BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Sistem Informasi Akuntansi
2.1.1 Pengertian Sistem Informasi Akuntansi
Menurut Gondodiyoto dan Hendarti (2006, p.107) sistem informasi akuntansi adalah struktur yang menyatu dalam suatu entitas, yang menggunakan sumber daya fisik dan komponen lain, untuk merubah data transaksi keuangan atau akuntansi menjadi informasi akuntansi dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi para pengguna atau pemakainya.
Menurut Bodnar dan Hopwood (1995, p.1) sistem informasi akuntansi adalah kumpulan sumber daya, seperti manusia dan peralatan, yang diatur untuk mengubah data menjadi informasi akuntansi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa definisi sistem informasi akuntansi adalah salah satu subsistem informasi yang lebih awal diimplementasikan, dan bahkan lazimnya menjadi salah satu komponen utama dalam mengembangkan subsistem informasi lainnya.
2.1.2 Tujuan Sistem Informasi Akuntansi
Menurut Gondodiyoto dan Hendarti (2006, p.109) tujuan sistem
informasi akuntansi adalah :
a. Untuk melakukan pencatatan (recording) transaksi dan menyediakan informasi (information value added machanism) bagi pihak intern untuk pengelolalaan kegiatan usaha (manager) serta para pihak terkait (stockholder/stakeholder).
b. Untuk memperbaiki informasi yang dihasilkan oleh sistem yang sudah ada, baik mengenai mutu, ketepatan penyajian maupun struktur informasinya.
c. Untuk menerapkan (implementasi) sistem pengendalian intern, memperbaiki kinerja dan tingkat keandalan (realibility) informasi akuntansi dan untuk menyediakan catatan lengkap mengenai pertanggung jawaban (akuntabilitas).
d. Menjaga/meningkatkan perlindungan kekayaan perusahaan.
2.1.3 Proses Transaksi Sistem Informasi Akuntansi
Menurut Bodnar dan Hopwood (2001, p.182) arus transaksi operasional dapat dikelompokan sesuai dengan empat siklus aktivitas bisnis, yaitu :
a. Siklus pendapatan (Revenue cycle)
b. Siklus pengeluaran (Expenditure cycle)
c. Siklus produksi (Conversion cycle)
d. Siklus keuangan (Financial cycle)
2.1.4 Siklus yang Dibahas
Siklus sistem informasi yang dibahas adalah siklus produksi (conversion cycle), karena dalam sistem informasi Surety Bond pada PT.
Asuransi Jasaraharja Putera, data yang diperoleh diproses sehingga menghasilkan Bond sebagai produk jasa. Proses yang dibahas dimulai dari Principle menyerahkan formulir permohonan penerbitan Bond beserta berkas kelengkapanya kemudian diproses sehingga menghasilkan Bond yang akan diserahkan ke Principle
2.2 Sistem Pengendalian Intern
2.2.1 Pengertian Sistem Pengendalian Intern
Menurut Gondodiyoto dan Gautama (2003, p.78) sistem pengendalian intern meliputi metode dan kebijakan yang terkoordinasi didalam perusahaan untuk mengamankan kekayaan perusahaan, menguji ketepatan, ketelitian, dan keandalan catatan/data akuntansi serta untuk mendorong ditaatinya kebijakan manajemen.
Menurut Mulyadi (2001, p.163) mendefinisikan sistem pengendalian intern meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran- ukuran yang dikoordinasikan untuk menjadi kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efesiensi dan dipatuhinya kebijakan manajemen.
Jadi dapat disimpulkan bahwa definisi sistem pengendalian intern
adalah suatu prosedur yang dijalankan oleh seluruh struktur organisasi di
dalam perusahaan untuk mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen
sehingga dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi operasional di perusahaan meningkatkan kehandalan data dan menjaga keamanan aset perusahaan.
