( Sains, Teknologi, dan Rel<a asa )
VOL: 15 Nomor: II BULAN
I
TAHUN SEPTEMBER 2014
Eka D.aryanto dan Suprapto
Nurdin Bukit1 Eva Malina Ginting1 Mukti Hamjah Harahap
Nurfajriari1 Wesly l-!•1tabarat1 Tharnrin1 Basuki Wirjosentono1 Saharman Gea
Fauziyah Harahap1 dan Nusyirwan
Junifa Layla Sihombing 1 Jasmidi dan Ahmad Nasir Pu-lungan
P. Maulim Silitonga dan Melva Silitonga
Putri Lynna A.Luthan 1 Irma Novrianty Nasution dan Kemala Jeumpa
Irnawati Tamba dan Ade CH.
Kaji Eksperimental Alat Pengering Tena~Surya Dengan Variasi Sudut Konsentrator Cermin Datar Dan Sudut Riblets Untuk Pelat Absorber
Preparasi Bentonit Alam Menjadi Nano Partikel Sebagai Filler Pada Termoplastik HOPE
Peningkatan Sifat Mekanik Dan Termal Kayu Kelapa Sawit Dengan Teknik Kompregnasi Reaktif
Induksi tunas nanas (ananas comosus 1. Merr) in vitro dengan pemberian dosis auksin dan sitokin yang berbeda
Konversi Minyak Dedak Padi Menjadi Biogasoline Melalui Proses
Catalytic Cracking (Via Esterifikasi Dan Transesterifikasi)
Kemampuan Immunoglobulin Y (Igy) Kuning Telur A yam Yang Telah Memperoleh Suplementasi Piridoksin Mencegah Kelainan Yang Diakibatkan Oleh Toksin Tetanus
Struktur Bangunan Tradisional Mandailing
ISSN: 1412-2995
Jumal Penelitian
SAINTIKA
(Sains, Teknologi, dan Rekayasa)
Vol: 15 Nomor: 2 Bulan/ Tahun: September 2014
DAFTAR lSI
KAJI EKSPERIMENT AL ALA T PENGERING TENAGA SURYA DENGAN V ARIASI SUDUT
KONSENTRATOR CERMIN DATAR DAN SUDUT RIBLETS UNTUK PELAT ABSORBER 90-105
Oleh: Eka Daryanto dan Suprapto
D PREPARASI BENTONIT ALAM MENJADI NANO PARTIKEL SEBAGAI FILLER PADA TERMOPLASTIK HOPE
Oleh: Nurdin Bukit, Eva Marlina Ginting, Mukti Hamjah Harahap
PENINGKATAN SIFAT MEKANIK DAN TERMAL KAYU KELAPA SAWIT DENGAN TEKNIK KOMPREGNASI REAKTIF
Oleh: Nurfajriani, Wesly Hutabarat, Thamrin, Basuki Wirjosentono, Saharman Gea
INDUKSI TUNAS NANAS (ANANAS COMOSUS L. MERR) IN VITRO DENGAN PEMBERIAN DOSIS AUKSIN DAN SITOKIN YANG BERBEDA
Oleh: Fauziyah Harahap, dan Nusyirwan
KONVERSI MINYAK DEDAK PADI MENJADI BIOGASOLINE MELALUI PROSES CATALYTIC
CRACKING (VIA ESTERIFIKASI DAN TRANSESTERIFIKASI)
Oleh: Junifa Layla Sihombing, Jasmidi dan Ahmad Nasir Pulungan
EMAMPUAN IMMUNOGLOBULIN Y (IGY) . KUNING TELUR AYAM YANG TELAH MEMPEROLEH SUPLEMENTASI PIRIDOKSIN MENCEGAH KELAINAN YANG DIAKIBATKAN OLEH TOKSIN TETANUS
Oleh: P. Maulim Silitonga dan Melva Silitonga
STRUKTUR BANGUNAN TRADISIONAL MANDAILING
Oleh: Putri Lynna A.Luthan , Irma Novrianty Nasution dan Kemala Jeumpa
PENGEMBANGAN PROTOTIPE MESIN PENGUPAS KULIT KACANG TANAH
Oleh: Yuniarto
SUS UN AN VARIASI MAKANAN KAITANNYA DENGAN TINGKA T SELERA MAKAN LANSIA DI PANTI WERDAH YAYASAN GUNA BUDI BAKTI MEDAN LABUHAN
Oleh: Imawati Tamba dan Ade CH. Gultom
106-118
119-123
124-131
132-142
143-151
152-160
161-171
r ,f
I
.,
ISSN 1412-2995 Jurnal Saintika
Volume 15(11): 124-131 , 2014
INDUKSI TUNAS NANAS
(ANANAS COMOSUS
L.
MERR)
IN
VITRO
DENGAN PEMBERIAN DOSIS AUKSIN DAN
SITOKIN YANG BERBEDA
Fauziyah Harahap1, dan Nusyirwan2
Ic Jurusan Biologi, FMIP A, Universitas Negeri Medan, Jl. Willem Iskandar Ps r.
