 % nya dalam kondisi kurang baik. 2.. Meningkatnya prosentase wilayah bebas genangan banjir dari 86.6 % menjadi 100 % di akhir Tahun 2020. 3.. Tidak ada data genangan.
(46) 2.3 Profil Sanitasi Saat Ini a. Air Limbah Domestik 27,4 % masyarakat Kabupaten Pasaman dalam pengolahannya menggunakan Tanki septik namun tidak semua yang menggunakan tanki septic aman karena masih ada 15 % masyarakat yang menggunakan tanki septic tidak aman dikarenakan tanki septic yang sudah dibangun 5 (lima) tahun atau lebih tetapi tidak pernah dikuras dan atau pengolahannya dengan cara diresapkan kedalam tanah, dan hal ini dikategorikan cubluk karena pada bagian bawahnya terbuka. Sisanya dilakukan penyedotan tinja oleh pihak swasta dan kemudian akhir pembuangan limbah tidak diketahui karena saat ini kabupaten Pasaman tidak memiliki IPLT. Gambar 2.5 Contoh Peta Akses Sistem Air Limbah Domestik Layak Contoh hasil pemetaan air limbah domestik Sistem A: Buang Air Besar Sembarangan (BABS) Sistem B: Sistem setempat ( onsite ) Sistem C: Sistem terpusat ( offsite ) : Sistem komunal Sistem D(BABS) A B onsite ( C ( 1.000 KK (10 % dari D komunal populasi) IPLT. % i 1.000 KK (10 % dari ) populasi %. i. i T 2.000 KK (20 % dari populasi). i. %. IPAL terpusat t. L 500 KK (5 % dari populasi). IPLT : Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja IPAL : Instalasi Pengolahan Air Limbah T L. Tinja Limbah. (1) Sistem dan Infrastruktur. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 36. %. i. i. i. i.
(47) D i a g r a m S is t e m S a n i t a s i : A I R L I M B A H D O M E S T I K. P ro d u k In p u t. (A ) U s e r In t e r f a c e. (B ). (C ). (D ). (E ). P e n g u m p u la n & P en am p un g an / P e n g o la h a n A w a l. P e n ga n g k u ta n / P e n g a lir a n. (S e m i ) P e n g o l a h a n A k h ir T e rp u s a t. D a u r U la n g d a n /a t a u P e m b u a n g a n A k h ir. pipa. Wc He likopte r Tanki sena ptik Ba k pe m Ba k pung pe nam pu ng/ ptick tan ta nkk Se pti k k tank S eBa pti. Pena m pung. Tru Trukk Tinja. Saluran. S aluair/pipa ran air/pipa. W WCCSen to r/Ce m p lu ng / pslen sen gan engto r /C em pl un g / p le n g sen g an DDisisem em aka ksem u n/T ana s emak/Keb ak /K eb un /T han ah TTerbu e rb ka u ka. S elok an rum ah Selo kan Tem pat cuci dan Tem p at cu ci d an kam ar m an di k am ar m an di. Sum ber : Po kja S anitas i Kabup aten P as am an 2015 SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 37. Drainase Drainase lingkungan lingkungan. Selokan Selokan terbu ka ka terbu. kbu n/ ko lam Tid ak d iketah ui. K eb un /Ladan g Sun ga i K ebu n /ko lam Tidak d iketah ui S u n g a i.