2.2.2 Tujuan Pengendalian Intern
Menurut Gondodiyoto dan Hendarti (2006, p.144) tujuan dirancangnya pengendalian intern adalah :
a. Menyajikan data yang dapat dipercaya
Pemimpin hendaklah memiliki informasi yang benar atau tepat dalam rangka melaksanakan kegiatannya.
b. Mengamankan aktiva dan pembukuan
Pengamanan atas berbagai harta benda dan catatan pembukuan menjadi semakin penting dengan adanya komputer.
c. Meningkatkan efesiensi operasional
Pengawasan dalam suatu organisasi merupakan alat untuk mencegah penghamburan usaha, menghindarkan pemborosan dalam setiap segi dunia usaha dan mengurangi setiap jenis penggunaan sumber-sumber yang ada secara tidak efisien.
d. Mendorong pelaksanaan kebijaksanaan yang ada
Pemimpin menyusun tata cara dan ketentuan yang dapat
dipergunakan untuk mencapai tujuan perusahaan.
2.2.3 Komponen Pengendalian Intern
Menurut Weber (1999, p.49) komponen pengendalian intern terdiri dari :
a. Lingkungan pengendalian (Control environment)
Elemen ini memperlihatkan bahwa hal yang terkandung pada kontrol terutama pada sistem akuntansi dan prosedur harus dijalankan.
b. Penaksiran resiko (Risk assessment)
Elemen ini mengidentifikasikan dan menganalisis resiko yang dihadapi organisasi dan cara resiko tersebut dikelola.
c. Aktivitas pengendalian (Control activities)
Elemen ini memastikan bahwa setiap transaksi telah diotorisasi oleh yang berwenang, telah ada pemisahan fungsi, dokumentasi dan pencatatan yang memadai, harta dan catatan telah diamankan dan pengecekan oleh pihak independent telah dilakukan serta penilaian terhadap pencatatan telah dilaksanakan.
d. Pemrosesan informasi dan komunikasi (Information processing and communication)
Pada elemen ini informasi diidentifikasi, diambil dan diubah sepanjang waktu dan menyediakan formulir untuk memperbolehkan karyawan mengubah tanggung jawabnya.
e. Pemantauan (Monitoring)
Elemen yang berfungsi untuk memastikan pengendalian internal telah
berjalan dengan baik.
2.2.4 Sistem Pengendalian Intern pada Sistem Berbasis Komputer
Menurut Weber (1999, p.39) auditor menemukan dua cara yang dapat digunakan pada saat memimpin audit sistem informasi, yaitu:
1. Pengendalian Umum (General Controls)
Pengendalian umum (general controls) adalah sistem pengendalian intern komputer yang berlaku umum meliputi seluruh kegiatan komputerisasi sebuah organisasi secara menyeluruh.
Menurut Weber (1999, p.39) dalam sistem pengendalian intern umum terdapat unsur-unsur yang perlu diperhatikan, yaitu : a. Pengendalian top manajemen (Top management controls)
Manajemen puncak harus memastikan bahwa sistem informasi telah berjalan dengan baik, tanggung jawab utama mereka adalah untuk membuat keputusan jangka panjang terhadap bagaimana caranya pemakaian sistem informasi pada organisasinya.
b. Pengendalian manajemen sistem informasi (Information system management controls)
Manajemen sistem informasi bertanggung jawab untuk merencanakan dan melakukan pengendalian terhadap semua aktivitas sistem informasi.
c. Pengendalian manajemen pengembangan sistem (System development management controls)
Bertanggung jawab untuk mendesain, mengimplementasi dan
memelihara aplikasi sistem.
d. Pengendalian manajemen program (Programming management controls)
Bertanggung jawab untuk membuat sistem program baru, memelihara program lama dan menyediakan software umum yang mendukung sistem informasi.
e. Pengendalian data administrator (Data administration controls) Bertanggung jawab untuk menterjemahkan rencana dan pengendalian yang berhubung dengan penggunaan data organisasi.
f. Pengendalian manajemen jaminan kualitas (Quality assurance management controls)
Bertanggung jawab untuk memastikan pengembangan, pengimplementasian, pengoperasian dan pemeliharaan sistem informasi yang sesuai dengan standar kualitas yang ada.
g. Pengendalian manajemen keamanan (Security administration controls)
Bertanggung jawab untuk melakukan pengendalian terhadap akses dan keamananan fisik dari fungsi sistem informasi.
h. Pengendalian manajemen operasi (Operation management controls)
Bertanggung jawab untuk merencanakan dan melakukan kontrol
terhadap operasional sistem informasi setiap hari.