V Medan, Indonesia 20221, Email: [email protected]
Diterima 5 Agustus 2014, disetujui untuk publikasi 22 September 2014
Abstrak: Nanas (Annnns comosus L.) pada mulanya hanya diketahui sebagai tanaman pekarangan, sekarang penanamannya sudah menjadi tanaman perkebunan. Nanas merupakan tanaman yang perlu dikembangkan dalam skala perkebunan karena buahnya bernilai ekonomi, permintaan pasar, komoditi buah ekspor ketiga didunia setelah Negara Filipina dan Thailand. Komoditi nanas telah lama dibudidayakan di Indonesia, memiliki potensi ekspor sangat besar, dapat dikembangkan sebagai buah segar maupun un~k diversifikasi olahan dengan bahan dasar, namun ketersediaan tanaman ini masih kurang. Satu alternatif untuk meningkatkan pertumbuhan nanas yaitu dengan menerapkan tehnik kultur jaringan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) Pengaruh pemberian dosis Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Sitokinin (BAP) terhadap pertumbuhan nanas (Annnns comosus L.) in vitro, 2) Pengaruh pemberian dosis ZPT Auksin (IAA) terhadap pertumbuhan nanas (Ananas comosus L.) in vitro, 3) Pengaruh interaksi ZPT auksin (IAA) dan sitokinin (BAP) terhadap pertumbuhan n~as (Ananas comosus L.) in vitro.
Rancangan penelitian ini adalah factorial complete random design (CRD) dengan perlakuan yaitu 1). Dosis ZPT BAP terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu, 0 ppm, 2 ppm, 4 ppm dan 6 ppm dan 2) Dosis ZPT IAA yang terdiri dari 3 taraf perlakuan yaitu 0 ppm, 0,5 ppm, 1 ppm. Parameter pengamatan penelitian ini adalah data pertumbuhan yang diambil pada minggu ke 14 sesudah penanaman, yaitu 1) Jumlah tunas, 2) Jumlah daun, 3) Jumlah akar. Hasil penelitian menunjukkan 1) ZPT Sitokinin, auks in tidak berpengaruh terhadap jumlah tunas, interaksi keduanya mempengaruhi jumlah tunas. 2) ZPT Sitokinin, auksin berpengaruh terhadap jumlah daun, interaksi keduanya tidak mempengaruhi jumlah daun. 3). ZPT Sitokinin berpengaruh terhadap jumlah akar, Auksin dan interaksi keduanya tidak mempengaruhi jumlah akar. Semakin tinggi konsentrasi sitokinin yang diberikan akan semakin menurunkan jumlah akar yang terbentuk.
Jurnal Saintika I Volume lSI Nomor II I September 2014
Kata kunci:
nanas. in vitro. ZPT auks in (fAA) ,
sitokinin (BAP) .
lnduksi tunas nanas (ananas comosus I. Merr) in vitro dengan pemberian dosis auksin dan sitokin yang berbeda
Pendahuluan:
Nanas (Annnn s comosus L.) pada mulanya diketahui sebagai tanaman pekarangan, sekarang menjadi tanaman perkebunan. Perlu dikembangkan dalam skala perkebunan karena buahnya bernilai ekonomi, permintaan pasar, komoditi buah ekspor ketiga didunia setelah Negara Filipina dan Thailand (Anonim, 2006) .
Komoditi nanas telah lama dibudidayakan di Indonesia, di pasar domestik banyak dijual untuk dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi untuk preferensi konsumen internasional adalah nanas olahan. Pacta tahun 2007
'
jumlah ekspor nanas baru 95,663 ton. Pacta tahun 2010 produksi nanas Indonesia mencapai 1.406.445 ton dan me.nempati urutan kedua dalam kontribusi terhadap produksi buah nasional. Pacta Januari hingga Maret tahun 2012 adalah 124.160 ton. Kualitas pasar tujuan negara ekspor adalah di Timur Tengah, Iran, Mesir dan Korea (Anonim, 2012) . Nanas merupakan salah satu komoditi hortikultura yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Nilai ekspor nanas Indonesia ~encapai US$ 139 juta per tahun (BPS, 2010) .
Nanas merupakan salah satu komoditas dalam Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS) untuk pengembangan buah unggulan nasional (PKBT IPB 2005) karena nanas diharapkan dapat menjadi buah ekspor unggulan nasional untuk masa akan datang. Nanas merupakan salah satu komoditi hortikultura yang memiliki potensi untuk dikembangkan hal ini terlihat dari jumlah permintaan nanas segar dari luar negeri yang cukup tinggi (Purnamaningsih, 2009, Pratiwi 2008). Nilai ekspor nanas Indonesia mencapai US$ 139 juta per tahun (BPS, 2010).