(48) Tabel 2.16 Cakupan Layanan Air Limbah Domestik Saat Ini Di Kabupaten Pasaman Sanitasi tidak layak. Sanitasi Layak Sistem Onsite. BABS*. No. Nama Kecamatan. (KK). (i) 1.. 2.. (ii) (iii) Wilayah Perdesaan Bonjol 3305 Tigo Nagari 1809 Simpang 1104 Alahan Mati Dua Koto 4821 Padang 6326 Gelugur Panti 5851 Mapat Tunggul 1385 Mapat Tunggul 1300 Selatan Rao 2281 Rao Utara 2172 Wilayah Perkotaan Lubuk Sikaping 4567 Rao Selatan 2250. Sistem Offsite Sistem Berbasis Komunal. Cubluk***, jamban tidak aman** (KK). (iv). Cubluk aman/ Jamban keluarga dgn tangki septik aman (KK) (v). MCK /Jamban Bersama (KK). MCK Komunal**** (KK). Tangki Septik Komunal > 10 KK (KK). IPAL Komunal (KK). (vi). (vii). (viii). (ix). Skala Kawasan / terpusat Sambungan Rumah yg berfungsi (KK). (x). Sumber : Dinkes Kabupaten Pasaman 2015 Tabel 2.17 Kondisi Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Domestik No. Jenis. (i) (ii) SPAL Setempat (sistem on site) 1 Berbasis Komunal - MCK Komunal 2 Truk Tinja 3 IPLT : Kapasitas SPAL Terpusat (sistem off site). Satuan (iii). Kondisi Jumlah/ Tdk Kapasitas Berfungsi berfungsi (iv) (v) (vi). 18 unit 1 unit M3/hari -. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 38. -. -. Keterangan (vii). Swasta -.
(49) 1. 2. Berbasis Komunal - Tangki Septik Komunal >10KK - IPAL Komunal IPAL Kawasan/Terpusat - Kapasitas - Sistem. unit unit M3/hari -. -. -. -. Sumber : Pokja Sanitasi Kab.Pasaman 2015 Gambar 2.6 Contoh Peta Pemetaan Air Limbah Contoh hasil pemetaan air limbah domestik Sistem A: Buang Air Besar Sembarangan (BABS) Sistem B: Sistem setempat (onsite ) Sistem C: Sistem terpusat (offsite ) Sistem D: Sistem komunal 1.000 KK (10 % dari populasi). IPLT. 1.000 KK (10 % dari populasi). 2.000 KK (20 % dari populasi) IPAL terpusat. 500 KK (5 %dari populasi) IPLT : Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja IPAL : Instalasi Pengolahan Air Limbah. (2) Kelembagaan dan Peraturan Informasi tentang institusi yang berwenang dalam pengelolaan air limbah dalam bentuk operator maupun regulator serta peraturan dan kebijakan pengelolaan yang terkait air limbah domestik secara detail dijelaskan pada lampiran lampiran 1.3.3. b. PERSAMPAHAN Sampah di Kabupaten Pasaman berasal dari : SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 39.
(50) Perumahan/ permukiman penduduk Taman/ tempat wisata Perkantoran Sekolah Rumah sakit, Puskesmas dan sejenisnya (non patogen) Pasar, pertokoan, restoran, Hotel, penginapan/ wisma Rumah potong hewan Jalan/ area publik dsb Menurut sumber data Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Pekerjaan Umum tahun 2014, total timbulan sampah di-5 (lima) Kecamatan cakupan pelayanan pengangkutan sampah yaitu sekitar 317.025 m3/ hari. Jumlah tersebut akan terus meningkat seiring berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk setiap tahunnya. Secara umum, jenis sampah dapat dibagi 2 yaitu sampah organik (biasa disebut sebagai sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Sampah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur, dll. Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Sebaliknya sampah kering, seperti kertas, plastik, kaleng, dan lain-lain tidak dapat terdegradasi secara alami. Sampah terbanyak dihasilkan dari permukiman dan pasar tradisional. Sampah pasar khusus seperti sayur mayur dan buah-buahan, jenisnya relatif seragam, sebagian besar berupa sampah organik sehingga lebih mudah ditangani. Sampah yang berasal dari permukiman umumnya sangat beragam dan terjadi pencampuran antara sampah organik dan anorganik, walaupun secara umum paling banyak sampah organik. Berdasarkan hasil studi EHRA, sampah rumah tangga (berasal dari permukiman) dalam hal pengelolaan sampah rumah tangga berupa sampah organik/ sampah plastik 50% yang menyatakan dikelola dengan benar dan yang menyatakan tidak dikelola dengan benar 50%.. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 40.