2. Pengendalian Aplikasi (Application Control)
Pengendalian aplikasi (application control) adalah sistem pengendalian intern (internal controls) pada sistem informasi informasi berbasis teknologi informasi yang berkaitan dengan pekerjaan/kegiatan/aplikasi tertentu (setiap aplikasi memiliki karakteristik dan kebutuhan pengendalian yang berbeda).
Menurut Weber (1999, p.39) dalam sistem pengendalian intern aplikasi terdapat unsur-unsur yang perlu diperhatikan, yaitu a. Pengendalian batasan (Boundary controls)
Terdiri dari komponen yang membentuk hubungan antara user dan sistem.
b. Pengendalian masukan (Input controls)
Terdiri dari komponen yang menyiapkan dan memasukkan data ke dalam sistem.
c. Pengendalian proses (Processing controls)
Terdiri dari komponen yang melakukan kegiatan pengambilan keputusan, perhitungan, pengklasifikasian, memerintah dan meringkas data pada sistem.
d. Pengendalian data/file (Database controls)
Terdiri dari komponen yang mendefinisikan, menambahkan, mengakses, mengubah dan menghapus data pada sistem.
e. Pengendalian keluaran (Output controls)
Terdiri dari komponen yang mengambil kembali data dan
menyajikannya menjadi informasi bagi pemakai sistem.
f. Penendalian komunikasi (Communications controls)
Terdiri dari komponen yang mengirimkan data antara subsistem dan sistem.
2.2.4.1 Sistem Pengendalian Internal pada Sistem Berbasis Komputer yang Akan Dibahas
1. Pengendalian Umum
a. Pengendalian manajemen keamanan (Security management controls)
Menurut Weber (1999, p.244) pengendalian intern terhadap manajemen keamanan bertanggung jawab untuk memastikan bahwa aset informasi aman.
Menurut Weber (1999, p.257) secara garis besar pengendalian manajemen keamanan bertanggung jawab terhadap hal-hal berikut :
1. Ancaman kebakaran
2. Ancaman kerusakan karena air
3. Ancaman perubahan tegangan sumber energi 4. Ancaman kerusakan struktural
5. Polusi 6. Penyusup
7. Virus dan Worms
8. Penggunaan yang salah terhadap software, data dan
jasa komputer
Pengendalian paling akhir (Controls of last resort)
Bila masih terdapat kemungkinan terjadi bencana, untuk mengurangi kerugian dan me-recover operasional dengan melakukan:
1) Disaster recovery plan 2) Insurance
b Pengendalian manajemen operasi (Operations management controls)
Menurut Weber (1999, p.291) pengendalian intern terhadap manajemen operasi bertanggung jawab terhadap jalannya hardware maupun software setiap hari sehingga sistem aplikasi produksi dapat menjalankan tugasnya dan staff development dapat men-design, mengaplikasi dan me-maintenance aplikasi sistem.
Menurut Weber (1999, p.292) secara garis besar pengendalian manajemen operasi bertanggung jawab terhadap hal-hal berikut :
1. Pengoperasian komputer 2. Pengoperasian jaringan
3. Persiapan dan pengentrian data 4. Pengendalian produksi
5. Perpustakan file
6. Dokumentasi dan program kepustakaan
7. Help Desk
8. Perencanaan kapasitas dan pengawasan kerja
2. Pengendalian Aplikasi
a Pengendalian batasan (Boundary controls)
Menurut Weber (1999, p370) Subsistem boundary menentukan hubungan antara pemakai komputer dengan sistem komputer itu sendiri, ketika pemakai menggunakan komputer maka fungsi boundary berjalan.