Jurnal Saintika
I
Volume I 5I
Nomor III
September 2014Untuk pengembangan tanaman ini dan untuk kebutuhan penanaman massal dengan luas areal yang lebih luas, dibutuhkan bibit dalam jumlah yang banyak dan seragam . Hal ini dimaksudkan agar pasokan nanas lebih dapat dikontrol dan menghasilkan produksi yang seragam dalam jumlah banyak. Di lain sisi, petani nanas masih memanfaatkan bibit yang dihasilkan dari tunas batang maupun tunas mahkota yang jumlahnya relatif sangat terbatas untuk mengisi lahan yang luas, sehingga diperlukan suatu solusi yang dapat mengatasi problema tersebut hingga akhirnya dapat dilakukan perluasan pertanaman dan pemasaran nanas ini.
Salah satu teknologi harapan dan merupakan alternatif pilihan yang dapat memecahkan masalah ini dan telah terbukti memberikan keberhasilan adalah melalui teknik kultur jaringan. Teknologi ini telah banyak digunakan untuk pengadaan bibit seragam dan kualitasnya · terjamin terutama pacta berbagai tanaman hortikultura (Harahap, 2006a, 2006b)
Melalui kultur jaringan, tanaman dapat diperbanyak setiap waktu sesuai kebutuhan . karena faktor perbanyakannya yang tinggi (Harahap, 2006a, 2006b). Sehingga dapat dihasilkan bibit yang seragam dan kualitasnya terjamin.
Tersedianya bibit yang berkualitas, seragam dan harga yang terjangkau oleh petani merupakan langkah awal untuk meningkatkan produksi buah nanas ini. Sistem regenerasi yang digunakan untuk menghasilkan planlet melalui kultur in
vitro dianjurkan berupa pembentukan
langsung dari organ tanaman atau "direct
organogenesis" (Goh et al 1994).
Organogenesis ini adalah salah satu cara untuk menghindarkan terjadinya variasi somaklonal yang biasanya menuju pada
125 .
perubahan kualitas tanaman, suatu hal yang tidak dikehendaki dalam perbanyakan massal untuk skala komersial (Harahap, 2011 a; 2011b).
Untuk melakukan perbanyakan nanas dengan teknik zn vitro,
dibutuhkan beberapa zat pengatur tumbuh, untuk menginduksi pertumbuhan dan pengakaran nanas. Salah satu komponen media yang menentukan keberhasilan kultur jaringan adalah jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh (ZPT) yang digunakan. Jenis dan konsentrasi ZPT tergantung pada tujuan dan tahap pengulturan. Adapun untuk membentuk tunas, ZPT yang sering digunakan adalah golongan Sitokinin seperti Benzyl Amino Purin (BAP) (Marlin, 2005, Harahap, 2011). Penambahan sitokini.n dalam media pada umumnya sangat diperlukan pada tahap induksi maupun penggandaan tunas. Penelitian ini ingin meneliti lebih jauh pengaruh ZPT BAP dan IAA dalam menginduksi tunas m vitro nanas, sehingga pengembangan varietas mulai unggulan nanas dapat
direalisasikan.
Melalui penelitian ini diharapkan dapat diperolah informasi pengaruh auksin, sitokinin dan interkasi keduanya terhadap pertambahan jumlah tunas, jumlah daun dan jumlah akar tanaman nanas.
METODE PENELITIAN
Penelitian m1 dilaksanakan selama satu tahun di Laboratorium Biologi UNIMED Medan, Laboratorium Kultur Jaringan YAHDI Medan.
Sampel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah mahkota nanas.Lalu dikembangkan di laboratorium. Untuk lanjutan, digunakan tunas in vitro.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain;
Flow Cabinet (LAFC),
126
Laminar Air Autoclave,
Pemanas, Timbangan a1 alitik, Lemari pendingin dan alat- alat kultur jaringan standart. Bahan yang digunakan Alkohol 96% dan 70%, NaOH 1 N, HCI 1 N, aquades steril, deterjen, agar, kertas label, tisu, sukrosa, media Murashige and Skoog (MS), myio inositol, poly vinyl poli pirolidon (PVPP), Ca pantothenat, ZPT BAP, ZPT IAA.
Rancangan percobaan · untuk optimasi media pertumbuhan dalam penelitian ini akan digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Pola media pertumbuhan yaitu: Media dasar MS + ZPT BAP dan IAA, yang terdiri dari: Faktor I : ZPT BAP (faktor A), terdiri dari 4 taraf perlakuan; AO
=
0 mg/1, A 1 = 2 mg/1, A2 = 4 mg/1, A3 = 6 mg/1.Faktor II : ZPT IAA (faktor B) terdiri dari 3 taraf perlakuan, yaitu : BO
=
0 mg/1, B1=
0,5 mg/1, B2 -. 1 mg/1. Kombinasi yang diperoleh adalah 12 unit percobaan, dengan 4 ulangan, sehingga di peroleh 48 unit percobaan.