(51) Untuk sampah berupa plastik, gelas/ kaca, kertas, besi/ logam, lainnya dan tidak tahu 100% masyarakat menyatakan tidak dikelola dengan benar. Dari data tersebut tampak bahwa salah satu pertimbangan dari pemisahan jenis sampah terkait dengan peluang dari pasca pemilahan itu sendiri, dimana barang yang mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi akan menimbulkan ketertarikan lebih dalam pemilahannya. Nampak bahwa sampah organik/ sampah plastik mempunyai jumlah terbesar. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Pasaman harus berupaya memikirkan aspek pemanfaatan hasil pemilahan sampah yang dapat bernilai ekonomis agar lebih menarik minat masyarakat terlibat dalam pemilahan sampah rumah tangga, sehingga program 3R (reduce, reuse dan recycle) dapat berjalan dengan baik. Pola pengumpulan sampah di Kabupaten Pasaman sebagian besar dilakukan dengan cara dibakar atau 45.7%, 25.7% dengan cara dibuang kelahan kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk. Pengelolaan sampah dengan cara dibuang kesungai/ kali/ laut 14.9%, 8.3% dengan cara dikumpulkan dan dibuang ke TPS, 7% dengan cara dibuang kedalam lubang dan ditutup dengan tanah, 6% dibiarkan saja sampai membusuk, 3% menyatakan lain-lain, 2% dikumpulkan oleh kolektor informal dan diikuti 1% yang menyatakan tidak tahu. TPS yang tersedia di Kabupaten Pasaman berjumlah 25 unit, umumnya kondisinya memerlukan perbaikan fisik dan peningkatan operasional berupa pengaturan jadwal pembuangan dan pengangkutan, sehingga jangka waktu penumpukan sampah tertentu tidak lebih dari 3 (tiga) hari. Hampir seluruh TPS yang terbuat dari bata tidak mempunyai penutup, sehingga saat hujan sampah tercampur dengan air, yang dapat menimbulkan bau dan terjadi kontaminasi air hujan oleh sampah, yang mengalir di sepanjang jalan. Sedangkan jumlah Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST sistem 3R) di Kabupaten Pasaman sampai dengan tahun 2014 berjumlah 8 unit yang tersebar di beberapa Nagari/ Kelurahan namun keberadaanya tidak cukup efektif untuk mereduksi sampah sampai ke TPA. Disamping itu masyarakat juga tidak terdorong untuk ikut berpartisipasi dalam pengelolaan sampahnya sendiri, sehingga sampah organik dan anorganik bercampur menjadi satu. SSK Pemutakhiran Kab.Pasaman Tahun 2015| 41.
Dokumen terkait
Dengan cara yang sama untuk menghitung luas Δ ABC bila panjang dua sisi dan besar salah satu sudut yang diapit kedua sisi tersebut diketahui akan diperoleh rumus-rumus
Dari teori-teori diatas dapat disimpulkan visi adalah suatu pandangan jauh tentang perusahaan, tujuan-tujuan perusahaan dan apa yang harus dilakukan untuk
Inflasi Kota Bengkulu bulan Juni 2017 terjadi pada semua kelompok pengeluaran, di mana kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan mengalami Inflasi
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah dengan permainan sains dapat meningkatkan kemampuan kognitif pada anak kelompok B TK Mojorejo 3
Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap rata-rata ukuran manusia (persentil 50). Tentu saja prinsip ini memiliki banyak kekurangan karena hanya bisa digunakan
1) Sementum Afibrilar Aseluler (acellular afibrillar cementum/AAC) adalah bagian sementum yang tidak mengandung sel apaun juga tidak mengandung serabut kolagen. Sementum ini
Lembar Pengamatan Kemampuan Guru Dalam Mengelola Pembelajaran Instrumen ini digunakan untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran menggunakan metode
Untuk jembatan yang mempunyai lengkung horizontal, harus diperhitungkan gaya sentrifugal akibat pengaruh pembebanan lalu lintas untuk seluruh bagian bangunan.. Beban