Kontrol terhadap subsistem boundary memiliki tiga tujuan, yaitu :
1. Untuk memastikan bahwa pemakai komputer adalah orang yang memiliki wewenang.
2. Untuk memastikan bahwa identitas yang diberikan oleh pemakai adalah benar.
3. Untuk membatasi tindakan yang dapat dilakukan oleh pemakai untuk menggunakan komputer ketika melakukan tindakan otorisasi.
Menurut Weber (1999, p.371) kontrol pada boundary subsistem terdiri dari :
1. Cryptographic control 2. Akses kontrol
3. Personal Identification Number (PIN)
4. Digital Signature
5. Plastic Card
b. Pengendalian masukan (Input controls)
Menurut Weber (1999, p420) pengendalian masukan dirancang dengan tujuan untuk mendapatkan keyakinan bahwa data transaksi input adalah valid, lengkap, serta bebas dari kesalahan dan penyalahgunaan.
Input controls ini merupakan pengendalian aplikasi yang penting, karena input yang salah akan menyebabkan output juga keliru.
Mekanisme masuknya data input ke sistem dapat dikategorikan kedalam dua cara, yaitu :
1. Batch System (delayed processing system) 2. On-line Real Time Entry Validation
c. Pengendalian hasil keluaran (Output controls)
Menurut Weber (1999, p.615) subsistem output menyediakan fungsi yang menentukan isi dari data yang akan disampaikan kepada pemakai, cara data disajikan kepada pemakai dan cara menyampaikan data tersebut serta pengiriman data tersebut kepada pemakai.
Pengawasan output mempunyai dua tujuan utama, yaitu:
1. Mencari untuk melindungi kelengkapan data dengan
cara memproduksi dan mentransmisikan untuk
digunakan di kemudian hari bersama dengan sistem aplikasi.
2. Mencoba untuk menjamin efisiensi produksi dan efektifitas penggunaan dari laporan sistem aplikasi.
2.3 Audit Sistem Informasi
2.3.1 Pengertian Audit Sistem Informasi
Menurut Weber (1999, p10) Audit sistem informasi merupakan suatu proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti untuk menentukan apakah suatu sistem komputer dapat melindungi aset, memelihara integritas data, memungkinkan tujuan perusahaan dapat dicapai dengan efektif dan menggunakan sumber daya yang efisien.
Menurut Gondodiyoto dan Hendarti (2006, p.419) audit sistem informasi adalah proses pengumpulan dan penilaian bukti untuk menentukan apakah sistem komputer perusahaan mampu mengamankan harta, memelihara kebenaran data, mampu mencapai tujuan perusahaan secara efektif, dan menggunakan aktiva perusahaan secara tepat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian audit sistem informasi
adalah suatu proses yang meliputi kegiatan pengumpulan dan
pengevaluasian data dan informasi yang diperoleh untuk melindungi aset,
meningkatkan integritas serta meningkatkan efektivitas dan efisiensi
sistem.
2.3.2 Prosedur Audit Sistem Informasi
Langkah dari Prosedur Audit Sistem Informasi digambarkan dalam tahapan flow di bawan ini :
Start
Perencanaan Audit
Memahami Pengendalian Internal
Menaksir Resiko Pengendalian
Tergantung Kontrol?
Melalukukan Tes Kontrol
Menaksir Ulang Resiko
Masih Tergantung
Kontrol
Meningkatkan Ketergantungan
Kontrol
Melakukan Tes Substantif
Memberikan Opini dan Laporan Audit
Stop Tidak
Tidak
Tes Substantif Terbatas Tidak
Ya
Ya
Gambar 2.1 Langkah Proses Audit
Sumber : Information System Control and Audit (Weber, 1999, p 48)
Menurut Weber (1999, p47) beberapa tahapan di dalam audit sistem informasi adalah sebagai berikut :
1. Perencanaan Audit (Planning the Audit)
Perencanaan merupakan fase pertama dari kegiatan audit, bagi auditor eksternal hal ini artinya adalah melakukan investigasi terhadap klien untuk mengetahui apakah pekerjaan mengaudit dapat diterima, menempatkan staff audit, menghasilakan perjanjian audit, menghasilkan informasi latar belakang klien, mengerti tentang masalah hukum klien dan melakukan analisa tentang prosedur yang ada untuk mengerti tentang bisnis klien dan mengidentifikasikan resiko audit.