Tahapan pekerjaan dimulai dengan pembuatan Media: membuat larutan stok, menimbang unsur hara makro, myo-inositol, sukrosa dan memipet stok mikro serta vitamin sesuai dengan kebutuhan perlakuan, memasukkan semua bahan ke dalam beaker glass, menambahkan
aquades steril sampai volume 1000 mi. Lalu diberi ZPT sesuai perlakuan, mengukur pH media ( 4,8 - 5,6), memasak lalu media di tuang ke botol-botol kultur yang telah disterilkan, menutup botol dan memberi label sesuai dengan perlakuan, mensterilkan media dengan autoclave pada tekanan 17,5 psi, 121°C selama 20 menit, lalu menyimpannya di rak kultur.
Tahapan Penanaman dimulai dengan menghidupkan, membersihkan LAFC dengan alkohol 70%, menyiapkan bahan, mengambil eksplan dan menanamkannya pada media yang
da
perubahan kualitas tanaman, suatu hal yang tidak dikehendaki dalam perbanyakan massal untuk skala komersial (Harahap, 2011 a; 2011b).
Untuk melakukan perbanyakan nanas dengan teknik rn vitro,
dibutuhkan beberapa zat pengatur tumbuh, untuk menginduksi pertumbuhan dan pengakaran nanas. Salah satu komponen media yang menentukan keberhasilan kultur jaringan adalah jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh (ZPT) yang digunakan. Jenis dan konsentrasi ZPT tergantung pada tujuan dan tahap pengulturan. Adapun untuk membentuk tunas, ZPT yang sering digunakan adalah golongan Sitokinin seperti Benzyl Amino Purin (BAP) (Marlin, 2005, Harahap, 2011). Penambahan sitokinin dalam media pada umumnya sangat diperlukan pada tahap induksi maupun penggandaan tunas. Penelitian ini ingin meneliti lebih jauh pengaruh ZPT BAP dan IAA dalam menginduksi tunas nz vitro nanas, sehingga pengembangan varietas unggulan nanas dapat mulai direalisasikan.
Melalui penelitian ini diharapkan dapat diperolah informasi pengaruh auksin, sitokinin dan interkasi keduanya terhadap pertambahan ju.mlah tunas, jumlah daun dan jumlah akar tanaman nanas.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan selama satu tahun di Laboratorium Biologi UNIMED Medan, Laboratorium Kultur Jaringan YAHDI Medan.
Sampel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah mahkota nanas.Lalu dikembangkan di laboratorium. Untuk lanjutan, digunakan tunas in vitro.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain;
Flow Cabinet (LAFC),
126
Laminar Air Autoclave,
Pemanas, Timbangan analitik, Lemari pendingin dan alat- alat kultur jaringan standart. Bahan yang digunakan Alkohol 96% dan 70%, NaOH 1 N, HCl 1 N, aquades steril, deterjen, agar, kertas label, tisu, sukrosa, media Murashige and Skoog (MS), myio inositol, poly vinyl poli pirolidon (PVPP), Ca pantothenat, ZPT BAP, ZPT IAA.
Rancangan percobaan · untuk optimasi media pertumbuhan dalam penelitian ini akan digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Pola media pertumbuhan yaitu: Media dasar MS + ZPT BAP dan IAA, yang terdiri dari: Faktor I : ZPT BAP (faktor A), terdiri dari 4 taraf perlakuan; AO = 0 mg/1, A 1 = 2 mg/1, A2 = 4 mg/1, A3 = 6 mg/1. Faktor II : ZPT IAA (faktor B) terdiri dari 3 taraf perlakuan, yaitu : BO = 0 mg/1, B1 =
0,5 mg/1, B2 "" 1 mg/1. Kombinasi yang diperoleh adalah 12 unit percobaan, dengan 4 ulangan, sehingga di peroleh 48 unit percobaan.
Tahapan pekerjaan dimulai dengan pembuatan Media: membuat larutan stok, menimbang unsur hara makro, myo-inositol, sukrosa dan memipet stok mikro serta vitamin sesuai dengan kebutuhan perlakuan, memasukkan semua bahan ke dalam beaker glass, menambahkan
aquades steril sampai volume 1000 ml. Lalu diberi ZPT sesuai perlakuan, mengukur pH media ( 4,8 - 5,6), memasak lalu media di tuang ke botol-botol kultur yang telah disterilkan, menutup botol dan memberi label sesuai dengan perlakuan, mensterilkan media dengan autoclave pada tekanan 17,5 psi, 121°C selama 20 menit, lalu menyimpannya di rak kultur.
Tahapan Penanaman dimulai dengan menghidupkan, membersihkan LAFC dengan alkohol 70%, menyiapkan bahan, mengambil eksplan dan menanamkannya pada media yang
lnduksi tunas nanas (ananas comosus I. Merr) in vitro dengan pemberian dosis auksin dan sitokin yang berbeda
Tabel 1. Hasil uji ANA VA terhadap Jumlah Tunas pada 14 MST
Type III Sum
of
Square Mean
Source s df Square F Sig.