2. Pengujian Pengendalian ( Tests of Controls)
Auditor melakukan kontrol test ketika mereka menilai bahwa kontrol resiko berada pada level kurang dari maksimum, mereka mengandalkan kontrol sebagai dasar untuk mengurangi biaya testing.
Sampai pada fase ini auditor tidak mengetahui apakah identifikasi kontrol telah berjalan dengan efektif, oleh karena itu diperlukan evaluasi yang spesifik terhadap materi kontrol.
3. Pengujian Transaksi (Tests of Transactions)
Auditor menggunakan test terhadap transaksi untuk mengevaluasi
apakah kesalahan atau proses yang tidak biasa terjadi pada transaksi
yang mengakibatkan kesalahan pencatatan yang material pada laporan
keuangan. Test transaksi ini termaksuk menelusuri jurnal dari sumber
dokumen, memeriksa file harga dan mengecek keakuratan perhitungan.
4. Pengujian Saldo atau Keseluruhan Hasil (Tests of Balances or Overall Result )
Untuk mengetahui pendekatan yang digunakan pada fase ini, yang harus diperhatikan adalah pengamatan harta dan kesatuan data.
Beberapa jenis subtantif test terhadap saldo yang digunakan adalah konfirmasi piutang, perhitungan fisik persediaan dan perhitungan ulang aktiva tetap.
5. Penyelesaian Audit (Completion of the Audit)
Pada fase akhir audit, eksternal audit akan menjalankan beberapa test tambahan terhadap bukti yang ada agar dapat dijadikan laporan.
2.3.3 Standar Audit (CoBIT)
Rolling Meadows, Ill, USA, Lembaga Pengaturan IT (IT
Governance Institute, ITGI), Control Objectives for Information and
related Technology (CoBIT®) memberikan praktek dan hubungan ke atas
terbaik untuk menunjang persyaratan pengelolaan IT bagi para eksekutif
dan direktur yang berkaitan dengan hubungan ke bawah digunakan untuk
mengatasi persyaratan yang lebih rinci bagi mereka yang bertanggung
jawab terhadap solusi dan jasa penyampaian. Semua ini memberikan
dukungan agar dapat mengoptimalkan investasi IT, menjamin nilai
pengiriman dan meringankan resiko IT dengan cara yang lebih
transparan.
Untuk keberhasilan IT didalam penyampaian terhadap kebutuhan bisnis, pihak manajemen perlu memeberikan suatu sistem pengendalian internal atau framework pada perusahaan. Framework kontrol CoBIT berperan untuk membentuk kebutuhan sebagai berikut :
1. Pembuatan hubungan dengan kebutuhan bisnis
2. Mengorganisir aktifitas penggunaan IT kedalam proses model yang diterima umum
3. Mengindentifikasi sumber daya IT utama yang akan mempengaruhi 4. Menjelaskan kontrol manajemen objektif yang dipertimbangkan
Fokus proses dari CoBIT digambarkan oleh melalui suatu model, yang membagi kebutuhan IT kedalam 34 proses yang searah dengan tanggung jawab perencanaan, pembangunan, pelaksanaan dan monitor, sebagai pandangan akhir dalam menilai IT. Konsep arsitektur perusahaan membantu mengindentifikasi sumber daya yang penting bagi proses keberhasilan, yaitu aplikasi, informasi infrastruktur dan personil.
2.3.4 Instrumen Audit
Menurut Gondodiyoto dan Hendarti (2006, p.448) terdapat beberapa jenis teknik audit antara lain :
1. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah cara memeriksa dengan
menggunakan panca indera terutama mata, yang dilakukan secara
kontinyu selama kurun waktu tertentu untuk membuktikan sesuatu
keadaan atau masalah.
2. Wawancara (Interview)
Wawancara merupakan teknik pemeriksaan berupa tanya-jawab secara lisan antara auditor dengan auditee untuk memperoleh bahan bukti audit.
3. Kuisioner (Tanya-jawab tertulis)
Cara tanya-jawab yang mudah dan praktis adalah dengan tertulis.
Setelah respoden ditentukan, kemudian dikirim surat pengantar beserta daftar pertanyaan (kuisioner) tentang hal-hal yang ditanyakan (sebaiknya dibuat pedoman pengisian dan tanggal jawab yang diharapkan).
4. Konfirmasi
Konfrimasi merupakan upaya untuk memperoleh informasi/penegasan dari sumber lain yang independent, baik secara lisan maupun tertulis dalam rangka pembuktian pemeriksaan.
5. Inspeksi fisik
Inspeksi merupakan cara memeriksa dengan memakai panca indera
terutama mata, untuk memperoleh bukti atas suatu keadaan atau suatu
masalah pada saat tertentu. Inspeksi merupakan usaha pemeriksa
untuk memperoleh bukti–bukti secara langsung kata langsung disini
berarti pemeriksa sendiri harus berada di tempat dimana keadaan atau
masalah tersebut ingin dibuktikan. Inspeksi sebaiknya dilakukan oleh
lebih dari satu orang auditor.
6. Prosedur analisis
Analisis artinya memecah atau menguraikan suatu keadaan atau masalah kedalam beberapa bagian atau elemen dan memisahkan bagian tersebut untuk digabungkan dengan keseluruhan atau dibandingkan dengan yang lain.
7. Perbandingan
Perbandingan adalah usaha untuk mencari kesamaan dan perbedaan antara dua atau lebih gejala atau keadaan. Hasil pekerjaan membandingkan biasanya dilanjutkan dengan melakukan analisis sebab-sebab terjadinya penyimpangan.
8. Penelaahan dokumen
Pada umumnya cukup banyak dokumen yang tersedia pada suatu
organisasi untuk ditelaah: bagan arus, bagan organisasi, manual
prosedur, manual operasi, manual referensi, notulen rapat, surat
perjanjian, dan catatan-catatan historis lainnya. Dalam beberapa
kasus, penyimpangan-penyimpangan antara kinerja sistem aktual dan
kinerja sistem terdokumentasi dapat mengindikasikan adanya
masalah. Oleh karena itu, auditor harus membuat penilaian
keseluruhan berkaitan dengan status dokumen tertentu sehubungan
dengan arti pentingnya terhadap kebijakan perusahaan.
2.3.5 Pendekatan (metode) Audit sistem informasi a. Audit Arround The Computer
Menurut Gondodiyoto dan Hendarti (2006, p.389) dalam pendekatan audit di sekitar komputer, auditor tidak perlu menguji pengendalian SI berbasis teknologi informasi klien (file program/pengendalian atas file/data dikomputer), melainkan cukup terhadap input (dokumen) serta output (laporan) sistem aplikasi saja.
Sistem komputer dianggap sebagai ”blackbox” (suatu yang diketahui fungsinya, tetapi tidak perlu diperiksa bagaimana cara kerjanya). Dari penilaian terhadap kualitas dan kesesuaian antara input dan dengan output sistem aplikasi ini, auditor dapat mengambil keputusan tentang kualitas pemrosesan data yang dilakukan klien (meskipun proses/program komputernya tidak diperiksa). Oleh karena itu auditor harus dapat memeriksa dokumen sumber dalam jumlah cukup dan print-out laporan/keluaran (output) yang rinci.