Correcte 150.183
13.653 1.55 .142 11
9 d Model
·'
Intercep 3760.41 3760.4 429. .000 1
t 7 17 353
BAP 2.717 3 .906 .103 .958
IAA 13.733 2 6.867 .784 .462
BAP*
22.289 2.54 .032 133.733 6
IAA 5
Error 420.400 48 8.758
Total 4331.00 60 0
Correcte
d Total 570.583 59
sesuai dengan perlakuan, memberi label dan meletakkan di rak-rak kultur.
Parameter yang diamati dalam penelitian ini antara lain : 1) Jumlah tunas, 2) Jumlah daun, 3) Jumlah akar, diamati pada 14 minggu 'setelah tanam (MST).
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Jumlah Tunas
Hasil uji statistik memperlihatkan bahwa, ZPT Sitokinin (Benzil amino purin), pada pengamatan 14 MST tidak rriemperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan jumlah tunas (F hitung 0,103; sign 0,958), ZPT auksin (IAA) juga tidak memperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan jumlah tunas (F hitung 0,784; sign 0,462). Namun, interaksi ZPT auksin dan sitokinin (IAA dan BAP)
signifikan terhadap jumlah tunas pada taraf signifikansi 5 % (F hitung 2, 545; sign 0,032) (Tabel 1 ).
Tabel 2. Rata-rata jumlah tunas, jumlah daun, jumlah akar pada pengamatan 14
Minggu setelah tanam (MST)
Jumlah Jumlah Jumlah BAP IAA Tunas Daun Akar
0 0 9.6000 43.2000 2.2000
0.5 6.0000 38.6000 1.8000
1 8.2000 55.2000 2.4000
Total 7.9333 45.6667 2.1333
2 0 8.0000 45.2000 .8000
0.5 7.8000 44.2000 .6000
1 8.8000 47.2000 .6000
Total 8.2000 45.5333 .6667
4 0 5.2000 31.0000 .4000
0.5 11.2000 45.8000 .4000
1 7.4000 40.0000 .0000
Total 7.9333 38.9333 .2667
6 0 6.2000 18.6000 .0000
0.5 7.6000 32.0000 .4000
1 9.0000 41.8000 .0000
Total 7.6000 30.8000 .1333
Total 0 7.2500 34.5000 .8500
0.5 8.1500 40.1500 .8000
0 8.3500 46.0500 .7500
Total 7.9167 40.2333 .8000
Hasil analisis data memperlihatkan bahwa perlakuan kombinasi Sitokinin BAP 4 ppm dan auksin IAA 0,5 ppm, menghasilkan jumlah tunas tertinggi 11,2 tunas pada pengamatan 14 MST. Hasil jumlah tunas terendah diperoleh dari perlakuan BAP 0 ppm dan IAA 0,5 ppm dengan jumlah tunas rata-rata 6 tunas.
Dari penelitian ini diperoleh informasi bahwa pemberian BAP yang
127
[image:7.618.51.503.65.712.2] [image:7.618.44.504.98.782.2]rbeda
ada
p45;
ph
114
00
00
00
0 7
F<1uziyah Harahap iln Nusyirwan
Tabell. Hasil uji ANA VA terhadap Jumlah Daun pada 14 MST
Type III
Sum of Mean
Source Squares Df Square F Sig. Corrected 4894.733
11 444.976 4.519 . 000
Model J
Intercept 97123.26 97123.2 986.4 .000 1
7 67 40
BAP 2224 .333 3 741.444 7.531 .000
lA A 1334.233 2 667.117 6.776 .003
BAP*
1336.167 6
IAA 222.694 2.262 .053
Error 4726.000 48 98.458
Total 106744.0 60 00
Corrected
9620.733 59
Total
semakin meningkat dosisnya, namun jika tidak diberi penambahan auksin (IAA), tidak akan memberikan respon peningkatan jumlah tunas (Gambar 1). Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Rahman (2001) pada perbanyakan klon nanas (Annnns colnosus (L) Merr.).
Penambahan auksin pada media yang mengandung sitokinin akan meningkatkan penambahan jumlah tunas, namun jika ditambahkan sitokinin tanpa dikombinasikan dengan auksin tidak memacu jumlah tunas (Harahap, 2011c, Silvina, 2007, Samudin, 2009).
128
;;
c
- ~
i
•::oo
Estimated Marginal MeanJ of JMLH TUNAS M 14
""
5f•
0
.., 800
.
~
't
w
6.00 /
00
[image:8.618.21.477.57.791.2]BAP
Gambar 1. Rata-rata jumlah tunas pada 14 MST basil perlakukan
Auksin dan Sitokinin
2. Jumlah Daun
Jumlah daun pada 14 MST dipengaruhi secara signifikan oleh ZPT sitokinin (BAP, F hitung 7,531 dan sign 0,000), dipengaruhi oleh ZPT Auksin (IAA, F hitung 6,776 dan sign 0,003) dan dipengaruhi oleh interaksi BAP dan IAA (F hitung 2,262, sign 0,053).
oSC•OO
1000
Estimated Marginal Means of JMLH OAUN M 14
00 6 .00
BAP
50
0
Gambar 2. Rata-rata jumlah daun pada 14 MST basil perlakukan Auksin dan Sitokinin.