Keunggulan metode auditor disekitar komputer adalah : 1. Pelaksanaan audit lebih sederhana
2. Auditor yang memiliki pengetahuan minimal di bidang komputer dapat dilatih dengan mudah untuk melaksanakan audit.
Kelemahan metode audit disekitar komputer adalah :
Jika kondisi (user requirements) berubah mungkin sistem itupun
perlu di-redesign dan perlu penyesuaian (update) program-program,
bahkan mungkin struktur data/file, sehingga auditor perlu
menilai/menelaah ulang apakah sistem masih berjalan baik.
b. Audit Through The Computer
Menurut Gondodiyoto dan Hendarti (2006, p.391) dalam pendekatan audit ke sistem komputer, auditor melakukan pemeriksaan ulang terhadap program-program dan file-file komputer pada audit SI berbasis TI. Auditor menggunakan komputer (software bantu) atau dengan cek logika atau testing program untuk menguji logika program dalam rangka menguji pengendalian yang ada pada komputer. Selain itu auditor juga dapat meminta penjelasan dari para teknisi komputer mengenai spesifikasi sistem dari program yang diaudit.
c. Audit With The Computer
Menurut Gondodiyoto dan Hendarti (2006, p.392) audit dengan komputer adalah pendekatan audit dengan menggunakan bantuan komputer dalam berbagai bentuk.
2.3.6 Risk Measurement
Menurut Woolf (1997, p.166) teknik penilaian resiko dikategorikan menjadi tiga tingkat resiko, yaitu:
1. Low
Resiko yang dinilai jarang terjadi dan tidak dapat mempengaruhi
operasi perusahaan ataupun sistem internal kontrol dalam suatu
organisasi. Untuk menentukan tingkat resiko ”Low”.
2. Medium
Resiko yang dinilai jarang/sering terjadi tetap dapat memberikan dampak yang tidak terlalu mempengaruhi operasi perusahaan dan sistem internal kontrol dalam organisasi.
3. High
Resiko yang dinilai sering terjadi dan secara langsung dapat mempengaruhi kegiatan operasi perusahaan dan mengancam sistem internal kontrol organisasi.
2.4 Pasar Uang dan Pasar Modal
Menurut Keown dalam bukunya yang diterjemah oleh Djakman ( 2001, p. 45-46 ) ciri – ciri yang membedakan pasar uang dan pasar modal adalah periode jatuh tempo dari sekuritas yang diperdagangkan didalamnya. Pasar uang merujuk pada semua lembaga dan prosedur yang menyediakan transaksi utang jangka pendek yang biasanya diterbitkan peminjam dengan peringkat kredit yang tinggi.
Sedangkan pasar modal mengacu pada semua lembaga dan prosedur yang menyediakan transaksi instrumen keuangan jangka panjang. Jangka panjang disini berarti memiliki periode jatuh tempo yang lebih dari satu tahun. Dalam arti luas, ini tidak termasuk pinjaman berjangka dan financial leasess, ekuitas perusahaan dan obligasi. Dalam struktur modal perusahaan salah satunya diperoleh dari pasar modal.
Dapat disimpulkan bahwa penggunaan surety bond termasuk didalam
kategori pasar uang.
2.5 Surety Bond
2.5.1 Pengertian Surety Bond
Menurut Tinggi dan Pinontoan (2003). Surety Bond adalah suatu perjanjian dua pihak yaitu antara Surety dan Principle, dimana pihak pertama (Surety) memberikan jaminan untuk pihak kedua (Principle) bagi kepentingan pihak ketiga (Obligee), bahwa apabila Principle lalai atau gagal melaksanakan kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikannya dengan Obligee, maka Surety akan bertanggungjawab terhadap Obligee untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban Principle tesebut.
2.5.2 Pihak yang Terkait
Gambar 2.2 Prinsip Dasar Bekerjanya Surety Bond (Sumber : PT. Asuransi Jasaraharja Putera) Keterangan :
PRINCIPLE : - Pelaksana Pekerjaan yang mendapat pekerjaan dari
pemilik pekerjaan
PERUSAHAAN SURETY (Penjamin)
Perjanjian Tambahan (Accessor Contract) Perjanjian Pokok
(Underlying Contract)