Hasil pengamatan pada 14 MST menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi sitokinin (BAP) yang diiringi
lnduksi tunas nanas (ananas comosus I. Merr) in vitro dengan pemberian dosis auksin dan sitokin yang berbeda
penambahan kon sentrasi auksin (IAA) Akar terbanyak dih asilkan dari
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable:JMLH AKAR M 14
Type III Sum of
Source Squares Of
Corrected Model 40.000·' 11
Intercept 38.400 1
BAP 37.867 . 3
IAA .100 2
BAP * IAA 2.033 6
Error 117.600 48
Total 196.000 60
Corrected Total 157.600 59
a. R Squared= ,254 (Adjusted R Squared= ,083)
akan menurunkan jumlah daun yang terbentuk. Jumlah daun terendah dihasilkan dari perlakuan BAP 6 ppm dan IAA 0 ppm dengan jumlah daun rata-rata 18.6 helai.
Jumlah daun tertinggi dihasilkan dari perlakuan BAP 0 ppm dan IAA 1 ppm dengan jumlah rata-rata jumlah daun 55, 2 helai (Gambar 2). Dibutuhkan konsentrasi tertentu untuk memacu pertumbuhan jumlah daun (Nusyirwan, 2011, 2012) .
3. Jumlah Akar
Hasil analisis statistik menunjukkan, ZPT sitokinin (BAP) memberikan pengaruh signifikan terhadap pertambahn jumlah akar, sementara ZPT Auksin (IAA) dan interaksi sitokinin (BAP) dan auksin (IAA) tidak memberi pengaru~ad
signifikan terhadap pertambahan jumlah akar.
Hasil uji lanjut memperlihatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi sitokinin (BAP) yang diberikan akan semakin menurunkan jumlah akar yang terbentuk.
Jurnal Saintika
I
Volume Isl
Nomor III
September 2014Mean Square F Sig.
3.636 1.484 .169
38.400 15.673 .000
12.622 5.152 .004
.050 .020 .980
.339 .138 .990
2.450
perlakuan BAP 0 ppm dikombinasikan dengan IAA 1 pp dengan rata-rata jumlah akar yang terbentuk 2,4 akar setelah diamati 14 MST (Gambar 3) .
Hal ini dapat dipahami karena akar akan terbentuk jika didalam media . tersebut mengandung auksin Iebih tinggi dibanding sitokinin (Harahap, 2011, Puspita, 2009) .
:oo
000
Estimated Marginal Means of JMLH AKAR M 14
-\
00
\
\\
\\
BAP
•. 00
Gambar 3. Rata-rata jumlah akar Pada 14 MST hasil perlakuan
Auksin dan Sitokinin
129
Fl
[image:9.618.49.510.58.792.2]'""
00-...
0
Fauziyah Harahap an Nusyirwan
KESIMPULAN
L Zat pengatur tumbuh (ZPT) Sitokinin, auksin tidak mempengaruhi pertambahan jumlah tunas, namun interaksi keduanya mempengaruhi jumlah tunas.
2. ZPT Sitokinin, auksin berpengaruh terhadap jumlah daun, interaksi keduanya tidak mempengaruhi jumlah daun. 3. ZPT Sitokinin berpengaruh
terhadap jumlah akar, Auksin dan interaksi keduanya tidak mempengaruhi jumlah akar. 4. Semakin tinggi konsentrasi
sitokinin yang diberikan akan semakin menurunkan jumlah akar yang terbentuk.
· 5. Dibutuhakn kombinasi tertentu untuk meningkatkan jumlah tunas, jumlah daun dan jumlah akar tanaman nanas.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih ditujukan kepada DP2M DIKTI atas pendanaan Hibah penelitian Fundamental, berdasarkan Surat Perjanjian Penelitian, Nomor :c062/UN33.8/LL/2014, Tanggal 1 April 2014.
DAFT AR PUST AKA
Anonim (2012), Perkembangan Ekspor Nenas Indonesia. h ttp://pphp.depta n.go. id/
diakses pada tanggal 10 april 2012
Anonim., (2006). Kinerja Ekspor Impor
2006, 25
130
Pertanian Tahun
http://www.deptan.go.id, Januari 2012.
BPS, (2010), Produksi buah - buahan di Indonesia. www.bps.go.id diakses pada Tanggal24 Oktober 2012
Harahap, F., (2006a). Optimasi Media Pertumbuhan Tanaman Manggis (Garcinia mangostana L)
(Pengaruh BAP dan Pola Pemotongan Eksplan Terhadap Pembentukan Tunas Secara In
Vitro) Prosiding Seminar
Nasional Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman IPB, Bogor
Harahap, F., (2006b). Variasi Genetik Tanaman Manggis (Garcinia mnngostana L) Hasil Perlakuan Radiasi Sinar Gamma dengan Penanda Isozim, Prosiding Seminar Nasional PERHORTI 2006. Ditjen Hortikultura, Jakarta.
Harahap, F., (2011a). Studi Pengakaran Tunas Manggis (Garcinia mangostnnn L.) In Vitro dengan Penyambungan dan Kaki Ganda. Seminar Pehimpunan Hortikultura Indonesia. Lembang 23-24 Nopember 2011
Harahap, F., (2011b). Pengakaran Tunas Manggis (Garcinin mnngostnnn L.)
In Vitro dengan Pemberian
Berbagai Zat Pengatur Tumbuh. Seminar Pehimpunan Biologi Indonesia. Unsyiah 26 - 27 Nopember 2011
Harahap, F., (2011c). Kultur Jaringan Tanaman. UNIMED Press. Medan
Marlin, 2005, Regenerasi In Vitro Plnntlet Jnhe Bebns Penynkit Lnyu Bakteri pndn Bebernpn Taraf Konsentrnsi BAP dan
lnduksi tunas nanas (ananas comosus I. Merr) in vitro dengan pemberian dosis auksin dan sitokin yang berbeda
NAA. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. 7: 8-14
Nusyirwan, Harahap, F., (2011). Induksi Pertumbuhan
(Annnn~ como~us L) Asal Pangaribuan Pemberian Zat Tumbuh Kinetin. Research Grant 2012. Medan.
Nan as
In Vitro
dengan Pengatur Laporan UNIMED.
Nusyirwan, Harahap, F., (2012). Induksi
Pertumbuhan Nanas
(Annnns Comosus L) In Vitro
Asal Pangaribuan dengan Pemberian Zat Pengatur Tumbuh Kinetin. Semirata BKS PTN, Wilayah Barat Bidang MIP A. Hotel Madani, 11-12 Mei 2012, Medan
PKBT, (2005). Pengaruh Media Multiplikasi terhadap Pembentukan Akar dari Tunas in vitro Nanas (Ananas comosus
(L.) Merr.) cv. Smooth Cayenne pada Media Pengakaran.
Pratiwi, S., Harahap, F. (2008). Pengaruh Pemberian Naptha/ene Acetic Acid
(NAA) dan (Indole Acetic Acid)
(IAA) Terhadap Induksi Akar Tanaman Nenas (Ananas Cosmosus L.). Medan
Puspita, Y.S., (2009), Pengaruh NAA dan BAP terhadap Inisiasi Tunas pada
Eksplan Nodus Tanaman Zodia
(Evodia suaveolens Scheffi Secara In Vitro, ISSN 1829- 7226, 7
Purnamaningsih, R., (2009), Penggunaan
Paclobutrazol dan ABA Dalam
Perbanyakan Nenas Simadu Melalui Kultur In Vitro, jurnal Biologi 9(6) : 751 -758
Jurnal Saintika
I
Volume I 5I
Nomor III
September 2014Rahman, K.W., (2001). In vitro Rapid Propagation Of Pineapple Clones [Ananas comosus (L.) Merr.]. Plant Tissue Culture 11(1):47-53.
Silvina, F. dan Murniati., (2007),
Pcmberinn Air Kclapn Mudn pndn
Medin MS untuk Pcrtumbulrnn
Eksplnn Ncnas Secnrn In Vitro, ISSN 1412-4424,6, hal25-28
Samudin, S., (2009). Pengaruh Kombinnsi Sitokinin- Auks in Terhadap
Pertumbuhnn Buah Naga, ISSN 1979 - 5971, 1, hal 62-66
131
ISS !'I
KC
M
Di
Di
A
di se ba m M de
d"
re ka te
c
t
p 1
d
~
l<
(J
LEMBAR
HASIL PENILAIAN
SEJAWAT SEBIDANGATAU
PEER REYIEWKARYA
ILMIAH
:ruRNAL ILMIAH
Lampiran 7
"Induksi Tunas Nanas (Ananas Comosus
L.
Merr)In
Wtro DenganPemberian Dosis Auksin dan Sitokin Yang Berbeda"
F arniy ah Harahap, Nusyirwan Judul Karya Ilmiah (Artikel)
Penulis Jumal llmiah
Identitas Jurnal Ilmiah
Kategori Publikasi Jumal Ilmiah
(beri /pada kategori yang tepat)
Hasil Penilaian Peer Review :
a. Nama Jumal b. VolumeA{omor
c. ISSN
d. Edisi (bular/tahun) e. Penerbit
f. Jumlah halaman
Saintika
Vol. 15
/No.2
1412 - 2995 September 2014Lembaga Penelitian - UNIMED
124-l3l
(8)halamann
n
Jurnal Jurnal Ilmiah llmiah Nasional TerakreditasiInternasionalg.,
Jurnal Ilmiah Nasional Tidak TerakreditasiKomponen Yang Dinilai
Nilai Maksimal Jumal Ilmiah
Nilai Akhir Yang Diperoleh Internasional
tl
Nasional Terakreditasi
n
Nasional Tidak Terakreditasi
g
a. Kelengkapan unsur isi artikel (10%)
o
rlo
O,6
b. Ruang lingkup dan kedalaman pembahasan (30%)
tr8
t,?t
c. Kecukupan dan kemutahiran dxa/informasi dan
metodologi (30%)
t.E
l,b?-d. Kelengkapan unsur dan kualitas penerbit (30o/o)
t,8
1.8
Total
:
(100%)6ro
t?g
?
niversitas Andalas
Padang,
20
ICT
2015Reviewer
-
1Prof. Dr. Syamsuardi, M.Sc
NIP. 1961091 0198901 1001
Unit kerja : Jurusan Biologi
Universitas Andalas, Padang Sy
LEMBAR
HASIL
PENiLAIAN
SEJAWAT SEBIDANGATAU
PEER REVIEWKARYA
ILMIAH
: JURNALILMIAH
Lampiran 7
"Induksi Tunas Nanas (Ananus Comosus
L.
Merr)In
l/itro DenganPemberian Dosis Auksin dan Sitokin Yang Berbeda"
Fauziyah Harahap, Nusyirwan Judul Karya Ilmiah (Artikel)
Penulis Jumal lhniah Identitas Jurnal llmiaft
Kategori Publikasi Jurnal Ilmiah
(beri /pada kategori yang tepat)
Hasil Penilaian Peer ]?eview '.
a. Nama
Jurnal
:b.
Volume/Nomor
:c. ISSN
d. Edisi (bulan/tahun) :
e.
Penerbit
:f. Jumlah
halaman
.Saintika
Vol. 15 i No. 2
l4t2
- 2995September 2014
Lembaga Penelitian - UNIMED
124-131 (8)halaman
tl
tf
M
J urnal llmiah Internasional
Jurnal Ilmiah Nasional Teraln'editasi Jurnal Ihniah Nasional Tidak Terakreditasi
Komponen Yang Dinilai
Nilai Maksimal Jurnal Ilmiah
NilaiAkhir Yang Diperoleh lnternasional
tl
Nasional Terakreditasi
n
Nasional Tidak Terakreditasi
v
a. Kelengkapan unsur isi atikel
(L}W
rc$
(),b
b. Ruang lingkup dan kedalaman pembahasan (30%i)
t,8
1,7
c. Kecukupan dan kemutahiran data/informasi dan
metodologi (30%)
I'B
l11
d. Kelengkap.n unsur dan kualitas penerbit (30%)
r.8
f,0
Total =
(100%)le,o
f,8
Medan,
20
OCT
2015
Reviewer - 2
Prof.
Er{Sy{ruddin
Ilyas,M. Bi omed}\IrP. 19660209 199243
nA3
Unit
kerja\
Ka. Prodi 52 BiologiU Medan
Lampiran 7
LEMtsAR
HASIL PENILAIAN
SEJAWAT SEBIDANGATAU
PEER REVIEWKARYA ILMIAF{
: JUR.NALILMIAH
Judul Karya Ilmiah
(Artikel)
:
"Induksi Tunas Nanas (Ananas ComosusL.
Merr)In
Vitro DenganPemberian Dosis Auksin dan Sitokin Yang Berbeda,, Penulis Jurnal
Ilmiah
:
Fauziyah Harahap, NusyirwanIdentitas Jurnal
Ilmiah
:
a. Nama Jumal b. VolumerNomorc. ISSN
d. Edisi (bulan/tahun)
e. Penerbit
f. Jurnlah halaman
Saintika
Vol. l5
/No.2
1412 -2995
September 2014
Lembaga Penelitian - TINIMED
124-131 (8)halaman
Kategori Publikasi Jurnai
Ilmiah
:(beri /pada kategori yang tepat)
Hasil Penilaian Peer Review :
[]
Jurnal Ilmiah InternasionalE
Jurnal Ilmiah Nasional Terakreditasigi
JumaI Ihniah NasionalTidak TerakreditasiKomponen Yang Dinilai
Nilai Maksimal Jurnal Ilmiah
NilaiAkhir Yang Diperoleh Internasional
E
Nasional Terakreditasi
tf
Nasional Tidak Terakreditasi
d
a. Kelengkapan unsur isi artikel (10%)
erL
b. Ruang lingkup dan kedalaman pembahasan (30%)
t,{
c. Kecukupan dan kemutahiran datalinformasi dan
rnetodologi (30%)
trd
d. Kelengkapan unsur dan kualitas penerbit QA%)
,t
Total
:
(100%)6
Medan,
September 2015Reviewer - 3
Prof. Dr. Herbert Sipahutar, MS, M.Sc
NrP. 19610626 198710 1001